Breakfast by cedarpie24

Breakfast

Breakfast

.

a fanfiction by cedarpie24

.

Oh Sehun x Son Dahye

Slight!Kang Hyena

Fluff || PG || 1800w

.

I just own the storyline and original-chara

.

Jadi kuperingatkan, jangan terlalu puas dengan apa yang kau punya sekarang.

.

Read this too~

Overprotective ♠ Call Me Oppa ♠

Worry ♠ About Physic and Jealousy ♠

High Heels ♠ His New Neighbour ♠

Just The Way You Are ♠ Broken ♠

Redo—First Part ♠ Redo—Second Part ♠

.

Well, happy reading and hope you like it, leave a comment please^^

—the Story is begin..

“Semangatmu besar juga, rupanya.”

Sehun menukas sambil tersenyum lebar, memperhatikan Dahye yang berdiri memunggunginya di counter dapur sementara ia sendiri duduk di meja makan. Pagi-pagi sekali Dahye telah datang ke apartemennya, perempuan itu menatap Sehun dengan mata berbinar sambil berkata bahwa ia telah belajar memasak dari Naeun dan siap mempraktekannya pada Sehun. Maksudnya Dahye ingin membuatkan Sehun masakan istimewa. Maka Sehun membiarkan Dahye menguasai dapur mungilnya sambil merapal doa semoga pacarnya ini takan meledakan seisi apartemennya hanya dengan menyentuh kompor.

Diam-diam Sehun mengulas senyuman kecil memperhatikan bagaimana Dahye berkutat dengan segala macam alat masaknya. Sehun kenal betul Dahye, perempuan ini tak pernah punya hubungan baik dengan segala sesuatu yang berbau ‘dapur’. Sebenarnya Sehun sama sekali tak mempermasalahkannya, begitu pula dengan Dahye sendiri. Namun sejak Hyena masuk ke dalam frame kehidupan mereka, kelihatannya Dahye tak bisa tinggal diam lagi. Perempuan itu kalang kabut mengetahui kemampuan memasak Hyena yang mutakhir. Ia tak mungkin membiarkan Hyena menang darinya, maka dengan segala jerih payah, Dahye berusaha membuat tangannya mahir mengolah masakan.

Sehun senang-senang saja. Apalagi dengan begini ia bisa memperhatikan punggung Dahye dengan tenang. Melihat perempuan ini memasak khusus untuknya, membuat semacam perasaan berbunga menyelinap ke hati Sehun.

“Masak apa sih, Hye?”Sehun bertanya, kali ini sambil berjalan menghampiri Dahye di depan kompor.

Dahye diam tak menjawab. Ia kelewat serius mengaduk nasi gorengnya. Namun ketika merasakan sepasang lengan familier melingkari pinggangnya, sekujur tubuh Dahye seketika membeku. Dahye tahu betul sepasang lengan ini milik Sehun. Jantungnya menderu cepat, memompa aliran darahnya hingga ke pipi. Belum lagi ketika Sehun menyandarkan dagunya ke bahu Dahye, hingga pipi pemuda itu bersentuhan dengan pipi Dahye yang memanas. Hembusan napas Sehun terasa begitu dekat, Dahye bahkan bisa dengan jelas mencium harum sabun yang Sehun gunakan.

“Hun…”Dahye berujar susah payah. Tidak mudah bicara dengan seseorang memelukmu dari belakang.”aku… aku sedang masak.”

“Hmm, aku tahu.”Sehun balas bergumam, mengeratkan pelukannya pada pinggang Dahye.”Lanjutkan saja memasaknya. Aku hanya ingin berada lebih dekat denganmu. Memangnya tidak boleh?”

Tidak. Tidak boleh. Mana bisa seseorang yang sedang masak diganggu begini.

Harusnya Dahye berkata begitu. Tapi lidahnya terasa kelu dan bibirnya pun terkatup rapat. Ia tak mampu mengatakan apa pun dengan jantungnya yang berdebar ratusan kali lebih cepat. Tangannya bahkan terasa kebas hingga Dahye tak bisa menggerakannya untuk mengaduk nasi gorengnya.

“Yah—Dahye-ya, kenapa diam? Masakanmu bisa gosong, tahu.”Sehun menukas pelan.”Kau butuh bantuanku?”

Dan sebelum Dahye sempat menjawab, Sehun telah lebih dulu mendaratkan tangan kanannya di atas tangan Dahye yang menggenggam spatula, menggenggam tangan perempuan itu lantas menggerakannya mengaduk nasi goreng di wajan. Wajah Dahye yang memang sudah merona akibat back-hug Sehun, kini semakin memerah. Mungkin pipinya sudah lebih panas dari wajan.

Berpikir jantungnya bisa meledak jika hal ini diteruskan, Dahye cepat-cepat menyentak lepas tangan Sehun lalu dalam sekali gerakan membalik badannya hingga kini ia berhadapan dengan si pelaku yang membuat jantungnya bekerja maraton. Sehun jelas tersentak kaget mendapati tingkah dadakan Dahye. Apalagi melihat bagaimana kedua mata perempuan itu memicing tajam, meski rona kemerahan di pipinya sama sekali tak bisa disembunyikan.

Menyilangkan kedua lengannya di depan dada, Dahye berujar ketus.”Aku sedang membuat sarapan untukmu, Sehun. Bisa tidak, jangan mengganggu sebentar? Kau tahu ini pengalaman pertamaku memasak di dapurmu, harusnya kau menghargaiku.”

Sebelah alis Sehun berjingkat mendengar ini. Perlahan ia meletakan masing-masing lengannya di counter tepat di samping tubuh Dahye, hingga perempuan itu kini terkunci olehnya.

“Mengganggu? Memangnya aku mengganggumu?”Sehun bertanya dengan raut jenaka.”Beri tahu aku bagian mana yang kau pikir mengganggu itu.”

Kedua mata Dahye mengerjap cepat setelahnya. Tidak mungkin kan, ia bilang bahwa pelukan Sehun, sentuhan Sehun di tangannya telah membuat jantungnya berdebar tidak karuan—dan itu semua jelas sangat mengganggu. Tapi Sehun tidak akan mengerti. Pacarnya ini pasti akan berbalik menggodanya, dan Dahye tidak mau hal itu sampai terjadi.

“K-kau… kau…”Dahye mencoba menyusun kalimat, namun kepalanya terasa kosong, dan yang bisa dipikirkannya hanya pelukan Sehun tadi—karena memang itu yang mengganggunya!

“Aku kenapa?”Sehun mengulang, kali ini dengan seulas senyum jahil bermain di wajah tampannya.

“Kau…”dan ia benar-benar tak bisa memikirkan alasan lain.”pokoknya kau sangat mengganggu acara masakku! Sekarang juga jauh-jauh dariku kalau ingin sarapanmu cepat selesai!”

“Jadi kau tidak suka aku dekat-dekat denganmu, hm?”

Bukannya mengikuti perkataan Dahye, Sehun justru semakin merapat, mengeliminasi jarak kecil diantara mereka. Dahye meneguk salivanya susah payah begitu menyadari keduanya berdiri dalam jarak yang begitu dekat. Pikirannya melayang kemana-mana, menduga mungkin Sehun akan macam-macam. Kedua mata Dahye semakin melebar memperhatikan wajah Sehun yang kini semakin mendekat padanya. Ketika wajah mereka hanya berjarak seinci saja, Sehun menghentikan seluruh gerakannya. Ia memperhatikan Dahye sebentar sebelum akhirnya seringai tipis mengembang di wajahnya, senang sendiri melihat bagaimana merahnya wajah Dahye sekarang. Dan tepat ketika Dahye pikir Sehun benar-benar akan macam-macam padanya, pemuda itu justru mengulurkan sebelah tangannya untuk mematikan kompor di belakang Dahye.

“Kubilang juga apa, nasi gorengnya bisa gosong.”

Sehun berbisik, mengirimi Dahye kedipan nakal sebelum akhirnya menjauh dan berdiri dalam batas wajar dengan Dahye, sekaligus memberi ruang bagi perempuan itu untuk bernapas lega.

Jadi Sehun hanya ingin mematikan kompor… kenapa harus banyak tingkah seperti itu sih! Jantungnya kan jadi bekerja di luar batas. Dahye membatin kesal.

Sambil terkekeh Sehun memperhatikan Dahye. Tak habis pikir kenapa wajahnya bisa semerah itu.

“Hye, ada apa dengan pipimu?”Sehun bertanya usil.”Kau demam?”

“Demam dengkulmu.”cibir Dahye kesal sementara Sehun menyambutnya dengan gelak tawa. Sehun jelas paham alasan di balik pipi meronanya.

Dahye bergegas membalik tubuhnya menghadap kompor lagi, bermaksud menyembunyikan wajahnya yang sudah menyaingi penggorengan. Ketika itu pula Dahye mengesah kecewa, menemukan nasi gorengnya yang semula berwarna keemasan telah bertransformasi menjadi nasi berwarna gelap. Gosong. Sialan, Sehun benar. Nasi goreng maha karyanya gosong tak terselamatkan.

“Aish, bagaimana ini…”Dahye bergumam kecewa. Padahal ia sengaja belajar pada Naeun eonninya. Ia sengaja ingin membuatkan Sehun sarapan spesial–tidak benar-benar spesial sih, mengingat ini hanya sepiring nasi goreng. Dan sekarang nasi gorengnya malah gosong.

Sehun bergerak mengintip wajah Dahye. Ketika menemukan raut kecewa terpeta di sana dengan cepat kebahagiannya menguap.

“Hei, jangan sedih begitu.”Sehun berujar menenangkan.”Kau tahu, aku akan makan nasi goreng ini kalau itu bisa membuatmu tidak sedih lagi.”

Dahye mengesah kecil sambil mendorong kening Sehun pelan.”Kau gila, ya? Mana mungkin aku membiarkanmu makan makanan seperti ini.”

“Memangnya kenapa? Asal muka sedihmu itu hilang, aku rela melakukan apa pun.”Sehun menyahut ringan, tangannya bergerak mengusap keningnya yang tadi didorong Dahye.

“Ck. Aku tidak mau menemukan pacarku mati muda hanya karena makan nasi goreng gosongku, oke?”Dahye berujar, dengan gesit memindahkan nasi goreng yang telah susah payah dibuatnya ke atas piring, kemudian bergumam.”Aku akan membuangnya nanti.”

“Hye, tapi aku lapar.”Sehun mencolek bahu Dahye, sebisa mungkin memasang tampang menyedihkan.

[][][]

Tempat makan mana yang sudah buka di waktu sepagi ini? Nyaris tidak ada, kecuali kedai kopi Paman Jang. Letaknya hanya dua blok dari apartemen Sehun, membuat tempat ini menjadi alternatif bagi perut keroncongan Sehun. Agak menyedihkan memang, niatan awal sarapan dengan nasi goreng buatan Dahye, pada akhirnya Sehun harus puas dengan makanan yang dijual di tempat ini.

Setelah memesan dua cangkir cokelat hangat dan dua porsi roti keju, Dahye menepuk pundak Sehun kemudian berkata bahwa ia ingin ke toilet. Panggilan alam. Bergegas menyusun langkahnya ke toilet, Dahye sama sekali tak menyadari sepasang kaki mengikutinya dari belakang. Tanpa curiga ia memasuki salah satu bilik dan menyelesaikan kebutuhannya di sana.

“Leganya,”Dahye mengesah begitu ia keluar dari bilik. Namun pemandangan selanjutnya justru membuat kedua alisnya berjingkat tinggi. Di depan wastafel, Kang Hyena tengah mencuci kedua tangannya sementara matanya menatap Dahye tajam lewat cermin.

Dalam diam Dahye berdiri di samping Hyena, ikut mencuci tangannya. Sejenak keduanya diam tak bicara, meski Dahye tahu ada begitu banyak yang ingin ia katakan pada perempuan ini. Namun sebelum Dahye sempat mengatakan sepatah kata pun, Hyena telah lebih dulu membuka suara.

“Jadi… kalian telah kembali bersatu?”

Suaranya begitu lugas dan hati-hati. Hyena menundukan kepalanya, berkonsentrasi pada jari jemarinya yang dicat biru cerah.

Dahye menelengkan kepala lantas bergerak mengeringkan tangannya. Sengaja mengulur waktu menjawab pertanyaan Hyena tadi. Ia kemudian menatap Hyena lurus-lurus.

“Kembali bersatu, apanya?” Dahye memulai. Senyuman asimetris mengembang perlahan di wajahnya.”Sejak awal kami tak pernah berpisah. Kau tahu, Sehun terlalu mencintaiku. Dia tak mungkin rela melepaskanku hanya karena trik murahanmu.”

Dahye tahu ia kedengaran sesumbar, tapi rasa jengkelnya pada Hyena sudah tak tertahankan lagi. Perlahan Hyena mendongak menatap Dahye langsung. Dahye tak mengerti namun ada sesuatu dalam sorot Hyena yang tak bisa diartikannya. Mungkin antara sakit hati juga kesal.

Cih. Bagaimana bisa Hyena menatap Dahye begitu? Seharusnya ia masih bersyukur Dahye tak mencakar-cakar wajahnya, mengingat apa yang telah Hyena lakukan pada hubungannya dengan Sehun.

“Dengar, Son Dahye, kau boleh sombong sekarang. Tapi hati-hati, aku bisa merebut Sehun darimu secepat mungkin.”ia berhenti sejenak untuk memperbaiki tatanan rambutnya.”Jadi kuperingatkan, jangan terlalu puas dengan apa yang kau punya sekarang.”

Setelahnya Hyena berlalu dari hadapan Dahye. Meninggalkan Dahye yang mengerjap-ngerjap terkejut. Apa yang dikatakan Hyena tadi? Jadi perempuan itu belum menyerah juga? Yang benar saja!

Dahye bergegas keluar dari toilet dengan kepala dipenuhi perkataan Hyena. Ia masih tak percaya dengan apa yang didengarnya. Meski begitu sedikit rasa cemas mulai menggelayutinya. Entah mengapa ucapan Hyena tadi kedengaran… serius. Seolah perempuan itu benar-benar bertekad mengambil Sehun darinya…

“Hei, Dahye-ya, kenapa lama sekali?”

Lamunan Dahye terhenti begitu Sehun menyentuh lengannya.

“Kau baik-baik saja? Wajahmu agak pucat.”Sehun berujar khawatir, tangannya bergerak menyentuh kening Dahye.

Dahye menatap Sehun sejenak. Haruskah ia mengatakan ancaman Hyena tadi pada Sehun? Ah, tidak. Sehun mungkin hanya akan menertawainya karena ia menganggap ancaman Hyena terlalu serius. Benar. Lebih baik Dahye menyimpan sendiri pertemuannya tadi dengan Hyena.

“Yah—kenapa melamun?”

“Sehun, dengar, tempo hari di bus kau memintaku berjanji untuk tetap di sisimu, ‘kan?”Dahye tahu-tahu menukas, membuat Sehun sedikit tersentak.”Kalau sesuatu terjadi di antara kita, kau tidak akan melepaskanku, ‘kan? Kau akan membuatku menepati janji untuk tetap di sisimu, ‘kan? Iya, ‘kan, Hun?”

Sejenak Sehun menatap Dahye bingung, agak tak mengerti kenapa Dahye mendadak mengangkat topik ini.”Hye, ada apa? Katakan padaku, apa sesuatu telah mengganggumu?”

Dahye menggeleng cepat, kemudian balas menatap Sehun menuntut.”Katakan saja iya, Sehun! Katakan kau tidak akan melepaskanku, katakan kau akan tetap di sisiku apa pun yang terjadi—sama seperti apa yang akan kulakukan!”

“Hei, hei, Dahye-ya,”Sehun meraih kedua lengan Dahye, berusaha menenangkan Dahye yang tiba-tiba saja tak terkendali.”Kau tak perlu mencemaskan hal seperti itu. Tanpa perlu kukatakan langsung kau tahu pasti aku tidak akan meninggalkanmu. Tapi jika kau memang ingin mendengarnya—iya, Dahye-ya, aku tidak akan pernah melepaskanmu, dan aku akan tetap di sisimu apa pun yang terjadi.”setelahnya ia tersenyum begitu lembut.”Kau dengar itu? Aku, tidak akan melepaskanmu.”

Dahye tak tahu kenapa perkataan Hyena masih saja menghantuinya. Meski setelah mendengar Sehun berjanji begitu, ia tetap tak bisa mengusir rasa cemasnya. Dahye kemudian mengembuskan napas dan berujar.”Bagaimana membuatku percaya kau tidak akan meninggalkanku?”

Mendengar ini membuat Sehun mengerucutkan bibirnya, suaranya nyaris merajuk.”Kau tidak percaya padaku?”

“Bukan begitu.”Dahye mengesah, mengusap kepalanya lelah.

Sehun mendecak kecil kemudian mengusak kepala Dahye beberapa kali. “Yah—Dahye-ya, aku tidak tahu apa yang membuatmu begini. Tapi percaya padaku, aku tak pernah main-main dengan perkataanku. Menurutmu bagaimana mungkin aku meninggalkan perempuan yang begitu kusayangi?”ia menatap Dahye sebentar kemudian menambahkan.”Aku bahkan rela makan nasi goreng gosongmu, kalau itu bisa membuatmu percaya.”

Perlahan Dahye tertawa kecil. Yah, mungkin ia memang harus mempercayai Sehun. Sehun tidak akan meninggalkannya dan ia akan tetap bertahan di sampingnya.

Sesederhana itu.

Iya, Dahye harap segalanya bisa sesederhana itu untuk seterusnya.

FIN

58 responses to “Breakfast by cedarpie24

  1. Kok jadi berasa serem gitu ya hyenanya………. Aku aja jd kepikiran terus, semoga aja kedepannya ga bakal ada apa2 . lagian jg udh cukup bgt masalah yg kemarin2 nimpa mereka 😦 akuuu sedihhhhh😢😢 bikin mereka happy lg kaya duluuuu huhuhuhu. Semangaaat terus unnie💕

  2. Koq kyanya aku ketinggalan belom baca yg iniii 😥 huhuhu
    Wuihh dahye berjuang bgt ini mah demi sehunn, ini malah digangguin sehun ckck tp so sweet bgt deh aww :3
    Ihh hyena ganggu aja dehhh ish, tp bener deh aku aja agak gmn gitu ama anceman nya, secara dia orgnya kya agak nekat gtu ckckck hyena mesti dijodohin nih kyanya hmm…
    Tp dahye jgn raguiin sehun deh hihihii
    Aaaa nunggu bgt kelanjutannya kaa :3 *wink”

  3. Batu nih Hyena-_- ketauan dah gada harapan lg kalo ngejar Sehun tp masihh aja nglakuin kek gitu
    Hihihiii Sehun dah serasa punya istri, maen peluk aja wkwk

  4. Parah kali sikap hyena .
    Tuh org dah ketwrlaluan .
    Oh sehun~~ aiss dia rmantis kaleee
    Ngiriiii bener liat mereka .
    Tpi aku suka sma mereka berdua.
    Cauple yg serasi

  5. Tuh kan Hyena emg mnta diceburin k empang, dikubur idup” tuh enak.a
    Dahye-ya kau hrs tetap waspada
    Adakah lanjutan.a setelah breakfast?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s