#10 HAMARTIA (AMOUR)

img_4433

Tittle : Hamartia (Fatal Flaw)

Main Cast : Kim Jongin (EXO’s Kai), Song Jiyoon (Original Character)

Minor Cast : Oh Sehun (EXO’s Sehun), etc

Rating : PG16for this part

Genre : Psychology, Romance, Angst

Author : Jongchansshi (http://thejongchansshi.wordpress.com)

Prev Part : [#Teaser] [#1] [#2] [#3] [#3,5] [#4] [#5]  [#6] [#7] [#8] [#9a] [9b]

backsound : it has to be you-yesung.

afraid of love- f.i.x (dengerin sambil bca translatenya)

****

Tidak seorangpun memilih berbuat jahat karena itu perbuatan jahat, ia hanya salah mengartikan itu sebagai kebahagiaan, sesuatu yang ia dambahkan.

Jongin tahu betul kalau balas dendam adalah hal yang salah. Menyakiti Song Jiyoon sampai gadis itu menjadi serusak dirinya juga hal yang salah. Atau membuat gadis itu terkurung dalam pikiran menyedihkan tidak bisa pergi darinya ataupun memperlakukan gadis itu bak tidak seorangpun mencintainya juga hal yang salah. Tanpa diberitahu oleh siapapun, Jongin sudah tahu kalau apapun yang ia perbuat kepada Jiyoon adalah perbuatan yang salah, itu bahkan tidak termaafkan.

Tapi, bukankah salah ataupun benar itu hanya setitik bayangan yang disebut delusi? Jongin hanya ingin mendengar sekali saja setidaknya, dari bibir gadis itu bahwa ketika kau mencintai seseorang terlalu dalam dan terlalu jatuh, itu menjadi dapat dibenarkan apabila kau melakukan perbuatan yang bahkan kau sendiri tahu salah sekalipun.

Well, Kim Jongin melakukan segala cara untuk memiliki sesuatu yang sangat ia inginkan. Bahkan jika ia harus menculik, memukul, menyakiti atau membunuh orang yang mencoba menghalanginya, ia tidak peduli lagi dengan moralitas dan seskan lupa bagaimana cara menggunakan hati nurani.Sudah berapa banyak darah yang tumpah untuk membuat Jiyoon tetap disisinya? Dari awal sekali, tujuan Jongin hanya satu, terlepas benci atau cinta dibalik itu, dia hanya ingin Jiyoon menjadi miliknya. Dia ingin Jiyoon tetap tinggal disisinya. Gadis itu telah menjadi satu satunya obsesi paling parah Kim Jongin selama 10 tahun terakhir. Tidak pernah sekalipun dia menginginkan sesuatu sebanyak ia menginginkan Jiyoon. Bagi Jongin, tidak ada yang salah tentang itu. Jongin hanya jatuh cinta dan ingin memiliki orang yang ia cintai. Itu sama sekali tidak salah, kan? Tapi kenapa Jiyoon, kenapa Sehun, atau siapapun berkelakuan seolah olah apa yang ia lakukan benar-benar salah?

Selama delapan tahun lebih Jongin tersiksa dengan pikiran jika dia tidak bisa memiliki Jiyoon secara baik-baik. Dia dihantui dengan pikiran kalau dia harus bekerja keras dan menjadi kaya raya. Ini semua salah Jiyoon, gadis itu yang membuat Jongin sadar kalau uang adalah segalanya. Dan Jongin pun tahu apabila dia menginginkan Jiyoon, dia harus memiliki uang yang banyak, maka dari itu ia bekerja keras untuk menjadi kaya raya

Seperti teori yang sudah melekat dalam mindsetnya, Jongin betulan mendapatkan Jiyoon karena uang. Dia hanya perlu mengeluarkan sedikit dari uangnya kemudian Song Jiyoon menjadi miliknya. Ayah gadis itu sendiri yang membuang gadis itu untuknya, karena uang. Kecintaannya terhadap uang membuat Song Joohyung tidak peduli apakah anaknya baik baik saja atau sudah mati. Pria tua itu bahkan tidak peduli apabila Jongin memperlakukan anaknya bak binatang dan menyiksanya sampai sekarat. Yeah, mungkin itu benar. Jatuh cinta membuat orang menjadi buta. Jatuh cinta terhadap apapun itu. Dan ketika Jongin jatuh cinta terhadap Song Jiyoon, bukankah itu hukum alam apabila dia menjadi buta juga?

Masalahnya, apakah Jongin pernah memikirkan perasaan Song Jiyoon walau sebentar saja? Mungkin, tidak. Sama sekali tidak waktu itu. Jongin hanya fokus terhadap perasaannya yang sudah dihancurkan oleh gadis itu. Dia hanya memikirkan cara cara merusak gadis itu hingga tidak ada orang lain yang menginginkannya. Dia hanya peduli dengan pikiran yang apabila ia lengah sedikit saja, maka Jiyoon akan meninggalkannya.

Kemudian, segala peristiwa yang menggambarkan perbuatannya terhadap Song Jiyoon terlintas begitu cepat, bak kaset rusak yang berjalan mundur. Teriakan, tangis, permohonan maaf dan segala bentuk keputusasaan dan rasa sakit gadis itu yang selama ini Jongin abaikan. Ingatannya memutar ulang semua itu, membuat kepalanya pening bukan main, dadanya sesak dan perutnya mual.Jongin ingin muntah, mungkin terlalu muak melihat dirinya adalah penyebab utama suasana menjijikan itu. Bagaimana dia melenyapkan sisi kemanusiaannya dan bagaimana ia menjadi si tolol yang begitu pasrah terhadap sisi gelapnya.

Apabila sekali lagi dia dilontarkan oleh pertanyaan yang sama, apakah Jongin pernah memikirkan perasaan gadis itu? Sekarang dia memikirkannya, dia bahkan merasakannya. Dan itu membuatnya ingin mati.

But it seems like even if he dies, he can not even quit.

***

Jiyoon masih berdiri di spot yang sama sejak dua jam yang lalu, tangannya tenggenggam kuat sekali. Gadis itu tidak menangis, tidak menunjukkan raut khawatir juga, ia hanya melamun dan menatap kosong kearah bawah, tidak mengucapkan satu kata apapun yang menjelaskan kalau dia menyesal telah melakukan suatu perbuatan yang salah. Ayolah, dia baru saja melakukan percobaan pembunuhan terhadap Kim Jongin dan dia terlihat setidak peduli ini?

“Apakah kau sebenci itu kepada Jongin hingga terus-menerus mencoba membunuhnya?” Sehun akhirnya bersuara, mungkin kelewat kesal dengan kelakukan Jiyoon yang bagaikan tidak peduli atas perbuatan bodohnya. Well, kurang baik apalagi Kim Jongin selama ini kepadanya? Apakah Jiyoon benar benar tidak tahu cara berterimakasih.

“Ya.” Gadis itu menjawab lirih, tanpa memandang kearah siapapun. Ya, dia sebenci itu pada Jongin, bahkan lebih parah dari yang bisa dibayangkan oleh siapapun. Dia baru saja memberikan jawaban paling jujur. Setelah apapun yang dilakukan jongin padanya, tidak mungkin dia tidak membenci pria itu, kan?

Jiyoon dapat mendengar helaan napas berat Sehun yang duduk di kursi tunggu depan ruang operasi, atau bahkan Yura yang nyaris berdiri, mungkin ingin menampar mulutnya yang kurang ajar.

Mungkin hatinya sudah terlalu rusak sampai sampai dia terlihat kehilangan hati nuraninya seperti sekarang.

“Aku tidak akan memaafkanmu kalau terjadi apa apa pada Jongin.” Sehun melanjutkan dengan suaranya yang masih datar. Untuk detik ini, dia sama sekali tidak memiliki rasa kasihan lagi kepada Song Jiyoon, yang tersisa adalah rasa marah dan kecewanya. Beruntung pria itu masih mampu berusaha sabar meskipun ia benar benar ingin memberikan pelajaran terhadap Song Jiyoon yang telah melukai sahabatnya.

Belum genap semenit setelah kata kata Sehun itu terlontar, seseorang tiba tiba mencengkram kera bajunya, membuat Jiyoon mau tidak mau mendongak dan mendapati Kim Youngwoon tengah menatapnya bengis dan penuh kebencian. Matanya yang memerah seperti memperlihatkan kalau dia tidak takut untuk membunuh Jiyoon pada detik itu juga.

“Apa yang kau lakukan pada Jongin,huh?” dia bertanya kasar, tidak peduli kalau cengramannya itu bisa membuat napas gadis yang sama sekali bukan tandingannya itu tercekat. Sekuat apapun Jiyoon ingin melepaskan tangan Youngwoon darinya, dia tetap tidak memiliki tenaga yang cukup kuat untuk menandinginya.

“Aku tidak sengaja…uhuk..” akhirnya Song Jiyoon mengungkapkan perkataan pembelaan diri untuknya yang sudah sangat tersudut, berharap setelah mengatakan itu, Youngwoon akan mengerti dan membiarkannya tenang sebentar. Sayangnya, itu terdengar seperti alibi memuakkan yang malah memperkuat cengkraman Youngwoon yang mulai berpindah pada lehernya, semakin membakar emosi laki laki itu yang sudah memanas sejak tadi, “Kau bajingan sialan! AKu benar benar tidak akan melepaskanmu kali ini!” Youngwoon memperkuat cekikannya pada leher Jiyoon di setiap kata kata penuh kebencian keluar dari bibirnya. Gadis itu berusaha semampunya untuk membuat matanya tetap terbuka, karena ketika tertutup, dia melayang pada ingatan yang sangat ia benci. Dan itu menyakitinya lebih dari pesakitan fisik yang ia radakan sekarang “Kau seharusnya mati dari dulu, brengsek!” Youngwoon melanjutkan, masih belum sudi untuk melihat Song Jiyoon bernapas dengan baik. Dia mana mungkin rela membiarkan Song Jiyoon baik baik saja sedangkan Jongin sekarat dan belum tentu bisa diselematkan di dalam sana.

Ya, Youngwoon benar. Seharusnya dia mati dari dulu. Jiyoon setuju. toh dia juga tidak berharap masih hidup pada detik ini. Sehingga ia melepaskan tangannya yang sejak tadi berusaha melepaskan tangan Youngwoon, seperti menerima kalau pada akhirnya dia harus mati dengan cara sebodoh ini. Lagipula, beberapa orang yang melihat kondisi menyedihkannya hanya diam saja dan pura-pura tidak menyaksikan apapun. Antara takut terhadap Youngwoon ataupun diam-diam mendukung aksi gila Youngwoon yang tentu berniat membunuhnya secara terang-terangan.

Jiyoon tidak mampu lagi menahan matanya agar tetap terbuka. Bahkan ia sudah tidak berusaha untuk mencari udara lagi. Matanya mulai terpejam lelah dan pikirannya sudah berada jauh entah dimana. Jongin juga pernah mencekiknya sampai sesesak ini. Jiyoon bahkan masih teringat tatapan mata Jongin yang memandangnya penuh kebencian, persisi apa yang diperbuat Youngwoon sekarang, seperti nyawanya adalah mainan murahan yang tidak ada harganya.

Uh, benar. Hidupnya memang tidak berharga sama sekali. Maka dari itu semua orang tidak takut bermain main dengan nyawanya. Bagaikan itu merupakan hal paling menyenangkan untuk melihatnya sekarat dan hampir mati.

Jiyoon tahu kalau Kim Youngwoon mencekiknya tanpa ampun seperti sekarang karena dia menyayangi Jongin. Sehun, Yura ataupun yang lain menghakiminya dan mencaci makinya juga karena alasan mereka menyayangi Jongin. itu hal yang masuk akal, bahkan sangat masuk akal menurut gadis itu.

Tapi, salahkah apabila pada detik ini dia merasa begitu iri pada Jongin?

Ketika Jiyoon berpikir bahwa ia berhasil dari kabur dari Jongin dan dapat pulang kerumah, dia tengah berada ditempat paling aman. Dia yakin kalau ayahnya akan menghajar pria itu habis habisan apabila Jiyoon menceritakan apa yang diperbuat Jongin kepadanya.  Itu adalah salah satu hal paling masuk akal yang dilakukan oleh orang tua ketika anaknya berada dalam posisi Jiyoon.  Tapi, yang ayahnya lakukan malah jauh dari ekspektasinya, berkebalikan bahkan. Pria tua itu malah memukul dan menendangnya tanpa ampun, mengatakan kalau dia tidak tahu diri telah berani kabur dari Jongin. Ayahnya dengan terang terangan menyatakan kalau dia pantas mendapatkan apapun yang Jongin lakukan padanya, bahkan dia pantas mendapatkan apapun yang lebih buruk dari itu. Jiyoon tidak berani menatap kearah mata gelap ayahnya waktu itu, yang dia tahu, dia sama sekali tidak memiliki tempat aman lagi untuk berlindung.

Well, tidak seorangpun mengerti betapa kesepiannya yang ia rasakan saat itu, lagipula, tidak ada yang repot repot peduli. Dan pada detik ini, dia harus merasakan hal itu sekali lagi, hal yang sangat menyiksanya. 

“Hentikan, Kim Youngwoon. Kau bisa membunuhnya.” Jiyoon dapat mendengar suara berat Sehun yang samar samar. Setelah itu, dia dapat merasakan kalau tubuhnya sudah terduduk dan terjatuh kelantai, tanpa sadar tangan gadis itu berpindah mencengkram kuat bagian dadanya, menahan rasa sakit yang membuat dia kesulitan bernapas, matanya bahkan masih terpejam sempurna untuk beberapa saat, satu satunya yang memperlihatkan kalau dia masih sadarkan diri hanyalah napas napas pendek yang seperti mau berhenti.  Dia sudah berkali kali merasakan hal ini. So, it wont be hurt anymore, at least.

“Ini belum selesai, brengsek! Kau pantas mendapatkan yang lebih menjijikan dari ini.” itu adalah ancaman dari Youngwoon, pria itu tidak peduli dengan Jiyoon yang sudah selemas ataupun hampir mati begitu, sedangkan Sehun membantunya berdiri dan duduk disalah satu kursi ruang tunggu, pria itu bahkan memberikannya minum agar Jiyoon merasa lebih baik. Setidaknya, masih ada Sehun disana yang memberikan sedikit kepedulian untuknya.

Jiyoon tidak ingat berapa lama matanya terpejam. Ketika dia membuka matanya, dia mendapati keadaan yang sama seperti sebelum ia tertidur sebentar.

“Apa yang kau lakukan disini? Seharusnya kau segera pergi dari sini.” Yura yang duduk diseberangnya langsung berbicara lirih ketika menyadari Jiyoon sudah terbangun.

Ya, dia akan pergi. Dia juga tidak ingin berada disini, dia lebih baik bersembunyi dan melarikan diri. Tapi, bisakah dia menunggu sedikit lebih lama lagi?

Tidak lama setelah itu, dua dokter dan enam perawat keluar dari ruang operasi, sontak beberapa orang yang menunggu didepan pintu langsung menghampiri mereka dan menanyakan pertanyaan yang sama, “bagaimana keadaan Jongin?”

Dokter yang berlesung pipi itu tersenyum manis, “Operasinya berjalan lancar. Tuan Kim baik baik saja dan tidak memerlukan perawatan intensif apapun.”

Pada akhirnya, Jiyoon dapat melihat kelegaan di mata orang orang itu, termasuk Youngwoon, dia tidak sebengis tadi, pria berumur 40 tahunan itu terlihat jauh lebih baik dan lebih manusiawi.

“You better leave before someone is trying to kill you again.” Sehun berbisik pelan pada Jiyoon. Gadis itu tidak memberikan respon apapun, tapi dari matanya seperti memberitahu Sehun kalau dia akan menurut. Setelahnya, Sehun berbalik dan menghampiri Yura, ingin menenangkan gadis itu, sepertinya.

“Sehun…” Jiyoon memanggilnya lirih, suaranya parau seperti orang yang sedang sakit. Tanpa berbalik, Sehun menghentikan langkahnya yang berada tidak terlalu jauh dari Jiyoon. “Terimakasih.” Ucapnya pelan, setidaknya sekesal apapun Sehun padanya, dia masih memperlihatkan sedikit kepedulian, sesuatu yang mati matian gadis itu butuhkan sekarang.

***

Fear.

itu satu satunya yang Jongin rasakan ketika ia tertidur, bahkan ketika matanya mulai menemukan cahaya pelan pelan, ketakutan itu tetap berada disana, terasa semakin nyata meskipun kerap kali ia coba buang jauh jauh.

Matanya sudah terbuka dan dia dapat memandang dengan jelas saat itu, dokter baru saja memeriksa denyut jantung ataupun aliran pada darahnya, memastikan kalau itu semua normal. “kau harus melanjutkan istirahatmu, Tuan Kim Jongin. detak jantungmu tidak stabil.”

Ya, tentu saja. Dia dalam keadaan ketakutan. Detak jantung manusia mana yang bisa stabil?

Jongin menemukan Sehun berada didekat tempat tidurnya, disebelahnya berdiri Laura yang mengenakan jas dokter, dia juga menemukan Yura, Yeri ataupun pelayannya yang semua memandangnya antara senang dan khawatir. Ruangan itu cukup dipenuhi oleh orang orang yang tengah menjenguknya.

“Dimana Jiyoon?” tembaknya langsung dengan suaranya yang parau. Sehun yang berada paling dekat dengan Jongin memutar bola matanya malas mendengar pertanyaan itu. Ayolah, Sehun benar benar berpikir kalau Jongin tidak akan lagi mau berurusan dengan Jiyoon setelah apa yang diperbuat oleh gadis itu padanya.

“Aku tidak melihatnya semenjak kau keluar dari ruang operasi.” Ucap Sehun datar dan seadanya, berharap banyak kalau pertanyaan Jongin perihal gadis itu akan berhenti disini.

Pria itu terlihat berpikir untuk beberapa saat. Sampai akhirnya dia mencoba mendudukan badannya yang masih lemas, tapi Sehun lebih dulu menahannya agar tetap berbaring. “Kau harus istirahat, bodoh.” Tegas pria itu kesal.

“AKu harus mencari Jiyoon.” Jongin membalas singkat, tidak peduli dengan kata kata Sehun yang memintanya untuk beristirahat, dia kembali untuk memaksakan dirinya untuk duduk. “Dia bisa saja menyakiti dirinya lagi.”

Sehun menghela napas berat, “Berhenti mempedulikannya. Dia hampir membunuhmu.” Ingat Sehun. Barangkali Jongin lupa akibat benturan keras dikepalanya.

Jongin menyerngit curiga, “Kau…tidak menyudutkannya, kan?”

Oh, aku bahkan hampir menghabisinya tadi. Sehun menjawab itu dalam hati. Jongin sudah tahu jawaban dari pertanyaannya hanya dengan menatap mata Sehun yang bagaikan masa bodoh itu.

“Kau tidak tahu apa yang terjadi sebenarnya…” Jongin membuka mulut. Sekali lagi pria berkulit tan itu memaksakan tubuhnya agar terduduk diranjang, tidak memberikan Sehun kesempatan untuk menahannya lagi. Dia meraba jarum impus pada tangannya kemudian melepaskan itu seperti tidak bersalah, Yura bahkan berteriak menyalsikan perbuatan gila Jongin barusan.

“Dia tidak mencoba membunuhku. AKu yang mencoba menghentikannya untuk tidak bunuh diri.” Jongin berkata dingin, ucapannya penuh dengan penekanan dan keputusasaan. 

*

Jongin masih ingat secara jelas apa yang terjadi tadi malam. Yeah, dia yang bertengkar hebat dengan Jiyoon. Gadis itu yang keras kepala dan dia yang tidak mau mengalah. Hingga akhirnya Song Jiyoon menemukan pisau diruangan itu, mengacungkannya kearah Jongin agar pria itu tidak mendekat.

“AKu akan membunuhmu apabila kau mendekat!” Ancam gadis itu frustasi.

Tapi Jongin sama sekali tidak takut dengan ancaman itu. “Kill me, then.” Balasnya dingin, yang membuat ketakutan pada gadis itu semakin bertambah. Jongin sudah berdiri tepat dua langkah dihadapan Jiyoon, “bukankah itu yang ingin kau lakukan dari dulu?” dia berbisik lirih, tapi masih mampu didengar jelas oleh telinga Jiyoon.

Yeah, mungkin Jongin benar. Membunuh orang yang telah menghancurkan hidupnya  adalah hal yang ingin Jiyoon perbuat satu tahun terakhir. Dia hanya perlu maju sedikit kemudian mengayunkan pisaunya kearah jantung Jongin, pria itu akan mati dalam sekejab.

“Aku sudah menyerahkan diri, apalagi yang kau tunggu?” tanyanya memanas manasi. Jiyoon menggigit bibirnya kuat kuat. Ia memandang sekilas Jongin yang balik menatapnya juga. Gadis itu kemudian malah menarik pisaunya. Dalam sepersekian detik, pisau itu tidak lagi teracung kedepan, bukan lagi kearah Jongin melainkan kearah dadanya.

“Aku tidak mau menjadi seperti ayahku. Aku bukan pembunuh. Isn’t it better this way?”  tanyanya pelan. Pisau tajam itu mulai ia ayunkan agar menancap tepat dijantungnya. Tapi, Jongin tentu tidak diam saja. Dia menahan tangan Jiyoon, sekuat mungkin mencoba untuk merebut pisau itu dari tangan Song Jiyoon

“Biarkan aku mati…” gadis itu memohon frustasi kepada Jongin. “Apa salahku hingga kau tidak membiarkanku mati?” tanya gadis itu lagi, disatu sisi, ia ingin menyerah melihat telapak tangan Jongin yang berdarah akibat pisau yang tengah ia rebut. Tapi disisi lain, dia masih tidak mau menyerah.

 “You foolish girl.  Apakah kau berpikir aku akan membiarkanmu terluka sendirian?” pria itu bertanya kesal, dia hampir berhasil merebut pisau itu dari tangan kanan Jiyoon. Jongin sama sekali tidak sadar kalau Jiyoon baru saja mengambil vas besar yang berada di meja tepat sebelahnya, tanpa berpikir panjang, ia langsung menghantamkan benda keras itu ke kepala Jongin.

Butuh berdetik detik untuk membuat Jiyoon sadar atas apa yang ia baru saja ia lakukan. Gadis itu kemudian berteriak. Diikuti oleh Jongin yang terjatuh dibahunya. Tangannya bahkan masih memegang mata pisau yang sudah Jiyoon lepaskan beberapa saat yang lalu.

*

Sehun benar-benar diam seribu bahasa setelah mendengar seluruh penjelasan lengkap Jongin tentang apa yang tejadi sebenarnya antara dia dan Song Jiyoon.

Gadis itu sudah mengingat semuanya, segala hal yang seharusnya jauh lebih baik ia lupakan selamanya, jadi, sekarang yang ia lakukan adalah mencari keberadaan Jiyoon di seluruh area rumah sakit yang memungkinkan, dia bahkan menyesali perkataannya sendiri yang meminta gadis itu pergi. Ayolah, tadi itu Sehun mengatakannya untuk keselamatan Jiyoon, bukan maksud untuk mengusirnya atau apapun.

Dan yang terpikirkan oleh otaknya sekarang hanya dua hal. Dan tidak ada yang lebih mending dari keduanya. Kalau tidak dihabisi oleh Kim Youngwoon, mungkin Jiyoon sudah menghabisi dirinya sendiri. Jongin benar, yang dipikirkan oleh gadis itu adalah mati.

Sementara Jongin mencari Jiyoon disudut yang berbeda dengan Sehun. Ia berhasil membujuk, lebih tepatnya memaksa Sehun ataupun Laura agar membiarkannya mencari Jiyoon. Dia harus menemukan gadis itu baik-baik saja atau jika tidak, dia akan hidup dengan tidak akan memaafkan dirinya sendiri sampai mati.

Jongin tidak habis pikir dengan siapapun, dia merelakan nyawanya sendiri dalam bahaya agar Song Jiyoon baik-baik saja. Sementara orang-orang yang seharusnya berada dipihaknya malah mencoba membunuh gadis itu. Ia harus menemukan Youngwoon sebelum pria itu menyentuh Jiyoon lagi, dia sudah mendengar apa yang dilakukannya kepada Jiyoon dari Sehun. Dan dia tidak tahu lagi harus menyalahkan siapa selain dirinya sendiri.

Bukankah ia sudah berjanji pada Jiyoon jika Jongin tidak akan membiarkan seorangpun menyakitinya?

Well, dia sudah mengingkari janjinya sendiri.

***

Permulaan dari cinta itu seperti bayi, selalu sederhana dan indah. Meskipun terkadang ia tumbuh menjadi berbahaya dan menyeramkan, tidak seorangpun bisa menghindari takdir itu.

Jongin tidak ingat sejak kapan cintanya berubah menjadi obsesi. Yang ia tahu, Jiyoon adalah seorang gadis yang selalu ia kagumi dari jauh, gadis yang seharusnya ia cintai dalam kesunyiannya. Tidak ada yang perlu tahu perihal perasaannya itu. Tapi kemudian, setelah gadis itu mengajaknya berbicara, setelah gadis itu tersenyum untuknya, setelah gadis itu tertawa dalam pandangannya, Jongin merasakan suatu kenyamanan dan ketenangan yang selama ini hanya menjadi angan angannya. Maka dari itu Jongin mulai berpikir, apabila Jiyoon berada disisinya tidak hari, tiap saat, dia akan merasakan kenyamanan dan ketenangan itu lagi, suatu yang dari dulu ia idam idamkan.

Pria itu hampir berbalik kalau saja pandangannya tidak melihat kearah barat atap gedung rumah sakit yang luas sekaligus sepi itu, dibalik semen yang menghalangi pandangannya. Tanpa pikir panjang, Jongin langsung berjalan kearah sana. Dia tidak tahu harus merasa lega atau semakin frustasi ketika mendapati gadis yang ia cari sejak tadi berada disana dengan tubuh meringkuk memelut lulut. Tidak membiarkan siapapun melihat kondisi kacaunya sekarang. but at least, she is still alive. and it is more than enough for Jongin.

“Jiyoon…” Jongin memanggilnya pelan. Dia bahkan tidak memiliki keberanian untuk menyentuhnya. Pria itu hanya tidak mau mengambil risiko apabila ia menyentuhnya, bagaimana kalau Jiyoon langsung berlari dan terjun kebawah? Dia tidak yakin memiliki cukup tenaga untuk menahannya apabila dia mencoba untuk memberontak.  Jongin yakin betul kalau diantara semua orang, Jongin adalah orang yang paling tidak mau ia temui sekarang. “Kau harus masuk, disini dingin.” Bujuknya pelan. Jiyoon masih tidak bergeming, dia tetap berada pada posisinya seperti semula. Pada akhirnya Jongin mengalah, dia yang tadinya hanya berjongkok sekarang mendudukan tubuhnya, menyender dibalik semen itu, disebelah Jiyoon, menemaninya. 

Pandangan mata Jongin tidak lepas dari gadis yang meringkuk disebelahnya. Dia begitu rapuh, begitu rusak, begitu hancur, itu semua disebebkan olehnya. Bukankah ini yang Jongin inginkan? Pria itu menatap kearah langit yang luas dipagi musim dingin itu. Terlalu banyak yang ingin ia ungkapkan pada Song Jiyoon, tapi itu semua terlalu menyakitkan baginya untuk dikatakan.

“Ya, kau benar, Jiyoon. Aku terlalu dibutakan oleh obsesi hingga tidak lagi mampu membedakan yang benar dan yang salah.” Jongin berkata pelan, masih melihat kearah langit yang tidak cerah. Ia sempat melupakan betapa udara dingin menusuk nusuk kulitnya tanpa ampun pada detik itu, ia nyaris menggigil. Dia masih teringat apa saja yang ia perbuat kepada Jiyoon. Ia telah mempora-porandakan hidup gadis itu yang seharusnya baik baik saja, hanya demi kebahagiaan semunya sendiri. Bukankah dia sudah kelewat egois selama ini? “AKu menyakitimu begitu parah, bahkan aku membuat orang orang disekitarku menyakitimu juga. And there were times when I knew how you felt and it was hell to know it.” Jongin berkata sembari tersenyum miris ketika mengungkapkan kalimat terakhir. Mungkin dia tengah mati matian agar tidak menjadi cengeng di kondisi begini. Ayolah, sejak kapan seorang Kim Jongin menjadi selemah ini?

Jongin sontak melihat kearah Song Jiyoon ketika dia menyadari badan gadis itu bergetar hebat. Jongin hanya memperhatikannya dengan kikuk untuk beberapa saat, masih tidak tahu harus berbuat apa. Tapi pada akhirnya, dia langsung membawa gadis itu kedalam pelukannya, memeluknya erat sekali. Pada saat itu pula dia dapat mendengar suara tangis keras Song Jiyoon yang tidak dapat lagi ia bendung, seperti melampiaskan seluruh rasa sakit yang selama ini ia sembunyikan.

Ajaibnya, gadis itu tidak mencoba untuk memberontak atau meminta Jongin untuk melepaskannya.  Is it hurt that bad, Jiyoon?

Pria itu sekali lagi mengeluarkan senyum mirisnya, tangannya masih memeluk erat tubuh rapuh Song Jiyoon yang terasa dingin di kulitnya, ayolah dia harus mencari cara untuk membawa gadis ini masuk. “I am so sorry. AKu tahu apa yang kulakukan padamu sama sekali tidak termaafkan. Tapi, bisakah kau mengizinkanku menebus dosa dosaku?” dia berbisik pelan ke telinga gadis yang masih diam dipelukannya. Siapapun yang mendengar suara rapuh Jongin barusan mungkin dapat menilai kalau yang ia katakan barusan merupakan ketulusan. After all this time, Jongin just wants to make her happy. But what if, what if she is not happy?

Jiyoon menjauhkan dirinya dari pelukan Jongin pada akhirnya. Gadis itu hanya menatap kearah bawah, sesunggukannya masih ada, sementara tangan Jongin sudah terulur untuk membersihkan airmatanya yang berantahkan di sekitar mata gadis ituy. Bahkan dikeadaan seberantahkan ini, Song Jiyoon tetaplah gadis paling indah dimata Jongin.

“Aku ingin tinggal bersama Luhan.”

Jongin diam untuk sesaat, tangannya masih berbaik hati menghapus airmata Jiyoon yang masih keluar sedikit. “Aku akan mengantarmu kesana kalau begitu.” Balas Jongin pelan.

it actually hurts too much to let go, but it hurts even more to hold in. Maybe if he lets her go, she can live happily.  

Jongin tahu bahwa dia tidak lagi meman kali ini. Tapi disaat yang sama dia tidak merasa sedang menjadi pecundang, malah pemenang yang sebenarnya. Dia baru saja berhenti mempercayai pemahaman cintanya yang keliru. Karena sejak saat itu dia berlajar, cinta tidak pernah memaksakan kehendak, it sets you free, anyway.

***

Happy new year gaes. Mau banyak bacot tapi malas. this story haunts me so thats why is till melanjutkan meskipun ceritanya makan sampah. yes, next part is last chapter tapi mau kasih satu chapter lagi yang gapanjang. keak chapter segengah gitu (?)

see you, then.

531 responses to “#10 HAMARTIA (AMOUR)

  1. Jiyoon strong. Jongin tau itu
    Kapan lagi liat jiyoon bahagia jong.
    Arghh baper gua .
    Mau Final kok nyesek ya .
    Entah kenapa jiyoon harus ingat . elah gak elit . padahal lagi ada mesra mesranya
    Semangat thor.
    Salam kenal

  2. Yaampun kok sedih banget sih part ini😢😢 kasian banget jiyoon, gaada yang belain dia selain jongin. Dan jiyoon malah mau tinggal sama luhan :” gimana nanti jonginnya astaga😭

  3. Ya ampunn..makin kesini, makinn sedihh…
    Suka banget karakter cowo kayak kim jongin, ada ngga yah kayak dia dunia ini tp, minus physiconya
    Next chapter, penasaran sm end, semoga mereka bersama

  4. Jongin sweet banget, udah nyariin jiyoon segitunya padahal dia habis operasi.
    Kok jiyoon. Mau ninggalin jongin sih,entar jongin jadi kesepian dong….
    Jongin sama aku aja ya,haha…

  5. Hal tersulit dalam cinta adalah saat kau harus melepaskan dan meninggalkan cintamu agar dia bisa bahagia tanpa kamu.
    Hal tragis dalam cinta saat kedua belah pihak saling mencintai tapi malah saling terluka,

    Baper…

    Jongin, i know what you feel

  6. Jongin ngelepas Jiyoon? Dia ngebiarin Jiyoon tinggal brg Luhan? Mereka nggk pisah kan?? Takut kecewa ngeliat ending ceritanya ntr:'((

  7. Demi apapun aku beneran nangis, ke bawa perasaan.. Jiyoon aku tau kamu kuat ya, jongin bersabarlah ini memang harga yg harus kamu bayar

  8. Apa yg baik” saja pada diri jiyoon..
    Otak fisik dan hati semua tdk baik” saja..
    Dtambah sehun ikut memojokkan nya..kalau jiyoon mati dtangan youngwoon saat itu.sebelum mndengarkan yg sbnar nya dri jongin.aq sangat yakin hidup sehun juga gak bakal tenang..

    Ya..cinta bisa merubah segala nya bahkan yg diluar otak kita.

  9. Jiyoon ingin tinggal dgn Luhan? Tak apa sesuatu yg sdh rusak ada baiknya ditinggal pergi jika kau tdk bisa memperbaikinya maka bangun dari awal lagi, berharap bgt jongin & jiyoon memulai kisah cintanya dari awal lgi dari titik jiyoon hidup baik bersama Luhan

  10. tambah cinta sama jongin jiyoon couple
    jiyoon sabar banget hadapi masalah
    jongin juga tanggung jawab sama masalah yang dibuat
    tapi berharap jongin jiyoon bersatu

  11. bener bener gk bisa ditebak..ternyata dari jiyoo sendiri
    dan ternyata hampir final

    berharap ending yang something

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s