The Dim Hollow-Chapter 1 by Cedarpie24

dimmmmm

The Dim Hollow

—Chapter 1

“Got Noticed

.

a fanfiction by cedarpie24

.

Oh Sehun x Son Dahye

Slight!Kim Jongin, Park Chanyeol

Romance, school-life, hurt, teacher-student relationship || PG-16 || Chaptered

.

I just own the storyline and original-chara

.

Aku menyayangimu sedalam kau menyukaiku. Memujamu sebanyak kau mengagumiku. Menginginkanmu sesering kau merindukanku. Namun ada begitu banyak hal yang membuatku tak pantas untukmu. Aku, terlalu banyak kekelaman yang kupunya.—Oh Sehun

.

Previous

Foreword ♦

 

Orang bilang Son Dahye itu bagai setangkai bunga mawar. Cantik dan mampu mengundang decakan kagum, namun mematikan disaat bersamaan jika kau tak bisa menahan dirimu mendekatinya. Son Dahye bukan gadis murahan yang bisa kau ajak kencan semaumu—jangankan kencan, bicara dengannya saja mungkin hanya mimpi belaka. Dia punya paras nyaris sempurna, otak cemerlang, namun tertutup pada sekitar dan tak jarang bertingkah pongah. Dahye menciptakan lingkaran tak terlihat di sekelilingnya, membuat jarak pada semua orang dan tak sembarang orang bisa jadi kawannya. Atau boleh dibilang, dia tak membiarkan siapa pun menyandang predikat temannya.

Karena kenyataannya, Dahye memang benci menjalin hubungan. Dia benci melihat orang-orang hilir mudik singgah di hidupnya, lalu pergi begitu saja ketika Dahye pikir dirinya telah dibuat nyaman. Sakit hati akan ditinggalkan membuatnya kapok mengulang kesalahan yang sama membiarkan orang-orang menyambangi kehidupannya. Maka kini ia lebih nyaman duduk sendirian dalam lingkaran kasat matanya. Tak mengapa sendirian, selama dirinya terjaga dari rasa sakit akan ditinggalkan.

Sama seperti pagi membosankan lainnya, Dahye duduk sendiri di bangkunya di pojok kelas, menunduk membaca buku Sejarahnya dengan tenang. Sesungguhnya Dahye tak pernah suka bergosip. Membicarakan masalah orang-orang yang tak punya relasi dengannya sama sekali buang-buang tenaga dan waktu. Tidak berguna. Maka ketika teman-teman sekelas perempuannya berkerumun di satu meja kemudian mulai heboh membincangkan ini itu, yang dapat Dahye lakukan hanya membuka bukunya lantas mencoba menekuni deretan kalimat di sana. Materi di buku Sejarahnya jelas ribuan kali lipat lebih berharga ketimbang pembicaraan konyol perempuan-perempuan di seberang sana. Namun hari itu jelas berbeda, untuk pertama kalinya Dahye sengaja mengabaikan bukunya demi mencuri dengar obrolan teman sekelasnya yang ia sebut para-penggosip.

“Yah—dengar-dengar guru Shim akan ambil cuti beberapa bulan.”

Suara nyaring itu sampai ke telinga Dahye, sukses menyedot atensinya.

Guru Shim, cuti beberapa bulan katanya?

Cepat-cepat Dahye memasang telinga, bersiap menerima informasi dari para-penggosip. Kendati begitu matanya masih tertuju pada buku di bawahnya.

Well, Dahye memang tidak suka gosip. Tapi jika materi gosipnya berhubungan dengan sesuatu yang ia sukai, maka tak ada salahnya sedikit curi dengar. Sekedar informasi, guru Shim adalah guru Sastranya, dan Sastra merupakan pelajaran nomor satu yang Dahye gemari.

“Cuti katamu? Yang benar?”

Suara itu kedengaran antusias. Tentu saja, guru Shim super galak dan tegas. Tidak ada satupun siswa yang menyukainya di sekolah ini—kecuali Dahye, yeah.

“Iya, benar. Guru Shim hamil dan mau tak mau harus ambil cuti. Mungkin bisa satu sampai dua bulan—entahlah.”

Dahye mengerjap cepat. Guru Shim hamil, lantas memilih mengambil cuti sampai dua bulan.

Oh tidak. Ini sama sekali bukan berita bagus.

Bagi Dahye tak pernah ada guru sebaik guru Shim.

“Kalau begitu pasti ada guru pengganti, kan?”

“Oh yeah, tentu saja. Dari gosip yang beredar seorang guru pria muda baru saja diterima di sini. Mungkinkah guru itu pengganti guru Shim?”

“Hmm, bisa saja. Yah—kalaupun iya, kuharap dia tidak sekolot dan segaring guru Shim. Semoga saja guru baru itu sedikit—kau tahu… menarik, mungkin?”

Lantas kerumunan perempuan itu meledak dalam gelegar tawa. Dahye, detik itu memutuskan inilah saatnya menghentikan mode-curi dengarnya.

Siapapun guru pengganti itu, Dahye hanya berharap semoga ia bisa bekerja sebaik guru Shim. Namun Dahye tak pernah tahu, bahwa guru penggantinya merupakan sosok yang lantas membuatnya hidupnya jungkir  balik tanpa bisa dicegah.

Sehun tahu benar sejak kali pertama ia menginjakan kaki ke sekolah ini seluruh mata telah tertuju padanya. Mulai dari staf sekolah, guru, hingga para murid. Bagaimana tidak, dirinya terlalu menarik perhatian dengan wajah rupawan dan usia mudanya. Siapa yang tak mau punya rekan kerja setampan dirinya? Murid mana yang bisa menolak pesona mematikan dari guru semacam dirinya? Tidak ada. Karena itu Sehun sama sekali tak menyalahkan berpasang-pasang mata memuja yang mengikutinya tiap kali ia berjalan.

Kedengaran berlebihan tapi memang itu yang terjadi.

Hanya saja Sehun mengingatkan dirinya sendiri untuk tidak terjerat oleh perhatian di sekitarnya. Nama itu, nama gadis itu masih tersemat apik di hatinya. Sampai kapanpun takan pernah luruh.

“Pagi, anak-anak. Aku Oh Sehun, guru pengganti guru Shim.”

Nyaris setengah kelas menjerit tertahan—jelasnya didominasi jeritan para gadis. Diam-diam Sehun menyeringai tipis. Rasanya lucu melihat wajah-wajah bersemangat itu. Sambil menyugar rambutnya menggunakan jemari, Sehun berjalan menuju meja guru lantas mengeluarkan sejilid daftar kelas.

“Sebelum kita mulai pembelajaran, aku ingin mengenal muridku satu-persatu.”ujarnya sambil tersenyum pada seisi kelas.

Ia kemudian menunduk menatap daftar nama yang tadi dikeluarkannya. Dengan cepat perhatiannya jatuh pada sederet nama di sana.

Son Dahye.

Untuk beberapa sekon jantungnya terasa berhenti bekerja.

Son Dahye…?

“Kenapa bukan seonsaengnim yang memperkenalkan diri lebih dulu?”seorang murid perempuan mengacungkan tangannya sambil bertanya, yang kemudian diamini teman-temannya yang lain.

Mendongak dari daftar absensi, Sehun mengulas senyum asimetris.”Akan lebih menyenangkan jika kalian mengenalkan diri lebih dulu padaku.”ia kemudian kembali menunduk untuk membaca daftar absensinya.”Hmm, bagaimana kalau kita mulai dari… Son Dahye?”

Dahye, yang saat itu tengah duduk malas di kursinya—tak berminat sama sekali dengan guru barunya—seketika melonjak ketika mendengar namanya dipanggil.

Apa? Kenapa ia yang pertama dipanggil?

Inginnya Dahye tetap duduk di kursinya. Namun seisi kelas kini menatapnya. Termasuk Sehun. Mudah rupanya menemukan dimana Dahye duduk—karena gadis itu memilih baris paling belakang dimana tak ada orang lain yang menemaninya.

Menghela napas berat, pada akhirnya Dahye bangkit berdiri dan berjalan ke depan kelas.

“Baik, Son Dahye, mungkin kau bisa sedikit mengenalkan dirimu?”Sehun bertanya begitu Dahye berdiri di muka kelas.

Dahye menatap Sehun sebentar. Lalu ia membuka mulutnya, bukannya memperkenalkan diri justru menyuarakan pertanyaan yang bercokol di kepalanya.

“Kenapa aku yang pertama dipanggil?”suara dingin Dahye memecah kelas, seketika membuat seluruh kelas diselimuti aura tidak menyenangkan.”Seingatku aku bukan absen nomor satu.”

Sehun menelengkan kepalanya. Alih-alih tersinggung justru tertarik mendengar pertanyaan Dahye.

“Kenapa?”ia menatap Dahye intens seiring dengan seringai tipis menghias wajah tampannya.”Mungkin karena namamu yang paling menarik perhatianku?”

Seisi kelas setengah memekik mendengar ini—well, tentu saja hanya perempuan yang melakukannya. Sementara Dahye justru menatap Sehun tak percaya, menghadiahi guru mudanya itu dengan tampang shock—yang justru membuat Dahye kelihatan makin menarik.

Guru ini pasti gila, Dahye membatin pada dirinya sendiri.

Sehun terkekeh kecil mendapati ekspresi Dahye.”Apa yang salah? Aku hanya berkata jujur—namamu memang menarik perhatianku.”

Dahye mendengus lantas membuang wajahnya. Menatap senyum Sehun lama-lama membuatnya jengkel sendiri. Ia menghela napas, kemudian membuka mulutnya.

“Namaku Son Dahye, umur delapan belas tahun, pekerjaan—seperti yang kalian ketahui, pelajar.”

Lalu ia mengakhiri perkenalannya yang benar-benar membosankan dengan sedikit anggukan kepala. Hening seketika memenuhi kelas. Sehun lantas berdehem memecah senyap.

“Hei hei, semua orang juga tahu itu. Coba berikan informasi lain yang bisa membuatku—juga yang lain lebih mengenalmu.”ia berujar.

Dahye dengan cepat menoleh pada Sehun, mata tajamnya menghujam pemuda itu—seolah ingin menyampaikan kekesalan hatinya akan Sehun yang terus mendesaknya. Namun Dahye tak pernah menyadari perubahan ekspresi Sehun ketika untuk pertama kalinya kedua manik mereka bertemu.

Sejak Dahye berdiri di muka kelas tadi, gadis itu selalu berusaha menghindari mata Sehun. Dan kini ketika akhirnya mereka benar-benar bertatapan, Sehun tahu ada yang salah.

Sepasang manik kecoklatan milik Dahye, persis dengan seseorang yang begitu dikenalnya.

Sehun terenyak ketika manik itu mengantarnya pada kenangan buruk yang selalu menghantui setiap tidurnya. Pada luka berbekas yang susah payah ia coba sembuhkan. Dan akhirnya, pada sesosok gadis yang tak sekalipun dapat ia lupakan…

Sehun tahu kepalanya mulai berputar. Memori yang ia pikir telah sempurna terhapus dari benaknya kini muncul kembali, perlahan-lahan timbul ke permukaan dan membuatnya nyaris menjerit kalau saja tak ingat dimana ia berada kini.

Dengan cepat Sehun tersadar dirinya masih berada dalam kelas. Murid-muridnya masih menatapnya ingin tahu, dan Son Dahye masih mengiriminya tatapan tajam.

Manik itu…

Sehun berusaha menghindari sepasang manik Dahye ketika akhirnya ia berujar.”Baiklah, terima kasih banyak, Son Dahye. Kau bisa kembali ke tempat dudukmu dan kita berganti ke murid lain.”

Dan setelahnya Sehun sama sekali tak memberikan perhatian pada perkenalan murid-muridnya. Ia membiarkan dirinya terombang-ambing dalam kenangan kelam yang kembali memperangkapnya untuk kesekian kali.

Seharusnya sekarang Dahye tengah membaca silabusnya di kamar. Seharusnya sekarang nenek tengah bergelung di bawah selimut hangatnya. Iya, memang seharusnya begitu kalau saja si sialan Kim Jongin tidak merusak segalanya.

Sepupu pembuat onarnya itu memang paling senang membuat masalah—atau lebih tepatnya membuat nenek dilanda khawatir, karena kini nenek tengah duduk di kursi ruang depan dengan raut cemas membayangi wajah rentanya.

Sekarang pukul sembilan malam lewat dan Jongin belum juga pulang, padahal semua orang tahu jadwal kuliahnya hanya berakhir sampai pukul dua siang. Dahye tahu dengan benar kemana sepupunya itu pergi—kemana lagi kalau bukan klub malam sialannya. Tapi nenek tidak tahu dan kini ia tengah khawatr setengah mati, memikirkan kemana perginya cucu kesayangannya.

“Lebih baik Nenek tidur. Jongin mungkin pulang larut lagi.”Dahye berujar, mencoba membujuk neneknya.

Inilah alasan Dahye melewatkan silabus berharganya. Ia tak mungkin membiarkan nenek terjaga hanya demi menunggu si sialan Jongin.

Namun seperti biasa nenek menggeleng, menolak bujukan Dahye.

“Nenek tidak bisa tidur kalau Jongin belum pulang. Dia mungkin kenapa-kenapa…”suaranya sarat kecemasan dan Dahye tak suka itu. Seharusnya nenek tak perlu mencemaskan bajingan semacam Jongin.

Tapi nenek tetaplah nenek, yang begitu menyayangi Kim Jongin cucu nomor satunya. Maka Dahye meraih ponselnya, kemudian menghubungi sepupunya itu.

Butuh waktu lama sekali sampai akhirnya Jongin menerima panggilan Dahye.

Ha-loooo?“Jongin berujar di seberang sana. Hentakan musik bising dan kikikan nakal beberapa wanita menjadi latar belakang suaranya, sedikit banyak membuat Dahye berjengit jijik. Tidak salah lagi, Kim Jongin memang menghabiskan uang dan waktunya di klub malam, bersama dengan wanita-wanita jalang itu.

“Kim Jongin kau harus pulang sekarang.”Dahye berujar dingin.

Dari seberang sana Jongin terkekeh kecil. Mungkin dia mabuk.”Panggil aku oppa, sayangku. Kau lupa umurmu tiga tahun lebih muda dariku, heum?

“Bagus kau masih bisa mengingat usiaku di saat kau mabuk begitu.”Dahye menyahut ketus, lantas mendengus.”Pulang sekarang. Nenek menunggumu.”

Lagi-lagi Jongin terkekeh, kali ini lebih heboh dari sebelumnya.”Datang kemari kalau kau mampu.

Dan ia memutus sambungan sepihak.

Dahye membeku di tempatnya. Ia mendengus kemudian mengantungi ponselnya. Tanpa banyak bicara berjalan cepat menuju pintu depan sampai nenek menahan lengannya.

“Dahye-ya, mau kemana?”

Sorot mata Dahye melembut melihat neneknya.”Aku harus menjemput Jongin. Dia tidak akan pulang kalau aku tidak datang.”

Setelahnya Dahye bergegas melanjutkan langkahnya yang sempat tertunda. Udara malam segera menyapa kulitnya begitu ia menginjakan kaki di luar rumah. Menggosok-gosok lengannya yang mendadak kedinginan, Dahye diam-diam mengutuk Jongin. Kalau bukan karena nenek jelas ia takan sudi menuruti keinginan Jongin.

Butuh dua puluh menit bagi Dahye untuk sampai di area klub malam tempat Jongin bertandang. Semula gadis itu tercenung di tempatnya, memandang pintu masuk klub yang dijaga ketat. Dahye lupa satu hal. Dia masih di bawah umur, mustahil bisa menyelinap masuk ke dalam tempat kotor itu. Tapi Jongin… jika Dahye tak membawa sepupu sialannya pulang, nenek takan mau berbaring tidur di kasurnya…

“Yah—sweetheart, apa yang kau lakukan di sini?”

Dahye tak bisa tak terkejut ketika sebuah lengan kekar begitu saja melingkari bahunya. Ia menoleh dengan cepat dan segera bersitatap dengan seorang pemuda jangkung yang tengah merangkulnya sembari tersenyum lebar. Park Chanyeol. Teman sepermainan Jongin.

Sambil menepis rangkulan Chanyeol dari bahunya, Dahye menyahut ketus.”Bukan urusanmu.”

“Hei, hei, aku tahu kau mau membawa pulang Jongin kan? Aku bisa membantumu masuk ke sana.”Chanyeol mengedikan bahunya ke arah pintu masuk klub, seolah tahu apa yang tengah Dahye pusingkan beberapa waktu lalu.”Bagaimana?”

Benar juga. Rupanya ada untungnya bertemu salah satu kenalan sepupu sialannya.

Diamnya Dahye, Chanyeol anggap sebagai jawaban ya. Maka ia kembali merangkul Dahye, membawa perempuan itu lebih dekat ke tubuhnya dari yang sewajarnya, lalu berjalan angkuh menuju pintu masuk. Mereka tak menemukan kesulitan apa pun begitu melewati pintu. Dahye tahu bagaimana pun ia harus bersyukur bertemu Chanyeol tadi.

Namun rasa syukur Dahye dengan cepat menyurut begitu mereka masuk ke dalam klub. Suasana di dalam klub benar-benar buruk. Musik upbeat diputar kencang-kencang ke seluruh ruangan, membuat telinga Dahye segera berdengung sakit. Orang-orang yang berdiri berimpitan di sekitarnya menari-nari tanpa kenal batasan di bawah cahaya minimalis. Kalau saja Chanyeol yang berjalan di sisinya tak merangkulnya, mungkin Dahye akan kesulitan mengambil langkah. Mungkin ia akan terombang-ambing di antara lautan manusia yang bergoyang seperti kesetanan. Tapi bagaimana pun Dahye tetap tak nyaman dengan lengan Chanyeol yang beristirahat di bahunya. Gadis itu berusaha melepaskan diri dari rangkulan Chanyeol.

“Yah—kau bisa tersesat kalau jauh-jauh dariku.”Chanyeol berujar begitu tahu Dahye berusaha menjauh darinya, setengah berteriak karena musik kencang menelan suaranya.

“Well, terimakasih sudah mengkhawatirkanku.” Sahut Dahye, kali ini berusaha lebih keras melepas rangkulan Chanyeol.”Tapi aku bisa sendiri.”

Dan dengan itu Chanyeol mengangkat sebelah alisnya, lalu melepaskannya begitu saja. “Oke, kalau itu yang kau mau. Aku tidak suka memaksa perempuan.”

Setelahnya Chanyeol berjalan meninggalkan Dahye. Entah bagaimana pemuda itu kelihatan mudah sekali membelah lautan manusia di sekitarnya, tak kesulitan sama sekali berjalan di antara mereka. Kurang dari semenit, Dahye telah terjebak di antara orang-orang yang menari kegilaan. Benar kata Chanyeol. Dahye tersesat.

Oke, ini kedengaran menggelikan.

Tapi ini kali pertama Dahye menginjakan kaki di tempat kotor semacam klub malam. Dia tak kenal siapa pun dan tak tahu harus kemana—selain menemukan Jongin.

Oh benar. Menemukan Jongin.

Sejak memasuki tempat ini, kepala Dahye telah disibukan dengan betapa memusingkannya keadaan sekitar hingga ia lupa tujuan awalnya. Menemukan Jongin dan membawanya—memaksanya—pulang. Sial. Padahal Dahye bisa minta bantuan Chanyeol mengantarnya menemukan Jongin. Pemuda itu jelas tahu dimana Jongin berada. Dan Dahye dengan bodohnya mengusir Chanyeol jauh-jauh lalu membiarkan dirinya tersesat seperti idiot di tengah-tengah orang-orang ini.

Dahye mengusap wajahnya kasar. Hentakan musik yang memekakan telinga ditambah himpitan orang-orang sama sekali tak membantu meredakan kebingungannya. Baik, setidaknya Dahye harus mencoba berpikir tenang. Perlahan Dahye mencoba mencuri sedikit oksigen yang tersisa di udara, lalu menggerakan kakinya sebisa mungkin. Agak mendorong orang-orang di sekitarnya agar ia bisa lewat. Kenapa Chanyeol kelihatan tak kesulitan sama sekali saat berjalan tadi?

“Permisi, permisi.”Dahye bergumam pada orang-orang yang tengah menari—agak tak berguna juga sebenarnya, karena suaranya pastilah terkalahkan oleh volume musik.

Lalu begitu saja Dahye sadar dirinya telah berdiri di hadapan sebuah bar. Terbebas dari lantai dansa yang disesaki orang-orang. Setidaknya kini ia bisa mengambil napas lega, meski hanya sedikit. Dahye tak tahu dimana Jongin. Ia mengeluarkan ponselnya dan berusaha menghubungi pemuda itu namun telefonnya sama sekali tak diangkat. Mendecak kesal, Dahye menyapu pandangannya ke sekitar. Penerangan minimalis sama sekali tak membantu, namun seperti sebuah magnet kasat mata baru saja menariknya, tatapannya mendadak berhenti di satu spot. Satu spot di mana seorang pemuda tengah duduk sendirian di sebuah sofa ditemani berbotol-botol anggur.

Oh Sehun.

Guru barunya Oh Sehun.

Dahye nyaris tak mempercayai matanya sendiri. Oh Sehun memang terbilang begitu muda untuk ukuran seorang guru. Tapi berkunjung ke klub malam? Seorang guru berkunjung ke klub malam? Yang benar saja!

Dahye tidak tahu apa yang kemudian membuat kakinya bergerak mendekati guru barunya itu. Seharusnya Dahye membuat jarak sejauh mungkin dengan Oh Sehun, terlebih setelah kejadian di kelas tadi, dimana Sehun mengatakan bahwa namanya menarik perhatian. Well, Dahye tidak suka itu. Tapi kini yang dilakukannya justru mengambil langkah menghampiri gurunya yang kelihatan setengah mabuk. Dahye menyilangkan tangannya begitu ia berdiri di hadapan Sehun, bersiap memborbardir guru mudanya dengan kalimat kritikan paling pedas.

Perlahan Sehun mendongakan kepalanya, matanya dengan cepat bertemu dengan manik Dahye. Untuk kedua kalinya hari itu, mereka kembali bersitatap tepat di mata. Lalu sebelum Dahye sempat mengatakan apa pun, Sehun mendadak mencengkram pergelangan tangan Dahye, menariknya dengan kencang hingga gadis itu jatuh terduduk di pangkuannya.

Kedua mata Dahye membola begitu sadar ia tengah duduk di atas pangkuan Sehun. Oh Sehun, guru barunya yang masih muda dan digilai satu sekolah. Wajahnya tepat terkubur di ceruk leher Sehun, membuat seluruh udara Dahye terasa dipenuhi harum parfum yang digunakan pria itu. Cepat-cepat Dahye mengangkat wajahnya—dan ia segera menyesali perbuatannya itu. Karena kemudian ia langsung berhadapan dengan wajah Sehun. Kedua mata Sehun yang memerah setengah menutup sementara aroma alkohol menguar jelas dari mulutnya. Dahye berusaha menjauh namun jantungnya dibuat berdebar kencang ketika dirasakannya kedua tangan Sehun melingkari pinggangnya erat, menahannya pergi.

Seonsaengnim,”Dahye bergumam dengan wajah memanas. Sialan. Sebelumnya ia tak pernah berada dalam posisi sedekat ini dengan lelaki mana pun.

Namun Sehun kelihatan tak menggubris gumaman Dahye. Pria itu justru menempelkan keningnya dengan kening Dahye, membuat jarak yang semula memang tak seberapa semakin terkikis. Ujung hidung mereka nyaris bersentuhan dan ini membuat Dahye hampir gila. Jantungnya, jantungnya rasanya akan meledak.

Sehun menggumamkan kalimat-kalimat tak jelas. Ketika itu pula Dahye tersadar. Gurunya ini separuh mabuk—atau mungkin benar-benar mabuk. Bisa saja ia tak menyadari apa yang tengah dilakukannya pada Dahye. Dengan ini Dahye mencoba kembali melepaskan diri dari Sehun. Namun pelukan Sehun di pinggangnya terasa begitu erat. Sehun menguncinya dan Dahye tak bisa kabur sama sekali.

Seonsaengnim, l-lepas.”Dahye berujar lebih keras. Ia meringis ketika sadar suaranya bergetar. Tidak, Dahye tidak suka ini. Jantungnya berdebar kencang dan ia gugup setengah mati. Dahye tak suka kelihatan lemah bahkan di depan gurunya sekali pun.

Racauan dari Sehun hanyalah tanggapan yang kemudian diterima Dahye. Lalu ketika racauan Sehun berubah menjadi lebih jelas, Dahye berhenti mencoba melepaskan diri. Tubuhnya membeku, dan ia menatap Sehun dengan mata melebar terkejut.

“Son… Son… Da—“

Dia… meracaukan namaku…?

I miss you.”

…kkeut

Kim Jongin

tumblr_inline_nuvsccxLgm1tzwpka_400

214 responses to “The Dim Hollow-Chapter 1 by Cedarpie24

  1. Salah fokus sama Park Chanyeol masa XD kayanya kalo Chanyeol yang jadi peran utamanya lebih dapet feelnya deh. Tapi Sehun juga boleh lah, cuma kebayangnya dia kaya masih muda banget gitu, ngga mirip guru lebih ke murid sih 😀 but anyway aku enjoy sekali dengan deskripsinya yang ringan dan detail.
    Keep writing ya!

  2. Pingback: Rekomendasi FF EXO 2016-2017 (UPDATED !) | CLAYWORLD·

  3. Sbnrnya ada hubungan masa lalu apa ya sehun sm dahye??penasaran dh…
    Jongin ngeselin bgt sh,gk ksian sm nenek nya yg udh tua gtu,,

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s