THE BETWEEN SPACE! – by APPLYO

between-poster-art-exoffi.png

THE BETWEEN SPACE!

Author : Applyo

Cast    : Yoon Ji Hyun – Kim Jongin

Genre  : Romance, Drama, Songfic

Rated  : PG-15

Inspirated by   : iKon – Apology

You always waited for me
At the same place as always but
I was gone I was gone

Ji Hyun terus menerus menarikan jari-jarinya di atas papan keyboard, matanya menatap layar komputer dan beberapa lembar naskah di sampingnya dengan bergantian. Dia amat teliti mengeja satu persatu huruf yang ada disana. Tak ada satu katapun yang ia lewatkan dari lembaran kertas putih itu. Mata yang dibalut kaca mata hitam berbingkai bulat itu sudah berkedut menghitam—nampak jelas dia tengah mengantuk.

Suhu udara kota Seoul hampir menyentuh titik terbeku malam ini, sejak dua hari yang lalu salju terus melanda. Ji Hyun mengintip dari celah-celah kecil jendela ruangannya, sepertinya salju belum menampakkan tanda-tanda untuk berhenti. Bahkan ramalan cuaca di media sosial menyebutkan bahwa iklim buruk akan terus terjadi untuk dua hari mendatang. Ji Hyun tidak bisa mengira apa lagi yang lebih mengerikan dari ini. Terus menerus terkurung di dalam apartemen tanpa bisa keluar untuk melakukan aktivitas apapun.

Ji Hyun menghela napas dan menghentikan aktivitas mengetiknya. Ia sedikit bersandar lalu meneguk segelas coffee di mejanya yang sudah dingin, entah sejak kapan coffee itu ia buat hingga rasanya menjadi sedingin es. Entahlah wanita itu sendiri tak terlalu mempermasalahkan minuman bercafein itu sekarang, yang ia permasalahkan adalah naskahnya dan juga cuaca yang amat buruk.

Cuaca kota Seoul yang kacau, suhu dingin yang hampir membekukan otaknya dan pekerjaannya yang menumpuk tanpa sempat ia keluar apartemen. Ji Hyun baru saja akan mengeluh tapi tiba-tiba sepasang tangan hangat memeluk lehernya dari belakang. Ji Hyun bisa merasakan deru napas yang hangat itu di lehernya, dagu yang bersandar di pundaknya dan dari sudut matanya ia bisa mengetahui siapa orang itu.

“Kapan kau akan mulai tidur?” suara itu terdengar serak khas orang yang baru saja bangun dari tidur. Ji Hyun menoleh dan menemukan wajah kusut Jongin yang mengantuk di bahunya.

Wanita itu tersenyum. “Kenapa kau terbangun? Apa badai salju mulai menggangumu lagi?”

“Bukan badai tapi.. kau?” jawab Jongin malas.

Ji Hyun mencubit tangan Jongin pelan yang menjuntai ke lehernya. “Kenapa aku?”

Jongin menguap, kemudian menutup mata dan mengendus leher Ji Hyun dengan hidungnya. “Ini sudah jam dua tengah malam. Tapi kau masih belum tidur juga.”

“Naskahku belum selesai, sayang. Jadi aku harus menyelsaikannya lebih dulu?”

“Kenapa harus?”

“Karena aku butuh uang untuk hidup.”

Jongin menyembunyikan wajahnya di tengkuk Ji Hyun. “Tapi aku punya uang untukmu,”

“Aku tak ingin selalu mengandalkanmu, sayang

“Tapi kau adalah tanggunganku, Ji Hyun” Jongin menggeleng dan semakin mempererat pelukannya di leher gadis itu. “Aku akan menghidupimu.”

Ji Hyun mendesah, kemudian melepas pelukan tangan Jongin di lehernya dan menatap Jongin dengan pandangan malas. “Aku tahu orangtuamu adalah orang kaya, bahkan kau bisa membeli semua barang yang kau inginkan. Lalu aku? aku hanya seorang gadis yatim piatu yang hidup sebagai penulis naskah drama. Dan aku benci jika orangtua mu masih berpikir bahwa aku benar-benar gadis matre yang hanya ingin memeras uangmu.”

“Aku tahu. Tapi mereka salah mengenalmu.”

“Jong…”

“Jangan membahas lagi ini. Ayo kita tidur dan lanjutkan pekerjaanmu besok.”

Ji Hyun menggeleng kecil. Lalu berdiri dari kursinya dan menatap Jongin lembut. “Aku janji akan tidur sebentar lagi.” Wanita itu berjinjit lalu mengecup bibir Jongin singkat. “Kembalilah ke tempat tidur. Dan aku akan menyusulmu.”

“Yoon Ji Hyun. Kenapa kau begitu keras kepala?” Jongin mempoutkan bibirnya. Amat lucu seperti anak kecil yang meminta uang jajan dari ibunya.

Ji Hyun menahan senyumnya melihat Jongin. “Jonginieee—kumohon.” Ia beraegyo secute mungkin, membujuk Jongin dengan cara andalannya.

Jongin berdecak, menatap Ji Hyun sejenak  dan ia memilih mengalah lalu  kembali ke kamarnya. Meninggalkan wanita itu di ruang kerjanya dengan perasaan yang masih kesal. Sepeninggalan Jongin, Ji Hyun kembali melanjutkan pekerjaannya. Mengetik naskah itu secepat yang ia bisa. Ia tak mau jika orang yang ia cintai akan menghawatirkannya lagi.

You always knew that
I’m a selfish kind of guy
I guess I felt burdened
By you when you were just asking for the slightest of attention
Without even leaving a single photo
like everyone else takes
Until the very last moment We only think of me

Keesokan paginya, Jongin terbangun dengan perasaan kesal. Saat matanya terbuka yang pertama kali ia lihat adalah tempat tidur di sampingnya kosong—tak ada Ji Hyun disana. Buru-buru Jongin berselingut dari ranjang lalu berjalan ke arah ruang kerja Ji Hyun, dan saat pintu terbuka ternyata tebakannya benar—Ji Hyun tertidur di sana tadi malam.

Wanita cantik berambut hitam itu menutup matanya amat rapat, bahkan ia lupa melepaskan kaca matanya sendiri. Ia begitu terlelap. Jongin yakin kalau Ji Hyun memang tak sengaja tertidur disini.

‘’Dasar keras kepala.’’ Ujar Jongin seraya berjongkok tepat di depan wajah Ji Hyun, pemuda itu mengulurkan tangannya lalu menyibak beberapa helaian anak rambut yang menutup wajah Ji Hyun.

Wajah Ji Hyun amat cute saat tertidur, membuat Jongin ingin berlama-lama menatap wajah itu tanpa berkedip dari tempatnya sekarang. Pemuda itu terus menyerapahkan pujian untuk Ji Hyun. Amat sangat beruntung menjadi pria yang bisa terus di samping Ji Hyun, menjaga gadis itu dan menompang hidupnya yang sudah berat.

Tadinya Jongin berniat untuk segera memindahkan tubuh Ji Hyun ke kamar agar gadis itu bisa beristirahat lebih nyaman setelah mengetik naskah semalaman tapi tanpa diduga Ji Hyun membuka matanya dan langsung menatap Jongin.

‘’Aku ketiduran disini.’’ Ji Hyun membuka suaranya, terdengar amat serak di telinga Jongin. Wanita itu masih sedikit mengantuk dan ia hanya mengosok-gosokan kedua tangannya pada mata.

“Kau sakit?” Jongin kembali mengulurkan tangannya lalu meninggalkan telepak tangannya di dahi Ji Hyun. Memeriksa suhu tubuh Ji Hyun dengan cara klasik.

Ji Hyun menggeleng. “Tidak”

“Ayo kita ke dokter. Wajahmu amat pucat sayang

“Tapi aku baik-baik saja, Jongin”

“Em, kau selalu begitu keras kepala.” Jongin memutar bola matanya malas lalu menarik diri dan duduk di sebuah sofa. Moodnya mendadak menjadi buruk.

“Kenapa kau begitu pemaksa?” Ji Hyun ikut mendudukan dirinya di samping Jongin dan memeluk pemuda itu dari samping. Gadis itu mencoba membuat mood Jongin kembali. Setidaknya ia tahu diri bahwa ia memang keras kepala.

‘’Bukan begitu Ji Hyun, aku hanya benci kau seperti ini. Mengabaikan kondisimu sendiri saat ini. Lalu bagaimana kalau kau sakit dan aku tidak ada?” Jongin berbicara tegas, terlalu khawatir akan kondisi Ji Hyun.

‘’Aku tidak bodoh dan aku akan menjaga tubuh sexy ini untukmu, Jongin-ssi.” Ji Hyun terkikik kecil lalu mengapit tangan Jongin erat. Menyandarkan kepalanya di dada hangat Jongin. Dia suka bermanja-manja seperti ini.

“Kau harus janji untuk menjaga kesehatanmu Ji Hyun.” Jongin balas memeluk Ji Hyun erat dan membiarkan dagunya berpaku pada puncak kepala Ji Hyun. Ia amat suka posisi seperti ini, posisi dimana ia bisa mencium aroma rambut gadis itu setiap waktunya.

Ji Hyun menutup matanya rapat, “Kau juga.”

“Hmm..” Jongin menggumam lalu menarik tubuh Ji Hyun mendekat dan bersandar di dadanya. Ia membiarkan wanita itu mendengar detak jantungnya yang selalu berpacu cepat.

“Aku amat mencintaimu.” bisik Ji Hyun pelan dan semakin erat memeluk Jongin.

Jongin mendesah dan mengendus aroma rambut Ji Hyun dalam-dalam, mencoba merakam wangi rambut itu di paru-parunya, agar suatu saat ketika dia rindu wanita itu ia akan ingat wangi rambutnya. Jongin tidak tahu bahwa kegiatan faforitenya kini berubah menjadi mengendus rambut Ji Hyun di pagi hari—tapi ia amat menyukainya.

Kehidupan Jongin berubah sejak tiga tahun yang lalu, sejak ia bertemu dengan Ji Hyun di sebuah kelas seni. Mulai saat itu ia jatuh cinta pada gadis yang mencuri first sligt nya itu. Dan kehidupan itu berlangsung hingga sekarang. Mereka tinggal di satu apartemen yang sama, berbagi selimut yang sama setiap harinya dan melihat orang yang sama setiap kali terbangun di pagi hari. Mereka melupakan kehidupan luar dan status sosial.

“Aku juga.” ujar Jongin setengah berbisik, karena ia tahu Ji Hyun pasti akan tertidur lagi di pelukannya. Ini masih terlalu pagi untuk bangun.

Diam-diam Jongin tertawa, memikirkan perdebatan singkat mereka berdua setiap hari; Ji Hyun yang keras kepala dan Jongin yang amat pemaksa—Keduanya begitu bertentangan tapi itu semua bukan masalah bagi Jongin ataupun Ji Hyun. Mereka hanya berpikir bahwa sifat dari masing-masing akan mampu membuat sebuah hubungan menjadi lebih harmonis dan saling melengkapi satu sama lain.

And I hope I’m just one of the many people in your life
That comes and goes
I hope that as the tears and cherry blossoms fall
There will be new life sprouting from them and
I hope our memories are short and beautiful

“Kau gugup?” Jongin bertanya di sela-sela kegiatannya mengemudi. Sekilas ia melirik Ji Hyun yang duduk disampingnya dengan tangan gemetar.

“Amat gugup. Aku takut produser Jung akan menolak naskah ku.” Ji Hyun tertunduk, menatap lembaran-lembaran hvs itu di book file nya.

“Percayalah, dia akan menerimanya.” Sergah Jongin menyamangati.

Ji Hyun hanya menganguk kecil. “Semoga saja dia lupa tanggal deadline nya”.

“Hmm..” Jongin menggumam sebagai jawaban dan ia kembali fokus pada jalanan. Membiarkan keheningan dan kegugupan itu menyelubungi isi mobilnya. Selama beberapa saat keduanya terdiam, bahkan Jongin yang biasanya selalu banyak bertanya kini hanya termenung—dan Ji Hyun tak tahu alasan kenapa Jongin termenung.

Mobil Audi hitam Jongin berhenti tepat di pelataran sebuah gedung, Jongin mematikan mesin mobilnya. Ji Hyun yang sedari terdiam kini baru sadar bahwa tempat tujuan mereka sudah tiba. Gadis itu buru-buru memasukan handphonenya kedalam tas dan bersiap untuk turun, tapi Jongin mencegahnya.

“Ji Hyun. Jika naskah itu diterima, bisakah kita pergi jalan-jalan bersama hari ini sebagai perayaan?”

Ji Hyun menatap Jongin dengan alis terangkat. “Jalan-jalan?”

Jongin tertawa canggung dan menggaruk tengkuknya “Anggap saja sebagai hadiah untukku hari ini.”

Wanita itu memutar matanya dan menganguk setuju sebagai jawaban. “Baik. Doakan aku ya sayang.” ujarnya lalu membuka pintu mobil Jongin dan berjalan kearah gedung.

Jongin hanya tersenyum ditempatnya. Dan di dalam hati ia berdoa banyak untuk Ji Hyun. Berharap naskah drama Ji Hyun benar-benar di terima oleh sang produser.

Sebenarnya tak banyak yang Jongin kerjakan setiap harinya, dia hanya seorang guru les tari ballet di hari sabtu dan minggu sedangkan hari lainnya ia luangkan untuk mengantar Ji Hyun bekerja atau bermalas-malasan di apartemen Ji Hyun. Seperti yang Ji Hyun sebut sebelumnya bahwa Jongin terlahir sebagai orang kaya jadi tak ada masalah kalau pun Jongin tak bekerja, ia masih memiliki uang dari orangtuanya.

Sambil menunggu, Jongin melihat di atas kaca mobilnya butiran salju melayang, menandakan bahwa udara kota Seoul sedang tidak baik-baik saja. Seperti beberapa hari yang lalu hujan salju tak kunjung berhenti selama 3 hari berturut-turut, jadi semoga hari ini cuaca bisa berpihak kepada Jongin karena ada sesuatu yang ia rencanakan.

Just like the sunset, and I hope
All of these things are able to
Push at your slender back with good nature
Even though you still haven’t been able to take your feet off the ground

Sorry sorry
I’m sorry I couldn’t protect you. I hope you’ll be well
Sorry sorry I hope you forget me as well
Although it hurts

That promise we made to be together forever
No longer exists
I’m sorry I couldn’t keep it

I’m sorry I couldn’t protect you
I’m sorry that I’m not enough
That until the very end I only show you such a small part of me yeah

Hari itu juga Jongin dan Ji Hyun pergi berjalan-jalan sesuai dengan rencana Jongin, mereka melakukan perayaan kecil-kecilan dengan makan daging panggang dan minum wine di sebuah restaurant mewah.

Sesuai janji, Ji Hyun mentraktir semua makanan itu untuk Jongin sebagai perayaan bahwa naskah drama nya sukses di terima oleh produser dan kabar lebih bahagianya lagi adalah naskah drama itu akan segera di syutingkan—itu membuatnya begitu terhormat dan bahagia.

Setelah selesai makan, Jongin mengajak Ji Hyun untuk berfoto di ponselnya lalu mengupload foto itu di sns mereka berdua sebagai bentuk bahwa hubungan mereka baik-baik saja dan malah semakin harmonis—jujur saja banyak orang mengunjang-ganjing hubungan mereka berdua. Mengingat pekerjaan Jongin sebagai seorang publik figur penari dulunya, tapi famour pemuda itu masih sangat tinggi di kalangan publik bahkan sejak scandal tentang percintaaan dengan Ji Hyun muncul ke media dia masih memiliki banyak fans di luaran sana.

Selesai berfoto mereka memutuskan untuk pulang ke apartemen Ji Hyun. Di perjalanan pulang, Jongin dan Ji Hyun tidak banyak bicara, hanya diam dan membiarkan lalu-lalang oksigen mengisi kebisuan percakapan mereka. Seperti halnya tadi pagi, Jongin hanya memilih diam.

“Jongin, ada apa?”

Ji Hyun menangkap banyak hal aneh pada diri Jongin hari ini. Dia tidak banyak bicara atau merajuk seperti biasanya lalu secara tiba-tiba mengajaknya jalan-jalan dan berfoto lalu menguploadnya ke sns—jujur saja Jongin bukan orang yang suka hal-hal seperti itu. Setelah tiga tahun menghabiskan waktu bersama, setidaknya Ji Hyun tahu bagaimana sifat Jongin. Pemuda itu bukan orang yang suka kebisuan seperti ini kecuali jika dia tengah marah.

“Emm” Jongin hanya menggumam, tak menoleh setidikit pun.

“Ada apa denganmu?” Ji Hyun mengulang pertanyaan yang sama.

Detik berikutnya Jongin tiba-tiba menepikan mobilnya lalu mematikan mesin mobilnya di depan sebuah halte bus sepi. Jongin menghela napas sebelum kemudian menatap butiran salju yang turun di atas kaca mobilnya, Pemuda itu menoleh dan tersenyum tipis ke arah Ji Hyun.

“Ada apa?” Ji Hyun sekali lagi mengulangi pertanyaannya yang masih belum Jongin jawab. Pemuda itu hanya membalas dengan senyuman dan menggenggam kedua tangan Ji Hyun yang dingin.

“Yoon Ji Hyun…” Jongin menarik tangan Jihyun lalu memeluknya erat. Menenggelamkan kepala wanita itu di dadanya yang hangat. Sesungguhnya Ji Hyun ingin protes, ia ingin Jongin melepas pelukannya yang terasa amat aneh baginya. Ji Hyun bertambah bingung juga tidak mengerti kenapa Jongin seperti ini.

“Kenapa kau seperti ini. Katakan sesuatu Jongin-ssi.

Lagi. Jongin tidak menjawab apapun. Ini semakin membuat Ji Hyun kebingungan, Ji Hyun mendorong Jongin menjauh, wanita itu menatap mata Jongin lurus-lurus untuk meminta penjelasan. Jongin tidak tahu harus memulai dari mana. Dia tidak tahu—dia terlalu takut untuk mulai bicara. Jadi ia hanya menunduk dan menurunkan tangan Ji Hyun yang berada di pipinya.

“Hari ini kita putus.”

Jongin tidak pernah mengira jika akhirnya ia mengatakan kata itu dalam hidupnya. Sebuah kata cadu yang amat ia benci dari otaknya yang beku. Dia tidak tahu apakah itu cukup ambigu untuk membuat Ji Hyun menjadi gila atau stress detik ini juga.

Jongin harus mengatakannya sebelum orang lain yang mewakilinya untuk mengatakan hal itu. Ia masih punya bibir untuk sekedar berbicara kata-kata pahit itu untuk kekasihnya sendiri. Karena ketika semuanya berakhir, ia tak akan memiliki kesempatan untuk sekedar berbicara.

Mulut Ji Hyun hampir menganga dan airmata sudah membendung di matanya. “Sayang, Kau hanya becanda bukan?” dia tersenyum tak percaya.

Jongin kembali merengkuh Ji Hyun ke dalam pelukannya yang hangat. Ia tak kuasa untuk sekedar mengulang apa yang ia katakan. “Tolong maafkan aku.”

“Ini bukan bulan april, lalu kenapa kau membuat ini seakan terasa lucu. Kau amat menggemaskan.”

“Ji Hyun, ak—“ Jongin hampir kehilangan suaranya kala itu, suaranya tercekat di tenggorokan, mulutnya mendadak kaku untuk berbicara bahwa ini bukan lelucon khas bulan april yang sering Jongin lakukan. Ini serius. “—aku harus pergi dan kita harus putus.”

“Kenapa harus putus? Bukankah kita-”

“Yoon Ji Hyun…”

“-Sudah hidup bahagia, bahkan kau berjanji untuk tidak meninggalkanku!”

“Aku harus pergi, Ji Hyun,”

“Kalau begitu kita akan pergi bersama, kita—“

“Aku tidak bisa membawamu pergi, Ji Hyun!.. Kau akan mati jika ikut denganku.” Ji Hyun mematung. Jongin melepaskan tangan Ji Hyun dari genggamannya. Wanita itu berhenti bicara tepat setelah Jongin mengatakan maksudnya.

“A-apa?”

Ji Hyun merasakan detak jantungnya terhenti selama beberapa saat. Oksigen di dalam mobil itu mendadak hilang entah kemana, Wanita itu bingung dengan apa yang terjadi sampai semuanya menjadi begitu lambat. Semakin dingin di sini, tapi yang dapat Ji Hyun rasakan adalah bumi yang ia pijak mendadak lembek dan membuat tubuhnya siap tumbang kalau saja ia tak berpegangan pada jok kursi mobil Jongin.

Ini terlalu tiba-tiba… setelah ia mendapat kabar baik kenapa ia juga harus mendapat kabar buruk seperti ini—bukankah beberapa saat yang lalu mereka baik-baik saja?

Setelah tiga tahun yang berat—tiga tahun yang mereka habiskan untuk bersembunyi dan tetap mempertahankan cinta walau kedua orangtua Jongin amat membenci Ji Hyun. Ji Hyun tak akan sanggup lagi untuk berdiri tanpa Jongin disisinya.

Jongin bilang kalau Ji Hyun akan mati? Bahkan kata mati terdengar lebih baik dibanding harus berpisah dengan Jongin selamanya. Ji Hyun tak peduli ia mati atau hidup asalkan Jongin disisinya. Mereka sudah sepakat untuk hidup bersama diam-diam dan tanpa seorang pun tahu. Tapi ada apa? Kenapa dengan Jongin? Kenapa dia tega?

“Maafkan aku…”

Ji Hyun benar-benar pusing, kepalanya seperti dipukul sebuah palu berkali-kali. Dia berhenti berpikir sejak Jongin mengatakan keinginannya untuk putus. Hatinya meradang, ngilu dan sakit yang semakin menjadi-jadi. Ji Hyun menganggap ini hanya bualan atau lelucon Jongin seperti biasanya, tapi sekali lagi: Jongin tidak pernah bercanda untuk mengatakan kata putus dan memeluknya erat seperti ini. Tidak, satu kali pun tidak pernah.

Ji Hyun mengira ini seperti vonis hukuman mati untuknya—dia ingin berhenti percaya, ini terlalu sulit dicerna kepalanya, namun fakta benar-benar membuat hatinya mengecil dan jatuh ke dalam sebuah lubang hitam tak berdasar. Air matanya berderai deras. “Biarkan aku ikut denganmu, tak peduli jika aku harus mati!” Dia mendongkak, menatap iris mata hitam Jongin di atasnya.

“Jika kau mati. Untuk apa aku hidup? Setidaknya hiduplah dengan baik setelah kita putus. Cari pria yang akan menjagamu lebih baik dariku.”

“Tidak! Kau idiot!!!” Tangan kecil Ji Hyun memukul dada Jongin berulang kali. Jika hatinya bisa bicara, mungkin sekarang ia menjerit, melolong karena rasa sakit yang memukulnya bertubi-tubi.

“Aku memang idiot! Aku gila! Tapi aku harus melakukan ini! Tidak perduli apa yang akan kau pikirkan nanti! Tapi yang jelas aku benar-benar mencintaimu sampai kapanpun. Tolong aku!!!! jangan membuatku lebih kesulitan lagi Ji Hyun!!” Jongin berteriak dan mencengkeram kedua bahu Ji Hyun kuat. Ji Hyun meronta dan terus mendorong Jongin agar menjauh, tapi cengkraman pemuda itu terlalu kuat. Tidak ada yang bisa Ji Hyun lakukan selain berteriak.

“JADI AKU MENYULITKANMU? KALAU BEGITU BUNUH SAJA AKU DI BANDING KAU HARUS MENINGGALKANKU DENGAN CARA SEPERTI INI!!!” Mata Ji Hyun menatap Jongin dengan tatapan nyalang. Matanya basah, berwarna merah dengan air mata yang masih terus mengalir, bibirnya bergetar, mulai berubah pucat karena udara dingin.

“Jika bisa, aku akan melakukannya, tapi aku tak bisa Ji Hyun!”

“Aku membencimu…”

Inilah kata yang amat Jongin benci dari Ji Hyun. Ia benci jika Ji Hyun akan seperti ini karenanya, seharusnya mereka tidak saling membuat ikatan, tidak berjanji untuk hidup bersama, tidak saling berbagi selimut setiap harinya jika pada akhirnya Ji Hyun akan membencinya.

“Maaf..” Jongin menunduk.

Ji Hyun menangis kencang, dan beberapa orang yang melihat mengangap bahwa cerita ini seperti sebuah adegan drama, sang pria harus pergi dan membuat sang wanita menangis di ujung jalan.

Bukan, sebenarnya bukan maksud Jongin menceritakan hal itu di tempat ini, tapi apa daya waktunya tinggal beberapa jam lagi sebelum pesawat menuju London pergi membawanya menjauh dari Ji Hyun. Ini jelas bukan keinginan Jongin. Ini adalah keinginan ibu Jongin.

Ia seperti boneka sekarang, menurut dan melepas apa yang yang sudah ia perjuangkan selama tiga tahun terakhir hanya karena ancaman kedua orangtuanya yang akan membunuh Ji Hyun. Ia merasa amat bersalah sejak dua bulan yang lalu.

“Pergi ke London dan hiduplah disana, tinggalkan gadis jalanan itu dan menikah dengan gadis yang ibu pilih..”

Jongin mengepalkan tangannya. “Namanya Ji Hyun dan dia bukan gadis jalanan. Dia kekasihku ibuu!!!”

“Aku tak peduli dengan itu semua Jongin. Yang jelas bagiku dia tetap gadis jalanan yang tak bisa bersanding denganmu sampai kapanpun.”

“IBUUUU!!”

“Sebelum aku membunuhnya dan mengirim gadis itu ke neraka sebaiknya kau pergi ke London dan tinggalkan dia! Waktumu hanya dua bulan untuk berpisah dengannya.”

“A-apa?”

“Tenanglah, aku akan memberi gadis itu kesibukan pekerjaan agar ia lupa padamu! Kau tak usah merasa bersalah sudah meninggalkannya!”

“Lebih baik aku saja yang mati.”

“Jika kau mati maka gadis itu akan lebih dulu mati sebelum kau benar-benar menutup matamu untuk terakhir kalinya. Camkan itu Kim Jongin!!”

Lebih menyakitkan jika Jongin benar-benar harus melihat Ji Hyun mati di hadapannya—jika itu pilihan maka Jongin memutuskan untuk pergi. Menjadi pengecut demi orang yang ia cintai. Dan semua yang terjadi hari ini adalah takdir yang ibu dan ayahnya buat. Itulah alasan kenapa Jongin benci hari ini, ia berharap hari ini tidak akan pernah terjadi tapi nyatanya hari ini benar-benar datang menjemputnya.

“Maaf.. mulai sekarang lupakan kenangan kita dan carilah seseorang yang baik. Semua janjiku padamu…. itu…. bohong.”

Ji Hyun tidak kuasa menahan air matanya. Hal paling menyakitkan yang pernah ia pikirkan sebelumnya, betapa ini begitu kejam dan sulit dipercaya.

Jongin tidak bisa menemukan kata-kata lain. Ia hanya dapat memeluk gadis itu dan menenggelamkan kepalanya di leher Ji Hyun. Dari awal dia sudah memperkirakan ini—Jongin tak tahu harus memulai dari mana. Hatinya terlebih dahulu terluka melihat gadis yang ia cintai menangis.

Jongin tidak benar-benar yakin apakah suatu hari nanti ia memiliki kesempatan lain untuk mengembalikan hari-hari terakhir yang ia lalui dengan Ji Hyun. Jikalau tuhan memberinya kesempatan untuk menentukan jalan hidup—maka ia akan memilih untuk mengabiskan usianya bersama Ji Hyun.

Untuk hari-hari yang telah mereka lewati. Untuk detik-detik yang pernah ia habiskan bersama Ji Hyun. Jongin akan selalu mengingatnya. Jongin yakin itu adalah takdirnya. Air mata Jongin menetes, bibirnya bergetar.

“Maafkan aku…”

Please for give me, For not being able to fill you up

I hope you meet someone
That’s better than me, kinder than me

-FIN-

—-

Hai dear… ini cuma oneshoot geje dan abstrak hasil ketikan saya TTvTT

semoga kalian suka dan merasakan apa yang cerita ini persembahkan 😀

jangan lupa mampir ke blog saya juga dear^^ siapa tahu kita bisa berteman haha 😀

byee~~ byee~~ byee~~

30 responses to “THE BETWEEN SPACE! – by APPLYO

  1. Yah… kok end nya gantung thor… itu gmna nasib ji hyun??? Bakalan hidup bahagia atau mati karena di tinggal Jongin kak???

  2. Sedih banget :”””
    Apalgi sambil denger apology ikon. Pngn nangisss :””””
    Kereeennnnn
    Ditunggu sequelnya sama day dreamnya heheh
    Keep writingg

  3. Gilaaaaa sedih bnget… Mlem minggu numpuk tugas baca bgni udhhh dehhhh ahhahahahhahah
    Kerennnnn aq sukaaa Sad nya dpatttt bnget wkwkwkwk seruuuuuuuu

  4. yawlaaaa nyeseknya kerasaa bgt #halah wkwkw
    suka kaa, suka bikin nyesek maksudnya hahaha gadeng baguss kok kaa hihi

  5. Ampun kak nyerah aku. Nangis tw gak baca nya. Gak ad lanjutannya kah??? Ngena banget ceritanyaaa. Kasih sequel dongg. Pleasee

  6. ya ampun mewek nih bacanya..coba jong in ikut tim katakan putus deh..:v:v pasti bacanya sambil ngakak..becanda
    jihyun aku padamu lah..

  7. Nama blogmu apa eon? Sedih banget noh jongin minta putus sama jihyun T^T
    Org tua jongin terlalu melihat kasta :”)
    Lanjutan donk eon, bikin si jong in sama jihyun ketemu lagi kek di london atau apa😂

  8. Huwaaa bikin mewek bgt iniiii:'(((
    Bikin sequel dong kakkkk.. beberapa tahun kemudian jongin-jihyun ketemu terus salah satu dari mereka udah nikah terus cerai terus jongin-jihyun balikan deh wkwkwk
    Intinya harus di bikin sequel ya kak alur ceritanya gimana ajadeh terserah mwehehe;)))

  9. Yah… yah… nyesek bacanya. Ibunya Jongin jahat amat sih. Gk tau apa klo mereka itu saling mencintai tanpa pandang status…. ah.. kesel sama ibunya Jongin.
    Ceritanya bagus… emang lagunya ikon yg apology itu artinya bikin nyesek.
    Good job, kak…
    Keep writing… 🙂

  10. pleaseeeeee ini apppppppaaaaaaaaaa
    sedih ya ampun…. demi apa….udh mah baper mv +lagunya lah ini fic ini juga isshhhhh aapppaaaaaaan sedihhhhh huaaaa

    jihyun sama jongin nya ya ampun 😦 ortunya jongin jahat 😦 …. padahal pas awal seneng gitu baca nya liat mereka sweet … tpi pas akhirnya ….. 😦 ga tau sedih …. huaaaaa sequel ? ingin mereka balik lagi 😦

  11. HUWAAAAAA SEDIHHHH😭😭😭 bisa aja aku tuh baper tapi masih tau tempat soalnya baca disekolah ini makanya ga sampe baper huhuhu… kalo udh menyangkut orang tua dan takdir kita emg gabisa menghindar huft. mauuuuu sequelnyaaaaaaa paraaaaah, jihyun kuuu sayaaaang. Mana jonginnya gituuu 😦 ah makin sedih. Semangat terus unnie💕💕

  12. Kasian Jihyun…… T.T
    Ibunya Jongin tega banget ngerusak hubungan anaknya yang harmonisnya kaya orang udah nikah >.< 😂

    Butuh squel thorr…. Nggak kuat digantungin kaya gini 😂😂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s