Candy Heart – Angelina Triaf

jun1

Angelina Triaf ©2015 Present

Candy Heart

Wen Junhui, Hong Jisoo/Joshua (Seventeen) & Park Cheonsa (OC) | Fluff, Family | G | Ficlet

“Too much candy gonna rot your soul.”

0o0

Baru kali ini Jisoo mendapati gadis cantik di hadapannya menangis seperti bayi, terlebih lagi dapat menjadi sangat menyebalkan karena ia tak ada hentinya merajuk. Hello? Bukan Jisoo yang menjadi tersangka dalam kasus ini namun―hell, please she’s been crying for a long time dan itu membuat Jisoo kebingungan sendiri.

Don’t be such a silly baby, Cheon,” gumam Jisoo pelan sembari mengusap rambut Cheonsa.

Ini sudah pukul tiga sore dan bahkan Jisoo harus rela kehilangan waktu berharganya menonton Liga Inggris demi menemani sepupu cantiknya yang sedang dikuasai mood-nya, the worst one.

Bayangkan saja bagaimana putri anggun semacam Cheonsa bisa menangis sebegini hebatnya. Yang lebih menyebalkannya lagi, Jisoo harus mendapati fakta bahwa Cheonsa menangis hanya karena seorang pemuda, terlebih lagi alasan konyol yang Cheonsa ucapkan sebagai dalih bahwa tangisan kali ini sangat penting untuk dilakukannya. Hah, Jisoo memang tak pernah bisa mengerti perasaan perempuan.

I’m not a silly baby! Oppa tak akan pernah bisa mengerti. Kalian para lelaki sama saja, semuanya menyebalkan!”

God, sepertinya Jisoo harus segera mencari ide yang tepat untuk mengakhiri penderitaannya hari ini. Hanya ada dua pilihan; kabur dari kamar ini dan pura-pura ingin membantu tantenya yang sedang membuat kue di dapur atau memeluk gadis yang sudah ia anggap seperti adiknya sendiri ini dan menjadi seorang gentleman sejati.

Benar saja, Jisoo lebih memilih untuk memeluk Cheonsa dan menjadi seorang kakak yang baik, mengabaikan kabur sebagai alternatif terbaik. Melihat perempuan menangis memang salah satu kelemahan Jisoo, walaupun sebenarnya ia orang yang tak terlalu peduli dengan keadaan sekitar.

“Cheonsa, you’re a lovely girl. Jadi tolong, jangan memikirkan hal-hal aneh and enjoy every sec moments on your relationship.”

Jisoo melembutkan suaranya sedemikian rupa, berusaha membangun atmosfer yang tepat untuk hati Cheonsa yang sedang sangat tak stabil saat ini. Ia ini gadis delapan belas tahun namun masih saja menghadapi masalah seperti remaja yang baru mengalami pubertas.

I’ve been trying, Oppa. Tapi Jun selalu saja seperti itu. Kupikir akan sangat menyenangkan memiliki kekasih yang dingin dan tak peduli dengan lingkungannya. But I was wrong, ia bahkan tak memedulikanku. Ia selalu seperti itu.”

Satu hal yang Jisoo sayangkan ialah, ia belum pernah memiliki kekasih sehingga ia tak tahu bagaimana perasaan Cheonsa dalam kasus ini. Bukankah Cheonsa ini tipe gadis yang juga tak acuh dengan sekitarnya? Tapi kenapa bisa-bisanya ia bertingkah manja seperti ini, membuat Jisoo bingung harus melakukan apa.

Berpikirlah, Jisoo. Temukan kalimat bagus untuk menenangkan Cheonsa…

 

But don’t be a person with candy heart inside, Cheon,” ucap Jisoo, berhasil menarik atensi Cheonsa yang semulanya menenggelamkan wajah dalam pelukan Jisoo, kini fokus menatap sepupunya itu.

Cheonsa masih diam, menunggu Jisoo melanjutkan kalimatnya. “You expect a sweet boy as your lover. But you must remember that too much candy gonna rot your soul.”

Hening, Cheonsa terdiam meresapi segala yang Jisoo ucapkan. Then let’s see Jisoo, ia tengah mengembuskan napas lega karena telah berhasil menemukan kalimat yang tepat untuk membuat Cheonsa terdiam. Yang terpenting gadis ini tak lagi menangis dengan sangat menyebalkan, pikir Jisoo.

“Hal manis itu merusak jika kita tak bijak dalam memilahnya, Cheon. Berpikirlah positif, he’s always loving you on his way to do.”

Penutup yang cantik dari seorang Hong Jisoo. Ia mengusap kepala Cheonsa, tak lupa juga menghilangkan sisa air mata di kedua mata berkilau milik sepupunya yang kini agak sembab. Jisoo selalu senang melakukan hal ini, menenangkan adik perempuan manjanya saat ia tengah menghadapi masalah―walaupun harus Jisoo akui bahwa kasus kali ini adalah yang terparah lagi terkonyol.

“Cheonsa, ada Jun datang!”

 

Cheonsa membulatkan matanya, menatap Jisoo yang juga balik menatapnya dalam diam. Jun datang? “Oppa, Cheonsa tak sedang bermimpi, kan―aw, sakit!”

Jisoo tertawa kecil sembari mencubiti pipi Cheonsa dengan gemas. Sudah jelas-jelas ia menangis seharian dan masih bertanya jika ini mimpi? Bunuh saja Jisoo di muara sungai jika begini kejadiannya.

Menepis tangan jahil Jisoo, Cheonsa langsung melompat turun dari ranjang dan melihat pantulan wajahnya di cermin―sangat mengerikan jika boleh jujur. Sedikit merapikan rambut dan membersihkan wajahnya dari air mata, Cheonsa langsung beranjak membuka pintu kamarnya untuk keluar―

“Oh, Cheon? Happy third anniv.”

Dan mendapati Jun dengan satu kotak kue serta satu buket bunga mawar di hadapannya. Jisoo ingin sekali menertawai drama di depan matanya, sangat romantis sekaligus menggelikan. Ia bangkit dari duduknya lalu berjalan menghampiri sepasang kekasih itu.

“Eh, Jisoo Hyung, annyeong. Aku membawa film bagus, ayo ikut menonton,” ajak Jun dengan senyum kecil di bibirnya.

Cheonsa, entah mengapa wajahnya berubah dari putri mengerikan menjadi princess lucu menggemaskan. “Iya Oppa, jangan keluar dulu,” tambahnya.

“Dan menjadi obat nyamuk di sini? No, thanks. Lebih baik aku membantu tante membuat kue di dapur.”

Jisoo sekali lagi mencubit kedua pipi Cheonsa dan berjalan keluar, meninggalkan pasangan yang kini saling terdiam. Cheonsa terdiam karena memang ia tak tahu ingin mengucapkan apa, sementara Jun terlihat sedang fokus menatap Cheonsa, menilik sesuatu yang aneh pada gadisnya.

“Wajahmu kenapa?” tanya Jun sambil mengusap mata Cheonsa. Gadis itu merutuk dalam hati, pasti wajahnya terlihat sangat mengerikan saat ini. “You was crying?”

He got it.

Cheonsa masih terdiam, enggan menjawab pertanyaan yang sebenarnya memang tak perlu dijawab. Sudah jelas sekali jika Cheonsa habis menangis, dan Jun masih fokus melihat perubahan wajah Cheonsa. Ia menaruh semua bawaannya di meja, menghampiri Cheonsa dan membawanya dalam sebuah pelukan hangat.

I was busy at campus lately. Sorry.”

Suara Jun terlampau pelan, jelas bahwa ia memang menyadari kesalahannya. Sama halnya dengan Cheonsa, ia memikirkan tentang segalanya yang telah terjadi. Sudah tiga tahun dan Cheonsa masih saja kekanakan begini? Jisoo benar, Jun memang selalu mencintainya dan memiliki caranya tersendiri untuk mengutarakannya.

“Hei, kau belum mengucapkan anniv padaku.”

Happy anniv, Jun.”

“Aish, dinginnya. Kau masih tak ingin memanggilku Oppa?”

“Tidak.”

Cheonsa melepaskan pelukannya. Pipinya terancam akan bersemu jika terus seperti ini. Jun tersenyum kecil di balik punggungnya. Ia menghampiri Cheonsa yang kini sedang membuka kotak kue yang Jun bawa dan melihat-lihat film apa saja yang bisa mereka tonton.

Jun gives her a backhug, tak lupa dengan satu ciuman manis di pipi chubby Cheonsa. “Thanks for being my angel for life, Cheonsa.”

At last, Cheonsa tahu bahwa ia bukanlah seseorang dengan candy heart seperti yang Jisoo katakan. Karena bagi Cheonsa, hatinya telah terisi penuh oleh kehadiran Jun dalam hidupnya. She’ll never be a silly baby anymore. Cheonsa akan selalu mengingat momen ini sebagai pembelajaran baginya.

And she’ll remember that Jun’s always loving her on his way to do.

FIN

Lagi-lagi prompt from Mika – Lollipop. Liriknya lucu jadi banyak banget yang bisa dijadiin inspirasi. Happy reading^^

7 responses to “Candy Heart – Angelina Triaf

  1. SWEET >.< suka banget ama kata-katanya TT oh kapan aku kayak gitu? Jomblo sih /oh apa ini//abaikan:v/
    Angel , aku nunggu banget loh venef,blood, and enternal lovenya . Buruan di post chapt 1nya yah🙂
    Yang smangat nulisnya . FIGHTING^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s