B U L L [Chap.1] – Annoying Boy

tumblr_nxp18lEBDg1sa0uc6o4_400.png

B  U  L   L  [Chap.1] –– Annoying Boy

Doubleel’s present

 

Main Cast :

|Oh Sehun|

|Park Hani|

Other Cast

Genre :

|Romance|

|Marriage Life|

|School Life|

|comedy(?)|

Rating :

PG – 16

||Prolog||

. Warning!! Alurnya maju mundur. Jadi mohon baca dengan cermat agar tidak bingung.

 

Sepuluh menit lagi, bel masuk sekolah akan dipastikan berdenting. Namun Oh Sehun, dengan tingkat kepercayaan dirinya yang atas rata-rata baru melangkah keluar dari kamar apartement miliknya.

Terlambat?

Oh, tenang saja. Itu seperti tradisi bagi seorang Sehun

Laki-laki itu mengunci pintu, dilanjutkan dengan berjalan keluar apartemen dengan satu tangan dimasukkan kedalam saku celana. Ia tampak bersiul-siul kecil. Begitu tenang, sambil sesekali melempar senyum kecil pada perempuan lewat––yang menatapnya terkagum-kagum.

Tebar pesona?

Eumm, bisa juga dibilang seperti Itu. Ayolah, untuk apa punya wajah tampan jika bukan untuk dipamerkan dan memikat wanita –wanita cantik. Benar?

Sehun lantas memasuki pintu mobil, menginjak pedal gasnya dan melesat cepat menuju sekolah.

.

.

.

Pukul 8.15. Gerbang sekolah tertutup ratap. Dan itu artinya, yeah benar sekali. Sehun terlambat.

Sudah kuduga.

Demi Dewa, ia benar-benar hanya memutar bola mata. Tidak ada rasa takut sama sekali, meski petugas kedisiplinan yang super garang sudah menanti didepan mata.

“B-berhenti!”

Sebuah suara berseru pelan. Sesuai instruksi, Sehun memberhentikan mobilnya. Laki-laki itu menghela napas. Ia kemudian menurunkan kaca mobil, dan  menatap sesorang itu dari balik kaca mata hitamnya.

Dengan santai, “Ada apa, sunbae?” ia bertanya dengan suara beratnya yang khas.  Tenang sekali seolah tanpa dosa.

Siswi yang dipanggil sunbe oleh Sehun hanya berkedip beberapa kali, melihat sosok lelaki yang menurutnya hampir seperti titisan dewa menatapnya dengan ukiran senyum kecil. Juga suara yang terdengar err… sekseh sekali ditelinganya. Ditambah, Mobil ferrari merahnya yang sangat mengkilap hingga dapat memantulkan bayangan dirinya, menambah kesan hot Sehun dimatanya. Untuk kali ini, Ia benar-benar berterimakasih kepada Park Hani karena memberinya tugas menjaring siswa-siswa kurang disiplin.

Bertemu orang tampan. Hitung-hitung refreshing dipagi hari, kan?

Astaga! Semakin kesini kau sekain tampan saja, Oh Sehun.

“Puas memperhatikanku?”Sapaan itu membuat siswi bername-tag  Jung Seon Ah ini tersentak. Dia tersenyum salah tingkah, malu lantaran sikap terang-terangan menunjukkan keterpesonaan pada juniornya ini. Yang menjadi lawan bicanya hanya cuek saja sambil menatapnya malas.

“Ma-maaf. Ehm.” Seon Ah berdehem. Menetralkan detak jantungnya dan berusaha untuk terlihat wajar. Tugasnya disini untuk menyaring siswa-siswi yang melanggar peraturan, oke? Ingat itu Jung Seon Ah.

“K-kau terlambat. D-dan itu a-artinya kau telah melanggar p-peraturan.” Jelasnya.

Alis kiri Sehun terangkat tinggi. Kenapa bicaranya harus tergagap-gagap?

“Lalu?” sambung Sehun acuh. Ia tahu bahwa sebentar lagi ia pasti akan mendapat hukuman. Hanya saja ia ingin mendengar lebih lanjut perkataan yang keluar dari mulut senior ini.

Kau harus dihukum sekarang juga. Sebenarnya itu yang harus Jung Seon Ah katakan. Namun entah apa yang terjadi, bibirnya justru berkhianat dan mengatakan hal gila yang tidak seharusnya ia lontarkan.

“Bolehkah aku meminta nomor teleponmu?”

Geez.

Menoleh cepat, alis Sehun mengkerut. Pertanyaan yang baru saja didengarnya itu membuatnya bingung saja. Bukannya dirinya memperoleh hukuman namun justru dimintai nomor telepon? Yang benar.

Cukup lama berpikir. Hingga kemudian, ia jadi mengerti sekarang.

Memelorotkan kaca mata, Sehun memperhatikan gadis ini dari bawah. Sebagai seorang yang sudah berpengalaman dalam urusan cinta, jiah, dia sedikit banyak bisa memahami kondisi beberapa perempuan yang sudah kebelet cinta. Apalagi disuguhi lelaki setampan dirinya, right?

Astaga, see! Betapa over-percaya diri Oh Sehun ini.

Okey, meski fakta mengatakan bahwa mungkin Sehun bahkan lebih dari kata tampan, ehemm, tetap saja ke-over-percaya dirinya ini adalah sesuatu yang cukup buruk. Karena kau tahu sendirilah, bahwa sesuatu yang berlebihan itu tidak baik. Ya seperti itulah kira-kira.

Bibir Sehun terangkat miring. Kalau dilihat-lihat, dia lumayan juga……… buat dijadikan hiburan. Hahahah, Sehun tertawa setan dalam hati.

“Apa aku akan tetap mendapat hukuman setelah memberikannya padamu?” Tanya Sehun memastikan.

Cepat, gadis itu menggeleng semangat. Senyum lebar mengembang dibibir tipisrnya. “Aku akan membebaskanmu dari hukuman.” Katanya senang. “Tenang saja.”

JACKPOT.

Sekali lagi, Sehun tersenyum manis. “Baiklah, kemarikan pon–––“

“Kata siapa kau bisa bebas dari hukuman?”

Sontak, Sehun dan Seon Ah menoleh pada sumber suara. Seorang gadis berperawakan lumayan tinggi sedang berjalan kearah mereka. Dengan tatapan tajam dan rahang tegas miliknyalah yang kini membuatnya disegani siapapun disekolah ini.

Termasuk Seon Ah.

Tapi pengecualian bagi Oh Sehun.

Mimik over-serius gadis itu justru membuatnya bosan saja.

Ia kemudian berhenti tepat dengan jarak dua langkah disebelah Seon Ah. Menatap geram  keduanya bergantian, seraya geleng-geleng kepala. “Aku tidak tahu apa yang akan terjadi di negara kita apabila diisi oleh orang-orang seperti kalian.” Ia melayangkan tatapan jengkelnya pada Seon Ah.

Suap-menyuap. Ya Tuhan!

Mati kutu. Seon Ah hanya dapat menunduk. Jika sudah begini, matilah saja kau Jung Seon Ah.

Mencicit pelan, “Park Ha––hani…….”

“Biar aku yang mengurusnya.” Potong Hani tegas.

“Masih ada tugas lain yang harus kau urus, kan?” meski ia kini sedang berbicara pada Seon Ah, namun pandangan Hani tetap tersorot tajam pada laki laki yang masih berada didalam mobil. “Sekarang pergilah!” ultimatum dari Park Hani.

Siapapun yang mendengarnya, pasti akan bergidik  jika ketua Osis yang berbicara. Begitu pula dengan Seon Ah, ia  mengangguk patuh, dan sesegera mungkin berlari kedalam sekolah.

Kini, tinggal Hani dan Sehun disana. Keduanya terdiam cukup lama. Memutar Bola mata, menatap bosan Sehun yang tengah nyengir lebar.

“Dan kau… Ikut aku Sekarang!”

.

.

.

Sehun berkedip sekali. Menoleh, ia memandang Hani tak percaya. “Untuk apa kau membawa ku ke gudang?” tatapannya berubah menyelidik.

Hani memang membawa Sehun ke.gudang. Karena di tempat ini, Sehun akan mendapatkankan imbalannya.

Benar saja. Baru Hani membuka mulut ingin menjawab namun suara Sehun yang luar biasa menyebalkan tiba-tiba mendahuluinya.

“Jangan-jangan kau ingin mengajakku berbuat mesum disini ya? Apa kurang puas yang kemarin ma–––AAWW!!”

Hani menginjak kaki Sehun tidak berperikemanusian.

“Rasakan!!” geram Hani. Sehun meringis kesakitan sambil memegangi kakinya.

Sumpah, tenaga Hani bahkan sepertinya melebihi wonder women di film-film kartun favorit Sehun masa ketika kanak-kanak hingga injakan itu sukses membuat kakinya terasa berkedut-kedut.

“Bocah tengil! Mengapa hanya hal yang berbau MESUM MESUM dan MESUM yang ada di otak dongkolmu, hah?” makinya seraya menunjuk-nunjuk Sehun. Hani benar-benar tidak habis pikir jalan pikiran bocah itu.

Satu kata, pervert.

Dan, dirinya memang sengaja menekankan kata itu, percayalah!

 “Sakit, bodoh!” rintih Sehun. “Awas kau, akan kubalas perbuatanmu nanti!”

Hani mendengus. Ia kemudian menuju sudut gudang. Entah apa yang gadis itu lakukan Sehun tidak mau tahu. Ia masih sibuk mengelus-elus kakinya yang bernasib malang hingga melebihi kemalangan Siti Nurbaya(?).

“Ambil Ini!” Dengan jutek, Hani menyodorkan seperangkat alat kebersihan pada Sehun.

Sehun langsung menganga. Ingin segera melayangkan protes––

“Ini hukumanmu, bocah!” serobot Hani seolah tahu apa yang akan Sehun katakan selanjutnya.

“Ini hukumanmu, bocah!” Sehun menirukan suara Hani dengan mimik yang dibuat-buat.

Jijik. Hani sungguh jijik melihatnya. Demi Tuhan!

Menghembuskan napas kasar, pemuda iu mengambil paksa alat-alat itu dari tangan Hani dan mulai melaksanakan hukumannya dengan sangat berat hati.

Lima belas menit berlalu, gudang baru seperempat bagian tertata apik. Dan Hani, masih berdiri disana dengan tangan bersedekap, dan bola mata yang senantiasa mengikuti pergerakan tubuh Sehun. Dirinya memang sengaja melakukan ini, bukan apa-apa. Hanya saja Sehun sering mangkir dari tugasnya jika tidak ditunggui semacam ini. Seperti waktu itu, ketika Sehun harus dihukum untuk menyapu halaman belakang sekolah. Dan asal kalian tahu, bocah itu justru memanfaatkan kesempatan untuk tidur diranting pohon belakang sekolah yang besar.

Mengetahuinya, Hani hampir melempar Sehun dengan sepatu saat itu. Eh, bukan hampir. Hani memang sudah melakukannya. Dan hal itu membuahkan hasil. Yaitu Sehun benar-benar terjatuh dari ketinggian pohon karena terkejut.

Berbicara tentang Sehun, pikiran Hani melayang pada hari kemarin. Hari itu Merupakan hari bersejarah baginya. Hari dimana ia dengan berdosanya telah mematahkan sumpah yang telah dibuatnya sendiri. Hari dimana ia terikat janji suci dengan seorang pemuda overpede yang satu tahun lebih muda darinya. Ia benar-benar tidak pernah membayangkan hal gila ini terjadi di kehidupannya. Benar-benar Gila, sungguh. Menikah diusianya yang semuda ini dengan pemuda yang ternyata tingkahnya lebih tengil dari seorang bocah, membuat ia mulai terbiasa bersabar super ekstra untuk menghadapi segala tingkah lakunya yang beragam.

Disaat Sehun yang tiba-tiba menarik pinggangnya, lalu mendekatkan wajah dan membuatya ingin membotaki kepala lelaki itu karena berefek buruk pada kesehatan jantungnya, dan saat bibirnya yang mungil mengecup lembut keningnya……

oh Astaga! HENTIKAN! berhenti berpikir tentangnya atau otakmu akan bergeser Park Hani.

Sial!

“Jadi ini alasan sebenernya kau menungguiku? karena ingin memandangi wajah tampanku lebih lama, kan? Iya, kan?” terka Sehun dengan tampang tengilnya. “Cih, alibi.”

Tersadar, Hani sontak saja melototi Sehun kesal. Eh, Apa? Apa yang dikatakannya tadi? Tampan?

Tampan pantatmu dari hongkong!

“Atau mungkin kau ingin berduaan denganku? Tenanglah, dengan senang hati, babe!”

“OH SEHUN!!” teriakan Hani menggelegar. Ia sudah tidak tahan lagi. Sudah cukup. “Tutup mulut sialanmu atau aku akan membungkamnya dengan meja kursi.”

Sadis.

Sontak saja, Sehun terpingkal-pingkal. Ia baru tahu jika menggoda Hani akan menjadi semenyenagkan ini. Wajah gadis itu yang merah padam menahan amarah, justru membuatnya terlihat……. imut?. OMO! Jika tahu begitu, menggoda Hani barangkali akan masuk kedalam daftar hobbynya selain menonton film blue.

“Kau sedang PMS, sunbae?” celetuk Sehun disela tawanya. “Sensi sekali.”

SIALAN!

Hani menggertakkan giginya. Geregetan sekali. Saat ini, ia mati-matian menahan hasrat untuk tidak memutilasi bocah tengil itu menjadi beberapa bagian.

“Hahahaha….., lucu sekali. Ya Tuhan.”

“Lucu lucu kepala nenekmu! Dasar, hoobae kurang ajar.” Tandas Hani. Ia meraih asal sebuah bola voli kemudian menembakknya asal-asalan pada Sehun. Meskipun tengah tertawa, Sehun masih dapat dengan sigap menangkap bola itu dengan kedua tangannya.

Menghindar dari godaan absurd, “Segera rapikan gudang ini atau aku akan menambah hukumanmu.” Tiitahnya absolut, sebelum kemudian meninggalkan Sehun yang masih tersiksa akan tawanya yang tak kunjung henti.

Park Hani, kau benar-benar unik.

____

 “Dude, kemarin kenapa kau tidak berangkat?” tanya Chanyeol seraya mengernyitkan dahi heran. Ia mengambil tempat duduk disamping Baekhyun yang sibuk bermain ponsel. “Aku menghubungimu beberapa kali tidak ada respon.”

“Kukira kau diculik.” Baekhyun tiba-tiba menimpal absurd..

“Dia pergi kesuatu tempat yang tak terduga.” Ucap Kai datar.

“Kemana?” Kai hanya mengendikkan bahu sebagi balasan atas pertanyaan Chanyeol.

Sehun tahu, jika semua yang teman-temannya lontarkan itu menuju padanya. Tapi ia sama sekali tidak mendengarkan mereka. Matanya terfokus pada sesok gadis yang sedang beragumen dengan temannya. Gadis itu, tampak kuat dan mandiri. Bahkan, Sehun yakin gadis itu tidak memerlukan bantuan untuk mengerjakan apapun.

Bagi Sehun, Park Hani terlalu menarik untuk dilewatkan. Bukan hanya karena Sehun senang melihat ekspresi kesal Hani saat ia berhasil menggodanya beberapa minggu belakangan, semenjak orang tuanya mengenalkan Hani padanya, melainkan juga lantaran Hani satu-satunya gadis yang yang tidak pernah tertarik padanya.

Ia kira Park Hani mengidap kelainan seksual yang menyimpang, lesbian.

Karena hingga saat ini, belum ditemukan fakta bahwa Park pernah berpacaran ataupun putus cinta dari seseorang.

Sementara Kai, ia geleng-geleng kepala melihat senyum Sehun. Pemuda berkulit cokelat berhidung sedikit aneh itu pasti tahu Sehun tengah membayangkan siapa karena sedari tadi mata Sehun tidak terlepas dari Park Hani.

Karena Kai, adalah satu-satunya teman Sehun yang mengetahui relationship apa yang terjalin antara Sehun dan Hani.

Ya, Kai hadir di upacara pernikahan Sehun dan Hani.

Itu karena Ibu Kai merupakan sahabat karib Ibu Sehun semenjak SMA, sehingga ia akan tahu apa-apa yang terjadi sebab ibunya juga mendapat undangan pernikahan dari keluarga Oh.

“Hun…., apa yang sedang kau lihat?” teriak Baekhyun seraya menggoyangkan bahu Sehun sekuat mungkin.

Sehun mengulas senyum tipis. “Apa yang kau bicarakan?”

Terheran-heran, sementara Chanyeol mengikuti arah pandang Sehun. Tunggu! Ini sedikit aneh, tapi apa mungkin Sehun sedang memperhatikan Park Hani? Si Ketua Osis yang terkenal garang itu?

Atau justru ia tengah menatap Kim Jaehee?––gadis sebelah Hani. Ah, mana mungkin selera Sehun turun drastis dengan menyukai si gadis kaca mata?

Lalu siapa lagi? Lebih tidak masuk akal lagi kalau Sehun diam-diam memperhatikan Yixing, pemuda cina yang duduk bersebelahan dengan Park Hani. Ayolah, Chanyeol rasa Sehun masih normal-normal saja.

“Ohya, kudengar baru kemarin ketua Osis absen setelah bersekolah disini selama tiga tahun.” Baekhyun menyesap jus jeruknya. Matanya terpaku sesaat pada Eunji, mantan kekasihnya yang tengah masuk ke kawasan kantin dengan teman-temannya, lalu kembali lagi pada Sehun.

Apa yang dikatakan Baekhyun memang benar. Hal itu seolah menjadi rahasia umum. Park Hani mungkin adalah siswa paling disiplin disepanjang sejarah SMA Dongguk. Tidak pernah sekalipun Hani membiarkan daftar absensinya tertulis keterangan apapun. Meskipun ia dalam keadaan tidak sehat, ia akan tetap memaksa masuk sekolah meski terkadang ia akan berakhir di UKS.

Keras kepala, kan? Park Hani memang begitu orangnya.

Sehun menatap Baekhyun cepat. Kemarin? Itu artinya tepat saat hari pernikahannya dengan gadis itu. Park Hani baru pertama kali absen setelah tiga tahun? Wah, bukankah itu luar biasa? Haruskah Sehun berbangga hati telah menjadi suami dari seorang Park Hani? Dirinya bahkan sudah tidak ingat lagi berapa kali ia absen dan membolos. Sedangkan Park Hani? Ah sudahlah, dia memang the one and only.

Sehun lalu melirik Hani lewat ekor matanya.

She’s so interesting, right?

“Park Hani sunbae memang menakjubkan.” Kai ikut nimbrung. Tersenyum aneh, ia membuka tutup minuman soda lalu meneguknya seperempat.

“Dan dia, sulit ditebak.”

Ada yang aneh dengan kata-kata Sehun, sebenarnya. Tapi entahlah, ketiga temannya yang merasakan hal itu, namun mengendikkan bahu tak mau tahu.

“Bicara tentang Park Hani sunbae, masihkah kalian ingat kegarangannya saat masa orientasi dulu?” Baekhyun membuka topik. Kalau biasanya mereka membahas mengenai isi majalah dewasa edisi bulan ini, atau gadis-gadis top wanted,  namun kali ini, target pembahasan mereka adalah sang ketua Osis SMA Dongguk.

Kai terkekeh geli. Baekhyun benar. Harus ia akui jika Park Hani memang sedikit err……….galak?

“Itu sih gara-gara dirimu Oh Sehun.” tandas Chanyeol, yang kini tengah mengecek sesuatu dismartphone-nya.

“Kalau saja kau tidak berani menentang dan membantah Ketua Osis, kita semua tidak akan ikut menerima hukuman darinya.” Suara Baekhyun ikut menyalahkan. Flashback masa-masa itu. Masa dimana junior masih tunduk-tunduknya pada senior. Yang berani menantang, habislah kau.

“Aku tidak habis pikir bagaimana nasib orang yang kelak menjadi suaminya.” Itu Baekhyun yang bicara. Kai sontak memandang Sehun. Ia lalu tertawa menyebalkan.

“Mungkin dia akan cepat tua.” Ujar kai dengan nada mengejek. Ia memang sengaja. Dan Sehun yang menyadari bahwa Kai menyindirnya, langsung menatap sabahatnya itu dongkol.  “Dan bahkan mungkin………………cepat mati?.”

Dan Kai semakin menjadi-menjadi.

Lalu semuanya tergelak.

Kecuali, orang yang berstatuskan sebagai suami Park Hani. Tentu saja.

Refleks saja, Sehun yang menjadi bahan lelucon oleh Kai merasa kesal dan menginjak kaki lelaki itu sekuat yang ia bisa.

“Ya! Kenapa kau marah, huh?” tanya Kai masih tertawa, seolah tidak mengetahui fakta apapun. Wajah Kai semakin kesini semakin tengil saja, bagi Sehun. Dipelototinya Kai sesengit mungkin.

Pura-pura tidak tahu lagi. Umpat Sehun.

Namun sepertinya teman-teman Sehun yang lain, yakni Chanyeol dan Baekhyun tidak menyadari perubahan yang terjadi pada raut wajahnya.

 “YA! PARK CHAHYO!!” pekik Baekhyun tiba-tiba. Saking menggelegar, lantas membuat seisi kantin memusatkan perhatian pada gerombolan mereka.

Termasuk Park Hani dan teman-temannya.

Memutar bola mata, “Kurasa, mereka memang sengaja mencari perhatian.” Komentar Hani dengan nada malas seraya mengaduk-aduk minuman gelasnya.

“Hmm…” Gumam Jaehee setuju.

“Aku jadi berpikir kalau dulu ibu mereka memang mengidam cacing kepanasan sehingga melahirkan anak yang banyak tingkah.” Yixing ikut menambahi.

Disisi lain, tawa Chanyeol pecah begitu saja. Berdetik-detik yang lalu, ia telah berhasil merebut sebuah makanan ringan dari tangan Baekhyun.

Bagi Chanyeol, ini menyenangkan.

Dan seperti biasa, terjadilan perdebatan kecil diantara keduanya.

“Hush! Apa kalian tidak malu dilihat banyak orang?” kata Sehun sok bijak.

“Memangnya kenapa?” Baekhyun, ia masih sibuk memaki-maki Chanyeol.

Jengah, “Berisik.” Cecar Sehun.

 Baekhyun dan Chanyeol tidak peduli. Mereka justru semakin menggila. Duo tukang rusuh itu malah saling melempar makanan yang ada ditangan masing-masing. Membuat suasana kantin yang ramai menjadi semakin berisik saja.

“Bisakah kalian tenang sebentar saja? seperti Kai,” Sehun melirik Kai. Kai yang tiba-tiba namanya disebu-sebut lantas memandang Sehun penuh tanda tanya. “Lihatlah dia! Kalem, lemah lembut, dan–––

DUGH.

o-ow………… Sadis” sambung Sehun tajam..

Kai melempari Sehun dengan kaleng sodanya. Menatap teman sejak kecil itu geram. “Lemah lembut gigimu. Kau pikir  aku yeoja atau apa?” semprot Kai sengit. Yang benar saja ia dihina seperti itu.

What the hell!

Balas dendam untuk Kim Jongin dari Oh Sehun.

“Sinting”

“Norak!”

“Suck!

.

.

Tepat sepuluh menit sebelum bel istirahat berakhir, seorang gadis yang sontak menjadi pusat perhatian melangkah menuju sebuah meja dimana Hani dan teman-temannya sedang menghabiskan waktu istirahatnya.

Jang Yurim.

Wakil ketua Osis.

Dan juga, rival Park Hani.

Mengerjap pelan, Hani memandang Jaehee yang baru saja menyenggol-senggol lengannya. Namun, Hani lantas menyadari sesuatu yang tidak beres saat melihat air muka Jaehee yang nampak menunjuk-nunjuk sesuatu. Hani mendongak. Didapatinya seorang gadis bertampang menyebalkan menatapnya dengan tatapan jengah.

“Tanda tangan!” ucap Yurim sesinis mungkin. Disodorkannya sebuah makalah tebal bersampul mika transparan kehadapan Hani.

Hani tersenyum miring. Tanpa berkata apa-apa, Ia mengambil makalah serta pena yang diserahkan Yurim padanya. Kalian tahu, Ini adalah makalah pengajuan dilaksanakannya pesta topeng dalam rangka memperingati hari jadi SMA Dongguk.

Jang Yurim begitu membenci Park Hani. Ia selalu kalah dalam hal apapun dari gadis itu. Intensitas kebenciannya semakin tinggi kala idenya mengenai pesta dansa tidak setujui ketua Osis. Dan dengan tololnya Hani lebih memilih ide Yixing akan pesta topeng yang sangat klasik itu.

What the hell!

“Tumben sekali Jang Yurim menghampiri Park Hani sunbae.” Ujar Chanyeol terheran seraya memasukkan makanan kedalam mulutnya.

“Eh Iya benar, Eunji pernah bercerita jika mereka sudah menjadi rival sejak kelas satu.” Tutur Baekhyun.

“Ciyeee, belum bisa move on dari Eunji, hmm?” balas Chanyeol dengan nada menggoda.

Baekhyun hanya mendengus kasar. “Apa, sih?”

Calm down, babe. Masih ada aku yang terus disampingmu,”

Baekhyun menatap Chanyeol dengan jijik. Jijik sekali. “Dasar, homo!”

“Katakan saja hyung, jika kau masih cinta.” Kata-kata yang dilontarkan Kai semakin membuat Baekhyun tersudut. Sialan.

Baekhyun terdiam. Ia kehabisan kata-kata untuk diucapkan.

“Ngomong-ngomong, Yurim sunbae menyatakan cinta padaku dua hari yang lalu.”

“APA?!” pekik Baekhyun dan Chanyeol bebarengan. Menatap Sehun horror.

Terkejut, iyalah!

Kai juga demikian. Hanya saja, ekspresinya tidak seberlebihan duo tukang rusuh.

“Bagaimana bisa?”Baekhyun menunjukkan keheranannya.

“Lalu, apa yang kau katakan padanya?” Chanyeol tampak ingin tahu sekali. Wajah penasarannya benar benar membuat Chanyeol telihat seperti seorang idiot, sungguh.

Dengan santai, “Ya, belum. Belum kujawab. Tapi………………..”Senyum Sehun kali ini sangat sangat aneh dan misterius. Detik berikutnya, matanya melirik Park Hani. Dan entah bagaimana ternyata kebetulan sekali Park Hani juga tengah menatap kearahnya.

Mereka saling beradu pandang.

Park Hani dengan tatapan tajamnya, dan Oh Sehun dengan tatapan super tenang yang khas.

Hingga berikutnya adengan saling tatap itu berakhir manakala Hani membuang muka. Gadis itu bersama dengan Jaehee juga Yixing beranjak meninggalkan kantin. Setelah itu, Sehun kembali pada teman-temannya.

“………………………………………………”

_____

 

“WOOYYY OH SEHUN SIALAN!!” teriak Hani keras. “Apa kau tidak bisa berjalan lebih pelan sedikit?” makian sebal meluncur begitu saja dari bibirnya.

“YA, OH SEHUN!!” panggilan kedua tak dihiraukan. Hal ini kian membuat Hani ingin mengakhiri hidup Sehun saja. Gadis itu  menurunkan gaun pengantin super merepotkan yang sedari tadi ia jinjing. Ia menggelosorkan tubuhnya dilantai. Hani berani bertaruh jika kedua tungkai kakinya terasa seolah tidak kuat lagi menopang berat badannya. Saking pegalnya. Ia ingin pingsan saja kalau begini.

Menyebalkan.

Lain halnya dengan Sehun, ia hanya berpura-pura tuli dan melanjutkan langkah menuju aprtemennya, di lantai 20.

Saat ini keduanya tengah berada di lobi apartemen. Kejadian ini tak luput dari perhatian para pengguna apartemen yang sekedar lewat dan penasaran dengan apa yang baru saja terdari pada pasangan pengantin baru tersebut.

Panggilan ketiga Sehun tidak menoleh, Hani bersumpah akan melempari kepala Sehun dengan sepatu heel-nya. Ia bersungguh-sungguh, percayalah. “HOOBAE KURANG AJAR!!!”

Sehun berhenti.

Berbalik, melayangkan tatapan jengah untuk Hani. “Kau yang jalan terlalu lambat.” Ucap Sehun kelewat datar.

“Terlalu lambat? Hei, manusia albino. Kau memang tak berperasaan, ya.” Ingin rasanya Hani menonjok wajah paling menyebalkan yang pernah ditemuinya hingga babak belur, kalau bisa sih sampai mati, hingga tidak akan ada lagi populasi manusia sepertinya lagi berkeliaran di bumi.

Dasar, lelaki tidak punya otak.

Susah payah, Hani mencoba berdiri. Sehun yang kesabarannya sudah habis, lantas menghampiri Hani dengan langkah lebar.

Hani yang memang tidak sadar jika Sehun melangkah menuju padanya, masih tertunduk, berkutat pada sepatu yang masih terpasang dikaki, mencoba mencopotnya. “Astaga! ini susah sekali melepas––“

GREP

“H––hei, YAK! OH SEHUN!.” Hani menjerit histeris. Apa-apaan ini?

“BOCAH! TURUNKAN AKU SEKARANG JUGA!!” gadis itu menarik-narik jasket yang dikenakan Sehun.

Sehun tidak peduli. Ia menggodang Hani layaknya ala pengantin baru. Membawa gadis itu menuju lift yang akan menghubungkan lantai atas. Sontak saja, perbuatan Sehun membuat penghuni-penghuni apartemen menatap mereka iri.

“Mereka romantis sekali, yaa.”

“Hmm benar. Aku jadi iri.”

Persetan! Terkutuklah kau Oh Sehun.

“Diam sunbae, cerewet. Atau aku akan menciummu sekarang juga.”

Skakmat.

Hani melongo dalam gendongan Sehun. Menelan saliva, ia berhenti memberontak sembari menatap Sehun jengkel sekali.

Oke, aku menyerah kali ini!

Melihat Hani terpojokkan atas ancamannya, Sehun hanya bisa tersenyum geli. Namun dalam hati, dirinya ingin sekali tertawa sekeras mungkin. Lucu juga.

Jadi begitu caranya…… mengendalikan Park Hani?

Sehun tidak tahu apa yang terjadi sesungguhnya, yang jelas ada rasa-rasa aneh yang sulit deskripsikan ketika ia berdekatan dengan Hani. Ketika ia melakukan kontak kulit pada gadis ini, seperti sekarang. Aroma feromon yang menguar dari tubuhnya, begitu kuat, seolah ada suatu daya yang dapat memikatnya. Eh–––?

Sehun menggeleng. Apa yang baru saja dipikirkannya?

Setibanya didepan pintu apartemen, Sehun merenggangkan gendongannya. Hal itu sontak digunakan oleh Hani sebagai kesempatan guna membebaskan diri.

Hani melompat, ia menatap Sehun sengit dilanjutkan dengan mengambil oksigen sebanyak mungkin.

Dadanya sesak disepanjang perjalanan menuju apartemen asal kalian tahun.

Hani tidak mengira mulai hari ini dirinya dan Sehun akan tinggal diatap yang sama.

BERDUA!!

Sekali lagi, HANYA BERDUA.

Tuhan tolong! Kirimkan malaikat pencabut nyawa untukku.

Membayangkan segala konsekuensi-konsekuensi yang bisa saja terjadi, membuat ia bergidik. Apartemen yang awalnya biasa-biasa saja bagi pemiliknya, terasa sangat horror bagi Hani. Bukan karena ada penghuni-penghuni tak kasat mata, melainkan sebab adanya penghuni albino yang luar biasa tengil juga menyebalkan.

“Sampai kapan kau akan berdiri disana?”

PYARR.

Suara Sehun membuyarkan Hani. Ia menarik napas pelan. Ia tidak perlu sungkan-sungkan, karena orang tua Sehun mengatakan bahwa apartemen ini juga miliknya setelah ia menikah dengan Sehun.

Tidak ada yang perlu dikhawatirkan, Park Hani.

Merasa sangat letih, ia masuk kedalam apartemen dengan tak sabar. Tubuhnya sudah meronta untuk minta diistirahatkan. Karena terlalu serampangan, Hani dengan cerobohnya menginjak gaun yang ia kenakan. Lalu detik selanjutnya kakinya yang masih terbalut heels setinggi 10 cm kehilangan keseimbangan.

Dan terjadilah. Bagai slow motion, Hani memekik. Tangannya terkulai bebas. Ia sudah tahu apa yang kan terjadi padanya setelah. Gadis itu memajamkan mata.

Aku sudah siap kok.

Dan……………..

Apa yang terjadi?

,.

.

.TBC or Fin???

 

.

..

NB : Bagaimana dengan chap ini? Absurd ya?

Hope you like it,. Ditunggu kritik dan sarannya, guys.

Entahlah, saya merasa ini agak bad.

Saya menerima segala jenis komentar yang kalian berikan, daripada tidak sama sekali.

Siders, Go away! Seperti kata khasnya Kris ‘you are not my style. Arra?

.

..

Kecup manja,

Doubleel

217 responses to “B U L L [Chap.1] – Annoying Boy

  1. wkwkwkwkwk,,lemah lembut kai,,,
    uwwwwoooo,,apa yg d rencanain sehun??
    mw macarin sainganny hani kh??
    sehun jatuh cinta ama hani,,kkkkkk

  2. mereka lucu yah sehun yang playboy park hani ketua osis yang galak diikat oleh suatu pernikahan
    duh berantem mulu
    maaf telat koment baru tau ffnya mau baca selanjutnya ya

  3. Geezz!! itu duo racun -chanbaek- emang nggak bisa dipisahkan banget yah? heboh banget kalo udah ketemu satu sama lain -__-
    oh, aku kan baru baca nih, ada penjelasan nggak sih kenapa mereka -SehunHani- cepet nikah gitu?

  4. sehun kaga sopan sm kai wahaha:v gaje dah hngg
    aku kira hani nggk akan menikah terjyata di jodohin:v

Leave a Reply to DiamondB Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s