Ambition [Chapter 12] – by Sehun’Bee

Ambition

Sehun’Bee

.♥.

Sehun – Hanna – Skandar

.♥.

Kai – Jenny – Freddie

.♥.

Romance – Drama

.♥.

PG-17

Multi-Chaptered

.♥.

Credit >> poster by Apinslaster and Header Title by : popowiii | SHINING VIRUS

Personal Blog : https://sehunbee.wordpress.com

..♥..

First Sight [1]Nice to Meet You [2]Plan [3] I lose, You Fall [4] You’ll be Mine [5] Lie [6] I Got You [7] Goodbye Rain [8] – NO! [9A] [9B] Eiffel [10] Love Means Protect [11] [EXTRA]

Broken Angel [Now]

-Ambition-

Panasnya tak sama dengan gelora, meski sama-sama bergolak dan berbuih. Asap putih yang mengepul hilang dalam hitungan sekon, tapi Hanna tak tertarik untuk mencari tahu ke mana perginya. Netra cantik berhias bulu mata lentik itu terlalu sibuk—sibuk memerhatikan isi gelasnya. Orang bilang, Mocha namanya. Salah satu jenis kopi tertua sekaligus pertama yang dinikmati orang-orang Eropa.

Akan tetapi, rasa kuat dari campuran kopi dan cokelat cair itu tak kunjung membuat lidah Hanna mendecak nikmat. Cangkir keramik kecil cantik yang disebut shot tersebut masih teronggok manis di meja kaca, terlantar tanpa sentuhan sejak pertama diletakan. Orang yang membuatnya kini sibuk menggigit nail art merah glamor, padahal jelas kuku itu tak berasa—hanya warnanya saja yang menggoda seperti apel di meja dapur.

Saat kecantikannya patah, barulah desah napas penuh sesal ada sampai bantal sofa dalam pangkuan pun diremas gemas. Sayang sekali, itu tak membantu apa-apa. Kuku telunjuknya sudah terlanjur patah, tak cantik lagi. Uh, sialan benar e-mail keparat itu, Hanna jadi seperti ini; gelisah, mati langkah. Konsekuensinya terlalu nyata sampai otak cerdasnya ikut mengkerut kehilangan daya pikir.

Semuanya semakin sulit saat Hanna menerima panggilan telepon dari Sehun pagi-pagi sekali. Pria itu menumpahkan perhatian penuh dalam ribuan kata cinta dan baru berhenti saat Hanna memintanya untuk segera pergi tidur, karena di New York sana masih tengah malam; Sehun harus istirahat. Setelah itu, tak ada lagi suara. Semuanya hening senyap. Hubungan jarak jauh yang tengah dilakoni pun semakin terasa.

Terlepas dari semua itu, Hanna tak memermasalahkannya karena Sehun berjanji akan selalu menghubungi. Pria itu bahkan rela tidur larut hanya demi mendengar suaranya di pagi hari waktu Paris. Sekarang, apa lagi yang bisa Hanna ragukan dari perhatian tulus lelakinya itu? Sudah jelas, Sehun beserta semua cintanya terlalu sempurna untuk dielak. Masalahnya, hanya ada pada dua opsi berposisi kuat; antara memilih kehormatan keluarga atau memertahankan cinta.

Gila, bukan? Pantas Hanna marah. Marah pada orang yang membuat pilihan menjijikan tersebut. Perasaannya pun semakin buruk saat ada tamu di balik pintu masuk yang datang mengganggu lewat bell bersuara menyebalkan.

“Dad?”

“How are you, Baby?”

Oh, hangat. Hanna suka cara sang ayah memeluknya setelah membuka pintu masuk. Perasaan kalutnya pun luruh berganti dengan ketenangan yang disalurkan lewat ciuman di kedua pipi dan kening. Pelukan pun didapatnya lagi bersamaan dengan seruan manis, “I miss you. I miss you. I miss you!”

“I’m not a little girl, Dad,” balas Hanna, sedikit kurang ajar. Ditambah memberikan sedikit dorongan, lalu tanpa dosa tersenyum tipis mengajak masuk.

“Baiklah, tak ada gadis kecil di sini. Tak ada basa-basi juga,” seloroh Jo sambil lalu meraih bahu anaknya. “Bagaimana kondisimu? Ayah dengar kau sakit. Maaf, baru bisa mengunjungimu,” lanjutnya, setelah mendudukkan tubuh di sofa cooper ruang tamu.

“Sudah lebih baik. Aku yakin, ada alasan di balik keterlambatan perhatian Ayahku ini?!”

Mm. Jo tersenyum, malu. Memang ada alasan mengapa ia baru datang berkunjung, meski tahu Hanna jatuh sakit sejak dua minggu lalu. Jujur saja, Jo hanya tak ingin mengganggu rencana Sehun mendekati kembali putrinya kendati rasa khawatir sebagai orang tua begitu menyiksa. Terlebih, Hanna tak acuh sampai tak memberitahu mengenai kondisi tubuhnya sendiri, meski tetap menghubungi sang ibu di Meryland sana.

“Coffee or tea?” tanya Hanna, setelah menangkap mimik tertangkap basah sang ayah yang juga berprofesi sebagai penguntit ulung itu.

“Give it to me!” Jo hanya menunjuk mocha yang sudah Hanna asingkan di meja.

“Itu sudah dingin, biar kubuatkan yang baru.”

“Tidak perlu. Ayah ingin ini saja,” katanya, sambil meraih gelas terlantar tersebut. Kemudian melirik Hanna setelah menyesapnya, mencari tahu alasan di balik suhu mocha yang dibiarkan mendingin tersebut.

“Apa yang sedang kau pikirkan, Nak? Mocha seenak ini, kau biarkan kehilangan aroma.” tanyanya, menyelidik—begitu to the point. Sifat yang diturunkan langsung kepada Hanna.

“Sesuatu yang juga Ayah pikirkan.” Netra cokelat terang Hanna bergerak tak kalah cerdik, kemudian tersenyum mendapati air muka tenang milik sang ayah. Ternyata benar, dugaannya tak salah. Pesan elektronik itu tak akan jatuh ke tangannya, jikalau sang ayah tak menolak permintaan Willard. Setidaknya, itu yang bisa Hanna baca dari pergerakan garis halus di wajah teduh ayahnya.

“Tentang apa?” Jo ingin bermain rupanya. Tak ingin kalah begitu saja oleh kata-kata anak gadisnya yang tak kalah menyeramkan dari omelan ibu mertua. Kendati tak habis pikir pada pergerakan Willard yang jauh lebih cepat, sampai Hanna sudah tahu semuanya. Pria tua itu benar-benar membuktikan ucapannya bahwa ini bukan sekedar permainan kata.

“Tentang Sehun dan Skandar, beserta kehormatan keluarga besar Ritz.” Hanna tersenyum miring, sedetik kemudian membetulkan posisi duduk. Menatap Eiffel dari jendela besar di depan mata dengan udara pagi sejuk yang menerobos masuk lewat celah pintu kaca.

“Tidak, Sayang. Ini bukan tentang kehormatan, melainkan perasaan. Love is not what the mind thinks, but the heart feels. Kebahagiaanmu tidak terletak pada akal sehat, tetapi jiwa dan hatimu. Pilihlah dengan bijak.”

“Apa artinya perasaan, jika itu hanya akan membuatku jatuh terhina tanpa kehormatan?” tanya Hanna, melirik santai sang ayah. “Hidup itu realistis, aku mengandalkan akal sehat untuk mendapatkan apa yang kuinginkan. Dengan berpikir, aku bisa hidup dan bahagia. Bukan dengan perasaan, karena itu buta.”

Oh. Jelas sekali, kata-kata anak gadisnya itu berkesan tak berhati. Hidupnya berlandas realita, karena memang dunia ini penuh dengan hal buruk yang akan jadi baik jika kau berpikir itu baik. Jo salah, jika beranggapan cinta Sehun sudah berhasil menghancurkan semua sisi beku Hanna.

“Pikirkan perasaan Sehun, jangan egois. Ayah melakukan ini untukmu, jangan membuatnya sia-sia.” Jo berharap banyak anak gadisnya tak sampai hati melukai pemuda tampan nan tulus itu. Sebagai seorang ayah, selalu ada keinginan dalam diri untuk menjadikan Hanna gadis berhati lembut seperti halnya gadis lain pada umumnya. Jo bahkan tak mengerti apa yang salah dalam didikannya selama ini, sehingga Hanna tumbuh menjadi gadis pongah nan dingin.

“Sehun. Jika aku memilihnya, sama halnya aku membiarkan Ayah menginjak kepala leluhur. Tak hanya itu, aku juga akan memermalukan Sehun di depan tetua Bertelsmann karena statusku sebagai gadis miskin baru.” Hanna menjeda, memejamkan mata. “Willard hanya membuatku memiliki satu pilihan aman dengan hinaan menjijikan di dalamnya.”

“Hanna—“

“Aku tahu apa yang harus aku lakukan, Ayah. Jangan khawatir. Aku sudah membuat keputusan.”

-Ambition-Jika dihitung, hari sudah tujuh kali berganti semenjak kepulangan Sehun dari Paris. Tak terasa, tapi terlewati. Itulah waktu yang memang cepat sekali berlalu, padahal jarum jam hanya berjalan berputar di situ-situ saja. Kadang berhenti di atas, kadang juga di bawah. Tak bosan melewati angka yang sama di hari yang sama, bahkan di hari-hari berikutnya.

Terdengar monoton, tetapi seperti itulah jalannya. Termasuk, aktivitas para pebisnis kelas atas yang hanya sibuk mencari keuntungan besar dengan modal minim. Hidup mereka bergantung pada kemampuan merayu; menjual jasa dan nama. Terus seperti itu, sampai tangan melepuh menghitung uang yang diterima. Begitu pun dengan Oh Sehun; yang sehari-harinya disibukan dengan bau busuk uang dan nama besar.

Kini melangkah keluar tanpa kunci mobil di tangan, menuju taksi kuning di depan gedung. Lagi-lagi, mengundang kerutan beberapa pegawai di jam istirahat atas tindak-tanduknya selepas pulang dari Paris. Bagaimana tidak? Ini kali pertama mereka melihat seorang Bertelsmann mengabaikan mobil mewah dan lebih memilih berjalan dengan taksi jelata. Belum lagi, aura kepemimpinannya yang semakin kejam terasa sampai tak segan memecat 20 orang penting hanya karena melakukan kesalahan kecil tak terduga.

Orang-orang pun mulai bertanya; apa ada yang salah dengan si brilian? Tidak ada. Arogansi Sehun saja yang seakan belum cukup untuk menunjukan seberapa berkuasa Bertelsmann di tanah Liberty. Ibaratnya, kekejaman darah Eropa harus ikut andil dalam kepemimpinan sebagai pelengkap. Yang membuat heran, wanita Amerika tak peduli itu. Menjadi wanita pilihan Sehun dan bisa mengangkat rok di atas pangkuannya seakan menjadi kebanggaan.

Alasannya dungu, pria berdarah Korea-Eropa itu terlalu tampan untuk dihina, terlepas dari semua tabiat buruknya terhadap wanita di masa silam. Lagi pula, siapa yang peduli mengingat ini negara bebas berbasis bisnis di mana kepuasan batin adalah hal mutlak. Manis, bukan? Seakan setelah hidup hanya akan ada mati tanpa ada pertanggung jawaban dosa.

Sayangnya, Sehun tak lagi tertarik meniduri wanita di balik bilik kamar hotel karena Tuhan telah berbaik hati memberikan wanita cantik sebagai hadiah atas pertobatannya. Wanita itu pula yang membuat Sehun jauh lebih bengis terhadap bawahan lantaran tak ingin mendengar hinaan sang ayah.

“Kau ingin memermalukanku?”

Argh. Jika mengingatnya, kepala Sehun pusing. Mau pecah rasanya. Sekarang saja memijat pelipis sampai si sopir taksi melirik dari spion dalam. Yang membuatnya tak habis pikir; bagaimana bisa Thomas begitu lancar mencecarnya, padahal anak adalah cerminan orang tua. Ah, benar-benar! Tetapi memang dasar sialan, otaknya malah memutar kilas balik.

“Memangnya apa yang sudah kau punya?” Setamsil tusuk gigi, mata Thomas menusuknya tajam. Membuat Sehun geram sendiri, tak sudi dianggap remeh.

“Aku hanya belum memiliki Hanna.”

“Di otakmu hanya ada paha mulus wanita.”

“Aku tidak semesum itu. Aku bahkan belum pernah meraba paha kekasihku.” Sehun menjilat bibir cepat setelah berucap; netranya pun jatuh pada kaki meja. Teringat kejadian semalam, jadi merasa berdusta. Meraba paha memang belum, tetapi Sehun mendapatkan lebih semalam. Mengingat detailnya membuat pipi merona; Hanna begitu sempurna dalam sentuhan tangan. Merah di pipinya pun tertangkap basah oleh Thomas; menggeleng adalah reaksi pertama ayah satu anak itu.

“Dengarkan aku! Kau memang putraku, tetapi jangan lihat aku sebagai ayahmu yang merupakan pimpinan tertinggi Bertelsmann. Karena kebahagiaan keluargamu kelak bukan dari warisan yang akan kuberikan, melainkan usahamu sendiri. Kita tahu, kedudukan Presiden Direktur Bertelsmann ini bisa jatuh ke tangan siapa saja jika kau tak mampu bertahan sebagai pewaris. Aku ingin kau membuktikan kelayakan sebagai calon pemimpin di depan para tetua sebelum mengikat seorang Khaza Hanna. Pikirkan itu masak-masak. Jangan sampai kau memermalukanku, Oh Sehun!”

“Apa lagi yang kurang? Aku memimpin kantor pusat Bertelsmann di Amerika Utara. Bahkan, membangun kerajaan real estate sendiri di tanah elit Manhattan.”

“Tak ada yang tahu, apa yang akan terjadi di hari esok. Jika kau hanya punya cinta, urungkan saja niatmu untuk menikahinya. Aku tak mau, cucu-cucuku hidup dalam derita karena kemalasan ayahnya. Belajarlah memandang hidup ke depan dari kemungkinan terburuk yang akan terjadi atas apa yang akan kau lakukan hari ini. Dengan begitu, hidupmu akan sempurna karena jalannya kehidupan hanya didasari oleh sebab-akibat. Jadilah lebih kuat, karena wanitamu tak sekuat seperti apa yang kau bayangkan. Cukup pertahankan Hanna dengan kuasamu, buat dirimu sendiri mampu untuk itu.”

Jelas sekali, Thomas berkata seolah mengenal baik Hanna. Saat Sehun ingin bertanya, orang-orang dari Australia itu datang. Menenggelamkan kembali ratusan karakter huruf dalam rasa ingin tahu tinggi, sehingga Sehun terus memertanyakan maksud tersembunyi itu sampai sekarang. Ayahnya juga sulit sekali dihubungi setelah perpisahan di Paris minggu lalu; tak heran, kepala Sehun semakin berdenyut ngilu.

Kini, wajah tampan setamsil malaikat itu pun murung, kendati bidadari tetap memuja sampai tak segan memotong sayap asal jatuh dalam pelukan berferomon surga.

-Ambition-“Di mana, Sehun?” adalah pertanyaan pertama dari seorang Kai Kim. Tumpukan map berwarna biru yang dibawa pun dibiarkan menyesak di meja penuh gadisnya tanpa adab sopan santun. Jenny sempat ingin protes, tapi lebih tertarik untuk membuka dan mencari tahu. “Apa ini, Kai?” tanyanya.

“Sehun memintaku menyelidiki semua aktivitas kerja Hanna selama di Paris. Sepupumu itu curiga kekasihnya tak hanya duduk diam di balik meja kerja Hotel Ritz. Dan ternyata—“

“Oh, astaga!” Jenny membungkam mulut sesaat, sebelum cekatan membuka satu per satu dari lima belas map yang Kai bawa. Juga menggeleng, tak percaya. Hanna benar-benar!—batinnya. Tak sanggup menakar kadar keambisiusan bidadari kutub kesayangan sepupunya itu.

“Hanna merahasiakan itu dari Sehun. Aku ingin tahu reaksi sepupumu jika mengetahui kegilaan kekasihnya.” Kai melangkah ke sudut ruangan. Menyesakkan pantat ke sofa putih elegant di belakang meja kaca berkaki rendah, kemudian menunggu Jenny datang menghampiri.

“Sehun pergi makan siang bersama Skandar dan Freddie ke Rockefeller Café.” Tak perlu diminta, Jenny datang sendiri. Mengambil tempat di samping Kai dan berakhir dengan menatap pria berkulit tan tersebut. “Dari mana kau mendapat informasi itu?”

“Sekretaris Hanna di Paris, Sella.” Kai memijat pelipis, pusing. Bebannya akan bertambah setelah ini, Kai sadar itu. Namun sebelumnya, Kai ingin memastikan sesuatu. “Jen, apa Sehun juga suka mengatur dalam kehidupan sehari-hari di luar jam kantor?”

“Ya, kenapa?”

“Kalau begitu, hanya tinggal menunggu waktu sampai pertengkaran mereka kembali terdengar.”

“Huh? Memangnya ada masalah apa?”

“Hanya masalah perbedaan. Sehun dan Hanna, mereka saling bertentangan, Jen.”

“Bertentangan?”

“Ya, Hanna itu seorang pembangkang, yang akan diam seribu bahasa jika kehidupannya mulai diatur—“

“—dan Sehun seorang pemimpin yang tak suka dibantah, dan menekan adalah gayanya.” Jenny menyambung cepat kalimat tunangannya. Kemudian mengangguk paham dan meneruskan, “Sehun pasti tidak akan mengizinkan Hanna mengikuti tender.”

Ya. Itu yang Kai khawatirkan. Sifat berkuasa Sehun akan keluar dan membatasi setiap pergerakan Hanna. Tak peduli pada apa yang ditawarkan di awal untuk sekedar menggoda Hanna masuk ke dalam sangkar emas berkunci rantai miliknya; karena pada akhirnya, Sehun akan melanggar semua kata-kata. Terbukti dari keinginan pria itu untuk menyelidiki semua aktivitas Hanna selama di Paris. Alasannya sederhana, karena Hanna tak menjawab detail saat Sehun bertanya, “Apa saja yang kau lakukan selama ini, selain mengurus hotel dan kuliah?”

“Tidak ada.”

Karena jawaban singkat itu, Sehun mencurigai gadisnya sendiri, lalu mencari tahu sendiri tanpa perlu Hanna ketahui. Lantas, fakta yang sudah Sehun duga pun didapat dari berkas yang Kai bawa. Kini, hanya tinggal menunggu reaksi berangnya setelah mengetahui Hanna mendaftarkan nama di lima belas negara berbeda dengan masing-masing proyek besar menjanjikan di dalamnya.

Hah…

“Kepalaku pusing. Cium aku, Jen!” pinta Kai, selepas menghela napas. Kepalanya miring di sandaran sofa dengan mata sayu memohon belas kasihan.

“Kau ini apa-apaan, sih!” Jenny malu, memalingkan wajah ke sembarang arah. “Jangan terlalu banyak bergaul dengan Sehun, Kai. Si sapi albino itu hanya akan membawa banyak pengaruh buruk untukmu,” kilahnya kemudian. Semakin menghindar dari tatapan sulit ditolak andalan si tan.

“Sekaliii sa-ja …,” Kai menarik-narik ujung siku blazer Jenny. Masa bodoh dengan telinga beranting kumbang si lugu yang sudah dibuat merah. Karena baginya, hanya ciuman manis dari seorang Jenny Kim obat paling ampuh sebagai antibodi sebelum mendengar kabar pertengkaran Sehun-Hanna lagi di hari kemudian.

“Ini kantor. Kau tidak lihat ruanganku tidak serapat ruang kerja Sehun?”

“Siapa peduli? Teman-temanmu sudah pergi makan siang.”

“Seolhyun akan ke sini. Kami sudah berjanji akan makan siang bersama.”

“Kalau begitu, cepat lakukan sebelum Seolhyun datang!”

“Lain kali sa—“

Hening.

Kai gemas dan Jenny jatuh dalam pelukan. Terlihat sedikit agresif, jika dilihat dari sudut pandang tengah ruang. Jenny bahkan tak lagi terlihat layaknya gadis polos jika seperti ini, karena tubuhnya yang menghalangi. Kai benar-benar menghancurkan imej manis itu dalam satu kali hentakan tangan, sementara tubuhnya bersandar santai di sofa dengan penuh penerimaan.

Namun, tak ada yang Jenny berikan selain kepasifan dalam penyatuan ringan antar bibir itu. Lalu saat tubuhnya hendak menjauh, Kai malah menahan dan melumat. Terasa lembut memang, tapi Jenny tak bisa menikmati lantaran was-was tertangkap basah. Menurutnya, ruangan ini terlalu terbuka dan seharusnya itu tak jadi masalah karena ini Amerika.

“Ekhem!”

Dehaman menghentikan semua aktivitas.

Jenny yang tak tuli segera menjauh, sejurus kemudian tersenyum kikuk pada pendatang. Tangannya bergerak cepat merapikan rambut sambil merunduk malu dan Kai hanya tersenyum santai, “Hi, Seolhyun!” sambil menyapa, ramah.

“Hi, Kkamjong!” balas Seolhyun akrab, matanya sedikit tergoda melihat keterdiaman Jenny. “Maaf, Jen. Aku tidak akan mengganggu jika perutku tak berontak.” godanya, diselingi tawa. Percayalah, kenaifan seorang Jenny Kim terlalu sayang jika dilewatkan dengan hanya senyuman penuh arti. Kai bahkan ikut terkekeh melihat tingkah gadisnya di samping tubuh seakan peka bukan lagi hal mutlak yang harus dimiliki lelaki.

Jenny pun semakin tenggelam dalam lumpur basah beraroma memalukan sampai tak kembali kepermukaan terasa jauh lebih baik baginya. Ternyata tak Sehun, Kai, ataupun Seolhyun, mereka semua menyebalkan. Jenny harus bersembunyi, jika tak ingin berurusan dengan mereka.

-Ambition-

Masa-Three-Stars-Michelin-Rating-New-York-Car-Services-CarsCo-Green-CarsMasa, New York, U.S.A

Terletak di Times Warner Center, jantung kota New York, Masa keluar sebagai salah satu restoran termahal di dunia. Di mana, Masa Takayama berada di balik tempat makan favorit kaum borjuis ini sebagai chef ternama. Memberikan dedikasi penuh dengan menghidangkan makanan Jepang lezat dengan cita rasa khas dan sesuai dengan lidah Amerika. Hingga semuanya sepadan dengan kocek yang harus dikeluarkan untuk sekedar menikmati daging mentah bernama sushi.

Di sini, Sehun sekarang. Mengamati sekitar untuk sesaat sebelum kembali menatap sengit kedua sahabatnya di seberang meja. “Aku sedang berhemat dan kalian menculikku ke sini? Mengambil kartu kreditku dan mengancam akan memberikan fotoku saat tidur menganga kepada Hanna? Yang benar saja!”

Ini pemerasan namanya, Sehun tak terima. Tapi, foto dirinya terlalu memalukan jika sampai jatuh ke tangan Hanna. Dengan boxer hitam, tanpa busana atas, di peluk Freddie yang juga bertelanjang dada, dan semuanya diperlengkap dengan mulut menganga berliur. Oh, Tidak. Hanna tidak boleh melihatnya. Sehun menggeleng pelan. Kedua temannya tak peduli, sibuk sendiri dengan ponsel di tangan.

Biarkan saja, nanti juga diam. Begitulah telepati keduanya.

Kemudian risotto, sushi yang dimasak di nampan shabu-shabu pesanan Skandar datang. Tak hanya satu, tapi tiga. Pria Lebanon itu berbaik hati memesankan kedua sahabatnya juga, kendati Sehun yang akan menerima tagihan kartu kredit. Yang menjadi masalah, satu porsi risotto di tempat ini seharga US$ 900 (Setara dengan Rp. 13,2 juta. Dalam kurs Rp. 14.609/Dolar AS), belum lagi, pesanan lain yang memenuhi meja persegi mereka sekarang. Tak heran, jika mulut mungil dambaan gadis perawan milik si tampan membentuk huruf o kecil nan imut.

Lain lagi dengan Skandar; pria itu justru tersenyum puas sekaligus bangga. Ia senang, usahanya menipu Sehun untuk naik taksi ke Rockefeller Center tak berakhir sia-sia. Kemudian, bersama Freddie di mobil yang sama membawa pria berjas olive green itu ke tempat ini, setelah sebelumnya meminta Sehun menyerahkan kartu kredit secara cuma-cuma.

“Kau sangat polos, Sehun.” Freddie tertawa, bertukar high five dengan kawan sebangkunya dan Sehun hanya bisa menatap nanar kepergian credit card-nya bersama seorang Gadis Jepang seksi. Entah berapa Dolar yang akan Sehun habiskan di tempat ini, mengingat tak ada makanan di bawah 400 Dolar yang terpampang di menu.

“Sudah, jangan bersedih. Kau tidak akan jatuh miskin. Percaya padaku.” Skandar berucap dengan kedua sumpit di tangan berbeda. Menusuk makanan satu-satu, bukan menjepitnya. Salah satu alasan mengapa Freddie menghimpitnya di pojok agar tak terlihat memalukan. Sehun sendiri sudah mengajarkan bagaimana cara menggunakan sumpit dengan baik dan benar, tapi semuanya berakhir sia-sia. Skandar hanya tertarik belajar cara menghasilkan uang yang banyak, bukan sejarah kayu satu dibuat kembar untuk makan.

Dan sekarang, Sehun tak peduli lagi meskipun Skandar terlihat bodoh. “Jika kalian gelandangan kurang kasih sayang, aku akan dengan senang hati beram—“

“Sssttt … Sudah. Diam dan nikmati. Ini enak.” Freddie butuh ketenangan. Satu irisan ikan tuna mengarah ke mulut, mau tak mau, Sehun menerima. “Iya, ‘kan?” tanyanya, lembut.

“Terlihat manis untuk ukuran dua ekor kuda liar pecinta seks.”

“Sialan.” Si Rockefeller memaki.

“Aku penasaran, bagaimana reaksi Hanna jika melihat foto kalian berdua dalam keadaan setengah telanjang semasa kuliah dulu.”

“Jangan coba-coba! Kau sudah mendapat makan gratis di sini.” Sehun mengingatkan. Tak ingin label pejantan tangguh berkomposisi mesum dengan takaran berlebihan kebanggaannya luntur; terlebih di depan mata wanita idaman.

Freddie juga tak kalah sengit. Wajahnya tak dibuat buram dalam foto itu, lebih-lebih hidung mancungnya berada dalam ketiak seksi Sehun. Memalukan. Mereka terlihat terlalu mesra untuk ukuran pria normal yang kelelahan setelah mengepel lantai. Tadinya hanya berniat mandiri dengan membersihkan apartemen sendiri, namun berujung petaka saat satu teman mengambil gambar. Dasar usil. Dan, Freddie mengancam Sehun menggunakan itu hanya untuk main-main—tidak serius—tapi sekarang, was-was sendiri.

Skandar bisa saja berkhianat.

Sehun dan Freddie harus waspada itu, yang sayangnya sudah terlambat. Hanna di Paris sana sudah tertawa merdu dengan mimik manis yang tak pernah Sehun lihat, bahkan sepanjang sejarah hidup orang-orang di dekatnya. Alasannya, hanya karena sebuah foto dan kata-kata jenaka dari sang pengirim. “Having affairs. Kedua sahabatku selalu terlihat manis setiap kali mengambil peran seme-uke. Kau jangan cemburu, ya!” Kurang lebih seperti itu kata-kata yang tertulis, yang kemudian Hanna balas tak kalah gila.

Mereka tak berebut peran seme (penyerang) sebelum memulai, ‘kan?

Freddie selalu mengalah, kau tahu itu.

Manis.

Jika kau menyukai yaoi akan kuceritakan detailnya; kisah cinta mereka itu jauh lebih manis dan unik.

Aku akan menyukainya jika mereka yang bermain.

“Jadi, apa rencanamu, Sehun? Pergerakan Ayahku sangat cepat, tak menutup kemungkinan Hanna sudah tahu semuanya.” Skandar bertanya di sela-sela aktivitasnya mengirim chat balasan. Pembahasan itu adalah salah satu alasan mengapa ada acara makan siang bersama di sela-sela kepadatan jadwal kerja.

Semua itu karena kepulangan dari Paris minggu lalu tak serta-merta membuat mereka bertiga bisa langsung berkumpul. Sebab, setumpuk jadwal sudah terlanjur mengiba minta dituntaskan hingga keinginan untuk bernostalgia harus dikesampingkan.

Sehun yang paling manja di antara kami, kadang sedikit kekanakan. Aku yakin, sifat dasarnya itu sudah keluar saat kalian bersama.

Ya.

Itu salah satu alasan mengapa Freddie selalu mengalah. Dia sangat mencintai Sehun, jika kau ingin tahu.

Bagaimana denganmu?

Begitulah ….

Kalian bertiga menyimpang.

Skandar menahan tawa. Selang beberapa detik, suara Sehun menghancurkan kedamaian suasana.

“Biarkan saja. Biarkan Hanna memilih sendiri. Aku tak mungkin melukai perasaan gadis yang amat kucintai dengan membiarkannya melihat ayah beserta keluarga besar Ritz hancur. Lagi pula, lelaki lain itu sahabat baikku sendiri. Aku tak masalah.”

“Kau menyerah?”

“Aku hanya terlalu mencintainya, Die.”

“Mencintai bukan berarti melepaskan.”—Skandar.

“Apa bedanya denganmu, hm?”

Skandar bungkam. Mengalihkan perhatian dari cecaran manik elang Sehun dan lebih memilih melanjutkan mengetik balasan untuk kekasih sahabatnya itu.

Kami hanya terlibat cinta segitiga. Saling berbagi dan mengalah untuk kebahagiaan satu sama lain, juga mengedepankan prinsip saling mengerti. Bodohnya, kami sempat tersulut emosi karena kedatangan cinta sejati. Beruntung kebodohan itu tak bertahan lama, karena setelah lebam memenuhi wajah, cinta kembali menyatukan. Mulai detik itu, kami sadar, mengalah untuk sebuah kebahagiaan itu yang akan menjadikanmu pemenang. Karena hanya pecundang sejati yang tertawa saat melihat air mata.“—send.

Dan, Hanna tak bodoh untuk mengerti maksud dari isi chat Pria Lebanon tersebut. Tak lama, ada tambahan chat lain yang sukses membuat semuanya semakin menyempit dan sesak.

Hanna, cintaku. Jangan menyakiti Sehun kami, aku mohon untuk membuat semuanya tak berakhir sia-sia.

—Skandar Willard

“Sehun, jangan main-main.” Freddie mengingatkan sekaligus mengobrak-ngabrik hening yang menyelip barang sejenak.

“Jika Hanna memilihku, maka para tetua Bertelsmann akan menolaknya untuk kujadikan calon istri. Ayahku bahkan memberikanku peringatan keras untuk bisa meyakinkan tetua, bahwa aku pantas dan cukup kuat untuk menjadi Presiden Direktur sebelum mengikat Hanna. Dan jika aku tak bisa melakukannya dalam waktu kurang dari dua bulan ini, maka Hanna akan benar-benar hancur karena memilihku. Di mana pada saat yang bersamaan, Tuan Willard telah membuat Ayah Hanna kehilangan kehormatan tanpa toleransi untuk kembali.”

Sehun merunduk. Nafsu makannya menguap, pergi bersama asap teh hijau dalam cangkir kayu.

“Jika Hanna memilihmu dan kau gagal meyakinkan tetua, apa yang akan kau lakukan?” Freddie masih mencecar, tak terima.

“Membawa Hanna pergi, ke mana pun asal tempat itu tak membuatnya terluka karena sebuah berita tentang kehancuran Ritz. Tapi, jika Hanna memilih Skandar sejak awal, maka akan kurelakan semuanya karena itu jauh lebih baik ketimbang harus mengajaknya hidup dalam kekurangan.”

Hening untuk sejenak.

Ada satu hal yang mereka pahami; cinta sejati bukan tentang bagaimana cara kau mendapatkannya, melainkan tentang bagaimana kau membuatnya bahagia tanpa harus kehilangan apa pun. Perlu ditegaskan bahwa hidup itu harus realistis. Tak cukup dengan hanya mengandalkan cinta, tanpa adanya kemampuan memenuhi kebutuhan hidup itu sendiri.

Sehun akan (merasa) menjadi lelaki paling jahanam, jika mengajak Hanna hidup dalam derita berlandas cinta. Desakan ekonomi suatu saat akan menjadi masalah dalam kehidupan mahligai rumah tangga mereka dan Hanna tak pantas merasakan semua itu. Ia hanya ingin Hanna mendapatkan yang terbaik, jika memang ia tak mampu.

“Aku tak percaya. Setelah semua hal yang telah kita lewati, pada akhirnya, kita hanya menyerah pada keadaan.” Skandar bangkit. Merasa pengorbanannya tak dihargai oleh Sehun yang hanya diam di tempat. Menatap punggungnya yang menjauh dan ditelan pintu keluar tanpa jejak, bahkan tanpa menyertakan niat untuk kembali.

“Memang ada saat logika harus berjalan, tapi tidak untuk mengabaikan perasaan. Skandar akan sangat terluka jika menikahi seorang gadis yang mencintai sahabat baiknya sendiri. Pikirkan itu. Dan pastikan kau sukses dalam waktu kurang dari dua bulan ini, karena semuanya hanya akan berakhir sesuai dengan usahamu. Jangan sampai kau membiarkan dua hati terluka menyatu dalam sandiwara cinta, karena itu juga akan membuatmu terluka. Aku percaya, kau tidak akan membuat semuanya berakhir sia-sia, sebab di sini, kau yang paling mengandalkan logika. Kau yang paling paham, bahwa tak akan ada kebahagiaan nyata, jika itu diawali dengan kepalsuan.”—Freddie.

-Ambition-Rumor itu berjalan cepat, seperti perputaran roda gokart di atas lintasan. Jalannya teratur, kadang juga keluar jalur dan berakhir memalukan. Tekanan batin akibat kegagalan mencapai garis finish pun ada. Sama halnya dengan tekanan yang Hanna rasakan akibat kegagalan mencapai asa. Semuanya karena rumor tak benar yang sengaja dibiarkan melaju dalam kecepatan tak tentu di dalam lintasan bergaris kebangsawanan. Memalukan.

Hal tersebut juga yang membawa Hanna terbang dan mendarat di New York dengan kaki jenjang menapak di John F. Kennedy. Sayang, kepulangannya bukan untuk menemui seorang Oh Sehun, kendati sudah tiga minggu terakhir tak bertemu. Bukan pula untuk berhura-hura selepas mengumpulkan tesis yang akan disidangkan dua minggu yang akan datang. Sekali lagi kujelaskan, kepulangan Hanna bukan untuk bersenang-senang, tetapi untuk membuat perhitungan.

Dalam langkah tegas tanpa meninggalkan sedikit pun keanggunan dalam gestur tubuh, Hanna keluar dari bandara dengan kemewahan yang sudah menanti di depan sana. Wajahnya kaku, kentara sekali menahan amarah. Tak menyangka, Willard bermain secara terang-terangan dan menyebarkan kebohongan menjijikan. Sudah jelas para lakon peran utama di sini mengetahui siapa yang mengusik siapa, tapi yang menyebar adalah keburukan kinerja seorang Jo Khaza.

Rumor pemecatan secara tak terhormat pun melaju cepat dan menyebar kepada para pendengar dari kalangan bangsawan. Baunya busuk sekali, lebih-lebih dari bau angus mesin gokart yang terbakar.

Jelas sekali, semua yang terjadi saat ini diawali oleh keputusan yang sudah Hanna ambil dan utarakan pada Willard minggu lalu. Keputusan yang telah diperhitungkan secara matang dan berstuktur, tetapi apa yang terjadi saat ini justru di luar perkiraan. Sial.

Kemarahan yang sama juga tergambar jelas pada garis wajah Skandar yang berdiri di sisi Gallardo perak. Dan Sehun tak perlu tahu mereka telah bertukar kontak sejak lama, juga tak perlu tahu mereka membuat janji untuk bertemu. Bukan berarti mereka bermain di belakang, hanya saja, Hanna tak mau ambil pusing. Sehun itu pecemburu kelas berat, lebih-lebih dari Hanna sendiri yang notabene wanita.

Jadi, biarkan saja ini menjadi rahasia. Hanna akan menemuinya nanti setelah urusannya selesai dengan alasan masuk akal mengenai kunjungan singkatnya ke New York.

“Apa kabar?” Sapaan ramah seorang Skandar. “Baik,”—adalah jawaban singkat Hanna, tanpa menyertakan pertanyaan balik untuknya.

Suasana pun hening selang beberapa detik memasuki Gallardo. Skandar sedikit kikuk untuk memulai—tak seperti biasanya. Salahkan saja keadaan yang membuat Skandar malu setengah mati pada si batu karena kelakuan sang ayah. Oh, demi semua plankton di Samudera Pasifik, tangan Skandar berkeringat dingin juga basah sebelum berani bertanya, “Langsung menemui Ayahku?”

Hanna mengangguk.

Hening lagi.

“Aku minta maaf atas nama Ayahku, Hanna.” Setelah menempuh setengah perjalanan, Skandar baru berani berucap lagi.

“Aku hanya ingin tahu alasan mengapa ayahmu melakukan ini, seakan memecat Ayahku saja tidak cukup.” Hanna menatap lurus ke depan. Tak perlu meminta maaf adalah maksud dari untaian kata yang diutarakan. Beruntung Skandar tak bodoh untuk mengerti, hingga perasaannya berangsur membaik.

“Aku sudah berusaha semampuku, tapi Ayah tetap pada pendiriannya. Aku sendiri tidak tahu, apa yang sebenarnya Ayah inginkan dari pernikahan kita.”

“Jabatan tertinggi sebagai darah keturunan.”

“Huh?”

“Ayahmu memang menjabat sebagai salah satu presiden dalam jajaran kepemimpinan Marriott International, tetapi nyatanya Beliau hanya memegang Ritz-Carlton. Arne Sorenson yang bukan dari kalangan keluarga besar Marriott justru mendapat jabatan presiden tertinggi di bawah kepemimpinan kakekmu. Aku rasa, konflik kepecayaan antar keluarga yang membuatnya terluka dan merubahnya menjadi seorang yang ambisius.”

Hanna mengedikkan bahu setelah berucap. Itu hanya analisisnya, belum tentu benar. Kedatangannya kemari untuk memastikan itu, sekaligus membersihkan nama baik ayahnya.

Karena selama ini, Jo selalu memberikan yang terbaik untuk perusahaan sampai rela mengorbankan putrinya untuk memilih jurusan bisnis. Banyak dedikasi yang sudah Beliau berikan untuk Ritz-Carlton maupun Marriott. Dan Hanna tak terima jika ayahnya dipandang tak becus bekerja, bahkan sampai dituduh menggelapkan dana sehingga Ritz-Carlton mengalami penurunan saham.

“Lalu, apa hubungannya dengan pernikahan kita?”

“Menghancurkan dan memeluk, akan memberikan efek besar pada orang yang muncul sebagai pahlawan kendati hal tersebut dilakukan oleh orang itu sendiri. Aku tidak tahu apa yang terjadi pada ayahmu sehingga membuatnya kehilangan kepercayaan dari kakekmu. Namun satu hal yang pasti, Tuan Willard melakukan ini untuk mendapatkan nama baiknya kembali.”

Skandar menepikan mobil demi bisa menatap lawan bicara. Sedikit telat menyadari Hanna banyak bicara, meskipun tetap tak menghilangkan nada angkuh dalam rima suara. Urusan seperti ini, si batu memang bisa diandalkan; perhitungannya tepat, tanpa cacat. Skandar jadi teringat, ayah dan kakeknya memang memiliki sedikit konflik keluarga. Ia pun bertanya, “Sekarang, apa yang akan kau lakukan?”

-Ambition-Jatuh tersungkur mencium tanah. Dilihat sebelah mata, tanpa adanya uluran tangan. Saat itulah tangisan hanya akan membuat debu semakin menempel di wajah. Bangkit dan diam, membalikan tubuh dari mereka yang mensyukuri terlihat jauh lebih bijak. Begitulah hina dalam definisi Hanna untuk sang ayah yang hanya tersenyum di depan para tetua Marriott. Namun, Beliau menegaskan sebelum meninggalkan bangku kepemimpinan; “Tak ada fitnah yang bertahan lama.”

Para tetua pun mulai ragu pada keburukan si ramah yang ulet, ada juga yang berbalik membela. Tetapi memang dasar Jo Khaza; keras kepala dan cerdas. Tawaran untuk tetap bertahan pun ditolak dengan alasan bijak, “Biarkan waktu membersihkan namaku, sebelum kalian memintaku kembali. Aku hanya ingin menjadi pemimpin yang bersih.”

Sialnya, Willard memanfaatkan itu. Media hanya tahu keburukan Jo Khaza, tanpa tahu apa yang terjadi di ruang sidang. Pada akhirnya, Hanna berada pada titik terbawah dalam tekanan luar biasa menyesakkan, di mana masalah adalah batu terbesar yang menghalangi sebuah tujuan. Begitu banyak hal yang Hanna pikirkan juga lakukan, namun pada akhirnya, semua itu berakhir sia-sia.

“Tak ada yang bisa kau lakukan, Nak. Datang padaku dan memohonlah untuk nama baik ayahmu, maka semuanya akan kembali seperti semula. Tapi pergilah, jika harga dirimu menghalangi untuk melakukan itu.”

Dan Hanna pergi, kendati memang benar tak ada yang bisa ia lakukan selain menyetujui keinginan Willard. Kata-kata tajamnya bahkan berhasil memotong kedua sayap Hanna tanpa toleransi. Menghancurkan semua pengharapan gadis itu, setidaknya untuk bisa bersama pria yang begitu dicintai. Sekarang, duduk dengan mata berkaca di dalam taksi kuning adalah satu-satunya hal yang bisa Hanna lakukan setelah menemui Willard. Menatap satu-satu gedung perkantoran kelas A di Midtown Manhattan dan menghiraukan pantulan menyedihkan wajah pada jendela kaca.

Beginilah akhirnya, tak ada yang bisa Hanna lakukan. Lalu, untuk apa ia turun dan berdiri di depan gedung Bertelsmann? Jika pada akhirnya, ia hanya akan melepas semua kenangan.

Maka saat itu juga, Hanna kaku. Berdiri layaknya manekin dengan kulit putih sempurna tanpa goresan cacat. Membiarkan white lace dresses-nya bergoyang bersama angin, tak peduli keliman yang jatuh di atas lutut mengundang mata lelaki. Blazer-nya juga dibiarkan terlipat di tangan kiri yang membentuk ruang siku-siku, tanpa berniat menggunakannya untuk sekedar formalitas.

Kepalanya menunduk sesaat, segaris lurus dengan petakan keramik. Pumps cantik itu mulai terangkat, melangkah masuk dan melesat bersama elevator menuju lantai 41. Ketika pintu elevator terbuka, Jenny di balik meja kerja adalah hal pertama yang Hanna lihat. Tidak sendiri. Ada seorang wanita lagi di sana yang juga tengah menatap kehadirannya.

“Hanna …,” gumam Jenny, refleks berdiri. Hanna tanpa ragu lagi melangkah maju. Wanita di samping Jenny juga datang menghampiri. Dengan ramah menawarkan diri untuk menyimpan blazer Hanna, namun terpaku saat Jenny menggumamkan namanya lebih jelas.

“Nona Hanna—“

“Sehun ada?” Hanna menginterupsi cepat. Matanya tertarik mengamati perubahan ekspresi wanita dengan beige blazer di samping Jenny. Sejurus kemudian mendapati senyum dan anggukan kaku darinya. Sayang, Hanna selalu beku pada orang baru, Seolhyun pun harus rela tak menerima balasan senyum.

Namun, itu tak mengurangi ketertarikan Seolhyun untuk menelisik penampilan mahal gadis bernama Hanna itu. Simple, tapi anggun. Cantik, juga manis. Dan sepertinya, pendiam atau mungkin memang dingin. Entahlah, Seolhyun hanya bisa menilai dari luar dan berakhir cemburu saat menyadari betapa sempurnanya gadis itu jika bersanding dengan mantan kekasihnya.

Hanna

Dan Hanna, hanya bisa menggenggam lengan sendiri saat didiamkan oleh dua wanita di sana. Sedikit tak mengerti juga mengapa mereka hanya diam tanpa berkedip menelisik penampilannya. “Apa Sehun ada?” tanyanya lagi, tak ingin membuang waktu.

“Iya … Ah, iya, ada. Sehun ada. Tapi Nona, bukankah seharusnya Anda—“

“Boleh aku bertemu dengannya?” Lagi-lagi, Hanna menyela. Sekarang, bukan saatnya bertele-tele dengan Jenny; Sehun adalah tujuan utama.

Sehun sedang banyak pekerjaan. Ingin sekali Jenny mengatakan itu, tapi yang ia lakukan justru menuntun Hanna menuju pintu tinggi berdaun cokelat dengan ukiran mewah. Membuka pintunya pelan dan dengan senyum memersilahkan Hanna masuk.

“Sehun ada tamu,” lapor Jenny. Ada nada menggoda dalam suaranya, yang bodohnya ditanggapi tak acuh oleh si target.

Hanna bahkan menggigit bibir saat melihat lelakinya yang hanya duduk diam di balik meja kerja. Ada banyak tumpukan berkas di sisi kanan dan kiri tubuhnya, seolah itu jauh lebih menarik untuk dijamah ketimbang paha wanita. Ketukan pumps anggun dari seorang Hanna bahkan tak menarik perhatian pria itu, kendati bakteri pun tahu Sehun tak tuli.

“Sepertinya, aku datang di saat yang tidak tepat.”

Jenny tersenyum mendengar suara lembut Hanna dan reaksi Sehun di saat yang bersamaan. Bibir mungil pria itu bahkan bergerak menggumamkan panggilan ‘sayang’ setelah melihat siapa tamu yang dimaksud. Diam sesaat, menjelajahi penampilan manis gadisnya. Kemudian berdiri dan memutari meja dalam tempo tergesah, sehingga Hanna siap menerima pelukan rindu.

Sayang, bukan itu yang Hanna dapat. Sehun justru bersimpuh di depannya dengan raut khawatir bukan main. Juga tanpa sopan santun meraba paha dan lututnya, sampai Jenny membungkam mulut salah sangka. Beralih ke pergelangan kaki, padahal tak ada permen karet di bawah tumit lancip pumps kekasihnya. Tak heran, jika Jenny merasa Sehun kehilangan akal sehat setelah tiga minggu tak berjumpa dengan Hanna.

“Sayang, kakimu?” Jelas, Sehun cemas. Pria itu tahu betul perkembangan kondisi pergelangan kaki gadisnya. Bukan hal mustahil, jika Sehun panik mendapati Hanna menggunakan high heels, padahal jelas itu dilarang selama satu bulan setelah perban dilepas. Beruntung, Sehun tak lagi menemukan bekas luka di lutut sehingga ada celah untuknya bernapas.

“Sudah sembuh.” Hanna menarik tangan Sehun. Ada senyum di bibir mungil pria itu setelah jawabannya meluncur. Pelukan pemecah rindu juga Hanna terima dengan senang hati. Rasanya begitu mengikat dan mengerat, seolah mencuri aroma lawan jenis saja tak cukup.

“Aku sangat merindukanmu, Hanna.”

“Kau selalu mengatakan itu.”

“Hanya lewat telepon.”

Hanna tersenyum, malas menjawab lagi.

“Studimu selesai satu bulan lagi, apa yang membawamu kembali ke New York sebelum waktunya, hm? Mengapa tak memberitahu kau akan datang?” Sehun bertanya dalam posisi masih enggan melepas. Hidungnya mulai menjelajah, mencuri wangi yang amat dirindukan itu lebih banyak.

“Kejutan,” singkat Hanna, tak sepenuhnya berdusta. Wajahnya juga tenggelam dalam jas violet mahogany lelakinya, seakan wangi yang ditawarkan menjanjikan akan mengurangi rindu.

Diam-diam, Jenny pun menutup pintu.

-Ambition-Menyelam ke dasar palung, gelap dan penuh misteri. Seperti itulah yang Sehun rasakan setiap kali mencoba menebak isi kepala gadisnya. Salahnya juga tak sabar mengungkap alasan di balik adanya lima belas map yang mengisi meja kaca. Sehun juga tak mengerti mengapa lebih memilih menarik Hanna duduk di sofa hitam dekat jendela raksasa untuk diinterogasi, ketimbang menghimpitnya dalam ciuman basah sampai sesak. Padahal lenguhan lembut Hanna adalah hal yang paling Sehun rindukan saat ini.

“Bisa kau jelaskan apa ini, Hanna?” tanya Sehun, selembut mungkin.

Hanna hanya diam menatap lima belas map yang tersebar satu-satu, lalu mengendik tak mengerti.

“Kau mendaftarkan namamu untuk mengikuti tender besar di lima belas negara berbeda, dalam jangka waktu saling berdekatan antara tender satu dan yang lainnya. Semua itu akan memakan waktu selama satu tahun di tahun ini.” Sehun memerjelas. Tangannya terlipat di bawah dada, menghakimi gadis yang begitu dicintainya itu secara terang.

Netra cantik Hanna pun berkedip sekali. Kepalanya miring, membalas sayu pancaran tajam kekasihnya. Jelas sekali, ada sorot khawatir di sana yang begitu Hanna sukai. Ia pun mengerti ke mana arah pembicaraan ini, tapi Hanna enggan membahasnya. Bahkan, Hanna juga tak tahu apa gunanya mengikuti semua tender itu lagi, mengingat langkahnya telah mati di tangan Willard.

Tapi di lain pihak, hati kecilnya tetap bertanya; apa benar kau selemah itu, Hanna? Menyerah di awal permainan dan mundur sebelum melangkah. Pecundang benar, jika seorang Hanna melakukan itu. Oh, sialan. Bahkan, alam bawah sadarnya menghina.

“Apa masalahnya?” tanya Hanna, redam. Tak ingin emosi ikut bermain dalam pembicaraan, meskipun batinnya sibuk bertarung payah. Sehun hanya tidak tahu, Hanna melakukan itu untuknya. Untuk mendapat pengakuan dunia bahwa Ritz bisa mengulang sejarah tanpa harus berada dalam pelukan perusahaan ternama. Hanna hanya ingin membangun kerajaan real estate-nya sendiri, kendati Ritz-Carlton tak lagi menjadi miliknya. Dengan begitu, Hanna tak akan mencoreng nama baik Sehun di depan para tetua Bertelsmann.

Sayang, apa yang terjadi saat ini tak sesuai dengan perhitungan Hanna. Sudah terlanjur ada fitnah yang menyebar dan mencoreng nama baik Ritz. Kemungkinan bisa diterima di keluarga besar Bertelsmann pun semakin tipis.

“Masalahnya hanya ada padaku, Hanna. Aku terlalu mencintaimu.” Sehun merunduk dengan siku bertumpu pada paha. Kedua tangannya dibiarkan bertaut, sementara mata dibiarkan beradu lembut dengan pemilik cintanya.

“Memenangkan lima belas tender dalam waktu satu tahun itu tidak mudah, Sayang. Pikirkan berapa banyak waktu tidurmu yang akan terbuang selama itu. Pikirkan bagaimana kondisi tubuhmu yang akan menerima dampak dari semua aktivitas berat itu. Aku tidak akan memermasalahkannya, jika kau bukan wanita yang kucintai. Aku hanya ingin kau menarik mundur namamu dari beberapa tender, bisa?” lanjut Sehun, merayu. Harapannya besar untuk bisa membuat Hanna mengerti dan menurut, bukannya bangun dari duduk. Sehun pun terpaksa mendongak mengikuti gerakan tiba-tiba gadisnya dalam manuver refleks.

Sehun

Saat itu juga, perasaannya kacau mendapati raut tak terbaca pada wajah yang begitu dipuja. Hanna terlihat marah dari gerakan tubuhnya, seakan permintaan Sehun adalah sebuah aturan yang tidak ia sukai namun mutlak harus diikuti. Hentak teratur pumps putihnya pun menarik Sehun untuk ikut berdiri, tapi Hanna justru menghampiri dan mencium pipi.

“Aku mengerti, tapi aku tak bisa berhenti. Jadi, kau yang harus mengerti. Sekarang, aku harus pulang,” terang Hanna, jelas sekali menghindar. Bukan semata tak suka, tapi melihat bagaimana cara Sehun menatapnya, membuat Hanna ingin terus melangkah maju. Sukses tidaknya, terserah takdir. Yang terpenting, Hanna sudah mencoba dan berusaha mencapai asa. Sambil merapikan sejenak kerah tanpa cekikan dasi di leher milik prianya, Hanna tersenyum sebelum mundur menjauh.

“Kau marah?”

“Jika marah, aku akan diam.” Itu artinya, Hanna tidak sedang marah.

“Hanna, itu demi kebaikanmu.” Sebelah tangan Sehun membentuk setengah lingkaran—menahan pinggang sempit gadisnya sebelum semakin menjauh. Tangannya yang lain menjepit dagu lancip itu—merayu, membawanya mendongak menatap keseriusan dari permintaan dan perhatian tulusnya.

“Aku tidak pernah melangkah tanpa sebuah perhitungan, Sehun.”

Sehun-nya menggeleng, tetap tak setuju.

“Kau tidak tahu, seberapa tersiksanya aku saat melihatmu sakit tanpa bisa melakukan apa pun selain menatapmu dari sebuah toko roti di Paris.” Ada luka dalam sorot mata pria itu yang tak segan mematikan semua pergerakan Hanna. Kecupan di kening pun didapat, sedetik sebelum tubuhnya dipeluk sayang penuh akan permohonan. Jika sudah seperti ini, Hanna tak bisa berkutik apalagi menentang lebih jauh.

Namun, keinginan untuk tetap bisa bersama pria itu juga tak kalah besar. Hanna pun semakin bimbang dalam menentukan sikap. “Aku berjanji akan selalu sehat untukmu,” rayunya, tak tahu lagi harus bagaimana.

“Tetap tidak, Hanna. Tidak.”

“Kau tahu betul apa mimpiku, Sehun. Aku—“

“Aku akan mewujudkan semua mimpimu, tapi tidak dengan melihat keringat di keningmu.” Sehun membuat jarak, menusuk dalam netra Hanna. Mengoyak pertahanan gadis itu di detik yang sama, namun cinta tetap membuat logikanya menang.

“Tidak,” elak Hanna, lembut. “Kau tidak akan bisa, jika aku tidak mampu.” Sedikit mencubit pipi Sehun di akhir kalimat, diikuti senyum bulan sabit terbalik setelahnya.

“Hanna—“

“Aku hanya ingin bersamamu, Sehun. Hanya bersamamu. Dan itu tidak akan terjadi, jika aku tidak mampu. Mengertilah.”

Huh?

Sehun berkedip, gagal mengerti. Kuasanya melemah dan Hanna mundur menjauh dengan senyum kemenangan. Melewati tubuhnya, lalu lenyap di balik pintu jati. Menyisakan frase berdiksi yang tidak Sehun pahami; tentang mimpi Hanna yang berubah dan menjadi satu kata cinta. Hanya bersamamu, katanya. Oh, Tuhan. Hanna baru saja mengatakan cinta, tapi sejak kapan gadis itu kehilangan minat menjadi si nomor satu yang hebat tak terkalahkan? Tak lama, kalimat majemuk ayahnya berdengung; membawa Sehun berlari meraih kunci mobil dan mengejar cintanya.

Jadilah lebih kuat, karena wanitamu tak sekuat seperti apa yang kau bayangkan. Cukup pertahankan Hanna dengan kuasamu, buat dirimu sendiri mampu untuk itu.

Bodoh. Kenapa pula Sehun baru menyadari kelemahan Hanna sekarang. Padahal jelas, kelemahan itu ada karenanya—karena perasaan Hanna terhadapnya. Seharusnya Sehun ingat; wanita itu lemah jika sudah menyangkut perasaan. Ia bahkan lupa, membuat Hanna lemah adalah tujuan awalnya.

-Ambition-

Central Park

Rasa ingin tahunya berbobot tinggi, dibiarkan tenggelam rapi bersama kotak kayu. Sehun lebih memilih menghindar dari perdebatan panjang yang akan berujung pertikaian. Semua suara pun beranjak, keduanya terdiam dalam sepi. Yang Sehun lakukan hanya mengejar dan menggenggam tangan Hanna, kemudian mengajaknya berjalan kemari. Menikmati sore bersama dengan langit jingga di atas jembatan putih berjurang sungai biru safir.

Hening pun semakin meraja, berkuasa membungkam mulut keduanya. Sehun sedang sibuk dengan pikirannya tentang alasan Hanna mengikuti tender dan keburukan yang menyebar tentang Jo Khaza. Yang artinya, Hanna telah mutlak memilihnya dan membiarkan sang ayah kehilangan Ritz-Carlton. Lalu, mencoba memerbaiki itu dengan membangun kembali kerajaan sendiri tanpa campur tangan orang lain. Dengan begitu, nama baik Jo Khaza akan kembali dan Hanna akan diterima dengan baik di keluarga besar Bertelsmann.

Jika benar seperti itu, maka Sehun akan melangkah jauh ke depan. Berada di depan Hanna untuk melindunginya dari tatapan menghina. Otak cerdasnya juga tak tinggal diam, malah sudah menyusun rencana dalam tempo singkat—jauh lebih cepat dibanding langkah kakinya sendiri. Hanna tidak boleh menderita karena memilihnya; Sehun tekankan itu. Hanya perlu sedikit permainan kotor untuk mematikan langkah Willard, dan Hanna cukup tahu hasilnya nanti.

Rahang tegas berujung dagu lancip itu pun akhirnya terangkat. Mata musangnya tertarik pada satu titik, di mana keindahan The San Remo berdiri megah melampaui pohon rindang. Tangan Hanna pun dituntunnya menepi dengan senyum kecil di wajah. Sehun tak peduli kotor saat menjadikan sisi jembatan penopang tubuh, kemudian menarik Hanna merapat. Mengedikkan dagu ke samping kiri, seakan jari tak lagi berguna sebagai alat petunjuk arah.

“The San Remo.” Sehun menatap gadis yang berdiri menyamping dan menyandarkan bahu di dadanya itu. Ia senang melihat posisi Hanna yang berada di antara kedua kakinya, dengan menjadikan sebelah paha dudukan. Lebih-lebih saat gadisnya itu hanya diam saja, dan lebih memilih menutup mata. Bahunya pun ketiban masa saat kepala beraroma manis itu bersandar di sana, seperti tak lagi berminat pada gedung kembar pencakar langit tersebut.

“Ada apa, hm?”

“Tidak.”

“Lenganmu dingin. Kau meninggalkan blazer-mu di mobil. Pakai jasku, ya?”

Hanna menggeleng.

Dan, Sehun tak ingin memaksa. Usapan tangan naik-turun di lengan Hanna pun diberikan, guna memberikan sedikit kehangatan. Jauh daripada itu, Hanna tengah menenangkan diri dari rasa takut akan kehilangan. Mulai berpikir tentang kemungkinan terburuk yang akan terjadi di masa depan adalah alasan mengapa tubuhnya menggigil. Sedikit bertanya juga, mengapa Sehun tak membahas Ritz-Carlton kendati Hanna yakin berita buruk itu sudah sampai ke telinganya.

Maka saat itu juga netra Hanna terbuka, kepalanya lantas beranjak dari bahu nyaman Sehun. Berakhir dengan menatap rahang tegas prianya itu penuh tanya, yang sayangnya tak mendapat balasan. Sehun-nya justru sibuk mengamati tepi sungai sehingga Hanna tertarik mencari tahu ada apa di sana. Seorang batita manis bersama kedua orang tuanya pun terlihat, sedang belajar berjalan ke sana-kemari dengan senyum dua gigi. Kadang Sehun tersenyum saat si mungil itu jatuh dan ditertawakan oleh kedua orang dewasa di sana. Malah hampir tertawa ketika si mungil justru bertepuk tangan dengan manisnya, kemudian bangkit sendiri dan belajar lagi. “Manis, ya?” katanya.

Hanna tersenyum tipis. Satu tekanan di pipi dari hidung mancung Sehun pun diterima.

“Kita terlahir lemah. Tak bisa melakukan apa pun, selain menangis dan tertawa. Seiring berjalannya waktu, banyak hal yang membuat kita tertarik. Termasuk, cara belajar berjalan yang membuat kita tak kenal lelah meskipun jatuh berulang.”

Hanna diam, membiarkan tangan Sehun usil bermain di rambutnya.

“Apa pun masalahmu, cukup ingat saat di mana kau belajar berjalan. Jangan takut jatuh, karena aku tidak akan membiarkan itu terjadi. Percayalah, aku bisa mengerti seorang Hanna tanpa perlu mendengarnya bersuara.”

Oh, itu yang ingin Hanna dengar.

“Tetaplah pada pendirianmu, aku mengizinkan. Tapi kumohon, jangan biarkan orang lain menaklukanmu. Karena aku tidak akan melepasmu, jika bukan kau sendiri yang meminta.” Sehun memberi isyarat tubuh, Hanna pun mengerti dan mengambil jarak. Belum cukup sampai di situ, Sehun menarik Hanna berdiri, diikuti tubuh tegapnya yang memutar posisi hingga Hanna berdiri di sisi jembatan, dan diakhiri dengan senyum manis menyejukkan bermakna ambigu.

Kontak mata pun terjadi, Sehun kembali menyisir rambut lurus gadisnya dalam diam. Mengundang kerutan halus, berjuta tanda tanya di wajah. “Sekarang, kau tahu apa yang sedang kupikirkan?” tanyanya, semakin membuat Hanna bertanya.

“Sesuatu yang berbau mesum,” asal jawab, Hanna tak mau ambil pusing.

“Bisa jadi, tapi ini lebih manis.” Beruntung, Sehun bukan orang yang mudah tersinggung. Terbukti dari gigi taringnya yang bersembunyi malu-malu menahan senyum. “Aku …,” Sehun menjilat bibir cepat, kebiasaan jika sedang gugup. Ingin mengatakan, tapi malu. Sehun juga heran, sejak kapan ia punya rasa malu? Aduh, ini jadi rumit. Sejurus kemudian merunduk juga; bersimpuh di depan Hanna.

“Apa kau menyukai anak kecil?” tanyanya, sambil menatap Hanna dari bawah dengan sebelah lutut menyentuh paving batu. Tangannya mulai menggenggam lembut jemari lentik beraroma lembut itu, kadang juga memainkan mutiara kecil yang ada di cincinnya.

Hanna bahkan sempat mengangkat sebelah alis sebelum menjawab, “Ya.”

Singkat memang, tapi Sehun sudah tersenyum senang. Membawa tangan Hanna untuk kemudian dicium lembut, juga dalam. Tak cukup sampai di situ, pipi Hanna pun dibuat merona parah saat kecupannya berpindah ke perut. Menciumnya tak kalah lembut penuh perasaan, lantas mengakhiri dengan usapan sayang seolah di dalam sana tengah tumbuh buah cinta.

“Kalau begitu, aku tidak akan khawatir menitipkan anakku di sini sebelum tumbuh di luar. Juga tak khawatir ibunya lebih mementingkan pekerjaan daripada tumbuh kembangnya.” Sehun mencium perut Hanna lagi, lebih lama dan sayang. Kemudian mendongak dengan kedua tangan yang masih betah bertahan di pinggang sempit gadisnya. “Tidak keberatan, kan?” lanjutnya bertanya. Hanna tersenyum. Mengusap sayang rambut Sehun dengan tatapan bening menenangkan.

“Seorang anak tak hanya membutuhkan seorang ibu untuk tumbuh kembangnya, Sehun.”

“Hm, aku tahu.” Sehun bangkit, mensejajarkan tubuh. Menatap hazel gadisnya tanpa menyertakan keraguan. “Untuk itu, aku akan selalu ada untuk kalian. Potong leherku, jika aku ingkar,” katanya, yang kemudian mendapat satu hadiah pelukan dari Hanna. Begitu erat sampai Sehun gemas membalas. Perlahan saling memisahkan diri, kemudian menyatu lagi dalam sentuhan intim. Memiringkan kepala berlawanan arah dan saling menekan dalam tempo lembut bergairah.

Dengan ini Hanna yakin, cara terbaik untuk bunuh diri adalah jatuh cinta. Tak peduli kehormatan keluarga mati tak tersisa, akhirnya Hanna lebih memilih memiliki cinta. Tanpa tahu, Ritz-Carlton beserta isinya tak akan bisa pergi ke mana pun dari genggaman Willard. Hanya tinggal menunggu waktu sampai Hanna jatuh tak bernyawa tanpa sayap. Berjalan di altar bukan sebagai bidadari bersayap putih, melainkan putri salju dengan kebekuan di setiap langkah.

 

.

.

.

To Be Continued

.

.

.

 

Author’s Note

Aku sadar ini lama, untuk itu aku minta maaf sama kalian semua yang masih setia nunggu buat baca. Sebenernya, aku gak percaya diri buat post ini. Inget, pas aku post Drabble My Wife (?) Nah, saat itu Ambition udah selesai. Tapi karena gak percaya diri, aku rombak lagi. Entah berapa kali revisi, sampai sekarang pun aku masih gak percaya diri. Aku bahkan gak berani balesin komen di FF My Wife, jadi cuman dibacain aja. Maaf untuk itu.

Sekarang, kalau hasilnya ala kadarnya, mohon dimaklum, ya … Lobee you

My Fate {SUMMARY-Remake}

Terima kasih^^

 

Regards,

Sehun’Bee

Advertisements

630 responses to “Ambition [Chapter 12] – by Sehun’Bee

  1. Aw Sehun manisnya gak ketulungan..mereka cocok banget nget nget nget..thor klo baca komentar ku, aku cuma mw bilang klo ff author keren banget..bru ambition sih aku baca

  2. Kasian bnget, knpa kbhgian susah bget di dptin sehun-hanna pdhl sdh sling mncintaai,,,tpii msih aja ada yg bikin mslhh dn buat hubungan mrka hrs mndpt resiko,,,,dri kmren greget bngett, konfliknya itu lohhh bikin gemeshhh ….

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s