RESUME of THE NAME I LOVED [1] by noonapark

1456273904026

Eum, hi girls! Apa kabar? Sehat kah? Lagi bahagia kah? Semoga..

Well, aku tipe orang yang payah dalam hal menyampaikan perasaan jika diungkapan dengan kata-kata. Jadi maaf jika seandainya nanti ada kata-kata yang kurang berkenan di hati kalian.

Langsung saja, aku ingin minta maaf sama kalian semua, khususnya kalian yang pernah membaca FF “THE NAME I LOVED” yang sudah pernah aku publish sebelumnya (prologue + 1st chapter). Dengan berat hati aku putusin untuk TIDAK melanjutkan FF itu. Maaf. Mohon maaf. Ada banyak alasan yang membuatku akhirnya mengambil keputusan ini. Meskipun, sebenarnya aku ingin—INGIN SEKALI—tetap lanjutin FF itu. Sudah kucoba untuk lanjutin, sampai beberapa kali, tapi aku ngga bisa lagi dapat feel, semangat, ide pun seolah lenyap gitu aja. Semakin aku coba dan semakin mikirin tentang ini, aku semakin stress. Bener-bener stress. Jadi maaf. Maaf sudah membuat kalian—mungkin—merasa kecewa. Kuharap kalian bisa mengerti keadaanku :’)

Sebenarnya aku rindu nulis, sungguh. Tapi aku lebih rindu dengan komenan-komenan kalian. Aku ingin selalu nyapa-nyapa kalian lewat tulisan. Tapi.. entahlah. Mungkin memang sudah seharusnya aku pensiun dari dunia per-FF-an. Kurasa apa yang aku dapatkan dari hobi menulis selama ini sudah lebih dari cukup. Dan yang paling membanggakan dari hobi ini adalah mendapat teman. Iya, kalian itu. Untuk kalian yang sudah mendukung dan membimbingku selama ini, BIG THANKS😉

Dan sekarang, giliran kalian yang masih muda, yang memiliki pemikiran yang lebih fresh, yang memiliki banyak waktu luang, yang punya kesempatan, silahkan dikembangkan bakatnya. Noonapark yang semakin tua ini benar-benar butuh istirahat. Minta maaf sekali lagi. Semoga kalian mengerti dan tidak ada lagi diantara kalian yang nanya-nanya soal FF ke aku. Dan maaf juga, mungkin aku salah satu (atau satu-satunya) author yang sering banget kayak gini, labil. Dari dulu mau berhenti tapi ujung-ujungnya mucul lagi, hehe. Bikos I Miss You girls❤ tapi kayaknya ini beneran yang terakhir (atau nanti ada lagi? Semoga tidak).

Terima kasih untuk kalian teman-teman pembaca. Untuk teman-teman sesama author. Untuk para admin SKF yang sudah memberikan kesempatan untukku ikut bergabung dirumahnya yang megah ini. I LOVE YOU ALL❤

Dan perihal FF “THE NAME I LOVED” pada awalnya aku ingin membuat FF ini cukup complicated. Menurut prediksiku chapternya juga bakal panjang. Tapi ternyata aku ngga bisa lanjutin sesuai harapan. Karena aku ngga ingin diantara kalian masih ada yang penasaran, aku coba buat resume atau apalah namanya ini, agar kalian yang sempat nebak-nebak di chapter sebelumnya, jadi tahu bagaimana cerita yang ingin aku buat sebenarnya.

Okay, maaf sudah curhat panjang. Resume FF yang aku buat ini juga cukup panjang. Jadi aku bagi dua. Ini bagian pertama sekitar 14 ribu words lebih, kalo kalian takut bosen, bisa dibaca nyicil. Bagian kedua semoga bisa cepet nyusul. Doain ya😉

***

Previous | Prologue| 1st Chapter| …

Bagian terakhir dari chapter pertama itu pas Eunsoo tertabrak mobil. Dan Ibu Eunsoo di Busan merasakan perasaan tidak enak setelah mendapati bingkai foto Eunsoo jatuh dan pecah.

Setelah kecelakaan itu sekretaris Kim membawa Eunsoo ke rumah sakit, Eunsoo masuk ruang gawat darurat karena kecelakaan yang Eunsoo alami cukup parah; Eunsoo tidak sadar, darah mengalir dari kepala, tangan dan beberapa bagian tubuhnya. Pas Eunsoo masuk ruang operasi, sekretaris Kim menelfon Chanyeol—yang sedang mengemudikan mobilnya menuju restoran yang sudah dijanjikan untuk acara melamar.

Chanyeol terkejut dengan berita kecelakaan itu. Chanyeol langsung menuju rumah sakit dan di sana sekretaris Kim minta maaf pada Chanyeol karena kecelakaan itu terjadi saat Eunsoo—yang mereka kenal sebagai Hana—seharusnya menjadi tanggung jawab penuh sekeratris Kim. Chanyeol marah, tapi Chanyeol memilih untuk tetap diam, karena Chanyeol pikir meluapkan amarah itu pada sekretaris Kim pun sia-sia karena toh, kecelakaan itu sudah terjadi.

Chanyeol dan sekretaris Kim akhirnya duduk dan menunggu di depan ruang operasi. Dipertengahan menunggu, sekretaris Kim bertanya pada Chanyeol apakah mereka harus memberi tahu perihal kecelakaan itu pada Ibu Chanyeol. Dan dengan tegas Chanyeol melarang. Sekretaris Kim bingung. Sementara Chanyeol menjelaskan, jika mereka memberitahu kecelakaan itu pada Nyonya Park, Nyonya Park pasti akan marah pada Chanyeol, karena sejak awal Nyonya Park menyuruh Chanyeol untuk menjaga dan memperlakukan Hana (Eunsoo) dengan baik agar orang tua Hana setuju menikahkan putrinya dengan Chanyeol. Belum lagi jika seandainya Nyonya Park memberitahu Ibu Hana tentang kecelakaan itu, pasti orang tua Hana tidak akan setuju Hana menikah dengan Chanyeol, karena secara tidak langsung Hana mengalami kecelakaan yang disebabkan oleh Chanyeol (seharusnya Chanyeol sendiri yang menjaga Hana, bukan sekretaris Kim).

Karena memikirkan perusahaan yang Ia pimpin semakin terpuruk, dan saat itu Chanyeol berpikir dengan menikahi Hana adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan perusahaannya (ingat, ketika Nyonya Park mengatakan pada Chanyeol bahwa Hana adalah anak tunggal, jadi orang tua Hana akan menyerahkan perusahaan keluarganya pada laki-laki yang menikah dengan Hana) Chanyeol memutuskan untuk tidak memberitahu soal kecelakaan itu pada siapapun, hanya Chanyeol, dan sekretaris Kim yang tahu. Dan sekretaris Kim akhirnya setuju.

Setelah keluar dari ruang operasi, ternyata Eunsoo koma selama tiga hari. Dihari pertama Eunsoo koma, Nyonya Park sempat menelfon Chanyeol dan menanyakan apakah acara melamarnya lancar? Chanyeol berbohong, dengan mengatakan bahwa Hana (Eunsoo) belum menerima cincin darinya lantaran Hana meminta waktu. Chanyeol pun meminta waktu pada Ibunya agar Ia dan Hana bisa saling mengenal lebih jauh. Nyonya Park setuju. Ia menuruti perkataan Chanyeol, Nyonya Park juga mengatakan agar Chanyeol jangan khawatir karena Nyonya Park sendiri yang akan menjelaskan pada Ibu Hana, agar Ibu Hana juga mengerti perihal waktu yang diminta oleh Chanyeol dan Hana. Dan lewat telfon itu pula, Nyonya Park berpamitan pada Chanyeol untuk pergi liburan ke Cina, Chanyeol menjadi lebih tenang.

Setelah tiga hari koma, Eunsoo akhirnya sadar. Saat Ia sadar, Chanyeol yang duduk di samping ranjang rawatnya karena sekretaris Kim barusaja pergi mencari makan malam untuk Chanyeol. Setelah susah payah membuka mata, hal pertama yang Eunsoo lihat adalah langit-langit ruangan, kemudian Eunsoo melirik Chanyeol dengan lemah dan memandangi Chanyeol cukup lama. Pada awalnya Chanyeol juga diam. Mereka saling memandang. Lalu saat Chanyeol mulai beranjak dari duduk, berniat memanggil dokter, Eunsoo menyentuh jemari Chanyeol yang berada di sisi tempat tidur, menahannya dengan lemah membuat Chanyeol mengurungkan niat untuk pergi.

Chanyeol kembali memandang Eunsoo. Sebelum Chanyeol sempat bertanya apa yang Eunsoo butuhkan, Eunsoo lebih dulu bersuara. “Siapa kau?”

***

Dokter menjelaskan pada Chanyeol dan sekretaris Kim bahwa benturan di kepala wanita itu cukup keras, sehingga menyebabkan Eunsoo kehilangan ingatannya. Tapi dokter bilang hilang ingatan itu tidaklah permanen. Itu artinya Eunsoo bisa sembuh. Tapi membutuhkan waktu yang dokter sendiri pun belum tahu berapa lama Eunsoo bisa sembuh dari hilang ingatan itu. Dokter meminta agar mereka (Chanyeol dan sekretaris Kim) menunggu.

Chanyeol terus memikirkan penjelasan dokter itu. Ia semakin pusing. Namun pada akhirnya, saat Chanyeol kembali menemui Eunsoo di ruang rawat, Eunsoo sudah benar-benar sadar; Eunsoo duduk di ranjang rawat, memandangi kedatangan Chanyeol sampai akhirnya Chanyeol duduk di samping ranjang rawatnya.

Pada akhirnya Chanyeol menjelaskan pada Eunsoo bahwa Eunsoo itu adalah Ban Hana, calon istri Chanyeol. Pada awalnya Eunsoo tidak percaya, Eunsoo juga menanyakan dimana dia tinggal dan dimana orang tuanya. Dan Chanyeol menjawab, jika orang tua yang Hana (Eunsoo) miliki hanyalah seorang Ibu, dan Chanyeol berbohong jika Ibu itu mempunyai penyakit jantung, jika Chanyeol memberitahukan kecelakaan ini, Chanyeol takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Ibu Hana. Chanyeol meyakinkan bahwa Hana akan sembuh dari hilang ingatan itu, tapi untuk sementara mereka harus menyembunyikan kecelakaan ini dari siapapun.

Untuk lebih menyakinkan, Chanyeol akhirnya menunjukkan cincin yang sebelumnya memang akan Ia berikan untuk wanita itu. Disaksikan sekretaris Kim yang juga ada di ruangan, saat itulah, Chanyeol menyematkan cincin itu dijari manis Eunsoo. Dan sejak saat itu pula, Eunsoo akhirnya percaya, Eunsoo pun mulai menanamkan beberapa ingatan dalam kepalanya untuk pertama kali; bahwa dia adalah Ban Hana, calon istri dari seorang pria bernama Park Chanyeol.

***

Pada dasarnya Shin Eunsoo adalah wanita yang banyak bicara, ceplas ceplos. Meskipun Eunsoo mengalami hilang ingatan, tapi sifat aslinya tetap melekat.

Setelah seminggu berada di rumah sakit, dokter mengijinkan Eunsoo pulang, tapi Eunsoo harus tetap memeriksakan kesehatannya pada dokter jika terjadi sesuatu yang berkaitan dengan kesehatan maupun ingatannya. Dan pagi itu Chanyeol yang membawa Eunsoo pergi dari rumah sakit. Saat akan masuk ke dalam mobil, Eunsoo bertanya pada Chanyeol kemana Chanyeol akan membawanya. Chanyeol bilang, untuk sementara Eunsoo tinggal diapartemen Chanyeol, sampai ingatan Eunsoo kembali.

Eunsoo tentu saja senang, dia berkata. “Dengan senang hati, tampan.” Sambil cengar cengir membuat Chanyeol menatapnya enggan. Pada dasarnya Chanyeol memang orang yang dingin, cuek, Chanyeol bahkan tidak pernah memikirkan apakah Ia ingin jatuh cinta atau tidak. Lingkungan keluarga yang selama ini membuatnya tumbuh menjadi seseorang yang berhati keras. Jadi wajar saja jika Chanyeol merasa tidak nyaman dengan sikap Eunsoo yang seperti ini padanya.

Selama perjalanan pulang, di dalam mobil, Eunsoo duduk di depan di samping Chanyeol, Eunsoo bertanya banyak hal pada Chanyeol. Bagaimana hubungan mereka dulu, apakah mereka saling mencintai, siapa yang lebih dulu jatuh cinta diantara mereka hingga akhirnya Chanyeol membelikan cincin untuknya? Meskipun Chanyeol sama sekali tidak menanggapi—melirik Eunsoo sedikitpun tidak, Eunsoo tetap berceloteh panjang lebar dan akhirnya menebak bahwa Chanyeol-lah yang lebih dulu jatuh cinta padanya. Chanyeol mendesah malas mendengar itu sementara Eunsoo tersenyum puas dan menunjuk Chanyeol sambil berkata. “Aku benar ‘kan?”

Chanyeol tetap tak menjawab.

Lalu Eunsoo kembali menatap lurus ke depan. Kali ini Eunsoo hanya menahan senyum. “Tapi saat aku tersadar dari koma, aku merasa sangat aneh. Aku melihatmu, dan sejak saat itu aku tidak bisa melupakanmu. Ya, saat pertama kali aku melihatmu, aku tidak bisa melupakannya. Aku benar-benar mengingatnya dengan baik.”

Kali ini, Chanyeol menatap sisi wajah Eunsoo, sorot matanya sulit diartikan.

“Entah mengapa aku merasa senang saat kau memperkenalkan dirimu sebagai calon suamiku. Hehe. Sebelum lupa ingatan, aku yakin aku juga merasa sebahagia ini bersamamu. Kita saling mencintai ‘kan?” Eunsoo menatap Chanyeol. “Ya, kita pasti saling mencintai. Cincin ini buktinya.”

Lagi, Chanyeol hanya diam. Tapi Eunsoo tidak lagi peduli dengan hal itu karena Ia terlau sibuk memandangi cincin dijari manisnya dengan sorot mata penuh kegembiraan.

Sesampainya diapartemen, Chanyeol mengantar Eunsoo ke kamar wanita itu. Eunsoo takjub ketika membuka lemari sudah ada banyak sekali berbagai macam pakaian yang memenuhi lemari besar itu. Chanyeol bilang, Chanyeol yang menyuruh sekretaris Kim untuk membeli dan menyiapkan semua kebutuhan Eunsoo. Eunsoo mengangguk-angguk. Lalu tanpa sengaja Eunsoo melihat sebuah koper yang diletakkan di atas lemari. Chanyeol bilang itu koper Eunsoo yang wanita itu bawa saat pertama kali datang. Chanyeol yang meletakkannya di sana. Chanyeol juga bilang koper itu sudah lusuh, jadi Chanyeol melarang Eunsoo untuk menggunakannya lagi. Eunsoo menurut. Setelah itu Chanyeol pergi ke kantor dan meninggalkan Eunsoo sendiri di apartemen.

Sebetulnya saat memindahkan koper Eunsoo ke atas lemari, Chanyeol tidak lagi membuka isi koper. Beberapa pakaian Eunsoo yang Eunsoo bawa dari Busan bahkan masih ada di dalam koper itu, termasuk tanda pengenal Eunsoo yang wanita itu sembunyikan di dalam koper saat Ia berada di dalam kereta dulu.

***

Di Busan. Nyonya Shin cemas karena sudah satu minggu lebih Eunsoo tidak memberikan kabar. Nomor ponselnya bahkan tidak lagi aktif (ponsel Eunsoo rusak setelah kecelakaan, semasa Eunsoo koma, seretaris Kim menunjukkan ponsel itu pada Chanyeol dan Chanyeol menyuruh sekretaris Kim membuang saja ponsel itu).

Nyonya Shin mendesak Minseok untuk mencari kabar Eunsoo. Sesungguhnya Minseok pun cemas—sangat cemas. Minseok ingin menyusul Eunsoo ke Seoul tapi Minseok hanya pegawai kontrak di restoran. Minseok tidak mampu untuk membayar denda jika Minseok berhenti begitu saja dari restoran. Untuk itu Minseok meminta Nyonya Shin untuk bersabar karena kontrak Minseok akan habis sekitar dua minggu lagi. Setelah itu, Minseok berjanji akan menyusul Eunsoo ke Seoul.

Malam harinya, Minseok berbohong pada Nyonya Shin dengan mengatakan bahwa Eunsoo barusaja mengiriminya E-Mail. Minseok mengatakan bahwa Eunsoo baik-baik saja. Eunsoo sibuk bekerja. Ponsel Eunsoo hilang jadi Eunsoo tidak bisa mengabari Ibunya. Minseok juga berbohong bahwa Eunsoo berpesan agar Ibunya tidak perlu cemas. Setelah gajian, Eunsoo akan membeli ponsel yang baru agar bisa menghubungi Ibunya.

Setelah mendengar cerita Minseok, Nyonya Shin merasa lega, meskipun sempat kecewa mengapa Eunsoo tidak menggunakan saja telfon umum atau ponsel siapapun untuk menghubungi Ibunya.

Tapi melihat Nyonya Shin yang akhirnya tenang, Minseok sedikit lega. Tapi Ia tetap bertekad bahwa setelah masa kontraknya habis, Ia berjanji akan pergi ke Seoul untuk menyusul Eunsoo dan memastikan keadaan wanita itu di sana.

***

Malam harinya saat Chanyeol pulang, Chanyeol melihat Eunsoo tidur di sofa ruang tamu. Karena pada dasarnya Chanyeol tidak peduli, jadi Chanyeol hanya melihat Eunsoo sebentar lalu pergi ke kamar, mandi. Saat Chanyeol mandi, Eunsoo terbangun, kemudian Eunsoo mengecek kamar Chanyeol, berdiri di depan pintu kamar Chanyeol dan tersenyum ketika mendengar suara gemericik air dari dalam. Eunsoo bergegas masuk ke kamar Chanyeol yang kebetulan tidak terkunci, lalu duduk di tepi tempat tidur.

Saat Chanyeol keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit bagian bawah tubuhnya, sambil mengeringkan rambut, Eunsoo langsung berdiri melihat Chanyeol dengan tatapan takjub. Chanyeol pun kaget dengan kehadiran Eunsoo.

“Apa yang kau lakukan di sini?”

“Chanyeol, apa aku boleh tidur bersamamu?”

“Apa?”

“Aku ingin tidur bersamamu! Ada beberapa hal yang juga ingin aku tanyakan padamu.” Eunsoo nyengir. “ Diantaranya adalah.. sudah berapa kali kita ciuman? Sepanas apa, hm? Ayo katakan padaku. Tadi sore aku menonton drama di televisi, ada adegan seperti itu jadi.. aku langsung teringat padamu. Jadi bagaimana? Aku boleh tidur bersamamu ‘kan? Masih banyak hal lain yang ingin aku tanyakan padamu.”

“…..”

“Kupikir tidak apa-apa jika nantinya aku hamil. Lagi pula kita akan menikah. Aku benar ‘kan?”

“Ya! Ban Hana. Kau pikir—“

“Aku juga ingin memelukmu! Chanyeol, kumohon. Lihatlah, lenganmu besar sekali, apa aku boleh menyentuhnya?”

“Ya! Jangan mendekat!”

“Kenapa?! Aku tunanganmu. Siapa tahu dengan memelukmu dan tidur bersamamu bisa membuat ingatanku cepat kembali. Ayolah aku hanya ingin menyentuhmu sedikiitt!”

“Menjauh dariku—Ya! Kita belum menikah! Tidak seharusnya kau bersikap seperti ini!”

“Tapi Chanyeol!”

“Tidak! Kau tidak boleh tidur di kamarku! Keluar!”

“Chanyeol!”

“Keluar!”

“Chanyeol—”

“Ban Hana!”

“…..”

“Keluar, sekarang juga dari kamarku.”

“Mengapa kau bersikap seperti ini pada tunanganmu sendiri? Kau benar-benar kejam!”

Malam itu akhirnya Eunsoo tidur di kamarnya sendiri, dengan wajah kesal tentunya. Dan Chanyeol benar-benar tidak menyangka dengan sikap Eunsoo yang seperti itu. Chanyeol benar-benar terkejut.

Pagi harinya sekretaris Kim datang ke apartemen, Chanyeol menceritakan kejadian semalam tapi sekretaris Kim justru cekikikan mendengarnya, lantas Chanyeol menegurnya. Chanyeol pikir, selain kecelakaan itu membuat ingatan Eunsoo hilang, kecelakaan itu mungkin juga membuat akal sehat Eunsoo berkurang. Setelah menceritakan hal itu pada sekretaris Kim, Chanyeol masuk kamar, mandi dan bersiap-siap pergi ke kantor.

Saat Chanyeol masuk ke kamar, saat itu juga Eunsoo keluar dari kamarnya. Eunsoo menyambut sekretaris Kim dengan senyuman cerah, sekretaris Kim membalasnya. Lalu Eunsoo mendekati sekretaris Kim dan bercerita pada pria itu tentang keahlian memasaknya. Saat kemarin, Chanyeol meninggalkan Eunsoo sendiri di rumah, Eunsoo merasa lapar, tapi tidak ada makanan di dapur. Eunsoo bercerita bahwa meskipun dia hilang ingatan, tapi entah mengapa saat Ia melihat bahan-bahan makanan di kulkas dan memasaknya, masakan Eunsoo terasa enak seperti masakan seseorang yang memang ahli memasak (Eunsoo memang pintar memasak, bakat memasak itu diturunkan dari Ibunya). Bahkan kopi yang Eunsoo buat pun terasa sangat nikmat.

Maka untuk membuat sekretaris Kim percaya, Eunsoo membuatkan secangkir kopi untuk sekretaris Kim. Sekretaris Kim membawa cangkir berisi kopi itu ke ruang tengah, Eunsoo membuat sarapan di dapur. Sebelum sekretaris meminum kopinya, sekretaris Kim masuk ke kamar kecil. Saat sekretaris Kim masih berada di kamar kecil, Chanyeol keluar dari kamar dengan penampilan yang sudah rapi. Ia berhenti melangkah saat melihat kopi di atas meja (biasanya Chanyeol membuat kopinya sendiri setiap pagi, tapi hari ini Chanyeol lupa) Jadi Chanyeol pikir itu adalah kopi untuknya yang dibuat oleh sekretaris Kim. Maka tanpa ragu Chanyeol meminumnya. Sekali menyeruput, Chanyeol tertegun. Rasa kopi itu benar-benar nikmat, Chanyeol baru pertama kali mencicipi kopi senikmat itu. Chanyeol pikir kopi nikmat ini merupakan bakat dari sekretaris Kim yang terpendam. Lantas Chanyeol kembali menyeruputnya sampai menghabiskan setengah cangkir. Ketika sekretaris Kim kembali, sekretaris Kim kaget. Sekretaris Kim mengadu pada Eunsoo jika Chanyeol menghabiskan kopinya. Saat itulah Chanyeol baru tahu siapa pembuat kopi itu sebenarnya.

Eunsoo tak menanggapi sekretaris Kim dan bergegas berlari menghampiri Chanyeol. Sambil tersenyum Eunsoo bertanya. “Kau juga suka meminum kopi? Itu buatanku. Bagaimana? Apa rasanya enak? Apa kau menyukainya? Ah! Sepertinya aku memang ahli membuat kopi, dan sepertinya kopi buatanku adalah kopi favoritmu. Iya ‘kan? Pasti selama kita pacaran aku sering membuatkanmu kopi. Hihi. Aku pacar.. Ah! Maksudku calon istri yang pintar ‘kan?”

Awalnya Chanyeol hanya diam. Sejujurnya Ia benci dengan orang yang banyak bicara, seperti Eunsoo itu contohnya. Kemudian Chanyeol meletakkan kembali cangkir kopinya di atas meja. “Kupikir rasa semua kopi itu sama. Jadi jangan bersikap berlebihan.” Lalu Chanyeol mengajak sekretaris Kim untuk segera pergi ke kantor, tanpa memperdulikan sekretaris Kim yang kecewa lantaran gagal meminum kopi pagi ini.

Sambil memandangi kepergian Chanyeol, Eunsoo merasa jengkel, Ia mulai membatin, tentang sikap Chanyeol yang  seolah mengabaikannya. Saat masih di rumah sakit Chanyeol pun lebih banyak diam, hanya sekretaris Kim yang sering mengajak Eunsoo bicara. Apa Chanyeol memang seperti itu? Apa sebelum lupa ingatan, Eunsoo benar-benar mencintai pria seperti itu?

***

Selama lima hari setelah keluar dari rumah sakit, Eunsoo terus menghabiskan waktunya di dalam apartemen sementara Chanyeol terus bekerja dikantor, pergi pagi dan pulang malam. Setiap malam Eunsoo menunggu hingga tertidur di sofa namun Chanyeol tidak pernah memperdulikan wanita itu. Eunsoo selalu terbangun sendiri, jika Eunsoo mengecek sepatu kerja Chanyeol sudah berada di belakang pintu, itu artinya Chanyeol sudah pulang, jadi Eunsoo langsung pindah tidur di kamar. Setiap pagi Chanyeol juga meminta Eunsoo untuk membuatkan sarapan dan kopi untuknya. Masakan Eunsoo benar-benar enak, tapi tentu saja Chanyeol tidak mau mengakuinya. Selalu ada saja kekurangan-kekurangan yang Chanyeol paparkan membuat Eunsoo terkadang merasa jengkel.

Eunsoo semakin jengkel, saat Chanyeol terus saja menolak untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan yang Eunsoo ajukan. Berapa kali mereka ciuman selama berpacaran? Ciuman pertama mereka dilakukan dimana? Apa mereka pernah tidur bersama? Disalah satu malam Eunsoo bahkan sengaja mengendap-endap masuk ke kamar Chanyeol. Naik ke atas tempat tidur Chanyeol. Masuk ke dalam selimut Chanyeol. Mengelus lengan kekar Chanyeol yang terpampang nyata karena malam itu Chanyeol tidur hanya mengenakan singlet. Ketika Chanyeol sadar, pria itu terkejut, marah, mengecap Eunsoo sebagai wanita mesum namun Eunsoo terus saja beralasan bahwa mungkin, dengan memeluk dan tidur bersama Chanyeol membuat ingatannya bisa segera kembali. Namun Chanyeol justru mendorong paksa tubuh Eunsoo dan mengeluarkan wanita itu dari kamarnya.

Hari ke-enam. Eunsoo tidak tahan lagi terkurung di dalam apartemen. Eunsoo bosan. Menonton drama pun tidak lagi terasa menyenangkan. Maka saat siang hari Eunsoo memutuskan untuk keluar dari apartemen. Eunsoo tidak tahu jalan sama sekali. Tapi rasa penasaran membuat kakinya terus melangkah menyusuri jalan, melangkah cukup jauh dari apartemen sampai akhirnya Ia kehausan. Eunsoo pun masuk ke sebuah cafe, memesan satu cup minuman dingin dan segera meminumnya. Tapi sayang, saat pegawai cafe menagih bayaran, Eunsoo baru ingat bahwa Eunsoo tidak mempunyai uang. Eunsoo berniat mengembalikan minuman itu dan mengatakan bahwa Ia baru meminumnya sedikit, tapi pegawai cafe malah memarahinya. Eunsoo juga menawarkan diri untuk mencuci perkakas kotor tapi pegawai cafe tetap menolak.

Eunsoo bingung, Ia tidak punya ponsel untuk menghubungi Chanyeol. Dan saat itulah, secara kebetulan Eunsoo bertemu Sehun. Sehun terkejut sekaligus senang melihat Eunsoo, Ia pun menceritakan insiden bra di dalam kereta saat itu. Sehun juga memanggil Eunsoo dengan sebutan Nona Bra, tapi Eunsoo malah mengatai Sehun mesum. Sehun bingung saat bertanya “Kau benar-benar tidak ingat padaku?” Eunsoo menggeleng. Ketika Sehun terus bertanya dengan nada mendesak, Eunsoo akhirnya menceritakan perihal kecelakaan yang Ia alami saat itu. Eunsoo juga memperkenalkan dirinya pada Sehun sebagai Ban Hana.

Sehun baru mengerti. Akhirnya Sehun membayar minuman Eunsoo dan mengantarkan Eunsoo pulang. Tapi dipertengahan jalan, perut Eunsoo berbunyi karena lapar, Sehun tersenyum lalu mengajak Eunsoo makan bersama. Sehun bahkan mengajak Eunsoo jalan-jalan dan Eunsoo pikir; kenapa tidak? Sepertinya Sehun baik. Lagi pula tidak ada salahnya mencari angin segar setelah berhari-hari terkurung di dalam apartemen Chanyeol.

Beruntung Eunsoo ingat jalan pulang menuju apartemen Chanyeol. Jadi Sehun mengantarkan Eunsoo pulang sampai depan pintu apartemen. Sehun mengatakan Ia senang bisa bertemu Eunsoo kembali, mengatakan Eunsoo adalah orang yang menyenangkan, Sehun berharap mereka bisa bertemu lagi, lalu saat Sehun ingin bertanya lebih jauh, Sehun melihat Eunsoo memainkan cincin dijari manisnya. Sehun baru sadar dengan keberadaan cincin itu, Ia terdiam. Saat Eunsoo berkata, “Kalau begitu aku ingin masuk. Terima kasih untuk hari ini, Sehun.”

Sempat terdiam sejenak, Sehun akhirnya tersenyum ramah. “Tidak masalah. Aku juga akan pulang, sudah malam. Sampai jumpa, Nona Bra.”

Mendengar itu Eunsoo mendesis sementara Sehun melenggang santai, pergi dari hadapan Eunsoo. Setelah kepergian Sehun, Eunsoo pun masuk ke dalam apartemen (Eunsoo ingat saat masih di rumah sakit sekretaris Kim pernah memberitahukan kode masuk apartemen Chanyeol). Diruang tengah Eunsoo disambut Chanyeol yang berdiri sambil menatapnya dengan tatapan dingin. Chanyeol langsung mendekati Eunsoo dan mengajukan beberapa pertanyaan dengan nada marah. Dari mana wanita itu pergi hingga larut malam seperti ini, mengapa Eunsoo pergi tanpa persetujuan darinya, bagaimana jika terjadi sesuatu yang buruk pada Eunsoo diluar, Eunsoo pikir siapa yang akan bertanggung jawab nanti? Apalagi ingatan Eunsoo belum kembali.

Setelah Chanyeol selesai melontarkan pertanyaan itu, Eunsoo menjawab bahwa dia bosan berada di rumah. Sebenarnya Eunsoo juga ingin meminta ijin pada Chanyeol tapi Eunsoo tidak tahu bagaimana menghubungi pria itu. Eunsoo juga menyinggung perihal sikap Chanyeol yang selama ini seolah mengabaikannya, Eunsoo berkesimpulan Chanyeol tidak peduli padanya, Chanyeol tidak benar-benar mencintainya. Eunsoo mulai menanyakan apa sebenarnya alasan Chanyeol ingin menikah dengannya? Eunsoo juga mengatakan bahwa dia ingin bertemu dengan keluarganya. Saat itu, Chanyeol bungkam. Eunsoo yang merasa kesal langsung pergi menuju kamar dan meninggalkan Chanyeol yang tetap terdiam ditempatnya.

Malam itu Chanyeol duduk ditempat tidur sambil merenung. Teringat kata-kata Ibunya yang menyuruh agar Chanyeol bersikap baik pada Eunsoo (yang Chanyeol kenal sebagai Hana). Chanyeol bingung. Ia bukanlah seseorang yang bisa bersikap hangat pada orang lain. Meskipun Ia sudah berusaha untuk bersikap baik pada Eunsoo, tapi ego-nya selalu memonopoli. Terlebih menghadapi sifat-sifat Eunsoo yang banyak bicara dan senang mengajukan pertanyaan-pertanyaan tidak masuk akal, Chanyeol tidak suka itu.

Tapi saat mengingat Eunsoo yang sering tertidur disofa karena menunggunya pulang, mengingat Eunsoo yang selalu membuatkan sarapan serta kopi untuknya dipagi hari, mengingat Eunsoo yang kadang mengenakan apron sambil membereskan apartemennya, mengingat senyuman polos Eunsoo, mengingat pertanyaan-pertanyaan bodoh yang terlontar dari bibir Eunsoo, mengingat Eunsoo yang selalu saja ingin mendekat padanya, membuat Chanyeol menghela napas pelan sambil menundukkan pandangan. Mungkin Eunsoo benar, sebagai calon suami Chanyeol mungkin terlalu tidak peduli padanya.

***

Pagi harinya, saat Eunsoo bangun dan berjalan menuju pantry, di meja pantry Eunsoo melihat sebuah kotak yang terdapat selembar kertas kecil di atasnya. Eunsoo mengambil kertas itu dan membacanya. “Aku harus pergi ke kantor lebih awal pagi ini. Di dalam kotak itu ada hadiah untukmu.” Setelah membaca tulisan itu, Eunsoo segera mengambil kotak dan membukanya, matanya berbinar saat mendapati sebuah ponsel dari dalam kotak. Eunsoo mengotak atik ponsel itu dan mendapati satu-satunya kontak yang ada di sana; Park Chanyeol. Senyum Eunsoo mengembang, Ia berpikir bahwa ternyata Chanyeol baik, ternyata Chanyeol peduli padanya.

Jadi Eunsoo berusaha membuang jauh-jauh prasangka buruk yang sempat Ia pikirkan sebelumnya. Eunsoo kembali menanamkan dalam hati, Chanyeol adalah calon suaminya. Eunsoo menyukai si tampan itu Dan Eunsoo yakin, jika ingatannya nanti telah kembali, Eunsoo yakin bahwa sebenarnya Ia sangat mencintai Chanyeol, begitu juga sebaliknya.

Eunsoo memutuskan untuk mengganti nama kontak Chanyeol di ponsel barunya, menjadi ‘Pangeran Tampan’. Lalu Eunsoo menyentuh tombol call dan segera menempelkan benda tipis itu ke telinga disertai raut wajah penuh kegembiraan.

Saat Eunsoo menelfon, Chanyeol sedang berada ditengah-tengah rapat. Penjelasan rapatnya pun berhenti, peserta rapat mendadak fokus pada ponsel Chanyeol yang terdengar berdering di atas meja. Chanyeol berdeham dan meminta waktu sebentar. Ekspressinya seketika berubah saat Chanyeol mendapati sebuah nama yang kini tertera di layar ponselnya; ‘Si Mesum’.

***

Di Jepang, Ban Hana asli tengah sibuk dikantor tempat Ia bekerja. Saat itu Ia mendapat pesan dari Ibunya yang masih berada di Paris; “Terima kasih sayang, akhirnya kau menuruti perkataan Ibu. Tidak apa-apa jika kalian meminta waktu. Ya, Ibu rasa itu perlu agar kalian bisa saling mengenal lebih dalam. Seperti yang Ibu bilang sebelumnya, keluarga Park tidak akan membuat kita kecewa. Ibu sengaja tidak menelfonmu karena Ibu takut mengganggu waktu kebersamaan kalian berdua. Baiklah, kalau begitu selamat menikmati liburanmu sayang. Jika urusan Ibu sudah selesai di sini, Ibu akan segera menyusulmu ke Korea. Ibu juga ingin bertemu secara langsung dengan calon menantu Ibu yang tampan itu, sampai jumpa.”

Setelah membaca pesan itu Hana merasa bingung. Karena Hana pikir ini sudah seminggu lebih, seharusnya Eunsoo yang Ia minta untuk berpura-pura menjadi dirinya sudah menolak lamaran itu, dan seharusnya Eunsoo sudah kembali ke Busan. Beberapa hari lalu Hana memang sempat bingung setelah Eunsoo menghubunginya terakhir kali (sebelum Eunsoo kecelakaan). Hana mencoba menghubungi Eunsoo lagi tapi ponsel Eunsoo tidak aktif, bahkan setelah beberapa hari sebelumnya. Hana memang sempat khawatir apakah Eunsoo bisa menjalankan rencananya dengan lancar atau tidak. Dan membaca pesan yang barusaja dikirim Ibunya membuat Hana kini mulai merasa cemas.

Tiba-tiba Hana teringat dengan sebuah amplop yang Ibunya kirim dari Paris beberapa hari yang lalu. Memang, Ibu Hana selalu mengirim data lengkap dari para lelaki yang akan dijodohkan dengan Hana. Karena Hana memang tidak ingin dijodohkan, beberapa amplop—termasuk amplop terakhir yang Ibunya kirimkan yang berisi data Chanyeol—Hana abaikan begitu saja. Kemudian Hana mencari amplop itu dilaci meja kerjanya, setelah menemukannya, Hana membuka amplop itu, memeriksa beberapa berkas tentang data diri Chanyeol dan terdiam saat melihat selembar foto berukuran sedang yang terselip di salah satu berkas. Hana mengakui jika Park Chanyeol adalah satu-satunya pria yang bisa dibilang sempurna jika dibandingkan dengan pria-pria yang Ibunya pilihkan selama ini. Diusia 28 tahun Chanyeol sudah memimpin perusahaan dan jangan tanyakan lagi bagaimana penampilan fisiknya.

Setelah diam cukup lama, Hana merenung, memikirkan apa sebenarnya yang Eunsoo lakukan sekarang bersama pria bernama Park Chanyeol itu? Kenapa Eunsoo meminta waktu untuk memikirkan perjodohan itu? Ditengah kebingungan itu, seseorang megetuk pintu ruangan Hana. Orang itu mengatakan bahwa sang direktur ingin bicara pada Hana. Hana memasukkan kembali berkas-berkas Chanyeol ke dalam amplop itu, menyimpannya. Lalu Ia pergi ke ruang direkturnya dan mendapatkan kabar bahwa sang direktur berencana membuka cabang perusahaan di Seoul, Korea. Karena Hana satu-satunya karyawan yang berbangsa Korea, jadi sang direktur mengajak Hana untuk pergi Korea guna bertemu dengan beberapa investor disana. Dan pertemuan itu akan berlangsung sekitar seminggu lagi. Direktur itu juga mengatakan bahwa setelah pertemuan itu berakhir, dia akan memberikan cuti selama beberapa hari pada Hana.

Dan Hana setuju.

***

Setelah selesai rapat, Chanyeol langsung masuk ke ruang kerjanya, duduk dibelakang meja kerjanya. Chanyeol mengambil ponsel yang sempat Ia matikan lalu menghidupkannya kembali. Tidak lama setelah itu, beberapa pesan masuk dan kesemua pesan itu berasal dari sebuah kontak yang ia beri nama ‘Si Mesum’ (Eunsoo);

“Chanyeol, kenapa kau tidak menjawab telfon dariku?”

“Kau sibuk?”

“Chanyeol !!”

“Chanyeol kenapa seperti ini? Aku menelfon lagi tapi ada seorang wanita didalam telfon yang mengatakan bahwa ponselmu tidak aktif! Chanyeol kau tidak apa-apa?!”

“Park Chanyeol !!! Kau sengaja melakukannya?!!”

“Chanyeol aku tunanganmu! Aku sudah menunggu lama tapi kau tidak juga membalas panggilan atau pesanku! Kau kejam!”

*Eunsoo mengirim foto close up dirinya dengan ekspressi wajah yang marah*

Melihat foto itu, tanpa sadar Chanyeol tersenyum. Chanyeol terus melihat foto itu selama beberapa saat—Chanyeol bahkan men-zoom-nya, memperhatikan secara teliti setiap inci bagian wajah Eunsoo; kening, alis, mata, hidung, pipi, dan bibir. Entah mengapa tiba-tiba Chanyeol teringat tentang rentetan pertanyaan Eunsoo soal ciuman. Chanyeol pun berkedip cepat dan segera mengembalikan foto itu ke ukuran asli. Anehnya jantungnya terasa berdebar-debar. Setelah itu, Chanyeol membaca pesan terakhir yang Eunsoo kirim.

“Chanyeol, ada temanku yang datang ke apartemen, dia mengajakku pergi. Boleh, ya? Aku merasa bosan terus berada di apartemen. Aku ingin menelfonmu tapi ponselmu masih tidak bisa dihubungi. Kau tenang saja, aku tidak akan pergi sampai larut malam lagi. Sampai jumpa, tampan-ku!!”

Teman? Sejak kapan wanita itu mempunyai teman? Atau.. apakah ingatannya sudah kembali? Pertanyaan itu muncul dalam benak Chanyeol. Ia kembali teringat dengan kejadian kemarin malam saat Eunsoo pulang hingga larut malam. Apa mungkin saat itu Eunsoo juga pergi dengan seseorang yang wanita itu sebut sebagai teman? Chanyeol segera bangkit dari kursinya. Ia berniat menelfon Eunsoo, juga berniat pergi untuk menyusul wanita itu, namun belum sempat Ia menghubungi Eunsoo, pintu ruangan lebih dulu diketuk dan sekretaris Kim masuk. Sekretaris Kim berkata dengan nada cemas bahwa pemilik sah perusahaan—Nenek—ingin bertemu dengan Chanyeol, beliau sedang berjalan menuju ruangan Chanyeol.

Pada akhirnya Chanyeol mengurungkan niat menyusul Eunsoo. Setelah menunggu tidak lama kemudian, Nenek datang. Mereka mengobrol cukup lama hanya berdua di ruangan Chanyeol. Intinya, Nenek mengatakan bahwa Sehun sudah menyelesaikan study-nya di luar negeri, dan saat ini Sehun sudah berada di Korea. Nenek juga mengeluhkan kinerja Chanyeol, Nenek sudah mengetahui semuanya. Selama perusahaan dipimpin oleh Chanyeol, perusahaan itu tidak mengalami kemajuan yang memadai, saat ini perusahaan bahkan dalam keadaan terpuruk karena banyak investor yang tidak lagi bersedia bekerja sama dengan mereka. Nenek mengatakan Chanyeol tidak becus, tidak bisa diandalkan seperti Ayahnya. Jadi Nenek merencanakan untuk menurunkan jabatan Chanyeol dan menaikkan Sehun sebagai direktur.

Setelah cukup lama hanya diam, kedua tangan Chanyeol mengepal erat. Dengan nada tegas Ia meminta sang Nenek agar memberinya waktu, paling tidak selama beberapa hari saja karena Chanyeol sudah memiliki janji dengan beberapa investor yang Chanyeol yakin ingin bekerja sama lagi dengan perusahaan mereka. Chanyeol akan berusaha semaksimal mungkin. Setelah menimbang-nimbang, Nenek akhirnya bersedia Chanyeol melanjutkan pekerjaannya. Tapi tetap, posisi Chanyeol sebagai direktur akan bergeser karena Nenek akan segera menyuruh Sehun untuk masuk ke perusahaan. Sehun sebagai direktur, dan Chanyeol sebagai wakilnya. Nenek mengatakan, itupun jika Chanyeol berhasil meyakinkan para investor yang akan ditemuinya. Jika Chanyeol tidak berhasil, Nenek akan mengeluarkan Chanyeol dari perusahaan sebagai hukuman atas ketidakberhasilannya memimpin perusahaan selama ini. Chanyeol hanya bisa diam mendengar keputusan itu.

***

Di sebuah taman, Eunsoo dan Sehun duduk berdua. Sebenarnya Sehun memutuskan untuk menemui Eunsoo kembali hanya karena Sehun ingin memastikan status wanita itu. Setelah memberanikan diri untuk bertanya, Sehun akhirnya mendapatkan jawabannya. Eunsoo menceritakan bahwa Ia sudah memiliki tunangan, meskipun tidak menyebutkan siapa nama tunangannya karena Eunsoo pikir, jika Eunsoo menyebutkan namanya sekalipun Sehun mungkin tidak mengenal tunangannya. Eunsoo juga menjelaskan jika Ia tidak sabar menanti saat-saat ingatannya akan kembali. Eunsoo tidak sabar mengingat kehidupan seperti apa yang Ia jalani dulu, kisah cinta seperti apa yang Ia jalani bersama tunangannya, dan Eunsoo juga tidak sabar untuk mengingat pertemuannya dengan Sehun sampai-sampai Sehun terus memanggilnya Nona Bra seperti sekarang ini.

Sehun mengerti, meskipun—entah mengapa—Ia merasa kecewa. Tapi Sehun merasa sedikit lega saat Eunsoo menjelaskan bahwa Eunsoo tidak akan menikah sebelum ingatannya kembali. Sehun berpikir, apa Ia masih memiliki waktu? Toh, Nona Bra-nya belum benar-benar menikah. Tapi jangan salah sangka, Sehun tidak berniat merusak hubungan orang. Tidak sama sekali.

Sehun mengajak Eunsoo jalan-jalan hingga sore hari. Eunsoo senang karena Ia merasa hal seperti ini seperti baru pertama kali untuknya. Sehun pun senang karena sudah cukup lama Ia berada di luar negeri, jadi Sehun sangat merindukan kota kelahirannya. Mereka pergi ke toko buku, ke rental game, ke restoran, ke pusat perbelanjaan yang terbesar di kota itu—karena Eunsoo mengatakan tunangannya barusaja membelikan ponsel, maka Sehun membelikan sebuah gantungan ponsel dengan hiasan tiga bintang berwarna perak. Sehun mengatakan agar Eunsoo menganggap bintang-bintang itu sebagai bintang yang sama di langit, jadi Eunsoo juga bisa membuat permohonan dan Sehun berharap agar ingatan Eunsoo bisa segera kembali. Mereka juga pergi ke taman. Lalu Sehun membeli eskrim yang saat ini mereka nikmati sambil menunggu lampu penyebrangan bagi pejalan kaki menyala. Saat itu juga, mobil Chanyeol berhenti karena lampu merah menyala.

Wajah Chanyeol nampak lesu. Pandangannya terlihat menerawang karena pikirannya terlalu sibuk memikirkan setiap kata yang terlontar dari bibir Nenek. Lalu tanpa sengaja, mata Chanyeol menangkap keberadaan Eunsoo yang tengah berjalan menyebrangi jalan di depan mobilnya. Wanita itu masih berjalan berdampingan dengan Sehun, menikmati eskrim sambil sesekali mereka tertawa. Tunggu, Sehun?

Ya, Sehun. Chanyeol bingung mengapa wanita itu bisa bersama Sehun—seseorang yang paling Chanyeol benci di dunia ini, seseorang yang Chanyeol cap menjadi penyebab mengapa hidup Chanyeol menjadi seperti ini. Lalu ketika Chanyeol melihat Eunsoo dan Sehun sudah sampai di sisi jalan dan mereka berjalan menjauh dari Chanyeol, tanpa pikir panjang Chanyeol segera menepikan mobilnya, kemudian turun dan berjalan menyusul Eunsoo serta Sehun.

“Ban Hana!”

Setelah mendengar seruan itu, Eunsoo dan Sehun menghentikan langkah mereka, lalu menoleh ke belakang. Senyum Eunsoo langsung mengembang saat mendapati Chanyeol sudah berdiri tak jauh dari dirinya. Eunsoo barusaja akan menyapa Chanyeol namun Sehun lebih dulu bersuara “Chanyeol?” mendengar itu Eunsoo langsung menatap Sehun dengan bingung. “Kau mengenalnya?” tanya Eunsoo. Sehun mengangguk dan menjawab bahwa tentu saja Sehun mengenalnya karena Chanyeol adalah sepupunya. Eunsoo takjub, Eunsoo juga menjelaskan bahwa sebenarnya Chanyeol adalah tunangannya. Sehun lebih takjub mendengar itu.

Dengan langkah tegas, wajah tidak bersahabat dan tatapan yang teramat tajam, Chanyeol berjalan mendekati Eunsoo juga Sehun. Setelah Chanyeol tiba di hadapan kedua orang itu, Eunsoo berniat menawarkan eskrim ditangannya pada Chanyeol namun Chanyeol lebih dulu menyambar pergelangan tangan Eunsoo, menariknya secara paksa membuat eskrim Eunsoo jatuh tanpa disengaja. Eunsoo mendesis kesal, berniat marah pada Chanyeol namun lagi-lagi Chanyeol lebih dulu menarik tubuhnya, membawanya berjalan menjauh dari hadapan Sehun dan memaksa Eunsoo masuk ke dalam mobil bersamanya.

Setelah mobil Chanyeol pergi, Sehun hanya memandanginya dalam diam. Tersenyum tipis, kemudian Sehun memandangi eskrim Eunsoo yang jatuh di permukaan aspal sembari mendengus pelan. Sehun pikir, ini kebetulan yang menarik. Ia menyukai wanita yang ternyata wanita itu adalah tunangan Park Chanyeol, seseorang yang Sehun tahu sangat tidak suka padanya. Ya, Sehun tahu Chanyeol tidak pernah suka padanya. Dan sesungguhnya Sehun tidak bermaksud membuat agar Chanyeol membencinya, terkadang Sehun juga mengeluhkan sifat sang Nenek yang terlalu membanding-bandingkan mereka. Sehun juga ingat beberapa hari yang lalu sang Nenek menemuinya dan membicarakan perihal perusahaan dan posisi direktur yang Neneknya janjikan, Sehun yakin Chanyeol sudah mengetahui hal itu lantaran Sehun merasa tatapan Chanyeol jauh lebih menusuk dari pada sebelum-sebelumnya.

Dan sekarang, satu hal yang terasa mengganjal dalam pikiran Sehun. Nona Bra-nya itu ternyata tunangan Chanyeol? Sejak kapan Chanyeol tertarik untuk menjalin hubungan dengan seorang wanita? Gayoung saja yang memiliki kehidupan mapan dan sejak dulu mengejar tidak pernah Chanyeol perdulikan. Dan sekarang Chanyeol bertunangan dengan wanita seperti itu? Sehun jadi ingat, saat dikereta dulu, Sehun sempat memperhatikan koper Eunsoo saat wanita itu sibuk memasukkan sesuatu ke dalam saku koper. Sehun melihat bagian tepi koper Eunsoo sudah mengelupas. Ya, kopernya memang bisa dibilang lusuh. Penampilan Eunsoo dulu juga sangat apa adanya. Lalu Chanyeol yang selama ini Sehun kenal sebagai orang yang ingin selalu berada diatas, berniat menikah dengan wanita seperti itu? Apa Chanyeol tidak salah memilih?

Sehun merasa bingung. Sehun merasa ada sesuatu yang aneh. Dan Sehun mulai berpikir, apa yang menyebabkan wanita itu kecelakaan hingga menjadi lupa ingatan seperti sekarang ini?

Selama perjalanan pulang di dalam mobil, Eunsoo terus menggerutu tentang eskrimnya yang jatuh gara-gara Chanyeol. Tapi Chanyeol sama sekali tidak memperdulikannya, sedikit menoleh pun tidak. Eunsoo kesal, Ia juga mengungkit mengapa Chanyeol mengabaikan panggilan telfon dan semua pesan yang Ia kirim. Jadi apa sebenarnya tujuan Chanyeol membelikan ponsel untuknya jika menjawab panggilan dan membalas pesan saja Chanyeol tidak mau melakukannya? Chanyeol tidak memberikan respon apapun. Ekspressi wajahnya tetap dingin, tatapannya terus teruju ke depan, membuat Eunsoo benar-benar kesal hingga akhirnya wanita itu memilih diam dan ikut menatap lurus ke depan sembari sesekali mendengus kasar.

Sesampainya di apartemen, mereka tidak saling tegur sapa. Bahkan hingga malam hari tiba. Setelah berjam-jam mengurung diri di kamar, jam sembilan lewat lima menit Eunsoo keluar kamar. Eunsoo berjalan menuju pantry karena ingin meminum air putih, tapi langkahnya terhenti saat Eunsoo melihat Chanyeol tengah duduk di sofa di depan televisi, tak jauh dari Eunsoo berdiri saat ini. Televisi memang mati, karena Chanyeol sibuk dengan sebuah laptop dan beberapa map serta kertas yang berserakan di atas meja dan sekitar sofa. Sepertinya Chanyeol sedang lembur; pikir Eunsoo. Melihat wajah serius Chanyeol, sesekali pria itu mendesah berat, ketika melihat beberapa berkas wajahnya juga tampak sulit, membuat Eunsoo diselimuti perasaan bersalah. Ada rasa kasihan terhadap pria itu. Namun yang lebih dominan adalah perasaan kesal pada dirinya sendiri lantaran ingatannya sedikitpun belum juga kembali. Eunsoo berharap, jika ingatannya cepat kembali, Ia bisa menjalani hidupnya dengan normal dan tidak lagi menjadi beban untuk Chanyeol.

Akhirnya Eunsoo berinisiatif membuatkan secangkir kopi untuk Chanyeol. Ketika Eunsoo meletakkan cangkir kopi itu di atas meja, Chanyeol mendongak menatapnya, namun pria itu hanya diam menatapnya. Eunsoo kemudian duduk disofa tepat disamping Chanyeol. Menatap Chanyeol dengan senyuman mengembang membuat Chanyeol justru curiga menatapnya.

“Chanyeol, aku sudah memikirkan semuanya.”

“Apa yang ingin kau katakan padaku kali ini?”

Eunsoo manggut-manggut, lalu menatap lurus ke depan sambil tersenyum lebar. “Maaf, mungkin aku yang tidak peka. Aku baru memikirkan kejadian tadi sore. Mengapa kau menjadi marah seperti itu? Astaga, tentu saja kau pasti cemburu melihat tunanganmu berjalan dengan laki-laki lain, apalagi laki-laki itu sepupumu. Hatimu pasti merasa sakit ‘kan melihatnya? Ya, itu wajar karena kau calon suamiku. Karena kau mencintaiku. Tapi kau tenang saja.” Eunsoo menyikut lengan Chanyeol, tanpa memperdulikan Chanyeol yang mulai menatapnya dengan wajah tanpa ekspressi. “Aku tidak mungkin selingkuh! Kau harus percaya padaku, hm? Apalagi dengan Sehun. Dia sepupumu ‘kan? Berarti dia akan menjadi sepupuku juga. Aku hanya menganggapnya sebatas teman, tidak lebih. Percayalah! Jadi kau tidak perlu cemburu lagi padanya. Apalagi.. jika kalian sampai tidak akur gara-gara aku. Kumohon jangan lakukan itu, aku jadi merasa tidak enak. Ck!”

Chanyeol memilih diam. Tidak menjawab. Chanyeol mengambil cangkir berisi kopi lalu menyeruputnya, sambil berpikir mengapa kopi itu terasa begitu nikmat dan sangat menenangkan, beda sekali dengan si pembuat kopi itu sendiri. Chanyeol berhenti meminum kopi saat Eunsoo bertanya apakah dia boleh menemani Chanyeol bekerja. Sebelum Chanyeol sempat menjawab, Eunsoo berjanji tidak akan mengganggunya, juga tidak akan bicara macam-macam padanya. Chanyeol berpikir sejenak, sejujurnya Ia tidak senang diganggu siapapun jika sedang bekerja apalagi pekerjaan lembur seperti ini. Tapi karena Chanyeol tidak ingin membuat wanita itu curiga lagi padanya, Chanyeol akhirnya mengijinkan.

Eunsoo tentu saja senang. Ia tersenyum lebar saat Chanyeol mulai berkutat kembali dengan laptop dihadapannya. Keadaan tenang itu tidak berlangsung lama karena Eunsoo tiba-tiba bersuara; “Apa aku juga boleh tidur bersamamu malam ini?” Chanyeol menghentikan aktifitasnya, namun Ia memilih diam dan mendengarkan Eunsoo yang kembali bersuara. “Kau bahkan terlihat sangat tampan saat sedang serius seperti ini. Aku benar-benar ingin menciummu. Hehe.” Setelah itu, Chanyeol menoleh pada Eunsoo, mendapati Eunsoo tengah menatapnya dengan wajah tanpa dosa. “Aku serius, Chanyeol. Kurasa jika aku terus berada disampingmu, mungkin akan membuat ingatanku cepat kembali. Kau juga belum menjawab pertanyaanku, sudah berapa kali kita melakukan ciuman? Setiap hari? Sering? Atau bahkan tidak pernah? Aku sangat penasaran soal itu. Aku tidak sabar ingin mengingat masa laluku.”

Chanyeol membuang napas panjang, terdengar berat. “Jika seperti ini, sebaiknya kau masuk ke kamarmu.” Mendengar itu Eunsoo langsung mengatupkan bibirnya rapat-rapat dan berjanji tidak akan bersuara lagi. Chanyeol tetap menyuruhnya masuk, tapi Eunsoo malah menyandarkan punggungnya disofa hingga Chanyeol tidak punya pilihan selain membiarkan wanita itu tetap berada disampingnya. Pada akhirnya Chanyeol kembali sibuk dengan pekerjaannya. Kali ini suasana benar-benar hening karena Eunsoo menepati janjinya—diam. Sekitar satu jam kemudian, tiba-tiba Chanyeol merasakan sesuatu menyentuh pundaknya. Chanyeol pun menoleh dan mendapati kepala Eunsoo bersandar di pundaknya. Wanita itu tertidur. Ketika Chanyeol mencoba menyentuh kepala Eunsoo, berniat membangunkannya, pergerakan tangan Chanyeol tiba-tiba terhenti, terselip perasaan tidak tega dalam hatinya. Chanyeol merasa aneh.

Hingga akhirnya, Chanyeol hanya diam dan membiarkan Eunsoo tidur dengan bersandar pada pundaknya. Chanyeol terus memandangi wajah Eunsoo. Semakin lama melihat wajah wanita itu membuat Chanyeol berpikir tentang kehidupan dirinya sendiri. Tiba-tiba Chanyeol merasa semua yang Ia lakukan selama ini sia-sia. Ya, sia-sia. Chanyeol sudah melakukan banyak hal namun orang-orang tetap tidak percaya padanya, selalu meragukan kemampuannya. Chanyeol mulai berpikir apa yang sebenarnya Ia kejar didunia ini? Perasaan iri mulai menyelinap dihatinya. Chanyeol iri pada Eunsoo, meskipun wanita itu tidak bisa mengingat semua kenangan masa lalunya, tapi Eunsoo selalu terlihat baik-baik saja, seperti tidak mempunyai beban, hidupnya tampak begitu bahagia. Sangat berbeda dengan Chanyeol. Chanyeol benar-benar iri dengan wanita itu. Bahkan saat tidur seperti ini, wajahnya terlihat begitu damai.

Chanyeol hanya tersenyum miris untuk dirinya sendiri. Kembali melihat wajah tidur Eunsoo membuatnya merasa sedikit bersyukur, setidaknya, sekarang ada seseorang yang membuatkan sarapan untuknya, ada seseorang yang membuatkan kopi yang enak untuknya, ada seseorang yang selalu menunggu kepulangannya, ada seseorang yang peduli padanya, dan ada seseorang yang.. dari wanita itu, Chanyeol mulai merasa menjadi manusia yang sesungguhnya. Manusia yang seharusnya memperhatikan keadaan manusia-manusia disekitarnya. Bukan mengabaikannya seperti yang Chanyeol lakukan selama ini.

Malam itu Chanyeol mengangkat tubuh Eunsoo dengan hati-hati dan memindahkannya ke kamar. Menidurkan Eunsoo dikasur dan menyelimuti tubuh wanita itu dengan hangat. Chanyeol memandangi wajah Eunsoo cukup lama, sebelum akhirnya benar-benar pergi.

***

Hari selanjutnya, Chanyeol bangun lebih awal dari biasanya. Ia melakukan hal yang dulunya biasa Ia lakukan sendiri sebelum Eunsoo hadir diapartemennya; membuat sarapan. Chanyeol masih sibuk dengan potongan-potongan daging diwajan penggorengan saat Eunsoo terlihat barusaja memasuki area pantry. Wanita itu menatap sosok tegap Chanyeol dari belakang dengan senyuman yang dikulum. Eunsoo melangkah dengan hati-hati mendekati Chanyeol, lalu memeluk pinggang pria itu dari belakang membuat Chanyeol terkesiap.

“Selamat pagi tampan!” setelah menyapa seperti itu, senyum Eunsoo semakin mengembang. Sementara Chanyeol segera mematikan kompor dan berusaha melepas tangan Eunsoo yang bertaut didepan perutnya. “Ya! A-apa yang kau lakukan?!” Chanyeol berusaha menoleh ke belakang, ke arah Eunsoo. Sesungguhnya Chanyeol tidak bermaksud berkata gagap seperti itu. Entahlah, Chanyeol bingung mengapa jantungnya tiba-tiba berdegup sangat keras saat Eunsoo mempererat rangkulan tangannya, namun tidak lama kemudian wanita itu melepasnya. Membuat Chanyeol bisa menghembuskan napas sedikit lega.

Tanpa memperdulikan Chanyeol yang memandanginya dengan tatapan yang sulit diartikan, Eunsoo mendekati kompor untuk mengecek makanan apa yang sedang dimasak Chanyeol. Eunsoo menghirup aroma masakan Chanyeol dan mengatakan bahwa dia menyukainya. Eunsoo juga memuji Chanyeol dengan mengatakan bahwa selain tampan, Chanyeol juga pandai memasak. Benar-benar menjadi suami idaman Eunsoo. Sebagai apresiasi, Eunsoo bahkan mencubit pipi Chanyeol dengan gemas membuat Chanyeol menatapnya aneh. Chanyeol masih saja diam memandangi wanita itu saat tiba-tiba ponsel dalam saku sweater Eunsoo berbunyi. Dengan cepat wanita itu mengeceknya. Sebuah pesan masuk, Eunsoo membaca pesan itu sambil tersenyum lalu mulai membalasnya.

Chanyeol yang melihat gelagat Eunsoo merasa curiga. Setelah jantungnya mulai bekerja secara normal, maka tanpa permisi Chanyeol merampas ponsel itu dari tangan Eunsoo. Eunsoo protes, tapi Chanyeol tak mengindahkan. Chanyeol malah sibuk memeriksa sebuah pesan yang ternyata berasal dari sebuah kontak yang bernama ‘Pangeran Paling Tampan’ pesan itu berisi; “Selamat pagi, Hana-ya. Hari ini adalah hari pertamaku bekerja dikantor. Kau tahu? Aku berada dikantor yang sama dengan tunanganmu. Doakan aku ya!” lalu Chanyeol membaca pesan balasan yang Eunsoo kirim. “Kau satu kantor dengan Chanyeol? Okay, semangat!” setelah itu, Chanyeol melirik Eunsoo dengan lirikan mata yang tajam. ‘Pangeran Paling Tampan’? Chanyeol bertanya.

Dengan wajah lugu, Eunsoo menjawab. “Sehun yang menyimpan nomornya sendiri diponselku. Oya, Chanyeol. Sehun bilang, jika keadaan darurat, aku bisa menelfonnya hanya dengan menekan angka 1.” Mendengar itu, entah mengapa Chanyeol berkali-kali lipat merasa lebih jengkel. Chanyeol mendengus. Sungguh kesal kepada Eunsoo. Wanita itu bahkan tidak pernah memberikan ucapan semangat padanya sekalipun. Dan sekarang wanita itu malah mengucapkannya untuk Sehun? Untuk seseorang yang paling Chanyeol benci? Sh*t!

Chanyeol pun segera mengotak-atik ponsel Eunsoo. Eunsoo menatapnya tak mengerti. Chanyeol memeriksa daftar kontak yang hanya terdapat dua nomor disana, yang pertama ‘Pangeran Tampan’ (nomor Chanyeol) dan yang kedua ‘Pangeran Paling Tampan’ (nomor Sehun). Chanyeol merubah nama kontak Sehun dari Pangeran Paling Tampan menjadi Si Jelek. Chanyeol juga merubah daftar panggilan darurat, mengisi panggilan darurat dari angka 1-9 dengan nomor ponselnya.

Eunsoo mulai menanyakan apa yang sebenarnya Chanyeol lakukan. Chanyeol tidak menjawab. Pria itu malah meletakkan ponsel Eunsoo secara paksa ditangan wanita itu. Chanyeol melirik gantungan ponsel Eunsoo, bertanya apakah itu dari Sehun? Eunsoo mengangguk, Eunsoo juga menceritakan makna dari gantungan bintang yang Sehun belikan untuknya. Namun baru setengah Eunsoo menjelaskan, Chanyeol lebih dulu menyela dengan mengatakan bahwa benda itu sangat kampungan juga kekanak-kanakan. Eunsoo menatap Chanyeol dengan ekspressi marah. Namun Chanyeol malah pergi dari hadapan Eunsoo setelah sebelumnya Chanyeol memerintah agar Eunsoo membuatkan kopi untuknya. Pagi yang buruk bagi Chanyeol. Benar-benar buruk. Chanyeol sungguh kesal.

Siang hari di apartemen, sekretaris Kim datang untuk mengambil sebuah berkas yang tertinggal di kamar Chanyeol. Ketika sekretaris Kim berniat kembali lagi ke kantor, Eunsoo tiba-tiba menahannya. Sekretaris Kim bingung, saat Eunsoo memaksa ikut ke kantor karena Eunsoo ingin mengirimkan makan siang untuk Chanyeol. Selain itu, Eunsoo juga penasaran dan ingin tahu dimana tempat calon suaminya bekerja. Sekretaris Kim berniat mencegah, namun belum sempat sekretaris Kim bersuara, Eunsoo lebih dulu melesat ke dapur dan berseru bahwa dia akan segera memasukkan makanan yang sudah Ia masak ke dalam kotak. Eunsoo juga mengatakan pada sekretaris Kim bahwa Eunsoo akan bersiap-siap dalam waktu sesingkat mungkin.

Pada akhirnya, meskipun berat dan diselimuti perasaan cemas, sekretaris Kim membawa Eunsoo bersamanya ke kantor. Sekretaris Kim takut jika Chanyeol akan marah padanya. Di sisi lain, sekretaris Kim selalu merasa bersalah pada Eunsoo karena kecelakaan saat itu, hingga sekretaris Kim berpikir mungkin hal seperti ini bisa sedikit menebus rasa bersalahnya pada wanita itu. Sesampainya di kantor, Eunsoo takjub dengan bangunan gedung yang besar dan tinggi. Sekretaris Kim meminta Eunsoo agar Eunsoo menunggu di kursi tunggu yang ada dilantai dasar, sementara sekretaris Kim berpamitan untuk pergi ke ruangan Chanyeol guna memberitahu Chanyeol tentang kedatangan Eunsoo di kantor itu.

Selama menunggu, Eunsoo tak hentinya memperhatikan sekitar. Lalu tanpa sengaja, Sehun yang berniat keluar untuk mencari makan siang melihat keberadaan Eunsoo disana. Sehun menghampiri wanita itu dan mereka saling menyapa.

Diruangan wakil direktur—di ruangan Chanyeol, sekretaris Kim hanya bisa menunduk takut saat Chanyeol marah atas tindakannya yang membawa Eunsoo datang kemari tanpa persetujuan Chanyeol. Setelah mendengus kasar, Chanyeol bergegas turun untuk menemui Eunsoo. Namun saat jarak antara dirinya dan Eunsoo tinggal beberapa meter lagi, langkah Chanyeol terhenti karena mendapati wanita itu masih tampak bercengkrama dengan Sehun. Dan Chanyeol semakin benci, karena entah mengapa mereka selalu tampak tertawa bahagia jika bersama-sama. Chanyeol merasa tidak suka melihat pemandangan seperti itu. Tapi Chanyeol tidak cemburu kan? Ya, tidak. Chanyeol hanya merasa tidak suka wanita itu berdekatan dengan seseorang yang dibencinya. Ya, bukan cemburu. Chanyeol berusaha menanamkan hal itu dalam hatinya.

Dengan langkah tegas, Chanyeol kemudian mendekati Eunsoo dan Sehun. Ketika Eunsoo menyadari kedatangannya, Eunsoo menatapnya dengan senyuman. Eunsoo berniat menyapa namun Chanyeol lebih dulu menarik pergelangan tangan Eunsoo dan membawa Eunsoo pergi begitu saja dari hadapan Sehun.

Eunsoo berseru kesakitan sembari berusaha mensejajarkan langkahnya dengan langkah panjang Chanyeol. Namun Chanyeol tidak peduli. Dan Sehun hanya memandanginya dengan senyuman penuh arti.

Di dalam ruangan, Chanyeol menikmati makan siang yang Eunsoo bawakan dimeja tamu, sementara Eunsoo mengelilingi ruang kerja Chanyeol sembari sesekali bertanya pada pria itu tentang pekerjaan apa saja yang biasa Chanyeol lakukan? Dimana Chanyeol biasa makan siang? Apa perlu Eunsoo datang setiap hari untuk membawakan makan siang untuk Chanyeol? Kenapa Chanyeol bisa menjadi wakil direktur? Karena yang pernah Eunsoo dengar dari sekretaris Kim saat Ia masih di rumah sakit saat itu, Chanyeol adalah seorang direktur di perusahaan. Dari kesemua pertanyaan itu, Chanyeol tidak menjawab satu pertanyaan pun. Selesai makan, Chanyeol berpamitan untuk keluar sebentar.

Eunsoo berniat bertanya kemana Chanyeol akan pergi namun pria itu melenggang begitu saja. Eunsoo cemberut. Tidak lama setelah kepergian Chanyeol, seorang wanita datang ke ruangan Chanyeol membawa secangkir kopi. Pelayan wanita itu sempat bingung melihat Eunsoo namun Eunsoo segera menjelaskan bahwa dia adalah tunangan Chanyeol. Setelah itu sang pelayan meletakkan cangkir berisi kopi dimeja Chanyeol dan berpamitan pergi. Saat pelayan itu berbalik, Eunsoo mengambil kopi itu dan mencicipinya. Rasa kopinya tidak enak. Lalu saat Eunsoo melihat sang pelayan wanita barusaja keluar dari pintu, Eunsoo mengejarnya, Eunsoo menanyakan dimana tempat membuat kopi dikantor itu.

Pada akhirnya, Eunsoo yang membuatkan kopi untuk Chanyeol dan membawanya ke ruangan pria itu. Ketika Eunsoo masuk, Chanyeol belum ada di sana. Jadi Eunsoo berniat meletakkan kopi buatannya di atas meja Chanyeol. Ketika Eunsoo berjalan mendekati meja, entah bagaimana kakinya menyandung kursi yang ada di depan meja kerja Chanyeol. Setelah sempat kehilangan keseimbangan, cangkir berisi kopi itu ahirnya jatuh ke permukaan meja dan membasahi kertas-kertas yang ada di atasnya. Eunsoo panik. Ia berusaha menyelamatkan kertas-kertas itu ketika terdengar pintu ruangan dibuka. Saat Eunsoo menoleh, Eunsoo mendapati Chanyeol yang kini menatapnya bingung sembari pria itu berjalan mendekat ke arahnya.

Raut wajah Chanyeol mulai berubah. Ketika Eunsoo berusaha menjelaskan, Chanyeol bergegas mendekati meja dan terdiam saat mendapati meja itu penuh dengan noda kopi yang membasahi kertas-kertas di atas meja. Eunsoo berusaha menyelamatkan kertas-kertas itu sembari menjelaskan bahwa Ia tidak sengaja melakukannya, bahwa kakinya tersandung saat Ia akan meletakkan kopi itu di atas meja. Namun Chanyeol hanya diam, lalu pria itu menatap Eunsoo dengan sorot mata yang teramat tajam, Eunsoo belum pernah melihat tatapan Chanyeol yang seperti itu, benar-benar menusuk hingga Eunsoo terdiam melihatnya, tangannya bergetar.

Chanyeol merampas kertas dari tangan Eunsoo dengan nada kasar. Ia murka. Sakit hatinya tadi pagi saat memimpin rapat untuk menyerahkan jabatan direkturnya pada Sehun belum sepenuhnya hilang, Chanyeol bahkan memindahkan barang-barangnya sendiri ke ruangan yang Ia tempati saat ini. Tuntutan pekerjaan yang belum Ia selesaikan, dan hinaan sang nenek yang masih terngiang-ngiang dalam pendengarannya, ditambah insiden yang ditimbulkan Eunsoo barusan, membuat Chanyeol benar-benar tidak bisa menahan amarahnya untuk lebih lama lagi.

“Cha..Chanyeol. Maafkan aku. A-aku tidak sengaja—“

“Pergi.”

“Chanyeol.”

“Pergi!!”

Eunsoo merasa membatu ditempat setelah Chanyeol membentaknya. Dengan mata memerah yang penuh amarah, Chanyeol kembali membentak Eunsoo dengan bertanya mengapa Eunsoo selalu mengganggunya? Mengacaukan semuanya? Dan Chanyeol juga mengatakan bahwa Chanyeol membencinya.

Dada Eunsoo sesak. Perkataan demi perkataan yang Chanyeol lontarkan seperti batu-batu besar yang menghujami dadanya. Matanya memanas. Eunsoo ingin menangis rasanya. Saat itu juga, sekretaris Kim kebetulan masuk ke ruangan Chanyeol. Sekretaris Kim sempat kaget dan bertanya-tanya dalam hati kejadian apa yang barusaja terjadi. Belum sempat sekretaris Kim menanyakan hal itu, Chanyeol lebih dulu memerintahkannya untuk membawa Eunsoo pulang. Sekretaris Kim menurut, Ia membawa Eunsoo pergi meninggalkan Chanyeol yang kini menatap benci ke arah kertas-kertas yang penuh noda kopi di atas meja kerjanya.

Sepanjang perjalanan menuju apartemen, Eunsoo tak bersuara, Ia terus menunduk menyembunyikan air matanya yang perlahan mengalir. Sekretaris Kim mencoba bertanya namun Eunsoo tidak menjawabnya. Hingga sampai di apartemen saat sekretaris Kim berniat pamit, Eunsoo menahan pria itu dan menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi. Sekretaris Kim pun hanya mendesah berat, dan mengatakan bahwa wajar jika Chanyeol bersikap seperti itu. Pasalnya, itu adalah kertas berisi data-data yang akan Chanyeol berikan pada calon-calon investor yang akan ditemuinya. Chanyeol bahkan sudah menyiapkan dari beberapa minggu sebelumnya, untuk mengerjakan itu Chanyeol juga sering lembur hingga larut malam. Sekretaris Kim juga mengatakan pertemuan itu akan berlangsung dalam beberapa hari ke depan, sekretaris Kim yakin jika saat ini Chanyeol sedang kebingungan.

Eunsoo menunduk, Ia menyesal.

Malam harinya, seperti biasa, Eunsoo menunggu kepulangan Chanyeol di sofa, kali ini wanita itu tidak tertidur, Ia tetap terjaga meskipun jam di ruangan itu sudah menunjukan hampir tengah malam. Ketika Chanyeol pulang, Eunsoo segera berdiri, Eunsoo mengatakan bahwa Ia sudah menyiapkan air hangat di kamar mandi Chanyeol. Eunsoo juga menawarkan apakah Chanyeol ingin dibuatkan kopi? Atau makanan? Tapi Chanyeol tidak merespon sedikitpun. Chanyeol hanya menatap Eunsoo sekilas dan masuk ke dalam kamar, menutup pintu dengan cara membantingnya membuat Eunsoo kembali merasakan sesak di dalam dada.

Pagi hainya ketika Chanyeol bangun, sarapan dan kopi sudah siap di atas meja, ruangan juga sudah dalam keadaan bersih. Chanyeol hanya memandangi sarapan itu dalam diam. Ia memilih mengambil air putih di meja pantry dan meminumnya, setelah itu, Chanyeol kembali masuk ke dalam kamar dan bersiap pergi ke kantor. Saat Chanyeol keluar dari kamar dengan pakaian rapi, bersiap pergi, Eunsoo keluar dari kamarnya. Eunsoo memanggil Chanyeol hingga pria itu pun menghentikan langkahnya di tengah ruangan, namun Chanyeol tetap berdiri membelakangi Eunsoo yang berada tak jauh darinya. Eunsoo menjelaskan kejadian kemarin, Ia tidak sengaja melakukannya, Ia minta maaf, bukan cuma untuk kejadian kemarin saja, tapi untuk semua hal yang Ia lakukan yang membuat Chanyeol merasa tidak nyaman berada di sampingnya selama ini. Pada akhirnya Eunsoo menawarkan diri, apa yang harus Ia lakukan agar Chanyeol memaafkannya? Pada saat itu, Chanyeol menoleh menatapnya, dengan sorot mata yang dingin, Chanyeol mengatakan. “Jangan banyak bicara, dan jauhi aku.” Setelah berkata seperti itu, Chanyeol melanjutkan langkah untuk pergi, meninggalkan Eunsoo yang terdiam menatap kepergiannya.

Siang hari, Eunsoo pergi ke sebuah cafe karena merasa pusing jika terus berada di dalam apartemen. Apalagi mengingat tadi pagi Chanyeol tidak menyentuh kopi maupun sarapan yang Ia buat. Dan perkataan Chanyeol tadi pagi benar-benar menusuk hatinya. Ditengah pemikiran itu, sebuah keributan tiba-tiba terjadi tak jauh dari Eunsoo. Tampak seorang pelayan cafe yang sepertinya menjatuhkan minuman yang dibawa, dan minuman itu tumpah ke baju pelanggan wanita yang kini marah pada pelayan itu. Semua mata kini tertuju pada pemandangan itu, pemilik cafe kemudian tampak mendekat dan minta maaf pada sang pelanggan, pemilik cafe itu juga memarahi pegawainya yang tampak tertunduk. Pelayan itu membela diri dengan mengatakan bahwa sang pelanggan lah yang menabrak dirinya, tapi pelanggan itu malah mengamuk hingga pemilik cafe semakin marah pada pegawainya.

Bentakan pemilik cafe yang terdengar keras membuat sekelebat bayangan tiba-tiba melintas dalam benak Eunsoo. Terlihat samar dalam benaknya; orang-orang yang melihatnya, piring-piring yang pecah dipermukaan lantai, laki-laki yang membentaknya. Rasa pening mendadak menyerang kepala Eunsoo. Ia langsung menunduk sembari memejamkan mata kuat-kuat saat bayangan-bayangan itu terlihat acak dalam benaknya (sebenarnya itu adalah ingatan dari kejadian yang pernah Eunsoo alami saat bekerja direstoran di Busan dulu. Seorang pelanggan menabrak Eunsoo saat Eunsoo akan mengantarkan pesanan ke sebuah meja, hingga pesanan yang Ia bawa jatuh ke lantai. Ketika Eunsoo mencoba membela, sang pemilik restoran justru memarahinya dan memaksa Eunsoo untuk menunduk minta maaf. Dan terpaksa, saat itu Eunsoo melakukannya demi mempertahankan agar Ia tetap bekerja di sana).

Eunsoo akhirnya membuka mata setelah bayangan-bayangan itu hilang dikepalanya. Rasa peing itu perlahan-lahan juga mereda. Eunsoo membuang napas dengan berat. Lalu segera bangkit dan memutuskan untuk segera pergi. Eunsoo berjalan menyusuri tepi jalan raya sambil memikirkan sekelebat ingatan yang tadi sempat muncul dalam ingatannya. Eunsoo terus memikirkannya. Tapi semakin lama memikirkannya membuat kepalanya kembali terasa sakit. Eunsoo meringis pelan sembari menunduk. Ia benar-benar peasaran ingatan seperti apa itu. Ketika Eunsoo mempercepat langkah, tak jauh di depannya ada sebuah toko mainan, ada sebuah mobil mercy hitam terparkir di sisi jalan. Mata Eunsoo mendapati pintu mobil itu sedikit terbuka, sebuah bola jatuh dari dalam mobil dan memantul di aspal, lalu menggelinding ke tengah jalan, tidak lama kemudian anak laki-laki usia empat tahunan tampak turun dari mobil, Ia memandangi bolanya yang semakin jauh dari pandangan.

Kedua orang tua anak itu tampak sibuk memasukkan barang-barang ke bagagasi mobil, ketika anak itu mulai mengambil langkah tanpa memperhatikan sekitar, Eunsoo berteriak berusaha menghentikannya. Anak laki-laki itu justru mempercepat langkah mendekati bolanya, hingga Eunsoo pun ikut berlari untuk turun ke jalan, mengejar anak laki-laki itu karena ada beberapa mobil yang melintas di tengah jalan raya. Saat sebuah mobil kijang mendekati anak-anak laki-laki itu, bocah itu kemudian berhenti menatap mobil yang mendekat ke arahnya, saat itu juga Eunsoo segera menarik sang bocah hingga mereka tersungkur ke sisi jalan bersama. Bocah itu selamat dalam dekapan Eunsoo, kedua orang tuanya yang baru menyadari berteriak panik dan segera menyebrang jalan untuk mendekati anaknya dan Eunsoo.

Eunsoo berusaha bangkit, Ia duduk sementara sang bocah kini berdiri di hadapannya. Eunsoo memeriksa tubuh sang bocah sembari bertanya apakah dia baik-baik saja. Bocah itu mengangguk, Ia tidak terluka membuat Eunsoo tersenyum lega. Kedua orang tua anak itu pun segera memeluk putra mereka. Eunsoo kemudian berdiri, mengibas rok dress nya yang kotor dan saat itu Eunsoo merasakan nyeri di siku kanannya. Ketika Eunsoo memeriksa sikunya, ternyata sikunya tergores aspal, terluka dan tampak mengeluarkan darah segar. Ayah dari bocah itu bertanya apakah Eunsoo baik-baik saja? Ia juga ingin membawa Eunsoo ke dokter saat melihat luka di tangan Eunsoo, namun Eunsoo menolak dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Eunsoo membungkuk, Ia berpamitan untuk pergi dan menyarankan kedua orang itu agar lebih waspada menjaga anaknya. Orang tua bocah itu sempat meminta agar Eunsoo bersedia dibawa ke dokter, namun Eunsoo tetap menolak dan mengatakan bahwa dirinya baik-baik saja. Eunsoo pun pergi meninggalkan kedua orang tua beserta bocah itu yang hanya bisa menatap jejaknya dengan napas panjang.

Eunsoo berniat pulang ke apartemen, ternyata semakin lama luka di siku tangannya terasa semakin perih, Eunsoo menutupinya dengan telapak tangan. Eunsoo ingin naik taxi, tapi uang yang diberikan Chanyeol beberapa hari yang lalu tinggal sedikit, jadi Ia tidak punya pilihan lain selain berjalan kaki. Eunsoo mempercepat langkah melewati deretan pertokoan, tak lama setelah Eunsoo lewat di sebuah restoran, Sehun keluar dari pintu restoran itu. Sehun menyadari sosok Eunsoo yang barusaja melintas, jadi Sehun segera mengejar wanita itu. Ketika Sehun memanggil dengan sebutan Nona Bra, Eunsoo langsung menghentikan langkah dan menoleh, lalu Sehun mendekatinya. Sehun langsung berkata kebetulan sekali mereka bertemu, Sehun juga bertanya dari mana wanita itu? Tapi belum sempat Eunsoo menjawab, mata Sehun lebih dulu menyadari cairan merah yang merembes di sweater Eunsoo. Sehun langsung mengecek dan mendapati tangan Eunsoo terluka, Sehun panik. Sehun bertanya apa yang terjadi? Mengapa Eunsoo bisa terluka seperti ini? Apa Eunsoo baik-baik saja? Eunsoo hanya tersenyum sambil menjawab bahwa dia tidak apa-apa, lukanya tidak parah meskipun sebenarnya Eunsoo merasa luka itu semakin perih.

Saat itu juga, mobil Chanyeol berhenti di depan restoran yang tadi dimasuki Sehun. Setelah Chanyeol keluar, Chanyeol melihat mobil Sehun disana, Chanyeol pun memperhatikan sekitar, lalu tak jauh darinya Ia mendapati Sehun terlihat menyentuh lengan Eunsoo dan Sehun tampak memeriksanya. Chanyeol penasaran apa yang dilakukan dua orang itu disana. Entah mengapa melihat kedua orang itu bersama-sama membuat Chanyeol merasa benci. Terlebih Sehun, Chanyeol benci saat Sehun mendekati wanita itu apalagi menyentuhnya seperti yang Chanyeol lihat saat ini. Chanyeol melayangkan tatapan dinginnya pada Sehun, lalu bergegas mendekati kedua orang itu. Setibanya Chanyeol disana, Eunsoo langsung menatapnya, begitupun Sehun. Namun Chanyeol hanya diam, menatap Sehun dengan penuh kebencian, lalu Chanyeol menarik pergelangan tangan Eunsoo dan membawanya pergi begitu saja.

Chanyeol terus menarik tangan Eunsoo yang terluka tanpa memperdulikan Eunsoo yang meringis kesakitan, Eunsoo meminta Chanyeol agar Chanyeol berhenti, melepaskan tangannya, namun Chanyeol tak mengindahkan sedikitpun, pria itu justru mencengkram tangan Eunsoo semakin erat. Sehun melihat Eunsoo yang terus menahan sikunya, melihat wanita itu kesakitan membuat Sehun bergegas menyusul, lalu Sehun menahan lengan Chanyeol, membuat langkah Chanyeol terhenti, ketika Chanyeol menatapnya, Sehun melepaskan tangan Eunsoo dari cengkraman Chanyeol secara paksa, Sehun kemudian menarik tangan Eunsoo yang tidak terluka dan membawa wanita itu ke sisi tubuhnya.

“Apa seperti ini caramu memperlakukan wanita?” Tanya Sehun terdengar ketus. Sehun benar-benar marah kali ini. “Kau selalu saja membawa Hana pergi dengan cara menariknya sesuka hatimu. Apa kau benar-benar tidak punya perasaan? Kau tidak lihat Hana sedang terluka?”

Pada awalnya Chanyeol berniat marah pada Sehun, berani sekali Sehun berbicara padanya seperti itu, apalagi wanita itu adalah tunangan Chanyeol. Tapi setelah mendengar bahwa wanita itu terluka, Chanyeol tertegun sejenak, Ia kemudian melirik tangan Eunsoo dan mendapati sweater wanita itu basah karena darah. Seketika Chanyeol merasa cemas. Ia berniat mendekat namun Eunsoo tiba-tiba mundur darinya. Chanyeol bingung. Untuk pertama kali, wanita itu menjauh darinya. Hanya dua langkah mundur, namun entah mengapa pergerakan itu membuat dada Chanyeol terasa tertohok, seperti ada sesuatu yang tiba-tiba terasa menyesakkan di dalam dadanya.

Eunsoo menatap Chanyeol dengan mata berkaca-kaca. Sehun benar, entah mengapa Chanyeol selalu menarik dan membawanya pergi sesuka hati. Sekalipun, Chanyeol tidak pernah menanyakan apa sebenarnya yang Eunsoo inginkan sebenarnya. Ya, tidak pernah. Eunsoo mulai memikirkan hal itu sekarang. Eunsoo kembali menunduk dengan mata semakin memerah, tangannya kembali menahan luka disikunya yang terasa semakin sakit dan perih. Melihat itu, Sehun segera merangkul tubuh Eunsoo, mengatakan pada Eunsoo bahwa Sehun akan membawa Eunsoo ke klinik yang berada tak jauh dari tempat mereka berada saat ini. Sehun kemudian membawa Eunsoo pergi dan Eunsoo hanya diam, Ia menurut. Mereka kemudian pergi menjauh meninggalkan Chanyeol yang terdiam menatap kepergian mereka.

Chanyeol bingung. Melihat wanita itu semakin menjauh bersama Sehun, hatinya benar-benar sakit, dadanya sesak, hingga tanpa sadar Chanyeol mengepalkan kedua tangannya erat-erat di sisi tuuh, membuat otot-otot di punggung telapak tangannya kini terlihat nyata. Ketika Sehun memasukkan Eunsoo ke dalam mobil dan mobil itu kemudian pergi, Chanyeol menundukkan pandangan, Ia kemudian kembali ke mobilnya dan masuk. Chanyeol tidak lagi nafsu untuk makan siang. Di dalam mobil, Chanyeol hanya diam, memandangi kotak makanan yang Ia letakkan di kursi di sampingnya. Itu adalah kotak makanan yang Eunsoo bawa saat mengantarinya makan siang waktu itu. Tadi pagi saat Chanyeol bekerja, seorang petugas kebersihan kantor menyerahkan itu pada Chanyeol, petugas kebersihan itu mengatakan bahwa Ia melihat kotak makanan itu di atas meja di ruangan Chanyeol, karena kotor, jadi petugas itu mencucinya kemaren, lalu mengembalikannya pada Chanyeol dalam keadaan sudah bersih.

Chanyeol membuang napas yang berat, kedua tangannya mencengkram setir mobil kuat-kuat, Chanyeol menunduk sembari menutup mata, merengung. Chanyeol ingat entah sudah berapa kali Eunsoo meminta maaf padanya, menjelaskan bahwa Eunsoo tidak sengaja saat menumpahkan kopi di mejanya. Pikiran Chanyeol benar-benar kacau saat itu, mengingat kemarahannya pada wanita itu membuat penyesalan kini terasa terselip dihatinya. Chanyeol tidak pernah merasa seperti ini sebelumnya, untuk pertama kalinya Ia merasa menyesal setelah melakukan sesuatu. Bentakannya pada Eunsoo terus terngiang-ngiang dalam telinga sendiri membuat Chanyeol merasa semakin buruk. Apalagi melihat wanita itu tadi, mata merah Eunsoo, dan saat Eunsoo mundur darinya. Wanita itu pergi bersama Sehun, dan kepergiannya seperti turut membawa pergi sesuatu dalam diri Chanyeol, Chanyeol tidak tahu sesuatu apa itu. Yang jelas, rasanya benar-benar meresahkan. Membuatnya ingin marah entah pada siapa. Membuatnya bingung. Membuatnya tidak mengerti.

Chanyeol mulai bingung dengan dirinya sendiri. Semakin Ia mencoba mengabaikannya, semakin bayangan wanita itu memenuhi kepalanya.

Di sebuah klinik, Sehun dan Eunsoo duduk berdampingan. Sehun barusaja selesai mengobati luka di siku Eunsoo dan menutupnya dengan kapas. Karena sweater Eunsoo sudah kotor dengan noda darah, Sehun meminta agar Eunsoo membuangnya, Eunsoo hanya mengenakan dress dengan lengan tiga jari, jadi Sehun melepas jasnya dan menutupkan jas itu ke tubuh Eunsoo agar Eunsoo tidak kedinginan. Eunsoo tersenyum pada Sehun dan berterima kasih. Dan Sehun membalasnya dengan senyuman terbaiknya—seperti biasa.

Setelah dari klinik, Sehun membawa Eunsoo ke sebuah restoran karena Sehun sempat mendengar perut wanita itu berbunyi. Setelah itu Sehun baru mengantar Eunsoo pulang ke apartemen Chanyeol. Pada awalnya Eunsoo sempat menolak Sehun melakukan semua itu, karena Eunsoo tahu Sehun seharusnya bekerja di kantor, tapi Sehun mengatakan agar Eunsoo tidak perlu khawatir karena pekerjaannya masih cukup santai. Diperjalanan menuju apartemen Chanyeol, Eunsoo membicarakan banyak hal pada Sehun. Tentang sikap Chanyeol padanya, dan tentang ingatannya. Sama seperti Sehun, Eunsoo juga menjadi penasaran apa yang menyebabkan dirinya mengalami kecelakaan saat itu.

***

Eunsoo tiba di apartemen saat hari sudah sore. Chanyeol sudah berada di apartemen. Dengan pakaian rumahan yang Chanyeol kenakan, pria itu yang semula duduk di sofa langsung berdiri saat Eunsoo masuk ke dalam ruangan. Eunsoo menghentikan langkah dan selama beberapa saat mereka hanya saling memandang dalam diam. Chanyeol sebetulnya ingin bertanya, sungguh. Chanyeol benar-benar ingin mengetahui bagaimana keadaan wanita itu. Apa dia baik-baik saja? Apa yang menyebabkannya terluka? Apa yang sudah terjadi padanya di luar sana? Apa dia merasa kesakitan? Tapi entah mengapa terlalu berat melontarkan pertanyaan-pertanyaan itu karena ego yang terlalu menguasai dirinya. Apalagi melihat jas Sehun yang masih melekat di tubuh wanita itu. Sumpah demi apapun Chanyeol tidak suka melihatnya.

Pada akhirnya Chanyeol tetap diam sementara perlahan Eunsoo mendekat pada Chanyeol, Eunsoo berdiri di hadapan Chanyeol. Eunsoo mengatakan pada Chanyeol bahwa dia sadar dia sudah banyak membuat kesalahan pada Chanyeol, Eunsoo minta maaf. Eunsoo juga menceritakan bahwa hari ini dia melihat satu kenangan muncul dalam kepalanya, meskipun Eunsoo belum tahu kenangan apa itu. Tapi Eunsoo yakin, Ia akan segera mengingat semua kenangan masa lalunya.

Chanyeol sedikit terkejut mendengar penjelasan Eunsoo. Entah mengapa terselip rasa khawatir di dalam hatinya. Ya, Chanyeol khawatir. Bagaimana jika Eunsoo benar-benar mengingat semuanya dan wanita itu tahu bahwa sebelumnya mereka tidak memiliki hubungan apa-apa? Pada awalnya Chanyeol sudah memprediksi hal ini sebelum akhirnya Chanyeol menyerahkan cincin itu pada Eunsoo di rumah sakit saat itu. Chanyeol pikir Chanyeol hanya perlu menjelaskan semuanya dan setelah itu mereka bisa memulainya dari awal kembali, Chanyeol yakin wanita itu pasti akan mengerti. Tapi entah mengapa, sekarang Chanyeol justru merasa seperti ini.

Tapi Chanyeol tetap diam sampai Eunsoo kembali berkata, bahwa Eunsoo memutuskan jika dia ingin menjauh dari Chanyeol. Toh Chanyeol sendiri yang menyuruh Eunsoo agar menjauh darinya ‘kan? Eunsoo juga berkata jika dia sudah membicarakan ini dengan Sehun tadi, Sehun akan membantunya mencari tempat tinggal untuk sementara. Tanpa sadar Chanyeol bertanya kenapa? Eunsoo menjawab, mungkin dugaannya selama ini salah, dulu Eunsoo pikir dengan berada di dekat Chanyeol akan membuat ingatannya segera kembali. Tapi ternyata justru sebaliknya. Mulai saat ini Eunsoo yakin, dengan menjauh dari Chanyeol-lah akan membuat ingatannya segera kembali. Eunsoo juga mengatakan bahwa dia benar-benar ingin mengingat semuanya. Eunsoo ingin tahu siapa dirinya sebenarnya. Eunsoo ingin mengingat orang tuanya, kehidupannya, dan yang paling ingin Eunsoo ketahui adalah.. bagaimana hubungannya dengan Chanyeol sebelum kecelakaan itu menimpa dirinya.

Chanyeol bergeming. Sementara Eunsoo kemudian menunduk, melepas cincin pemberian Chanyeol dari jari manisnya, meletakkan cincin itu di atas meja yang berada di samping kaki mereka. Eunsoo mengatakan pada Chanyeol bahwa Ia tidak akan memakai cincin itu sebelum ingatannya kembali. Sebelum Eunsoo mengingat, bagaimana perasaannya pada Chanyeol, dan bagaimana perasaan Chanyeol padanya. Terakhir, Eunsoo mengatakan bahwa besok pagi Sehun akan menjemputnya. Jadi Eunsoo akan berkemas dan setelah itu istirahat.

Eunsoo kemudian pergi masuk ke dalam kamar, meninggalkan Chanyeol yang membatu di tempatnya. Perlahan Chanyeol menunduk, memandangi cincin itu di atas meja. Entah mengapa melihat cincin itu berada di sana membuat sesuatu seperti memporak porandakan hatinya. Chanyeol merasa wanita itu mulai berubah. Entahlah, tiba-tiba Chanyeol merindukan wanita itu seperti sebelum-sebelumnya. Wanita itu yang selalu banyak bicara padanya, selalu ingin berada di dekatnya, dan terus bertanya tentang masa lalu mereka (meskipun faktanya mereka tidak memiliki kenangan bersama di masa lalu, tapi entah mengapa, sejujurnya Chanyeol merasa senang saat mendengar wanita itu bertanya tentang masa lalu mereka). Ini aneh. Chanyeol tidak mengerti apa yang terjadi pada dirinya sebenarnya.

Bukankah sejak awal Chanyeol adalah pria yang tidak suka dengan keributan? Pria yang tidak suka dengan gangguan sekecil apapun? Pada awalnya Chanyeol sempat berpikir bahwa wanita itu adalah pengganggu yang nyata untuknya. Saat pertama kali membawa Eunsoo ke apartemen, Chanyeol juga sempat khawatir bagaimana Ia akan menjalani hari-harinya. Dan sekarang, saat pengganggunya itu berkata ingin pergi, mengapa Chanyeol justru merasa seperti ini? Seperti.. ada perasaan tidak rela pengganggu itu pergi darinya, sungguh.

***

Pagi-pagi sekali, Sehun menjemput Eunsoo di apartemen. Eunsoo-pun keluar dengan sebuah koper serta sebuah tas selempang yang Ia kenakan. Ketika itu Chanyeol terus berada di dalam kamar, berdiri di balkon kamar sembari memandangi pemandangan kota Seoul dengan tatapan terkesan menerawang. Eunsoo memutuskan untuk masuk ke dalam kamar Chanyeol dan berpamitan dengan pria itu. Eunsoo mengatakan jika ingatannya telah kembali, Ia akan segera menemui Chanyeol. Namun, sedikitpun Chanyeol tidak menanggapi perkataan Eunsoo. Pria itu hanya mendesah pelan, sebelum akhirnya mengatakan agar Eunsoo sebaiknya segera pergi jika tidak ingin membuat Sehun menunggu lama. Eunsoo mengangguk. Bahkan ketika Eunsoo keluar dari kamar, Chanyeol sedikitpun tidak mengarahkan maniknya pada wanita itu. Hati Chanyeol terlalu lelah. Ia ingin marah tapi tidak tahu harus marah pada siapa. Pada Sehun kah? Wanita itu kah? Atau pada dirinya sendiri? Sungguh, memikirnya membuat Chanyeol ingin gila rasanya.

Sehun membawa Eunsoo ke sebuah gedung apartemen yang letaknya tidak begitu jauh dari apartemen Chanyeol. Sebenarnya semenjak pulang dari luar negeri, Sehun tinggal dirumah bersama orang tuanya. Tapi kemarin saat mendengar keinginan Eunsoo yang ingin menjauh dari Chanyeol untuk sementara, Sehun berinisiatif menawarkan wanita itu tempat tinggal, lalu ketika Eunsoo setuju, sepulang mengantar Eunsoo kemarin, Sehun menyuruh orang terpercaya di perusahaannya untuk mencarikan sebuah tempat tinggal di apartemen.

Apartemen itu tidak beda jauh dengan apartemen Chanyeol. Ruangannya cukup luas, mewah nan elegan. Setibanya disana, Eunsoo mengatakan pada Sehun bahwa tempat itu terlalu bagus dan luas untuk dirinya sendiri. Tapi Sehun justru menjawab dengan mengatakan bahwa Eunsoo tidak akan tinggal sendiri di apartemen itu karena mulai hari ini Sehun juga akan tinggal di apartemen, bersama Eunsoo, berdua. Eunsoo sempat tertegun dengan penjelasan Sehun. Seolah mengerti, Sehun pun menjelaskan agar Eunsoo tidak perlu khawatir. Sehun berjanji tidak akan berbuat macam-macam pada Eunsoo. Sehun memutuskan untuk ikut tinggal di tempat itu karena Sehun hanya ingin menjaga Eunsoo dan memastikan agar wanita itu tetap baik-baik saja, apalagi kondisi Eunsoo saat ini masih dalam keadaan hilang ingatan. Pada akhirnya Eunsoo hanya mengangguk pelan menyetujui.

Sembari menunjukkan senyuman mengembang dan tatapan mata yang terpancar penuh kebahagiaan, Sehun kemudian bertanya apakah Eunsoo bisa membuat sarapan? Ketika Eunsoo mengangguk, senyuman Sehun semakin mengembang. Ia meminta Eunsoo membuat sarapan selagi Ia akan bersiap-siap untuk pergi ke kantor.

Hari itu Chanyeol terus saja murung ketika berada di kantor. Padahal masih banyak berkas yang harus Ia benahi (ingat ketika Eunsoo menumpahkan kopi pada berkas-berkas di meja Chanyeol), namun pria itu seolah tak memperdulikan pekerjaannya, malah duduk di kursi dengan punggung yang menyandar di sandaran kursi, sembari memandangi ponselnya yang terus saja Ia genggam. Chanyeol terus saja memandangi kontak ‘Si Mesum’ di ponselya. Chanyeol bingung mengapa wanita itu tidak menghubunginya. Padahal siapa yang membelikan ponsel itu? Chanyeol ‘kan? Tapi lihat, wanita itu benar-benar tidak tahu terima kasih; pikir Chanyeol. Chanyeol mendesah berat untuk kesekian kali. Apa Ia yang harus menelfon? Atau mengirimi wanita itu sebuah pesan singkat? seperti.. hei, sedang apa kau? Ah, tapi mengapa Chanyeol harus bertanya seperti itu? Dia tidak pernah mengirimi kata-kata seperti itu sebelumnya, pada siapapun, bahkan pada Ibunya pun tidak pernah. Ck!

Chanyeol akhirnya meletakkan ponselnya di meja dengan nada kasar. Ia menyandarkan kepalanya ke sandaran kursi dan menutupi wajahnya dengan kedua telapak tangan. Hembusan napasnya terdengar panjang dan berat. Memikirkan wanita itu membuat Chanyeol benar-benar lelah, sungguh.

Hari ini Chanyeol memutuskan untuk pulang lebih awal dari biasanya. Ini adalah kali pertama Chanyeol merasa tidak begitu berminat dengan segala sesuatu yang berkaitan dengan perusahaan. Ketika Chanyeol keluar dari lift di lantai dasar, Chanyeol melihat seorang pegawai kantor laki-laki yang membawa sebuket besar bunga mawar berwarna pink. Karena buket bunga itu cukup besar, pegawai itu sampai kesulitan memperhatikan jalan didepannya hingga tanpa sengaja tubuhnya sedikit menabrak Chanyeol. Langkah merekapun sama-sama terhenti, pegawai itu cepat-cepat membungkuk minta maaf sementara Chanyeol menatapnya dingin. Chanyeol mendengus kesal, lalu bertanya mengapa membawa bunga seperti itu ke kantor? Pegawai itu menjawab jika itu adalah bunga yang dipesan oleh direktur mereka—Sehun, ketika Chanyeol menatap pegawai itu dengan air muka yang mulai berubah semakin dingin, pegawai itu malah tersenyum sembari menebak apa mungkin direktur mereka sudah punya pacar? Jika iya, wanita itu pasti sangat beruntung. Selain baik, ternyata Sehun juga pria yang romantis.

Chanyeol langsung mengalihkan wajahnya ke arah lain. Entah mengapa wajah Eunsoo langsung terbayang dibenaknya. Ya, Chanyeol yakin pasti Sehun ingin memberikan bunga itu untuk Eunsoo. Dasar tidak tahu diri, kurang ajar, berani-beraninya Sehun berbuat seperti itu pada wanita yang jelas-jelas sudah menjadi tunangan orang lain?! Pikir Chanyeol geram. Lalu tanpa sadar kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuh, lalu Ia melanjutkan langkah untuk pergi mengabaikan sang pegawai yang kemudian menatapnya bingung.

Apa yang terjadi pada diri Chanyeol sebenarnya? Ketika Ia tiba di apartemen dan mendapati tempat itu dalam keadaan sepi, seperti ada sesuatu yang terasa kurang dalam dirinya. Ini aneh, padahal sebelum kedatangan wanita itu, selama bertahun-tahun Chanyeol menghabiskan waktunya seorang diri di apartemen. Tapi mengapa sekarang begitu berbeda? Sangat berbeda saat tidak ada lagi orang yang menunggu kepulangannya, tidak ada lagi suara seseorang yang mengisi disetiap sudut ruangan itu, tidak ada lagi aroma makanan dan aroma kopi yang nikmat saat Ia memasuki pantry, tidak ada lagi wanita itu di tempat ini. Ya, tidak ada lagi.

Di tempat lain, di apartemen Sehun. Eunsoo merasa sedikit tak mengerti saat Sehun pulang dari kantor dan pria itu menyodorinya sebuket besar bunga mawar berwarna pink. Pada awalnya Sehun sempat tidak yakin dengan tindakannya ini, tapi entah mengapa dirinya begitu ingin membuat kejutan yang Sehun harap kejutan itu akan menjadi kejutan yang manis untuk Eunsoo. Sehun menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, senyumannya pun terkesan dipaksakan saat Eunsoo tak kunjung mengambil buket bunga itu dari tangannya. Lalu setelah Sehun bertanya “Kau tidak menyukainya ya?” Eunsoo cepat-cepat menggeleng, sembari menujukkan senyuman yang dipaksakan pula, wanita itu akhirnya menerima bunga pemberian Sehun dan mengatakan terima kasih, bunganya sangat cantik, dan Eunsoo menyukainya.

Sehun merasa lega. Sehun juga menjelaskan agar Eunsoo tidak salah paham mengapa Ia memberikan bunga. Sehun bilang, anggap saja bunga itu untuk meresmikan hari pertama mereka tinggal di apartemen ini. Eunsoo pun mengangguk paham sambil tersenyum. Setelah itu Sehun mengatakan bahwa Ia akan mengajak Eunsoo makan malam di luar. Jadi Sehun meminta sedikit waktu untuk beristirahat sebelum mereka bersiap pergi. Sehun kemudian masuk ke dalam kamar begitupun Eunsoo. Eunsoo meletakkan bunga pemberian Sehun di meja yang terletak di sudut ruang kamar. Eunsoo memandangi bunga itu sembari tersenyum tipis, lalu Ia duduk di tepi kasur, meraih ponselnya yang terletak di atas kasur lalu menatap ponsel itu lekat-lekat. Eunsoo merindukan Chanyeol. Ia juga khawatir apakah Chanyeol sudah makan? Apakah Chanyeol bisa membuat kopinya sendiri? Apakah Chanyeol akan lembur lagi malam ini? Eunsoo ingat dengan kertas-kertas Chanyeol yang Ia tumpahi kopi. Ya, Eunsoo yakin, Chanyeol pasti sedang sibuk dengan pekerjaan kantornya. Biasanya jika lembur di rumah, Eunsoo akan membuatkannya kopi dan mengingatkan Chanyeol untuk makan karena jika sudah sibuk, Chanyeol akan melupakan makanannya, maka Eunsoo selalu mengingatkan.

Sesungguhnya Eunsoo ingin sekali menghubungi pria itu. Tapi Eunsoo kembali teringat dengan perkataan Chanyeol yang menyuruhnya agar menjauh, jadi Eunsoo tidak punya pilihan lain selain menahan rindu itu dan menyimpannya rapat-rapat di dalam hatinya.

Malam itu Chanyeol mengadakan janji makan malam dengan beberapa rekan bisnisnya di sebuah restoran. Setelah acara makan malam selesai, Chanyeol tengah berjalan menuju pintu utama restoran saat Ia mendengar seseorang memanggil namanya. Chanyeol menghentikan langkah, lalu menoleh dan mendapati Gayoung beranjak dari duduknya, lalu wanita itu berjalan mendekati Chanyeol dan berdiri di hadapan Chanyeol. Gayoung tersenyum senang, Ia mengatakan kebetulan sekali mereka bertemu di tempat ini, Gayoung mengatakan bahwa Ia sedang makan malam sendiri di restoran ini. Gayoung juga menanyakan bagaimana kabar Chanyeol, apa saja kesibukan Chanyeol karena cukup lama mereka tidak bertemu.

Chanyeol menatap Gayoung dengan tatapan khas miliknya; tatapan dingin tanpa minat. Ia menghembuskan napas pelan, berniat menjawab namun ujung matanya lebih dulu menyadari sesuatu. Tak jauh dari tempatnya berdiri, di sudut ruangan, Chanyeol melihat Eunsoo dan Sehun barusaja bangkit dari kursi mereka. Kedua orang itu sepertinya baru selesai makan. Mereka tampak mengobrol ringan sambil tersenyum lalu berjalan menuju pintu restoran, berniat keluar. Melihat itu, Chanyeol merasa ingin menemui Eunsoo, tanpa sadar kakinya pun bergerak, namun saat Chanyeol baru sempat mengambil satu langkah pergi, Gayoung lebih dulu menahan tangan Chanyeol sambil berkata. “Tunggu Chanyeol, kau mau kemana?”

Eunsoo dan Sehun mendengar suara Gayoung sehingga merekapun langsung menoleh ke sumber suara. Langkah mereka kemudian terhenti. Sehun mengatakan “Oh, Gayoung?” sembari menunjuk sang empunya nama, sementara Eunsoo menatap Chanyeol dalam diam. Memperhatikan tangan Gayoung yang masih mencengkram lengan Chanyeol membuat Eunsoo mendadak tidak suka melihatnya. Ya, bukankah sejak awal Eunsoo memang mengaku bahwa dirinya menyukai Chanyeol? Jadi wajar ‘kan jika Eunsoo merasa seperti ini? Apa lagi yang Ia tahu bahwa pria itu adalah tunangannya.

Eunsoo dan Chanyeol saling memandang dalam diam. Sementara itu, Gayoung pun bergumam mengapa Sehun juga ada di tempat itu, mengapa Gayoung tidak menyadarinya? Gayoung juga menggumamkan pertanyaan tentang siapa wanita yang saat ini berada di samping Sehun, apa itu pacarnya? Mendengar itu, Chanyeol langsung menatap Gayoung dengan tatapan semakin dingin. Gayoung yang merasa bingung pun bertanya ‘mengapa?’ tapi Chanyeol tidak mengeluarkan sepatah katapun.

Eunsoo melihat Chanyeol dan Gayoung masih saling memandang, mengabaikan Sehun yang sejak beberapa detik lalu bercerita bahwa Ia mengenal Gayoung dan wanta itu adalah temannya. Penjelasan Sehun kemudian pun terhenti saat Eunsoo tiba-tiba menyela dengan mengatakan bahwa Ia ingin pulang. Tanpa menunggu persetujuan Sehun, Eunsoo langsung berbalik dan pergi. Sejenak, Sehun memperhatikan Chanyeol yang kini memperhatikan kepergian Eunsoo, Sehun melirik tangan Gayoung yang masih menahan lengan Chanyeol, seolah mengerti mengapa Eunsoo bersikap seperti barusan. Sehun mendesah pelan, lalu berbalik dan menyusul kepergian Eunsoo.

Melihat Eunsoo dan Sehun sudah keluar dari pintu restoran, Chanyeol berniat mengejar namun Gayoung lagi-lagi menahannya. Kali ini, Chanyeol melepaskan tangan Gayoung secara paksa dari tangannya. Lalu Ia bergegas keluar. Sesampainya diluar, Chanyeol melihat mobil Sehun barusaja pergi dari parkiran. Chanyeol pun menghentikan langkah. Hembusan napasnya terdengar berat sembari Ia berkata “Sial.”

Di dalam mobil Sehun, Sehun berusaha bersikap seperti biasa. Ia bertanya apa Eunsoo ingin pergi ke suatu tempat sebelum mereka pulang? Tapi Sehun tidak mendapatkan jawaban apapun karena Eunsoo terus memandang lurus ke depan dengan tatapan menerawang. Wanita itu seperti memikirkan sesuatu. Sehun mulai mengingat kejadian di restoran beberapa saat lalu. Ia menebak mungkin itu yang sedang Eunsoo pikirkan, jadi akhirnya Sehun memilih diam dan langsung melajukan mobilnya menuju apartemen.

***

Hari ini adalah hari minggu. Chanyeol seharusnya bisa sedikit rileks dengan bersantai dikediamannya, namun entah mengapa Ia masih merasakan sesuatu yang membuat hatinya begitu resah. Chanyeol tidak tahu apa itu. Rasanya benar-benar tidak mengenakkan. Membuatnya tidak bersemangat menjalani setiap detik waktunya, hingga Chanyeol memutuskan untuk tetap berada tempat tidur, Ia terus tidur dengan posisi menghadap ke arah jendela kamar dan memandangi langit luar dengan tatapan mata yang kosong.

Sehun tampak begitu bersemangat saat mengatakan pada Eunsoo bahwa hari ini neneknya mengundang untuk makan bersama di rumah sang nenek. Sehun mengatakan, Ia sudah mengatakan pada neneknya bahwa Ia akan membawa seseorang, neneknya mengijinkan. Jadi Sehun meminta Eunsoo untuk segera bersiap-siap, begitupun dengan Sehun. Tapi saat Sehun berniat pergi dari hadapan Eunsoo, wanita itu memanggil nama Sehun. Sehun bertanya “Ada apa?” dengan perasaan sedikit ragu, Eunsoo bertanya apakah Chanyeol juga akan datang ke rumah neneknya? Bukankah mereka sepupu. Jika nenek mengundang Sehun, apa nenek juga akan mengundang Chanyeol?

Sehun hanya diam. Karena yang Ia tahu, sekalipun neneknya tidak pernah mengundang Chanyeol untuk makan bersama dengan mereka. Lalu disertai ekspressi yang tampak khawatir, Eunsoo mengatakan pada Sehun bahwa Chanyeol pasti belum makan. Yang Eunsoo ingat, terakhir kali Ia berada di apartemen Chanyeol, banyak bahan-bahan makanan yang telah habis. Chanyeol pasti akan repot jika harus berbelanja dan memasak sendiri. Jadi Eunsoo kembali bertanya nenek pasti mengundang Chanyeol juga ‘kan?

Sehun melihat kecemasan terpetak jelas di paras cantik milik Eunsoo. Setelah terdiam beberapa saat, Sehun menghela napas pelan, karena Ia tidak ingin melihat wanita itu kecewa, Sehun pun tersenyum dan mengatakan bahwa nenek juga mengundang Chanyeol. Eunsoo tersenyum mendengarnya, kemudian wanita itu bergegas pamit untuk bersiap-siap, meninggalkan secangkir kopi yang belum selesai Ia buat di atas meja dapur.

Sepeninggal Eunsoo, Sehun melihat cangkir kopi itu dengan senyuman tipis. Melihat mata Eunsoo tadi, membuatnya mengerti bahwa wanita itu sepertinya benar menyukai Chanyeol. Sehun menatap jejak kepergian Eunsoo. Lalu Ia merogoh ponsel dalam saku celana dan menghubungi nomor Chanyeol. Saat Chanyeol menjawab “Ada apa?” Sehun menyuruh Chanyeol untuk pergi ke rumah neneknya untuk makan bersama. Chanyeol nampak mendesis dengan nada mengejek. Chanyeol bahkan mengatakan “Permainan apa lagi yang akan kalian tunjukan padaku?” Lalu Sehun mendesah, dan mengatakan bahwa bukan nenek yang sebenarnya menyuruhnya pergi, melainkan Hana (Eunsoo). Chanyeol diam setelah itu, Sehun pun melanjutkan “Jika tidak ingin pergi ya sudah. Aku akan menjelaskan pada Hana bahwa kau tidak bisa pergi karena sibuk.” Setelah berkata seperti itu, Sehun langsung memutuskan panggilan, Ia mendecak sebal sementara di sebrang sana, Chanyeol mulai merenung. Chanyeol berpikir, apa benar wanita itu yang menyuruhnya pergi?

Mobil Sehun barusaja tiba di halaman depan rumah Nenek. Ia kemudian turun dari mobil begitupun Eunsoo. Saat itulah mobil Chanyeol tiba tak jauh dari mereka. Eunsoo pun memperhatikan Chanyeol yang kemudian turun dari mobil, selama beberapa saat, mereka hanya saling memandang dalam diam. Adalah Sehun yang kemudian mengajak Eunsoo untuk masuk, diikuti Chanyeol yang mengekor di belakang mereka disertai ekspressi wajah yang tidak suka.

Sesampainya di dalam, Nenek sempat bingung dengan kehadiran Chanyeol di sana, pasalnya beliau tidak menyuruh Chanyeol untuk datang. Tapi untung saja Sehun pandai mencairkan suasana, Sehun mengatakan bahwa wanita yang Ia bawa adalah temannya juga teman Chanyeol. Meskipun saat mendengar itu Chanyeol sempat berang. Tentu saja, status wanita itu saat ini adalah tunangannya, bukan?

Sebelum acara makan bersama dimulai, Eunsoo membantu Nenek dan beberapa pelayan menyiapkan makanan di dapur, sementara Chanyeol dan Sehun berdiri berdampingan di taman belakang rumah mewah itu. Chanyeol adalah yang pertama yang membuka suara dan membahas soal Eunsoo. Apa yang sebenarnya yang Sehun inginkan? Setelah perusahaan, apa Sehun juga ingin mengambil wanitanya Chanyeol? Seperti biasa, Sehun selalu menunjukkan senyuman tipis, Ia terlihat tenang, dan menanggapi bahwa toh, Eunsoo masih hilang ingatan, tidak ada yang tahu bagaimana hubungan sebenarnya antara Chanyeol dan wanita itu. Bukannya Sehun tidak percaya dengan perkataan Chanyeol, tapi Sehun hanya ingin memastikan kebenaran dari wanita itu sendiri saat ingatannya sudah kembali. Lagipula, Sehun tertarik dengan wanita itu sebelum Sehun tahu bahwa wanita itu memiliki hubungan dengan Chanyeol. Jadi Sehun merasa Chanyeol salah besar jika mengatakan dirinya merebut wanita itu dari Chanyeol. Chanyeol tidak lagi bicara setelah itu, Ia menatap Sehun semakin tajam. Jadi Sehun benar-benar tertarik pada wanita itu?; pikir Chanyeol.

Saat acara makan dimeja panjang, Nenek duduk di kursi utama, Sehun sebelah kiri Nenek sementara Chanyeol disebelah kanannya. Eunsoo barusaja kembali dari kamar kecil, melihat pemandangan itu, Eunsoo terdiam sejenak lantaran Sehun dan Chanyeol sama-sama memandanginya, pria-pria itu seolah bertanya pada Eunsoo “Kau tidak ingin duduk di sampingku?” Nenek kemudian memanggil Eunsoo, membuat wanita itu tersadar. Eunsoo pun tersenyum canggung. Sebenarnya Ia ingin duduk di samping Chanyeol, tapi belum sempat Eunsoo melangkah, Sehun lebih dulu bangkit dari kursinya, berjalan mendekati Eunsoo lalu membawa Eunsoo duduk di sampingnya. Chanyeol mengalihkan pandangan sejenak sambil mendengus pelan melihat itu. Dan entah mengapa, tiba-tiba Eunsoo merasa bersalah padanya.

Saat acara makan, Eunsoo memperhatikan entah mengapa Nenek lebih banyak berinteraksi dengan Sehun dibandingkan dengan Chanyeol, bahkan sejak mereka datang tadi, Eunsoo tidak melihat sekalipun Nenek menyapa atau tersenyum pada Chanyeol. Justru Nenek lebih bersikap ramah pada Eunsoo dibandingkan dengan Chanyeol, cucunya sendiri. Di meja makan, beberapa kali Nenek meletakkan lauk di atas piring Sehun dan Eunsoo, tapi tidak di piring Chanyeol. Saat Nenek menanyakan kabar perusahaan pada Sehun, dan Sehun menjawabnya, Eunsoo memperhatikan Chanyeol yang duduk bersebrangan di hadapannya. Walaupun tidak diperhatikan neneknya, tapi Chanyeol terlihat seolah hal seperti itu sangat biasa baginya (karena memang hal itu sudah biasa bagi Chanyeol), Chanyeol tetap makan seperti biasanya. Tapi entah mengapa, melihat Chanyeol yang menunduk, sibuk dengan makananya membuat Eunsoo merasa tidak tega melihatnya. Pria itu terlihat menyembunyikan sesuatu di mata Eunsoo.

Hingga akhirnya, Eunsoo tiba-tiba berdiri, Sehun dan Nenek—bahkan Chanyeol, yang menyadari pergerakannya langsung menatapnya tak mengerti. Dengan membawa piring berisi makanannya, Eunsoo mengelilingi setengah meja untuk kemudian duduk di samping Chanyeol. Chanyeol memandangnya tak mengerti, lalu dengan sumpitnya Eunsoo meletakkan dua potong daging di atas piring Chanyeol. Eunsoo menunjukkan senyuman cerah, Ia berkata pada Chanyeol “Kau menyukai daging ‘kan?” saat Chanyeol kemudian menatap Eunsoo dengan tatapan yang sulit diartikan, Eunsoo membalas tatapan bingung Nenek sambil berkata “Nenek, Anda tahu? Chanyeol sangat menyukai daging. Chanyeol sangat pandai memasak sendiri. Dan daging yang dimasak Chanyeol rasanya benar-benar enak, Anda harus mencobanya.” Eunsoo kemudian melanjutkan acara makannya, tanpa memperdulikan Sehun dan Nenek yang menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

Tidak selang lama, Nenek dan Sehun juga kembali menikmati hidangan mereka. Entah mengapa suasana di ruang makan itu kini terasa sedikit berbeda. Setelah Eunsoo selesai menyuapkan makanan ke dalam mulutnya, Eunsoo kembali mengambilkan olahan sayur yang kemudian Ia letakkan di piring Chanyeol, sambil menasehati Chanyeol (dengan nada menggerutu pelan) bahwa pria itu harus banyak mengkonsumsi sayur karena Chanyeol terlihat kurus. Chanyeol membalas tatapan Eunsoo, tepat dimatanya, dan untuk pertama kali, Eunsoo melihat pria itu tersenyum padanya. Hanya senyuman tipis, tapi entah mengapa senyuman itu membuat jantung Eunsoo berdebar-debar di dalam sana. Pergerakan rahangnya bahkan terhenti. Eunsoo hanya diam, memperhatikan Chanyeol yang kembali sibuk menyantap sayur-sayur yang Eunsoo letakkan di piringnya. Dan Sehun melihat itu. Sehun melihat Eunsoo terus memandangi Chanyeol bahkan matanya seolah tak berkedip. Lalu perlahan, Sehun mendapati wanita itu tampak mengulum senyuman membuat sedikit rasa kecewa terselip di dalam dada Sehun.

Setelah acara itu selesai, mereka bertiga keluar. Kali ini Sehun yang memimpin langkah sementara Chanyeol dan Eunsoo berjalan santai beriringan tak jauh di belakang Sehun. Setelah sama-sama terdiam, Chanyeol akhirnya memutuskan untuk membuka suara, bertanya apakah Eunsoo tidak ingin kembali ke apartemennya? Mereka kemudian menghentikan langkah. Eunsoo menatap Chanyeol dan mengatakan bukankah Chanyeol sendiri yang menyuruhnya untuk menjauh? Chanyeol langsung minta maaf. Itu juga permintaan maaf yang pertama kali Eunsoo dengar dari pria itu, Eunsoo benar-benar tertegun mendengarnya. Chanyeol kembali berkata, kali ini Ia menyuruh Eunsoo kembali pulang ke apartemennya karena ada sesuatu yang ingin Ia katakan pada wanita itu. Tentang pertanyaan-pertanyaan yang selama ini Eunsoo ajukan pada Chanyeol, Chanyeol akan menjawab semuanya. Eunsoo sempat bertanya pertanyaan.. apa itu? Apa tentang ciuman, tidur bersama dan lainnya? Chanyeol menjawab ‘iya’. Eunsoo langsung diam, entah mengapa tiba-tiba rasa panas terasa merambati permukaan pipinya. Kemudian, Sehun memanggil Eunsoo dan mengajak wanita itu segera pulang, Eunsoo mengangguk. Lalu Eunsoo berpamitan pada Chanyeol. Saat Eunsoo akan melangkah, Chanyeol menahan pergelangan tangan Eunsoo, menatap Eunsoo tepat dimatanya sambil berkata “Aku akan menunggumu.”

***

Malam harinya, Eunsoo akhirnya kembali ke apartemen Chanyeol (setelah sebelumnya Ia menghadapi beberapa pertanyaan dari Sehun mengapa secepat ini Ia menjauh dari Chanyeol? Eunsoo meminta maaf juga berterima kasih pada Sehun. Ada alasan yang sengaja tidak ingin Eunsoo ceritakan pada Sehun, dan Eunsoo berharap agar Sehun tidak marah padanya. Ya, Sehun tidak marah memang. Tapi saat mengantar Eunsoo hingga di depan gedung apartemen Chanyeol, Eunsoo melihat pria itu seperti kecewa padanya, meskipun Sehun tersenyum saat Eunsoo berpamitan masuk).

Di dalam apartemen, Chanyeol juga sempat berjalan mondar-mandir di ruang tengah untuk menunggu apakah Eunsoo datang atau tidak. Untuk pertama kali Ia merasa begitu cemas. Terkadang Ia duduk di sofa dengan wajah yang frustasi. Namun setelah menunggu beberapa jam, bel apartemen akhirnya berbunyi, Chanyeol senang saat menyambut kedatangan Eunsoo di depan pintu apartemennya.

Mereka kemudian duduk berdampingan di sofa di depan televisi, ada sedikit jarak diantara mereka. Setelah suasana hening sempat menyelimuti mereka selama beberapa saat, Chanyeol menghembuskan napas cukup panjang, terdengar pelan. Seolah Chanyeol telah siap untuk mengutarakan apa yang telah Ia pikirkan selama kepergian Eunsoo dua hari ini, seolah Chanyeol telah siap mengutarakan sebuah keputusan tentang apa yang membuatnya begitu resah selama dua hari ini.

Chanyeol menoleh ke arah Eunsoo sembari membuka suara, “Sebenarnya.. kita tidak pernah melakukan ciuman, sekalipun. Begitu juga dengan pelukan, atau tidur bersama. Kita tidak pernah melakukannya.”

Eunsoo langsung membalas tatapan Chanyeol, sedikit terkejut, “Ti-tidak pernah?” tanyanya, Chanyeol mengangguk. Eunsoo kemudian terdiam sejenak. Ia mengalihkan matanya ke arah lain. Tiba-tiba mengingat rentetan pertanyaan yang biasa Ia ajukan pada Chanyeol membuatnya merasa sangat malu. Eunsoo tersenyum hambar, pipinya terasa panas, Ia menggaruk sisi kepalanya sembari berkata, “A-ah, tidak pernah ya.. ternyata tidak pernah.” Eunsoo tertawa kecil, dimata Chanyeol jelas sekali tawa itu terkesan dipaksakan, Eunsoo bahkan seperti sengaja mengalihkan wajahnya dari Chanyeol.

“Ya, memang tidak pernah.” Kata Chanyeol. Saat Eunsoo kembali menatapnya dengan sisa-sisa tawa, Chanyeol melanjutkan, “Kita tidak pernah melakukan semua itu jadi kau tidak perlu berusaha mengingatnya.” Eunsoo menatap Chanyeol tak mengerti. Sementara itu, Chanyeol menatap Eunsoo dengan serius, dan kembali bersuara, “Tapi satu hal yang harus kau tahu, dan kuharap.. kau akan mengingat ini selamanya.” Saat Eunsoo menatap Chanyeol semakin bingung, pria itu tiba-tiba mendekat, mempertemukan bibirnya dengan bibir Eunsoo dan menutup matanya perlahan.

Eunsoo membeku. Bola matanya melebar, dadanya bergemuruh dan tanpa sadar kedua tangannya meremas rok dress di atas pangkuan. Eunsoo bingung, terkejut. Perasaan seperti apa ini? Seolah baru pertama kali selama hidupnya Ia merasakan sensasi aneh seperti ini (dan memang ini adalah pertama kalinya bagi Eunsoo). Lalu saat Eunsoo berniat menarik wajahnya, tangan Chanyeol yang semula diam bergegas menahan pipi Eunsoo, lalu menarik tengkuk Eunsoo, bibirnya yang semula hanya diam, perlahan juga mulai bergerak, menyapu bibir Eunsoo dengan lembut membuat wanita itu menutup mata rapat-rapat sembari meremas rok dressnya semakin kuat. Dada Eunsoo semakin bergemuruh, sensasi panas yang sangat aneh menjalar ke seluruh syaraf tubuhnya, begitupun dengan Chanyeol. Pria itu mempertahankan ciumannya, memperdalamnya, membuatnya kini menyadari sesuatu, hingga akhirnya Chanyeol berkata di dalam hatinya, “Aku menyukaimu—tidak. Aku mencintaimu, Ban Hana.”

.

.

.

.

.

.

.

*tobecontinued*

Panjang banget kan? Kalian mungkin bosen :’) semoga masih ada yang mau nunggu lanjutan ceritanya. Dan maaf kalo jelek, hehe. See ya😉

167 responses to “RESUME of THE NAME I LOVED [1] by noonapark

  1. :~)

    Yuhuuuuuuuuu
    Puanjangnyaaaaa kakkkakakakakkaka 🙂😉
    ;D

    Berjuanglahhhhhh PARK CHANYEOLLLLLL

    SAKIIT BANGETT SAAT NENEK NYA MEMPERLAKUKAN CHANIIII SEPERTI ITUU
    :-e
    :-7

  2. Hallloo ka ima🙂 huhu akhirnya kak ima comeback juga T_T udh lama aq nunggu, aq pikir kak ima ga bakal lanjutin ini ff ternyata dilanjut walau cuma resume.

    Kak ini aq seneng pke banget saat terpampang nyata ff ini muncul di blog kk. Aq langsung baca dan aq puas soalny panjaaaaang bgt words ny hahaha PUAS

    Oohhh ya sampe lupa kak ima gmn kabar ny??? Aq udh kaget kak ima di atas jelasin klo kakak bener2 mau STOP dr dunia perffan. Tp aq msh ngarep lohh kak sampe skrng klo aja kakak tetep nulis ff, aq rasa umur bkn batasan 😉

    Yahh apapun keputusan kakak aq selalu dukung fighting 😘

    hampir lupa itu nyerempet bersambung bikin kita jadi baper aja kak 😝 aq iri sama eunsoo😢
    udh sehun dr pada kecewa trus soalny eunsoo ga meratiin kamu, udh sama aq aja aq bakalan meratiin kamu 100% #sehunaqpadamu😘

    Yoweess udh ahh kepanjangan nnt buat kak ima galau aja lg hehe e 😜

    Tertanda
    binisehun💑

  3. Kangennn kakak ihhh :” akhirnya muncul lagi bawain kelanjutannya… Makasih loh kak aku suka lanjutannya, kalo masih inget sama readers sejatimu ini kaira huang aku bakal sneng bgt:’ krnaa dr awal aku udh ikutin, komen, baca karya kakak… Lanjut baca resume keduanya;)

  4. Huhuhuhu kangennnnn chaneun(?) Akhirnya bisa baca moment moment mereka lagi. Meskipun panjang tapi aku tetep sabar kok bacanyaaa malah sukaaa bangettt. Pelan pelan scroll down biar gada yg kelewat hehe. Kasian sehun :((( tapi gimana nasib eunsoo kalo ntar udh sembuh ingatannya, terus hana nanti gimanaaaaa :((((( Semangat terus kakkk

  5. Ya ampuuun, udah lama ga stalk skff gegara author fav aku pada hiatus.
    Aku baru liat lagi ini dan ternyata kak ima ngelanjutin. Seneng banget 😘
    Aku izin baca ya kak 😆

  6. Gimana klo hana asli muncul…rumit…jng sampe hana asli jdi tertarik sama chanyeol…lgian sapa suruh mnta eunsoo pura2 jdi dy…

  7. Waaaaa…. Keren kakkk
    Panjang lagiii… Puas ak bacanya kak😀
    Cieer.. Chanyeol mulai suka nih yeee😀

  8. Yaampun ka ima bisa ae bikin baper 😂 . gw harap ka ima masih mau nglanjutin ff ini karna ff ini jg favorit . Aku tunggu eps selanjutnya ka , fighting!! 🙌

  9. Panjaaaaang banget. Apalagi bacanya pas tengah malem kayak gini jadi berasa banget gitu. Chanyeol emang orangnya dingin banget. Tapi sedingin apapun kalau dikasi perhatian terus pasti lama2 juga bakal luluh dan untungnya dia mulai sadar sama perasaannya sendiri. Kasian sama sehun yang bertepuk sebelah tangan gitu cintanya. Tapi masih penasaran gimana kalau ingatan eunsoo balik dan chanyeol tau kalau dia bukan hana

  10. Kalo eunsoo udh kembali ingatannya dan kenyataan bakal keungkap,apa chanyeol bakal teep cinta? :”) kasian banget sama chanyeol disini TTTT akusih terserah sama kaka aja mau digimanain ff ini,ngerti kok sama keadaanya kaka ^^ fightingg!!!

  11. Apa Kabar Ka Ima,Aku Berharap Kaka Lanjutin Pnulisan Ff Nya😀 Semangat Terus Ka,
    .
    Woahh Ff Nya Panjang Banget,Aku Bertanya” Bagaimana Kalau Hana Asli Tau Kalau Chanyeol Itu Tampan,dan Dia Jatuh Cinta,dan Tau Kalau Eunsoo Sudah Dekat Dengan Chanyeol,sedangkan Eunsoo Itu Hilang Ingatang,woahkk Aku Msih Penasaran😀
    Keep Writing Ka,Fighting Lanjutkan Karyamu Ka Ima😀

  12. Pingback: RESUME THE NAME I LOVED [3] by noonapark | SAY KOREAN FANFICTION·

  13. wohooo kakak… ini panjang banget… dan aku sama sekali gak bosen kok… malah seneng… ada beberapa scene yang buat aku hampir nangis. dan berarti ini feelnya dapet banget kak… hehehe… lanjut baca ya 😊

  14. Panjang banget…. tapi suka 😄, aku terharu pas baca part yeol, sehun, eunsoo makn bareng sama nenek. Disitu keliatan banget klo yeol gak dianggep 😭 dan untungnya eunsoo peka 😄, dukung couple eunsoo chanyeol pokoknya ✌

  15. Belom sepanjang rel kereta jakarta kota-bogor kan kak???
    Tapi ini emang panjangan banget ya Allah kak😦
    Pas baca ini aku mikir : “ini kapan berakhir, kok kagak kelar kelar udah baca panjang kali lebar.” Tapi ditutup manis yee ama Canyol hmmm 😘😘😘😘😘😘😘😘
    Lagi ngebayangin muka nenek neneknya nih. Nenek neneknya yang di Brilliant Legacy ? Hahahahah
    Btw, itu nanti si Ban Hana yg asli jangan jangan beneran suka nanti lagi sama si Canyol? Otoke donggg

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s