Strange Feeling (Chapter 7)

Strange Feeling

Poster By Zesavanna @ saykoreanfanfiction.wordpress.com

Title : STRANGE FEELING

Author : Kiranti23

Cast  : Kim Jong In (EXO), Song Da Na (OC), Oh Sehun (EXO), Lee Jae Hee (OC),

Genre                   : Romance

Rating                   : General

Length                  : Chapter

Disclaimer           : The whole of story is originally made by me dan dengan sisa – sisa imajinasi yang ada

voila~~ jadilah FF ini, maaf banget kalo jalan ceritanya kependekan atau ngaco. Big thanks and hugs for the SKF artworker Zesavanna for make this beautiful poster, thanks juga buat seluruh admin yang masih menjadikan aku Author tetap meskipun bayangannya jarang terlihat. I’ll try and working hard, so enjoy the Fan Fiction!!

Chapter 1 || Chapter 2 || Chapter 3 || Chapter 4 || Chapter 5 || Chapter 6

Jongin mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, sementara Da Na yang berada disebelahnya terus mencengkram tangannya karena terlalu khawatir dengan keadaan Imonya. Jongin yang merasakan ke khawatiran yang sama meraih sebelah tangan Da Na dan menenangkannya sementara Da Na hanya bisa tersenyum dan membalas cengkraman Jongin.

Setibanya dirumah sakit, Jongin dan Da Na menuju ruang perawatan. Saat ini Imonya sudah ditangani oleh dokter dan sekarang keadaannya sudah stabil. Wanita yang biasa dipanggil Da Na dengan sebutan Imo itu memiliki penyakit ginjal yang mengharuskannya untuk menjalani cuci darah dua kali dalam seminggu. Namun, hari ini entah mengapa tubuhnya drop saat menjalani proses pencucian darah.

“eomma” Da Na langsung menghampiri ibunya yang tengah duduk disebuah kursi panjang dilorong rumah sakit.

“Imo sudah tidak apa- apa, dia hanya sedikit menggigil dan pandangannya gelap tadi karena tekanan darah yang turun drastis”.

“arraseo, aku akan menjenguknya” Da Na melangkah masuk kedalam bilik rumah sakit itu, Jongin yang masih menemani Da Na juga ikut mendampingin Da Na masuk kedalam.

Dengan hati – hati Da Na mendekati ranjang tempat tidur Imonya. Senyumnya mengembang saat mengetahui Imonya tengah pulas tertidur, sementara Jongin tiba- tiba saja membeku ditempatnya. Matanya membelalak saat mengetahui siapa yang tengah berbaring diatas tempat tidur itu.

“eomma…” gumam Jongin, cengkraman tangannya mengeras dan membuat Da Na merasakan kesakitan. Jongin langsung saja melepas pegangannya pada Da Na dan berlari keluar dari ruangan. Da Na yang bingung dengan sikap Jongin, juga ikut mengejar Jongin.

Da Na tiba pada sebuah taman dirumah sakit itu, kakinya melangkah mendekat pada sesosok pria yang saat ini terlihat sangat rapuh. Kim Jongin tidak kuasa menahan tangisnya saat mengetahui jika ibu yang selama ini dicarinya ternyata terserang penyakit yang serius. Da Na duduk dengan hati- hati di sebelah Jongin, mengusapkan tangannya pada bahu Jongin lembut.

“dia… dia… ibu ku Da Na-a” ujar Jongin terbata- bata karena tangisnya. Da Na yang tidak tahan untuk tidak memeluk Jongin pun melingkarkan tangannya pada pinggang Jongin dan membawa kepalanya menyandar pada bahunya.

-o-

Da Na mengantar Jongin sampai pada hotel tempatnya menginap selama ini. Hari sudah larut dan Da Na juga tidak tega harus meninggalkan Jongin dengan keadaan yang seperti ini, sendirian. Jadi sesampainya dihotel Da Na mendudukan Jongin pada sebuah sofa panjang yang ada diruang tamu ruangan itu, Da Na menuangkan segelas air putih yang memang sudah disiapkan disana.

“Minumlah Jong, kau pasti kelelahan” Da Na menyodorkan segelas air putih itu dan langsung disambut oleh tangan Jongin. Tidak seberapa lama, air putih itu sudah tandas separuh. Jongin tiba- tiba saja memeluk Da Na lagi lebih erat dari sebelumnya, menyandarkan kepalanya pada bahu Da Na seolah meminta sandaran.

“kenapa? Kenapa aku bertemu dengan eomma disaat kondisinya seperti ini Da Na-a?” kata Jongin lemah.

“ibumu orang yang kuat Jongin-a, aku sudah mengenalnya bertahun- tahun” kata Da Na memberikan penyemangat, tangannya membelai kepala Jongin sayang.

“apa kau tahu sejak kapan ibuku terkena gagal ginjal?” Tanya Jongin masih bersandar dibahu Da Na.

“eum… sudah sekitar… satu tahun” jawab Da Na, Jongin hanya mengangguk mengerti.

“aku… aku… ingin meminta permintaan keduaku” lanjut Da Na.

“mwo?”.

“umm… aku ingin selama Imo dirumah sakit, kau yang bertugas menjaganya!”.

“mwo?” Jongin membelalakan matanya. “Maldo andwae, bagaimana bisa aku melakukannya Na-a? apa yang harus aku katakan jika dia menanyakan identitasku?”.

“tentu saja kau harus memperkenalkan diri sebagai anaknya Kim Jongin!” ujar Da Na gemas, sementara Jongin semakin menundukan kepalanya. Bukan hal sulit baginya memang untuk memperkenalkan diri sebagai anaknya tapi, yang Jongin takutkan adalah apakah ibunya akan langsung menerimanya atau tidak.

“Ya! Bukankah memang ini yang selama ini kau inginkan? Kau sudah menemukan ibumu Jong, jadi apa sekarang kau hanya akan melihatnya dari jauh? Ibumu bahkan sedang sakit sekarang, cobalah pikirkan itu Kim Jongin” Jongin tampak menimbang- nimbang apa yang diucapkan oleh Da Na. Memang benar inilah yang selama ini dia cari.

“aku akan memikirkannya”.

“bagus, sekarang aku akan pulang, kau istirahatlah” Da Na baru saja akan bangkit dari duduknya saat Jongin tiba- tiba saja mencekal lengannya.

“kau bisa menginap disini, ini sudah terlalu larut” Da Na mengernyitkan dahinya. “ya! Jangan berfikiran yang aneh- aneh, kau bisa tidur dikamarku, aku akan tidur disofa”.

Setelah melewati perdebatan panjang, Da Na akhirnya mengalah dan memutuskan menginap. Da Na tidak lupa mengabarkan ibunya jika dia menginap dirumah teman semasa SMA nya. Suatu kebohongan yang sangat jarang dia lakukan kepada ibunya. Da Na menarik selimutnya sebatas dada, matanya menerawang berharap besok semuanya berjalan lancar.

-o-

Da Na terbangun dari tidurnya, namun dahinya berkedut saat merasakan deruan nafas hangat dibelakang lehernya dan suara dengkuran halus. Da Na mencoba membalikan badannya dan apa yang dilihatnya benar- benar membuatnya menahan nafas. Wajah polos Kim Jongin yang tengah tertidur pulas berada  tepat dihadapannya. Da Na hanya terpaku melihat wajah polos itu, satu sisi dia berfikir apa yang Jongin makan hingga bisa membuatnya menjadi si sialan yang tampan bahkan saat sedang tidur.

enough staring miss Song?” ujar Jongin tanpa membuka matanya, membuat Da Na salah tingkah. Ingin rasanya Da Na melempar wajahnya yang memanas ini keluar dari jendela yang berada dibelakangnya. Saat ini wajahnya pasti sudah merah.

are you blushing again?” Jongin dengan kurang ajarnya menyentuhkan tangannya pada pipi Da Na dengan lembut tanpa memikirkan kesehatan jantung Da Na yang saat ini memompa kelewat cepat.

Da Na yang segera menyadarkan diri, langsung menepis tangannya Jongin kasar. Bahkan sekarang Da Na sudah berani menatap mata Jongin dengan tatapan membunuh yang tentu saja dibuat- buat.

“apa yang kau lakukan disini? Bukankah semalam kau bilang akan tidur disofa?”.

“tak ku sangka kau memang berotak mesum tuam Kim!” cerca Da Na semakin menatap mata Jongin. Sementara Jongin hanya membalas Da Na dengan tatapan tidak peduli, bahkan sekarang Jongin berani mendekatkan wajahnya kearah Da Na dan membuat Da Na mundur perlahan.

BRUK

Kejadian selanjutnya benar- benar membuat Da Na harus membuang wajahnya jauh- jauh.

Flashback on

Jongin masih belum memejamkan matanya, otaknya masih diselimuti banyak pikiran. Apalagi kalau bukan masalah pertemuan dengan ibunya besok. Ck, Da Na memang sangat pemaksa, dan Jongin tidak bisa menolak semua itu, entahlah, mungkin tumbuh sebuah hormon aneh dalam dirinya yang akan membuatnya patuh pada apapun permintaan Da Na. Tapi, Jongin sadar biar bagaimanapun Da Na menginginkan yang terbaik bagi Jongin.

Ngomong- ngomong apakah Da Na sudah tidur? Jongin bangkit dari sofa yang ditidurinya dan berjalan menuju kamar tidurnya yang letaknya bersebelahan dengan tempatnya tadi. Dengan perlahan Jongin membuka pintu kamar itu, takut derit pintu membangunkan Da Na. Jongin berjalan hati- hati mendekati ranjang dan apa yang dilihatnnya benar- benar membuatnya tak kuasa mengulas senyum dibibirnya. Song Da Na yang sering kali berdebat dan menunjukan raut wajah kesal saat ini tengah tertidur pulas. Tidak ada kerutan didahi yang selalu di perlihatkannya saat tengah berdebat dengan Jongin, yang ada hanya wajah polos dan tenang.

Jongin berjongkok, mensejajarkan wajahnya dengan wajah Da Na yang tertidur pulas. Meletakkan jari- jari panjangnya pada pipi Da Na yang akan merona jika dia menggodanya. Pemandangan yang begitu menawan bagi Jongin. Ponsel Da Na bergetar tanda ada pesan yang masuk. Jongin berjalan menuju sisi ranjang yang satunya untuk meraih ponsel Da Na. Terdapat satu pesan disana, dari ibunya.

 

 

From : Eomma

Arraseo, jaga saja dia, Jongin pasti sangat terkejut saat ini.

Jongin menggeser layar pesan itu keatas untuk melihat pesan sebelumnya, Jongin mengulas senyum saat membacanya.

To : Eomma

Eomma… kau ingat cerita masa lalu Kim Imo tentang anaknya? Hari ini, mereka bertemu. Kim Jongin. Dia adalah anak dari Imo, Eomma. Eottokae? Dia sangat terkejut sekali tadi, aku mengkhawatirkannya. Aku berada ditempatnya malam ini, bolehkah aku menemaninya malam ini? Aku sungguh mengkhawatirkannya eomma.

Setelah membaca isi pesan itu, Jongin menatap kearah Da Na yang tengah tertidur. Merapatkan selimut yang Da Na gunakan lalu ikut berbaring di sampingnya. Wajah damai Da Na memberi ketenangnan tersendiri untuk Jongin dan tak beberapa lama setelahnya Jongin tertidur di samping Da Na.

Flashback off

-o-

Da Na dan Jongin tengah memakan sarapannya diruang tamu kamar hotel yang Jongin tempati. Mereka sudah siap untuk memulai kegiatannya masing- masing. Da  Na dengan meminjam kemeja kebesaran milik Kim Jongin akan kembali ke sekolah untuk melanjutkan penelitiannya. Sementara Jongin harus kembali bekerja menangani proyek yang sedang berjalan. Siangnya mereka akan kembali mengunjungi Kim Imo.

Sarapan pagi itu berjalan seperti biasa tidak ada makian atau perdebatan yang dikeluarkan dari mulut mereka berdua. Tentu saja itu bisa terjadi karena mereka sudah terlanjur kelelahan karena harus bertengkar sesaat setelah mereka bangun tidur tadi.

“Ya Kim Jongin, jangan lupa, siang ini kau harus datang ke rumah sakit” kata Da Na mengingatkan.

Jongin meletakan garpu dan pisaunya, lalu mendesah berat, “arraseo, tapi apa kita tidak bisa menundanya sampai minggu depan?”.

“minggu depan? Tidak usah saja sekalian, kau ingin menhindarinya sampai kapan?” protes Da Na.

“aku… aku hanya tidak siap Da Na-a” Jongin menundukan wajahnya merasa kali ini dirinya benar- benar tidak berguna. Kobaran semangat didirinya seolah- olah meluap, padahal dulu Kim Jongin sangat bersemangat sekali untuk mencari keberadaan ibunya.

“Ck, sesukamulah, aku hanya ingin membantumu mempercepat mimpi untuk bertemu dengan ibumu terwujud. Tidak, bukan hanya bertemu tapi bersatu” Da Na juga ikut mendesah, seakan merasakan betapa berat perasaan Jongin. “lebih baik kau hubungi noonamu terlebih dahulu, katakan kau sudah menemukan ibumu. Ku rasa noonamu bisa membantumu dengan masalah ini”.

-o-

“MWO? JINJJA?? KAU SUDAH MENEMUKANNYA?” suara Jian yang biasanya terdengar lembut, sekarang menggema keras hampir keseluruh penjuru perpustakaan. Dia sedang berada di dalam perpustakaan pribadinya dirumah saat Kim Jongin menelepon untuk memberitahukan kabar gembira ini.

“Arraseo, aku akan segera kesana secepatnya” Jian menutup teleponnya dan tiba- tiba saja suara mendeham pelan terdengar dari arah belakangnya. Kim Jo Hwan terlihat berdiri angkuh diambang pintu dengan satu tangannya yang dimasukkan kedalam celana.

“Apa yang kau temukan sehingga membuat wajahmu terlihat lebih senang dari biasanya Jian-a?” Tanya Jo Hwan sambil mendekat kearah kursi yang berada dihadapan Jian. “kau bahkan tidak tersenyum secerah itu dihari kelulusanmu di Columbia University dulu”.

“Ani, bukan apa- apa ayah” Jian menunduk mencoba menyembunyikan wajahnya yang gugup didepan ayahnya, karena bagaimanapun ayahnya bisa membaca dengan jelas raut kebohongan yang ada diwajah Jian.

“kau tidak pandai berbohong, Jian-a. terlebih lagi didepan ayahmu”.

“apa ini… tentang wanita itu lagi?” Jian mendongakkan kepalanya, bisa- bisanya ayahnya sendiri memanggil ibu kandungnya dengan sebutan ‘wanita itu’.

“Eoh, ya aku telah menemukan wanita itu” entah keberanian darimana, Jian menjawab perkataan ayahnya dengan lantang. “dan wanita itu yang ayah maksud adalah ibuku dan Jongin, jadi bisakah ayah memberikan sedikit rasa hormat padanya?”.

BRAK

Jo Hwan menggebrak keras meja yang ada dihadapannya, membuat Jian membeku sesaat. Dengan tatapan marah Jo Hwan bangkit dari kursinya dan berjalan kearah pintu keluar.

“bersiaplah, kau akan ayah kirim ke amerika untuk mengurus perusahaan cabang disana” katanya saat berhenti diambang pintu tanpa menoleh kearah Jian. “dan jangan pernah mengungkit masalah ibumu, dia… tidak mencintai kalian”.

“bukankah selama ini ayah tidak pernah mengurusi urusanku? Kenapa sekarang ayah menjadi mencampurinya?!” Jo Hwan tidak membalas pertanyaan Jian dan terus berjalan kea rah pintu.

“satu lagi, kau ingat Cho Kyuhyun? Dia akan kembali dari Paris, pastikan kau mengosongkan jadwalmu untuk menemaninya selama berada di Korea”.

Jian meneteskan air mata tepat saat ayahnya menyelesaikan kalimatnya. Rasanya sangat sakit sekali mendengar perkataan ayahnya itu. Jian terduduk lemas dikursinya, wajahnya ditundukan kearah lengan yang berada diatas meja dan menangis sekencang- kecangnya.

-o-

Jongin telah berada dirumah sakit. Pintu depan rumah sakit lebih tepatnya, dia hanya memandangi pintu itu sejak beberapa menit yang lalu. Da Na sudah menyuruhnya masuk keruangannya terlebih dahulu tapi, jangankan untuk masuk keruangan, Jongin bahkan takut hanya untuk memasuki kawasan rumah sakit tadi.

“O, Jongin-ssi mwohae?” suara keibuan milik Ny Song terdengar ditelinga Jongin dan membuatnya reflex untuk langsung membungkukkan badan.

“Eo, ahjumma. Ani, kemarin aku diminta Da Na untuk menemani Imo disini karena ku dengar ahjumma sedang sibuk” terangnya.

“eum.. memang aku sedang sibuk ditoko, aku kemari hanya untuk mengantarkan makanan dan melihat kondisinya saja, ayo”  Ny Song menggenggam tangan Jongin dan menuntunnya masuk kedalam rumah sakit. Mereka tidak menuju ruang rawat namun menuju sebuah ruangan lain yang lebih luas. Disana terdapan banyak mesin dan tempat tidur berjejer teratur. Ini adalah ruang Hemodialisa, tempat berlangsungnya proses pencucian darah.

Hari ini adalah jadwal Kim Imo untuk cuci darah. Dokter harus memastikan bahwa setelah dirawat kemarin hari ini Imo tidak akan drop lagi. Tinggal beberapa langkah lagi Jongin akan mendekati ranjang Kim Imo, degupan jantung Jongin bertambah cepat dan tiba- tiba saja langkahnya terhenti. Ny Song menoleh kea rah Jongin dahinya berkerut karena tiba- tiba saja langkah Jongin terhenti.

“boleh aku menunggu diluar saja ahjumma?” Ny Song tersenyum dan mengijinkan Jongin keluar menuju ruang tunggu.

Jongin terduduk lesu diruang tunggu, jantungnya sudah berdetak normal sekarang tapi rasa gugupnya tidak berkurang. Ny Song yang baru saja keluar dari ruang Hemodialisa berjalan mendekati Jongin.

“Jongin-a” sapanya sambil ikut mendudukan diri disisi Jongin. Ny Song mengulas senyum seolah mengerti kegugupan Jongin. Bukan hal yang mudah bagi Jongin yang sudah lama sekali terpisah dari ibunya untuk mengakrabkan diri. Ny Song menggenggam tangan Jongin memberikan semangat.

“tenang Jongin-a, aku tahu apa yang kau rasakan. Kau merasa gugup dan takut. Kau gugup karena setelah sekian lama kau bisa bertatap muka dengan ibu kandungmu dan takut… takut akan reaksi yang ibumu berikan. Tapi, itu hanya ada dalam pikiranmu Jongin-a” Ny Song semakin mengeratkan genggamannya. “walau bagaimanapun, dia adalah seorang ibu dan seorang ibu tidak akan pernah meninggalkan anaknya. Mulut kita bisa berbohong, tetapi tidak dengan hati. Jadi, temuilah ibumu, kau bahkan tahu kondisinya sekarang”.

Air mata sudah membendung dipelupuk mata Jongin, kata- kata yang diberikan Ny Song seolah sudah menghipnotisnya. Memberikan kekuatan agar dirinya harus berani menghadapi masalah ini apapun resikonya. Setelah menunggu Ny Kim dipindahkan keruang perawatan, Kim Jongin memutuskan untuk menemui ibunya.

Jongin berjalan menuju sebuah tirai dimana Ny Kim sedang beristirahat didalamnya. Jongin membuka tirai itu secara perlahan, jantungnya kembali berdegup kencang. Saat tirai sudah terbuka, Jongin melangkah masuk dan melihat Ny Kim tengah duduk ditengah tempat tidur sambil memperhatikan sesuatu.

Ny Kim yang sadar ada seseorang mendekatinya, memandang heran karena dia merasa tidak mengenali orang itu, “nuguseyo?” Tanyanya sopan.

Jongin masih terdiam, bingung harus menjelaskan darimana. Jongin mendeham membersihkan tenggorokannya dari kegugupan sementara Ny Kim masih menunggu jawaban.

“Jo.. Jo.. Jo neun… Jo neun Kim Jongin imnida… eomma…”

Raut wajah Ny Kim berubah seketika, “Kim.. Jongin? kau… Kim Jongin?” Tanyanya masih tidak percaya.

“Eoh, aku.. Kim Jongin… eomma” Jongin menitihkan air matanya tidak menyangka jika pengakuan itu terlontar dari mulutnya. Jongin mendekat kearah Ny Kim yang masih menatap tidak percaya.

“Kau benar Kim Jongin? Kim Jongin ku?” Jongin mengangguk, Ny Kim langsung menghambur memeluk Jongin. Mereka berdua larut dalam kebahagiaan yang tidak terhingga, sudah 20 tahun dia meninggalkan anaknya dan selama itu pula Ny Kim selalu dihadapi oleh kerinduan yang menyakitkan.

Ny Kim merenggangkan pelukannya, ingin melihat lebih jelas Kim Jongin yang sekarang sudah berubah menjadi lelaki dewasa yang tampan. Eye smile terulas dimata Ny Kim, eye smile yang indah persis seperti milik Kim Jongin. Sekarang mungkin Jongin sudah mengetahui dari mana eye smile menawannya itu diwariskan.

“maafkan eomma, Jongin-a. jeomal mianhae, seharusnya dulu, aku membawa kalian saja. Kau tahu betapa aku merindukan kalian, tapi ayahmu bahkan benar- benar membuatku kehilangan jejak kalian dengan pindah tempat tinggal” Ny Kim mencoba menjelaskan kronologi tentang menghilangnya dia dulu.

“sudahlah eomma, aku tidak ingin membahas itu. Yang terpenting aku sudah menemukanmu” Jongin kembali menghambur kedalam pelukan ibunya, dan menangis seperti anak kecil. Jongin terlalu bahagia dengan keajaiban yang terjadi sekarang. Dia merasa lebih bahagia lagi karena bisa mengalahkan rasa takutnya, andai saja Jongin lebih menuruti rasa takutnya itu, dia mungkin tidak ada disini, didalam pelukkan hangat ibunya.

-o-

Malam ini Jongin tengah duduk disebuah bangku panjang ditepi danau sebuah taman. Jongin tengah menunggu seseorang disana. Senyumnya terus saja mengembang semenjak dia meninggalkan rumah sakit. Orang yang ditunggu akhirnya datang, Da Na terengah- engah karena dia harus berlari dari rumahnya hingga kesini. Salahkan seseorang yang meneleponnya dengan suara yang menyedihkan. Siapa lagi jika bukan Kim Jongin.

“YA! Neo waegeure?” Tanya Da Na sesampainya ditempat itu, dia bahkan belum sempat bernafas dengan benar.

Jongin tidak menjawab pertanyaan Da Na tapi Jongin langsung memeluk Da Na membuat sesak didada Da Na bertambah akibat pelukan Jongin yang terlalu erat.

“uhuk.. uhuk… Ya bisa longgarkan pelukkanmu sedikit? Aku.. tidak bisa bernafas Kim Jongin” Da Na sedikit meronta didalam pelukkan Jongin. Jongin langsung tersadar dan melepaskan pelukannya dan membuat Da Na bernafas lega.

“eissh, babo! Kau ingin membunuhku?” protes Da Na, Jongin yang tadinya tersenyum bahagia perlahan memudar. “bercandamu sama sekali tidak lucu Kim Jongin, kau tahu betapa aku mengkhawatirkanmu? Mendengarmu dengan suara yang amat menyedihkan seperti seseorang yang ingin bunuh diri. Aku bahkan sampai melupakan kalau Negara kita memiliki transportasi darat yang memadai, hingga aku berlari dari rumah sampai sini. Tapi, sekarang kau malah tersenyum konyol dihadapanku?”.

“Da Na-a…” lirih Jongin, dia tidak tahu jika dirinya seburuk itu dimata Da Na. Jongin menundukkan wajahnya merasa bersalah. Ini pertama kalinya Da Na melihat Jongin seperti ini. Da Na hampir saja melupakan aktingnya dan ingin tertawa terbahak dihadapan Jongin. Ya, Da Na memang sengaja ingin mengerjai Jongin. Memang benar Da Na sangat khawatir saat mendengar suara sedih Jongin tadi, dan merasa kesal karena ternyata Da Na hanya menjadi korban keusilan Jongin. tapi, tidak mungkin Da Na semarah itu pada Jongin. Rasa bahagia telah menyelimutinya saat ini, setelah mendengar dari ibunya kalau Jongin sudah menemui ibu kandungnya.

Da Na memeluk Jongin hangat, sementara yang dipeluk hanya bisa terdiam tidak mengerti, “eishh, dasar babo, kau itu seorang direktur tapi kau mudah sekali ditipu oleh tipuan macam itu? Aku jadi khawatir dengan karyawanmu”.

Jongin tersadar dan melepaskan pelukan Da Na, “kau mengerjaiku?”.

“bisa dibilang seperti itu” jawab Da Na enteng, hingga membuat Jongin menyipitkan matanya merasa dibohongi. Jongin menarik Da Na dan mendaratkan bibirnya di bibir Da Na, mencium Da Na tanpa memperdulikan Da Na yang saat ini sudah membelalakan matanya karena kaget.

“Ya apa yang kau lakukan?!” cerca Da Na saat Jongin sudah melepaskan ciumannya.

“kau membohongi ku, itu hukumanmu Miss Song” Da Na berdecak menanggapi ucapan Jongin.

Jongin mengenggam tangan Da Na dan membawanya mengelilingi taman ini. Dia ingin berbagi kebahagiaannnya dengan Da Na. Kebahagiaan yang telah bertumpuk begitu banyak sampai Jongin tidak tahu lagi ingin membagikannya dengan siapa. Satu orang pertama yang terlintas diotaknya adalah wanita dihadapannya ini.

“Kau tampak senang sekali tuan Kim, senyumanmu itu bisa membuat orang berfikir kau setengah gila” sindir Da Na.

“mungkin aku memang sudah sepenuhnya gila” Jongin masih saja tersenyum sementara Da Na menghentikan langkahnya secara tiba- tiba.

“mwo? Aku tidak mau berkencan dengan orang gila jika kau ingin tahu”.

“Ck, saat ini aku tengah gila karena kebahagian yang memenuhi hatiku nona Song dan apa yang kau katakan barusan? Kencan? Jadi sekarang kau mengakuinya, kalau kita sekarang sedang berkencan?” Da Na merona malu, pipinya memerah dan salah tingkah. Da Na bahkan memukul mulutnya sendiri atas kelancangannya berbicara, sekarang mau ditaruh dimana harga dirinya? Kau memang benar- benar bodoh Song Da Na.

“O, kau merona lagi nona Song, aku tidak menyangka efekku sebesar itu padamu” goda Jongin lagi, membuat Da Na bertambah salah tingkah. “gomawo”.

Da Na mengernyit tidak mengerti, “terima kasih untuk?”.

“semuanya. Kata- katamu, tindakanmu dan… kehadiranmu disisiku nona Song” Jongin menggenggam tangan Da Na erat, menyalurkan rasa hangat melalui tangannya. “Kau sudah membantuku terlalu banyak nona Song, tidak hanya itu, kau juga mempengaruhiku terlalu banyak, bahkan sampai membuatku gila dan itu sedikit merusak harga diriku sebagai seorang pria jika kau mau tahu. Tapi, aku tetap berterima kasih untuk itu. Gomawo”.

Da Na tersenyum, merasa tersanjung dan terharu. “kau tahu, itu adalah kalimat terpanjang yang pernah ku dengar darimu”, Da Na memeluk Jongin erat, “aku tidak tahu jika aku mempengaruhimu sebanyak itu, aku bukan orang yang suka pamer karena tidak ada sesuatu dariku yang bisa aku banggakan tapi bolehkan aku membanggakan hal yang satu itu?”. Mereka berdua tertawa bersama, merasa bodoh dan bahagia secara bersamaan.

-o-

Jongin kembali kehotel tempatnya menginap, dirinya dikejutkan oleh kedatangan ayahnya yang saat ini tengah duduk dengan angkuh disalah satu sofa ruang tamu kamar itu ditemani Daehyun yang berdiri mendampinginya.

“Kau sudah kembali?” katanya, sambutan ramah sebelum badai yang akan menyusul.

“ayah” Jongin tampak gugup didepan ayahnya, entahlah sesuatu membuatnya takut.

“duduklah” Jongin duduk pada sofa yang ditunjuk oleh ayahnya tadi. “aku tidak menyangka kalau kau bisa menjalankan proyek besar itu, aku bangga padamu”. Tuan Kim mengangkat secangkir teh hangat yang ada dihadapannya dan menyesapnya perlahan. Sementara Daehyun menatap Jongin dengan tatapan kau-harus-berterima-kasih-padaku-bocah. Mengingat belakangan ini Daehyun lah yang menghandle beberapa masalah dalam proyek itu.

“aku akan mengirim Jian ke Amerika, aku menugaskan dia menghandle perusahaan disana” sontak Jongin menatap ayahnya, dia terlihat tidak main- main dengan kata- katanya barusan. Tapi, kenapa tiba- tiba ayahnya mengambil keputusan itu? Selama ini ayahnya tidak pernah ikut campur dalam urusan noona-nya itu, bahkan saat noonanya mendirikan perusahaan sendiri ayahnya tidak pernah berkomentar apa- apa. Tapi sekarang ayahnya datang dengan membawa kabar yang mengejutkan.

“walau belum ku putuskan kapan akan mengirim Jian kesana tapi, aku sudah merencanakan itu matang- matang, dan kau Kim Jongin. Ku harap penilaianku kepadamu kali ini benar, jangan buat aku kecewa” Tuan Kim kemudian beranjak dari tempat duduknya lalu melangkah menuju pintu keluar. Sementara Jongin langsung merasakan sekujur badannya lemas.

-o-

Jongin tengah terduduk lesu di meja kerjanya yang sekarang terlihat sangat berantakan, berkas- berkas anggaran dan perjanjian dengan beberapa perusahaan menumpuk dan terlihat sangat tidak menarik untuk disentuh. Daehyun masuk kedalam ruangan Jongin tanpa mengetuk terlebih dahulu seperti biasa. Matanya membelalak nyaris lepas dari tempatnya saat mengetahui apa yang sedang Jongin kerjakan.

“YA! APA YANG KAU LAKUKAN? APA KAU HANYA AKAN BERDIAM DIRI SEPERTI ORANG BODOH SEHARIAN? KAU BENAR- BENAR INGIN MELIHATKU DITENDANG KELUAR OLEH AYAHMU?” Daehyun berteriak lantang dan hanya diabaikan oleh Kim Jongin.

“Sebenarnya apa masalahmu Jongin-a?” suara Daehyun memelan setelah melihat reaksi Jongin yang jauh dari biasanya. Biasanya Jongin akan kembali berteriak atau mengeluh jika Daehyun terlalu cerewet dengan kinerjanya tapi sekarang, mengangguk pun tidak. Jongin masih saja berdiam diri menatap kearah jendela.

“hyung”, ucapnya setelah beberapa menit keheningan. “aku menemukan ibuku”.

“ibu?”, ulang Daehyun tidak mengerti.

“Ibu kandungku” Daehyun hampir saja tersedak saat ingin meminum tehnya. “kau sedang tidak bercandakan Kim Jongin?”.

“Eo, aku.. ibu kandungku. Dia tinggal di Songwo, dan hyung boleh aku minta bantuanmu?” Jongin menatap Daehyun serius untuk pertama kalinya. “tolong rahasiakan ini dari ayah, aku tidak ingin dia tahu dan membuatku jauh lagi dari ibuku”.

Daehyun menatap kearah Jongin, ada keseriusan yang teramat didalam sana. Tanpa pikir panjang Daehyun menyanggupi janjinya kepada Jongin, mengingat dia sudah menganggap Jongin seperti adiknya sendiri, walaupun sikapnya menyebalkan.

-o-

Da Na tengah mengetikkan jemarinya pada papan keyboard, pandangannya fokus mengetikkan beberapa kata kedalam laporan penelitiannya. Sudah seminggu ini Da Na sangat fokus mengerjakan penelitiannya itu, dan sudah seminggu ini pula dia tidak menemui Jongin. Pria itu bahkan tidak mengiriminya pesan atau apapun. Tapi, itu sangat membantu Da Na untuk fokus pada penelitiannya ini.

Ponselnya tiba- tiba saja berdering tanda pesan masuk, Da Na mengernyitkan dahinya saat mengetahui dari siapa pesan itu datang. Oh Sehun. Sudah lama sekali rasanya Da Na tidak berkomunikasi dengan Sehun. Da Na mengarahkan jemarinya menuju ikon pesan dan membuka isi pesan itu.

 

From : Oh Sehun

Da Na-a, aku tahu saat ini kau sedang berada di rumahmu di Incheon. Tenang saja, aku tidak akan kesana  untuk menemuimu. Besok pagi aku akan berangkat ke Paris, aku memutuskan pertunanganku dengan Jae Hyun dan berencana memulai bisnis disana. Aku hanya ingin mengucapkan, selamat tinggal.

 

-o-TBC-o-

Woaaahh, finaly chapter 7 completed, aku post chapter ini sekalian mau ngerayain selesainya UAS aku kali yaa hihihi and mau berbagi kesenangan karena uda dapet tempat magang juga \m/

But!!! Sekalian mau curhat sama temen2 sekalian, Have you know about Kai’s kissing scene di Choco Bank?? Oh God! Aku kaget banget pas malem2 dikirimin artikel tentang kissing scene dia, daaaann besokannya pas banget UAS matkul MetPen Kommass yang susahnya minta ampun…. Asli hati ini kayanya langsung dibolongin gitu, kitati liatnyaaaa…. siapa yang sama kaya aku???? Kita curcol bareng deh yuuukk hahahaha… Kalo di pikir2 lagi ternyata our Kai bener- bener udah grown up yaa… ah gak nyangka sekarang main drama yang uda ada kissing scene-nya, how lucky the girl is dan ini bukannya gombal atau lebay tapi emg aku rasain, sedih banget pas dapet berita itu.

Yang mau curcolan sama aku tentang kissing scene choco bank, monggo. mumpung malem minggu nih dari pada gak ngapa2in aaanddd… enjoy the chapter 7…

See ya on the next chapter!!!

24 responses to “Strange Feeling (Chapter 7)

  1. ayahnya jongin ko gitu banget ya sampe jian aja mau di kirim keluar negeri biar nggak ketemu ama ibu kandung mereka. kasian banget. baru aja nemu ibu kandungnya eh cemas lagu gara2 ayahnya :3

  2. Baper lgi…. keinget choco bank. Pingin nangis rasanya. Tapi jg seneng. Hlo gimana coba.
    Akhirnya Jongin ketemu sama ibu kandungnya. Da Na makin manis di sini. Jongin jg…. Nice story
    Keep writing…!!

    • Ada huhuhu, di teasernya sih udah ancang2 mau kissing gitu tapi nanti tunggu aja deh di episode aslinya, semoga pas mau kissing ada telpon masuk atau apa gitu wkwkwkwk

  3. Jadi jongin sm dana udh resmi pacaran nih? Haha kknya jongin kasian bngt lnsng dikirim ke amerika😳😳 choco bank drama kai yaampunn pas liat teasernya imagine CEO seorang kimjongin dapet bngt😋😋tapi kissing scenenyaaa itu lohhh bisa diskip aja gak apa enggak muka cewenya diburemin😂😂😂

    • Emg parah sih kalo Jongin penampilannya kaya CEO gitu aduh rasanya pengen jadi sekertarisnya aja. Hahaha kayanya nanti muka cewenya aku crop terus ganti pake muka aku deh hihihi

  4. kayanya ini yg jahat bapaknya jongin dehh .. ngeselin jahat bgttttttt
    eommanya jongin kan kasian huftt
    jongim ngomong gtu ke daehyun sedangkan bapaknya udh tau ,-
    yasudahlah kutunggu saja selanjutannya
    semangatttt

  5. sebenernya kai itu suka ga sih sana dana, kok ga ditembak dana nya. semoga kai ga phpin dana kasian dia,
    sehun ga jadi tunangan.. besar kemungkinan mereka bisa balikan hahaha kalau kai phpin dana

  6. jongin emg dh gede,,,,dan semua member ekSo tu dh pd dewasa,,jd cepat atw lambat bakalan ada cewe yg beruntung dapet kissseu nya member eksO,,, ya pada siap siap ati aj deh yg luas kaya angkasa biar ga sakit lihatnya!!!!! toh dalm fiksi pun semua dh pada kiss scene bahkan bed scene!!!!
    ya wlopun tetep aja ha rela ga rela,Jongin,kyungsoo chanyeol,umiN,,pada kisss scene kaya gitu,,, hueaaaawaaaa….oemmaya.aku cemburu..
    -balig lagi ke JongDana,, -seneng akhirnya ketemu ibunya,,ye wlopun ga tw knp,appa nya benci banget ma oemmmanya,,tp krn itu JongDana makin deket, o sehun ke paris,,,,??

  7. Huuuaaa, akhirnya sehun pergi jauh. Gk ada lg pengganggu.
    Yaaaaa, akhirnya Jongin ketemu sama emaknya…
    Iih, jahat bgt sih bapanya? Masalahnya apa sih, tega bgt.

  8. Jahat banget sih Tuan Kim mengapa ia tega mengirim Jian ke Amerika tak tau kah ia kalau anak-anaknya sangat merindukan ibu mereka. Apalagi jongin ia sampai tak bisa menahan tangis dan harunya bertemu dengan eommanya. Duh Da Na sungguh lucu ya dirinya apalagi saat jongin mrnggodanya. Jangan sampai ia sedih saat sehun mengirim pesan dan salam perpisahan biarkan ia bahagia bersama jongin dan juga kuatkan jongin dan selalu berada disisinya jongin. Aku masih kesal sama Tuan Kim yang sangat egois tanpa memikirkan perasaan anak-anaknya apalagi Jian sampai tersiksa gitu dianya gak bisa merasakan apa yang ia inginkan. Next chapternya ya

  9. akhirnya jongin bertemu sama ibunya dana sama jongin makin ke sini makin makin deh…..bapaknya jongin kok kaya gitu ya,next chapter….

  10. Adegannya jd yh… Aq bner2 shock berat pas liat itu tp dr kemrn2 bner2 pura2 ajj berharap mlah gk jd hahhahahaha
    Trus yakkk hmzzzz Jong In klo ampe ketauan sma ayahnya bisa ajj dy jg d bawa ke luar negri… Dn lgi Sehun uhuhihi gmn nasib Da Na klo sehun mutusin hubungan nah ce itu bsa ajj ngebully Da Na lagi kasian kannnnn
    Baru ajj seneng ekhhh dy lg kena mslag ksian bneran deh aq mah gk tega twoo.

  11. Duh kai nya maen nyosr aja…
    Akhirnya kai ketemu sama ibunya
    Kok ayahnya kai jahat si jian kok ga boleh ketemu sama ibunya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s