My Psikiater -Chapter 4-

tumblr_mre7x7ahUv1snhpddo1_500

author: luhluhluh

genre:psycho, psychologic, romance, supranatural

cast: Oh Sehun, Kim Luna (OC)

psikiater 1 , psikiater 2 , psikiater 3

 

skizofrenia tidak terjadi pada usia remaja, penyakit psikologis ini menyerang pada usia 25 tahun keatas, demi penunjang jalan cerita maka gua ngebuat skizofernia ini pada usia luna yang masih umur 17th.   Disini Luna sama Sehun jarak umurnya 6th. Untuk sakit kepala itu cuma buat penunjang cerita, gue sendiri radak bingung nulisnya gimana soalnya skizofrenia yang gue baca gak ada tanda pusing dll. 

 

 

Hembusan angin pagi menerbangkan rambut gadis yang sedang duduk sendiri, sepasang mata indah itu menatap lurus kedepan. Pandangan yang menyiratkan kekosongan didalamnya membuat seseorang dibelakangnya tersenyum gentir, tangan pucatnya menyentuh rambut yang berantakan akibat hembusan angin tadi. Merapikan geraian rambut berwarna hitam dan memeluk gadis itu dari belakang.

“ikut aku sekarang”

.

.

.

Langkah begitu ringan dengan iringan sebuah lagu dari bibir tipis lelaki yang selalu tersenyum dalam setiap langkahnya. Bagaimana ia tidak tersenyum seperti itu jika dirinya saat ini dapat bermesraan dengan seseorang yang selama ini ia cintai, mungkin bagi orang-orang yang mengenal baik kedua makhluk Tuhan ini mereka akan mengatakan mengambil kesempatan dalam kesempitan. Hell! Siapa yang peduli dengan itu selagi ada kesempatan kenapa tidak digunakan sebaik dan sebijak mungkin, ini pemikiran terkonyol Sehun saat ini.

Kaki panjang itu berhenti membuat langkah disampingnya juga ikut berhenti, mata tajamnya melihat keseluruh lapangan basket itu dan lagi-lagi senyum dari bibir tipisnya mengembang. Menggenggam jemari Luna dan menarik gadis cantik itu untuk sekedar bermain.

“oke! Kita akan mulai terapinya disini”

Memandang wajah Luna dengan senyuman yang tidak pernah lepas dan memberikan bola berwarna orange yang dari tadi ia pegang kepada Luna. Hampir beberapa menit Luna tidak merespons Sehun, matanya terus mengamati sekitar lapangan.

“kau lihat apa sih?”

Sehun mengikuti arah pandang Luna dan lelaki tampan ini tidak menemukan objek yang menarik. Kembali menyodorkan bola itu tapi tidak direspons oleh gadis didepannya, helaan nafas terdengar dari bibir tipis Sehun. Lagi dan lagi dokter muda ini lupa saat ini ia bukan berhadapan dengan Luna tapi berhadapan dengan pasien penderita skizofrenia.

“sepertinya aku harus menempel atau membuat tulisan besar di dahimu kalau kau terkena skizofrenia”

Menarik kedua tangan itu dan menaruh bola yang sedari tadi ia bawah kepada Luna, tubuh tingginya berputar kebelakang Luna dan kedua tangannya terulur untuk ikut memegang bola basket itu. Dengan gerakan perlahan Sehun terus mengajari Luna bermain basket. Mungkin jika orang lain mereka akan tertawa melihat Luna yang sudah duduk dibangku tingkat akhir sekolah menengah harus diajari permain ini tapi tidak bagi dokter muda itu.

Bagi para penderita skizofrenia pelatihan seperti ini sangat penting. Karena penderita mengalami kerusakan pada bagian otaknya yang membuat dirinya menjadi orang lain karena halusinasi atau karakter yang mereka buat sendiri. Orang lain yang melihat Luna akan menganggap bahwa ia adalah seorang pembunuh, stres, dan lain sebagainya. Tetapi gadis yang sekarang berada didalam pelukkan Sehun ini bukan lah seorang pembunuh atau dituduh membunuh.

“kau bukan pembunuh”

“Kim Luna bukan pembunuh”

“banyak orang yang mencintai dirimu”

Sugesti dan penyemangat dari orang-orang sekitar juga turut membantu penderita skizofrenia untuk sembuh.

“kau tau Lun ini sama seperti dulu, apa kau ingat?”

.

.

Flashback…

Sinar matahari berwarna orange membuat suasana sore hari semakin indah, sinar sore dan sejuknya angin membuat langkah gadis ini menjadi semakin ringan. Senyum yang tak pernah lepas dari wajah cantiknya membuat dirinya dilirik banyak lelaki di setiap langkahnya dan tak jarak pula para gadis yang memandang sebal kearah Luna.

Saat retinanya menangkap lapangan yang luas membuat senyum itu semakin lebar dengan semangat empat lima gadis mungil itu berlari dan menuburuk lelaki yang ingin melakukan lay up. Karena tubrukan tadi lay up yang seharusnya sempurna menjadi berantakan mengakibatkan lelaki berbadan tinggi berkulit pucat  terjatuh, melihat sahabat yang selalu menemani dirinya dari kecil terjatuh menghasilkan tawa yang cukup menjengkalkan jika didengar.

“yak! Bisa tidak kau menjadi gadis yang anggun! Aah! Ini sakit bodoh”

Membiarkan umpatan dan sumpah serapah dari sahabatnya itu dan melangkah dengan begitu santai ke bola yang menggelinding di sebelah ring. Mendribble bola berwarna orange itu dan melakukan shooting yang membuat lelaki dibawahnya terkagum.

“keren juga kau!”

“makanya jangan remehkan aku”

Lelaki berkulit pucat itu berdiri dan menepuk bagian belakangnya untuk membersihkan debu yang menempel, memeluk atau bisa lebih dikatakan mencekik leher Luna menggunakan tangannya dan menarik gadis cantik ini untuk duduk disalah satu bangku yang berada dipinggir lapangan. Rintihan kesakitan tidak dihiraukan oleh lelaki pucat ini membuat Luna hanya bisa pasrah. Mendudukan tubuh mereka dan memandang kagum akan karya Tuhan yang begitu indah karena langit yang menampilkan semburan warna orange biru kemerahan.

Lelaki tampan ini membawa pandangannya kepada Luna, pandangan kagum yang ia berikan pada langit kini berpindah ke gadis bersurai hitam itu. Tangan kirinya terangkat dan mengusap lembut kepala Luna, membuat gadis yang berada disebelahnya menoleh dan mengerutkan kedua alisnya.

“jangan terlalu banyak pikiran hmm”

“maksudmu”

“tidak! Aku hanya mengikatkan jangan banyak pikiran”

­flashback end….

 

.

.

Ingat itu masih terekam begitu jelas di otak Sehun, saat mengingat kejadian yang hampir sattu tahun yang lalu itu membuat doker muda ini menyesal. Ia menyesal karena dirinya tidak bisa menjaga sahabat kecilnya ini. Dekapan itu semakin erat saat ingatan itu seperti berputar ulang sekarang, air mata yang selama ini ia bendung menetes begitu saja membuat baju dari gadis yang berada didekapannya basah.

“maafkan aku Luna! maafkan aku”

Merasa baju sebelah kanannya basah Luna segera mendorong Sehun dan menatap tajam ke arah lelaki tampan ini, melihat reaksi Luna dengan segera Sehun mengambil suntikan dan bersiap menyuntikan cairan antipsikotik ketubuh Luna sebelum tangan gadis didepannya mengusap lembut wajah tampannya. Seakan tersambar petir tubuh Sehun mematung, kerja otaknya menjadi lambat saat jemari lembut itu mengampus air mata yang masih mengalir dari mata tajamnya.

“Lu-Luna”

Menggenggam tangan Luna yang berada dikedua pipinya dan menampilkan senyumnya meksi air mata masih terus mengalir dari kedua mata tajam Sehun. Lelaki tampan ini seakan lupa kalau dirinya akan menyuntikan obat kepada Luna, suntikan yang ia pegang jatuh begitu saja.

“kau ada perkembangan sayang”

“terima kasih! Terima kasih”

.

.

.

.

Lelaki yang mengenakan kaus berwarna hitam ini terus menatap bangunan didepannya, pandangan yang penuh dengan rasa benci, marah, kecewa, sedih, dan bersalah bercampur jadi satu didalam mata tajam itu. Tangannya terus mengepal untuk mengurangi emosi yang terus memuncak. Pandangan tajam itu kini beralih ke sebuah kamar yang terlihat gelap, telinganya menangkap jeritan-jeritan memiluhkan dari sipemilik kamar.

Semakin keras teriakan, semakin mengepal kedua tangan Sehun dan menutup rapat kedua matanya. Meski ia tau jika teriakan Luna tidak seperti biasanya tapi tetap saja membuat hatinya semakin terluka. Saat teriakan itu meredah barulah kedua mata tajam itu membuka, menatap lekat jendela kamar Luna. Ingin sekali ia masuk kedalam dan membawa tubuh mungil itu kedalam pelukkannya tapi ia tidak bisa, langkah kakinya ia bawa mundur semakin menjauh dari kediam keluarga Kim.

“Luna maafkan aku!”

.

.

Flashback ….

Suasana ruang keluarga terasa sangat tegang, setiap orang yang mengutarakan pendapatnya selalu menunjukan emosi. Urat-urat di leher dan kening bermunculan seiring dengan argumen mereka. Berbeda dengan mereka yang emosi, gadis bersurai hitam ini hanya menatap kedua orang tuanya dengan tatapan sendu. Melihat pertengkaran yang sering terjadi di antara kedua orang tuanya merupakan rutinitas bagi gadis yang akan menduduki tingkat akhir sekolah menengah. Melanjutkan langkah kakinya ke kamar daripada harus melihat pertengkaran yang tak kunjung selesai.

Merebahkan tubuhnya ke tempat tidur dan menatap langit-langit kamar, pandangan sendu itu tidak ada lagi hanya pandangan kosong yang ia tunjukkan. Tapi pandangan menerawang itu tidak lama karena sebelah tangannya memegangi kepala dan merintih kesakitan. Jeritan memiluhkan dari bibir plumnya terus terdengar dan berusaha meminta tolong kepada kedua orang tuanya tapi nihil. Kedua orang tuanya tidak menyahuti rintihannya.

“ibu sakit”

“ayah, ayah”

Tangan kurus itu meremas-remas rambutnya berusaha mengurangi rasa sakit yang ia rasakan. Beberapa menit tubuh mungil itu meringkuk dibalik pintu sambil menarik-narik rambut hitamnya, perlahan-lahan rasa sakit yang dirasakan Luna menghilang karena sentuhan lembut dari seseorang. Kasih sayang yang tidak pernah ia dapat dari kedua orang tuanya kini ia dapatkan.

Isakan tangis perlahan berhenti seiring usapan lembut itu, pandangan Luna mengarah kepada lelaki yang entah darimana datangnya. Lelaki misterius itu mengulurkan tangannya dan mengajak Luna untuk duduk pinggir tempat tidur.

“kau siapa?”

“apa kau tak mengenalku?”

Hanya gelengan yang didapat oleh lelaki misterius itu membuat ia terkekeh melihat ekspresi polos Luna. Tangannya kembali terulur untuk mengelus surai Luna, mendapat perlakuan lembut gadis cantik ini memejamkan matanya. Menikmati kelembutan dan kasih sayang yang tidak pernah ia dapat. Dulu saat ia tidak mendapat kasih sayang dari kedua orang tuanya ia mendapat kasih sayang dari sahabat yang berjarak enam tahun, tapi sekarang sahabatnya pergi entah kemana. Kepergian sahabat kecilnya membuat Luna merasakan kehilangan kasih sayang dari orang sekitar, ia mengakui kalau dirinya introvert. Dia bergantung pada Sehun tapi saat sahabatnya itu tidak ada entahlah dirinya akan jadi apa setelah ini.

“hei buka matamu cantik”

Kedua mata cantik itu terbuka dan pertama kali ia lihat adalah wajah sahabat kecilnya. Sahabat kecil yang sedang tersenyum begitu hangat seperti biasanya. Mata sipitnya membulat lucu dan menubruk tubuh lelaki yang berada didepannya, lagi-lagi kekehan terdengar dari bibir tipis lelaki yang sekarang berada dalam pelukan Luna.

“sehun! Kau kembali”

“hei! Aku bukan Sehun”

Mendengar itu Luna melepas pelukannya, memandang bingung lelaki yang berada didepannya. Seakan dapat membaca ekspresi Luna, lelaki misterius ini menggenggam kedua tangan gadis yang berada didepannya. Tersenyum begitu lembut.

“aku, Lee Jongbin. Mulai sekarang hanya ada aku disini!”

“kedua orang tuamu sudah tidak ada!”

“kedua orang tuamu sudah meninggal!”

Flashback end…

 

 

-tbc-

ini pertama kalinya gue bikin genre psyco biasanya romance komedi, semoga feelnya dapet dan suka. chapt ini menurut gue absrud dan gak nyambung. mungkin kali ini kalian bakal bosen sama ini ff

tinggalkan jejak dan comment ye <3<3

37 responses to “My Psikiater -Chapter 4-

    • Jadi gini…
      Skizofrenia itu gangguan yang melibatkan otak untuk penyebabnya bisa karena stres dan rahasia
      Nah! Luna itu stres karena ortunya selalu berantem. Disaat yang bersamaan sehu pergi ninggalin dia
      Kok bisa luna ke skizofrenia dan next chapter bakal dijelasin lagi…
      Buat yang bingung jongbin kenapa tiba” muncul, sekali lagi aku ngomong ya.. Jongbin itu dari hayalan luna. Bisa dikatakan kalau jongbin itu sebenernya gak ada

      Thx
      Hehehe

    • Kenapa luna bisa kaya gitu
      Yang pertama, dia kena skizofrenia
      Yang kedua, skizofrenia itu bisa disebabkan stres dan masih dirahasiakan
      Yang ketiga, kenapa luna ngalami halusinasi, delusi, dll itu karena ciri” orang terkena skizofrenia emang kaya gitu

      Hehe
      Thx
      Semoga gak tambah bingung

  1. Mau dong di ajarin main basket sm sehun xD
    Gue ga akan komentar banyak, karna ni ff udh bikin penasaran pengen buru2 liat luna sembuh, dan bayangan si jongbin sialan itu ngilang deh dr khayalannya luna xD nextnya jan lama2 yow

  2. Luna kok bisa ngelupain hun? Apa lgi mrk kan shbtan dr kecil. Apa krn dia stress bgt kali ya?
    Dan knp+kmn hun prgi?

  3. Wiihhh, sehun ssma luna selisih enam tahuun toohh..
    Lalu gimana ceritanya mereka bisa sahabatan kalo umur mereka aja terpaut lumayan jauh gituuu??? Hmm… bikin penasaran.

    Luna tegang trus punya penyakit skizofrenia. Ahh.. gue mulai ngerti alur ceritanya mau dibawa kemana, hehehe.
    Luna cepat sadar dong, tuh diajarin main basket sama cowok tamvan nan idaman kayak sehun kan senen harusnya.
    Jangan cuek, ntar sehun tak ambil . Hohoho
    Author jjang!!!
    Next cepet plisss😁😁😁😁😁😁

  4. Oalah mereka sahabatan ternyata.. jadi gara2 kurang kasih sayang itu yg bikin luna jadi stres dan mulai menghayal.. kasihan luna.. ceritanya makin seru n sedih thor.. feelnya kerasa banget.. kekeke ^^

  5. ini mereka udah kepisah 6thn? kok yg habis sehun flashback malah dia narasinya.. sehun masih.mengingat kejadian.satu.tahun lalu.. jadi seakan akan flashbavk dia sm luna yg dilapangan basket terjadi.thn lalu.. lah.padahal mereka.udah kepisah 6 thn dan.baru ktmu lg sekarang,, lantas yg satu tahun lalu??? terus tingkatkan cerita.ff mu ya author? aku tau pasti pusing bikin ff, apalagi psikologi gini.. tp usahakan penalaranya baik ttg psikologi maupun timingnya masuk akal ya? ditunggu kelanjutannya ya? penasaran knp sehun pergi? itu sehun pergi beneran???

  6. jadi Luna Sehun sahabat kecil dulunya, tapi Sehun manggil Luna sayang2 gitu -__-
    jadi pas Sehun pergi waktu kecil, Luna mulai berhalusinasi gitu??
    makanya Sehun nyesel karna udah ninggalin Luna..

  7. Uuhhhh ksizo memang harus segera ditangani secara khusus, apalagi udah parah, banya gangguan kejiwaan yg tertanam dlam dri seorang pnderita skizofren… Apalagi kalok udah halusinasi, isolasi sosial, bisa2 bakal jdi resika menciderai diri sndri nd orang lain nd fatalnya resiko bunuh diri, belom lgi defisit ADL nya… #jdi keinget susahnya deketin penderita skizofren waktu praktik di RSJ lawang dlu… Subhanallah kadang2 kita diamukin sndri sampe dirantai2… Hikzz Hikzzz…
    Dan semoga sehun ttep brusaha buat dampingin luna… Trauma dan depresi faktor pencetusnya…

    • Akhirnya ada yang tau skizofren
      Serius kak, aku buat cerita ini stres
      Buat jelasin skizofren itu susah
      Hehehe
      Enak ya bisa praktik, aku mau praktik ke rsj gak jadi
      Makasih buat commentnya
      Thx kak 😄😄

  8. Oh, jadi seperti itu?
    Aku juga pusing😁. Tapi seru kok ceritanya + ada pemberitahuan pengetahuan juga.

  9. Sbnrnya sehun ninggalin luna nya kenapa?? Terus kenapa dia dateng lagi?? Terus apa abis ini si luna nya bakalan sembuh?? Penasaran sama next chapnya😢 aku sih maunya ini jangan cepat berakhir/? Kurang gemes/? Aja kalo cepetnya abis😢 ditunggu next chapter nyaa kaak author😊

  10. Yeaaaaayyy lunaaa sudahh ada perkembangannn, dann owwhh, trnyata bgtu prtemuan jongbin ma luna, gr” sakit kepala tohh, next chap-nya ditunggu HWAITING!!!

  11. Wahaha.. Makin bikin kepo aja ama ni ceritaaa.. Ohh jd sehun sama lhna itu sahabatan dulu nyaaa yayaya ngerti ngerti hrs lebih detail dan banyak yaa wkwk kayaknya cepet banget gua bacanyaa hehehe semangaatt keep writinf eoh?! Fightinggg ^^9

  12. Pingback: My Psikiater -end chapter- | SAY KOREAN FANFICTION·

  13. Ah jadi itu awal mula Luna kenal alias menghalusinasikan Jongbin. Aku sekarang ngerti hehe . Ff ini genre nya psycho tapi lebih ringan ceritanya dibanding ffpsycho lainnya dan aku suka 😀

    oh dan maaf karena baru review,soalnya baru isi kuota kkk dan ff ini aku simpan di save page . Dan kalo aja aku gak buka SKF ,mungkin aku bakalan lupa mau baca ff ini karna saking baanyaknya yang disimpan di save pages XD

  14. klo semisal aga selalu tau update an kakak tiap hari atau tiap kapan ff my psikiater ini di post gimana yah

  15. siapa dah lee jongbin-.- reinkarnasi sehun wwkkw? harus cepet baca lanjutannya ini mah biar gausah nanya nanya lagii hehe

  16. Cukup membuat bingung tapi tetep ngerti kok aku sama jalan ceritanya,jadi makin penasaran…..lanjut kak next chapter

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s