{storm#6} IF

IF

{STORM#6} IF

2015 © SANGHEERA

Main Cast :: LUHAN

Support Cast :: Luhan’s Parent

Support Genre :: Romance, Hurt, Sad, Songfic

Lenght :: Oneshoot

Rating :: PG-17

{storm#1} I’m Going Crazy, {storm#2} Look Only At Me Part 2,
{storm#3} Airplane, {storm#4} Bee’s Buzz, {storm#5} Missing You

Inspired by :: BIGBANGIF YOU

She is leaving
And I can’t do anything
Love is leaving
Like a fool, I’m blankly standing here

 

Kereta api itu melaju cepat dari Kota Shanghai menuju Beijing. Membawa Luhan yang duduk termenung di salah satu kompartemennya. Pria berparas tampan itu membawa arah pandangnya ke pemandangan di luar jendela. Menyaksikan bagaimana rumah-rumah, pepohonan, dan segala objek yang ada di luar sana, seolah sedang berlari meninggalkannya. Ia tidak sendirian di dalam kompartemen itu, ada manajer dan 2 orang asisten yang selalu mengawalnya kemanapun, duduk di samping dan di depannya, tapi Luhan merasa hanya ada dirinya. Terasing. Ia tenggelam di dalam lamunan.

Pada akhirnya, ia toh baik-baik saja.

Luhan baru saja pulang dari acara press conference The Witness Movie yang diselenggarakan di Shanghai. Selama acara berlangsung, ia terus fokus mengikuti setiap sesi acara, setiap percakapan, dan tanpa lelah memasang senyum dan wajah ceria. Sejenak ia lupa dengan masalahnya, dengan sesosok gadis yang tinggal di Korea Selatan sana. Ya, ia lupa.

Luhan sendiri tidak menyangka ia bisa melalui 2 minggu ini tanpa pernah mencoba untuk berhenti bernapas. Luhan kira ia akan kehilangan gairahnya untuk hidup ketika pesawat Sera lepas landas dan membawa gadis itu kembali ke negaranya. Luhan kira dirinya akan menjadi makhluk yang penuh gurat penderitaan karena terancam kehilangan gadis yang ia cintai.

Tapi nyatanya, ia baik-baik saja.

Luhan memang sempat bersitegang dengan pelatihnya hari itu karena pelatihnya tak suka dengan sikap Luhan yang tiba-tiba meninggalkan ruang latihan, tapi semua kembali baik-baik saja karena manajernya bisa mendamaikan mereka lagi dengan cepat dan Luhan kembali berlatih dengan giat.

Luhan sempat mengira ia akan kesulitan menyembunyikan kegalauan di ekspresi wajahnya, tapi ternyata ia bisa begitu alami tersenyum ketika berada di sekitar orang-orang. Ia syuting Running Man dengan baik, ia menghadiri press conference dan tertawa bersama para pemain lain, ia menikmati acara makan malam dengan petinggi sponsorship-nya, ia having fun bersama teman-teman di pesta Chengli hari rabu kemarin… yah intinya, ia baik-baik saja.

Walau begitu, Luhan masih belum bisa menahan diri untuk tidak tenggelam dalam lamunannya seperti saat ini dan tidak mengecek ponselnya setiap waktu. Luhan masih merasa kehilangan ketika tidak menemukan pesan dari Sera di pagi hari, ia terus berusaha mengingatkan dirinya untuk tidak menelepon gadis itu terlebih dulu, dan pada akhirnya ia menjadi semakin sering mengecek instagram Sera untuk mengetahui kabar gadisnya itu.

 

How about you?
Are you really fine?
Guess our break up is setting
I should forget you but it’s not easy

 

Ah, pagi tadi Sera memposting foto segelas kopi dan 2 buah donat, gadis itu masih saja mengkonsumsi caffein sebagai sarapannya di pagi hari. Ia sarapan bersama temannya, Kyomoto Taiga. Kemarin Sera memposting fotonya yang sedang berpose bersama Cheon Hansol, Cheon Kanata— kedua adiknya—dan Cheon Jaehyun di sebuah restoran. 3 hari yang lalu Sera mengeluh karena bosnya membuatnya bekerja hingga tengah malam. 4 hari yang lalu Sera memposting fotonya yang sedang berada di salon bersama Freya, aneh sekali, tumben Freya bisa memaksa gadis itu menginjakkan kaki ke salon. Lalu, seminggu yang lalu Sera memposting foto-fotonya sedang berkaraoke dengan para sahabatnya. Gadis itu tersenyum lebar. Cantik seperti biasa.

Sera nampak baik-baik saja, sehingga rasanya terlalu menyedihkan jika hanya Luhan sendiri yang terpuruk.

Karena itu, Luhan terus berusaha meyakinkan dirinya bahwa ia baik-baik saja.

Benar. Ia baik-baik saja

Ini sudah 2 minggu, tidak biasanya Sera bisa tahan marah pada Luhan hingga selama ini. Rekor terlama Sera bisa marah tanpa bicara pada Luhan hanyalah 3 hari. Jadi sepertinya, Sera mulai terbiasa hidup tanpa Luhan hingga—mungkin—ia sudah melupakan niatnya untuk meninjau kelanjutan hubungan mereka. Lagipula, Luhan sudah tidak berharap lagi Sera akan memaafkannya. Kesalahannya terlalu besar, ia terlalu brengsek untuk gadis sebaik Sera.

Mungkin pada akhirnya Sera akan berakhir seperti mereka, seperti mantan-mantan Luhan terdahulu. Luhan mungkin akan sakit hati, akan terus terkenang pada Sera, tapi setelah sekian waktu berlalu Luhan akan baik-baik saja dan terus melanjutkan hidup tanpa merasa perlu menoleh ke belakang lagi.

Benarkah begitu?

Kompartemen tempat Luhan berada mendadak disergap oleh kegelapan ketika kereta api memasuki terowongan. Luhan mengerjapkan matanya karena terkejut.

“Tadaaa~”

Seruan kecil gadis itu keluar ketika sebuah lilin beraroma lily menyala di tengah ruangan yang gelap gulita. Luhan tersenyum kecil memandang Sera yang nampak berbinar hanya karena sebuah lilin di tangannya. Pemuda itu duduk bersandar dengan santai pada kepala tempat tidur dengan bantal yang diatur sedemikian rupa agar punggungnya nyaman. Sementara Sera meletakkan lilin itu di lantai lalu beringsut mendekati Luhan. Tangan kurusnya memeluk pinggang Luhan dan kepalanya ia sandarkan di bahu Luhan.

“Lalu apa yang akan kita lakukan di tengah kegelapan dengan hanya cahaya lilin sebagai penerang ini?”tanya Luhan.

“Mengobrol…”jawab Sera santai, tanpa memandang ke arah Luhan.

Luhan terkekeh kecil. “Kamu susah payah memadamkan semua lampu dan menyalakan sebuah lilin hanya untuk mengobrol denganku?”

“Astaga Luhan, apanya yang susah payah dari sekedar memadamkan semua lampu dan menyalakan sebuah lilin, hm? Lagipula, bukankah ini romantis? Kita meminimalkan penglihatan, agar pendengaran kita lebih tajam. Agar aku bisa mendengarkan suaramu lebih jelas.”

“Ada-ada saja,”ujar Luhan gemas. Sera biasanya adalah gadis yang cuek dan cenderung malas merayakan event-event layaknya pasangan kekasih lain. Tapi, ketika mood-nya sedang baik, Sera bisa tiba-tiba membuat moment romantis seperti ini. Sera selalu punya caranya sendiri, dan Luhan suka pada bagaimana gadis itu selalu mampu mengejutkannya dan menimbulkan perasaan menggelitik yang menyenangkan di perutnya.

“Sebagai permulaan, aku ingin bertanya padamu dan kau harus menjawabnya!”ujar Sera riang. Sera benar, dengan kegelapan melingkupi mereka Luhan bisa lebih jelas mendengarkan ucapan dan bahkan setiap tarikan napas Sera. Pemuda itu memberikan sebuah kecupan penuh sayang di pelipis dan memperketat lingkaran tangannya di tubuh Sera.

“Oke…”

Sera menatap Luhan dengan senyuman di bibir.

“Apa yang membuatmu jatuh cinta padaku?”

Seperti halnya kegelapan yang mendadak, cahaya yang berasal dari mulut terowongan itu juga mendadak masuk ke retina mata Luhan. Pemuda itu mengerjapkan matanya cepat, entah kaget karena cahaya yang kini terasa begitu menyilaukan, atau karena lamunannya yang tiba-tiba buyar karena pertanyaan Sera yang menghantam ingatannya itu.

Apa yang membuatmu jatuh cinta padaku?

Kedua alis Luhan bertaut.

Apa yang membuatnya jatuh cinta pada Sera?

Jawaban apa yang Luhan berikan saat itu?

Operator kereta mengumumkan bahwa kereta yang ditumpangi Luhan akan sampai di Stasiun Beijing. Manajer dan asisten Luhan segera bersiap. Kegiatan mereka membuat konsentrasi mengingat Luhan terpecah. Ia pun harus bersiap mengenakan masker dan menyandang ranselnya sebelum turun dari kereta. Setelah kereta ini berhenti, Luhan harus berhadapan dengan puluhan fansnya yang menunggu.

Masker yang Luhan pakai sangatlah membantu. Fungsinya bukan untuk menutupi wajahnya yang tidak terpoles make up, tapi lebih untuk menutupi ekspresi wajahnya. Dengan masker wajah, Luhan tak perlu mengumbar senyum yang melelahkan hanya untuk menjaga image ramahnya di depan para fans yang berjubel menyambutnya. Apalagi saat ini bayangan Sera dan pertanyaannya begitu mengganggu benak Luhan. Jika saja asisten dan manajer tidak memegangi dan menjaga arah jalannya, mungkin Luhan sudah terantuk dan jatuh ke lantai saat berjalan menuju pintu keluar stasiun.

Luhan sedang berdiri di atas eskalator, saat matanya menangkap dua orang turis Amerika. Seorang pria berambut pirang dan seorang wanita dengan rambut ikal kemerahan. Keduanya tampak asyik bercanda.

You’re asshole!”umpat si wanita sambil memukul pelan lengan si pria. Bukannya marah, pria itu justru tertawa menanggapi umpatan si wanita.

Luhan tertegun melihatnya. Ingatannya tertarik pada kejadian 5 tahun yang lalu.

“You’re faggot!!”

“You bitch!!!”

Luhan menegakkan kepalanya, mengalihkan perhatian dari handphone di tangan karena terusik oleh umpatan kasar yang terlontar dari 2 orang yang berjalan di depannya. Terlihat di depan sana seorang gadis berseragam sekolah memukul kepala teman laki-laki yang berseragam sama dengannya. Laki-laki itu tampaknya tak terima dipukul, karena ia kemudian membalas dengan memiting sang gadis berambut panjang itu. Suara cempreng gadis itu melengking ketika meminta ampun agar teman—atau pacar?—nya itu untuk melepaskan pitingannya. Mereka bertengkar, tapi entah kenapa mereka kemudian tertawa. Membuat Luhan tak sadar telah ikut menarik bibirnya membentuk senyuman.

“Hm, jarang-jarang ada orang Korea yang mengumpat dengan bahasa inggris.” Wu Yifan aka Kris berkomentar di sebelah Luhan. Ternyata ia juga mengamati objek yang sama. Luhan dan Kris baru selesai makan di luar dan sedang dalam perjalanan menuju gedung training SM untuk kembali latihan untuk persiapan debut mereka.

“Pacarnya manis ya?”Komentar itu terlontar begitu saja dari mulut Luhan, membuat Kris menaikkan sebelah alisnya. Ya, Luhan suka melihat bagaimana gadis berseragam sekolah di depannya itu tertawa. Luhan suka suaranya ketika berbicara.

“Dasar playboy!”Gadis yang tak lain adalah Sera itu mendorong tubuh pria yang merangkulnya agar menjauh. “Aku menyesal berteman denganmu, Kyo-chan!”

Kris melirik ke arah Luhan dan tersenyum penuh arti. “Sepertinya pria itu hanya temannya.”

Luhan mengangguk dengan senyum yang tak mampu lepas dari bibirnya. Mata indahnya berbinar. Ia heran kenapa dirinya merasa begitu lega. Apa ia sebegitu tertariknya pada gadis SHU yang baru saja ia temui itu?

Kenangan itu tiba-tiba terasa begitu segar di memori Luhan. Seakan-akan baru terjadi beberapa jam yang lalu. Apa pertemuan pertama itu lah yang membuat Luhan jatuh cinta pada Sera?

“Kau jatuh cinta padaku karena umpatanku ke Taiga?”Sera bertanya tak percaya saat Luhan menjawab pertanyaannya dulu.

Luhan tertawa, “Iya. Keren kan? Tapi itu hanya salah satunya, Cheonse.”

“Salah satunya?”

“Ne…”Luhan menyentuh dagu Sera agar mendongakkan kepala untuk menatap kearahnya. “Kau, Cheon Sera, sudah membuatku jatuh cinta berkali-kali. Ini pertama kalinya aku jatuh cinta hingga ribuan kali pada satu orang gadis.”

 “Perhatikan langkahmu, Xiao Lu!”

Luhan tersandung dan hampir saja terjatuh jika manajernya tidak sigap memegangi lengan dan bahunya. Ini belum terlalu malam di Beijing, sehingga banyak fans yang menunggunya di stasiun dan kini berdesak-desakkan di sekitarnya. Manajer dan asisten Luhan bahkan perlu menggunakan bantuan petugas keamanan untuk membawa Luhan dengan selamat sampai ke mobilnya.

“Bisa-bisanya kau melamun di tengah kerumunan fansmu tadi, Han!”tegur manajernya saat Luhan sudah berada di dalam mobil. Utuh, tak kurang suatu apapun. “Kau sering sekali melamun akhir-akhir ini? Ada apa? Masih karena masalah dengan pacarmu itu?”

Luhan memejamkan matanya dan bersandar pada jok mobil, enggan menjawab. Sang manajer mendengus keras. Mengurus kisah percintaan artisnya adalah hal paling menyebalkan baginya. Karena jika muncul skandal, yang repot bukan hanya sang artis, tapi juga dirinya dan para staff lain.

Selama perjalanan menuju ke rumah, Luhan lebih banyak melamun sambil melihat keluar jendela. Meneruskan lamunannya ketika di stasiun tadi. Apalagi kalau bukan tentang Sera. Lebih tepatnya lagi, tentang alasan ia bisa jatuh cinta pada gadis yang jauh dari kata glamour tapi sangat unik dan manis itu. Seperti yang ia pernah katakan dulu pada Sera, pertemuan pertama itu hanya awal dari seluruh rentetan pengalaman jatuh cintanya pada gadis itu.

Luhan jatuh cinta pada lirikan mata Sera saat mereka berpapasan di taman. Luhan jatuh cinta pada senyum malu-malu gadis itu saat jumpa dengannya. Luhan jatuh cinta pada wajah tersipu Sera saat ia menyapanya pertama kali. Luhan jatuh cinta pada wajah terkejut Sera saat Minseok pertama kali memperkenalkan Luhan pada Sera—yang ternyata adalah sepupu Minseok. Luhan jatuh cinta pada dinginnya tangan Sera saat berjabat tangan dengannya. Luhan jatuh cinta pada cara Sera menaikkan rambutnya untuk digelung di belakang kepala. Luhan jatuh cinta pada sosok Sera yang begitu riang serta serius ketika memasak.

Luhan jatuh cinta pada bagaimana gadis itu memainkan biola, piano dan gitarnya. Luhan jatuh cinta pada selera musik Sera. Luhan jatuh cinta pada cara Sera melihat dunia. Luhan jatuh cinta pada kegemaran Sera pada manga dan buku-buku. Luhan jatuh cinta pada kesukaan Sera pada sepak bola dan anime. Luhan jatuh cinta pada wajah sembab Sera saat menonton film Disney dan Bollywood favoritnya. Luhan jatuh cinta pada betapa moody-nya Sera. Luhan jatuh cinta pada cara Sera menumpahkan kekesalannya. Luhan jatuh cinta pada banyak hal… terlalu banyak hal yang Cheon Sera miliki.

Dengan Sera, ia bisa membayangkan sebuah rumah dimana ada 4 orang malaikat kecil meriuhkan taman belakang rumahnya. Tiga jagoan tampan dan satu gadis tomboy yang mirip seperti sang ibu. Ia dan Baba bertanding sepakbola dengan ketiga anaknya. Sementara Mama dan Sera—istrinya—duduk di gazebo, menonton. Perut Sera buncit, putri mereka yang kelima sedang tumbuh disana.

Imajinasinya itu selalu sukses membuat Luhan tersenyum dan perasaannya menghangat. Seperti saat ini…

I’m looking at her, getting farther away
She becomes a small dot and then disappears
Will I feel better if I meet someone?
I remember the old times
I remember you

Luhan tak bisa membayangkan jika semua perasaannya itu akan lenyap suatu hari nanti. Jika mereka usai sampai disini, bagaimana lah mungkin Luhan bisa begitu saja menjadikan Sera sebagai masa lalu? Sebagai mantan… lalu mungkinkah ia bisa jatuh cinta pada gadis lain tanpa membandingkan gadis itu dengan Sera? Apa ia bisa melupakan Sera? Atau Luhan akan berakhir menyedihkan seperti Danny O’Donoughe di lagu The Man Who Can’t Be Move?

“Malam ini sebaiknya kau istirahat. Besok kami akan menjemputmu pukul 4 pagi, kita harus naik kereta pertama ke Guangzhou untuk Puma Event, jangan telat, Han!”Pesan sang manajer sebelum Luhan turun dari mobil yang telah berhenti di depan pagar rumah. Luhan hanya mengangguk, lalu melambai singkat sebelum mobil itu melaju kembali.

Di rumah, Luhan disambut oleh sang Mama, yang langsung menggiringnya ke meja makan. Luhan lapar. Beberapa jenis masakan rumahan terhidang di atas meja makan, dan yang membuat perut Luhan terasa mulas adalah diantara masakan buatan Mamanya itu ada setoples kimchi.

Luhan tahu benar buatan siapa kimchi itu. Ia juga tahu efek seperti apa yang akan ditimbulkan saat cita rasa kimchi itu bertemu dengan lidahnya. Setahun yang lalu seorang gadis membuat kedua orang tuanya jatuh hati karena keterampilannya dalam memanjakan lidah dengan masakan-masakan buatannya. Dia yang tahu bahwa Mama Luhan suka dengan masakan korea, sengaja membuatkan banyak sekali kimchi yang disimpan dalam belasan toples. Seharian penuh bergelut dengan lobak, sawi, dan macam-macam sayur lainnya. Luhan masih ingat dengan jelas moment itu, salah satu moment terbaik dalam hidupnya ketika melihat Sera—kekasihnya—begitu menyatu dengan Mama dan Babanya.

Luhan mencomot sepotong kimchi, memasukkan ke mulut untuk mencecap rasa di lidahnya, yang ternyata juga muncul di relung hatinya. Rasa itu adalah kerinduan.

Luhan teringat pertengkarannya dengan Sera di mobil, yang berlanjut di trotoar. Bagaimana Luhan membentak dan menyakiti hati gadis itu. Belum cukup dengan itu semua, Sera memergoki pengkhianatannya. Gadis itu menangis, marah pada Luhan, dan pergi meninggalkannya. Mengingat semua itu membuat dada Luhan terasa nyeri.

“Apa yang sedang kau pikirkan, nak?”Pertanyaan Mama membuat Luhan tersadar dari lamunannya. Pemuda itu buru-buru menggeleng, lalu melanjutkan acara makannya tanpa bicara satu patah kata pun.

“Sera belum menghubungimu?”

Tangan Luhan yang hendak menyuapkan makanan ke mulut, terhenti di udara mendengar pertanyaan Mama. Tapi hanya sekian detik,  sebelum akhirnya Luhan bisa menguasai diri dan menggeleng pelan untuk menjawab pertanyaan sang ibu yang duduk di depannya.

“Kenapa kau tak menghubunginya terlebih dulu? Kau takut Sera akan menolak panggilan teleponmu?”

Luhan mengangguk sambil mengunyah makanannya. Mata sendunya tertuju pada piring di meja.

“Apa Sera tak begitu penting sehingga kau sangat takut terluka saat memperjuangkannya? Karena itu kau memilih untuk diam saja?”tanya Mama lagi, yang lagi-lagi membuat Luhan tertegun.

Mama kagum pada Sera. Bahkan di saat ia begitu marah dan kecewa padamu, ia masih berusaha melindungimu dengan bersikap seolah tak ada apapun yang terjadi di depan Baba dan Mama hari itu. Sera tak mau kau mendapat masalah, walaupun itu percuma karena Mama tentu tahu ada yang tidak beres. Sera gadis yang kuat, Han. Ia mungkin akan sangat terpuruk, jatuh di titik terendah, tapi setelah itu Sera akan bangkit dan semua akan baik-baik saja untuknya. Gadis itu akan move on dan meninggalkanmu di belakang tanpa pernah menoleh. Sedangkan dirimu, oh, Mama kenal sekali seperti apa dirimu, nak, kau akan terus-terusan merana hingga bertahun-tahun. Mama tidak mau hal itu terjadi.”

“Entahlah, ma. Bukannya aku tidak ingin memperjuangkan Sera. Tapi sikapku selama ini padanya membuatku tak yakin apa Sera akan bahagia jika terus bersamaku. Sera terlalu murni, terlalu polos, rasanya aku tak pantas untuk gadis sebaik dia. Aku juga sadar betul Sera juga merasa ragu dan takut untuk bersamaku. Ia tak pernah nyaman dengan statusku sebagai seorang selebriti. Sekarang aku bahkan merasa Sera sudah tidak mencintaiku lagi. Karena itulah ia menolak lamaran pernikahanku dulu.”

“Kau masih kecewa pada penolakan Sera?”

Luhan terdiam. Tapi diamnya Luhan itu sudah menjawab pertanyaan Mamanya. Tentu saja Luhan kecewa.

Hari itu ia sudah menyiapkan kejutan untuk Sera. Sebuah dinner romantis di puncak gedung dengan iringan musik klasik yang mengalun indah. Luhan berlutut di depan Sera, menyodorkan sebuah kotak berisi cincin titanium merah sembari mengucapkan betapa ia mencintai Sera dan ingin Sera menikah dengannya.

Tapi Sera menolaknya. Gadis itu, duduk berlutut di depan Luhan lantas memeluk dan mengucapkan permintaan maaf karena tidak bisa menerima lamaran Luhan.

Luhan terpaku. Syok. Kecewa. Tak tahu harus berbuat apa. Tapi demi mendengar suara tangisan Sera di bahunya, ia memilih untuk menerima penolakan Sera dan bersedia memberikan waktu.

Meski sampai saat ini, Luhan masih terus merasakan kekecewaan yang teramat besar ketika mengingat kembali kejadian itu.

“Tentu saja Sera akan menolak, Han!”lanjut Mama Luhan, membuat kening Luhan mengeryit. “Sera gadis yang cerdas, ia tahu betapa berat beban yang ia tanggung jika menikahimu, jadi dia butuh waktu untuk memikirkannya baik-baik. Bukan hanya karena ia akan menjadi istri seorang artis, tapi juga karena ia akan menjadi menantu di rumah ini. Coba pikirkan berapa banyak yang harus Sera korbankan. Dia menikahi seorang pria yang merupakan anak tunggal keluarganya. Ia akan menjadi menantu satu-satunya keluarga Lu, dan tidak ada yang bisa ia ajak untuk berbagi kecuali jika kau mau berpoligami yang tentu saja akan Mama larang keras. Kita memang tak menuntut apapun dari Sera. Tapi Sera tentu akan tetap merasa terbebani dengan statusnya. Ia akan merasa wajib untuk memberikan keturunan. Merasa wajib untuk menemani dan juga merawat kedua mertuanya hingga renta nanti. Itu berat, Han. Seorang wanita akan berpikir ribuan kali untuk mengambil resiko itu.

“Apalagi, Sera harus meninggalkan negaranya jika ia menikah denganmu. Ia akan tinggal di negara asing yang memiliki budaya yang berbeda dengannya. Ia akan jauh dari keluarga dan teman-temannya. Umurnya masih sangat muda, Han, masih 21 tahun kala kau melamarnya. Tapi, dibalik sikapnya yang kekanak-kanakan, Sera sudah mampu berpikir dewasa. Ia tidak hanya menuruti perasaan cintanya kepadamu, tapi tetap berpikir secara logis. Itu bukan bentuk keegoisannya. Sera hanya merasa tak cukup berani untuk melangkah. Sera tahu bahwa cinta saja tak cukup untuk bisa terus bersamamu, anakku.”

Luhan terdiam cukup lama untuk mencerna perkataan Mamanya. Mama benar. Luhan tak berkorban apapun jika pada akhirnya ia menikah dengan Sera. Bahkan jika nanti ia berhenti menjadi artis, Luhan rasa ia tak kehilangan apapun. Ia hanya akan kehilangan kesenangannya berakting di depan kamera, menyanyi dan menari. Lagipula, Luhan bukan tipe pria yang akan mati jika tak bisa melakukan passion-nya, ia bisa mengurus perusahaan Baba-nya dengan baik dan menjadi family man. Tapi Sera harus berkorban banyak hal. Apalagi melihat kepribadian gadis itu yang indipendent, yang senang hidup dengan caranya sendiri, menikah tentu bukan keputusan mudah. Bukan hal yang akan Sera putuskan hanya dengan berlandaskan cinta.

Mama ingat sekali awal bertemu dengan Sera…”lanjut Mama, tangannya menopang dagu dan bibirnya tersenyum lembut. Mengenang. “Mama terkejut saat melihatnya pertama kali di depan pintu rumah. Dalam bayangan Mama kau akan mengenalkan seorang gadis feminim dan modis seperti pacar-pacarmu sebelumnya, tapi yang berdiri di hadapan Mama adalah seorang gadis dengan jins, kemeja kebesaran, ransel, sneakers warna-warni dan hidung yang sedikit berminyak. Kau pasti ingat seperti apa ekspresi Mama saat itu?”

Mama mematung selama beberapa detik dengan bibir terbuka dan mata melotot…”jawab Luhan, senyum geli terukir di bibirnya. Wajahnya mengendur, lebih santai.

Mama sampai bingung harus mengajaknya mengobrol tentang apa karena dari penampilannya Mama tahu Sera tak akan nyambung jika diajak membahas soal gaun keluaran Gucci terbaru atau jenis make up apa yang sedang ngetren saat ini.”

Luhan tertawa kecil. Ya memang seperti itulah Cheonse-nya…

“Baru kali ini kau membawa gadis ke rumah dan hal pertama yang ia bahas dengan antusias adalah hasil pertandingan Liga Champion malam sebelumnya. Sera berhasil merebut hati Baba-mu karena itu.”

“Aku tahu Sera akan sangat cocok dengan Baba, mereka menyukai tim sepak bola yang sama dan sama-sama hater Manchester United.”Luhan mendengus. Ia selalu sebal pada kenyataan bahwa sekarang Baba-nya punya sekutu untuk melawan dirinya, dan sialnya sekutu itu tidak lain tidak bukan adalah pacar Luhan sendiri.

“Dan siapa sangka gadis dengan penampilan sembarangan seperti itu ternyata bertangan midas. Semua masakan buatannya benar-benar enak, ribuan kali lipat lebih enak daripada buatan Mama. ”Mama tertawa sambil geleng-geleng kepala. Masih takjub dengan kenyataan itu. “Sera tinggal di rumah ini selama sebulan, dan semua orang bertambah berat 5 kg karena kalap dengan makanan-makanan buatannya. Pipimu sampai tembam seperti bakpao. Semua membicarakanmu bukan? Mereka menyangka kamu agak gemuk karena kondisimu yang semakin sehat dan tidak stress lagi setelah menetap di China. Padahal itu karena kamu diberi asupan makanan lezat penuh cinta oleh Sera setiap hari.”

Luhan mengangguk-angguk setuju. Uh, God, Luhan rindu Cheonse-nya.

Jika pada akhirnya kamu tidak berjodoh dengan Sera… Mama berharap kalian tetap berteman baik.” Mama menyentuh dengan lembut pipi Luhan. Berusaha agar tidak menciutkan perasaan Luhan karena kalimatnya. Bagaimanapun, sesayang-sayangnya Mama dan Luhan pada Sera, jika Tuhan tidak menghendaki mereka berjodoh untuk menjadi keluarga, memangnya apa yang bisa mereka lakukan?

We will, Ma…”

“Tentu saja Mama akan tetap berdoa semoga kalian bahagia, nak, dan diberi jalan yang terbaik. Entah nanti kalian akan bersama atau berpisah dan bertemu dengan pasangan masing-masing.”

(AN : Sera asyik banget ya? Disayang banget gitu sama calon mertua. Pinter masak sih… duh, iri. Duh, pengen kayak dia. Duh, baper… hahaha)

Mama Luhan melemparkan senyum kepada Baba saat masuk ke dalam ruang kerja Baba untuk mengantarkan segelas kopi. Baba membalasnya dengan senyum segarisnya yang khas.

Setelah meletakkan gelas kopinya, wanita berusia setengah abad itu menarik kursi di seberang meja kerja suaminya dan duduk disana. Matanya  memperhatikan setiap gerakan sang suami menyesap kopi buatannya.

“Jam berapa Luhan berangkat kerja besok?”tanya Baba setelah meletakkan cangkir kopinya kembali.

“Hmm… manajernya akan datang menjemput jam 4 pagi.”

Baba mengangguk tiga kali. “Setelah Luhan pergi, kita siap-siap pergi ke Korea. Baba ingin bertemu dengan keluarga Sera.”

Shenma?”Mama Luhan terkejut. “Untuk apa Baba?”

Jika Luhan ogah-ogahan memperjuangkan Sera, Baba yang akan turun tangan sendiri untuk memperjuangkan menantu Baba,”ujar Baba tegas.

Mama terperangah. Kenapa dua orang pria di rumah ini senang sekali membuatnya pusing?! “Baba, tidak seharusnya kita ikut campur urusan anak-anak. Biarlah mereka menyelesaikan urusan mereka sendiri.”

“Aku tidak ikut campur urusan mereka, aku punya urusanku sendiri. Lebih tepatnya, aku punya urusan dengan orang tua Sera. Aku akan melamar Sera untuk anak kita.”

Babaaa~”

“Apa, sayang? Apa salahnya jika aku sebagai orang tua menginginkan seorang gadis yang kusukai untuk menjadi istri anakku? Aku mendengar pembicaraanmu dengan Luhan di meja makan tadi, ya Tuhan, anak itu berubah menjadi domba jika sudah berurusan dengan cinta. So lame. Seharusnya ia menyusul Sera sejak 2 minggu yang lalu dan menunjukkan kesungguhannya. Dirinya salah karena tidak bersikap dewasa sebagai pria. Hanya anak-anak yang tidak bisa menahan dorongan nafsunya untuk bermain dengan gadis lain sementara ia sudah memiliki gadis yang dicintai. Pantas jika Sera marah padanya, dan pantas pula untuk Luhan meminta ampun pada gadis itu.”

“Luhan terikat beberapa kontrak kerja, ia tidak bisa meninggalkan tanggung jawabnya begitu saja dan pergi menyusul Sera ke Korea, Baba.”

Baba mendengus kesal. “Alasan!! Dia keluar dari SM, bukan untuk terjebak lagi di jaring nelayan lain. Apa susahnya mengcancel satu dua jadwal pekerjaannya? Baba punya banyak uang kalau mereka minta Luhan membayar denda.”

Mama memutar bola matanya. “Kedatangan kita nanti hanya akan menjadi beban untuk Sera, Baba. Gadis itu sedang marah pada anak kita, kalau kita datang kesana, Sera pasti akan serba salah.”

Baba terdiam, tampak berpikir. Tentu saja ia tidak mau membuat Sera tidak nyaman dengan kunjungannya nanti. Tapi sebenarnya ini bukan ide mendadaknya. Baba sudah sejak lama ingin bertemu dengan keluarga Sera sejak pertama kali bertemu dengan gadis itu. Ia penasaran seperti apa keluarga calon menantunya itu. Kebetulan saja ada masalah ini, yang membuatnya tambah ingin pergi ke Korea dan bertemu calon besannya. Baba bahkan bersedia memohonkan maaf untuk Luhan jika perlu.

“Baiklah…”ujar Baba kemudian. “Kita tunggu seminggu lagi. Jika dalam seminggu masih tidak ada kejelasan apakah Luhan dan Sera putus atau tidak, Baba akan pergi menemui orang tua Sera.”

Luhan menatap balik pantulan dirinya di cermin. Rambutnya basah setelah mandi. Wajah yang kini ia lihat adalah wajah seorang pemuda yang muram, letih, dengan tatapan sendu dan ada lingkaran hitam di bawah mata. Kerutan dalam muncul di antara kedua alis.

“Kerutan di antara dua alismu…”

“Shenma?”Mendengar jawaban Sera atas pertanyaannya tentang apa bagian tubuhnya yang paling Sera suka dari diri Luhan, Luhan reflek mengerutkan kedua alisnya.

“Uuuh… i love when you frowning, honey,”ujar Sera manis. “Aku suka saat melihatmu marah.”

Mata Luhan melebar. What?

“Maksudku, aku suka wajah mengeryitmu saat marah,”ralat Sera cepat. “So so sexy!”

“Jadi karena itu kamu selalu saja tak mendengarkan kata-kataku ketika aku memarahimu?”

Sera meringis lucu. “Aku kan wanita biasa, Lu. Yang mudah sekali terpesona melihat kekasihku yang tampan dan seksi sekali ketika mengeryitkan dahi saat marah. Aku juga suka saat kamu sedang berpikir keras, juga sa~aaaat—”

“Saat?”

Pipi Sera merona. Ia menggigit bibirnya. Dan matanya menghindari tatapan menyelidik Luhan di depannya.

“Saat apa, Cheonse?”

“Aku tidak mau bilaaaang!”serunya tiba-tiba sambil menutup wajahnya dengan telapak tangan. Malu.

Luhan tertawa melihat tingkah lucu Sera. “Waeeee? Kau berpikiran jorok ya?”tanya Luhan curiga sambil berusaha menarik telapak tangan Sera agar terlepas dari wajahnya.

“Aniyoooo~”Sera terus mengelak, tapi Luhan tahu kelemahan gadis itu. Ia mengarahkan jari-jarinya ke pinggang Sera dan mulai menggelitikinya. “Aw! Luhaaan… hentikan!”

“Kalau begitu cepat katakan padaku, hm!”paksa Luhan, masih tak menghentikan siksaannya pada pinggang gadis itu.

“Aaaw… shireo! Aaw… oke oke… tapi tolong hentikan!”

Luhan menghentikan gelitikannya dan memasang seringai puas, membuat Sera cemberut melihatnya.

“I hate you!”

“I love you too, honey!”balas Luhan sambil tersenyum geli.

Sera tambah cemberut. Tapi ekspresi wajah itu lambat laun berubah menjadi ekspresi tersipu. Membuat Luhan lagi-lagi mengerutkan keningnya penasaran.

“Aku suka saat kau mengerutkan kening ketika melakukan sesuatu padaku di posisi seperti ini…”ucap Sera pelan tanpa memandang ke arah Luhan.

Posisi seperti ini? Umh, maksudnya posisi dimana Luhan mengurung Sera di bawah tubuhnya seperti ini? Hei heiiii~

“Memangnya apa yang kulakukan dengan posisi seperti ini dengan kening berkerut, Cheonse?”goda Luhan. Tentu saja ia tahu apa itu, oh hell… tentu saja ia tahu!! Tapi tidak asyik rasanya jika tidak menggoda gadisnya lebih dulu. Lihat, pipi Sera merah padam seperti buah Yangmei. Imut sekali!

“Jangan menggodaku, Luhan. Aku tahu kau tahu apa yang kumaksud.”

Luhan menelengkan kepalanya ke samping. Memasang wajah se-innocent mungkin. “Aku tidak tahu.”

Sera menggeram. “Aku paling benci tingkahmu yang sok polos ini. Neomu neomu hate it!”

“Aku paling suka dengan ekspresi malumu ini, Cheonse. Neomu neomu choa!”

“Ish!”

Bibir Luhan tertarik membentuk senyum. Kenapa di saat-saat seperti ini ia justru selalu terkenang moment-moment manisnya bersama Sera?

On days where thin rain falls like today
I remember your shadow

Our memories that I secretly put in my drawer
I take them out and reminisce again by myself

Malam ini, hujan turun untuk menemani. Tetesan airnya membasahi kaca-kaca jendela. Deru suaranya terdengar nyaring. Luhan mendudukkan tubuhnya di lantai yang di alasi karpet, punggungnya menyandar di kaki tempat tidur, matanya lepas menatap keluar, ke rapatnya hujan yang mengguyur di luar sana.

Sera menyukai hujan.

Why didn’t I know
About the weight of sadness that comes with breaking up?

 

Luhan mengambil tab yang tergeletak di sebelah kakinya dan membukanya. Melihat kembali foto-foto yang ia simpan dalam folder berpassword di galeri tab-nya. Foto-foto kebersamaannya dengan Sera, dan lebih banyak lagi foto-foto sendirian gadis itu. Sera yang sedang makan kue. Sera yang matanya sembab setelah menonton How To Train A Dragon. Sera yang mengecup pipi Luhan sambil melirik ke arah kamera. Sera yang tertidur. Sera yang duduk di pinggir jendela menatap hujan. Sera yang tersenyum ke arah kamera…

Air mata Luhan merebak di rongga matanya.

Hei hei… bukankah tadi kau bilang bahwa kau baik-baik saja, Han? Lalu apa ini?? Luhan akhirnya menyadari bahwa selama ini ia hanyalah idiot yang berusaha menyembunyikan perasaan sakitnya. Hanya pria pengecut yang tak mau tampak merana ketika ia hampir kehilangan sesuatu yang berharga. Hanya pria tak tahu diri yang masih berani tertawa ketika ia telah menyakiti hati kekasih yang selalu setia padanya.

Air mata itu menetes. Jatuh ke layar tab yang menampilkan gambar Cheon Sera yang Luhan ambil dari instagram gadis itu seminggu lalu. Gambar Sera yang sedang bersenang-senang dengan para sahabatnya, tampak begitu gembira, tanpa beban.

Aku merana tanpa dirimu, Cheonse. Apa kau juga merasakan hal yang sama? Mungkinkah tawamu itu sama palsunya seperti tawaku selama ini?”

 

IF YOU
IF YOU
If it’s not too late
Can’t we get back together?

Ponsel Luhan berdering, memecah kesunyian di kamar Luhan. Luhan mengusap air matanya dan ia langsung mengeryit melihat siapa yang meneleponnya lewat Line itu.

“Hallo, Taiga!”

Hyung!!”

Luhan terkejut mendengar sapaan dari suara yang cukup dikenalnya itu. Bukan Taiga, melainkan Hansol—adik Sera.

“Hansol-a?”

“Ne, hyung! Aish, sebentar, noona!”

Kening Luhan mengeryit mendengar keributan di latar suara Hansol. Dari suara-suara samar yang terdengar, sepertinya ‘mereka’ sedang berebut untuk bicara pada Luhan. Luhan mengenali suara Mirae dan Freya, lalu ada suara lain yang sepertinya adalah suara Taiga dan satu lagi suara yang tidak Luhan kenal. Kenapa mereka berkumpul untuk bicara pada Luhan? Apa ada sesuatu yang terjadi?

“Hansol-a, ada apa? Apa terjadi sesuatu dengan Sera? Hallo! Hansol-a!”

“Iya! Iya! Ini sudah ku loudspeaker!”

“Kau fokus saja mengemudi, Kyo-chan!!”

“Hansol-a!!”seru Luhan tak sabar.

“Hallo, hyung! Sera noona sakit,”lapor Hansol to the point.

“Apa?”Luhan terkejut.

“Sera depresi!” Ini suara Freya. Ketus seperti biasa.

No. No. Ada masalah dengan lambung Sera. Asam lambungnya meningkat, dan dia kekurangan nutrisi dan cairan tubuh.”Taiga meralat.

“Heol~ Sera seperti korban perang di Afrika saja.”

“Iya, itu pemicunya adalah karena Sera stress dan tidak bisa makan. Karena itu lambungnya bermasalah,”tambah Freya.

Noona dirawat di rumah sakit, hyung! Pagi tadi dia pingsan di kantor.”

Napas Luhan tercekat. Jantungnya berdegup kencang ketika mencerna potongan-potongan informasi yang ia dengar. Sera sakit?

Gadis itu memang sering bermasalah dengan lambungnya. Sera susah makan, ia tidak suka mengemil seperti gadis-gadis lain. Ketika stress, tabiat susah makannya akan semakin parah.

“Dan sekarang noona dirawat di rumah sakit.”

Luhan menelan ludah susah payah. “Tapi tadi pagi dia tampak baik-baik saja…”

“Tadi pagi?”Mirae bertanya.

“Instagram…”jawab Luhan singkat. Lidahnya terlalu kelu untuk diajak bekerja saat ini. Telapak tangannya terasa dingin. Ia cemas. Ya Tuhan, Cheonse…

“Instagram?”beo Mirae tak mengerti.

“Postingan Sera tadi pagi itu foto lama.”Taiga menjelaskan. “Itu foto bulan lalu kalau tidak salah.”

Freya menambahi. “Sera ingin menunjukkan kalau dia baik-baik saja. Dia tidak mau kamu tahu kalau dia hancur saat ini. Karena itu akhir-akhir ini dia rajin sekali memposting foto-fotonya di instagram.”

“Sera sangat merindukanmu, Luhan-ssi…”ujar suara lembut milik Hana.

Luhan meremas ponsel di genggamannya. Dadanya terasa sesak.

IF YOU
IF YOU
If you’re struggling like I am
Can’t we make things a little easier?
I should’ve treated you better when I had you

 

“Kau tahu, Han? Kami dimarahi habis-habisan oleh Haejin Oppa karena tidak menjaga Sera. Oppa menyeramkan satu itu pulang dari US di saat yang sangat tidak tepat,”keluh Mirae.

“Ya bagaimana pula kita bisa menjaga Sera setiap saat? Kita semua sibuk sekali minggu ini dan tak sempat bertemu lagi dengan gadis itu.”Taiga berseru.

“Dia kelihatan baik-baik saja saat pergi ke salon bersamaku. Ceria seperti biasa. Well, seharusnya aku tidak lupa kalau dia itu aktris yang hebat.”Freya menambahi.

“Kami tidak bilang kok kalau noona sedang ada masalah dengan hyung,”tambah Hansol cepat.

“Yeah, bisa-bisa Haejin hyung akan mendatangimu dan memenggal kepalamu untuk balas dendam. Kau tau sendiri betapa mengerikannya Oppa Sera satu itu. Jadi kami hanya bilang kalau Sera sedang stress karena pekerjaannya. Berterima kasihlah pada kami, Han!”ujar Taiga.

Luhan tak berterima kasih. Rasanya, lebih baik Haejin hyung memenggal kepalanya saja saat ini karena bayangan-bayangan sosok sakit Sera terbaring di kamar rumah sakit mulai mengganggu otaknya dan Luhan tak tahan lagi.

“Cepat selesaikan masalah kalian, Han. Abaikan saja permintaan gadis bodoh itu untuk tidak menghubunginya sebelum dia menghubungimu lebih dulu. Itu Cuma caranya untuk melarikan diri darimu,”ujar Mirae.

“Sera sedang mengalami krisis kepercayaan diri. Karena melihatmu bersama gadis lain, dia jadi merasa tak cukup pantas untukmu, Han. Dan sorry… sepertinya kita semua semakin memperparahnya.”Suara Hana terdengar sangat menyesal.

“Kau tahu sendiri lah betapa tidak bergunanya kami sebagai teman curhat, hahaha…”Freya tertawa. Dan keributan yang terdengar setelahnya, sepertinya gadis itu dipukul oleh Mirae yang tidak suka mendengar tawanya.

Hyung, kau akan menjenguk noona di rumah sakit kan?”tanya Hansol.

Luhan terhenyak.

“Tidak usah memaksakan diri jika jadwalmu padat, Han. Lagipula sakit Sera tidak parah. Kami hanya mengabarimu karena merasa kau harus tahu,”Taiga berkata bijak.

“Kami semua akan menjaga Sera untukmu, kau tenang saja,”timpal Mirae. “Lagipula bisa geger nanti jika kamu ketahuan datang ke Korea. Kasusmu dengan SM kan belum selesai.”

“Tapi noona sedang sakit, bagaimana mungkin Luhan hyung tidak khawatir dan diam saja, ya kan?”Hansol berseru tak setuju dengan ucapan Taiga dan Mirae.

“Ish! Anak kecil diam saja! Jangan ikut campur urusan orang dewasa!”

“Aku sudah SMA ya, Frey noona! Aku bukan anak kecil!!”

“Aku akan datang.”Kalimat itu terlontar begitu saja dari mulut Luhan membuat suara di seberang sana mendadak hening.

“Besok telepon saja Sera, Han. Seperti biasanya.”

Luhan tertohok oleh kalimat lugas Taiga. Ia mengigit bibir bawahnya. Ya, sudah berapa kali Sera sakit, dan Luhan tak bisa langsung melihat keadaan gadis itu hanya karena jadwal kerjanya yang super sibuk. Beberapa kali Sera bahkan tidak mau segera mengabarinya dengan alasan tidak mau mengganggu Luhan. Mengabarinya segera pun percuma, karena Luhan tak akan langsung datang untuk menemaninya.

“Kalian ini apa-apaan sih? Noona sakit karena merindukan Luhan hyung, tentu saja hyung harus datang menemui noona kalau ingin noona sembuh. Tenang saja hyung, kami akan menjemputmu di bandara dan memastikan tak ada yang tahu kalau kau ada di Korea. Aw!! Kenapa aku dipukul, noona?”

“Aku sebal mendengar suaramu!”

“Apa?”

“Ya sudah ya, Han.”Freya mengabaikan Hansol. “Kau sedang bekerja kan? Telepon Sera besok, oke?! Besok saja, jangan sekarang! Sera sedang tidur saat kami tadi pulang dari rumah sakit.”

“Ya…”

Sambungan telepon itu pun putus. Luhan termangu memandangi ponselnya.

Ternyata Sera sama merananya seperti dirinya. Gadis itu juga tak ingin berpisah dengan Luhan. Sera masih mencintainya. Perasaan itu justru membuat Sera semakin terluka karena tak bisa membenci Luhan setelah pengkhianatan yang pria itu lakukan. Sera justru menyalahkan dirinya sendiri karena merasa tak mampu menjadi gadis yang cukup baik untuk Luhan.

Ya Tuhan, apa yang sebenarnya telah kau lakukan, Han? Kenapa selama 2 minggu ini kau terus saja berdiam diri hingga membuat Sera semakin salah paham padamu dan terpuruk?!

Selfish bastard!!!

Gege, bisakah kau mengusahakan satu hari kosong untukku besok atau lusa?”tanya Luhan langsung setelah teleponnya tersambung dengan sang manajer.

“Apa? Kenapa? Untuk apa?”Manajer Luhan terdengar terkejut.

“Ada yang harus kuurus.”Luhan tak mampu menjawab jujur.

“Masalah pribadi? Tentang pacarmu itu?”Tanpa menunggu jawaban Luhan, manajer Li langsung meneruskan perkataannya. “Tidak bisa, Han. Jadwalmu sebagai brand ambassador penuh hingga minggu depan. Kau juga ada jadwal syuting Running Man rabu besok dan acara Bazaar Charity yang penting sekali lusa malam. Semua itu tidak mungkin di cancel.”

“Tolonglah, ge. Aku tak apa jika harus bekerja 24 jam nonstop nanti, tapi besok…”

“Apa kau pikir kau ini bekerja sendirian, Han? Apa kau tidak memikirkan para staff dan asisten yang membantumu? Oke, kau memang bisa mangkir dari pekerjaanmu. Kau bisa kabur ke Korea kapanpun kau mau. Tapi siapa yang harus menunduk menghadapi para staff yang menyiapkan acara-acaramu? Siapa yang harus menata ulang lagi jadwalmu? Siapa yang harus pontang-panting menjawab pertanyaan wartawan yang penasaran kenapa tiba-tiba Luhan menghilang dan acara-acaranya dibatalkan? Bukan kau…”

“Ya. Semua itu gege yang melakukan…”sahut Luhan dengan nada suara sinis. Ia bukannya marah pada manajernya, tapi lebih kepada situasi dirinya sekarang yang terasa sama terkekangnya seperti saat masih di EXO. Oh, oke… dia ini artis, artis manapun pasti pernah mengalami hal yang sama dengan Luhan. Kehidupan pribadi mereka sering kali harus dinomorduakan.

Manajer Luhan menghela napas panjang. “Setelah mini konsermu minggu depan, aku akan mengusahakan libur untukmu.”

Minggu depan? Terlalu lama…

“Xiao Lu?”

“Aku mengerti,”tandas Luhan lantas menutup teleponnya. Ia menyandarkan tubuhnya kembali ke kaki tempat tidur. Kepalanya terkulai di atas tempat tidur, mendongak ke arah langit-langit kamar. Kembali bayangan Sera mengusik pikirannya. Wajah sedihnya berpaling. Punggung gadis itu menjauh. Dan Luhan tak bisa berbuat apapun karena terantai oleh jarak dan tanggung jawab pekerjaannya.

“Sera sangat merindukanmu, Luhan-ssi…”

Dan Luhan tak mampu mengobati kerinduan gadis itu. Ia sendiri, semakin sakit karena menahan keinginan untuk segera berlari untuk menemui Cheon Sera-nya.

“Besok telepon saja Sera, Han. Seperti biasanya.”

Ya. Seperti biasa. Luhan menjadi pria menyedihkan yang tak pernah bisa berada di samping Sera ketika gadis itu sedang membutuhkannya.

Prak!!

Ponsel Luhan menghantam dinding dan jatuh berantakan di lantai. Luhan terengah. Napasnya memburu. Dan matanya menyala oleh amarah. Tangan yang ia pakai untuk melampiaskan amarah dengan membanting ponselnya itu, terkulai.

End for IF…

 

Maaf yaaa… aku tahu aku udah PHP, lamaaaa banget gak ngelanjutin FF-ku. Apa aku nggak sempat nulis karena kerja? Iya. Aku belum kerja secara resmi siiiih. Aku masih di rumah, masih masukin lamaran kerja ke sana-sini. Tapi kebetulan aku dimintain tolong untuk jadi pengentri data. Mindahin data di kertas, ke program komputer. Dan karena datanya ada buanyaaaak (satu kabupaten, beberapa kecamatan, beberapa kelurahan, beberapa Rt, ribuan KK) dan harus di masukin satu persatu, aku harus lembur beberapa hari karena dikejar deadline. Kemarin selesai ngerjain dari BKBKSPP, udah happy karena ada waktu nulis, eeeeeh, datang lagi dari Dinas Sosial. Nggak mungkin lah ku tolak, secara aku mau duitnya, hahaha.

Ini bisa ketulis karena kebetulan programnya agak lola, jadi tiap kali loading, aku bisa nyempetin nulis satu dua kalimat. Aku gak tau deh ini ngefeel atau gak, secara aku nulisnya selama kurang lebih 3 minggu dan baru kelar ini, huhu. Jadi sekali lagi maaf yaaaa… T_T Maaf juga bagi kalian yang nungguin MTEOL, aduuuuh…

Rencana storm selanjutnya “Noona neomu Yeppeo!”, yup! Lagunya Shinee ^^ Siapa noona-nya dan siapa yang jadi brondongnya, ditunggu aja ya~

Bye…

Regard,

Seara Sangheera

Advertisements

126 responses to “{storm#6} IF

  1. Tuh kan mereka berdua pada baper” :3 ayolah salah satu dari kalian telfon atau sms gih biar nggak ada baper” :3 tapi lebih khusus yang telfon atau sms luhan saja sih soalnya sera kan lagi sakit lagi pula seharusnya yang lebih berusaha harusnya luhan :3

  2. Rumit banget yahhh perasaab masalah nya luhan sama sera. Gak pernah habis habis nya masalah mereka itu ehh malah nambah lagi.

  3. ckckck, sepasang sejoli yg mengenaskan. sama2 punya kepala batu n… apa bisa dibilang terlalu pengecut? pengennya itu, tapi nantinya jadi ini. terlalu banyak tapi. rempong banget jadi mereka berdua. hadeuh…

  4. ini sama sama mentingin egonya masing masing jadi ga ada yg hubungin duluan–.
    itu keluarganya sera banyak banget. sampe bingung bacanya. wkwkwk
    terimakasih udah nulis ya kakak
    semangat

  5. ya ampun. Rumit banget ya ka. Gregetan sama tingkah mereka berdua. Luhan diem, Sera juga diem. sama sama ga mau nunjukin sakit hatinya. itu yang bikin greget.

    For next. Fighting ya kak!

  6. Astagaaa akhirnya di post jugaa..
    Jadi kangen MTEOL…mteol nya jangan di stop ya eon..
    Semangat buat kerjanya…
    Keep writing🙌

  7. kayaknya aku telat banget deh bacanya:D
    sera sakit gitu tapi luhan gak bisa jengukin dia gara” pekerjaan
    dan babanya luhan sampe segitunya ya pengen jadiin sera menantu sampe mau datang kekorea buat ketemu orang tua sera aku jadi iri sama sera
    semoga aja mereka bisa kayak dulu lagi

  8. aku ga tau ff ini udah ada chap 6. huhu seeng banget. kasian deh sama luhan dia sibuk banget. itu noona nya sera ya? tapi dongsaengnya siapa

  9. unnie !!!!~~ aku izin copy ff storm dr 1-6 yak?
    aku blm smpet baca sih… tp ini keadaan mendadak! kuotaku menipis (sangat) please izinin aku yayaya? hehehehe (nyengir baekhyun)
    sayang unnie muahhh

    Luvluvluv ,
    Nami

  10. Huwaa sedih. Kasihan luhan pasti pusing tuh kepalanya mikir cheonse sama pekerjaannya. Semangat ya luhan kejar terus cheonse. Kekeke ceritanya makin seru n sedih thor. Ditunggu banget next chapnya kekeke ^^

  11. Iy eon lm hehe…tp q tetap setia menunggu :),,, q lpa mau nulis apa gara” ngerjain sesuatu,, tp dtunggu ajalh next noona neomu yeppo apa y????penasaran hihihi ,happy new year eon meski dh lwt hehehe ….

  12. Bapeeeeeerrr, kakaaaaaaakkkkk, aku baperrrr. Hayo kakak tanggung jawab, aku jadi baper gegara baca ff ini..
    greget bgt kak, iihhh, luhan pake ada jadwal segala lagi.. luhan-sera kapan ketemunyaaaaaa.. ah elau greget amaatt..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s