[Freelance] LADY LUCK – Part 2 (2nd Series)

LADY LUCK - Part 2

LADY LUCK – Part 2

[2nd Series]

 

 

Title : LADY LUCK
Author: Azalea
Cast : Byun Baekhyun (EXO), Lee Sena (OC/You)
Genre : Romance, School-Life
Rating : 17
Length : Series
Disclaimer : Cerita ini murni dari otakku sendiri.

Series Sebelumnya : PLABOY ( 1st Series ) -> LADY LUCK Part 1 ( 2nd Series )

 

 

Dan di sinilah aku berakhir, di sebuah ruangan gawat darurat di salah satu rumah sakit yang ada di Seoul dengan kaki kananku terbalut kain kasa untuk membantu meluruskan pergelangan kakiku yang terkilir dan terluka karena lecet. Di sini aku ditemani Baekhyun tapi sekarang dia sedang keluar membeli air untuk aku minum. Kupandangi kakiku yang terbalut ini. Bagaimana caranya besok aku ke sekolah? Apa aku harus meminta supir untuk mengantarku? Tapi aku paling tidak suka menggunakan kendaraan pribadi ke sekolah. Menurutku itu hanya akan membuang-buang uang dan bensin, dan itu juga tidak ramah lingkungan.

Apalagi sekarang ini sedang gencar-gencarnya digalakan untuk menghemat energi, karena energi yang kita gunakan sehari-hari ini kebanyakan berasal dari energi yang tidak dapat diperbaharui. Lalu aku harus bagaimana? Kalau aku naik bis, aku pasti akan kesusahan. Naik sepeda? Hah, itu tidak mungkin sekali dengan keadaan kakiku yang sedang cedera ini. Tiba-tiba ada sebotol air putih di hadapan wajahku yang sedang menunduk. Kudongakkan kepala ke atas, dan dia sudah berada di hadapanku. Kapan dia datang?

“Ini. Bukankah kau bilang tadi kau haus?” lamunanku diinterupsi olehnya.

“Gomawo.” Aku tersenyum dan segera mengambil air itu darinya. Langsung saja kubuka tutupnya, dan meminumnya sampai tersisa setengahnya. Akh, segarnya.

“Apa yang kau pikirkan?”

“Ne?”

“Apa yang kau pikirkan tadi? Di saat aku sudah berdiri di hadapanmu pun, kau tidak menyadarinya.”

“Akh, bukan masalah yang penting. Hanya saja aku sedang berpikir bagaimana caranya besok aku pergi ke sekolah dengan keadaan kakiku yang seperti ini.” Jawabku sambil memperhatikan keadaan kakiku.

“Kau tidak usah berangkat ke sekolah, lebih baik istirahat saja di rumah. Bukankah jalan saja kau tidak bisa?”

“Benar juga, tapi aku tidak mungkin bolos sekolah karena besok ada ujian matematika.”

“Ckk, dasar kutu buku. Sehari tidak sekolah saja tidak akan mengurangi sebagian besar nilaimu di semester ini. Lagi pula, kau bisa minta ujian susulan. Buat apa gunanya diadakan ujian susulan kalau kau tidak menggunakannya.”

“Ckk, aku tidak mau ikut ujian susulan, tapi aku tidak mungkin naik bis.”

“Ya sudah, kau tinggal berangkat ke sekolah dengan mobilmu sendiri. Simpelkan? Bukankah kau punya mobil? Atau kau memang benar-benar tidak punya mobil?”

“Tentu saja aku punya, hanya saja aku tidak suka menggunakannya.”

“Waeyo?”

“Itu tidak ramah lingkungan, dan aku tidak mau menambah beban polusi di udara.”

“Ckk, seharusnya kau jadi rentenir saja. Perhitungan sekali.”

“Mwo?” kutatap dia kesal.

“Ya! pakai mobil sehari ke sekolah tidak akan membuat bumi ini langsung mencair.”

“Akh, percuma saja aku minta pendapat darimu.”

“Kau itu terlalu idealis. Sesekali kau juga harus berpikir realistis. Kita hidup itu di dunia yang real bukan ideal, oke?”

“Arra, arra.” Lihatlah sekarang, sifat menyebalkannya sudah kambuh lagi. “Kau sudah memberi tahu orang tuamu kalau aku di sini?”

“Sudah. Kata appa, dia akan memberitahu ayahmu. Dan sekarang dia menyuruhku untuk mengantarmu pulang. Kajja!”

“Tunggu sebentar. Kau sudah mengurus admistrasinya?”

“Sudah.”

“Obatnya sudah kau ambil?”

“Nanti kita mampir ke apotek.”

“Baiklah. Tapi bagaimana caranya aku ke parkiran dengan keadaanku yang seperti ini?”

“Akh, benar juga. Aku tidak mungkin menggendongmu lagi. Tanganku sudah tidak memiliki tenaga untuk melakukannya. Semua tenagaku sudah habis dan aku belum mengisinya dengan makan malam.” Katanya ringan.

“Ya! Sudah kubilang, aku tidak seberat yang kau pikirkan. Menyebalkan.” Kataku sambil cemberut ke arahnya.

“Hahahha…aku hanya bercanda. Tunggu sebentar, akan aku carikan kursi roda.”

Kemudian dia pergi meninggalkan aku dengan sedikit berlari untuk mencari kursi roda. Sebenarnya aku paling tidak suka merepotkan orang lain, tapi mau bagaimana lagi, melihat keadaanku sekarang pastinya aku akan sering merepotkan orang-orang yang berada di sekitarku. Han ahjumma pasti akan menceramahiku panjang lebar saat di rumah nanti. Menyebalkan.

Tidak lama kemudian Baekhyun sudah kembali lagi dengan membawa kursi roda. Aku di bantu olehnya untuk duduk di kursi roda dari tempat tidur pasien di IGD ini. Tanpa banyak bicara, dia mendorong kursi rodanya menuju parkiran mobil. Selama perjalan menuju ke sana, tidak ada pembicaraan di antara kami. Hening, itulah yang terjadi. Kami begitu hanyut dalam pikiran kami masing-masing.

Begitu sampai di parkiran, dia langsung membuka pintu Lamborghini Gallardo putihnya. Kalau melihat ke sekeliling, mobil-mobil yang terparkir di sana bagaikan seperti parkiran mobil bekas dengan mobil Baekhyun adalah mobil yang sesungguhnya. Seperti sebuah ungkapan, bagaikan air dengan minyak. Aku merasa kasihan pada orang yang memarkirkan mobilnya di sebelah mobilnya Baekhyun ini.

“Apa yang kau pikirkan?” pertanyaannya menginterupsi lamunanku lagi.

“Eobseo, bukan masalah yang penting.”

“Ternyata orang pintar itu di mana-mana otaknya dibuat berpikir. Apa kau tidak merasa kasian dengan otakmu itu?”

“Ya! Aku bukan orang yang seperti itu.”

“Lantas apa yang kau pikirkan? Sampai-sampai dahimu itu berkerut seperti nenek-nenek berumur 70 tahunan.”

“Ya! Tega sekali kau membandingkan aku dengan seorang nenek-nenek. Lagipula, apa semua pertanyaanmu harus aku jawab?”

“Hm, tidak juga. Tapi aku paling tidak suka kalau aku penasaran, dan sekarang kau sudah membuat aku penasaran. Jadi, apa yang kau pikirkan?”

“Dasar pemaksa. Apa begini caramu meminta informasi?”

“Ya bisa dibilang begitu. Waeyo?”

“Ck, aku hanya sedang berpikir, tumben sekali kau membawa mobil, bukankah kau lebih suka bawa sepeda motor?”

“Hanya itu?”

“Ya, hanya itu.”

“Kau sedang berbohong. Aku bisa melihatnya dari sorot matamu yang tidak bisa berbohong.” Matanya menyipit seakan sedang menilai reaksiku.

“Y-ya sudah kalau kau tidak percaya. Bantu aku untuk masuk udara di sini sangat dingin, dan pakaian yang aku kenakan tidak bisa menghangatkanku.”

“Makanya kalau pakai baju itu yang benar. Masa kamu mau saja memakai gaun yang belum jadi seperti ini.” Tunjuknya pada gaunku.

“Ya! Ini memang modelnya seperti ini, bukan karena bajunya belum jadi.”

“Arraseo. Arraseo. aku hanya bercanda. Ini. Pakai ini.” Dia melepas jas hitamnya dan menyampirkannya pada pundakku yang terbuka. Aku bisa mencium wangi tubuhnya. “Apa sudah lebih baik?”

“Hm, lumayan. Gomawo.” Kataku sambil tersenyum ke arahnya yang ada di belakangku.

“Aku tidak suka kau memakai pakaian seperti ini. Kau jangan memakainya lagi.” Katanya sambil menggendongku untuk membantuku masuk dan duduk di kursi penumpang di mobilnya. Sebelum aku diberi kesempatan untuk menjawab, dia segera menutup pintunya. Memasukkan kursi roda tadi ke bagasi mobil yang ada di belakang. Kemudian dia membuka pintu pengemudi.

“Waeyo?” tanyaku saat dia sudah berada di sampingku.

“Karena banyak mata laki-laki yang memperhatikanmu, dan aku tidak suka.” Katanya sambil memasang sabuk pengamannya dan segera menyalakan mesin mobil. Dalam sekejap kami sudah meninggalkan parkiran rumah sakit.

“Kenapa kau tidak suka? Bukankah kita tidak memiliki hubungan apapun? Jadi tidak ada alasan buatmu untuk tidak suka.” Kataku.

“Satu hal yang harus kau ingat adalah kalau kau ini calon tunanganku. Yang berarti calon isteriku. Calon ibu dari anak-anakku. Dan aku tidak mengharapkan orang lain juga berharap memiliki apa yang sudah ada di depan mataku sebagai milikku.” katanya sedikit tegas.

“Tapi satu hal yang harus kau ingat juga Tuan Byun Baekhyun. Aku belum mengatakan untuk menyetujui pertunangan ini. Jadi aku bukan calon isteri maupun ibu dari anak-anakmu. Sehingga aku bukan milikmu. Yang memiliki aku, hanya aku sendiri.” Kataku tidak kalah tegas darinya sambil menatapnya yang sedang fokus mengemudi.

“Tapi aku yakin kau akan menerima pertunangan ini.”

“Percaya diri sekali. Kalau aku menolaknya bagaimana?”

“Tentu saja aku harus percaya diri, karena aku yakin kau tidak akan menolaknya.”

“Dari mana asalnya rasa percaya dirimu yang tinggi itu?”

“Kau ingin tahu?”

“Eoh.”

“Aku tahu saat kau membalas ciumanku tadi, dan kata-kata terakhirmu itu menanda-“

“Stop! Jangan dilanjutkan lagi.” Aku segera memotong ucapannya. Aku begitu malu dengan ucapanku tadi padanya. Kenapa bisa-bisanya aku berkata seperti itu padanya? Bukankah aku sudah bertekad untuk tidak berurusan dengannya lagi tapi kenapa sekarang malah aku semakin banyak berurusan denganya.

“Waeyo? Kau malu?”

“Aku tidak ingin membahasnya.” Jawabku dengan nada sedikit ketus agar dia tidak bertanya lagi padaku.

“Wae? Bukankah kita akan lebih sering melakukannya?”

“Mwo?”

“Bukankah itu kesepatan kita?”

“Tapi aku tidak pernah mendengar kau menyepakati apapun.” Kataku bingung.

“Benarkah? Haruskah kita mengulang kesepakatan kita?”

“Apa maksudmu?” aku tidak mengerti.

“Kau benar-benar bodoh karena tidak tahu atau kau berpura-pura jadi bodoh? Ke manakan otak jeniusmu itu?” jawabnya penuh dengan sarkastik.

“Ya! Aku tidak bodoh, hanya saja aku benar-benar tidak tahu.”

“Benarkah?”

“Tentu saja.”

“Perlukah aku mengingatkannya lagi?” katanya yang diakhiri dengan senyuman mesumnya. Kenapa pula dia tersenyum mesum seperti itu? Kemudian dia menepikan mobilnya ke tepian jalan. Berbalik ke arahku masih dengan senyumannya. “Kau benar-benar tidak tahu?” tanyanya sekali lagi padaku untuk memastikan jawabanku tadi.

“Tentu saja.”

“Baiklah aku akan mengingatkannya lagi.” Katanya sambil melepas sabuk pengamannya. Apa yang akan dia lakukan dengan melepas sabuk pengamannya? Okh, tidak. Sepertinya aku tahu apa yang akan dia lakukan.

“Y-ya! Apa yang akan kau lakukan? Cepat jalankan lagi mobilnya. Aku tidak mau ditilang polisi.” Kataku dengan tubuh berusaha bergerak mundur. Tapi sayangnya punggungku sekarang sudah menyentuh pintu mobil. Sial. Kenapa juga aku harus selalu di keadaan terjepit seperti ini?

“Hanya sebentar saja. Aku hanya ingin mengingatkanmu tentang kesepatakan kita.” Katanya dengan wajah yang sudah tepat berada di depan wajahku. Jika aku bergerak sedikit saja, aku yakin wajah kami sudah saling menyentuh. Maka dari itu yang aku lakukan hanya diam seperti patung.

Matanya menatapku dengan tajam tapi di dalamnya ada rasa tulus dan mesum, mungkin. Bibirnya masih melengkungkan senyuman mautnya. Jika saja aku fans beratnya, mungkin sekarang aku sudah pingsan saat melihat senyumannya itu. Sekarang saja aku yang bukan fansnya serasa disihir oleh pesonanya yang menyebabkan mataku tidak bisa berpaling darinya sedikitpun.

Saat hidungnya menyentuh ujung hidungku. Segera aku menutup mata. Aku tidak sanggup melihatnya yang berada tepat di depanku. Jantungku seakan dipaksa untuk memompa darah dengan cepat untuk memenuhi pasokan darah di kepalaku supaya otakku bisa berpikir jernih lagi. Saat berbagai pikiran sedang berkecamuk di otakku, aku bisa merasakan sesuatu yang lembut sedang mengecup mesra bibirku.

Rasanya masih sama, seperti yang kami lakukan tadi di koridor hotel. Dia memberikan kecupan-kecupan mesra, seakan memujaku. Saat menerima perlakuan manisnya ini, semua pikiran yang sedang berkecamuk di otakku hilang terbawa angin entah ke mana. Sebegitu besarkah pengaruhnya terhadapku?

Aku sedikit membalasnya dengan malu-malu. Maklum, ini baru pertama kalinya aku berciuman dengan seorang laki-laki. Dan aku langsung mendapatkan ciuman dari seseorang yang sudah ahli seperti dia. Tidak pernah terbayangkan olehku, kalau suatu hari nanti aku akan berciuman seperti ini. Apalagi sekarang yang sedang aku cium ini adalah calon tunanganku. Calon suamiku. Calon ayah dari anak-anakku. Ya ampun, apa yang sedang aku pikirkan?

Apakah ciuman-ciuman kami selanjutnya akan terasa seperti ini terus? Aku berharap begitu. Tidak lama kemudian dia melepaskan ciuman kami. Kemudian dia menatapku yang masih memejamkan mata. Jangan tanya kenapa aku bisa tahu kalau dia sedang menatapku. Ini hanya instingku semata.

“Apakah saat sedang berciuman juga kau selalu berpikir?”

“Ne?” aku segera membuka mataku saat mendengar kata-katanya.

“Kenapa kau tidak rileks? Apa yang kau pikirkan?”

“Kau bisa merasakannya?” aku bingung kenapa dia bisa tahu kalau aku sedang berpikir.

“Tentu saja.”

“Aku hanya sedang berpikir, akankah ciuman ini rasanya akan tetap sama di saat kita sudah menikah dan punya anak dengan saat pertama kali kita melakukannya.”

“Kau memikirkan hal itu?”

“Eoh. Waeyo?”

“Ternyata otak jeniusmu bisa berpikiran mesum juga. Kekkkeke” katanya sambil tersenyum menjengkelkan.

“YA!” ku pukul pundaknya tidak terima dengan kata-katanya tadi.

“Kau lucu sekali. Kau hanya harus menikmatinya Sena-ya. Dengan begitu rasa ciuman ini akan terasa tetap sama seperti saat kita melakukannya untuk pertama kalinya.”

“Benarkah? Tapi…” kataku berhenti, bingung harus berkata apa.

“Tapi apa?” tanyanya sedikit tidak sabaran.

“Tapi aku takut kau akan bosan denganku.” Kataku sedikit ragu.

“Kenapa kau bisa berpikiran seperti itu?” tanyanya heran.

“Aku tidak tahu.”

“Perlukah kita mencobanya lagi sekarang untuk mengetahui apakah rasanya akan berbeda?” katanya sedikit menggodaku.

“Shireo!!” kataku tegas sambil mendelik ke arahnya.

“Kau tidak perlu khawatir. Aku yakin kita bisa selalu memvariasikannya supaya kita tidak bosan.”

“Apakah ada begitu banyak variasinya?” tanyaku terkejut saat mendengarnya.

“Tentu saja. Yang tadi itu hanya sebagian contohnya.”

“Woah..Daebak! aku pikir hanya ada satu cara.”

“Kau benar-benar tidak tahu hal yang seperti ini?”

“Aku tidak tahu.”

“Apa saja yang kau baca selama ini? Apa hanya buku pelajaran saja yang kau baca?”

“Tentu saja, aku hanya membaca buku pelajaran dan ada beberapa novel klasik.” Jawabku sambil menganggukkan kepala.

“Woah…apa otakmu tidak jenuh dengan apa yang kau baca?”

“Tentu saja tidak, karena itu semua adalah bacaan yang aku suka.”

“Kau benar-benar kutu buku.” Katanya sambil menggeleng-gelengkan kepala karena tidak percaya dengan jawabanku.

“Arraseo. Aku tahu kalau aku ini kutu buku. Jadi jangan terus mengulang-ngulangnya seakan-akan itu perbuatan yang diterhina sekali.” Kataku kesal.

“Mian, hanya saja aku benar-benar tidak percaya saat kau mengungkapkan semua itu. Kau tahu, kau itu termasuk salah satu gadis tercantik di sekolah. Aku kira orang sepertimu itu lebih suka pergi ke salon atau mall, tapi ternyata…woah, berarti sainganku hanya sebuah buku? Aku tidak percaya ini.”

“Aku juga kadang-kadang pergi ke salon atau ke mall bersama teman-temanku. Jangan di kira aku ini benar-benar wanita cupu yang tidak tahu apa-apa.”

“Baiklah, baiklah. Sekarang aku mengerti.”

“Bagus karena kau memang harus mengerti. Sekarang ayo kita pergi. Aku tidak mau polisi segera datang untuk menilang kita.”

“Baiklah. Di mana rumahmu?”

“Kau bisa mengantarku ke daerah Nonhyeondong, Gangnam.”

“Baiklah.” Katanya sambil kembali memasang sabuk pengamannya dan kembali ke jalanan dengan sedikit menaikkan kecepatan mobilnya. Untungnya jalanan Kota Seoul sudah sepi jadi aku tidak takut untuk berkendara dengan kecepatan yang di atas normal ini. Apakah dia selalu berkendara seperti ini?

Tidak lama kemudian kami sampai di depan sebuah rumah besar bergaya Eropa. Ayah memang suka dengan model rumah yang seperti ini.

“Tidak heran jika keluargamu memiliki rumah seperti ini, tapi yang membuat aku heran adalah kenapa kau pergi ke mana-mana lebih suka dengan naik bis atau kereta.” Katanya sambil mematikan mesin mobil dan membuka sabuk pengamannya saat sudah berada di depan pintu masuk ke rumah. Aku hanya menanggapinya dengan senyuman.

“Bukankah sudah kujelaskan tadi di rumah sakit alasannya. Apa perlu aku jelaskan lagi?” kataku sambil membuka sabuk pengaman.

“Akh, aku lupa. Tidak. Kau tidak perlu menjelaskannya lagi karena aku sedang tidak ingin mendengarkan semua ocehan panjang lebarmu saat ini. Kau tunggu sebentar di sini, akan ku bawa kursi rodanya dulu.” Katanya sambil membuka pintu mobil dan segera keluar. Meninggalkan aku sendirian di dalam mobil. Aku hanya bisa mengamati setiap gerakkannya melalui kaca spion.

Dengan cekatan dia membuka bagasi dan mengeluarkan kursi rodaku, dan membawanya ke arah pintu mobil tempat aku berada. Seperti yang tadi dia lakukan saat membantuku masuk ke mobil, sekarang dia melakukan hal yang sama. Kemudian dia membawaku masuk ke rumah melalui pintu utama. Seorang pelayan dengan cekatan membukakan pintu untuk kami, kemudian dia membungkuk hormat saat kami masuk ke dalam. Aku hanya menganggukkan sedikit kepalaku.

Desain interior di dalam rumah sama seperti desain eksterior di luar rumah. Interior yang digunakan kebanyakan bertema klasik Eropa. Mewah. Itulah kesan pertama yang akan siapapun dapatkan saat melihat untuk pertama kali interior ini. Maklum saja, semua furniture ini ayah beli langsung dari Eropa. Di ruang tamu ada sebuah lampu kristal raksasa dan ada satu set sofa mewah berwarna kream dan coklat yang berasal dari abad pertengahan. Di ruang tamu ini terdapat pula tangga yang menuju ke lantai atas, di mana kamarku berada.

“Agassi.” Terdengar panggilan dari seseorang yang sudah sangat aku kenal. Han ahjumma. Kepala pelayan di rumahku. Aku hanya tersenyum padanya yang sedikit berlari menghampiriku dengan wajahnya yang menampilkan rasa khawatir. Begitu sampai di depanku dia langsung membungkuk sedikit ke arahku dan Baekhyun.

“Han ahjumma.” Sapaku.

“Apa yang terjadi Agassi? Apa anda baik-baik saja? Kenapa dengan kaki anda? Ke mana Tuan Besar? Dan siapa pemuda ini? Apakah dia yang sudah mencelakai anda? Agassi apa yang terjadi?” katanya tanpa jeda dan aku hanya bisa menghela napas dalam, aku mengerti rasa khawatirnya ini tapi aku bukan anak kecil lagi. Selalu saja seperti ini, kalau aku pulang ke rumah pasti semua orang di rumah ini akan memperlakukan aku seperti anak kecil.

“Anda harus bertanya satu-satu Han ahjumma. Aku tidak bisa menjawab semuanya sekaligus.” Jawabku karena bingung harus menjawab pertanyaan yang mana dulu.

“Jeoseonghamnida. Saya terlalu khawatir melihat anda yang tiba-tiba pulang dengan menggunakan kursi roda seperti ini.” Katanya sambil menundukkan kepalanya ke bawah.

“Aku baik-baik saja, hanya saja kakiku sedikit terkilir dan aku tidak bisa berjalan maka dari itu aku memakai kursi roda. Appa akan pulang nanti setelah pestanya selesai. Kalau saja tidak ada Baekhyun mungkin aku akan kesulitan. Jadi Han ahjumma tidak perlu khawatir karena aku sudah memeriksakannya ke dokter tadi dengan Baekhyun.” Jelasku panjang lebar seperti pertanyaan Han ahjumma tadi. “Dan perkenalkan ini Baekhyun, dia calon tunanganku.” Kataku pada Han ahjumma.

Aku bisa menangkap ekspresi terkejut dari wajah Han ahjumma. Aku bisa memakluminya, karena aku juga terkejut dengan perkataanku sendiri. Bagaimana bisa aku berkata kalau Baekhyun calon tunanganku, padahal 20 menit yang lalu kami masih bertengkar kalau aku belum tentu jadi tunangannya, dan sekarang lihatlah. Aku memperkenalkan dia sebagai calon tunanganku pada orang yang telah merawatku sejak kecil.

“Annyeong Haseyeo. Byun Baekhyun imnida. Bangapseumnida.” Katanya dengan nada penuh dengan kebahagian sambil membungkukkan badannya. Mungkin dia benar-benar bahagia dengan perkataanku tadi. Ya sudahlah biarkan semuanya jadi seperti ini. Aku akan menerima pertunangan ini. Lagi pula ini hanya pertunangan bukan pernikahan.

“Ah, Ye. Annyeong Haseyeo. Han Jae Hee imnida. Saya adalah kepala pengurus rumah ini dan saya juga yang telah membesarkan Nona Sena. Bangapseumnida.”dibalas dengan bungkukkan badan yang sama oleh Han ahjumma.

“Ah, saya mengerti.” Balas Baekhyun.

“Aku akan langsung ke kamar untuk istirahat.” Kataku memotong percakapan mereka berdua.

“Ah, ye. Anda perlu bantuan saya?” kata Han ahjumma.

“Tidak. Tidak usah, di sini ada Baekhyun, dia yang akan mengantarku ke kamar.”

“Ye. Apa anda perlu sesuatu?”

“Tidak. Terima kasih. Aku ingin langsung tidur. Besok aku harus ke sekolah.”

“Ye.”

“Kajja, bantu aku ke kamarku di lantai 2.” Pintaku pada Baekhyun.

“Kau sedang memanfaatkanku?”

“Tentu saja.”

“Hah, baiklah. Sepertinya kau sangat suka sekali menyiksaku seperti ini.” Katanya dengan sedikit tidak rela dan aku hanya bisa tersenyum mendengar keluhannya itu. Kemudian dia menggendongku kembali menaiki tangga menuju lantai 2. Saat di tengah perjalanan aku baru ingat akan sesuatu.

“Berhenti dulu.”

“Ada apa?” tanyanya bingung dengan permintaanku.

“Han ahjumma.” Panggilku sedikit berteriak. “Bisakah kau sampaikan pada Kim ahjussi untuk mengantarkan aku ke sekolah besok pagi?”

“Ye, akan saya sampaikan. Apakah ada yang lain Nona?” tanya Han ahjumma.

“Tidak ada. Terima kasih.” Ucapku padanya. Kemudian Baekhyun kembali melanjutkan langkahnya yang sempat terhenti karena permintaanku. Dengan petunjuk yang aku berikan, aku mengarahkan Baekhyun menuju kamar tidurku. Setelah berada di depan pintu kamar, segera kubuka pintunya dengan tangan kiriku karena tangan kananku, aku sampirkan di leher Baekhyun untuk berpegangan padanya.

Saat pintu terbuka, menampilkan sebuah desain kamar tidur seperti putri kerajaan pada cerita anak-anak. Kamar ini sangat luas. Dengan jendela besarnya yang sekarang tertutupi oleh gorden warna kream. Di tengah-tengah kamar terdapat kasur bertiang 4 berukuran cukup besar.

“Woah..jadi ini kamarmu?” tanyanya takjub melihat semua ini.

“Hm, ini kamarku.” Kataku sambil menganggukkan kepala.

“Aku tidak menyangka kau miliki kamar semewah ini.” Katanya sambil membawaku ke arah tempat tidur. Kemudian menurunkanku di tepian tempat tidur. “Sepertinya kita harus memiliki ranjang yang sama seperti ini saat kita menikah nanti.” Lanjutnya sambil melihat-lihat ke sekeliling.

“Waeyo?” tanyaku bingung dengan pernyataannya yang menurutku ambigu.

“Kau ingin tahu alasannya?” tanyanya yang aku balas hanya dengan anggukkan. Kemudian dia tersenyum. “Kau tahu, dengan memiliki tempat tidur seperti ini, kita bisa melepaskan ikatan kain penutupnya seperti ini” katanya sambil melepaskan ikatan kain penutup kemudian melanjutkan kembali kata-katanya yang sempat terhenti, “Dan siapapun tidak akan tahu apa yang sedang kita lakukan. Bukankah itu menarik?”

Seakan tahu ke mana arah percakapan ini, mukaku langsung memerah. Kenapa juga dia harus membicaran hal-hal seperti ini di tempat yang suasananya redup karena hanya mengandalkan pencahayaan dari lampu di samping tempat tidur saja.

Byuntae!” kataku sambil melempar salah satu bantal yang ada.

“Hahhaha…kau membayangkannya?” ku lempar lagi dia dengan salah satu bantalku yang lain. “Woah…ternyata yang byuntae itu bukan hanya aku.” Katanya sambil menangkis lemparanku.

“Kau begitu menyebalkan. Cepat pergi sana, aku mau tidur!” usirku.

“Kau mengusirku? Padahal tadi kau sudah memanfaatkanku untuk membawamu kemari.”

“Geurae. Aku memang mengusirmu. Lagipula ini sudah malam dan besok kita harus ke sekolah. Jadi pulanglah sekarang juga.” Usirku lagi.

“Wah, kau tega sekali pada calon tunanganmu sendiri.”

“Aku tidak peduli.” Kemudian segera saja aku membaringkan tubuhku. Menarik selimut untuk menutupi tubuhku. Jasnya Baekhyun masih aku kenakan karena aku tidak berniat melepaskannya saat ini, aku merasa begitu lelah. Rasanya tidak ada tenaga sama sekali, sisa make-up saja tidak aku bersihkan terlebih dulu. Apa mungkin karena pengaruh cedera yang aku alami? Segera kucoba untuk menutup mata, tapi hal itu aku urungkan karena aku merasa kalau Baekhyun masih ada di dalam kamar sedang mengamatiku.

“Kau akan tidur dengan pakaian seperti itu?” tanyanya penuh dengan nada heran saat menyadari kalau aku belum tidur sepenuhnya.

“Eoh. Aku begitu lelah, aku tidak sanggup menggantinya.”

“Kau akan tidur dengan sisa make-up mu itu?”

“Eoh, besok pagi baru aku bersihkan.” Kataku lagi masih mencoba menutup kembali mataku. Kemudian aku mendengar langkah kaki meninggalkan kamarku. Dan suara derit pintu dibuka kemudian ditutup kembali menandakan kalau dia sudah beranjak dari kamarku.

Namun belum juga ada sepuluh menit berlalu, disaat aku sudah mulai memasuki alam mimpi, kurasakan sebuah sapuan lembut di wajahku. Hangat. Perlakuan ini sukses membawaku kembali ke dunia nyata dari alam mimpiku.

Saat kubuka mata ternyata, ada seseorang yang sedang membersihkan wajahku menggunakan air hangat dengan begitu lembutnya, dan orang itu adalah Baekhyun. Segera aku terduduk di atas tempat tidurku. Kupandangi dia dengan bingung. Dia memandangku dengan tatapan bingung ditambah kaget juga, mungkin dikarenakan aku yang tiba-tiba bangun langsung duduk. Bukankah tadi dia sudah pulang?

“Apa yang sedang kau lakukan?”

“Berbaringlah lagi, aku sedang membersihkan wajahmu.” Pintanya dan mencoba mendorongku untuk kembali berbaring, tapi kutepis tangannya.

“Bukankah kau tadi sudah pulang?” tanyaku heran.

“Aku tidak tega meninggalkanmu dalam keadaan seperti ini, makanya tadi aku turun dan meminta pada Han ahjumma air hangat untuk membersihkan wajahmu. Jadi sekarang kau tidurlah karena posisi dudukmu ini mempersulit pekerjaanku.” Kemudian dia mendorongku lagi hingga aku akhirnya berbaring kembali.

“Diamlah seperti ini, aku tidak mau airnya jatuh kemana-mana.” Pintanya. Aku tidak menolaknya. Aku biarkan dia membersihkan wajahku. “Tutup matamu.” Saat kembali ku tutup mata, kurasakan sapuan lembut itu lagi. Ini membuatku merasa nyaman. Tidak lama kemudian karena terbuai dengan kenyamanannya akhirnya aku jatuh tertidur. Meninggalkan Baekhyun yang masih setia membersihkan wajahku. Tapi beberapa saat kemudian aku merasakan sesuatu yang lembut sedang mengecup bibirku mesra.

Aku tahu Baekhyun yang melakukannya. Namun mataku seakan sudah rapat untuk tertutup, akhirnya aku hanya membiarkannya saja. Kemudian dia mengecup dahiku dan membisikkan kata selamat malam. Aku masih bisa merasakan pergerakkannya saat dia beranjak dari tempat tidurku. Dan terdengar kembali suara langkah kaki menjauh, dan ditutupnya pintu kamar. Aku tahu, yang sekarang ini Baekhyun benar-benar pergi.

Maaf aku tidak bisa mengatakan kata-kata selamat malam maupun kecupan manis buatmu. Kemudian aku jatuh tertidur lagi dengan bibir yang melengkungan sebuah senyuman. Hari ini begitu komplit, dari yang membuatku kesal setengah mati, sampai yang membahagiakanpun terasa.

 

~~

 

Pagi harinya aku diantar ke sekolah oleh Kim ahjussi dengan menggunakan audi a8 warna hitam. Semua siswa begitu terkejut saat melihat siapa yang keluar dari mobil ini. Maklum saja, karena selama ini yang mereka tahu aku pulang pergi selalu menggunakan bis. Dan sekarang aku tiba-tiba pergi ke sekolah dengan menggunakan sebuah mobil mewah. Aku yakin setelah ini mereka akan menggunjingkan aku tentang hal ini tapi aku tidak perduli.

Soojung dan Irene begitu terkejut melihat keadaanku tapi untungnya mereka adalah sahabat yang baik sehingga selama aku masih menggunakan kain kassa di kakiku, mereka membantuku. Aku begitu beruntung mempunyai sahabat seperti mereka.

Hubunganku dengan Baekhyun bertambah serius. Kami jadi semakin dekat, setiap kali bertemu dengannya tidak akan pernah lepas dari yang namanya kontak fisik. Sekarang aku sudah ahli seperti dirinya. Kami melakukannya di manapun kami mau. Baekhyun sering datang ke apartemenku, dan di sanalah tempat kami biasanya bertemu. Bahkan di sekolahpun selalu kami lakukan walaupun secara sembunyi-sembunyi.

Hingga saat ini tidak ada orang yang menyadari hubungan kami, bahkan sahabat-sahabat kami sendiri. Kami menutupinya dengan begitu rapat. Saat bertemu di tempat umum yang ramai, kami akan berpura-pura untuk tidak saling kenal. Tapi saat kami hanya berdua saja, semuanya akan terjadi. Aku tidak bisa mengontrolnya saat bersama dengannya.

Sekarang dia sudah mulai agak berubah. Aku tidak selalu melihatnya dengan gadis lain. Kalaupun aku melihatnya, gadis itu yang terlihat begitu bernafsu pada Baekhyun, tapi dengan sekuat tenaga Baekhyun pasti akan menolaknya. Dan akhirnya, setiap kali bertemu denganku seakan semua pertahanannya runtuh semua. Aku yang menjadi pelampiasannya. Tapi itu lebih baik dari pada dia melampiaskannya pada gadis lain. Aku tidak akan rela. Bolehkah aku bersikap egois dengan hanya ingin memiliki Baekhyun seorang?

Tiba-tiba kurasakan handphoneku bergetar. Saat kubuka ternyata ada sebuah pesan singkat dari Baekhyun.

To : Mi Amour

Kau tidak lupakan hari ini ada pertemuan keluarga kita?

Aku akan menjemputmu jam 6 sore.

Sampai bertemu nanti

Aku tersenyum saat membaca pesan singkatnya. Kemudian aku membalas pesan singkatnya secepat yang aku bisa.

To : My B

Arraseo. Aku tidak melupakannya.

Sampai bertemu nanti

Ku pandangi ponselku seperti orang gila karena tersenyum sediri.

“Apa ada yang lucu?” tanya Irene bingung saat dia melihat tingkah lakuku yang aneh.

“Eobseo. Kajja, kita ke kantin.” Kataku mencoba mengalihkan perhatian Irene. “Soojung pergi ke mana?” tanyaku heran karena tidak bisa menemukan keberadaan sahabatku yang satu ini.

“Entahlah. Mungkin dia pergi ke kantin dengan Jongin. Kau tahu, pasangan baru.” Kata Irene cuek.

“Ah, matta. Aku lupa kalau kita punya pasangan baru.” Kataku sambil menepuk dahiku. Ketika kami sampai di kantin aku bisa melihat Baekhyun dan sahabat-sahabatnya sedang di kelilingi hoobae-hoobae yang menurutku kegenitan. Ingin rasanya aku menarik Baekhyun untuk keluar dari sana. Tapi mau bagaimana lagi, aku terikat sebuah perjanjian yang kami buat sendiri, isinya yaitu sebelum diadakannya acara pertunangan, kami sepakat untuk menyembunyikan hubungan kami.

Dan sekarang aku hanya bisa cemberut melihatnya di kelilingi seperti itu. Walaupun ini merupakan makananku setiap hari tapi rasanya tetap saja sama tidak jauh berbeda. Sakit. Seharusnya dari awal aku tahu kalau kejadiannya akan seperti ini.

“Kajja, antriannya sedang tidak terlalu ramai.” Tarikkan tangan Irene menyadarkanku kembali. Kami mengantri mengambil makanan, kemudian memilih tempat duduk di pinggir. Saat kuperhatikan mejanya Baekhyun, ternyata dia juga sedang menatap ke arah aku dan Irene. Mata kami masih saling tatap sampai Irene menyentuh tanganku. Terpaksa aku memutuskan kontak mata kami dan beralih ke Irene, kemudian dengan dagunya Irene menunjuk ke pojokkan kantin.

Di sana aku melihat Soojung sedang makan siang dengan pacar barunya. Aku iri padanya, seandainya aku bisa bebas menunjukkan kalau laki-laki itu sudah menjadi milikku. Akh, menyebalkan.

“Apa yang sedang kau sembunyikan dariku?” tanya Irene tiba-tiba.

“Ne?” jawabku terkejut.

“Aku tahu kau sedang menyembunyikan sesuatu Lee Sena. Kau pikir aku baru mengenalmu selama satu atau dua bulan? Asal kau tahu saja, kita sudah saling mengenal selama kurang lebih sepuluh tahun. Aku hanya ingin mengingatkan saja.” katanya datar tapi aku tahu kalau dia sedang kesal.

“Mian, aku tidak bisa menceritakannya sekarang. Tapi aku janji, dalam waktu dekat ini aku akan ceritakan semuanya padamu. Jadi maafkan aku untuk yang kali ini, eoh?” pintaku padanya sambil memeluknya dari samping.

“Baiklah. Tapi awas kalau kau tidak cerita padaku tentang apa yang sedang terjadi, kau akan mati ditanganku, arrachi?”

“Ne, arraseoyo.” Jawabku semanis mungkin. “Gomawo Reen-na, kau memang sahabat yang paling pengertian.” Kemudian dia tersenyum padaku, dan kubalas dengan senyuman juga. Kemudian kami makan siang dengan tenang.

 

~~

 

Senjapun tiba. Langit sudah berwarna jingga yang menunjukkan bahwa sang raja siang akan segera meninggalkan singgasananya, dan akan digantikan oleh sang ratu malam. Kulirik jam yang berada di dinding kamar tidurku. Ternyata sudah menunjukkan pukul 17.55. Sebentar lagi Baekhyun sampai. Segera saja aku menyelesaikan riasanku. Aku tidak suka memakai make-up makanya aku hanya menggunakannya setipis mungkin. Kurapikan rambut panjangku yang sengaja ku gerai.

Kupakai anting emas putihku yang memiliki desain simpel dengan bandul berbentuk bunga tanpa ada berliannya. Untuk mempercantik tampilanku, kupakai salah satu gelang emas putih dengan rantai berbentuk menyerupai daun yang dihiasi dengan berlian. Hal ini ku lakukan karena dress yang aku pakai memiliki desain simpel. Warnanya hitam tanpa ada tambahan apapun. Bagian depan dress ini sedikit lebih pendek daripada bagian belakangnya. Dress tanpa lengan ini kupadu-padankan dengan sepatu heel bertali yang tidak terlalu tinggi berwarna senada dengan dressku.

Setelah selesai berdandan. Segera kuambil tas tangan yang berwarna silver karya salah satu perancang tas terkenal dari Perancis untuk menyempurnakannya. Sebelum pergi meninggalkan apartemen, ku pandangi kembali penampilanku untuk yang terakhir kalinya. Setelah dirasa semuanya cukup, aku segera berjalan cepat untuk keluar dari apartemenku karena aku yakin Baekhyun sudah ada di bawah menungguku.

Dan benar saja, Baekhyun sudah menungguku. Mobil Lamborghininya sudah terparkir manis di depan pintu masuk apartemen. Segera kubuka pintu penumpangnya, membuat dia segera mengalihkan perhatiannya yang awalnya hanya tertuju pada ponsel akhirnya memandangku. Kemudian dia tersenyum begitu aku duduk dan memasang sabuk pengamanku. Aku yakin, tidak banyak gadis yang pernah dia bawa dengan menggunakan mobilnya ini, karena dia sebenarnya lebih suka menggunakan motor ninja hitam kesayangannya itu.

“Kau tampak cantik sekali malam ini.” Pujinya sambil memasang sabuk pengaman, kemudian menyalakan mesin mobilnya.

“Kau juga tampan sekali malam ini.” Pujiku padanya. Harus kuakui malam ini dia memang sangat tampan. Padahal dia hanya memakai kemeja warna biru dongkernya dengan celana warna kream dengan sepatu warna kream dengan polet coklatnya. Rambut coklatnya dia belah pinggir dan dinaikkan ke atas. Sepertinya aku semakin terpesona akan dirinya. Masih kupandangi dia dengan senyuman sampai dia berkata sesuatu yang menjengkelkan tentang diriku.

“Gomawo. Tapi apa kau akan pergi ke pemakaman setelah acara ini?” katanya dengan pandangan fokus ke jalan.

“Mwo?” kataku tidak percaya.

“Ya, kau seperti akan ke pemakaman. Lihatlah.” Tunjuknya padaku. “Kenapa kau memakai dress warna hitam? Bukankah seperti akan ke pemakaman? Memangnya siapa yang sedang berkabung? Kekkee.” Jelasnya menjengkelkan dan segera kupukul tangannya.

“Ya! Tega sekali kau berbicara seperti itu padaku. Geureu, aku memakai dress ini karena akan pergi ke pemakaman masa bebasku.” Kataku kesal. Lihat, belum juga lima menit kita saling memuji, dan sekarang kita saling memaki. Kupalingkan kepalaku ke arah jendela. Aku tidak mau melihatnya sekarang ini. Dasar laki-laki menyebalkan.

Tiba-tiba kurasakan sebuah jemari tangan mengelus lembut pipiku. Aku tahu ini jarinya siapa, tapi sebisa mungkin aku menahan senyuman di bibirku akan perlakuan manisnya itu. Kenapa dia selalu bertingkah seperti ini? Pertama menyebalkan, kemudian mengesankan, dan pasti di akhiri dengan menyebalkan lagi. Sepertinya calon tunanganku ini seorang laki-laki abnormal.

“Mian. Aku hanya bercanda.” Katanya mencoba untuk meminta maaf, tapi aku abaikan karena aku lebih tertarik dengan pemandangan di luar sana. “Aku hanya suka menggodamu. Kau tahu di sekolah kita tidak bisa berbuat apapun semau kita, padahal aku menginginkannya. Aku tidak mau reputasimu tercoreng karena perbuatan kita. Maka jadilah seperti ini, saat aku bertemu denganmu semuanya seperti bom waktu, meledak begitu saja.” Ucapnya panjang lebar.

Kemudian tangan yang tadinya berada di pipiku sekarang beralih ke tanganku yang ada di pangkuanku. Dia meremasnya lembut. Saat kurasakan remasannya itu, kualihkan pandanganku kembali padanya. Diapun mengalihkan pandangannya sejenak ke arahku kemudian tersenyum begitu manisnya. Dia membawa tanganku ke arah mulutnya, dan menciumnya lembut. Aku tersenyum ke arahnya. Saat pandangnya kembali tertuju ke arah jalanan, kukecup singkat pipinya.

“Ya! Aku sedang berkendara. Kau mau kita mati bersama? Bagaimana bisa kau melakukan itu?” katanya dengan kata-kata yang dibuat sekesal mungkin. Walaupun aku tahu kalau sebenarnya dia tidak kesal sama sekali.

“Biar saja. Aku sudah tidak tahan ingin menghapus jejak bibir hoobae genit tadi yang ada di pipimu.” Jawabku asal.

“Kau melihatnya?” tanyanya tidak percaya.

“Geureom. Kau pikir aku tidak melihatnya? Aku begitu kesal setengah mati. Ingin rasanya ku jambak rambut hoobae yang berusaha mendekatimu itu.” Kataku sambil memperagakan gerakkan meremas rambut.

“Hahhaa…geurae, kau memang harus menjambak rambutnya.” Katanya sambil tersenyum. Kemudian kami berdua terdiam.

“Bolehkah kunyalakan mp3 playernya?” tanyaku untuk memecahkan keheningan ini.

“Hidupkan saja.” Setelah mendengar jawabannya kuhidupkan mp3 playernya. Terdengar alunan lagu dari Kenny G dengan judul Forever In Love. Suara saxophonenya begitu merdu.

“Kamu menyukai musik seperti ini?” tanyaku heran saat mendengar alunan lagunya.

“Hmm,,lagu-lagu seperti ini sangat menenangkan.” Katanya dengan pandangan masih tertuju pada jalan. “Kau menyukainya?”

“Hmm,,aku juga suka tapi aku lebih suka lagu jazz dan orkestra. Kau bisa memainkan saxophonenya?” tanyaku penasaran.

“Tentu saja. Selain saxophone aku juga bisa memainkan piano, biola, cello, dan juga gitar.” Katanya penuh dengan percaya diri.

“Benarkah?”

“Kau tidak percaya padaku?”

“Kalau begitu kau harus memainkannya di depanku, baru aku akan mempercayainya.”

“Baiklah. Itu bukan hal yang sulit.”

“Call. Kau harus menepatinya karena kau sudah berjanji.”

“Arraseo. Kita sudah sampai.” Katanya. Dan benar saja, kami sudah sampai di restoran Perancis yang kami tuju. Kemudian dia menghentikan mobilnya di depan pintu masuk restoran. Kami membuka sabuk pengaman masing-masing kemudian keluar. Seorang penjaga datang menghampiri kami. Saat dia melihat mobil yang dibawa Baekhyun matanya membulat sempurna. Mungkin karena ini kesempatan langka buatnya untuk mengendarai mobil sekelas Lamborghini.

Aku berjalan ke arah Baekhyun, kemudian menggandeng tangannya. Dengan melihat dari luar saja kami sudah tahu kalau restoran La Categorie ini merupakan salah satu restoran mewah yang ada di Seoul. Saat kami masuk ada beberapa karyawan menyapa kami.

“Selamat datang. Apakah anda sudah reservasi?” tanyanya sopan. Mata pelayan yang sedang bertanya pada kami itu tidak bisa melepaskan tatapannya pada Baekhyun. Lihatlah bahkan sekarang mulutnya sedang terbuka, benar-benar terpesona akan ketampanan Baekhyun. Apakah dia tidak sadar kalau sekarang ini aku sedang menggandeng tangannya. Ya eonni! Laki-laki yang ada di sampingku ini sebentar lagi akan menjadi milikku jadi jangan berharap dia akan melirikmu. Rutukku dalam hati.

“Reservasi kami atas nama Byun Seunghoon.” Jawab Baekhyun yang berhasil menyadarkan pelayan tadi dari imajinasinya. Kemudian dia sedikit menunduk untuk menyembunyikan rona merah di wajahnya. Tapi sayangnya aku sudah melihatnya. Kutatap dia dengan pandangan sinisku.

“Ah, mari saya antar. Ruangannya berada di sebelah sini.” Katanya sambil tersenyum semanis mungkin guna mencoba menggoda priaku. Tapi senyuman itu langsung hilang saat dia melihat tatapan tidak sukaku. Kemudian dia segera berjalan di depan kami. Membimbing kami menuju ruangan yang sudah kami pesan.

“Berhenti menatapnya seperti itu. Kau seperti singa betina yang menemukan mangsanya.” Bisiknya di telingaku. Ku tolehkan wajahku padanya. Jadi dia tahu kalau aku sedang menatap pelayan tadi seperti itu. Ku gerakkan kepalaku ke arah telinganya, kemudian berbisik.

“Aku tidak suka cara dia tersipu malu padamu. Memangnya perbuatan apa yang harus membuat dia malu padamu? Menjengkelkan. Tidak di sekolah, tidak di restoran, semua wanita seperti takluk akan pesonamu.” Bisikku kesal tapi hanya ditanggapi dengan senyuman olehnya. Bukankah itu menyebalkan sekali?

“Ini ruangannya.” Katanya masih dengan wajah yang merona. Kenapa aku kesal sekali padanya? Kulihat matanya menatap Baekhyun penuh harap akan berpaling padanya. Ku kerucutkan bibirku sebal melihat itu semua. Kelakuannya itu seakan tidak peduli akan tatapan sinusku padanya.

“Terima kasih.” Kemudian Baekhyun kembali tersenyum pada pelayan tadi, dan dibalas dengan senyuman menggoda oleh pelayan itu. Baekhyun mengalihkan perhatiannya padaku yang ada di sampingnya. Tanpa di duga, jemari tangan Baekhyun menyentuh wajahku dan berusaha memalingkan wajahku agar bisa menghadapnya.

Dengan secepat kilat dia mencium bibirku mesra dengan penuh kelembutan seperti biasanya. Aku begitu terkejut dengan perlakuannya. Tapi yang lebih terkejut adalah pelayan tadi. Kemudian seakan sadar sesuatu, dia segera pamit tanpa berkata apa-apa lagi. Mungkin dia sedang patah hati karena laki-laki yang ditaksirnya sudah ada yang memiliki.

Aku tersenyum penuh kemenangan akan kejadian ini. Makanya jangan coba-coba merayu laki-laki yang sudah menjadi milik orang lain, kataku dalam hati. Setelah menyadari pelayan tadi sudah pergi, Baekhyun kemudian menjauhkan wajahnya dariku, membuat kontak kami terputus. Kemudian dia tersenyum penuh sayang.

“Kau sudah puas?”

“Hm.” Jawabku sambil mengangguk padanya dan membalas senyum penuh sayangnya.

“Jangan cemberut lagi. Kau sangat jelek kalau terus cemberut seperti itu.” Ucapnya sambil mengelus pipiku.

“Arraseo. Kajja, sepertinya para orang tua sudah menunggu kedatangan kita.” Ucapku. Kami berbalik menghadap pintu, dan membukanya. Saat pintu terbuka, ruangan ini menampilkan suasana nyaman seperti di rumah sendiri. Terdapat meja bundar besar yang di atasnya terdapat sebuah lampu kristal mewah. Ruangan privat ini benar-benar di desain hanya untuk dipakai oleh orang-orang yang punya uang saja.

Seluruh kursi di ruangan ini telah terisi oleh anggota keluarga kami. Hanya menyisakan dua buah kursi kosong yang memang dikhususkan buat kami tempati. Aku duduk di antara Baekhyun yang berada di sebalah kananku dan appa di sebelah kiriku. Sebelum duduk, ku hampiri ayah dan kukecup pipinya.

“Selamat malam appa.”

“Malam sayang. Kau cantik sekali malam ini.” Pujinya. Aku hanya tersenyum. Kemudian aku melirik ke arah kursi orang tuanya Baekhyun.

“Selamat malam Tuan dan Nyonya Byun.” Sapaku hormat.

“Selamat malam juga Sena. Dan jangan panggil kami Tuan dan Nyonya Byun lagi, panggil kami abeoji dan eomeoni, karena sekarang kamu akan jadi bagian dari keluarga kami.” ucap Nyonya Byun atau yang sekarang akan aku panggil eomeoni.

“Ne.” Patuhku.

“Ah, kenalkan ini Byun Nahyun, dia kakak perempuannya Baekhyun. Mereka selisih 7 tahun.” Kata ayahnya Baekhyun.

“Annyeong haseyeo. Lee Sena imnida. Bangapseumnida.” Sapaku.

“Ne, annyeong haseyeo. Byun Nahyun imnida. Bangapseumnida.” Sapanya tidak kalah ramah dariku. Kemudian kami saling berjabatan tangan. Tanpa diduga olehku, Nahyun eonni langsung memelukku. “Ah, tidak kusangka aku akan mempunyai adik perempuan. Lain waktu kalau kau sedang tidak sibuk kita harus melakukan beberapa kegiatan perempuan bersama, arrachi?” katanya penuh dengan semangat.

“Ne.” Kubalas pelukkannya. Kemudian setelah perkenalan singkat kami, acara makan malam dimulai. Suasana di ruangan ini sangat hangat. Berbagai candaan saling kami lontarkan satu sama lain. Tanpa dirasa keluarga kami berbaur dengan begitu mudahnya. Aku dengan Nahyun eonni akhirnya duduk bersebelahan, kami mengobrolkan banyak hal. Seperti inikah rasanya mempunyai seorang saudara. Saat kulirik Baekhyun, dia sedang cemberut sambil menatap makanannya. Aku yakin dia sangat kesal karena tempat duduknya diambil alih oleh kakaknya sendiri.

Setelah acara makan malam ini berakhir, pembicaraan inti akhirnya dimulai. Suasana ruangan yang tadinya ramai dengan candaan tiba-tiba berubah menjadi serius. Keluarga kami membicarakan tanggal pertunangan kami. Akhirnya kami sepakat bahwa tanggal pertunangan akan diadakan sebulan dari sekarang. Hal ini dilakukan karena ayahku hanya akan ada di Korea sampai dengan satu bulan ke depan saja.

Setelah itu dia akan pergi ke Inggris untuk mengurus bisnis di sana. Jadi sebelum pergi meninggalkan aku sendirian lagi ayah ingin aku ada yang menjaga. Dan kebetulan saat pesta ulang tahun perusahaan kami digelar Baekhyun mengajukan diri untuk jadi tunanganku.

Tidak terasa acara makan malam keluarga ini berakhir pada jam 9 malam. Kami semua keluar dari restoran bersama-sama. Tanganku digandeng oleh Nahyun eonni, ternyata kami memiliki banyak kesamaan sehingga tidak susah buat kami untuk bisa dekat seperti ini dalam waktu yang singkat. Saat aku mencapai pintu keluar, kulihat pelayan yang tadi sempat menggoda Baekhyun.

Dia membungkukkan badannya dan memberikan senyumannya pada kami. Semua orang tidak memperhatikannya, tapi dia masih memperhatikan Baekhyun. Ternyata dia masih belum menyerah juga. Tapi karena hari ini aku sedang bahagia jadi akan aku abaikan perilaku tidak sopannya itu kali ini.

“Hati-hati di jalan sayang. Besok malam kau harus pulang ke rumah karena appa akan ada di rumah.” Salam perpisahan ayah padaku saat sudah berada di luar restoran.

“Ne. Aku akan pulang.” Jawabku. Satu persatu mobil kami datang dibawakan oleh penjaga yang dikhususkan untuk membawa mobil kami. Kupeluk ayah saat mobilnya sudah ada di depan kami. “Selamat malam appa. Mimpi yang indah.” Kembali kukecup pipinya.

“Ne, selamat malam juga sayang. Jangan tidur terlalu malam. Kau yakin tidak akan pulang bersama appa malam ini?” tanyanya padaku.

“Tidak. Aku tidak membawa seragam sekolah untuk besok.”

“Baiklah. Hati-hati di jalan. Appa pulang.” Kata ayah menyerah.

“Ne.” Kulambaikan tangan pada ayah. Kemudian ayah juga pamitan pada keluarga Byun, dan sedikit berbicara pada Baekhyun.

“Jaga putriku nak.” Katanya sambil memeluk Baekhyun.

“Ne. Aku akan menjaganya abeoji.” Jawab Baekhyun. Ayah melepaskan pelukkannya dan berpaling padaku, memberikan senyuman hangatnya kemudian naik ke mobil. Saat mobil yang ditumpangi ayah bergerak pergi, aku memberikan salam perpisahan pada kedua orang tua Baekhyun.

“Selamat malam abeoji, eomeoni, Nahyun eonni.” Kataku sambil tersenyum dan sedikit membungkuk pada mereka.

“Ne, Selamat malam Na-ya.” Kata abeoji.

“Selamat malam Na-ya. Hati-hati di jalan. Kapan-kapan main ke rumah, eomeoni dan Nahyun akan senang dengan kunjunganmu.” Kata eomeoni. Kemudian memelukku. Hangat. Seperti inikah pelukkan dari seorang ibu yang sudah lama tidak aku rasakan?

“Ne. Lain kali aku akan main ke sana.”

“Bagus.” Eomeoni melepaskan pelukkan kami. Kemudian berkata, “Jangan pulang terlalu malam, Baek. Dan pastikan Sena sampai dengan selamat di apartemennya, arrachi?” kata eomeoni tegas.

“Ne. Aku akan memastikan dia pulang dengan selamat. Eomma tidak perlu khawatir.” Kata Baekhyun penuh percaya diri.

“Jangan mengebut mengendarai mobilnya!” katanya lagi sebelum masuk ke dalam mobil.

“Ne.” Jawab Baekhyun seadanya.

Setelah eomeoni, yang terakhir mengucapkan salam perpisahan adalah Nahyun eonni.

“Selamat malam Sena. Ingat pesanku, kau harus hati-hati dengan bocah ingusan ini, arrachi?” katanya sambil mendelik ke arah Baekhyun. “Kalau dia macam-macam laporkan saja dia padaku!” tambahnya.

“Noona.” Protes Baekhyun.

“Akan ku pastikan dia mati di tanganku.” Bisiknya.

“Ne.” aku hanya menjawabnya dengan senyuman.

“Aishh, jinjja. Cepat pulang sana, appa dan eomma sudah menunggumu.” Protes Baekhyun sambil mendorong kakaknya untuk segera masuk ke mobil.

“Arra, arra. Kau tidak usah mendorongku seperti ini. Aku masih bisa jalan sendiri.” Protes Nahyun eonni. Aku hanya bisa tertawa melihat kelakuan kakak beradik itu. Kemudian mobil yang mengangkut keluarga Baekhyunpun jalan. Kami memberikan lambaian tangan kami pada mereka.

Di sini hanya tinggal menyisakan kami berdua. Mobil Baekhyun dari tadi sudah ada di dekat pintu keluar ini, tapi dikarenakan kami yang paling muda sehingga akhirnya kami pulang yang paling terakhir. Kemudian Baekhyun merangkul pundakku, sambil membisikkan sesuatu.

“Kau harus dihukum karena sudah berani mengabaikanku saat makan malam tadi.” Bisiknya yang aku yakin hanya kami yang bisa mendengar ucapannya itu.

“Ne? Apa maksudmu?” tanyaku bingung.

“Kau akan tahu nanti. Kajja, kita pulang.” Ucapnya sambil melepas rangkulannya, beralih untuk menggengam tanganku dan membawaku masuk ke mobilnya dengan perasaanku yang masih bingung. Apa yang salah dengan makan malam tadi? Kenapa juga aku harus di hukum? Pikirku.

Tanpa kami sadari ternyata ada seseorang yang tengah mengambil foto kami berdua saat berada di luar restoran ini.

 

 

~ FIN ~

 

 

Akhirnya series kedua selesai juga /yey/

Aku seneng banget, karena dengan berakhirnya series kedua ini aku jadi bisa fokus pada pekerjaanku yang lain, soalnya saat cerita di series kedua ini belum selesai pikiranku hanya tertuju pada cerita ini, padahal aku masih punya kehidupan nyata yang harus aku jalani.

Aku mau minta maaf karena terdapat kesalahan dalam penulisan judul yg memakai bahasa Inggris dan aku baru menyadarinya sekarang2 ini. Pantesan dari kemarin2 itu aku merasa ada yg mengganjal saat baca ulang judulnya, dan ternyata terdapat kesalahan dalam penulisannya. Jeseonghamnida…

Aku merasa antara judul sama jalan ceritanya ga terlalu nyambung, dan aku bingung. Ini aja udah aku potong beberapa adegan, kalau jadi direalisasikan mungkin kalian yang baca akan cepat bosan dengan jalan cerita ini. Jadi kalian sambung-sambungin aja antara jalan cerita dengan judulnya, oke? /maksa/

Seperti biasa, aku ucapkan terima kasih buat yang mau baca. Aku tunggu komen, kritik, maupun sarannya apapun itu yg membangun, kalaupun saran buat ide cerita selanjutnya juga ga papa mungkin kritik dan sarannya kalau pas bisa aku pake di series selanjutnya.

See you :-*

 

Regards,

Azalea

 

 

24 responses to “[Freelance] LADY LUCK – Part 2 (2nd Series)

  1. yg ngambil foto mereka siapa? paparazi? duh parah bikin penasaran harus ada lanjutannya kak; duh nunggu bgtt! baekhyun plis baik bgt so sweet bgt bikin gemeeesss bgt dah. ntap! love baekhyun love kakak jugaaaak💚

  2. Itu siapa yg ngambil foto mereka yh??? Dia dah cinta bgt sma baekhyun… tp di playboy kan sena kecewa bgt sama baekhyu… apa baekhyun udah berubah bgt saat udah bertunangan???

  3. Loh kak bukannya ini udah pernah di upload ya? tapi walaupun udah pernah di upload aku masih baca soalnya baguss hehehe.Ditunggu sequel nya kaaakk kekke

  4. i like thisss ,,, masih ada lanjutannya kan ??? Aku penasaran banget Nextttttttt yang di part 1 nyaa ,,,, harus ada pokoknya // maksa//

    Fighting:p chingu

  5. chingu aku boleh nggak menyalurkan ideku untuk ff ini,,, aku suka banget pasar tbc part 1 nya ,,, yang sena ngeliat baek di uks ,,, pgn banget tak TENGGELAMIN tu bacon ,,,
    Klo chingu setuju kita bisa share2 ,,, aku tunggu konfirm nya yaAaaaaaaaaaaaaaaaaaaa ,,,, gomawooooo
    ini twitter ku @yusliaz (zhafira faidaazmi ) … Aku minta kontak chingu yaa ,,,

  6. aku baru nyadar kalo ini masih flash back yaa thoorr~~ , kapan balik ke waktu awal ?? udah penasaran aku sama apa yang bakal di lakuin bakhyun yang ketahuan having fun sama cewek lain di uks . fiuhh harap aja deh baekhyun bakal melas” minta maaf ..
    nextnya di tunggu ya thorr , fighting !

  7. aku pikir ini kelanjutannya
    gk tahunya diulang
    penasaran bagaimana kisah mereka selanjutnya
    segera ya series selanjutnys

  8. nie bukan nya udah di posting yah??
    ahh kapan balik ke waktu awal, penasaran sebenernya sama perasaan baek gimana. ohyah ini semua sena pov yah??

  9. Ini belum selesai kan ? Masih ada next chapter man? Seriusaaaaan, nanggung banget ini man. Terakhirnya biking penasaraaaaaaaaan
    Tapi ff ini bagus baaangeeeet

  10. Terlalu manis flashback nya -_- Sudah selesai kah flashback nya? Aku penasaran sama kelanjutannya, next yaaaa

  11. ada paparazi?? hmm… 😯
    kapan flashbacknya kelar? aku udh ga kuat ngeliat si cabe sok manis gitu -_-”
    emang dasarnya playboy sih :/

    ini masih lanjutannya series 1 kann???

  12. Msh flashback yha thor, penasaran bgt asli sma ceritanya.. trs yg foto mereka siapa deh plis jgn gantungin akau thor, penasaran bgt nihh fighting yhaa lanjut ke next partnya ♥♥ suka bgt sma ceritanya, baekhyun jga romantis bgt bikin iri >_< sarannya sih biar dicepetin next partnyaa hehee maksa ya ngga kok thor santai aja cuma bercanda ^_^.. semangaattt!!!

  13. Ahhh ceritanya makin menarik, jadi Baekhyun mulai berubah? baguslah ^_^

    Kira kira siapa yang ngambil gambar Sena sama Baekhyun?

  14. Pingback: [Freelance] WHAT IS LOVE – Part 2 [4th Series] | SAY KOREAN FANFICTION·

Leave a Reply to zhafi Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s