My Answer is You! [Chapter 8]

a79d7227c0a9e000

Tittle : My Answer is You
Author : Byunniexo
Genre : School life, Angst, Romance
Rating : PG 17
Main Cast :
Sung Ha Ra
Oh Se Hun
Byun Baek Hyun
Other Cast :
Xi Lu Han
Park Eun Rin
Shin Hye Jin
Kim Jong In
And other cast
Length : Chaptered
Disclaimer : Ide cerita dan OC murni karangan saya, dan bukan hasil jiplakan. Semua tokoh dalam ff ini milik Tuhan YME dan keluarga mereka.
Previous Chapter : [Teaser] | [Chapter 1] | [Chapter 2] | [Chapter 3] | [Chapter 4] | [Chapter 5] | [Chapter 6] | [Chapter 7]
“Kita sama-sama pecundang. Lemah hanya karena sesuatu yang dinamakan cinta. Memperjuangkannya seolah dia adalah hal terbesar di masa yang akan datang.”

Sorry for typo(s)
***


Baekhyun berlari sekuat tenaga. Tangan kanannya memegang ponsel sambil terus mencoba menghubungi Hara. Namun, berkali-kali ia menelfon, Hara tetap tidak mengangkatnya. Bodoh. Ini jelas kesalahannya. Seharusnya dia tidak berkata begitu tajam kepada Hara. Seharusnya tadi Baekhyun mengajak Hara untuk pulang bersama. Seharusnya dia tidak mengacuhkan gadis itu.

“Maafkan aku, Hara. Maafkan aku.” Sepanjang perjalanannya menuju sekolahan, pria itu terus menggumamkan kata maafnya. Baekhyun menghentikan langkahnya dan berniat untuk menghubungi seseorang.

“Kau tahu dimana Hara? Apa kalian sedang latihan tari?” Begitu suara berat dari seberang sana mengangkat panggilannya, Baekhyun segera melontarkan pertanyaan.

“..”

“Dia belum pulang kerumah!” Tepat satu kalimat yang ia lontarkan dengan nada tinggi itu selesai, ia mematikan panggilannya. Kemudian berniat menghubungi satu orang lagi yang mungkin saja sedang bersama Hara.

Sehun menutup ponselnya begitu panggilan dimatikan. Pria itu mengangkat bahunya dengan acuh dan memasukkan ponselnya kedalam saku celana.

“Ada apa oppa?” Suara seorang gadis di sampingnya membuat Sehun dengan cepat menoleh. Ah, ia hampir lupa jika sekarang ia sedang berjalan di koridor sekolah bersama dengan seorang gadis yang sejak siang tadi terus mengikutinya kemanapun ia pergi.

Sehun hanya menghela nafas dengan kesal. Park Yeonhee, sejak kepindahannya kesini ia terus mengikuti Sehun. Selalu menempel padanya seperti benalu. Oh, bahkan Sehun harus kabur beberapa kali karena ia tidak bisa makan siang dengan gadis lain—seperti biasanya—karena Yeonhee akan dengan senang hati mengusir gadis yang berani duduk di dekat Sehun.

Akhir-akhir inipun ia juga jarang mengawasi kegiatan Eunrin—gadis itu, apa kabarnya sekarang? Sehun tersenyum tipis. Sejak Yeonhee ada di dekatnya ia sudah tidak pernah mendekati Eunrin. Bukannya ia tidak mau, lebih dari itu, ia tidak ingin ada yang tahu tentang Eunrin selain dirinya dan Ha Ra. Cukup gadis itu saja yang bisa mengorek sakit hati yang dirasakannya sekarang. Dan ia tidak boleh terlihat lemah di depan orang lain.

Sehun memutar otaknya sejenak, tadi Baekhyun menanyakannya keberadaan Ha Ra kan? Pagi tadi gadis itu menemuinya dan berkata bahwa ia tidak bisa latihan menari karena ada acara keluarga. Sehun yang tidak semudah itu percaya, tentu saja segera menanyakan apa buktinya. Bisa saja kan, Ha Ra sedang mencari alasan agar mereka tidak latihan menari? Dan ketika Sehun bertanya apa buktinya, Ha Ra segera menyebutkan nama Baekhyun. Gadis itu mengatakan jika Sehun tidak percaya, Sehun bisa bertanya langsung dengan Baekhyun. Karena memang ini acara makan malam antara keluarga Baekhyun dan juga keluarga Ha Ra.

Mengingat itu membuat Sehun mengernyitkan dahinya. Jadi, bukankah seharusnya Ha Ra bersama dengan keluarganya dan juga keluarga Baekhyun? Dan artinya, seharusnya Baekhyun juga bersama Ha Ra karena ini adalah acara keluarga mereka.

Heol, acara keluarga? Apa keluarga mereka memang begitu dekat? Atau mungkin ada maksud lain, seperti perjodohan mungkin? Diam-diam Sehun tertawa di dalam hati. Ini sudah zaman modern dan jika memang benar itu adalah perjodohan, Sehun hanya akan tertawa dengan begitu kerasnya. Masih ada keluarga seperti itu, ya?

Kembali lagi ke awal, Sehun jadi berpikir dimana Ha Ra berada. Apakah mungkin gadis itu membohonginya dengan mengatakan acara keluarga, padahal ia bersama Luhan? Bisa jadi kan? Sehun pikir beberapa hari terakhir mereka begitu dekat, ah ralat, sangat dekat maksudnya. Hampir seperti dirinya dan juga Yeonhee.

“Oppa.”

Sehun kembali tersadar ketika suara Yeonhee menginterupsinya. Sungguh mengganggu!

“Wae?”

“Apa yang sedang kau pikirkan? Kau terus melamun sejak menerima telepon itu.” Ucapnya dengan nada yang merajuk.

“Tidak ada.” Balas Sehun dengan nada datarnya. Oh, ia sangat malas untuk sekedar menjawab pertanyaan gadis ini.

“Aku tahu kau sedang berbohong.” Sehun menggeram kesal. Gadis ini memang begitu mengganggu. Hobi sekali membuat emosinya naik turun.

“Ha Ra menungguku di ruang tari sejak siang tadi. Kupikir sebentar lagi dia akan melemparkan kursi kearahku jika aku tidak segera datang.” Bohong. Tentu saja. Ha Ra adalah satu-satunya alasan agar ia bisa lepas dari gadis ini.

Ha, jangan tanya kenapa. Dua hari lalu, mereka sempat adu mulut dan berakhir dengan Ha Ra yang menarik rambut Yeonhee dengan begitu brutal. Alasannya? Sepele. Sehun akan berlatih tari dengan Ha Ra. Tapi Yeonhee tidak memperbolehkannya. Dan kemudian terjadilah pertengkaran itu. Sehun bahkan hanya menyaksikan mereka dengan menutup kedua telinganya.

Itulah alasan kenapa Yeonhee akan melepasnya ketika Ha Ra meminta untuk bertemu Sehun. Bukannya takut, Yeonhee beralasan ia malas untuk menatap Ha Ra. Dan ia khawatir jika rambutnya yang berwarna kecoklatan itu akan hancur karena ulah Ha Ra.

“Ck! Tinggalkan dia saja, oppa. Lagipula ia terlalu bodoh, kenapa masih menunggu hingga semalam ini padahal kau tidak datang sejak siang tadi?”

“Kau tahu bagaimana gadis itu ketika marah kan? Dia akan menjadi sangat menyeramkan. Jadi lebih baik kau pulang duluan, aku akan menemuinya.”

“Aku akan menunggumu di pintu gerbang.” Sehun memutar bola matanya dengan malas. Sungguh, berhadapan dengan gadis ini memang sangat menguras emosi. Sehun menyentuh bahu Yeonhee dengan tatapan lembut yang hampir tak pernah ia keluarkan. Pria itu lantas menarik kedua ujung bibirnya keatas, membentuk sebuah senyuman yang begitu tipis.

“Tidak. Aku hanya khawatir jika Ha Ra tahu, aku tidak datang menemuinya karena sedang bersamamu.”

Yeonhee mendesah dengan kesal, kemudian berjinjit dan mencium pipi Sehun dengan kilat. “Baiklah. Aku akan membiarkanmu menemuinya. Tapi jika ada bagian tubuhmu yang terluka karenanya, aku tak akan membiarkan dia hidup. Uh, menatap wajahnya saja membuatku bergidik ngeri. Aku tidak percaya ada seorang wanita sepertinya.”

Sehun hanya menyimak ucapan Yeonhee dengan malas. Ia bahkan tidak berniat untuk menjawab beberapa kata untuk gadis itu.

“Baiklah oppa. Aku akan pulang. Jaga dirimu baik-baik ya. Bye.”

Akhirnya Oh Sehun bebas! Pria itu tertawa dengan liciknya ketika Yeonhee berjalan menjauh. Sehun terdiam sejenak. Ia pikir mencari Ha Ra tidak buruk. Di ruang tari?

Baekhyun memelankan langkah kakinya. Nafas yang tersengal-sengal tidak membuatnya untuk berhenti berjalan. Ia sudah lelah berlari tadi. Jadi kini ia hanya bisa berjalan dengan menahan lelah dan nafas yang memburu. Dipikirannya sejak tadi hanya menemukan Ha Ra. Ia harus menemukan gadis itu! Bagaimanapun caranya! Kemanapun ia harus pergi!

Baekhyun menghentikan langkah kakinya sejenak. Matanya menyipit seiring dengan cahaya lampu yang tertangkap di indera penglihatannya. Lampu kelasnya menyala. Jadi bolehkah ia sedikit lega? Mungkin saja itu Ha Ra. Yeah, who know?

Baru saja pria itu akan membuka pintu berwarna cokelat tua dihadapannya, namun suara percakapan dari dalam membuat ia melepaskan knop pintu dan berjalan sedikit ke kiri—untuk melihat dari jendela.

Dan benar saja, di sana ada Ha Ra dengan seorang pria yang membelakanginya. Tapi bolehkah Baekhyun khawatir? Gadis itu sedang terisak di tempat duduknya dengan kepala yang menunduk dan juga tangan yang memegang pensil. Ha Ra terlihat sedang membaca buku, tapi tangisan yang keluar dari mulutnya terdengar begitu memilukan.

“Baekhyun tidak akan suka jika melihatmu seperti itu. Jadi hentikan, Sung Ha Ra!”

Baekhyun hampir tidak melihatnya. Seorang lelaki dengan celana panjang dan sweater putih yang terpasang ditubuhnya. Xi Luhan, sedang berjongkok dihadapan Ha Ra dengan tatapan sedih yang mengarah pada gadis itu. Baekhyun memang meneleponnya tadi. Mungkin saja Luhan yang bersama Ha Ra kan? Tapi jawaban Luhan benar-benar membuatnya kecewa. Luhan tidak berada di dekat Ha Ra, dan setelah Baekhyun mengatakan bahwa Ha Ra tidak ada di rumah, pria itu segera berkata bahwa ia akan mencari Ha Ra.

Bukankah pria itu memang begitu peduli dengan Sung Ha Ra?

Dan oh, apa tadi? Kenapa Luhan harus menyebut namanya di hadapan Ha Ra? Memangnya apa—

“Dia tidak suka jika aku bodoh, oppa. Dia tidak akan peduli padaku lagi jika nilaiku terus turun. Dia akan terus menghindar jika aku malas-malasan seperti ini. Aku tidak bisa hidup tanpanya, oppa. Dia—dia sahabat terbaikku. Lelaki kedua yang aku miliki setelah ayahku. Aku tidak akan membiarkannya terus seperti ini. Aku harus menunjukkan padanya kalau nilaiku bisa naik, oppa.”

Raut wajah Baekhyun yang semula sumringah kini kembali menunduk kecewa. See? Benarkan? Ini semua salahnya, dan Ha Ra belajar mati-matian seperti itu karena ucapannya sore tadi.

Sahabat? Ya, Ha Ra. Aku adalah sahabatmu. Aku tidak akan meninggalkanmu. Meski harus menyimpan rasa ini.
Baekhyun tersenyum getir. Selama ini ia salah jika ia menganggap bahwa ia akan mendapatkan lebih. Ia terlalu menuntut Ha Ra untuk melihat perasaannya, sedangkan ia tidak menunjukkannya sama sekali. Jadi siapa yang bodoh? Tentu saja Byun Baekhyun. Lelaki pecundang yang hanya bisa tersenyum dan berkata bahwa semua baik-baik saja.
Baekhyun kembali memfokuskan pandangan kearah mereka. Ha Ra dan juga Luhan, kedua orang itu saling menatap dengan air mata Ha Ra yang sudah berjatuhan di kedua pipinya. Kejadian selanjutnya membuat Baekhyun harus menahan sakit di hatinya lebih dalam lagi.
Kedua bibir mereka sudah menyatu. Tidak ada lumatan memang, tapi melihat Ha Ra yang menutup matanya seperti itu, membuat Baekhyun harus memberi presepsi bahwa gadis itu menikmati ciuman mereka. Baekhyun hanya terdiam tanpa tahu harus berbuat apa. Namun suara deheman yang sedikit keras membuat ia mengalihkan pandangannya.
Oh Sehun disana. Sedang menatapnya dengan tatapan yang tidak Baekhyun mengerti. Tapi Baekhyun sangat yakin jika pria itu melihatnya—adegan dua orang dalam ruang kelas tersebut. Baekhyun tersenyum tipis, kemudian menggendikan bahu dan berjalan menjauh tanpa mengucapkan sepatah katapun pada Sehun.
Apa aku sedang ketahuan? Apa dia melihat tatapan kecewaku pada mereka? Kuharap tidak. Batin Baekhyun terus saja meneriaki kalimat tanya tersebut. Namun ia segera menepisnya dengan menggelengkan kepala seadanya.
Baiklah. Hari ini ia memilih untuk pergi saja, tanpa menemui Ha Ra. Mungkin ia bisa meminta maaf dan berbicara baik-baik pada Ha Ra besok.
Sedangkan Sehun masih mematung disana. Menatap dengan datar punggung Baekhyun yang berjalan menjauh. Seperkian detik kemudian, ia mendapati Ha Ra dan juga Luhan yang sudah berada dihadapannya. Luhan membawakan tas Ha Ra dengan lengan kanannya yang menggandeng gadis itu.
Good Job, Oh Sehun! Hari ini kau mendapatkan sebuah fakta baru.
Ha Ra segera menjauhkan tubuhnya dari Luhan ketika melihat Sehun berdiri disana. Sedikit merapikan penampilannya ditengah-tengah keterkejutannya. “A-apa yang kau lakukan disini?”
“Baekhyun mencarimu. Pria itu meneleponku karena dia pikir kau sedang bersamaku. Berhubung aku masih di sekolahan, dan mungkin saja kau masih disini, jadi aku berniat mencarimu. Tapi ternyata kau sudah bersama lelaki lain.” Kalimat itu mengalir begitu saja dari wajah datar milik Sehun.  Kemudian diakhiri degan lirikan kearah Luhan untuk menunjukkan maksud dari ‘lelaki lain’
“Baekhyun mencariku?” Tanya Ha Ra untuk memastikan kalimat yang dilontarkan Sehun baru saja. Sehun hanya mengangguk singkat dan berjalan menjauh tanpa berniat mengatakan lebih.
“Dia juga meneleponku, tadi. Itu yang membuatku segera berlari kesini.” Sahut Luhan dari arah belakang. Pria itu menatap Ha Ra dengan tatapan sedikit kecewa. Yeah, he is her boyfriend! Tapi mengapa Ha Ra memperlakukannya seperti itu? Ha Ra justru terlihat seakan-akan sedang ketahuan oleh kekasihnya sedang bergandengan dengan pria lain. Dan membuatnya segera melepaskan tangan Luhan kemudian berangsur untuk sedikit menjauhkan tubuhnya.
Ha Ra masih terdiam, tidak berniat untuk membalas ucapan Luhan. Lagi. Satu alasan yang membuat Luhan harus menelan ludah kecewa. Dia tidak dianggap! Dia bukan siapa-siapa! Dia tidak memiliki hubungan sekecil apapun dengan Ha Ra. Fakta itu membuatnya harus menahan sakit lagi dan lagi. Ia harus mencoba sabar, lagi dan lagi. Kemudian ia harus tersenyum pahit lagi dan lagi.
“Ayo. Aku akan mengantarmu pulang sebelum orang tuamu khawatir karena Baekhyun belum menemukanmu.”
“Tidak, oppa. Aku akan pulang sendiri.”
“Aku tidak akan membiarkan seorang wanita pulang sendiri, malam-malam begini.”
“Gwaenchana, oppa.”
“Bisakah sekali saja kau menuruti permintaanku?” Teriak Luhan dengan nada tegasnya. Kali ini Ha Ra terdiam dengan kepala yang menunduk dalam. Ia tahu, ia sedang memancing emosi Luhan. Ia juga tahu jika pria ini memang sedang kecewa padanya. Tapi ia harus bagaimana? Ha Ra tidak tahu apa yang harus dilakukannya. Namun belum sempat ia menolak lagi, Luhan sudah menarik tangannya untuk mengikuti langkah Luhan.

Eunrin memainkan kakinya di atas tanah. Kedua tangannya ia biarkan melingkar ke belakang. Kemudian matanya fokus ke bawah untuk membawa kaki-kakinya melukis sebuah tulisan di atas tanah. Ia memekik kaget melihat sepasang sepatu yang sudah berjejer rapi di hadapan sepatu miliknya. Gadis itu tersenyum dengan senang dan mendongakkan kepala dengan semangat.
Namun apa yang ia lihat saat ini membuat mulutnya terbungkam. Gadis itu menganggukkan kepala sejenak. Ya, dia tahu. Sampai kapanpun pria itu—pria yang dia harapkan—tidak akan pernah melakukan apa yang sedang pria ini lakukan. Eunrin tidak akan pernah berarti bagi pria itu, sangat berbeda dengan  Eunrin yang sangat membutuhkan pria itu.
“Apa yang kau lakukan disini, noona?”
Suara berat itu membuat Eunrin menegang. Jujur saja ia juga merindukan suara itu. Ia merindukan sosok yang sedang tersenyum lebar padanya—seperti saat ini. Ia merindukan segala tingkah yang dibuat pria itu. Ia merindukan Oh Sehun. Pria dengan seribu karakter yang berbeda-beda.
“Tidak ada. Aku hanya sedang menunggu seseorang.”
“Nugu?”
“Kau mengetahuinya dengan baik, Oh Sehun.”
“Ah, pria itu?” Tanya Sehun yang langsung dijawab dengan anggukan oleh Eunrin. Sehun tersenyum tipis. Kemudian merapatkan jacket milik Eunrin dengan lembut. “Jika aku pikir-pikir lagi, kita berada dalam posisi sama, noona.”
Eunrin hanya mengernyitkan alisnya dengan bingung. Maksudnya?
“Yeah. Kita sama-sama memperjuangkan suatu hal yang tidak pasti. Aku memperjuangkanmu, dan kau memperjuangkan pria itu.”
“Tidak Sehun, kita berada dalam konteks yang berbeda. Aku tidak sedang mengemis cinta padanya.”
Sehun tertawa hambar sambil melipat kedua tangan didepan dada. “Jadi, kau mengatakan aku sedang mengemis cinta padamu?”
“Tidak, tapi—”
“Anggap saja begitu, noona. Aku memang sedang mengemis cinta padamu. Tapi kali ini aku tidak menggunakan cara seperti biasanya. Aku tidak akan memaksamu lagi, tapi aku akan menuruti keinginanmu. Kecuali jika kau memintaku untuk menjauhimu.”
Kalimat Sehun kali ini benar-benar membuat Eunrin sedikit lega. Yang paling penting, pria ini tidak akan memaksanya lagi bukan?
“Apakah nyaman jika begini, noona?” Tanya Sehun sedikit menggantung. Membuat Eunrin hanya menatap pria itu, berharap memberi maksud atas pertanyaannya. Baru beberapa detik kemudian, pria itu melanjutkan kalimatnya. “Hubungan kita—apakah nyaman jika seperti ini?”
Eunrin tersenyum dengan lembut. Setelah itu mengangguk dengan tenang. “Ya. Aku akan sangat menghargaimu jika seperti ini.”
“Lalu, apa permintaanmu?”
“Eoh?”
“Iya, permintaan—”
“Luhan-ah!” Belum sempat Sehun menyelesaikan kalimatnya, teriakan lembut yang berasal dari mulut Eunrin membuat ia terdiam. Sehun hanya menatap punggung Eunrin yang berjalan untuk mendekati Luhan dan juga Ha Ra yang berdiri tak jauh dari mereka. Namun belum sempat Eunrin tiba dihadapan Luhan, pria itu sudah terlebih dahulu menarik Ha Ra untuk menjauh.
Tentu saja hal itu membuat Sehun geram. Eunrin sudah merelakan tubuhnya kedinginan untuk menunggu Luhan. Tapi apa yang pria itu lakukan? Ia justru mengabaikan Eunrin dan berjalan menjauh.
Dengan langkah cepat, Sehun menghampiri Luhan dan juga Ha Ra, kemudian menghentikan langkah mereka dengan tatapan tajamnya. “Berhenti atau aku akan menghabisimu!” Ucapnya dengan nada tinggi dan begitu tajam. Ha Ra yang tidak tahu apa-apa hanya menatap mereka dengan takut-takut. Sedangkan Eunrin yang berada di belakang Luhan, menatap mereka dengan tatapan kosong dan raut lelah yang tercetak jelas di wajahnya.
Luhan yang ditatap seperti itu hanya mendecih dan tersenyum dengan pahit. Seorang pria yang bahkan berumur lebih muda darinya, membentak dan mengancamnya dengan tatapan tajam seperti sekarang. Luhan benar-benar tidak habis pikir dengan apa yang dilakukan pria ini.
“Kau membelanya, bahkan setelah berulang kali dia membuangmu, ck! Kau sedang berjuang untuk cinta yang tak akan pernah kau dapatkan dari gadis ini?” Luhan melirik kearah Eunrin dengan tatapan mengejek. Hal tersebut sukses membuat rahang Sehun mengeras, dan tatapannya lebih terlihat mematikan lagi.
Namun sejurus kemudian, seringaian muncul di ujung bibirnya, “Memangnya kau pikir apa yang sedang kau lakukan? Aku tahu kau mencintainya, kau berusaha membuat gadis ini mencintaimu. Tapi tak ada cinta sedikitpun yang kau dapatkan. Gadis ini bahkan terlihat risih jika bersamamu.”
Speechless!
Hell, apa yang dikatakan Sehun memang fakta. Ia selama ini hanya berpura-pura tidak tahu saja, agar semua berjalan dengan keinginannya. Namun semakin ia membohongi dirinya, hatinya juga semakin sakit. Kenyataan bahwa Sung Ha Ra risih jika bersama Xi Luhan benar-benar membuat Luhan kecewa.
Luhan menatap Ha Ra, tersenyum lembut kearah gadis itu dengan tujuan agar gadis itu setidaknya mengelak kalimat yang diucapkan Sehun. Namun semuanya memang hanya harapan, Ha Ra hanya terdiam dan kemudian menundukkan wajah—seolah ia mengakui bahwa ucapan Sehun benar. Ya, memang benar. Tapi untuk kali ini Luhan membutuhkan kebohongan kecil dari Ha Ra. Luhan sangat berharap Ha Ra berbohong untuk menyelamatkannya dari kata-kata mematikan itu. Namun ekspresi yang Ha Ra berikan membuatnya kecewa untuk yang kesekian kalinya.
Dengan begitu, Luhan melepaskan genggaman tangannya di pergelangan tangan Ha Ra dan maju beberapa langkah kearah Sehun, “Kau dan aku sama, asal kau tahu. Kita sama-sama pecundang. Lemah hanya karena sesuatu yang dinamakan cinta. Memperjuangkannya seolah dia adalah hal terbesar di masa yang akan datang.” Luhan menghentikan bisikannya pada Sehun, dan mundur beberapa langkah dari pria itu.
“I’ts okay! Aku akan memenuhi kemauanmu, Oh Sehun!” Ucap Luhan, kali ini dengan nada yang lebih keras. Baru setelah itu ia menolehkan wajahnya kearah Eunrin yang masih berdiri tegang dengan wajah yang memucat. “Kau mendapatkan keinginanmu, nona Park!”
Sehun mengepalkan tangannya bertepatan dengan Luhan yang berjalan menjauh. Eunrin juga berniat melangkah untuk menyusul Luhan, tanpa repot-repot berterimakasih padanya atau mungkin menatapnya sekalipun. Sedangkan Ha Ra, gadis itu menatap Sehun dengan mata yang berkaca-kaca.
Ha Ra sudah tak bisa berkata apa-apa lagi. Ia sudah terlalu sering menyakiti hati Luhan. Sudah seharusnya dia berhenti.

Baekhyun berdiri di depan gerbang rumah Ha Ra. Pria itu sudah rapi dengan setelan seragam sekolahnya. Uh, ia bahkan merelakan tidurnya agar ia bisa bangun pagi-pagi sekali dan datang untuk menjemput Ha Ra. Hari ini dia akan meminta maaf. Yah, ia pikir memang kemarin ia terlalu berlebihan.
Tak berapa lama kemudian, suara pintu gerbang yang terbuka membuat Baekhyun segera membalikkan tubuhnya kearah pintu. Dan kini ia mendapati seorang wanita paruh baya yang—yah, masih terlihat cantik—sedang menampakkan ekspresi terkejutnya.
“Selamat pagi, eommonim.” Baekhyun membungkukkan tubuhnya sembilan puluh derajat, kemudian tersenyum dengan lebar kepada nyonya Sung yang menatapnya sumringah.
“Aigoo. Kau mengagetkanku dengan beridiri di depan gerbang seperti itu. Kenapa tidak masuk saja, hum?” Baekhyun mengusap tengkuknya bingung, seolah tidak tahu harus menjawab apa. “Kau pasti menjemput Ha Ra, bukan? Gadis itu masih sibuk di dalam kamar. Kau bisa menghampirinya. Ayo.”
Baekhyun mengangguk singkat dan kemudian mengikuti nyonya Sung untuk masuk ke dalam rumah. “Aku berniat untuk jalan-jalan keluar untuk menyegarkan badan setelah memasak sarapan. Tapi kau mengagetkanku dengan berdiri di depan sana. Kupikir kau seorang pemulung tadi.”
“Astaga, eommonim, bahkan orang tampan sepertiku kau kira pemulung?”
“Ah, benar. Pria tampan sepertimu tidak pantas menjadi pemulung, bukan? Wajahmu sangat cocok untuk menjadi seorang idola daripada pemulung.” Kemudian terdengar suara tawa dari kedua orang tersebut. Baekhyun tersenyum sekilas, dia senang bisa sedekat ini dengan keluarga Ha Ra. Ia sangat bahagia memiliki orang-orang baik di sekitarnya. Ia juga sangat bersyukur, ia bisa kenal dekat dengan gadis itu—gadis yang membuatnya jatuh cinta.
“Kau akan pergi ke kamarnya atau kupanggilkan Ha Ra?”
“Aku akan menunggu disini saja eommonim, mungkin sebentar lagi ia akan turun.”
“Ah, baiklah kalau begitu. Kau sudah sarapan? Kau bisa sarapan dulu, Byun Baekhyun, sementara aku akan memanggilkan Ha Ra agar segera turun.”
“Aku sudah makan, eommonim.”
“Tunggu disini, aku akan memanggilnya.” Baekhyun hanya mengangguk singkat dengan perintah nyonya Sung. Pria itu mengambil langkah untuk duduk di sofa ruang tengah keluarga Sung yang bisa dibilang cukup luas.
Nyonya Sung berjalan menaiki anak tangga untuk bisa mencapai kamar putrinya. Ia mengurungkan niatnya untuk memanggil, ketika ia mendapati pintu di depannya terbuka. Ha Ra sudah berdiri di sana dengan setelan seragam sekolah dan juga sebuah buku yang di bawanya.
“Kenapa rambutmu seperti itu?” Oh, jangan lupakan rambut hitam legam milik Ha Ra yang terurai dengan sedikit berantakan.
“Memangnya ada apa dengan rambutku? Aku sudah merapikannya tadi.” Jawab Ha Ra dengan santainya.
“Astaga, Sung Ha Ra! Rambut seperti itu kau bilang sudah kau rapikan? Apa kau tidak malu jika Baekhyun menertawakanmu, begitu kau sampai di bawah?”
“Apa Baekhyun sedang di bawah? Dia menjemputku untuk berangkat ke sekolah?” Tanya Ha Ra dengan antusias. Tentu saja, kemarin Baekhyun memakinya habis-habisan di sekolah. Berbicara dengan kata kata tajam dan juga raut wajah dingin untuk pertama kalinya. Dan tentu saja hal itu membuat Ha Ra takut setengah mati.
Tapi mendengar Baekhyun sedang berada dibawah untuk mengajaknya berangkat bersama, membuat perasaan Ha Ra lega. Ah ya, Baekhyun di bawah! Ha Ra harus segera menemuinya!
Gadis itu melangkah dengan bersenandung kecil, tidak sadar dengan keberadaan ibunya yang masih berdiri sambil menggeleng-gelengkan kepala ketika melihat tingkah putrinya. Ha Ra menggeser tatapannya ke semua sudut ruangan. Berharap menemukan Baekhyun dan berteriak sambil memeluknya. Ha, Ternyata dia benar-benar merindukan sosok Baekhyun yang cerewet dan usil.
“Halo gadis jelek, apa kau sedang mencariku?” Sebuah suara menginterupsi kegiatannya. Ha Ra menoleh kearah kiri, dan ia menemukan Baekhyun yang berdiri disana sambil melipat kedua tangannya di depan dada. Uh, apalagi senyuman pria itu terlihat evil. Seperti sedang mengejeknya.
Tanpa aba-aba lagi, Ha Ra berlari kecil kearah Baekhyun kemudian menyentil dahinya dengan ibu jari dan jempolnya. Pria itu hanya meringis kecil sambil menggertakkan giginya.
“Oh, jadi katakan! Kenapa kau begitu semangat ketika melihatku? Apa kau merindukan si pria tampan dan juga pintar ini? Ayolah noona, kemarin kita bahkan juga bertemu.”
“Iya, kita bertemu sore hari setelah pulang sekolah. Kemudian kau memarahiku dengan wajah datarmu. Kau mengacuhkanku ketika aku menahanmu. Kau tau apa yang kupikirkan saat itu?” Baekhyun mengernyitkan dahinya, seolah mengatakan-memang-apa-yang-kau-pikirkan?- dengan raut wajah menyesal.
“Aku berpikir apakah aku harus memecahkan kaca di kelas, kemudian melemparimu menggunakan pecahan kaca itu, agar kau kembali dan mengomeliku dengan nada kesalmu seperti biasanya. Jujur aku sangat takut melihat raut wajah datar milikmu itu.”
Baekhyun tersenyum lembut mendengar ungkapan Ha Ra tersebut. Jujur saja pria itu sangat merasa bersalah dengan Ha Ra, apalagi kemarin ia melihat sendiri bagaimana Ha Ra menangis di bangku kelas sambil memegang alat tulis. Itu semua demi membuktikan padanya bahwa Ha Ra bisa. Ha Ra bisa mendapatkan nilai yang tinggi.
Ah, mengingat kejadian itu, ia kembali mengingat bagaimana HaRanya yang sedang berciuman dengan pria lain. Seseorang yang menjadi alasan Baekhyun menjauhi Ha Ra, tidak peduli dengan Ha Ra, dan memarahi gadis itu seperti kemarin.
Jika boleh berkata, Baekhyun merasakan ribuan jarum menusuk hatinya. Bukannya berlebihan, tapi rasanya begitu sakit hingga ia tidak sanggup untuk melihatnya lebih jauh. Namun sekarang, ia cukup terobati dengan melihat senyum simpul diwajah gadis itu. Gadis ini, gadis yang sedang berdiri di hadapannya sambil tersenyum kecil, dia sungguh indah! Begitu mengkilau dengan penampilan yang sederhana.
Baekhyun tersenyum sekilas, sungguh bodoh! Seharusnya kau menghentikan ini Byun! Kau harus berhenti memuji gadis itu agar kau tidak semakin dalam terjatuh dalam pesonanya! Namun Baekhyun sudah tidak peduli lagi dengan teriakan-teriakan itu. Dia hanya menatap gadisnya dan berkata bahwa ini sudah lebih dari cukup.
“Aku… Maaf.”
Beberapa menit hening, suara Baekhyun menginterupsi keduanya. Ha Ra sedikit mendongak, menaikkan alisnya untuk meminta penjelasan.
“Maaf karena aku mengacuhkanmu, membentakmu, memasang wajah datarku yang menakutimu. Dan semuanya. Aku minta maaf, noona. Aku-”
“Aku sudah memaafkanmu,” Potong Ha Ra kemudian, ia tersenyum tipis dan melanjutkan kalimatnya. “Itu bahkan bukan sesuatu yang harus dimaafkan. Kau tidak salah, Baek. Kau hanya mengingatkanku. Aku sangat bersyukur memiliki sahabat sepertimu.”
“Terimakasih noona-”
“Kau memanggilku dengan sebutan itu lagi?”
“Oh! I’m sorry, I didn’t mean it!” Balas Baekhyun dengan nada yang dibuat semenyesal mungkin.
“You are driving me mad! Go to the hell!”

Tbc

Hi, everyone! Aku baru muncul lagi nih. Hehe. 😀
Aku tau ini lamaaaa banget. Tapi lagi lagi aku hanya bisa minta maaf sama kalian. Oke, emang yang namanya nunggu itu bikin jengkelin ya. Mungkin banyak dari kalian yang udah males baca karena kelamaan update. Pasti disini juga banyak yang lupa jalan ceritanya dan harus belabelain balik ke chapter sebelumnya, buat dibaca lagi. Hehe
Ya, aku juga inget kalo masih punya tanggungan satu ff lagi *lirikabnormal. Tapi mau gimana lagi. Ini keadaannya lagi bener bener buruk.
Aku udah kelas xii, mungkin disela sela tryout ataupun tugas yang menumpuk, aku masih bisa nyuri nyuri buat ngelanjutin kedua ffku. Tapi kali ini laptop aku udah bener bener dead. Aku nggak bisa ngetik lagi kecuali dari hp. Udah kesel karena nggak bisa ngerjain tugas, ditambah kesel nggak bisa ngelanjutin ff.
Yah, aku udah nggak bisa janji lagi, kapan mau ngelanjut ff aku. Tapi aku janji gak akan berhenti ditengah jalan. Tetep lanjut, tapi entah kapan (0.0)

Makasih buat yang udah bela-belain nungguin ff aku. Makasih juga yang masih inget jalan ceritanya. Hehe . Sekian dari saya, terimakasih.
Byunniexo

21 responses to “My Answer is You! [Chapter 8]

    • ahh lama banget update nya sampe lupa..
      part ini pendek gak c apa aq yg baca nya buru2??
      kapan SeRa moment? next post asap kalo bisa 🙂 faghting…

  1. Anjir update juga setelah sekian lama
    Kasihan yayang gue 😢 kamu ama aku aja sayang😚
    Oke ditunggu ya next chap nya 😉

  2. Oh ya ampun akhirnya di publish juga chapter 8nya. Ha Ra mencintai Sehun sedangkan Sehun mencintai Eunrin dan begitupun Luhan dan Baekhyun yang mencintai Ha Ra. Duh kok bisa rumit ya hubungan mereka. Bagaimana nantinya. Apakah Baekhyun akan mengungkapkan perasaannya pada Hara. Next chapternya ya. Sehunn benar-benar tak ada rasa pada Hara. Ugh menyebalkan

  3. udah lama banget nunggu ff ini. hara mending akhiri hubungan dengan luhan kalo emang nggak cinta. luhannya juga dikit kasian selalu nggak di anggap gitu. baekhyun aku paham ko ama perasaanmu. pasti sakit banget di depan mata sendiri liat hara ama luhan o_O

  4. akhirnya chap 8 d publish juga,,seneng dah!
    ini rumit ya?? Hara cinta sama Sehun(?). Sehun cinta sama Eunrin. Eunrin cinta sama Luhan. Luhan n Baek cinta sama Hara..ya ampunnn,,,, harus serumit ini kah?? tapi keren nih…
    aku tunggu next ny y kak!!

  5. wah ini kisah cinta yg rumit amat yah
    hara ska sma hun?? tpi kyknya dia jga pnya prsaan sma baek aplgi klo baek ngsih tau prsaannya

  6. Baek kasian amat cinta sm hara tp hara nganggap baek cuma sbg sahabat
    Sebenarnya hara suka siapa luhan apa sehun ?
    Kalo hara suka sm sehun knp hara diam d cium sm luhan
    Next d tunggu penasaran lanjutan critanya
    Figthing^^

  7. Astaga nih FF akhirnya muncul juga. Iyanih aku sempet lupa jalan ceritanya.
    Hara hebat banget ya bisa matahin hati 2 cogan gitu. Jadi kasihan sama Baekhyun & Luhan.
    Ribet banget kisah percintaan mereka, orang yang mereka sukai & orang yang menyukai mereka itu beda. (?) :”
    Ohiyaa ditunggu FF Abnormalnya kkk~
    Dan semangat terus belajarnya!!

  8. aahh aku lupa nih sama jalan ceritanya =_= siapa eurin? benar benar lupa aku sama,jalan ceritanya dan juga pas ha-ra kecewa karna baekhyun marah2in ha-ra kangen juga aku sama #lirikabnormal pokoknya jangan lama lama yah ngepublish-nya

  9. aku hampir lupa dengan jalan cerita sebelumnya jadi mau tidakmau aku bacadari chaoter 1 lagi. semakin menarik saja. tapi Sehun-Hara moment belum terlalu kentara ya. kalau si haranya udah mulai menunjukkan ketertarikan sama sehun tapi sehun belum sama sekali, bahkan permainannya sepertinya belum di mulai yaaa…
    cepet di posting next chapternya yaa aku penasaran lhooo. aku harap baekhyun nyatain prasaannya trus bersaing sama sehun. uwaaahhh itu bakal jadi kereennn sekaliii. udahhh pokokknya aku tungguuuu bangettt. semangat author 😀

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s