Perfect Flaw (Chapter 6) —ARLENE P.

PERFECTFLAW1

Perfect Flaw

When the ego killing every promise …

⌈ MAIN CAST ⌋

Sehun Silverstein

Denham | April 12th, 1992

SEHUN3

.

Ilana Kim

San Francisco | December 1st, 1993

04

.

Park Chanyeol

Denham | November 27th, 1991

????

.

Gracelynn Walton

Bestonville | January 1st, 1993

GRACE1

– Ξ –

⌈ ANOTHER CAST ⌋

Evelyn William  Lay Kris  Baekhyun

Richard Williard

also

Luhan  Alena  Minseok

KaiTania

.

⌈ Los Angeles (US), Denham & London (UK) ⌋

⌈ AU ¶ Multi-chaptered⌋

⌈ RATE : PG-17

⌈ GENRE ⌋

Romance, Drama, Hurt/Comfort, Angst, Family, Friendship, Brothership

.

⌈ DISCLAIMER ⌋

I ordinary own the plot and I’ve try my best to make this absurd story. So, don’t be siders or plagiators, please. Don’t forget to read the Author’s Note below.

.

⌈ NOTE ⌋

Karena latar yang beda benua, aku tambahin keterangan waktu. Denham itu +/- 8 jam lebih cepet dari LA/SF. Keberangkatannya dari LA/SF menuju ke Denham juga makan waktu sekitar 10 jam setengah. Jadi kalo gak mau cape ngitung mending disimak baik-baik aja keterangan waktu yang aku kasih.

.

⌈ RECOMMENDED SONG ⌋

Kim Jin Ho (SG Wannabe) – Hurts

Christina Perri – A Thousand Years

Christina Perri ft Jason Mraz – Distance

Kim Taeyeon – Gemini

.

⌈ PREVIOUS PART ⌋

TEASER || MEET (AGAIN) [1] || GOT THEIR FEELING #A [2] || GOT THEIR FEELING #B [2] || PRESSURE BEGINS [3] || NEVER TOO LATE [4] || THE TRUTH [5]

.

Arlene©2016 | DARKLENE

.

⌈ NOW PRESENT ► HURTS | 10.900 words

.

.

.

It’s impossible to live without hurting others.

—Jun Mochizuki, Pandora Hearts, Vol. 06

.

.

PF

San Francisco, 27 Mei 2016

18 : 55

.

Senja berhasil menjemput gelapnya malam. Mengiringi langkah-langkah kecil Ilana yang begitu tergesa memasuki kediaman tercinta. Agaknya tak sabar ingin segera lebur dalam kehangatan dan untaian tawa. Namun, sejenak, justru dipatahkan realita. Menguapkan segala pengharapan yang tersimpan begitu violet Ilana menangkap sosok terengah Alena terkunci dalam pangkuan Luhan. Rupanya tengah menerima beberapa pijatan pelan di area tengkuk yang tak urung membuat Ilana berlarian didorong rasa khawatir. Terlupa bahwa yang kini jadi pelindung kaki bisa saja berkhianat jikalau dirinya salah melangkah.

Alih-alih peduli, Ilana justru merunduk sesampainya di hadapan Alena. Menjadikan kening sang kakak yang tengah dialiri bulir-bulir penanda penat sebagai penopang miliknya. Menekan sedikit, sengaja ingin memastikan suhu tubuh Alena dengan cara yang dulu biasa dilakukan Kai padanya di kala sakit. “Are you okay, Mrs. Müller?” tanya Si Gadis Kim. Bicara minim jeda, kentara cemas.

Alena tersenyum tipis, kemudian mengangguk sekali. Menarik cepat tengkuk sang adik demi mendaratkan satu kecupan ringan di pipi. “I’m okayThis is normal, I think.” Sekali lagi Alena mengulum senyuman. Membuai kelembutan pipi Ilana menggunakan ibu jari, sebelum membiarkan tangan yang sama merangkak turun demi menuntun lentiknya milik Si Bungsu ke atas pangkuan. “I have something for you,” tambahnya dengan fokus yang berpaling kepada Luhan, memberi jeda, mencari keyakinannya.

positif

Belum sempat Ilana bertanya, sebuah benda yang didominasi warna putih sudah lebih dulu diletakkan Alena ke dalam genggaman. Membuat sang empunya tangan terpekur, hilang akal. Memandang bergilir pasangan suami istri yang terduduk di hadapan, menunggu dengan sabar hingga nalarnya kembali setelah puas dibawa kabur bahagia. “I-Ini …” Ilana tergeragap. Gagu, membisu, untuk kemudian memekik riang dengan benda mungil dalam genggaman yang ia angkat setinggi mungkin.

Minseok yang belum lama ini menampakkan batang hidungnya pun tergopoh-gopoh menghampiri Ilana. Membawa sosok berbahagia itu ke dalam pelukan, lalu menenggelamkannya di sana. Larut dalam kegembiraan yang tak pernah bersifat mutlak. Mencoba apatis terhadap kelamnya luka selama beberapa saat. “Akan ada anak kecil di keluarga kita, Minseok. Alena hamil dan aku sangat-sangat senang,” bisik Ilana dengan gemetar kecil menghiasi tubuh. Entah karena terlalu bahagia atau karena adanya siksaan luka yang ia endapkan rasa sakitnya.

“Ya. Kita akan jadi Paman dan Bibi yang baik, bukan?” balas Minseok seraya mengukir senyumnya untuk Alena yang kini turut lebur dalam haru. Mengaburkan duka yang sejatinya terpancar dari pertemuan netra keduanya. Berpura-pura buta terhadap medan meski kehadiran Kris di tengah-tengah mereka sudah lebih dari cukup untuk menjadi pengingat. Mendorong Ilana agar lekas mengembalikan kebebasannya dan menghampiri tubuh tegap sang paman yang berdiri kaku di sudut ruangan, asyik memandangi kegembiraan para pemeran lain tak ubahnya pesakitan. Seakan bahagia namun tak benar-benar bahagia.

“Paman?” Ilana pun memanggil. Menjatuhkan fokusnya lurus-lurus pada koper hitam yang berada di balik punggung Kris. “Mau pergi ke mana?”

Hening merayap. Meregas rasa gembira yang semula menyelimuti hati hingga memudahkan kerja turbulensi. Memutar kembali memori yang tersimpan seumpama reel film. Menenggelamkan Ilana bersama sisa tawanya yang kini bertolak menghinakan. Membuatnya terdesak dalam pusaran duka yang memaksa lisan kembali bekerja. “I asked you where will you going, Mr. Wu! Why don’t you answer my question?”

“Ini—” Tak terima pertanyaannya diabaikan, Ilana kembali mengacungkan benda dalam genggaman ke udara. Menambahkan dengan penuh penekanan meski tidak sampai menggebu apalagi menyamarkan norma kesopanan. “—salah satu hadiah terbaik yang pernah kuterima. Seluruh bebanku seolah terangkat saat Alena menyerahkan benda ini ke tanganku, Paman. Kau tahu itu, ‘kan?”

Kris mengangguk paham. Kehendak hati ingin mendaratkan usapan lembutnya di puncak kepala Ilana, namun yang dijadikan objek perhatian justru menghindar. “Karena aku tahu, jadi aku tidak ingin merusak kebahagiaanmu, Sayang,” lisan pun mengambil alih. Mengobati luka hati akibat penolakan yang belum lama ini diterima raga. “Aku hanya akan pergi sebentar, bukan urusan yang penting—”

“Ingin coba berbohong lagi?” potong Ilana diiringi senyum masam. “Kita harus meyakinkan orang lain bahwa kita percaya pada mereka jika kita ingin dipercaya orang lain. Bukankah itu yang selalu kau ajarkan padaku, Paman? Atau sekarang kau ingin menelannya bulat-bulat dengan membodohiku?” Sarkasme dilempar Ilana. Nadanya tetap datar, terlongsong letih untuk sekadar membumbui silabel dengan penekanan. “Aku bukan anak kecil yang bisa dengan mudahnya dikelabui. Seandainya memang hal ini bukanlah sesuatu yang penting, untuk apa Paman memaksakan diri dengan pergi malam-malam begini, huh?”

Ilana menggenggam erat benda pemberian Alena sembari menundukkan kepala. “Aku serius saat mengatakan bahwa hadiah ini sudah lebih dari cukup untuk membuatku kembali kuat. Jadi Paman tidak perlu takut menyakitiku,” repetnya. Tak ada tangisan karena Gadis Kim ini masih mampu membendungnya. Lebih memilih untuk menyerah pada kerja pusat saraf dengan melambungkan satu premis terbaik dari sekian banyak yang tercipta. “Apakah … Denham?”

“Ya, Ilana. Paman memang akan pergi ke sana.” Kendati jengah, vokal sopran Alena menjadi satu-satunya yang memberi jawaban setelah hening mendominasi cukup lama. Wanita ini pun bersikeras bangkit dari pangkuan Luhan, untuk kemudian menghampiri sosok penuh luka adiknya yang masih juga tertunduk dalam diam. Memaksakan langkah-langkah kecilnya yang berujung pada satu remasan pelan di bahu Ilana. “Tadinya Paman berniat membawa Luhan, tapi aku tak ingin Luhan meninggalkanku di saat seperti ini. Aku sendiri sempat berpikir, kenapa tidak kau saja yang pergi, tapi mereka semua melarang karena mengkhawatirkanmu. Membuatku sadar bahwa … Paman dan Minseok benar, La. Terkadang bersembunyi akan terasa lebih baik—”

“Sem-bu-nyi-?!” Kekehan sumbang dihempas Ilana ke udara. Menggema nyaring dalam pendengaran hingga menjadi iringan yang tepat bagi susunan kata gadis ini selanjutnya. “Setelah kalian semua mengajariku untuk kembali percaya pada kata hati, sekarang kalian memintaku untuk menghindari semuanya, begitu?”

“Pergi ke sana sama saja menjemput luka bagimu, Ilana Kim!” Minseok menimpali setengah menghardik.

Ilana memutar tubuh, kembali menjatuhkan tatapannya kepada Si Sulung. “Bahkan aku sudah merasakan lukanya tanpa perlu pergi ke sana, Kim Minseok!” balasnya meninggi. “Aku hanya ingin meneruskan langkah dan kalian mengajariku untuk jadi pengecut. Aku sudah terluka begitu banyak, lalu kenapa aku harus takut pada kesakitan yang aku sendiri belum tahu separah apa?!”

“Justru karena kau tidak tahu, La!” sela Minseok, sebelum memilih untuk melembutkan nada bicara. “Karena kau tidak tahu makanya kami tidak ingin kau pergi ke sana.”

Gelengan bar-bar diberikan Ilana sebagai tanda penolakan. Mendorongnya untuk kembali menghampiri Kris dan mencecar irisnya dengan tatapan penuh luka. Mencengkeram kedua sisi tubuh pamannya tersebut tepat di bagian lengan. “Terkadang seseorang perlu terluka untuk tahu betapa berharganya kebahagiaan itu. Terkadang seseorang juga perlu terjatuh untuk tahu bagaimana caranya bangkit dan memerjuangkan. Selalu akan ada masa di mana seseorang harus mengalami sakitnya kehilangan untuk tahu seberapa pentingnya memertahankan.”

Ilana menghirup tamak. Berupaya menggantikan sesak yang menghimpit dengan kebaikan oksigen dalam waktu singkat. “Paman sendiri yang mengatakan padaku bahwa Stein membutuhkanku di saat seperti ini, lalu kenapa sekarang berbalik melarang? Aku hanya ingin berada di sana dan mencari tahu seberapa menyeramkan dunia yang menentang kebersamaan kami. Kalau pun nantinya ini membuatku harus kehilangan lagi, setidaknya aku sudah pernah belajar caranya memerjuangkan.”

“Ilana.”

“Aku tidak mau menutup mata lagi. Bagaimanapun, aku tetap harus tahu seburuk apa pun itu, Paman!” tukas Ilana. “Seandainya luka yang kubawa pulang nantinya lebih besar dan itu kembali tercipta karena Sehun, mungkin setelahnya aku akan benar-benar menyerah.”

“Ila—”

“Berhenti melarang—”

“ILANA!” Pemberontakan Ilana sontak menyulut bara emosi dalam hati Kris. Menyisakan seruan murkanya yang menggaung dalam pendengaran sang pemilik nama. Membisu seolah mengizinkan Pria Wu ini untuk lekas angkat bicara, “Kau akan pergi, tapi bersamaku.” Dengusan tak urung Kris loloskan lantaran jengah pada tatapan penuh selidik Ilana. “Aku serius. Sebelum memesan tiket untuk Luhan, aku memesannya untukmu lebih dahulu. Aku hanya tidak yakin apakah aku harus benar-benar membawamu ke sana.”

Penjelasan yang diberikan Kris tak pelak meluruhkan emosi Ilana. Mengembalikan tatapan lembut gadis ini hingga berubah sendu. Tak berdaya untuk sekadar menolak kuasa sang paman yang belum lama ini memenjara tubuh mungilnya dalam lingkar tangan. Berbicara setengah berbisik, merayu Ilana agar segera memuntahkan beban terberat dalam hidupnya. “Di sana adalah wilayah kekuasaan Silverstein. Ketika Lay memutuskan untuk kembali menghubungiku setelah semua yang terjadi, aku sadar bahwa situasinya semakin buruk. Posisi kalian pasti akan sangat sulit dan aku berharap kau siap menghadapinya apa pun yang terjadi. I hate to see your heart break. I swear that I hate to see you in pain, La. Tapi aku juga tidak bisa mengajarimu menjadi pengecut. Jadilah kuat, karena aku percaya tidak ada kekuatan yang lebih hebat dari cinta dan saling percaya.”

Bibir ceri digigit kuat sebagai pelampiasan. Berusaha menahan isakan yang pada akhirnya lolos dan memenjarakan Ilana dalam kubangan duka. Samarkan gradasi warna yang seharusnya berhasil dipertahankan sucinya hati namun nihil. Tak ada yang mampu dilakukan Ilana selain mengurai jejak-jejak luka di pipi dengan vokal sumbangnya yang tak urung mencicit pilu. “Ibu yang melakukannya. Ibu yang mengkhianati Tuan Silverstein dan mengubahnya jadi seperti ini. Tapi kenapa harus aku dan Sehun yang menanggung semua akibatnya? Kenapa harus kami yang membayar semua dosa-dosa mereka?”

“Karena kisah kalian istimewa.” Usapan lembut yang menggoda helaian surai pun terasa mengejutkan bagi Ilana. “Berhenti menangis karena Baby Müller takkan pernah suka melihat bibinya yang cantik bersedih,” bisikan lembut Alena pun disuapkan angin ke dalam pendengaran Ilana. “Lebih baik kita kemasi barang-barangmu sekarang, sebelum Minseok berubah pikiran dan mengurungmu di sini seperti Rapunzel.”

“Aku tidak sekejam itu, Len!” tukas Minseok. “Lagi pula aku sadar sekarang. Adik-adikku sudah dewasa dan bisa menentukan pilihannya sendiri,” imbuh pria tampan ini seraya mengambil langkah mendekat. Membawa tubuh mungil kedua adik tercintanya ke dalam pelukan, kemudian berbisik lembut di telinga Alena, “Selamat untukmu.”

“Bagus. Situasinya mencair. Jadi, aku sudah boleh bersuara, ‘kan?” Luhan yang sedari tadi bergeming lantaran tak ingin turut campur pun angkat bicara. Menunjukkan cengiran bodohnya yang dihadiahi satu dengusan keras oleh Minseok. “Aku juga akan menjadi ayah dalam sembilan bulan mendatang, tapi kalian belum mengucapkan selamat padaku. Harusnya kalian mendukungku agar aku bisa menjadi seorang ayah yang tampan, baik hati, dan—hei! Mau ke mana kalian semua? Aku belum selesai bicara. Kenapa sudah meninggalkanku?”

Namun setelahnya, Luhan tertawa. Alih-alih murka karena tak diacuhkan, pria ini justru sibuk mengucap syukur. Merasa beruntung karena diizinkan bergabung dalam hangatnya keluarga yang saling menyempurnakan. Menekuri alur kehidupan yang sempat membawanya pada penyesalan bernama Ilana, sebelum akhirnya terantuk pada cinta yang sebenar-benarnya cinta.

Ya. Alena Kim. Dan calon bayinya tentu saja.

PF

Buckinghamshire, 28 Mei 2016

15 : 10

.

Mengudara selama hampir sebelas jam nyatanya masih tidak cukup untuk dijadikan alasan beristirahat. Alih-alih mencumbu kenyamanan ranjang di kamar tercinta, Sehun sudah dipaksa menempuh satu jam perjalanan tambahan menuju Buckinghamshire, Denham. Memenjaranya dalam suasana kantor yang jauh dari kata bersahabat, untuk kemudian dicecar sorot penuh intimidasi milik Richard—bersama Chanyeol di sisinya. Sedangkan Baekhyun yang sedikit lebih beruntung dibanding keduanya memilih untuk menghuni sofa panjang di sudut ruangan. Menemani sosok cantik Evelyn yang saat ini tertunduk lesu dalam rangkulan sepihaknya.

Tak ada yang memulai lantaran sosok yang diutus menjadi panutan masih saja sibuk dengan kegiatan kecilnya. Membolak-balik kasar sejumlah media harian yang kini jadi sumber masalah. Melesakkan masing-masing dari mereka dalam kuasa hening selama hampir setengah jam, sampai akhirnya pintu yang jadi sekat berderit membuka. Mencuri atensi seluruh pihak melalui kehadiran dua sosok paruh baya yang sama memukaunya.

D-interior-design-modern-office-house-Free-pictures-clear-eyed-Interior-zestful

“Duduk!” Richard pun bersuara seiring dengan punggungnya yang kembali tegak. Meskipun usianya sudah hampir menginjak kepala delapan, wibawanya tetap tak berkurang. Kendati melemah, sorot tajamnya justru semakin lihai mengintimidasi. Sungguh keputusan yang tepat untuk memilihnya sebagai penerus Andy—mendiang kakek Sehun dan Chanyeol yang semasa hidupnya pun disegani dengan segala prestasinya.

Suhu di ruangan terasa semakin dingin begitu arogansi Williard menelanjangi Sehun dari sisi kanan. Mengiringi peraduan netra keduanya yang kentara sewarna. Bertukar luka melalui pandangan, sebelum Richard kembali meretas kuasa menggunakan tegas baritonnya.

“Kurasa kalian sudah tahu tujuan dari pertemuan kita sore ini.” Kekehan sinis pun dilepaskan Richard sebagai jeda. “Apa kalian tidak malu melihatku harus turun tangan begini? Belum tiba saatnya rapat bulanan, tapi aku sudah dikejutkan oleh rapat mendadak yang diadakan tanpa seizinku. Dipimpin oleh istrimu yang entah ada di mana otaknya—” Telunjuk Richard terarah penuh pada William, lalu berganti menunjuk Williard di sisi lain dengan tak kalah sinis. “—dan semua itu terjadi karena kebodohohanmu, Williard!”

Sadar bahwa tak ada satu pun yang berniat membantah, suara yang sama kembali menggaung di udara. “InterContinental berdiri bukan untuk dijadikan bahan guyonan! Dan aku akan terus memenuhi janjiku pada Andy untuk tetap menjaga perusahaan ini sampai akhir hayatku. Takkan kubiarkan orang-orang bodoh menghancurkan perusahaan ini, sekalipun itu adalah keluarga atau keturunanku sendiri!”

Williard mendesah berat. Terpejam demi mengilhami sesak yang hadir di tengah keheningan. Menyisakan pusat sarafnya yang terantuk satu konklusi. Menyakitkan namun harus ia lakukan. “Aku akan mundur dari jabatanku sekarang. This is my fault, Paman.”

“YA! It’s obvious!” Richard berseru murka, mengamini. “Ini memang salahmu dan kau tidak perlu mengundurkan diri karena aku sendiri yang akan menurunkanmu!” Amplop persegi panjang yang belum lama ini diangsurkan Williard pun dilempar kasar oleh Richard. “Di mana otakmu, Williard?! Kau mati-matian menjatuhkan saudaramu sendiri hanya untuk mendapatkan posisimu sekarang, kemudian kau menghancurkannya hanya untuk menghakimi seorang gadis muda yang dicintai anakmu, eh? C-I-N-T-A! Persetan dengan itu!”

“Ilana Kim. Gadis itu punya nama, Kek.”

Richard mendengus, menghinakan vokal bariton Sehun yang belum lama ini menelusup ke dalam pendengarannya. Rasa penat yang menjalar pun mendorongnya untuk memijat tengkuk. Berupaya melemaskan urat-urat lehernya yang kentara tegang sejak awal disulut bara emosi. “Kau pikir aku peduli siapa namanya, Stein?! Tak ada hal yang lebih penting dari fakta bahwa gadis pilihanmu itu adalah anak dari Kathryn Wu.”

Sesudahnya Williard menegang. Membuat Sehun terpaksa mengatupkan rahang, menahan diri agar tidak lepas kendali apalagi sampai memuntahkan seluruh beban berat yang kini ditanggungnya akibat arogansi sang ayah.

“Jangan pikir aku tidak tahu apa yang terjadi. Sejak pertama kali menonton opera yang kalian mainkan, aku sering bertanya-tanya sendiri, apakah ada orang yang lebih bodoh dari kalian berdua?!” Richard mengabsen kebekuan di antara Williard dan William melalui ekor mata. “Sadar atau tidak, masa lalu kalian sudah terbawa terlalu jauh ke masa depan dan ini harus dihentikan.” Tak berselang lama, Richard mengeluarkan dua buah bolpoin berlambang IHG dari laci meja. Meletakkannya tepat di hadapan kedua cucu yang dimilikinya dari garis keturunan sang kakak. “Setengah jam cukup, ‘kan?”

717364741_994

Chanyeol mengernyit. “S-Setengah jam? Untuk apa?”

“Bertemu di ruang rapat. Kita biarkan mereka memilih.”

Tak pelak Chanyeol bangkit berdiri. Mengempas kasar bolpoin pemberian Richard hingga terpelanting mengenaskan di atas petakan keramik. Mengundang teguran kasar William yang tak ia indahkan barang sedetik pun. “Harus kukatakan berapa kali kalau aku tidak berminat dijadikan pilihan? Sudah jelas posisi ini diciptakan untuk Stein. Aku tidak sudi. Tidak-akan-pernah-sudi!”

“Jaga bicaramu, Chan!”

Chanyeol mendengus. “Kau tidak akan pernah mengerti posisiku, Ayah! Aku muak!”

“Tapi aku adalah Komisaris-nya, jadi kalian semua berada di bawah kuasaku. Aku bebas menunjuk siapa saja yang kumau termasuk kau, Chanyeol Sil-ver-stein!” tegas Richard. “Jangan pikir dengan membuang marga Silverstein dari akta kelahiranmu akan mengubah semuanya. Garis keturunanmu tetap seorang Silverstein. Kau memiliki hak yang sama seperti Stein karena ayah kalian sama-sama Silverstein. Pa-ham?”

Suasana kembali hening yang diartikan Richard sebagai simbolis dari persetujuan. “Kalau begitu, tunggu apalagi? Bersiaplah sekarang dan jangan coba-coba memermalukanku!” Pandangan lelaki ini pun berkhianat pada sepasang anak manusia di sudut ruangan. “Kau sedang dalam masa liburanmu kan, Eve? Kudengar kakakmu butuh sekretaris baru dan itu jadi tugasmu mulai sekarang.”

“T-Tapi, Kek—”

Seakan tuli, tak Richard pedulikan aksi protes yang diungkap Evelyn dalam suara lemahnya. Alih-alih menaruh simpati, dirinya justru berganti mencecar Baekhyun. “Jangan lupa kabari ibumu. Dia tetap harus tahu semua yang terjadi dalam perusahaan ini sekalipun dia tidak lagi memedulikannya.”

I get it.”

Good.”

Life is never easy to live, isn’t it?

PF

Los Angeles, 28 Mei 2016

07 : 50

.

Tania tengah sibuk mengenakan sabuk pengaman ketika suara berat milik Kai menggelitik pendengaran—memanggilnya. Menuai pergerakan kepala gadis ini yang dengan serta merta menoleh ke sisi kiri. Menyambut hujaman manik cokelat gelap Si Pria Kim dengan raut heran. Agaknya tersentak begitu menangkap hadirnya guratan tak wajar dalam ekspresi pria tampan berkulit tan tersebut. “What’s going on, Kai?”

Nope.” Kai tersenyum masam. “I just wonder how I can explain my feeling right now,” sambungnya, tidak lama setelah memutar kunci dekat kemudi. Membiarkan mesin mobilnya menderu angkuh, memekakkan telinga. Sesekali mendesah, sebelum memutuskan untuk benar-benar membawa kuda besinya melaju dalam kecepatan sedang. “Am I look pathetic, Tan?” tanya Kai begitu sadar bahwa mata hazel Tania mencecarnya tanpa kenal lelah.

Tania tersenyum simpul kemudian menganggukkan kepala. Mengulurkan satu tangannya hanya untuk membuai pipi kanan Kai yang tampak semakin kurus dalam sentuhan ibu jari. Kentara lelah di saat pria itu justru bersikeras menambah daftar kesibukannya dengan menjadi supir pribadi Tania secara tidak langsung. “No need to wonder. You just have to trust and tell me, Kim! Aku akan berusaha menjadi pendengar yang baik. Dan saat ini, meskipun aku tidak tahu seburuk apa yang sedang atau sudah terjadi, it must be pretty rough on you.

Setelahnya, mereka terdiam. Masih dengan ibu jari Tania yang bermain, menelusuri lekuk wajah prianya hingga terhenti di dagu. Coba menyalurkan kehangatan dengan cara yang biasa dilakukan ibunya di rumah. Berharap tindakan kecil penuh kelembutannya ini mampu membawa ketenangan. Gadis ini tak urung terkesiap saat tiba-tiba saja Kai menepikan Maserati hitamnya. Mendorongnya untuk lekas menarik tangan meski yang terjadi justru kelima jemari lentiknya terkunci dalam genggaman pria tampan tersebut.

2015-Maserati-Gran-Cabrio-exterior

Is it okay for me to tell you?” Pria Kim bertanya seumpama berbisik. Melayangkan beberapa kecupan lembut seringan bulu pada punggung tangan Tania. Memenjara iris sang empunya dalam guratan wajah sukar terbaca nalar yang diselingi segaris senyum tipis di bibir. Dan, begitu Si Gadis Kang menganggukkan kepala, terlepaslah beban yang sejak semalam dipikulnya seorang diri. “Ilana tidak sedang dalam keadaan yang baik, Tan.”

Secara tak kasat mata Tania menarik diri. Mengkhianati pandangan mata Kai dengan membawa fokusnya kembali ke depan. Tangan yang semula berada dalam genggaman sang pria pun sudah ia bebaskan hingga terkulai di atas pangkuan. “Ilana?” Lemah soprannya membeo samar. “So, you’re still worried about her …” gumam gadis yang sama setelah—sebelumnya melenguh panjang. “Even when I’m here, beside you.

“Tania … It doesn’t mean—”

Tania menggeleng sembari mengangkat satu tangannya. Memutus segala bentuk pembelaan yang siap dimuntahkan sang lawan. Mengembus kasar napasnya beberapa kali, baru sesudahnya angkat bicara. “I understand it.” Hazel cantik Tania bergegas menyambut cokelat kelam Kai. “I can see how much you love her and I’m okay. Yeah, not really okay but I’m still trying to be it,” imbuhnya tanpa bergetar. Nada suara kembali normal seakan luka itu tak pernah ada apalagi menyambangi putih hatinya. “Jadi hal buruk apa yang terjadi pada Ilana?”

“Dia pergi ke Denham,” jawab Kai. Dibawanya lagi jemari lentik Tania ke dalam genggaman hangat. Tak lama, pria ini menambahkan. Sengaja menjawab raut tak mengerti yang ditunjukkan Si Gadis Kang. “Dia ke sana menemui Sehun.”

“Sehun?! Mantan kekasihnya yang brengsek itu?”

Kai tak urung terkekeh. Menghadiahi puncak kepala gadisnya dengan usapan lembut penuh sayang. “Dia tidak benar-benar brengsek, Tania. You don’t understand.” Kai mengedikkan bahunya sekali. “Dia hanya melakukan apa yang dia rasa baik bagi Ilana sekalipun itu menyakitinya. Tapi sekarang dia kembali berjuang, seperti aku yang sedang memerjuangkanmu. Kita.”

“Lalu apa masalahnya?”

“Sehun itu Silverstein.”

Tania mencibir tak kentara. Sedikit terlambat memahami medan. “Memangnya kenapa kalau dia Silver—H-Hah? Tunggu. Silverstein? Keluarga kaya-raya pemilik IHG itu? Yang hotelnya ada di mana-mana dan—Oh my God!” Dengan polosnya Tania menepuk dahi menggunakan tangannya yang bebas dari kuasa Kai. Mencari kebenaran dalam tatapan pria tersebut yang kemudian membuatnya mendesah berat. Membawa ingatannya mundur, memilah beberapa kenangan yang dirasa berkaitan. “Kenapa aku baru sadar? Berita-berita itu … Sehun Silverstein, Chanyeol Silverstein, bahkan Williard Silverstein.”

Setelahnya, bisa Kai pastikan, Tania pun dirundung kecemasan yang sama. Kembali memutar tubuhnya ke arah Kai dengan tangannya yang balas memberi genggaman hangat. “Aku memang tidak mengerti bagaimana orang-orang sepertimu menjalani hidup, tapi seperti apa pun itu …  Ilana tetaplah seorang perempuan—”

“Dan karena itu aku butuh bantuanmu, Tan. Kalian sama-sama perempuan, jadi kau akan lebih mudah memahami Ilana,” sela Kai dengan pelafalannya yang tertata apik. Dibelainya lembut pipi ranum Tania menggunakan ibu jari. “Ilana pernah mengatakan padaku bahwa dia merindukanmu dan kupikir tidak ada salahnya untuk membawamu ke sana. Aku juga ingin memastikan, jika hatiku tetap bisa bertahan dengan hanya melihat ke arahmu di saat Ilana berada di ruang yang sama, bukankah itu baik untuk kita?”

Tania berdeham, tidak lekas menyanggupi sampai suara berat Kai kembali terdengar mendesak. Membuatnya menyerah melalui satu anggukan di kepala, disusul sedikit penjelasan yang terdengar bak gurauan, “Aku juga sudah lama tidak berlibur sejak bekerja di sini.”

Good girl,” balas Kai seraya memindahkan usapannya ke puncak kepala. “Kau bisa siap-siap sepulang kerja, ‘kan?”

Tania mengangguk lagi. “Besok kita berangkat jam berapa?”

Yang dilempari pertanyaan pun tampak mengernyit. Mengurungkan niat untuk kembali memutar kunci dekat kemudi lantas menyahut, “Aku tidak bilang besok, Tan. Kita pergi ke sana nanti malam.”

“HAH?” Si Gadis Kang membeliak. “Apakah orang-orang seperti kalian memang selalu begini? Kita bukan pergi ke pasar, Kai. Ini Denham yang artinya kita pergi lintas benua. Lin-tas be-nu-a,” tegas Tania di akhir kalimat. “Apa kau juga begini setiap kali ada urusan pekerjaan?” Satu anggukan lain yang diberikan Kai pun membuat Tania nyinyir sendiri. “Malang sekali yang jadi istrimu nanti. Bisa mati kesepian karena terus kau tinggal pergi bekerja.”

Senyum yang semula terpahat di wajah tampan Kai pun berganti dengan tawa. Menyisakan Tania dengan tatapan heran yang langsung diterjang oleh susunan kata picisan milik pria ini. “Karena itu aku ingin kau berhenti bekerja setelah kita menikah nanti. Aku tidak mau jauh darimu apalagi membiarkanmu mati kesepian, Tan. Kasihan kalau anak-anak kita harus kehilangan ibunya.”

Nah, ‘kan! Tania bisa apa kalau sudah begini?

PF

Buckinghamshire, 15 : 47

.

Akhirnya, setelah menghabiskan hampir dua puluh menit lamanya untuk bertukar argumen dan menyempurnakan amunisi, Sehun pun bangkit berdiri. Menghindari atmosfer tidak nyaman yang sejak tadi gagal ia jinakkan. Mengambil langkah-langkah besar yang terhenti begitu mencapai pintu keluar. Bersiap memutar kenopnya kalau saja Evelyn tidak lekas bersuara. Kentara geram, menahannya untuk tetap tinggal.

If you dare to open that door, I don’t want to talk to you anymore!”

Terdengar seperti ancaman memang. Terlalu kekanak-kanakkan namun lebih dari cukup untuk membuat Sehun memutar kembali tubuh jangkungnya. Merentangkan tangan lebar-lebar, menunggu sambutan sang adik dengan ulasan senyum hangat di wajahnya yang kini terlihat kelelahan. “Come here.”

Setelahnya, Evelyn menyerah. Menghambur ke dalam pelukan Sehun sembari balas melingkarkan tangan. Melesak jauh, menyapa dada sang kakak yang detaknya tak lagi dapat dikatakan normal. Memburu seakan terjebak dalam peperangan. Menyisakan bibir kecil gadis ini yang tak urung mencicit, menumpahkan beban yang sejak tadi dicekat kerongkongan. “Just be who you are not the world wants you to be.

Sehun tersenyum tipis, lalu mengecup sayang puncak kepala Evelyn. Mengerti betul kekhawatiran adiknya di saat Sehun sendiri pun tak dapat menghentikannya. Hidup itu pilihan dan karena itulah ia berdiri di sini. Siap menyambut masa depan yang menjadi konsekuensi atas keputusannya beberapa saat lalu. Mencoba untuk percaya bahwa semakin terjal jalanan yang ditempuh, akan semakin indah pula tujuan yang menjadi akhir perjuangannya nanti.

Lalu, alih-alih menunjukkan luka yang sejatinya mendominasi jiwa, Sehun kembali memilih untuk bertahan dengan pretensi. Mengulum senyum simpul di bibir meskipun tahu takkan ada yang melihat. Menggegatkan kuasa dengan belaian lembut yang dihadiahkannya pada surai kecokelatan Evelyn. Sebelum mendaratkan kecupan keduanya di titik yang sama. “As time goes on, you’ll understand. Happiness is a choice that requires effort at times and that’s what I’m doing right now. Berjuang. Berusaha.”

Evelyn melenguh panjang seiring dengan lingkar tangannya yang merenggang. Mengembalikan jarak yang semula dikikis sempurna hanya demi membalas obsidian Sehun yang sewarna dengan miliknya sendiri. “If that doesn’t make you happy, it would be better if you didn’t do that. Because everytime you make mistake, you won’t able to go back and fix it. Never make permanent decisions on temporary feelings or you will regret it, Stein.” Dengan lembut ditangkupnya kedua sisi wajah Sehun. Sejenak menikmati wajah tampan yang sudah lama menghiasi hari-harinya dengan kegembiraan di tengah luka pembawa cacat. “I just want you to be happy.”

I know.” Sehun mengangguk. Memertemukan kening keduanya lantas tersenyum tulus. “I understand how much you care about me, Eve.”

“Aku tahu kau akan tetap melakukannya,” balas Evelyn serupa bisikan. Kentara memendam kecewa tapi tetap memaksakan diri untuk balas melengkungkan kedua sudut bibirnya yang terbebani kesedihan. “Ayah melakukan segala sesuatu bukan tanpa alasan. Akan selalu ada keuntungan yang ia kejar di baliknya. Termasuk soal perjanjian kalian untuk memenangkan tender bersama Grace yang secara tidak langsung akan membuatmu terikat bersama Keluarga Walton. Dan sekarang, setelah kau mendapatkan kursi yang ditinggalkan Ayah, itu akan membuatmu semakin terikat dengan IHG. Aku tidak ingin Ayah menjadikanmu bonekanya. Tidak, Stein. I hate it so much.”

Sehun balas merangkum wajah cantik Evelyn. Mengangkat kembali wajah yang sempat tertunduk, baru sesudahnya menimpali, “Itu tidak akan pernah terjadi, Eve. Tidak ada yang bisa mengendalikanku selain diriku sendiri. Lagi pula ini yang kuinginkan sejak awal. Berada di puncak dan membeli semua tantangan Ayah. Dengan memenangkan pemilihan ini, aku juga bisa membebaskan Chanyeol dari tekanan ibunya.”

“Chanyeol tidak menginginkannya.”

“Bagus, bukan? I can win easily.”

Evelyn mendecak sebal. “Tapi kau juga sudah tidak menginginkan ini lagi, Stein! Stop lying to yourself!” sentaknya kemudian. “Aku sudah lelah bertanya, hidup macam apa yang sebenarnya kita jalani selama ini. Ayah dan Ibu juga sudah tidak pernah pulang ke rumah selama seminggu terakhir. Aku tidak peduli, tidak mau peduli. Tapi aku akan terus peduli padamu karena kau satu-satunya yang paling memedulikanku. Aku kesepian dan sering kali merindukanmu. Hanya saja aku tidak pernah ingin bertemu denganmu dalam keadaan sekacau ini, Stein. Ak—”

“Hei …” Gemas dengan kekhawatiran adiknya, Sehun pun memutuskan untuk menyela. Memerkuat rangkuman tangannya di kedua sisi wajah Evelyn. “Aku butuh dukunganmu, Eve. Aku benar-benar membutuhkannya karena sekarang aku sedang berjuang.  Aku menyayangimu, kau tahu itu, ‘kan?”

Evelyn mengangguk. “Aku lebih menyayangimu.”

“Maka dari itu, belajarlah memercayaiku ya?”

Meski enggan, Evelyn mengangguk juga. Gadis ini baru akan menghambur ke dalam rengkuhan Sehun saat pintu di balik punggung dibuka secara tiba-tiba. Tidak berisik namun tetap saja mengejutkan. Menghadirkan sosok tampan Lay yang tadi tak kunjung tampak batang hidungnya. Mengusik kebersamaan sepasang kakak beradik penyandang marga Silverstein itu melalui suara husky-nya. “Lima menit lagi, Stein. Have you made a decision?”

Sehun mengangguk. Hendak bicara namun urung ketika Evelyn dengan menggebu mendahuluinya. Ganti menghambur ke dalam pelukan Lay yang tak pelak membuatnya merasa dicampakkan bersama rasa geli. “Where have you been, Uncle?”

“Aku agak sibuk tadi, Eve,” balas Lay sebelum mengecup kening mulus keponakannya. Tak berselang lama pandangannya kembali naik dan bertemu dengan manik biru penyimpan duka milik Sehun. “Mengurus persiapan untuk bertemu dengan teman lama.” Desahan pun ia hempaskan ke udara sebagai jeda. Sadar bahwa ucapannya akan terdengar mengejutkan, Lay lantas memelankan volume suara. “Kris Wu.”

Walau tidak terlihat jelas, Lay dapat menangkap tubuh tegap Sehun yang berubah tegang di detik selanjutnya. Terlebih saat vokal husky-nya kembali menuai silabel—yang nyatanya lebih dari cukup untuk menelan habis rasa percaya diri yang semula ditampakkan Sehun saat menghadapi kegelisahan Evelyn. “Ilana ikut bersamanya, Stein.”

PF

16 : 01

.

Satu jam yang lalu, Ilana berhasil memijak luasnya Bandar Udara Heathrow dengan ukiran senyum manis terpatri di wajah. Berusaha terlihat baik agar Kris berhenti mencemaskannya. Bertahan dengan pretensi untuk waktu yang cukup lama, sebelum akhirnya terdampar di sini. Tidak. Bukan terdampar dalam arti yang sesungguhnya. Ilana hanya … bingung. Tujuan awalnya seakan menguap berganti dengan rasa gamang yang mencekik napas bahagianya. Mengunci Ilana dalam renungan panjang tak berarah paska kepergian Kris ke Buckinghamshire.

Ya. Setelah melalui perdebatan yang cukup panjang, Ilana pun berakhir di sini. Ruang VIP InterContinental London Park Lane Hotel yang merupakan salah satu aset milik Silverstein. Ditinggalkan sendirian, bergelung dengan sepi. Termakan asa lantas dihinakan detak sang penunjuk waktu. Menjatuhkan arah fokusnya hingga menembus lapisan kaca yang kini jadi sekat transparan. Berusaha menikmati keindahan kota London yang nyatanya tak mampu samarkan gelisah. Nuansa klasik dari bangunan-bangunan lama yang masih berdiri kokoh pun terasa hambar dalam penglihatan.

London Ex King

Pikiran Ilana terlongsong jauh mengembara. Memikirkan banyak hal hingga bertanya-tanya. Meringis sendiri begitu menyadari bahwa seluruh kuriositasnya berpusat di titik yang sama; Sehun.

Sedang apa pria itu sekarang?

Bagaimana keadaannya?

Apakah baik-baik saja?

Ya, Tuhan. Sepertinya ada yang salah dengan otak cantik Ilana. Hatinya tetap terasa sesak tak peduli sekuat apa pun gadis ini mencuri oksigen dari udara. Hilang akal untuk sekadar menampik rindu yang sejatinya merasuki sukma. Menggoda dewi batin Ilana agar lekas membangkitkan si arogan. Belajar egois dengan meminta pria itu muncul di hadapannya. Sekarang. Detik ini juga.

Tapi, tidak mungkin. Ilana takkan tega melakukannya.

“Kau tetap akan datang ‘kan meski aku tidak memintamu secara terang-terangan?” Seketika Ilana bermonolog. Menatap layar ponselnya yang dipenuhi sejumlah pesan singkat dari Sehun. “Aku merindukanmu. Apa kau dengar aku? Aku membutuhkanmu, jadi—” Pandangan Gadis Kim ini kembali berkhianat. Menelanjangi keindahan kota, baru setelahnya menambahkan dengan begitu lirih, “—kau harus datang. Berbagi rasa lelahmu denganku karena aku tahu kau tidak mungkin baik-baik saja sekarang. Kau dengar aku ‘kan … Oh Sehun?”

Dan tepat seperti yang dipikirkan Ilana, Sehun tengah berdiri kaku di tempat yang berbeda—dalam keadaan yang tidak dapat dikatakan baik tentu saja. Terkunci di antara sekian puluh pasang mata yang memandanginya dengan raut penuh penghakiman. Menuntut kebenaran dari apa yang belum lama ini dijadikannya amunisi peraih kemenangan. Memenjaranya di tengah-tengah meja panjang yang telah diatur sedemikian rupa.

downtown-toronto-hotel-green-meeting-top

Sehun diam dan menunggu. Sampai salah satu dari jajaran Direksi mengangkat tangan dan menyerangnya dengan sebuah pertanyaan. Singkat namun cukup membuatnya tersentak dalam kungkungan mata Williard. Sadar bahwa ayahnya enggan dihinakan. “Apa Anda tahu apa kesalahan Tuan Williard?”

“Tentu saja.”

“Jelaskan!”

Sejenak, Sehun sempatkan diri membalas cecaran obsidian Williard melalui ekor mata. Memantapkan hati, baru setelahnya membiarkan lisan mengambil alih. “Beliau kehilangan keseimbangan dalam kehidupannya sebagai CEO dan seorang manusia biasa. Gagal memisahkan antara urusan pribadi, lepas kendali, menyakiti orang lain, yang akhirnya berimbas pada minusnya nama perusahaan.”

“Hanya itu?”

“Tidak. Ada satu yang paling fatal. Tuan Williard terlalu menekan orang-orang disekitarnya karena memiliki ekspektasi untuk sukses yang terlalu tinggi. Selalu berasumsi bahwa apa yang menurut Beliau baik akan dipandang baik pula oleh orang lain. Sedangkan kita semua tahu yang dibutuhkan dalam mencapai kemakmuran perusahaan adalah membangun kerjasama yang menyenangkan sesama rekan kerja.”

Si Penanya kontan menganggukkan kepala. Tampak puas dilihat dari senyum asimetris yang dilemparkannya kepada Williard. Siapa yang tidak senang melihat musuh dilumpuhkan oleh keturunannya sendiri. Dan, tak berselang lama, pandangan Si Penanya pun berpaling kepada Chanyeol. “Bagaimana menurut Anda, Tuan Park?”

Chanyeol mengangkat satu alisnya kemudian mengedikkan bahu. Bibir tebalnya pun membuka, memuntahkan susunan kata retoris yang membantu Sehun mencapai kemenangan. Sengaja mundur teratur meski tidak kasat mata. Berusaha tak acuh pada sorot murka yang dihujamkan Sandara lurus-lurus ke arahnya. “Apa perlu membuang-buang waktu dengan mendengar penjelasan yang sama sebanyak dua kali, Tuan?”

Life is a choice, and this is their choice.

PF

18 : 01

.

“Sudah selesai?”

Sehun menggeleng pelan. Wajahnya pun melesak kian dalam di antara lipatan tangan. Sengaja menyembunyikan guratan-guratan penat yang sejatinya kentara menggores ketampanan. Tak lama menambahkan pelafalan lisan demi meyakinkan diri bahwa jawabannya telah rampung dicerna sang paman. “Not yet.”

Lay sendiri tampak mengernyit. Menghadiahi puncak kepala Sehun yang terkulai dengan sebuah pukulan lantas bertanya—setengah geram, “Lalu untuk apa kemari? Kau tidak ingin tahu hasilnya, huh?”

Sekali lagi Sehun menggelengkan kepala. “Aku baru saja mengantarkan Baekhyun dan Evelyn ke depan dan pintu ruanganmu menjadi yang pertama menyambutku sekeluarnya dari lift,” akunya, jujur. “Lagi pula di sana masih ada Chanyeol.” Setelahnya, Sehun pun mendongak. Menjumpai raut keheranan Lay dengan ulasan senyum asimetris terpatri di wajah. “Am I doing something wrong?”

“Menurutmu?”

Hening lekas merayap. Memenjara lisan Sehun untuk waktu yang cukup lama. Dipaksa berpikir dan mengingat. Membayangkan, lalu membandingkan. Memilah, tapi pada akhirnya menyerah juga. Karena tidak peduli sekeras apa pun nalarnya berkelit, jawaban yang sama selalu berhasil menghantui. Menghinakan keputusannya sedemikian rupa di antara pahitnya penyesalan. Hingga tiba saatnya Sehun mengaku tanpa mampu meratap. “Ya.”

So, do you want to go back and fix your fault, Kiddo?” canda Lay. Melepaskan kekehan yang tertangkap begitu sumbang dalam pendengaran Sehun. Tak berselang lama, akal sehatnya kembali melalui sebuah tamparan keras di palung hati. Mengentaknya untuk lekas kembali ke tujuan semula dan menyudahi bias-bias kebahagiaan yang sesungguhnya tak pernah ada. “Just do what you think you should do and stop struggling with the remorse. Don’t be afraid to walk the path you must go just because you can’t see the end. The path becomes clearer as you continue to go on. Trust me!”

Sehun tersenyum tipis. “I trust you as always.”

Baru Lay membuka mulut, tablephone-nya sudah berbunyi. Mengurungkan niat pria ini untuk membalas ucapan Sehun dan berganti menekan salah satu tombol yang membuat panggilan tersambung otomatis. Hanya butuh beberapa detik untuk mendengar vokal tertata Liv—asistennya dari ujung telepon sana. “Tuan Kris sudah datang, Tuan. Ingin bertemu Anda.”

Ceo-Office-Design-For-64-Hartke-Office-Design-On-Pinterest-Ceo-Office-Modern

Tak urung Lay melirik keberadaan Sehun. Menghela napas panjang, lalu menyahut penuh ketegasan. “Biarkan saja dia masuk, Liv. Kami memang sudah ada janji.”

“Baik, Tuan.”

Panggilan terputus seiring dengan tubuh jangkung Sehun yang bangkit berdiri dalam sekali hentak. Mengejutkan Lay tanpa aliansi hingga tak mampu menekan kuriositas. Menuntut sebuah jawaban melalui seruan-seruan kecil yang nyatanya tak langsung diindahkan Sehun. Tidak sampai tubuh jangkung Chanyeol menyambut di balik pintu. Membekukan langkah yang semula terjejak tanpa beban, terlebih saat satu tangan Si Pria Park terulur—menunggu untuk disambut.

Kendati memenuhi, Sehun hanya berdiam diri dengan kedua tangan terkunci di sisi tubuh. Terpaksa mengulum senyum di ujung bibir yang sialnya tetap tak mampu mencapai mata. Kentara palsu dan mengandung luka. “You win.” Bahkan, kalimat pertama yang diungkap Chanyeol masih tak mampu kaburkan kesakitan Sehun. Karena bukannya merasa senang, pria ini justru semakin terbebani. “Harusnya setelah ini penderitaan yang diberikan ibuku selesai, bukan?”

Lalu bagaimana dengan penderitaanku? Sambung dewa batin Sehun.

“Terimakasih, Stein. Ak—”

“Ilana pasti sudah menungguku,” potong Sehun. “Aku harus pergi.”

Jika Lay membelalak melihat pengelakan Sehun, maka Chanyeol lain lagi. Pria Park itu hanya mampu mematung. Bisu sebisu-bisunya orang bisu. Seakan terlupa pada pakem berbahasa yang telah ditelannya bulat-bulat sejak bangku Sekolah Dasar. Bersandar di ambang pintu lantaran posisinya yang sedikit bergeser diterjang ketergesaan Sehun. Menimbulkan peraduan bahu—yang meskipun tidak terbilang parah namun tetap meninggalkan bekas.

Begitu perih, menyesakkan, dan Chanyeol pun menyesal.

I’m selfish, huh?” gumamnya seolah bermonolog. Tak acuh pada keberadaan Lay yang seharusnya layak dijadikan lawan bicara. Lebih senang menghakimi diri melalui repetan padat yang lolos dari bibir tebalnya. “Dia tak benar-benar menginginkannya tapi tetap dia lakukan. Berbaik hati untuk membebaskanku dari tekanan dengan menjerumuskan dirinya sendiri. Lalu, aku? Aku dengan egois menerima sebentuk pengorbanannya tanpa pikir panjang. Hanya mementingkan diri sendiri karena aku sudah sangat lelah menghadapi semuanya. Am I doing something wrong?”

Lay mengumpat diam-diam. Menyerah pada kuasa turbulensi yang membawa ingatannya melayang pada peristiwa beberapa menit lalu. Ketika Sehun juga memuntahkan pertanyaan serupa dan—kacaunya—Lay tidak pernah tahu bahwa mendengar pertanyaan yang sama di waktu yang berdekatan bisa jadi seburuk ini. Menyiksanya hingga hilang tenaga. Jatuh terduduk di atas singgasana yang kini tak lagi mampu beri ketenangan. Hilang akal untuk sekadar melanjutkan pretensi; aku baik-baik saja.

“Stein sudah melakukan semuanya untukku. Tapi kenapa aku tetap terluka setiap kali dia menyebut nama Ilana? Mengantarkanku pada satu kenyataan di mana gadis itu tak pernah bisa kumiliki sebaik Stein memilikinya? Kenapa harus Ilana, Paman? Kenapa harus gadis yang bisa membuat kami saling melukai?”

Satu dehaman asing memecah konsentrasi. Mengembalikan Chanyeol dan Lay ke garis normal secara serentak, untuk kemudian terkesiap menyadari kemunculan Kris yang terlambat ditangkap radar mereka. Menyisakan Chanyeol yang membungkuk hormat—mengacu pada usia, yang dibalas Si Pria Wu dengan satu anggukan kepala meski kentara ragu.

Sementara Lay? Pria itu justru bangkit berdiri dengan selembar kertas terkunci dalam genggaman. Mengambil langkah tergesa guna mendekati Kris. Memulai pembicaraan tanpa berniat memberi sambutan hangat sebagai pembuka. Bukan karena Lay membenci tamunya ini, tapi lebih kepada situasi yang menekan. Mendesaknya untuk lekas memuntahkan beban. “Semuanya tidak akan pernah mudah, Kris. Tidak-akan.”

“Aku tahu,” balas Kris.

“Tapi Kathryn sudah keterlaluan!” Chanyeol baru akan beranjak saat mendengar satu hardikan murka dari Lay. Membuatnya cepat tanggap dengan mengunci rapat pintu yang semula terbuka lebar. Menutup akses bagi siapa pun untuk mencuri dengar. Mencerna setiap dialog yang terlontar dalam diam meski sejatinya tak pernah ingin.

“Kau selalu tahu bagaimana aku membenci kakakmu itu. Dia mengacaukan semuanya. Se-mu-a-nya! Dan hal yang sama dia turunkan kepada keponakanmu dalam skala yang lebih besar. Bukan lagi dua sahabat, tapi dua saudara. Adakah yang lebih buruk dari ini?!” tuntut Lay parau. “Dari sekian banyaknya perempuan di dunia ini, kenapa harus Ilana Kim? Kenapa harus dia?!”

“Soal Kathryn aku benar-benar minta maaf. Aku tahu dia egois, tapi Ilana tidak tahu apa-apa, Lay. Dia sungguh-sungguh mencintai Sehun dan—”

“Dan siap terluka bersama, begitu?” potong Lay, meremehkan. “Mungkin semua ini takkan pernah terjadi jika aku tidak membiarkan Sehun menyelesaikan kasus Suho Kim di tengah aksi kaburnya. Mungkin semua ini masih bisa diatasi jika dulu aku berhasil menahan niatan gila Sehun untuk menyewa Ilana sebagai kekasihnya. Mungkin jika dulu aku tidak membantunya pergi dari rumah dia akan tetap menjadi Stein yang sebenar-benarnya Stein. Ya. Pada akhirnya semua kesalahan bermula dariku.” Kekehan sumbang pun lolos. Memberi jarak antarkalimat dengan begitu menyedihkan. “Haruskah kita pisahkan saja mereka, Kris?”

Kris terkesiap. “Kau memintaku datang kemari hanya untuk ini?”

Lay terdiam sebentar. Tangan pun ia ulurkan, sengaja mengangsurkan kertas dalam genggaman ke tangan Kris. “Besok Stein akan menyakitinya lagi. Aku tidak yakin kau akan siap melihatnya terluka di muka umum.”

“Sehun tahu ini?” tanya Kris. Tatapannya masih belum berkhianat dari tatanan huruf yang tercetak medium pada permukaan kertas dalam kuasa.

Lay mendengus. “Aku belum sempat memberitahunya. Tapi Kris, kau perlu tahu, saat Stein melukai Ilana itu sama saja dengan melukai dirinya sendiri. Dan aku … Aku sudah lelah. Memisahkan mereka akan membuat kedua keponakanku merasakan keadilan. Toh, bersama atau tidak, mereka akan tetap terluka.”

“Justru karena itu, Paman!” Chanyeol berseru lantang. Lebur dalam percakapan dua arah yang sedari awal didominasi oleh Lay. “Karena bersama atau tidak akan tetap membuat keduanya terluka, kenapa tidak kita biarkan saja mereka berjuang? Aku memang terluka, tapi satu orang terluka akan lebih baik daripada dua orang yang terluka. Benar yang dikatakan Tuan Wu. Ini sama sekali bukan salah mereka. Bukan pula salahmu, salahku, atau salah siapa-siapa. Ini hanya mengangkut waktu. Mereka jatuh cinta di saat masa lalu itu belum benar-benar hilang.”

“Jangan ikut campur, Chan!” sentak Lay.

Chanyeol menggeleng. “Aku percaya bahwa Stein takkan melukai Ilana lagi, karena baginya … melukai Ilana sama saja memberiku kesempatan untuk masuk lebih jauh. Dan selama itu tidak terjadi, aku hanya akan bertahan di tempatku, seperti ini.”PF

20 : 18

.

Sudah malam dan Ilana pun mencoba untuk terpejam. Menutup kelopak guna menyembunyikan nanar violetnya. Mencoba tak acuh pada serentet pengharapannya yang berujung sia-sia hingga gelap kembali gantikan senja. Bukan Ilana mengeluh apalagi kecewa. Gadis cantik ini hanya merasa … tersisihkan. Karena faktanya, selain tidak datang mengunjungi, Sehun juga mengambil sikap tak acuh. Pesan singkat yang dikirim pria itu pun hanya seputar menanyakan keberadaan dirinya tanpa embel-embel kabar atau pun menanyakan kegiatan Ilana. Lalu begitu gadis ini memberi balasan—dengan gerakan super cepatnya mengingat ia sudah menantikannya sejak awal tiba di London—ponselnya justru kembali sepi.

Tak ada pesan balasan lagi. Tidak juga panggilan masuk. Sebegitu sibuknyakah Sehun?

Seketika Ilana menggigit bibir seiring dengan punggung tangannya yang merangkak menekan dahi. Berusaha mengusir pening yang kini menggelayut tanpa sedikit pun niat untuk membebaskan pandangan. Agaknya lebih senang membiarkan bola mata ungunya bergerak gelisah di balik perlindungan kelopak. Terlalu takut menjumpai kenyataan bahwa dirinya kembali terjebak sepi dalam selimut kerinduan nan menyiksa. Sama seperti satu tahun lalu. Saat di mana dirinya bersikeras untuk terbiasa sepeninggal Sehun.

Haruskah Ilana membiasakan dirinya lagi seperti dulu?

Ya. Tentu saja. Ilana bukan gadis yang manja dan gila perhatian. Jadi, tidak akan sulit, bukan?

Harusnya iya, tapi tidak lagi setelah indera penciuman Ilana digelitik oleh aroma Sehun. Begitu jelas seolah nyata. Sedangkan Gadis Kim ini sendiri pun tahu bahwa apa yang dialaminya sekarang tak lebih dari bualan rasa rindu. Dan tak ada hal yang lebih baik dengan mengembalikan kesadarannya secepat mungkin. Sebelum ia lepas kendali dan berteriak. Menyerukan silabel pembangun nama cintanya seperti orang idiot.

Baru saja meneguhkan hati, Ilana justru merasa aroma itu kian kuat melingkupinya. Menyapu setiap inci permukaan wajah hingga tak urung membuatnya menggeliat gelisah. Terpaksa membuka mata, lalu tersentak mendapati keberadaan sepasang obsidian Sehun di tengah minimnya jarak. Menuai silabelnya yang tersendat rasa terkejut. Mencicit lirih namun kentara bahagia. “K-Kau … datang?”

Sehun terkekeh sembari mengulurkan tangan. Menyentuh pipi kanan Ilana, kemudian menekannya lembut dengan ibu jari. “Harusnya aku yang bertanya begitu padamu, Sayang,” balasnya gemas. “Rasanya masih sulit percaya saat Paman Lay mengatakan bahwa kau datang kemari. Harusnya kau tidak datang di saat seperti ini, La. Semuanya masih terlalu berantakan dan aku belum berhasil mengatasinya.”

Ilana mengerjap tak percaya. Lekas mendudukkan diri dengan kedua kaki menyentuh milik Sehun yang masih bertahan di tepian ranjang. Sorotnya berubah sendu, dipenuhi kekecewaan. “Apa kau baru saja mengatakan bahwa kau tidak senang aku ada di sini?” tanya gadis ini. Hanya ingin memastikan pahit yang baru saja disesapnya dari luka.

“Tentu saja aku bahagia, Sayang. Aku hanya berharap kau tidak perlu mengunjungiku di saat seperti ini. Karena tak ada yang lebih baik dari membawamu ke Denham untuk mengenalkanmu pada keluarga besarku. Nanti, setelah aku berhasil merapalkan mantra ampuh untuk mengikatmu.”

Kedua pipi Ilana tak pelak merona. Bekerja sama dengan hatinya yang belum lama ini menyimpan apik janji manis Sehun. Menumpuknya dalam relung bersama pengharapan-pengharapan yang lain hingga membuat sang empunya terlena meski tidak sampai membutakan mata hati. Ilana tidak bodoh. Bearada dalam jarak dekat bersama Sehun justru memudahkannya untuk menangkap kegelisahan yang tersembunyi. Di mana pria Silverstein itu tak pernah benar-benar membalas tatapannya. Lebih sering menundukkan kepala atau membuang fokusnya melewati bahu Ilana.

“Hun …” Ilana menarikan lentik jemarinya. Merangkum kedua sisi wajah Sehun dengan kelembutan tak terkira. Menuntut atensi prianya tersebut secara halus, kemudian menguncinya. “Share with me … Your pain. Aku tahu kau tidak sedang baik-baik saja sekarang.” Kuluman senyum manis pun dijadikan jeda. “Aku tidak ingin kedatanganku kemari sia-sia. Aku punya ini—” Ilana lantas menepuk bahu sebelum melanjutkan,”—untuk menopangmu saat sedang kelelahan.”

Sehun coba melengkungkan bibir. Kembali mengukir senyum yang tak pernah berhasil menggapai sendu dalam pancaran mata. Membawa kesadaran pria ini pada satu titik terlemah hingga akhirnya memutuskan untuk menyerah. Menjatuhkan kepala di atas pangkuan Ilana dan tak menolak ketika helaian surainya mulai dilenakan usapan-usapan lembut dari gadis yang sama.

I’m tired, Amore.”

Tired to defent us?”

Decakan sebal pun diloloskan Sehun tanpa tanggung-tanggung. Disusul terkuncinya tangan kanan Ilana yang bebas ke dalam genggaman. Mengecupnya beberapa kali, untuk kemudian terpaku pada cincin bergambar pinguin yang senada dengan miliknya. Terpukau pada kenyataan di mana Gadis Kim ini masih rela mengenakan barang-barang pemberiannya tempo hari walau saat itu keduanya masih dibungkus ketat aura permusuhan.

Sadar bahwa pertanyaan Ilana belum menemui jawaban, cepat-cepat pria ini memaksa kerja lisannya. “What kind of an idiotic question is that? Bagaimana bisa aku merasa lelah jika ‘kita’ adalah segalanya bagiku, hm?” Dikecupnya lagi punggung tangan Ilana. “I’m just tired to lying to myself. Aku tidak benar-benar menginginkannya, but I still have to do that. Kenapa menjadi orang baik itu sama sekali tidak menyenangkan, La? Yeah, aku akui sejak dulu aku memang saat ingin berada di posisiku sekarang, tapi haruskah dalam keadaan sekacau ini? Bayangan-bayangan tentang aku mungkin saja menyakitimu, itu sangat menyeramkan. Aku … Ak-Aku—” Sehun melenguh panjang. Mendesah merasakan sesak yang mencekat sisa-sisa silabelnya hingga berubah rumpang.

“Kau bisa menangis.”

Penawaran Ilana kontan membuat Sehun mendongak. Menggeleng bar-bar dengan senyum masam terulas di bibir. Siap untuk beranjak dari posisinya kalau saja Ilana tidak gesit mencekal pergelangan. Memaksanya untuk kembali berbalik hingga tubuh keduanya berhadapan secara utuh. Berdiri di tengah sepi. Bertukar pandangan dan berbagi napas. Membuat Sehun terbuai dalam sorot lembut yang dipancarkan kedua violet cantik Ilana.

Sekali lagi Sehun menampilkan senyum pahitnya. Menelan ludah sebelum akhirnya mengempas tubuh mungil gadisnya ke atas tempat tidur, lalu mengungkungnya di kedua sisi. Tak berselang lama wajah Sehun pun melesak ke dalam perpotongan leher Ilana—masih dengan kedua tangan yang menumpu bobot tubuhnya sendiri. 

Tak ada suara berarti yang tercipta. Namun dalam keheningan yang meraja, Ilana tetap dapat merasakan kulit lehernya yang berubah dingin dan basah. Mendorongnya untuk kembali meneruskan usapan lembutnya di puncak kepala Sehun. Tersentak sendiri saat bariton milik pria yang sama kembali memenuhi pendengaran. “Am I look pathetic?”

Ilana menggeleng. “No, you aren’t.”

Tiba-tiba Sehun berguling ke samping kanan. Menarik Ilana untuk melakukan hal yang sama, sebelum akhirnya kembali melesakkan wajah di ceruk leher gadisnya tersebut. Menghirup feromon Ilana yang selalu terasa bak heroin. Membuatnya candu tanpa tahu caranya sembuh hingga kerap kali pria ini harus tersiksa rindu seumpama pesakitan. Sehun hanya ingin bersama Ilana dan menghabiskan seumur hidup mereka dalam kebahagiaan. Tapi … haruskah sesulit ini?

I did it,” Sehun meracau lagi. “I saved Chanyeol, but I can’t save myself.” Kekehan sumbang dilepas pria ini hingga menggema. “Begitu banyak yang mengetahui kebenaran, tapi tak ada satu pun dari mereka yang coba memerbaiki. Menyimpannya rapat-rapat dalam pretensi, sampai akhirnya meledak tanpa bisa dikendalikan lagi. Membuatku bertanya-tanya, sudah berapa lama aku menjadi si buta yang menjalani hidup dalam kebohongan orang-orang di sekeliling? Chanyeol saja bisa tahu, kenapa aku tidak, La?”

“Aku tak pernah ingin pulang ke rumah karena rumah memang tak pernah nyaman untuk kutinggali. Hatiku sesak setiap kali Evelyn mengeluhkan bagaimana ia tersiksa kesepian, sementara aku tak mampu lakukan apa pun untuk membebaskannya. I feel stupid, La.” Kelima jemari Sehun mencengkeram lengan kanan Ilana yang kini melingkari lehernya tanpa sadar. “Aku sampai melakukan cara-cara kotor hanya untuk mendapatkan apa yang kuinginkan. More than ambitious, I’ll be the one who thirsty. Haus akan bayangan diriku yang berada di puncak kesuksesan. Aku menjijikkan, La. Aku tak seputih dirimu. Aku gagal memertahankan semuanya. Aku tidak pantas untukmu. Aku … kotor.”

Diserang jengah luar biasa, Ilana pun bergegas menarik diri. Mencoba membuat wajahnya sejajar dengan Sehun lantas menangkup kedua pipi prianya yang terasa lembab dalam sentuhan. Menekan kedua sudut mata Si Pria Silverstein yang irisnya telah memerah tergores pedihnya luka. “Love is irrational. The more you loved someone, the less sense anything made. Aku mencintaimu karena kau adalah Sehun and this is enough for me. Tak peduli kau itu kotor, menjijikkan, I still love you no matter what. Get it?”

So, you’re still love me?” Sehun kembali dengan senyum terbaiknya.

The way I feel about you will never change. Of course I love you and there’s nothing will be able to prevent it! Tidak, kecuali kau sendiri yang menyakitiku, Hun.”

That’s all I want to hear.”

Ilana turut mengulum senyuman. Menikmati setiap sentuhan lembut yang diberi Sehun untuknya. Mulai dari menyampirkan anak surai di belakang telinga, pun dengan kecupan lembut di kening. Turun menyambangi kedua kelopak mata, menggoda ujung hidung tanpa melewatkan kedua pipinya yang kini merona. Terhenti lama, sebelum akhirnya berakhir di manis cerinya. Menyesap sedikit, kemudian menarik diri. “Kurasa aku tidak akan bisa bertahan hidup di dunia yang tidak ada kau di dalamnya, La.  I have no idea about how to live without you. I’d rather die than be with anyone else. Hanya denganmu aku bisa menjadi diriku sendiri. Hanya padamu aku berani memuntahkan segalanya yang tak bisa kubagi pada dunia.”

“Setidaknya dengan begitu aku bisa tahu bagaimana buruknya wajah seorang Sehun Silverstein ketika menangis,” gurau Ilana disusul tawa renyahnya. Meledak seakan tak pernah merasakan luka dan baru berhenti saat kedua jari Sehun menjepit ujung hidungnya dengan wajah murka. Hendak melancarkan aksi permohonan maaf kalau saja kalimat Sehun selanjutnya tidak mengubah arah kuriositas gadis ini. “Ingin lihat sesuatu yang menarik?”

Satu anggukan sempat diberi Ilana sebelum terkesiap menyadari pergerakan Sehun di detik selanjutnya. Ketika tangan-tangan piawai pria itu meloloskan beberapa kancing kemeja putih polosnya yang tak urung membekukan Ilana. Membuat kedua tangan gadis ini terkepal kuat, bersiap melayangkan satu tinjunya namun urung. Alih-alih murka, gadis ini justru terkesiap melihat pemandangan yang kini memenuhi fokusnya.

You are the most important thing to me now. The most important thing to me ever,” bisik Sehun tepat di daun telinga gadisnya. Pria itu tak mampu menolak saat jemari lentik Ilana menekuri ukiran di dadanya. Berharap gadisnya akan lekas mengerti dan mampu membaca makna yang ingin disampaikannya sejak awal. Tak hanya lisan namun juga tindakan because actions always prove why words mean nothing. Sehun tak ingin menjadi hampa tak berguna bagi Ilana. Ia justru ingin menjadi segalanya. Semua yang layak bagi Ilana hingga gadis itu takkan ragu bersandar padanya.

Is it hurt?”

Pertanyaan yang dilontarkan Ilana dengan begitu polos pun berhasil menuai tawa geli Sehun. Membuat bahu pria ini bergetar, disusul tangannya yang sibuk menautkan tangan kirinya dengan tangan kanan Ilana. Sengaja menyatukan sebentuk hati yang terukir di sana. “Rasanya tak jauh berbeda dengan ini, La. Hanya waktu pembuatannya saja yang lebih lama.” Sehun memertahankan senyumannya selama beberapa saat, kemudian menambahkan, “Aku sangat mencintaimu, tapi aku tahu itu saja tidak akan pernah cukup. Aku perlu menjadi lebih kuat agar bisa melindungimu dan anak-anak kita nanti. Dan langkah pertamaku menjadi seorang CEO akan memastikan bahwa kau tidak akan jatuh miskin saat menikah denganku nan—Aw. Kenapa mencubitku, Sayang?”

“Apa kau pikir aku ini matrealistis, huh?!”

“Tidak. Tentu saja tidak.” Sehun cepat-cepat mengecup sayang jemari Ilana yang bertaut dengan miliknya. “Aku hanya mencoba realistis sesuai dengan tempat di mana kita dibesarkan. Jika aku mapan, aku tak perlu malu ketika melamarmu menjadi istriku nanti. Aku bisa dengan bebas mengangkat dagu, menunjukkan pada keluarga besarmu bahwa aku adalah pria yang layak untuk seorang Ilana Kim.”

Ilana menggeleng. “Aku tidak sehebat itu sampai kau harus menjadi sangat-sangat hebat hanya untuk mendapatkanku, Hun. Kau berlebihan,” sergahnya lembut.

“Di mataku, kau lebih dari sekadar hebat, Sayang.” Ini bukan bualan. Sungguh. Sehun hanya sedang mencoba untuk berdamai dengan hati. Mengungkap segala kejujuran yang tersimpan setelah memuntahkan cukup banyak luka yang menodai kebersamaan mereka di awal tadi. “What I want and what I need is to be with you, and I know I’ll never be strong enough to leave again.”

Then don’t.

Of course I won’t,” balas Sehun tanpa keraguan. “Kau lelah, bukan?” tanyanya sembari menarik tubuh mungil Ilana merapat padanya. Ingin mengelus lembut helaian surai gadisnya kalau saja tak ada penolakan yang terjadi.

Ilana sendiri tengah mengerjap lucu setelah berhasil mendorong bahu Sehun. Meretas jarak yang semula dipapas habis, sebelum memberanikan diri untuk bertanya. “Kau tidak akan mungkin tidur di sini, ‘kan? Ini salah satu aset IHG, Hun. Tidakkah ini akan mengundang ketidaknyamanan banyak pihak? Maksudku kecurigaan? Kau Silverstein dan kau mengunjungi seorang gadis yang diketahui publik sebagai kekasih orang lain. Lebih dari bertamu, kau masuk ke dalam kamarku tanpa mengetuk pintu.”

“Karyawanku tak akan berani macam-macam, Lana.”

Ilana berdecak. “Tapi tidak semua yang ada di hotel ini adalah karyawanmu, ‘kan?”

Sehun mendesah berat. Bergegas menarik kembali Ilana ke dalam lingkar tangan dengan egonya. Tak mengacuhkan aksi protes yang kembali ditunjukkan gadis itu. “Aku sudah cukup banyak mengorbankan perasaanku sendiri untuk menjaga perasaan orang lain hari ini. Chanyeol, Ayah, Paman, Kakek, bahkan adikku sendiri. Tidak bisakah kita mengabaikan dunia untuk malam ini saja? Aku hanya ingin di dekatmu, Amore.”

“T-Tapi …”

“Hanya tidur. Aku berjanji. Aku juga tidak ingin mengambil apa yang belum seutuhnya menjadi milikku.” Sehun menjepit dagu Ilana menggunakan tangannya yang bebas. Memertemukan iris keduanya di titik yang sama kemudian tersenyum, meneduhkan. “Aku tidak akan mungkin merusakmu, La. Kau terlalu berharga untuk itu. Nanti, akan ada saatnya di mana aku memilikimu secara utuh dengan cara yang benar.”

Binar-binar bahagia kentara terpancar dari violet Ilana. Membuat gadis ini tergelitik hingga dengan berani melayangkan satu kecupan ringannya di bibir Sehun. Mengucap sedikit salam perpisahan yang siap membawa keduanya bertemu kembali di alam mimpi. Melesakkan diri kian jauh ke dalam rengkuhan Sehun, mencari kenyamanannya yang sempurna. “Selamat tidur, Sehun.”

Sesudahnya tak ada lagi yang lebih baik selain kecupan ringan di puncak kepala serta bisikan lembut yang menggetarkan hati Ilana. Menyisakan Si Gadis Kim yang tersenyum begitu cantik di antara pejamannya. “Tidur yang nyenyak, calon istriku.”

PF

London, 29 Mei 2016

07 : 10

.

“Kau akan pergi secepat ini?” Ilana berusaha menelan potongan terakhir rotinya sambil menatap sosok tampan berpenampilan rapi yang duduk di hadapan. Tak urung membuatnya meneliti penampilan diri sendiri hingga meringis. Sesekali membenahi ikatan surai yang kentara asal hingga tak terbawa seluruhnya. Diserang krisis percaya diri tanpa pernah tahu bahwa dirinya akan selalu terlihat cantik di mata Sehun .

Yang dijadikan teman berbincang pun belum lama ini menganggukkan kepala. Menambahkan lisan sebagai penguat dengan sorot elangnya yang tak kenal lelah menelanjangi keindahan Ilana tanpa polesan make up. “Apa semalaman tidur dalam pelukanku masih belum cukup, hm?” goda Pria Silverstein ini sembari melirik rolex di pergelangan. Mengulum segaris senyum tipis di bibir begitu ingatan melambungkan kenangan termanisnya bersama Ilana. “Do you still remember this watches, Amore?”

Rolex Couple 007

Ilana ikut tersenyum, kemudian mengangguk dua kali. “Aku masih simpan pasangannya di rumah. Hadiah pertama yang kau berikan dalam situasi—” Gadis ini seketika kehilangan kata. Tak kuasa menyembunyikan semburat merah muda di kedua pipi lantaran ingatan yang memermainkan kesadaran. Menariknya ke dalam kungkungan turbulensi, malu sendiri mengingat pertemuan pertamanya dengan Sehun di Universitas Humboldt. Bagaimana pria menyebalkan di hadapannya ini membahas ukuran dadanya dengan begitu sembrono, bahkan di hari ulang tahun Ilana—tepat setelah pria itu mengikatnya secara tidak kasat mata.

Sehun sendiri sudah tergelak dalam duduknya. Menggoda wajah merona Ilana dengan kedua alis yang diangkat jenaka. “Situasi apa, Amore?” tuntutnya sembari mengusap dagu. Menurunkan pandangan hingga berakhir di dada Ilana yang kontan membuat pemiliknya melempar gurat murka. “Apa ukurannya masih sama seperti dulu?”

“Dasar pria mesum!” cibir Ilana dengan kedua tangan menutupi dada.

Sehun kembali mengurai tawa, kemudian menggeleng tak terima. “Kalau aku mesum, sejak malam itu kau tidak akan pernah utuh lagi, Sayang. Aku pasti sudah memakan habis dirimu setelah aku melihat semuanya. Tidak semua, sih. Kurang satu titik lagi.”

Titik fokus Sehun semakin merangkak turun, mendorong Ilana untuk segera bangkit dari duduk manisnya dan menerjang Sehun. Menghukum prianya tersebut melalui pukulan-pukulan keras, terlupa pada kenyataan bahwa tenaganya takkan pernah sepadan. Alih-alih puas, gadis ini justru berakhir dalam lingkar tangan Sehun. Ganti disiksa melalui kecupan-kecupan ringan yang dilayangkan Sehun di perpotongan leher hingga bahunya yang sedikit terbuka. Mengakhirinya dengan satu gigitan kecil yang membuat Ilana membeliak dan kembali melayangkan pukulannya.

“Berhenti, Hun! Aku belum mandi,” pekik Si Gadis Kim tak suka.

“Berarti kalau sudah mandi, boleh?”

Violet Ilana membulat penuh. “Kau—”

“Bercanda, Sayang,” potong Sehun sebelum mendaratkan kecupan di dahi. Memberi senyum pereda amarah kepada gadisnya tersebut, untuk kemudian berbisik seduktif, “Kau mau mandi sendiri atau kumandikan?” Dan, sebelum Ilana sempat menyerang Sehun dengan cubitan menyakitkan di bagian lengan, pria ini bergegas mengelak sembari terbahak-bahak. “Cepat mandi, sebentar lagi Chanyeol menjemputmu,” ucap Sehun di sisa tawa.

“Chanyeol?”

Sehun mengangguk. “Bukannya kau ingin pergi? Kau tidak bisa pergi sendirian, Sayang. Jadi aku meminta tolong padanya untuk menjemputmu. Kecuali kau berubah pikiran dan tidak ingin pergi—”

“Aku akan tetap pergi, Hun,” potong Ilana. “Tapi aku bisa pergi bersama Paman Kris.”

“Pamanmu masih ada Buckinghamshire, La.”

Ilana mengernyit. Mengembalikan raut bermuram Sehun. “Akan lebih baik kalau kau tidak datang, La,” ungkapnya setengah memohon. Dipenuhi pengharapan meski tahu akan sia-sia. “Ini sama sekali tidak menyenangkan. Hanya proses serah-terima jabatan. Pasti membosankan.” Sehun menghirup tamak selama beberapa saat. “Kalau memang kau sangat ingin pergi ke sana, maukah kau berjanji padaku? Apa pun yang terjadi nanti, kalau kau kecewa, kau boleh marah. Tapi jangan pernah coba untuk membenciku. Karena satu yang perlu kau tahu, ketika aku melukaimu, hatiku juga akan ikut merasakan sakit yang harus kau tanggung.”

“Bukankah kau tidak pernah ingin menyakitiku?” gumam Ilana lirih.

“Aku memang tidak, tapi situasinya yang selalu memermainkan.” Sehun menghujani kedua pipi Ilana dengan kelembutan jemarinya. “Terkadang kita perlu melakukan sesuatu yang tidak kita inginkan untuk menciptakan satu pencapaian maksimal.” Hening sebentar lantaran Sehun terlalu asyik memejamkan mata. Menahan tikaman pilu yang menyiksa dan kembali angkat bicara setelah merasa semuanya membaik. “Baekhyun bilang akan ada Keluarga Walton di sana. Ayah—”

“Aah … Kau benar. Aku harus segera mandi,” Ilana menyergah. Lekas berlalu menuju kamar mandi tanpa sedikit pun niat untuk mendengar kelanjutan kalimat Sehun. Tak ingin memamerkan kehadiran luka yang kembali mendominasi pandangan dengan menyembunyikan diri seandainya saja Sehun tidak dengan sabar mengekori hingga mencapai wastafel. Menahan pergelangan tangan Ilana, menuntun agar gadis itu kembali sudi menatapnya. Tampak mendongak serentak dengan sebuket mawar yang diangsurkan Sehun.

1169914501

“Untukmu. Aku hampir saja lupa memberikannya padamu,” ungkap Sehun seumpama bisikan. “Rasanya tidak etis kalau kau menemukannya sendiri setelah aku pergi,” tambahnya dibumbui tawa renyah. “Aku mencintaimu, Sayang. Kau tahu itu, ‘kan?”

Ilana mengangguk lantas menerima pemberian Sehun. Membawa benda manis tersebut ke dalam pelukan, sebelum membawa dirinya sendiri ke dalam rengkuhan prianya. “Terimakasih, Hun.”

20-r-wh-roses-flower-delivery-848x990

“Aku tidak memberi bunganya secara asal, lho.”

“Hm?”

“Mawar merah adalah mawar yang paling umum untuk menyatakan perasaan cinta. Mawar putih melambangkan kesucian juga cinta sejati. Dan ini—” Sehun mulai merujuk pada buket bunga dalam pelukan Ilana. “—kombinasi mawar merah dan putih menandakan cinta yang sangat besar.” Kemudian Sehun merunduk, menyerang daun telinga gadisnya melalui untaian kata klise penggegat rasa. “Seperti cintaku padamu.”

Sehun merenggangkan kuasa. Menatap langsung ke dalam manik mata Ilana, untuk lagi-lagi memahat senyum di wajahnya yang tampan. “Apa pun yang kukatakan dan akan terjadi nanti, sebagian besar pasti bukan keinginanku, La. Karena tak ada yang lebih baik daripada keputusanmu untuk berjuang bersamaku.”

PF

InterContinental London – The O2

09 : 30

.

“Aku tidak akan melakukan hal gila itu!”

Evelyn menelan saliva. Terkesiap menyadari betapa tertekannya Sehun menghadapi arogansi ayah mereka. Memilih sudut paling sepi dengan dalih ingin bernegosiasi—yang pada akhirnya membuat sang kakak frustasi setiap kali harus menahan pekikan murkanya lantaran tak ingin menjadi pusat perhatian. Evelyn sendiri, meski setengah ketakutan, tetap mencoba untuk meredakan amarah Sehun dengan satu remasan di lengan. “Enough, Stein.”

10906211_810639375674314_7120113837439302193_n

Williard terkekeh. Tangannya pun terulur guna mencapai puncak surai Evelyn, namun anak bungsunya itu justru dengan refleks menjauh. Menarik serta Sehun yang masih digelayutinya dengan posesif. Menuai senyum asimetris Williard meski rautnya tak lagi mampu terbaca nalar. “Jadi, kalian sudah sama-sama membenciku sekarang?” tanyanya seraya mengambil langkah mundur. Tangan yang sempat menggantung di udara lantas ia tarik cepat hingga tersembunyi di saku celana.

“Semua keputusan ada di tanganmu, Stein. Kalau kau membuat Keluarga Walton malu hari ini, selamanya kau akan sulit diterima lagi oleh mereka. Dan itu artinya kesempatanmu untuk memenangkan tender bersama Grace akan semakin kecil. Aku yakin, putraku bukan seseorang yang bodoh.” Selesai sudah. Williard lekas menjauh, meninggalkan kedua anaknya dalam kebisuan. Berbagi kesakitan tanpa kata. Menunggu hingga ada salah satu dari mereka yang memulai dengan meretas kuasa sepi.

Dan untuk yang satu ini, Evelyn kembali mendominasi. Merangkum kedua sisi wajah Sehun seperti yang gadis ini lakukan tempo hari dalam kondisi berbeda namun tetap mengacu pada luka yang sama. “Benar ‘kan yang kubilang? Ayah itu terlalu cerdik, Stein. Kau bisa berhenti dari sekarang sebelum kau melangkah terlalu jauh dan terluka lebih parah.”

“Kemudian berakhir dengan julukan pecundang, begitu?”

“Stein—”

“Eve … Dengarkan aku.” Sekarang ganti Sehun yang menangkup kedua pipi adiknya. “Aku pasti bisa mengalahkan Ayah. Hanya saja aku belum menemukan cara yang tepat,” imbuh pria ini, berusaha terdengar meyakinkan.

Evelyn tampak menghela napas. Bertanya setengah enggan, tahu benar bahwa bersikeras menghalangi pun percuma. “Sekarang apa yang akan kau lakukan? Menyanggupi keinginan gila Ayah, huh?” Belum sempat Sehun memberi jawaban, Si Gadis Silverstein sudah lebih dulu mengibaskan tangan, tak acuh. “Terserah kau saja. Aku sudah pusing memikirkan kalian berdua. Benar-benar. Like father like son.”

Sehun meringis. “Like mother like daughter too.”

Evelyn mendesis. Benar-benar tidak terima. “Aku sama sekali tidak mirip dengan Ibu! Bahkan aku tidak yakin apakah selama ini aku pernah punya seorang ibu atau tidak,” sahutnya sarkastik. Tak berselang lama obsidiannya berpendar, menelanjangi seisi ruangan yang terjangkau fokus sebelum akhirnya terantuk pada sosok Baekhyun. Setengah berseru, Evelyn pun memanggil Pria Byun tersebut.

“Untuk apa memanggilnya?” tanya Sehun curiga. “Apa kalian benar-benar saling menyukai? Jangan gila, Eve! Dia masih kakakmu!”

“Lho? Memangnya kenapa? Toh, dia cuma kakak sepupuku,” bantah Evelyn sinis sebelum mencibir. “Lagi pula aku tidak pernah berhak melarangmu, kenapa sekarang aku harus mengizinkanmu membatasi ruang gerakku, Stein?” Tepat setelah pengelakkan ini dilempar Evelyn, Baekhyun telah berhasil merampungkan langkahnya mendekat. “Ayo kita jalan-jalan! Aku pusing dekat-dekat dengannya.”

Baekhyun kontan mengernyit. Melayangkan tatapan penuh tanyanya kepada Sehun yang dibalas dengan raut tidak bersahabat. Sadar betul akan ketidaknyamanan yang tercipta, pria ini pun lantas mengalah dan membiarkan kedua kaki Evelyn menuntunnya sesuka hati. Tak mampu menolak lantaran lengannya yang digamit kuat. Membuatnya gemas sendiri hingga terdorong untuk membalikkan kuasa. Menarik pinggang ramping Evelyn menggunakan satu tangannya yang bebas. Seakan tak peduli meski posisi keduanya sekarang terlampau intim dan menuai tatapan iri sekeliling. Kendati peduli, Baekhyun lebih memilih untuk menumpahkan kuriositasnya, “What happened, Eve?”

Nope.”

“Oh, ya?” Manik cokelat terang Baekhyun menikam lurus kegelisahan Evelyn. Menelanjanginya sampai ke inti tanpa kesulitan berarti. “Katakan padaku, ada apa? Kalian tidak pernah bertengkar seperti ini sebelumnya.”

“Apa gadis bernama Ilana Kim itu akan datang?”

Baekhyun mengernyit namun tetap menganggukkan kepala. “Bersama Chanyeol.”

Wajah cantik Evelyn sontak bermuram. Tertunduk dalam hingga dagu menekan dada. Menggumamkan nama Baekhyun dengan begitu lirih, nyaris tak terdengar ditelan kebisingan sekitar. “Menurutmu bagaimana sakitnya ada di posisi mereka sekarang?”

Senyum pahit terukir di wajah Baekhyun. Mencetuskan satu jawaban yang sempat tercekat di kerongkongan. Menghadirkan seberkas rasa gugup yang menggelapkan akal sehat sampai akhirnya tiba waktu lisan mengambil alih dan melafalkannya. “Mungkin sama seperti apa yang kurasakan karenamu. Tahu bahwa aku begitu ingin memilikimu tapi tak pernah bisa benar-benar merealisasikannya. Terlalu sulit.”

Evelyn terkesiap lantas mendongak. Mencecar cokelat terang Baekhyun, kemudian mengerjap tak percaya. “B-Baekhyun … K-Kau …?”

Yes, I am.”

PF

10 : 02

.

T2OeR.XE4aXXXXXXXX_!!873690862

Ilana mengayunkan sepasang stiletto-nya dengan ritme teratur. Tak lupa setiap petakan keramik dipijaknya dengan dagu terangkat tinggi seakan tak mengenal rasa takut. Satu tangan pun digunakannya untuk menggamit mesra lengan kiri Chanyeol demi menyempurnakan peran. Diam-diam meringis—tak enak hati menyikapi kebaikan hati Pria Park yang kini diterimanya.

“Chanyeol.” Samar-samar Ilana memanggil. Membuat sang empunya nama menghentikan langkah dan menolehkan kepala. Saling pandang di tengah minimnya jarak, di mana gerak refleks pun berhasil memertemukan ujung hidung keduanya. Menyisakan Ilana yang menggigit bibir saat merasakan Chanyeol justru dengan sengaja menekan lembut hidung mancungnya di atas milik Ilana.

“Kenapa, La?”

“Maaf.”

Chanyeol mengernyit. Kepalanya sontak beringsut mundur, mencipta keleluasaan dalam membaca sorot mata Ilana. Cukup lama pria ini bergeming, sebelum akhirnya menyerah dan memilih memermainkan puncak surai Ilana menggunakan tangan kanan. “Kenapa harus minta maaf, huh? Kau tidak salah apa-apa,” balasnya lembut. Seakan lupa pada luka yang sejatinya telah menganga lebar tanpa penyembuh. “Aku yang seharusnya meminta maaf. Karena aku posisimu dan Stein bertambah sulit. Karena aku juga Stein terpaksa berdiri di sana, di saat dia sendiri tidak benar-benar menginginkannya.”

Desahan berat mengiringi pengkhianatan fokus Ilana. Berpendar asal menelanjangi seisi ruangan. Mengabsen sejumlah kursi putih yang disusun mengitari meja bulat. Disusun apik dengan nilai estetika yang menambah keindahan ballroom hotel siang ini. Rupanya sudah cukup banyak bangku yang terisi mengingat acara ini memang berlangsung sejak satu jam lalu meski belum mencapai bagian krusial. Mengingatkan Ilana untuk lekas mematut penampilan agar tak terlihat buruk saat menyaksikan penobatan kekasih hatinya nanti.

IHG-O2-Ballroo

Ya. Ilana sudah bertekad untuk merajuk pada Chanyeol agar membawanya duduk di kursi paling depan. Hanya ingin memudahkan Sehun jikalau ingin menangkap keberadaan dirinya. Maka dari itu, sebelum menentukan posisi, Ilana lebih dulu menekuri gaun biru tua berbahan chiffon yang melekat manis di tubuh, sesekali membenahi beberapa bagian yang dianggapnya kurang rapi.

Sweet Scoop Neck Solid Color Hollow Out Short Sleeve Chiffon Dress For Women

“Kau sudah terlihat cantik, La.”

Bisikan lembut Chanyeol yang mampir di daun telinga pun membuat Ilana tersipu. Mengantarkan tatapan gadis ini kembali pada Si Pria Park guna bertukar senyum manis. Bersikap seolah tak pernah ada batasan yang menghalangi, meski sejatinya aroma kesakitan itu menguar begitu kentara. Bukan hanya dalam penciuman dewa batin Chanyeol, namun juga Ilana sendiri. Berbanding lurus dengan dilema. Menyesakkan hingga mencekik rongga pernapasan.

“Jika dulu aku mencarimu, akankah itu mengubah semuanya?”

Ilana mengerjap. Enggan menjawab.

“Jika aku berhasil menemukanmu lebih cepat, apa kau juga akan mencintaiku sedalam kau mencintai Stein saat ini, La?” racau Chanyeol sekali lagi. Sengaja menjadikan puncak kepala Ilana sebagai tumpuan dagu. Mengelak dari cecaran manik violet Ilana yang kerap melumpuhkan rasa percaya diri. “Jika dia tidak bisa menjaga kepercayaanmu dengan baik, adakah kesempatan itu untukku? Tidakkah aku egois dengan berpikiran seperti ini?” Vokal bass yang sama masih mendominasi. “Aku mencintaimu sampai tidak bisa merasakan apa pun lagi pada gadis lain. Ini yang membuatku semakin sulit melupakanmu, Ilana Kim.”

“Maaf.”

“Sudah kubilang kau tidak salah,” sahut Chanyeol kembali melembut. “Akulah yang bodoh karena tidak mencarimu sejak dulu. Memilih menunggu karena aku yakin kau akan muncul lagi. Dan terbukti, kau kembali meskipun dengan jalan yang tak pernah kubayangkan sebelumnya.” Si Pria Park menarik diri. Menyambut iris ungu Ilana yang bergulir tak nyaman akibat pengakuannya. Nyaris menangis seandainya Chanyeol tidak dengan jitu melancarkan amunisi. “I’m fine. Aku hanya ingin meminta satu hal padamu.” Pria ini tersenyum lagi sebelum melanjutkan. “Berbahagialah karena kebahagiaanku pun sudah kutitipkan padamu.”

“Chan—”

“Duduklah,” sela Chanyeol setelah menarik satu kursi kosong untuk diduduki Ilana. Bergegas menarik kursi yang lain untuk dirinya sendiri lalu lebur dalam hening. Beruntung, tak lama setelah keduanya menjatuhkan pantat, vokal ceria sang pembawa acara sudah kembali terdengar melalui pengeras suara. Menyapa seluruh tamu undangan tanpa mengesampingkan norma kesopanan. Mengiringi kemunculan Sehun dalam rangkulan Williard—yang tak urung mencuri atensi sekian banyak pasang mata.

Ilana sendiri hampir saja mengukir senyum manis saat melihat Sehun datang mendekat dengan raut tak terbaca. Melangkah pasti hanya untuk mematahkan pengharapan Si Gadis Kim. Berhenti di meja lain yang terletak berseberangan dengan posisi Ilana. Merunduk tak ubahnya seorang Pangeran. Tersenyum manis menghampiri sang putri yang tak berselang lama ia kecup lembut punggung tangannya.

Putri itu … Grace.

Ya. Gracelynn Walton.

“La—”

“Jadi ini yang dia maksud dengan menyakitiku?”

Dengan penuh kehati-hatian Chanyeol memutar tubuh Ilana. Meminta gadis itu menatapnya dan memunggungi Sehun. “Just be strong, La.”

I can’t,” balas Ilana seumpama berbisik. Kedua tangan pun ia bawa naik demi mencengkeram lengan kekar Chanyeol. “Take me out of here. Please. Aku tidak bisa bertahan lebih lama … Kumohon.”

Setelahnya tak ada lagi yang bicara. Hanya langkah kaki Chanyeol yang terukir bar-bar dengan Ilana dalam bimbingannya. Melewati tamu undangan yang tengah terpaku pada opera picisan buatan Sehun. Tak lagi acuh meski suara khas seorang Byun Baekhyun sempat menahannya di beberapa langkah pertama. Mendadak tuli karena tersulut emosinya yang memuncak.

Siang ini, secara tidak langsung Sehun telah membuat Chanyeol menanggalkan janjinya jauh-jauh di belakang. Terlebih saat vokal bariton sepupunya itu menggema nyaring. Memerkenalkan Grace melalui cara yang paling menyakiti Ilana. “Ini Gracelynn Walton—” Satu langkah tersisa menuju pintu keluar, tapi secepat kilat Chanyeol justru berbalik. Menutup rapat kedua telinga Ilana lantas membawa tubuh mungilnya ke dalam dekapan agar tak perlu mendengar kelanjutan kalimat Sehun. “—Gadis pilihan saya.” Chanyeol benci mengakui hal ini, tapi apa yang baru saja dilakukan Sehun sungguh tidak mampu lagi ditolerir nalarnya.

.

.

.

∞ To Be Continued 

.

.

Hai. Selamat hari Minggu. Selamat liburan sampe besok. Aku tau chapter ini panjang banget, tapi kalo dibagi 2 part tanggung. Lagian aku gak tau kapan lagi aku bisa ngepost. Apa yang mau dikejar di Real Life udah di depan mata. Lagi dan lagi, aku minta doanya dari kalian ya biar lancar car car semuaaa. Makasih banyak yang udah ngikutin Perfect Flaw dari awal sampe sekarang, semoga juga kalian gak lelah ikutin sampe the end. Hehe. Apalagi yang udah sempetin waktunya untuk kasih aku semangat lewat komentar. Aku gak tau lagi harus gimana buat bales kebaikan hati kalian. Aku juga minta maaf banget, makin ke sini makin susah bales. Aku harap kalian maklum, sama kayak kalian yang bacanya nyolong2, aku mulai dari cari ide sampe ngepost pun  nyolong2. Dan kalo lagi capeeek terus baca komentar kaliaaan ituuu kek dibawa terbang ke langit ketujuh. Bahagiaaa banget, serasa semua beban ilang sama tanggepan kalian yang gak pernah gak bikin aku nyengir. Makasih banyak ya, cims❤

Btw. Kali aja ada yang belom tau, kemaren ini aku sempet post teaser FF buat next project. Bisa liat di sini sama sini. Seandainya pada tertarik bisa juga kali ya tinggalin jejak2 cinta kalian sekalian. Terus kalo kemaren ada yang mikir PF udah mau kelar karena kisah lama orang tua mereka udah kebongkar, kalian kurang beruntung. Justru karena udah kebongkar, semuanya jadi makin rumit. Aku juga gak tau deh apa yang bakal kalian simpulin dari sikap yang diambil Sehun di chapter ini, tapi kalo aku jadi Sehun (kalo ada yang idupnya bener2 serumit dia) mungkin aku udah frustasi dan mutusin lompat dari lantai teratas gedung IHG biar kelar semua rasa sakitnya. Dan … kalo aku jadi Ilana aku juga bakalan … bingung-banget. Sekarang dia bener2 ngerti perasaan ibunya; cinta sama Sehun tapi masa depan sama Chanyeol rasanya lebih nyata tanpa penghalang yang bisa nyakitin (selain nyakitin dirinya sendiri).

Aaaah udah lah ya. Aku udah keabisan kata. Udah panjang juga ini A/N Pokoknya mah walaupun chapter ini panjangnya bangetsss. Kalian jangan sampe kapok. Hahaha. Semoga cukup bikin baper ya momen manisnya walaupun diterusin sama … ugh, gak mau bilang deh. Oh, ya. Mari kita ucain selamat dateng buat Ms. Walton karena setelah ini dia udah bisa aktif. Yeaaay~ (Kagak ada yang seneng deh keknya -___-)

Sampe ketemu di chapter depan ya. Jangan lupa doain aku biar urusan di hari Rabu nanti lancar. Selalu ditunggu feedback kalian. Luvyasooooo, cims❤

.

.

Sincerely,

Arlene P.

168 responses to “Perfect Flaw (Chapter 6) —ARLENE P.

  1. ih sumpah chapter ini tuh panjang banget tapi bikin baper max.
    apa banget dah cinta segitiga sehun-ilana-chanyeol ini lamalama gak baik buat kesehatan.
    bentar, ilana hatinya kuat banget makan apa ya:) hm mau lah:)
    plis ya pilih sehun atau chanyeol tuh sama aja kaya pilih neraka atau surga (apaan)
    monyeeet kalo dipikir2 ya susah juga sih sehun apa chanyeol hmmm.
    bentar bentar itu di akhir beneran sehun kaya gitu? terus? ilana tau? ha? allah kepala pusing.

  2. aduhh tambah baper anjir. itu maksudnya apa sehun bilang kaya gitu? ikutan sedih kan jadinya. duh duhhhhh semoga mereka kuat ya ngadepin semuanya.
    semangat terus buat ngelanjutinnya ya thor. izinbaca next chapter nyaa ya

  3. Demi apa aku ketinggalan banyak T’T Ditambah chapter ini bikin baper. Apa maksud Sehun ngomong gitu? Gak bisa nahan buat ngumpatin dia dah. Kebayang gimana sakitnya Ilana meskipun itu bukan kemauannya Sehun. Chanyeol…. duh, dia baik banget tapi nggak menutup kemungkinan dia masih pengen memiliki Ilana kan? Udah yeol, jangan nambah beban mereka, kudoain lu dapet cewek yang lebih baik lagi (ama gw maksudnya :v) Buat Alena selamat untuk kehamilanmu! Nggak kerasa Luhan udah mau jadi bapak aja,padahal aku kira dulu pas baca 0101 dia susah dapet jodoh :v
    Semangat kak!!!! Maafkeun daku yang baru bisa baca sekarang, huhu..

  4. nah lo makin rumitkan
    baru aja pagi mesra”an
    siangnya udh ada kejutan jangan sampek si chan lupa janjinya
    ayo ilana kuat itu si sehun cuma pura” please jangan ada kai ke dua cukup kemaren” aja ada adegan tinju
    huwaaa eonni sukses bikin deg”an bacanya deddy nya sehun bikin greget ngapain sih gak lupain aja masalalu biarlah masa lalu *kkk
    orang kaya emang sulit di tebak
    ngomong” itu baek suka sama evely ?

  5. Yah ms. Walton jgn kebanyakan peran deh, kalo kebanyakan ntar takutnya sehun yg bakal ngiringin/?
    Duh thor, makin sini makin dikit momen ilana sehunnya😢 setiap chap paling cuma 1 moment doang ga lebih deh kayaknya😭
    Banyakin dong please, bikin sehun buat colong2an buat ktemu ilana kek😂 sama kaya aku colong2an waktu buat baca ff ini disela2 kesibukanku duhhh😅
    Nexttttt thor! Keep spirit writing😄

  6. aku harus gimana harus gimana…
    aku baper banget coba…
    la. sabar ya…
    kalian pasti bahagia kok di akhir…
    mian ya kak baru bisa coment di chapter ini…
    abisnya baru pulang dari pondok sih…
    jahat
    aku tunggu kelanjutan nya..

  7. sebenernya yang salah disini siapa? sehunkah? illanakah? grace waltonnya pak williard apa author yang terlalu pinter bikin cerita -_-
    tak kuasa ku melanjutkan pedihnya cerita mereka huhu 😭😭😭 nyesek mbak nyesek. kenapa mereka gak bahagia aja kenapa? sesulit itukah? #aseek hiks

  8. Semuanya rumit, serumit Pantatnya Williard.
    Duh kesian amad ama kisah cinta kalian. Liat noh Si jongin ke asikan ama mbak Kang disono lagi Lovey Dovey, lah kalian? Malah pada nge drama. Anjayy Jongin dah ah lagi bahagian banget romannya ampe ga ada di chapter sini 😂😂😂😂 sabar ya Jong 😂😂😂😂
    I know Sehun, this situation is so hard for you and Ilana, but trust kak Arlene. Semua takdir kalian udah di putuskan oleh Kak Arlene. Berdoa saja Kak Arlene bikin kalian Happy Ending (HARUS) ☺️☺️☺️☺️

    Ampe 100 chapter juga aku ladenin kok Kak, asal jan post lama lama (lo pikir bikin cerita Ff kek bolak balik gorengan depan Alfamidi??!! -> jeritan hati seorang kak Arlene Park) 🙏🏻🙏🏻🙏🏻🙏🏻

  9. Wah disitu kayanya Chanyeol udah gk nahan lagi pengen jaga Ilana.. Sehun juga.. ㅡGadis pilihan saya .. APA??!! Aku tau itu cuma skenario Sehun. Tapi tetep aja aku sedih karna aku pasti langsung kepikiran diposisi nya Ilana..
    Demi apa si Jongin malah gak ada lagi.. keasyikkan sama Tania.. gak tau ya kalo sahabat nya menderita bgtㅠㅠㅠㅠ



    Tuhkan aku jadi alay.. aku terbawa suasana pas baca jd harap maklum..

  10. Pingback: Perfect Flaw (Chapter 9) —ARLENE P. | SAY KOREAN FANFICTION·

  11. Sumpah chapter ini engga bisa disampain pake kata-kata williard udh kejauhan banget ikut campurnya,ini lg maksud dari kata sehun apa pliss jangan samai nyerah lagi sehun😭😱🙏

  12. Apa apaan itu sehun kaaaak??? Setelah bermanis manis ria, kenapa sehun jadi begitu??? Laaaah ih jadi gedek?/ sendiri sama sehun astagaaaaa
    Jangan baper chan, bukannya dia udah tau ya bakalan kaya gini?
    Alena-luhan jadi orang tuaa?? Eciyeeee bahagia banget ini keluarga kim mau nambah satu lagi😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s