[FREELANCE] Perfectionis Chapter 4

140622-sehun-exo-new-picture-for-overdose-postcard-pop-up-store-scan-by-oliv_xoxo

Author :

Jung Ji Hyoen

 

Main Cast :

  • Kim Rei Na / Lusia Kim
  • Xi Luhan
  • Oh Sehun
  • Lee Mi Na or Ny. Kim (Rei oemma)
  • Kim Jin Pyo / Hans Kim or Tn. Kim (Rei Appa)
  • And other support cast

 

Genre : romance, complicated, family, marriage life (Little)

 

Ranting : 15+

 

Disclaimer : Jihyoenieee Annyoeng! Sudah lama tidak bertemu. Maaf atas keterlambatannya dan Ini ff murni dari imajinasi otak kanan saya. Jadi jangan coba menjadi palgiat dan daripada bashing, mending gk usah di baca aja! Thankyou. Langsung aja, this is perfectionis chapter 4 CHUU~

Preview : Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4…

Perfectionis

 

Rei POV

 

11.49 KTS

 

Entah mengapa matahari terasa begitu terik hari ini, dan itu membuatku sedikit tidak nyaman menggunakan pakaian formal ke kantor.

1592c42f6b26f8191788d3761d036a121

Aku rasa bajuku tidak terlalu formal, hanya saja tidak sesuai dengan musim extream seperti ini. Jika saja aku tidak ingat bahwa aku seorang CEO.

 

Ingin rasanya melepasnya dan menggantinya dengan biki two piece yang baru ku beli dari Jeju kemarin.

Aku tidak tahu bagaimana reaksi semua pegawaiku termasuk Luhan jika aku benar – benar menggunakan bikini itu ke kantor.

 

Tapit tidak ada salahnya hari ini pergi ke gudang untuk memastikan bahwa stok bahan dan kain untuk industriku benar – benar barang yang berkualitas. Tapi berjalan di tempat seperti ini dengan hils 7cm dengan skirt ketat ini membuatku merasa begitu lelah. Jujur saja, sebenarnya aku belum benar – benar terbiasa menggunakan sepatu dengan hak tinggi seperti ini. Tapi yang mereka tahu aku seorang perfectionis, bagaimana lagi. Setidaknya mereka tidak menyadarinya.

 

Dan pada akhirnya aku hanya berjalan menatap sekeliling, cukup bersih dengan tempat luas dan beberapa pegawai berseragam putih dan hitam sedang mendata beberapa bahan yang baru datang.

 

“Sudah cukup melihatnya direktur?” Luhan tiba – tiba saja berjalan di sebelahku. Dia datang dengan menggunakan tas tangan yang mungkin berisikan laptop kesayangannya yang begitu banyak menyimpan jadwalku dan beberapa dokumen penting, tidak lupa dengan beberapa lembar kertas yang berada di tangan kanannya berisikan laporan tentang isi gudang yang baru saja selesai dan akan membuatku lebih pusing nantinya.

 

“Kau mengejutkanku, dari mana saja kau?” aku menatapnya dengan pandangan mengintimidasi tanpa tersenyum, sambil melipat tanganku di depan dada. Aku benci sekali jika Luhan mengejutkanku dengan menyapaku tiba – tiba. Apa dia jelmaan hantu hingga sanggup datang dan pergi begitu saja?

 

“Emm… Direktur, ada seseorang yang ku rasa sangat penting hingga kaki emasnya menginjakkan kaki ke gudang kumuh kita nan jauh ini.” Luhan berbicara dengan nada sedikit tergagap dan ekspresi yang sulit ku artikan. Bola matanya memutar berusaha menunjukan arah seseorang yang di sebutnya dengan kaki emas. Tapi sungguh, aku benci saat dia melakukan hal itu, karena aku tak akan mengerti sampai dia menjelaskannya secara mendetail padaku.

 

“Apa maksutmu? Bicaralah dengan jelas?” ujarku dengan penekanan di setiap katanya. Aku bukan seorang peramal atau psikiater yang bisa membaca fikirannya dengan jelas hanya karena dia memberikan lirikan aneh ke beberapa arah di sekitar gudang dan menggunakan kode seperti ‘Kaki Emas’. Oh, ayolah Luhan. Kau tau aku benci teka – teki.

 

Luhan masih saja bertingkah aneh dan menatapku gelisah, dan berulang kali menarik nafas. “Direktur, ah kumohon…”

 

“Mangkanya bicara yang jelas. Siapa sang kaki emas itu?” Aku jadi tambah tak mengerti dengan semua ucapan dan tingkah lakunya. Haruskah ku robek mulutnya agara dia bisa bicara dengan jelas.

 

“Tuan Oh Sung Han.” Aku membulatkan mataku dan memberikan tatapan membunuh kepadanya.

 

“MWO?! Kenapa kau baru bilang?!” aku mulai berjalan panik menuju pintu utama gudang. Tak menghiraukan Luhan yang mencoba mengatakan “Aku mencoba memberitahumu.” Selalu saja jawaban itu ketika dia ingin mengalahkanku. Lagi pula siapa suruh menggunakan bahasa yang tidak bisa di mengerti. Setidaknya dia hidup lebih lama dariku, tak bisakah menjadi seorang yang setidaknya lebih “dewasa” dariku. Aku sudah cukup gila dengan diriku sendiri, kenapa Luhan juga harus seperti itu.

 

Seperti di hadiahi ribuan bintang jatuh. Sang “Kaki Emas” itu begitu mengejutkanku. Ada hal menarik apa hingga yang mulia terhormat ini mau datang ke gudangku yang jelas – jelas jauh dari Rei Lu industry dan yang pastinya kumuh ini. Demi apapun aku hampir saja kehilangan kata – kata menjelaskan semua ini.

 

“Mr. Oh. Anda benar – benar mengejutkan saya dengan tiba – tiba datang ke gudang kumuh kami. Maafkan saya dengan penyambutan seperti ini, saya benar – benar tak mengetahui jika anda akan berkunjung ke gudang saya.” Aku kemudian membungkuk hormat kepadanya diikuti para karyawanku yang berjaga di pintu utama dan tak lupa Luhan yang setia menyunggingkan senyumnya pada Tn. Oh. Entah dia membual akan hal itu atau karena dia benar – benar menghormati pria ini, atau malah karena di gugup dan bingung harus melakukan apa.

Aku rasa yang terakhir lebih tepat untuknya saat ini.

 

“Tidak perlu seformal itu, panggil saja aku abboenim.” Tuan Oh lalu mengusap rambutku lembut, entah hari apa ini hingga membuat semua orang menjadi aneh. Aku rasa matahari bersinar begitu terik siang ini hingga membuat fikiran beberapa orang melayang hilang entah kemana.

 

“Ne, a-abboenim. Ada urusan apa anda datang jauh – jauh ke gudang kumuh ini?” aku memiliki firasat buruk untuk hal ini. Dan yang kalian harus pelajari bahwa firasat buruk tak pernah salah.

 

“Pertama, bagaimana jika kau ikut aku ke mobil terlebih dahulu.” Pria itu kemudian merangkulku dan menuntunku berjalan menuju mobilnya.

 

Aku menatap Luhan meminta pertolongan, tapi Luhan menatapku seakan berkata –semua akan baik – baik saja. Tidak! Semua ini tidak akan baik – baik saja.

Kau harus lebih baik jika membual denganku Luhan! Kau fikir apa yang akan baik – baik saja jika aku mengikutinya. Pria dengan setelan jas coklat dengan syal di lehernya membuat kesan klasik dari pria berusia 54 tahun itu. Dan sialnya pria itu terus berbicara denganku sambil menuntunku menuju pintu keluar gudang ini.

 

Harus bagaimana lagi, tetua yang Luhan bilang berkaki emas itu memintaku mengikutinya. Aku bisa apa? Aku tersenyum dan mengikutinya. Rasanya masih belum bisa di percaya, seseorang yang mungkin saja bisa menyuruh ribuan pengawal untuk menyampaikan sesuatu untuku tiba – tiba bisa datang ke gudang kumuh milikku yang mungkin ibuku saja tak mau mendatanginya. Dan kenyatannya pria yang Luhan sebut berkaki emas itu memang disini, menginjakkan kakinya di gudang bahan Rei Lu Industry.

Dari kejauhan aku melihat Ferary hitam dengan model terbaru yang ku yakini milik orang tua berkaki emas ini. Aku tak tahu bagaimana harus mengatakannya tapi orang tua ini benar – benar hebat! Aku hampir menangis dan berlari ke arah mobil sporty yang kuyakini mesin dan spesifikasinya lebih baik dari ferrary merah milikku. Aku hampir saja membelinya jika saja oemma tidak melarangku untuk membeli mobil itu. Oemma benar – benar tak memperbolehkannya, meskipun itu hasil jerih payahku sendiri. Yeah, aku tahu alasannya. Mungkin oemma sudah mulai mengetahui caraku mengemudi.

 

“Masuklah.” Ujarnya ketika melihatku tertegun dengan mobil sport keluaran terbaru itu.

 

“Wah, abboenim keren sekali menaiki kendaraan seperti ini?”

 

Tuan Oh kemudian tertawa renyah, entah itu tertawa bersamaku atau menertawakanku. Yang pasti orang tua itu hebat. Apa dia membelikanku mobil agar aku mau menikahi anaknya? Yang benar saja. Apa benar orang tua ini sekaya itu?

Tapi dia memang sekaya itu!

 

“Kau lucu sekali, Sehun benar tentangmu. Aku membawa mobil sendiri dengan sopir. Itu, mereka disana.” Tuan Oh menunjuk beberapa mobil hitam mewah dan 2 orang pengawal dengan pakaian hitam mereka.

 

“Lalu, apakah ini…”

 

Belum sempat menyelesaikan ucapanku orang yang di wanti – wanti ternyata datang. Oh Sehun.

 

“Kau mengagumi mobilku, keren bukan? Tidak kalah dengan mobilmu.” Tanpa sadar aku membuka sedikit mulutku mengagumi apa yang Sehun bisa lakukan, membuatku kagum. Dia seorang Lucifer.

 

“Kau naiklah bersama Sehun.” aku menatap Tuan Oh seakan berkata tidak. Tapi apa daya, Sehun langsung meraih tanganku dan membawaku masuk ke dalam mobilnya.

 

“Tidak usah sok jual mahal.” Ucapnya ketika dia membukakan pintu untukku. Bau khas maskulin lembut langsung memenuhi rongga hidungku. Apa pengharum mobil bisa semenarik ini?

 

“Pakai sabukmu, jangan terlalu mengagumiku.” Aku hanya mendengus dan memutar bola mata malas mendenger ucapanya, lalu memasang sabuk pengaman. Baru saja aku ingin mengagumi mobil impianku ini, tapi dia dengan ucapan dingin itu menghacurkan sekelebatan lamunanku. Dasar, sial!

 

Setelah selesai dengan sabuk pengaman Sehun mengijak pedal gas mobil dengan tenaga 1000 kuda ini, suara mesin mobil ini benar – benar membuatku jatuh cinta!

Seandainya aku boleh membelinya, pasti aku tak akan seperti orang autis seperti ini. Oemma dan appa selalu melarangku karena mereka bilang aku tak boleh mengemudi dengan kencang. Alasan klise itu selalu membuatku pening. Bukankah itu tujuan membeli mobil sport? Untung saja aku boleh mengendarai lamborgini yang ku beli tahun lalu dan ferary kesayanganku.

 

“Kau lelet sekali, bisa menyetir tidak?” Ucapku melihat Sehun yang melaju sangat lambat. Menurutku. Jika memang dia tidak bisa menyetir kenapa harus beli mobil mahal seperti ini? dia bodoh atau memang hanya berpenyakit sok?

 

“Kau tak perlu mengajariku.” Aku mulai jengah juga dengan Sehun. Sifatnya yang sangat sok itu membuatku ingin meludahi wajahnya. Untung saja aku masih bisa mengendalikannya, jika tidak. Entah bagaimana aku harus melampiaskan kesalku ini padanya. Mungkin aku sudah memecah kaca mobilnya dengan hilsku.

 

Beberapa saat setelah mendengarku mengomel, Sehun mulai mempercepat laju mobilnya. Tidak tanggung – tanggung, kecepatan maximal. Apa dia sedang mencoba menguji kerja jantugku? Atau sedang menguji kesabaranku?

Bagaimana bisa ada seorang lelaki seperti Oh Sehun. Aku rasa Tuan Oh terlalu sering membiarkan Sehun bermain es hingga anak turunya begitu sempurna dengan berubah menjadi seonggok krystal yang begitu berharga tapi juga dingin. Aku sungguh kasihan kenapa ibunya mau bersusah – susah mengeluarkan sebongkah es dari dalam perutnya.

Huh! Ini benar – benar bukan tipeku mengolok – olok seseorang dalam hati.

 

Dan 5 menit kemudian kami sampai terlebih dahulu di sebuah restoran perancis yang mungkin agak terpencil, aku bahkan tak tau sedang ada dimana.

 

“Kau menculikku ya, dimana ini?” aku masih duduk didalam mobil, sedangkan Sehun sudah keluar dan membukakan pintu untukku. “Siapa yang sudi menculikmu, kita makan di tempat ini. Cepat keluar Tuan Putri, apa aku perlu menggendongmu?!” Lihatlah caranya berbicara, aku juga akan turun tanpa kau berucap seperti itu. Ya Tuhan, berilah petunjuk bagaimana seharusnya aku bersikap pada sebongkah es ciptaanmu.

 

Aku memilih diam daripada meladeni ucapanya yang kian lama kian menyebalkan. Pria jakun dengan setelan jas navy dan dasi bergaris berwarna senada melingkarkan tanganya di depanku. Akupun menatapnya bingung, tak mengerti apa maksut dari tingkah lakunya yang menurutku aneh. “Cepat gandeng lenganku.” Ucapnya.

 

“Tidak Mau!”

 

“Kau sulit sekali di ajak bersandiwara. Ini membuat kita terlihat baik bodoh. Cepat sebelum para tetua melihat kita dari atas.” Akhirnya dengan sangat berat hati aku menggengam lengan Sehun yang menurutku, yah lumayan untuk seorang namja. Tidak terlalu berotot ataupun kurus, seperti pas untuk di gandeng seperti ini.

Hya, apa yang ku lakukan. Apa aku baru saja memujinya?

 

Setelah menaiki lift aku menuju meja ruangan VVIP yang menurutku sangat mewah. Dengan design interior ala eropa dan hiasan dinding dengan lukisan klasik abad 19, juka dekorasi dan warna peach yang mendominasi. Ini membuat kesan nyaman dan tempo dulu, tapi anehnya restoran ini berada di pinggiran Seoul. Mungkinkah ini restoran yang pernah masuk best 50 restoran 5 stars in the world versi brytis magazine? Aku yakin pernah membaca nama restoran ini di suatu majalah amerika. Tapi apa itu? ah!

 

“Oh, kalian sudah datang.” ucap oemmaku.

 

“Dimana ayahmu Sehun?” Ny Oh menaikan alisanya melihat kami hanya datang berdua.

 

“Ada di belakang.” Ucapnya ketus lalu dia duduk di sebelah Ny Oh sedangkan aku di sebelah Oemmaku, dan aku benci sekali duduk bersebrangan seperti ini denganya. Itu membuatku harus bertatapan dengannya. Aku sangat membencinya bagaimanapun sempurnanya dia di mataku.

 

“Jika tahu seperti itu tidak usah mengajak ayahmu menjemput Lusia. Kau itu benar – benar.” Ny. Oh memandang tajam Sehun yang meninggalkan Tn Oh.

 

Dan yang di nanti-pun datang. Segera acara makan siangpun dimulai. Para pelayan masuk dan menghidangkan berbagai masakan mewah dengan porsi yang kurasa pas untuk makan siang yang tak terlau banyak kalori dan kolesterol. Aku rasa ini semua pesanan para tetua dilihat dari bagaimana masakan ini disajikan dan bahan – bahan yang di gunakan. Aku tak mencium bau bawang sedikitpun dari masakan ini.

Mereka benar – benar ingin membunuhku dengan makan – makanan seperti ini, mereka pasti tahu aku terlalu kurus hingga mirip seperti pengidap anorexia tapi tetap saja mereka memesankan kami masakan seperti ini.

Aku harus bagaimana agar mereka benar – benar mengerti bahwa aku tidak sedang menjalani program diet!!

 

“Jadi apakah kau menyukai hidangannya Lusia?” Ny Oh menatapku dengan senyum lembutnya.

 

“Ne, oemmonim. Ini sangat enak.” Aku mencoba tersenyum tulus di depan semua orang, meskipun di dalam hati aku meraung – raung ingin pulang. Dengan semua hidangan ini secara tidak langsung mereka melarangku pergi terlebih dahulu dengan alasan apapun. Tapi, aku seperti memiliki firasat buruk akan hal ini. Dan aku tidak begitu merasa kenyamanan yang restoran ini coba tunjukan. Mungkin karena aku sedang gelisah saja atau memang ada yang tidak beres padaku.

Perasaan ini persis seperti 3 hari yang lalu ketika mereka datang ke rumah dan mengumumkan perjodohan. Aku merasa benar – benar konyol karena tak bisa melakukan sesuatu untuk semua perjodohan konyol ini.

 

“Lusia, apakah kau menerima perjodohan ini?” Ucap Ny. Oh to the point.

 

Aku menatap Sehun sesaat yang ternyata sudah menatapku tajam, dan aku hanya bisa menurunkan pandangan lalu kembali menatap Ny. Oh “Tentu Saja.” jawabku mencoba setenang mungkin, tak lupa dengan senyum yang ku buat setulus mungkin.

 

Semua orang bernafas lega, tentu saja lega. Aku hanya akan menjadi boneka setelahnya. Dan menghabiskan sisa hidupku dengan namja iblis itu.

 

Sehun benar – benar tenang dengan semua pembicaraan ini, aku menatap Sehun gugup. Gugup dengan apa yang akan terjadi denganku saat aku benar – benar di genggamannya. Aku tidak ingin membayangkan bagaimana kehidupanku setelah menikah dengan Lucifer ini. Akankah aku menjadi budaknya untuk sisa hidupku?

Mungkinkah umurku tak sampai 40 tahun?

Atau aku akan mati muda ?

Atau mungkin menjadi janda muda?

 

Oh, itu kemungkina terburuk yang akan aku jalani setelah mendapat title Ny. Oh.

 

“Tidak perlu khawatir dengan Sehun, dia memang pendiam seperti ini. Hanya saja dia tidak bisa mengekspresikan perasaanya secara gamblang.” Ujar Ny. Oh menatapku.

 

Ternyata Ny. Oh mengikuti arah pandanganku. Aku hanya tersenyum kikkuk setelahnya.

 

“Apakah benar aku dan Oh Sajang- ani, maksutku Sehun oppa sewaktu kecil dekat?” tanyaku pada semua orang.

 

“Tentu saja, kau juga sering ke rumah kami dan bermain bersama Sehun. Kau terus saja mengikuti Sehun. Kau sangat lucu waktu itu” ucap Ny. Oh bercerita dengan semangat sambil terus menatapku gemas. Aku jadi bingung, Ny. Oh ingin aku jadi anaknya atau menantunya.

 

“Kenapa aku tidak ingat sama sekali ya?” ucapku lirih, sambil mencoba mengingat.

 

“Di semester awal kuliahnya, Lusia terjatuh dari tangga dan dokter bilang akan cukup memakan waktu sampai ingatanya kembali. Lukanya cukup parah jadi, aku rasa karena hal itu sebagian memorinya hilang.” Ucap oemma dan aku baru ingat jika aku pernah jatuh. Itu benar – benar waktu yang menentukan karena ingatanku dipertaruhkan, aku bahkan sempat putus asa ketika aku melupakan semua materi dan juga semua dasar pelajarn dari semua bidang yang harus aku selesaikan untuk semester awal kulihaku. Untuk saja ingatanku kembali pada saat yang di butuhkan dan mendapat gelar cum loud dengan waktu 3 tahun. Itu melegakan, tapi aku tidak menyadari bahwa ingatanku belum benar – benar pulih.

Aku masih melupakan ingatan masa kecilku. Terutama bersama Sehun.

 

“Benarkah? kau pasti sangat menderita waktu itu.” aku hanya tersenyum pada Ny. Oh

 

“Baiklah, bisakah sekarang kita menentukan tanggal pernikahan di bulan ini?” Firasatku benar, memang ada yang tidak beres disini, hingga kaki emas itu datang menemuiku ke gudang.

 

Aku rasa Sehun juga sudah tau tentang ini, pantas saja dari tadi dia hanya diam dan makan dengan tenang. Kau benar – benar Oh Sehun, seandainya saja aku bisa menjambak rambutmu saat ini juga.

 

“Benar, niat baik tidak boleh di tunda – tunda.” Ucap appaku sesaat kemudian. Kuhmohon appa, tidak bisakah kita bertelepati saat ini juga. Aku ingin menyampaikan bahwa aku belum siap! Umurku belum genap 22 tahun. Sungguh, aku masih ingin berada di puncak karierku.

 

Aku ingin berteriak sekarang juga. Alih – alih berteriak, aku hanya bisa melampiaskanya dengan memegan garpu dan sendokku dengan kuat, hingga buku jariku memutih. Apalagi yang bisa diharapkan jika para tetua sudah angkat bicara. Aku hanya tak ingin mengecewakan oemma dan appa dengan menolaknya.

 

Hingga keputusan akhir dari makan siang hari ini adalah 25 hari lagi adalah pernikahanku dengan Sehun.

 

Kakikku lemas mendengar penuturan itu, seakan tertimpa batu ribuan ton. Aku mulai gugup dan menjatuhkan sendokku yang kemudian menjadi tontonan semua orang di sana, termasuk Sehun.

 

“Kau kenapa Lusia?”

 

“Anyo oemma, gwenchana.” Ucapku dengan tangan yang masih gemetar.

 

Entah apa yang sedang Sehun rencanakan dia berdiri lalu menggandengku dan membungkukkan badan di hadapan para tetua yang lain. “Aku ada kencan dengan Rei, maafkan kami harus pergi terlebih dahulu.”

 

Semua menatapku dengan senyum merekah. “Tentu saja, silahkan. Kami akan mengurus detail pernikahan kalian.” Appaku angkat bicara.

 

Pertama hanya sebuah tarikan biasa, lama – kelamaan tarikan itu seperti menuntut dan dia menyeretku masuk ke dalam lift. Entah mengapa rasanya menjadi sulit menyamakan langkah dengan Sehun. Rasanya tubuhku menjadi lemah.

 

“Kau kenapa?” ujarnya ketika di lift, dia memegang keningku dan menghitung denyut nadiku. Melihat bola mataku dengan lampu yang biasa dokter gunakan. Dan Hei, apa dia seorang dokter?

 

“K-kau… appa yang kau lakukan?” ucapku lirih, dan tubuhku mulai melemas. Hampir saja limbung jika saja Sehun tidak sigap memegangi pinggangku.

 

“Diam saja, apa kau sering mengalami seperti ini?” ucapnya lagi. Dia masih merengkuh tubuhku dalam pelukannya yang harus ku akui sangat nyaman.

 

“Entahlah, aku tidak pernah menghitungnya.” Ucapku semakin lirih dari sebelumnya. Dan mendapati tubuhku semakin lemah. Aku menyandarkan kepalaku di dada Sehun.

 

Lift terbuka dan Sehun langsung menggendongku, memasukkan aku kedalam mobilnya secara perlahan. Kepalaku mulai pusing, dan tanganku bergetar kuat.

 

Sehun melajukan mobilnya dengan sangat kencang. Dengan setengah tersadar , aku dapat mencium aroma khas alcohol. Dengan pandangan yang mulai kabur aku melihat Sehun membaringkan aku di sebuah ruangan putih yang entah apa namanya, dimana banyak sekali peralatan medis di dalamnya. Badanku mulai kedinginan dan penglihatanku mulai gelap.

 

Hal terakhir yang ku lihat adalah Sehun dengan baju biru dan jas putih.

 

***

 

Author POV

 

Setelah mendapatkan penanganan di gawat darurat Rei di bawa ke ruang rawat. Sehun memantau terus perkembangan Rei setelah di tangani di Ruang gawat darurat.

 

Sehun kemudian duduk di sebelah Rei dengan masih menggunakan pakaian dokter.

 

Sebenarnya Sehun adalah seorang Residen di sebuah rumah sakit terkemuka yang di tangani langsung oleh Tuan Oh, tapi Tuan Oh menginginkan anaknya menjadi pewarisnya kelak. Bukan sebagai dokter. Dan beginilah hasilnya, Sehun hanya akan menjadi dokter jika sangat mendesak seperti saat makan siang tadi.

 

Sehun sudah menduga ada yang tidak beres sejak Rei mulai memakan hidangan salat di restoran. Tapi Sehun hanya bisa mengamati, dan saat ini Sehun sangat bingung. Haruskah dia memberitahukan orang tuanya. Atau hanya menyimpan ini sendirian?

 

Beberapa saat kemudian Rei membuka matanya dan memegangi kepalanya.

 

“Cepat sekali kau sadar.” Sehun berujar santai sambil membenarkan infuse.

 

“Ah! Pasti dimakanan itu ada udang.” Rei mengumpat pelan sambil melihat sekitar. Hanya dia di dalamnya dengan Sehun yang sangat tampan menggunakan pakaian dinasnya.

 

“Kau yakin hanya karena alergi udang?” Ucap Sehun retoris.

 

“Biasanya aku sulit bernafas juga.”

 

Sehun masih mengecek hasil tes di meja sebelah tempat tidur. Meneliti dengan cermat kelainan apa yang Rei sedang alami.

 

“Aku rasa kau mengalami penyakit serius. Bisakah aku bicara pada Ibumu?” Ucap Sehun setelah membaca laporan yang berada di nakas.

 

Rei mencoba mencari posisi yang nyaman untuk mendengarkan Sehun. “Jadi kau seorang dokter. Wow! Ini cukup mengejutkan Oh Sajanganim.” ucap Rei dengan nada yang dibuat – buat. “Sejak kapan?” lanjutnya.

 

“Aku sedang berbicara serius Lusia Kim.” Rei hanya menanggapinya dengan memutar bola matanya malas. Dia memainkan selang infuse di tangannya.

 

“Terserahlah.” Sehun berdiri dan hendak pergi dari ruangan itu. Entah apa yang membuat suasana menjadi canggung diantara keduanya yang membuat Sehun akhirnya memutuskan untuk meninggalkan Rei di ruangan itu, belum sempat Sehun melangkah terlalu jauh Rei menahan tangannya “Jangan katakan apa – apa pada ibuku.” Rei lalu mengeluarkan air matanya, yang membuat Sehun terkejut.

 

“Kau…”

 

“Aku tahu, aku memiliki kelainan jantung dan beberapa gangguan mental. Dan kumohon, jangan katakan apapun pada Oemma dan yang lainnya.” Rei memohon dengan tangan yang masih meraih jari – jari Sehun.

 

Sehun yang seorang laki – laki normal merasa iba melihat Rei yang terkenal sombong dan angkuh itu menangis. Apalagi melihatnya memohon pada seorang sepertinya yang jelas – jelas mengetahui semua sifat buruknya.

 

Hampir saja Sehun kehilangan akal sehatnya dan memeluk Rei, tapi perasaan besar yang di sebut gengsi itu muncul. Hingga akhirnya Sehun hanya memindahkan tangan Rei dari tangannya ke samping tempat tidur secara perlahan.

 

“Aku tak akan mengatakan apapun.” Ucap Sehun lalu pergi meninggalkan Rei. “Aku akan mengantarmu pulang, jangan lepas infusenya.” Lanjutnya tanpa menoleh kearah Rei.

 

Rei sedikit terkejut karena Sehun memperhatikannya yang sedari tadi sibuk berkutat dengan selang infuse di tanganya, Sehun melihat tanganya yang gantal sekali ingin melepas selang infuse itu.

 

Meskipun begitu Rei cukup tenang, setidaknya penyakitnya masih terahasiakan.

 

Tak terbayangkan, jika semua orang mengetahui kelemahan sang perfectionis.

 

***

 

19.35 KTS

 

Sehun mendorong kursi roda yang Rei gunakan hingga menuju mobilnya. Dan dengan hati – hati menggendong Rei masuk kedalam mobil.

 

“Aku rasa penyakit jantungmu masih bisa di obati, kau sudah mengikuti pengobatannya?” ucap Sehun tanpa menolehkan pandanganya.

 

“Oeh, aku sudah meminum semua obatnya. Aku hanya sedikit shock hari ini.”

 

Sehun melirik Rei sebentar, dia melihat Rei yang masih gugup dengan tangan gemetarnya. Meremas roknya kuat – kuat.

 

“Kenapa belok kesini, mobilku masih ada di kantor.” Sehun tak menggubris ucapan Rei, dia hanya terus fokus pada jalanan di depanya yang cukup ramai.

 

“Kau ingin membuat kekacauan di jalan, mengemudi dengan keadaan seperti ini.”

 

“Aku sudah biasa, sungguh.” Bukan Sehun jika tidak keras kepala. Bahkan dia mengabaikan Rei yang sedari tadi terus merengek meminta Sehun untuk mengambil mobil kesayangannya terlebih dahulu.

 

“Kau punya puluhan sopir dirumah, kenapa harus bingung jika mobilmu dikantor. Cepat turun!” ucapan Sehun membuat Rei jengah, dia membuka pintu mobil sport itu lalu melenggang pergi tanpa mengucapkan sepatah katapun.

 

“Aish, gadis sialan itu.” umpat Sehun sesaat setelah Rei keluar dari mobilnya.

***

 

Rei POV

 

“Darimana saja kau Lusia? Kenapa baru pulang? Mana Sehun?” Baru saja beberapa langkah memasuki rumah, oemma sudah mencegatku di ruang tengah. Ruangan dengan 3 lampu hias ini membuatku sedikit pusing karena cahanya sangat terang.

 

Oemma yang sedang duduk di sofa beludru berwara coklat itu menghampiriku. “Kenapa kau Lusia, dan ada apa dengan lenganmu?”

 

Aku langsung menyembunyikan tanganku yang tertutup plester putih bekas jarum infuse. “Anyo oemma, aku baik – baik saja. Aku hanya tergores sesuatu ketika aku menemani Sehun bekerja di rumah sakit. Sudah? Aku benar – benar lelah oemma. Bisakah aku ke atas dan tidur?” tanpa menunggu jawaban dari oemma aku langsung pergi menaiki tangga ke kamarku.

 

Di dalam kamar aku membuang plester yang berada di lenganku dan mengganti bajuku.

 

“Aku rasa aku benar – benar sangat kesepian, benarkan?”

 

“Tidak ada yang bisa membuatku tertawa dan menangis…”

 

“Aku hanya terus seperti ini, entah sampai kapan…”

 

Aku duduk di tepi tempat tidurku dan mengamati seluruh kamarku yang bernuansa biru muda.

 

“Bisakah aku menikah dengan Sehun?”

 

“Setidaknya bisahkah aku jatuh cinta padanya, seperti yang oemma katakan?”

 

“Tapi Sehun tak akan berusaha menyukaiku.”

 

“I must be crazy? Penyakit jiwaku semakin parah.”

 

To Be Continue…

 

Haloooooo… Haloooooo… maafkan saya jika fanfic ini semakin absurd saja. mohon di maklumi karena saya juga masih belajar. Tentu saja aku akan mengucapkan terima kasih yang sebesar – besarnya karena sudah menyempatkan waktu berharga Hyoniee untuk baca ff.ku dan meninggalkan jejak.

Hal yang kurang dari ff ini apa? Kasih penjelasan ya ^^

Sampai bertemu di fanficku yang selanjutnya. Jihyoen undur diri, Pai – Pai ^^

42 responses to “[FREELANCE] Perfectionis Chapter 4

  1. ini emg seru,,,sayangnya,,sebagai cast utama,,karakter Luhan dan interaksi Luhan dng cast Lainya kurang,terlihat seperti cameo saja,atw Luhan disimpan d akhir kisah sebagai kunci atw penyelamat Rei?????

  2. Jadi rei punya penyakit jantung dan gangguan jiwa/? Setidaknya gak gila bnget lah >< dan untungnya sehun dokter 😀 smoga penyakit rei bisa di obati lah

  3. Aaaa makin penasaran d tunggu next chapter secepatnya hehehh pngn cpt mereka nikah supaya tahu gmna kehidupannya hah pokoknya d tunggu skali

  4. Boleh comment dikit gk buat penulisan dengan bahasa korea dlam latin
    Huruf vokal korea tidak ada oe tpi eo
    Jdi buat oemma d.gnti eomma dan oeh jdi eoh.. klo gk slah ya
    Selebihnya critanya seru
    Dan menarik gk nyangka aja si perfectionist punya penyakit

  5. Ah kasihan si Rei kalau harus menderita penyakit parah seperti itu. Apakah benar Sehun menyukainya dan ya tulus menerima perjodohan yang orang tua mereka lakukan. Next chapternya ya

  6. Kasihan, udag jantung lemah, penyakit kejiwaan, pernah jatuh dri tangga sampe lupa ingatan, dijodohkan, 25 hari lagi nikah. Beneran bisa gila aku kalo ada di posisi Lusia.
    Sehun, please help her

  7. ya ampunn Rei kasian banget
    kesepian, dijodohin, ngurus kerja, punya penyakit jantung, ada penyakita kejiwaan juga
    Semoga sehun bisa bantuin Rei nyleseiin masalahnya

  8. Jadi Rei itu punya kelainan jantung??
    Tapi Rei ga akan kenapa2 kan??
    Sehun kayanya punya kepribadian ganda, kadang perhatian, kadang judes banget..
    Cepet2 nikah lah, pengen tau kehidupan mereka gimana setelah nikah haha..

  9. Waaaah sehun dokter jugaaa. Surprise banget
    Terus juga kesian ya rei.. tapi suka sama pasangan ini..buru2 deh nikah pasti seruuuu

  10. jadi rei punya penyakit kelainan jantung sama ganggua jiwa apa karena dia jatuh ??
    gimana sama sehun semoga aja di a belajar suka sama rei
    cepetan nikah biar rei gak kesepian lagi ??

  11. Diluar ekspetasiku but oke lah cerita milikmu dear, karakter Rei beda banget, dan aku baru tau jika Sehun seorang dokter..

    Hmm gimana yaa, dilanjutin aja deh. Aku akan tetap membacanya kok ^^
    Fighting.

  12. Hai thor, maaf ya aku baru sempet komen di chapt ini. Aku suka sama jalan ceritanya cuma feelnya kurang dpt aja sama kurang panjang wkwkwk. Klo yg lainnya aku udh suka kok thor

  13. Waaaah ternyata rei punya penyakit jantung apalagi dia juga penya penyakit kejiwaan. Ternyata emang nggak ada yang sempurna ya. Tapi dia stress gegara apa ya? Kayaknya ortunya juga nggak terlalu menekan dia buat kerja keras dan majuin perusahaan mereka. Pokoknya makin keren lah

  14. oohh.. trxt rei pux pyakt sserius it.. dan sehun trxt seorang doktr. hmmm
    mngkin ff ini akan buat kt nyesekk.

  15. Gak sangka rei sakit parah….apa sehun bkal cinta sama rei????bingung rei bisa sakit…padahal ortunya gak nekan dy buat jdi perfect

  16. Pingback: [FREELANCE] PERFECTIONIS CHAPTER 7 | SAY KOREAN FANFICTION·

  17. hah..rei punya penyakit..?? kelainan jantung & beberapa gangguan mental.. oh astagaa kok bisa sih kk..?? sejak kapan…?? untung aja sehun tau, seenggaknya dia ga bakal bikin sesuatu yg berlebihan ke rei..
    ngmng” cewe yg disukai sehun itu kmna sih kk..?? pergi atau emang udah meninggal..??

  18. Pingback: [FREELANCE] PERFECTIONIS CHAPTER 8 | SAY KOREAN FANFICTION·

  19. Omo omo, ga nyangka kalo sehun itu dokter, dan rei punya penyakit serius. Semoga mrk bisa saling mencintai nanti. Lanjuttt, fighting!

  20. Ya ampun kasian rei, pasti shock banget tuh, dan ya ampun ternyata rei penyakitan kasian
    Sehun knp sih pengen cepet nikahnya padahal kan dia ga suka rei
    Heem sehun ternyata dokter juga ya kecelah sehun nih

  21. Kasihan, ternyata rei punya sakit parah dibalik sifat cool dan perfeksionis nya,btw sehun….sumpah gue pengen punya pasangan kayak sehun,ganteng,perhatian,meskipun sedikit menyebalkan
    Btw,dilanjut next chapternya,semangat

  22. Pingback: PERFECTIONIS (Chapter 9) | SAY KOREAN FANFICTION·

  23. Pasti berat banget jadi Lusia, udah kehilangan beberapa ingatan, ada penyakit jantung dan mental, tambah tekanan batin yang mengharuskan dia nikah sama si kulkas berjalan.
    Btw Sehun kayaknya udah mulai perhatian nih

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s