Flower in Autumn [#VII Farewell] -by ByeonieB

FIA-1

Flower in Autumn

-BYEONIEB@2016-

 

I love you. As always, it is you..

 

Main Cast:: Baekhyun of EXO as Byun Baekhyun, OC/You/Readers as Han Minjoo || Other Cast:: Chanyeol of EXO as Park Chanyeol, Suga of BTS as Min Yoongi || Genre:: Drama, Romance, Angst, Fluff || Rate:: PG-14 – PG-17 || Length:: Chapter || Before:: #VI Like Rain Like Music

Theme Song:: 먼저 말해줘 (Farewell) by Taeyeon of SNSD

[#VII Farewell: Because I Love You]

H A P P Y   R E A D I N G

 

Chanyeol berlari ke hall rumah sakit dengan hati yang telah jatuh ke dasar. Peluh keringatnya telah mendingin, selepas Baekhyun meneleponnya dan memberitahunya bahwa Minjoo jatuh pingsan dan masuk ke rumah sakit.

Ia menemukan ruangan dimana Minjoo diopname setelah sebelumnya membentak salah satu suster rumah sakit untuk memberitahu dimana ruang kamar Minjoo.

Chanyeol membuka pintu ruang kamar Minjoo langsung dalam satu tarikan. Ia langsung menemukan Baekhyun tengah duduk di kursi sebelah ranjang dan seseorang di hadapan pria itu membuat jantung Chanyeol mati seketika. Minjoo tengah tertidur, menutup matanya rapat-rapat seakan ia tidak pernah mau bangun kembali.

Ini mengingatkannya pada kejadian beberapa tahun silam, ketika ia hampir saja kehilangan Minjoo-nya karena penyakit yang Minjoo idap dari gadis itu masih kecil.

Chanyeol langsung mengambil langkahnya dalam-dalam, amarahnya benar-benar telah berada di puncaknya dan dia tidak bisa untuk menahannya lagi. Setelah Baekhyun berada di hadapannya, ia langsung menarik kerah pria itu hingga membuatnya berdiri dan menghadiahi wajah Baekhyun dengan satu kepalan tangannya.

Baekhyun tidak memprotes perlakuan Chanyeol dan langsung jatuh tersungkur ke atas lantai. Bahkan, setelah ini, ia akan memohon pada Chanyeol untuk menghabisinya saat ini juga.

“Pria bajingan!”

Chanyeol menarik kerah Baekhyun hingga pria itu berdiri kembali lalu memukul wajah Baekhyun sekali lagi.

“Karena kau…” Chanyeol menatap Baekhyun dalam-dalam dengan api kemarahannya, “Minjoo.. harus terluka lagi.”

“Kau benar.”

Baekhyun menyeringai dan air mata yang sedari tadi sudah mengalir dari matanya jatuh melewati pipinya.

“Kau ingin membunuhku sekarang?”

Kemudian darah keluar dari sudut bibir Baekhyun.

“Bunuh saja aku, aku sangat bersedia untuk kau bunuh sekarang ini.”

Chanyeol kali ini benar-benar tersulut amarahnya. Ia pun mendorong tubuh Baekhyun ke lantai lalu menghujani Baekhyun dengan berbagai pukulan di wajahnya.

“Kau brengsek!”

Chanyeol kini menurunkan air matanya sambil terus memukul Baekhyun. Tak memperdulikan keadaan sekitarnya, terlebih pada sudut bibir Baekhyun yang telah membiru-keunguan.

“Kau benar-benar lelaki—“

“Hentikan!”

Salah satu suster lelaki yang menemani dokter Hwang untuk memeriksa keadaan Minjoo pun langsung menarik tubuh Chanyeol dari atas Baekhyun. Sedangkan salah satunya lagi menghampiri Baekhyun lalu memeriksa keadaan Baekhyun.

“Apa yang kalian pikirkan untuk melakukan hal bodoh semacam itu?!” Dokter Hwang tidak meninggikan suaranya mengingat kondisi Minjoo yang sedang tertidur di atas ranjang. Namun, bisa dilihat dengan jelas jika matanya begitu marah menatap Baekhyun dan Chanyeol bergantian.

“Disini.. gadis yang kalian paling cintai sedang tertidur! Mencoba untuk memulihkan kesakitannya!”

Chanyeol menundukkan pandangannya seiring dengan air mata yang tengah mengalir sedari tadi. Sedangkan Baekhyun, pria itu memilih terdiam dan tetap menidurkan tubuhnya di atas lantai. Ia menatap langit-langit ruangan dengan datar.

“Tidak inginkah kalian Minjoo untuk pulih kembali?!”

Ruangan kali ini benar-benar hening seperti semula. Dengan kedua lelaki yang menjadi korban dan pelaku sedang bergelut dengan pikirannya, seiring juga mata mereka yang telah basah sedari tadi.

“Suster Kwang, bawa Baekhyun-ssi ke ruang berobat.” Lalu dokter Hwang mengalihkan pandangannya pada Chanyeol.

“Dan kau Chanyeol-ssi.. ikut ke ruanganku.”

.

.

.

Chanyeol membuka pintu ruangan dokter Hwang dengan lemas lalu setelahnya ia keluar dari ruangan tersebut. Ketika ia benar-benar berada di depan pintu dokter Hwang, ia merosotkan tubuhnya ke atas lantai dan menatap sekitarnya dengan pandangan yang membuyar.

 

“Dia… belum sembuh, dokter Park.”

 

Chanyeol mengalirkan air matanya mengingat perkataan dokter Hwang sebelumnya.

 

“Minjoo meminta para dokter di rumah sakit Park merahasiakannya dari anda dan diam-diam memindahkan dirinya untuk menjadi pasien di rumah sakit Seoul. Dia tidak ingin kau terus terluka karena penyakitnya, dokter Park.”

 

Chanyeol pun merundukkan pandangannya, menumpu beban tubuhnya dengan tangan yang ia taruh di atas lantai lalu ia mulai menangis terisak disana.

“Minjoo-ya.. mengapa..”

Chanyeol teringat dengan semua hal yang ia lakukan bersama-sama dengan Minjoo. Mulai dari ketika mereka pertama kali bertemu, lalu mereka menjadi teman, sering tertawa bersama, bermain bersama. Ia juga teringat dengan kencan ala kakak-adiknya bersama Minjoo yang terjadi beberapa hari lalu, Minjoo yang manja padanya, yang selalu merangkul tangannya dan memeluknya jika Minjoo ketakutan.

Semuanya terlintas di pikiran Chanyeol hingga membuat hati pria itu benar-benar tersakiti.

Ia tidak bisa kehilangan Minjoo-nya.

.

.

.

Chanyeol membuka pintu ruang kamar Minjoo dengan pelan. Dan Minjoo yang telah sadar dari tidur 12 lamanya langsung menolehkan wajahnya ke arah Chanyeol sesaat mendengar pintu kamarnya di buka.

“Melihat wajah Oppa seperti ini.. Oppa pasti telah mendengar semuanya dari dokter Hwang.” Minjoo tersenyum lembut setelah Chanyeol kini berdiri di hadapannya.

“Apa aku benar?”

Untuk hari ini, entah sudah berapa liter air yang Chanyeol keluarkan dari matanya. Ia kini menjatuhkan air matanya kembali di sudut matanya.

“Minjoo-ya.. Mengapa..” Chanyeol menjeda perkataannya karena sebelumnya ia sedikit meninggikan suaranya.

Ia marah, sungguh, pada Minjoo. Tidak seharusnya Minjoo merahasiakan penyakitnya dari Chanyeol karena bagaimana pun juga, Minjoo adalah tanggung jawab Chanyeol seumur hidupnya.

“Mengapa.. kau melakukan ini?”

Minjoo terdiam selama beberapa detik dan hanya menatap Chanyeol yang terus mengalirkan air matanya.

“Apa aku ini tidak penting bagimu?! Sehingga kau melakukan semua ini padaku?!” Pria itu menatap Minjoo begitu dalam dan sendu. Suaranya memang meninggi, dia marah memang, tapi dia tidak tahu harus marah pada siapa. Menyalahkan Minjoo, Baekhyun atau Tuhan, Chanyeol tidak tahu itu. Yang ia tahu, pikirannya begitu kalut hingga tidak bisa berpikiran dengan kepala dingin lagi.

Gadis itu terus terdiam, mencoba menenangkan hatinya yang ikut merasakan tatapan Chanyeol. Menyedihkan dan menyakitkan. Perlahan, Minjoo pun membangkitkan tubuhnya dan mendudukannya di atas ranjang.

“Oppa adalah pria yang paling penting dalam hidupku.”

Chanyeol menatap Minjoo tidak percaya, “Lalu kenapa kau melakukan itu, Han Minjoo!?”

Kini, amarah Chanyeol tidak bisa ia tahan kembali.

“Jika aku memang pria yang paling penting untukmu, mengapa kau melakukan itu padaku!”

Nafas Chanyeol begitu memburu dengan air mata yang masih mengalir di matanya. Minjoo adalah gadis yang paling ia cintai di dalam hidupnya dan selamanya akan terus begitu. Ia tidak bisa untuk kehilangan Minjoo karena itu sama saja seperti ia kehilangan hidupnya. Mengetahui penyakit yang Minjoo idap selama ini belum hilang dari tubuhnya pun membuat batin Chanyeol tersiksa hingga pria itu ingin marah pada siapapun, termasuk Minjoo-nya sendiri.

“Karena Oppa adalah pria yang paling penting untukku, maka aku melakukan itu.”

Minjoo menahan air matanya untuk tidak jatuh saat ini. Ia menatap Chanyeol dengan tulus.

“Kau tahu, Oppa..” Minjoo menjeda perkataannya lalu melanjutkannya kembali. “Aku sangat tersiksa setiap kali aku mendengar tangisan Oppa, melihat Oppa yang selalu terjaga di malam hari demi diriku dan wajah Oppa yang memucat setiap penyakitku kambuh.”

Gadis itu menunjuk dadanya dan menekannya dalam-dalam, “Menurutku.. itu semua lebih menyakitkan dari penyakit sialan itu.”

Minjoo ingat sekali dimana Chanyeol selalu menangis terisak di samping tubuhnya, menunggu gadis itu semalaman setiap Minjoo kambuh dari penyakitnya tahunan silam. Pada saat itu, Minjoo tidak bisa melakukan apa-apa selain merenung di dalam tubuhnya dan menangis diam-diam tanpa sepengetahuan Chanyeol.

Melihat betapa tersiksanya Chanyeol karena dirinya sungguh membuatnya tersakiti. Ia tidak bisa untuk membiarkan Chanyeol terus tersiksa karena dirinya.

“Aku tidak bisa melihatmu terus tersiksa karenaku, Oppa..”

Chanyeol membuang matanya dari Minjoo dengan air mata yang kembali mengalir dari pelupuk matanya. Di dalam dirinya, kini jantungnya benar-benar telah hancur berkeping dan tidak menyisakan apapun di dalamnya. Semua perkataan Minjoo begitu membuatnya lagi dan lagi semakin tersakiti karena memang benar adanya, ia memang tersakiti setiap Minjoo kambuh dari penyakitnya. Batinnya selalu tersiksa setiap melihat Minjoo terkapar lemas di atas kasurnya dengan darah yang sesekali turun dari hidungnya.

“Oppa.. aku ingin kau mencoba untuk melepaskanku.”

Chanyeol perlahan melihat kembali ke mata Minjoo dengan sedikit bergetar, “Apa?”

Minjoo menutup matanya seraya menahan mati-matian air matanya.

“Aku ingin Oppa mulai belajar untuk menerima jika aku tidak bisa di samping Oppa lagi..”  Ia kemudian menatap Chanyeol dengan lembut, meyakinkan pria itu. Benar, Chanyeol harus perlahan-lahan mulai melepaskannya. “Oppa harus terbiasa tanpa diriku, Oppa harus mencoba untuk melepaskanku—“

“Tidak bisa, Minjoo-ya!”

Chanyeol menarik Minjoo dan mendekapnya dengan erat-erat sambil menangis disana.

“Kau tidak boleh berkata seperti itu karena aku tidak akan pernah melepaskanmu, Minjoo!” Ia menaruh wajahnya di atas puncak kepala Minjoo, menangis lebih terisak lagi.

“Aku tidak akan pernah bisa melepaskanmu, Minjoo..” Dan kini Chanyeol menjatuhkan air matanya di puncak kepala Minjoo.

“Tidak.. Tidak, Minjoo-ya..” tuturnya terus menangis terisak di atas puncak kepala Minjoo.

Minjoo yang mendengar itu ikut menangis di dalam pelukan Chanyeol. Seluruh raga dan batinnya benar-benar tersiksa saat ini.

Baekhyun memasuki ruang kamar Minjoo dengan langkah yang begitu berat. Tidak biasanya ia merasa seperti ini ketika akan bertemu Minjoo, entah mengapa melihat Minjoo saat ini begitu menyakiti hatinya.

Minjoo yang menyadari bahwa seseorang kini telah memasuki ruangannya langsung menolehkan wajahnya pada arah orang tersebut. Matanya langsung bertemu dengan Baekhyun, membuat kedua belah pihak merasakan jika seluruh dunia kini telah hancur. Itu yang mereka rasakan, tidak seperti biasanya yang selalu berbunga-bunga.

Baekhyun mencoba menahan mati-matian air matanya lalu tersenyum pada Minjoo. Ia mendudukan dirinya di tepi ranjang Minjoo lalu mengambil tangan gadis itu dan menggenggamnya erat-erat.

“Bagaimana keadaanmu?” Ia menjeda pertanyaannya dan menatap Minjoo semakin dalam. “Sudah merasa baikan?”

Minjoo ikut menatap Baekhyun dengan dalam, mencoba mencari tahu isi hati Baekhyun lewat sana karena Minjoo tahu pasti jika Baekhyun sudah mengetahui tentang penyakitnya.

“Baek…”

Baekhyun mengangkat tangannya lalu menaruhnya di kepala Minjoo. Mulai dari puncak kepala gadis itu hingga kini jatuh di pipinya, Baekhyun mengusap lembut wajah Minjoo.

“Minjoo-ya.. Mengapa kau menyembunyikan ini dariku?”

Minjoo melihat jika Baekhyun menggenangkan air matanya namun pria itu masih sekuat mungkin untuk tidak menjatuhkannya.

“Mengapa kau tidak memberitahu diriku, bahkan kakakmu sendiri, Minjoo?”

Namun, Baekhyun hanyalah manusia yang memiliki batas kesabaran. Kini, ia benar-benar menjatuhkan air matanya.

“Mengapa…?”

Minjoo terdiam sambil terus menatap Baekhyun dengan dalam. Sesungguhnya, ingin sekali gadis itu berteriak, menangis dan terisak karena melihat Baekhyun menangis dengan alasan namanya benar-benar membuat dunianya runtuh seketika. Seperti Chanyeol padanya, ia tidak bisa melihat Baekhyun tersiksa karena dirinya.

Minjoo menutup matanya selama dua detik untuk menahan air matanya lalu ia membuka matanya sambil tersenyum pelan pada Baekhyun.

Gadis itu kemudian menggeserkan sedikit tubuhnya, memberikan sisa di atas kasurnya lalu menepuk sisa kasurnya itu.

“Tidur disini, Baek..” Minjoo kembali menjedakan kalimatnya lalu melanjutkannya kembali, “Bersamaku..”

Baekhyun pun hanya menuruti permintaan Minjoo. Dengan perlahan ia pun menaikkan kedua kakinya ke atas lalu merebahkannya di sisi Minjoo. Wajahnya menatap wajah Minjoo, melihat dengan sangat jelas gurat kesakitan yang Minjoo sembunyikan dari dalam tubuhnya.

Minjoo pun tersenyum sambil mengangkat kedua tangannya untuk menyentuh wajah Baekhyun.

“Kau tidak cocok untuk menangis, Baek.” Minjoo menghapus jejak air mata Baekhyun yang mengalir di pipi pria itu sedari tadi, “Kau tampak jelek.”

Baekhyun tidak menggubris lelucon Minjoo saat ini. Baginya, tidak ada satu patah kata pun yang membuatnya ingin tertawa. Hatinya terlalu sibuk memporak poranda seluruh otak dan raga Baekhyun.

“Inilah alasan mengapa aku tidak ingin kau dan Oppaku mengetahui tentang penyakitku.”

Minjoo mengusap pipi Baekhyun dengan lembut, memberikan kehangatannya.

“Melihat kalian menangis karenaku lebih menyakitkan dari penyakitku sendiri, Baek.”

Baekhyun kembali mengalirkan air matanya di hadapan Minjoo, lalu perlahan mulai terisak di hadapan Minjoo. Memberitahu gadisnya bahwa pria itu benar-benar tersakiti. Tidak, Baekhyun bukan bermaksud untuk menyalahkan Minjoo disini. Pria itu hanya benar-benar tidak kuat untuk menerima semua kenyataan yang menimpanya.

“Minjoo-ya.. Kumohon..”

Baekhyun menarik Minjoo untuk masuk ke dekapannya. Memeluk gadis itu erat-erat sambil terisak di balik punggung Minjoo.

“Aku tidak bisa seperti ini, Minjoo..”

Air mata Baekhyun terus mengalir dan membasahi seluruh rambut Minjoo.

“Aku tidak bisa menerima ini semua, Minjoo..” Dia menjeda perkataannya untuk mengambil nafasnya yang mulai habis karena menangis, “Aku takut dan aku sakit, Minjoo..”

Baekhyun kemudian melepas pelukannya dan langsung menatap Minjoo dalam-dalam.

“Kau harus sembuh, Minjoo..” Baekhyun mengusap pipi Minjoo dengan lembut dan mata yang memohon. “Harus.. kau harus sembuh, Minjoo-ya..”

“Baek—“

Baekhyun langsung menghapus jaraknya dengan membawa Minjoo ke dalam pelukannya.

“Tidak Minjoo, aku tidak ingin mendengarnya..”

Baekhyun masih menangis dan kini memeluk Minjoo lebih dalam lagi, mengunci mulut Minjoo untuk tidak mengatakan kata-kata yang tidak ingin di dengarnya.

“Kau tidak boleh menolaknya, Minjoo!” Baekhyun meninggikan suaranya lalu melanjutkannya dengan nada sangat memelas, “Kumohon!”

Minjoo terdiam di dalam dekapan Baekhyun dengan air mata yang telah mengalir sedari tadi. Bahu Baekhyun begitu bergetar hebat di tubuh Minjoo, menandakan betapa sakitnya pria itu dan Minjoo ikut merasakannya juga.

Tuhan, Aku tidak peduli lagi Kau akan mengambil nyawaku dengan menyakitkan atau tidak, mengambil nyawaku dengan menusuk jantungku dengan ribuan pisau atau ribuan kapak, aku sudah tidak peduli lagi.

Permintaanku satu, jangan membuat pria ini menangis lagi karenaku. Hanya itu, Tuhan. Kumohon.

Baekhyun terduduk di kursi taman dengan pikiran yang telah melayang pada pembicaraannya dengan dokter Hwang sebelumnya.

 

“Apakah Minjoo bisa sembuh?”

“Bisa. Dia hanya perlu melakukan transplantasi sum-sum tulang belakangnya dan untungnya saat ini pihak rumah sakit sudah memiliki satu donor untuk nona Minjoo.”

“Lalu mengapa sampai sekarang kau belum melakukannya?”

“Nona Minjoo menolak untuk melakukan itu karena dia tahu.. bahwa kemungkinannya untuk selamat dari operasi itu hanya 50%.”

“Maksudmu?”

“Kanker darah terkenal dengan kesembuhannya yang sangat minim karena untuk operasi transplantasinya pun seluruh dokter di dunia ini tidak pernah bisa memprediksinya akan berhasil atau tidak. Selalu 50% hidup dan 50%–“

“Meninggal.”

 

Baekhyun langsung mengusap wajahnya dengan kasar sambil memijat kepalanya yang mulai pening. Rasanya, mulai dari sekarang dan ke depannya, Baekhyun tidak akan pernah bisa untuk berpikir dengan tenang.

“Ada apa kau memanggilku kemari?”

Chanyeol berdiri di hadapan Baekhyun dengan tatapan dinginnya. Baekhyun meneleponnya beberapa saat yang lalu untuk bertemu dengannya di taman rumah sakit.

“Kau.. tahu jika Minjoo bisa sembuh?”

“Aku tahu.” Chanyeol menjedakan perkataannya dan menatap Baekhyun semakin dingin, “Mengapa?”

Baekhyun langsung mendongakkan kepalanya dan setelahnya ia ikut membangunkan tubuhnya menghadap Chanyeol.

“Bisakah kau membujuknya untuk melakukan operasi itu?”

Chanyeol menatap Baekhyun dengan merendahkan.

“Kau pikir kau siapa berkata seperti itu, huh?”

Chanyeol kemudian mengubah tatapannya dengan amarah yang sangat besar. Seakan-akan ingin menghabisi Baekhyun untuk yang kedua kalinya lagi.

“Dia menolak melakukan operasi itu karena kau, brengsek.”

Hati Baekhyun mencelos seketika mendengar perkataan Chanyeol itu.

“Apa?”

Amarah Chanyeol kembali meluap, ia pun mengangkat tangannya dan menunjuk-nunjuk wajah Baekhyun dengan tajam.

“Semenjak kau berkencan dengan adikku, membuat alam fantasi liarnya tentang cinta hingga akhirnya ia melupakan penyakitnya.”

Chanyeol mengatur nafasnya yang mulai memburu karena amarahnya, “Karena kau, dia tidak ingin melakukan operasi itu. Alasannya? Tidak ingin meninggalkan pria brengsek macam dirimu!”

Chanyeol menarik kerah Baekhyun lalu benar-benar meluapkan amarahnya disana, “Kau bertingkah selayaknya kau benar-benar menyayangi adikku tapi kau sendirilah yang membuatnya terluka!” Ia menghempaskan tubuh Baekhyun secara kasar ke atas rerumputan, “Kau.. benar-benar pria terbrengsek yang pernah kutemui di dunia ini!”

Chanyeol langsung memutar tubuhnya dan meninggalkan Baekhyun sendirian.

Pertahanan tubuh Baekhyun kali ini benar-benar hancur seketika. Nafasnya begitu tercekat selayaknya sebuah papan besar telah menimpa dadanya.

Perasaan bersalah itu kembali menyiksanya. Yang pada sebelumnya, ia telah berhasil menyingkirkan semua perasaan bersalah pada ibunya. Kini, Baekhyun harus menanggungi lagi perasaan bersalahnya dua kali lebih menyakitkan dari rasa bersalahnya pada Ibunya. Minjoo.. terluka lagi karenanya. Kalimat itu begitu memukul Baekhyun sampai terjatuh ke api neraka.

“Tuhan..” Baekhyun merintikkan air matanya kembali sambil memukul-mukul dadanya. “Mengapa..”

 

“Maafkan aku, Minjoo.” Chanyeol terus mengambil langkahnya dalam-dalam setelah meninggalkan Baekhyun, “Hanya ini caranya agar kau bisa tetap hidup, Minjoo.”

Baekhyun kembali memasuki ruangan Minjoo dengan beban seribu kali lebih berat dari sebelumnya.

Minjoo, gadis itu sedang menonton acara televisi dengan senyuman yang ia ukir lebar-lebar di bibirnya. Melihat senyuman itu mengingatkan hari dimana Baekhyun pertama kali jatuh hati pada Minjoo. Ya, hanya karena melihat senyuman Minjoo pada layar ponselnya.

“Baekhyun! Kau sudah kembali?” Minjoo menolehkan wajahnya pada Baekhyun yang masih terdiam di ambang pintu menatap Minjoo. “Sebenarnya kau pergi kemana, Baek?”

Baekhyun langsung mendudukan dirinya di sebelah Minjoo setelah pria itu berhasil menghampirinya. Ia hanya terdiam dengan perasaan yang begitu bergejolak menyakiti hatinya di dalam sana.

“Kau kenapa, Baek?” Minjoo menyadari perubahan wajah Baekhyun yang menatapnya. Ia pun mengalihkan pandangannya dari layar televisi dan menatap Baekhyun dengan lembut, “Ada sesuatu yang terjadi?

Menatap Minjoo seperti ini benar-benar menyiksanya. Ingin ia melawan semua perkataan Chanyeol dan terus berada di sisi Minjoo seperti ini. Ia benar-benar tidak bisa meninggalkan Minjoo-nya.

Tidak ingin menjawab perkataan Minjoo, Baekhyun pun mengalihkan pandangannya pada layar televisi.

“Kau menonton apa, Minjoo?” Baekhyun mencoba tersenyum—walaupun itu sangat berbanding terbalik dengan apa yang ia rasakan—pada layar televisi itu. “Kau sepertinya asyik sekali menonton acara itu, apakah se-menyenangkan itu?”

Minjoo tahu dengan jelas jika Baekhyun sedang mengalihkan topik pembicaraannya. Minjoo pun mengangkat remote televisi yang sedari tadi ia pegang lalu menekan tombol merah hingga membuat televisi itu menghitam seketika.

“Kau mengalihkan pertanyaanku, Baek.”

Minjoo menghadapkan tubuhnya pada Baekhyun. Melihat wajah Baekhyun dari samping seperti ini, Minjoo baru menyadari jika Baekhyun benar-benar kehilangan raut wajah cerianya sejak dari kemarin hari. Mata Baekhyun begitu sayu, bibirnya memucat. Membuat Minjoo mencengkram baju rumah sakitnya dengan panas.

“Baek.. kau.. menangis.. lagi?” tuturnya dengan perkataan yang ia jeda selama beberapa kali.

“Karenaku..?”

Baekhyun hanya terdiam lagi dan lagi tidak menanggapi perkataan Minjoo. Ia masih merasa sangat tersakiti dengan fakta yang begitu menamparnya dengan keras.

Perlahan, Baekhyun pun menghadapkan wajah serta tubuhnya pada Minjoo juga, sama seperti yang gadis itu lakukan. Ia mengangkat tangannya dan menyentuh tangan Minjoo, menggenggamnya dengan perasaan memohon.

“Minjoo-ya, kau harus mau sembuh, hm?”

Minjoo menghela nafasnya dengan kasar walaupun permohonan Baekhyun itu benar-benar menyakitinya.

“Baek—“

“Aku dengar kau bisa sembuh jika kau melakukan transplantasi sum-sum tulang belakangmu..” Baekhyun menatap Minjoo dalam-dalam dengan perasaan meyakinkan, “Aku mendengar juga jika di rumah sakit ini sudah memiliki donornya untukmu. Kau mau ya untuk melakukan operasi itu, hm?”

Minjoo hanya menatap Baekhyun dengan mata yang telah memanas. Ia menjatuhkan air matanya lalu melepas tangan Baekhyun.

“Aku tidak bisa, Baek..” Ia menjeda perkataannya lalu melanjutkan kembali, “Maafkan aku..”

“Minjoo-ya—“

“Kemungkinannya untuk berhasil hanya 50%, Baekhyun!”

Minjoo mulai terisak di hadapan Baekhyun. Menangis dengan begitu sendu sambil menatap Baekhyun.

“Aku belum mau meninggal, Baek.” Lalu ia mengangkat tangannya dan menyentuh pipi Baekhyun lagi. “Aku belum siap untuk meninggalkanmu..”

Baekhyun terdiam selama beberapa detik dengan air mata yang kembali jatuh dari matanya.

“Masih ada kemungkinan 50% untuk hidup, Minjoo..” Baekhyun mencoba tersenyum dan kembali mengusap tangan Minjoo dengan memohon. “Kau pasti bisa mendapatkan 50% itu—“

“Lalu bagaimana jika tidak?” Minjoo memotong perkataan Baekhyun dengan sedikit meninggikan nada suaranya. “Bagaimana jika ternyata ruang operasi itu menjadi kuburanku, Baek? Aku selama ini menghindarinya karena aku takut ruang operasi itu menjadi kuburanku, Baekhyun!”

Minjoo langsung menutup mulutnya rapat melihat Baekhyun yang sedikit tersentak dengan perkataannya. Ia melembutkan pandangannya, “Maaf, tak seharusnya aku berbicara seperti itu.” Ia pun kembali membahas permasalahan sebelumnya, Minjoo mengangkat tangannya kembali dan menyentuh wajah Baekhyun lagi. “Aku benar-benar belum siap untuk meninggalkanmu—“

“Lalu bagaimana denganku?” Baekhyun memotong perkataannya seraya meninggikan bicaranya. Ia juga mengabaikan tangan Minjoo yang berada di wajahnya. “Kau bermaksud untuk mati perlahan di hadapanku dan membuatku tersiksa, begitu?! Kau bilang kau tidak ingin menyiksaku, Han Minjoo!”

Minjoo hanya bisa terdiam dan menatap Baekhyun dalam-dalam. Dan air matanya masih mengalir sejak dari tadi.

“Bu-bukan itu maksudku, Baek—“

“Kau egois, Minjoo!” Baekhyun menjauhkan wajahnya dari tangan Minjoo dan itu membuat jantung Minjoo mencelos seketika. “Kau lebih mementingkan perasaanmu dibandingkan perasaanku.”

Baekhyun lalu beranjak dari kasur Minjoo dan meninggalkan gadis itu sendirian. Emosinya begitu meluap pada Minjoo dan perasaan bersalah itu benar-benar mengganjal tenggorokannya saat ini. Seluruh raganya tersakiti mengetahui fakta itu telah dibenarkan oleh sang pelakunya, Minjoo.

Baekhyun hanya akan terus membuat Minjoo terluka karenanya.

.

.

.

Baekhyun berjalan dengan berat menuju pemakaman Ibunya. Nisan itu begitu berdebu ketika Baekhyun telah berhasil sampai di hadapannya. Lantas, Baekhyun mengeluarkan sapu tangannya lalu membersihkan kotoran debu itu dari sana.

Setelah melakukan itu, Baekhyun menaruh satu buket bunga yang sengaja ia beli ke hadapan nisan tersebut.

“Eomma.. Annyeong..”

Baekhyun tersenyum dengan lembut pada permukaan batu itu.

“Eomma.. Apa kabar? Eomma baik-baik saja bukan di atas sana?” Baekhyun mengusap-usap batu nisan itu seperti ia sedang mengelus-elus pundak Ibunya saat ini. “Tuhan pasti memperlakukan Eomma dengan baik, bukan? Harus tentunya, Eomma..”

Setelahnya, Baekhyun terdiam kembali dalam renungannya. Membiarkan angin sore hari menghempaskan beberapa helai rambutnya ke kanan dan ke kiri. Membiarkan angin musim gugur itu membekukan suhu di wajahnya dan malah ia berharap angin itu membekukan seluruh tubuhnya.

“Eomma.. Apa aku harus benar-benar melepasnya?”

Baekhyun mencengkram dengan erat batu nisan Ibunya seakan ia sedang memohon pada tangan Ibunya, “Aku benar-benar menyayanginya, Eomma. Baru kali ini dalam hidupku aku merasakan dimana dunia begitu aman saat menatap matanya, tenang saat menggenggam tangannya dan nyaman ketika aku memeluknya.” Ia menjeda perkataannya selama beberapa detik dengan deruan nafas yang memburu, “Bahkan, aku baru bisa melepaskan perasaan bersalahku padamu ketika bersama gadis itu.. Eomma..”

Baekhyun mengangkat satu tangannya lagi dan mencengkram batu nisan itu begitu erat dengan kedua tangannya.

“Eomma tak bisakah Eomma meminta pada Tuhan untuk tidak mengambilnya?”

Jarinya mulai memutih, seiring dengan luapan emosi yang akan ia ledakkan saat ini juga.

“Aku begitu menyayanginya, Eomma!”

Ia benar-benar menangis dengan isakan yang terdengar sangat memilukan.

“Aku sangat-sangat menyayanginya..” Ia menjedakan kalimatnya selama beberapa detik lalu perlahan mulai mengendurkan cengkraman pada batu nisan Ibunya. “Tolong aku, Eomma..”

Saat Baekhyun berkata ia membutuhkan gadis bernama Minjoo itu, tubuh Baekhyun benar-benar mengatakan itu. Saat Baekhyun berkata bahwa Minjoo sangat cantik di matanya, baik itu dari luar atau dalamnya, Mata Baekhyun benar-benar mengatakan itu. Dan saat Baekhyun berkata bahwa ia mencintai gadis itu, Hati Baekhyun benar-benar mengatakan itu.

Minjoo adalah cinta terakhirnya. Dan Baekhyun akan selalu mencintai Minjoo, jika akhirnya mereka tidak bisa bersama selamanya.

.

.

.

Baekhyun membuka pintu kamar Minjoo dengan pelan lalu masuk ke dalam kamar gadis itu. Ruangan sudah begitu gelap, mengingat sekarang sudah pukul 10 malam. Chanyeol tidak ada disana karena kakak Minjoo itu sedang membeli keperluan untuk gadis itu.

Baekhyun dengan langkah yang sangat hati-hati menghampiri Minjoo yang sudah tertidur pulas di atas ranjangnya. Pria itu menatap Minjoo dalam-dalam, melihat seluruh wajah Minjoo begitu detail untuk ia simpan di memorinya.

Baekhyun selalu menyukai wajah Minjoo yang tertidur di hadapannya. Ini mengingatkannya pada beberapa hari lalu dimana mereka tertidur di atas sofa di rumah rahasia Baekhyun. Pada hari itu, sebenarnya Baekhyun lah yang paling pertama bangun. Ia membiarkan Minjoo tetap tertidur dengan posisi yang tidak mengenakkan karena ia terlalu menikmati wajah Minjoo dari tempatnya.

Wajah tertidur Minjoo melambangkan keamanan untuk Baekhyun. Tidak ada yang lebih aman lagi saat melihat Minjoo tertidur di hadapannya walaupun detik itu terjadi perang antara Korea Utara dan Korea Selatan. Wajah tertidur Minjoo selalu membuat Baekhyun merasakan tenang dan nyaman.

Baekhyun menutup mulutnya dengan tangannya untuk menahan isakan tangisnya yang telah keluar. Sungguh, ini begitu berat untuknya. Begitu sulit untuk melepaskan Minjoo darinya.

Perlahan, pada akhirnya Baekhyun mulai merundukkan pandangannya. Menghapus jarak antara mereka hingga ia merasakan nafas Minjoo yang teratur menerpa wajahnya.

Ia menghirup dalam-dalam nafas itu sambil menutup matanya. Detik selanjutnya ia menghapus jarak antara bibirnya dan bibir Minjoo, menempelkannya dengan lembut tanpa mau membuat gadis itu terbangun karenanya. Dan pada saat itulah, Baekhyun mengalirkan air matanya pada pipinya.

“Selamat tinggal, Minjoo.” gumamnya sambil menaikkan pandangannya dan mencium kening Minjoo dengan lembut dan sekilas.

“Selamat.. tinggal.. Minjoo-ku..” gumamnya kembali dengan air mata kedua menuruni pipinya.

.

.

.

Chanyeol berdiri di belakang seorang wanita tua yang kini sedang membayar belanjaannya pada kasir. Saat wanita tua itu mulai beranjak pergi, Chanyeol maju satu langkah ke depan dan menaruh belanjaannya pada kasir yang berada di hadapannya.

 

Drrt. Drrt.

 

Ponselnya bergetar di saku celana belakangnya. Ia pun mencoba mengambil ponselnya sambil ikut membawa dompetnya juga disana.

“Totalnya menjadi 20.000 won, Tuan.”

Sebelum Chanyeol membuka pesan yang masuk di ponselnya, Chanyeol terlebih dahulu mengeluarkan dua lembar uang 10.000 won dari dompetnya lalu memberikannya pada kasir itu.

Ia langsung melangkahkan kakinya keluar dan membawa satu kantung kresek di tangan kirinya.

Tangan kanannya kini menekan layar tombol kunci di samping ponselnya.

 

One Message Received: From “Baekhyun.”

 

Melihat nama itu, Chanyeol langsung menslide layar kuncinya dan membuka pesan itu.

 

Aku melepasnya. Aku percayakan dirinya padamu, mengingat kau menyayanginya lebih dari sekedar adikmu, Chanyeol-ssi.

 

Chanyeol menghentikan langkahnya seketika melihat pesan Baekhyun.

Entah ia harus senang atau tidak, Chanyeol tidak mengetahui itu.

Minjoo melihat ke arah pintu kamarnya dengan perasaan yang gelisah. Ini sudah dua hari lamanya Baekhyun tidak mengunjunginya kembali setelah hari pertengkaran mereka.

“Apakah Baekhyun semarah itu padaku?” pikir gadis itu kebingungan.

Ia pun menundukkan pandangannya dan meremas liontin bunga yang mengalung di lehernya, pemberian Baekhyun pada waktu itu. Mencoba merasakan kerinduan Baekhyun darisana walaupun nihil rasanya. Ia benar-benar ingin bertemu Baekhyun langsung di matanya.

“Baek..kumohon mengertilah.”

 

Srrt.

 

Pintu kamar Minjoo bergeser terbuka. Membuat Minjoo langsung melihat ke arah pintu itu kembali dengan mata yang berbinar-binar, berharap Baekhyun yang masuk ke dalam kamarnya detik ini.

Namun,

Ia langsung merosotkan harapannya saat pemilik nama yang paling ia rindukan tidak berada disana.

“Minjoo-ya..” Chanyeol tersenyum lalu memasuki ruangan kamar Minjoo. Ya, Chanyeol lah yang masuk ke dalam kamarnya saat ini.

Minjoo harus menelan harapannya dengan kasar ketika ekspetasi itu tidak sesuai harapannya. Ia mengalihkan pandangannya dari Chanyeol dan melihat ke arah liontin itu kembali. Memandangnya dengan perasaannya yang begitu sendu.

Ketika Chanyeol telah berhasil menghampiri Minjoo, ia melihat perubahan raut wajah Minjoo. Gadis itu tampak sangat sedih saat ini.

“Minjoo.. Kau kenapa?”

Tidak ada jawaban dari Minjoo. Melihat Minjoo yang sedang meremas sesuatu di lehernya, Chanyeol pun melanjutkan pertanyaannya kembali.

“Apa itu, Minjoo?”

Minjoo tetap terdiam dengan terus meremas liontin itu semakin erat. Beberapa detik selanjutnya, ia tak kuasa untuk menahan isakannya.

“Aku merindukannya, Oppa.”

Ketika Minjoo berkata seperti itu, Chanyeol tahu siapa yang Minjoo maksudkan.

“Aku sangat merindukannya, Oppa.”

Chanyeol pun hanya terdiam dan menatap Minjoo dengan datar. Ia memang sedang merayakan kepergian Baekhyun dari kehidupan Minjoo di dalam hatinya saat ini. Namun, melihat Minjoo yang menangis di hadapannya karena lelaki itu membuat Chanyeol merasa bersalah. Bagaimanapun juga, Baekhyun pergi dari sisi Minjoo adalah karena dirinya. Dia yang menghasut Baekhyun untuk pergi dari Minjoo, mengatakan bahwa Minjoo menjadi sakit seperti ini adalah karenanya.

“Maafkan Oppa, Minjoo-ya..” Chanyeol terdiam sambil terus melihat Minjoo yang bahunya mulai bergetar, “Aku benar-benar minta maaf..”

.

.

.

Minjoo terduduk di tepi ranjang dengan seorang suster yang membantunya untuk memasangkan pakaiannya. Hari ini dokter Hwang mengatakan bahwa Minjoo sudah boleh untuk kembali pulang ke rumahnya karena keadaan Minjoo sudah sedikit lebih membaik—walaupun tidak dikatakan sembuh. Chanyeol sedang mengurus beberapa administrasi sehingga ia tak berada disini untuk membantu Minjoo.

“Nona, dokter Park bilang bahwa nona harus memakai sweater ini.” Suster Ahn itu menyodorkan sweater di hadapan Minjoo, sweater Chanyeol rupanya. “Apakah nona mau saya bantu untuk memasangkannya?”

Minjoo tersenyum lembut pada suster itu, “Ya, tolong bantu aku.”

Suster Ahn itu pun tersenyum sambil mulai memasangkan sweater Chanyeol di tubuh Minjoo. Setelahnya, suster Ahn pun mengambil sepatu Minjoo yang telah Chanyeol sediakan sebelumnya dan menaruhnya tepat di atas kaki Minjoo. Suster Ahn lalu perlahan membantu Minjoo untuk turun dari ranjangnya dan gadis itu mulai memasangkan sepasang sepatu itu di kakinya. Maklum, walaupun kondisi Minjoo sudah lebih membaik dari sebelumnya, nyatanya collapse Minjoo yang kemarin adalah yang terparah menurut dokter Hwang. Maka dari itu, gadis itu masih sedikit merasa lemas sampai saat ini juga.

Beberapa menit setelahnya, Chanyeol membuka pintu Minjoo dengan pelan. Membuat Minjoo serta suster itu langsung melihat ke arah Chanyeol.

“Kau sudah siap, Minjoo?”

Minjoo menatap Chanyeol dengan senyum yang ia kembangkan di pipinya.

“Sudah, Oppa.”

.

.

.

Suasana dalam mobil saat ini begitu hening. Hanya terdengar deruan mesin mobil di telinga Minjoo dan Chanyeol. Mereka memang tidak bertengkar sama sekali, hanya saja Chanyeol memfokuskan dirinya pada jalan raya sedangkan Minjoo sedari tadi hanya menatap ke luar jendelanya. Pikiran Minjoo masih terus bergulat dengan menghilangnya Baekhyun selama tiga hari sampai hari ini. Minjoo sudah mencoba untuk menghubungi Baekhyun melalui ponselnya, tapi semua panggilang dan pesan Minjoo hanya bernasib sama. Tidak terbalas sama sekali pun.

Mobil berhenti ketika lampu merah mulai menyala. Membuat Chanyeol sedikit merengangkan tubuhnya lalu melihat ke arah Minjoo.

“Minjoo?” Chanyeol jelas melihat jika Minjoo sedang termenung di tempatnya saat ini. “Ya, Apa yang terjadi denganmu—“

“Apakah Baekhyun tidak menghubungimu sama sekali, Oppa?”

Chanyeol langsung menutup mulutnya rapat dan melihat Minjoo dengan datar kembali.

“Apa dia benar-benar tidak menghubungimu sama sekali?”

Chanyeol terdiam dan menatap punggung Minjoo yang membelakanginya saat ini. Ia bingung harus bagaimana memberitahu Minjoo bahwa Baekhyun akan meninggalkannya, lebih tepatnya ia tidak mau memberitahu Minjoo dengan mulutnya sendiri. Ia sangat yakin sekali jika Minjoo mengetahui itu, gadis itu pasti akan menangis selama seharian atau bahkan bisa sampai mingguan. Chanyeol tidak tega melihatnya seperti itu walaupun ia sendirilah yang membuat adiknya seperti itu.

“Tidak ada, Minjoo.” Minjoo sudah menanyakan pertanyaan ini sebanyak 10 kali—mungkin lebih—dari tiga hari yang lalu. “Si brengsek itu pergi, huh?” tuturnya memanaskan amarah Minjoo.

“Dia. Tidak. Brengsek. Oppa.” Minjoo menekan setiap katanya dengan keras pada Chanyeol lalu ia memutar tubuhnya menghadap Chanyeol. “Oppa, kenapa kau selalu membencinya sih? Apa Oppa menyalahkannya karena dia yang membuatku collapse seperti kemarin, begitu?”

Chanyeol langsung menolehkan matanya ke jalan raya di hadapannya lagi, malas untuk lebih lanjut beradu mulut dengan Minjoo dan terlebih Minjoo menyinggung sesuatu tentang ‘dosa’ yang ia buat.

“Oppa, aku kemarin collapse bukan karenanya. Aku memang sedang lelah saja pada hari itu—“

“Dan pada saat kau sedang lelah kau tetap menemuinya, begitu?!”

Minjoo langsung terdiam ketika Chanyeol membalas perkataannya dengan nada yang meninggi.

“Minjoo-ya bisakah kau..” Chanyeol menarik nafasnya dalam-dalam, menahan amarahnya. Ia pun menolehkan wajahnya menatap Minjoo dengan sedikit perasaan kesal di matanya, “Bisakah kau untuk tidak selalu memikirkan pria itu? Menyukai pria itu.. hingga kau lupa pada kesehatanmu sendiri.”

Chanyeol menjedakan perkataannya selama beberapa detik lalu melanjutkannya kembali, “Yang kau lakukan hanyalah pergi ke sisi pria itu, memikirkan pria itu, menemani pria itu hingga kau melupakan kesehatanmu sendiri.” Chanyeol perlahan melembutkan pandangannya dan menatap Minjoo dengan serius, “Apakah kau tidak menyayangiku yang mengkhawatirkanmu setengah mati saat kau kambuh? Terlebih saat kau ternyata membohongiku mengenai penyakit itu..”

Minjoo tak bisa berkata apa-apa selain terdiam dengan hanya menatap Chanyeol. Ia kemudian merasakan perasaan menyesal itu kembali menghinggapinya dan menyakitinya. Benar, kenapa ia selalu memikirkan Baekhyun 24 jam dalam 7 hari sedangkan jelas-jelas orang yang telah bersamanya selama hidupnya tidak ia pikirkan? Minjoo harusnya tahu jika Chanyeol adalah lelaki paling pertama yang mengkhawatirkannya pada saat Minjoo kambuh dari penyakitnya.

Minjoo menolehkan wajahnya dan menghindari tatapan Chanyeol, meluruskan lagi pandangannya pada luar kaca jendela. Ia sangat merasa bersalah saat ini hingga ia tidak ingin melihat tatapan Chanyeol.

“Maaf, Oppa.” Minjoo terdiam sambil menahan tangisnya, “Maafkan aku yang tak mengerti dirimu..”

Chanyeol pun menghembuskan nafasnya dengan pelan, ia tidak ingin membuat Minjoo tertekan karena bersalah padanya. Chanyeol lalu mengangkat tangannya untuk mengusap pundak Minjoo.

“Hm, tidak apa-apa Minjoo-ya.” tuturnya sambil terus mengusap pundak Minjoo.

.

.

.

Chanyeol masih terus mengemudikan mobilnya dan Minjoo masih termenung di sebelahnya dengan menatap luar kaca jendela.

Ketika Minjoo memerhatikan kawasan sekitar itu, Minjoo menyadari sesuatu.

Ini adalah kawasan dimana apartemen Baekhyun berada. Membuatnya memunculkan sebuah ide gila agar ia bisa untuk bertemu Baekhyun.

“Oppa.. bisakah Oppa menepi dahulu sebentar?”

“Eh?” Chanyeol tampak berpikir sebentar lalu pada akhirnya ia mengikuti permintaan Minjoo. Ia mengurangi gasnya dan mulai menepi jalan.

“Ada apa, Minjoo?”

Minjoo mencari-cari sebuah café, benda atau apapun itu untuk bisa ia jadikan alasan.

“A-aku..” Minjoo masih terus menatap sekitar dan mencari sesuatu untuk dijadikannya alibi. Tanpa sengaja, ia menangkap sebuah kedai bubble tea di sebrang jalan. “I-ingin minum bubble tea di kedai itu, Oppa!” tutur Minjoo sambil menunjuk kedai bubble tea itu. “Ya! Aku ingin bubble tea itu karena menurut orang-orang bubble tea disitu paling enak, Oppa!”

Chanyeol ikut melihat ke arah kedai bubble tea yang Minjoo tunjuk. Ia pun mengangguk-angguk mengiyakan lalu melihat ke arah Minjoo kembali, “Ya sudah, ayo kita kesana.”

Minjoo langsung melambai-lambaikan tangannya di hadapan Chanyeol, “T-tapi aku tidak ingin minum disitu, Oppa!” Minjoo menggigit bibirnya perlahan, ternyata berbohong adalah hal yang paling tidak enak untuk dilakukan di dunia ini. “Maksudku.. bolehkah Oppa membelinya untukku? Aku ingin meminumnya di rumah nanti.”

Chanyeol tentunya tidak ingin menolak perkataan Minjoo, “Baiklah.” Ia pun mulai membuka sabuk pengamannya lalu keluar dari pintu mobilnya. “Kau tunggu disini, aku akan membelikannya.”

Minjoo mengangguk dengan cepat, bermaksud agar Chanyeol cepat-cepat meninggalkannya.

“Kau ingin rasa apa, Minjoo-ya?”

“Apa saja!”

Chanyeol mengernyitkan pandangannya heran ketika Minjoo sedikit membentaknya seperti itu. Minjoo pun merapatkan mulutnya lalu detik selanjutnya ia tersenyum kikuk pada Chanyeol.

“Rasa green tea.. sepertinya enak, Oppa.” Tuturnya.

Chanyeol pun tersenyum sekilas pada Minjoo lalu mulai berjalan meninggalkan mobilnya serta Minjoo di dalamnya. Minjoo terus memerhatikan punggung Chanyeol yang mulai menyebrang jalanan dan tak lama dari situ, punggung Chanyeol menghilang di balik pintu kedai bubble tea tersebut.

Lantas melihat itu, Minjoo pun dengan cepat membuka sabuk pengamannya dan dengan tergesa-gesa mulai keluar dari pintunya. Ia mulai berlari di sepanjang pinggir jalan dan menuju apartemen Baekhyun.

“Maafkan aku, Oppa. Aku benar-benar ingin menemuinya.” Gumamnya sambil mengatur nafasnya.

Setelah ia berlari selama 5 menit, apartemen Baekhyun kini telah berada di matanya. Dengan cepat ia memasuki apartemen itu dan berlari lagi menuju lift yang beruntungnya sedang terbuka.

Ia menekan angka 5, menunjukkan lantai apartemen Baekhyun.

 

Ting.

 

Setelah pintu lift itu terbuka lagi, Minjoo langsung berlari keluar, meninggalkan orang-orang yang satu lift dengannya mengguratkan keningnya kebingungan. Minjoo kembali menyusuri lorongan itu dan langsung berhenti ketika saat ini apartemen Baekhyun telah berada di hadapannya.

Dengan mengumpulkan sisa-sisa tenaganya, ia pun mengangkat tangannya dan menekan tombol bel apartemen Baekhyun.

Satu kali.

Tidak ada jawaban.

Dua kali.

Tidak ada jawaban.

Tiga kali.

Masih tetap tidak ada jawaban.

Minjoo pun mulai gelisah, ia mengetuk-ngetuk pintu itu beberepa kali.

“Baekhyun-ah..”

Matanya mulai berair, mengingat betapa ingin memeluknya Minjoo pada Baekhyun.

“Kumohon buka pintunya—“

“Nona, kau siapa?”

Seorang wanita tua menepuk pundak Minjoo dan menatap gadis itu.

“Apa kau kenal dengan Baekhyun-ssi?” tanya wanita tua itu lagi.

Minjoo langsung menghapus air matanya dan menghadap wanita tua itu, “Jika aku boleh tahu, Apakah Baekhyun ada di dalam apartemennya sekarang ini?” tanyanya tanpa menjawab pertanyaan wanita tua itu yang sebelumnya.

“Sepertinya tadi aku melihatnya pergi keluar dengan wajah yang begitu kesal.”

Minjoo terdiam selama beberapa detik sambil otaknya yang mencerna perkataan wanita tua itu.

“Kalau kau mengenalnya bisakah kau—“

Minjoo langsung berlari kembali meninggalkan wanita tua tadi yang kini sedang memanggil-manggilnya.

 

“Jika aku sedang bosan atau kesal, aku akan kemari..”

 

Ya, Baekhyun pasti berada di rumah rahasianya itu saat ini, pikir Minjoo. Dengan cepat, Minjoo pun berlari menuruni tangga darurat karena ia tidak bisa untuk bahkan menunggu liftnya. Setelah Minjoo berada di lantai dasar, ia langsung berlari dengan cepat kembali menuju pintu keluar apartemen dan menuju ke gang kecil yang berada persis di sebelah apartemen itu. Ia tidak memperdulikan dengan peluh keringat yang telah mengalir di pelipisnya, hanya satu nama itu yang berhasil mengunci seluruh pemikiran dan perasaannya saat ini.

Ketika ia telah keluar dari gang kecil itu, ia bisa melihat jelas dari tempatnya jika pintu itu terbuka. Membuatnya menyunggingkan senyum haru di bibirnya dan berlari kembali menuju rumah itu.

“Baek—“

Perkataannya berhenti ketika ia tidak melihat Baekhyun saja di dalam rumah itu. Ada 4 orang pekerja disana, satu orang sedang berbicara dengan Baekhyun dan 3 orang lainnya sedang mengangkut barang-barang Baekhyun.

“Baekhyun-ah…”

Baekhyun yang mendengar suara itu langsung tertohok di tempatnya.

Suara yang membuatnya merasa hancur selama beberapa hari ini.

Baekhyun tidak ingin memutar tubuhnya untuk menghadap Minjoo, yang membuat Minjoo pada akhirnya maju beberapa langkah menghampiri Baekhyun.

“Baek..”

Pekerja yang berada di hadapan Baekhyun saat ini jelas melihat perubahan raut Baekhyun dan menyadari gadis itu berada disana.

“Tuan?” pekerja itu mengingatkan Baekhyun tentang keberadaan Minjoo, “Sepertinya ada yang ingin bertemu dengan Tuan.”

Baekhyun mencoba menutup matanya sambil menarik nafasnya dalam-dalam.

“Kalian bisa meninggalkan rumah ini dahulu lalu mencari jalan untuk mengeluarkan semua benda ini dari sini.”

Pekerja yang berada di hadapan Baekhyun pun mengangguk mengerti dan mulai menyuruh rekan kerja yang lainnya untuk mulai beranjak dan meninggalkan Baekhyun sendirian bersama Minjoo.

Dengan kecepatan yang sangat lambat, Baekhyun memutar tubuhnya. Pandangannya langsung jatuh pada mata Minjoo dan itu semua membuat jantungnya berdebar begitu menyakitkan di dalamnya.

“Ada apa kau datang kemari, Minjoo?” tanyanya dengan nada sedingin mungkin.

Minjoo menyadari nada bicara Baekhyun yang begitu dingin di hadapannya. Ini bukanlah Baekhyun yang ia kenal, Baekhyun tidak pernah berbicara dingin padanya.

Minjoo mencoba sekuat tenaganya untuk tidak merasa sakit hati di dalam tubuhnya. Ia pun mengedarkan pandangannya ke sekitar.

“Kenapa.. kau.. mengangkat semua barangmu?” Minjoo menatap Baekhyun di akhir aktivitasnya menatap sekitar, “Kau.. akan menghancurkan rumah ini?”

Baekhyun tampak menatap mata Minjoo dengan tajam. Tanpa sepengetahuan gadis itu, sesungguhnya Baekhyun sedang menahan mati-matian raganya untuk tidak terjatuh saat ini.

“Tidak.” Kini, tatapan Baekhyun yang hangat benar-benar telah hilang dari pandangan Minjoo. “Aku akan pergi, Minjoo.”

Pada saat itu, Minjoo merasakan hatinya langsung jatuh ke dasarnya dan mulai meretak berkeping disana.

“A-apa?”

Baekhyun tidak melakukan respon tubuh apapun dan tetap menatap dengan dingin pada Minjoo.

“Aku akan pergi meninggalkan Seoul, Korea Selatan.” Ia menjeda kalimatnya beberapa detik, menahan tangisannya.

“Han Minjoo-ssi.”

Tidak ada yang lebih menyakitkan dari perkataan Baekhyun saat ini bagi Minjoo. Dunianya bagaikan runtuh seketika mendengar penuturan kata Baekhyun. Ia merundukkan pandangannya dan mulai mengalirkan air matanya di bawah sana.

“L-lalu..” Minjoo mengangkat kepalanya perlahan kembali, dan Baekhyun melihat air mata itu jelas mengalir di pipi Minjoo. “Bagaimana dengan diriku?”

 

Minjoo-ya.. jangan menangis kumohon. Aku hanya semakin tersiksa melihatmu seperti ini.

 

“Apa yang kau maksudkan dengan dirimu?” Baekhyun menahan mati-matian air matanya dari tempatnya lagi. “Memangnya kau siapa.. hingga aku harus memikirkanmu ketika aku ingin pergi?”

Perkataan Baekhyun barusan seperti sebuah panah yang tertancap di lehernya. Benar adanya, siapa Minjoo untuk Baekhyun? Walaupun mereka telah menghabiskan hari mereka bersama.. bahkan semua ciuman yang telah mereka lakukan tidak pernah mengubah status mereka selama ini. Baekhyun dan Minjoo hanyalah sepasang pianis dan penggemarnya. Tidak pernah lebih dan tidak ada yang pernah mengkonfirmasi untuk meminta lebih.

“Pergilah dari sini, aku tidak punya banyak waktu.”

Baekhyun mulai berjalan melewati Minjoo karena ia sudah tidak bisa menahan air matanya lagi. Jika ia terus melihat Minjoo, bisa-bisa semua keputusan yang telah ia ambil dengan pemikiran yang begitu menyakitkan bisa tergoyahkan.

Namun, sebelum Baekhyun melenggang pergi dari hadapan Minjoo, gadis itu membuka suaranya lagi.

“Apa ini semua karena..” Minjoo menelan salivanya dengan kasar, “..penyakitku?”

Baekhyun menghentikan langkahnya dan terdiam selama beberapa detik di tempatnya. Menahan semua debuman keras di dalam hatinya.

“Hm, kau benar.”

Baekhyun memutar tubuhnya dan menatap Minjoo kembali di matanya.

“Ini semua karena penyakitmu. Aku tidak bisa hidup bersama seorang gadis yang memiliki penyakit seperti dirimu.” Baekhyun menunjuk-nunjuk dadanya dengan jari telunjuknya, “Aku.. bukanlah pahlawan yang bisa kau andalkan kapanpun, Han Minjoo.”

 

Semua perkataan Baekhyun membuat Minjoo seperti jatuh dari jurang terdalam di dunia ini. Semuanya begitu memperjelas keadaan bahwa disini.. Hanya Minjoo yang mencintai Baekhyun sendiri. Tidak ada balasan dari perasaan yang Minjoo berikan pada Baekhyun.

Mendengar itu, Minjoo menjatuhkan air mata keduanya. Ia pun merunduk sebentar, menahan nafasnya untuk tidak terisak di hadapan Baekhyun.

Setelahnya, Minjoo kembali mengangkat kepalanya dan maju beberapa langkah ke hadapan Baekhyun.

“Benar, Baekhyun-ah. Kau bukanlah superhero yang bisa tahan untuk hidup bersama gadis sepertiku..” Ia menjeda nafasnya beberapa detik dengan tetap menyatukan tatapan mereka.

“Tapi.. bolehkah aku meminta sesuatu padamu untuk yang terakhir kalinya, Baek?”

Nafas Baekhyun tercekat mendengar perkataan Minjoo. ‘Terakhir’, kata itu begitu menusuk Baekhyun dalam.

“Apa?”

Minjoo mulai memajukan langkahnya, menghapus jarak mereka sambil menjinjitkan jempol kakinya untuk menyamakan tingginya dengan Baekhyun.

“Terima kasih.”

Minjoo menutup matanya lalu menempelkan bibirnya pada bibir Baekhyun. Membuat Baekhyun otomatis menutupkan matanya juga dan merasakan sesuatu hangat di bibirnya namun merasakan kepedihan di hatinya.

“Dan Maaf..”

Bibir Minjoo begitu bergetar di bibir Baekhyun, menandakan bahwa sesungguhnya Minjoo sedang menangis saat ini. Dan saat air mata Minjoo mulai mengalir dari matanya dan jatuh di pipi Baekhyun, pria itu mulai menceloskan hatinya dalam-dalam dari tempatnya.

“Untuk semuanya.. selama ini.”

Minjoo memundurkan wajahnya dari Baekhyun dan berdiri lagi di tempatnya.

“Selamat tinggal, Baekhyun-ah.”

Baekhyun masih terdiam dan menutup matanya. Dia tak ingin membuka matanya, tidak ingin menerima semua realita yang menyakitinya.

“Semoga kebahagiaan selalu bersamamu..”

Minjoo pun mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Baekhyun. Berjalan keluar melalui pintu itu dan setelah berada di luar pintu itu, Minjoo langsung berjalan dengan tatapan kosong di matanya. Air mata yang mengalir tadi ia biarkan mengering saat udara dingin menghembus wajahnya. Ia terus berjalan, melewati gang itu dan kini telah berada di luar gang itu.

“Han Minjoo!”

Minjoo menolehkan wajahnya pada suara Chanyeol yang memanggilnya dari sebrang. Walaupun pikirannya sedang tidak pada tempatnya, Minjoo melihat jika Chanyeol kini tengah menyebrang jalan raya dan langsung menghampirinya dengan setengah berlari.

“Han Minjoo sebenarnya kau—“

Perkataan Chanyeol langsung terhentikan saat Minjoo memeluk pinggang Chanyeol begitu erat. Namun, bukan itu yang membuat Chanyeol menghentikan perkataannya.

Minjoo menangis di dalam dekapannya, menangis dengan sangat terisak hingga suara tangisan itu benar-benar menyayat hati Chanyeol.

“Oppa.. ini benar-benar menyakitkan..”

Chanyeol bisa merasakan jika Minjoo mengeratkan tangannya lebih erat pada mantel Chanyeol, seperti meminta pertahanan.

“Tolong aku.. ini benar-benar menyakitkan, Oppa..”

Chanyeol pun terdiam dengan hatinya yang mulai perlahan-lahan jatuh dari tempatnya. Semua suara deruan kendaraan yang terkalahkan oleh suara isakan tangis Minjoo di pendengarannya.

Tangisan Minjoo bagaikan seseorang yang sedang sekarat dalam kematiannya.

 

 

“Minjoo-ya..”

Baekhyun membuka matanya sambil menjatuhkan air mata yang telah ia bendung sedari tadi.

“Han Minjoo..”

Kakinya pun mulai melemas dan detik selanjutnya ia langsung terjatuh di atas lantai. Ia mulai menangis dengan keras dan terisak disana.

“Han Minjoo-ku…”

 

Semua manusia di dunia ini tidak mendengar atau bahkan memperdulikan suara tangisan mereka. Isakan yang begitu memekakan telinga, air mata yang mengalir bagaikan sungai dan tentunya hati mereka yang ikut menghancurkan dirinya di dalam tubuh mereka masing-masing. Namun, Tuhan, para malaikat dan dewanya, bahkan Chanyeol sendiri pun mendengar suara tangisan yang sangat menyayat hati itu. Tangisan dimana mereka meneriakkan kata pertolongan dengan sangat memohon, memelas.

** NEED U
난 잘 지내란 그 말
Words that said to be well
고마웠다는 말
Words that said thank you
나 어떡해요 아무것도 몰라요
What do I do, I don’t know anything

.

.

.

Chanyeol membuka pintu mobilnya dan berjalan keluar dari mobil itu. Setelah tadi berhasil menidurkan Minjoo—gadis itu hampir saja kambuh kembali karena terus menerus menangis melelahkan di dalam dekapan Chanyeol—ia langsung pergi kembli dengan mobilnya untuk menemui seseorang yang telah membuat janji bersamanya di sebuah bukit pinggiran kota malam ini.

Chanyeol hanya berjalan beberapa langkah karena ia memarkirkan mobilnya cukup dekat dengan pria itu yang kini tengah duduk di atas kap mobilnya sambil menatap ke atas langit.

“Baekhyun-ssi.”

Ya, pria yang meminta untuk bertemu dengan Chanyeol adalah Baekhyun.

Menyadari kedatangan Chanyeol, Baekhyun menolehkan wajahnya lalu tersenyum pelan pada Chanyeol.

“Oh, Chanyeol-ssi.” Ia kemudian sedikit menggeser tempat duduknya dan menepuk-nepuk kap mobilnya. “Duduklah.”

Chanyeol terdiam selama beberapa detik menatap Baekhyun. Chanyeol bisa melihat dengan jelas jika mata Baekhyun sedikit membengkak dan juga sayu. Tatapan pria itu pun begitu lemah, memperjelas suasana hati pria itu yang sesungguhnya.

Ini seperti dejavu untuk Chanyeol. Ia seperti melihat Minjoo di hadapannya saat ini. Keadaan pria itu sama persis dengan keadaan Minjoo yang menangis sedari tadi, mata membengkak, sayu, tubuh begitu lemas. Mereka berdua benar-benar memiliki keadaan yang sama.

Mencoba sebisa mungkin melawan perasaan bersalahnya, ia menuruti perkataan Baekhyun. Ia mulai mendudukan dirinya di sebelah Baekhyun.

“Kau tahu, Chanyeol-ssi.” Baekhyun tidak menolehkan wajahnya pada Chanyeol dan tetap menatap langit di atasnya. “Tempat ini adalah pertama kali aku menyadari bahwa aku menyayangi Minjoo.”

Chanyeol hanya terdiam dan membiarkan Baekhyun terus berbicara.

“Disini aku baru menyadari bahwa aku tidak hanya tertarik padanya. Aku mulai merasakan bahwa aku membutuhkan Minjoo, ingin terus untuk berada di sisi gadis itu.”

Baekhyun menjeda kalimatnya selama beberapa detik sambil mengingat kenangannya bersama Minjoo.

“Tidak ada yang aku inginkan selain untuk menggenggam tangan Minjoo, memeluk Minjoo, dan hidup bersama Minjoo. Ya, disini pertama kalinya aku menyadari bahwa aku menyayangi Minjoo begitu dalam hingga saat aku harus melepaskannya sekarang..” Baekhyun terdiam kembali, membuat kini Chanyeol menolehkan wajahnya melihat wajah Baekhyun.

“Aku benar-benar merasa ingin mati rasanya. Semua yang kupikirkan saat ini adalah bagaimana caranya untuk mati.”

Chanyeol terdiam di tempatnya. Entah mengapa, semua pengakuan Baekhyun tadi seperti memunculkan perasaan bersalah Chanyeol pada matanya. Pengakuan Baekhyun itu seperti memberikannya peringatan bahwa semua hal yang ia pikirkan mengenai Baekhyun yang hanya memainkan perasaan Minjoo adalah kesalahpahaman semata.

“Aku tahu mungkin perkataanku hanya omong kosong di pikiranmu, tapi..” Baekhyun merundukan pandangannya dan terdiam selama beberapa detik.

“Aku benar-benar menyayanginya. Sangat menyayanginya sampai aku rela membiarkan hatiku mati hanya untuk membiarkannya tetap hidup.”

Chanyeol tahu jika perkataan Baekhyun adalah sebuah kejujuran dari mulut pria itu. Membuat Chanyeol kini benar-benar merasa bersalah.

“Jadi.. Chanyeol-ssi.”

Chanyeol melihat Baekhyun yang kini menaikkan pandangannya dan menatap datar di hadapannya.

“Aku memohon padamu untuk menjaganya dengan sangat baik. Buatlah ia sembuh, bahagia. Dan seperti keinginanmu yang ingin memiliki Minjoo lebih dari sekedar adikmu..” Baekhyun menjedakan perkataannya selama beberapa detik. Ia sedikit menyeringai dengan nada yang mengejek Chanyeol. Namun setelahnya, ia mendatarkan lagi pandangannya.

“Aku akan pergi dari hidupnya, selamanya. Aku.. melepaskannya.”

Perlahan, ia mulai membangkitkan tubuhnya dari duduknya, diikuti Chanyeol juga.

“Aku.. memohon padamu.. sebagai pria yang sangat menyayangi Minjoo.”

Setelah perkataan itu, Baekhyun mulai berjalan melewati Chanyeol. Bersiap untuk pergi dari tempatnya dan masuk ke dalam mobilnya.

“Kau benar-benar melepaskannya?”

Perkataan Chanyeol itu membuat langkah Baekhyun terhenti.

“Selamanya.. kau akan melepaskannya?”

Baekhyun terdiam mendengar perkataan Chanyeol. Setelahnya, ia kembali menyeringai di balik punggungnya.

“Tidak. Aku hanya melepaskannya dari hidupku.”

Kemudian ia mendatarkan kembali kedua sudut bibirnya.

“Namun tidak untuk hatiku. Selamanya, aku hanya akan mencintai Minjoo.”

Ia kemudian melangkahkan kakinya kembali dan kini benar-benar masuk ke dalam mobilnya. Ia perlahan mulai menyalakan mobilnya dan tak lama dari situ, Baekhyun pergi meninggalkan Chanyeol sendirian disana.

Kali ini, Chanyeol benar-benar sadar akan perlakuan bodohnya. Keegoisan perasaannya yang selalu ingin memiliki Minjoo seorang, tanpa mengetahui bahwa hanya pria itu yang menjadi sumber kebahagiaan Minjoo. Melihat keadaan serta mendengar pengakuan Baekhyun membuatnya sadar bahwa.. mereka berdua saling mencintai. Saling membutuhkan dan yang membuat mereka tetap hidup adalah hanya saat mereka bersama.

Ia terdiam sambil terus menatap mobil Baekhyun yang mulai menjauh dari pandangannya.

“Tuhan, maafkan atas dosa besarku saat ini.” Gumamnya.

London, 1 Year Later

 

“Baekhyun-ah.”

Yoongi memanggil Baekhyun yang kini sedang tertidur dengan bau alkohol yang menyeruak dari berbagai sudut kamar. Botol-botol berwarna hijau itu pun berserakan di atas lantai kamar apartemen Baekhyun saat ini.

Yoongi menatap Baekhyun dengan getir, sudah setahun lamanya Baekhyun menjalani kebiasaan buruknya untuk menghabisi alkohol sebelum ia tertidur.

Ya, semenjak dirinya berpisah dengan gadisnya, Han Minjoo.

“Baekhyun-ah, bangun.” Yoongi kembali memanggil Baekhyun dan mulai menyingkirkan beberapa botol alkohol itu dari atas lantai. “Bangun, kau ada acara hari ini.”

“Kepalaku begitu sakit, hyung.” Baekhyun tetap menutup matanya rapat-rapat di atas kasurnya, “Bisakah kau membatalkan acara itu untukku?”

“Maaf tapi aku tak bisa, Baek.” Yoongi berkata pelan pada Baekhyun, tidak bermaksud untuk menyuruh Baekhyun dengan keras. “Acara itu merupakan acara penting, fan signing untuk mempromosikan album barumu..”

Baekhyun pun menghela nafasnya dengan kasar.

“Baiklah, tunggu aku 15 menit lagi.”

.

.

.

Baekhyun terdiam di kursi penumpang yang berada di tengah mobil sambil menatap kota London saat ini. Musim gugur telah menghampiri kota London. Membuat beberapa pohon di pinggir jalan berubah warna menjadi kuning kecoklatan serta serakan dedaunan yang berjatuhan di sekitar pohon.

Menatap itu, membuat Baekhyun sedikit mendecakkan lidahnya dengan sebal dan tanpa sadar ia sedang merasakan hatinya berdenyut menyakitkan kembali di dalam sana. Dia membenci musim gugur, lebih tepatnya menjadi membenci musim gugur setelah kejadian yang menimpanya satu tahun lalu.

“Kenapa juga London sudah musim gugur lagi..” tuturnya.

Yoongi yang duduk di sebelah Baekhyun menolehkan wajahnya pada Baekhyun. Melihat Baekhyun membuatnya teringat dengan dirinya yang menemukan beberapa botol alkohol di apartemen Baekhyun tadi.

“Baekhyun-ah.. bisakah kau untuk berhenti meminum minuman keras itu?” Yoongi menatap Baekhyun dengan khawatir, bagaimanapun juga, Baekhyun sudah seperti adiknya sendiri. “Jika kau terus meminum itu, tubuhmu bisa hancur, Baek..”

Baekhyun terkekeh pelan dengan mata yang tidak menyiratkan kelucuan.

“Biarkan saja begitu, hyung. Biarkan tubuhku hancur saja.” Ia kemudian menghentikan kekehannya dan menatap jendela luar dengan datar. “Seperti hyung tahu sendiri, aku ini sudah mati.”

“Baek—“

“Asal hyung tahu saja.. Aku masih hidup sampai detik ini karena hyung menyuruhku untuk tetap hidup.” Ia menolehkan wajahnya dan menatap Yoongi dengan tajam. “Hyung mau melihatku meminum satu botol obat tidur lagi? Jika tidak, biarkan alkohol itu menghancurkan tubuhku. Setidaknya, alkohol itu tidak membunuhku.. sekarang. Haha.” Tuturnya dengan kekehan yang sama sekali tidak terdengar lucu di pendengaran Yoongi.

Yoongi hanya menatap Baekhyun dengan getir lagi dan lagi. Baekhyun yang berada di hadapannya saat ini… bukanlah Baekhyun yang dia kenal dahulu. Semua sifat hangat, ceria, dan ramah Baekhyun telah hilang dalam diri pria itu. Semua tentang Baekhyun yang baik pada semua orang, sopan pada semua orang terlebih pada Yoongi sendiri lenyap begitu saja saat satu tahun yang lalu ketika Baekhyun meminta pada Yoongi untuk meninggalkan Korea Selatan dan menetap di Inggris, London tepatnya.

Benar apa perkataan Baekhyun yang baru saja ia katakan, pria itu pernah mencoba untuk membunuh dirinya ketika mereka telah satu bulan tinggal di London. Baekhyun meminum satu botol obat tidur sekaligus, mencoba membunuh dirinya. Untung saja saat itu Yoongi menyadari dengan cepat aksi Baekhyun dan langsung membawa pria itu ke Unit Gawat Darurat terdekat.

Ada satu kalimat yang Baekhyun lontarkan pada Yoongi saat itu, kalimat yang selalu teringat di benak Yoongi dan mengasihani Baekhyun sampai sekarang ini.

 

“Tanpa gadis itu.. aku mati, hyung. Biarkan aku mati saja, kumohon..”

 

Kalimat dengan nada yang begitu sekarat itu terus mengiang-ngiang di pendengaran dan otak Yoongi. Membuat Yoongi selalu meratapi kepedihan Baekhyun yang ikut ia rasakan. Baekhyun sangat menyayangi Minjoo tapi takdir yang ia hadapi harus begitu menamparnya dengan keras dan membuatnya kehilangan semua kebahagiaan yang pernah ada di hidupnya.

Entah ini sudah yang ke berapa kalinya Baekhyun meminta pada Yoongi untuk membunuh dirinya atau dia ingin membunuh dirinya sendiri. Yoongi tentu saja tidak mau itu terjadi, mengingat betapa sayangnya ia kepada Baekhyun sebagai adiknya sendiri. Yoongi pun berusaha keras untuk meyakinkan, menguatkan Baekhyun untuk terus melanjutkan hidupnya. Sampai detik ini.

“Baekhyun-ah.. bersabarlah..” gumamnya dalam hati.

.

.

Tak lama dari situ, van yang di tumpangi Baekhyun dan Yoongi telah terparkir di depan sebuah gedung dimana acara fan signing nya dilaksanakan. Setelah mobil itu berhenti, Baekhyun keluar dari mobil itu dan ia langsung melangkahkan kakinya keluar dengan cepat. Semua staff yang berada di belakang Baekhyun, termasuk Yoongi, mengikuti Baekhyun.

Acara itu pun dimulai setelah semuanya disiapkan. Baekhyun telah menggunakan baju casualnya saat ini, rambut hitamnya yang ia angkat ke atas menggunakan pelicin rambut membuat garis ketampanannya terlihat begitu jelas. Walaupun ia terlihat sangat tampan, jika orang-orang memerhatikan wajah Baekhyun sangat detail, mereka bisa melihat jika wajah Baekhyun seperti zombie saat ini. Mati, tak ber-ruh.

Sesaat ia telah duduk di kursi di atas panggung, semua fans yang rata-rata adalah gadis itu berteriak dengan sumringah. Membuat Baekhyun hanya tersenyum sedikit, merasa terganggu dengan suara nyaring mereka.

Satu persatu gadis-gadis itu pun naik ke atas panggung dan membawa album terbaru Baekhyun yang baru saja dirilis beberapa bulan lalu dengan tajuk ‘Flower in Autumn’. Ia hanya sedikit menorehkan senyumannya pada gadis-gadis itu, berbicara seperlunya saja jika para gadis itu bertanya padanya. Baekhyun sudah tidak memiliki semangat lagi untuk menjadi pianis semenjak berpisah dari Minjoo, yang ia lakukan hanyalah untuk menyalurkan perasaannya melalui piano maka ia bertahan menjadi pianis sampai detik ini.

“Halo, Baekhyun-ssi.”

Seorang gadis berbicara bahasa Korea padanya—mengingat ini di London, bahasa Inggris adalah bahasa utama dari kota ini.

Baekhyun menatap gadis itu dengan sedikit memicingkan matanya, “Kau berasal dari Korea?”

Gadis yang berada di hadapan Baekhyun saat ini pun tersenyum sambil mengangguk-angguk. Mengetahui fakta itu, Baekhyun hanya mengacuhkannya dan mulai menandatangani album yang gadis itu berikan sebelumnya.

“Namamu?”

 

“Minjoo. Han Minjoo.”

 

Nafas Baekhyun begitu tercekat saat nama itu keluar dari mulut gadis itu.

Dengan sendinya yang mulai kaku, Baekhyun mengangkat lehernya pelan-pelan.

 

“S-siapa?”

 

“Minjoo.” Gadis itu tersenyum pada Baekhyun, “Namaku, Han Minjoo.”

 

Baekhyun terus menatap gadis yang berada di hadapannya dengan detail. Melihat mata, hidung, serta bibir gadis itu. Mencoba membuka memori yang tak pernah ia lupakan tentang wajah dan semua kenangannya bersama gadis yang memiliki nama itu satu tahun yang lalu.

“Baekhyun-ssi?”

Gadis itu melambaikan tangannya di hadapan Baekhyun.

Dia bukan Han Minjoo. Bukan Minjoo-nya yang ia sayangi.

Baekhyun menelan salivanya dalam-dalam lalu merundukkan pandangannya kembali. Dengan nafas yang masih tercekat, ia pun menandatangani album itu dan langsung menyerahkannya kembali pada gadis itu dengan terburu-buru.

Gadis itu mengatakan terima kasih pada Baekhyun lalu meninggalkan Baekhyun dengan nafas yang masih menderu dengan kasar.

Dengan sekuat tenaga, Baekhyun memegang dadanya yang mulai merasa sakit kembali. Satu tahun lamanya tidak mendengar nama itu, sukses membuat Baekhyun kehilangan nafasnya seketika.

“Minjoo-ya..”

.

.

.

Gadis yang bernama Han Minjoo tadi, atau lebih tepatnya mengaku sebagai Han Minjoo berjalan dengan cepat sambil melihat ke sekitarnya dengan was-was. Siapa tahu ada yang mengikutinya atau mengawasinya.

Setelah memastikan tidak ada yang mengawasinya, dia berjalan dan menghampiri seorang gadis lain yang terduduk di kursi halaman gedung dimana fan signing Baekhyun diadakan beberapa waktu lalu. Gadis yang sedang duduk itu menatap layar ponselnya sambil tersenyum begitu lembut.

“Minjoo-ssi.”

Gadis yang dipanggil namanya itu langsung menolehkan wajahnya dan menatap gadis yang mengaku sebagai Han Minjoo tadi.

“Ah, kau sudah datang rupanya.” Minjoo tersenyum lembut pada gadis itu.

Gadis itu hanya ikut membalas senyuman Minjoo dan menyodorkan album yang Baekhyun tanda tangani tadi, “Ini.”

Minjoo mengambil albumnya dan tersenyum sambil membungkuk hormat lagi pada gadis itu.

“Terima kasih sudah membantuku..”

“Bukan masalah.” Tuturnya dengan tersenyum lalu setelahnya ia berpamit untuk pergi meninggalkan Minjoo.

Gadis itu, Minjoo, melihat albumnya beserta tanda tangan Baekhyun dengan dalam-dalam. Setelahnya ia melihat ke arah ponselnya kembali yang kini tengah melihatkan foto Baekhyun yang ia ambil diam-diam saat fan signing beberapa waktu lalu.

“Kau semakin tampan, Baekhyun-ah..”

Kemudian Minjoo mengelus wajah Baekhyun dengan jempolnya. Ia pun mengeluarkan air matanya kembali.

“Aku merindukanmu.. Sangat-sangat merindukanmu, Baek..”

맞아 사실 나 오늘 너 모르게
That’s right, truthfully, today without you knowing
지켜만 보다가 
I watched you

이젠 견딜만한데
Now I can withstand
끝인사가 아쉬워
But the last farewell is really disappointing
정말 Goodbye
Really, goodbye

***TBC***

 

Hai, aku mau sedikit curhat aja, semenjak nulis fanfict ini entah kenapa aku jadi jatuh cinta sama Chanyeol. Harusnya aku mainin karakter Baekhyun disini, hingga membuat aku sendiri harusnya makin suka sama Baekhyun. Eh entah kenapa Tuhan malah bikin aku jatuh cinta sama Chanyeol disini, wkwkwk-_- oiya ini masih lumayan lama loh endnya, mungkin 4-5 chapter lagi baru beres. Dan seperti biasa.. aku tadinya janjiin ini cuman 10 chapter kan? Hahaha maafkan ByeonieB yang selalu nyeletuk tanpa memperkirakan dengan baik ya Y.Y

160123_백현8

Today, I won’t be embraced.
I’ll turn back after seeing your face.

p.s: guys, aku minta rekomendasi fanfict dari kalian dong.. romance, no yaoi (HA) castnya antara Baekhyun, Chanyeol deh. dan kalau kalian ada yang suka baca di asianfanfics.com juga boleh kok kasih rekomendasinya ke aku, aku suka baca disana juga tapi sekarang aku blm nemuin fanfic yang rame disitu^^ gomawo~

-Baek’s sooner to be wife-

 

134 responses to “Flower in Autumn [#VII Farewell] -by ByeonieB

  1. Minjoo sudah dioperasikah???knpa minjoo gak lsg temuin baekhyun…apa minjo percaya perkataan baekhyun dulu..klo si baek gak suka sama dy

  2. sorry aku baru komen di chapter ini, aku readers baru heheh mian ya author ^^
    aku belum baca semua chapternya tapi greget banget sama Chapter ini. kenapa Chanyeol oppa ku harus se s-a-b-a-r itu huh? harusnya Minjoo tau diri kalo dia di urus sama Chanyeol dari kecil dan nurut sama Chanyeol. harusnya ceye ngga harus ngerasa bersalah sama mereka, karena ceye banyak banget berkorban buat minjoo ketimbang baek yang baru kenal. astagaa author jahat banget nistain Chanyeol oppa kuu huhuuu greget wkwkw. oke ini bukan cerita aku haha. over all aku suka ceritanya dan yaa keep writing thor :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s