Perfect Flaw (Chapter 5) —ARLENE P.

REAL PF copy

Perfect Flaw

When the ego killing every promise …

– ♥ –

⌈ MAIN CAST ⌋

Sehun Silverstein

Denham | April 12th, 1992

SEHUN3

Ilana Kim

San Francisco | December 1st, 1993

04

Park Chanyeol

Denham | November 27th, 1991

????

Grace Walton

Bestonville | January 1st, 1993

GRACE1

– Ξ –

⌈ ANOTHER CAST ⌋

Baekhyun  William  Kris Sandara

also

Luhan Alena  Kai Tania Minseok

– Ξ –

⌈ Los Angeles & San Francisco, California, US ⌋

⌈ AU ¶ Multi-chaptered⌋

⌈ RATE : PG-17

⌈ GENRE ⌋

Romance, Drama, Hurt/Comfort, Angst, Family, Friendship, Brothership

– Ξ –

⌈ DISCLAIMER ⌋

I ordinary own the plot and I’ve try my best to make this absurd story. So, don’t be siders or plagiators, please. Don’t forget to read the Author’s Note below.

– Ξ –

⌈ PREVIOUS PART ⌋

TEASER || MEET (AGAIN) [1] || GOT THEIR FEELING #A [2] || GOT THEIR FEELING #B [2] || PRESSURE BEGINS [3] || NEVER TOO LATE [4]

.

Arlene©2016 | DARKLENE

.

⌈ NOW PRESENT ► THE TRUTH | 7.183 words

.

.

.

The truth will set you free, but first it will piss you off. 
—Joe Klaas, Twelve Steps to Happiness

.

.

“Kata siapa kau sudah boleh pergi?”

Langkah Ilana pun terhenti seiring dengan berakhirnya untaian silabel yang dimuntahkan Alena. Tak urung ia putar haluan. Memapas jarak yang semula jadi batasan, untuk kemudian memutar jengah bola matanya sendiri paska melihat posisi sang kakak. Tampak begitu intim dengan menumpukan penuh pantat seksinya di atas pangkuan Luhan. Rupanya baru saja rampung menyimpulkan dasi yang melilit kerah kemeja suaminya tersebut.

Dan, tanpa memberi kesempatan bagi Ilana untuk menjawab pertanyaan retorisnya, Alena sudah kembali angkat bicara. Memuntahkan susunan kata serupa titahnya kepada sang adik tercinta. “Sarapan dulu! Aku tidak ingin tubuh seksi adikku ini berubah kurus. Kau juga tidak mau ‘kan Sehun berpaling dan mencari gadis yang lebih—” Jeda sebentar yang digunakan Alena untuk meliuk-liukkan kedua tangannya, membentuk sebuah siluet yang tertangkap menggelikan dalam fokus Ilana. Hingga tak lama kemudian wanita cantik ini mengerling jahil lantas menutup kalimatnya dengan vokal penuh makna, “—ugh.”

Should I care? Kalau dia benar-benar mencintaiku, bentuk fisik harusnya tak lagi penting!” balas Ilana, mencoba acuh tak acuh namun gagal. Nada bicara yang dibumbui penekanan penuh pun sudah lebih dari cukup untuk menegaskan betapa api cemburu itu berhasil menyulut emosinya. “Sudahlah! Jangan buang waktuku karena aku harus segera menemui Paman di kantor.”

Ilana baru akan memutar tubuhnya dan kembali ke tujuan semula saat suara sopran Alena kembali mengudara. “Selain sangat mencintaimu, kurasa Sehun juga terobsesi untuk mengubah kamarmu menjadi sebuah perkebunan mawar.” Alena pun mengedikkan kepalanya pada satu titik begitu irisnya bersirobok dengan violet Ilana. “Kemarin mawar merah dan sekarang putih. Mungkin besok warna kuning, lalu besoknya peach, dan besok-besoknya lagi aku akan sulit menemukan tubuh mungil adikku di antara tumpukan mawar berwarna-warni.”

buket-bunga-mawar-pink-harga-260-ribu

“Kau berlebihan, Sayang. Kenapa makin hari kau makin cerewet saja, huh?” balas Luhan yang tak pelak menuai derai tawa Ilana, sementara Alena justru memberengut manja dan bersiap untuk bangkit dari pangkuan kalau saja kedua tangan pria ini tak gesit bermanuver. Mengunci pinggang ramping sang istri dengan satu tangan, di saat tangan yang lainnya sibuk menekan permukaan lembut yang biasa disesapnya dalam kungkungan tendensi. “Kenapa kau tetap terlihat cantik meski sedang cemberut ya?”

Ew. Cheesy Müller,” cibir Ilana cepat sembari mengambil langkah menjauh. Meraih sebuket bunga yang tadi ditunjukkan sang kakak, kemudian mengungkungnya dalam pelukan. “Kakakku memang sudah secerewet ini sejak kecil. Kau juga harus melihat betapa menyeramkan wajah asli Alena saat sedang marah. Ugh. Kucing saja bisa lari terbirit-birit. Kalau tidak percaya, kau bisa tanyakan pada Minseok.”

Alena membeliak, lengkap dengan aksi protes, “Hei! Balas dendammu berlebihan, Nona Kim.”

Ilana mengedikkan bahu seraya menghirup aroma bunga dalam dekapan. “Memang begitu, kok,” sahut gadis ini dengan ringannya. “Aku pergi duluan. Sampai bertemu di kantor.” Setelahnya, Ilana berlalu secara tergesa. Kentara enggan memberi celah bagi Alena untuk kembali menahannya. Seolah tuli, gadis ini terus mengambil langkah menuju pintu keluar. Tak acuh pada seruan geram sang kakak yang bersahutan dengan amunisi penenang Luhan. Meninggalkan sepasang suami istri tersebut jauh-jauh di belakang hingga sosoknya benar-benar lenyap ditelan lapisan kayu yang diharuskan menjadi sekat pembatas tak permanen.

“Sudah, Sayang,” Luhan tak henti menenangkan sang istri sepeninggal Ilana. “Suaramu bisa habis kalau berteriak begitu,” tambahnya sembari menepuk sayang puncak kepala Alena. Membumbuinya dengan beberapa kecupan ringan di titik yang sama.

“Aku hanya ingin adikku tetap menjaga kesehatannya, Lu. Bagaimana bisa dia pergi bekerja tanpa mengisi perutnya lebih dulu, huh?”

Luhan pun terkekeh. “Kau bisa membawakan bekal makanan untuknya kalau kau mau.” Solusi pun terlepas tanpa tekanan. Menghadirkan senyum simpul di bibir Alena yang menggoda Luhan untuk segera menikmati manisnya. “Masalah selesai, ‘kan?” Jarak pun dikikis perlahan oleh Luhan, seiring dengan kelopak mata sang istri yang menutup lantaran terlena. Material basah keduanya telah siap untuk saling menggoda, sampai akhirnya …

“DI MANA KAU LETAKKAN KEMEJA KESUKAANKU, ALENA?”

… si sulung kembali jadi pengacau.

Alena tak urung mengumpat. “Demi Tuhan, Minseok!” Dikecupnya singkat bibir sang suami yang tengah menyimpulkan senyum masam. Bergegas bangkit dari zona nyaman, kemudian balas berteriak, “TAK BISAKAH SEKALI SAJA KAU TIDAK MENGHANCURKAN PAGIKU, KAKAK YANG MENYEBALKAN?” Belum genap dua langkah menjauh, Alena sudah dikejutkan oleh dering ponselnya sendiri. Merogoh sebentar, lalu mengernyit begitu menemukan nama sang adik yang menari di atas layarnya.

“Ilana mengirim pesan? Lucu seka—” Satu silabel yang harusnya jadi penutup seolah menguap seiring dengan tampilan layar yang berubah. Memamerkan isi pesan singkat Ilana yang terlongsong mengundang haru, juga mendorong Alena untuk kembali melesakkan diri ke atas pangkuan sang suami tercinta. “Lu … Ilana menyebalkan, ya?” gumamnya lirih sembari mengangsurkan benda elektronik dalam genggaman.

Cukup lama Luhan bergeming. Membaca isi pesan yang dikirimkan Ilana, sebelum akhirnya menimpali, “Dia sangat menyayangimu, Alena. Kenapa malah menangis? Kau senang, ‘kan?”

“Tentu saja aku bahagia.”

“Lalu untuk apa air matamu itu, Sayang?”

Alena lekas menguraikan pelukannya, lalu membalas tatapan Luhan. Tersenyum simpul dengan kedua matanya yang sedikit memerah sehabis menangis. “Akan lebih menyenangkan kalau adikku mau membagi semua bebannya kepadaku, kepada Minseok. Aku sebenarnya lelah harus berpura-pura bodoh, di saat aku tahu bahwa Ilana sedang menahan semua kesakitannya di dalam sini—” Alena menekan dada. “—seorang diri.”

“Aku bertanya di mana dasiku, Len. Kenapa ma—” Minseok yang baru saja muncul kontan terkesiap melihat kedua pipi pualam sang adik yang dinodai lelehan air mata meski samar. “Kau menangis? Kenapa? Apa kalian bertengkar? Kau baik-baik saja, ‘kan?” Si sulung pun bergegas mendekati sosok Alena yang kembali terisak. Berlutut demi menggoda ujung hidung adiknya yang memerah menggunakan jari telunjuk. Menekannya sedikit dengan raut heran yang sukar ditutupi. “Ada apa ini?”

“Bacalah.” Luhan menyodorkan ponsel milik Alena ke tangan Minseok.

Sejatinya isi pesan singkat yang dikirim Ilana tak lebih dari empat kalimat. Sesederhana itu namun tidak dengan akibat yang ditimbulkan sesudahnya. Berdampak pula bagi Minseok yang kini tengah menggulirkan fokus, membiarkan rasa haru menjadi selimut mereka bersama.

Maafkan aku yang sudah berbohong, Len. Kau sama sekali tidak pernah terlihat menyeramkan bagiku. Kau begitu berharga, sama seperti Minseok. Kalian berdua adalah hal yang paling ingin kujaga selain Paman di dunia ini.

PF

Preppy Style Round Collar Color Block Bowknot Embellished Short Sleeve

Ilana tampak anggun di setiap langkah yang diambilnya. Dagu terangkat tinggi dengan tak lupa menebar senyum manis untuk sejumlah karyawan yang mengisi perjalanannya menuju ruang pribadi Kris. Gaun pendek hitam yang jadi pilihan pun terasa begitu tepat membalut tubuhnya yang proporsional. Belum lagi bentuk kerah melingkar berhiaskan pita putih di bagian tengah yang turut memermanis penampilannya pagi ini.

topline-office-working-people

Meski sudah harus kerepotan membawa blazer putih serta tas tangan hitam di tangan kanan, Ilana justru dengan senang hati menugaskan tangan kirinya untuk mendekap buket bunga pemberian Sehun. Menghirup aromanya tanpa kenal lelah di sela kekosongan langkah, sebelum benar-benar menginjakkan kaki di atas petakan keramik yang membangun keluasan ruang kerja sang paman. Masuk dengan teramat mudah lantaran pintu yang belum tertutup rapat sebelum kedatangannya.

modern-ceo-office-interior-design-3y73jf7ub

“Sibuk, Paman?” 

Pertanyaan singkat yang baru saja dilontarkan Ilana tak urung membuat Kris terperanjat di posisinya. Senyum manis pun gadis ini simpulkan setelah fokus keduanya bersambut sempurna. Disusul beberapa langkah tergesa yang membawa Ilana menghuni satu kursi kosong yang berseberangan dengan posisi sang paman tersayang.

Kris menggeleng sekali, sebelum ikut menyunggingkan segaris senyum di bibir. Memamerkan kembali ketampanannya yang sempat lenyap ditelan gurat-gurat lelah di wajah. “Kau mengejutkanku, Sayang. Apa kau lupa caranya mengetuk pintu, huh?” tanyanya retoris dengan nada yang kentara gemas.  Kekehan kecil pun ia loloskan begitu menangkap senyum bodoh yang diperlihatkan Ilana di wajah. Walau tak berselang lama, hening kembali menelusup atas dorongan rasa khawatir. “Kau baik-baik saja ‘kan, La?” Pertanyaan kedua terlepas seiring dengan raut wajah Kris yang kembali terlihat letih.

“Harusnya aku yang bertanya begitu padamu, Tuan Wu,” sahut Ilana sembari memindahkan buket bunga dalam pelukan ke atas kursi kosong di samping kiri. Lekas melipat kedua tangan di permukaan meja, lalu menumpukan penuh dagunya di sana. “Kau memintaku untuk segera kembali ke San Francisco untuk membantu persiapan pernikahanmu yang akan berlangsung dua minggu lagi, tapi kau malah mengabaikanku dan sibuk sendiri dengan pekerjaanmu. Bahkan kau tidak menjemputku semalam!” Ilana mencibir. “Jahat sekali.”

Belum sempat Kris mengajukan protes, bibir dalam polesan cherry milik keponakannya tersebut dengan tangkasnya mendahului. “Sudah seminggu terakhir kau pergi ke kantor pagi-pagi buta dan pulang ke rumah tengah malam.” Cepat-cepat Ilana angkat kepala dan membebaskan telunjuknya ke udara. Kembali menginterupsi susunan kata yang coba dilafalkan sang paman. “Jangan mengelak lagi! Aku mendengarnya sendiri dari mulut Alena. Ayolah, Paman! Aku tahu kau mencintai pekerjaanmu, tapi bu—”

“Aku butuh pengalih, La.” Akhirnya, Kris berhasil. Empat kata yang baru saja ia muntahkan telah lebih dari cukup untuk memutus penghakiman Ilana. Membuat gadis cantik dihadapannya itu mengerutkan dahi tanda tak mengerti. “Ada banyak hal yang mengganggu pikiranku. Dan ini—” Kris menunjuk dokumen yang menghiasi meja kerjanya menggunakan jari telunjuk. “—salah satu cara yang manjur untuk membuatku kembali merasa normal.”

Ilana menunduk dalam, kemudian menggigit bibirnya sekuat mungkin. Berusaha menghalau sesal yang kembali menghimpit rongga pernapasan dan mencuri pasokan oksigen yang tersimpan. Susah payah gadis ini coba bicara. Menjaga vokal agar tak bergetar meski tahu hasil akhirnya tetaplah dipenuhi pengkhianatan. Lisannya tersendat, bahkan terlepas lirih. “Apa … karena … ak-aku?”

“Ya. Kau memang termasuk.”

“Maafkan aku, Paman.” Ilana mendongak. Menggigit bibir sejenak, lalu bergegas menambahkan, “Aku harusnya bisa menjaga sikap dan membawa nama Kimpton ke arah yang lebih baik. Aku tidak bermaksud membuat nama perusahaan dan keluarga kita jadi buruk begini. Semua skandal yang menimpaku, aku …” Ilana mengedikkan bahu dengan kedua iris terpejam kuat. “Aku juga tidak menginginkannya. Tapi mereka terus menghantuiku.”

“Hei …” Kris berseloroh dengan wajah kentara kesal. Kedua tangan pun dilipatnya di depan dada, sementara tubuhnya melesak mundur menyapa sandaran kursi. “Aku tidak pernah mengatakan ini soal perusahaan. Ini tentangmu, dirimu … Ilana Kim. Aku memintamu untuk segera pulang karena aku tahu kau tak lagi bahagia di sana. Tapi saat kau kembali, aku justru bingung dan tak tahu harus memulai dari mana dan seperti apa. Aku tak ingin melukai dan membuatmu lemah … seperti sekarang.”

“Aku bisa terlihat baik di depan Alena dan Minseok, tapi kenapa begitu sulit saat berhadapan dengan Paman?” balas Ilana, masih dengan lisannya yang bergetar hebat. “Aku tidak mengerti kenapa semuanya harus jadi serumit ini? Aku juga tidak mengerti kenapa Williard begitu membenciku. Dari caranya menatapku, a-aku …” Ilana kehilangan kata. Bibirnya sontak bungkam di kala lelehan air mata mengambil alih.

“Kau tahu ‘kan kalau aku membenci Williard?”

Ilana mengangguk lemah seraya mengusap kedua pipinya yang berurai air mata.

“Dan kau tidak pernah tahu bahwa dulu aku pernah sangat menyayanginya, sama seperti aku menyayangi ibumu,” sambung Kris yang membuat Ilana terbelalak dalam duduknya. “Ketika Williard melukai seseorang, itu sama saja dia melukai dirinya sendiri. Dan itulah yang dia lakukan padamu sekarang.”

“Aku tidak mengerti,” sahut Ilana lirih.

Kris tersenyum masam. “Aku membencinya, tapi aku tak pernah benar-benar menjauhinya. Aku bertahan, tak peduli seberapa sering dia coba merenggut semua yang keluarga kita miliki.” Pria berwajah Kanada ini tampak menghela napas panjang nan beratnya selama beberapa detik. Kembali mengukir senyum pahit di bibir yang terbaca begitu buruk dalam penglihatan Ilana. “Sejak awal aku ingin melupakan semuanya dan hampir berhasil kalau saja aku tidak pernah tahu bahwa Stein mendekatimu.”

“Saat itu aku marah, La. Aku takut Stein mendekatimu hanya untuk memenuhi tuntutan ayahnya dalam merebut keseluruhan saham perusahaan kita. Lalu aku terluka setelah tahu bahwa Stein tidak benar-benar mengerti semuanya, sama sepertimu.” Kris merangsek maju. Mencari kemudahan bagi tangannya meraih puncak surai Ilana. Membelainya penuh kelembutan—beberapa kali. “Kisah kalian membuatku harus mengingat masa lalu dan rasanya menyakitkan.”

“Masa … lalu?” Ilana membeo, ragu-ragu.

“Williard sangat mencintai ibumu, La.”

Ilana terkesiap. “Ibu?”

“Ya. Dia sangat mencintai kakakku. Ibumu.”

Gelengan keras diberikan Ilana sebagai balasan. Kedua tangan gadis ini lantas merambat naik, memeluk erat tubuhnya yang bergetar kian tak terkendali. “L-Lalu … K-Kenapa? B-Bagaimana … bisa?”

“Dulu sekali, aku, ayahmu, Williard, Lay, dan ayahnya Chanyeol bersahabat. Kami kuliah di Universitas yang sama waktu itu. Persahabatan kami masih baik-baik saja sebelum pemahaman tentang persaingan harus kami telan bulat-bulat. Belum lagi pengkhianatan yang dilakukan sisi lemah Kathryn.”

Rasa sesak dalam dada Ilana kian memarah paska mendengar nama sang ibunda yang disandingkan dengan kata pengkhianatan dalam lisan pamannya. Entah sudah berapa kali gadis ini menekan dada. Menahan agar isakannya tak terlepas menyedihkan.

“Dulu ibumu adalah kekasih Williard. Mereka saling mencintai dan menjalin hubungan secara diam-diam. Semuanya masih baik-baik saja sebelum pihak keluarga mengetahuinya. Ini memang soal finansial di awal, La. Saat itu keluarga kami masih belum ada apa-apanya dibanding Silverstein dan ini membuat Kathryn harus menelan pil pahit dengan penolakan yang diberi keluarga besar Will. Lalu karena tidak tega melihat ibumu harus menanggung rasa sakit, kakekmu—ayahku sendiri—memutuskan untuk menjodohkannya dengan Suho Kim. Anak tunggal dari pemilik Perusahaan Kimpton yang kemudian kami besarkan bersama-sama.”

Kris tersenyum tipis. “Gilanya, ibumu masih sempat meneruskan hubungannya bersama Will di saat dirinya tak mampu menolak perjodohan yang ditentukan kakekmu. Kathryn bilang padaku bahwa dia sangat mencintai Williard, tapi menjalin masa depan bersama Suho terasa lebih nyata baginya. Di sinilah semuanya bermula, Lana. Setelah berbulan-bulan membuat Will tampak seperti seorang selingkuhan, Kathryn justru memilih untuk menerima perjodohannya dengan ayahmu.”

“Ayahku juga menerimanya? Bukankah Ayah juga bersahabat dengan Williard?”

Kris mengangguk, kemudian menggeleng. Mengangguk lagi, sebelum akhirnya mendengus keras-keras. “Aku sungguh ingin melupakan semuanya, La. Tapi bagian ini justru menjadi bagian yang paling sulit kulupakan. Aku hampir gila saat tiba-tiba saja Suho mengaku bahwa dia juga sangat mencintai kakakku. Lalu setelahnya, seperti yang kau lihat sekarang, persahabatan kami berlima hancur seakan tidak pernah ada. Begitu lulus kuliah, Lay langsung menghilang, meninggalkan Williard yang berambisi penuh mengalahkan William.”

“William?”

“Hm. Ayahnya Chanyeol. Putra sulung Keluarga Silverstein.”

Hening. Tak ada balasan.

“Seandainya kau bukan Ilana Kim yang wajahnya begitu mirip dengan mendiang Kathryn, mungkin semuanya akan jadi lebih mudah,” Kris berucap lagi. “Untuk berada di posisinya sekarang, itu jelas tidak mudah. Williard menghalalkan berbagai cara, bahkan tak jarang menyakiti dirinya sendiri. Tapi karena dirimu … Hanya-karena-berhadapan-langsung-denganmu, Williard sampai bertindak bodoh yang bisa saja merenggut semua kebanggaannya.”

Setelahnya, tangan kanan Kris mulai sibuk menjelajah isi dari laci meja kerjanya. Mengeluarkan sebuah koran yang tak lama diangsurkannya kepada Ilana. “Will terancam diturunkan dari posisinya sekarang, La. Dan di saat seperti ini, aku tahu, Stein sangat membutuhkanmu.”

PF

Kemunculan Kai di ruang kerjanya membuat Tania hilang akal, bahkan nyaris tersedak teh hangat yang belum lama ini diteguknya sebagai pelepas dahaga. Iris cantiknya pun membulat penuh, menelanjangi sosok tegap pemilik kulit tan yang kini sibuk memapas jarak, sebelum memutuskan untuk berhenti di minimnya jarak yang tersisa. Mengubah haluan kursi putar yang dihuni Tania tanpa aliansi hingga keduanya tepat berhadapan.

“Apa yang kau lakukan di sini, Kai?” Tania berdeham kecil. Membenahi vokalnya yang mendadak serak lantaran diselimuti rasa terkejut. “Ini masih jam kerja dan aku sedang menunggu klienku.” Diliriknya penunjuk waktu yang melingkari pergelangan selama beberapa detik. “Kurasa sebentar lagi dia datang. Jadi, lebih baik kita bertemu di jam istirahat.” Sadar bahwa Kai tengah menaikkan sebelah alis cokelatnya tanpa minat, cepat-cepat Gadis Kang ini menambahkan, “Itu juga kalau kau benar ingin bertemu denganku.”

Kai terkekeh pelan. Masih dengan kedua tangan yang bertumpu pada pegangan kursi di kanan dan kiri Tania. Sengaja mengungkung gadis cantik tersebut dalam lingkar kuasanya. “Kau mau menunggu siapa lagi kalau kenyataannya klienmu sudah datang, Nona Kang?”

“H-Huh?”

“Akulah klienmu,” jelas Kai. “Kenapa tiba-tiba segugup ini, sih?”

“Aku tidak gugup,” tukas Tania sembari mendorong pelan kedua bahu sang lawan bicara agar menjauh. Memutar kembali kursinya ke arah semula sembari menunjuk salah satu kursi kosong yang kini terhalang sebuah meja darinya. “Silakan duduk, Tuan Kim,” sambungnya demi menjalankan tugas. “Lain kali tidak perlu minta tolong orang lain untuk menyamarkan identitas Anda,” tambahnya sembari memutar jengah kedua bola mata. Teringat sesuatu yang kemudian membuatnya tergelak kecil. “Aah, mungkinkah Anda melakukannya karena malu menggunakan jasa seseorang yang pernah Anda hina di masa lalu?”

Kai mengedikkan bahu namun tetap memenuhi arahan Tania. Mendudukkan diri di salah satu kursi kosong dengan fokus terarah penuh pada wajah penuh kemenangan di hadapannya. “Aku tidak pernah menghinamu. Saat itu aku memang merasa dibohongi karena Ilana bilang—”

“Sudahlah!” potong Tania sembari mengibaskan sebelah tangannya di udara. “Kalau kau kemari tanpa kepentingan apa pun, lebih baik pulang saja. Tidak ada gunanya mengungkit masa lalu.” Gadis cantik ini lantas mencibir cukup lama. Menambah kerja lisannya untuk memuntahkan kata dalam balutan vokal teramat lirih. Menggerutu yang sialnya masih tertangkap jelas dalam pendengaran Kai. “Kurasa dia sedang mabuk saat bertemu denganku di kedai.”

“Aku ke sini untuk berkonsultasi, Nona,” sahut Kai. “Dan aku tidak pernah bertemu denganmu dalam keadaan mabuk. Semua yang pernah dan akan kuucapkan padamu itu serius,” imbuhnya yang kontan membuat Tania merona sendiri, seakan malu menanggapi perkataan pria ini.

Takut terlihat konyol, Tania lekas membawa diri ke garis normal. Mengais akal sehatnya yang tersisa dengan susah payah, baru setelahnya membawa topik baru untuk memulai pembicaraan yang dianggap perlu oleh gadis ini. “Apa yang bisa saya bantu? Anda bisa ceritakan masalah Anda dan saya akan coba bantu se—”

I still love her.”

Tania bergeming. Garis wajahnya tetap tenang dengan ulasan senyum tersimpul di wajah paska mendengar pengakuan Kai. Kedua tangan pun dilipatnya di atas meja dengan tubuh yang condong ke depan demi mencecar redupnya cokelat kelam sang lawan. “Aku tahu,” balasnya tanpa bergetar. “Bahkan aku sudah menyadarinya sejak kita bertemu di kedai tempo hari.” Tania tersenyum lagi. “Terimakasih sudah menyadarinya meski terlambat. Paling tidak, kita sudah bisa benar-benar memulainya sekarang.”

Kai mengernyit. “Bagaimana kau bisa tahu?”

“Karena kau yang menunjukkannya padaku, Kai Kim,” jawab Tania kalem. “Ekspresimu membuatku mengerti bahwa kau menganggapku sebagai orang yang siap mengobati lukamu, bukan orang yang kau cintai.”

Kai terkejut namun enggan menunjukkannya. Alih-alih meratap, Pria Kim ini justru menarik sudut kanan bibirnya. Memamerkan senyum jahil yang kerap ditinggalkannya. “Kau tahu, Tania?” Kai ikut mencondongkan tubuhnya ke depan. “Kalau saja waktu itu kau tidak menghilang, aku pasti sudah jatuh cinta setengah mati padamu sekarang. Kau cantik, pintar, dan menyenangkan. Tidak ada alasan bagiku untuk menolak pesonamu.”

Tania terkekeh, sebelum mengambil jarak. Menjadikan sandaran kursi sebagai tumpuan, baru setelahnya menimpali, “Dan kau tahu, Kai?” Tania mengangkat sebelah alisnya dengan satu jari telunjuk menekan dagu. “Rayuanmu sama sekali tidak mempan untukku.” 

PF

Susunan kata penuh caci telah rampung ditelan pusat saraf ketika sekat pembatas berderit menggoda pendengaran. Mendorong satu-satunya penghuni ruangan untuk lekas menolehkan kepala, menyambut cecaran manik cokelat terang yang siap menjadi kawannya dalam berbagi. Mengacu pada paradigma yang disebar tangan-tangan jahil pembuat berita hingga berdampak besar terhadap aspek kognitif masyarakat.

Ya. Di sinilah Chanyeol dan Baekhyun. Siap bertukar argumen. Mengais satu per satu premis masuk akal yang nantinya diharapkan berujung pada satu konklusi tepat sasaran. Bahu-membahu demi meraih satu kemenangan mutlak yang sejatinya tak pernah ada.

“Yang dilakukan Paman sudah keterlaluan.”

Baekhyun mendongak cepat setelah berhasil menghuni sofa panjang di sudut ruangan. Menjauh dari posisi Chanyeol hanya untuk mencari kenyamanannya sendiri. Berusaha melepas penat yang memeluk paska bergelung dengan penghakiman para investor selama hampir semalam suntuk. Dampak paling hebat yang dengan pongahnya disisakan tingkah polah Williard tempo hari.

“Baek? Kau mendengarku, ‘kan?” tuntut Chanyeol begitu sadar bahwa Baekhyun justru tidak mengacuhkannya. “Dia memecat koki andalan Palomar yang jelas-jelas tidak bersalah. Bodohnya, Tuan Hannigan tak mampu menolak.” Chanyeol mengacak frustasi surai hitamnya yang kini tampak lusuh, terabaikan. “Haruskah kita mencari koki tersebut dan meminta maaf? Mencarikan pekerjaan baru untuknya atau apa pun itu, yang penting kita bisa membuat keadaan jadi lebih manusiawi. Demi Tuhan, Baek. Koki-itu-tidak-bersalah-!” imbuhnya penuh penekanan.

Jengah, Baekhyun sempatkan diri untuk memijat pelipis. Memukul pelan dahinya yang berkerut pening menggunakan kepalan tangan kanan sebanyak tiga kali, baru setelahnya memberi balasan, “Tidak sekarang, Chan!” Desahan berat pun diloloskan Baekhyun. “Kita harus segera kembali ke Denham sebelum masalah ini berkembang terlalu jauh. Kau tahu kan para Dewan Direksi sudah berniat untuk mengadakan rapat mendadak tanpa melibatkan kita? Aku yakin ini hanya jalan yang dibuat untuk menurunkan Paman dari posisinya.”

Chanyeol mengangkat alis kanan hitamnya tanpa minat. “Kenapa kita harus peduli, Baek?” balasnya sarkastik. “Harusnya sebelum Paman Will bertindak bodoh di muka umum, dia sudah memikirkan resikonya! Paman Will tidak hanya melukai harga dirinya, tapi juga putranya. Dia jelas tahu bahwa Stein sangat mencintai Ilana dan kalaupun Paman harus diturunkan dari posisinya, aku sama sekali tidak merasa keberatan.”

“Aah.” Baekhyun tersenyum sinis. Gamang atas pemikiran picik yang tiba-tiba menyambangi pusat sarafnya. “Kuharap dugaanku salah, tapi kau tidak sedang berniat untuk menggantikan posisi Paman Will di IHG, ‘kan?”

“Menurutmu?”

Baekhyun mengedikkan bahu. Menegakkan posisi duduknya seraya membenahi permukaan kemeja pelindung tubuh yang sedikit kusut di bagian depan. “Seharusnya posisi itu bisa didapatkan Paman William bukan? Dan kau—” Jari telunjuk Baekhyun terangkat, kemudian terarah penuh kepada Chanyeol. “—Kau memang lebih pantas menjadi pewaris terbesar Silverstein jika dilihat dari silsilah keluarga,” balas Baekhyun dalam balutan vokal yang sarat akan rasa kecewa. Fokusnya berlari, tak lagi menaruh minat untuk sekadar mencari tahu perubahan garis wajah yang ditunjukkan Chanyeol sesudahnya. “Kalau aku benar, kurasa aku memang tidak pernah berhasil memahamimu.”

“Kau memang tidak mengerti aku sama sekali!” balas Chanyeol sinis. Nadanya kentara tidak bersahabat tanpa perlu dibumbui penekanan berlebih. “Kalau aku memang sepicik itu, sejak awal takkan pernah kubuang marga Silverstein dari akta kelahiranku! Harusnya kau mengerti itu!”

Dan, meledaklah Chanyeol. Beban yang lama bersarang di hati pun terlempar keluar dalam pelafalan lisan. Menghantam kebodohan Baekhyun tepat di inti. Menyisakan rasa sesak yang membuat sang lawan terpaku tak ubahnya seorang tunawicara.

“Ingin menjadi yang nomer satu adalah hal wajar bukan? Minimal sekali seumur hidup, semua orang pasti pernah memiliki harapan untuk menjadi yang paling baik dari yang terbaik, kecuali orang itu bodoh atau gila. Aku mengakui hal tersebut dan tidak berniat untuk menampiknya, Baekhyun …” Nada bicara pun melemah, seiring dengan vokal yang habis ditelan nelangsa. Sesekali tersendat, di saat akal menuntut untuk lekas memuntahkan segala pengakuan berlabel luka. “Kalau aku tetap memertahankan nama Silverstein baru kau boleh menghinaku seperti tadi.”

“M-Maaf, Chan. A-Aku … tidak—”

“Aku bukan boneka yang bisa digunakan ibuku sebagai alat balas dendam. Aku manusia biasa yang bisa terluka kapan pun, Baekhyun. Kau tahu itu, ‘kan?” potong Chanyeol seraya bangkit berdiri. Mengambil langkah mendekati Baekhyun dengan kedua netranya yang memerah penuh kesakitan. “Sejak awal Stein-lah yang diciptakan untuk mengisi posisi utama di IHG, sementara aku? Aku hanya anak yang dipaksa ada karena kesakitan ibuku.”

Baekhyun menelan saliva. Gusar menyadari sosok rapuh Chanyeol yang baru saja terhenti di hadapannya. Berdiri tegak menjulang hingga membuat Baekhyun harus rela mendongakkan kepala tinggi-tinggi. Bibir tipisnya pun membuka, siap memberi balasan kalau saja suara bass Chanyeol tidak dengan tangkas menyela, “Jika aku mengatakan bahwa ibuku mencintai Paman Will, apa kau akan terkejut?”

“Will? William?”

Chanyeol terkekeh pahit. “Sejak kapan aku memanggil ayahku sendiri dengan sebutan Paman, huh?” balasnya retoris. Cepat-cepat ia putar tubuh demi membelakangi Baekhyun. Mencari pengalih yang justru menuai pedih. Membuat Chanyeol tak urung bergeming paska dihadapkan pada sosok dingin Sehun yang berdiri tak jauh dari meja kerjanya. “Stein? Kau … Sejak kapan?” tanyanya rumpang.

“Sepertinya ada banyak hal yang kau tahu dan aku tidak tahu, Park!”

PF

“Aku yang akan memimpin rapat dengan para Dewan Direksi.”

Alunan sopran sarat keangkuhan pun terlepas sebagai pembuka. Seakan begitu tepat mengiringi peraduan sepasang netra yang menyala penuh amarah. Siap berbagi racun melalui lisan, juga menyuap udara menggunakan aroma napas seumpama mesiu yang berujung pada tercabiknya akal sehat masing-masing dari mereka. Tak lagi berdaya melawan kungkungan arogansi—si kata sandang pengangkut kedigjayaan. Nalar pun digerus habis hingga rela menerjang batas normal, sebelum akhirnya tersadar bahwa nilai-nilai pengorbanan yang sesungguhnya telah hilang dari kepemilikan mereka. Nihil. Sia-sia.

Sebilah kekecewaan pun telah lebih dari cukup untuk mengacaukan kearifan yang sejak awal tersamar. Membentuk salah satu dari keduanya sebagai sosok pendendam, sementara sisanya menduplikasi dengan amat piawai. Memainkan peranan dengan begitu apik dalam opera berazas luka nestapa.

“Aku tahu,” Williard baru menimpali setelah cukup lama menelanjangi kecantikan semu yang tersaji di hadapannya. “Bahkan aku sudah mengetahuinya jauh sebelum kau memberitahukannya kepadaku, Ka-kak I-par,” imbuhnya dengan penekanan mendalam di dua kata terakhir.

Sandara melenguh panjang. Coba menghalau segala bentuk kesakitan terdahulunya yang kembali mencuat ke permukaan. Menghempasnya keras-keras ke udara bersama pasokan karbondioksida buangannya. Bibir tebal namun seksi milik wanita cantik ini pun lekas membuka, siap memberikan balasan. “Kau tahu dan kau masih bisa terlihat tenang. Sudah bosan dengan posisimu sekarang, huh?”

“Kau tampak begitu peduli padaku. Apa kau masih mencintaiku, huh?” tukas Williard dengan lisannya yang bersorak penuh kemenangan, terlebih begitu menangkap adanya gurat terkesiap yang diperlihatkan Sandara. “Sepertinya kau benar-benar masih menginginkanku, San. Sayangnya, aku tidak pernah berminat—”

“Brengsek!” Sandara mengumpat kasar. Memutus seluruh penghinaan yang siap diberikan Williard kepadanya melalui satu tarikan napas panjang penanda emosi. “Hatiku membencimu, bahkan sampai bagian terkecil, Tuan Silverstein!” Satu sudut bibir diangkatnya sinis. “Untuk apa juga mencintai seorang pria yang tidak becus memertahankan miliknya sendiri? Pertama Kathryn—”

“Jangan pernah sebut namanya lagi!” sentak Williard, murka.

“Kenapa? Kurasa aku mengatakan hal yang benar.” Tubuh ramping Sandara beringsut mundur secara perlahan. Menggapai sandaran kursi, kemudian mencari kenyamanannya di sana. “Kalau kau bisa menjaga seorang Kathryn Wu dengan baik, maka dia tidak akan pernah mengkhianatimu. Apalagi pria pilihannya adalah sahabatmu sendiri.”

Williard memukul keras permukaan meja di hadapannya. Memilih abai pada realita yang menegaskan bahwa sosok yang kini tengah dihadapinya tak lebih dari seorang wanita. Hangus sudah akalnya yang tersisa—dilahap ego. Hilang kendali atas tubuhnya yang terikat sempurna oleh kemarahan. Tak lagi mampu memahami medan, hingga saat kesadaran itu kembali menampar, satu tangan Williard sudah berhasil mencengkram kuat lengan Sandara. “Jangan buat aku melukaimu lagi, Sandara Park. Sekali kau ingatkan aku pada nama perempuan sialan itu, sama saja kau mengingatkanku pada luka yang harus kusimpan selama berpuluh-puluh tahun lamanya.”

Sandara tak meringis meski lengannya telah memerah. Alih-alih menampakkan raut tak berdaya, wanita ini justru ikut bangkit berdiri dan menyamakan posisinya dengan tubuh menjulang Williard. “Lalu bagaimana denganku, Will? Aku juga menyimpan luka yang sama. Luka karena penolakanmu dan luka karena aku tak pernah benar-benar berhasil menghancurkan mimpimu. Tak peduli sejauh apa pun aku berkorban, kau tetap menjadi satu-satunya pemenang.”

Tangan dalam kuasa pun dihempas kasar oleh Williard, disusul tubuh besarnya yang mengambil dua langkah mundur, menjauh. “Kalau begitu berhentilah. Cukup aku saja yang membuat kedua anakku menaruh benci. Jangan kau, San. Dibenci oleh anak kandungmu sendiri, rasanya sama sekali tidak menyenangkan. Dulu kau perempuan yang baik. Sangat baik malah. Kau pantas dapatkan yang lebih dan kakakku adalah orangnya.”

“Sebaik apa pun aku, kau tetap memilih Kathryn.”

Williard melenguh. “Itu karena Kathie spesial—”

“Lihatlah! Kau bahkan masih bisa memujanya di saat kebencian telah tumbuh dalam hatimu!” sergah Sandara. “Kau juga masih memanggil Kathryn dengan panggilan kesayanganmu, Will. Sebelumnya pun kau tak pernah sekeras ini untuk menghancurkan aset Kimpton. Paling tidak kau selalu bermain rapi dan tak jarang menggunakan putramu sebagai senjata. Lalu, kenapa sekarang jadi begini? Kenapa kau jadi begitu bodoh, sampai rela mengorbankan posisi yang sudah kau raih mati-matian hanya untuk menghinakan sosok yang dicintai Stein, huh?”

Williard bungkam. Kehilangan pakem berbahasa.

“Apa karena Ilana sangat mirip dengan Kathryn?” Sandara tak henti mencecar. “Kau tak ingin dia jadi menantumu karena itu artinya kau harus kembali berhubungan dengan Kris Wu, sahabat lamamu. Dan yang lebih parahnya lagi, kau takut menjumpai bayangan Kathryn setiap kali kau bertemu dengan Ilana. Aku-benar-‘kan-Will?”

Williard membuang pandangan, untuk kemudian menyahut, “Benar atau tidak, itu sama sekali bukan urusanmu. Lebih baik kau keluar sekarang dan lakukan apa saja sesukamu untuk menjatuhkanku, tapi tolong jangan dengan cara mengungkit masa lalu sialan itu. Kesakitanmu jelas tidak akan pernah sama dengan kesakitanku, San. Aku tidak pernah memberimu pengharapan apa-apa, sedangkan Kathie, dia sudah pernah berjanji akan memilihku. Membuatku menunggu, kemudian membuangku begitu saja. Jadi, sekali lagi kutekankan, jangan pernah kau sebut nama perempuan brengsek itu di depanku!”

“Kena—”

“Keluar atau kuusir kau dengan cara memalukan?!”

PF

Lara mulai endapkan resah. Menelusup lantas menggelayut, membuat sang perasa hilang arah. Hanyut dan terbawa hingga akhirnya menepi di perasingan. Menanamkan benih kekecewaan yang dengan piawainya melemahkan. Menyisakan tiga anak manusia yang kebas dalam kungkungan nestapa tanpa mampu terjangkan lara. Terkurung dalam ruang yang sama, berbagi napas, juga bertukar pandang. Saling menelanjangi satu sama lain di tengah aroma kesakitan yang membekukan kearifan hati.

Baekhyun menjadi yang pertama membaca medan. Dibuat paham bahwa keadaan ini takkan pernah layak untuk dipertahankan. Oleh karena itu, si Pria Byun pun memutuskan untuk bangkit dengan melemparkan sebuah amunisi. Ya, amunisi yang harus membuatnya tiarap di atas penolakan pasti Sehun. “Lebih baik aku segera membeli tiket untuk kepulangan kita ke Denham.”

“Tidak akan ada tiket sampai Park Chanyeol memberitahu kita, Baekhyun!” Beginilah tameng berbalut amarah yang digunakan Sehun. Membuat Baekhyun termangu di tempat hanya untuk menikmati kekalahan. Dan hening pun kembali membebaskan kedua obsidian Sehun untuk membakar kegelisahan Chanyeol. Tak beranjak meski tahu yang dijadikannya pusat atensi justru membuang pandangan sejak awal. “Jangan terus membuatku merasa bodoh, Park!”

Chanyeol menyerah dengan kembali melarikan pandangannya kepada Sehun. Tersenyum pahit di antara ritme kehidupannya yang terlongsong sukar dikendalikan. Samar-samar vokal bass-nya terlepas, berdengung—menyamarkan dengusan murka salah satu sahabatnya tersebut. “Aku tidak mengerti apa yang harus kuberitahukan pada kalian.”

“Bohong!” hardik Sehun. Bersiap untuk bangkit dengan satu kepalan tangan teracung di udara. Terdorong bara emosi yang memporak-porandakan hati namun urung saat kebaikan hati Baekhyun mencegahnya. Tertahan di tengah minimnya jarak lantaran sosok tampan sang kakak sepupu yang dengan bijaksananya menyongsong Chanyeol dan menjadikan dirinya sendiri sebagai tameng.

“Kita bisa bicarakan semuanya baik-baik, Hun. Jangan ulangi kejadian tempo hari. I beg you,” Baekhyun berucap lirih. Berdeham sekali saat dirasakannya garis-garis murka pada wajah Sehun mulai berkurang eksistensinya secara perlahan. Pria ini pun lekas kembali ke tempat setelah membiarkan Sehun mendahuluinya.

Hening pun merayap selama beberapa saat, sampai Baekhyun kembali meretas kuasanya. “Berhenti menyimpan semua masalahmu sendiri, Park Chanyeol. Terlebih ini menyangkut keluarga, di mana persahabatan ini terbentuk.” Kepala Baekhyun menengadah tinggi, menatap udara yang membaur dengan kesakitannya. “Bukankah sahabat adalah salah satu tempat yang tepat untuk berbagi? Akan lebih baik berjalan bersama sahabat dalam kegelapan, dibandingkan berjalan sendirian di tempat yang terang dipenuhi cahaya.”

Senyum manis dipetakan Baekhyun di tengah fokusnya yang masih betah menengadah. Tak lama ia mendengus kasar kemudian terkekeh sendiri. Menghinakan sesak yang mulai menghimpit rongga pernapasan, bahkan mencuri pasokan oksigen tersimpan yang telah dengan susah payahnya dicuri Baekhyun dari udara. Sakit itu ada. Terlampau nyata. “Sahabat adalah seseorang yang mampu memberimu semangat, tak peduli semua orang meremehkanmu. Sahabat yang sesungguhnya adalah mereka yang mampu menunjukkan bahwa hidup tak seburuk yang kau pikirkan dan masalahmu tak sebesar yang kau takutkan.”

Meski tidak menoleh penuh, Baekhyun dapat menangkap tubuh besar Chanyeol yang kini bergetar melalui ekor mata. Namun, alih-alih berhenti, pria ini justru membebaskan semua untaian kalimatnya yang telah tertahan sejak lama. Tepatnya, semenjak Baekhyun mengerti bahwa tak semua tentang Chanyeol dirinya ketahui. “Kalau kau terus begini, itu sama saja kau tidak mengizinkan kami untuk memahamimu, Chan.”

Sehun terpejam, menikmati hatinya yang baru saja dihantam akal sehat. Tertohok atas penghakiman tak berdasar yang tadi sempat mengutuknya menjadi si arogan. “Maafkan aku,” ungkapnya kian melirih di penghujung kalimat. Tak berani untuk sekadar membebaskan pandangan dan menatap Chanyeol. “Aku hanya tidak mengerti persahabatan apa yang kita jalani sebenarnya. Kau begitu tertutup dan sulit dibaca, Park. Terkadang aku merasa sudah mengenalmu, tapi di detik selanjutnya aku merasa kita begitu asing.”

“Maafkan aku.” Chanyeol memijit pelipis. Berusaha menghilangkan pening yang menggelayut di kepala. “Aku lebih suka berbagi kebahagiaan daripada berbagi luka bersama kalian. Aku tak ingin kalian ikut menanggung beban untuk sesuatu yang sebenarnya bukan salah kita. Ini hanya keegoisan para orang tua. Alasan kenapa rumah tak pernah nyaman untuk kau dan aku singgahi, Hun. Alasan kenapa hubunganmu dan Ilana tak pernah bisa menjadi mudah. Alasan kenapa aku bersikeras membuang marga Silverstein dari akta kelahiranku.”

Sehun bergeming dengan pendengaran yang menjadi berkali-kali lipat lebih tajam dan sensitif. Mampu menangkap dan merasakan luka, tak peduli selirih dan sekecil apa pun itu.

“Ibuku mencintai ayahmu, sementara ayahmu mencintai ibunya Ilana. Apa yang bisa kita harapkan dari ini?” Chanyeol bersuara lagi. “Aku tidak banyak tahu tentang masalah Paman Will dan ibunya Ilana karena Ibu hanya mengatakan bahwa Paman Will dikhianati. Ya, dikhianati setelah menolak habis-habisan pesona ibuku.” Kekehan sumbang pun diloloskan si Pria Park. “Sekarang kutanya sekali lagi, apa yang bisa kita harapkan dari ini semua?”

Baekhyun mengerang keras, di saat Sehun sibuk mengukir segaris senyum pilu di bibir. Akalnya hilang, ditelan turbulensi. Dipaksa melangkahi lintasan memori yang menyimpan lukanya dengan begitu apik. Menggemakan lagi kalimat-kalimat sarkastik yang pernah ditelan pendengarannya bulat-bulat dalam lantunan vokal bariton sang ayah.

.

.

“Persetan dengan cinta, Stein!”

“Sedekat napasmu sendiri?”

“… Kenapa? Tak percaya aku juga mengetahuinya?”

“Seseorang pernah memberitahuku hal yang sama, Stein. Tapi pada akhirnya dia pergi, mengkhianatiku.”

“Kejar gadis yang katanya begitu kau cintai itu. Jangan dilepaskan kalau memang kau yakin bahwa dia takkan pernah menyakitimu.”

“Aku pernah jatuh cinta. Cinta yang begitu dalam sampai aku tak bisa merasakan apa-apa lagi setelah kehilangannya. Apa ini cukup untuk membuatmu mengerti?”

.

.

“J-Jadi … Ayahku … I-Ibunya Ilana—” Sehun menggeleng kuat-kuat. Tak lagi peduli pada hentakkannya yang bisa mematahkan leher. “Tidak. Ini pasti salah paham, Chan. M-Mungkin kau salah dengar, a-atau—argh! Tidak mungkin ayahku mencintai ibunya Ilana. Tidak mungkin. Ini gila!”

“Hun—”

Sehun mengangkat satu tangannya ke udara. Mencegah amunisi penenang yang siap dilemparkan Baekhyun. “Jangan katakan apa pun, Baek.” Sesegera mungkin tangannya merogoh saku jas, mengeluarkan dua lembar kertas tipis dari sana, kemudian meletakkannya di atas meja. “Itu tiket kalian. A-Aku pergi.”

Chanyeol bangkit dengan tergesa. Menahan Sehun agar tak beranjak dari hadapan melalui satu cekalan di pergelangan tangan. “Kau sedang kacau, Hun. Kalaupun mau pergi, biarkan kami menemanimu, oke?” Penawaran dilepas Chanyeol dalam ketegasan. Netranya pun mencecar kedua obsidian Sehun, berusaha meyakinkan. “Sahabat yang sesungguhnya tidak akan pernah membiarkan sahabatnya bersedih sendirian. Tak peduli seberapa hebat kau mengukir senyum palsumu untuk dunia, sahabat akan tetap membaca kesedihan yang kau sembunyikan di baliknya. Setelah kalian membuatku mengerti arti persahabatan, haruskah ini dinodai lagi?”

Baekhyun mengamini sembari meremas bahu Sehun yang sempat terangkat tegang. “Lebih baik kita lewati bersama agar semuanya jadi terasa lebih mudah, Hun.”

“Jangan sok kuat!” cibir Chanyeol.

Sehun mendengus kasar. “Bukankah itu yang kau lakukan selama ini? Menyimpannya sendiri selama bertahun-tahun. Cih. Sahabat macam apa itu?!” balasnya mencibir. Tak lama gurat kesedihan kembali mendominasi wajah Pria Silverstein ini. “Hubunganku bersama Ilana memang tidak akan pernah berjalan mudah. Aku hanya ingin memilikinya secara utuh di hadapan Tuhan tanpa ada satu pun yang mampu menghalangi lagi. Tapi kenapa sulit sekali? Kenapa kebersamaanku dengan Ilana harus melukai ayahku sendiri, huh?”

“Hun …” Chanyeol berseloroh. “Semua ini memang tidak akan mudah. Sama tidak mudahnya seperti saat aku menolak menjadi senjata balas dendam ibuku dalam menghancurkan ayahmu. Sama menyakitkannya dengan kenyataan bahwa aku mencintai Ilana tapi tidak bisa memilikinya karena aku tahu kau bisa mencintainya lebih baik dariku, Hun. Jangan menyerah dan jaga dia. Kita buat segalanya lebih mudah dengan kebersamaan kita. Ya ‘kan, Baek?”

Baekhyun tersenyum, kemudian mengangguk. “Tentu. Karena persahabatan itu seperti langit fajar. Entah seberapa bermasalahnya hidup kita, sahabat akan tetap tinggal. Bukan hanya untuk mengusir kegelapan dan meneduhkan kembali hati kita, namun juga kembali menyinarinya dengan semangat perjuangan untuk kembali melanjutkan kehidupan.”

Sehun terkekeh pelan. Dalam hatinya mengucap syukur atas kelegaan yang mulai merambati pikiran. “Ini agak menggelikan sebenarnya,” ia berucap di sisa tawa. “Tapi terimakasih untuk tetap memertahankanku dalam persahabatan ini meski aku tahu keberadaanku banyak menyakiti kalian sejak kecil.”

Gelengan diberi Baekhyun. “Tidak, sama sekali.”

“Bagiku sih iya,” gurau Chanyeol.

“Sialan!” balas Sehun sebelum ketiganya lebur dalam tawa.

PF

2014_porsche_boxster_picture (21)

Setelah berjam-jam lamanya bergelung dengan setumpuk pekerjaan yang menuntut atensi, Ilana pun menyerah di bawah kuasa penat. Menanggalkan segala kenyamanan kantor dengan Porsche Boxter kesayangan sebagai sarana melaju. Melewati jalan-jalan besar San Francisco yang tak lagi asing baginya. Sesekali menghirup tamak udara senja yang terasa menghinakan hingga membuatnya terkekeh masam tanpa kawan. Fokusnya pun berpendar asal, mencari keindahan yang layak dijadikan distraksi luka. Menepi di dekat semenanjung San Francisco dan membiarkan keindahan Golden Gate Bridge memanjakan penglihatannya yang kini mulai terhalang lapisan kaca-kaca bening penanda kesakitan.

The-Golden-Gate-Bridge-Image

Tak lama, ponselnya bergetar. Memohon perhatian setelah hampir seharian ini terabaikan. Berujung pada nama kontak Sehun yang menari di atas layar, menyisakan Ilana dengan degup jantung tak terkendali yang membuatnya mematung di balik kemudi. Dilema selama beberapa saat, sebelum akhirnya memutuskan untuk menempelkan benda tipis tersebut ke telinga.

“Halo?” sapa Ilana. Terlampau lirih, nyaris tak terdengar. Pandangan pun ia arahkan lurus ke depan, masih terpaku pada keindahan jembatan setinggi 230 meter di atas permukaan air buatan Josep Strauss tersebut. Sejenak, Ilana dibungkam hening. Menunggu cukup lama, lalu tersadar bahwa pria yang harusnya jadi lawan bicara tak juga ambil suara. “Sehun? Kau mendengarku, ‘kan?”

Sehun terkekeh. Membuat hati Ilana menghangat di antara kuasa lara. Selang beberapa detik, pria tampan pemilik marga Silverstein tersebut pun mulai membebaskan baritonnya hingga menggema dalam pendengaran Ilana. “Aku mendengarmu, Amore. Aku mendengarmu sampai ingin menjerit saja rasanya. Masih tidak percaya kau mau memanggil namaku dengan penuh kelembutan, seperti dulu.”

“Oh Sehun … Kau senang aku memanggilmu seperti ini?”

“Ya. Tentu saja.”

Ilana menggigit bibir. Satu tangan yang bebas pun terangkat dan mencengkram kemudi kuat-kuat. Menahan diri agar tak terisak dan membuat Sehun mencemaskan sisi lemahnya yang menuntut satu pelepasan tanpa kenal waktu. Setengah tertekan, Ilana memaksa otak pintarnya bekerja. Mencari topik baru yang bisa dijadikan pengalih bagi rasa sakitnya. “Kapan kembali ke Denham? Ayahmu—”

“Sebentar lagi, La. Kami ambil penerbangan malam,” jawab Sehun, sengaja menyela. Agaknya mengerti bahwa percakapan semacam ini tak pernah menyenangkan bagi Ilana. “Aku merindukanmu, La. Seandainya saja bisa, aku ingin mengganti tujuan penerbanganku ke San Francisco dan menemuimu lagi.”

Ilana membisu, masih sibuk bergelung dengan sesak yang menghimpit rongga pernapasan. Mengizinkan Sehun kembali mendominasi percakapan, seakan telah mencipta aliansi meski tak kasat mata. “Sudah terima bunganya? Kau suka, ‘kan? Itu untuk mengganti mawar pertama kirimanku yang kau tinggalkan di mobilnya Kai saat di Los Angeles.” Lalu, Sehun terkekeh sebentar dan mendesah panjang. Memanggil nama Ilana seumpama pesakitan, tersendat, juga bergetar hebat. Memuntahkan sebuah pertanyaan sederhana yang tak pernah ingin Ilana bayangkan sebelumnya. “Kau masih mencintaiku ‘kan, Amore?”

Isakan yang harusnya tertahan pun terlepas jua. Mendengung melalui microphone ponsel Ilana dan membuat Sehun kepayahan di seberang sana. Hilang akal, hingga tak mampu bicara banyak selain menyerukan nama cintanya yang terluka berulang kali. Menyadarkan Ilana bahwa tangisnya tak lagi berguna. Berganti dengan kata maaf yang  diucapkannya seumpama menggema. Lebih dari satu kali, bahkan tak lagi terhitung frekuensinya.

“Kau kenapa, Amore?”

Ilana menggeleng lemah. Menghempas tubuhnya ke belakang sampai membentur sandaran jok sembari menggigit bibirnya sekuat yang ia bisa. Kelopak pun menutup seiring dengan bariton Sehun yang kembali menggoda sistem impuls. “Jawab aku, Amore. Jangan buat aku khawatir dan bermonolog terus seperti orang bodoh. Sebenarnya kau kenapa? Apa ada hal buruk yang terjadi padamu hari ini?”

“Ada,” Ilana menyahut singkat sebagai awalan. “Ada banyak sekali, Hun,” imbuh gadis ini setengah gemetar. “Hari ini aku menemukan satu kebenaran yang membuatku takut.” Bibir dalam polesan rasa cherry ini pun kembali digigit pemiliknya. Mengais ketenangan di sela hening yang menelusup selama beberapa menit, baru setelahnya melanjutkan, “Aku takut menjadi sumber luka bagi orang lain. Aku takut tak bisa memerbaiki kehancuran yang tersisa. A-Aku juga takut kau … membenciku.”

“Kenapa aku harus membencimu?”

“Karena kau belum tahu kebenarannya, Hun,” balas Ilana menggebu. Nadanya naik beberapa oktaf, pun dengan penekanan yang disisipkannya di beberapa silabel. “Soal ibuku, soal masa lalu orang tua kita, soal—”

“Aku sudah tahu.”

Ilana terbeliak tak percaya. “A-Apa?”

“Aku sudah tahu soal masa lalu orang tua kita. Tentang ayahku yang begitu mencintai ibumu, lalu dikhianati.” Sehun terkekeh sumbang. Sungguh terdengar buruk dalam gendang telinga Ilana. “Kau tahu, La? Seharusnya kita berterimakasih pada ibumu. Kalau dulu tidak ada pengkhianatan, kisah kita mungkin tak pernah ada. Buruknya, kau bisa saja terlahir sebagai adikku.”

Tak ada balasan lantaran Ilana terlalu sibuk mengamini dalam hati. Tergugu untuk yang kesekian kali saat penjelasan Sehun berhasil mendekap hatinya yang sempat dibekukan kecewa. “Dengan begini … aku juga bisa tahu rasanya berjuang. Aku jadi mengerti seberapa penting kau bagiku. Aku sedang belajar untuk tidak lagi jadi pengecut dan kuharap kau bersedia menungguku. Aku akan terus berusaha membuat segalanya mudah untuk kita. Aku tidak mau lagi menyerah, seburuk apa pun kebenaran yang akan menyambut kita di masa-masa selanjutnya. Aku sangat mencintaimu, Amore. Kau juga mencintaiku, ‘kan?”

“Kalau aku tidak mencintaimu, aku takkan pernah takut dibenci olehmu, Hun,” Ilana membalas lembut. Tersenyum di sela air mata terakhirnya yang membasahi pipi kanan. “Kalau aku tidak mencintaimu, aku tentu tidak akan pernah marah dan terluka saat kau meninggalkanku satu tahun lalu. Kita sama-sama tahu jawabannya. Jadi, untuk apa lagi bertanya? Asal kau menjaga kepercayaanku, aku juga akan menjaga semuanya … untukmu. Dan, oh—terimakasih untuk bunganya. Lebih dari cukup untuk memerindah ruang kerjaku yang sebelumnya terlihat membosankan.”

“Demi Tuhan, AmoreTak bisakah aku terbang menemuimu saja?”

“Kemarilah. Aku sedang menikmati keindahan jembatan Golden Gate.”

Sehun kentara memekik, mendorong Ilana untuk menjauhkan ponsel berisiknya dari telinga dengan gurat terkesiap. Menatap heran layar ponselnya, untuk kemudian terkikik geli membayangkan wajah murka Sehun di ujung telepon sana. “Kudengar dari Luhan, kau pergi ke kantor tanpa sarapan. Alena juga bilang, hari ini kau melewatkan jam makan siang hanya dengan mengandalkan kotak bekal yang dibawa kakakmu itu dari rumah. Lalu sekarang, hari sudah hampir malam dan kau masih berada di luar rumah? Kau ingin membuatku terkena jet lag karena terus mencemaskanmu selama di pesawat, huh?”

“Aku bisa jaga diri—”

“Pulang, Sayang! Kai sedang tidak di sana dan tidak ada yang bisa menjagamu setiap saat.”

Ilana terkekeh. “Apa itu artinya kau lebih senang Kai menjagaku?”

Meski samar, Ilana mampu mendengar geraman sebal yang diloloskan Sehun. Berdengung, sebelum akhirnya ditimpa bariton Sehun yang sarat akan ketegasan. Membantahnya jelas bukan hal yang tepat. Oleh karena itu, Ilana menyerah dan berusaha untuk terdengar patuh dengan menyanggupi setiap peraturan yang dibuat Sehun secara sepihak. 

“Tidak. Bukan begitu. Tak ada hal yang lebih baik selain aku yang turun tangan sendiri dalam menjagamu. Tapi maksudku, selagi tidak ada yang bisa mendampingimu setiap saat, kau juga harus pintar menjaga dirimu sendiri, Sayang. Kau tahu? Mataku ada banyak. Jadi, aku bisa dengan mudah memantaumu setiap saat. Mengerti? Aku tidak mau mendengarmu sakit atau pun terluka lagi.”

“Sehun?”

“Hm?”

Ilana mendesah gamang. “Kau benar-benar tidak membenciku, ‘kan?”

“Aku harus bagaimana untuk membuatmu percaya? Kau terlalu indah untuk dibenci, Ilana Kim. Entahlah, tapi aku percaya bahwa ayahku pun tidak pernah benar-benar membencimu. Aku perlu mencari cara untuk mengalahkan egonya. Dan nanti saat di Denham mungkin aku akan sedikit sulit menghubungimu. Kau tahu sendiri, ada banyak hal yang harus kuselesaikan setelah semua yang terjadi.” Sehun memberi jeda sebentar. Mendesah—yang agaknya sudah menjadi hobi baru baginya dan juga Ilana sendiri. “Maafkan ayahku, La.”

“Ayahmu pasti akan mencari cara untuk melukaiku lagi, Hun.” Kathryn dalam wujud yang lain—lanjut Ilana dalam hati. “Tapi selama ada kau bersamaku, aku akan berusaha untuk tetap baik-baik saja. Walau ya … semua orang tahunya aku ini kekasih Park Chan—” Ilana terkesiap, teringat sesuatu. “Hun? Kau tahu … Chanyeol … perasaannya, ugh.” Ilana merutuk. Menghinakan susunan katanya yang terdengar rumpang.

“Aku juga sudah tahu soal itu, La.”

“Kebersamaan kita nanti, tidakkah itu akan melukainya?”

“Melukai itu pasti. Beruntungnya, Chanyeol adalah pria yang baik, dia akan mengerti. Cintanya padamu juga tulus dan kami sudah berjanji untuk bahu-membahu menjagamu. Tapi maaf, La. Tak peduli apa pun yang terjadi, aku tetap tidak akan melepaskanmu. Aku bisa mengizinkan Chanyeol mencintaimu, tapi bukan untuk memilikimu. Kau tidak sedang tertarik padanya, ‘kan?”

“Siapa yang tidak tertarik pada Park Chanyeol? Dia hanya terlalu baik untukku. Dia pantas mendapatkan sosok yang lebih dan, yeah, kalau kau menyakitiku lagi di masa depan … mungkin aku akan benar-benar jatuh cinta padanya.”

“APA?!”

“Selamat malam, Tuan Stein.”

Panggilan diputus, menyisakan Ilana yang terkekeh mendengar umpatan terakhir Sehun sebagai penutup. Sejenak terlupa akan masalah yang sebelumnya menjadi beban berat. Lebur dalam keindahan malam yang membawanya terbang dalam kehangatan rasa sang merah jambu. Menghadirkan lagi gradasi yang meleburkan hitam. Berakhir dengan kedua sudut bibir yang terangkat dalam sentuhan bahagia. “Aku mencintaimu, Hun. Hanya tidak ingin mengumbar, sebelum kemudahan itu menjadi nyata untuk kita,” gumam Ilana lirih, dipayungi cantiknya lembayung senja.

 .

.

.

∞ To Be Continued ∞

.

.

Halo! Agak aneh nih gak bisa ngucapin happy weekend /? Aku ngepost lebih cepet kan (Helow. Padahal udah 2 Minggu berlalu). Oke-oke. Aku gak mau beralasan. Kalian juga pasti bosen kalo tau aku sakit melulu. Maklum musim udah gak jelas, sama kek hati ini /? Sebenernya real life makin sini makin bikin frustasi~ Ampe ucing ala ebi, cims T.T Tapi tapi tapi …. apa pun yang terjadi harus tetep semangat kan ya? Sesemangat Sehun sama Ilana pertahanin hubungan mereka. Eciyee, Ilana sekarang udah enggak sekeras di awal kan ya? Eciyeee, masa lalu orang tuanya mereka juga udah pada kebongkar ya? Eciyeee Grace enggak muncul jadi Sehun gak ada yang gangguin ya? Tenang aja di chapter depan dia banyak kok bareng Evelyn (Eh, tapi sejak kapan Grace ganggu Sehun? Belom pernah deng). Eciyeee Kai udah satu frame lagi sama Tania. Eciyeeee … Banyak banget eciyenya ya? Pfft >_<

Btw, kalo kemaren ada yang dapet notif email soal Perfect Flaw 5.1, 5.2 dari wp personal aku itu kesalahan teknis guys. Harusnya itu aku simpen jadi draft tapi keklik publish. Khilaf, sampe dua kali pula, ceroboh banget emang -,- Terus lagi kemaren ini kalo ada yang bertanya-tanya soal ‘Apology (Private) -T’ yang aku post tanggal 9/10 dengan proteksi password, itu sebenernya emang belom untuk konsumsi umum kok. Maksudku itu emang teaser project baru, tapi aku belum mau kenalin ke kalian karena sadar diri tanggungan masih banyak. Lagian juga aku takut kalian shock baca tuh teaser yang idenya udah aku susun lebih dari 3 bulan. Eh iya, kalian bisa mampir di sini sama di sini buat liat visual cast yang pernah, masih, selalu, dan bakal aku pakek. Kalian juga bisa ubek2 library FF aku di sini. Sekalian follow wp personal aku juga lebih gak apa-apa lagi. Hihi

Dan, apalagi ya? Udah kayaknya ya? Aku kok bingung mau ngomong apa. Mau cerewet tapi ngetiknya aja banyak pause gara-gara nyambi batuk *curcol*. So, happy reading aja, cims. Enjoy this fic and I love you so fucking much to the moon and back. Mwah :* Jangan lupa curahkan penyemangat untukku di kolom komentar ya ^^ See ya on the next chapter as soon as possible🙂

Note : Yang baca JTD, nyusul ya~ Diusahain secepetnya. Aku ngepost PF dulu juga sengaja biar beban entengan. Semoga kalian bisa ngertiin ya ^_^

.

.

Sincerely,

Ordinary fangirl who proud to be Whirlwinds

—Arlene P.

152 responses to “Perfect Flaw (Chapter 5) —ARLENE P.

  1. Ternyata ibunya ilana masa lalunya ayahnya sehun ,kesel sama williard kasian sehun sama ilana udh mulai bareng lagi eh ada aja cobaannya, semoga akhirnya ayah sehun sadar kalau ilana sama sehun engga ada sangkut pautnya sama kisah masa lalunya 😊😃😢😱🙏

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s