[FINAL] Game Over (Sequel A Game huh #9) — by BARLEEY

tumblr_static_large

₰ Title:[FINAL] GAME OVER | Author: dobivirus (@Viorin_Ollin) | Cast: Byun Baekhyun, OC | Word: +5k | Rate: PG-16 | Blog: dobivirus.wordpress.com

***

Previous : [A Game, huh?] | [It’s Not Your Game] | [I’m The Loser] | [Sibling Complex?] | [Decoy?] | [Disappointed] | [Fixed] | [Your Brother] | [Complicated]

 

 

 

 

Dokter Choi keluar dari kamar Baekna sambil melepas stetoskop dari telinganya. Jongin, Sehun dan Baekhyun yang berada didepan pintu kamar langsung menghampiri Dokter itu.

 

“Bagaimana keadaan Baekna, Dok?”

 

Dokter Choi tersenyum seperti biasa. “Saya sudah membalut luka Baekna. Total luka dalam ada 8, selebihnya hanya goresan dan luka ringan.” ucap Dokter Choi, ia menatap Baekhyun dengan tatapan serius setelah itu, “Apa Baekna mencoba bunuh diri? Saya menemukan beberapa sayatan didekat pembuluh nadi Baekna.”

 

Baekhyun hanya mengangguk dengan tenang. Sedangkan Sehun dan Jongin tampak kaget karena anggukan dari Baekhyun. “Ya, kurasa begitu.” jawab Baekhyun.

 

Dokter Choi menghela nafas, “Baekna hampir kehilangan banyak darah. Hal itu membuat tubuh Baekna lemas.” ucapnya. “Setelah ini pastikan Baekna mendapat asupan untuk tubuhnya. Tentang kain kasa, Baekna harus menggantinya sebanyak dua kali sehari.”

 

Baekhyun kembali mengangguk, “Baiklah terima kasih dokter.” ucapnya.

 

Dokter Choi meninggalkan kediaman keluarga Byun dengan diantar oleh Baekhyun hingga kepintu depan. Setelah itu Baekhyun menyusul Jongin dan Sehun yang sudah terlebih dahulu memasuki kamarnya—tempat dimana Baekna berada.

 

Ketiga pria yang ada diruangan itu mengelilingi Baekna yang duduk dengan kepala tertunduk. Hening menyelimuti mereka. Baekhyun dapat melihat tatapan lekat yang ditujukan Jongin pada Baekna.

 

“Berhenti menatapku seperti itu Jongin.” gumam Baekna nyaris tak terdengar. Gadis itu tak mengangkat kepalanya sedikitpun dan tetap menunduk.

 

Jongin mendengus, “Kau membuat semua orang khawatir.” paparnya. “Aku tak menyangka sifat kekanak-kanakanmu bisa menjadi seperti ini. Nyawa bukanlah hal yang bisa kau anggap main-main Baekna.”

 

“Aku tak peduli.”

 

“Jaga sikapmu.” Baekhyun menyela. “Jongin benar, kau tidak bisa bermain-main dengan nyawamu. Jika sampai kau mengulanginya lagi, aku benar-benar marah padamu.”

 

Baekna mengangkat wajahnya dan menatap Baekhyun dengan tatapan yang sulit diartikan.

 

“Tidak hanya itu, aku bahkan tak ingin lagi bertemu denganmu.” lanjut Baekhyun dengan nada datar.

 

Baekhyun dapat melihat pupil mata Baekna yang melebar, tanda jika gadis itu tidak menyangka Baekhyun benar-benar mengancamnya.

 

Baekna terdiam beberapa saat. “Aku.. Aku tidak akan mengulanginya lagi.” ucapnya parau.

 

“Bagus kalau begitu. Jangan berfikir jika ucapanku hanya ancaman semata, karena kau tahu bagaimana sifatku Baekna-ya.”

 

Baekna mengangguk lemah lalu membaringkan tubuhnya tanpa menatap seorangpun yang ada diruangan itu. “Aku akan istirahat. Biarkan aku sendiri.” ucapnya.

 

Baekhyun beranjak dari posisinya dan berjalan kepintu kamar dengan Sehun yang mengikutinya. Sedangkan Jongin masih enggan meninggalkan Baekna dan memilih untuk mengusak rambut gadis itu barang sebentar. “Istirahatlah, jangan melakukan hal bodoh lagi. Aku menyayangimu.”

 

Jongin tersenyum kecut melihat reaksi Baekna yang seakan mengabaikannya. Gadis itu bahkan seperti tak mendengar apapun yang dikatakan Jongin padanya. Dengan kecewa, Jongin memutuskan untuk keluar dari kamar itu.

 

 

 

________________

 

 

 

Baekhyun menatap kosong pada ponselnya yang berada dihadapannya. Ia baru saja menelepon Ayahnya agar mereka bisa berbincang mengenai keadaan Baekna. Tetapi sayangnya Tuan Byun benar-benar tidak bisa diganggu bahkan untuk sekedar mengangkat telepon Baekhyun barang semenit.

 

Keadaan Baekna benar-benar berpengaruh bagi daya pikirnya. Ia bisa terlihat tenang didepan Jongin, Sehun, Baekna bahkan dokter Choi. Tetapi pada saat ia sedang sendiri, Baekhyun tidak bisa untuk terus bersikap tenang. Ia khawatir pada adiknya. Sangat.

 

Baekhyun mengacak rambutnya frustasi. Entah sudah yang ke berapa kalinya ia bertingkah seperti itu, bahkan sekarang rambutnya yang hitam legam tampak berantakan.

 

Baekhyun kembali menyambar ponselnya. Kali ini ia mencoba menghubungi Ibunya untuk mengatakan keadaan Baekna. Baekhyun mengetuk-ngetuk meja didepannya dengan tidak sabar.

 

Baekhyun?” pada dering ke enam akhirnya Nyonya Byun mengangkat telepon dari Baekhyun.

 

Tanpa sadar Baekhyun meremas ponselnya. Gerahamnya terkatup rapat, “Ibu, Baekna—“

 

Sebentar, dengarkan Ibu Baekhyun.” ucap Nyonya Byun tergesa.

 

Baekhyun terpaksa menghela nafas dan bersabar mendengarkan apa yang Ibunya katakan.

 

Malam ini sahabat sekaligus rekan bisnis Ayahmu akan datang kerumah untuk dinner dengan keluarga kita. Pakai tuxedo terbaikmu dan katakan pada Baekna untuk memakai gaun yang ibu belikan sebulan yang lalu di Paris.” ucap Nyonya Byun.

 

“Tapi Ibu, Baekna sedang sakit!”

 

“Ibu tahu Baekhyun-ah. Ini demi kebaikannya juga. Ibu berharap jika Baekna segera melupakan perasaannya padamu ketika ia melihatmu bahagia.”

 

Bahagia?

 

“Apa maksud Ibu?”

 

Nyonya Byun terdengar menghela nafas. “Tentang apa yang dikatakan Ayahmu tadi pagi, ia tidak bisa mengirimmu untuk belajar ke Jepang. Jadi Ayah dan Ibu memutuskan untuk melakukan perjodohan dengan anak dari sahabat Ayahmu.

 

Baekhyun menggertakkan giginya. “Baekna akan semakin parah. Ibu tak mengerti, Baekna tak akan tinggal diam jika aku dijodohkan. Lagi pula Ibu tidak tahu keadaan Baekna yang sekarang.” Baekhyun mencoba meredam emosinya dan merendahkan nada bicaranya, “Jadi batalkan acara hari ini. Demi Baekna.”

 

Tidak bisa Baekhyun-ah. Ayahmu sudah mengundang keluarga mereka kerumah kita. Kuharap kau bisa mengerti.

 

“Tidak sekarang! Kumohon dengarkan aku Ibu! Baekna mengalami gangguan psikis. Ibu tidak melihat betapa banyaknya luka yang ia goreskan ditubuhnya!” Baekhyun dapat merasakan matanya memanas. Ia sadar ia telah membentak Ibunya sendiri, tetapi ia benar-benar tidak bisa berbicara dengan tenang.

 

Maafkan Ibu Baekhyun. Tapi ini keputusan kami. Ayah akan sangat menyesal pada sahabatnya jika kita membatalkan acaranya begitu saja. Sekali lagi, maafkan Ibu.

 

Setelah itu Baekhyun hanya mendengar suara sambungan terputus. Baekhyun memejamkan matanya, tangannya meremas ponsel yang ada ditangannya seakan ingin meremukkan benda keras itu.

 

Tanpa bisa dicegah, Baekhyun melempar ponselnya ke dinding putih dihadapannya hingga membuat benda persegi panjang itu tercerai-berai. Ia meremas rambutnya, “Brengsek!!” teriaknya.

 

 

___________________

 

 

 

Baekna membuka matanya perlahan dan mencoba untuk meregangkan badannya. Tetapi seketika ia merasakan perih disekujur tubuhnya. Ia terduduk dan terdiam beberapa saat.

 

Tangannya meraba perban yang menutupi luka dipergelangan tangan kirinya. Ia melepas perban itu dalam sekali sentakan. Sekarang Baekna bisa melihat lukanya yang menganga lebar akibat kaca yang ia torehkan berkali-kali kepergelangan tangannya.

 

Gadis itu hanya membuang nafas kasar. Ia turun dari ranjang milik Baekhyun lalu mendekati jendela yang ada disana. Baekna bisa melihat langit sore berwarna jingga dari tempat ia berdiri sekarang. Gadis itu mengernyit, berapa jam ia tertidur?

 

Tiba-tiba pintu kamar itu terbuka. Tanpa berbalik, Baekna sudah tahu jika saat ini Baekhyun yang memasuki kamar itu. Memangnya siapa lagi yang ada dirumah ini selain mereka berdua?

 

“Kau sudah bangun? Bagaimana keadaanmu?” tanya Baekhyun dari belakang.

 

Baekna berbalik dan menatap Baekhyun dalam diam, tak berniat sama sekali menjawab pertanyaan saudara kandungnya itu. Ketika Baekhyun melangkah lebih dekat kearahnya, pupil mata Baekna melebar. Mata Baekhyun terlihat sembab dan.. merah.

 

Baekna masih mematung ketika Baekhyun meraih pergelangan tangan kirinya. Baekhyun memperhatikan luka Baekna lekat-lekat. Setelah itu matanya beralih menatap Baekna dengan tatapan yang sulit diartikan. “Apa dokter Choi lupa membalut lukamu yang ini?”

 

Baekna menunduk dan menggeleng pelan.

 

Baekna bisa mendengar Baekhyun mendengus kasar. Tetapi Baekhyun tidak memarahinya, membentaknya ataupun menasehatinya. Baekhyun hanya diam dan menarik Baekna agar kembali duduk diranjang miliknya. Sungguh, sifat diam Baekhyun membuat Baekna takut. Takut jika Baekhyun tak lagi peduli padanya.

 

Baekhyun beranjak keluar dari kamar. Baekna berfikir jika Baekhyun tidak akan kembali lagi melihat keadaannya. Tetapi ia salah, beberapa saat kemudian Baekhyun kembali lagi dengan membawa kotak pertolongan pertama ditangannya.

 

Baekna menyaksikan gerak-gerik Baekhyun tanpa melewatkan sedikitpun detailnya. Ia menatap Baekhyun yang saat ini duduk disampingnya dan mulai merawat lukanya. Persis seperti apa yang ia lakukan pada luka Baekhyun ketika mereka liburan dipulau pribadi Baekhyun beberapa hari yang lalu.

 

Oppa..” ujar Baekna lirih.

 

Gerakan tangan Baekhyun yang membalut lukanya terhenti seketika. Ia mendongak dari luka Baekna dan menatapnya dengan tatapan yang sarat akan lelah. “Ada apa?” tanyanya.

 

“Kenapa Oppa masih peduli padaku?” tanya Baekna setengah melamun.

 

Baekhyun hanya tersenyum simpul dan kembali menunduk membalut luka Baekna. “Karena kau adikku.” Balasnya.

 

Baekna tersenyum kecut. Ia tidak suka jawaban Baekhyun. “Aku membencimu.” Tukas Baekna. Ia handak menarik tangannya kembali tetapi Baekhyun bersikeras memegangi pergelangan tangannya.

 

Baekhyun tertawa pelan, sangat kentara ia memaksakan tawanya. “Aku menyayangimu juga, Baekna.”

 

Baekna memejamkan matanya sejenak. Dadanya masih bergemuruh ketika mendengar kata-kata itu dari mulut Baekhyun. Ia tidak lagi berusaha menarik tangannya. Ia hanya diam sampai Baekhyun menyelesaikan membalut lukanya.

 

“Jangan membukanya lagi. Lukamu tidak akan sembuh jika tidak diobati.” Ujar Baekhyun. Ia mengacak pelan puncak kepala Baekna. Setelah itu ia menunduk dan menyeka setitik airmata yang entah sejak kapan mengotori wajahnya.

 

Baekhyun menghela nafas dan menatap langit-langit kamarnya. Ia merebahkan tubuhnya dengan kedua tangan dibelakang kepala. Ia mencoba untuk bersikap santai.

 

“Ibu bilang nanti malam rekan kerja Ayah akan datang kerumah.” Ujar Baekhyun pelan. Ia menatap punggung Baekna sambil menghela nafas. “Ibu juga mengatakan jika kau harus memakai gaun yang cantik. Aku akan memakai tuxedo terbaikku nanti.”

 

“Aku tidak mau.”

 

Baekhyun menghela nafas mendengar ucapan Baekna. Senyum tipis tersungging dibibirnya. “Aku penasaran seperti apa jika kau memakai gaun.” Ujar Baekhyun. “Pasti cantik. Kau mau memakainya untukku?”

 

Baekna masih diam. Posisinya yang membelakangi Baekhyun membuat Baekhyun tidak bisa membaca apa yang sedang difikirkan Baekna.

 

“Kurasa rekan kerja Ayah bukanlah orang yang sembarangan. Makanya Ibu menyuruh kita mempersiapkan segalanya nanti malam.” Baekhyun kembali mengambil posisi duduk berhadapan dengan Baekna. “Kau mau menolong Ayah dan Ibu bukan?”

 

Baekna tersenyum kecut, ia menatap Baekhyun dengan nanar. “Kau dijodohkan?”

 

Mata Baekhyun membelalak. Ucapan Baekna tepat di titik rawan.

 

“Apa kau menerimanya begitu saja?” Baekna tertawa miris. “Atau kau yang menginginkannya? Kau tidak ingin terbebani lagi olehku bukan?”

 

“Baekna..”

 

“Haruskah aku mengulangnya sampai mulutku berbusa? Aku mencintaimu! Aku mencintaimu! Disaat aku mengatakan aku membencimu berarti aku mencintaimu Byun Baekhyun!” Baekna menggigit bibir bawahnya yang bergetar, “Merayuku berdandan untuk acara perjodohanmu, bukankah itu sangat kejam? Kenapa kau selalu menyakitiku?”

 

Baekhyun meraih kedua pergelangan tangan Baekna. “Dengarkan aku Baekna.” Ujar Baekhyun pelan. “Aku menyayangimu, sungguh. Karena itu aku tidak ingin membuatmu lebih sakit lagi. Perasaan itu.. aku tidak memilikinya. Aku hanya bisa menyayangimu, bukan mencintaimu. Akhiri permainanmu Baekna. Mengalah lah untukku, untuk Ayah dan untuk Ibu.”

 

“Kau memohon pun percuma, Oppa.” Baekna menunduk memperhatikan kedua tangan Baekhyun yang menggenggam tangannya. Ia tersenyum tipis, “Sama saja seperti kau sedang memohon padaku untuk tidak bernafas.”

 

Baekhyun mengeratkan genggamannya, “Bahkan untuk kebahagiaanku?”

 

Baekna kembali mengangkat wajahnya, “Kau bahagia dijodohkan? Dengan orang yang tidak kau kenal sebelumnya?”

 

Baekhyun mengangguk pelan. “Apapun demi Ibu dan Ayah.”

 

‘Juga demi kau, Baekna.’ Tambah Baekhyun dalam hati.

 

Baekna menghela nafas. Ia menarik pergelangan tangannya dari genggaman Baekhyun. “Aku tidak suka kau bahagia dengan orang lain selain diriku, Oppa.” ia tersenyum getir. “Tetapi kali ini, aku akan mencobanya.”

 

Semoga, permainan ini benar-benar berakhir. Aku juga sudah lelah bernafas tanpa pernah mendapatkan oksigen yang aku inginkan, Oppa.

 

 

_______________

 

 

Baekna duduk didepan meja rias kamarnya. Beberapa jam yang lalu Baekhyun sudah menyewa beberapa maid untuk membersihkan dan menata ulang kamarnya yang berantakan. Sekarang kamar kesayangannya telah bisa digunakan kembali.

 

Saat ini Baekna sudah memakai gaun mewah yang dibelikan oleh Ibunya beberapa bulan yang lalu. Lengan gaun yang ia kenakan bisa menutupi lengannya yang penuh dengan luka dan perban. Ia menatap pantulan dirinya dicermin dengan tatapan kosong.

 

Ia masih berfikir tentang jalan yang ia ambil. Sedikit belajar dari kata-kata Jongin; mencintai adalah bagaimana cara untuk membuat orang yang kita cintai bahagia, bukan menderita. Tetapi akankah ia bisa setegar itu? Membiarkan Baekhyun bahagia walaupun ia yang terpuruk?

 

Baekna mengalihkan perhatiannya pada ponsel yang saat ini tengah bergetar diatas meja rias. Hangul Kim Jongin terpampang dilayar datar itu. Tak butuh waktu lama bagi Baekna untuk memutuskan mengangkat telepon dari Jongin.

 

Baekna?” Jongin bersuara diseberang sana.

 

Baekna menggumam, “Kenapa?”

 

Emm, bisakah kau melihat keluar jendela kamarmu sekarang?” ujar Jongin.

 

“Tidak bisa.” Jawab Baekna singkat.

 

“Aku serius, Baekna.” Jongin mendesah malas. “Aku sudah repot-repot memanjat gerbang istanamu. Setidaknya hargai usahaku.”

 

Baekna berdecak. Ia berdiri dan melangkah menuju jendela kamarnya. “Kau dimana?” tanya Baekna ketika tidak mendapati Jongin diluar jendela kamarnya.

 

Tokk.. tokk..

 

Baekna memalingkan pandangannya ke arah pintu balkon kamarnya yang terdengar diketuk seseorang. Baekna mengerutkan dahinya, apa Jongin juga memanjat kelantai dua?

 

Sambungan telepon diputus Jongin. Baekna menurunkan ponselnya sembari melangkah kearah pintu balkon. Ia membukanya dan mendapati Jongin yang tengah tersenyum dengan kedua tangan dimasukkan ke saku jaketnya. “Hai.” Sapanya.

 

Baekna hanya diam tanpa berniat membalas sapaan Jongin. Gadis itu bahkan tidak bereaksi apapun ketika tiba-tiba Jongin mengeluarkan ponselnya dan membidik wajah Baekna dengan cahaya flash. Jongin mengambil fotonya.

 

Ia memamerkan senyuman, “Kau cantik.”

 

Baekna masih diam ditempatnya.

 

Jongin kembali memasukkan tangannya ke saku jaket. “Aku mendengarnya dari Baekhyun Hyung. Kau.. benar-benar sudah merelakannya?”

 

Baekna menarik sudut bibirnya membentuk senyum miring, meremehkan dirinya sendiri. “Aku bahkan meragukan diriku sendiri, Jongin-ah.”

 

Jongin mendekat, ia mengusap puncak kepala Baekna. “Kau harus yakin Baekna. Kau sudah membuat keputusan yang tepat.” Jongin kembali menarik tangannya. “Kuharap perjodohan Baekhyun hyung berjalan lancar.”

 

Baekna mendesis. “Kau benar-benar payah dalam menghibur.”

 

Jongin malah tertawa. “Aku memang tidak berniat menghiburmu.” Jawabnya santai. “Aku disini untuk memberimu dukungan. Yeah, semoga saja kau tidak berubah fikiran.”

 

Baekna mengangkat bahu. Tepat pada saat itu, terdengar ketukan dari pintu kamar Baekna. “Baekna, apa kau sudah siap?” teriak Baekhyun dari luar.

 

Baekna menoleh kearah pintu barang sebentar lalu kembali menatap Jongin. Ia kembali tersenyum miring, “Disaat seperti ini aku malah membayangkan jika Baekhyun Oppa memanggilku untuk segera ke altar.” Gumam Baekna. Ia tertawa setelahnya, “Aku pemimpi yang buruk.”

 

Jongin hanya menatap Baekna dalam diam. Tatapan matanya menghunus tajam manik mata Baekna. Ia cemburu, ia marah mendengar ucapan Baekna. Tetapi ia sadar ia tidak berhak akan itu. Jongin akhirnya hanya menghela nafas dan mundur teratur. “Aku akan pergi sekarang.” Ujarnya.

 

Baekna mengangguk singkat. Ia menatap punggung Jongin yang hendak turun dari balkon kamarnya. Gadis itu memutuskan untuk menutup pintu balkon, tetapi tiba-tiba Jongin berbalik kembali mendekati Baekna, membuat gadis itu mengurungkan niatnya untuk menutup pintu.

 

“Baekna..” Jongin menghembuskan nafas dengan berat. Ia mengeluarkan sesuatu dari balik bajunya—sebuah kalung dengan bandul cincin. Ia melepaskan benda itu dari lehernya dan memperlihatkannya didepan wajah Baekna. “Semoga beruntung. Semoga keputusan yang kau ambil akan membuatmu ikut bahagia.”

 

Jongin mendekat dan memasangkan kalung itu pada leher jenjang Baekna. Ia tersenyum simpul ketika tidak mendapat penolakan dari Baekna. “Kalung ini untukmu. Aku sudah memilikinya bahkan sejak kita genap seminggu berteman di Middle School.”

 

Mata Baekna melebar ketika tiba-tiba Jongin mendaratkan kecupan lembut didahinya. Ia mengusap puncak kepala Baekna yang masih termangu ditempat. “Aku pergi, Baekna.”

 

Jongin benar-benar menghilang dari pandangannya. Bahkan sampai pria berkulit tan itu mencapai gerbang rumahnya, Baekna masih diam ditempatnya. Sampai akhirnya ketukan pintu dari Baekhyun membuatnya tersentak dan dengan cepat menutup pintu balkonnya.

 

“Apa kau sudah siap?” Suara Baekhyun kembali terdengar.

 

Baekna membuka pintu kamarnya dan mendapati Baekhyun yang saat ini telah rapi dengan tuxedo hitam dan kemeja putih didalamnya. Lagi-lagi Baekna terpana dengan penampilan Baekhyun. Jantungnya seketika bertalu-talu ketika mendapat senyuman menawan dari Baekhyun.

 

“Ayah dan Ibu menyuruhku memanggilmu. Rekan kerja Ayah sebentar lagi akan datang.” Ujar Baekhyun.

 

Baekna merasa tertampar telak ketika menyadari jika malam ini Baekhyun benar-benar akan berpisah darinya. Gadis itu menunduk tanpa berkata apa-apa.

 

Baekhyun mengerutkan dahinya ketika melihat Baekna hanya menunduk. Lalu seketika ia tersentak ketika mendengar panggilan Ibunya dari lantai dasar.

 

“Ayo, Baekna. Kurasa mereka sudah datang.” Baekhyun menengadahkan tangannya agar Baekna ikut bersamanya. Tetapi Baekna masih diam. Ia bahkan hanya menatap tangan Baekhyun tanpa minat.

 

“Ada apa Baekna-ya?” tanya Baekhyun hati-hati. Ia kembali menarik tangannya ketika melihat tidak ada tanda-tanda jika Baekna ingin menyambut uluran tangannya. “Apa terjadi sesuatu?”

 

Baekna mendongak membalas tatapan Baekhyun. Gadis itu tersenyum tipis, “Melihat penampilanmu membuatku serangan jantung lagi Oppa.”

 

Dan Baekhyun tidak bodoh untuk tidak mengerti ucapan Baekna.

 

“Kali ini aku benar-benar ragu dengan keputusanku. Rasanya ingin sekali membawamu pergi dan mengurungmu bersamaku selamanya ditempat terpencil dimana hanya kita berdua yang tahu tempat itu.” Ia menghela nafas dengan lemah, “Aku tidak mengerti dengan diriku sendiri Oppa.”

 

Suara langkah kaki yang mendekat membuat Baekhyun dan Baekna menoleh kearah tangga. Mereka mendapati Nyonya Byun yang saat ini tengah menatap mereka bergantian dengan raut wajah bingung. “Ada apa? Kenapa tidak segera turun?”

 

Baekhyun hanya diam. Sedangkan Baekna menatap Ibunya dengan tatapan dingin.

 

Nyonya Byun menyadari tatapan Baekna, sepertinya ia perlu bicara dengan anak gadisnya itu. Wanita itu mengalihkan tatapannya pada Baekhyun. “Baekhyun-ah, turunlah terlebih dahulu. Keluarga Lee telah menunggumu.”

 

Baekhyun mengangguk, ia menatap Baekna beberapa saat lalu berjalan menjauh. Tinggal lah sekarang Baekna hanya berdua dengan Ibunya. Gadis itu masih tak melepaskan tatapan dinginnya dari Sang Ibu, membuat Nyonya Byun menghela nafas.

 

“Kau ingin membicarakan sesuatu? Kenapa menatap Ibumu seperti itu?” Nyonya Byun bertanya dengan lembut.

 

Baekna mendengus. “Kalian.. monster.” Ucapannya membuat Nyonya Byun melebarkan mata. “Kalian tahu aku mencintai Oppa, tapi kenapa perjodohan ini terjadi?! Aku tidak ingin berpisah dengannya!”

 

Nyonya Byun terdiam sejenak. Lalu tersenyum tipis, “Kau tidak bisa mencintainya Baekna. Aku dan Ayahmu harus tegas pada kalian.” Nyonya Byun menjawab dengan tenang. “Sekarang turun kebawah dan bersikaplah sewajarnya. Aku tidak ingin kau mengacaukan acara ini.”

 

Nyonya Byun berbalik dan menuruni tangga. Meninggalkan Baekna yang saat ini tengah mati-matian menahan airmatanya agar tidak jatuh. Ia akhirnya menghembuskan nafas dan melangkah menuruni tangga. Gadis itu tak punya pilihan lain.

 

Baekna bisa melihat orangtuanya yang tengah berbincang dengan sepasang suami istri yang Baekna yakin adalah keluarga Lee. Baekna mengalihkan pandangannya kearah Baekhyun yang saat ini juga tengah berbincang ringan dengan seorang gadis yang membelakanginya.

 

Baekna tiba-tiba merasakan sesak ketika melihat Baekhyun tersenyum pada gadis lain. Selama ini Baekhyun tidak pernah dekat dengan gadis manapun. Baekhyun bahkan tidak pernah berpacaran. Semua gadis yang menyatakan perasaan padanya ia tolak. Baekhyun pernah mengatakan pada Baekna jika ia hanya akan berpacaran dengan gadis yang ingin ia nikahi.

 

Suara langkah kaki Baekna membuat semua orang dimeja makan mengalihkan perhatiannya pada gadis itu. Baekna menghentikan langkahnya dan mengangguk sopan. Ia memilih untuk duduk disebelah Baekhyun.

 

“Hai, Baekna.” Sapa gadis yang tadi berbicara dengan Baekhyun.

 

Suara yang tidak asing bagi telinga Baekna. Ia menatap gadis itu lamat-lamat. Hingga senyuman gadis itu membuat Baekna melebarkan pupil matanya.

 

Hai, Baekna..

 

Hai, Baekna. Masih belum puas dengan pukulanku kemarin?

 

Hai, Baekna. Sudah siap berdarah hari ini?

 

Hai, Baekna. Malaikat kematianmu datang..

 

Gadis itu…

 

“Lee Hyeri?” gumam Baekna tanpa sadar. Ia ingat semua perlakuan Hyeri padanya saat mereka masih duduk di bangku Middle School. Hyeri dan teman-temannya tak pernah absen memukuli Baekna. Ia bahkan tak tahu apa kesalahannya hingga membuat Hyeri begitu membencinya.

 

Dan sekarang, senyuman Hyeri padanya masih sama. Senyuman bak malaikat kematian. Seolah Hyeri datang untuk mencabut nyawanya. Dan Baekna baru menyadari jika Hyeri yang akan dijodohkan dengan Baekhyun. Tanpa sadar, tangannya terkepal.

 

“Lama tak jumpa, Baekna.” nada suaranya sangat bersahabat. Tetapi tatapan mata Hyeri seperti sedang menelanjanginya. Tatapan meremehkan yang selalu teringat oleh Baekna. Sayangnya hanya Baekna yang menyadari tatapan itu.

 

Baekna menoleh kearah Baekhyun, bertanya kenapa Hyeri ada disini padanya tanpa suara. Ia hanya mendapat gidikan bahu dari Baekhyun yang juga tidak mengetahui kenapa Hyeri ada dirumah mereka.

 

Baekhyun juga mengetahui jika Hyeri sering memukuli dan mencaci Baekna dulu. Ia yang menyaksikan dengan mata dan kepalanya sendiri ketika Hyeri berserta teman-temannya menendang, menjambak bahkan menampar Baekna. Baekhyun tidak suka dengan sifat Hyeri pada adiknya dulu.

 

Tetapi beberapa saat yang lalu, Hyeri bercerita tentang penyesalannya karena telah membully Baekna. Ia meminta maaf pada Baekhyun. Ia mengatakan jika ia hanya ingin mencuri perhatian Baekhyun dengan cara membully Baekna. Tak masuk akal sebenarnya, tetapi Baekhyun memilih untuk tidak mendebat gadis itu.

 

Baekna bergerak gelisah ditempat duduknya. Baekhyun menyadari itu. Gadis itu bahkan terlihat sedang bermandikan keringat dingin. Kepalan tangannya disisi tubuh sangat erat, bahkan hingga buku-buku jarinya memutih.

 

“A-aku..” suara Baekna mengundang tatapan bertanya dari para orangtua. Baekna menelan salivanya samar, “Aku akan ketoilet sebentar.” Baekna berdiri dari tempat duduknya, ia mengangguk sopan kearah para orangtua dan hendak beranjak dari meja makan.

 

“Tunggu.” Suara Hyeri menginterupsi. Baekna berhenti melangkah dan menoleh ragu pada Hyeri. Gadis itu kembali tersenyum pada Baekna. “Aku ikut, Baekna.” ia mengambil langkah mensejajarkan tubuhnya disamping Baekna. Sekali lagi, ia melempar tatapan merendahkan pada Baekna.

 

Akhirnya Baekna hanya diam dan melangkahkan kakinya mendahului Hyeri. Tak ada satupun dari mereka yang membuka pembicaraan. Mereka hanya diam, sesekali Baekna mendengar Hyeri mendesis tak suka disampingnya. Baekna hanya bisa mengabaikannya.

 

Ketika Baekna mendorong pintu toilet, lengannya dicegat Hyeri dengan kuat. Ia sudah menduganya dari awal, jadi Baekna hanya menoleh dengan malas. “Ada apa?”

 

Hyeri tersenyum sinis. “Kau masih sama seperti dulu. Menjijikkan.”

 

Baekna menyentak tangannya hingga cengkraman Hyeri dilengannya terlepas. Ia memberanikan diri menatap Hyeri dengan tatapan menantang. Ia bersidekap dan bersandar kedinding. “Sebenarnya apa yang membuatmu membenciku, Lee Hyeri?” kenyataan bahwa gadis ini yang akan mendampingi Baekhyun membuat emosi Baekna terpacu.

 

“Kau kira aku tidak tahu? Dari caramu menatap Baekhyun sudah menjelaskan semuanya. Bahkan dari Middle School, kau menyukai kakakmu sendiri! Aku membenci itu!” Hyeri mendorong bahu Baekna. “Aku menyukai Baekhyun dari dulu, setiap ingin mendekatinya kau selalu mengacaukan usahaku. Aku berharap kau benar-benar musnah dari dunia ini!”

 

Baekna tertawa. “Lalu apa untungnya kau bersikap seperti ini padaku?” ia melayangkan tatapan tajam pada Hyeri dan menyeringai, “Baekhyun-ku telah membencimu. Ia akan menolak perjodohan kalian, karena ia hanya mencintaiku.”

 

Mata Hyeri yang membola membuat Baekna menyunggingkan senyum kemenangannya. Ia menepuk pundak Hyeri beberapa kali lalu berjalan menjauh menuju ruang makan. Ia memang tidak berniat ketoilet sebenarnya.

 

Baekna kembali duduk disebelah Baekhyun, membuat Baekhyun menoleh kearahnya. “Dimana Hyeri?” tanya Baekhyun.

 

Baekna mengerutkan dahinya. “Dia masih ditoilet. Kenapa Oppa peduli?”

 

Baekhyun menghela nafas, ia memperbaiki posisi duduknya hingga berhadapan dengan Baekna. “Sebenarnya tadi Hyeri bercerita padaku jika ia menyesal membullymu. Apa ia meminta maaf padamu?”

 

Baekna tertawa kecil, “Apa kau benar-benar percaya pada iblis sepertinya?” Baekna tersenyum simpul. “Ia bahkan masih sempat membuatku naik darah, Oppa.”

 

Para orangtua yang sejak tadi sibuk berbincang dan tertawa tiba-tiba mendadak diam. Baekna awalnya berfikir jika mereka mendengar percakapannya dengan Baekhyun, tetapi Baekna baru menyadari ketika Hyeri masuk keruang makan dengan keadaan yang sangat kacau.

 

Wajah dan rambutnya basah, matanya sembab dan sudut bibirnya mengeluarkan darah. Baekna nyaris berfikir keadaan Hyeri seperti itu karena ucapannya beberapa saat yang lalu. Tetapi ketika Hyeri menatapnya dengan tajam, Baekna tahu ia sedang dijebak.

 

“Kau kenapa sayang?” Nyonya Lee bangkit dari tempat duduknya dan menghampiri Hyeri. Gadis itu tak bergeming dan terus sesegukan.

 

Tuan Lee juga tampak cemas dengan keadaan Hyeri yang berantakkan. Tetapi pria paruh baya itu memilih untuk diam dan mengamati apa yang terjadi pada anaknya.

 

Nyonya Byun yang melihat itu langsung menatap Baekna dengan tatapan menuduh. “Baekna!! Kenapa Hyeri seperti ini?! Jelaskan pada kami!”

 

Baekna menahan nafas ketika melihat kilatan amarah dari Ibunya. “Aku tidak tahu apa-apa, Ibu.” Jawab Baekna. Ia menoleh kearah Baekhyun, meminta perlindungan. Ia berharap jika Baekhyun percaya padanya dan membelanya.

 

Tetapi, tatapan itu..

 

Oppa..” lirih Baekna.

 

Baekhyun menggeleng tak percaya. Dari tatapannya, Baekna tahu jika Baekhyun tidak percaya padanya. Baekhyun juga memiliki pemikiran yang sama dengan orangtuanya. Hal itu membuat dadanya sesak.

 

Isakan Hyeri semakin terdengar. Nyonya Lee langsung memeluk putrinya dan menatap Baekna dengan tajam. “Apa yang salah dengan anakku?! Ada apa dengan keluarga ini?!” bentak Nyonya Lee marah.

 

Baekna berdiri, ia menatap satu persatu orang-orang yang tengah menghakiminya. Tatapannya terhenti pada Hyeri yang diam-diam melayangkan senyum kemenangan pada Baekna.

 

“Kenapa kalian menuduhku? Aku tidak melakukan apa-apa padanya!” mata Baekna mulai memanas, pandangannya kabur karena airmata yang menumpuk dipelupuk matanya. “Aku meninggalkan Hyeri sebelum kami masuk kedalam toilet. Aku tidak tahu apa-apa dengan keadaannya!”

 

“DIAM BAEKNA!!” suara menggelegar Tuan Byun sukses membuat airmata Baekna jatuh dengan sendirinya. Tuan Byun memegangi dada kirinya, membuat Baekna tersentak dan hendak menghampiri Ayahnya itu. “Tetap disana!” perintah Tuan Byun.

 

Baekna menurut. Ia hanya berdiri dengan tatapan sendu yang mengarah pada Ayahnya. Baekhyun dan Nyonya Byun telah terlebih dahulu menghampiri Tuan Byun dan mencari obat penenang dari saku jas Tuan Byun.

 

“Ayah..” lirih Baekna. “Percaya padaku, aku tidak melakukan apa-apa pada Hyeri.” Baekna terisak dengan sendirinya. Dadanya benar-benar sesak melihat tak ada satupun yang percaya padanya.

 

“Cukup Baekna..” Hyeri yang sedari tadi hanya diam dipelukan Ibunya, angkat bicara. Ia menyeka darah yang ada disudut bibirnya. “Aku.. hanya berusaha meminta maaf padamu. Tetapi kau malah membuatku seperti ini. Kau menamparku, bahkan menenggelamkan kepalaku kedalam air. Apa aku benar-benar tidak bisa dimaafkan?”

 

Baekna mengatur nafasnya. “Kau.. benar-benar licik, Hyeri!!”

 

“BYUN BAEKNA!!” kali ini Baekhyun yang membentaknya. “Diam dan minta maaf pada Hyeri! Kau ingin membuat penyakit jantung Ayah semakin parah?!”

 

“AKU TIDAK BERSALAH!!” Baekna akhirnya berteriak dengan frustasi. “AKU DIJEBAK!! HYERI YANG MENYAKITI DIRINYA SENDIRI!! KALIAN HARUS PERCAYA PADAKU!!”

 

Tetapi yang ia dapat hanya tatapan kebencian dari orangtuanya. Baekhyun bahkan kembali menggeleng tak percaya padanya. Hal itu membuat dada Baekna semakin sesak. Ia tidak suka ketika Baekhyun tidak mempercayainya.

 

“Hyeri, kau harus mengatakan yang sebenarnya.. Aku tidak melukaimu..” suara Baekna melemah. Ia benar-benar tak tahu harus bagaimana lagi.

 

Tetapi Hyeri tak bergeming. Ia tetap diam memeluk Ibunya dan menatap Baekna dengan tatapannya yang meremehkan.

 

Baekna muak..

 

Dengan gerakan cepat, ia mengambil sebuah pisau buah yang berada diatas meja dan berlari hendak menerjang Hyeri.

 

“BAEKNA TURUNKAN PISAU ITU!!” teriak Baekhyun mendarah daging. Ia dengan cepat pula berlari kearah Baekna dan hendak menahannya.

 

Tetapi…

 

 

SLASH!

 

 

Kejadiannya begitu cepat..

 

 

Kedua mata Hyeri melebar sempurna. Ia memekik sejadi-jadinya ketika pisau yang dipegang oleh Baekna menusuk perut..

 

Baekhyun!

 

Kedua tangan Baekna bergetar hebat. Telinganya seolah tuli mendengar pekikan dari Nyonya Lee, Ibunya dan Hyeri. Pupil matanya ikut melebar ketika melihat raut wajah Baekhyun yang kesakitan. “O-oppa..” suara Baekna bergetar hebat.

 

Tubuh Baekhyun limbung, membuat Baekna segera melepaskan tangannya dari pisau yang ada diperut Baekhyun dan menangkap Baekhyun hingga mereka terduduk dilantai. “OPPA APA YANG KAU LAKUKAN!!” Baekna berteriak hingga urat lehernya terlihat jelas.

 

Baekhyun terbatuk hingga mengeluarkan darah dari mulutnya. Membuat Baekna menangis dan memeluk Baekhyun seakan tak ingin melepasnya.

 

Hyeri yang tampak pucat langsung ditarik oleh Ibu dan Ayahnya keluar dari ruangan itu. Tuan Lee tampak mengeluarkan ponselnya untuk menelepon polisi. Sedangkan Nyonya Byun sudah terlebih dahulu pingsan ketika melihat Baekhyun luruh kelantai. Dan Tuan Byun tengah merenggang nyawa karena penyakit jantungnya.

 

“Baekna..” tatapan mata Baekhyun mulai tak fokus. Nafasnya memberat, tetapi pria itu tersenyum tulus pada adiknya. “Apa setelah ini permainanmu selesai?” tanyanya lirih.

 

Baekna hanya diam dan terisak pilu. Tangannya yang penuh dengan darah masih bergetar hebat. “O-oppa..” lirih Baekna.

 

Baekhyun mengernyit kesakitan hingga membuat nafas Baekna tercekat. “Sa-sakit Baekna..”

 

Baekna langsung tersadar dari kebodohannya. Ia mengeluarkan ponselnya dan menelepon ambulans dengan cepat. Setelah memberi tahu alamat rumahnya, ia menutup telepon dan kembali menatap Baekhyun. “Oppa, bertahanlah. Ambulansnya akan datang sebentar lagi.” Ucapnya sambil terisak.

 

Baekhyun menggeleng dan terbatuk. Ia kembali memuntahkan darah dari mulutnya, kali ini lebih banyak dari sebelumnya. “A-aku..” Baekhyun bernafas dengan susah payah, “Aku tidak bisa bertahan lebih lama lagi..”

 

Baekna menggeleng tak percaya. “Oppa.. Maafkan aku..” raungnya. “Kau harus bertahan! Kau harus hidup, Oppa. Aku tidak bisa tanpamu..”

 

Baekhyun mengulas senyum tipis. Tangannya menggapai pipi Baekna dan mengelusnya pelan. “Aku sangat menyayangimu Baekna..” ujarnya, “Kau, masih punya jalan panjang. Kau juga harus bertahan tanpaku.”

 

Dari kejauhan, Baekna bisa mendengar suara sirine polisi yang mendekat. Ia tidak peduli, fokus matanya hanya tertuju pada Baekhyun yang tengah sekarat dipangkuannya. Matanya tak henti-henti mengeluarkan airmata kepedihan.

 

Baekhyun menurunkan tangannya ketika ia merasa tak mampu lagi menggerakkan tubuhnya. Ia kehilangan banyak darah, kesadaranpun hampir raib dari tubuhnya. “Berjanjilah untuk tidak bermain-main dengan nyawamu sendiri Baekna..” ujar Baekhyun lemah. “Dan.. belajarlah membuka hatimu untuk orang lain.”

 

Baekna menggeleng lemah. Jantungnya serasa berhenti berdetak ketika mata Baekhyun tertutup perlahan. Ia menepuk-nepuk pipi Baekhyun dengan pelan. “Oppa.. bangun! Jangan bercanda Oppa! Kau harus hidup!” teriak Baekna.

 

Baekhyun tidak bereaksi sedikitpun.

 

Karena memang.. ia telah tenang dialam sana.

 

Baekna merasakan seluruh tubuhnya membeku. Ia terus menangis sambil menepuk-nepuk pelan pipi Baekhyun, berharap Baekhyun akan bangun dan mengatakan jika ia tidak akan meninggalkan Baekna sendirian.

 

Tetapi Baekhyun tak bergerak sedikitpun. Bernafaspun tidak. Baekna tak berfikir panjang ketika matanya menatap pisau yang tertancap pada perut Baekhyun. Ia mencabutnya dan hendak menusukkan pisau itu pada tubuhnya sendiri. Ia ingin menyusul Baekhyun. Persetan dengan ucapan Baekhyun yang tidak ingin ia mempermainkan nyawanya.

 

Baekna mengangkat pisau itu tinggi-tinggi dan..

 

KLIK.

 

Pisau yang berada ditangannya diambil paksa oleh seseorang. Tangan Baekna terkunci oleh borgol yang baru saja dipasangkan kepergelangan tangannya.

 

Baekna menyerah. Ia mendongak dan mendapati Jongin yang menatapnya tajam sambil membuang pisau yang ia ambil dari Baekna. Sedangkan dibelakangnya berdiri beberapa orang polisi yang siap membawanya kerumah tahanan.

 

“Jongin..” Lirih Baekna.

 

Jongin hanya diam. Bahkan ketika Baekna dipaksa berdiri oleh dua orang polisi dibelakangnya, Jongin terus menatap Baekna dengan tajam. Ia mendekat dan mengambil kalung yang beberapa jam yang lalu ia berikan pada Baekna. “Aku akan menyimpan ini sampai masa tahananmu selesai.” Ucap Jongin. “Dan setelah kau melewati masa itu. Kau tak akan bisa lepas dariku, Baekna.”

 

Jongin mengangguk pada polisi yang menahan Baekna. Ia menghela nafas dan mengacak pelan rambut Baekna. Setelah itu Baekna benar-benar dibawa keluar dari rumah megah keluarga Byun menuju tempat dimana seharusnya ia berada—rumah tahanan.

 

FIN.

 

 

Uhuk endingnya dih-__- maap mengecewakan dan rada gantung. Absolutely, it’s GAME OVER! Tapi masih ada epilog kok~ tunggu epilognya yah.

 

Love yah!!

 

 

Advertisements

77 responses to “[FINAL] Game Over (Sequel A Game huh #9) — by BARLEEY

  1. Gue kalo baca ini selalu ngerasa si baekna itu penganut bim 😂😂 wkwk ambigu bet yaampun udah hilang kesadaran nya sampe kesel wkwk padahal jongin teh cakep baekna sayang ku syedih bacanya #poorjongin ayo ayooo ditunggu epilog nya kaaa.. udah jadian apa si baekna sama jongin nya huwaaaa

  2. Gak nyangka akhirnya bakal begini….Sad ending ya😭😭😭 Coba baekna lebih cepet bunuh dirinya pake pisau itu pasti gak bakal ketangkep/ggg wkwk kira kira baekna bakal bunuh diri gak di penjara?’-‘ Ditunggu epilognya author-nim><

  3. knapa hrus kyak gini sihhh ending.y
    Baekhyun dan tuan byun mati… Trus gmna ama nyanya byun dia psti shock dan benci ama baekna…. Sedih dehhh
    Plisss ini mimpi bruk ajahhhh ksian baekna.y
    Jongin juga… Tegar bgt dehhhh
    Salut…
    D tnggu epilog.y dn smoga ini beneran Nightmare.y baekna
    Hhehehhe hwaiting !!!!

  4. Omonaaa endingnya engga ketebak.
    Baeknanya ke obsesi banget sama baekhyun. Wah wah jongin ini bagus kesempatannya. Suka ff nya sukaa

  5. ya emang cerita kyk gini mah pasti ending nya gini , kalo engga di pisahin ya salah satu nya mati kyk baekhyun huuaaaaa jahat nih author bikin bebe ku mati.
    tp good job ya thor, ceritanya aku suka bgt..
    aku baca2 yg lain juga ahh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s