DISTURBANCE [Chap. 1] — by BARLEEY

1451197278943 (1)

Title: DISTURBANCE [Chapter 1] | Author: BARLEEY (@DhedeyAldaney) | Cast: Chanyeol, Hani (OC), Kris, Byul (OC), Sehun, etc.

 

Poster By Asih_TA @ saykoreanfanfiction.wordpress.com

 

WARNING!! MATURE CONTENT! IF YOUR AGE UNDER 17TH DON’T YOU DARE TO READ THIS FANFICTION.

 

______________

 

All Chanyeol POV:

Hidup itu kejam. Terlebih padaku. Aku bukan orang yang terpilih, juga bukan orang yang terabaikan. Hidupku dulu sangatlah datar. Aku bukanlah orang yang jahat, bukan pula orang baik. Aku berdosa tetapi aku juga mempunyai pahala. Tetapi kenapa takdir menghujamku? Ayahku dibunuh saat aku berusia 7 tahun. Ibuku membuatku menjadi perampok dan pencuri. Adikku dijual dan kakak laki-lakiku seorang pembunuh bayaran. Apa yang kurang?

Terkadang aku berfikir untuk mengakhiri hidupku. Tetapi aku masih mempunyai keinginan untuk menyelamatkan Byul—adikku. Ya, aku masih bisa bertemu dengannya. Ia sekarang menjadi pelacur disebuah bar. Saat ini aku sedang mengumpulkan uang untuk menebus Byul karena terakhir kali ia bercerita jika ada seseorang yang ingin membelinya. Setiap aku bertemu dengannya, ia selalu menangis dan meminta agar aku membawanya pergi dari pekerjaan hinanya. Tapi apa daya, menculiknyapun hanya sia-sia untuk seseorang yang tak punya apa-apa sepertiku.

Tak terasa, mataku memanas. Aku hanya ingin mempunyai hidup normal seperti kebanyakan keluarga bahagia diluar sana. Tetapi aku tidak seberuntung itu. Semuanya sudah kacau semenjak Ayah mati. Apa masih ada harapan untuk memperbaiki hidupku? Kurasa tidak.

Ku hela nafas sebanyak yang aku bisa dan mengusap wajahku dengan pelan. Jika memperbaiki hidup tidak akan bisa, tak ada salahnya aku semakin mengacaukan hidupku ini. Ku keluarkan ponsel yang berada dijaket kulitku dan menghubungi kakak laki-lakiku.

“Kris, jadikan aku pembunuh bayaran sepertimu.” Ucapku penuh keyakinan.

Tawa meledak Kris berdengung ditelingaku seperti terompet kematian. Ia merasa menang. Tak terhitung sudah berapa kali ia mengajakku bergabung untuk menjadi pembunuh bayaran dan selalu aku tolak. Sekarang tanpa syarat apapun, aku menyerahkan diri padanya. Tak heran Kris sampai terharu olehku.

“Akhirnya kau mau bergabung juga Chanyeol-ah. Aku akan mengatakan ini pada sajangnim. Kau akan diajarkan untuk menggunakan softgun dan senjata-senjata lainnya. Kau harus datang ke markasku pukul 9 malam nanti.”

Sambungan diputus Kris. Aku memejamkan mata sejenak. Membunuh orang berarti juga membunuh nuraniku. Membunuh bukanlah hal yang mudah seperti merampok atau mencuri. Itu sebabnya Kris mudah kaya. Sekali membunuh orang, bayarannya sangat besar bahkan cukup untuk membeli sebuah mobil.

Kris itu brengsek. Kakak laki-lakiku itu sudah tidak seperti manusia lagi. Ia sering meludahi Ibu dan berkata kasar pada Ibu, tetapi ia tidak pernah menyakiti Ibu dengan tangannya. Ia bersifat seperti itu karena Ibu telah menjual Byul hanya untuk membeli peralatan kosmetiknya, gila. Walaupun Kris begitu marah karena Ibu menjual Byul, ia tidak pernah menolongku untuk menebus Byul dari bar. Hemat katanya.

Kulirik jam tangan mewah yang melingkar ditangan kiriku. Jam tangan hasil curianku beberapa bulan yang lalu. Sekarang masih jam 7 malam. Ada sekitar 2 jam lagi untuk pergi kemarkas Kris. Aku memutuskan untuk menemui Byul sebentar dibar untuk memastikan keadaannya. Kuharap tidak ada yang menyentuhnya malam ini.

Aku beranjak mendekati motorku. Ketika aku sudah naik dan menyalakan motor, suara Ibu yang nyaring menghentikan gerakanku. Ia tampak tergesa keluar dari rumah.

“Kau kemana Chanyeol-ah? Lipstik Ibu habis, kemarikan uangmu.” Ucapnya sambil menadah tangan.

Jika kalian ingin tahu, jalang yang telah melahirkanku ini adalah seorang pelacur profesional. Kulitnya masih bagus diusianya yang beranjak kepala empat. Itu karena perawatan kulitnya yang terlampau mahal dan sangat rajin. Tak heran ia sampai menjual Byul.

“Memangnya tidak ada yang menyewamu malam ini? Kufikir jalang sepertimu sangat kaya.”

Seperti Kris, aku juga sama membenci Ibuku. Tetapi aku tak sampai hati untuk meludahinya. Hanya mengatainya jalang dan beberapa sebutan kurang ajar lainnya, karena dia benar-benar murahan. Tidak dengan unsur keterpaksaan seperti Byul, ia menjadi pelacur karena sudah menjadi cita-citanya. Sinting.

Dia berdecak, sempat memutar bola matanya jengah. “Uangku sudah habis membeli minuman keras kemarin. Kalau kau tidak mau memberiku uang dengan cuma-cuma, kau bisa menghabiskan malam ini bersamaku Chanyeol-ah.”

Sudah kubilang, dia sinting.

“Kau kira aku mau menusuk lubangmu? Berfikirlah ribuan kali sebelum kau menggodaku pelacur!” bentakku, kukeluarkan beberapa lembar won dari dalam dompetku dan melemparkan kertas-kertas itu kewajahnya. “Lain kali jika kau meminta uang padaku, jangan pernah menunjukkan pekerjaanmu dihadapanku.” Ujarku dingin.

Ibuku itu menyeringai. Ia memungut lembaran-lembaran won yang nominalnya tak main-main. Ia mengedipkan sebelah matanya padaku seperti yang biasa ia lakukan pada pelanggan-pelanggannya. “Terima kasih sayang. Kau memang anakku.”

Dan aku tak mau berlama-lama lagi melihat wajahnya. Kulajukan motorku seperti orang yang kesetanan menuju bar dimana Byul terperangkap. Berlama-lama dihadapan Ibu membuatku benar-benar ingin menamparnya agar ia sadar siapa ia sebenarnya.

Tak butuh waktu lama, aku sampai didepan neraka adikku. Tempat dimana orang-orang memperjual-belikan tubuh, tempat transaksi narkoba, dan tempat-tempat maksiat lainnya. Setelah aku memarkirkan motor, aku masuk dengan tangan yang terkepal. Rasanya ingin sekali membawa Byul pergi jauh-jauh dari tempat menjijikkan ini.

Seperti biasa, penjaga bar yang sudah hafal wajahku langsung memberi jalan padaku. Selang beberapa detik, telingaku langsung berdengung mendengar hentakan musik yang amat keras dari dalam ruangan. Rasa pusing langsung menyergap kepalaku ketika berbagai bau minuman keras memenuhi indra penciumanku. Walaupun aku juga seorang penyuka alkohol, mencium bau minuman yang bukan milikku membuatku sedikit mual. Aku langsung menuju ke meja bartender.

“Seperti biasa, Kai.” Ucapku ketika bartender langgananku menghampiriku. Ia mengangguk dan dengan ligat membuatkan minuman untukku.

Sementara Kai membuatkan minuman kesukaanku, aku menyempatkan diri untuk menatap suasana disekelilingku. Tentunya untuk mencari Byul, biasanya jam-jam seperti ini ia sedang disuruh mencari mangsa oleh bossnya. Hanya butuh beberapa menit, tatapanku langsung bertemu dengan sepasang mata berbinar milik Byul. Ia sedang meraba-raba punggung calon pelanggannya. Selang beberapa detik, ia meninggalkan calon pelanggannya dan melangkah kearahku.

Kai meletakkan wine sparkling dimejaku dan menyunggingkan senyum bersahabatnya. “Nikmati malam ini boss.” Ucapnya padaku.

Gomapta Kai.” Balasku yang dibalas anggukan oleh bartender itu. Kusesap minumanku dengan pelan sembari ekor mataku mengarah pada adikku yang sekarang telah duduk dikursi lainnya.

“Kau datang.” Serunya tertahan. Bisa kulihat ia bergerak gelisah ditempat duduknya. Sesekali ia melirik kearah lain. Aku yakin gerak-geriknya sedang diamati oleh si Choi brengsek yang sudah membelinya dari Ibu.

Aku kembali menyesap minumanku. Di bar ini yang mengetahui jika Byul adalah adikku hanya Kai, bartender tadi. Dan jika si Choi brengsek mengetahui hubunganku dengan Byul, bisa-bisa aku diseret paksa agar tidak menginjakkan kaki di bar ini lagi.

Setelah meletakkan gelasku kembali ke meja, aku menoleh pada Byul yang sekarang semakin gelisah. Jika ia tidak melihatku tadi, mungkin ia sudah menghabiskan malam ini bersama pelanggannya. Dan kurasa Byul semakin gelisah karena ada yang sedang mengancamnya dari kejauhan.

Aku menepuk pahaku, “Kesinilah, Byul.” Ujarku mengisyaratkan Byul agar duduk dipangkuanku.

Byul mengangguk dan duduk dipangkuanku. Kedua tangannya memeluk leherku dengan tatapan ketakutan yang sangat kentara. “Dia mengamatiku Chanyeol-ah.” Bisiknya ketakutan.

Aku tersenyum pahit ketika merasakan pundak Byul bergetar. Ia sudah siap untuk menangis. Kupisahkan pelukan kami dan menatap matanya lamat-lamat. “Tahan sebentar Byul. Aku harus melakukan ini.” Ucapku sembari mendekatkan wajahku ke lehernya.

Kurasakan Byul mengangguk. Aku mulai menciumi tulang selangkanya dengan bibirku. Bukan mencari kesempatan, ini hanya cara klasik agar si Choi brengsek berfikir jika Byul sedang melakukan pekerjaannya. Dan ciumanku berakhir dibahu Byul, “Ikuti aku Byul.” Ucapku.

Byul turun dari pangkuanku. Setelah meletakkan selembar seratus ribu won dibawah wine sparkling milikku, aku menariknya menjauh dari meja bar. Bisa kulihat Kai menyerigai kearahku. Ia selalu berfikir jika aku dan Byul mempunyai hubungan saudara yang terlarang, dan aku tidak pernah mengatakan yang sebenarnya padanya.

Aku dan Byul sampai dikamar yang kami sewa. Baru saja pintu ditutup, Byul sudah luruh kelantai. Ia menangis sejadi-jadinya sambil memegangi kaki kananku. Hal itu membuatku mengepalkan tangan, sungguh aku tak tahan jika melihat adik perempuanku menangis seperti ini.

“Bawa aku pergi dari sini, Chanyeol-ah.” Ucapnya sambil terus menangis dilantai.

Aku menghela nafas dan berjongkok dihadapannya. Kupegangi pipinya dengan lembut dan memberinya kecupan didahi. “Tunggu sebentar lagi Byul. Aku sedang berusaha untuk menebusmu lagi. Bertahanlah untukku.” Ucapku.

Byul masih menangis, tetapi ia tetap mengangguk padaku. “Aku hanya tidak ingin mereka menyentuhku lagi. Mereka kasar Chanyeol-ah.. mereka kasar.”

Aku memeluk tubuh ringkih Byul dengan hati-hati. “Aku tahu. Aku berjanji akan menebusmu dalam waktu dekat Byul. Jangan menangis lagi, aku disini.”

Byul perlahan-lahan mulai tenang dipelukanku. Ia menarik wajahnya dari dadaku dan menatapku dengan mata basahnya. “Chanyeol-ah, kemarin pria yang ingin membeliku itu datang lagi. Dia tidak seperti orang yang baik.” Ujar Byul. “Untung saja ia kembali tidak mencapai kesepakatan dengan Choi sajangnim. Jadi aku tidak jadi dibeli. Aku sangat takut padanya.”

Nafasku seakan tercekat mendengar cerita Byul. Aku sungguh tidak bisa membayangkan bagaimana jika Byul benar-benar dibeli oleh orang yang mengincarnya. Pastinya aku tidak akan bisa menemui Byul lagi. Jika itu sampai terjadi, aku benar-benar akan mengakhiri hidupku saat itu juga.

“Chanyeol-ah, kau baik-baik saja?” tanya Byul ketika aku hanya diam.

Aku mengangguk singkat dan kembali berdiri. “Aku harus pergi sekarang.” Ujarku sambil melirik jam yang melingkar ditanganku. “Kris sedang menungguku dimarkasnya.”

Aku mengeluarkan dompetku dan memberikannya pada Byul. “Ambil seperlumu, kau harus menyetor uang pada si Choi brengsek itu bukan?”

Byul menerimanya dan membuka isi dompetku. “Choi sajangnim menaikkan uang setorannya.” Ucapnya murung. “Maaf, lagi-lagi aku merepotkanmu.”

Ia mengambil sekitar lebih dari lima belas lembar uang seratus ribu won dan selembar uang lima puluh won dari dompetku. Ia menyerahkan kembali benda itu padaku. “Terima kasih Chanyeol-ah.” Matanya kembali berair dan ia langsung menghapusnya dengan gerakan kasar.

Aku mengacak rambutnya dengan sayang. “Tak masalah Byul. Kau adikku dan aku sangat menyayangimu.”

___________________

Markas Kris seperti istana. Tak heran ia tidak pernah pulang kerumah karena markasnya sangat.. menakjubkan. Saat ini aku masih berdiri didepan gang markas Kris, beberapa saat yang lalu Kris mengatakan jika saat ini ia masih mempunyai beberapa urusan, jadi ia memintaku untuk menunggu sebentar diluar markasnya.

Aku pernah beberapa kali mengunjungi Kris kesini. Hanya bertemu didepan gang. Kris tidak pernah mengajakku masuk ke markasnya, jadi aku tidak pernah tahu bagaimana keadaan didalam sana. Kurasa yang pasti, markasnya penuh dengan botol-botol minuman keras yang telah kosong karena selalu berpesta.

Kusandarkan tubuhku kedinding gang dan mengeluarkan sebatang rokok dari saku jaket hitamku. Merokok sebentar kurasa tak jadi masalah. Lagi pula sepertinya Kris mempunyai urusan yang cukup lama.

Ketika ujung rokokku mulai terbakar, aku langsung menghisap benda itu hingga kulit pipiku membuat cekungan. Sebenarnya aku bukan pecandu rokok. Aku merokok hanya disaat-saat tertentu saja. Seperti saat ini, saat pikiranku sedang kacau.

Ku hembuskan asap rokok yang baru saja aku hisap. Sesekali aku mengecek ponselku untuk memastikan jika Kris telah selesai dengan urusannya. Tetapi tak ada satupun notifikasi yang masuk ke ponselku. Ketika aku hendak kembali menghisap rokokku, seorang remaja perempuan melintas didepanku.

Ia tampak tak menyadari kehadiranku didepan gang yang cukup remang ini. Gadis itu sangat fokus dengan es krim strawberry yang sedang ia makan. Baguslah kalau begitu, jika melihatku pun mungkin ia akan berlari ketakutan karena melihat preman sepertiku. Lagi pula, apa gadis ini tidak takut keluar sendirian?

“Astaga.” Seperti dugaanku, gadis remaja itu akhirnya menyadari keberadaanku. Ia memegangi dadanya, tanda jika ia benar-benar terkejut dengan kehadiranku. “Kenapa kau menempel disitu? Kau kira kau spiderman?!” bentaknya.

Aku hanya diam. Ingin tertawa tetapi tak pada tempatnya. Gadis ini pasti akan berfikir jika aku om-om mesum yang sedang mencari mangsa ditempat-tempat sepi seperti ini. Jadi yang kulakukan hanya mengacuhkannya dan kembali menghisap rokokku.

Gadis itu mengakhiri jilatan pada eskrimnya dan membuang stik es krimnya kesamping. “Kenapa kau ada disini? Bukankah bahaya keluar malam-malam seperti ini?” tanyanya padaku.

Aku sempat terperangah dengan pertanyaannya. Bukankah seharusnya yang bertanya seperti itu adalah aku? Lalu kenapa seolah-olah akulah yang anak gadis disini?

“Permisi gadis kecil. Seharusnya aku yang mengatakan itu padamu.” Sungutku. Aku membuang puntung rokokku ke tanah dan menginjaknya. “Kenapa gadis kecil sepertimu masih keluar malam-malam seperti ini? Untung saja yang bertemu denganmu adalah aku, bukan orang yang bisa mencelakaimu. Jadi simpan kalimat khawatir itu untuk dirimu sendiri.”

Gadis itu malah cekikikan. Wajahnya memerah ketika ia tertawa. “Yeah, kurasa kau benar-benar orang baik.” Ucapnya. Ia mendekat kearahku hingga puncak kepalanya hampir saja menyentuh daguku. Ia mendongak dan memperhatikan wajahku lekat-lekat. “Kau tampan.”

Aku hanya mendengus. Detik berikutnya aku merasakan kedua telapak tangan gadis itu memegangi pipiku. “Hey aku tidak bercanda. Kau tampan sekali.” Ucapnya.

Aku menepis tangannya dan mendorong dahi gadis itu kebelakang dengan jari telunjukku. “Hey, tidak sopan memegang pipi orang yang lebih tua darimu.” Ujarku kesal. Gadis itu malah tertawa dan kembali meletakkan tangannya dipipiku.

“Berani bertaruh. Kita seumuran, tampan.” Ucapnya tertawa. “Aku Hani. 21 tahun. Jangan memanggilku gadis kecil karena aku cukup dewasa walau penampilanku seperti ini.”

Ku akui aku cukup terkejut mengetahui umur gadis itu. Kukira ia masih sekolah ketika melihat gaya berpakaiannya. Gadis ini juga pendek, jadi sangat mendukung jika aku mengatakan ia berumur 16 tahun.

Hani kembali mencubit-cubit pipiku. “Hey kau pasti juga baru berumur 21 bukan? Apa tebakanku benar? Dan siapa namamu tampan?”

Aku kembali menepis tangannya dipipiku, tak lupa mendorong dahinya dengan jari telunjukku. “Sudahlah jangan menggangguku. Pulang sana, pasti Ayahmu sedang mencarimu gadis kecil.”

Dia menggeleng, “Astaga aku sudah bilang, jangan memanggilku gadis kecil! Namaku Hani! Ha-Ni!” ia memutar bola matanya. “Ayolah, aku hanya ingin berkenalan denganmu! Kau tampan sekali!”

Aku jadi gemas sendiri dengan gadis ini. Apa dia tidak punya malu minta berkenalan dengan seorang pria? Apalagi tempat ini sepi, apa dia tidak takut jika saja aku ingin memperkosanya? Jika difikir-fikir lagi yang sedang digoda sekarang adalah aku. Sial.

“Aku sedang tidak ingin berkenalan. Jadi sebaiknya kau pergi, atau aku akan murka.” Ancamku.

Hani mundur beberapa langkah. Sepertinya ia sedikit takut dengan ancamanku. Bibirnya bahkan terbuka menandakan jika ia terkejut dengan ucapanku.

“Woah.. keren.” Gumamnya. “Kau keren sekali!” kali ini ia berseru riang.

Aku mengusap wajah frustasi. Selang beberapa detik, ponselku berbunyi tanda jika Kris menelponku. Aku mengangkat telpon Kris dan mengabaikan gadis didepanku ini. “Ne Kris?”

Kau masih disana? Urusanku sudah selesai. Sajangnim menyuruhku agar membawamu masuk ke markas dan menemuinya.” Ujar Kris. “Aku akan menunggumu didepan markas.

“Baiklah aku mengerti.” Balasku lalu memutuskan sambungan. Aku hendak melangkah menuju markas Kris tetapi Hani menahan lenganku.

“Kau mau kemana? Disana bahaya.” Gadis ini memperingatiku. Ia tampak khawatir dan cengkramannya dilenganku menguat.

Aku menatapnya dengan tatapan tajam. “Jangan campuri urusanku.” Ujarku dingin. Aku menarik lenganku hingga cengkramannya terlepas. “Kau pulanglah. Aku tidak ingin hal buruk terjadi.”

Setelah itu aku benar-benar meninggalkan gadis itu dan berjalan menuju markas Kris. Tetapi baru beberapa meter menjauh, aku merasakan jika saat ini Hani mengikutiku. “Jangan mengikutiku, Hani.” Aku menghentikan langkah tanpa berbalik.

Kudengar suara langkah Hani yang semakin mendekat padaku. Gadis itu berhenti didekatku. “Aku tidak mengikutimu. Kau bilang aku harus pulang, jadi sekarang aku pulang.” Ucapnya. Ia berjalan mendahuluiku menuju.. markas Kris?

Tepat didepan gerbang markas itu aku menahan lengannya. “Hey kau mau kemana? Disana bahaya!” ujarku. Aku tidak habis fikir dengan gadis ini. Kenapa ia sangat berani? Ia fikir ia punya banyak nyawa?

Hani terkekeh. “Kau mulai khawatir padaku tampan?” ucapnya lalu melepas tanganku. “Jangan campuri urusanku. Seperti katamu.”

Sial, dia membalikkan keadaan.

Ia membuka gerbang yang terbuat dari besi itu dengan mudah. Aku langsung bisa melihat Kris dan beberapa temannya sedang berbincang-bincang. Ketika mereka sadar ada orang yang datang, mereka langsung diam. Tatapan Kris tertuju ke arahku, tetapi tak lama setelah itu ia mengalihkan perhatiannya pada Hani. Ia dan beberapa orang temannya langsung membungkuk kearah..

Hani?


To Be Continued


A/N :

Hai?! Long time no see, hmm? Hehe selama long hiatus gue mempersiapkan FF ini buat comeback, bagaimana menurut kalian?

Mengenai FF ini kedepannya bakal gue proteksi (entah itu dichapter 2 atau 3), karena cerita mengandung kata-kata yang gak boleh dikonsumsi untuk teman-teman yang masih dibawah umur. Harap mengerti demi kebaikan bersama.

Jika ada yang ingin bertanya pw ntar silahkan hubungi ke email atau juga bisa lewat fb. Thanks..

Email: dederahmaaldany@gmail.com / viorinsisialdany@gmail.com

Fb: Dhede Rahma Aldany II / Viorin Sisi Aldany

 

Advertisements

128 responses to “DISTURBANCE [Chap. 1] — by BARLEEY

  1. Hi, thor. Maaf baru komen, aku reader baru. Gila keren thor, ga sadar udah tbc aja. Penasaran sama karakter hani, aku juga tadi nyangka dia adalah anak sma ternyata pemimpinnya. Lalu keren karakter chanyeol rela bergabung di mafia demi adiknya. Dan ngeselin banget karakter ibunya korbanin anak demi make up. Intinya semangat terus thor!

  2. Wow… jadi Hani pimpinannya kah? btw aku telat bacanyaa><
    kasian si byul:"(( cepet2 aja bebasin dia.. gakebayang kalo sampe dibeli orang lain.. btw adegan kaka-ade hot juga yaa. wkwkwk

  3. kasian bgt ya chanyeol tapi sumpah disini chanyeol itu baik tapi kayak gak ada pilihan lain buat ngelakuin kejahatannya, and then what??? jgn jgn hani itu anak majikannya kris lagi ..
    semangat ya … aduh lupa kenalan hai aku neechan,line 98 . and lewat gmail ya?
    oke oke

  4. duh plis thor jangan jadiin ceye pembunuh bayaran aku gak rela (T.T)
    itu ibunya ceye stress ta gimana masak anaknya sendiri di suruh aaahhhh geblek banget sih!!

    Hani ? siapa? ketua? apa anaknya ketua?? knp semua pada hormat ke dia…

  5. Baru bacaa wow seru nihh tapi agak ngakak yg ibunya chanyeol sempet2nya ngegodain anaknya sendiri hahaha bnr2 germo bgt kayaknya. Pasti hani itu anak dari pimpinan org jahat itu ya lanjut ah baca next chapter!

  6. kasian amat idupnya yeol :’) dia harus idup dengan liat adenya jadi pelacur karna terpakasa
    mudah2 idupnya bakalan berwarna dengan adanya hani

  7. ih seru nih chapter 1 aja udh seru, suka nih kalo chanyeol macam karakter nya kek gini ^^
    btw ksian ya byul ksian jg chanyeol jd hrs bnyk berjuang ya ntar itu buat nyelametin byul..
    penasaran jg siapa anak gadis yg masuk k markas itu jg,anak nya ketua pembunuh bayaran itu yah pasti..
    smngat nulisnya, fighting!

  8. Kak alurnya bagus ceritanya juga keren banget.. ;D penasaran sama hani nya itu siapa kak? Apa dia anak bos nya?

  9. Ya! Ibu macam apa itu yang malah menawari anaknya buat tidur bareng??sinting,gilaa gilaa!
    Buat author ceritanya seru banget,bikin penasaran next chapternya,bahasanya juga mudah di pahami,trus gak ada typo pula 😀😀 fighting author!!

  10. Seruuuuuu >< omg itu ibunya Chanyeol parah banget. Bener-bener sinting ngejual anaknya sendiri. Wew

    Chanyeol pasti sedih banget adiknya jadi pelacur gitu. Semoga aja jadi pembunuh bayaran, beneran bisa nebus Byul~

    Moment Chanyeol-Hani nya lucu banget hahaha 😂. Tampan… Gadis kecil… dududu first impression aja udah ada nama panggilan gitu wakwao

  11. kasiannnn bangetttt byullll,,, si krisss,,,, brengsekkkkk loooo,,, adekkk loooooo… Lo pikirrr barang mainannn,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s