The Fifth Season #1

a story by dandeliar

— The Fifth Season —
[1st Grade or 1st Year Of Marriage?]

1st Chapter: Let’s Destroy Her

“Like the fifth season, true love doesn’t exist.”

starring by Jeon Jungkook [BTS], Kim Taehyung [BTS], Son Nayoung [Original Character], Kim Mingyu [Seventeen], Kim Jiho [Oh My Girl], Jeon Junghee [Original Cast], and more!

|| Genre: Drama, Romance, AU, Slice Of Life (maybe), School Life (for this chapter) || Length: Chaptered || Rating: PG-15 (can change anytime) ||

personal blog — Dream Papillon

.

.

.

CHAPTER ONE: LET’S DESTROY HER

.

.

.

— July 7, 2006 

“Nayoung! Lemparkan bolanya ke aku!” pekik seorang pria jangkung yang tengah berlari di lapangan bola basket tersebut.  Ia berteriak kepada seorang gadis yang sedang men-dribble bola berwarna oranye dengan beberapa garis berwarna hitam dan berlari menuju kearah ring basket milik lawan. Gadis yang dipanggil Nayoung tersebut tengah dihalangi oleh dua orang gadis yang tubuhnya lebih besar daripada Nayoung. Berhasil membuat Nayoung tak bisa memasukkan bola ke ring basket. Nayoung berhenti men-dribble bolanya dan lebih memilih untuk melindungi bolanya agar tidak direbut oleh lawan.

Gadis tersebut mendengar panggilan dari salah satu teammate-nya, Mingyu. Ya, si pria yang menyuruh Nayoung untuk melempar bola ke arahnya. Dengan segera, Nayoung mencari di mana posisi Mingyu saat ini. Ia menemukan Mingyu berada di daerah yang tidak terhalangi oleh lawan mainnya. Pria tersebut tengah fokus ke arah Nayoung, lebih tepatnya ke arah bola yang dipegang oleh Nayoung. Gestur tangan Mingyu menyuruh Nayoung agar segera mengoper bola tersebut kepada Mingyu.

Nayoung berusaha untuk mencari kesempatan untuk mengoper bola tersebut kepada Mingyu sambil menghindari lawan. Sampai pada akhirnya ia menemukan kesempatan, ia segera mengoper bola tersebut kepada Mingyu. Mingyu hampir menangkap bola yang Nayoung lempar, sebelum seorang pria dari tim lawan secara tiba-tiba berada di depan Mingyu dan mencuri bola yang Nayoung lempar. Dengan segera, pria tersebut men-dribble bola ke arah ring milik tim Nayoung.

“AAA!!” teriakan dari para gadis yang menonton pertandingan tersebut langsung memenuhi lapangan dengan suasana tegang itu. Rata-rata–bukan, semuanya berasal dari murid kelas Nayoung yang sangat menggemari Jeon Jungkook, si pria yang berhasil mencuri bola dari Nayoung. Berbagai pujian terlontar, berhasil membuat kuping Nayoung terasa panas.

Dengan perasaan dongkol dan tak terima, Nayoung berlari secepat mungkin untuk mengejar Jungkook yang tengah berlari sembari men-dribble bola. Diikuti oleh temannya yang lain. Sedangkan, beberapa orang dari tim Nayoung yang sudah berjaga di dekat ring mereka berusaha menghalangi Jungkook agar tidak dapat memasukkan bolah tersebut ke dalam ring.

Namun, usaha mereka sia-sia. Mungkin karena pada dasarnya Jungkook terlalu lihai bermain basket dan cepat larinya, dengan mudah Jungkook memasukkan bola ke dalam ring, dan menyumbangkan dua poin untuk skor milik timnya sendiri. Sekarang, skor tim Jungkook seimbang dengan skor milik tim Nayoung. Lagi-lagi, teriakan memenuhi seluruh penjuru lapangan.

“Jungkook! Kau yang terhebat!”

“Seperti yang selalu diharapkan dari seorang Jeon Jungkook, kau memang keren!”

“Jungkook! Aku padamu!”

Jungkook yang mendengar pujian dari para penggemarnya hanya tersenyum tipis menanggapi mereka. Sorakan dari para penggemarnya berhasil membuat Jungkook merasa lebih bersemangat. Tak lupa, Jungkook melambaikan tangannya kearah para penggemarnya sebelum berjalan kearah teman sekelompoknya. Ya, aksi Jungkook tentu berhasil membuat para penggemarnya menjadi heboh.

Nayoung menghela nafas secara berkali-kali, mengambil oksigen sebanyak-banyaknya dari udara. Tangan kanannya ia gunakan untuk mengelap keringat yang bercucuran di daerah keningnya, dan tangan kirinya ia letakkan di atas lutut kirinya untuk menopang tubuhnya yang (menurutnya) bisa ambruk kapan pun. Mereka telah bermain selama 15 menit terakhir, dan ini membuat Nayoung menjadi sangat lelah. Ditambah dengan teriakan dari para penggemar Jungkook yang membuat Nayoung tidak bisa fokus dalam permainannya. Nayoung hendak bersiap-siap untuk mengambil posisi, sebelum ia mendengar bunyi peluit yang memekakkan telinga.

“Cukup sampai sini! Kalian boleh ganti pakaian!” ujar Pak Hoon, si guru olahraga yang mengajar kelas Nayoung. Para murid segera mengambil botol minum mereka dan bersamaan kembali ke kelas kami. Kecuali Nayoung, Mingyu, Jungkook, dan para penggemar Jungkook. Oh, jika kalian ingin tahu, para penggemar fanatik itu akan terus mengikuti Jungkook, dan menurut Nayoung, perlakuan mereka seperti penggemar sasaeng(*). Mengerikan.

“Permainan yang bagus!” ujar Mingyu yang entah sejak kapan, sudah berdiri di hadapan Nayoung. Menyerahkan sebotol air mineral kepada Nayoung, yang langsung diterima oleh Nayoung. Tak lupa Nayoung mengatakan terima kasih, lalu membuka tutup botol tersebut dan minum hingga tersisa setengah. Sepertinya, Nayoung terlalu lelah dan haus.

“Dimana pacarmu?” tanya Nayoung kebingungan, kemudian mencoba untuk mencari gadis bersurai panjang hitam dengan wajah manis kepribadian unik itu. Di mana Jiho? Begitulah pikir Nayoung. Mingyu ikut-ikutan mencari pacarnya itu. Namun, hasilnya nihil. Mereka tidak dapat menemukan Jiho.

“Mungkin, dia sedang ganti seragam,” jawab Mingyu. Nayoung hanya mengangguk sebagai jawaban. Kenapa Jiho menyebalkan? Teganya Jiho meninggalkan mereka. Namun, dengan segera pikiran tersebut hilang begitu melihat seorang gadis bersurai hitam panjang yang sedang berlarian kecil dengan membawa sekantung plastik yang tidak diketahui isinya. Terlukis senyuman riang pada wajah manisnya. Sampai pada akhirnya, ia berdiri di depan Mingyu dan Nayoung, lalu menyerahkan kantung plastik tersebut.

Jja~ Minum susu setelah olahraga bisa membuat kalian semangat lagi!” pekik Jiho gembira. Rupanya, kantong plastik tersebut berisi tiga botol susu rasa stroberi favorit mereka bertiga. Namun, Nayoung malah menarik kedua sudut bibirnya ke bawah, kebiasaannya ketika ia sedang sebal.

“Kamu meninggalkan kami,” ujar Nayoung, dengan tangan terjulur ke kantung plastik yang Jiho pegang untuk mengambil sebotol susu rasa stroberi yang Jiho beli, tak lupa dengan sedotannya. Baru Nayoung pegang, ia sudah merasakan sensasi dingin pada tangannya. Ah! Di saat panas seperti ini, memang paling enak untuk meminum minuman yang dingin.

strawberryuyu

“Tapi, karena kau membelikan kami ini, aku maafkan,” lanjut Nayoung, berhasil mengundang tatapan kesal dari Jiho. Mingyu yang melihat tingkah laku mereka hanya terkikik. Jiho mengambil sebotol susu beserta sedotannya, lalu memberikannya kepada Mingyu. “Untukmu.”

Mingyu menerima susu tersebut, lalu tersenyum dengan lebarnya kepada Jiho. Salah satu tangannya terangkat untuk mengacak rambut panjang Jiho. “Terima kasih, honey.” Jika tadi Jiho hanya bisa menatap secara kesal, kali ini ia mendengus kesal.

“Berhenti mengacak rambutku!” pekik Jiho tidak terima. Nayoung hanya bisa tersenyum geli melihat tingkah pasangan konyol itu. Mereka benar-benar lucu, pikir Nayoung. Lalu, Nayoung mulai menancapkan sedotan pada bagian atas botol tersebut, sampai menimbulkan bunyi akibat sedotan tersebut berhasil menembus tutup botol, dan menghisap cairan manis berwarna pink itu lewat sedotan. Rasa khas susu stroberi dan sensasi dingin langsung menyambut indra pengecapnya.

‘Enak.’

Dengan cepat Nayoung menghabiskannya dan membuang botol yang telah kosong itu ke tong sampah. Ia menoleh ke arah kedua sahabatnya yang masih sibuk berpacaran.

“Hei, aku mau ganti seragam dulu. Jangan terlalu sibuk berpacaran!”

“Bilang saja jika kau iri karena tak bisa bermesraan dengan Taehyung sunbae!” Nayoung lebih memilih untuk mengabaikan ucapan Jiho dan pergi untuk mengganti pakaiannya. Sebelumnya, ia mengambil seragan sekolahnya yang ia simpan di dalam lokernya. Dengan santai, ia berjalan menyusuri lorong sekolah, sembari bersenandung riang, menyanyikan lagu favoritnya.

Ia hendak berbelok ke arah lorong tempat di mana lokernya berada. Namun, langkahnya terhenti ketika ia melihat seorang pria yang berdiri tidak jauh dari lokernya. Postur tubuhnya tegap, kekar, dan ia cukup tinggi. Dengan seragam olahraga yang sama dengan yang Nayoung kenakan, tak lupa dengan keringat yang masih menetes. Entah mengapa itu membuat pria tersebut menjadi terlihat seksi.

Nayoung tahu siapa pria itu. Ia juga mengakui jika pria tersebut memanglah seksi. Tetapi, Nayoung tidak terpikat olehnya. Sama sekali. Oleh karena itu, dengan percaya diri Nayoung tetap melangkah ke arah lokernya yang hanya berjarak sebanyak dua loker dari loker pria itu.

Jeon Jungkook. Si pria yang telah mengimbangi skor tim Nayoung. Pria yang dikejar-kejar oleh para gadis seantero sekolah. Pria yang dulu sempat memikat hatinya.

Ia berusaha mengabaikan eksistensi pria tersebut, dan berhasil. Jungkook sepertinya juga tidak tahu akan keberadaan Nayoung. Nayoung dengan segera membuka password lokernya untuk mengambil seragam sekolahnya. Di saat Nayoung berpikir jika Jungkook tidak tahu akan keberadaannya (atau mengabaikan Nayoung), sebuah kalimat terlontar dari mulut Jungkook.

“Permainan yang bagus tadi,” pujinya. Tangan Nayoung yang hendak menutup loker terhenti begitu mendengar pujian mendadak dari Jungkook. Walaupun itu bukan benar-benar pujian. Nayoung bisa merasakan adanya ketidaktulusan, walaupun tak bertatap langsung dengan Jungkook. Kemudian, Nayoung menutup pintu lokernya dan menoleh ke arah Jungkook berada. Menemukan Jungkook yang tengah menatapnya dengan tatapan yang Nayoung sendiri tidak mengerti. Tapi, Nayoung yakin jika ia memiliki firasat buruk akan tatapan Jungkook.

“Terima kasih,” balas Nayoung sebelum ia pergi berbalik, hendak meninggalkan Jungkook. Karena demi apapun, ia tak ingin berada di sekitar pria itu.

Namun, ia mengurungkan niatnya ketika lagi-lagi Jungkook mengajaknya berbicara.

“Tak kusangka hubunganmu dengannya bisa selanggeng itu.” Nayoung membalikkan tubuhnya dan menemukan posisi Jungkook telah berubah. Punggung bersandaran di loker dan kedua tangan dimasukkan ke dalam kantong. Salah satu kakinya ia silangkan di atas kaki satunya. Dengan kepala menoleh ke arah kiri untuk menatap punggung Nayoung yang hendak menjauh (walaupun saat ini tidak karena gadis tersebut berhenti dan menoleh ke arahnya).

“Kenapa? Kau iri? Karena aku telah menemukan penggantimu?” Jungkook yang mendengar ucapan Nayoung lantas tertawa. Tawaan mengejek menggema di lorong sekolah tersebut.

“Untuk apa? Aku justru kasihan dengan hyung. Bisa-bisanya dibodohi oleh gadis sepertimu.”

“Masa bodoh.”

Nayoung berjalan menjauhi pria itu. Meninggalkan Jungkook sendiri di lorong yang lebar itu.

Sungguh. Nayoung muak melihat Jungkook.

.

.

.

“Kau terlihat aneh hari ini.”

Keadaan kantin pada saat itu lebih ramai dari biasanya. Banyak sekali murid yang berbalapan  mencari tempat duduk agar tidak kehabisan. Sampai-sampai tak ada tempat duduk yang tersisa. Beruntung Nayoung adalah gadis yang gesit dan lincah. Dengan cepat ia memilih tempat duduk dengan posisi terenak dan menyisakan tempat duduk untuk Taehyung, sedangkan pria dengan wajah seperti anak berusia lima tahun tersebut pergi untuk membeli makanan. Ketika Taehyung kembali, pria tersebut melihat Nayoung yang sedang mengetuk jarinya kebosanan. Saat mereka berdua memakan makanan mereka, Nayoung terlihat tak bersemangat, tidak seperti biasanya.

Nayoung mendongak, menemukan Taehyung yang tengah menatapnya khawatir. Namun, Nayoung hanya membalas pria tersebut dengan senyuman tipis.

“Aku terlihat seperti apa memangnya, oppa?” tanya Nayoung, mengarahkan jari telunjuknya ke arah dirinya sendiri. Seketika, Taehyung memasang pose seolah-olah tengah memikirkan sesuatu. Tangan kiri diletakkan di bawah dagu, jempolnya mengusap-usap dagunya, dan kedua netra coklat itu menatap Nayoung intens.

“Coba aku pikirkan sebentar.”

Jujur, Nayoung menjadi malu sendiri ketika Taehyung menatapnya seperti itu. Tatapan sok tajam milik Taehyung membuat pria itu terlihat semakin manis, apalagi tingkah lakunya yang konyol. Tiada hari yang membosankan jika ada Taehyung.

“Aha! Aku tahu!” ujar Taehyung sembari menjentikkan jari tangannya.

“Kau sedang memikirkanku ‘kan?” tanya Taehyung. Tatapannya kembali ke arah makanannya, lebih tepatnya ke arah telur masa sapi miliknya. Ia mencoba untuk memisahkan kuning telur dan putih telur. Setelah terpisah, ia menyerahkan bagian putih telur kepada Nayoung, bagian kuning telur itu ia simpan untuk dirinya sendiri. Hal yang sama juga dilakukan oleh Nayoung. Bedanya, ia memberikan bagian kuning telur kepada Taehyung.

“Menurutmu?”

Taehyung hanya mengendikkan bahunya, tak ingin mengetahui jawaban Nayoung lebih lanjut. Ia lebih memilih untuk melanjutkan memakan makanannya. Sekali-kali ia mencuri tatapan ke arah Nayoung. Taehyung yakin, sebenarnya ada sesuatu yang barusan menimpa gadis itu. Tetapi, Nayoung tak ingin menceritakannya kepada Taehyung. Taehyung memilih untuk tidak memaksa gadis itu untuk menceritakan masalahnya.

“Aku hanya merasa jengkel. Tadi tim lawanku berhasil mengimbangi skor tim kami, padahal kami hampir menang tadi,” ujar Nayoung secara tiba-tiba. Pipinya mengembung tanda ia kesal.

“Oiya? Sayang sekali. Memang, siapa yang berhasil mengimbangi skor timmu?”

Nayoung terdiam sejenak. Rasanya, Nayoung tak sanggup menyebut nama pria itu.

“Jungkook. Menyebalkan, bukan?”

‘Bukan hanya itu. Tadi aku bertemu dengan di brengsek Jeon di lorong, dan dia menyuruhku untuk menjauhimu!’

“Tapi, yang namanya permainan, pasti ada yang menang atau kalah, Young. Lagipula, skornya seimbang ‘kan? Jadi kau tak perlu malu karena kalah dalam bermain,” jawab Taehyung asal. Habis, Taehyung bingung ingin membalas Nayoung dengan jawaban seperti apa.

Nayouung yang kesal akan jawaban asal millik Taehyung lantas menjitak kepala pria yang setahun lebih tua daripadanya itu.

“Hei! Beraninya kau menjitakku! Aku lebih tua setahun daripada kau, Youngie!”

“Salahmu sendiri. Seharusnya kau menghibur, bukan malah berkata seperti itu!” balas Nayoung kesal. Taehyung hanya bisa menggaruk kepalanya yang tidak gatal begitu mendapati balasan Nayoung seperti itu. Padahal, niat awal Taehyung ‘kan untuk menghibur, bukan untuk menghina. Mengapa sekarang malah Taehyung yang disalahkan?

“Aku tidak menghina! Jika aku menghina, aku akan mengatakan hal lain selain itu, seperti ‘oh! Young memang payah, makanya Jungkook bisa membalapmu!’ atau ‘pantas saja kau tidak bisa memasuki tim basket, melawan bocah saja kau tidak becus!’ seperti itu,” ucap Taehyung panjang lebar.

“Oh! Jadi kau sengaja menghinaku sekarang?” tanya Nayoung semakin jengkel. Dengan cepat ia meminum minumannya sehingga tersisa setengah. Dilanjutkan dengan melahap makanannya dengan cepat.

“Hati-hati! Nanti kau tersedak,” peringat Taehyung kepada Nayoung. Namun, Nayoung tidak mau mendengar nasehat Taehyung, justru malah memakan makanannya semakin cepat. Membuat Taehyung terpaksa menahan pergerakan tangan kanan Nayoung.

“Makan dengan pelan, atau aku suapi,” ancam Taehyung, dengan ekspresi mengancam yang entah mengapa membuat pria tersebut menjadi konyol. Anehnya, dengan ekspresi konyol seperti itu, Taehyung masih berhasil membuat pipi Nayoung merona kemerahan karena malu. Apalagi dengan tangan lebar milik Taehyung yang menahan tangan Nayoung saat ini. Cih, kekuatan apa yang dimiliki oleh pria idiot itu sampai-sampai membuat Nayoung terlihat seperti seorang idiot?

Taehyung yang melihat Nayoung tidak melawan hanya tersenyum.

“Sekarang, makan makananmu secara pelan-pelan. Jika kau melawan, aku tidak akan secara segan-segan menyuapimu!”

“Tae!”

.

.

.

Saat ini adalah jam pelajaran bahasa Inggris, jam pelajaran yang (anehnya) paling disukai oleh murid-murid kelas XI-A. Oh, mungkin karena Guru Jung, guru mereka yang kelewat santai dalam mengajar, makanya para murid suka akan jam pelajaran bahasa Inggris. Hari ini, Guru Jung hanya menyuruh para murid mengerjakan latihan soal dan mengumpulkannya. Setelah itu, mereka bebas. Nayoung, salah satu murid terpintar di kelasnya tentu dapat mengerjakan latihan soal tersebut dengan cepat.

Nayoung menatap bosan sekelilingnya. Tidak banyak hal yang dapat dilakukan di kelasnya. Jiho dan Mingyu sedang asyik berpacaran, tidak mungkin Nayoung mengganggu mereka. Anak-anak lain? Mereka hanya mendekati Nayoung jika ada keperluan penting. Mereka seolah-olah menganggap Nayoung adalah hantu yang transparan.

Padahal, Nayoung juga ingin bermain kartu dengan mereka.

Di saat Nayoung sedang merasa bosan-bosannya, Guru Jung memanggilnya. Berhasil membuat Nayoung berhenti dari kegiatan mari-menatap-teman-satu-kelasnya. Dengan segera, Nayoung menghampiri Guru Jung.

“Ada apa, Bu?” tanya Nayoung secara sopan. Kemudian, wanita dengan umur memasuki kepala empat tersebut tersenyum tipis.

“Daripada kau melamun terus, bisakah kau membantu ibu?” tanya wanita tersebut, kemudian ia menyodorkan beberapa kamus bahasa Inggris yang sempat dipinjam oleh para murid dari perpustakaan untuk mengerjakan tugas tadi. Tebalnya bukan main, pikir Nayoung.

“Ya?”

“Ibu minta tolong kau untuk mengembalikan kamus-kamus ini ke perpustakaan. Kau bisa meminta seseorang untuk mem… Jungkook! Bisakah kau membantu ibu sebentar?” pekik Guru Jung kala melihat Jungkook yang barusan kembali dari toilet.

Oh tidak. Jangan katakan bahwa Guru Jung…

“Ya, bu?”

“Ibu minta tolong kau untuk membantu Nayoung untuk mengembalikan buku-buku ini ke perpustakaan. Kau tentu tidak tega melihat seorang gadis membawa barang seberat ini,” ujar Guru Jung. Nayoung hanya bisa menggerutu dalam hati. Mengapa harus Jungkook yang Guru Jung panggil?

“Tidak perlu, bu. Saya bisa melakukannya sendiri kok.”

“Tak apa. Lagipula, Ibu Jung benar. Tidak mungkin aku membiarkan seorang gadis membawa benda sebanyak dan seberat ini sendirian,” balas Jungkook, berhasil membuat Nayoung mengumpat. Tak bisakah Jungkook membiarkan Nayoung sendirian? Nayoung tak ingin berada di dekat Jungkook, sama sekali. Yang ada, malah Jungkook yang menyuruh dirinya untuk menjauh dari Taehyung.

“Baguslah kalau begitu. Oh iya, ibu sekalian ingin minta tolong Nayoung untuk mengambilkan buku tentang grammar yang biasa Ibu pakai saat mengajar. Nayoung tahu ‘kan buku mana yang ibu maksud?”

“Tentu, bu. Kalau begitu, saya mengembalikan kamus dulu ya, bu?” Ujar Nayoung, sembari menumpuk kamus tersebut menjadi sebuah tumpukkan yang tinggi. Perlahan, ia mengangkatnya dan menopang kamus-kamus tersebut dengan kedua tangannya. Berat sekali! Tingginya bahkan hampir menutupi penglihatan Nayoung. Padahal, itu baru setengah dari yang ada.

Dengan segera, ia meninggalkan Jungkook yang masih sibuk menata kamus tersebut untuk dibawa. Ia melangkahkan kakinya secepat mungkin, walaupun merasakan dirinya yang pegal karena kamus tersebut berat.

“Beraninya kau meninggalkan orang yang membantumu.”

Sebuah suara yang khas tiba-tiba terdengar dari samping Nayoung. Nayoung memilih untuk mengabaikan Jungkook dan bergegas secepat mungkin. Ia tak ingin terlibat sebuah percakapan dengan mantannya itu.

“Tidak bisakah kau menjauhi Taehyung? Aku tidak ingin sahabatku menjalin hubungan dengan kau.”

“Kenapa? Kau cemburu? Masih menyimpan perasaan padaku?” tanya Nayoung jengkel. Tanpa mereka sadari, mereka telah tiba di depan perpustakaan.

“Permisi, kami ingin mengembalikan kamus bahasa Inggris,” ujar Nayoung begitu memasuki perpustakaan sekolah mereka.

“Taruh saja di atas meja itu.”

Nayoung menuruti perintah salah satu penjaga perpustakaan dan segera meletakkan kamus-kamus tersebut di atas meja. Astaga, tangannya benar-benar pegal karena telah membawa buku seberat itu. Nayoung menoleh ke arah Jungkook dan melihat Jungkook tengah melakukan hal yang sama persis seperti yang Nayoung lakukan.

“Lebih baik kau kembali ke kelas. Biar aku yang mengambil buku yang Ibu Jung minta,” kata Nayoung. Sengaja mengusir Jungkook. Namun, Jungkook menggelengkan kepalanya.

“Aku tidak sebrengsek itu meninggalkan gadis begitu saja.”

“Tapi kau pernah meninggalkan seorang gadis begitu saja,” sindir Nayoung.

“Itu salah gadis itu sendiri, oke?”

Oke. Percuma rasanya melawan Jungkook. Pria itu memang susah untuk dilawan. Nayoung memilih untuk menanyakan letak buku yang Ibu Jung minta, lalu menuju ke rak di mana buku tersebut terletak.

Ia menyadari satu hal.

Jungkook tetap mengikutinya. Dan, ini cukup aneh. Mengingat, pria itu membenci Nayoung. Ia berbalik, dan Jungkook masih berada di belakangnya. Mengikutinya.

“Tak bisakah kau kembali ke kelas saja? Daritadi kau mengikutiku terus,” protes Nayoung. Dibandingkan untuk menuruti Nayoung, pria itu malah tersenyum miring.

“Sudah kubilang, aku tidak sebrengsek itu meninggalkan seorang gadis begitu saja.”

“Kata seorang pria yang pernah meninggalkan seorang gadis begitu saja. Ya, argumenmu tidak bisa kuterima. Jadi, sebaiknya kau kembali ke kelas. Aku tidak ingin berdekatan denganmu.”

Nayoung hendak berbalik, namun lelaki tersebut mencengkram lengannya kuat. Membuat Nayoung tidak bisa menyingkir dari Jungkook.

“Tak ingin berdekatan denganku? Bukankah kau sendiri yang mati-matian mengejarku dulu?” tanya Jungkook sinis. Nayoung bahkan bisa merasakan lengannya kesakitan karena cengkraman Jungkook cukup kuat.

“Tak bisakah kau melepaskan tanganmu? Sakit tahu!” pekik Nayoung jengkel. Namun, Jungkook mengabaikan protes dari Nayoung.

“Lagipula, biar kutunjukan, bagaimana berdekatan yang sesungguhnya.”

“Ap– Hei!”

Dengan cepat, Jungkook menarik Nayoung mendekat, dan melingkarkan tangan satunya ke pinggang Nayoung.

1aae5d828bcd47bc045292259b604d81

“Apakah kau masih ingat?” tanya Jungkook, menatap kedua mata Nayoung tajam. Posisi mereka sangat dekat, bahkan Nayoung bisa merasakan nafas Jungkook pada wajahnya. Hangat.

Tubuh Nayoung membeku di tempat. Tak bereaksi sama sekali. Meskipun ia bisa menggunakan salah satu tangannya yang bebas untuk mendorong Jungkook, sama sekali tidak ia lakukan.

Jungkook tertawa sinis saat melihat Nayoung yang bahkan tak melawan.

“Lihat. Bahkan reaksimu sama sekali tidak berubah. Jangan-jangan, bukan aku yang masih menyukaimu. Tapi malah kau yang masih menyukaiku.”

Mendengar sindiran Jungkook, Nayoung seolah-olah tersadar. Segera ia mendorong Jungkook kuat sehingga mereka berdua terpisah.

Wajah Nayoung memerah. Bukan karena malu, namun karena menahan amarahnya. Bisa-bisanya pria brengsek itu melakukan hal tadi.

“Kau benar-benar brengsek, Jeon!” ujar Nayoung marah.

Tidak mempedulikan permintaan tolong Ibu Jung yang menyuruhnya untuk mengambilkan buku, Nayoung segera pergi keluar dari perpustakaan. Meninggalkan Jungkook di perpustakaan.

Jungkook masih berada pada tempatnya, sebelum ia mengeluarkan ponselnya, lalu berniat untuk menelepon seseorang.

“Kau sudah dapat fotonya?”

“…”

“Bagus kalau begitu.”

“…”

“Lanjutkan apa yang telah kusuruh.”

“…”

Sambungan telepon pun terputus.

Yang tersisa hanyalah seringai tipis milik Jungkook.

-TBC-

(*) fans yang terlalu terobsesi sama idolanya.

tumblr_o2dolb8I4n1u5taugo4_1280

Son Nayoung

.

.

xkcvmxkvmxckvmxkvmkxm9205u295u295u295u2905u295u295u205u2059 (40)

Jeon Jungkook

.

.

xkcvmxkvmxckvmxkvmkxm9205u295u295u295u2905u295u295u205u2059 (147)

Kim Taehyung

.

.

.

tumblr_nn9jfzN0lz1spt29lo1_500

Kim Mingyu

.

.

.

tumblr_nn39bmxI8M1uotx9no1_500

Kim Jiho

.

.

.

maaf lama, feel ga dapet, pendek, dll ._.
aku mutusin buat pake judul kedua.
teaser sudah aku hapus, karena ceritanya ternyata sedikit melenceng dari rencana awal.
walau plot sudah jadi, entah kenapa gabisa ngikuti plot ._.

selanjutnya, aku usahakan lebih baik daripada sebelumnya.

24 responses to “The Fifth Season #1

  1. weh ternyata si nayoung mantan nya jungkook ._. awalnya aku kira cuma temen ‘-‘ ternyata sebenernya ….. hmm
    terus, yg paling bikin penasaran itu yang terakhir , apa maksudnya coba ? jungkook punya rencana apaan ? hayo rencana busuk yo -_-

  2. Jungkook jahat amat dah dia masih suka sama nayoung belum move on gitu tapi kenapa dulu ninggalin kayanya jungkook mau ngejauhin nayoung sama taehyung

  3. Jadi si jungkook itu mantannya nayoung?? Kok disini kesannya jungkook bad boy ya?? Abis kayanya punya niat terselubung diakhir chap tdi?? Next xhap ditunggu ^^

    • yaps ^^ jungkook itu mantannya nayoung
      yang bisa menilai jungkook itu badboy atau enggak itu readers sih, jadi terserah kamu mau nganggep jungkook itu badboy atau enggak😉

  4. Wah jadi ternyata nayoung sama jungkook itu ‘mantan-an’… Kok kuki jahat gitu sih masih belom move on tapi ‘kayaknya’ dulu dia yg ninggalin nayoung:( huhuuu :3
    Wiiihh ini nanti jadi settingnya bukan disekolah ya’-‘? Jadi ini semacam flashback dulu gitu.-? Keknya bakal seruuu hihi😄

    Ditunggu kelanjutannya yaaa^^

    • setting di beberapa chapter awal itu sekolah, selanjutnya beda lagi ^^
      flashback atau enggak, silahkan anda menentukan sendiri ^o^
      kuki baik ah cuma ternistakan disini :((
      kan gatau si kuki masih suka atau sudah benci :))

  5. Apa yang akan di rencanakan oleh Jungkook benarkah ia ingin Nayoung kembali padanya atau ingin menjatuhkan Nayoung dan membuat hubungan Nayoung dan Taehyung hancur. Oh menyebalkan. Next chapternya ya

  6. jng jng kookie emg masi suka ma nayoung,, penasaran gmn awal cerita sampe mereka jd saling nyakitin gtu,,,,

  7. Hoh?? Jungkook sama nayoung punya hubungan ya? Tapi kok putus sih?
    N jungkook kayaknya sengaja deh itu… Biar tae putus ya sama nayoung nya?! Kok gitu sih?? #kebanyaknanya

  8. Yeheyyy… Bakal seruu nihh, antara masa lalu apa masa depan nihh?
    Jadi sbenernya masih sama2 suka kann? Ntah naif apa gimana nihh?
    Oya knapa mreka bisa putus? Salahpaham’kah? Apa sifatnya Jungkook yg rada melenceng?? Wkwk *canda
    Okayy ditunggu next chapter thor, tengkyuu :*

  9. Deym! Jungkooknya jahat! Kan kzl, ngga boleh gitu Kook. Kalo emang ga suka jangan kek gitu seriusan. Jangan” ni anak ntar jadi PHO lagi. Duh, jangaaaann.. Mending sama aku aja /GA! Looohh Mingyu pacaran mulu-_-

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s