#Prefinal HAMARTIA (Let Go?)

hamartia

 

Title : Hamartia (Fatal Flaw)

Main Cast : Kim Jongin (EXO’s Kai), Song Jiyoon (Original Character)

Minor Cast : Oh Sehun (EXO’s Sehun), etc

Rating : PG for this part

Genre : Psychology, Romance, Angst

Author : Jongchansshi (http://thejongchansshi.wordpress.com)

Prev Part : [#Teaser] [#1] [#2] [#3] [#3,5] [#4] [#5]  [#6] [#7] [#8] [#9a] [9b] [10]

***

Whatever you love, that is your weakness. Kau bisa sangat mencintai uang dan menghabiskannya adalah kelemahanmu. Kau bisa sangat mencintai pekerjaan dan jabatan adalah kelemahanmu. Kau bisa sangat mencintai kemewahan dan kemiskinan adalah kelemahanmu. Kau bisa sangat mencintai dunia dan kematian adalah kelemahanmu. Dan kau bisa mencintai seseorang sedangkan kehilangannya adalah ketakutanmu.

Tapi kau harus ingat, mencintai mawar bukan berarti memetiknya kemudian menempatkannya di dalam vas termahal dalam buffet emas. Sehebat apapun kau merawat dan menjaganya, ia akan tetap mati dalam hitungan hari. Karena kau tidak bisa memaksa bunga untuk berkembang ditempat yang bukan seharusnya ia hidup. Itu juga berlaku terhadap manusia, bagaimanapun.

Dan soal hal itu, jangan pikir Jongin tidak mengetahuinya sama sekali. Meskipun dia melakukan hal yang dimata orang orang salah, dia tetap berharap bahwa ada secercah kebenaran dalam tiap perbuatannya. He just wants her to be with him, tidak ada yang salah tentang itu, kan? Ya, sampai ketika dia melihat keputusasaan Song Jiyoon dengan mata kepalanya sendiri. Mungkin, jika Jongin masih bersikukuh untuk mempertahankan keinginannya, Jiyoon bisa mati se sia sia itu. Maka berjam jam yang lalu, tanpa pikir panjang, dengan sok kuatnya ia mengatakan kalau ia akan melepaskan Song Jiyoon.

Mungkin Jongin hanya asal bicara agar Jiyoon terlihat lebih baik, atau setidaknya agar gadis itu berhenti menangis. Atau yang paling jahat, dia hanya mencoba memberikan gadis itu sedikit harapan kemudian membuatnya makin hancur karena Jongin telah mempersiapkan hal yang lebih buruk, seperti yang selalu ia lakukan sebelumnya. Bukankah dia licik dan sangat ambisius? Tentu hal yang tidak terpikirkan oleh siapapun bisa dilakukannya dengan begitu mudah.

Sejak tadi, ketika dia masuk ke mobil bersama Jiyoon, setelah dokter mengizinkannya untuk keluar dari rumah sakit, tidak pernah sedikitpun Jongin melirik ke samping kanannya. Ia tidak tahu kenapa rute ke rumah Luhan bisa terasa selama dan sejauh ini. Oh, bukankah seharusnya Jongin senang? Ini memberikannya kesempatan untuk melakukan hal hal yang sudah terlintas dalam benaknya dan bisa ia terapkan pada detik detik ini dengan sangat sempurna. Anggap tawarannya terhadap Jiyoon tadi merupakan bagian dari rencana. Ia bisa melewati jalanan yang lebih sepi kemudian menabrakkan mobilnya di daerah hutan sampai hancur, kalau perlu terbakar. Itu bukan hal yang sulit bagi orang seperti Jongin untuk merekayasa kecelakaan dengan korban yang seolah olah sungguhan. Mengingat kondisinya yang belum sepenuhnya stabil, kecelakaan itu akan terlihat menjadi sangat wajar di mata semua orang. Setelah itu, ia bisa kembali mengurung Jiyoon, melakukan apapun yang ia mau seperti sebelumnya, membuat gadis itu sadar bahwa dia terlahir memang hanya untuk kesenangan Kim Jongin. Dan kali ini, Jongin menjamin jika tidak akan ada satu orangpun yang tahu, termasuk Oh Sehun.

Oh shit.” Jongin menggerutu tanpa sadar, Jiyoon yang sejak tadi mengamati jalanan lewat jendela mobil lantas melihat kearah Jongin dengan raut datarnya yang mengisyaratkan pertanyaan. Jongin menggeleng singkat sebagai jawaban, tanpa suara dan masih menolak menoleh kearah gadis itu. Kemudian Jiyoon melanjutkan aktifitasnya, dia melihat ke arah jalanan yang beberapa bagian dipenuhi salju. Pada saat itu, Jongin mulai berani untuk meliriknya sekali dua kali. Ia mendapati pemandangan bagian belakang Jiyoon, terlihat begitu menikmati dengan apa yang ia lihat di luar sana. Mungkin Jiyoon sudah menunggu saat seperti ini datang padanya lama sekali. Terbebas dari neraka yang selama ini dengan sadis membelenggunya.

Jongin sebetulnya sangat penasaran dengan apa yang ada dalam benak Song Jiyoon. Bagaimana bisa Jiyoon masih percaya Jongin setelah ia mengingat semua kenangan buruk yang Jongin perbuat padanya? Atau bagaimana bisa ia berpikir Jongin serius dengan tawarannya tadi? Bukankah ia tahu sendiri bahwa Jongin punya puluhan, bahkan ribuan rencana jahat? Bukankah seharusnya ia masih ingat betapa keras kepala dan ambisiusnya seorang Kim Jongin? Kalau Jiyoon pintar, ia pasti tahu Jongin mana mungkin merelakannya pergi semudah ini.

Tapi Jongin sama sekali tidak tahu apakah sejak tadi ia tengah mencoba menipu ataupun memanipulasi dirinya sendiri karena pada detik ini mobilnya sudah terparkir dan berhenti di depan rumah Luhan. Dan tidak satupun bagian dari rencananya ia lakukan terhadap Jiyoon, ia telah menyia nyiakan banyak kesempatan emas. Jongin melirik ke samping kanannya, sekali lagi. Jiyoon masih dalam posisi yang sama, ia melihat ke arah jendela. Pada detik itu Jongin sadar bahwa sejak tadi Jiyoon tidak melihat kearah pemandangan luar, melainkan ke dalam pikiran tidak sistematisnya nya yang entah sudah sejauh mana.

“Jiyoon?” tegurnya. Gadis itu belum bergeming. “Song Jiyoon.” Kali ini panggilan Jongin lebih keras dari sebelumnya. Ia terlihat linglung dan memandang kearah Jongin, dengan tatapannya yang tidak pernah bisa terbaca. “Tujuanmu.” Ucap Jongin singkat sembari menunjuk rumah Luhan menggunakan dagunya. Ia benar benar merasa sangat awkward dengan keadaan mereka sekarang, apalagi Jiyoon sama sekali tidak mengeluarkan satu katapun untuknya.

Jiyoon hanya menatap Jongin kurang lebih tiga detik dengan matanya yang selalu berbinar menurut Jongin, lalu gadis itu langsung menarik handle pintu mobil, yang sialnya pada detik yang sama Jongin menekan kunci pintu otomatis dari pintu kemudi. Gadis itu sontak menatap kearah Jongin, tapi dia terlalu datar untuk terbaca apakah ia panic atau tidak peduli apapun lagi.

Tanpa membuang buang waktu lebih lama lagi, Jongin langsung menarik gadis itu kedalam pelukannya, seerat yang ia mampu. Apakah ini salah satu cara lain untuk melancarkan rencana busuknya? “Kau bisa menamparku setelah ini.” Ucapnya, masih memeluk Jiyoon seerat eratnya, “tapi biarkan aku memelukmu sebentar.” Jongin tidak pernah merasa bahwa ia adalah orang yang lemah. He hates weak people. He hates himself for being weak. He is strong, strong enough to hide all his pain. Strong enough to pretend like his life is completely okay. Strong enough to make everyone believe that he aint broken. “Meskipun kau tidak mungkin kembali padaku, kau bisa menghubungiku kapanpun kau mau, kau bisa memintaku datang kapanpun kau butuh. Kau bisa menceritakan apapun yang mengganggu pikiranmu padaku. I will come…and I promise you I will listen.”

I know whatever I have done to you is unforgiveable, but you have to forget it all, so you can live happily. Atau kau bisa melakukan apapun kepadaku agar kau bisa melupakannya. Kau bahkan bisa membeberkan seluruh perbuatanku pada Luhan, pada Jinwoo atau siapapun. Jika kau mau melihatku membusuk di penjara seperti yang kau katakan dulu, aku akan mengakui semuanya dan tidak akan mengelak. Atau kalau perlu kau bisa menghancurkan hidupku juga.”

“Ah ya, kau punya beberapa hutang padaku. Aku akan menagihnya sekarang. Bagaimanapun, ini bisa menjadi kesempatan terakhir kita bertemu, kan?”

Jongin terdiam untuk beberapa saat, pikirannya seperti melarikan diri darinya. Ia melepaskan pelukannya didetik berikutnya, meletakkan kedua tangannya dibahu Jiyoon dan memandang gadis itu dengan tatapan tajamnya dalam dalam.

“Berhentilah melukai dirimu sendiri. Tubuhmu bukan mainan.”

“Tidurlah sebelum jam 11 malam, kau tidak perlu menunggu siapapun pulang agar tertidur.”

“Kalau kau sakit, minum obatmu meskipun kau tidak suka. Tolong jangan membuangnya dibawah tempat tidur lagi.”

“Mandilah dengan air hangat, ini musim dingin. Kau seharusnya sudah ingat bahwa kau tidak suka air dingin.”

“Jika ada yang mengganggu pikiranmu, ceritakan pada orang lain, jangan menyimpannya sendirian. Tidak semua orang tidak mau mendengarkanmu. Atau jika kau butuh bantuan orang lain, katakan. Tidak semua orang punya bakat peramal dan bisa membaca pikiranmu.”

Jongin mengucapkan itu semua dengan suaranya yang terdengar lebih cepat dari biasanya dia bicara, sedikit terburu buru. Jiyoon sedaritadi hanya menatap kearah matanya, tidak mengeluarkan satu ucapanpun atas segala yang dikatakan Jongin sedaritadi, mungkin dalam hati ingin protes kenapa permintaan Jongin banyak sekali. Pria itu kemudian mengangkat bibirnya sedikit, berusaha untuk tersenyum kearah gadis yang masih ia cintai dihadapannya sekarang.

“Dan bisakah kau tidak jatuh cinta terhadap orang lain?”

Yeah, raut Jiyoon langsung berubah, jauh lebih tegang dari sebelumnya. Didetik berikutnya Jongin langsung tertawa, tawa renyah yang memperlihatkan eye smilenya yang manis. Tapi matanya yang sendu tidak bisa berbohong sama sekali. “Aku hanya bercanda soal yang terakhir. Kau bisa jatuh cinta terhadap siapapun yang kau mau.” Lanjutnya setenang mungkin. Jiyoon masih terus menatapnya, entah ini hanya perasaan Jongin saja atau memang dia sedang  dalam keadaan tersudut, Jiyoon seperti baru saja mengintimidasinya. Wow, siapa yang berani mengintimidasi Jongin sebelumnya?

Jongin lalu mematikan kunci pada mobilnya sehingga Jiyoon bisa membuka kembali pintu itu.

“Pergilah. AKu sudah melepaskanmu. Jadi tidak ada lagi alasan bagimu untuk tidak bahagia.”

Gadis itu mengikuti seperti yang disuruh oleh Jongin, ia membuka handle pintu, kemudian turun dari mobil Jongin, masih bisu tanpa satu ucapanpun, berjalan terus menuju rumah dua tingkat milik Luhan, seperti tiada keraguan apapun pada langkahnya. Bagaimanapun, semua juga tahu bahwa Jiyoon memang dari dulu ingin terbebas secepatnya dari Jongin. Dan ia tidak mungkin kembali meskipun Jongin menjanjikannya hidupnya sekalipun.

Jongin tersenyum…kemudian ia tertawa. Tawa yang terkesan begitu miris. Ia masih ingin menunggu Jiyoon dan memastikan kalau dia masuk kerumah Luhan dengan aman. Meskipun tidak seorangpun yang bisa ia percayai untuk menjaga gadis itu lebih baik dari dirinya.

“I know, it’s time for you to stop being weak.” Ungkapnya untuk dirinya sendiri. Well, bukankah orang jahat adalah orang yang paling lemah?

****

Song Jiyoon percaya bahwa ketika dia terbebas dari neraka dan penjara Kim Jongin, itu adalah saat dimana dia pasti sudah mati. Tapi pada detik ini, paru parunya masih bisa memompa udara, jantungnya masih berdetak, kakinya masih menginjak tanah, matanya bahkan masih mampu melihat kearah langit biru yang tidak memiliki ujung. Dia masih hidup dan Jongin membebaskannya.

Ayolah, ini pasti mimpi. Hal seperti ini bukannya sering terjadi dalam mimpi indahnya? Dan ia akan terbangun dalam keadaan menyedihkan karena menyadari ini hanya mimpi. Maka dari itu Jiyoon sejak awal tidak mau banyak berharap. Mungkin itu alasan kenapa dia tidak merasa senang sama sekali, hal yang seharusnya ia rasakan pada saat ini.

Gadis itu melangkah maju, kearah rumah Luhan yang berada didepan matanya. Daritadi banyak sekali yang berlalu lalang sekilas di benaknya, terlalu banyak sampai sampai kepalanya terasa pening bukan main. Paru parunya terasa perih sekali, sesak setengah mati. Ia merasa ada yang salah pada detakkan jantungnya, terlalu cepat dan bahkan tidak stabil. Kemudian kakinya terasa berat dan lemas, seperti sedang tersesat dan berjalan kearah yang salah. Langit yang cerah pun terasa  begitu kelabu hari ini.

Jiyoon memegang bagian dadanya yang sejak tadi membuat ia ingin menangis, atau kalau perlu berteriak frustasi. Tapi, bukankah yang bisa ia lakukan sejak tadi hanyalah mengantarkan kesunyian? Ia bahkan nyaris mengatakan sesuatu tadi kepada Jongin, nyaris, mulutnya bahkan sudah terbuka. Tapi tetap saja lidahnya terlalu keluh untuk menghasilkan suara. Ia bagaikan terhempas pada ingatan kejadian 9 tahun yang lalu, yang apabila dia mengatakan maksudnya yang terpendam pada Jongin, mungkin baik dirinya maupun Jongin tidak perlu hidup dalam kesengsaraan seperti ini.  Hidup mereka akan berakhir jauh berbeda dari apa yang terjadi sekarang.

Jiyoon tahu bahwa ia membenci Jongin setengah mati. Bahkan tidak ada kata kata yang pas untuk mendeskripsikan betapa ia membenci Kim Jongin setelah mengingat semuanya. Ia  ingin membuat Jongin menderita, sungguh. Ia bahkan ingin menghabisi nyawa Jongin dengan tangannya sendiri. Seharusnya beberapa malam yang lalu, ketika ia punya kesempatan, ia seharusnya menghantam kepala Jongin berkali kali sampai ia betulan mati. Peduli setan dengan pengadilan dan pidana penjara seumur hidup. Yang penting ia bisa puas dan menghabisi Jongin. Bukankah monster menciptakan monster? Dan Jongin telah membuat monster itu tumbuh di kepala Jiyoon secara tidak sadar entah sejak kapan.

Sayangnya, hati gadis itu masih disana. Masih sepenuhnya sehat meskipun sudah dirusak berkali kali oleh beberapa orang. Ia tahu bahwa ia bukanlah orang kuat, beberapa orang bahkan mencapnya perempuan lemah yang bisa disakiti dengan cara paling murahan. Gadis itu bahkan mengutuk airmatanya sendiri yang kembali berjatuhan tanpa perintahnya.

Kenapa Kim Jongin harus sejahat ini padanya?

Itu pertanyaan yang tidak ada habis habisnya berkeliaran diotaknya bahkan sejak pertama kali Jongin mengurungnya ke dalam neraka itu, hingga detik ini.  Yeah, disaat yang seharusnya ia bisa hidup dengan aman karena Kim Jongin memutuskan untuk mengembalikan kehidupannya yang tentram seperti sebelumnya. Tapi kenapa rasanya tetap saja tidak enak?

Langkah gadis itu berhenti seketika. Ia menoleh kebelakang, mobil Jongin masih terparkir disana. Mungkin tengah memperhatikannya juga dari balik kaca mobilnya yang gelap. Jiyoon berpikir beberapa kali apakah ia harus mengatakan apapun yang ingin ia katakan pada Jongin sekarang…atau tidak selamanya. Setidaknya, ia harus mengatakan terimakasih, kan? Karena berkat Jongin, ia pada akhirnya tahu bagaimana rasanya ketulusan, something that she is craving for in her whole life. Dan bukankah Jongin adalah satu satunya yang berada disisinya ketika semua orang meninggalkannya? Dia harus berterimakasih terhadap semua itu. Tapi kemudian ia memutuskan untuk melanjutkan langkahnya ke rumah Luhan, menjadi pengecut sekali lagi. Membiarkan kata kata itu tertelan oleh memori yang cepat atau lambat akan ia lupakan.

But they said, don’t look back. Because if you look back, you will comeback. And she was looking back.

****

 

DUHHHHH prefinal yah. iya seharusnya udah tamat tapi gimana yaa harus ada scene (sangat tidak penting) ini dulu. fufufu… see you di final part yaaaa… iam so sorry for you guys that auraku(?) mungkin akhir2 ini look so bad. Maybe it was because i am weak. Ngga, aku ngga akan melakukan pembelaan apapun or play victim right now. But i just want to say thank you so much for you who are still here!!!

PS : I will post something on my blog ( https://thejongchansshi.wordpress.com/ ) tonight/tomorrow sebagai clue(?) endingnya gimana hahaha.

Advertisements

392 responses to “#Prefinal HAMARTIA (Let Go?)

  1. Biarpun joging kek kerasukan valak gtu entah knapa gue ttp mau jiyoon ama jongin 😢
    Trlalu sedih bayangin mereka pisah ya allah 😭😭😭😭😭😭

  2. Jong lu ikhlas . yang bener ?
    Kan nyesek kan. Ngapain tinggal sama luhan kalau nyatanya jiyoon cinta jongin. Jangan bilang ini sad ending . #bhak udah 9 tahun jong.
    Masih tau diri soal obesesimu jong.
    Jiyoon emang sudah terluka tapi mau gimana lagi ?
    Ya Allah jangan pisah lah . sedih gua
    Salam kenal ya
    Faithing. 😊😊😊😊🙆🙆🙆🙆🙆

  3. Demi apa nangis baca chapter ini😭😭 kata kata jongin kok nyesek banget si ;” emang harus saatnya ya mereka pisah gitu? 😢 pengen banget liat mereka berdua balik dalam keadaan baik baik aja. Karena perpisahan ini bikin jongin sakit (banget) pasti, dan yaa kayaknya begitu juga bagi jiyoon. Sumpah baper amat baca ini chapter :”(

  4. Hooh,, bikin gereget deh sama mereka berdua yg terus2an nyembunyiin perasaan masing2 dan bikin suasana makin putus asa.. Felling nya dapet bgt huhuhu galauu 😥

  5. woi bodoamat jiyoon, gue jadi lo udah salto ya dipeluk erat sama jongin gitu. ya ampun kenapa sih mereka susah banget mau bahagia aja. woi hidup ini sungguh kejam. why!?!

  6. kok jiyeon nya di lepas 😦 aku tau kok menderita jongin. Mereka akan brsma lagi kn ka? aku gk kuat liat jonhin gitu. Jiyeon kok pengecut ,, ktakn aja pada jongin.. Hahh.. Kok d pw lanjutannya??

  7. Sedihhh.. banget2, kenapa jongin harus ngelepasin jiyoon, walupun pada akhirnya ini demi kebaikan mereka berdua, tapi tetep aja sedihh…
    Seriuss, nangis bombay pas mereka berdua ada di dalam mobil…

  8. Sedih bnget sama jongin jiyoon kenapa mereka gak ngungkapin perasaan masing masing,jsdi gemes sama mereka berdua

  9. Setelah segitu banyak perjuangan, jongin ngelepas Jiyoon? I can’t believe it. Dimana Jongin yg dominan dulu. Sedih ngebayangin ini bakal sad ending;'( don’t do that, please:'((

  10. Fiuhh penasaran banget sebenarnya finalnya kaya gimana? Pakai password ya kalo aq minta pw nya lewat fb tolonh dikasih ya! Akun fb aq Hafsah stai

  11. Hurt banget hurt hati ini bacanya. Ga ikhlas kalo sad ending. Di AO udah sakit coba atuh di hamartia janganlah. Cukup ngomong ‘aku mencintaimu’ doang susah amat sih. Ingin ku berkata kasar asdfghjkl

  12. pre-final. Kenapa jiyoon sama jongin gak terbuka satu sama lain ih ;A; kan kalo terbuka satu sama lain bisa hidup bahagia selamanya punya anak yang lucu lucu;A; gak berpisah kayak gini:'<

  13. ngga rela kalo jiyoon jongin ngga bersatu
    masih berharap kalo mereka berdua bersatu
    suka jongin waktu nyoba tegar nglepasin jiyoon

  14. ngrasa ada yg kurang feel dia chap ini
    sedih karna akan final. rasanya ceritanya terus berlangsung. semogaaa well welll

  15. HUAAAA IGGEEE MWOOYAAAAAAAAAAAA aku semakin takut kalo endingnya sad ending gimanabiniiiiii huaaaa aku takut 😣😣😣 semiga happy ending yaa happu kan ya? Huaaa

  16. ini ternyesek anjirr, sumpah gak ikhlas banget jiyoon jongin pisah. jongin kenapa sih gabisa terus terang kalau dia itu cinta banget sama jiyoon, jan kaya gini dong, lelah dd sama kalian :”

  17. Mesti kyak gini. Jongin ama Jiyoon sama” gk mau jujur ama prasaannya sendiri. Kan gk kelar” jd.nya masalahnya. Tp kalo gk gitu gk greget..😆😆😆

  18. jong, jadi pesikopat lagi aelah. ku tak rela ini cerita abis 😂 jiyoon culik ae, terus sembunyiin di luar negeri. kan mantepss 😂😂 alibinya diajaks jalan2 lakok pesawate kecelakaan :v ku ngomong apaan inihhh. ku tak tauuu

  19. Gezz jonginn kamu ga kesurupan kan? Itu beneran kamu kan? Kok kamu bisa ngerelain gitu aja. Harusnya kamu egois lagii😭 paling engga kamu harus bisa buktiin something keegoisanmu yg mbuat jiyoon bisa rela tinggal sama kamu jong 😭 gabusa nangis dengan gitu aja, tpi mata panas, hati jugak, sakit rasanya 😭 wth but i dunno why i am just believe that jiyoon bakal kembali lagi ke jongin. Karena dia noleh kebelakang. Krn noleh arti lainnya berarti dia bakal kembalii 😭😭😭 pliss chapter ini bener2 bikin nyesek omfg 😭

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s