METEOR GARDEN CHAPTER 5

poster

Title : Meteor Garden chapter 5

Author : alphaphoenix

Main cast : Oh Sehun (EXO) | Choi Ahra (OC/You) | Kim Jongin (EXO)

Genre : Fantasy, romance, sci-fi

Length : Chapter

Rating : PG-15

Note:

Cerita ini bukanlah cerita drama Taiwan yang terkenal dengan F4 nya itu di awal tahun 2000-an. Tolong jangan berharap cerita ini ada sangkut pautnya dengan drama Taiwan itu. Cerita ini akan berbeda jauh dengan drama Meteor Garden. Disini saya akan tetap membawa unsur astronomi sebagai penyedap unsur cerita dan tujuan saya adalah memang ingin memasyarakatkan imu astronomi di Indonesia *eakk* dengan menulis ff ini.

Selamat membaca. Please leave comment. DON’T BE A SILENT READER!!

Previous Chapter:

 Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4

Meteor Garden Chapter 5

Sayup-sayup Jongin mendengar suara hembusan angin ringan membelai wajahnya. Kesadaran Jongin berangsur-angsur terkumpul, ia masih bingung apakah ia sedang berada di flatnya di bumi atau ia berada di rumah aslinya.

Yeah, rumah asli. Rumah di langit. Rumah dengan hembusan angin yang lembut, yang bisa membuat bunga-bunga Sakura di musim semi berguguran dengan gemulai dan menyentuh pipi Jongin. Bukan di flatnya yang berada di bumi. Jongin pasti terbangun dengan keadaan masih-ingin-tidur. Suara klakson kendaraan yang pertama kali membangunkannya.

Mendadak Jongin membuka matanya, dilihatnya sekarang ia berada di bawah pohon Sakura yang sedang bermekaran. Hembusan angin bertiup dan sedikit demi sedikit kelopak bunga Sakura berjatuhan mengenai wajah Jongin.

Jongin lalu bangkit, ia memperhatikan sekelilingnya. Dilihatnya ibunya sedang berada di taman belakang rumahnya. Iya, rumahnya yang sungguhan.

Mengapa ia bisa kembali ke langit? Padahal tugasnya belum selesai? Atau jangan-jangan Ahra sudah mati, tewas terbunuh?

Cepat-cepat Jongin berlari menuju rumahnya, ia berniat untuk mencari Ayahnya, sang dewa langit. Mengapa ia tiba-tiba berada di langit, bukankah tugasnya belum selesai?

“Ah, Jongin-ah, kau mau kemana?” tanya Eomeoni.

“Oh, Eomeoni.. Aku merindukanmu..” balas Jongin cepat, ia lalu memeluk Ibunya itu secepat kilat. Membuat Ibunya bingung.

“Mwoya? Kau kenapa?”

“Aku… mengapa aku disini? Harusnya aku masih di bumi..” jelas Jongin panik.

“Kenapa kau terlihat panik? Gwenchana. Ayahmu saja yang ingin bertemu denganmu…”

Jantung Jongin perlahan-lahan melambat, nafasnya juga sudah tidak memburu lagi.

“Jadi, Abeoji yang memanggilku? Berarti Ahra baik-baik saja? Ah, syukurlah…” kata Jongin sambil mengelus dadanya.

“Aigoo, Jongin-ah. Malaikatku, tidak terjadi apa-apa dengan Ahra.” Kata Eomoni sambil mengelus pelan rambut Jongin.

“Eomeoni, dimana Abeoji?” tanya Jongin.

“Dia ada di dalam. Katanya ketika kau bangun, cepatlah temui beliau..”

“Ah.. Gamshamnida, Eomeoni. Aku pergi ke dalam dulu.” Kata Jongin, ia lalu memeluk Eomeoni nya sekali lagi dan membungkuk memberi tanda hormat. Meskipun ia adalah eomeoni nya Jongin, tetap saja ia adalah dewi langit. Jadi, Jongin harus memberinya hormat.

Jongin masuk kedalam. Ia sudah tahu dimana maksud Ibunya soal ‘di dalam’. Jongin terkejut melihat isi rumahnya yang masih sama seperti dulu, padahal sudah bertahun-tahun (menurut perhitungan kalender manusia) ia tidak kembali kesini. Tidak ada yang berubah sedikitpun/ Lama-lama, perasaan senangnya memudar mengingat kembalinya ia secara mendadak seperti ini. Jongin sambil mengingat-ingat kesalahan apa yang diperbuatnya sampai ia dipanggil oleh dewa langit alias ayahnya sendiri. Sambil menelusuri lorong panjang, ia teringat kepada doanya tempo hari. Jongin tidak ingin kembali ke langit.

Ah, apakah abeoji benar-benar marah padaku mendengar doaku? Jongin mengerang pelan. Ia sudah sampai di depan kamar ayahnya. Dengan nafas yang panjang, ia memegang ganggang pintu dam membukanya dengan mantap.

“Kau sudah bangun…” sahut Abeoji, ia sedang menatap keluar melalui jendela. Ketika dirasakannya Jongin sudah memasuki ruangannya, sang dewa langit memutar tubuhnya dan menatap lembut anaknya itu.

Jongin otomatis membungkuk memberi hormat kepada ayahnya.

“Kau pasti bertanya-tanya mengapa tiba-tiba kau disini, padahal beberapa hari yang lalu kau minta untuk tidak kembali kesini..” jelas Abeoji tersenyum pahit.

“Abeoji, joisonghamnida. Aku benar-benar minta maaf soal ucapan itu. Aku tidak bermaksud membuatmu sakit hati..” kata Jongin, ia membungkukkan badannya sekali lagi.

“Bukan itu.. Lagipula, kau akan tetap kembali kesini jika tugasmu sudah selesai,kan?” tanya Abeoji.

Ia lalu membelakangi Jongin, Jongin tidak berani untuk ikut memutar badannya.

“Ini soal Ahra, manusia yang kau jaga…” kata Abeoji memulai topik pembicaraan.

Jongin mengangguk pelan.

“Ah, sepertinya kau begitu menyayanginya. Kau begitu peduli terhadapnya..”

“Itu memang sudah tugasku, Abeoji. Aku harus menjaganya..” balas Jongin.

“Tapi sepertinya tugasmu akan segera berakhir…”

Jongin sontak mengangkat kepalanya. Ia terkejut mendengar perkataan ayahnya. Jika sekarang Jongin adalah seorang manusia bumi, ia bisa merasakan betapa sedihnya dan sakit hatinya ia.

“Berarti maksud Abeoji, Ahra.. dia… sebentar lagi….” Jongin tidak berani untuk mengucapkan hal itu.

“Benar, sebentar lagi Ahra akan mati..”

Rasanya Jongin baru saja tersambar petir yang dahsyat yang mematikan seluruh inderanya. Pendengarannya menjadi berdengung. Penglihatannya sayup-sayup dan samar. Namun karena ia sekarang menjelma menjadi seorang malaikat, ia tidak tersiksa sama sekali dengan rasa sakit yang dirasakannya.

“Kau memang hanya ditugaskan untuk menemani dan menjaga Ahra semasa hidupnya..”

Mendadak. Jongin mengingat kenangan pertamanya bertemu dengan Ahra. Waktu itu di pemakaman, Ahra kecil yang masih berumur 6 tahun menangis melihat Ibunya meninggal. Ia memeluk Ayahnya yang sama terlihat sedihnya, namun tidak menangis. Jongin dalam tubuh seorang anak kecil mulai saat itu selalu menemani Ahra kemanapun ia pergi. Ia turun ke bumi pun karena permintaan Ibunya sendiri untuk menemaninya semasa hidupnya.

Setidaknya temani dia selama aku tidak ada… Kata Ibu Ahra yang sekarang berada di surga.

“Abeoji, apakah secepat ini? Ahra masih muda…” kata Jongin.

“Ini memang sudah ditentukan dalam buku takdirnya, Jongin. Memang sudah tertulis seluruh kehidupan manusia dari dia lahir. Kita tidak dapat berbuat apa-apa..”

“Tapi, kita sebagai malaikat apakah……”

“Kita hanya turun ke bumi untuk keperluan penting dan permintaan dari orang yang berhati lembut saja Jongin. Oleh karena itu kau ku kirim untuk menemani Ahra. Tugasmu hanya perlu menemaninya dan sekedar menjaganya dari orang-orang jahat di bumi…”

Jongin tak habis pikir mengapa Ahra akan segera meninggal. Ia masih muda, ia juga terlihat sehat, ia selalu menjaga tubuhnya. Ia tidak pernah ketinggalan untuk memakan buah dan meminum susu dan rutin berolahraga di sekitar rumahnya.

“Tentu saja kau tidak boleh memberitahu Ahra soal kematiannya sendiri, kau tahu akibatnya….”

Yeah, diasingkan di neraka… timpal Jongin dalam hati.

“Apakah… apakah aku tidak bisa menundanya?” tanya Jongin hati-hati. Ia masih belum bisa menerima kenyataan bahwa Ahra sebentar lagi akan mati.

“Kematian tidak bisa ditunda, di tolak dan dihindari. Jika memang waktu itu sudah takdirnya, maka manusia harus menghadapinya…”

Hati Jongin mencelos. Tentu saja, bodohnya ia bernegosiasi dengan seorang dewa langit.

“Kau tidak bisa melakukan apa-apa selain menemani Ahra dan menjaganya sementara sebelum……” tambah Abeoji, ia sengaja tidak menyelesaikan perkataannya dan memandang wajah anaknya. Jongin terlihat lesu dan tidak bersemangat untuk kembali ke bumi dan menemui Ahra. Ia tidak tahu apakah ia sanggup menatap wajah Ahra.

“Bolehkah aku tahu kapan persisnya kejadian itu? Dan apa penyebabnya?” tanya Jongin lagi.

“Haruskah kau tahu? Haruskah aku memberitahumu?” tanya balik Abeoji.

Well, itu sudah petanda kalau ayahnya sendiri tidak akan memberitahunya.

“Itu terlalu menyakitkan jika kau ketahui.”

“Baiklah, Abeoji. Aku mengerti..”

Lagipula lebih baik Jongin tidak tahu. Jika ia tahu kapan Ahra akan mati, ia akan mencoret kalender di flatnya menunggu hari itu tiba. Jika ia tidak tahu, setiap hari Jongin akan selalu bersama Ahra, setiap hari. Seakan-akan itu adalah detik terkahirnya bersama Ahra.

Abeoji lalu menghampiri Jongin, lalu memeluk anaknya.

“Kau sudah melakukan pekerjaan yang baik. Bisa kau lihat sekarang Ahra sudah tumbuh dewasa dan menjadi perempuan cantik, itu semua karenamu. Kau selalu bersamanya. Kau bayangkan jika tidak ada dirimu, Ahra tidak akan seperti Ahra yang kau kenal sekarang. Ada saatnya kita harus merelakan manusia. Begitulah kehidupan manusia di bumi, tidak ada yang kekal..”

Jongin hanya termangu mendengar penjelasan Ayahnya, sang dewa langit. Jongin entahlah, ia hanya sedih saja harus melihat manusia dan perempuan yang disayanginya meninggal di depan matanya tanpa bisa melakukan apapun, padahal ia seorang malaikat.

“Ingatlah, Jongin. Kau tidak bisa melakukan apa-apa selama kau menjadi manusia. Kekuatanmu tidak ada, kau tetap tidak bisa menyelamatkan orang yang akan mati..”

Jongin menelan ludahnya sendiri.

“Baiklah kalau begitu. Aku sepertinya harus kembali di bumi. Gamshamnida, Abeoji..” Kata Jongin sambil membungkuk.

Abeoji melepaskan pelukan anaknya begitu saja, ia tidak menahannya. Dan Jongin, ia sudah ingin cepat cepat kembali ke bumi untuk bertemu dengan Ahra. Langkahnya begitu berat, butuh waktu yang lebih lama untuk bisa sampai di depan gerbang pintu. Jongin tidak tahu raut wajah apa yang terpampang sekarang di wajahnya. Namun perasaannya sekarang campur aduk. Ia tak tahu bagaimana rasanya jika ia sudah kembali menjadi manusia. Ia lesu, mendadak ia lupa bagaimana caranya untuk tersenyum.

Ketika Jongin sampai di depan pintu untuk keluar, ia berniat untuk tidak menemui Ibunya. Ibunya pasti akan mengajukan ratusan pertanyaan. Ditambah lagi dengan raut wajahnya yang tidak-bisa-mengartikan-apa-apa dan dirinya yang tidak mau tersenyum.

Jongin menggenggam erat ganggang pintu luar, seakan-akan ganggang pintu tersebut akan melarikan diri jika tidak di pegang dengan erat. Ia menutup matanya dan menghembuskan nafas perlahan.

Perlahan, pikiran Jongin melayang. Ia terlalu menikmati rekaman dalam otaknya sendiri.

Sampai akhirnya ia dengar suara alarm kamarnya, dan suara klakson mobil.

Jongin mendadak membuka matanya, ia langsung bangun. Dan resiko yang ia dapat adalah, ia hampir roboh karena belum sepenuhnya sadar. Jongin sudah sepenuhnya kembali menjadi manusia, jadi ia sudah tidak punya kekuatan lagi.

Lehernya sedikit sakit. Jongin menggerak-gerakkan lehernya yang agak kaku. Ah, sepertinya tadi malam ia hanya tidur dengan 1 posisi sehingga lehernya menjadi kaku di gerakkan. Jongin lalu mengambil handuk dan langsung menyambar handphonenya. Dilihatnya lock screen handphonenya, foto dirinya dan Ahra.

Hati Jongin meciut begitu dilihatnya foto Ahra. Wajahnya yang tersenyum bahagia dan selalu tersenyum pada Jongin, sebentar lagi akan hilang dan tidak akan pernah tersenyum lagi.

Jongin melirik kalender yang tergantung di dinding kamarnya. Ia menebak-nebak kapan Ahra akan mati, atau kalau ingin lebih sopan sedikit dan lebih terdengar menyenangkan, kapan Jongin akan kembali ke langit sepenuhnya. Maksud ayahnya dengan kata ‘sebentar lagi’ masih terlalu ambigu. Jongin bingung apakah maksud ‘sebentar lagi’ oleh ayahnya adalah menurut perhitungan manusia atau perhitungan dewa langit. Jongin kecewa tidak sempat menanyakan perihal itu.

“1 bulan? 2 bulan? Lebih? 1 tahun?” kata Jongin kepada kalender yang membisu.

“Apakah aku sanggup menatap Ahra?” tanya Jongin lagi kepada kalender yang sungguh-sungguh tidak bisa memberikan jawaban.

Ah, Jongin hampir lupa. Ahra sedang tidak berada di kampus, ia sedang sakit. Ia pasti sedang berisitirahat dirumahnya. Buru-buru Jongin menekan tombol angka 1 untuk speed dial number Ahra.

Nomor yang anda tuju tidak………

Jongin berdecak tidak sabar, mengapa Ahra mematikan handphonenya? Sekali lagi Jongin mencoba menelepon Ahra.

Nomor yang anda tuju tidak………

Untung saja emosi Jongin kali ini terkontrol, bisa-bisa ia membuang handphonenya begitu saja.

Ia berdiam sebentar dan mencoba menenangkan pikirannya. Berkali-kali Jongin mencoba berpikir positif soal Ahra. Mungkin ia masih tidur, mungkin ia sedang belajar, mungkin ia berada di bawah, mungkin ia menonton tv.

Dan berkali-kali juga Jongin mencegah untuk berpikir ‘ mungkin Ahra sudah mati’.

Akhirnya Jongin memutuskan untuk menelepon ke rumahnya. Jika tidak ada yang mengangkat, Jongin akan langsung pergi ke rumah Ahra.

“Yeoboseyo..” terdengar suara ahjumma, membuat hati Jongin mencair kesenangan.

“Oh, ahjumma. Ini aku Jongin.” Kata Jongin senang.

“Oh, Jongin-ssi. Ada yang bisa saya bantu?” tanya ahjumma dengan sopan. Yeah, Ahjumma ini sudah kenal baik dengan Jongin. Dari kecil ahjumma ini sudah sering membuatkan Jongin dan Ahra makanan favorit dan minuman favoritnya ketika berkunjung ke rumah Ahra. Ahjumma juga yang telah merawat Ahra hingga saat ini.

“Eumm.. Ahra. Apakah ia masih tidur? Aku meneleponnya tapi handphonenya tidak aktif.” Jelas Jongin.

“Ahra-ssi? Bukankah dia sudah turun ke kampus?” tanya ahjumma heran.

“Ne?”

Jongin terbelalak kaget.

“Jongin-ssi, kau belum ada bertemu dengannya? Ah, kau tidak di kampus sekarang?”

“Aku berniat untuk ke kampus. Ah, kenapa Ahra tidak memberitahuku kalau ia ingin turun?”

“Dia tidak memberitahumu? Kukira kau sudah tahu, Jongin-ssi. Padahal ia belum sepenuhnya pulih menurutku..” jawab Ahjumma bimbang.

“Ahra-ya…” kata Jongin berdecak kesal. Ia bingung kenapa perempuan satu ini masih keras kepala. Memangnya apa urusannya di kampus? Urusan tugas?

“Aku sudah melarangnya untuk tidak turun. Tapi,yah.. kau tahu sendiri bagaimana seorang Ahra dari dulu.”

“Baiklah. Ahjumma, gamshamnida. Ahjumma tidak perlu mengkhawatirkan Ahra. Aku akan segera ke kampus. Gamshamnida..” kata Jongin.

“Ne. Aku juga berterima kasih padamu, Jongin-ssi sudah mau menjaga Ahra.” Balas Ahjumma lalu diikuti dengan suara bip bip bip pelan.

Jongin buru-buru mandi dan bersegera mengganti bajunya. Ia bahkan tidak sempat untuk sarapan dan membereskan buku-bukunya. Dengan secepat kilat ia menyambar kunci mobilnya dan keluar dari flatnya.

Dalam perjalanan menuju tempat parkir, Jongin terus mengumpat kesal dan marah kepada dirinya. Seharusnya ia tahu kalau Ahra pasti tidak mau berlama-lama berada dirumahnya, ditambah dirumahnya hanya ada dia dan ahjumma. Ayahnya yang sering pergi ke luar negeri untuk urusan kantornya pastilah membuat Ahra mati kebosanan. Dan Ahra juga bukan tipe yang mau merepotkan orang lain. Ia tidak pernah meminta Jongin untuk menemaninya ataupun Yerin dan Baekhyun.

Padahal ia sudah mengenal Ahra sejak mereka masih kecil. Jongin bisa mengenal sifat Ahra yang berubah dan bertambah aneh seiring tumbuh dewasanya Ahra.

Dalam mobil, Jongin mencoba untuk menghubungi Baekhyun.

“Waeyo?” jawab Baekhyun kasar begitu telepon tersambung.

“Kau kasar sekali. Cobalah menjawab dengan ‘yeoboseyo’, kau selalu langsung bertanya ‘wae? Wae’” jawab Jongin ketus.

“Baiklah. yeoboesyo, Jongin-ssi. Wae keurae?” tanya Baekhyun yang mengubah suaranya menjadi suara seorang customer service.

Jongin berusaha untuk menahan tawanya, ia tersenyum dan terbatuk pelan untuk menyamarkan tawanya.

“Apakah kau lihat Ahra dikampus?”

“Ahra? Eobseoyo. Bukannya dia masih sakit? Aku hari ini berencana mau kerumahnya.” Jawab Baekhyun. Jongin pastikan Baekhyun pasti sempat memeperhatikan sekelilingnya.

“Kau dimana sekarang?”

“Cafe.. hehehe..” jawab Baekhyun malu-malu.

“Eiy. Kau bukan di kampus?”

“Tidak, Jongin-ssi. Tapi sebentar lagi aku kesana. Memangnya ada apa?” tanya Baekhyun langsung serius.

“Kau memang tidak bisa diandalkan….”

“Serius. Kali ini kau bisa mengandalkanku. Kenapa?”

“Ahra turun ke kampus, tanpa memberitahuku. Ia belum sembuh. Ia tidak memberitahumu?” tanya Jongin, matanya masih terfokus kepada jalan raya.

“Tidak ada. Jangan khawatir. Mungkin ia ada urusan sedikit dengan kampus. Ah, mungkin ia memberitahu Yerin. Kau tahu, sesama perempuan.”

“Aku memang berencana untuk meneleponnya setelah kau. Apalagi mengetahui kalau kau sedang tidak di kampus. Baekhyun-ah, sebentar lagi bukannya ada jam?” lirik Jongin pada jam di dasbor mobilnya.

“Kau sendiri? Kenapa kau belum turun?”

“Sekarang aku menyetir menuju kampus.”

“Oh.. Ah, jangan meneleponku sambil menyetir. Aku tidak mau tanggung jawab jika kau tabrakan.”

Jongin tertawa mendengar leluconnya Baekhyun.

“Tenang saja, aku ini sudah profesional. Kalau begitu, aku akan menelepon Yerin. Bye..”

Jongin tidak berniat untuk mendengar balasan Baekhyun. Oleh karena itu ia langsung memutus sambungan telepon dengan Jongin sebelum Baekhyun membalasnya.

“Yerin.. yerin…”

Jongin susah payah mencari kontak Yerin, ia termasuk jarang menghubungi Yerin.

“Yeoboseyo, Jongin-ah..”

“Oh. Yerin-ah. Kau dimana sekarang?”

“Nan? Aku dikampus sekarang. Mau menuju kelas. Wae?” tanya Yerin heran.

“Apakah Ahra bersamamu?”

“Ahra? Bukannya ia sakit? Oh, jangan bilang ia kabur dari rumah?” tanya Yerin kaget.

“kabur rumah apanya?Oh….” Jongin tidak berpikir soal itu, bagaimana jika Ahra hanya berbohong bahwa ia akan pergi ke kampus?

“Ya! Jongin-ah, jangan bilang ia kabur dari rumah?”

“Aku meneleponnya tapi handphonenya mati. Aku menelepon kerumahnya, ahjumma bilang ia pergi ke kampus.”

“Hah.. syukurlah. Kukira ia pergi dari rumah..”

“Tapi, mengapa ia tak bersamamu? Ahra ada menghubungimu?” tanya Jongin cemas. Tak terasa sekarang ia sudah sampai di kampus. Ia berkeliling mencari tempat parkiran yang kosong.

“Tidak ada. Tapi aku tidak bisa menghubunginya. Sebentar lagi aku masuk kelas. Kau dimana? Tidak masuk?”

“Aku sekarang berada di tempat parkir. Baiklah, biar aku saja yang cari. Kau masuk saja, jika dosen bertanya kemana aku, bilang saja aku telat.” Jawab Jongin buru-buru, ia memarkirkan mobilnya dan membanting pintu mobilnya dengan keras agar Yerin bisa mendengarnya.

“Ah. Iya, aku dengar suara bantingan pintu mobilmu. Baiklah. Aku akan mengirim pesan pada Ahra.”

“Bye..” balas Jongin singkat.

Pertama, Jongin akan mencari Ahra di perpustakaan.

Kedua, Jongin akan mencari Ahra di taman biasa mereka berkumpul.

Ketiga, Jongin akan mencari Ahra di kafetaria.

Jika dari 3 opsi itu Ahra tidak ada, maka Jongin akan pergi ke kantor polisi.

Berlebihan memang, tapi andaikan Jongin tetap seorang malaikat seperti biasa bukan menjadi manusia biasa seperti ini, ia akan mudah menemukan dimana Ahra.

Jongin berlari bersama waktu, ia berlari menuju perpustakaan. Tak dihiraukannya orang-orang yang melihatnya dengan aneh dan yang orang yang sedikit di senggol oleh Jongin. Ia tidak sempat untuk mengucapkan maaf, menoleh saja ia anggap itu sudah membuang-buang waktu.

Sesampainya di perpustakaan, semua orang melihat ke arah Jongin. Tentu saja semua orang menatap Jongin, ia membuka pintu perpustakaan dengan kasarnya dan masuk dengan langkah kaki yang ribut serta suara nafasnya yang terengah-engah. Sekali lagi, Jongin tidak menghiraukan celotehan orang-orang yang melihatnya.

“Jongin-ssi, gwenchana?” tanya Mrs. Ahn, petugas perpustakaan. Ia kenal baik dengan Jongin, Ahra, Baekhyun dan Yerin karena mereka sering meminjam buku di perpustakaan.

“Huh?” balas Jongin yang masih terengah-engah.

“Lebih baik kau duduk dulu..”

“Anni. Gwenchana. Tapi, apakah kau melihat Ahra?”

“Ahra? Iya aku melihatnya, ia tadi ke sini sendirian. Aku juga bingung mengapa tidak bersama kalian. Kalian bertengkar?”

Jongin menggeleng kuat.

“Tidak. Lalu, dimana ia sekarang?”

“Ia tidak mengatakannya padaku. Apakah terjadi sesuatunya?” tanya Mrs. Ahn intens, ia memajukan wajahnya.

“Ia masih sakit..”

“Eiy, hanya itu saja? Dia terlihat sehat-sehat saja tadi. Bahkan senyumnya begitu manis..” balas Mrs. Ahn membantah.

“Sungguh Ahra tidak ada berkata apapun kepada anda, Mrs. Ahn?” tanya Jongin lagi.

“Tidak ada, sungguh… Dia hanya menyapaku seperti biasa waktu masuk dan waktu ingin keluar ia juga menyapaku seperti biasa.”

Jongin mendesah kesal.

“Kau melihatnya apa yang dilakukannya di perpustakaan?”

Mrs. Ahn mengerutkan keningnya dan matanya sedikit melirik ke atas, mencari pencerahan.

“Dia hanya membaca novel tadi, dan ia membaca koran tapi sepertinya tidak habis dibacanya, ia langsung pergi..”

“Dia membaca koran?”

“Yeah, semacam surat kabar atau apalah itu. Mengapa memangnya? Apakah Ahra jarang membaca sesuatu yang seperti itu?”

“Tidak.. dia orang yang suka membaca apapun itu bacaannya…” jawab Jongin yang setengah melamun.

Jongin begitu lelah, baru bisa ia rasakan sekarang. Ia berlari hampir sekeliling kampus dari tempat parkir tadi menuju perpustakaan ini, jaraknya lumayan. Rasanya Jongin tidak sanggup lagi untuk berlari menuju taman. Rasanya ia ingin cepat-cepat untuk ke kafetaria membeli sebotol air mineral.

“Mrs. Ahn, beritahu aku. Harus kemana aku? Ke taman atau ke kafetaria?” tanya Jongin, ia meminta saran kepada Mrs. Ahn.

“Kenapa harus aku yang kau minta pendapat?”

“Sebenarnya aku begitu lelah. Aku dari tadi pagi sudah tergesa-gesa. Dari tempat parkir, aku berlari menuju perpustakaan. Rencananya aku mau ketaman jika Ahra tidak berada di perpustakaan, tapi taman terlalu jauh. Aku ingin ke kafetaria karena ingin membeli minuman. Tapi sebentar lagi, aku ada jam masuk kuliah. Jadi apa yang harus kulakukan?” tanya Jongin panjang lebar.

Mrs. Ahn beberapa kali mengedipkan matanya, ia terlihat bingung dengan penjelasan sekaligus pertanyaan Jongin. Sembari tadi Jongin menjelaskan, sedikit demi sedikit Mrs. Ahn mencoba memasukkan kata-katanya itu ke dalam otaknya dan dirangkai menjadi sebuah penjelasan yang ia mengerti.

“Lebih baik kau ke kafetaria dan membeli minuman, lalu masuk kuliah. Soal Ahra, pasti ia juga masuk. Kau akan bertemu dengannya di kelas. Setelah kelas selesai, barulah kau bisa bertanya padanya. Bagaimana?” kata Mrs. Ahn.

Jongin sedikit menimbang-nimbang saran dari Mrs. Ahn, sepertinya itu bukan saran yang buruk. Ia melirik arlojinya, sebentar lagi kelas akan dimulai.

“Oh, baiklah. Gamshamnida. Aku pergi dulu..” kata Jongin buru-buru. Ia langsung melesat pergi keluar.

“Ne…” teriak Mrs. Ahn dari kejauhan.

Jongin kembali berlari berkejaran dengan waktu. Ia begitu terburu-buru sehingga lebih banyak menabrak orang-orang dan membuat kesal mereka. Ia berniat untuk meminta maaf, tapi sungguh waktu tidak sempat.

Ketika Jongin hampir sampai di dekat kafetaria, ia memperlambat laju larinya. Dan ketika ia berbelok, Jongin mendadak berhenti berlari.

Dilihatnya Ahra di situ, baru keluar dari kafetaria dan melirik jamnya. Ia tampaknya sedang terburu-buru.

Tiba-tiba Jongin tidak merasa haus lagi. Seluruh energinya mendadak kembali penuh. Ia bernafas lega melihat Ahra baik-baik saja. Selagi mengumpulkan nafasnya, ia memandang Ahra dari kejauhan. Tampaknya ia akan menuju ke arah Jongin, namun Ahra tidak memandang kedepan, ia sibuk menatap handphonenya.

Dan tepat, Ahra tepat berhenti tepat di depan Jongin dan Jongin tidak menyingkir dari hadapan Ahra. Ahra yang sadar bahwa ada seseorang di depannya langsung mengangkat kepalanya.

“Oh, Jongin-ah. Kata Yerin kau mencariku. Wae?”

“Wae?” tanya Jongin balik, Ahra bingung mendengar nada bicara Jongin yang ketus.

Kau sebentar lagi akan mati, bodoh… Dan aku tidak tahu kapan tepatnya..

Rasanya ingin Jongin melemparkan kata-kata itu di depan Ahra agar ia mengerti betapa khawatirnya Jongin.

“Kau… Kau kan masih sakit? Kenapa kau tidak meneleponku saja jika ingin turun? Aku kan bisa menjemputmu? Setidaknya beritahu aku atau Yerin atau Baekhyun…” jelas Jongin dengan nada yang cemas.

Ahra terkekeh pelan mendengar pernyataan Jongin.

“Aku baik-baik saja.. Astaga, Jongin-ah. Haruskah aku memberitahumu jika aku ingin masuk? Aku hanya tidak ingin merepotkan kalian. Sungguh..”

Dan penjelasan Ahra tadi tidak cukup membuat Jongin membaik, air wajahnya masih sama, cemas.

“Kau sudah sering membantuku selama ini, jadi biarkan sekali saja aku tidak merepotkanmu. Bisa, kan?” tanya Ahra pelan.

Jongin melirik Ahra sedikit, ia sekarang sedang tersenyum manis kepada Jongin. Senjata ampuhnya jika ingin merayu Jongin.

“Lagipula kita tidak punya hubungan spesial apa-apa selain berteman sejak kecil…”

Rasanya Jongin baru saja di tikam oleh pisau berkali-kali begitu mendengar Ahra mengatakan mereka tidak punya hubungan spesial apa-apa selain berteman.

“Ayo, kita harus masuk ke kelas…” kata Jongin, ia tidak mau membahas hal itu lagi. Ia lalu menggandeng tangan Ahra.

Ahra hanya bisa kebingungan menatap Jongin yang raut wajahnya tidak bisa ditebak.

  • * * *

Tidak ada yang berani mengeluarkan suara terlebih dahulu, memecah keheningan diantara Ahra, Jongin, Yerin dan Baekhyun. Setelah kelas selesai, mereka kembali ke kafetaria langganan mereka dan mengambil soft drink kesukaan masing-masing. Mereka duduk bersama dan diam seribu bahasa.

Biasanya Yerin akan langsung memecah keheningan dengan ocehan-tidak-pentingnya. Disusul dengan ocehan Baekhyun yang akan melengkapi keributan Yerin. Namun seperti Yerin tidak berani untuk mengeluarkan suara melihat Ahra dan Jongin yang saling tidak berkata sepatah pun setelah masuk ke kelas tadi. Suasana disini benar-benar beku.

Begitu juga dengan Baekhyun. Lebih tepatnya ia menunggu ocehan dari Yerin, lalu ia juga akan ikut mengoceh. Namun Yerin juga berdiam. Jujur saja, Baekhyun tidak tahan dengan suasana canggung seperti ini.

Yerin menghela nafasnya dan terlihat jengkel. Ia lalu mengeluarkan bukunya dan beberapa kertas.

“Baiklah.. Aku tidak tahu harus bicara apa. Tapi, kalian tidak ada yang berbicara, jadi aku yang akan berbicara pertama…”

Ahra hanya mengangguk pelan, Jongin hanya diam dan Baekhyun menarik selembar kertas yang dikeluarkan Yerin tadi.

“Setelah ini, kita masih punya jadwal pengamatan…” kata Yerin, ia lalu menyodorkan kertas kepada Ahra dan Jongin. Mereka hanya mengambil tanpa mengeluarkan suara, bahkan tidak menoleh sedikitpun.

“Ya! Kalian berdua ada apa? Apakah kalian bertengkar?” kata Yerin begitu melihat Ahra dan Jongin yang tidak bertegur sapa sejak masuk ke kelas tadi.

“Gwenchana. Jadi, Eta Aquariid. Dari tanggal 19 April sampai 28 Mei. Puncak pada tanggal 6 Mei. Huh, aku curiga tanggal 6 Mei akan hujan lagi..”

“Jangan berharap seperti itu, Ahra-ya…” balas Baekhyun.

“Kita akan lihat prakiraan cuaca mendekati bulan Mei. Jadi, kita akan mulai pengamatan kapan?” tanya Yerin kepada yang lain, matanya tertuju pada Jongin yang belum sama sekali mengeluarkan suara.

Jongin yang menyadari bahwa semua mata tertuju padanya langsung mengubah ekspresi wajahnya.

“Oh.. Terserah kalian..” jawab Jongin datar.

“Sebaiknya awal bulan Mei, percuma jika kita melakuan pengamatan dari awal. Frekuensi hujan meteor masih sedikit.” Kata Ahra memberikan saran.

“Ya. Lagipula meteor shower ini tidak terlalu sulit ditemukan. Agak tinggi beberapa derajat dari horizon…” timpal Baekhyun.

“Oke, baiklah…” sahut Yerin sambil melingkari bindernya yang dilengkapi to-do list beserta kalender.

“Hhmmm… Kalian mau melakukan pengamatan dimana?” tanya Ahra pelan-pelan.

Sontak Yerin, Jongin dan Baekhyun mengangkat kepalanya dan menatap Ahra heran.

“Di observatorium, tentu saja…” jawab Baekhyun diikuti dengan anggukan Yerin.

“Apakah… apakah kalian belum membaca surat kabar hari ini?”

Ahra lupa. Temannya ini bukan tipe orang yang suka membaca surat kabar. Mereka lebih suka mendapatkan informasi lewat internet ketimbang membaca langsung dari surat kabar.

“Oke baiklah..Ah, surat kabarnya…” celetuk Ahra, ia lupa surat kabar yang ia baca ia berikan kepada Sehun.

“Mengapa?” tanya Jongin.

“Aku.. memberinya pada orang lain. Biar saja..” jawab Ahra datar. Yup, orang lain itu adalah Oh Sehun. Ini pertama kalinya Jongin mau mengeluarkan suaranya pada Ahra sejak ia mendiamkan Ahra dikelas sampai menuju kafetaria.

“Semalam, ditemukan mayat perempuan di dekat observatorium kita. Kau tahu hutan kecil yang berada di bawah bukit? Disitulah mayat ditemukan…” jelas Ahra singkat.

Ahra tentu saja berhati-hati menjelaskan hal ini. Ia tidak mau keceplosan mengatakan bahwa ia sempat mendengar jeritan perempuan dan waktu sempat terhenti. Jadi ia hanya mengatakan hal tersebut, soal mayat.

Yerin langsung membulatkan matanya dan langsung menutup mulutnya yang tak sengaja terbuka sedikit. Baekhyun hanya memasang wajah datar, namun matanya menatap Ahra tajam, seakan-akan perkataan Ahra tadi hanya lelucon. Dan Jongin, wajahnya langsung berubah kaku. Sebenarnya raut wajah Jongin sedari tadi memang kaku, dan sekarang semakin kaku dan dingin. Ia terlihat panik dan cemas.

“Oh.. Jinjja?” kata Yerin.

“Jadi, kau mau apa?” tanya Baekhyun.

Belum sempat Ahra menjawab, ia hanya sempat membuka mulutnya. Namun, Jongin sudah menjawab terlebih dahulu.

“Kita pengamatan di tempat lain, tentu saja.” Balas Jongin.

“Tapi dimana?” tanya Baekhyun lagi.

“Emm.. sebenarnya aku sudah memikirkannya. Bagaimana kalau di villa tempatku?” kata Ahra.

“Maksudmu, di Goseung-gon?” tanya Jongin.

Ahra mengangguk pelan.

“Bagaimana? Anggap saja kita juga berlibur? Bukankah kita terlalu sibuk akhir-akhir ini? Sepertinya kita butuh sedikit refreshing…” kata Ahra bersemangat.

“Ah, aku setuju, Ahra-ya…” kata Baekhyun setuju, ia menjentikkan jarinya pada Ahra.

“Ya! Kita tetap melakukan tugas kita. Kau kira kita hanya sekedar bersenang-senang disana?” balas Yerin setengah berteriak.

“Jadi, bagaimana? Kalian setuju?” tanya Ahra lagi sambil menatap ketiga temannya itu.

“Kau sudah tahu jawabanku, Ahra-ya…” balas Baekhyun sambil tersenyum senang. Ahra lalu membalas dengan senyuman manis juga.

Ahra lalu mengalihkan pandangannya pada Yerin. Ahra memasang wajahnya yang memelas.

“Baiklah, Ahra. Aku juga sedikit takut setelah mendengarnya..” imbuh Yerin setuju.

Dan Ahra mengalihkan pandangannya kepada Jongin, ia ragu-ragu untuk bertanya.

“Jongin?”

“Tentu saja aku setuju..” jawab Jongin langsung diikuti dengan senyum cerahnya. Ahra langsung membalasnya dengan senyum cerahnya juga.

“Ah, jadi apa yang perlu dipersiapkan? Makanan? Marsmallow? Ah, itu terdengar enak? Kita mau buat perapian?” tanya Baekhyun langsung.

“Yang pertama tentu saja….. teleskop.” Potong Yerin sebelum Baekhyun kembali mengoceh sendiri.

“Bisakah kita meminjam teleskop di observatorium?” tanya Jongin.

“Mungkin bisa. Kita harus minta izin pada Park Seonsaengnim.” Kata Yerin.

“Cukup pinjam 2 sepertinya cukup. Kita bisa membawa teleskop di rumahku. Ada 2..” tambah Ahra.

“Mengapa kita butuh banyak-banyak? Kita hanya butuh merekam hujan meteor. Mungkin hanya butuh beberapa CCD. Tidak perlu banyak teleskop.. Mungkin 2 saja cukup..” kata Baekhyun serius. Sungguh, jika Baekhyun sedang serius, ia benar-benar serius.

“Kalau begitu kita tidak perlu pinjam teleskop, hanya perlu pinjam CCD.” Kata Yerin sambil menjentikkan bolpoinnya.

“Baiklah. Kita juga perlu izin untuk melakukan pengamatan di luar observatorium. Bisa-bisa Park Seonsaengnim akan mencari kita pada waktu pengamatan.” Kata Ahra menyelesaikan perkataannya.

“Kalau begitu, lebih baik kita minta izin sekarang.” Kata Jongin, ia langsung berdiri. Namun yang lain hanya duduk diam dan memandangi Jongin dengan tubuh jangkungnya.

“Kenapa kalian tidak berdiri? Ayo..” ajak Jongin.

“Jongin-ah, bukannya biasanya kau dan Baekhyun saja yang pergi?” tanya Yerin heran.

Jongin langsung mematung.

“Ah, baiklah. Kajja, Baekhyun-ssi.” Kata Jongin jengkel, ia lalu memaksa Baekhyun untuk berdiri meninggalkan bangkunya.

“Ya! Ya! Pelan-pelan…” jerit Baekhyun.

“Dan kalian berdua… Jangan hilang sebelum kami kembali.” Ancam Jongin, matanya berkilat-kilat menatap Ahra.

“Keurae.. Kami tidak akan kemana-mana..” balas Yerin ketus.

Setelah mendengar jawaban dari Yerin, dan Baekhyun yang sudah berdiri dengan sempurna, Jongin dan Baekhyun langsung pergi mencari Park Seonsaengnim. Yerin memperhatikan mereka berdua sampai akhirnya mereka hilang dari pandangannya. Yerin langsung mengalihkan pandangannya pada Ahra.

“Kau tahu, Jongin mengapa terlihat jutek hari ini?” tanya Yerin pada Ahra yang sedang melamun menatap bindernya.

“Tidak. Memangnya kenapa?”

Yerin menghela nafasnya dengan kasar.

“Dia seharian mencarimu. Ia meneleponmu, ia menelepon ke rumahmu tapi kau tidak ada. Kamu juga sih. Mengapa tidak bilang pada kami jika ingin turun ke kampus?” tanya Yerin kesal.

“Oh iya.. Handphoneku masih ku matikan. Sebenarnya aku tidak berniat untuk turun. Tapi entahlah, mungkin aku bosan dirumah terus..”

“Padahal hari ini aku berencana akan menjengukmu.”

“Kau terlalu sering menjengukku, Yerin-ah. Gomawo..” balas Ahra sambil tersenyum manis.

“Neo… kau yakin Jongin tidak punya perasaan yang lain padamu?” tanya Yerin mendadak.

Sontak Ahra membeku, ia yang sedari tadi memainkan bolpoinnya berhenti memutar-mutar bolpoinnya. Ia tak pernah menganggap Jongin lebih, hanya teman.

“Dari caranya bersamamu terus dan reaksinya ketika kau tidak ada dirumah, aku yakin Jongin menyukaimu.”

“Itu hanya kami sudah berteman sejak kecil. Jadi, ia sering bersamaku.” Jelas Ahra.

“Kau tahu kalau banyak yang menyukai Jongin di kampus ini? Mereka iri padamu yang bisa dekat pada Jongin.”

“Mwoya? Dekati saja Jongin. Aku bukan siapa-siapanya..” jawab Ahra ketus.

“Pekalah sedikit, Ahra-ya.. Kulihat kau sering mengacuhkannya..” balas Yerin lembut.

“Yerin-ah, kau tahu kita berempat sudah bersahabat sejak lama. Aku hanya tidak mau merusak hubungan persahabatan kita hanya karena Jongin diam-diam menyukaiku. Aku tahu pasti Jongin menjaga perasaan kalian juga. Jongin pasti lebih mementingkan kepentingan kita ketimbang perasaannya. Dia akan menyimpannya selama-lamanya untuk kita..” kata Ahra panjang lebar.

Yerin hanya bisa mengedipkan matanya berkali-kali. Ia tidak tahu harus membalasnya dengan apa.

Lalu setelahnya, Ahra dan Yerin sibuk dengan urusan mereka masing-masing. Ahra sibuk mencari nomor telepon villa keluarganya untuk di hubungi. Sementara Yerin, ia sibuk menyusun kegiatan untuk pemgamatan nanti.

Mendadak, ketika Ahra dan Yerin sedang sibuk, mereka merasakan pandangan mereka sedikit berkurang dan sedikit gelap. Yerin yang sedang menulis menyadarinya, dan ia sadar bahwa ada seseorang yang menghampiri meja mereka.

“Ahra-ssi..”

Ahra langsung mengangkat wajahnya dan melihat si pemilik suara. Sehun sedang berdiri di hadapannya, memegang surat kabar yang di berikannya tadi.

“Oh.. Sehun-ssi.” Balas Ahra gagap.

Yerin hanya menganga melihat Sehun menghampiri Ahra dan mereka berdua saling menyapa. Artinya mereka sudah saling kenal.Oh, setelah Sehun pergi, Yerin akan mengajukan ribuan pertanyaan pada Ahra. Bisa-bisanya ia tidak menceritakan hal ini pada Yerin.

“Gomawoyo.. surat kabarnya.” Kata Sehun sambil menyodorkan surat kabar yang diberi Ahra tadi.

“Oh. Bukannya aku memberi tadi? Buatmu saja, aku sudah tidak butuh..” jawab Ahra gugup. Ia bisa melihat Yerin menyaksikan mereka berdua berbicara, pastilah Yerin kaget bukan kepalang.

“Tidak. Aku tidak enak. Kukira kau meminjamnya di perpustakaan, tapi kata mrs. Ahn ini bukan punya perpustakaan. Jadi, pasti ini memang milikmu..” kata Sehun, ia masih memaksa untuk mengembalikan surat kabarnya.

“Ba.. baiklah. Terima kasih, Sehun-ssi..” jawab Ahra pelan, ia lalu mengambil surat kabarnya. Ia sedikit melirik ke arah Yerin, tatapannya penasaran.

“Oh, Sehun-ssi. Kenalkan ini temanku, Yerin.” Kata Ahra sambil menunjuk Yerin. Yerin langsung tersenyum gugup kepada Sehun.

“Ah, annyeong haseyo. Senang berkenalan denganmu..” jawab Sehun sambil menundukkan kepalanya sedikit lalu di balas dengan bungkukkan pelan dari Yerin.

“Ne. Bangapseumnida, Sehun-ssi..” balas Yerin sopan.

“Kalau begitu, aku pergi dulu. Sampai jumpa..” kata Sehun lalu ia berbalik dan meninggalkan Ahra dan Yerin yang menahan gugup.

“Ahra-ya kau…….”

“Aku tahu. Aku belum sempat bercerita padamu.” Potong Ahra.

“Bagaimana bisa? Oh, dan surat kabar? Jadi kau memberikannya pada Sehun? Bagaimana bisa?” tanya Yerin antusias.

“Sungguh, itu tidak disengaja aku bisa berbicara padanya. Dan sungguh, aku tidak memintanya untuk mengembalikan ini. Yerin-ah, jangan salah paham.” Kata Ahra berusaha menjelaskan.

“Tapi yang barusan kulihat, sepertinya kalian sudah cukup akrab.” Goda Yerin.

“Yerin-ah, sungguh. Baiklah, akan kuceritakan semuanya padamu…” kata Ahra. Well, tidak bisa semuanya celetuk Ahra dalam hati. Ia tidak bisa menceritakan soal waktu terehenti itu.

Ahra mulai bercerita semuanya, semuanya. Ia menjaga setiap perkataannya agar tidak dipancing oleh Yerin dan ia juga menjaga mulutnya agar tidak keceplosan mengatakan ‘waktu terhenti’. Bisa-bisa Yerin shock setengah mati mendengar Ahra mengalami penghentian waktu.

“Aneh…” kata Yerin datar ketika Ahra selesai bercerita. Dan Yerin tidak tahu betapa leganya Ahra bisa bercerita tanpa terdengar perkataan yang mencurigakan sedikitpun.

Ahra hanya mendelik kearah Yerin.

“Yeah. Dia sendiri mengakuinya.. Aneh, bukan?” sahut Ahra.

“Tapi dia sungguh tampan, bukan? Aku yakin kau pasti gugup setengah mati ketika berbicara dengannya, kan?” Yerin mulai menggombal dan memancing Ahra, ia berusaha membuat pipi Ahra memerah.

Ahra berusaha untuk menyembunyikan rasa malunya. Ia berharap pipinya tidak bersemu merah. Ia berusaha mengontrol rasa gugupnya.

“Percuma tampan jika dia aneh. Benar, kan?”

“Tapi jika dia aneh, bukankah itu membuatmu tertarik untuk mengetahuinya?”

Ahra merasa terpojok sekarang.

Dan ia berharap (sekali lagi), pipinya tidak bersemu merah.

To Be Continued

Selamata pagi buat para readers yg di Indonesia. Yup, saya lagi gak di Indonesia. Ada beberapa hal yang ingin saya katakan:

  1. Saya benar-benar minta maaf kepada para readers yang menunggu lanjutan FF ini. Ada beberapa hal yang membuat saya sibuk sepanjang tahun ini. Sekarang saya sedang di Rusia, melanjutkan kuliah. Dan kuliah disini itu sangat-sangat menyita waktu. Disini saya harus belajar ekstra 2 kali lipat. Belajar bahasanya dan belajar pelajaran jurusan saya.
  2. Bagi para readers yang masih ingat dengan cerita ini, saya mengucapkan banyak terima kasih dan sekali lagi memohon maaf jika mengecewakan kalian.
  3. Kalau kalian suka dan penasaran dengan lanjutannya, saya harap kalian bisa meninggalkan jejak agar saya bisa bersemangat untuk menulis di tempat yang jauh nan dingin seperti ini.
  4. Saya meminta maaf yang sedalam-dalamnya.

 

Advertisements

26 responses to “METEOR GARDEN CHAPTER 5

  1. Ini keren! Dari awal aku udh suka sm cerita ini, mulai dari karakter di tokoh utama sampai cara pembahasannya–detail, ringan, tapi juga pintar– bahasanya penuh dengan wawasan *eeaaakk* gitu hahah, tapi aku serius, trs aku juga suka sama konflik yg terjadi di sini–gak mainstream– jjang lah!!

    Btw, sukses ya buat kuliah nya, author ^^
    Ditunggu kelanjutannya! Terus berkarya!! Fighting!!!

  2. Wah kerennnnn banget 😀 Berarti ahra nanti mati d tangan sehunn ea T_T 😭 makin penasaran nih kedepanya d tunggu next chaper nya fighting unnie ✊ ✊

  3. Rusiaaaa???? Serius??? Waaaah kereeeen
    Lama memang tapi aku nggak sadar udah lama nggak baca…..untung masih inget inti ceritanyaa……kaget juga sih tiba” jongin ada di rumahnya yg asli di langit yg ternyata rumah dewa dan dia itu malaikat pelindung ahra…..aku lupa itu pernah di bahas apa blm di chap sebelumnya…..hihihihi
    Btw masih jadi misteri nih…..sehun itu sebenernya siapa atau aku yg lupa yaa…..intinya sehun bukan makhluk? biasa….
    Astagaaa nulis makhluk aja bingung nih saking puyengnyaa

    Author keren biaa kuliah di rusia…..jarang-jarang hihihi
    Semangat author buat kuliahnyaa…..bagi-bagi ilmu dong gimana caranya bisa kuliah di luar negeri….biar aku persiapin dari sekarang mumpung masih kelas 2 SMA hihihi
    Di tunggu next-nya yaaaaaa

  4. mwoooo…???? Di Rusiiiaa kakkk..??? seriusannn…??? ck,.daebakkkkk..kereenn bgtttt,.kakak bisa lanjut sekolahh disana..ugh, pastii beda bgt eohh sm indonesiaaa..huaaa jadi pengen denger cerita kakak disana dehhh,.woahhh lingkungan baru eoh kak..bahasa baru,.musim baru,.budaya baru,.orang”nya..huaa..(bayangin) ck,.disana lagi musim dingin yaa kak..?? pengeeennnn ikuuttt..
    kakak jurusan apa sihh..?? berarti kakak fasih bahasa rusia dongg..ecciiieee,.kerennn..semangat yaa kak buat sekolahnyaa..

    .ughh iyaa kakk nunggu lamaaa bgttt,.aq smpe buka chap sblmnya buat nyatuin puing” ingatanku..haha,.
    senengnyaa bisa dilanjut ff iniii..kangenn bgt lohh smaa kakak..
    ..baik” yaa disana.,jaga kesehatan..
    .kalo ahra bentar lagi meninggal..nahh trs gmna dong kak..?? haishhh..bikin penaasarann ahh, apa ntar ahra jadi meninggal beneran..?? trs sehun gmna dong..?? hihhh moment dong kak..pliisss

    • Iya.. disini lg musim dingin. Dingin bngt.
      Yup. Semuanya serba baru. Skrng lg bljr bahasa rusia. Doain ntr bisa lancar ya ))
      Terimakasih bnyk sdh nunggu dan inget sma ff ini. Inget sma ff ini aj sdh buat aku senang.
      Lanjutannya? We’ll see ya.
      Kiss x hug

  5. Iya kan, ahra itu orang yg dicari2 sehun selama ini :3 apa mungkin ahra mau mati beneran? Sehun tega? Semoga nggak. Lanjut kak! Semangat!!

  6. Rusiaa?! Whant thee.. Waahh daebakk!
    Dengan eonni yang di rusia pasti bener2 sibuk kan ya, tapi tetep mau&bisa jalanin ff nya,, salut bangett…😀
    Ff nya juga keren,, makin bikin penasaran. Kapan ahra mati? Dan karena apa?? Dia pusing2 itu bukan karna pengaruh obat dari paman sehun kan? Btw kok aku malah mikirnya musuhnya sehun itu keluarganya ahra? Trus ahra yg kena sakitnya, minum racun ramuan dari paman sehun itu. Alhasil ahra bentar lagi mati😂😂 wkwk itu cuma yg ada di pikiranku aja sih, tiba2 mak sliwerr/?:v
    Okelaa,, udahan dulu bacot dari saya:’v untuk eonni yg lagi di rusiaa,, hwaitingg!! Tetap semangat ya belajar materi plus bahasanya wkak😀 Jjangg!!

  7. Wahhhhh… Author d rusia… Daebak! 🙂
    Kngen bgt sm cerita in… U.U
    ahra bkln mati? Kpn? Knp? Gr2 siapa? Hidup ahra gk bisa d lamain lgi thor? 😦
    Semngt author alpha study x, fighting n keep writing!:)

  8. jadi jongin malaikat bukan alien wahahahha salah saya :v ahra mati? karna apa ya ampun bikin kepikiran, apa jangan” bakal mati karna sehun? kepo kepo kepo…
    hwating nulisnya author yg nan jauh di sana semoga lancar semua urusannya 😉

  9. Jadi ini ahra nya suka sama sehun dong :’) gimana jonginnya un? sama aku aja ya :’) jujur yang paling aku perhatiin cuma perasaan ahra yang bakal buat sehun atau jongin :’) btw semangat ya thor kuliahnya !!! jangan lupa balik ke indo kalo udah sukses 😀 dan pastinya jangan lupa lanjutin ff ini ya *kecup kanan kiri* 😀

    • Duh gimana dong. Ini soal perasaan ya? :3
      Thanks for your good luck for me.. it’s really meaning to me which live far far away from home :3 *kangen suami dikamar (baca:poster exo)*
      Love you too dear *kecup pipi kanan kiri*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s