Proposal Under Stories – Angelina Triaf

ring

Angelina Triaf ©2016 Present

Proposal Under Stories

Kim Mingyu (Seventeen) & Kimmy (OC) | Slice of Life, Surreal, Fluff | G | Ficlet

“Tch, masa muda.”

0o0

            Manusia selalu menjejaki pilinan langkah yang berbeda tiap detiknya, membuat sang waktu tersenyum tiap kali mendapati momen yang menjadi bagian dalam dirinya. Senyum, kegembiraan, dan hal lainnya yang mungkin tercipta. Walau tak bisa dipungkiri keburukan selalu menjadi bayang-bayang hitam, tetapi waktu selalu tahu bagaimana manusia memilih jalannya dan bermain dengan tangan takdir.

            Sering sekali kulihat langkah itu berayun dalam pandanganku. Dari balik kaca toko Glow n’ Lover, entah mengapa senyum selalu menghiasiku ketika mendapati wajah bahagia mereka terkembang untuk menyapa hari yang baru. Hatiku menghangat, mungkin pertanda sebuah kebahagiaan.

            Sama halnya dengan hari ini. Banyak pelanggan yang datang untuk memilih perhiasan yang mampu menyihir mereka menjadi ratu sehari. Ada yang hanya datang sendiri, namun tak sedikit juga yang datang berpasangan. Ah, romansa dunia, nampaknya aku tak akan pernah bisa mengerti bagaimana rasanya.

            Sampai sore ini, di antara para pejalan kaki di luar toko. Aku melihatnya, seorang pemuda dengan seragam sekolah. Ia tidak masuk ke dalam, hanya berdiri di dekat pohon sakura yang Choi Sajangnim sengaja tanam di pelataran toko, menatap kaca bening yang memisahkan eksistensi kami berdua.

            Pandanganku tak bisa melepaskannya, senyumnya terlampau manis dengan gigi canine yang justru terlihat sangat lucu ketimbang horor. Mungkin hanya sekitar sepuluh menit, sampai akhirnya ia melanjutkan perjalanannya kembali ke rumah. Bias senja menatapnya selayak aku menatapnya. Sore yang indah, burung di langit pun seperti mengantar kepulangannya.

            Hah, masa muda memang salah satu hal yang paling indah di dunia ini. Saat melihat anak kecil yang berlarian di depan toko dengan permen kapas manis atau balon dalam genggaman. Anak-anak yang selalu menjadi sumber kebahagiaan kedua orangtua atau bahkan orang-orang di sekitar mereka.

            Memikirkan semua itu selalu membuatku teringat dengan Kim Harabeoji. Dengan senyum manis khas sesepuh―aku tahu ini berlebihan tapi memang ia sudah kelewat tua hingga aku memanggilnya demikian―ia selalu berkata padaku bahwa aku ada di dunia ini untuk mengukir sebuah senyum manis dari seseorang suatu hari nanti. Ajaibnya, kalimat itu selalu membuatku tak sabar untuk menantikan sang hari yang kutunggu. Aku suka melihat orang lain tersenyum, terlebih lagi karena diriku.

            Keesokan harinya pun menjadi sama seperti kemarin. Lagi-lagi aku melihat pemuda itu berdiri di depan toko. Tak jarang matanya menatap beberapa pasangan yang hendak masuk atau baru saja keluar membawa bungkusan kecil berwarna biru dengan pita beraksen silver, ciri khas toko kami. Senyumnya yang memang manis itu menjadi berkali lipat menggemaskan ketika memandangi bungkusan itu. Apakah ia ingin membelikan sesuatu untuk orang yang dikasihinya?

            Ya, awalnya kukira begitu. Namun, sampai rotasi Bumi ini berkumpul dalam revolusi, pemuda itu tak kunjung berjalan memasuki pintu kami. Ia hanya muncul di sore hari―jam pulang sekolah―dan tak datang di hari Kamis. Selalu seperti itu, membuatku hanya mampu terdiam, tenggelam dalam kebingungan.

            Oh, kuingat dengan jelas hari terakhir saat aku melihatnya. Hari yang cukup bersejarah, mengingat itu pertama kalinya ia melewati pintu toko kami setelah tiga bulan tak nampak. Dari perspektifku, aku agak samar melihat papan nama yang melekat di blazernya. Kim Mingyu, nama yang lucu sesuai dengan wajahnya. Tapi satu yang tak pernah kuduga sama sekali, bahwa ia ternyata jauh lebih tinggi dari perkiraanku.

            Salah satu pegawai kami menyambut kedatangannya. Mingyu tersenyum manis, mengobrol sebentar dengan pegawai itu hingga akhirnya ia menunjuk spot tempatku berada. Si pegawai berbicara agak lama, cukup bagiku untuk melihat perubahan wajah Mingyu yang menjadi sedikit murung. Dengan senyum kecilnya, ia memberi salam lalu keluar dari toko dengan tangan kosong.

            Yap, sejak kejadian itu Mingyu tak pernah lagi menampakkan dirinya. Tidak di dalam toko, tidak pula berdiri di luar toko seperti biasanya. Aku selalu menerka-nerka apa kiranya yang membuat Mingyu murung seperti itu. Bahkan hingga tahun berlalu membentuk dasawarsa, ia tak pernah lagi kembali.

            Itulah salah satu kisah tak menyenangkan yang kutemui dalam hidup. Takdir memang selalu berjalan dengan segala kejutan yang dimilikinya.

            “Kimmy, sekarang aku harus bagaimana?”

            Juga, dalam tangan takdir itulah, sudah satu tahun aku keluar dari toko dan tinggal dengan seorang pria asing yang kini membuatku selalu tersenyum melihat polah konyolnya setiap kali ia kebingungan. Kim Mingyu―pemuda yang sepuluh tahun lalu meninggalkan toko dengan wajah murung―dengan sedikit sihir oleh sang waktu kini telah berubah menjadi pria mapan yang memesona.

            Tapi memesona bukanlah definisi yang tepat untuknya saat ini. Kemejanya berantakan, wajahnya kusut dan rambut hitamnya sudah seperti hutan yang terkena tornado. Singkatnya, ia sakit.

            “Aku bingung bagaimana jadinya ini. Kimmy, apa yang harus kulakukan?”

            Ini memang salah Mingyu yang terlalu kekanakan. Hah, sebenarnya ingin sekali kumarahi dia dan berkata jika ia adalah pria terbodoh di dunia, namun hanya diam yang menjadi pilihanku. Tapi jika dipikir-pikir, melihat Mingyu seperti ini membuatku hampir tak bisa menahan diri. Ia sangatlah lucu.

            Bersamaan dengan itu pula bel rumah berbunyi. Terdengar suara perempuan dari interkom, membuat Mingyu yang semula duduk dengan galau kini langsung beranjak menuju pintu―dan sialnya ia membawaku paksa mengikutinya.

            Kulihat seorang wanita muda berdiri di hadapannya. Wanita itu hendak mengucapkan sesuatu namun Mingyu langsung menariknya dalam pelukan, membuatku dan wanita itu sama-sama terkejut dibuatnya.

            “Cheon, maafkan aku yang kekanakan. Ini salahku, kumohon jangan tinggalkan aku…”

            Kudengar Mingyu menangis, namun wanita itu justru tertawa kecil sembari mengusap punggungnya. “Kau tidak pernah berubah, ya? Aku juga masih ingat salah satu masa mudamu ketika kau―”

            “Tch, masa muda. Sudahlah, jangan bahas masa suram itu lagi,” potong Mingyu dengan wajah merajuk.

            Namun tak lama, sampai Mingyu kembali tersenyum―dengan jejak air mata di pipi. Ia mengambil jemari wanita itu, membuatku akhirnya menemukan penantianku dalam hidup.

            “Kau ada di dunia ini untuk mengukir sebuah senyum suatu hari nanti.”

            “Kau harus menikah denganku, menerima segala macam bentuk kekanakanku dan―”

            “Ya, lamaran macam apa itu?!”

            Hah, dasar Mingyu. Dari dulu sampai sekarang tak pernah berubah. Hanya Mingyu seorang yang bahkan memberiku nama semacam Kimmy, bukankah itu sungguh kekanakan?

            “I hate you,” ujar si wanita, namun kurasa berbanding terbalik dengan semu di wajahnya.

            Kebahagiaan semakin meliputiku saat Mingyu mencium kekasihnya itu―ia terlihat seperti seorang pria sejati. Keren dan sangat romantis!

            “I love you too, Cheonsa.”

            Harabeoji benar, rasanya sangat menyenangkan ketika aku bisa membuat orang lain tersenyum dalam hidupnya. Terlampau menyenangkan, dan mungkin aku bisa terbang tinggi dibuatnya.

FIN

 

 

Notes:

Mengambil genre surreal, fic ini diambil dari sudut pandang sebuah cincin. Mingyu di masa muda emang udah niat banget mau beliin gadis yang dia suka (Cheonsa) sebuah cincin di toko itu, tapi dia belum mampu karena statusnya yang masih pelajar. Hingga di tahun kesepuluh Mingyu ga pernah muncul di depan toko, ia tiba-tiba datang dan membeli si cincin ini (lalu diberi nama Kimmy, lol) dan dia simpen (plus diajak curhat) sampai satu tahun, sebelum akhirnya dengan ga elitnya Mingyu ngelamar Cheonsa, mana kalimatnya ga banget dan pake ada acara berantem dulu /pehlis yang ini bikin ngakak xD/ Happy reading^^

7 responses to “Proposal Under Stories – Angelina Triaf

  1. thor kaya udah terbangin aku terus dihempaskan ke jurang. aku baru seneng loh ada oc baru namanya kimmy taunya cuma cincin. dan yang bingin aku ngapung terus di jatuhin lagi karna aku pikir mingyu udah move on dari cheonsa/abaikan ini/ tapi ganyangka aku pikir povnya itu dari cewe lain eh taunya dari sudut pandang cincin. keren keren;)

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s