Married With Girl {Chapter 2}

11780431_543949232422111_1767952810_n

This Awesome Poster made by Ken –  @SayKoreanFanfiction

Married With Girl – Chapter 2

Sehun | OC(s)

Marriage life(soon) | School life | Drama

PG-15

Chaptered (3.786 words)

PROLOG | CHAPTER 1

.

.

ENJOY!

AND SORRY FOR TYPO(s)

.

.

Previous Part

“Jadi.. Son Haein…”Sehun menggantungkan kalimatnya dan menatap Haein dengan tatapan serta raut seriusnya.

Jantung Haein berpacu lebih cepat. Tangannya bergetar menunggu kalimat Sehun yang isengaja digantungkan dan membuatnya semakin penasaran.

Kemudian Jantung Haein serasa ingin copot dari tempatnya saat jemari Sehun mengenggam tangannya. Apa ini?

“…Menikahlah denganku.”

.

.

Menikahlah denganku..

Menikahlah denganku..

Selepas pertemuan mencengakan nya dengan Sehun, Haein terus merenungkan pembicaraannya Sehun yang bisa dibilang secara langsung Sehun melamarnya. Permintaan Sehun tepat sebelum deringan ponsel Sehun yang menginterupsi pembicaraan keduanya itupun menjadi penyebab Sehun dengan buru-buru berpamitan dan pergi meninggalkan Haein yang masih shock dengan pernyataan Sehun tadi.

“Hah…”desah Haein panjang seakan dapat mengeluarkan beban batin yang ditanggungnya. Tatapannya menerawang ke depan. Langkah demi langkah ia lalui di trotoar yang ada dipinggir jalan wilayah Yongsan-gu.

Haein menghentikan langkahnya tepat disebuah halte bus yang akan membawanya pulang ke rumah nyamannya. Sesekali ia menghela nafas memikirkan segala sesuatu yang baru terjadi hari ini. Ah, Memikirkannya saja membuat kepalanya pening seketika.

Ia memikirkan keluarganya, jika ia menolak pernikahan ini, maka banyak yang kecewa terhadap pilihannya. Jika ia menerima, maka hatinya pasti akan sakit meskipun ia harus memaksakan senyuman di depan keluarganya maupun oranglain yang bahagia atas keputusannya.

Ia memikirkan Sehun, ah.. Apakah Sehun bisa bahagia dengannya kelak? Apakah Sehun bisa mencintainya saat mereka ‘mungkin’ sudah menikah nanti? Apakah Sehun akan menerima Haein apa adanya? Apakah ia akan menjadi istri yang baik nantinya untuk Sehun? Apakah Sehun akan melupakan….. Haejin?

Benar, Haejin. Apakah Haejin masih mencintai Sehun?

Haein tak kuasa untuk menahan air matanya ketika membayangkan Haejin kembali saat ia dan Sehun sudah menikah. Apa yang harus ia lakukan nantinya? Menjelaskan pada kakaknya dan membiarkan luka tergores dihati kakaknya?

Atau…

Membiarkan Sehun untuk kembali mengejar Haejin dan membuat dirinya sendiri menjadi gadis terbodoh seperti di drama-drama?

Katakanlah bahwa Haein melankolis. Tetapi pikiran tentang masa depannya terbilang wajar, bukan?

Ah benar.. Masa depan.

Bagaimana nasib masa depannya kelak saat ia sesudah menikah nanti? Apakah ia masih dapat meneruskan cita-citanya? Kembali, Haein mengadahkan kepalanya ke atas seraya menghela nafas panjang. Dalam hati ia bertanya-tanya.

Inikah jalan yang tuhan berikan untuknya kelak?

.

.

Sehun duduk dengan menyenderkan punggungnya ke punggung kursi. Jarinya mengetuk-ngetuk meja dengan lamban. Tatapannya kosong kearah layar laptopnya. Sesekali ia menghela nafas panjang atas apa yang sudah ia lakukan tadi.

Ia sudah melamar Haein dengan keadaan sadar. Haein, bukan kakaknya yang sangat ia cintai—sampai saat ini. Ingatannya kembali mereka ulang kejadian 2 tahun lalu, ketika ia melamar Son Haejin.

Perasaan yang ia rasakan saat melamar Haein tadi tidak se-bahagia saat melamar Haejin.

Tetapi ia melakukan itu tentunya ada alasan. Ia melakukannya semata-mata agar ayahnya bahagia. Hanya itu.

Sehun beranjak dari duduknya, kemudian melangkah ke arah kaca besar yang membatasi kantornya dengan lingkungan luar. Matanya memang menatap keadaan di luar sana—kendaraan yang melalu lintas di luar. Tetapi fikirannya kemana-mana. Dalam hati ia bertanya,

Inikah jalan yang tuhan berikan untuknya kelak?

.

.

“Aku pulang..”Haein sedikit berteriak agar suaranya terdengar oleh semua penghuni rumahnya—menurutnya. Haein melepas sepatunya lalu menaruhnya di sebuah tempat penyimpanan alas kaki. Ia kemudian berjalan ke arah dapur untuk meminum segelas air, guna menjernihkan pikirannya—pikirnya.

Tak lama kemudian muncul seorang wanita paruh baya namun tetap cantik melangkah ke arahnya. Masih dengan senyumannya yang terpatri diwajahnya, ia memeluk anak perempuan bungsunya itu. “Gadisku yang cantik ini sudah pulang, hm?”

Haein tersenyum kepada ibunya dan menggangguk sebagai jawabannya. “Eomma, bolehkah aku ke kamar sekarang? Aku sangat lelah dan ingin beristirahat sebentar. Tubuhku juga rasanya sangat lengket, Eomma.”pinta Haein dengan suara lembut. Ibunya mengangguk–masih dengan senyumannya yang tak kunjung pudar.

“Baiklah, Haein-a. Pantas saja saat memelukmu hidung eomma gatal!”canda ibunya. Haein tersenyum geli mendengar gurauan ibunya dan mencebikkan bibirnya. “Eomma!“rajuk Haein tak terima.

Arasseo.. kau mandi sana, eomma mau menyiapkan untuk makan malam terlebih dahulu. Setelah mandi, kau harus membantu eomma untuk menatanya di meja. Arrachi?

“Eung.”Haein mengangguk. Lantas ia berjalan ke kamarnya guna membersihkan badannya. Setidaknya, dengan mandi ia bisa melepas penatnya.

.

.

Selesai mandi, sesuai dengan perjanjian dengan eomma-nya, ia turun ke bawah untuk membantu ibunya itu untuk menata makanan di meja makan.

Di depan tangga, ia berpapasan dengan oppa-nya yang mungkin baru pulang. Tetapi ia membiarkannya saja. Sementara Haejoon, begitu melihat adiknya itu, ia langsung menahan lengan adiknya yang ingin turun.

“Haein-a, tadi di depan ada yang mencarimu. Ia menitip salam untukmu.”ujar Haejoon dengan–ugh tampang polosnya.

Haein mengernyit bingung, “Siapa?”

Haejoon melepas lengan Haein dan mengendikkan bahunya acuh. “Tidak tahu. Begitu aku ingin tanya siapa namanya, ia langsung melenggang pergi. Tetapi sepertinya aku pernah melihat lelaki itu.”jawab kakaknya jujur.

Haein mencoba berfikir siapa kemungkinan orang yang menitip salam padanya. “Laki-laki atau perempuan?”

Haejoon merubah raut wajahnya menjadi masam. “Tidak, dia banci.”pernyataannya membuat Haein mengernyit bingung, “Loh, tadi kau bilang dia laki-laki! Kau ini bagaimana, sih!”elak Haein kesal.

 

Haejoon mencibir, “Yak! kalau sudah tahu laki-laki mengapa kau bertanya lagi, eoh?”dengan gaya yang menyebalkan–menurut Haein–Haejoon memasukkan kedua tangannya ke saku celana dan melenggang pergi meninggalkan Haein yang masih termenung.

“Benar juga..”Haein terbengong, merutuki kebodohannya. “Ah ,sial!”

Ia menggelengkan kepalanya dan berusaha tidak peduli kejadian tadi dan pergi untuk membantu Ibunya yang mungkin sudah menunggunya lama karena perdebatan tadi dengan Haejoon.

.

.

Haein duduk di kursi yang berhadapan dengan jendela kamarnya. Tatapannya menerawang, fikirannya berkelana entah kemana. Bahkan tugas yang diberikan Kim Songsaenim pun tidak terpikirkan olehnya. Ia terlalu sibuk dengan masalah yang ia hadapi saat ini, entahlah. Ia sangat lelah memikirkannya.

Tatapan menerawang itu berubah menjadi pelototan kaget atas apa yang ia lihat saat ini. Bola matanya mengikuti seorang namja yang sedang berjalan santai dengan satu tangan ia masukkan ke dalam sakunya dan tangan satu lagi yang memegang kresek hitam.

namja yang sangat ia kenal, dulu.

“Joon Jaeguk.”gumamnya tidak sadar. Kini namja itu hilang saat berbelok ke tikungan. Mata Haein mengerjap cepat, kala ia sadar Jaeguk–temannya–itu sudah hilang dari penglihatannya.

“Dia kembali..”Haein bergumam, lagi. Kini wajah keruh serta bingungnya berubah menjadi cerah kembali. Setidaknya, teman lamanya itu kembali dan ia bisa berbagi cerita soal masalahnya kepada Jaeguk, saat ini.

Dengan cepat Haein bangkit dari duduknya dan tangannya menyambar sebuah hoodie kemudian memakainya. Ia setengah berlari keluar rumah untuk ke rumah sahabat lamanya itu. Mungkin saja Jaeguk masih tinggal di rumah lamanya, karena tikungannya sama persis untuk menuju rumah lamanya.

Setelah berpamitan kepada kedua orangtua-nya secara sepihak tanpa menunggu balasan eomma dan appa-nya dan kemudian disusul dengan teriakan memanggil namanya, tetap saja Haein tidak menggubrisnya. Karena pikirannya hanya menemui Jaeguk, sahabat lamanya.

Haein menghentikan larinya ketika ia sudah sampai di depan rumah yang ia kenali. Dengan napas yang terengah-engah ia melanjutkan langkahnya dengan pelan dan menekan bel yang sudah terpasang di samping pintu rumah.

Sekiranya tiga kali ia memencet bel rumah Jaeguk dan pintunya pun terbuka memperlihatkan sosok namja berperawakan tinggi serta tampan yang membelalak lebar saat menemui tamunya itu.

“Ya! Son Haein! Mengapa kau—“ucapan Jaeguk terpotong karena Haein yang tiba-tiba memeluknya, sehingga tubuh Jaeguk terhuyung kebelakang. Hampir saja Jaeguk terjatuh jikalau tidak saja ia menahan tubuhnya pada kenop pintu

“Yak, Son Haein. Kau hampir membuatku terjatuh!”ucap Jaeguk menyadarkan Haein. Sontak Haein melepaskan pelukannya dan menatap Jaeguk dengan mata yang berbinar. Lantas Haein tersenyum senang hingga matanya membentuk bulan sabit.

Mian! Aku sangat senang kau kembali!”Haein kegirangan. Jaeguk pun tersenyum dan mengacak rambut Haein gemas. “Eoh, Keurom! Kau memang harus senang aku kembali!”timpal Jaeguk antusias.

“Tsk! Mengapa kau tidak bilang padaku, eoh?! Setidaknya, kau mengirimi ku e-mail agar aku bisa mempersiapkan pesta kecil atas kedatanganmu. Kaupun saat pergi tidak bilang padaku. Saat kembali, tidak bilang padaku. Mau mu sebenarnya apa, sih?”cecar Haein pada Jaeguk bertubi-tubi. Sementara sang lawan bicara hanya tersenyum lembut sebagai balasan atas cecaran Haein.

“Maaf.”sesal Jaeguk. Ia pun memeluk Haein dengan sayang. “Maaf karena aku tidak memberitahu mu saat aku ingin pergi. Itu karena aku tidak ingin membuatmu sedih. Aku tahu, meskipun aku selalu membuatmu kesal terhadapku tetapi kau tetap sayang padaku, kan?”lanjutnya.

Haein hanya mengangguk di dalam pelukan Jaeguk. “Arasseo.”balas Haein pelan. “Aku tahum tetapi justru perbuatanmu itu makin membuatku tambah sedih. Terkadang aku berpikir, apa aku tidak penting bagimu? Buktinya, kau tidak memberitahuku saat kau ingin pergi. Kau, nappeun.”lanjut Haein panjang.

Jaeguk hanya menghembuskan nafasnya pelan. “Tidak, justru karena kau penting bagiku, aku tidak ingin membuatmu sedih. Sungguh, aku tidak sanggup melihat wajah sahabatku ini bermenye-menye saat aku pergi.”

Haein melepas pelukannya, lalu ia tersenyum lembut seraya menatap mata Jaeguk. “Maaf, sebenarnya selain ingin menemuimu karena ingin mengucapkan selamat datang, aku ingin berbagi tentang masalahku denganmu. Maaf, tapi.. bolehkah?”

“Hm.”Jaeuguk mengangguk menyetujui permintaan Haein. “Tentu saja, anggaplah ini balasan karena aku tidak memberitahumu saat aku pergi waktu itu. Tetapi omong-omong, kau tidak memberiku ucapan selamat datang. Saat kau datang tadi kau malah memelukku dan mencecarku bertubi-tubi!”

Haein terkekeh geli dan menggaruk tengkuknya yang tidak terasa gatal. “Mian! Baiklah, SELAMAT DATANG JOON JAEGUK!!”

Jaeguk hanya tertawa sebagai respon atas antusiasme Haein. “Baiklah, silahkan masuk, nona Son.”katanya mempersilahkan Haein masuk.

“Terima kasih, tuan muda Joon!”

.

.

MWO?!”Jaeguk terlihat kaget mendengar penjelasan Haein. Matanya membelalak lebar, mulutnya menganga lebar. Mungkin lalat saja bisa masuk dengan santai ke dalam mulut Jaeguk. “Yak! Neo Micheosseo? Are you kidding me?!”

“Aku tidak gila, Jaeguk-a. Dan aku tidak bercanda.”jawab Haein lesu. “memang itu kenyataannya. Aku-dilamar-Sehun-cinta pertamaku.”lanjut Haein dengan ejaan dikalimat terakhirnya.

“Haaah..”Jaeguk membuang nafasnya panjang. Lalu ia menoleh pada Haein cepat setelah mengingat sesuatu. “Hm, omong-omong, siapa tadi namanya? Oh Sehun?”tanya Jaeguk memastikan. Haein menganguk sebagai jawabannya, “Eung! Oh Sehun. Wae?

“Bukankah namja yang pernah terbentur bola basketmu beberapa tahun lalu, itu namanya Oh Sehun?”tanya Jaeguk kembali, dan meneguk cola di genggaman tangannya.

“Eoh, namja itu adalah dia. Oh Sehun, yang akan aku nikahi. Mungkin.”

 

PRUUUUT

 

“MWO?!

Kali ini, ugh. Jaeguk terkaget dengan…menyembur air cola yang tadi ia minum ke wajah Haein. Sementara si korban semburan, hanya memejamkan matanya menahan emosi. Melihat itu, Jaeguk salah tingkah dan kemudian berdehem.

“Ehem, maaf. Aku eum-tidak sengaja.”sesal Jaeguk dengan gelagat sok-ber-wibawanya.

Haein hanya membuang nafasnya kasar dan mengambil selembar tissue untuk membersihkan wajahnya dari air semburan cola Jaeguk. “Tak apa. Aku tahu, kau kaget. Ya, aku sudah terbiasa.”sahut Haein tenang. Seakan bukti bahwa ia sudah dewasa dan mudah memaafkan orang lain–meskipun begitu kenyataannya.

“Hehehehe.. Mianhae Hae–”

“OMO? Haein-a?”

Percakapan Haein dan Jaeguk terhenti saat sebuah suara menginterupsi kegiatan mereka. Suara itu berasal dari Nyonya Joon, ibu dari Jaeguk. “Haein-a! Apa kabar? Oh ya tuhan aku sangat bahagia kau kemari, nak.”Nyonya Joon beringsut mendekati Haein dan memeluk Haein kemudian.

“Apa kabar, eomonim? Long time no see, huh?”Haein memberi ucapan selamat datang–sepertinya begitu–dengan hangat kepada Nyonya Joon. Nyonya Joon pun membalas dengan senyuman hangat terbaiknya pada Haein, “Eoh. Tentu saja eomonim baik-baik saja. Bagaimana denganmu dan keluargamu, Haein-a?”Nyonya Joom berbalik menanyai kabar Haein.

Haein juga memberi senyuman hangat terbaiknya pada Nyonya Joon, kemudian membalasnya. “Tentu saja aku baik-baik saja, eomonim.”

 

Tidak eomonim. Aku tidak baik-baik saja. batik Haein melanjutkan.

 

“Ah, syukurlah. Apa kau sudah makan, Haein-a? Apa kau inginku masakkan makanan kesukaanmu? Kesukaanmu masih pasta kimchi, bukan?”

“Iya eomonim, kau benar. Maaf, tetapi aku sudah makan tadi, bersama keluargaku.”

“Ah, sayang sekali. Padahal tadinya eomonim ingin membuatkan masakkan untukmu. Sudah lama kita tidak bertemu, kan?”

“Iya eomonim. Maaf sekali lagi, ya?”

“Tidak apa-apa, sayang. eomonim mengerti.”

Gomaw–

“Yak, kalian melupakan fakta bahwa aku masih disini.”suara Jaeguk yang terdengar jengkel menginterupsi obrolan Haein serta Nyonya Joon. Sontak membuat Haein terkekeh dan membuat Nyonya Joon melotot kesal. “Yak! Joon Jaeguk. Eomma ini rindu terhadap Haein. Apa itu salah?”cecar Nyonya Joon kesal pada anaknya.

Eomma! Aku hanya–”

“Hentikan, Jaeguk.”Haein menengahi pertengkaran Nyonya Jonn dan Jaeguk yang baru saja akan dimulai. Jika tidak dipertingatkan, mungkin tidak akan selesai. Atau bahkan terjadi perang dunia ke-tiga.

Haein menoleh pada Nyonya Joon. “Maafkan Jaeguk, eomonim.”

Nyonya Joon tersenyum hangat pada Haein, “gwenchana, dia memang menyebalkan. Persis seperti ayahnya.”Nyonya Joon mendelik pada Jaegook. “Yak! Sehabis kau mengobrol dengan Haein, kau harus membereskan kamarmu dan beristirahat. Besok kau sudah mulai sekolah.”tegur nyonya Joon pada Jaeguk. “Dan kau Haein, jika Jaeguk berbicara melantur, abaikan saja dia. Dia memang gila.”nyonya Joon memperingatkan Haein. Sontak membuat Jaeguk melotot.

Eomma!

Haein terkekeh geli mendengar peringatan konyol dari nyonya Joon dan mengangguk mengerti. “Hm, arasseo eomonim.”

Nyonya Joon meninggalkan mereka berdua untuk kembali ke-kamarnya. Sebelum itu, ia menjulurkan lidahnya dulu pada Jaeguk yang dibalas dengan juluran lidah pula. Dan disambut dengan kekehan Haein. Keluarga ini memang aneh.

Jaeguk kembali menoleh pada Haein dan raut wajahnya menjadi serius. “Lanjutkan, Haein-a. Maafkan kekonyolan ibuku tadi. Dia memang seperti itu.”

Haein tertawa lepas mendengarnya, apalagi mengingat tadi ibunya sendiri mengolok-olok Jaeguk dihadapannya. “Ibumu tidak berubah, Jaeguk-a!”

“Ck, tidak usah dibahas. Ayo lanjutkan!”

Arasseo.”

.

.

Jaeguk menghembuskan nafasnya pelan mendengar penuturan Haein barusan tentang masalahnya. Yah, memang ini hal yang berat untuk Haein. Karena pernikahan ini menyangkut masa depannya.

“Ah, aku harus bagaimana, Jaeguk-a? Menerimanya atau menolaknya?”Haein berujar pasrah. Pasrah serta keputus-asaan wajahnya menyiratkan bahwa ia benar-benar lelah dengan semuanya.

Pertama, ia masih 17 tahun. Dan berarti umurnya masih sangat belia untuk mengarungi bahtera rumah tangga. Dan pastinya, kebebasannya terkekang oleh status-nya nanti sebagai seorang istri. Baiklah, itu adalah kemungkinan.

Kedua, lelaki yang akan dinikahinya kelak, adalah lelaki yang hatinya masih menyimpan nama seseorang. Yaitu kakak dari Haein sendiri. Tentu, ini adalah cobaan yang cukup berat baginya. Jika saja Haejin kembali, lantas apa yang harus ia perbuat?

Ketiga, Jika ia menolaknya, maka tentu banyak pihak yang kecewa terhadapnya. Aplagi mengetahui fakta, Sehun sendiri lah yang melamarnya langsung dengan alasan ayahnya sedang sakit parah. Itu membuat keinginan untuk menolak pernikahan ini menjadi goyah.

Keempat, jika ia menerima pernikahan ini, akankah ia bisa menjadi istri yang baik? Dan apakah ia bisa membuat Sehun perlahan mencintai-nya nanti? Bagaimana nanti jika Sehun malah berbalik membencinya saat Haejin kembali dan sedih mengetahui bahwa Sehun telah menikah dengan adiknya sendiri?

“Keputusannya berada ditanganmu, Haein-a.”Jaeguk bersuara dan membuat Haein menoleh, menatap Jaeguk dengan pandangan bingung. “Sebaiknya berilah jawaban sesuai dengan hatimu. Pilihlah jawaban yang setidaknya baik untuk masa depanmu.”

“Jika kau sudah menemukan jawabannya, maka teguhkan lah hatimu. Jangan mudah goyah karena sesuatu. Tetaplah pada pendirianmu. Dan..berbahagialah.”

.

.

Nasehat dari Jaeguk kemarin malam, membuat Haein kembali berpikir keras akan keputusan yang harus ia buat. Sedari tadi, ia hanya menopang dagunya menggunakan tangan kanannya, sedangkan tangan kirinya memutar-mutar penanya. Fokusnya berantakan. Tatapannya kosong. Bahkan, Jung songsaenim yang sedari tadi menjelaskan materi saat inipun tidak ia dengar sama sekali. Pikirannya kemana-mana saat ini.

Kemudian Haein menyenderkan punggungnya ke punggung kursi sekolahnya. Mencoba melupakan masalahnya sejenak dan mulai memerhatikan Jung songsaenim yang sedang menjelaskan materi.

Jaeguk yang melihat Haein terbengong–tadi–pun mengerti keadaan Haein saat ini. Jelas saja, pasti ia sedang memikirkan keputusan apa yang harus ia buat.

Ya, hari ini adalah hari Jaeguk pertama sekolah setelah ia pulang dari negeri sebelumnya. Ia sudah diperkenalkan sebagai murid baru tadi pagi. Dan tentu saja ia sekelas dengan Haein, mungkin agar ia bisa melindungi Haein. Mungkin.

 

KRIING

 

Bunyi bel yang menandakan waktu istirahat telah berbunyi. Jung songsaenim pun sadar bahwa waktu mengajarnya telah habis. “Baiklah, semuanya. Sudah mengerti kan penjelasan tentang anatomi tubuh pada manusia, bukan?”

“Iya, saem.”jawab murid kelas serempak. Membuat Jung saem yakin bahwa anak-anak ajarnya sudah mengerti. “Baiklah, sekian penjelasan dari saya. Terima kasih. Selamat beristirahat.”Jung saem menyudahi pertemuan dan keluar dari kelas.

Terdengar bunyi grasak-grusuk dari murid-murid kelas yang berbahagia–waktu istirahat tiba, saatnya mengisi perut!–.Termasuk Jinhee yang bangkit dari kursinya dan menoleh pada Haein, bermaksud mengajaknya untuk ke kantin bersama. “Haein-a, ayo ke kantin bersama!”ajak Jinhee antusias.

Haein mengangguk lesu, “tidak, Jinhee-ya. Aku sedang tidak nafsu. Maaf.”tolak Haein halus dan tersenyum, walaupun itu terpaksa. Jinhee yang mengerti pun dengan keadaan Haein, lantas ia duduk kembali dan membalikkan badannya berhadapan dengan Haein.

“Haein-a. Aku mengerti keadaanmu. Tetapi, kau juga harus mengisi perutmu, eoh?”Jinhee mengajak Haein dengan halus meskipun terkesan bertele-tele. Tetapi sekali lagi Haein menggeleng sebagai jawaban. “Maaf, Jinhee-ya. Aku benar-benar sedang tidak ingin.”tolak Haein kembali dengan halus. Disertai dengan senyuman yang menurut Haein meyakinkan Jinhee.

Jinhee pun menyerah, “Arra, Haein-a. Aku ke kantin dulu, ya?”pamit Jinhee kemudian berdiri dari duduknya. “Annyeong!“Jinhee pun berjalan menjauhi Haein dan menghilang dibalik pintu.

Senyuman Haein pun memudar, tergantikan dengan helaan nafas dari mulutnya. Tak lama kemudian, ia merasakan getaran dari saku blazer nya. Ah, ponselnya bergetar. Menandakan ada pesan masuk.

Haein pun merogoh ponsel-nya dari saku blazernya. Kemudian ia menggeser layar ponselnya dan mengetik kata kunci ponsel sampai terbuka. Ia menekan notifikasi pesannya dan membaca pesan tersebut.

 

From : Sehun

 

Berniat untuk pulang bersama?

 

Haein mengernyitkan dahinya. Bingung ingin menjawab apa. Ia pun celingak-celinguk mencari Jaeguk. Kali saja, Jaeguk berniat untuk memberi tumpangan pulang untuknya. Tetapi, yang dicari saja sudah tidak ada. Hanya tersisa beberapa anak yaitu Kim Jongdae, si kutu buku. Son Naeun, si rajin. Dan si ketua kelas Jangkung dari negeri panda beserta wakilnya, si kantung mata badai. Wu Yifan dan Huang Zi Tao. Hanya mereka yang tersisa di kelas.

Cih, bahkan Jaeguk meninggalkannya.

Ah, mungkin agar ia bisa berbaur dengan teman-teman barunya.

 

Kembali ia memfokuskan dirinya pada pesan dari Sehun dan menekan tanda reply.

 

To : Sehun

 

Jika kau tidak keberatan, oppa.

 

Ia menekan tanda send. Kemudian muncullah notif bahwa pesannya sudah terkirim kepada Sehun.

Ponselnya kembali bergetar, menandakan pesan telah masuk.

 

From : Sehun

 

Baiklah, pulang nanti aku tunggu kau di parkiran.

 

Sungguh, detak jantungnya diambang batas normal saat ini.

.

.

Jam pulang sekolahpun telah tiba. Semua murid sekolah itupun sudah berhamburan untuk pulang ke tempat tinggalnya masing-masing. Sementara Haein, masih sibuk berkutat dengan memasukkan buku-bukunya ke dalam tas.

Jaeguk yang masih melihat Haein di dalam kelas pun menghampirinya. “Haein-a, berniat untuk pulang bersama?”tawar Jaeguk santai, kedua tangannya ia masukkan ke dalam saku celananya.

Haein menoleh, dan mencebikkan bibirnya. “Kau telat, Joon Jaeguk.”balas Haein singkat. Jaeguk pun mengernyit tidak mengerti. “Apa maksudmu?”

Setelah Haein menutup resleting ransel miliknya dan memakai ranselnya, Haein menoleh pada Jaeguk. “Hhhh, Sehun tadi mengirimiku pesan. Ia mengajakku pulang bersama.”

Jaeguk mengaangguk-anggukan kepalanya mengerti. “Baiklah aku mengerti. Hey, mungkin saja ia memulai tahap pendekatan denganmu..sebagai pasangan suami-istri, nantinya.”timpal Jaeguk yang disusul kekehan kecil dari mulutnya.

Haein mendelik kesal, “belum, Jaeguk-a. Bahkan aku belum memberinya jawaban.”sahut Haein lesu. Ia kemudian berdiri dari duduknya. “Baiklah, ayo keluar bersama.”yang dibalas dengan anggukan kepala Jaeguk.

.

.

Setelah sampai digerbang sekolah, mata Haein tertuju pada mobil ferrari merah yang sudah ia ketahui siapa pemiliknya, Oh Sehun.

“Itu mobilnya.”Haein bersuara. Lalu ia menoleh pada Jaeguk, “Aku duluan. Dan kau, hati-hati dijalan.”pamit Haein, lalu ia tersenyum. Jaeguk hanya membalas Haein dengan anggukan dan disertai dengan senyuman, tentunya.

“Kau juga hati-hati, Haein-a.”

Haein mengangguk mengerti. “Arasseo. Nan galge.“Haein pun melangkahkan kakinya, menuju mobil ferarri merah yang sudah terparkir manis didekat gerbang sekolahnya.

Saat Haein sudah sampai didekat mobil, Sehun keluar dari mobilnya. Senyum canggungpun ia sunggingkan saat Haein menghampirinya. “Sudah menunggu lama, oppa?”tanya Haein, sekedar basa-basi.

“Ya, mungkin cukup lama.”jawab Sehun dengan kekehan kecil dibelakangnya. Tetapi Haein hanya memamerkan senyum simpul mendengarnya. Sehun yang melihatnya pun menyudahi basa-basi itu dan langsung mempersilahkan Haein masuk ke dalam mobilnya.

Saat keduanya sudah masuk kedalam mobil, atmosfer canggung pun menyelimuti mereka. Bahkan suasana canggung itu masih bertahan sampai setengah perjalanan. Saat itupun, Haein tersadar. Seharusnya tidak begini, tidak dengan suasana seperti ini.

Oppa.”panggil Haein tiba-tiba. Sehun pun menoleh sejenak, lalu kembali lagi fokus pada jalanan di depannya. “Wae?”

“Eum..”Haein bergumam sebentar sebelum melanjutkan obrolannya. “Apa..aku boleh.. bertanya sesuatu?”

Sehun menoleh sebentar pada Haein lalu kembali lagi ke jalanan. “Boleh. Ingin bertanya apa?”jawab Sehun santai. Sepertinya, bukan Sehun yang membuat suasana menjadi canggung. Tetapi kecanggungan berasal dari Haein yang terlihat sedikit grogi.

“Apa kau.. masih mencintai Haejin eonni?”Haein meremas ujung roknya dengan kuat. Takut-takut Sehun marah akan pertanyaan yang ia lontarkan kepadanya barusan.

Sehunpun tidak langsung menjawab. Ia menghembuskan nafasnya sejenak. “Entahlah. Mungkin aku masih mencintainya.”jawaban Sehun tidak membuat Haein kaget, karena Haein sudah tahu jawabannya. Tetapi cukup membuat hati Haein teriris.

Keundae..”Sehun menggantungkan kalimatnya. Haein langsung melepas cengkraman tangan pada roknya dan menengok ke arah Sehun. Menunggu jawaban yang terlontar dari mulut Sehun. “Rasanya masih sangat sakit ketika ia menolak lamaranku saat itu.”lanjutnya. “Aku sungguh tidak tahu apakah masih ada rasa untuknya atau tidak. Antara kecewa, sayang, sedih bercampur jadi satu.”lanjutnya lagi.

Haein mengerjapkan matanya pelan. Mencoba mencerna jawaban dari Sehun. Lalu, sebenarnya apa jawabannya?

“Jika kau masih penasaran apakah jawaban sebenarnya, maka menyerahlah. Aku sungguh tidak tahu apa yang kurasakan, saat ini.”sahut Sehun kemudian. Tepat apa yang dipikiran Haein saat ini. Ah, apakah Sehun mempunyai kekuatan cenayang?

“Lalu, jika aku menerima–Ehm. Lamaranmu kemarin. Ah maaf, aku tidak tahu apakah itu disebut lamaran atau tidak aku–”

“Anggap saja itu lamaran.”sahut Sehun yang menginterupsi Haein. Haein pun menoleh kaget pada Sehun. Dan Sehunpun menatap Haein juga. “Ah. maaf. Lanjutkan.”

Haein pun memalingkan wajahnya dari Sehun. Wajahnya sedikit menunduk. Debaran jantungnnya tidak dapat ia kontrol. Sejenak ia menguatkan dirinya sendiri. Memberikan dukungan pada dirinya sendiri bahwa ia pasti bisa menanyakannya pada Sehun.

“Ji-jika.. aku.. menerima lamaranmu kemarin, dan ketika kita.. ehm.. sudah menikah, apa..yang akan kau lakukan selanjutnya?”

Haein menyudahi pertanyaannya dengan gugup. Takut-takut Sehun geram akan pertanyaan–ehm–konyolnya itu, menurut Haein.

Tetapi, alih-alih ia geram terhadap pertanyaan Haein, justru Sehun malah menghentikan mobilnya lalu melepaskan seatbeltnya dan mencondongkan tubuhnya ke tubuh Haein. Membuat Haein mundur dan tubuhnya pun sudah mentok oleh pintu mobil. Sehingga membuat Sehun lebih leluasa menghimpit tubuh Haein.

Wajahnya ia dekatkan ke wajah Haein. Matanya menatap mata Haein lekat. Haein bisa merasakan hembusan nafas Sehun yang menerpa wajahnya. Haein menatap Sehun dengan takut-takut, tentunya.

Tetapi, justru Sehun malah tersenyum pada Haein. Dan menjawab pertanyaan Haein dengan tenang, tetapi tetap tersirat akan keseriusannya.

Aku.. akan belajar mencintaimu. Layaknya suami-istri pada umumnya, Son Haein.”

.

.

.

TBC

.

.

.

HAHAHAHAHA HAI~ YA ALLAH 6 BULAN AKU GAK LANJUTIN FIC INI HAHAHA MAAF.

Jujur ya, sebenrnya aku agak kecewa dengan feedback yang kalian berikan di Unpredictable Marriage yang EPILOG. melihat viewersnya cukup banyak tetapi feddback dari kalian yang.. astaga. TETAPI AKU MAKASIH SAMA KALIAN YANG UDAH KOMEN AW AW AW<3 tapi ya sebagai author yang vakum nulis hampir setaun, aku tetep ngerti kok. kalian jg pasti kecewa sama aku kan yayaya:(

 

oke back to topic.

 

maaf kalau ini pendek:( jeongmal jeongmal mianhaeyooo:( tapi jujur loh ini aku ngerjainnya 3hari 3 malem karna yaah jadwalku yang padet sebagai pelajar. PERGI SUNRISE PULANG SUNSET YHA:( pasti banyak kalian yg ngalamin ini kan? hihihi

dan maap kalo tulisanku ini makin lama makin amburadul:(

soal konflik? Hmmm hihihi mungkin ya mungkin. aku gakbakal nyelipin orang ketiga yg ngehancurin rumah tangga mereka(?) tetapi aku akan memunculkan konflik batin dari mereka sendiri. HIHIHIHIHI

vakum 6 bulan bukannya makin bagus malah makin ancurkan belom bisa nulis sesuai dengan kriteria EYD:( maaf.

Aku gak maksain kalian mau komen atau engga tapi aku mohon sama kalian hargai kami ya yang udah nulis capek2 ngorbanin waktu kami untuk memuaskan kalian walaupun tulisan kami mungkin berantakan dan fic kami kurang memuaskan:) terkadang feedback dari kalianlah yang membuat semangat author dari fic tersebut itu membuncah:) gak cuman aku ya tapi author yg lain:)

terima kasih buat yg udh mau baca foot note ini:)

 

Well, say hello to our Jaeguk!

Jaeguk ( 17 y.o)

Jaeguk ( 17 y.o)

36419cb03681c366133a0ac4c2c23bf0

OUR HAEIN^^

 

CVN46wwUwAE1pTu

Regards, Marshaaa

82 responses to “Married With Girl {Chapter 2}

  1. seru seru seru nih, penasaran lanjutannya 😉
    keep writing author nya, fighting! 😀
    ditunggu lanjutannya 🙂

  2. Gak kok eon masih nungguin ff ini aku, soalnya penasaran banget sama ceritanya, bagus eon, penasaran kelanjutannya nanti sehun sama haein giman terus yang jadi orang ketiganya apa haejin nanti eon? Penasaran banget
    Cepet dilanjut ya eon dan di panjangin lagi 😄

Leave a Reply to byunbek Cancel reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s