B U L L [Chap.3] – Hatred

tumblr_nzsanntiqj1teqq7io1_1280
B  U  L   L  [Chap.3] –– Hatred

Doubleel’s

Main Cast :

▲Oh Sehun▲

▲Park Hani▲

Other Cast

Genre :

▪ Marriage Life ▪

▪ School Life ▪

▪ comedy(?) ▪

▪ Romance ▪

Rating :

PG – 16

||Prolog|| 1 – Annoying Boy || 2 – One Night Shit ||

. Warning!! Many typo everywhere. Happy Reading!

“Ke ruang musik.” Jawab Hani sekenanya.

Sebelah alis Yixing terangkat tinggi . “Untuk apa kau kesana?” Yixing nampak penasaran.

“Ada sesuatu yang ingin kuketahui.” Jawab Hani kemudian berjalan cepat meninggalkan kelas.

Setibanya diruang musik, Hani tidak mendapati apapun disana. Tempat ini sepi sekali dan jauh dari ruang kelas karena letaknya  hampir berdekatan dengan gudang sekolah. Ruangan ini masih sangat gelap, buru-buru dirinya menyalakan saklar lampu. Sekejap ruangan menjadi terang benderang. Membuat seluruh isi ruang musik seolah menusuk mata Hani.

Begitu Hani merasakan ada orang lain diruangan ini, Ia menoleh. Mulutnya menganga dan ia mendelik. Tubuhnya membeku tak bergerak sama sekali.

.

╦╦╦╦

.

Kim Jaehee!!” Hani memekik. Gadis itu berlari segera kearah Jaehee. Gadis berkacamata itu bersandar pada sebuah piano grand hitam dengan posisi tangan dan kaki yang terikat. Kelopak matanya terpejam sempurna dengan bibirnya yang telah dibungkam dengan lasban hitam.

“Park Hani, apa yang terja––Kim Jaehee!” entah bagaimana, Yixing tiba-tiba muncul dari arah pintu. Pemuda itu selanjutnya bergerak cepat menghampiri  Hani yang bersimpuh disebelah Jaehee.

“Park Hani, apa yang terjadi pada Jaehee?” ekspresi Yixing kalut. Ia menatap wajah pucat Hani dan Jaehee bergantian.

Menggeleng, “Aku….aku tidak tahu.” Jawab Hani dengan suara bergetar sambil menggigiti bibir bawahnya. “Yixing, tolong bawa Jaehee ke UKS. Cepat!”

.

.

“Wah, kau bener-benar gila, Hun. Ckck.” Chanyeol berdecak kagum, juga takjub. “Padahal baru seminggu yang lalu kau putus dari Park Jiyeon . Eh, sekarang sudah dapat lagi. Lebih syahdu pula, benar tidak?” Chanyeol melirik Baekhyun dan Kai satu-satu, meminta persetujuan.

“Dengan bodohnya, Jang Yurim sunbae masuk keperangkap Sehun.” Kai melirik Sehun sekilas, detik selanjutnya kembali fokus pada ponselnya.

“Ada apa denganmu, Kai. Akhir-akhir ini kau jadi sering sensi padaku.” Sahut Sehun yang hanya ditanggapai oleh tatapan datar oleh Kai.

“Seorang wakil ketua Osis, model, seksi, cantik pula. Oh, betapa beruntungnya dirimu Sehun.” sambung Chanyeol.

“Apa sih rahasiamu? Jangan-jangan kau pakai sihir?” celetuk Baekhyun asal. “Sejenis pelet mungkin?” alisnya terangkat sebelah, sambil menyeruput minuman favoritnya, ia lalu melirik Sehun curiga.

Sehun tertawa sambil geleng-geleng geli. Membuat ketiga temannya melayangkan tatapan aneh padanya. “Astaga, tidak Kai tidak juga kalian. kenapa kalian sensi sekali padaku? Selalu saja berpikiran buruk.”

“Wajahmu itu tidak meyakinkan, penuh dusta, kau tahu?” Baekhyun melempar dengan sebal sebuah bungkusan snack kearah Sehun.

Sehun terkekeh pelan, “Iya, aku pakai sihir pelet.” Jawab Sehun pada akhirnya. Spontanistas, kai, Chanyeol, Baekhyun menatap Sehun kaget.

“Tuh, sudah kuduga.” Baekhyun berhenti mengunyah keripik kentangnya.

“Benarkah?!!” tanya Chanyeol berapi-api. “Sihir apa? Aku mau, dong.” Baekhyun sontak menoyor kepala Chanyeol keras. Sementara Chanyeol hanya membalas toyoran Baekhyun dengan cengiran lebar––sangat khas Park Chanyeol. “Mau kau bawa kemana Lee Seohyun, hah? Dasar, centil.”

“Yah, kenapa jadi kau yang marah-marah?” memutar bola mata jengah adalah hal yang Baekhyun lakukan wujud menanggapi kata-kata Chanyeol.

“Kalian ini mau-mau saja dibodohi oleh si albino ini.” Kai, SATU-SATUnya makhluk paling waras diantara ketiganya mulai angkat bicara. Catat, Satu-satunya.

Sedangkan Sehun makin tergelak tidak jelas. Ia kurang mengerti mengapa ia menjadi sering tertawa keras akhir-akhir ini. Oh, Sehun tahu. Hal yang membuatnya sering tertawa yakni pertama, kegarangan Park Hani. Kedua, kekonyolan tiga temannya. “Kau ingat, apa yang kau bawa ke apartmenku saat itu?” tanya Sehun.

Dengan santai, “Maksudmu, celana bunga-bunga Park Chanmi?”  Baekhyun mengerjap dua kali. Park Chanmi yang Baekhyun maksud adalah adik perempuan Chanyeol.

Kai bergidik ngeri. Apa-apaan sih mereka! Mereka membicarakan celana bunga-bunga bocah SD, cih, tidak ada topik lain apa? Semakin kesini keadaan otak ketiga temannya tersebut semakin mengkhawatirkan. Semoga saja, Kai tidak terpaksa memanggil psikiater untuk mereka.

Menepuk jidat, “Ah! Aku  hampir lupa. Rupanya masih ketinggalan di apartemenmu, ya?  Aishh!” Chanyeol merutuki keteledorannya. “Kemarin Chanmi marah-marah karena celana favoritnya tidak ada, dan dia langsung menuduh aku yang mencurinya.” Jelas Chanyeol lebar.

“Yah, memang kau yang mencurinya, idiot. Dasar otak maling, habis meminjam lupa mengembalikan.” Tandas Baekhyun langsung dibalas dengan wajah tak berdosa Chanyeol.

“Kau sungguh kurang waras, hyung.” Kai mencelutuk sambil menatap Chanyeol cemas.

“bukan kurang waras lagi. Chanyeol memang sudah kehilangan kewarasannya.” Chanyeol lantas meninju bahu Sehun agak keras. Membuat si korban meringis namun terkikik di waktu yang berasamaan.

“Yaaah, main pukul-pukulan. Seperti perempuan saja.” cibir Sehun, mengelus-elus bekas pukulan Chanyeol.

“baik, okey, fine. Teruskanlah kalian membullyku jika itu yang membuat kalian juga gila sepertiku. Hahahah.” Chanyeol tertawa garing setelah menyelesaikan kalimatnya.

Tepat saat seseorang berada tidak jauh dari meja Sehun cs, obrolan mereka berhenti sejenak, keempatnya, kecuali Sehun mulai menatap seorang gadis dengan tatapan yang mulanya bingung langsung berganti dengan sorotan jahil.

“Ehhmm, ada apaan ini? Mencariku, ya?”  tanya Baekhyun dengan nada geli membuat gadis itu menggigit  bibirnya. Setelah putus hubungan dari Eunji, Baekhyun kembali kepada sifat aslinya––sedikit pede dan suka menggoda para gadis. “Wasyyikk,  adik ini manis juga. Siswi baru ya? Atau aku saja yang tidak pernah melihatmu?”

“Woy, dasar kecentilan! Ingat  Yeol kau sudah punya Seohyun.” Kai mengingatkan Chanyeol yang nyaris khilaf.

“Oh iya. Terimakasih sudah mengingatkanku Kai. Huh, aku semakin ngefaaans padamu.” Balas Chanyeol gemas, tangannya terjulur ingin meraih pipi Kai, dan langsung dihadiahi dengan pandangan jijik juga hempasan tangan oleh Kai.

“Pasti mencariku, iyakan? Dari fansku?” Sambar Baekhyun. “Eh, itu brownies buat siapa? Untukkukah? Sini-sini kebetulan aku lapar sekali.”

Bukannya mengeluarkan kata-kata, gadis mungil yang sepertinya berasal dari kelas sepuluh itu justru diam dan tak berkutik. Matanya hanya menatap satu arah saja, kepada Sehun yang sekarang duduk membelakanginya. Pemuda berkulit putih susu itu justru sibuk memakan makanannya tanpa berniat untuk meliriknya sedetik saja.

“Aku mengerti,” Kai menyahut sambil mengikuti arah pandang gadis itu. Selanjutnya, menyenggol lengan Sehun sedikit keras. “Ada yang mencarimu.”

“Siapa?! Jang Yurim?”

“Lihat saja sendiri!” ujar Kai menunjuk sang gadis dengan dagu.

Sehun akhirnya menoleh, menatap gadis itu.

“Kau mencariku?” mata elang Sehun menatap tepat pada manik mata cokelat gadis itu. “Ada perlu apa?” tanya Sehun kalem dan sukses membuat pipi sang  siswi bersemu merah.

Oh Astaga, aku ingin meleleh sekarang juga. Dia lembut sekali. Jerit gadis ber-name tag Baek Yoonhee ini.

Yoonhee tidak tahu, bahwa Sehun sudah terbilang sangat profesional dalam memainkan ekspresi dan mengotak-atik kata-kata jika berhadapan dengan perempuan. Benar-benar tipe ‘player’ yang sudah memasuki level akut.

“Sepertinya dia salah satu fansmu.” Tutur Baekhyun kemudian diangguki oleh Chanyeol.

Sambil menunduk, “Ini untukmu, sunbae.” Ujarnya menyodorkan sekotak cake itu pada Sehun. Mengernyit, “Tapi, aku tidak ulang tahun hari ini lho…” ujar Sehun masih mempertahankan kelembuatan nada bicaranya.

Yoonhee menggeleng pelan, kali ini ia menganggkat kepalanya, memberanikan diri guna manatap Sehun secara terang-terangan. “Ti-tidak. A-aku h-hanya ingin m-memberikannya untukmu.” Balasnya susah payah.

“Ambil saja, Hun. Itu enak sekali kelihatannya. Lumayan. Kalau kau tidak mau, kau berikan saja padaku.” Bisik Baekhyun sambil menahan senyum. Baekhyun ini jika sudah berurusan dengan makanan memang nomor satu.  Mau ada hujan, badai, tornado, tetap saja dia bakal mengutamakan makan.

Tawa kecil lolos dari mulut kecil Sehun.”Aku terima, ya.” Sehun mengambilnya sambil tersenyum simpul.

“Cihuuyy!! Tidak sekalian minta tanda tangan? Peluk?” timpal Chanyeol sambil bersiul ria. Yoonhee hanya menggeleng pelan, lagi. “Tidak perlu, Sehun sunbae sudah mau menerimanya saja sudah membuatku senang.” Jawab gadis itu polos.

“Polos sekali.” Gumam Kai geleng-geleng sendiri.

“Eeyaaaa, rupanya ada juga gadis yang  meng-sweet-kan Sehun eeyaaaa…”

“Apaan sih, Yeol!” Sehun menatap risih Chanyeol. Kemudian kembali lagi ke Yoonhee. “Ngomong-omong, terima kasih ya buat cake-nya.”

Oh Tuhan, apa Sehun tidak sadar bahwa ia seolah baru saja memberi harapan pada anak orang? Membuat anak orang bagai melayang kelangit tujuh ditemani burung-burung cinta.Tsk.

Sehun oh Sehun.

Baekhyun sesekali mencuri-curi pandang pada kotak brownies yang kini telah berpindah ke tangan Sehun. Betapa Baekhyun ingin mencicipinya, oough.

“Aku sarankan, lebih baik kau segera kembali kekelasmu. Nanti kalau Jang Yurim sunbae melihatmu memberikan brownies ini pada Sehun bagaimana? Nanti bisa-bisa dia mengajakmu bergulat. Percayalah! ” Canda Baekhyun. Ia menekuk sikutnya 90 derajat sambil memamerkan lengan saat mengucapkan kata ‘bergulat’. Merupakan modal dusta untuk membuat gadis itu segera pergi dari sini dan ia bisa langsung punya kesempatan untuk  menyambar browniesnya.

Dan, modal dusta Baekhyun-pun berjalan mulus semulus kulit Kim Taehee, yeah. “Ini untukku ya?” pinta Baekhyun setelah merebut paksa itu dari tangan Sehun.

Menghela napas, “Yah, ambilah kalau kau mau.” Sehun menatap Baekhyun malas. Baekhyun lantas tersenyum sumringah dan segera memakan brownies itu cepat, seolah–olah ia belum makan dua hari saja. “Kau mau Kai?” tanya Baekhyun dengan mulut penuh dengan cake. Kai menggeleng pelan.

“Yak, kau tidak menawariku?” Seru Chanyeol tidak terima.

“Kau beli sendiri saja. Bukankah rumahmu dekat dengan toko roti?”

“iya benar. Tapi sudah dua bulan tidak ada diskon.”

“Yaelah, maunya yang gratisan. Huuuu!!” Sorak Kai pad Chanyeol.

“Kemarikan, aku juga mau. Bagi sedikit denganku. Hei-hei Yak, Byun Bacon!! Jangan kau habiskan sen––“

“Halo semua!! Bolehkah aku bergabung dengan kalian?”

Suasa kantin mendadak tidak seberisik sebelumnya.

Baekhyun gagal memasukkan sepotong cake itu kemulut ketika sebuah suara mengalun diantara mereka. Kai, dan Chanyeol menatap si pemilik suara yang kini dengan urat malu entah putus atau bagaimana sudah mengambil tempat duduk disebelah Sehun.

“Ah, ya tentu sunbae.” Jawab kai pelan, dan tentunya….

…………….terlambat.

Hening sesaat.

Keempatnya terdiam dengan kedatangan tiba-tiba Jang Yurim, seseorang yang baru 13 jam yang lalu resmi menjadi kekasih Sehun. Suasana pun mendadak jadi canggung. Hingga kemudian suara Yurim menggema.

“Euum, itu kelihatannya enak sekali. Boleh aku minta sepotong?”

╦╦╦╦

 Jaehee hanya menggigit bibir bawahnya kalut. Tubuhnya sedikit bergetar kala Hani terus menatapnya penuh harap, namun sepertinya, kata menuntut kedengaran lebih cocok. Yixing berdiri tidak jauh dari ranjang UKS juga memandang Jaehee agak was-was.

Pasca bangun dari pingsan, Hani langsung memberondongi Jaehee dengan beberapa pertanyaan.  Membuat Kim Jaehee terdunduk dalam diam. Gadis itu terus bungkam sedari tadi, belum ada sepatah kata apapun yang keluar dari mulut gadis itu. Jaehee bahkan tidak punya cukup nyali untuk menatap tepat pada manik mata Hani.

Itu…..mengintimidasi.

Satu kata yang mendeskripsikan Kim Jahee sekarang.

Takut.

Ya, ia nampak ketakutan. Entah apa yang membuatnya diluputi rasa takut hingga sampai saat ini belum berani berbicara.

“Jaehee, katakan saja. jangan takut, aku akan melindungimu.” Tutur Hani dengan nada yang lebih lembut dari sebelumnya, seraya mengusap-usap punggung Jaehee, menyalurkan ketenangan pada gadis berkaca mata itu.

“Siapa yang melakukan ini padamu Kim Jaehee?” Yixing ikut-ikutan. Oh, betapa Jaehee benar-benar terpojok saat ini.

Menelan saliva, Jaehee meremas-remas kedua tangan yang berada didepan perut. “A-aku……”

“Ada yang mengancammu?” Hani melanjutkan. Detik selanjtnya diikuti gelengan pelan oleh Jaehee.

“Lalu siapa?”Hani jadi gemas sendiri.

“D-diaa…….”

“Di-diaaa ……….”

Mengambil napas banyak-banyak, “……..J–jang Yurim.” Aku Jaehee kemudian.

“APA?!” Hani nyaris berteriak.

Bitch.

╦╦╦╦

BRAKK…

Hampir seluruh pasang mata menatap dimana suara gebrakan meja itu berasa. Sehun, dan ketiga temannya, serta Yurim mendongak cepat.

Park Hani sedang berdiri dihadapan mereka dengan wajah yang memerah.

“Hei!!! Apa maksudmu?” mulai Yurim lalu bangkit dari duduknya.

Bersungut-sungut, “Seharusnya aku yang bertanya itu padamu, bitch.”

“JAGA MULUTMU, BITCH!” bentak Yurim tak mau kalah, dengan jari telunjuk yang mengarah pada wajah Hani.

“E-eum Sunbae sekalian, ini ada ap––“

“––permisi, aku tidak ada urusan denganmu Oh Sehun-ssi.” Hani menyela. Lalu kembali menatap Yurim penuh kebencian.

Sehun, Chanyeol, Kai, Baekhyun kini saling berpandang dengan dahi mengernyit. Berbagai pertanyaan berputar-putar diotak namun tertahan dalam tenggorokan.

Ada apa gerangan yang terjadi antara dua orang penting di sekolah saat ini?

“Kurasa perang dunia ketiga akan terjadi sebentar lagi.” Chanyeol berbisik.

“Apa salah Jaehee padamu, hah? Jika kau membenciku, tidak udah bawa-bawa mereka yang dekat denganku. Dasar, pecundang.”

“Apa sih yang kau bicarakan?” Yurim menatap Hani tidak mengerti.

“Kau ini bodoh atau tolol? Jangan pura-pura tidak tahu apa-apa!” Hani semakin terbakar api kemarahan. Aksi labrak melabrak ini dijadikan sebagai tontonan yang mengasyikkan bagi penghuni sekolah. Yap, bukan kah ini pertandingan yang menarik sekali?

 Ketua Osis vs Waketua Osis.

Oke, kita lihat saja apa yang terjadi selanjutnya.

“KEPARAT!! AKU.TIDAK.MENGERTI.MAKSUDMU.JALANG!!”Murka Yurim sambil mendorong pundak Hani dengan telunjuk disetiap penekanan kata.

“Jauhkan tangan kotormu dariku!” Gertak Hani tidak terima. “Sekarang mengakulah atau aku akan mengadukanmu ke BK.”

“Bullshit. Sudah kukatakan aku tidak tahu maksudmu sialan.” Yurim mempertegas tepan didepan muka Hani. Ia sendiri semakin emosi karena dirinya merasa tidak melakukan apapun dari tadi.

Sementara itu, seseorang yang berada dibalik kerumunan orang hanya menatap adu mulut keduanya–Hani dan Yurim– dengan seringaian tipis dibibirnya. Sambil menyeruput moccachino dingin dan ditemani hiburan yang sangat menyenangkan ini. Oh, betapa ia sangat menikmatinya.

Wow, Ia menang banyak hari ini.

Yurim hendak menyalurkan hasrat menjambak rambut Hani, sedangkan diwaktu yag bebarengan Sehun melihat seorang guru BK yang kegarangannya melebihi singa garong itu tak jauh dari area kantin.

Pemuda itu lantas bangkit dari duduknya, menyambar tangan Hani cepat dan menariknya pergi dari kerumunan itu sebelum guru BK datang dan memergoki mereka.

Yurim melongo melihat Sehun secara terang-terangan menggandeng tangan seorang gadis selain dirinya.

“What’s?” Yurim memekik tidak percaya, seraya menatap punggung Sehun dan Hani yang kian menghilang dari balik keramaian.

Chanyeol, Baekhyun, dan juga Kai, juga tak jauh berbeda dari ekspresi Yurim saat ini.

Senyum kemengan oleh seseorang itu memudar seketika saat menyaksikan Sehun membawa Hani pergi sambil menggenggam tangan Hani. Digantikan wajah datar yang tersorot oleh sesuatu yang disebut kedengkian.

.

.

“Lepas! Lepaskan tanganku Oh Sehun.” Hani meronta minta dilepaskan. Sehun melepas tangan Hani ketika ia sukses menyeret gadis itu jauh dari kerumunan.

Dengan sengit, “Jangan ikut campur urusanku.” Ujar Hani memperingatkan. Gadis Park itu menatap Sehun malas sekaligus jengkel.”Apa sih tujuanmu? Dasar, pengacau.” Desis Hani.

Mata elang Sehun menyorot santai pada Hani. Sudut bibrnya tertarik keatas. “Apa kau tahu bahwa guru BK lewat didepan kantin tadi?”

Hani membisu.

“Dan apa kau tahu apa akibat setelah membuat keributan di sekolah?” Hani melempar mukanya kearah lain. Rupanya, ia baru menyadari letak kebodohannya.

Bodoh, Park Hani bodoh. Rutuk Hani dalam Hati.

“Ternyata kau tidak sepintar itu, sunbae.” Cicit Sehun. “Jika aku tidak menarikmu keluar dari sana, mungkin sebentar lagi reputasimu sebagai ketua Osis akan menurun gara-gara perbuatanmu yang sangat-tidak-layak dilakukan oleh seorang ketua Osis yang terhormat.” Sehun tersenyum miring.

“Tujuanku adalah membantumu. Tidak lebih.”

Bersedekap, matanya balas memandang tepat pada mata Sehun. “Kenapa kau harus membantuku? Aku tidak butuh bantuan dari siapapun, kau tahu?” ujarnya sok kuat, sabil memutar kelerengnya.

Skakmat.

Baiklah, Sehun akui ia sama sekali tidak punya alasan apapun untuk membantu Hani. Semua itu terjadi atas instruksi dari otak dan dijalankan oleh anggota tubuhnya yang lain sesuai perintah. Berdecak sebal, “Yeeee… bukannya berterimakasih tapi kau justru memakiku.” Tandas Sehun pada akhirnya. “Aku tidak percaya jika kau tidak membutuhkan bantuan dari siapapun. Memangnya kau ini makhluk apa? Malaikat? Anti sosial?”

“Jika kau tidak ikhlas, ya sudah jangan membantuku. Repot sekali.” Hani sewot sendiri.

“Yasudah. Dasar, gadis sombong.”

“Dasar albino.”

“Dasar, tukang marah.”

“Dasar, sok tahu.”

“Dasar, garang.”

Atmosfer hening menyelimuti suasana disekitar keduanya.

Berdehem pelan, “Seharusnya bukan aku yang kau bawa, tapi pacarmu.” Hani menegaskan pada kata terakhir.

Mendengus malas, “Aku tidak peduli dengannya,” Tanggap Sehun datar.

Bola mata Hani menatap entah kemana, yang jelas ia sedang tidak ingin menatap pemuda sialan itu saat ini. “Hah, tepat seperti dugaanku. Kau hanya mempermainkan Jang Yurim, kan?” Hani menjengitkan sebelah alisnya.

“Memangnya kenapa?” Sehun memjawab enteng.

Sebuah tawa hambar lolos dari bibir Hani. Gadis itu mendesis, “Menjijikkan!”

“Semua laki-laki didunia itu memang sama. Mereka tercipta sebagai penghancur. Mereka adalah manusia tidak berperasaan yang hobby mencampakkan. Membuang setelah bosan, dan meninggalkan setelah tidak butuhkan.” Sebuah senyum getir terukir dibibirnya. Sebagai informasi, topik yang menyangkut tentang laki-laki cukup sensitif bagi seorang Park Hani.

Sehun menatap Hani tanpa berkedip.

“Aku tidak tahu alasan apa yang mendasari mereka suka menebar omong kosong yang mustahil untuk mereka tepati.”

-Hani, aku berjanji tidak akan pernah meninggalkanmu. Aku akan selalu ada untukmu. Tetaplah disampingku untuk selamanya. Aku mencintaimu.-

~Ayah berjanji akan melihatmu berbahagia saat menikah dengan pangeran yang kau cintai kelak. Melihatmu memakai gaun puteri yang cantik dan bersanding dengan pasanganmu nanti.~

Tiba-tiba, Hani merasakan rongga dadanya menyempit begitu saja.  Deraian janji-janji kembali itu melintas dimemorinya. Membuat dadanya menyempit, lebih sempit, dan kian menyempit lagi. Hingga tidak memberikan ruang bagi oksigen untuk mengisi paru-paru.

Satu kata, sesak.

Satu kalimat, Hani benci dengan topik ini.

Ngomong-omong? Kemana perginya janji-janji itu?!

Janji, janji, dan janji.

Mereka telah pergi bersama dengan orangnya. Orang yang belum pasti ingat apa yang telah ia ucapkan dulu. Sayangnya kini, semua itu hanya menyisakan……….omong kosong. Sebatas bualan yang sudah tersapu oleh belaian angin.

Pandangan muak Hani lalu tertuju pada Sehun. “Dimataku, mereka bahkan lebih jahanam dari seorang iblis. Mereka sangat hina!” sarkastik––sangguh.

Geez.

Bagaikan belati, kata-kata Hani menusuk tepat pada titik hati yang tidak bisa Sehun jelaskan. Sehun tidak berekspresi. Nada-nada penuh kebencian tersirat dari apapun yang terlontar dari mulut gadis itu. Sehun jadi berpikir jika sesuatu tidak beres telah terjadi pada Hani sebelumnya.

“Park Hani……”

“Aku membenci makhluk seperti dirimu, Oh Sehun. Sa.ngat.ben.ci.”

Itu adalah kalimat terakhir Hani sebelum pergi meninggalkan Sehun yang masih terpaku ditempatnya.

.

.

.

Sorry gaes gue updatenya molor banget, gaje banget, jelek banget. trus jangan timpukin gue karena ini memang sangat pendek. Pisss.

Penyebab : tugas udah pada ngantri minta dikumpulin. Udah gitu aja.

Visualisasi Park Hani gue pake Ulzzang Kim Jung Yeon. Trus apa lagi kemarin yaa?? Ohya, gue sama sekali gaada niat buat nistain bang ceye disini, sumvah. Dia bias kedua gue setelah albino.

Ohya kemaren ada yang nanya line?  Line : @latifatullailiyah

 

Regards,

Doubleel

 

BIG THANKS To ;

Susi, asdfghjkl, Indah, Susi, Meyliexl_, dyanameta, Jung Ae Ro, dddeaa, Enur liesty ariani, mongmungihun, byunbaekhnidaa, rinskai, RisqiSanti, bebaekmidha, jerrynizabyung, aisyah, yanticute, indahizzabell, ameliakkim230, gina, hyengie61, sisilia anita, fishymonkeys, parkcheonsa94, Nurul A, widiastutiputri, Waya, Retna joomin, saeron, Chacaa, ima, claudisaa, finditadit, alice, byunbaek, Cheonsa Park, Naila, sheilun.
aninditta putri, swansbooty, Aleyaa ThuuAquw, dhila, Jim, Lee Eun Bin, sarah02, baeksena, Ayu2510, emahh, fsykookiehun, Oh Kookie, paunda, Laili, ajxx, novitadewi, ongewife, Devi-L A.R.M.Y, ByunLala, skittle, kim hyunra, kyla, zillu, choiara09, Syasa Ira, siti aisah, Diffisalma, Krysatlisna28, Youngie, byunnit, putput, yoojihyun, CandyKim, Seo HaYeon, aniespur, yalni, xoxo_Hun, dindabs, baekpoo, Jeje, bqrewiapriani, oseh94, Tirta, parkhyerin107, Yuni Wu, jungamy, byunbaekra, cheonm, novemia, Bihun, Ata, Nadia_cy, chindy claudya, Nadia_cy, sulis pcy, anadonad, mutexofanfiction, syasa zhang, sungjaesup, SN179, bacon baekhyun, Mrs.Park, febry_kim252, Jean, L.A, xi elsa, Kartika Wulanssari, Han’Nana, tri, salmaamran, deon, Milkyhan, K3, dongdong’sPoo, hsharu, kkkim,
Ainialover, baekyunaa, Kkamjong_kai, bubu-bbyu, Rayya, Niken rai, Nhiesa_xiaolu, Pila shin, kaisme. Blue Velvet, sfyxii, kyungkook, flo, fyaaa, DREAMHYUN, sweetcandyo, Han Soo Ji, Yuri-Luhan fans, vanichan, mutiatyad, Rhodiatul. H, Dee, Arindapj, Wind52, tamarahutami, hwang min, Faza96, djsxo, shary, Nayoung, huntella94, rinhorinhae, Jae hee, Aulia Rahma, fiolalolitasr, sri1204, Lily, Aulia Silmi, L-OSH.dan masih banyak lagi yang nggak bisa gue sebutin satu satu.

 

Say hi to ‘Empat sekampret kita’ yuhuuu..

large

 

154 responses to “B U L L [Chap.3] – Hatred

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s