B U L L [Chap.4] –– Both

e8b7e38ae4274c76e4fb2a941892bec9

B  U  L   L  [Chap.4] –– Both

Doubleel’s

Main Cast :

▲Oh Sehun▲

▲Park Hani▲

Other Cast

Genre :

▪ Marriage Life ▪

▪ School Life ▪

▪ comedy(?) ▪

▪ Romance ▪

Rating :

PG – 16

Warning!! Many typo everywhere. Happy Reading!

Tepat pukul tujuh rapat Osis berakhir. Para pengurus Osis sudah mulai berhampuran meninggalkan ruangan. Disis lain, Hani merapikan berkas-berkas yang diganakan bahan rapat tadi, dibantu oleh Jung Seon Ah––si sekretaris Osis. Tak jauh dari tempat Hani duduk, Jang Yurim tengah beranjak dari kursinya. Dengan bengis, ia melirk Hani sekilas sebelum keluar dan menutup pintu dengan kasar.

Hani hanya cuek-cuek saja sambil meneruskan kegiatannya.

Seon Ah kemudian berdehem pelan, mematahkan atmosfer hening yang hanya melimuti keduanya di dalam ruangan ini. “Park Hani….” Seon Ah memanggil hati-hati. Hani hanya menjawabnya dengan gumaman kecil tanpa melirik gadis disebelanya.

“Ngomong-ngomong apa hubunganmu dengan Oh Sehun?”

Sontak, seluruh kegiatan Hani terhenti. Mendadak, ia seolah lupa cara menghirup oksigen dengan benar. Ia lalu melesakkan salivanya ke tenggorokan sebelum akhirnya balas menatap Seon Ah dengan alis sebelah yang terangkat.

Oh, Great. Lihatlah betapa mudahnya Park Hani memainkan mimiknya.

Tidak jauh berbeda dengan ‘suaminya’.

Apakah itu tandanya mereka berjodoh? Oh, sungguh konyol pemikiran itu. Tapi setidaknya, keduanya memiliki sedikit kesamaan. Ya, hanya sedikit.

“Hanya sebatas senior dan junior. Tidak lebih.” Jawab Hani tenang. Tentu saja berbohong. Detik selanjutnya berkemas dan menyampirkan tasnya. Gadis Park itu keluar dari ruang Osis dan dibuntuti oleh Seon Ah yang kini berjalan seiringan dengannya.

“Kau yakin?”

“maksudmu?” Hani berhenti melangkah. Mata tajamnya menatap Seon Ah dalam. Sialan kau Jung Seon Ah, apa-apaan dia?

E-e bukan. Tidak, ya aku percaya padamu, kok” seru Seon ah dengan kelabakan.

Helaan napas lega lolos dari bibir Hani setelah itu. Ia kini tiba di pemberhentian bus dekat sekolah sedangkan Seon Ah sudah pulang dijemput oleh ibunya habis pulang dari kerja. Pukul setengah delapan malam, agak menjadi malam yang cukup mengerikan jika kau masih berada diluar rumah. Sendirian pula, uughh. Apalagi jika kau adalah seorang gadis. Kemungkinan-kemungkinan buruk bisa saja terjadi, maka Hani selalu berdoa semoga ia selamat hingga tiba di apartement.

Namun sepertinya, dewi fortuna tidak berpihak pada gadis itu Park itu hari ini. Selain sudah nyaris setengah jam ia menunggu bus, kesialannya semakin bertambah kala rintik air hujan mulai membasahi bumi. Oh, tanda-tanda akan segera berlangsungnya musim dingin.

Hani sungguh celingak-celinguk sendiri, percayalah. Ia mirip seperti bocah hilang arah. Kedua tangannya memeluk tubuhnya yang terbalut jasket almameter, membuat kehangatan sederhana ditengah dinginnya malam yang menusuk kulit. Baiklah, ada yang malang dari ini?

What a shitty day!

Menit berganti menit. Hujan makin deras dan deras. Malam kian larut. Dan parahnya, bus tak kunjung juga lewat. “Ya Tuhan, apa ban busnya bocor? Kenapa tidak muncul-muncul?” Hani bergumam gelisah. Sesekali ia mengecek arloji yang melingkar dipergelangan tangan kiri.

Beberapa saat kemudian, suara deru motor yang teramat bising berhenti tepat didepan Hani. Si pemilik yang bersembunyi dari balik kaca hitam helm menolehkan kepalanya pada gadis berumur tujuh belas itu. Hal tersebut sontak membuat Hani meremas roknya dengan was-was. Antara cemas dan ngeri di waktu yang bersamaan. Bagaimana jika dia berniat jahat kepadanya? Ia bisa apa? Melemparinya dengan sepatu? Jangan konyol, membayangkan  laki-laki bertubuh tinggi nan tegap itu menyentuhnya membuat Hani ingin pingsan saja.

Doa Hani detik ini hanya satu, semoga bus cepat-cepat datang, sehingga ia bisa meninggalakan tempat meyeramkan ini.

Ia menggigit bibir bawahnya, sambil mengucapkan doa-doa dalam hati. “Jangan culik aku, kumohon. Ketahuilah, aku bukan anak orang kaya. Percayalah.” Hani menyergah takut-takut.

“Kau tidak bisa lari, Nona Park Hani.” Suara berat dari lelaki itu sungguh dapat membuat bulu roma Hani seolah borjeget-joget. Dan apa? Dari mana ia tahu namaku?? Hani berani bertaruh jika penculik ini pasti sudah mengincarnya sejak lama. Ponsel di saku Hani bergetar, Hani mendesah lega. Lalu segera dilihatnya layar ponsel itu yang memberi tanda bahwa baterainya lemah dan kurang dari dua detik, layar ponsel itu lantas menggelap.

Sial, Sial sekali.

Hani mulai paranoid, ia meneguk salivanya. “Kumohon, jangan sakiti aku.”

Membuka kaca helm, “bodoh! Ayo naik. Sampai kapan kau akan menunggu bus datang, ha?” pemuda itu berseru datar.

Sejurus kemudian, Hani menghela napas lega. Fiuhh, Syukurlah! batin gadis itu sambil mengusap dada. “Ya Tuhan, kukira kau penculik,” Hani mendesis. Sehun menatap Hani jengah, balas mendesis, “Mana ada penculik sekeren diriku?” Ujar Sehun. “Yang benar saja.”

Hani nampak menahan senyumnya.

“Hei, jangan menyiksaku dengan menyuruhku hujan-hujanan.” Sehun mengkeraskan deru motornya.

Brumm, brummm.

“Bagaimana caranya aku duduk?” tanya Hani polos.

“Ha? Terserah kau saja. tapi, kalau kau mau mengangkang, jangan salah aku jika aku melihat sesuatu dibalik rokmu.” Sehun menyeringai dibeberapa kata terakhir. Hani memukul bahu Sehun pelan, “Mesum,” membuat pemuda itu meringis. “Cepat! Sebelum aku berubah pikiran,” perintahnya terdengar gemas. Akhirnya Hani segera naik ke motor ninja merah Sehun. “Pegangan, biar tidak jatuh.”

Mengangguk, “Iya.” Hani mengambil posisi miring, satu tangannya berada di bahu Sehun, dan tangan yang lain berpegangan di jok belakang.

Kendaraan beroda dua itu melaju cepat membelah jalan raya. Selain suara derum knalpot Sehun yang sesungguhnya memekakkan telinga, gerimis adalah latar belakang suara lain yang kini mengiringi keduanya.

Jujur, banyak sekali tanda tanya yang berputar-putar di otak Hani. Kenapa tiba-tiba saja Sehun menjemputnya? Ah, Hani tidak mau terlalu percaya diri. Mungkin saja Sehun tidak sengaja lewat dan melihatnya duduk sendirian malam-malam seperti bocah hilang. Atau mengapa Sehun tidak memilih mobilnya dari pada menggunakan motor? Bukan apa-apa, hanya saja bukankah  lebih nyaman mengendarai mobil dalam kondisi bumi yang diguyur gerimis saat ini. Tapi entahlah, Hani tidak mau ambil pusing, yang jelas, dia sudah dapat dipastikan tiba dengan tidak kurang suatu apapun di apartement.

Cengkeraman Hani dibahu Sehun semakin erat kala Sehun mengendarai motornya dengan ugal-ugalan. Meliuk kekanan dan kekiri dengan gesit menyalip beberapa kendaraan baik besar, kecil, maupun sedang, tidak peduli fakta bahwa jalanan akan lebih licin dari biaanya dikarenakan hujan. Sialan bocah ini.

“Ya, Oh Sehun, kau ingin membuatku mati?” maki Hani setengah berteriak. “Pelankan laju motormu, bodoh!”

“cerewet, pegangan saja yang yang erat.” Balas Sehun terdengar samar-samar. Hal demikian justru kian membuat Sehun men-gas penuh kecepatan motornya.

“aaaaa tidaaak!!!!! cepat pinggirkan motormu. Aku ingin muntah.” Teriak Hani histeris, meronta-ronta dibelakang punggung Sehun. Mulutnya tertutup oleh telapak tangan kiri. Yakinlah, jika Hani sudah seperti orang gila saja. Okey, sebagai pengingat latar tempat saat ini adalah dijalan raya. Tak ayal jika itu mengundang tatapan aneh pengguna jalan.

Dengan terpaksa, Sehun pun menepi dipinggir jalan. Seiring berjalannya waktu, gerimis telah sirna. Dilepaskannya helm yang tersangkut dikepala, lalu melayangkan tatapan malas pada Hani. Gadis itu berjongkok beberapa meter sambil memunggungi Sehun.

“Hoeekk…..”

“Astaga!” Sehun berdecak sambil mengusap kepalanya frustasi. “Kau baik-baik saja Park Hani?” tanya Sehun dengan nada cemas.

“Uhuuukk!” Hani terbatuk-batuk.

Dengan cemas, pemuda itu lantas menghampiri Hani. Menyodorkan sebuah sapu tangan yang langsung diterima dengan senang hati oleh Hani. “Kau mabuk perjalanan motor?”

“Tidak,” jawab Hani setelah menyelesaikan aktivitasnya. Dahi Sehun berkerut heran, “Lalu?”

“Lula lalu kepalamu botak. Sadarkah jika kau hampir membuatku mati ketakutan?” napas kasar keluar dari mulut Hani. “berapa kecepatanmu tadi? Secepat roket NASA bukan?” ada sirat kesinisan dinada bicaranya.

Sontak, Sehun tertawa renyah, namun itu justru terdengar menyebalkan di pendengaran Hani. “tadi itu belum seberapa, kau bel––“

“Belum seberapa? YaTuhan!” potong Hani shock, mendelik heboh pada Sehun. Sedangkan itu, Sehun menaik turunkan alisnya. Bocah ini minta di jedotkan kepalanya, geram Hani membatin.

“lagipula kau ini kampungan sekali. Aku baru melihat ada orang yang mabuk naik motor.” Sehun duduk di jok motornya. Sambil sesekali tertawa menyebalkan.

“Kampungan kau bilang? Coba katakan sekali lagi maka kusumpal mulutmu dengan kerikil.” Omel Hani sambil berkacak pinggang. “baiklah. Nona galak.”

“perutku tidak akan mual jika kau berkendara dengan otak waras.”

“aku berkendara dengan otak waras asal kau tahu.”

“waras apanya? Waras otakmu terbalik?”

Sehun memilih diam, begitu pula Hani. Suara bising yang berasal dari kendaraan yang melintasi jalanan kota Seoul masih terus terdengar. Cahaya terang lampu-lampu di pingir jalan merupakan penerangan mereka saat ini, selain dari lampu dari keandaraan yang melaju.

Hani mendengus jengah, bosan dengan atmosfer ini. Hingga kemudian…..

Kluruk…..kurrkkkm

Mata elang Sehun langsung melirik kearah Hani. Gadis itu memegangi perutnya yang baru saja berkumandang. Seraya meringis pelan, ia melempar tatapan bodoh pada Sehun yang melongo. “Suara perutmu mengerikan,” cibir Sehun dengan tampangnya yang datar.

“kau tahu, wajah tengilmu yang membuatku lapar.” Hani membalas tidak nyambung sama sekali.

“aku juga lapar………… Lapar ingin makan orang.” Sahut Sehun menahan senyum aneh. Hani bergidik ngeri, “Dasar, psiko.”

“tidak apa-apa. Aku psiko hanya untukmu, babe,” Sehun terkikik. Sekali lagi, ia sangat hobby menggoda Hani. Merasanya semuanya sudah kondusif, pemuda itu lalu memakai helmnya, bersiap untuk melanjutkan perjalanan. “Kau mau naik atau tidak?”

“tidak, jalan kaki adalah pilihan yang tepat daripada di bonceng olehmu.” Seru Hani sarkatis.

“jangan bilang kau trauma.”

“jika yang memegang kemudi adalah dirimu, aku trauma.” Hani lalu memutar bola mata jengah. Sehun mendesah berat, “kali ini aku berjanji akan pelan-pelan.”

“tidak mungkin, aku bisa melihat kebohongan dimatamu. Wajamu penuh dengan dusta.” Kata Hani sok puitis.

Sehun menghembuskan napas gusar, lagi dan lagi. Jika ia tidak mengalah, sampai fajar tiba pun mereka akan masih berada disini. “jika aku berkendara terlalu cepat, kau bisa memukul dan meneriaku.” Tawar Sehun pada akhirnya.

Sehun memang lebih muda satu tahun dari Hani. Namun terkadang, Sehun dapat bersikap layaknya orang yang lebih tua dari gadis itu.

Hani kelihatan berpikir sejenak. Sampai kemudian dia mengangguk setuju. Sehun melajukan motornya dengan kecepatan sedang, sesuai request dari Hani. Sepanjang perjalanan pulang, keduanya bisu. Namun suatu ketika,  jantung Hani hampir melompat keluar saat Sehun mengerem tiba-tiba motornya.

Dan apa yang terjadi?

Spontanitas, tubuh Hani terdorong kedepan dan lalu menabrak keras punggung Sehun yang jangkung dan lebar.

Mendadak, Hani gugup.

Dan untuk saat ini, ia lupa fakta jika ia membenci laki-laki ini.

▲▲▲

Hani turun dari motor Sehun kemudian melewati sepanjang lobi apartemen. Pintu lift terbuka lebar dan ia segera memasukinya. Sehun tiba-tiba muncul bak hantu berteleportasi ketika pintu lift nyaris tertutup sempurna. “Teganya kau, sudah diberi tumpangan, sudah ditraktir makan, sekarang kau malah meninggalkanku.” Racau Sehun yang kini berdiri disamping Hani.

Hani bergeming, dan detik berikutnya menekan tombol lift yang akan dituju. “Tunggu! Lantai 10? Kau mau kemana? Apartemen kita dilantai 20.” Sehun memasang tampang linglung.

“Ke apartemen ibu.” Jawab Hani rendah, sembari melirik Sehun. Sehun membulatkan bibirnya dan mengangguk-angguk paham. Tak kurang dari satu menit, pintu lift lalu terbuka lebar, kemudian Hani melangkah kakinya keluar diekori oleh Sehun.

“Kau mau kemana?” Hani bertanya heran lantaran Sehun yang terus berjalan membuntutinya. “ke apartemen mertuaku, mau kemana lagi.” Balas Sehun santai.

Kedua tungkai kaki Hani terhenti. Sama halnya dengan Sehun. Hani melayangkan tatapan tidak suka untuk Sehun. Gadis itu mendecih pelan, “siapa yang menyuruhmu kesana?”

Menggeleng, “tidak ada,” balas Sehun polos.

“Kau tidak boleh kesana.” Putus Hani singkat, padat, jelas, titik.

“mengapa? Ibumu’ kan mertuaku. Mengapa aku tidak boleh mengunjungi mertua sendiri?” Sehun bertanya keheranan.

“pokoknya kubilang tidak ya tidak. Kau dengar tidak, sih?”

“Jangan-jangan ada yang kau sembunyikan dariku. Apa ibu mertua sakit? Sakit a–––“

Cklek….

“Hei, anak muda apa yang kalian lakukan disana? Kalian membuat bayiku terbangun.” Seorang pria tiba-tiba menyembul dari balik pintu.

Sehun dan Hani menatap ke sumber suara dan langsung bungkam seketika. Keduanya hampir lupa jika mereka behenti di depan pintu apertemen orang. Hani meringis ragu-ragu, kemudian tersenyum dengan canggung. “Ah, maafkan kami tuan.” Tutur Hani merasa bersalah.

Perdebatan keduanya pasti berisik sekali sehingga terdengar oleh tetangga apartemen ibunya Hani.

“Jangan pacaran dan membuat kerusuhan disini. Lebih baik, kalian pergi saja.”

Pacaran?

“i––iya,tuan. Sekali lagi kami minta maaf.” Bapak-bapak itu menghilang dari jarak pandang dan membuat Hani mendesah lega.

“apa-apaan bapak-bapak tadi. Pacaran? Yang benar saja, kami ini sudah suami istri.” Gumam Sehun tanpa dosa. “Ssstt!! tutup mulutmu, Oh Sehun. Bisakah kau tidak berisik sedetik saja?” pandangannya beralih pada Sehun, Sehun terdiam akan itu. “sudah sudah. Kau pulang ke apartemen sana.” Ujar Hani nyaris berbisik. Tangannya mendorong lemah bahu Sehun, mengusirnya.

“kubilang aku ingin menjenguk ibu mertua, kau dengar tidak, sih?” Sehun menurunkan intonasi bicaranya, menirukan kata-kata Hani beberapa menit yang lalu.

Dengusan bosan meluncur dari bibir Hani. Ia mengalah, dan dengan terpaksa membiarkan Sehun untuk ikut ke apartemen Ibunya.

____

“Ibuuuuu…..” Hani berhambur kepelukan ibunya. Memeluk wanita itu erat seolah-olah ini kali pertama bertemu setelah berpisah bertahun-tahun.

Go Hyesun melepas pelukan anaknya. Membuat sang gadis cemberut manja. Ia kini beralih pada Sehun, “Eh, ada nak Sehun.” Sehun lalu membungkuk empat puluh lima derajat sambil memamerkan senyum manis. “Halo, apa kabar Ibu!” Sehun memberi salam.

ini pertama kalinya bagi Sehun menginjakkan kaki di apartemen ibu mertuanya. Jika dideskripsikan, apartemen ini berukuran lebih kecil dari miliknya. Namun akan terasa cukup bagi ibu Hani yang tinggal seorang diri. Dindingnya di dominasi warna-warna kalem seperti abu-abu dan krem.

“ayo! Silakan duduk.”

“Hani membawakan makanan untukmu, Bu. Mau dimakan sekarang atau––“

“ibu sudah kenyang Hani. Kau taruh saja dimeja makan, nanti akan Ibu urus.” Hani mengangguk, lantas melesat ke meja makan.

Nyonya Go melempar pandang pada Sehun. wanita 40 tahun itu tersenyum lembut. Sehun balas tersenyum. Tiba-tiba, wanita itu nampak baru teringat sesuatu, “Hani, bisakah kau ambilkan minuman didalam kulkas?” titahnya setengah berteriak.

“tidak perlu repot-repot, Bu.” Ujar Sehun sungkan.

“ah, tidak apa-apa. Sepertinya kalian habis pulang sekolah, benar?”

Mengangguk, “eh, benar,” Sehun mengulas senyum tipis. Sesekali ia melirik keberadan Hani yang kini tengah berjalan kerahnya. Gadis itu meletakkan minuman diatas meja lalu berlalu pergi dengan wajah kesal untuk menonton tv. Sebenarnya niat Hani kesini untuk sekedar mencurahkan perasaan, dan keluh kesal pada sang Ibu beberapa hari terakhir. Berhubung besok adalah hari minggu. Namun, mengingat adanya kehadiran seseorang tak diundang disini, rencana Hani gagal.

Sehun dan Ibu Hani terlarut dalam berbagai perbincangan bahkan hingga larut malam. Sementara itu, Hani sudah terlelap dengan kondisi televisi yang masih menyala. Berikut adalah beberapa dialog antara mertua dan menantu.

Mertua : hani itu anaknya sedikit keras kepala. Jadi kuharap kau bisa memakluminya.

Menantu : aku sudah paham dengan sikapnya itu. Ngomong-omong Ibu, Kau dan Ayah sudah ehmmm…berpisah?

Mertua : Ya begitulah. Rumah tangga kami sudah tidak bisa dipertahankan sejak Hani berusia 10 tahun. Dan hal itu membuat Hani sedikit drepesi. Kau tahu dua hal yang paling dibenci Hani?

Menantu : Apa itu?

Mertua : sebenarnya aku tahu jika aku sudah melanggar privasinya dengan membaca buku diary-nya waktu itu. Tapi, disana tertulis bahwa dia membenci sesuatu atau tempat yang kotor. Hani menyukai kebersihan, kerapian, dan ketertiban. Aku sudah melihat itu sejak ia kecil karena ia suka membantuku membersihkan rumah.

Menantu : lalu, apa yang kedua?

Mertua : aku tidak mengerti ia menulis itu secara sadar atau tidak. Tapi jujur, yang kedua itu membuatku sedikit terkejut. Hani, Hani menuliskan bahwa ia membenci laki-laki. Bahkan, ia sampai bersumpah untuk tidak akan menikah seumur hidupnya. Ada dua nama yang ia tulis dengan menggunakan pena berwarna merah kemudian menyilangnya.

Menantu : bersumpah untuk tidak menikah? Lalu, kenapa dia menerima tawaran kedua orang tuaku untuk menikah denganku? Padahal kami masih muda.

Mertua : itulah teka-teki yang belum kuketahui hingga kini, nak Sehun. aku merasa Hani menyembunyikan sesuatu kepadaku. Aku ingin tahu, namun disisi lain aku tidak ingin memaksanya untuk bercerita.

Menantu : Ibu, kalau boleh tahu dua nama itu siapa?

Mertua : eumm jujur, aku berat mengatakan ini. Tapi mereka………………………ayah dan kekasih Hani.

.

.

.

TBC..... Sorry for typo, and long update. Aku tahu ini pendek, dan mungkin chap-chap depan juga demikian.
Kuota limit and i don’t have time enough to post it.

Once again, sorry for long update. *bow.

Dobleel

97 responses to “B U L L [Chap.4] –– Both

  1. Ddduhh liat hani ma sehun senyum” sendiri mereka lucu bgt berantemnya apalgi hani hahaha, menantu yg baik lahh sehun mw ngejenguk mertua, next chap-nya ditunggu HWAITING!!!

  2. mantannya hani siapa? sehun menantu yg keren deh. sampe larut malam gitu masih betah ngerumpi ama mertua XD 😀

    • Wkwkwk gemes liat tingkah mereka berdua ada aja yg d ributin
      Penasaran sm mantan pacarnya hani
      Siapa y kira2 ?
      Critanya makin seru
      Next d tunggu
      Figthing^^

  3. ceritanya seru thor, makin menarik tapi masih ada beberapa typo, dan lebih diperhatikan penggunaan bahasanya thor.

    Hani sama Sehun kapan akurnya –“

  4. Wkwwk gemesh ngeliat sehun-hani ga akur akur😁
    Penasarah banget deh mantan nya hani itu siapa sampe sampe dia kayak depresi gt.-.
    Ditunggu yaa kelanjutannya.. Semangat buat rl nya heheh^^

  5. Semoga aja sehun bisa ngobatin traumanya hani sama laki laki.. siapa sih mantan kekasihnya hani sampe hani bener bener trauma gitu sama laki laki?? Next chap ditunggu ^^

  6. lama ta berjumpa kaa. dan chap ini pendek tapi ta apalah setidaknya ini masih bisa berlanjut.
    ampun deh hun tuh tanggu jawab hani sampe muntah2 gitu.. eh ngomong2 hun kenapa bisa ada di sekolah?? apa itu bocah sengaja jemput hani kah?? hohoho..
    couple ini emang ga dimana2 kerjaannya debat mulu ga nyadar sampe ganggu tetangga -.-
    nama kekasihnya?? siapa kah? ahhh penasaran kelanjutannya. di tunggu kelanjutannya. good luck 🙂

  7. ceritanya makin seru kak.. cuma kalo menurut aku chapter ini alurnya kecepetan.. trus ada beberapa kata yg seharusnya ada tapi malah nggak ada, dan typo juga hhehe..

    semoga chapter depan lebih baik lagi kak.. fighting !!

  8. Sehun kayanya mulai suka sama Hani, masa lalunya Hani kasian banget..
    Orangtuanya divorce makanya dia trauma..
    Tapi apa alasannya Hani mau nikah sama Sehun?? Ditunggu next chapternya ^^

  9. Emgnya knp sm kekasih hani? Kesian bgt hani..
    Knp jg hani benci laki2 tpi mau nikah sm sehun?
    Dtunggu next chapnya

  10. wahh suka nih hihihi 😀
    tapi ketinggalan cerita soalnya baru baca dari part 3 , jadi baru tau Hani-Sehun udah nikah. Sehun kenapa punya pacar?
    daripada bimgung, ijin baca part 1-2 uah author 😉

  11. Weh, pasangan ini-_- kocaknya gg ketulungan..
    Wah jdi pingin tau peristiwa dibalik kebencian Hani sama laki-laki..

  12. Boleh aku berpendapat? Itu dialog antara mertua dan menantu kayaknya lebih enak kalo di buat kaya dialog” seperti biasa deh kak, soalnya kalo modelannya kaya gtu kesannya jadi aneh dan nggk begitu menarik(menurut aku sih). Oke, untuk chapter berikutnya semangat nulisnya.

    #semangat

  13. Jadi ceritanya hani itu trauma sama cowo? Apalagi cowo yang playboy? Makanya dia kaya gitu sama sehin, tapi kaya nya hani udah mulai degdegan kalo sehun bersikap baik sama dia. Ditunggu chap selanjutnya ya kak, kalo bisa jangan kelamaan post nya ya hehehe annyeong! Fighting! 🙂

  14. Ini lanjutannya mana?:( kereeennn sehun hani berantemnya lucu banget. Semoga hani ngga benci sehun ya:) next please next

  15. Nunggu lanjutan cerita ini,, ampek lupa ama jalan ceritanya.. Apakah nggak ada lanjutannya??..

    hiks hiks hiks.. padahal kangen bgt ama ceritanya..

    huwweeeee..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s