노래의 추억 – Angelina Triaf

gui

Angelina Triaf ©2016 Present

노래

(Lagu Kenangan)

Wen Junhui, Hong Jisoo/Joshua (Seventeen) & Park Cheonsa (OC) | Fluff, Family | G | Ficlet

“24/7 from Monday to Sunday night.”

0o0

Angin musim panas di malam hari, mungkin bagi sebagian orang tak ada hal berarti yang dirasanya. Namun bagi Cheonsa, musim panas ialah saat di mana ia bisa melihat Jisoo yang duduk tenang di balkon kamarnya sembari memainkan lantunan lagu yang sudah Cheonsa hafal di luar kepala.

Memang, kenangan adalah sebuah pilinan memori yang melekat dalam diri manusia, menunggu untuk hadir dan membuatnya tersenyum atau bahkan menangis tanpa sebab. Kenangan, seperti apa bentuk dan wujudnya pun masih samar oleh awam, tetapi kehadirannya yang terlampau nyata benar-benar menusuk kalbu kala mengingatnya.

Telinganya masih menangkap petikan gitar yang indah itu. Jika sudah seperti ini Cheonsa memang tak akan berani mengganggu Jisoo―ia percaya jika Jisoo butuh waktu untuk sendiri. Jadilah Cheonsa hanya duduk di pintu balkon kamarnya yang tepat bersebelahan dengan Jisoo. Angin malam membuatnya dapat mendengar dengan jelas kesedihan di dalam romansa lagu itu.

Jisoo tengah merindu, dan musim panas membuatnya menjadi lebih melankolis dari biasanya. Sejujurnya, di balik tingkah menyebalkan Cheonsa, gadis itu menyimpan perasaan sayang yang amat pada Jisoo. Cheonsa terlalu takut melihat kesedihan Jisoo dan sebisa mungkin meredam tangisnya sendiri. Cheonsa menangis? Benar, karena kesedihan Jisoo ialah kesedihannya juga.

“Sayang?”

Cheonsa menolehkan kepalanya perlahan, mendapati Jun yang berjalan ke arahnya dengan wajah mengantuk. Sebenarnya tadi sore Jun datang dan mereka memutuskan untuk menonton film. Hingga mereka berdua terlelap di depan televisi, dan Cheonsa entah mengapa terbangun saat mendengar petikan pertama gitar milik sepupunya.

Menangis seorang diri dalam kesedihan orang lain, Cheonsa biasanya tak pernah seperti ini. Bahkan tidak dengan kesedihan orangtuanya juga kesedihan kekasihnya sekalipun. Jisoo berbeda, ada sesuatu yang membuatnya entah mengapa sangat menyayangi kakak sepupunya.

“Kau menangis?”

Merasa panggilan pertamanya tidak dijawab, Jun langsung mengambil duduk di samping Cheonsa, hanya untuk mendapati gadisnya yang menangis dalam diam. Seperti cerita putri di negeri dongeng, Cheonsa hanya terdiam dengan air mata yang mengalir begitu saja di pipinya. Jun takjub dibuatnya. Bukankah Cheonsa ini termasuk gadis cerewet yang anti dengan air mata?

Namun tanpa Jun duga, Cheonsa langsung memeluknya. Dengan hening yang menyelimuti, Jun semakin bingung dengan keadaan. Apakah dirinya berbuat kesalahan? Kenapa Cheonsa menangis seperti ini?

Segala pertanyaan terus berputar dalam benaknya sampai ia menyadari bahwa bukan hanya hening yang menemani mereka. Suara petikan gitar dari balkon sebelah menarik atensi Jun.

“Jisoo Hyung?” gumamnya pada diri sendiri.

Masih sambil memeluk Cheonsa untuk menenangkannya, Jun memfokuskan matanya ke samping, mendapati Jisoo yang masih duduk dengan gitar yang ia mainkan. Lagu ini, sepertinya Jun agak tak asing dengan melodinya. Jisoo tidak menyanyi, hanya memaikan melodi yang menurutnya memiliki sense romansa yang tinggi namun terselip lara di dalamnya.

“Green Peas?”

“Kau tahu lagu ini?”

Ternyata gumaman Jun terdengar oleh Cheonsa. Mata mereka bertemu, mencipta keheningan lain bagi keduanya. Wajah bantal Jun bahkan Cheonsa abaikan―mengingat biasanya Cheonsa akan langsung tertawa begitu melihatnya. Hanya ada tatapan yang saling bicara, antara Jun dan Cheonsa.

“Jadi, sudah tiga tahun, ya?”

Jun menatap Cheonsa, meminta pembenaran dari apa yang diucapkannya. Hanya anggukan kecil sebagai jawabannya, seiring dengan air mata selanjutnya yang menuruni pipi gadis itu. “Seharian ini Jisoo Oppa pergi, mungkin ia baru pulang tadi malam saat kita tertidur dan tahu-tahu sudah duduk di balkon dengan gitarnya.”

Mendengar itu membuat Jun mengangguk paham. Jemarinya mengusap rambut Cheonsa, dan ia masih membiarkan gadis itu memeluknya. Mungkin Cheonsa hanya kasihan melihat Jisoo yang seperti itu.

“Jisoo Hyung pernah mengajarkanku lagu itu. Sebenarnya hanya lagu cinta biasa, tetapi mungkin kenanganlah yang membuat lagu itu terasa spesial baginya.” Bagi mereka, sambung Jun dalam hati.

Melodi masih tak bergeming, bermain dengan semilir angin malam yang semakin jelas terasa. Jun menoleh ke arah jam dinding, pukul dua dini hari dan suara dari balkon sebelah masih saja menemani mereka. Apakah Jisoo tidak lelah?

“Cheon, lebih baik kau ke kamar sebelah dan bilang pada Jisoo Hyung untuk tidur,” ujar Jun, masih sembari mengusap rambut Cheonsa, tak lupa menghapus jejak air mata di pipi gadisnya. Saat-saat seperti ini memang selalu membuat Jun kembali menyadari bahwa Cheonsa tetaplah anak perempuan yang bisa menangis seperti bayi.

Gadis itu mengangguk lalu berdiri, meninggalkan Jun yang masih bergelung dengan langit malam. Lagu itu sedikit banyak menyentuh hatinya, apalagi mengingat apa yang dialami Jisoo―jika saja ia perempuan mungkin Jun akan dengan senang hati menangis seperti Cheonsa kala mendengar lagu ini. Kesedihan menyelimutinya, dan itu sangat terasa di tiap petikan gitarnya.

Orang yang merindu memang menyeramkan.

“Jisoo Oppa?”

Cheonsa membuka pintu yang tidak terkunci, berjalan pelan menghampiri Jisoo yang terpaku oleh dinginnya malam. Tak ada pergerakan darinya, hanya suara petikan gitar yang mendominasi atmosfer di antara mereka. Hingga Cheonsa tepat duduk di sampingnya, barulah Jisoo menyadari keberadaan orang selain dirinya.

Jisoo mengakhiri petikan gitarnya dengan sempurna, setelahnya menoleh pada Cheonsa dan tersenyum kecil. “Cheon? Belum tidur?”

“Harusnya aku yang bertanya seperti itu,” jawab Cheonsa, agak kesal. “Oppa menghilang seharian dan tahu-tahu bermain gitar sampai malam. Apa Oppa sudah makan? Tak tahukah Oppa kalau aku khawatir?”

“Ya ampun, bayi ini benar-benar mengkhawatirkanku―”

“Jisoo Oppa!”

Cheonsa hampir menangis lagi, namun gadis ini sadar jika semua itu hanyalah sia-sia. Bahkan Jisoo pun seperti tak memedulikan dirinya sendiri. Berbanding terbalik dengan Cheonsa yang emosi dengan wajah memerah menahan dingin, Jisoo justru tersenyum kecil melihat wajah adik sepupunya ini. Ia menaruh gitarnya di kursi sebelah dan berlutut di hadapan Cheonsa, menggenggam tangannya yang tak luput dari dingin.

“Aku ke makam Yui hari ini, dan mungkin menjadi sedikit lupa waktu, hehe.”

Walaupun Jisoo tersenyum, namun yang Cheonsa lihat justru kesedihan mendalam di matanya. Jisoo memang selalu memainkan hati gadis-gadis lain, tapi itu mungkin karena Jisoo terlalu merindukan sosok gadisnya yang hilang selama ini. Jisoo masih dalam tahap pencarian cinta yang selalu berakhir nol besar.

“Aku hanya merindukannya, maaf membuatmu khawatir.” Jisoo mengusap jemari Cheonsa, lagi-lagi menunjukkan senyum menenangkan yang sebenarnya gagal di mata sepupu cantiknya.

Gadis itu terdiam, bingung ingin bicara apa. Ia memang tahu jika tak seharusnya dirinya mencampuri urusan Jisoo. Tapi mau bagaimana lagi? Jisoo yang membuatnya harus melakukan ini atau sampai pagi nanti Jisoo akan tetap duduk di balkon menemani dinginnya malam. Cheonsa masih cukup waras untuk tak membiarkan hal itu terjadi.

Membunuh hening, Cheonsa akhirnya tersenyum dengan tawa kecilnya. Masih dengan Jisoo yang berlutut di hadapannya, gadis itu mencium pipinya lalu berdiri, membuat Jisoo ikut berdiri di hadapannya. “Ya sudah, yang penting sekarang Oppa tidur. Bahkan Jun mengkhawatirkanmu,” ucapnya, diakhiri dengan kekehan kecil.

Cheonsa melepaskan genggaman tangan Jisoo dan meninggalkan pemuda itu kembali sendirian. Tak lama, sampai Jisoo memandang balkon sebelah dan mendapati Cheonsa yang tengah memeluk Jun, menyuruh pemuda itu masuk ke kamar.

Senyum perlahan menghiasi wajahnya. Jisoo mengambil gitar kesayangannya dan masuk ke kamar setelah menutup rapat pintu kaca itu. Ternyata hidupnya tidak seburuk itu. Berterimakasihlah ia pada ibunya yang memaksanya untuk tinggal di Korea dan bertemu dengan Cheonsa. Gadis itu menebarkan banyak cinta untuk orang-orang di sekitarnya, memberikan Jisoo sebuah energi positif untuk terus menjalani hidup dengan ukiran senyum tiap detiknya.

24/7 from Monday to Sunday night.

 

Seperti lagu yang dimainkannya, Jisoo bertekad akan selalu tersenyum. Setiap hari, hingga tak ada lagi kesedihan yang mampu menelannya di kemudian hari. Yap, karena Jisoo beruntung bertemu dengan seorang malaikat manis dalam kehidupannya.

FIN

*Green Peas itu merupakan salah satu lagu dari SS501, boygroup Korea jamannya Super Junior gitu, hehe. Kalo yang ga tau grupnya pasti seenggaknya kalian tau Kim Hyunjoong yang main di BFF jadi Jihoo, nah ini grupnya dia, beberapa lagunya juga dijadiin ost BBF. And I miss them so much u.u Green Peas ini lagu khusus buat fansnya mereka; TripleS, sesuai warna fandomnya hijau kacang polong wkwk. Ini kenapa jadi curhat ya? Iya soalnya angel kangen banget sama mereka, dan lagu-lagu mereka both Japan dan Korea itu enak semuaa, hihi ga nyesel dengerinnya. But kenapa castnya para jejaka Seventeen macem Jisoo sama Jun plus bocah nyusahin kayak Cheonsa? Ga tau deh, hehe lucu aja kalo mereka yang jadi cast xD Happy reading^^

4 responses to “노래의 추억 – Angelina Triaf

  1. Ciee… First comment ya kak? /enggak deh…😒 /
    Jadi kebuka deh, alasan jisoo jadi playboy itu kaya gimana…
    Aku suka cerita ini, suasana angst-sad nya kerasa banget… Dan suka pas bagian cheonsa nyium jisoo, aku malah nggak merasa kalo mereka itu sepupuan, malah aku dapet feel mereka tuh kaya pacaran hahaha /dasar cousin complex/
    Btw, ditunggu ff jisoo with silly baby nya yang lain yaa…
    Oh ya, cepet sembuh ya kak, kalo udah dapet obat, diminum ya kak… See ya kak ^-^

  2. hai hai Angel,,kisah jisoo dan kesedihanya,,krasa bnget ke hati,,bukan cm cheonsa dan Jun,,aku aj seakan ikut sedih klo dh ngomongin perpisahan dng org yg disayang,,,okelah moga aj jisoo dapat pengganti Yui,yg bisa bikin hati nya berdegup kencang,,,krn bahagia!!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s