[Freelance] ONE

One

ONE

An iKON x Ed Sheeran’s Song-fict Vignettes Series: Inspired by One – Ed Sheeran

Starring Jung Chanwoo and Park Kia (OC)

Author: kwonbinology

Genre: Fluff, Sad

Rate: T

.

.

.

Just promise me, you’ll never leave again. Cause you’re the only one.

.

.

.

Tell me that you turned down the man
Who asked for your hand
‘Cause you’re waiting for me
And I know, you’re gonna be away a while
But I’ve got no plans at all to leave

Kakiku menginjak pedal rem mendadak, membuat badanku terhempas ke kursi mobil sedikit. Di luar gelap. Namun penerangan lampu taman membantuku melihat kondisi tempat aku menghabiskan sebagian besar masa kecilku itu. Aku membuka kunci mobil, lalu keluar.

Kapan aku terakhir ke sini? Entahlah, mungkin dua tahun yang lalu. Atau tiga? Tidak pasti. Saking lamanya aku tidak menapaki tempat ini, beberapa hal sudah berubah. Garis lapangan basket yang dulu memudar telah di cat ulang, ring-nya yang dulu berkarat dan penuh dengan graffiti buah karya anak-anak sekitar diganti dengan satu yang mengkilap berwarna merah-hitam. Lalu bangku-bangku taman di pojok sana yang terbuat dari kayu, dan jejeran tanaman hidroponik.

Bangku taman berwarna coklat di sisi kiri taman masih lekat dalam ingatanku.

Tujuh tahun lalu.

 

Aku berlari sekencang mungkin menuju taman. Dua bungkus keripik kentang aman di tanganku. Aku tidak boleh terlambat walau hanya sedetik. Gadis itu pasti telah menungguku.

Benar saja. Saat aku terengah sampai di pinggir lapangan, gadis itu telah duduk di bangku itu dengan kaus merah muda dan celana hitamnya. Namun, seorang lelaki berdiri di depannya. Ah, dia lagi.

“Kia-ssi, ayolah. Ayahku akan mengajakku ke Everland hari ini. Masa kau tidak mau ikut?” Tawar lelaki itu.

Gadis itu—Kia, menggeleng kuat, yakin.

“Mumpung gratis loh. Kau belum pernah ke Everland, kan? Banyak wahana seru di sana. Kau pasti menyesal menolak ajakanku.”

“Yak, Park Kibum. Jangan mengganggu Kia lagi.” Serobotku.

“Ya Tuhan, kau lagi, bocah ingusan?” Desis Kibum.

Anak bandel ini memang tidak ada habisnya.

“Chanwoo bukan bocah ingusan!” Jerit Kia.

“Kia-ya, maaf menunggu lama.” Aku menyodorkan sebungkus keripik kentang ke arahnya. Senyum simpul tersungging dari sudut bibir tipisnya.

“Kibum-ssi, pergilah. Ayahmu pasti menunggumu.”

“Aku tidak akan pergi tanpamu, Kia-ssi.”

“Aku di sini saja bersama Chanwoo.” Kia menyobek bungkus keripik kentangnya lalu memasukkan satu ke mulutnya.

“Ya Tuhan, demi apa kau memilih Chanwoo dan keripik kentang dibandingkan aku dan Everland?” Kibum ternganga.

“Demi apapun.” Sahut Kia singkat. Kini mulutnya penuh dengan keripik kentang.

Goodbye, Park Kibum!” Aku tersenyum penuh kemenangan.

“Sialan kau, Jung Chanwoo. Lihat saja, suatu saat Kia akan memilih aku dibandingkan kau dan keripik kentangmu, bocah ingusan!”

Aku melirik ke arah Kia. Gadis itu melirikku balik. Kami berdua terkekeh bersama.

 

Ah, keripik kentang itu. Sekarang masih menjadi favoritku.

Aku mengedarkan pandangan lagi.

Seluncuran berwarna merah di sebelahnya.

Enam tahun lalu.

 

“Jung Chanwoooooo!!!” Kia berteriak heboh sambil memanjat tangga seluncuran. Aku bersender di tiang lampu taman.

“Yak, turun,Park Kia!” Seruku.

“Ayolah!” Serunya.

“Kau sudah besar!”

Kia tak mengacuhkan teriakanku. Ia duduk di pucuk seluncuran.

“Lihat, kan? Permainan ini tidak cocok lagi untukmu.” Ucapku.

“Biarkan saja.” Kia meluncur ke bawah. Belum puas, ia kembali menaiki tangga. Namun kali ini ia bukan meluncur seperti biasa, melainkan dengan cara berbaring terbalik. Kepalanya meluncur duluan, disusul dengan kakinya. Cara meluncur yang biasa aku lakukan.

“Kia, jangan!” Seruku.

“Biarin. Chanwoo sering kan main gini?”

Kemudian ia meluncurkan badannya, hingga…

“Aaaakkhhh!!!”

“Kia!!!”

Aku berlari menghampirinya. Kepalanya terbentur tanah.

Aku mengulurkan tanganku, membantunya duduk.

“Chanwoo-ya, sakit…”

Aku mengusap-usap rambut ikal halusnya, lalu meniupnya seakan-akan itu akan menerbangkan rasa sakitnya seketika. Kemudian aku melingkarkan lenganku di lehernya dan menepuk-nepuk pundaknya pelan.

“Aku bilangin juga jangan tadi.” Gumamku.

“A-akh, sakit…” Ia memegang lehernya sendiri.

“Keseleo, ya?”

Kia meringis pelan.

“Mau pulang sekarang?” Tanyaku.

Kia menggeleng keras. “Nanti Eomma marah. Aku tidak boleh main ke sini lagi.”

Aku berpikir keras.

“Mau aku belikan plester?”

Kia melongo. “Buat apa?”

“Kan kalau orang sakit biasanya dikasih plester…” Gumamku polos.

Kia tertawa terbahak-bahak.

“Bodoh.” Ia menjitak kepalaku geli. “Plester itu dipakai kalau ada luka berdarah. Aku nggak berdarah, cuma terbentur sama keseleo.”

Aku meringis. “Jadi?”

“Di sini saja dulu.” Kia meluruskan kakinya.

“Lagian, sakitnya pasti tidak sesakit luka ini, kan? Dan luka-luka yang orang lain rasakan. Ini bukan apa-apa.” Gumam Kia. Ia menunjuk bekas luka yang ada di betis kananku.

Luka itu aku dapatkan saat ia memaksaku untuk memboncengnya naik sepeda di tengah hujan, yang berakhir dengan Kia yang terperosok ke dalam selokan, dan kepalaku yang terbentur aspal juga betisku yang terseret.

Aku terkekeh kecil.

“Asal ada Chanwoo, semuanya akan baik-baik saja.” Ucapnya saat itu sembari menyubit pipiku.

 

Aku mendapati diriku terkekeh sendiri di tengah malam yang gelap. Gila, memang.

Kia selalu memperlakukanku sebagai adiknya, padahal aku lebih tua satu tahun daripada dirinya. Mungkin dari faktor pembawaannya yang periang dan pintar, berbanding terbalik denganku yang lebih pendiam. Dia tidak pernah memanggilku dengan sebutan oppa, walau sekali. Sebenarnya tidak penting, sih. Berhubung aku dan dia dalam level sekolah yang sama karena ketika aku memasuki Sekolah Dasar, ia memaksa ibunya untuk masuk juga walau ia masih TK A.

Soal plester itu… Ya Tuhan. Aku sebodoh itu dulu, ya?

Aku menyingkap sedikit celanaku, menampakkan bekas luka di betis kanan itu yang kini mulai memudar.

Kia, sekarang bekas luka ini bukan apa-apa. Aku telah merasakan luka yang lebih menyakitkan.

Aku menghela nafas.

“Asal ada Chanwoo, semuanya akan baik-baik saja.”

Tapi, Kia, aku telah pergi untuk waktu yang lama. Apa kau tetap baik-baik saja?

.

.

And would you take away my hopes and dreams and just stay with me?

Waktu menunjukkan pukul sepuluh lewat. Di pojok sebelah kiri taman, terdapat jungkat-jungkit berwarna biru.

Lima tahun lalu.

 

Musim panas!

Aku menyendokkan es krim vanilaku lalu memasukkannya ke mulut, mengemutnya hingga lumer seperti susu. Sepasang kakiku naik dan turun mengendalikan jungkat-jungkit. Di ujung sana, seorang gadis dengan rambut dikuncir kuda, mengenakan kaus putih dan celana legging biru menyesap sendok terakhir es krim stroberi miliknya. Dasar, pecinta es krim satu ini.

Kami larut dalam hening. Pagi ini pukul sepuluh. Orang-orang berkeliaran ramai. Siapa yang ingin melewatkan musim panas?

“Kia-ya.”

“Heung?” Kia menoleh ke arahku.

Aku terdiam, menunduk. Apa aku harus mengakui ini padanya?

“Ada apa?”

“Aku…”

“Hm?” Aku masih memperhatikannya yang seperti hendak menimbang-nimbang ingin mengatakan satu hal.

“Kau tahu Hayeon, gadis kelas sebelah?”

Kenapa ia malah mengalihkan topik?

“Gadis populer itu? Yang pernah jadi model sampul majalah? Ah, tentu saja. Kenapa?”

“Itu…”

Aku terdiam lagi. Berusaha merangkai kata-kata. Kia masih memperhatikanku dengan tatapan penasaran.

“Aku sepertinya… menyukainya.”

Kia terpolongo. Tanpa sadar melepaskan kendali kakinya pada jungkat jungkit, yang membuatnya berada di atas dan aku di bawah karena ia lebih ringan.

“Yak!” Kia menjerit sambil menggoyang-goyangkan kakinya yang melayang.“Apa tadi kau bilang?”

“Ya… sepertinya aku menyukainya.”

“Tapi… kenapa?” Tanyanya.

Aku menyenderkan dagunya di pegangan jungkat-jungkit, berpikir.

“Karena ia cantik, pintar, dan populer?” Tanya Kia, mendelik.

“Mungkin?” Sahutku sambil menatap ke arahnya.

Aku juga kurang yakin, tapi sepertinya memang iya. Bukankah Kia selalu lebih tahu, bahkan soal diriku sendiri?

“Sudah kuduga.” Kia terkekeh kecil.

 

Musim semi!

Aku menggenggam tangan seorang gadis. Bukan, gadis itu bukan Park Kia. Melainkan Oh Hayeon. Gadis itu resmi menjadi pacar pertamaku sejak tiga bulan yang lalu!

“Chanwoo-ssi.” Gumam Hayeon.

Aku menoleh. “Hm?”

“Bunga-bunganya indah, ya.”

“Iya.”

“Lebih cantik bunga-bunganya atau aku?” Hayeon menatapku penuh harap.

Aku hampir tersedak, kumohon.

“Kamu.”

Dapat aku tangkap rona merah dari pipi Hayeon.

“Chanwoo-ya!”

Aku menoleh ke belakang. Tanpa diduga, aku mendapati gadis berbaju motif bunga-bunga vintage selutut menggenggam dua botol minuman pororo. Minuman favorit kami, walau bisa dibilang terlalu kekanakan. Biru untukku, dan pink untuknya.

Namun dapat kutangkap ia melihat sosok Hayeon di sebelahku, dan tangan kami yang bergandengan.

“Oh, sedang berjalan-jalan dengan Hayeon, ya? Annyeong, Hayeon-ssi!”Seru Kia, tersenyum sambil melambaikan tangan pada Hayeon.

“Annyeong, Kia-ssi.”

Kami bertiga larut dalam diam.

“Ah ini. Tidak apa-apa. Aku bisa meminumnya sendiri, kok. Ini cuma Pororo, bukan alkohol. Satu dus bisa aku habiskan sendirian.”

Kia memecah keheningan dengan tersenyum riang kembali, namun dapat aku dapati senyum getir dari bibirnya saat itu.

“Nikmati kencanmu, Chanwoo-ya. Aku duluan, ya. Annyeong!”

Ia berbalik, membawa kembali Pororo yang seharusnya kutenggak habis bersamanya saat itu.

 

Aku tersenyum getir.

Harusnya aku tahu maksud dibalik senyum kecewamu selain karena aku tak bisa menghabiskan Pororo biru itu bersamamu, Kia.

.

.

All my senses come to life
While I’m stumbling home as drunk as I
Have ever been and I’ll never leave again
‘Cause you are the only one
And all my friends have gone to find
Another place to let their hearts collide
Just promise me, you’ll always be a friend
‘Cause you are the only one

Aku memandangi lapangan basket yang kini terlihat keren dengan penampilan barunya. Namun saat tempat itu masih biasa saja dan cenderung tidak terawat, aku mengingat satu hal terjadi di sana.

Empat tahun lalu.

 

Aku meminum air mineral dinginku sambil terus menapaki jalan. Di sebelahku, Hayeon juga tampak menyedot jus apel kotaknya.

“Ada apa di sana?” Tanya Hayeon, menunjuk ke arah kumpulan keramaian di lapangan basket taman.

Aku menggeleng. “Entahlah. Mau lihat?”

Hayeon mengangguk.

Kami berjalan ke sana, lalu berhimpitan di tengah kerumunan berusaha melihat apa yang sedang terjadi. Aku bersyukur memiliki badan yang cukup tinggi, sehingga tidak perlu berjinjit lagi.

“Terima! Terima! Terima!” Sorak penonton yang sebagian kukenal adalah teman sekolahku sendiri.

Di depan kerumunan, seorang lelaki tengah menyodorkan sebuket bunga ke arah gadis yang mengenakan kardigan hitam dan rok coklat muda. Rambut ikal gadis itu tertiup angin sehingga sedikit menutupi mukanya. Namun aku tahu jelas siapa. Kia. Gadis itu Kia.

“Maukah kau menjadi pacarku, Park Kia?” Tanya sang lelaki.

Penonton bersorak riuh-rendah.

Lelaki itu, tak lain dan tak bukan, masih si berandal lama, Park Kibum.

Ia merupakan lelaki keren pujaan gadis satu sekolah. Mengenakan mantel coklat muda, menyodorkan sebuket bunga, siapa yang ingin melewatkan momen ini?

Kia mendongakkan kepalanya. Ia bukan menatap Kibum, melainkan ke arah penonton. Kemudian mataku dan matanya bertemu. Aku tersenyum kecil, mengepalkan kedua tanganku sambil membisikkan, “terima saja, Kia!”

Kalau ini terjadi beberapa tahun yang lalu, aku akan menyerobot di tengah-tengah, lalu memberi sebungkus keripik kentang pada Kia, dan aku akan menang lagi.

Tapi itu dulu, saat kami masih kanak-kanak. Sekarang aku telah memiliki pacar. Kia harus bernasib sama, kan?

Kia mengalihkan pandangannya ke Kibum yang sekarang memasang wajah penuh harap. Namun wajah itu tak menyembunyikan aura percaya diri bahwa ia akan diterima.

Penonton bersorak lagi.

“Terima! Terima! Terima!”

Kia masih terdiam.

Bukankah diamnya perempuan berarti iya?

“Maaf, Kibum-ssi… aku tidak bisa.”

Penonton terpelongo. Beberapa bergumam,”Yahhhh…”

Kibum terdiam. Semua terdiam.

Hayeon menyedot jus apel kotaknya lagi. Tampak menikmati drama yang sedang terjadi sepertinya.

Kibum menarik bunga yang ia sodorkan, kemudian tersenyum canggung.

“Tidak apa-apa. Tapi… bisa beri aku alasan?” Tanya Kibum.

Kia menunduk, kemudian menoleh ke arah penonton, kemudian menunduk lagi.

“Aku… sedang menunggu seseorang.”

Penonton bersorak. Kibum tersenyum kecut.

“Begitu ya.”

Kemudian penonton bubar. Menyisakan aku, Kibum, Kia, dan Hayeon.

“Apalagi, Kibum-ssi?” Tanya Kia.

“Kau sedang menunggu bocah culun ini ya? Pelet keripik kentang itu masih berguna dalam tubuhmu?” Sahut Kibum.

Aku terperangah. Hayeon terpelongo, tak mengerti apa-apa. Kia memasang wajah terkejut. Namun ia tak menyahut.

“Kia—“

“Bukan.” Potong Kia sebelum aku menyelesaikan kalimatku.

 

Aku tersenyum lirih.

Ibuku salah, Kia. Terkadang bukan diamnya seorang perempuan yang berarti iya, melainkan kata ‘bukan’.

Kini aku menatap sepasang ayunan di sana. Masih sama, empat tahun yang lalu.

 

Musim dingin.

Aku sibuk menendang-nendang salju yang bertumpuk di bawah sepatuku, sambil menggoyangkan ayunan sesekali. Tahun-tahun sebelumnya, aku biasa melewatkan musim dingin dengan minum coklat panas sambil menonton Disney Channel, membuat manusia salju, bermain skating, dan saling melempar salju. Bersama Kia tentunya. Tapi sekarang aku sendiri, di bawah butiran salju yang turun satu-per-satu.

“Chanwoo-ya.”

Aku mendongak.

Gadis berambut ikal sepunggung, mengenakan earmuffs putih, sweater hijau dan celana putih menyodorkan satu cup coklat hangat yang mulai mendingin ke arahku.

Siapa lagi kalau bukan Park Kia.

Ia duduk di ayunan sebelahku, mengayunnya, sambil menyesap coklat hangatnya.

Aku ikut menyesap milikku. Rasanya sedikit kemanisan. Ini pasti buatannya sendiri, bukan Bibi Park.

“Aku putus dengan Hayeon.” Gumamku memulai percakapan.

“Hah?” Kia menoleh, menatapku.

“Iya.”

“Kenapa?” Tanyanya.

“Ia pindah ke New York. Kau tahu itu, kan.”

“Tapi… kan bisa hubungan jarak jauh?”

“Aku tidak yakin.” Sahutku pelan. “Dia bukan tipeku.”

“Apa rasa suka harus sesuai tipe ideal?”

“Entahlah.”

Kau selalu lebih tahu, Kia. Sambungku dalam hati.

Pluk!

Segumpal bola salju mendarat di rambutku. Aku menoleh, mendapati Kia dengan senyuman lebar khasnya.

“Ayolah, Jung Chanwoo. Tidak baik patah hati terus-terusan. Kita harus merancang winter-to-do-list tahun ini dengan tema ‘Mengobati Patah Hati Jung Chanwoo’ sepertinya.” Kekehnya.

Aku ikut tertawa, kemudian segumpal bola salju mendarat tepat di wajahnya.

.

.

Take my hand and my
Heart and soul, I will
Only have these eyes for you
And you know, everything changes but
We’ll be strangers if we see this through
You could stay within these walls and bleed
Or just stay with me
Oh lord, now

Aku bangkit dari bangku kayu yang kududuki, kemudian berjalan meninggalkan taman sejuta kenangan ini. Dan entah kerasukan setan apa, otakku menuntun sepasang kakiku pergi ke tempat yang masih sampai sekarang aku ingat jelas rutenya. Belok kiri, ketika ada pertigaan belok kanan, lurus terus, belok kiri lagi, rumah di sebelah kanan.

Langkahku terhenti di depan tangga teras rumah berpagar kayu rendah ini. Semuanya masih sama. Ya, aku tak salah. Semuanya. Cat rumahnya, penataan taman kecilnya, warna tirainya, semua masih sama.

Masih sama seperti saat aku terakhir melihatnya secara langsung.

Tiga tahun yang lalu.

 

Ting, tong.

Aku menekan bel sembari menghela nafas berat.

“Sebentar!”

Kudengar suara teriakan dari dalam rumah.

Kemudian pintu rumah gadis itu terbuka.

Kia masih dengan wajah bantalnya—rambut kesana kemari, mengenakan baju piyama garis-garis favoritnya, mengucek-ucek mata sambil menguap.

“Pagi, Chanwoo-ya.”

“Pagi juga, Kia-ya.”

Kia memandangiku dari atas sampai bawah.

“Rapi sekali jam segini. Hoahm… hah? Koper? Mau ngapain? Pindahan kerumahku?”

“Pergi.”

“Diusir dari rumah ya?” Godanya sambil terkekeh.

Aku menggeleng.

“Ih serius banget dicandain pagi-pagi. Ke mana?”

“Seoul. Aku diterima jadi trainee di YG Entertainment. Dua bulan lagi akan sibuk dengan survival show.”

Kia membulatkan matanya.

Well done, sir. Aktingmu keren.” Kia bertepuk tangan sendiri.

“Aku serius, Park Kia.”

Kia terdiam.

“Sekarang?”

Aku mengangguk.

“Nanti sore aja, bisa? Tunggu aku mandi, trus kita makan keripik kentang sama minum Pororo di taman, ya?” Bujuknya.

Aren’t we too old for that?”

“We never been too old for Pororo and potato chips, mind you, Jung Chanwoo.”

“Tapi nggak bisa…”

Kia menghela nafas. Ia memain-mainkan kuku jarinya.

Kami larut dalam keheningan.

“Jadi… selamat tinggal?” Ucapku pelan.

“Makan yang banyak. Jaga kesehatan. Jangan diet hanya gara-gara pipimu itu.” Sahut Kia, cerewet.

Aku terkekeh. “Tidak akan.”

Aku dan Kia saling melempar senyum, kemudian aku berbalik, hendak meninggalkan rumahnya. Namun sebuah tangan kecil menahanku.

“Chanwoo-ya.” Panggil Kia. Kusadari suaranya bergetar.

Aku membalikkan badan.

Gadis itu spontan memelukku. Erat. Erat sekali.

Dan sepanjang 15 tahun aku mengenal Park Kia, ia tidak pernah memelukku sekencang ini. Seakan-akan tak ingin membiarkanku pergi.

“Chanwoo-ya.” Panggilnya lagi.

“Hm?”

“Aku… aku menyukaimu. Aku menyukaimu, lebih dari seorang sahabat. Sedari dulu, dari pertama kali kau memenangkanku hanya dengan sebungkus keripik kentang. Aku menyukaimu Jung Chanwoo, dan aku tidak tahu harus bagaimana.”

Aku terdiam.

Kemudian ia menangis lirih di pelukanku.

.

.

I’m stumbling off drunk, getting myself lost
I am so gone, so tell me the way home
I listen to sad songs, singing about love
And where it goes wrong

Aku tersenyum getir.

Lima belas tahun aku mengenalmu, Park Kia. Dan aku sama sekali tidak tahu bahwa kau memendam rasa padaku.

Aku bodoh, ya?

Ya, Jung Chanwoo memang bodoh. Dari dulu ia yang tidak tahu plester hanya digunakan untuk orang yang berdarah, dan sekarang ia yang tidak tahu bahwa sahabat kecilnya sendiri suka pada dirinya.

Kini aku terduduk di tangga teras rumahnya. Kepalaku sempoyongan, mataku sayu dan pandanganku mulai buram. Alkohol sialan, aku sepenuhnya menyalahkan Bobby hyung atas minuman sialan yang ia beri sore tadi.

Kia-ya.

Aku… kangen.

Kangen mendengar tawamu setiap aku melontarkan candaan.

Kangen melihat senyummu setiap aku datang.

Kangen cubitanmu setiap aku mulai bertingkah bodoh.

Kangen bermain salju denganmu.

Kangen nonton Disney Channel sambil minum coklat panas denganmu.

Kangen memetik bunga taman diam-diam bersamamu.

Kangen minum Pororo hingga tiga botol dan menghabiskan puluhan bungkus keripik kentang bersamamu.

Kia-ya.

Sekarang aku sendiri. Tidak punya siapa-siapa.

Aku tidak bisa pulang setiap saat jika rindu Eomma, Appa, atau kau.

Terkadang aku bahkan merasa terbuang berada di grupku sendiri.

Aku merasa tersingkirkan oleh fans grupku sendiri.

Aku merasa tak diterima oleh siapapun di dunia ini.

Kia, Jung Chanwoo yang bodoh ini hilang arah.

Kia-ya.

Aku masih suka membeli Pororo biru dan meminumnya sebelum tidur.

Aku membeli yang merah muda juga, dan tanpa alasan yang jelas menaruhnya di pinggir tempat tidur.

Aku masih suka membeli keripik kentang di sela-sela latihan.

Aku masih suka minum coklat hangat dan nonton Disney Channel jika diluar hujan.

Aku masih suka melihat foto-foto masa kecil kita yang terselip di balik buku-buku yang kubawa ke dorm.

Kia-ya…

Aku masih suka merindukanmu.

Aku masih suka padamu.

Aku masih…menyayangimu.

 

Entah pengaruh apa, aku bangkit dari dudukku, kemudian memencet bel tiga kali seperti biasa aku melakukannya dulu.

Aku tak berharap akan ada sahutan atau pintu yang terbuka untukku, sungguh.

Namun dengan setengah kesadaran, dapat kudengar derap kaki mendekat, dan kunci yang diputar, lalu pintu yang terbuka.

Chanwoo?”

6 responses to “[Freelance] ONE

  1. Harus next thor! Harus pokoknya wajiiiib!!! Sumpah keren thorrrrr^^
    Suka bangettt, baru kali ini baca ff chanwoo yg ngefeel!!!:’)
    Nextt thor, lanjut harus pokoknya!! Hahaha

    • this. is. so. sweet. ❤
      makasih banyak yaaaa!!! aku gak janji ada sequel untuk cerita ini, tapi kedepannya bakal ada fanfiction dengan cast chanwoo x kia lagi kok!
      instead of 'thor', call me zara 😉 thank you thank you and thank you!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s