ALARM CLOCK

cover-ff-124

Junsihye present

Main Cast : Bae Irene

Family, AU || PG-13 || Vignette (1.009 words)

Poster by popowiii @ Art Fantasy

“Aku benci ketika jam alarm berbunyi, karena bunyi itu akan membangunkanku.”

Bumi ini berputar bukan? Begitu pula dengan kehidupan. Setidaknya begitulah yang kudengar dari orang-orang. Kalimat itu membuatku yakin bahwa hidupku tidak akan selamanya seperti ini. Menyedihkan dan menderita. Tidak ada kata lain yang menggambarkan kehidupanku saat ini selain dua kata tadi.

Disinilah aku, di dalam kamar, seorang diri dan kesepian. Sejujurnya rumah yang aku tinggali tidak pernah sepi. Setiap hari aku akan mendengar setidaknya sebuah benda terjatuh dengan keras atau bahkan pecah. Ini menunjukkan aku tidak sendiri, dan aku berada di tengah-tengah percekcokan hebat antara kedua orangtuaku. Setiap hari aku mendengar teriakan mereka yang saling menyerang dan tak mau kalah. Ini membuatku depresi dan membuatku tidak ingin membangun sebuah keluarga di masa depan.

Sekarang aku sedang berbaring di kasur, dan memang selalu seperti ini. Kecuali jika eomma menyuruhku keluar kamar untuk mengambil makan. Kudengar seseorang berbicara. Nah, sepertinya mereka akan memulai perangnya. Aku ingin melakukan sesuatu yang bisa membuat mereka berhenti. Sialnya aku tidak bisa melakukan apapun selain mendengarkan ocehan mereka setiap hari.

“Hanya dirimu sendiri yang bisa membuat hidupmu berubah.”

Aku pernah membaca kalimat itu di sebuah blog milik motivator terkenal. Mungkin aku harus keluar dan menghentikan mereka sekarang. Aku yakin mereka lelah hidup dengan pertengkaran. Ya, itu benar! Aku harus keluar dan meredakan pertengkaran mereka. Ketika selimut yang menutupi tubuhku telah menyingkap, terdengar suara seperti ada sesuatu yang jatuh. Itu sangat keras dan menakutkan. Keberanianku menciut seketika.

Hening.

Suara berisik itu telah hilang. Mereka kan baru mulai, biasanya kejadian seperti ini akan berlangsung cukup lama. Eh apa yang aku pikirkan? Seharusnya aku senang karena mereka telah berhenti bertengkar.

“Sayang, bantu aku membereskan meja makan ini.”

Apa itu suara eomma? Suaranya sangat lembut dan indah.

Tok tok tok

“Irene eomma membawakan sup untukmu!”

Setelah itu pintu terbuka, menampilkan wajah eomma yang cantik berseri dengan senyum indahnya diusia yang sudah tidak muda lagi. Aku terbangun dan membuat bantalku berdiri supaya aku dapat bersandar. Eomma menyimpan nampan berisi makanan di atas meja belajarku. Dia membuka gorden yang menghalangi cahaya matahari masuk.

“Sup ini akan membuat keadaanmu membaik.”

“Membaik? Memangnya aku kenapa eomma?” tanyaku bingung. Tidak seperti biasanya sikap eomma seperti ini. Kulihat asap mengepul di atas mangkuk sup yang dibawanya. Cuaca pagi ini memang sangat dingin, mungkin semangkuk sup akan membuat tubuhku lebih hangat.

Eomma mengambil kembali nampan itu lalu memberikannya padaku. “Perlu aku suapi?”

“Tidak perlu, aku sudah besar.” Aku mengambil sendok dan mulai melahap sup buatan eomma dengan perlahan.

Aigoo, kau sangat cantik seperti eomma.” Dia mengelus rambutku.

Aish, dia cantik karena aku sangat tampan.” Appa tiba-tiba muncul memasuki kamarku. Ini yang pertama kalinya sejak beberapa tahun yang lalu.

“Apa? Lihatlah matanya, bibirnya, dia sangat mirip denganku!”

“Bagaimana dengan hidung dan bentuk wajahnya? Sudah jelas aku yang lebih mendominasi!”

Mereka mulai bertengkar lagi, tapi entah mengapa aku merasa senang.

Ya, aku sangat senang.

“Ah, sudahlah! Irene adalah anak kita tentu saja dia mirip dengan kita berdua,” ucap eomma mengakhiri perdebatan mereka.

Aku tidak bisa menahan air mata bahagiaku. Beginikah rasanya bahagia? Sampai-sampai aku ingin menangis karenanya. Aku tersenyum dan mataku mulai menitikan air. Supnya mulai dingin, aku merasa sudah kenyang walaupun baru memakannya beberapa sendok saja.

“Irene, kenapa kau berhenti makan, supnya tidak enak? Kau menangis?” tanya eomma.

“Tidak eomma, sup ini adalah sup terbaik yang pernah aku makan.” Aku menyeka air mata yang telah keluar dan berusaha untuk tidak mengeluarkannya lagi.

“Lalu mengapa kau menangis?”

“Aku sayang kalian berdua, bisakah kalian memelukku?”

Akhirnya aku merasakan kehangatan yang sebenarnya. Tidak ada yang lebih hangat dari pada pelukkan dari kedua orangtua dengan penuh kasih sayang. Bukannya berhenti air mata itu malah lebih deras keluar. Aku menyerah! Aku tidak bisa menahan air mata bahagia itu. Bagaimana tidak? Ini adalah hal yang paling aku inginkan sejak aku kecil dan sekarang telah terwujud.

“Teruslah seperti ini, jangan bertengkar lagi.”

“Kami tidak akan bertengkar.” Suara appa yang berat itu membuatku dapat bernapas lega. Aku menutup mata menikmati setiap detik yang kami lewati bersama sekarang. Tidak ada kata yang dapat melukiskan rasa bahagiaku sekarang. Inilah yang aku inginkan, terhanyut dalam lautan kasih sayang mereka. Hidup dalam suasana sejuk tanpa pertengkaran hebat. Aku rasa ini adalah hal terindah dalam hidupku.

///

Tit tit tit tit

Aku membuka mata dengan senyum bahagia. Semangat hidupku telah kembali. Pernyataan bahwa kehidupan itu berputar membuatku bersabar dan yakin bahwa suatu hari aku akan berada di atas, aku akan hidup bahagia. Dan aku masih belum percaya bahwa sekarang aku bahagia. Pagi ini aku tidak lagi mendengar suara piring pecah atau apapun itu. Aku merangkak dari kasur, membuka gorden lalu tersenyum pada matahari.

Kudengar suara roda bergerak diluar kamar. Penasaran, aku bergegas membuka pintu kamar dan melihat apa yang ada disana. Dengan senyum lebar aku memutar knop pintu.

Plakkk

Senyumku memudar seketika. Aku melihat appa menampar eomma dengan sekuat tenaga, wanita yang lemah itu terjatuh.

“Kau ingin pergi? Pergilah! Aku tidak peduli. Jangan kembali karena aku tidak akan sudi melihat wajahmu lagi!” teriak appa memenuhi seluruh rumah.

“Baguslah! Karena aku tidak mau hidup dengan pria brengsek sepertimu!”

Eomma menarik kopernya, berjalan menuju pintu keluar.

Air mataku terjatuh. Bukan air mata bahagia. Ini terlalu menyakitkan sampai aku tidak bisa melakukan apapun kecuali menangis, menghabiskan air mataku. Aku sadar kebahagiaan yang aku rasakan kemarin hanyalah sebuah mimpi. Kututup kembali pintu kamarku. Beberapa detik kemudian aku sudah terduduk dilantai. Tubuhku sangat lemas mengetahui bahwa aku tidak akan bertemu dengan eomma lagi dan terjebak disini bersama appa.

Pandanganku menyapu seluruh ruangan kamar. Lalu terfokus pada benda bulat yang membuat kebahagiaanku berakhir. Jam alarm. Segera aku berdiri mengambil benda itu dengan kasar lalu berjalan kearah jendela. Aku membuka salah satu sisi jendela kemudian melempar benda bulat menyebalkan itu.

Aku benci ketika jam alarm berbunyi, karena bunyi itu akan membuatku terbangun!

///

Hari ini seperti biasa. Aku hanya terdiam di atas kasur dan meratapi hidupku. Eomma sudah benar-benar pergi. Tidak ada pertengkaran lagi di rumah ini. Ini salah satu keinginanku, tapi aku masih belum bahagia. Aku masih percaya bahwa kehidupan ini berputar. Aku sudah berada dibagia bawah kehidupan selama beberapa tahun. Dan aku hanya perlu bersabar lagi untuk menunggu saat hidupku berada dibagian atas kehidupan, dimana aku hidup dengan bahagia.

fin

3 responses to “ALARM CLOCK

  1. Aduhh thorr .. entah kenapa aku jadi inget keadaan dirumah sendiri wkwk :”D ..
    Duhh ff-nya bikin deg-degan + sedih juga .. karena itu cuman fantasinya irene aja :3 ..
    okey.. keep writing ya thor ^^

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s