YOU ARE – by noonapark

IMG_20160312_071512

|| Title : YOU ARE | Cast : Park Chanyeol and Shin Eunsoo (OC) | Genre : Romance, Comedy | | Ratting : General | Lenght : One (long) Shoot [<14.000 words] ||

*

*

***

_

_

_

Pernah tidak, kau merasa berada di suatu waktu dimana dunia seolah tidak lagi berpihak padamu?

Lelah. Jenuh. Jengkel. Ingin marah tapi bingung pada siapa kau akan meluapkan amarahmu. Kau merasa tidak ada satu orangpun yang bisa mengerti isi hatimu. Kau merasa ingin melenyapkan diri dari muka bumi namun sebagian kecil hatimu masih berharap untuk menyaksikan indahnya mentari di esok hari. Kau merasa begitu terbelenggu. Kau benar-benar tidak tahu apa yang sebaiknya harus kau lakukan di saat-saat seperti itu.

Saat-saat yang sulit, bukan?

Sedikit banyak manusia di dunia ini pasti pernah merasakan saat-saat seperti itu.

Dan Shin Eunsoo adalah salah satunya.

Ya, gadis dua puluh lima tahunan itu tengah merasakan saat-saat paling buruk dalam sepanjang sejarah hidupnya. Eunsoo benar-benar tidak tahu harus melakukan apa. Satu-satunya hal yang bisa Ia lakukan saat ini hanyalah duduk bersila di tengah-tengah kasur sambil memandangi langit malam dari balik jendela kamarnya yang terbuka. Tatapan matanya kosong. Wajahnya terlihat suram, kontras dengan rambut kecokelatan miliknya yang terlihat sangat kusut dan acak-acakan. Bekas air mata di pipinya belum sepenuhnya kering, bulu matanya pun terlihat sedikit basah. Eunsoo bahkan tidak sadar jika kaos rumahan warna putih polos yang Ia kenakan saat ini dalam keadaan terbalik.

“Keterlaluan. Tuhan.. kenapa Kau kejam sekali padaku?” Suara Eunsoo terdengar lirih. Setelah itu, isakannya kembali terdengar. Hanya selang beberapa menit kemudian, Eunsoo mulai meraung-raung sambil memukuli bantal di atas pangkuannya.

Eunsoo sedih. Sedih sesedih-sedihnya.

Sesungguhnya, Eunsoo seperti ini bukanlah tanpa alasan.

Ya, alasan.

Alasan pertama, tadi pagi Eunsoo bangun kesiangan. Karena bangun kesiangan, Eunsoo terlambat masuk kelas hingga dosen Lee tidak mengijinkan Eunsoo masuk kelas lantaran saat Eunsoo datang, kelas akan berakhir sepuluh menit lagi. Alasan kedua, hari ini dosen Kim menolak revisi skripsi Eunsoo (lagi), padahal Eunsoo sudah berusaha mengerjakan sebaik mungkin sampai Ia tidur sangat larut malam selama beberapa minggu terakhir (hal itulah yang membuat Eunsoo sering bangun kesiangan akhir-akhir ini). Parahnya, bukan memberi nasihat atau semangat pada Eunsoo, dosen Kim malah memarahi Eunsoo dan mengatakan bahwa beliau lelah menjadi dosen pembimping Eunsoo.

Eunsoo sadar, mungkin karena otak lamban yang tertanam di dalam kepalanya itulah Eunsoo menjadi mahasiswa paling tua diantara mahasiswa lain yang sedang menggarap skripsi saat ini. Eunsoo ingat, teman-teman seangkatannya sudah lulus lebih dulu sekitar dua tahun yang lalu. Sementara Eunsoo, Ia masih saja harus berurusan dengan nilai mata kuliah yang rendah dan tugas-tugas yang sulit Ia selesaikan.

Alasan selanjutnya, saat pulang dari kampus sore tadi, hujan deras mengguyur kota Seoul. Eunsoo berusaha berlari secepat yang Ia bisa menuju halte terdekat dari kampusnya, sambil mendekap erat-erat tasnya di depan dada. Namun saat halte tinggal beberapa meter lagi darinya, sebuah mobil melintas dan bannya menabrak genangan air ditepi jalan. Jangan tanyakan kemana perginya cipratan air yang berwarna cokelat dan kotor itu. Tentu saja mengenai tubuh Eunsoo, termasuk wajah dan rambutnya. Airnya bahkan sampai menembus tas selempang Eunsoo dan membasahi buku-buku kuliahnya (termasuk skripsi, dan beberapa buku perpustakaan kampus yang baru Eunsoo pinjam tadi).

Setelah terkena cipratan air itu, Eunsoo menghentikan pergerakan kakinya. Ia mengerang kesal lalu mengumpati mobil sedan putih yang melaju menjauhi dirinya. Saat Eunsoo belum puas mengumpati pemilik mobil sedan putih itu, Eunsoo menyadari sebuah bus melewatinya, Eunsoo kembali berlari, namun bus hanya berhenti sebentar karena hanya ada satu orang dari halte di depan sana yang naik ke dalam bus. Supir bus kembali menjalankan busnya tanpa mengetahui Eunsoo tengah berteriak sambil melambaikan satu tangannya tak jauh di belakang bus.

Akhirnya, Eunsoo tertinggal. Kemudian Eunsoo hanya bisa duduk terdiam di halte sampai malam pun tiba. Baterai ponselnya habis hingga Eunsoo tidak bisa menghubungi siapapun untuk menolongnya. Saat malam, hujan baru mereda. Pakaian Eunsoo yang semula basah sampai mengering dengan sendirinya. Wajah Eunsoo tampak pucat karena kedingingan, Eunsoo juga merasa lapar, namun Ia hanya bisa menunduk ditemani buku-buku yang Ia jejer di atas kursi halte disamping tubuhnya. Eunsoo bermaksud mengeringkan buku-buku itu, namun beberapa saat yang lalu beberapa anak sekolah berteduh di halte dan salah satu diantara mereka tidak sengaja menumpahkan kopi panas di atas buku-buku perpustakaan kampus yang Eunsoo pinjam. Eunsoo tidak bisa berbuat apa-apa, dunianya terasa hancur. Andai anak-anak itu tahu betapa mengerikannya penjaga perpustakaan di kampus Eunsoo, mereka mungkin akan berpikir dua kali bahkan hanya untuk menyentuh buku-buku itu.

Eunsoo merasa hari ini begitu buruk untuknya. Ia menunggu bus terakhir hingga jam delapan malam. Di dalam bus Eunsoo berusaha berpikir positif. Eunsoo membayangkan sesampainya di rumah Ia akan mandi dengan air hangat. Lalu Ibunya akan memasakkan daging dan membuatkan cokelat panas untuknya. Setelah itu Eunsoo ingin tidur dengan nyaman diatas kasurnya yang empuk dan dibawah selimutnya yang tebal dan hangat. Lalu tidur dan bermimpi indah melupakan kesialannya hari ini untuk sejenak.

Namun apa yang terjadi sesampainya Eunsoo di rumah justru sebaliknya.

Saat Eunsoo melewati pintu dengan keadaan yang buruk seperti itu, Ayah dan Ibunya justru memberikan kabar buruk bagi Eunsoo. Mereka mengatakan bahwa mereka akan menjodohkan Eunsoo, dan pernikahannya tidak akan lama lagi. Demi neptunus, mendengarnya membuat debaran jantung Eunsoo sempat berhenti sejenak.

Apa?! Menikah?!

Eunsoo bahkan belum berhasil mengumpulkan keberanian untuk sekedar menyapa Kim Joonmyeon—seniornya dulu saat SMA yang saat ini bekerja sebagai staff di kampus tempat Eunsoo menempuh pendidikan. Eunsoo begitu menyukai pria bermarga Kim itu sampai-sampai Eunsoo mengecapnya sebagai cinta pertama. Karena Kim Joonmyeon juga, Eunsoo berusaha sangat keras dan bertekad bahwa Ia harus lulus kuliah pada tahun ini. Eunsoo ingin, saat Ia memutuskan untuk berani berhadapan dengan Joonmyeon, Eunsoo sudah menjadi wanita yang sukses (sukses menyelesaikan skripsi saja sudah cukup bagi Eunsoo).

Tapi sekarang apa yang terjadi? Orang tua Eunsoo akan menjodohkannya? Eunsoo akan dinikahkan dengan pria yang tidak Ia kenali?

Buruk. Eunsoo merasa berita perjodohan itu bahkan lebih buruk daripada otak lamban yang Ia miliki saat ini.

“Tidak adil. Kenapa semua ini harus terjadi padaku?” Eunsoo menggerutu pelan. Ia tengah berdiri di depan lemari pakaian sambil memasang sweater hangat berwarna pink ke tubuhnya. Raut wajahnya tampak begitu kesal. Bekas air mata yang belum sepenuhnya kering Ia hapus dengan kasar menggunakan punggung telapak tangannya. Lalu, gadis itu berjalan menuju pintu kamar, keluar sembari menguncir rambutnya di atas ubun-ubun.

Saat ini jam 10 malam lebih lima menit. Di ruang tamu yang lampunya dalam keadaan mati itu, Eunsoo berjalan dengan langkah hati-hati menuju pintu keluar. Setelah berhasil keluar rumah tanpa sepengetahuan siapapun, Eunsoo berjalan dengan langkah malas menuju minimarket yang buka dua puluh empat jam yang berada tak jauh dari rumahnya.

Untuk kesekian kali, Eunsoo membuang napas yang terdengar berat. Eunsoo ingat, saat orang tuanya membicarakan soal perjodohan dan pernikahan, Eunsoo dengan tegas menolak. Eunsoo bahkan mengancam akan mogok makan jika kedua orang tuanya tetap memaksa dirinya untuk menikah. Tapi hanya selang beberapa jam kemudian, perut Eunsoo terasa sangat melilit. Ia benar-benar lapar.

“Ck! Kenapa kau tidak bisa diajak kompromi, huh?” Eunsoo mengomel sambil mengusap-usap kasar permukaan perutnya sendiri. Ia mendecak sebal, lalu meringis karena rasa laparnya semakin tak tertahankan.

Tak jauh di depan sana, bangunan minimarket sudah terlihat dalam penglihatan Eunsoo. Ia pun mempercepat langkah, kemudian masuk dan menghampiri pria muda yang berdiri di belakang meja kasir.

“Aku ingin memesan dua cup ramen dan dua gelas minuman. Aku ingin makan di sini, kau bisa cepat?” Kata Eunsoo tak sabaran.

Pria itu tersenyum tipis. “Maaf, Nona. Tapi ramennya sudah habis.”

Air muka Eunsoo seketika berubah. Kekesalan semakin terpetak jelas di wajahnya. “Kalau begitu ramen yang lain. Aku akan membuat sendiri di rumah.”

Pria itu kembali tersenyum tipis. “Ramen yang lain juga sudah habis, Nona. Hari ini toko ramai sekali dan persediaan kami bahkan sampai kurang. Mungkin besok pagi baru datang.”

Eunsoo mendengus. Ya Tuhan, kesialan apalagi yang sedang menimpanya kali ini?

Eunsoo pun menatap penjaga kasir itu dengan tatapan seolah ingin menangis. “Lalu bagaimana?! Kau ingin menyuruhku untuk menunggu sampai besok pagi?! Apa kau sudah gila?! Apa kau tidak tahu aku sangat lapar sekarang?!”

Penjaga kasir itu menatap Eunsoo bingung, Ia bahkan sampai memundurkan kepala seolah takut kalau-kalau ada sesuatu yang tiba-tiba menyembur keluar dari mulut Eunsoo karena kerasnya seruan gadis itu.

“Kau..” Suara Eunsoo melemah. Tiba-tiba teringat tentang hidupnya yang begitu menyedihkan selama ini membuatnya ingin menangis rasanya. Mata Eunsoo pun mulai memerah. “Apa kau tidak tahu apa yang telah terjadi padaku hari ini? Maksudku.. apa yang terjadi hari ini membuatku tidak bisa memikirkan tentang masa depanku sedikitpun.”

Penjaga kasir itu menatap Eunsoo dengan tatapan aneh. Ia tak berkedip.

“Tidak ada satupun orang yang mau mendukungku. Dan kau..” Eunsoo menatap penjaga kasir itu dengan mata semakin berkaca-kaca. “Aku hanya memintamu membuatkan ramen untukku. Aku sangat lapar. Tapi mengapa kau malah berkata tidak-tidak padaku?”

Kulit kening penjaga kasir itu berkerut samar. Merasa bingung. Memangnya apa yang telah Ia katakan pada Eunsoo? Ia hanya mengatakan bahwa persediaan ramennya telah habis. Mengapa Eunsoo sampai berkata seperti itu padanya?

Lantas penjaga kasir itupun memaksakan senyuman sembari mencoba menjelaskan. “Be-begini Nona. Aku tidak berbohong. Persediaan ramen kami benar-benar telah ha—“

“Aku lapar!!” Pekik Eunsoo tiba-tiba. Ia mendekatkan wajahnya pada si penjaga kasir membuat penjaga kasir itu melotot menatapnya. “Kau tidak ingin memberiku makanan, huh? Sekarang! Aku ingin makananku sekarang!!”

.

.

Eunsoo keluar dari minimarket dengan membawa plastik berisi beberapa roti di dalamnya. Sembari berjalan menjauh dari minimarket, Eunsoo menggerutu. Teringat saat Ia mengamuk pada si penjaga kasir namun penjaga kasir itu justru balik memarahinya. Ternyata penjaga kasir itu jauh lebih menyeramkan darinya. Eunsoo bahkan sampai terkejut saat penjaga kasir itu membentaknya dan menyuruh Eunsoo untuk pergi ke toko lain saja. Hingga akhirnya Eunsoo hanya bisa mengangguk ketakutan sebelum akhirnya melesat pergi, mengambil beberapa roti dari rak lalu membayarnya dan segera keluar dari toko.

Eunsoo membuang napas yang terdengar berat. Bangunan minimarket itu masih terlihat tak jauh dari belakang tubuhnya saat Eunsoo menghentikan langkah. Gadis itu menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong sembari meratapi semua hal yang terjadi padanya hari ini. Eunsoo benar-benar lelah. Apalagi jika mengingat Ibunya yang mengatakan bahwa calon yang akan dijodohkan dengannya akan datang ke rumah Eunsoo besok. Rasa-rasanya Eunsoo tidak ingin berada di hari esok. Apa Ia harus bunuh diri saja saat ini?

Eunsoo melirik badan jalan di sampingnya. Ada beberapa mobil yang terlihat masih melintas. Apa Ia harus berdiri di tengah jalan dan menabrakkan dirinya pada mobil-mobil yang melintas itu?

Tidak-tidak. Eunsoo pun menggeleng pelan. Eunsoo ingat, beberapa hari yang lalu keningnya terbentur dengan permukaan pintu lemari. Rasanya benar-benar sakit. Apalagi jika menabrakkan diri pada mobil? Rasanya pasti jauh lebih sakit. Mungkin sakit itu tidak akan lama jika Eunsoo langsung mati di tempat. Tapi bagaimana jika Eunsoo tetap hidup setelah tertabrak mobil? Ia tidak mati melainkan mengalami patah tulang atau semacamnya, atau gagar otak yang akan menyebabkan Ia menjalani sepanjang sisa umurnya dengan keadaan cacat mental? Ugh, benar-benar mengerikan.

Okay, lupakan tentang bunuh diri. Bagaimanapun juga, besok akan tiba saat nya. mungkin Eunsoo akan kabur saja dari rumah. Ya, itu lebih baik dari pada bunuh diri. Eunsoo mengangguk pelan menyetujui pemikirannya. Ia barusaja akan kembali melangkah namun ujung matanya lebih dulu menyadari sesuatu.

“Oh?” Eunsoo bergumam, sembari menoleh ke arah mobil sedan berwarna hitam yang menepi tak jauh darinya. Ia memutar badan mengikuti arah mobil itu yang kemudian berhenti di depan bangunan minimarket tadi.

Eunsoo kenal mobil itu. Mobil itu adalah milik Joonmyeon. Dan benar, tidak lama setelah mobil itu berhenti, Joonmyeon dengan pakaian casualnya tampak keluar dari mobil.

“Joonmyeon oppa.” Eunsoo bergumam pelan. Lihat, melihat pria itu dari jarak beberapa meter saja sudah membuat Eunsoo tersenyum tanpa sadar. Lantas Eunsoo segera merapikan rambut dan pakaiannya. Dengan cepat otaknya memikirkan sebuah ide; Eunsoo akan mengikuti Joonmyeon masuk ke dalam minimarket dan pura-pura membeli sesuatu agar Ia bisa melihat sosok Joonmyeon dari jarak yang lebih dekat. Ya, begitu. Eunsoo akan melakukannya.

Di depan sana Joonmyeon berjalan mendekati pintu masuk minimarket. Eunsoo pun mulai mengambil langkah maju. Namun saat Joonmyeon barusaja akan mendorong pintu masuk minimarket, terdengar sebuah suara.

Oppa!”

Joonmyeon menghentikan pergerakan kakinya.

Eunsoo pun ikut berhenti melangkah. Kemudian Eunsoo memperhatikan Joonmyeon yang kini menoleh ke arah mobilnya. Dari mobil itu, keluar seorang wanita cantik dengan surai hitam sebahu. Pakaian wanita itu tampak elegan, terlihat cocok sekali dengan Joonmyeon. Ketika wanita itu berjalan cepat menghampiri Joonmyeon, Joonmyeon menyambut kedatangannya dengan senyuman hangat, senyuman hangat yang belum pernah Eunsoo lihat sebelumnya. Lalu Joonmyeon meraih telapak tangan wanita itu dan menggenggamnya erat-erat. Wanita itu tampak menggerutu karena Joonmyeon meninggalkannya. Joonmyeon kemudian meminta maaf sambil mengelus pipi sang wanita lalu mereka masuk ke dalam minimarket bersama. Sosok mereka hilang dibalik pintu minimarket, menyisakan Eunsoo yang kini mematung di tempatnya.

Sungguh, Eunsoo merasakan dadanya benar-benar sesak. Pandangannya menjadi kabur karena air bening yang menggenang di pelupuk matanya. Dari cara Joonmyeon memandang wanita itu tadi, tersenyum pada wanita itu, memperlakukan wanita itu, cukup membuat Eunsoo mengerti bahwa Joonmyeon pasti memiliki hubungan yang khusus dengan wanita itu. Kenapa Eunsoo baru mengetahuinya? Dan kenapa.. semuanya harus terjadi hari ini? Sepanjang hari ini terasa begitu buruk bagi Eunsoo, ditambah kejadian barusan membuat semuanya terasa berlipat-lipat lebih buruk.

Eunsoo pun menunduk, memperhatikan sandal jepit yang Ia kenakan saat ini, memperhatikan celana tidur yang Ia kenakan, memperhatikan baju—astaga, Eunsoo baru sadar jika kaosnya terbalik. Eunsoo langsung mendongak menatap jejak Joonmyeon di ambang pintu minimarket. Tidak ingin Joonmyeon melihat keadaannya yang seperti ini, Eunsoo pun lekas berbalik, lalu mengambil langkah cepat untuk pergi.

Eunsoo berjalan secepat yang Ia bisa. Ia mulai menangis, seraya kedua tangannya menggenggam plastik berisi roti yang masih Ia bawa. Dalam hati, Eunsoo membatin, Ia merasa bahwa saat ini Ia adalah wanita paling bodoh di dunia. Eunsoo baru sadar, bahkan untuk sedikit saja menyukai seorang Kim Joonmyeon sangat tidak pantas untuknya. Joonmyeon adalah pria yang pintar dan berkelas, sementara dirinya? Ya Tuhan, mengapa semua ini harus terjadi padanya? Apa Tuhan sedang menghukumnya atas kesalahan yang mungkin tidak Eunsoo sadari? Jika memang itu alasannya, Eunsoo berjanji akan memperbaiki dirinya setelah ini.

Eunsoo tidak langsung pulang ke rumah. Tak jauh dari rumahnya ada sebuah taman kecil di tepi jalan. Eunsoo tengah duduk di sebuah kursi panjang sembari membuka plastik berisi beberapa roti yang Ia beli. Eunsoo kemudian membuka plastik pembungkus roti itu sebelum akhirnya mengambil satu gigitan secara perlahan. Mulut Eunsoo kini penuh dengan roti dan gadis itupun mengunyahnya secara perlahan pula, pandangannya menunduk, matanya masih terihat basah dengan air mata.

Kenangan-kenangan tentang Joonmyeon kini berputar cepat dalam ingatan Eunsoo. Joonmyeon mungkin lupa jika Eunsoo adalah gadis SMA yang dulu Ia tolong saat Eunsoo hampir saja jatuh ketika akan turun dari bus. Ya, Joonmyeon bisa saja melupakannya, tapi Eunsoo tidak. Eunsoo justru menyimpan baik-baik kenangan itu jauh di dalam hatinya. Eunsoo ingat bagaimana tangan hangat Joonmyeon saat menahan tubuhnya saat itu, Eunsoo ingat bagaimana indahnya senyuman Joonmyeon saat mengatakan agar Eunsoo lebih hati-hati saat itu. Eunsoo ingat, mulai saat itu diam-diam Ia memperhatikan Joonmyeon. Dan perasaan tertarik pada Joonmyeon tumbuh dengan subur di dalam hatinya.

Eunsoo bahkan belum berani berdiri tepat di hadapan Joonmyeon, padahal Eunsoo ingin sekali memanggil nama pria itu sambil menatap matanya. Tapi kejadian yang terjadi beberapa saat yang lalu benar-benar seperti sebuah tamparan keras yang membuat Eunsoo bangun dan tersadar dari mimpi-mimpi indahnya. Benar-benar menyakitkan. Eunsoo tidak menyangka jika perasaan yang selama ini Ia jaga dengan sangat baik akan berakhir bahkan sebelum Ia mengungkapkannya.

“Kau benar-benar bodoh, Eunsoo.” Eunsoo bergumam dengan suara yang terdengar bergetar. Ia kembali menggigit roti isi cokelat kesukaannya, namun entah kenapa rasa roti itu saat ini benar-benar sangat pahit di lidahnya. “Kau benar-benar bodoh.” Suaranya kini terdengar tidak begitu jelas karena mulutnya penuh dengan roti. “Kau benar-benar…” Eunsoo tidak mampu lagi melanjutkan kata-katanya. Tenggorokannya terasa tercekat. Dan detik selanjutnya, air bening itu kembali membobol dinding pertahannya.

Eunsoo menangis. Ia menundukkan wajahnya dalam-dalam seraya kedua tangannya meremas roti yang ada di pangkuan. Suara sesenggukannya memenuhi taman kecil yang tampak sepi malam ini.

“Kenapa aku lahir dengan keadaan seperti ini?” Cerca Eunsoo ditengah-tengah tangisnya. Ia mengangkat wajah dan melanjutkan. “Bodoh! Tidak berguna!” Serunya, membuat remah-remah roti sedikit muncrat dari mulutnya. Eunsoo kembali menggigit rotinya, kali ini dengan nada kasar. “Setelah ini apalagi yang akan terjadi padaku, huh? Apalagi ya Tuhan!” Eunsoo kembali menangis, lalu mengambil roti yang Ia letakkan di sisi tubuhnya, membukanya dan memakannya dengan nada kasar. “Aku bahkan tidak bisa makan dengan tenang saat perutku terasa sangat lapar.” Ujarnya, kali ini dengan lirih. Eunsoo pun kembali menunduk dan kembali menangis setelah itu.

Eunsoo terus berada di taman itu sampai beberapa saat kemudian. Tanpa Eunsoo tahu, tak jauh di hadapannya, seseorang yang berdiri di sebrang jalan terlihat tengah memperhatikannya. Sosok tinggi itu berdiri di sisi mobilnya, mengenakan pakaian casual yang tampak pas nan elegan di tubuhnya yang tinggi dan tegap. Bibirnya melengkung tipis disusul gumaman yang kemudian terlontar dari bibirnya. “Sebentar lagi, saat waktunya sudah tiba, aku tidak akan membiarkanmu menangis seperti itu lagi.” Matanya yang sendu menatap Eunsoo didepan sana lekat-lekat. “Aku janji, Eunsoo-ya.”

Di depan sana Eunsoo terlihat batuk-batuk karena tersedak roti. Ia tampak memeriksa plastik dan sepertinya Eunsoo lupa membeli minuman. Gadis itu tampak semakin frustasi. Eunsoo pun bergegas bangkit, memasukkan rotinya ke dalam plastik lalu berlari menuju jalan pulang ke rumahnya.

Tinggallah pria itu yang masih berdiri di tempat. Irisnya terus memperhatikan kepergian Eunsoo. Sekali lagi, bibirnya melengkung membentuk senyuman yang indah. “Kau tidak berubah, Eunsoo. Aku semakin tidak sabar ingin bertemu denganmu.”

***

“Eunsoo? Kau tahu sekarang jam berapa?”

Tanpa Ibunya bertanya sekalipun, Eunsoo tahu saat ini jam berapa. Karena jam di ponselnya kini menunjukkan pukul sembilan lebih empat puluh lima menit. Eunsoo tahu Ibunya pasti menyuruhnya untuk bangun. Tapi Eunsoo memilih terus meringkuk di atas kasur, menutupi seluruh tubuhnya dengan selimut. Di dalam selimut, Eunsoo masih menghadapkan ponselnya di depan wajah, membaca pesan yang Ia terima dari dosen Kim beberapa saat yang lalu. Pesan itu berisi pesan dari dosen Kim bahwa beliau akan pergi ke luar negeri, jadi beliau menyerahkan tugasnya sebagai pembimbing Eunsoo pada dosen Jung. Dan yang Eunsoo tahu, dosen Jung adalah dosen paling killer di kampusnya. Lalu sekarang, bagaimana Eunsoo akan menghadapi dunia dengan kemampuan otaknya yang dibawah rata-rata itu?

Karena tidak ada tanggapan, Nyonya Shin akhirnya mendekati kasur, lalu mencengkram selimut dan menyibaknya. “Ya! Shin Eunsoo!”

Eunsoo langsung menatap Ibunya dengan tatapan frustasi. “Ibu!” Eunsoo bangkit, duduk bersila menghadap Ibunya. “Tidak bisakah Ibu membiarkanku? Aku sedang menghadapi saat-saat terberat dalam hidupku saat ini!” Ada jeda sejenak sebelum Eunsoo kembali melanjutkan. “Ibu, aku ingin berhenti kuliah!”

Nyonya Shin mendesah pelan, lalu mengangguk. “Ya, terserah.” Sahutnya santai membuat Eunsoo langsung menatapnya keheranan.

Eunsoo tidak menyangka Ibunya akan memberikan respon seperti itu, karena pada awalnya Eunsoo pikir Ibunya pasti akan marah dengan niatnya untuk berhenti kuliah.  “I-ibu?” Gumam Eunsoo pelan.

“Calon suamimu mengatakan tidak apa-apa jika kau tidak menyelesaikan pendidikanmu, Eunsoo. Dia akan tetap menerimamu. Bagaimana?” Nyonya Shin tersenyum lebar sembari melipat kedua tangannya di depan dada. “Dia pria yang baik, bukan?” Nada bicara Nyonya Shin bahkan seperti sengaja dibuat semanis mungkin.

Eunsoo mengerjap pelan melihatnya.

“Kau tahu? Dia berprofesi sebagai dokter anak. Kau tidak perlu khawatir akan hidup susah setelah menikah dengannya nanti. Dia berjanji akan mencukupi semua kebutuhanmu. Jadi kau tenang saja. Tidak perlu takut hidupmu akan kekurangan.”

Dari menatap Ibunya, Eunsoo beralih menatap lurus ke depan, ke arah jendela kamar dengan pandangan yang terkesan menerawang. Dalam pikiran Eunsoo saat ini, yang Ia tahu dokter adalah seseorang yang tidak memiliki waktu banyak untuk melakukan kegiatan diluar profesinya. Jadi dalam bayangan Eunsoo, tiba-tiba muncullah gambaran seorang pria berumur empat puluh tahunan, bertubuh pendek, berbadan gempal, perutnya buncit, kepalanya botak, matanya sipit, mengenakan pakaian dokter dan pria itu kini tersenyum miring padanya.

Tidak mungkin!; Eunsoo mengerjap cepat.

“Kalau begitu jangan kuliah lagi mulai sekarang.” Kata Nyonya Shin, ketika Eunsoo kembali menatapnya, Nyonya Shin melanjutkan. “Fokuskan saja untuk mempersiapkan pernikahanmu.” Nyonya Shin tersenyum amat manis namun entah mengapa, di mata Eunsoo senyuman itu terlihat begitu mengerikan dan menyimpan sejuta misteri. “Eunsoo, jangan lupa, nanti malam berdandanlah yang cantik, hm?”

Setelah berkata seperti itu, Nyonya Shin berbalik, berjalan menuju pintu lalu keluar, meninggalkan Eunsoo yang kini terdiam di tempatnya. Tiba-tiba saja, bayangan dokter botak berbadan gempal kembali muncul dalam benak Eunsoo.

“Tidak!” Eunsoo menggeleng cepat. “Aku tidak mau menikah! Ibu aku tidak mau menikah!” Eunsoo melompat turun dari atas kasur. Ia berniat keluar dari kamar namun sang Ibu ternyata mengunci pintunya dari luar. “Ibu!!” Pekik Eunsoo sambil menggedor-gedor pintu kamar. “Ibu buka pintunya! Ibu aku ingin bicara! Aku tidak mau menikah Ibu! Aku ingin kuliah saja! Ibu!!”

Namun sayang, Ibunya bahkan tidak peduli sedikitpun.

“Ibu! Aku tidak mau menikah!!”

***

“Apa aku harus bunuh diri saja?”

Ya, apa Eunsoo harus bunuh diri saja? Tapi Eunsoo sadar, terjun dari lantai dua kamarnya tidak akan membuatnya tewas seketika. Mungkin Eunsoo hanya akan patah tulang, dan Eunsoo tidak bisa membayangkan bagaimana sakitnya itu.

“Aish! Apa yang harus kulakukan?” Eunsoo menggerutu pelan, lalu membenturkan keningnya pada sisi jendela kamar berulang kali.

Jam sudah menunjukkan pukul tujuh malam. Eunsoo juga sudah mengenakan dress berwarna putih dengan rok selutut dan lengan dibawah siku. Ia membiarkan rambutnya tergerai bebas, hanya memoles wajahnya dengan bedak tipis tapi gadis itu tetap terlihat anggun, dan wajah polosnya terlihat sangat manis malam ini.

“Eunsoo? Cepat keluar! Mereka sudah datang!”

Inilah yang Eunsoo takutkan sebenarnya. Gadis itu langsung menoleh ke arah pintu dan menatap pintu itu dengan tatapan horor. Sumpah Eunsoo ingin menangis rasanya. Ia benar-benar tidak mau menerima perjodohan ini. Eunsoo terus diam di sisi jendela sambil menggigit bibir bawahnya dengan frustasi. Pintu kamarnya kemudian dibuka dan sosok Ibunya pun muncul dari sana.

“Apa yang kau lakukan di sana? Cepat keluar! Jangan membuat mereka menunggu!” Ujar sang Ibu geram.

Eunsoo menggeleng cepat. Menunjukkan wajah seolah ingin menangis sembari menjawab. “Ibu.. aku tidak mau menikah.”

Nyonya Shin hanya mendengus, lalu berjalan ke arah Eunsoo membuat Eunsoo melotot menatapnya.

“Jangan mendekat!” Sergah Eunsoo sembari menyodorkan satu tangannya. Nyonya Shin menghentikan langkah. “Aku akan melompat dari jendela jika Ibu mendekat ke arahku!” Ancam Eunsoo, Ia bahkan menunjukkan raut wajah yang serius.

Namun, Ibunya justru menatapnya dengan wajah yang datar. Lalu wanita itupun melanjutkan langkah mendekati Eunsoo. “Coba saja kalau kau berani. Terbentur lemari saja kau hampir menangis. Dasar payah.”

Eunsoo menatap Ibunya tak percaya. “Ibu!”

Nyonya Shin akhirnya tiba di hadapan Eunsoo, mencubit pelan lengan atas Eunsoo membuat gadis itu langsung menatapnya dengan tatapan sebal.

“Jangan membantah!” Omel Ibunya. “Kau seharusnya bersyukur karena ada laki-laki yang mau menikah denganmu! Kalau bukan dia, memangnya ada laki-laki yang mau menikah dengan gadis seperti dirimu?”

Eunsoo langsung menatap Ibunya tak percaya. “Woah!” Eunsoo langsung membusungkan dada di hadapan Ibunya. “Ya! Ibu menghinaku? Apa Ibu barusaja merendahkanku? Aku ini anakmu! Seharusnya Ibu mendukungku, bukan malah.. astaga!” Eunsoo mendengus kasar. “Aku yakin wajahku cukup cantik! Jika aku keluar pasti banyak laki-laki yang akan jatuh cinta padaku!”

Nyonya Shin memutar bola matanya dengan malas. “Ya, kau memang cukup cantik. Tapi kemampuan otakmu dan sikapmu itu yang akan membuat para laki-laki enggan mendekatimu. Buktinya selama ini kau tidak pernah memiliki pacar ‘kan? Kau tidak sadar umurmu sekarang sudah cukup tua?”

Eunsoo menatap Ibunya tak habis pikir. Bagaimana bisa Ibunya berbicara seperti itu padanya? Benar-benar…

Eunsoo pun berdeham keras. Berusaha membela diri. “A-aku memang belum pernah mempunyai pacar. Tapi saat ini aku sedang—“

“Sudah jangan banyak bicara!” Sela Nyonya Shin. Mencengkram pergelangan tangan Eunsoo lalu membawanya keluar secara paksa. “Kau harus segera menemui calon suamimu, Eunsoo.”

Eunsoo ingin memekik tapi dia tidak mengeluarkan suara apa-apa. Ia menunjukkan wajah seolah ingin menangis namun sang Ibu seolah enggan menatapnya.

“Ibu, kau kejam sekali padaku..” Rintih Eunsoo pada akhirnya.

.

.

Saat memasuki ruang makan, Eunsoo merasa aura dingin yang aneh langsung merayapi permukaan kulit tubuhnya. Eunsoo terus menundukkan wajah. Meskipun Ia tidak melihat, Ia bisa merasakan semua orang tengah memusatkan perhatian mereka padanya saat ini.

Nyonya Shin membawa Eunsoo semakin mendekati sisi meja makan. Namun Eunsoo justru menunduk semakin dalam bahkan Ia menutup matanya rapat-rapat. Sungguh, Eunsoo tidak mampu membayangkan Ia akan bertemu dengan lelaki berbadan gempal berkepala botak yang terus memenuhi kepalanya seharian ini.

“Ini anak kami, Shin Eunsoo.” Nyonya Shin memperkenalkan Eunsoo pada pasangan paruh baya yang berdiri di sebrang meja di hadapannya. Pasangan itu tampak tersenyum hangat menanggapi. Sementara pria muda dengan setelan rapi yang duduk di samping sang Ayah itu tampak menatap Eunsoo lekat-lekat seraya bibirnya melengkung tipis.

“Eunsoo, kau harus menyapa mereka.” Titah Tuan Shin yang duduk di kursi utama. Yang langsung ditanggapi anggukan oleh istrinya.

“Eunsoo, angkat wajahmu.” Nyonya Shin memerintah dengan sedikit geram, membuat Eunsoo ingin berteriak rasanya.

Sungguh, Eunsoo tidak menyangka jika Ia akan menjalani kehidupan menyedihkan seperti ini. Kuliahnya gagal, cintanya gagal, dan sekarang masa depannya juga terancam gagal karena perjodohan yang Ia anggap bodoh ini.

Meskipun dengan hati yang terasa berat, pada akhirnya Eunsoo membuka matanya perlahan, sembari mengangkat wajah lalu mengarahkan irisnya pada tiga orang yang duduk di hadapannya.

“Ini keluarga Park.” Kata Nyonya Shin. “Itu Nyonya Park, Tuan Park, dan di samping Tuan Park itu adalah Park Chanyeol, calon suamimu.”

Tuan dan Nyonya Park menyambut Eunsoo dengan senyuman ramah, mereka bahkan menyapa Eunsoo namun Eunsoo seperti tidak menghiraukan. Ya, Eunsoo terlalu fokus pada pria yang kini tersenyum hangat padanya. Oh Tuhan, apa Eunsoo sedang bermimpi? Apa Eunsoo tidak salah lihat? Mengapa pria itu terlihat muda, gagah dan berwajah tampan? Berbeda sekali dengan pria berbadan gempal berkepala botak yang Ia bayangkan sebelumnya.

Sadar jika Chanyeol terus menatapnya, Eunsoo mengerjap pelan, lalu menoleh pada Ibunya dan bertanya dengan nada pelan. “I-ibu. A-apa dia calon.. calonnya?”

Nyonya Shin mengangguk sembari menunjukkan senyuman lebar. “Ya, calon suamimu. Park Chanyeol. Bukankah saat disekolah dasar dulu Chanyeol adalah teman sekelasmu?”

Eunsoo tertegun. Park Chanyeol dulu adalah teman sekelasnya?

Eunsoo benar-benar lupa. Jadi Ia kembali menatap Chanyeol dengan tatapan intens sembari berusaha mengingat pemilik nama itu didalam hatinya. “Park Chanyeol, Park Chanyeol, Park Chanyeol, Park…” Eunsoo terdiam sejenak, tiba-tiba matanya melotot. Ia bahkan refleks menunjuk Chanyeol dengan satu tangannya. “Ah! Aku ingat!”

Eunsoo tersenyum lebar, membuat para orang tua juga menunjukkan senyuman lebar, sementara Chanyeol hanya menunjukkan senyuman tipis sembari menunggu bagaimana gadis itu mengingat tentang dirinya.

“Kau Park Chanyeol? Si jelek berbadan gendut yang memakai kaca mata dan selalu membawa marmut peliharaanmu itu kemana-mana ‘kan?”

Senyum para orang tua memudar seketika. Sementara Chanyeol hanya menahan senyuman sembari mengangguk pelan menanggapi.

“Ya, kau benar.” Jawab Chanyeol kemudian.

Mendengar suara bass Chanyeol, Eunsoo semakin takjub. Eunsoo menarik tangannya yang semula menunjuk Chanyeol dan kini gadis itu berdecak kagum. “Omo! Mengapa kau bisa seperti ini? Wajahmu bahkan sangat tampan sekarang. Apa kau menjalani operasi plastik?”

“Eunsoo!” Nyonya Shin menegur sembari mencubit pinggang Eunsoo. Ketika Eunsoo meringis sembari menatapnya, Nyonya Shin melanjutkan. “Jaga bicaramu! Tidak sopan!” Desis Nyonya Shin geram.

Eunsoo menggerutu pelan. “Aku ‘kan hanya bertanya.”

Nyonya Shin segera menatap Tuan dan Nyonya Park sembari menunjukkan senyuman getir. Menyadari raut wajah Tuan dan Nyonya Park sedikit merasa tidak enak, Nyonya Shin pun membungkuk singkat. “Maafkan putriku, terkadang dia memang seperti anak-anak.”

Tuan Shin ikut mengangguk dan meminta maaf pada keluarga Park atas sikap putrinya. Lalu, Nyonya Shin mengajak Eunsoo duduk dan gadis itu pun menurut meskipun sambil menggerutu karena tidak terima Ibunya menyebutnya seperti anak-anak.

Setelah suasana kembali tenang, Tuan Shin mempersilahkan mereka makan. Banyak hidangan yang tersaji di meja makan berbentuk persegi panjang itu. Tuan dan Nyonya Park, serta Tuan dan Nyonya Shin tampak mulai sibuk dengan hidangan mereka sembari sesekali mereka berbincang dan tertawa. Sementara itu, Eunsoo dan Chanyeol yang duduk saling berhadapan, mereka hanya saling memandang dalam diam.

Eunsoo bingung mengapa Chanyeol terus tersenyum padanya. Bahkan setelah Eunsoo menyebut Chanyeol sebagai si jelek dan menuding Chanyeol telah melakukan operasi plastik. Apa Chanyeol tidak marah sedikitpun padanya? Eunsoo baru sadar jika ucapannya itu seharusnya tidak Ia lontarkan—apalagi dihadapan kedua orang tua Chanyeol seperti tadi. Entah mengapa, Eunsoo merasa malu sekarang.

Eunsoo pun menundukkan wajahnya. Menyadari Chanyeol terus menatapnya dengan senyuman hangat seperti itu membuat pipinya terasa panas. Jantungnya bahkan mulai berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Oh, siapapun, bayangkan saja jika kalian berada di posisi Eunsoo. Terus dipandangi oleh pria tampan dengan senyuman hangat seperti itu apa kalian akan merasa baik-baik saja?

Mungkin tidak.

Sama halnya seperti Eunsoo, tiba-tiba gadis itu merasa gugup. Ia pun memberanikan diri mendongak menatap Chanyeol dan ternyata Chanyeol masih memandanginya.

“Kau tidak makan?” Tanya Chanyeol kemudian.

Eunsoo terkejut. “Y-ya?” Ia pun memaksakan senyuman. “Y-ya, aku akan makan. Aku akan makan sekarang.” Setelah itu Eunsoo bergegas menyiapkan piring. Dengan tangan yang sedikit gemetar, Eunsoo mengambil nasi dan mengambil beberapa lauk lalu bersiap menyantapnya.

Chanyeol menyadari sesuatu yang membuat matanya sedikit melebar. “Tunggu, Eunsoo.”

Eunsoo lebih dulu memasukkan sesendok nasi dan olahan ikan ke dalam mulutnya. Ia kemudian menatap Chanyeol dan menatap pria itu dengan tatapan bingung. “A-ada apa?” Tanyanya dengan mulut penuh makanan.

Para orang tua menghentikan aktifitas mereka sejenak, mereka beralih menatap Chanyeol dan Eunsoo bergantian.

“Bukankah..” Chanyeol menatap Eunsoo sedikit cemas. “Kau alergi terhadap saus tomat?”

Eunsoo tertegun.

“Ada saus tomat pada ikan yang kau ambil tadi.” Jelas Chanyeol.

Nyonya Shin langsung memperhatikan olahan ikan di atas meja. Memang, Ia mencampurinya dengan saus tomat. Nyonya Shin kemudian menoleh ke arah Eunsoo dan mendapati gadis itu tersedak.

“Uhuk!” Eunsoo langsung menutup mulutnya dan bergegas bangkit. Ia berlari begitu saja setelah menyadari lidahnya merasakan rasa makanan yang paling Ia benci itu.

Setelah Eunsoo pergi, Chanyeol turut bangkit. Ia membungkuk sopan pada para orang tua dan berkata dengan nada tenang. “Silahkan lanjutkan, aku akan menyusul Eunsoo.”

Para orang tua mengangguk. Kemudian Chanyeol berjalan cepat menyusul Eunsoo yang masuk ke dalam kamar kecil yang berada tak jauh dari ruang televisi. Setibanya di depan pintu kamar kecil, Chanyeol menunggui Eunsoo di depan pintu.

“Eunsoo, kau tidak apa-apa?” Panggil Chanyeol terdengar khawatir.

Di dalam, Eunsoo sudah memuntahkan makananya. Ia tengah membersihkan sekitar mulutnya dengan air yang memancar dari washtafel. Setelah mendengar suara Chanyeol, Eunsoo mematikan kran, lalu menatap permukaan pintu dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Eunsoo?” Chanyeol memanggil lagi, sudah beberapa menit tapi Eunsoo tidak kunjung keluar. Chanyeol berniat mengetuk pintunya, namun belum sempat Ia mengulurkan tangannya ke arah pintu, kenop pintu itu lebih dulu bergerak. Chanyeol pun sedikit mundur dan bersiap menyambut kedatangan gadis itu.

Setelah pintu dibuka perlahan, Eunsoo keluar dari dalam kamar kecil. Ia menutup pintu kembali, lalu berdiri di hadapan Chanyeol dan menatap pria itu lekat-lekat.

“Kau tidak apa-apa?” Tanya Chanyeol. “Kau tidak sampai menelannya ‘kan? Tubuhmu bisa gatal-gatal jika kau sampai menelannya.”

“Dari mana kau mengetahuinya?” Tanya Eunsoo dengan nada pelan. Sorot matanya terlihat serius bercampur rasa penasaran. “Dari mana.. kau tahu aku alergi terhadap makanan itu?”

Chanyeol tersenyum lembut. “Jika kau pernah menyukai seseorang, kau pasti akan tahu jawabannya.” Jawab Chanyeol, dengan nada tenang sementara Eunsoo hanya diam menatapnya.

***

“Kau sudah siap? Aku akan pergi ke rumahmu sekarang.”

Setelah membaca pesan singkat dari Chanyeol di ponselnya, Eunsoo mendesah pelan. Lalu jemarinya bergerak untuk membalas pesan itu.

“Ya, aku sudah siap.”

Setelah menyentuh tombol send, Eunsoo meletakkan ponselnya di atas meja rias di hadapannya. Gadis itu kemudian memandangi pantulan dirinya di cermin seraya memori otaknya mengingat perkataan Chanyeol yang pria itu ucapkan di hadapannya kemarin malam.

“Jika kau pernah menyukai seseorang, kau pasti akan tahu jawabannya.”

Sudah seharian ini, kalimat itu terus berputar-putar dalam benak Eunsoo. Eunsoo mencoba mencari jawabannya namun Ia tidak menemukannya. Hanya kemungkinan saja yang kini muncul di dalam kepalanya; Apa Chanyeol menyukainya?

Ah, apa iya. Eunsoo bahkan lupa kapan mereka pernah menghabiskan waktu bersama. Dan lagi, apa mungkin pria perfect seperti Park Chanyeol menyukai gadis seperti dirinya?

Eunsoo ingat, kemarin malam setelah perbincangan singkat antara dirinya dan Chanyeol di depan kamar kecil, mereka kembali ke meja makan dan menikmati hidangan makan malam bersama orang tua mereka. Mengingat perkataan Chanyeol saat di depan kamar kecil membuat Eunsoo diam-diam memperhatikan pria itu ditengah-tengah aktifitas makannya. Sembari Eunsoo berfikir, berusaha keras mengingat Park Chanyeol saat mereka masih sama-sama berada di sekolah dasar dulu.

Setelah makan malam mereka berkumpul di ruang keluarga. Chanyeol lebih bersikap santai dan ramah. Ia menjawab beberapa pertanyaan dari orang tua Eunsoo dan menjelaskan kesibukannya akhir-akhir ini. Eunsoo selalu tertegun saat mendengar penjelasan-penjelasan yang terlontar dari bibir pria itu. Jika Eunsoo simpulkan, Park Chanyeol adalah pemuda yang sukses, otaknya juga sangat cerdas, dan penampilannya yang terbilang sempurna itu membuat nyali Eunsoo mendadak menciut.

Eunsoo merasa malu jika membandingkan dirinya dengan Chanyeol. Perbedaan mereka seperti langit dan bumi. Eunsoo merasa tidak pantas jika bersanding dengan pria seperti itu. Tidak heran jika semalam Eunsoo lebih banyak diam dan menundukkan wajahnya, sesekali mencuri pandangan ke arah Chanyeol, lalu saat pria itu menatapnya dengan senyuman hangat, Eunsoo akan kembali menunduk dan menggenggam tangannya erat-erat di atas pangkuan.

“Kenapa aku seperti ini?” Eunsoo bergumam seraya satu tangannya menyentuh permukaan dada. Masih duduk di depan meja rias, gadis itu menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan bingung. Aneh sekali, terus memikirkan Park Chanyeol membuat jantungnya tiba-tiba berdebar sangat kencang. Eunsoo bahkan tidak sampai seperti ini saat memikirkan atau saat melihat sosok Kim Joonmyeon.

Tapi sekarang, apa yang terjadi padanya?

Ah, Eunsoo ingat. Seharian ini sosok Kim Joonmyeon sedikitpun tidak melintas dalam benaknya. Bagaimana bisa secepat itu Ia melupakan Kim Joonmyeon? Eunsoo pun heran. Yang Eunsoo pikirkan seharian ini—bahkan sampai saat ini—adalah pertemuannya dengan Park Chanyeol kemarin malam. Eunsoo terus mengingat bagaimana teduhnya wajah Chanyeol, bagaimana hangatnya senyuman Chanyeol, bagaimana sopannya tingkah laku Chanyeol, bagaimana berwibawanya Chanyeol saat bertutur kata. Suara berat Chanyeol, dan lirikan mata Chanyeol saat menatap Eunsoo membuat bibir gadis itu melengkung dengan sendirinya.

Setelah beberapa saat, Eunsoo tersadar, senyumnya pun memudar seketika. Eunsoo menatap pantulan dirinya di cermin dengan tatapan bingung bercampur kesal, satu tangannya yang semula menempel dipermukaan dada kini beralih menunjuk ke arah cermin, ke arah wajahnya seraya Ia berkata. “Ya! Ini tidak seperti di drama-drama ‘kan? Cinta pada pandangan pertama.” Eunsoo diam sejenak, menunjukkan tatapan horor lalu melanjutkan dengan suara yang terdengar pelan. “Shin Eunsoo, kau tidak mungkin menyukai pria pecinta marmut itu ‘kan?”

_

_

_

Mobil ferrari bercat hitam mengkilap itu melaju dengan kecepatan sedang di tengah jalan kota Seoul yang tidak terlalu ramai malam ini. Di dalam mobil, suasana hening terus menyelimuti, terhitung semenjak lima menit yang lalu setelah Chanyeol menjemput Eunsoo di rumah gadis itu.

Malam ini Chanyeol berniat mengajak Eunsoo pergi jalan-jalan, sekaligus untuk menjawab rasa penasarannya bagaimana gadis itu akan mengingat tentang dirinya. Walaupun sebenarnya Chanyeol tidak berharap terlalu banyak Eunsoo akan mengingatnya. Bisa pergi berdua bersama Eunsoo seperti ini saja sudah cukup bagi Chanyeol.

“Kau terlihat cantik malam ini.” Chanyeol akhirnya membuka suara. Ia tersenyum sembari menoleh ke arah Eunsoo yang duduk di sampingnya.

Mendengar itupun membuat Eunsoo langsung menoleh ke arah Chanyeol. Saat pandangan mereka bertemu, Eunsoo kembali merasakan getaran aneh pada jantungnya. Mendadak Eunsoo merasa gugup. Tanpa Eunsoo sadari, jari jemarinya bahkan mulai saling bertaut di atas pangkuan, bergerak dengan gusar. Sungguh, ini adalah kali pertama ada seorang pria dewasa yang berkata seperti itu pada Eunsoo; mengatakan bahwa Eunsoo cantik. Dan reaksinya sungguh luar biasa, mendadak Eunsoo merasakan rasa panas kini mulai merambati permukaan pipinya.

Malam ini Eunsoo mengenakan dress berwarna putih, melapisinya dengan sweater juga berwarna putih. Sementara Chanyeol berpenampilan casual yang terlihat sederhana namun tetap menimbulkan kesan yang elegan.

Ya, Eunsoo terlihat cantik. Dan Chanyeol pun terlihat sangat tampan malam ini.

“Kau tahu kita akan pergi kemana malam ini?” Tanya Chanyeol, menatap lurus ke depan untuk kembali fokus pada kemudinya.

Eunsoo mengerjap cepat. Berusaha mengabaikan rasa gugupnya, gadis itu kembali menatap lurus ke depan seraya menjawab. “Me-memangnya kita akan pergi kemana?” Eunsoo tidak bermaksud berkata gagap seperti itu. Ia pun langsung merutuki dirinya dalam hati dan menggigit bibir bawahnya dengan geram.

Sial, Chanyeol menyadarinya. Pria itu langsung menoleh ke arah Eunsoo dan menatapnya disertai senyuman ringan. “Kau gugup?”

Eunsoo langsung membalas tatapan Chanyeol. “A-apa? Gugup?” Sahut Eunsoo. Meskipun jelas-jelas wajahnya menunjukkan ekspressi gugup, tapi Eunsoo berusaha menampiknya. Eunsoo memaksakan senyuman lebar sembari melanjutkan. “Y-ya! Kenapa aku harus gugup di hadapanmu?”

“Jadi kau tidak gugup?” Tanya Chanyeol. Ia kembali menatap lurus ke depan, tersenyum tipis. “Sayang sekali, aku benar-benar berharap kau akan gugup saat bersamaku. Karena aku akan berfikir bahwa kau juga menyukaiku.”

Juga? Eunsoo menatap Chanyeol tak mengerti.

“Baiklah, kau boleh tidak gugup saat ini. Tapi dalam waktu dekat,” Chanyeol menatap Eunsoo, menunjukkan senyuman yang terkesan misterius lalu melanjutkan. “aku berjanji, aku akan membuatmu sangat gugup saat kau berhadapan denganku, Shin Eunsoo.”

“……”

_

_

_

Chanyeol mengajak Eunsoo pergi ke pasar malam yang ada di daerah Myeongdong. Pada malam minggu seperti ini, tempat itu dikunjungi cukup banyak orang. Dan sebagian besar pengunjungnya adalah anak-anak muda yang ingin menghabiskan waktu bersama pasangan atau sekedar jalan-jalan bersama teman-teman mereka.

Diantara lalu lalang para pejalan kaki dan warna-warni lampu pertokoan di tempat itu, Chanyeol dan Eunsoo nampak berjalan santai berdampingan.

Adalah Chanyeol yang kemudian berkata. “Dulu saat kecil kau ingin sekali pergi ke tempat ini ‘kan? Tapi sayangnya orang tuamu tidak mengijinkan.”

Eunsoo langsung menatap Chanyeol dengan mata melebar. “Dari mana kau tahu hal itu?”

Chanyeol tersenyum ringan menanggapi. “Di taman belakang sekolah saat itu, kau bercerita pada salah satu teman perempuanmu. Kau mengatakan bahwa kedua orang tuamu tidak mengijinkanmu pergi bersama teman-temanmu. Jadi agar mereka menginjinkanmu, kau mengancam akan mengurung diri di dalam kamar dan mogok makan. Tapi sayang sekali orang tuamu tidak menghiraukan, bahkan pagi itu mereka tidak memberimu uang jajan, hingga akhirnya kau meminjam uang pada temanmu itu untuk membeli roti.”

Langkah Eunsoo terhenti perlahan. Disusul langkah Chanyeol yang akhirnya juga berhenti perlahan. Eunsoo kemudian menatap Chanyeol dengan tatapan yang sulit diartikan sementara pria itu masih saja menatapnya dengan senyuman.

Seolah mengerti dengan kebingungan yang terpancar di wajah Eunsoo, Chanyeol pun menjelaskan. “Aku juga sedang berada di sana saat itu. Di bawah pohon tak jauh dari tempatmu berdiri, aku sedang membaca buku.”

Eunsoo menghela napas lega. Setelah sebelumnya Ia sempat berpikir bahwa Chanyeol ini mungkin seorang penguntit, atau seorang dukun karena—entah mengapa—pria itu mengetahui banyak hal tentang dirinya. Setelah itu, Eunsoo menundukkan pandangan sembari mengangguk pelan.

Lantas Chanyeol sedikit menilikkan wajahnya sambil menahan senyuman. “Apa sampai sekarang kau masih senang mengancam orang tuamu seperti saat itu?”

Eunsoo langsung mendongak menatap Chanyeol. “Apa?!” Nada bicaranya terdengar tidak terima. “Tidak! Tentu saja tidak. Aku tidak lagi kekanak-kanakan seperti dulu.” Sahutnya, seolah lupa dengan kejadian dua hari yang lalu saat Ia juga mengancam akan mogok makan ketika orang tuanya membicarakan perjodohannya.

Masih menahan senyuman, Chanyeol mengangguk-angguk pelan. “Ya, baguslah kalau begitu.”

Mereka kembali melanjutkan langkah setelah itu.

Kali ini, Eunsoo memberanikan diri untuk sedikit mendempet ke arah Chanyeol. “Park.. Park Chanyeol.”

Chanyeol menatapnya. “Hm?”

Eunsoo masih mengarahkan pandangannya lurus ke depan saat kembali bersuara. “Sejujurnya.. tidak banyak hal yang bisa kuingat tentangmu.”

Chanyeol turut menatap lurus ke depan, bibirnya tersenyum. “Lalu?”

“Aku sudah mencoba untuk mengingat saat-saat kita sekolah dulu. Tapi mungkin kau juga tahu, sepertinya kita bukan teman yang dekat saat itu.”

Chanyeol mengangguk pelan. “Ya, kau memang benar.”

“Tapi aku mengingat satu hal tentangmu.” Eunsoo menghentikan langkahnya.

Chanyeol yang menyadari itu lewat ujung matanya pun turut menghentikan langkah, lalu pria itu menatap Eunsoo dengan sorot mata sedikit penasaran.

“Saat itu,” Eunsoo membalas tatapan Chanyeol. “di taman bermain yang berada tak jauh dari sekolah. Saat hari libur aku bermain bersama temanku, dan kau juga bermain di sana, bersama marmut peliharaanmu.”

Chanyeol tersenyum lembut, menatap Eunsoo lekat-lekat sementara gadis itu menunjukkan tatapan menerawang seraya memori otaknya memutar kembali kejadian beberapa tahun yang lalu.

“Aku ingat, saat itu aku sedang bermain ayunan bersama temanku. Aku melihatmu sedang berjalan sambil menggendong marmut, sepertinya kau akan pulang, iya ‘kan?” Eunsoo kembali mendongak menatap Chanyeol.

“Ya, kau benar.” Chanyeol menatap Eunsoo lekat-lekat.

Bukan cuma Eunsoo, tapi memori dalam kepala Chanyeol juga kembali memutar kejadian saat itu. Sore itu, ada satu peristiwa yang selalu melekat dalam benak Chanyeol, peristiwa yang sering hadir dalam mimpi-mimpi Chanyeol bahkan sampai Ia tumbuh dewasa seperti sekarang. Peristiwa itu tidak mungkin bisa Chanyeol lupakan. Karena peristiwa itulah, Chanyeol bisa berdiri di hadapan Eunsoo seperti saat ini.

.

Chanyeol berhenti bermain di kotak pasir. Ia kemudian mengambil binatang berbulu abu-abu yang menjadi binatang peliharaannnya, menggendongnya. Anak laki-laki berkaca mata itu kemudian berdiri dan berniat pergi dari taman. Tapi saat Chanyeol tiba di tengah-tengah taman, sekelompok anak laki-laki yang tubuhnya sedikit lebih tinggi darinya tiba-tiba menghadang di hadapan Chanyeol, membuat Chanyeol langsung menghentikan langkahnya.

“Hey, mau kemana kau?” Tanya seorang anak yang berdiri paling depan.

Chanyeol mengenal mereka. Mereka adalah siswa dari sekolah yang sama dengan Chanyeol. Kelas mereka bersebelahan dengan kelas Chanyeol, mereka terkenal nakal, suka memeras dan menindas anak-anak lemah seperti Chanyeol. Maka Chanyeol hanya menundukkan wajahnya dan memeluk binatang peliharaannya erat-erat.

“Hey, lihat. Dia ketakutan.” Kata anak itu yang langsung disambut tawa oleh empat anak lain yang berdiri di belakang tubuhnya.

Tak jauh dari tempat mereka berada, Eunsoo tampak bermain ayunan dengan seorang temannya. Tanpa sengaja maniknya menangkap pemandangan tak jauh di depan sana. Di sana, anak-anak nakal itu mulai mendekati Chanyeol, memukul lengan Chanyeol, mendorong tubuh Chanyeol, menoyor kepala Chanyeol membuat kaca mata Chanyeol sedikit bergeser. Chanyeol menunduk semakin dalam sambil membetulkan letak kaca matanya. Namun detik selanjutnya, seorang anak tiba-tiba mendorong tubuh Chanyeol sangat keras membuat Chanyeol jatuh tersungkur ke permukaan aspal.

 Eunsoo langsung berdiri setelah itu. Melihat anak-anak itu yang terus memojokkan Chanyeol, mereka bahkan berniat menendang Chanyeol, membuat Eunsoo tidak bisa diam lebih lama lagi. Lantas gadis itu segera berlari mendekati anak-anak itu.

“Hentikan!!” Pekik Eunsoo setibanya di sana.

Salah satu anak yang berniat menendang Chanyeol menghentikan pergerakan kakinya ketika Eunsoo menerobos diantara mereka. Hingga anak-anak itu langsung menatap Eunsoo dengan tatapan tidak suka.

Saat itu, Chanyeol mengangkat wajahnya, Ia melihat gadis itu berdiri membelakanginya lalu Eunsoo merentangkan kedua tangan.

“Hentikan!” Seru Eunsoo sambil melayangkan tatapan paling mematikan pada anak-anak nakal di hadapannya. “Dasar b*nci! Pant*t bus*k! Jelek! K*mpungan! Br*ngsek!”

Anak-anak nakal itu sedikit memundurkan kepala saat umpatan-umpatan tidak pantas itu terlontar dari bibir Eunsoo dengan suara yang lantang.

“Pergi!” Bentak Eunsoo. Lalu berkacak pinggang. Gadis berambut panjang yang mengenakan bandana berwarna pink itu bahkan membusungkan dadanya. “Kalian pikir aku takut dengan kalian, huh?!”

Anak-anak nakal itu saling memandang sejenak. Lalu,anak yang berdiri paling depan kembali menatap Eunsoo, kali ini Ia menunjukkan seringaian jahatnya.

Diam-diam Eunsoo menelan samar saliva-nya, air mukanya bahkan mulai berubah. Eunsoo juga tahu anak-anak yang Ia hadapi saat ini adalah anak-anak yang terkenal paling nakal di sekolahnya. Dan sesungguhnya Eunsoo merasa takut, tapi Ia mencoba tetap menunjukkan wajah galak dan menantangnya.

“Kau berani dengan kami?” Kata anak nakal itu sembari mengambil satu langkah maju ke hadapan Eunsoo. Ia mengulurkan tangan, berniat menarik kerah baju Eunsoo, tapi belum sempat tangannya menyentuh baju Eunsoo, tiba-tiba…

“AAAAA!!!!” Eunsoo memekik sejadi-jadinya. Suaranya yang melengking bahkan membuat Chanyeol harus menutup mata rapat-rapat karena merasakan sakit pada gendang telinganya.

Anak-anak nakal itu juga sedikit menjauh sembari menunjukkan wajah risih karena teriakan Eunsoo. “Ya!!” Bentak salah satu anak di hadapan Eunsoo.

Selesai berteriak, napas Eunsoo memburu. Ia langsung melototi anak-anak nakal itu sembari berseru. “Lihat saja! Jika kalian berani menyentuhku aku akan mengadukan kalian pada pamanku! Pamanku seorang polisi!! Aku akan mengadukan kalian pada pamanku agar dia memenjarakan kalian!!”

Mendengar kata ‘polisi’, anak-anak itu langsung menunjukkan ekspressi takut. Mereka masih terlalu kecil dan membayangkan penjara terlalu mengerikan untuk mereka. Lantas, anak-anak itu saling berbisik sejenak. Lalu menatap Eunsoo sekali lagi dan perlahan mereka mundur, lalu pergi begitu saja bahkan berlari saat keluar dari taman.

Setelah anak-anak nakal itu tidak tampak lagi dalam penglihatan Eunsoo, Eunsoo menghembuskan napas panjang yang terdengar lega. Ia mengelus dada. “Hampir saja.” Gumamnya pelan. Lalu Eunsoo berbalik dan mendapati Chanyeol masih tersungkur. “Ya! Kau tidak apa-apa?” Tanya Eunsoo sembari membungkuk. Eunsoo kemudian menggenggam satu pergelangan tangan Chanyeol membuat Chanyeol terkesiap. “Ayo, aku akan membantumu berdiri.”

Saat Eunsoo berusaha keras membantu tubuh gendut Chanyeol agar berdiri, Chanyeol justru terdiam memandangi tangan gadis itu yang mencengkram pergelangan tangannya. Chanyeol merasa tangan Eunsoo begitu lembut dan hangat. Apa karena Eunsoo adalah gadis pertama? Ya, ini adalah kali pertama Chanyeol merasakan seorang gadis menyentuh tubuhnya. Entah mengapa, jantungnya menjadi berdebar-debar rasanya.

“Eung!!!” Eunsoo terus berusaha menarik tubuh Chanyeol. “Ya! Tubuhmu berat sekali!”

Tersadar. Chanyeol mengerjap cepat. Satu tangannya masih memeluk binatang peliharaannya. Chanyeol kemudian berusaha bangkit. Dengan bantuan Eunsoo akhirnya Chanyeol kembali berdiri.

“Huh!” Eunsoo membuang napas yang terdengar jelas. “Ya! Kau tidak apa-apa?” Tanyanya disertai helaan napas yang terdengar berat. Saat Chanyeol terus diam menatapnya, Eunsoo semakin mendekat, memeriksa kepala Chanyeol. “Kau terluka?” Memeriksa lengan Chanyeol. “Kau terluka?” Eunsoo bahkan membungkuk untuk memeriksa kaki Chanyeol, menarik celana Chanyeol membuat anak laki-laki itu membelalakkan matanya lebar-lebar. “Kau terluka?!”

 “Ti-tidak!” Jawab Chanyeol gagap.

Eunsoo kembali berdiri tegap. Saat Ia menatap Chanyeol, Chanyeol justru menundukkan wajahnya. Eunsoo kemudian melirik satu telapak tangan Chanyeol yang menutupi siku tangannya. Anak itu seperti menyembunyikan sesuatu pada Eunsoo. Lantas Eunsoo mendengus, lalu menarik pergelangan tangan Chanyeol membuat Chanyeol kembali terkesiap. “Ayo, aku akan mengobatimu.”

Meskipun jantungnya berdebar semakin kencang, Chanyeol hanya menurut saat Eunsoo menuntun langkahnya. Gadis itu membawa Chanyeol mendekati pohon besar tak jauh dari tempat mereka berada sebelumnya.

Di bawah pohon itu, mereka duduk berdampingan; Eunsoo, Chanyeol, lalu binatang peliharaan Chanyeol yang duduk dengan tenang di pangkuan Chanyeol.

Eunsoo menarik lengan kanan Chanyeol, kemudian menggulung lengan kemeja panjang bercorak kotak-kotak yang Chanyeol kenakan. Ketika gulungan kemeja itu melewati siku, terlihat luka goresan di siku Chanyeol yang sedikit berdarah.

“Benar ‘kan kau terluka?” Tanya Eunsoo lebih terdengar seperti omelan. Eunsoo mentap Chanyeol dengan sebal. “Jika kau terluka, kau harus mengatakan bahwa kau terluka. Aku sudah menolongmu tapi kau malah berbohong padaku, tidak sopan.”

Lagi-lagi Chanyeol hanya bisa diam menatapnya. Bingung harus mengatakan apa dan bersikap bagaimana.

“Tunggu sebentar.” Eunsoo meletakkan tangan Chanyeol di pangkuannya selagi Ia sibuk melepas ransel di punggungnya. Lalu Eunsoo mencari sesuatu di dalam tasnya tanpa menyadari Chanyeol tengah menatap sisi wajahnya lekat-lekat.

“Nah, ini dia.” Eunsoo tersenyum lebar setelah menemukan sebuah plaster luka dari dalam tasnya. Eunsoo kemudian segera membuka plaster bergambar bintang itu lalu menempelkannya pada luka di siku Chanyeol. Eunsoo menempelkan plasternya dengan hati-hati, kemudian mengelusnya. “Kau tahu? Aku ingin sekali menjadi dokter anak.”

Chanyeol menatap bingung wajah Eunsoo yang hanya berjarak beberapa senti meter dari wajahnya.

“Tapi aku sadar, aku terlalu bodoh dan orang bodoh sepertiku tidak mungkin menjadi dokter.”

Chanyeol tersenyum tipis. “Kau hanya perlu belajar agar menjadi pintar.”

Eunsoo meniup lembut luka Chanyeol yang sudah Ia balut dengan plaster. Lalu Eunsoo mengangkat wajah, tersenyum ringan kemudian menanggapi. “Aku tidak suka belajar.”

Chanyeol hanya tersenyum maklum melihatnya.

“Sudah selesai.” Eunsoo tersenyum puas sembari melihat plaster luka yang sudah melekat dengan sempurna disiku Chanyeol.

Lalu dengan gerakan kikuk Chanyeol segera menarik tangannya dan meletakkannya di atas pangkuan, memeluk binatang peliharaannya. “Te-terima kasih.” Ucap Chanyeol dengan wajah tertunduk, lalu menatap Eunsoo sekilas.

Tiba-tiba Eunsoo menatap Chanyeol dengan tatapan terkesan meneliti. “Kau juga berada di satu kelas yang sama denganku ‘kan?”

Kali ini Chanyeol memberanikan diri mengangkat wajahnya, untuk menatap Eunsoo lebih lama. “Y-ya, kau benar.”

“Astaga, aku hampir lupa jika kau adalah teman sekelasku.” Eunsoo tersenyum lebar sembari menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal.

Lagi-lagi Chanyeol hanya tersenyum maklum menanggapi. Memang, di kelas tingkat terakhir pada sekolah dasar, sudah hampir satu tahun ini mereka berada di dalam satu kelas yang sama. Chanyeol pikir Eunsoo seperti teman sekelasnya yang lain, menganggap Chanyeol tidak ada. Meskipun hampir lupa, setidaknya gadis itu mengingatnya dan mau menolongnya.

Di kelas, Chanyeol memang tidak memiliki teman. Entah mengapa orang-orang selalu menjauhinya, bahkan semenjak Ia berada di kelas dasar sampai saat ini, tidak ada orang yang mau berteman dengannya. Apalagi Chanyeol selalu mendapat peringkat satu di kelas, orang-orang jadi semakin benci padanya. Hal itulah yang akhirnya membuat Chanyeol menjadi pribadi yang tertutup. Chanyeol jadi lebih senang menikmati dunianya seorang diri. Dan juga dengan caranya sendiri.

Meskipun begitu bukan berarti Chanyeol mengabaikan teman-teman di kelasnya. Seperti Eunsoo contohnya. Chanyeol tahu Eunsoo cukup terkenal di kelasnya. Ya, gadis itu terkenal dengan sebutan paling malas di kelasnya, dan sebutan-sebutan paling buruk yang lainnya. Eunsoo jarang mengerjakan pekerjaan rumah, nilainya selalu rendah, suka mengantuk saat di kelas, sering terlambat. Meskipun guru-guru sudah sering menghukumnya, tapi hal itu sepertinya tidak membuat Eunsoo merasa jera.

Tapi satu hal yang membuat Chanyeol diam-diam kagum pada gadis itu. Chanyeol tidak tahu tepatnya kapan Ia mulai memperhatikan Eunsoo. Yang jelas, Chanyeol kagum padanya, meskipun Eunsoo selalu mendapat nilai rendah dan selalu menjadi penyebab guru mereka marah-marah, tapi Eunsoo tidak pernah terlihat sedih sedikitpun. Gadis itu juga tidak memiliki banyak teman, memangnya siapa yang mau berteman dengan orang sebodoh itu? Tapi Eunsoo tidak pernah terlihat kesepian. Eunsoo tetap bisa tertawa, bermain, berlari, seolah gadis itu tidak memiliki beban sedikitpun dalam hidupnya. Eunsoo selalu terlihat ceria. Senyumnya selalu mengembang dengan sangat indah.

Terkadang, Eunsoo membuat Chanyeol merasa sangat iri. Mengapa Chanyeol tidak bisa menikmati hidupnya seperti itu juga? Meskipun tidak punya teman, Chanyeol juga ingin bahagia dan tidak kesepian.

“Ya!!”

Chanyeol terkesiap, mengerjap cepat. Ia baru sadar dari lamunan dan mendapati Eunsoo tengah menatapnya dengan tatapan setengah kesal.

“Kau melamun?” Tuding Eunsoo.

Chanyeol cepat-cepat menggeleng. “Ti-tidak.”

Eunsoo hanya mendengus. “Baiklah.” Katanya. “Kalau begitu jika mereka mengganggumu lagi, kau harus melawannya. Kau ‘kan laki-laki! Jangan hanya badanmu saja yang besar, keberanianmu juga harus besar, kau mengerti?”

Chanyeol mengangguk pelan. “Y-ya, aku mengerti.” Saat Eunsoo mengangguk-angguk menanggapinya, Chanyeol kembali bersuara. “Oya. Apa.. pamanmu benar-benar seorang polisi? Apa.. kau akan menyuruh pamanmu untuk memenjarakan mereka?” Chanyeol kemudian memaksakan senyuman. “Sebaiknya jangan laporkan mereka. Mereka masih kecil. Lagipula aku sudah memaafkan mereka.”

“Pmft! Haha!” Eunsoo tiba-tiba tertawa, membuat Chanyeol menatapnya bingung. Gadis itu kemudian mendekat pada Chanyeol dan berbisik di telinga Chanyeol. “Aku berbohong. Keluargaku tidak ada yang menjadi polisi. Aku hanya menakut-nakuti mereka.”

Chanyeol menahan napas saat merasakan bibir Eunsoo sedikit menyentuh telinganya. Ketika Eunsoo kembali menjauh darinya, Chanyeol bisa bernapas sedikit lega, namun jantungnya tetap bekerja dengan tidak normal.

“Eunsoo-ya!!”

Eunsoo dan Chanyeol langsung menoleh ke asal suara. Tak jauh di depan mereka, seorang anak perempuan—teman Eunsoo—tampak melambai pada Eunsoo.

“Ayo pulang! Sudah sore Eunsoo!”

Eunsoo mengangguk. “Eoh!” Setelah itu Eunsoo berdiri. Chanyeol pun ikut berdiri sambil menggendong binatang peliharaannya di depan dada.

“Kau akan pulang?” Tanya Chanyeol saat melihat Eunsoo membetulkan ransel di punggungnya.

Eunsoo menatap Chanyeol dan mengangguk. “Tentu saja. Kau tidak pulang?”

Chanyeol tersenyum sembari mengangguk. “Ya, aku juga akan pulang.”

Selesai membetulkan ransel, Eunsoo menghadapkan tubuhnya pada Chanyeol, menunjukkan senyuman cerah, lalu menepuk lengan atas Chanyeol. “Kalau begitu aku duluan. Dan ingat!” Eunsoo menunjuk Chanyeol di depan hidungnya. “Jangan takut lagi jika ada yang mengganggumu! Kau harus melawannya. Kau itu laki-laki! Kau mengerti?”

Chanyeol berusaha menanamkan kalimat itu di dalam pikirannya, meyakinkan hatinya, menatap mata Eunsoo lalu Chanyeol pun mengangguk dengan mantab. “Ya, aku mengerti.”

Eunsoo mengangguk-angguk sembari tersenyum puas. Ia menyelipkan ibu jarinya pada tali ransel lalu berkata. “Baguslah, kalau begitu aku duluan. Sampai jumpa!” Sebelum benar-benar pergi, Eunsoo mengelus kepala binatang dalam dekapan Chanyeol. “Marmutmu lucu juga.” Ujarnya sambil terkekeh, lalu bergegas pergi.

Eunsoo berlari menghampiri temannya dan menjauh dari jangkauan Chanyeol. Meninggalkan Chanyeol tetap berdiri terdiam di sana. Saat sosok Eunsoo semakin menjauh, bibir Chanyeol melengkung dengan sendirinya. Ia terus seperti itu, membiarkan satu lengan kemejanya tetap tergulung menampakkan plaster luka bergambar bintang yang merekat pada sikunya.

.

Ya, peristiwa itu. Eunsoo mungkin tidak mengingat semuanya, tapi Chanyeol bahkan bisa mengingat setiap detailnya. Eunsoo juga mungkin tidak tahu, sejak kejadian itu, diam-diam Chanyeol semakin sering memperhatikannya. Saat Eunsoo bermain di taman belakang sekolah, Chanyeol akan mengikutinya sambil pura-pura membaca buku di sana. Saat di kantin, Chanyeol akan duduk di meja yang tak jauh dari Eunsoo berada. Saat di kelas, Chanyeol juga akan melirik gadis itu secara diam-diam. Pernah beberapa kali, saat istirahat Eunsoo tertidur di pojok kelas dekat jendela. Karena sinar matahari masuk melalui celah jendela, Chanyeol sengaja duduk di samping Eunsoo dan menghalangi sinar matahari agar tidak mengenai wajah gadis itu. Beruntung saat itu kelas juga dalam keadaan sepi. Hingga Eunsoo pun bisa tidur dengan tenang sementara Chanyeol terus memandangi wajah damai gadis itu dengan senyuman.

Pernah sekali, Chanyeol sengaja meninggalkan buku PR nya di rumah. Sesampainya di sekolah, sesuai dugaan Chanyeol, Eunsoo tidak mengerjakan PR nya. Hingga guru kemudian menghukum dengan menyuruh mereka berdiri di depan kelas sambil kedua tangan di angkat ke atas. Saat itu merupakan hukuman pertama yang Chanyeol terima dari sekolah. Ia tidak menyesal sedikitpun. Justru sebaliknya, Ia merasa sangat senang karena bisa berada di samping Eunsoo dengan jarak yang sangat dekat.

Saat itu Eunsoo juga sempat bertanya pada Chanyeol; “Hei gendut, tumben sekali kau tidak mengerjakan PR?” saat itu Chanyeol menjawab bahwa Ia lupa membawa PR nya. Setelah itu mereka sama-sama diam. Sama-sama menatap lurus ke depan. Eunsoo sesekali menguap, mendesah malas, menyanyi, sementara Chanyeol mencuri pandang ke arah gadis itu secara diam-diam, lalu Chanyeol akan menunduk sembari mengulum senyuman jika Eunsoo melirik ke arahnya.

“Kau ingat saat itu?” Tanya Eunsoo. “Aku membantumu saat anak-anak nakal itu mengganggumu. Dan setelah itu.. ah, aku lupa.” Eunsoo menggaruk belakang kepalanya yang tidak gatal, lalu memaksakan senyuman. “Maaf, aku memang pelupa. Aku hanya ingat saat itu tubuhmu gendut hingga aku kesulitan saat membantumu untuk bangun.”

Chanyeol tersenyum ringan dan mengangguk. “Ya, tentu saja aku ingat.”

“Lalu bagaimana?” Tanya Eunsoo, kali ini terdengar serius. “Saat itu marmutmu tidak apa-apa ‘kan?”

“Ya, tidak apa-apa.” Jawab Chanyeol. Ia tertawa kecil. “Ah, kau selalu menyebutnya marmut. Itu bukan marmut kau tahu?”

Eunsoo mendengus. “Ya apapun namanya itu. Tetap saja terlihat aneh karena kau selalu membawanya bermain di taman bersamamu. Apalagi saat kau menggendongnya.” Eunsoo tiba-tiba tertawa. “Kau ingat? Dulu tubuhmu gendut, kau memakai kaca mata, sambil menggendong binatang itu kau terlihat sangat aneh dan jelek.”

Ups!

Dua detik kemudian, tawa Eunsoo langsung terhenti. Ia menatap wajah Chanyeol dengan mulut yang masih setengah terbuka. Menyadari Chanyeol terus menatapnya dengan senyuman, Eunsoo cepat-cepat mengatupkan bibirnya rapat-rapat, lalu berdeham pelan sebelum akhirnya bersuara. “Ma-maaf. A-aku tidak bermaksud untuk… ma-maksudku…”

“Kau masih saja banyak bicara.” Sela Chanyeol. Satu tangannya kemudian meraih telapak tangan Eunsoo, menggenggamnya dengan hangat membuat jantung Eunsoo mecelos rasanya. “Aku lapar, kita harus mencari tempat untuk makan.”

Eunsoo menatap Chanyeol dengan tatapan yang sulit diartikan. Ia hanya mengangguk pelan. Tak mampu berkata-kata karena mendadak lidahnya terasa kelu. Kemudian Chanyeol menuntun Eunsoo dan mereka melanjutkan langkah setelah itu. Chanyeol mengedarkan pandangan ke sekitar, mencari-cari tempat makan di daerah itu. Sementara Eunsoo terus memperhatikan tangan besar Chanyeol yang menggenggam telapak tangannya. Rasanya benar-benar hangat. Hangatnya bahkan sampai menjalar ke seluruh tubuh Eunsoo, membuat Eunsoo kembali merasakan getaran aneh pada jantungnya.

Eunsoo kemudian mendongak, menatap sisi wajah Chanyeol lekat-lekat seraya menyebut nama pria itu dalam hatinya. “Park Chanyeol…”

***

Eunsoo tengah berdiri di depan cermin seraya kedua tangannya sibuk merapikan baju dan juga rambutnya. Setelah memasang tas selempang kecil, bibir Eunsoo melengkung. Oh, rasanya Eunsoo tidak sabar menjalani kencan kedua bersama Chanyeol malam ini.

Eh, tunggu. Kencan? Memikirkan itu membuat senyum Eunsoo memudar seketika. Kenapa Eunsoo harus memikirkan tentang kencan bersama Chanyeol? Ck! Eunsoo pasti sudah gila. Eunsoo pun menggeleng cepat, menghembuskan napas panjang lalu berbalik dan berjalan menuju pintu kamarnya.

“Eunsoo?”

Eunsoo menghentikan langkah saat pintu kamar tinggal beberapa langkah lagi darinya. Ia mendapati sang Ibu kini berjalan ke arahnya lalu berdiri tepat di hadapannya.

“Kau akan pergi?” Tanya Nyonya Shin. “Kemana?”

Eunsoo berdeham pelan sebelum menjawab. “A-ah, aku akan—“

“Pergi bersama Chanyeol?” Sela Nyonya Shin. Tiba-tiba Nyonya Shin mendekat ke arah dada Eunsoo sembari mengendus aroma tubuh gadis itu. “Kau menumpahkan parfum dibajumu?”

Eunsoo melotot, lalu mundur dua langkah dari Ibunya. “Ibu!” Serunya tak terima. “Mengapa Ibu berbicara seperti itu?”

Nyonya Shin kembali mendekat, lalu mendekatkan wajahnya pada Eunsoo dan meneliti setiap inci dari bagian wajah Eunsoo, membuat Eunsoo langsung menatap Ibunya kebingungan. “Kau bahkan memakai lipstick tebal malam ini, bedakmu juga.” Nyonya Shin memundurkan wajahnya, kemudian menatap Eunsoo dengan mata memincing. “Hmm…”

Merasa risih ditatap Ibunya seperti itu, Eunsoo mendengus kesal. “Y-ya! Bukankah Ibu sendiri yang menyuruhku untuk menikah dengannya? Mengapa sekarang Ibu bersikap seperti ini padaku?” Eunsoo cemberut, lalu mengelap kasar bibirnya dengan punggung telapak tangan. “Lipstick ku juga tidak terlalu tebal. Pandangan Ibu saja yang bermasalah.”

Masih menatap Eunsoo dengan mata memincing, Nyonya Shin kemudian menunjukkan senyuman misterius, membuat Eunsoo tidak tahan melihatnya hingga Eunsoo bergegas mengambil langkah untuk pergi.

“Aku pergi!” Pamit Eunsoo sambil berlalu.

Gadis itu keluar kamar meninggalkan Ibunya yang kini tersenyum puas. “Sudah kuduga, Eunsoo pasti akan menyukainya. Ck! Dasar anak itu.”

_

_

_

Sebuah taxi berhenti di depan bangunan rumah sakit Incheon. Adalah Eunsoo yang tampak turun dari taxi itu. Setelah taxi itu pergi menjauh, Eunsoo berdiri menghadap ke arah bangunan rumah sakit yang berdiri kokoh di hadapannya. Ia berdecak kagum. “Woah! Besar sekali rumah sakit ini. Chanyeol pasti bangga bisa bekerja di sini.”

Eunsoo pernah mendengar bahwa rumah sakit ini termasuk salah satu yang terbesar dan terbaik di Korea. Tidak heran, dari halaman dan bangunan bagian depan saja sudah terlihat sangat mengagumkan.

Eunsoo kemudian memperhatikan pemandangan tak jauh di depannya. Beberapa orang tampak lalu lalang di pintu utama rumah sakit. Sebenarnya, sore tadi Chanyeol menelfon Eunsoo dan mengajak Eunsoo untuk makan malam bersama. Tapi Chanyeol akan sedikit sibuk jadi pria itu meminta Eunsoo untuk menemuinya di rumah sakit tempat Chanyeol bekerja.

Eunsoo pun menghembuskan napas yang terdengar jelas. Lalu mulai melangkah ke arah pintu rumah sakit sembari mengangkat sedikit lengannya, mengendus aroma tubuhnya sendiri sembari bergumam. “Parfumku tidak berlebihan ‘kan? Ya, mungkin Ibu sedang flue.

Setelah masuk, Eunsoo bertanya pada resepsionis tentang keberadaan Chanyeol. Resepsionis perempuan itu mengatakan bahwa Chanyeol masih menangani pasien. Setelah Eunsoo mengatakan bahwa Ia memiliki janji dengan Chanyeol, resepsionis itu menyarankan agar Eunsoo pergi ke Departemen Anak dan menunggu Chanyeol di sana.

Eunsoo mengikuti perintah resepsionis itu dan Ia pun pergi ke bagian Departemen Anak. Setibanya di koridor pertama, beberapa anak yang mengenakan baju pasien rumah sakit tampak berlarian sambil tertawa melewati Eunsoo, hampir saja menabrak Eunsoo hingga Eunsoo harus menepi ke dinding.

“Ya! Kalian!” Seru seorang perawat laki-laki yang berlari tak jauh di belakang anak-anak tadi.

Saat perawat itu semakin mendekati Eunsoo, Eunsoo menatapnya bingung sembari semakin mendempet ke arah dinding, takut kalau-kalau perawat itu akan menabrak tubuhnya.

Tapi setelah perawat itu berlari melewati tubuh Eunsoo, langkahnya tiba-tiba terhenti. Ia mundur beberapa langkah lalu berdiri di hadapan Eunsoo, menilikkan wajahnya di depan wajah Eunsoo membuat Eunsoo menatapnya dengan mata melebar.

“Oh? Siapa kau?” Tanya sang perawat.

Eunsoo menatap perawat itu dengan ekspressi bingung. Ia mengerjap pelan. “A-aku..”

“Kau wanita yang memiliki janji dengan dokter Park?”

Meskipun Eunsoo bingung dari mana perawat itu mengetahui janjinya dengan Chanyeol, tapi akhirnya Eunsoo mengangguk pelan menanggapinya. “Y-ya, kami memiliki janji.”

Perawat yang memakai name tag bertuliskan Kim Minseok itu tersenyum lebar sambil kembali berdiri dengan tegap. “Jadi kau orangnya?”

Eunsoo hanya menunjukkan senyum yang terkesan dipaksakan sembari mengangguk pelan.

“Tapi saat ini dokter Park sedang memeriksa pasien. Kau bisa menunggu di ruangannya, pergi saja.” Minseok tersenyum lebar. “Aku harus pergi karena masih ada hal yang harus kuurus. Bye!”

Minseok kemudian melesat pergi—kembali mengejar anak-anak tadi—tanpa terlebih dahulu memberitahu Eunsoo dimana letak ruangan Chanyeol sebenarnya. Lantas Eunsoo pun menatap jejak kepergian Minseok dengan tatapan setengah kesal.

“Ck! Kemana aku harus pergi sekarang?” Gerutu Eunsoo. Ia mendengus pelan, lalu melanjutkan langkah pelan sambil memperhatikan keadaan kanan dan kirinya.

Selama beberapa menit, Eunsoo memasuki koridor-koridor namun Ia tidak menemukan dimana ruangan Chanyeol berada. Eunsoo ingin bertanya pada seseorang, tapi beberapa perawat yang Ia jumpai tampak begitu sibuk jadi Eunsoo tidak ingin mengganggu mereka. Eunsoo menghentikan pergerakan kakinya di depan sebuah ruangan, Ia mendesah pelan. “Di mana dia?”

Eunsoo menunduk, berniat mengambil ponsel dari dalam tas selempangnya saat pintu ruangan di sisi tubuhnya tiba-tiba dibuka dari dalam, seorang anak laki-laki keluar dari sana, anak itu tiba-tiba berjongkok, ketika Eunsoo menoleh, sebuah buku melayang ke arahnya lalu mengenai lengan atasnya.

Eunsoo sedikit meringis, sementara seorang anak perempuan yang mengenakan baju pasien, yang merupakan pelaku pelemparan buku itu tampak terkejut menatap Eunsoo. Ia bahkan menutup mulutnya dengan kedua telapak tangan. Beberapa temannya yang juga mengenakan baju pasien tampak mendekati anak perempuan itu seraya mereka menatap Eunsoo dengan tatapan takut.

Eunsoo mengurungkan niat mengambil ponselnya. Ia menunduk, memungut buku di samping kakinya lalu memperhatikan buku itu.

“Itu salah satu buku cerita yang dibelikan oleh dokter kami.” Kata anak laki-laki yang masih berjongkok di ambang pintu.

“Benarkah?” Tanya Eunsoo.

Anak laki-laki itu mengangguk, lalu Ia berdiri seraya menunjukkan senyuman lebar. “Apa noona mau membacakannya?”

Kulit kening Eunsoo berkerut samar. “Apa?”

Anak laki-laki itu mengangguk. Lalu Ia menunjuk anak perempuan yang tadi melemparkan buku itu sembari menatapnya sebal. “Ji Eun tidak mau membacakan buku cerita itu pada kami.” Ia kembali menurunkan tangannya, kemudian mendongak menatap Eunsoo disertai ekspressi wajah yang masih setengah kesal. “Padahal Ji Eun paling tua di sini. Jadi.. noona, apa noona mau membacakan buku cerita itu untuk kami? Hm?”

Eunsoo menatap anak laki-laki itu sejenak, lalu memandangi Ji Eun yang masih di kelilingi anak-anak lain di dalam ruangan. Eunsoo berpikir mungkin tidak ada salahnya, lagipula perawat tadi mengatakan bahwa Chanyeol masih memeriksa pasien ‘kan? Pria itu mungkin sedang sibuk.

Lantas, Eunsoo kembali menatap anak laki-laki itu lalu tersenyum. “Baiklah, aku akan membacakan buku cerita ini untuk kalian.” Jawab Eunsoo yang langsung disambut sorakan senang dari anak laki-laki itu dan teman-temannya di dalam ruangan.

“Ayo, noona! Masuklah.” Anak laki-laki itu menarik lengan Eunsoo dan membawa Eunsoo masuk ke dalam ruangan. Eunsoo pun membalas sambutan anak-anak itu dengan senyuman mengembang.

_

_

_

Di sebuah ruang rawat, Chanyeol barusaja selesai memeriksa keadaan seorang anak perempuan berusia tujuh tahunan yang tengah terbaring lemah di ranjang rawat.

“Dayoung-ah, dengarkan kata-kata Ibumu setelah ini, hm?” Chanyeol tersenyum lembut sembari membetulkan selimut Dayoung yang menutupi hingga batas dada gadis itu. “Kau harus menjaga makananmu. Jika kau makan sembarangan, lambungmu bisa sakit lagi. Kau mau melihat Ibumu sedih?”

Dayoung menggeleng pelan, lalu melirik Ibunya yang berdiri di sisi ranjang, yang tengah menatapnya dengan tatapan cemas.

“Kalau begitu kau harus rajin meminum obatmu. Sampai sembuh, janji?” Chanyeol kemudian mengulurkan jari kelingking, dan Dayoung pun menautkan jari kelingkingnya pada jari Chanyeol setelah itu.

“Hm, janji.” Sahut Dayoung pelan.

Chanyeol tersenyum puas. “Anak pintar.” Lalu Ia berdiri tegap dan menghadapkan tubuhnya pada Ibu Dayoung yang berdiri tak jauh darinya. “Jangan khawatir, Nyonya. Dayoung akan baik-baik saja.” Kata Chanyeol menenangkan. “Tapi untuk sementara Dayoung tidak boleh makan makanan selain yang berasal dari rumah sakit. Ini agar lambungnya bisa sembuh secara total.”

Ibu Dayoung mengangguk paham. “Baik, dokter. Terima kasih atas bantuan Anda.” Lalu Ia membungkuk di hadapan Chanyeol sebagai tanda terima kasih dan Chanyeol pun membalasnya.

Kemudian, Chanyeol pamit keluar. Setelah Chanyeol keluar dari ruang rawat Dayoung, air muka Chanyeol menjadi cemas. Ia melangkah dengan nada terburu-buru seraya satu tangannya merogoh ponsel dari dalam saku jas dokter yang melekat di tubuhnya. Jam di ponselnya sudah menunjukkan pukul sembilan malam, menyadari itu membuat Chanyeol semakin cemas. Ya, pasalnya Ia meminta Eunsoo untuk pergi menemuinya sekitar pukul tujuh. Tapi karena tadi ada operasi mendadak, Chanyeol harus melakukan operasi itu terlebih dahulu. Dan Ia tidak mengira jika operasi itu akan memakan waktu yang sangat lama. Eunsoo mungkin marah padanya.

Chanyeol menghentikan pergerakan kakinya dipertengahan koridor, setelah mencari kontak Eunsoo di ponselnya, Chanyeol segera menempelkan ponsel itu di telinga.

Chanyeol menghembuskan napas yang terdengar jelas. Keributan kecil yang masuk dalam pendengarannya membuat Chanyeol kemudian menoleh ke sebuah ruangan yang berada tepat di samping tubuhnya. Pria itu langsung terdiam, karena di dalam ruangan dengan pintu yang sedikit terbuka itu, Chanyeol melihat Eunsoo tengah duduk di salah satu ranjang rawat di kelilingi beberapa anak yang tampak antusias mendengar cerita yang wanita itu bacakan. Lantas perlahan, Chanyeol menurunkan ponsel itu dari telinganya, memutuskan panggilan. Bibir Chanyeol kemudian melengkung tipis disusul kedua kakinya yang kemudian bergerak, Chanyeol mendekat kearah pintu, membuka pintu perlahan lalu Chanyeol menyandarkan tubuhnya di sisi pintu, melipat kedua tangan di depan dada sembari memperhatikan Eunsoo dan anak-anak itu yang berada tak jauh di depan sana.

Chanyeol menahan senyuman, saat di depan sana Eunsoo tengah memeragakan sosok seorang penyihir yang menyeramkan. Wanita itu benar-benar berusaha keras menunjukkan sosok penyihir yang sesungguhnya, membuat wajahnya sungguh jelek, bahkan suaranya. Anak-anak itu bahkan menjerit karenanya, tapi setelah itu mereka tertawa. Chanyeol terus memperhatikannya, melihat Eunsoo yang kemudian memerankan sosok seorang laki-laki perkasa, sosok anak kecil, bahkan menirukan suara bayi menangis hingga seorang anak kemudian terdengar bersuara.

“Oh? Dokter Park?!”

Eunsoo masih menunjukkan ekspressi wajah seorang bayi yang menangis saat Ia menoleh ke arah pintu. Mendapati Chanyeol yang berdiri di sana, tersenyum hangat padanya, Eunsoo langsung terdiam. Dan perlahan Ia merubah ekspressi wajahnya hingga kembali ke normal seperti biasanya.

“Dokter Park!” Anak-anak itu berseru sembari berlari menghampiri Chanyeol, meninggalkan Eunsoo begitu saja. Chanyeol pun menyambut mereka dengan senyuman hangat. Kemudian anak-anak itu menarik kedua tangan Chanyeol dan membawa Chanyeol berdiri mendekati Eunsoo.

Eonni.” Panggil Ji Eun. “Ini dokter kami. Dialah yang membeli semua buku-buku cerita itu. Selain baik, dokter kami juga tampan ‘kan?” Ujar Ji Eun dengan bangga.

Chanyeol mengelus pelan puncak kepala Ji Eun. Masih tersenyum, Chanyeol kemudian melirik Eunsoo dan mendapati wanita itu juga tengah menatapnya.

Oh, Ji Eun benar. Dokter mereka benar-benar tampan. Melihatnya mengenakan jas dokter seperti itu membuat paras Chanyeol berkali-kali lipat lebih tampan dari biasanya. Eunsoo pun menunjukkan senyuman kikuk ketika Chanyeol terus menatapnya.

“Apa mereka menyuruhmu membacakan semua buku-buku itu?” Tanya Chanyeol sembari melirik setumpuk buku cerita yang berada di samping tubuh Eunsoo.

Eunsoo menatap tumpukan buku itu sejenak, kembali menatap Chanyeol lalu menjawab. “Y-ya. Mereka menyukai semua ceritanya.”

“Maaf.” Kata Chanyeol. “Aku pasti membuatmu menunggu sangat lama.”

“Tidak apa-apa.” Eunsoo tersenyum lebar. “Karena membacakan cerita pada mereka, aku tidak sadar jika ternyata aku sudah menghabiskan waktu cukup lama. Bukan cuma mereka, sepertinya aku juga menikmatinya.”

Chanyeol tersenyum, begitupun Eunsoo. Mereka terus saling memandang tanpa menyadari anak-anak itu mulai menatap mereka bergantian dengan tatapan curiga.

“Huuu~ sepertinya kalian saling mengenal, benarkah?” Tanya Ji Eun yang langsung ditanggapi tatapan penasaran dari anak-anak lainnya.

Eunsoo menatap Ji Eun dengan ekspressi sedikit was-was, sementara Chanyeol tersenyum pada Ji Eun sebelum akhirnya menjawab. “Ah, aku hampir lupa.” Lalu Chanyeol menarik tangan Eunsoo, membawa wanita itu berdiri di sampingnya kemudian memperkenal Eunsoo pada anak-anak itu yang kini berdiri di hadapan mereka (Chanyeol dan Eunsoo). “Perkenalkan, dia calon istriku.”

“Apa?!”

“Woah!”

Daebak!”

Anak-anak itu tampak terkejut sambil berdecak kagum. Sementara Eunsoo juga menatap Chanyeol terkejut, tidak menyangka jika Chanyeol akan berkata seperti itu pada anak-anak.

Chanyeol tersenyum ringan pada anak-anak itu, kemudian Ia menoleh, membalas tatapan Eunsoo lalu bergumam. “Kenapa kau melihatku seperti itu? Kau tidak suka aku menyebutmu sebagai calon istriku?”

Eunsoo menggeleng pelan. “Ti-tidak. Bukan itu.” Ia kemudian terdiam memandangi Chanyeol. Berfikir, mengapa tiba-tiba Ia berkata seperti itu? Apa itu berarti dia senang Chanyeol menyebutnya sebaga calon istri? Entahlah, Eunsoo bingung. Sebagian hatinya merasa senang, dan sebagian lagi berkata tidak kah ini terlalu cepat?

“Eunsoo-ya.”

Tersadar, Eunsoo mengerjap cepat. “Y-ya?”

Masih tersenyum, Chanyeol bertanya. “Kau melamun?”

Eunsoo menelan samar salivanya. “Ti-tidak. Aku hanya..” Mendadak Eunsoo merasakan pipinya memanas saat Chanyeol terus menatapnya seperti itu. Eunsoo pun menundukkan pandangan sembari menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, bingung harus berkata bagaimana.

“Kalian terlihat sangat serasi!” Celetuk Ji Eun yang langsung ditanggapi dengan anggukan setuju oleh anak-anak lainnya.

“Benarkah?” Chanyeol bertanya dengan senyuman semakin mengembang.

“Ya, seperti pangeran dan putri yang ada di buku cerita.” Sahut seorang anak laki-laki lima tahunan yang berdiri di samping Ji Eun.

Chanyeol mengulum senyuman. Saat Eunsoo semakin menundukkan wajahnya karena malu, satu tangan Chanyeol yang semula menggenggam tangan Eunsoo tiba-tiba beralih menarik pinggang wanita itu, mendempetkan tubuh mereka membuat Eunsoo terkesiap.

“Kami akan menikah sebentar lagi.” Kata Chanyeol, membuat Eunsoo langsung menatapnya dengan mata membulat. “Jika kalian ingin melihat kami menikah,” Chanyeol menatap anak-anak itu bergantian. “kalian harus rajin meminum obat agar kalian cepat sembuh. Jika sudah sembuh, kalian boleh hadir di pesta pernikahan kami.”

Anak-anak itu langsung bersorak kegirangan, beberapa diantara mereka bahkan melompat-lompat kecil di hadapan Chanyeol. Lantas Chanyeol pun melihat mereka dengan senyuman yang cerah, sementara Eunsoo memperhatikan sisi wajah Chanyeol lekat-lekat.

Eunsoo tidak tahu harus berkata bagaimana. Entah mengapa Ia tidak keberatan atas kata-kata yang barusaja pria itu lontarkan. Oh, apa Eunsoo juga menyukainya? Entahlah. Yang jelas, untuk alasan yang tidak Eunsoo ketahui, diam-diam bibirnya melengkung membentuk sebuah senyuman bangga.

_

_

Chanyeol dan Eunsoo barusaja keluar dari  pintu utama rumah sakit. Mereka berjalan berdampingan menuju mobil Chanyeol yang terparkir di halaman depan rumah sakit. Setibanya di sisi mobil, mereka menghentikan langkah, lalu Eunsoo menghadapkan tubuhnya pada Chanyeol dan berkata. “Ehm, Chanyeol-ah.”

Chanyeol turut menghadapkan tubuhnya pada Eunsoo, kemudian menatap wanita itu dengan tatapan bertanya-tanya. “Ada apa?”

Eunsoo tersenyum tipis. “Hm.. sepertinya ini sudah malam. Sepertinya kau juga sangat sibuk hari ini, kau pasti sangat lelah.” Senyum Eunsoo semakin mengembang. “Bagaimana jika besok saja kita pergi makan malam? Kau istirahat saja setelah ini. Aku akan pulang sendiri menggunakan taxi.”

Chanyeol mendesah pelan. “Kau benar, aku sangat lelah sekarang. Tapi..” Ada jeda sejenak sebelum Chanyeol kembali melanjutkan. “Sudah jauh-jauh kau datang kesini, kau bahkan menungguku sangat lama. Aku merasa bersalah padamu.”

“Tidak apa-apa.” Eunsoo menggeleng pelan. “Aku mengerti dokter sepertimu pasti sangat sibuk. Lagipula aku melakukan hal menarik saat menunggumu. Jadi kau tidak perlu merasa bersalah padaku.”

“Tidak bisa.” Chanyeol tersenyum tipis. “Aku harus tetap menebus kesalahanku padamu. Hm.. bagaimana jika kita pergi ke apartemen ku saja?”

Eunsoo mengerjap pelan. “A-apa?”

Chanyeol mengangguk. “Ya, apartemenku tidak jauh dari rumah sakit ini. Kita makan malam saja di sana. Aku akan memasakkan makanan yang enak untukmu. Kau pasti lapar ‘kan?”

Eunsoo masih menatap Chanyeol dalam diam. Berfikir, apa Chanyeol barusaja mengajaknya ke apartemen? Hanya mereka berdua? Larut malam seperti ini? Astaga..

“Eunsoo?”

Eunsoo mengerjap cepat. “Y-ya?”

Chanyeol tersenyum hangat. “Bagaimana? Kau mau ‘kan? Ayolah, kau harus mau.”

Eunsoo menunjukkan senyuman yang terkesan dipaksakan. Uh, bagaimana ya? Sebetulnya Eunsoo khawatir, mengingat Ia belum pernah menjalin hubungan dengan pria sekalipun. Ini adalah kali pertama ada pria yang seperti ini padanya. Lalu berada di sebuah tempat hanya berdua, Eunsoo hanya takut terjadi sesuatu yang buruk padanya.

Tapi melihat wajah tampan Chanyeol yang masih tersenyum hangat padanya… Oh, ya ampun. Eunsoo tidak kuasa menolaknya.

Wanita itu pun akhirnya mengangguk. “Ya, aku mau.” Jawabnya, membuat Chanyeol langsung menanggapinya dengan senyuman senang.

_

_

_

“Silahkan masuk.” Chanyeol mempersilahkan sembari menekan saklar lampu di permukaan dinding tak jauh dari pintu masuk.

Setelah itu, semua lampu ruangan pun menyala, menampakkan ruang apartemen yang luas, juga mewah dan elegan membuat Eunsoo terkagum-kagum melihatnya. “Woah, apartemenmu benar-benar bagus.” Kata Eunsoo sembari memperhatikan sekitar.

Eunsoo melangkah maju perlahan sementara Chanyeol hanya memandanginya dengan senyuman. “Kau menyukai tempat ini?” Tanya Chanyeol. “Jika kau menyukainya, setelah menikah nanti bagaimana jika kita tinggal di sini saja?”

Pergerakan kaki Eunsoo langsung terhenti, Ia berbalik lalu menatap Eunsoo tak mengerti. “Apa?”

Chanyeol mengambil beberapa langkah maju mendekati Eunsoo, berdiri di depan Eunsoo lalu menjawab. “Aku sengaja memilih tempat ini karena tidak jauh dari tempatku bekerja. Letaknya juga cukup strategis. Kurasa sangat cocok untuk ditempati setelah kita menikah nanti. Bagaimana menurutmu?”

Eunsoo mengerjap pelan, lalu menunjukkan senyuman yang terkesan dipaksakan sebelum akhirnya menanggapi. “Kenapa kau berbicara seperti itu?” Senyumnya semakin lebar. “Kita bahkan baru bertemu beberapa ha—“

“Kenapa?” Sela Chanyeol sembari menarik pinggang Eunsoo ke arahnya, memangkas habis jarak diantara mereka, hanya menyisakan jarak antara wajah mereka yang tak lebih dari lima senti saja. “Apa kau tidak mau menikah denganku?” Tanya Chanyeol menatap Eunsoo dengan serius.

Mata Eunsoo terbuka sempurna, tak berkedip, sementara kedua tangannya kini mengepal erat di sisi tubuhnya. Dengan jarak seperti ini, Eunsoo bisa merasakan napas hangat Chanyeol menerpa wajahnya, membuat Eunsoo merasakan lidahnya kelu dan jantungnya juga mulai bergetar hebat di dalam sana. Mengapa?

“Eunsoo,” Chanyeol menatap Eunsoo tepat di matanya. “apa.. kau benar-benar tidak mau menikah denganku?”

Eunsoo mengerjap pelan, bingung harus menjawab apa, Eunsoo akhirnya menundukkan pandangan.

Chanyeol menghembuskan napas pelan melihatnya, menjauhkan wajah mereka lalu melepaskan tangannya dari pinggang Eunsoo, sedikit mundur dari hadapan Eunsoo membuat Eunsoo langsung menatapnya dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Baiklah, mungkin kau belum bisa menjawabnya sekarang.” Kata Chanyeol. “Tapi aku akan tetap menunggu.”

Eunsoo hanya diam.

“Oya, aku akan membuat makan malam kalau begitu.” Chanyeol tersenyum simpul sebelum akhirnya melangkah pergi. Ia mendekati pantry yang berada tak jauh dari ruang tengah. Setibanya di sana, Chanyeol menggulung lengan kemeja putih sampai kesikunya, lalu membuka kulkas dan mencari-cari sesuatu di dalam sana.

Ditempatnya, Eunsoo menghembuskan napas yang terdengar panjang, perlahan satu tangannya menyentuh permukaan dada seraya Ia bergumam pelan. “Tidak bisakah kau sedikit lebih tenang, huh?” Eunsoo memejamkan mata sejenak, menurunkan tangan lalu setengah memutar tubuh dan berjalan mendekati pantry.

Eunsoo berdiri di depan meja panjang yang ada di dapur sembari memperhatikan Chanyeol yang mulai sibuk meletakkan daging, telur, sayur dan bahan-bahan makanan lainnya di atas meja di depan mereka.

“Sepertinya kau pandai memasak.” Ujar Eunsoo.

Chanyeol mendongak menatap Eunsoo sekilas. Tangannya kini sibuk memotong daging segar saat Ia berkata. “Ya, dulu setelah lulus dari sekolah dasar, orang tuaku mengirimku ke Jepang. Selama sekolah di sana, aku tinggal di asrama. Tapi saat masuk ke perguruan tinggi, aku tinggal di sebuah apartemen dan aku belajar memasak dari sana.”

Eunsoo mengangguk-angguk mengerti. “Ah, jadi seperti itu.”

Chanyeol meletakkan pisaunya di sisi telanan, kemudian Ia mengambil sebuah stroberi dari dalam mangkuk kecil lalu menyodorkan buah itu di depan mulut Eunsoo. “Cobalah.”

Eunsoo menatap Chanyeol sejenak. Meskipun sedikit ragu, namun Eunsoo kemudian membuka mulut dan membiarkan Chanyeol memasukkan stroberi itu ke dalam mulutnya. Eunsoo barusaja sekali mengunyah stroberi itu saat tiba-tiba jemari Chanyeol menyentuh sudut bibirnya, membersihkan sesuatu disana membuat Eunsoo kini terdiam menatap pria itu.

“Bagaimana rasanya?” Tanya Chanyeol sembari menarik tangannya kembali. Ia tersenyum hangat. “Manis ‘kan?”

Eunsoo mengangguk. “Eoh, rasanya manis.” Jawabnya pelan, lalu kembali mengunyah stroberi di dalam mulutnya dengan gerakan canggung.

Chanyeol kembali sibuk dengan bahan-bahan makanan di atas meja.

Setelah Eunsoo menelan semua stroberi yang ada di dalam mulutnya, wanita itu bersuara. “Chanyeol-ah.

Chanyeol mendongak menatapnya. “Ya?”

“Aku ingin ke kamar kecil sebentar.”

Chanyeol mengangguk. “Ya, silahkan. Pergi saja ke kamarku, di sana.” Lalu pria itu menunjuk sebuah pintu yang berada tak jauh dari pantry.

Eunsoo mengikuti arah yang ditunjuk Chanyeol, setelah itu Eunsoo meletakkan tas selempangnya di atas kursi di samping tubuhnya, lalu berpamitan pada Chanyeol untuk pergi.

Setibanya di depan pintu kamar Chanyeol, Eunsoo membuka pintu itu dengan hati-hati. Ia kemudian masuk dan terdiam sejenak saat memperhatikan kamar berukuran cukup luas yang tertata sangat rapi itu. Eunsoo benar-benar kagum. Kamarnya saja jarang sekali Ia rapikan. Tapi laki-laki itu… astaga.

Eunsoo mendengus pelan, kemudian berjalan menuju pintu yang terletak di sudut kamar. Di dalam kamar mandi itu, Eunsoo berdiri di depan washtafel sembari mencuci kedua telapak tangannya. Setelah itu Ia mengecek lipstick nya, merapikan rambutnya, lalu berdiri tegap untuk merapikan bajunya. Eunsoo menghembuskan napas yang terdengar jelas, sebelum akhirnya keluar.

Eunsoo barusaja menjauh beberapa langkah dari pintu kamar mandi saat maniknya menangkap sesuatu yang membuat langkahnya kini terhenti perlahan. Disudut kamar yang lain, tepatnya di samping lemari pakaian yang berukuran besar, Eunsoo melihat sebuah pintu yang sedikit terbuka. Eunsoo menatapnya bingung, bertanya-tanya dalam hati ruangan apa itu?

Lalu rasa penasaran dalam hatinya pun menuntun langkah Eunsoo untuk mendekati tempat itu. Setibanya di depan pintu, Eunsoo membuka pintu itu dengan hati-hati. Lalu Ia masuk dan memperhatikan ruangan yang tidak cukup luas yang ada di depannya. Ada sebuah meja kerja lengkap dengan kursinya. Di sisi meja terdapat sebuah lemari yang terisi penuh dengan buku-buku yang tersusun rapi. Eunsoo kemudian melirik ke sisi yang lain, ke arah satu-satunya lampu yang menyala tengah menyorot sesuatu di permukaan dinding.

Ya, di dinding itu, terdapat sebuah black board berukuran sedang yang tertempel cukup banyak foto di permukaannya. Foto-foto itu yang membuat Eunsoo kini terdiam, entah mengapa seketika Ia merasakan lututnya melemas. Namun perlahan, Eunsoo akhirnya berjalan mendekat, berdiri di depan black board itu dan memperhatikan foto-foto itu lekat-lekat.

Eunsoo benar-benar bingung, mengapa foto-foto dirinya tertempel di situ?

Ya, setelah Eunsoo perhatikan, semua foto-foto itu adalah foto tentang dirinya. Foto yang sepertinya diambil tanpa sepengatahuan Eunsoo. Apa maksudnya?

Satu tangan Eunsoo bergerak perlahan, menyentuh sebuah foto yang berada tepat di hadapannya. Di foto itu Eunsoo tampak mengenakan seragam SMA lengkap dengan ranselnya, disana Eunsoo yang menguncir kuda rambutnya tampak berdiri di sebuah tempat dan tentu saja wajahnya tidak mengarah pada kamera.

Eunsoo kemudian melirik ke foto-foto yang lain. Ada foto saat Eunsoo tengah duduk di halte juga mengenakan pakaian sekolah (kali ini rambutnya tampak tergerai bebas), foto saat Eunsoo bersiap ke kampus barusaja keluar dari pagar rumahnya, foto saat Eunsoo makan ramen di sebuah mini market, foto saat Eunsoo tengah berkunjung ke Namsan Tower, dan banyak lagi. Bahkan foto saat Eunsoo berdiri di depan mini market sambil membawa plastik beberapa malam hari yang lalu juga tertempel di sana.

Tiba-tiba Eunsoo merasakan sesuatu yang aneh menyelinap di dalam hatinya. “Tidak mungkin.” Gumam Eunsoo pelan.

“Eunsoo?”

Suara Chanyeol terdengar jelas. Jantung Eunsoo mendadak bergetar sangat hebat di dalam rongga dadanya. Eunsoo diam sejenak sebelum akirnya berbalik perlahan, lalu menatap Chanyeol yang berdiri di ambang pintu dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Kau..” Chanyeol menatap Eunsoo dengan serius. “Melihatnya? Foto-foto itu.”

Eunsoo tak menjawab. Bergeming. Terus menatap sepasang iris Chanyeol seolah mencari-cari sesuatu yang tersembunyi di sana.

_

_

Di bagian tepi tempat tidur, mereka duduk berdampingan dengan wajah yang sama-sama tertunduk. Sudah lebih tiga menit mereka lalui dalam keheningan.

Adalah Chanyeol yang kemudian menoleh, menatap Eunsoo dalam-dalam sebelum akhirnya membuka suara. “Eunsoo-ya, sebenarnya..”

“Apa kau yang melakukannya?” Tanya Eunsoo, lalu membalas tatapan Chanyeol dan melanjutkan. “Foto-foto itu, apa kau yang melakukannya selama ini? Apa.. diam-diam kau mengikutiku selama ini?”

Chanyeol menatap wanita itu lekat-lekat. Setelah mendesah pelan, Chanyeol menjawab. “Ya, aku yang melakukannya.”

Eunsoo hanya diam menatapnya.

“Apa masih kurang jelas? Bahwa aku memiliki perasaan yang istimewa untukmu.” Ada jeda sejenak sebelum Chanyeol kembali melanjutkan. “Bahkan sejak saat itu. Kau mungkin tidak mengingatnya, Eunsoo. Tapi aku menyimpan baik-baik kenangan itu di dalam pikiran dan hatiku. Saat itu, saat pertama kali aku bisa melihatmu dari jarak yang sangat dekat, saat pertama kali kau berbicara padaku, saat perama kali kau menyentuhku, kurasa.. saat itu aku benar-benar menyukaimu.”

Eunsoo semakin terdiam, sembari mengingat kejadian saat itu. Ya, Eunsoo ingat, meskipun tidak semua bisa Ia ingat, tapi Eunsoo ingat saat Ia menolong Chanyeol dan menempelkan plaster luka bergambar bintang miliknya pada luka di siku Chanyeol.

“Kau menjadi istimewa dihatiku semenjak saat itu, bahkan hingga saat ini.” Chanyeol tersenyum tipis. “Diam-diam aku memperhatikanmu, dan aku belajar banyak hal darimu. Kau pasti tahu sendiri bahwa dulu aku adalah seseorang yang pengecut, payah. Tapi karena kau.. aku belajar memberanikan diri untuk menghadapi apapun itu. Bahkan aku berusaha untuk mengalahkan ketakutan yang ada dalam diriku sendiri. Aku tidak ingin lagi kau melindungiku. Aku hanya ingin suatu saat.. aku menjadi seorang pemberani yang bisa melindungimu. Ya, seharusya akulah yang melindungimu. Eunsoo-ya..”

Chanyeol meraih satu telapak tangan Eunsoo yang berada di pangkuan wanita itu, menggenggamnya dengan hangat. “Awalnya aku ingin menolak saat orang tuaku akan mengirimku ke Jepang setelah aku lulus sekolah saat itu. Aku hanya tidak suka dengan lingkungan yang baru. Kau tahu sendiri ‘kan? Aku payah dalam hal berbaur dengan sekitarku. Tapi mereka terus memaksaku, aku tidak punya pilihan lain, hingga akhirnya aku menuruti kemauan mereka untuk pergi ke Jepang. Di sana, entah mengapa aku selalu merindukanmu. Setiap hari, aku selalu memikirkanmu. Pada awalnya aku tidak memiliki teman di sana, tidak ada seorang pun yang mau berteman denganku. Tapi saat aku mengingat kata-katamu.. kau benar, aku laki-laki, aku harus menjadi seseorang yang pemberani. Mengingat kata-katamu, mengingat tawamu membuat banyak hal berubah dalam hidupku.”

Eunsoo terus diam, menatap Chanyeol dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Maaf,” Chanyeol menggenggam tangan Eunsoo semakin erat, senyumnya pun semakin mengembang. “karena setiap tahun saat aku liburan ke Seoul, aku memang selalu diam-diam mengikutimu. Entahlah, melihatmu dari jauh saja cukup membuatku merasa senang. Aku mencari informasi tentang dirimu dari teman-teman sekelas bahkan orang tuamu.”

“Orang tuaku?” Tanya Eunsoo bingung.

Chanyeol mengangguk. “Ya, aku bertemu dengan orang tuamu sekitar satu tahun yang lalu. Saat aku memutuskan untuk menetap di sini dan mulai bekerja di rumah sakit. Diam-diam aku menemui orang tuamu dan meminta mereka untuk merahasiakan semua ini darimu. Tidak ada maksud lain, karena saat itu aku belum benar-benar hidup mandiri, jadi aku hanya ingin.. saat aku menemuimu, aku sudah menjadi seseorang yang pantas. Pantas mendampingimu dan pantas hidup bersamamu.”

Eunsoo menatapnya lekat-lekat. “Chanyeol-ah.”

“Aku mencintaimu.” Kata Chanyeol. “Aku tidak peduli jika kau pernah—atau bahkan sampai saat ini kau masih menyukai pria lain, aku akan tetap mencintaimu. Aku sangat mencintaimu, Eunsoo.”

Tiba-tiba Eunsoo merasa matanya mulai memanas. Mengingat selama ini.. jadi Chanyeol terus memperhatikannya? Saat dirinya sibuk dengan pria yang tidak mungkin menjadi miliknya—Joonmyeon, ada Chanyeol yang diam-diam dengan tulus mencintainya?

“Apa kau tahu mengapa aku bisa menjadi dokter anak seperti sekarang?” Tanya Chanyeol. “Karena saat itu kau pernah berkata padaku, kau bercita-cita menjadi dokter anak tapi kau merasa dirimu bodoh dan kau juga tidak suka belajar. Karena kau tidak yakin bisa mewujudkan cita-citamu, jadi aku melakukannya. Ya, ini semua untukmu.”

Lihat, Chanyeol bahkan rela mewujudkan cita-cita yang sebenarnya tidak terlalu Eunsoo pikirkan. Eunsoo sadar dengan kemampuan otaknya yang berada dibawah rata-rata, jadi dia tidak berharap akan sangat sukses di masa depan. Tapi melihat Chanyeol saat ini, melihat pengorbanan Chanyeol selama ini, membuat Eunsoo merasa benar-benar tidak pantas.

“Mengapa kau melakukan semua ini?” Tanya Eunsoo dengan nada pelan. “Kau benar-benar bodoh.” Eunsoo tersenyum hambar. “Tidak. Aku tidak pantas menerima semua ini darimu. Kau seharusnya tidak melakukan ini untukku.”

Kedua tangan Chanyeol kemudian terulur, menyentuh pipi Eunsoo dan menangkupnya dengan hangat.

“Aku berhutang banyak hal padamu.” Kata Chanyeol. “Aku merasa.. karenamu aku bisa menjadi seperti sekarang ini. Ya, kau Eunsoo. Kau adalah kekuatanku. Kau semangatku. Dan aku ingin kau menjadi bagian dari hidupku.”

Chanyeol tersenyum hangat. Lalu wajahnya mendekat, tangannya pun menarik wajah Eunsoo ke arahnya hingga akhirnya bibir mereka bertemu, kelopak mata Chanyeol tertutup perlahan setelah itu.

Selama beberapa detik, mereka terus terdiam. Lalu saat Eunsoo merasakan bibir Chanyeol mulai bergerak di permukaan bibirnya, Eunsoo menutup matanya perlahan. Merasakan ribuan kupu-kupu berputar-putar dalam perutnya bersamaan dengan rasa hangat yang menjalar hingga ke seluruh syaraf tubuhnya. Ya, rasanya hangat, dan menenangkan. Eunsoo merasa tengah berada di suatu perasaan paling menenangkan yang belum pernah Ia rasakan sebelumnya.

Chanyeol mencium wanita itu lamat-lamat, dengan penuh perasaan seraya kedua tangannya mengelus pipi Eunsoo dengan lembut. Hingga setelah beberapa saat kemudian, pergerakan bibir Chanyeol perlahan terhenti. Ia membuka mata perlahan sembari menjauhkan wajahnya dari Eunsoo, lalu menatap wanita itu dengan senyuman lembut dan dengan tatapan mata yang dalam.

“Aku ingin bertanya lagi padamu. Apa.. kau bersedia menikah denganku?”

Eunsoo menatap Chanyeol lekat-lekat. Merasa seperti ada sebuah pintu besar yang barusaja terbuka di dalam hatinya. Kini semua hal tentang Chanyeol masuk ke dalam pintu itu dan memenuhi isi hatinya, bahkan pikirannya. Seolah menjawab mengapa jantungnya selalu bergetar saat Chanyeol menatap matanya, mengapa Ia selalu gugup saat Chanyeol menyentuhnya. Eunsoo tidak peduli dengan cinta pada pandangan pertama seperti yang dikisahkan di dalam drama-drama yang biasa Ia lihat di televisi. Yang jelas, saat ini, Eunsoo ingin Park Chanyeol berada di sisinya. Eunsoo juga ingin mengenal pria itu lebih jauh, mengetahui warna kesukaannya, makanan favoritnya, dan apa-apa saja yang tidak disukai pria itu. Eunsoo ingin berada di sisi pria itu untuk menikmati senyuman indahnya lebih lama. Mendengar suaranya, dan melakukan banyak hal bersamanya.

Lalu masihkan Eunsoo meragukan perasaannya?

Sepertinya tidak. Karena setelah itu Eunsoo akhirnya menjawab. “Ya, aku bersedia, menikah denganmu, Chanyeol.”

Kebahagiaan itu terpancar jelas dari mata Chanyeol. Ia menarik wajah Eunsoo untuk kemudian mendaratkan kecupan hangat di kening wanita itu—cukup lama. Setelah itu Chanyeol menarik tubuh Eunsoo dan membawanya ke dalam dekapan paling hangat yang akan Ia berikan hanya untuk wanita itu, wanita yang teramat di cintainya.

Eunsoo pun membalas pelukan Chanyeol. Menyandarkan sisi kepalanya pada dada bidang Chanyeol seraya kedua tangannya memeluk tubuh pria itu erat-erat. Pelukan Chanyeol membuat Eunsoo seolah Ia tengah berada disuatu tempat paling aman dan paling menenangkan di dunia. Benar-benar membuat Eunsoo bahagia.

“Terima kasih.” Eunsoo bergumam pelan. Meskipun matanya masih tampak memerah, tapi bibirnya kini melengkung dengan indah. “Terima kasih untuk semuanya. Dan maaf, karena aku baru menyadarinya. Sepertinya aku.. jatuh cinta padamu, Chanyeol.”

Chanyeol mempererat pelukannya, mengecup puncak kepala Eunsoo dengan lembut lalu menjawab. “Eunsoo-ya, aku mencintaimu.”

_

_

_

_

_

_

*end*

Hai!! Awalnya aku ngga nyangka ternyata masih banyak juga yang ngasih respon sama FF ‘The Name I Loved’ meskipun yang ku kasih cuma resume-nya. Aku terharu, dan anggap aja ini sebagai hadiah. Hadiah yang cukup panjang sebenernya. Butuh waktu yang cukup lama untuk selesaiin FF ini. Berasa berkarat otakku karena udah cukup lama ngga buat FF, jadi maaf kalau ini jelek dan ngga memuaskan. Dan aku bingung buat judulnya. Entah nyambung apa ngga, suka aja sama lagunya Chanyeol, jadi dipake deh (alasan paling ngga masuk akal mungkin).

Terima kasih untuk kalian yang masih mau nungguin tulisanku yang hanya ala kadarnya. Dan spesial thanks untuk Niken Park yang udah mau bantuin publish. Dapat salam cinta dari mas Cahyo (salamnya untuk kamu, cintanya untuk aku :’)

Yang masih nungguin resume kedua sabar yaa.. sibuk, jadi agak susah luangin waktu untuk ngetik FF. See you~

249 responses to “YOU ARE – by noonapark

  1. Cerita hidup eunsoo kaya saya masa…tapi yg cerita mirisnya aja yg sama T_T klo cowo yg suka sama saya mah gak ada kali..hiks…
    Pokonya… cerita noona park selalu bikin aku…tak bisa betkata-kata…jjang noona park…
    Kiss kiss dari mas cahyo 😘

  2. alhamdulillah eonni masih update, semangat nulis eonn.. meskipun lama, aku suka banget nungguin updatean ff dari eonn.. semangaaaat eonn, lafyyuu 😍😍😍😍

  3. Gak tau kenapa dari semua ff chanyeol, yg paling ngelekat di hati ya punya noonapark T_T duh ada ga ya cowok kayak gitu selain chanyeol ? T_T Lol sweet parah disini dia nya .. kalo cewek digituin ya gak bisa nolak jelas ..
    Salah sendiri sempurna banget sih jadi orang .. eunsoo beruntung banget sumpah xD
    oh ya aku juga nunggu yang the name i love hehehe aku suka banget mskpun cuma resume nya aja ..😀

  4. Di Awal nasib Kesialan Eunsoo Banyak Banget,
    Pas Akhir” Menyenangkan Apalagi Pas Sama Chanyeol,
    ,
    baca Ff Nya Kayak Aku Yang Ngalamin Sendiri :v Berharap dari Cerita Ini Terjadi Sama Kehidupan Ku :v Tapi Jangan Yang Sial Nya😀
    .
    Ff Nya Daebak Eonn😀 Berharap Nih Ff Ada Sequel Pas Married Nya,Hihihi

  5. Demi kuping caplang chanyeol sumpah ff ini sweet bgt:”
    Kak ff ini panjang bgt aku puasss bgttt. Trs liat penderitaan eunsoo yg hampir sebelas duabelas sama kyk aku itu sempet bikin nyesek sedikit:((((( Tapi untung ada mas cahyo yg setia mencintai eunsoo. Lucky eunsoo><
    Dan juga…. aku bingung harus ngomong apalagi karena di setiap ff kakak semuanya pasti selalu bgs:")
    Keep writing ya kak!! Aku tunggu ff lainnyaa terutama resume the name i love hahaha

  6. Antara pengen ngakak sama kasian pas bagian chanyeol gendut sambil bawa marmut makin jelek. Gemesss banget hahahahahahahaha. Aduh aku ngakak banget gilak 😂😂😂.

    yaaa gapernah kecewa rasanya sama hasil kak ima💕💕💕💕
    Semangat terus bikin ff ya kak!!!! salam marmut hahaha✌✌✌✌✌

  7. Yaampun OMG OMG ini sumpah bikin senyum sentum sendiri baper kan sama si ceye aduhhh jdi cowo kok ganteng banget baik banget sempurna banhet haduhhhhh

  8. Ceritanya sweet banget 😍 apalagi aku baru liat fantasy of love, langsung kebayang senyum chanyeol 😊 ditunggu ff yang lain

  9. aaaahhh kak ima aku baru sempet baca.. sumpah deh kak ima.. ini sweet banget.. kangen sama tulisan kak ima.. kangen bayangin chanyeol mesem2 gitu kak.. kangen eunsoo.. kangen hoon.. kangen kak imaa… hiks..

  10. Aaa akhrnya kak ima apdet lg yeay 😂🙌🙏 seneng bgt bsa bca karya kakak lgi… gomawo kak 😉

  11. yakkkk!!!!! eunsooo biarkn q menggantikn posisi mu…..
    ahhhhhh PARK CHANYEOL….
    sbenar.y sihh kurg greget k ‘ ima mungkin krna adegn romantis.y kurg kali yaaaa..

  12. Ini sweet banget!! Yeol bikin aku sukses jerit2 karena dia baik dan pengertian banget !
    Jadi dokter anak buat memenuhi cita2 Eun Soo, pengertian, setia, aaahhhh 😍😍😍😍
    Semangat untuk karya lainnya !!🙂

  13. Kakak aku udah lama baca ff kakak tapi belum sempet komen soalnya baru berani sekarang2 huhuu maafkan yaaa?😦 Btw, cerita yang ini bagus banget tapi komedinya kurang.hmz jadi kangen ff kakak yang stupid lovers :’3 tapi gapapa, aku tetep suka ko hihi dan aku juga masih nunggu resume kedua ‘the named i loved’ kok kak. Sekali lagi maaf ya baru bisa ngasih komentar😦 ditunggu cerita berikutnya ({})

  14. Daebakkkk eonni…. selalu buat aku kaya ngelihat drama beneran,, suka banget lah eonm,, di tunggu,, ff yang lain eonnn≧﹏≦

  15. Ini ff yang paling melekat di hati sumpah!😄
    Ceritanya bagus bangett!
    Need sequel please 😆😁😃

  16. Daebak kak! Pertama kalinya aku mapir kesini, disuguhin cerita kek gini.. jadi nagih bacanya ~ soalnya aku suka sama penyajian cerita sama pilihan kata yang dipake.. klepek-klepek dah ~ apalagi castnya mas ceye. Kiskis dari mas ceye tuh kak!

  17. aduh thor ff karyamu selalu bagus..
    ya ampun ini sumpah sweet bangeet😍
    baca ini bikin ketawa2 sendiri melting tauu😂

  18. anyyeeeeoong kak ima ^^

    kak kamu harus tanggung jawab gara2 ini ff aq jadi nyengir2 sendiri kyk orang waras hahaha😀
    sumpah kak ini bener2 bikin hati meleleh bacanya ^^ chanyeol disini, sumpah demi apa dia mengoda seperti coklat wkwk #udhkykiklan
    ini bener2 full chansoo moment,, ga ada orang ketiga yg ganggu mereka.. bener2 hadiah yg mengharukan T^T #lebay.com

    disini lagi2 aq iri sama eunsoo,, huuhh walau kemampuan otak ny dibawah rata2 tp ada aja orang yg cinta ny gtu bgt sama dia bikin baper tingkat dewa :3

    kak the name i loved yg resume 3 ny aq always nunggu loohh.. kak ima kudu tanggung jawab😛 hehe maksa gtu
    itu ff bikin aq jd galau,, soalny kak ima bahas2 tentang mau STOP dr dunia perffan >_< masih aja berat buat lupain author noonapark.. aq msh ga rela,, soalny noonapark udh lama bgt aq suka ffny, kykny belum ada yg bisa gantiin dech😦 hhuuft

    udh deehh drpd aq jd seleb #sedihlebay mending aq cut aja sampai sini,, see you next time kak ima😉 fighting

    Tertanda
    Binisehun❤

  19. huaaaa ini ff tersosweet yang pernah aku bacaaaa >< astaga pengen gitu ya ada laki laki yang diem diem jatuh cinta gitu ya hihihi *ngarrep apalagi kalo lakilakinya chanyeol *digampar ka ima

  20. Waaaaa manis sekaliii
    Suka suka
    Apa ceritanya terinspirasi dari dokter yg mirip chanyeol yg meriksa daeul di return of superman?
    Disini chanyeol nya tak terduga gitu haha
    Overall seruu
    Ff selanjutnya ditunggu

  21. eonni kok ff nya eonni tuh feel nya luar biasa , suka terbawa suasana terus , Aaaa aku udah lama gabaca ff eonni , sibuk soalnya , bahkan lagi diambang bingung antara harus ninggalin yg berhubungan sama koreaa , tapi aku suka terus semua yg berhubungan sama korean , suka banget semua ff nya eon , kangen sama ff nya , tapi waktunya itu loh eon nyempet2in ajaa . makin suka sama chan-soo couple , tapi kan chanyeol buat aku :v . Suka banget pokoknya eonni:) , makasih masih nyempetin ff nyaa , thanks eonni and I love you , miss you eon . fightingg

  22. eonni kok ff nya eonni tuh feel nya luar biasa , suka terbawa suasana terus , Aaaa aku udah lama gabaca ff eonni , sibuk soalnya , bahkan lagi diambang bingung antara harus ninggalin yg berhubungan sama koreaa , tapi aku suka terus semua yg berhubungan sama korean , suka banget semua ff nya eon , kangen sama ff nya , tapi waktunya itu loh eon nyempet2in ajaa . makin suka sama chan-soo couple , tapi kan chanyeol buat aku :v . Suka banget pokoknya eonni:) , makasih masih nyempetin ff nyaa , thanks eonni and I love you , miss you eon . fighting eonni

  23. Waah ini panjang banget kaak 😂 duh suka banget sama ff inii ❤ gak kebayanvg chanyeol jd dokter anakk ❤😍 jarang banget ada cowok kek chanyeol disini yang bisa nerima ceweknya apa adanya :”) nice kaak 😆 keep writing yaa 😘😊 kangen banget sm ff kaka huhu TTTTT

  24. ciyeee🙂 😉 😀

    Hahahahahahhahahahhahahahahahhahahahahahhahahahahhahahahahahahahhahahahh
    Semuaaa tidak akan berjalann dengannnnnn burukkkk
    😉 🙂

    Yyyeyeyyyeyeyyeyeyeyye finallyyyyyyyyyyyyyyyyyyy
    chukkaeeeeeeeeeee

  25. astagaaaa ini sweet nya dpt banget
    pengorbanan chanyeol ini bikin dia beda dari karakter dia di ff lainnya, gak bisa jelasin deh gimana rasanya kalo jadi eunsoo, ada yg mau berkorban buat dia
    love you author-nim!!!

  26. Terharu….Cinta bgt ma Chan. Perjalan hidup yang cukup sulit bagi Eunsoo, tapi dia mendapatkan banyak fi akhirnya. Siapa yg menyangka anak gendut pake kaca mata bermain sama ‘marmut’ bisa tumbuh menjadi pria tinggi nan tampan. Dokter, lagi. Aku mah juga rela hidup susah di awal klu bisa mendapatkan jackpot seperti Eunsoo. Wkwk😂😭

  27. chanyeol jd dokter anak..
    ahhh gk kbyang dech keg mna gnteng na s chan pke jas dokter..
    ahh eun soo mah mujur amt bisa d cntai ama chab

  28. Ini sweet banget. Cita2 eunsoo sama kayak cita2 aku hahah. Chanyeol disini tuh kayak yang udah ughhhh bikin melting banget. Yang care banget. Yang hanger hanget ngangenin aaaa :******

  29. Bagus banget ceritanya😂😂 chanyeol juga so sweet banget😍 eunsoo beruntung banget yaa😂

  30. Kak,,,,, ini bener” bikin aku nangis dari pertengahan cerita sampe ceritanya udah end tetep aja meweknya gak kelar”😥
    Salut sama karakter chanyeol disini, berwibawa, dewasa, mapan, berpendidikan. Sangat Melengkapi kekurangan eunsoo. Mereka berdua juga saling melengkapi apa yang kurang dan apa yang lebih dari diri mereka. Ada berbagai cobaan tiba” datang menghampiri eunsoo hingga putus asa, tapi tuhan selalu punya rencana kan? . Datang seorang yang bisa melengkapi eunsoo, menghapus kesedihan eunsoo, dengan kedangan yang tidak bisa tebak namun bisa membuat eunsoo mikir “gak mungkin, dan gak nyangka” . Overall aku suka ceritanya simple tapi ngena dihati.. karena ketika penulis bisa merangkai kata hingga pembaca terbawa oleh cerita. Maka karya yang dibuatnya sudah sukses / berhasil . Kalo ada penghargaan bisa kasih, top female writer nih🙂

  31. Aku baru saja ketemu ff ini… Feelnya dapet.. Aku suka diawal part,, merasa hal yg sama seperti eunsoo tidak ada hal yg berjalan lancar.. Hah chanyeol benar” mengagumkan…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s