[Airplane] At Least (3/4) – Angelina Triaf

A3

Angelina Triaf ©2016 Present

[Airplane] At Least

Kim Donghyuk, Song Yunhyeong (iKON) & Kim Shinyoung (Ulzzang) | Psychology, Hurt | T | Ficlet, Series

“This is the saddest melody in the world.”

0o0

“Hujannya masih belum berhenti.”

Jam itu menunjukkan pukul delapan malam. Rintik hujan semakin mendominasi di tiap kehadirannya, membuatku berkali-kali harus mengeratkan sweater yang kukenakan. Pukul delapan malam, dan Shin Nuna belum juga pulang. Tak tahukah ia bahwa Yunhyeong Hyung telah menunggu selama tiga jam di sini?

“Setidaknya sekarang tidak sederas tadi,” balasku, kini mulai melirik cokelat panas yang telah kubuat lima menit yang lalu.

Lain hal dengannya yang justru memainkan ponselnya, mungkin sedang mencoba menghubungi Shin Nuna. Biarlah, toh dia sendiri yang memutuskan untuk menunggu selama ini. Bukan salahku, lagipula aku sudah melayaninya sebagai tuan rumah yang baik. Ini salah Nuna yang memang pulang terlambat tetapi tidak memberitahukan kekasihnya sama sekali.

Hingga suara mesin mobil itu menginterupsi keheningan kami. Aku segera berlari menuju pintu, membukanya dan mendapati tubuh Nuna yang basah karena menerobos hujan dari mobilnya. Tak butuh waktu lama bagiku untuk langsung membalut tubuhnya dengan handuk yang sedari tadi kupegang―aku sudah mempersiapkannya sejak tadi.

“Hyuk-ah, tanganmu.” Alih-alih mengatakan hal lain, Nuna justru langsung menilik pergelangan tangan kananku.

Menyadari tatapan tak sukanya, segera kusembunyikan tanganku di balik punggung. Aish, Shin Nuna kenapa selalu seperti ini? Membuatku selalu dihantui rasa bersalah tiap kali ia memergokiku. “Bukankah sudah kubilang untuk menghentikan―”

Ya, Yunhyeong Hyung sudah menunggumu selama tiga jam. Nuna kenapa lama sekali?”

Aku segera mendorong tubuhnya agar cepat sampai di ruang tamu. Benar saja, Yunhyeong Hyung langsung saja menyambut kedatangan Nuna. Ah, lebih baik aku pergi ke dapur untuk membuatkan Nuna cokelat hangat, ia pasti sangat kedinginan dalam perjalanan pulang tadi.

Sudah hampir dua tahun Shin Nuna berhubungan dengan Yunhyeong Hyung―rekor hubungan paling lama mengingat Shin Nuna ialah seorang pemilih dan kekanakan. Menghapus jenuh sembari menunggu cokelat batangan ini leleh, aku memerhatikan rintik hujan yang entah mengapa kembali deras di luar sana. Hah, sepertinya hujan ini akan awet sampai besok pagi.

This is the saddest melody in the world, itulah yang selalu Nuna katakan padaku tiap kali ia terjebak hujan di dalam rumah. Tak ada satu pun di antara kami yang merupakan pluviophile sehingga aku hanya bisa mengangguk setuju dengan opininya. Hujan itu perlambang dewa yang menangis. Aku tahu bukan usianya lagi untukku percaya dengan mitos itu. Namun biarkanlah aku memercayainya, tak ada ruginya juga percaya hal-hal semacam itu.

Setelah mencampurkan lelehan cokelat dengan susu putih di dalam gelas, aku lekas membawanya ke ruang tengah. Hening menyapaku, mungkinkah Nuna sudah berada di kamarnya?

Dengan Yunhyeong Hyung?

Memikirkan sesuatu, aku segera berjalan menaiki tangga menuju kamarnya. Kulihat dari celah pintu, benar saja mereka berdua ada di dalam sana. Yunhyeong Hyung sepertinya tengah membantu Shin Nuna merapikan barang-barangnya untuk tugas lapangan di Jeju. Nuna seorang fotografer, jadi tak heran jika ia selalu bepergian.

Nuna, jaga kesehatanmu. Seakan hidupmu hanya untuk bekerja.”

Kudengar suara Yunhyeong Hyung sekarang. Memang benar jika nyatanya Yunhyeong Hyung pun lebih muda dari Nuna, itulah yang membuatku penasaran bagaimana bisa lelaki yang lebih muda itu mengimbangi whiny-nya Shin Nuna.

Aku masih berdiri di depan celah pintu. Baru saja aku ingin masuk, namun pemandangan di hadapanku mau tak mau membuatku menghentikan langkah yang hampir terbentuk. Yunhyeong Hyung mencium Nuna, dan itu sudah lebih dari cukup untuk membuat lubang di hatiku melebar dengan sendirinya. Perih, apakah sakit hati bisa seperih ini?

Memilih mengalah, aku memutuskan untuk masuk ke kamarku yang bersebelahan dengan Nuna. Kutaruh gelas susu ini sembarang di atas meja nakas dan mengambil pisau kecil kesayanganku dari dalam nakas. Kulirik tangan kananku kemudian, tersenyum kecil lalu mulai menyayat pergelangannya dalam diam.

Mungkin hujan memang akan menjadi melodi paling menyedihkan dalam hidup kami berdua. Namun dengan menjadi sister complex? Sepertinya diriku seorang pun sudah cukup menderita dengan hal itu. Maka dari itu, melihat tetesan darahku sendiri akan lebih terasa menyenangkan ketimbang melihat rintikan hujan yang bodoh di luar jendela.

Hah, setidaknya aku hanya mengeluarkan darah, bukannya air mata.

FIN

Special thanks to;

hyukyun

bang Donghyuk & babang Yunhyeong😉

kimshin21

kak Kimshin😀

 

*Pluviophile adalah orang yang mendapatkan perasaan nyaman ketika melihat rintikan hujan atau singkatnya pecinta hujan.

*Sister complex adalah perasaan sayang yang berlebihan―bisa juga disebut cinta atau bahkan obsesi―pada saudara perempuan kandung.

Maapkan hati ini yang ingin membuat babang Hyuk jadi begini >< dan bang Yunhyeong entah kenapa pasti cute banget ya kalo punya pacar yang lebih tua wkwk xD Happy reading^^

2 responses to “[Airplane] At Least (3/4) – Angelina Triaf

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s