La Bonheur [Ficlet] —ARLENE P.

OF

La Bonheur

This family believes in the power of happy!

.

SehunIlanaShaylaMervyn

also

Chanyeol

.

Alternate Universe ¶ Ficlet

London, UK

Fluff, Family, Marriage Life, Romance

PG-17

.

.

Arlene©2016 | DARKLENE

.

.

Decorative_Line_Gold_zps17cf8dd2

Lima tahun berlalu sejak pertama kali janji sehidup-semati mereka ikrarkan di atas altar. Mengucapkan silabel serupa mahar yang pada akhirnya menuntut cukup banyak perubahan serta pengorbanan. Membuat si wanita terpaksa menanggalkan karir cemerlang berselimut ambisinya demi membina keluarga kecil. Merasa beruntung kala dianugerahi sepasang malaikat kecil yang membayar seluruh penat dalam perjalanan. Lupa caranya mengeluh seakan tak acuh pada peluh yang sesekali membanjiri kulit seputih susunya.

Menjadi istri dari seorang Sehun Silverstein yang hidupnya dibalut kemewahan pun tak lantas membuat Ilana terbentuk menjadi karakter yang manja. Alih-alih terlena pada bantuan para pekerja pilihan Sehun, wanita cantik ini lebih senang mengurus keperluan keluarga kecilnya dengan tangan sendiri. Mengambil alih urusan dapur dan memercayakan kebersihan hunian besar mereka ke tangan pekerja rumah tangga yang lain. Bentuk dari sikap patuhnya terhadap larangan Sehun mengingat ukuran rumah mereka yang terlalu menakjubkan untuk ditangani Ilana seorang diri. Ah-ha! Suami mana yang rela membiarkan istrinya kewalahan?

You look so damn hot, Baby.” Bisikan selembut angin dengan piawainya menggelitik pendengaran Ilana. Begitu mengejutkan hingga membuat Si Cantik itu terlonjak dalam posisinya. Bersiap memutar tubuh, namun urung lantaran pinggang sempitnya yang lebih dulu dikuasai kedua lengan besar sang suami dari arah belakang. “Pertama kali aku melihatmu memasak, wajan saja bisa kau sulap menjadi hitam legam. Tapi lihat sekarang! Semua makananmu selalu membuatku dan Si Kembar candu.”

Kekehan gembira diloloskan Si Wanita Kim sebagai balasan. Disusul lentik jemarinya yang mengusap sayang punggung tangan Sehun. “Bisa membantuku membangunkan anak-anak, ‘kan?”

“Beri aku satu kecupan sebagai bayaran.”

“Hun—”

“Menolak permintaan suami itu dosa bagi istri, lho,” sela Sehun sembari mengarahkan kecupan-kecupan lembutnya di perpotongan leher Ilana. Menghirup tamak feromon yang menguar selagi kedua tangan sibuk menggegatkan lingkar kepemilikan. Tak peduli meski tubuh mungil Si Pemilik Violet melemah dihujani manuver berlebih. Alih-alih berhenti, bibir Pria Silverstein ini justru kian gencar menyesap permukaan kulit sang istri yang selalu terasa manis dalam inderanya. Enggan berhenti, sampai …

Watt al yu duing to Mommy, Dad?”

… Si Mungil Shayla bersuara dengan aksen menggemaskannya. Memaksa Sehun untuk segera melepas kuasa dan mencipta spasi kecil. Bergegas membawa putri cantiknya tersebut ke dalam gendongan di saat bibir tipisnya sibuk mengulas senyum canggung.

“Ayah baru saja membersihkan keringat ibumu, Sayang,” jawab Sehun asal yang kontan membuat sepasang fokus Ilana membulat—tak percaya. Namun, belum sempat istrinya itu melancarkan aksi protes, baritonnya dengan tangkas menguasai percakapan. “Shayla bau. Kenapa belum mandi?”

Dengan raut sok dewasanya, Shayla mengetuk dagu dengan jari. Memutar malas bola matanya yang sewarna dengan milik sang ayah, baru setelahnya memberi jawaban. “Ayah ini bagaimana, sih? Shayla ‘kan belum bisa mandi sendili, makanya Shayla kemali untuk minta bantuan. Melvyn juga belum bangun, padahal Shayla sudah sekuat tenaga mencubit kedua tangan dan kakinya. Melvyn kalau tidul ‘kan sama kelbaunya sepelti Ayah.”

Setengah kesal, Sehun mencubit pipi tembam sang putri. Garis wajahnya bermuram, kentara tak senang. “Siapa yang mengajari Shayla bicara begitu, huh?”

“Ibu,” jawab Si Kecil polos. “Padahal Shayla lihat di intelnet, kelbau tidak tidul dengan mulut telbuka dan bellendil sepelti Ayah ‘kan ya?” tambahnya yang kian mengejutkan sang ayah. Namun, bukannya berhenti meracau, Shayla dengan suka cita menambahkan, “Bagaimana kalau Shayla tidak pellu mandi? Ayah bisa belsihkan Shayla sepelti Ayah membelsihkan kelingat Ibu tadi.” Seolah lisan saja tak cukup, Si Kecil pun merangsek—mendekati cekungan leher Sehun. Menduplikasi kegiatan kecil sang ayah yang sempat tertangkap fokusnya beberapa saat lalu.

“Eh-eh-eh. Lho?” Setengah panik, Sehun menjauhkan diri. Menghentikan lidah kaku Shayla yang belum lama menjilati permukaan kulit, lalu meringis saat ekor matanya menangkap raut sebal Ilana. “Cara seperti itu hanya boleh dilakukan orang dewasa, Sayang. Shayla ‘kan belum cukup umur.”

Anggukan paham diberikan Shayla sebanyak dua kali. “Berarti kalau Shayla sudah sebesal Ayah dan Ibu, Shayla boleh mencobanya bersama Melvyn ya?”

“Boleh, sih. Tapi jangan bersama Mervyn, Sa—Aw!” Satu pukulan telak di punggung pun menelan habis sisa silabel Sehun. Membuatnya mengaduh meski serangan yang diberikan Ilana tak seberapa menyakitkan. 

“Jangan ajari anak kita hal yang tidak-tidak!” sungut Ilana sebelum mengalihkan pandangannya kepada Shayla. Mengecup pipi tembamnya, kemudian mengulas senyum simpul di bibir. Mengusak gemas surai kecokelatan putrinya yang memanjang—melewati bahu. “Lebih baik Shayla mandi bersama Ayah ya? Setelah itu kita sarapan dan pergi ke rumah kakek.”

“Kakek? Kakek Icad? Malas ah.” Setelahnya Shayla cemberut. Mengerucutkan bibir membayangkan wajah Richard yang belum mampu dilafalkan lisannya secara tepat. “Kakek Icad menyelamkan. Shayla mau main ke lumah Paman Tampan saja.”

“Paman Tampan juga ikut ke rumah Kakek Richard, kok,” timpal Ilana.

“SELIUS? Ya sudah, Shayla mau mandi bial cantik.” Tubuh kecil Shayla bergoyang penuh semangat dalam gendongan Sehun. Sesekali tangannya memukuli bahu sang ayah agar lekas beranjak. “Ayo, Ayah! Kita bangunkan Melvyn lalu mandi,” ajaknya sembari ganti menepuk-nepukkan kedua tangan di depan dada.

Sehun melenguh sebal. Menatap Ilana sebentar dengan bibir mencebik kentara. Melempar satu bisikan pelan yang menuai kekehan geli sang istri, sebelum mengamini keingininan putrinya. “Aku curiga Chanyeol berubah menjadi pedofil karena gagal mendapatkanmu, La.”

Decorative_Line_Gold_zps17cf8dd2

Bertepatan dengan makanan yang rampung ditata di atas meja, Sehun kembali bersama kedua anaknya dalam gendongan. Lengan kemeja pun dilipatnya hingga siku, memamerkan urat-urat lengannya yang menonjol dengan teramat jantan. Mengundang satu lengkungan di bibir ceri istrinya yang tampak begitu bahagia melihat harmonisasi indah yang dihasilkan keluarga kecilnya di depan mata.

“Kenapa belum berpakaian?”

Sehun mendengus. Menunjuk wajah jenaka Mervyn melalui dagu, kemudian membiarkan anak lelakinya itu menjawab pertanyaan sang ibunda. “Kami tidak mau pakai pakaian pilihan Ayah. Selela Ayah ‘kan buluk, Mom.”

“Biar Paman saja yang pilihkan untuk kalian.” Tak dinyana, sosok jangkung Chanyeol muncul dari arah pintu. Tak sempat mengumbar salam lantaran tergoda untuk lekas mengambil alih dua keponakan tercinta. Membawa sosok-sosok mungil berbalut handuk itu ke dalam gendongan tanpa memedulikan jas hitamnya yang berubah basah di bagian depan. Kendati mengeluh, Pria Park ini justru dengan riangnya mengecup dua puncak kepala Si Kembar. Terkekeh sebentar begitu mendapati penolakan kecil yang diberikan Mervyn. Sungguh berbanding terbalik dengan sosok cantik Shayla yang merona sembari menyandarkan pipi di dada Chanyeol.

“Shayla lindu sekali pada Paman. Paman ke mana saja?”

“Nanti Paman halus temani Melvyn main Play Station.”

“Tidak bisa! Paman Tampan ‘kan pacalnya Shayla. Melvyn main saja sama Ayah!”

“Tidak mau! Melvyn bosan sama Ayah!”

“Ih, Melvyn!”

“Ap—”

“Ssst,” Chanyeol mendesis lembut. Mengeratkan gendongannya sebelum melayangkan kecupan lainnya untuk kedua makhluk kecil tersebut. Menghentikan perdebatan kecil yang sukses membuat Sehun mengumpat dalam posisi. Kentara cemburu melihat dua malaikat kecilnya yang lebih senang memerebutkan Chanyeol ketimbang dirinya sendiri. “Sekarang kita cari pakaian untuk kalian, lalu sarapan, baru setelahnya kita bertiga bebas bermain di rumah Kakek Richard, oke? Nanti ada Paman Baekhyun juga.”

“Paman Baekhyun?” Mervyn tampak tertawa riang. “Berarti akan ada Tante Eve juga ya? Aah, hali ini Melvyn halus bisa melebut Tante Cantik dari Si Paman Belisik itu. Pasti bisa! Ayo, Paman! Buat Melvyn tampan hali ini supaya Tante Eve belpaling pada Melvyn.”

“H-Huh?” Sehun dan Ilana terlongong bersamaan. Sesekali bertukar pandang, sebelum mencecar kembali punggung Chanyeol yang kini bergerak menjauh. Jatuh lemas dengan tubuh mungil Ilana yang terkunci dalam pangkuan Sehun. Membisu selama sepersekian menit, sampai bariton Sehun kembali meregas kuasa sepi. “Apa ini karena aku pernah gagal memenuhi permintaanmu di usia kandungan yang ketiga bulan ya, La? Bagaimana bisa Shayla lebih senang berada dalam pelukan Chanyeol?”

“Dan bagaimana bisa Mervyn lebih menyukai Evelyn?” sambung Ilana. Tak lupa menolehkan pandangan, menyambut cecaran obsidian Sehun seraya menggigit bibir. Menahan debaran liar yang tak pernah hilang setiap kali dihadapkan pada ketampanan sang suami di tengah minimnya jarak. Terpejam saat tangan-tangan mahir Sehun menyeka gemas peluh di dahi. Terlena dihadiahi kecupan selembut kapas di puncak kepala, hingga terlupa pada beban kecil yang sebelumnya mengusik ketenangan pikiran.

Ilana baru membebaskan penglihatan saat derai tawa Sehun dengan merdunya mengalun, menggelitik sistem impuls. “Tapi ada untungnya Chanyeol datang dan mengambil alih dua pengganggu cilik itu. Setidaknya kita bisa melanjutkan kegiatan kita yang tertunda,” ungkap Si Pria Silverstein disusul jari telunjuknya yang mendarat di atas permukaan bibir. Menekan sedikit dengan gerakan seduktif. “Mana jatahku pagi ini, Sayang?”

Berbeda dengan sebelumnya, Ilana tak lagi menolak. Alih-alih protes, wanita ini justru dengan senang hati mengubah posisi. Duduk di atas pangkuan Sehun dalam keadaan berhadapan, untuk kemudian melingkarkan tangan di leher suami tampannya tersebut. Mengawalinya dengan sapuan lembut di kedua sudut bibir, berakhir dengan pertautan indera perasa yang siap mencapai klimaks. Membakar gelora yang semula tertidur atas perintah tendensi, lantas melemah pada tawaran adrenalin yang membawa mereka berlari dalam hasutan dopamin.

Tangan Sehun sendiri tak lagi diam. Menelusuri lekuk tubuh sang istri, bahkan meremas jahil di beberapa bagian. Sesekali menekan pusat tubuh keduanya yang selalu layak menjadi bukti gairah. Nyaris lupa diri kalau saja suara melengking Mervyn dan Shayla tidak bergantian menampar pendengaran. Membuat sepasang suami istri ini terengah di antara batasan yang dipaksa agar tercipta. Saling menjauh dan melancarkan pengkhianatan terhadap rayuan syahdu duniawi.

“AYAAAH! PAMAN CHANYEOL BALU SAJA MENGHANCULKAN LEMALI KAMI!”

“BISA BANTU KAMI ‘KAN, BUUUU?”

Dalam sekali gerakan, Sehun menjauhkan tubuh mungil Ilana dari pangkuan. Merutuk sebentar, sebelum memutuskan untuk menuntun langkah istri tercintanya tersebut menuju sumber suara. “Kenapa mereka tidak pernah membiarkan ayahnya bahagia sebentar saja, sih?”

Ilana terkekeh. Menghentikan langkah, lalu membimbing Sehun agar melakukan hal serupa. Tak berselang lama, dirangkumnya ketampanan Pria Silverstein itu. Tersenyum manis di tengah peraduan netra sembari membenahi posisi kerah kemeja Sehun yang tadi dikacaukan tangan nakalnya sendiri. “Aku mencintaimu, Sayang.”

Tak urung, Sehun ikut menarik kedua sudut bibir. Balas menangkup sisi kanan-kiri wajah Ilana, untuk kemudian ia kecup lama puncak surainya. “Aku jauh lebih mencintaimu, Sayang.”

“AYAAAAAAH? IBUUUUUU? KENAPA LAMA SEKALI?”

“Ya, Tuhan! Kenapa mengurus mereka tidak semudah saat membuatnya ya?” gerutu Sehun ambigu lantas meneruskan langkah. Melanjutkan aktivitas rumah tangga mereka yang sejatinya selalu dipenuhi kebahagiaan dengan kehadiran keluarga besar lainnya sebagai pemanis.

Kecuali Chanyeol bagi Sehun.

Dan, yeah, Evelyn bagi Ilana.

Hehe.

Bercanda, kok!

.

.

.

F I N

.

.

Sehun Silverstein (29 y.o)

CaiB9MoUMAAqTRP

.

Ilana Kim (28 y.o)

LA

.

Shayla Silverstein (3½ y.o)

SHYL

,

Mervyn Silverstein (3½ y.o)

merv

.

.

Ini apaan? Tau deh. La Bonheur artinya apaan? Kebahagiaan guysKok nyambung sama PF ya? Emang sih. Spoiler ending PF ya? Bukan kok. Tapi kalo seumpamanya PF aku bikin happy ending kemungkinan besar jadinya bakal kek gini/? Katanya mau hiatus? Ya iya sih. Tapi kok libur gak ngapa-ngapain malah gak enak. Yang dikejar juga belum ada. Kerjaan belum capek-capek banget. Jadi, jangan kaget kalo sesekali aku muncul di tengah masa yang aku sebut hiatus kemaren atau malah sesekali masih sanggup nerusin FF chaptered yang ongoing.

Semoga bisa menghibur dan maaf kalo absurd parah -_- Sampe ketemu di lain kesempatan. Ditunggu feedbacknya dan jangan lupa jaga kesehatan kalian. Love ya, cims :*

.

.

Sincerely,

—Arlene P.

Advertisements

106 responses to “La Bonheur [Ficlet] —ARLENE P.

  1. JANGAN KASIH SPOILER KALO KAKAK MASIH HIATUS 😩😩😩😩
    AKU JADI KEBELET BACA PFNYA KAKAKKKKKKKK MAHHHH 😩😩😩😩
    SEMANGAT NULIS LAGI YA KAK, AKU TUNGGU LOH YEEE PF NYA..
    Sama sama kak jaga kesehatan, ejiee kakak emang kerja dimana ? Jakarta?

    • Aku udah gak hiatus kok. Caps kamu keinjek pantat sehun apa ya? 😂 Aku ada bikin FF kok, tp post di wp personal. Cek aja kalo masih kangen huahaha. Aku kerja di Cikarang dek 😁

      Sincerely,
      Arlene P.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s