[CHAPTER] DAY DREAM – I’II CRY #11 B (APPLYO)

day-dream-copy

Title: Day Dream –I’II Cry #11B  by Applyo
Author: Applyo (@doublekimJ06)
Cast:
– Kim Jongin
– Yoon Jihyun
Genre: Romance, Marriage life, Drama.
Lenght: Multichapter
Rate: PG-15
Poster by Ken-ssi @Art Fantasy
Baca dulu ^^ : TeaserChapter 1 Chapter 2 – Chapter 3 –Chapter 4 – Chapter 5 –Chapter 6A – Chapter 6B – Chapter 7 – Chapter 8 – Chapter 9 – Chapter 10 – Chapter 11A

I’ll cry if it’s not you
I would cry
I’ll cry if it’s not you
I would be so hurt
Everything does not mean
Without
A step slower
dear my love
 [PLAY –> Kim Ji Soo – I’II  Cry (OST Choco Bank)]

Kim Jongin memijat pelipisnya menggunakan sebelah tangannya, sementara tangan yang lain sibuk memegang kemudi. Dia tidak tahu lagi bagaimana cara mengusir bayangan Jihyun yang akan semakin menderita disisinya— dari kepalanya.

Jongin membanting kemudinya ke arah kanan lalu menginjak pedal remnya kuat-kuat. dalam posisi terduduk di dalam mobilnya  ia terdiam, dan kembali merenungi keputusan yang sudah ia pikirkan selama berjam-jam.

Melepaskan Jihyun demi kebahagiannya.

Jongin terus membiasakan otaknya untuk berpikir bahwa ia tidak akan mati meski Jihyun tak di sisinya. Bahkan ia akan baik-baik saja sekalipun Jihyun akan membencinya.

Tapi bayangan akan Jihyun yang terlihat bahagia bersama oranglain kerap kali menggoyahkan pertahanannya untuk tidak mengubah keputusannya, membuatnya berpikir kembali apa ia memang harus melepaskan gadis itu untuk kebahagiaan nya sendiri, atau tidak. Atau justru menuruti ego-nya untuk menahan gadis itu di sisinya, bersamanya, tak peduli jika Jihyun akan terus menangis setiap harinya.

Jongin ingat betul perjuangannya agar Jihyun bahagia, dia bahkan rela menikah dengan Jihyun pedahal ia tahu pasti bahwa ia sama sekali tak menyukai Jihyun sebelumnya. Dia juga berubah menjadi pria rumahan saat Jihyun tengah hamil, entah naluri itu datang dan merubah diri Jongin dengan sendirinya.

Itu karena Jihyun. Pengaruh Jihyun begitu besar dalam hidupnya. Jihyun seolah mengobati luka hatinya yang terlalu kecewa pada ayahnya, Jihyun pula yang seolah membuatnya nyaman seperti ibunya dulu.

Jongin menghela napasnya panjang, seraya menolehkan kepalanya ke arah jendela mobilnya. Ia menatap ke dalam gelapnya malam di luar sana, dengan tatapan menerawang.

Apa ia benar-benar harus melepaskan Jihyun?

Sulit rasanya…

Jongin kembali terdiam. Sejurus kemudian, entah mendapat ide dari mana ia merogok ponselnya lalu mengetikan sebuah pesan singkat, Setelah selesai mengetik lalu mengirimkan pesan itu, dengan segera Jongin mematikan ponselnya lalu melempar benda itu ke jok belakang mobilnya.

Ia frustasi, bingung, sedih dan gugup. Entah apa yang harus ia pilih saat ini, semuanya terasa menyesakan dan sekali lagi Jongin kembali menarik napas panjang, mencoba memutuskan sesuatu: Dia tidak akan memikirkan Jihyun lagi. Tidak agar Jihyun bahagia tanpanya. Tanpa Hyunjo yang akan menyakitinya lagi.

Mungkin dengan cara melepasnya perlahan, setidaknya Jihyun akan bahagia nantinya.

Pukul tiga dini hari Jongin baru kembali ke rumahnya. Dia berjalan dengan hati-hati saat membuka pintu apartemen. Dilihatnya wajah cantik Jihyun yang terlelap tak nyaman di sofa. Dia yakin gadis itu sedang menunggunya hingga pulang dan berakhir tertidur di sofa.

Ingin sekali Jongin membangunkan Jihyun lalu menyuruhnya untuk tidur di kamar, tapi niatannya tiba-tiba berubah. Ia malah membiarkan Jihyun tertidur disana dengan tak nyaman. “Maafkan. Aku.’’ Ujarnya, lalu menghampiri Jihyun sebentar dan berjongkok tepat di depan wajah Jihyun.

Ia menatap wajah itu berlama-lama, mencoba merekam semuanya dengan baik di dalam otaknya, Jongin memandangi wajah Jihyun tanpa berkedip, ia bahkan meneteskan beberapa airmatanya yang sudah tak sanggup ia bendung lagi karena kesedihan itu.

Sebab mulai besok, hari-hari menyedihkan dalam hidupnya akan dimulai. Dia tak akan pernah lagi menjadi Jongin yang dulu.

Itu demi Jihyun. Prinsip Kim Jongin tetaplah sama.

Jihyun tiba-tiba terbangun dari tidurnya, ia memijat belakang lehernya sendiri yang terasa begitu nyeri karena ia tak sengaja tertidur di sofa.

Gadis itu dengan segera menyambar smartphone nya lalu melihat jam yang tengah menunjukan pukul empat pagi. Perasaan tak karuan tiba-tiba melintas dalam benaknya saat ia berpikir bahwa Jongin belum pulang hari ini. Jihyun meringis pelan. Merasa khawatir terjadi sesuatu dengan suaminya itu. Handphone Jongin juga tak aktif sejak ia mengimkan sebuah pesan bahwa ia akan pulang terlambat. Tapi seterlambat inikah?

Jihyun akhirnya memutuskan untuk kembali tidur di kamarnya, mungkin Jongin memang tak pulang hari ini. Mungkin dia menginap di rumah Kyungsoo untuk mengerjakan tugasnya. Dan ia tak ingin berprasangka buruk pada Jongin. Tapi saat Jihyun membuka pintu kamarya, betapa terkejutnya Jihyun melihat Jongin sudah berbaring di ranjang. Dia sudah tertidur sangat pulas.

Entah perasaan nya tiba-tiba kesal melihat Jongin yang sudah tertidur. Dia  bahkan tak membangunkannya saat pulang dan membiarkan Jihyun di ambang kecemasan karena menunggu Jongin semalaman, tapi mungkin ini hanya perasaan Jihyun yang terlalu berlebihan. Dia sendiri tak terlalu ambil pusing, dan memilih mengabaikan perasaan nya yang kesal itu.

Keesokan harinya Jihyun bangun dari tidurnya, ia bangun sedikit terlambat dan buru-buru berselingut dari tempat tidurnya karena nampaknya Jongin sudah bangun lebih awal darinya.

Jihyun sedikit berlari keluar kamarnya dan ia menemukan Jongin yang sudah duduk di depan meja makan dan memakan sebuah roti tawar dengan sekotak susu kemasan. Baju yang Jongin gunakan sudah rapih dan nampaknya ia sudah sangat siap untuk pergi.

“Kim Jongin. Maaf aku terlambat.” Jihyun buru-buru mengambil beberapa bahan masakan di kulkas dan bersiap untuk memasak sarapan, ia tak mungkin membiarkan Jongin hanya sarapan sebuah roti dan susu. Tidak—karena ia sudah berjanji untuk membuat sarapan setiap hari.

“Tidak perlu.” Jongin menjawab datar dan dingin.

Jihyun menghentikan aktivitasnya lalu menatap Jongin dengan kening mengkerut. “Kau marah karena aku bangun terlambat?”

‘’Hmm…’’ Jongin menggumam, lalu beranjak berdiri dari kursinya. ‘’Hari ini aku pulang terlambat. Tidur saja duluan dan jangan menunggu seperti semalam.’’ Jongin kembali membuka suara, tapi nadanya masih terdengar dingin dan datar.

“Jam berapa kau akan pulang? Biar aku masakan makan malam.’’

“Tidak perlu. Lagipula aku aku akan makan malam dengan teman-temanku.” Jongin mencium dahi Jihyun sebentar sebelum keluar dari ruang makan tersebut dengan perasaan tak keruan. Kata-katanya begitu dingin dan ia tahu bahwa Jihyun pasti sedih mendengarnya. Pria itu lalu mengambil kunci mobilnya dan segera bergegas pergi tanpa kembali menengok kebelakang.

**

Jihyun  tak bisa menahan dirinya untuk tidak menghampiri Jongin dan mengajak pemuda itu berbicara. Pasalnya, hampir seharian ini Jongin mengacuhkannya. Dia hanya berdiam diri di kamar dan sibuk dengan handphone nya.

Jongin nampaknya tengah bertukar chat dengan seseorang, karena sesekali dia tertawa sendirian di depan layar smartphonenya itu, atau berkutat tak jelas di atas tempat tidur sambil memegangi terus handphonenya.

Saat Jihyun mendekat, Jongin tiba-tiba memungunginya dan berpura-pura tak melihatnya. Dia bahkan berpura-pura tidak mendengar saat Jihyun berbicara—menganggap Jihyun tidak ada disisinya saat itu juga.

‘Sebenarnya, ada apa dengan Jongin hari ini?’

Jihyun tidak hentinya mengulang pertanyaan itu dalam hatinya. Benar, gadis Yoon itu penasaran. Jongin yang ia kenal—adalah Jongin yang perhatian, dan jika ia bersikap dingin biasanya pemuda itu tengah marah. Tapi seingat Jihyun, ia tak berdebat hal apapun dengan Jongin, bahkan kemarin-kemarin ia masih bersikap baik-baik saja dan Jongin juga masih baik-baik saja.

Jihyun menghela nafasnya berat, kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangan dan buru-buru mengahampiri Jongin yang baru saja keluar dari kamar lalu duduk di meja makan. Pemuda itu mengambil sendok dengan sebelah tangan dan tangan satunya lagi ia sibukan dengan smartphonenya itu.

“Kim Jongin?………Kau mendengarkanku?”

Jongin mendongak, nampak enggan mengalihkan tatapannya ke wajah Jihyun yang barusaja duduk di hadapannya. “Ya, Jihyun…”

Jihyun menatap Jongin heran dan ia masih mencoba tersenyum ke arah Jongin. “Ada apa denganmu hari ini?”

“Aku baik-baik saja. Memangnya kenapa?” Jongin kembali menatap ponselnya. Mengabaikan Jihyun yang tengah menatapnya heran.

“Oh ya. Tadi aku bertanya padamu. Kira-kira kapan kita akan pergi kerumah sakit untuk check up?” Jihyun mencoba kembali bertanya dan terus menatap Jongin.

“Mungkin nanti.” Jawaban yang begitu singkat. Bahkan Jongin tak menoleh sedikitpun untuk melihat wajahnya.

Jihyun mendengus. Lalu tersenyum samar, ia seolah sadar bahwa selain egois ternyata Jongin punya sifat lain yang tak kalah aneh. “Oh, kau nampak sibuk dengan ponselmu sedari tadi.” ujar Jihyun mulai kesal. Ia bersedekap. “Memangnya kau bertukar chat dengan siapa?”

“Oh ini.. Jung Yeri….teman sekelasku… dia tengah membahas soal ujian minggu depan— ” kata Jongin tanpa menolehkan kepalanya sedikitpun pada Jihyun. Dia hanya memandang ke arah smartphone-nya lagi.

Jihyun merapatkan bibirnya. Menahan diri untuk tidak merebut smartphone Jongin dan membantingnya ke lantai. “Yeri? Dia teman sekelasmu?”

Tidak ada jawaban. Jongin telah kembali sibuk mengetik di layar ponselnya, bahkan ia tersenyum-senyum sendiri di hadapan ponselnya.

Ingin sekali Jihyun membalikan meja makan saat ini lalu membuang ponsel Jongin jauh-jauh. Dia tidak tahu pasti, kapan Jongin mulai bersikap aneh dan kembali bertukar chat dengan seorang wanita—walau itu membicarakan tugas tapi tetap saja rasanya aneh—jika chat itu berlanjut hingga seharian dan memangnya tugas apa hingga harus bertukar chat segala.

Jihyun meremas ujung bajunya sendiri lalu berlalu pergi meninggalkan Jongin sendirian di meja makan. Mungkin ini disebut dengan cemburu oleh kebanyakan wanita.

Sayangnya, kegiatan chat itu berlangsung hingga hari-hari berikutnya. Awalnya Jihyun bisa memaklumi, tapi lama-kelamaan sebagian waktunya untuk mengobrol dengan Jongin mulai semakin terkikis. Setiap kali Jihyun memiliki waktu untuk mengobrol pasti Jongin tengah sibuk dengan smartphonenya itu, dan jika Jihyun memaksakan untuk berbicara maka Jongin akan membalas perkataannya dengan singkat atau tidak menjawab sama sekali.

“Jongin, ada apa sebenarnya? Kenapa akhir-akhir ini tingkahmu aneh sekali?” tanya mJihyun, suatu hari saat ia dan Jongin sedang berada di sebuah restoran cepat saji untuk makan malam dan Jongin hanya berkutat dengan smartphone nya sejak ia datang.

“Aneh bagaimana, Jihyun? Aku masih mau menemanimu makan bersama walau aku sibuk?”

“Menemani? Kau hanya berkutat dengan ponselmu sendiri dan sama sekali tidak menggubrisku yang duduk di dekatmu, Jongin!” seru Jihyun, dengan nada suara yang sedikit meninggi. “Kau tidak pernah seperti ini… kau aneh”

Jongin menghembuskan napas berat. “Aku aneh?…Hey, sejak kapan kau menjadi haus perhatian seperti ini? Bukankah biasanya kau lebih suka aku diam?” Jongin mencebikan bibirnya lalu menaruh sumpitnya dengan kasar. “Kau bahkan membuat selera makanku hilang. Sebaiknya kau makan sendiri dan aku akan menunggu di mobil.” Jongin pergi begitu saja, dia bahkan sama sekali tak mengerti dengan maksud perkataan Jihyun.

Jihyun menyipitkan matanya. “Hah.” Jihyun tersenyum hambar. “Kau menyebalkan sekali, Kim Jongin. Harusnya aku yang marah padamu.”

**

Jihyun mencoba bersabar dengan perubahan sikap Jongin akhir-akhir ini, ia hanya berpikir mungkin Jongin tengah stress dengan tugas-tugasnya itu hingga ia menjadi lebih sensitif dan mudah tersinggung.

“—Kau tidak bisa datang?”

Tanya Jihyun lewat saluran telepon saat Jongin tak kunjung datang ke rumah sakit untuk menjemputnya pulang. Sebenarnya Jongin sudah berjanji akan menjemputnya pulang setelah check up dari rumah sakit pada awalnya. Tapi setelah menunggu selama satu jam, Jongin tak kunjung menampakkan batang hidungnya dan ketika di telepon berkali-kali, tidak di angkat.  Hingga akhirnya, terdengar suara Jongin dalam panggilan ke lima. Dan Jihyun sudah benar-benar kesal.

“—Jadi kau tidak bisa menjemputku?”

Setelah membuat Jihyun menunggu selama hampir satu jam, kini Jongin bahkan berkata bahwa ia tidak bisa menjemputnya. “Kenapa kau tidak bilang dari tadi, Jongin! Aku menunggumu!” Jihyun mengigit bibir bawahnya kesal.

Alasan kenapa Jongin tak bisa menjemputnya hari ini adalah karena ia tengah sibuk menonton penampilan Do Kyungsoo di cafenya dan ia tak enak jika harus pamit pulang sebelum penampilan Kyungsoo selesai. Sepenting itukah menonton hingga ia lupa mengkabari Jihyun? Setidaknya jika Jongin tak akan datang, harusnya ia mengkabari Jihyun dan tak harus membuatnya menunggu seperti ini tanpa kepastian.

Jihyun menghembuskan napas berat. Berusaha melapangkan hatinya. Tapi tetap saja matanya memanas. Airmata terbendung di dalam matanya. “Aku mengerti. Biar aku pulang sendiri saja.”

Oke, hati-hati, Jihyun…”

Jihyun mematikan sambungan teleponnya. Hari ini untuk pertama kalinya, Jongin membuatnya menunggu sangat lama. Dan yang lebih menyakitkan lagi, secara tidak langsung Jongin mulai melupakan kehadirannya.

Setelah hari itu, Jongin mulai menghindar. Tidak banyak lagi menghabiskan waktunya dengan Jihyun. Dia selalu pergi sebelum Jihyun bangun lalu kembali pulang ke rumah setelah Jihyun tidur. Tak ada lagi sarapan bersama setiap pagi nya, atau hal-hal romantis yang sering Jongin lakukan seperti dulu, dia mulai melupakan segalanya terutama Jihyun. Bahkan setiap kali Jihyun memberi pesan pada Jongin, pemuda itu tak pernah membalas pesan Jihyun atau mengangkat telepon dari gadis itu. Ia juga menolak dengan berbagai alasan tiap kali Jihyun menyuruhnya untuk pulang lebih awal dan mencicipi masakannya.

Lalu suatu hari, Jihyun menyadari, Jongin tidak memakai cincin pernikahan mereka lagi. Alasannya, cincin itu menyulitkannya dan pemuda itu hanya menyimpannya di dalam saku. Awalnya Jihyun maklum, tapi lama kelamaan ia tahu Jongin hanya mencari-cari alasan. Karena, Jihyun menemukan sendiri cincin milik Jongin, terbuang di sebelah tong sampah. Jadi selama ini cincin itu hilang dan Jongin berpura-pura tidak memakainya? Jongin mulai membohonginya? Atau Jongin memang sengaja membuang cincin itu?.

Dan disaat itulah Jihyun perlahan-lahan mulai mengerti. Mungkin Jongin sudah tidak ingin menggunakan cincin itu lagi. Jihyun merasakan semua perubahan Jongin.

Ia tak pernah tahu bahwa Jongin akan berubah secepat ini setelah ia keguguran.

**

“Kenapa akhir-akhir ini aku jarang mendengarmu pergi dengan Jongin?” tanya Luhan suatu hari ketika ia dan Jihyun bertemu untuk makan siang bersama.

“Jongin sibuk dengan tugas skripsinya.” jawab Jihyun tanpa mengalihkan tatapannya pada makanan yang tersaji di atas meja.

Luhan hanya menatap Jihyun cemas. “Sesibuk itukah ia setiap harinya?” Luhan mengganti pertanyaanya.

“Kurasa begitu…” Jihyun tersenyum masam. “Bahkan kami jarang bertemu sekalipun kami tinggal bersama…”

Luhan menganguk, ia tersenyum menyemangati lalu menyodorkan sebuah beef kecil ke arah Jihyun dan di sambut baik oleh Jihyun. “Kau tak usah cemas seperti itu. Lagi pula tugas skripsi memang berat kan?” ia terkikik kecil.

Jihyun terdiam sejenak, sebelum kemudian ia menggeleng. “Dia tak mungkin membohongiku kan?”

“Kuharap dia memang benar-benar berubah.” kata Luhan menyemangati.

Bukan hanya Jihyun yang merasakan perubahan pada diri Jongin, tapi Kyungsoo juga.

“Akhir-akhir ini aku selalu melihatmu sarapan disini, memangnya Jihyun tak pernah membuat sarapan untukmu?” tanya Kyungsoo ketika suatu pagi ia bertemu dengan Jongin di cafetaria. Kyungsoo menemukan Jongin tengah melahap sebuah roti gandum dan susu kemasan dengan tak bersemangat. Kyungsoo menghela napas panjang melihat Jongin yang hanya diam saja, tak menjawab pertanyaannya dan hanya sibuk menatap handphonenya.

Sudah beberapa hari ini Jongin selalu datang pagi-pagi ke kampus, dia datang paling awal bahkan sebelum mahasiswa lain datang. Dan itu membuat Kyungsoo sebagai teman dekatnya heran, karena biasanya Jongin akan selalu datang terlambat dan pulang lebih awal dari mahasiswa lain, tapi kali ini sebaliknya.

Awalnya Kyungsoo tidak terlalu curiga, mungkin Jongin memang sudah dewasa sekarang oleh sebab itu ia selalu datang lebih awal ke kampus. Tapi ia menyadari satu hal lainnya dari Jongin, Pemuda itu selalu tertidur di dalam mobil seharian penuh dan ia membolos semua mata kuliah setiap harinya. Lalu jika ia memang ingin membolos kenapa ia harus datang ke kampus pagi-pagi buta dan pulang amat larut malam?

Kyungsoo mulai yakin bahwa ada masalah yang terjadi pada Jongin di rumahnya.

Semua sikap Jongin juga menjadi berbanding terbalik akhir-akhir ini. Dia kembali menjadi dominan seperti dulu. Semua hal itu lebih dari sekedar pertanda bahwa ada yang tidak beres sedang terjadi pada pemuda itu.

Kenakalan Jongin yang selalu muncul ketika ia sedang ada masalah adalah kebiasaannya minum di pub. Jongin memang sudah mengenal alkohol sejak muda. Sejak ia di tinggalkan oleh mendiang ibunya, hidupnya menjadi bebas. Bahkan Jongin termasuk orang yang tidak mudah mabuk untuk kadar alkohol berat sekalipun.

Dan malam ini, Jongin kembali mendatangi pub faforitnya dulu, satu-satunya pub yang membuat ia bertemu dan di tampar untuk pertama kalinya oleh Jihyun, teman dari kekasihnya dulu. Waktu berlalu terlalu cepat karena sekarang wanita yang menamparnya dulu menjadi candu mematikan yang sulit ia lupakan.

Pria itu kembali menjadi dirinya yang dulu, mengkonsumsi minuman keras di pub dan bermain liar bersama seorang wanita—ia melupakan statusnya sekarang—Yang Jongin pedulikan sekarang hanyalah bagaimana caranya melupakan—meski hanya sejenak—semua hal yang terus-terusan menggentayangi benaknya saat ini. Dan satu-satunya cara yang ia tahu adalah menenggelamkan kesadarannya dalam lautan alkohol.

“Sebenarnya kau ini kenapa, oppa?!” tanya Seulbi yang hari ini menemani Jongin minum. Gadis dengan polesan lipstik merah dan bedak tebal itu memanfaatkan situasi dimana ia  bisa di sisi Jongin sekarang. Seorang pemuda kaya raya yang bisa membayarnya mahal hanya dengan menemaninya minum. Jujur saja, sebenarnya Seulbi merasa mendapat jackpot malam ini karena tanpa dibayar pun ia akan dengan rela menghambur kepelukan Jongin, pemuda itu kelewat tampan dan sexy walau hanya menggunakan sebuah kemeja hitam dan celana jeans. Setiap kali melihat rahangnya yang tegas, Seulbi tidak mau menyia-nyiakan kesempatan itu. Apalagi melihat jari tangan Jongin yang tak terhias apapun, itu menandakan bahwa Jongin masih single. Pikirnya.

Oppa~~” Jari-jari Seulbi bergerak nakal menyusuri dada Jongin. “Ada aku di sisi oppa sekarang…”

Jongin terdiam. Dia hanya menatap kosong pandangan di depannya lalu kembali meminum cairan panas asal skotlandia bernama scotch whisky itu. Jongin membiarkan Seulbi terus berbicara dan meraba-raba tubuhnya, dia bahkan tak menyadari jika gadis disampinya itu kini mengigit-gigit kecil lehernya, membuat tanda kepemilikan disana.

Sementara itu di meja lain, Chanyeol, Kyungsoo dan kekasihnya—Min ah dan Sojung-menatap Jongin dan Seulbi dengan tatapan senada, kesal. Terutama Chanyeol dan Kyungsoo, ia sama sekali tidak memahami alasan dari segala sikap aneh Jongin. Kali ini Jongin kembali enggan bercerita, dia bahkan berbohong pada Jihyun.

Jika ada yang nekad memaksa bertanya tentang apa masalahnya maka Jongin akan meledak marah. Sahabat karib Kyungsoo satu itu bahkan sama sekali tidak peduli dengan kekhawatiran Jihyun selama ini. Ia bersikap seenaknya sendiri.

“Jadi, Jongin berkata kalau ia sibuk dengan tugasnya setiap hari pada Jihyun?”

Kyungsoo menganguk, Chanyeol mencoba menganalisis. “Dia bahkan selalu membolos setiaphari. Apa Jongin dan Jihyun tengah terlibat pertengkaran?”

Chanyeol mengangkat bahu. “Entahlah. Kemarin Luhan berkata padaku jika Jihyun dan Jongin baik-baik saja.” Kyungsoo menghela napas saat lensa matanya lagi-lagi menangkap bayangan Jongin yang sedang meminum wiskey dari gelas kecil.

“Aku juga tidak bisa menceritakan pada Jihyun tentang kelakuan Jongin akhir-akhir ini. Jika Jihyun tahu Jongin minum dan bermesraan dengan gadis lain, entah bagaimana perasaan gadis itu,” lanjut Kyungsoo.

Chanyeol mengangguk lemah. “Ya, sebaiknya Jihyun tak tahu.”

Jihyun berjalan kekanan lalu kiri berulang kali sambil terus melihat jam digital di ponselnya. Ini sudah hampir larut malam dan Jongin belum juga kembali ke apartemen, bahkan ponsel pemuda itu tak aktif setiap kali Jihyun mencoba menghubunginya. Oh dia amat sangat menyebalkan sekarang. Membuatnya khawatir dan berpikir hal-hal negativ terjadi pada Jongin. Seperti ia kecelakaan atau tiba-tiba ia di rampok berandalan jalanan yang sering berkeliaran tengah malam. Itu membuat Jihyun tidak bisa tidur dengan tenang. Itu membuatnya amat sangat gelisah hingga ia sulit berkonsentrasi atau makan dengan baik seperti biasanya.

Tok tok tok.

Mendengar ketukan pintu, buru-buru Jihyun berlari ke arah pintu dan tanpa berpikir terlalu lama, dia membuka pintunya dan bersiap-siap untuk membombardir Jongin dengan berbagai pertanyaan karena pulang amat larut malam.

Namun sepertinya Jihyun harus menelan kembali semua pertanyaannya, karena yang berdiri di depan apartementnya saat ini adalah Jongin yang tidak sendirian. Dia bersama seorang gadis yang amat cantik. Gadis itu memapah Jongin dan meringsek masuk  kedalam tanpa bertanya apapun pada Jihyun, Jongin yang sepertinya tengah mabuk berat itu hanya menatap Jihyun sekilas.

Gadis yang yang menggunakan dress merah itu masuk kedalam kamar lalu menjatuhkan tubuh Jongin diatas kasur, dia bahkan dengan berani mencium bibir Jongin sekilas sebelum akhirnya keluar dari kamar itu lalu memberikan sebuah bill pembayaran pada Jihyun.

“Ku harap kau mentransper uangnya besok karena pemuda itu minum amat banyak di pub tanpa membawa uang cash.” Gadis itu mencibir sebentar sebelum akhirnya melangkah pergi.

Sepeninggalan Gadis itu, Jihyun buru-buru berjalan ke arah kamar lalu menatap Jongin yang sudah tertidur. Jihyun mengamati wajah Jongin dengan seksama, dia sadar saat melihat ada banyak kissmark di leher Jongin, juga bekas lisptik di bibir dan pipi Jongin, juga bau alkohol yang amat menyeruak.

Serentetan hal yang dia temukan sendiri, membuat perasaannya sakit dan ia merasa di hina secara tak langsung oleh Jongin. Dadanya begitu sesak, dan hatinya sangat sakit. Ditambah Jongin yang bersikap begitu dingin padanya akhir-akhir ini sukses membuatnya seolah ingin mati saja.

“Kenapa kau mabuk semalam?” tanya Jihyun ketika ia akhirnya bisa bertemu Jongin di pagi hari, dan mengajaknya berbicara empat mata. Walau terlihat enggan menatap Jihyun, akhirnya Jongin menoleh sebentar sebelum akhirnya ia berjalan ke arah kulkas dan mengambil botol air mineral. Pemuda itu meneguknya hingga habis. Ia mengabaikan Jihyun dan memilih mentralisir rasa mualnya dengan minum air putih di pagi hari.

Jihyun yang merasa di abaikan lalu berjalan mendekat, ia sama sekali tak pernah berpikir bahwa ia akan di abaikan seperti ini oleh Jongin. “Jongin. Aku bertanya padamu!”

Jongin bersandar pada lemari dengan tangan terlipat di dada, wajahnya begitu datar, tatapan mata pria itu jatuh pada hal lain dan yang jelas tidak menatap mata Jihyun. Untuk suatu alasan, Jongin tak kuasa memandang gadis di depannya ini.

“Hmm… Aku hanya mabuk untuk menghilangkan stress.” Jawab Jongin, amat datar juga dingin, dia bahkan tak merasa bersalah sedikitpun untuk apa yang terjadi.

Gadis itu menyunggingkan senyumnya. Mencoba mencairkan suasana dingin yang melingkupi mereka saat ini. “Apa harus dengan seorang wanita juga?.” Senyum yang semula menghiasi wajah Jihyun perlahan memudar, menyadari betapa dinginnya wajah Jongin dan tatapan pemuda itu padanya. “Kenapa kau melakukan hal ini padaku?”

Alih-alih menjawab, Jongin memilih diam dan menatap mata Jihyun dengan penuh penyasalan. Bibir Jongin ingin sekali mengatakan bahwa ia tengah terpuruk. Ia ingin mengatakan apa yang tengah ia rasakan saat ini. Tapi bukannya berbicara Jongin malah tertunduk. Dan wajahnya begitu dingin tak dihiasi senyum sama sekali

“Apa kau mulai membenciku setelah tahu bahwa aku keguguran?”

Kening Jongin mengeryit. Ada perasaan sakit yang merongrong dadanya. Ia hendak mengangkat tangannya untuk membelai pipi Jihyun–tapi Jongin menyesal karena rasa ego nya terlalu tinggi untuk sekedar mengingkari apa yang telah ia cam kan—dan Jongin memutuskan untuk menarik kembali tangannya. Membiarkan Jihyun dengan prasangka buruknya.

“Jika iya. Katakan padaku.” Ujar Jihyun lirih.

Rahang Jongin mengeras. Ia menggertakkan giginya, merasa frustasi, sebelum kemudian menarik pinggang Jihyun dan mendaratkan bibirnya ke bibir Jihyun. Mata Jihyun membulat, terkejut karena aksi Jongin yang begitu tiba-tiba. Jongin menyerang bibirnya dengan ciuman yang terasa kasar dan menuntut. Ia tak membiarkan sedetik pun Jihyun untuk menarik napas. Jongin bahkan tak segan menggigit bibir Jihyun hanya agar memperoleh akses untuk melesakkan lidahnya ke dalam mulut gadis itu.

Jihyun sendiri, gadis itu hanya memejamkan matanya erat. Memasrahkan dirinya pada luapan emosi yang Jongin salurkan lewat bibirnya. Ia kehilangan keinginan untuk melawan. Jika dengan begini Jongin bisa melupakan sejenak rasa sakit yang ia tanggung sendirian itu, Jihyun terima dan ia hanya meremas kaos bagian depan yang Jongin gunakan.

“Katakan padaku apa yang harus aku lakukan padamu huh?…” ujar Jongin tajam setelah melepaskan ciumannya. Wajah pemuda itu masih begitu dekat dengan Jihyun hingga Jihyun bisa merasakan napas Jongin yang menderu menyapu wajahnya.

aa02c1da7c614042f9fd02b55d4bdc09

“Kim Jongin.” Ujar Jihyun terkejut.

“A-aku…” Jongin meraih tubuh Jihyun, memutar tubuh gadis itu hingga punggungnya menabrak dinding kulkas yang sebelumnya ia gunakan untuk bersandar. Tatapan Jongin berubah geram dan tak ayal membuat Jihyun sedikit takut melihat tatapan gelap pemuda itu. “…benci harga dirimu yang setinggi langit, Yoon Jihyun!.”

“A-apa?”

Kali ini, Jihyun menyadari bahwa Jongin tidak dalam keadaan baik-baik saja. Jongin seolah berubah menjadi iblis jahat yang tak Jihyun kenali. Tangannya yang dicengkram Jongin terasa sakit dan ia lebih merasa sakit lagi saat Jongin menekan bahunya hingga membuatnya tak bisa bergerak dan kembali mencium bibirnya kasar.

“Jongin …” Jihyun mengumamkan nama Jongin dengan lirih di sela-sela ciuman kasar itu, ia bahkan meneteskan airmata saat Jongin dengan sengaja mendorong bahunya lebih keras lagi pada dinding kulkas.

Kini, Jihyun tak tahu apa yang harus ia perbuat. Jongin begitu ganas hingga ia mengecupi lehernya dengan kasar. “Jongin… kumo-hon! … jangan seperti ini” Jihyun berusaha mendorong bahu Jongin saat ia merasakan gigi pria itu menggores kulit lehernya. Oh, bahkan kini Jongin menghisapnya kuat. Membuat tubuh Jihyun bergetar hebat.

“Jongin… eumpttttt!” Sekali lagi Jongin membungkam bibir Jihyun. Bagian bawah bibir Jihyun bahkan terasa perih setiap kali Jongin menggesekkan bibirnya disana. Dan ia tak tahu sejak kapan cairan asin itu keluar dari bibirnya.

“Jongin, hentikan!” batin Jihyun. Tangan gadis itu mengepal dan beberapa kali memukulkannya ke dada Jongin. “Kumohon jangan seperti ini…”

Napas Jihyun tercekat saat ia merasakan kulit tangan Jongin yang dingin karena keringat menyentuh pahanya lalu mengelitik kecil meraba kulit bagian dalamnya dan naik hingga ke perpotongan antara paha dan selangka nya.

Mata Jihyun memejam erat. Tidak! Kumohon!

Tapi Jongin tidak berhenti, dan Jihyun merasa tubuhnya tersengat hebat saat merasakan tangan Jongin mulai menyelinap memegang kancing celananya lalu membuka kain itu perlahan.

Dan saat itu pula dengan sekuat tenaga, ia mendorong tubuh Jongin menjauh. “Apa yang kau lakukan, Jongin?!” bentak Jihyun, marah. Reflek gadis itu melangkah mundur.

Seringai mengerikan nampak di wajah Jongin. Mata pemuda itu kini nampak gelap. “Aku suamimu. Kenapa aku tidak boleh menyentuhmu, hum?” Jongin membelai pipi Jihyun lembut. “Kau mulai tak menyukaiku ?”

“Kenapa kau sekasar ini!” Jihyun mendorong Jongin keras saat Jongin hendak menariknya lagi, Tubuh Jongin terjungkal hingga menabrak meja pantry yang terbuat dari kayu. “Oh! Kau benar-benar berubah Kim Jongin!” Bibir Jihyun bergetar. Airmata mengembun, mengaburkan pandangannya.

Jongin mengalihkan arah pandangnya. Ia mengabaikan rasa sakit punggungnya yang bersentuhan dengan kayu jati itu. Keningnya berkerut, demi menahan ledakan emosinya yang membuat kepalanya pusing.

Menyadari bahwa Jongin tidak akan memberikan penjelasan apapun padanya, Jihyun memilih untuk segera pergi dari hadapan Jongin. Airmata gadis itu meluncur di atas pipinya yang halus, ia melangkahkan kaki keluar dari apartement itu dan berlari sekuat tenaga untuk menjauh.

Saat mendengar bunyi pintu yang tertutup,  Hati Jongin berdesir sakit dan kakinya terasa lemas, hingga memaksa pemuda itu untuk terduduk lesu di belakang meja pantry. Tatapan sendunya jatuh pada telapak tangan yang telah dengan begitu nista menyentuh tubuh Jihyun.

“Jauhi Jihyun dan aku akan berhenti menyakitinya  lagi.”

Kalimat Hyunjo kembali terngiang di kepalanya.

“Aku bisa menerima jika kau mencintai Jihyun, tapi aku tak akan pernah bisa menerima jika Jihyun juga mencintaimu. Tidak akan. Dia sahabatku dulu, dan dia tak pantas mencintai kekasih sahabatnya sendiri. Dia harusnya sadar siapa dia, dan kenapa dia bisa hidup sampai sekarang? Harusnya dia tahu diri kalau keluargaku selalu membantunya dulu sebelum ia bertemu Kim Junmyeon, harusnya ia berterimakasih padaku dan tak mengkhianati aku dan ayahku dengan menusuk kami dari belakang. Aku tak akan membiarkan ayahku bersedih hanya karena kau membodohiku, juga Jihyun. Kalian harus membayar satu persatu rasa sakit yang aku rasakan.”

Ya. Hari itu adalah awal mimpi buruk dalam hidup Jongin. Di bawah terangnya langit di musim gugur, dengan Hyunjo yang duduk di hadapannya  dan mengungkapkan ancaman yang bagaikan sambaran petir yang menghancurkan, Jongin merasakan dunianya runtuh seketika.

Saat itu Jongin ingin sekali menangis sekeras-kerasnya. Ia merasa bodoh dan kalimat yang Hyunjo katakan itu telah menamparnya telak. Menjerumuskannya kelubang hitam tak berdasar. Dan membuatnya seolah ingin mati saja saat tak menemukan kembali kebahagiannya tanpa Jihyun.

Pada awalnya, Jongin masih tidak bisa mempercayai kata-kata Hyunjo yang seolah menghukumnya. Walaupun ia melakukan kesalahan itu, tapi tak seharusnya Hyunjo menyakiti Jihyun juga, karena di posisi ini jelaslah Jongin yang bersalah. Ia ingin memohon pada Hyunjo untuk membiarkannya membahagiakan Jihyun dengan cintanya. Tapi lagi-lagi Hyunjo mengancamnya.

Dia bahkan dengan berani berkata bahwa dia ingin membunuhnya. Jelas sekali bahwa perasaan Hyunjo sedang tidak dalam keadaan baik-baik saja. Itu jelas bukan ancaman sepele yang Hyunjo lontarkan, dia bahkan sudah pernah melakukan itu dengan menabrak Jihyun waktu itu. Dan dia sudah  membunuh calon bayi nya.

Itu karenanya. Karena Jongin telah mengubah Hyunjo menjadi seorang monster.

Entah sadar atau tidak, selama ini sebenarnya Jongin merasa malu dengan dirinya sendiri. Dan selama ini, entah darimana asalnya semua kepolosan dan pemikiran tidak rasional itu, Takdirnya dan Jihyun bahkan tak pernah berjalan dengan kata baik-baik saja selama ini.

Jadi, setelah semua ini, bagaimana mungkin Jongin bisa berada di samping Jihyun jika gadis itu akan terus tersakiti karenanya?

Jongin tak mungkin egois, ia harus merelakan kebahagiannya untuk keselamatan Jihyun. Ia harus membiarkan Jihyun membencinya lagi, karena dengan cara seperti itu maka rasa bersalah Jongin perlahan-lahan akan terobati. Dia tak ingin egois lagi, dia tak mungkin menghancurkan Jihyun hanya karenanya.

Dan Jongin memilih untuk menjauh dari sisi gadis itu perlahan-lahan. Ia juga memilih cara agar Jihyun muak padanya. Dengan mengabaikan Jihyun, Jongin pikir, itulah yang terbaik saat ini.

Ya, itu yang terbaik agar Jihyun membencinya, karena ia tak akan pernah membenci Jihyun.

Selama ini, Jongin mencoba menjauhi Jihyun perlahan-lahan, ia mulai so menyibukan dirinya di dunia nya sendiri tapi sebenarnya pekerjaannya sehari-hari hanya tertidur di dalam mobil seharian atau bermain game online di internet center. Ia mulai suka bangun pagi-pagi lalu melarikan diri sebelum Jihyun terbangun, dan begitu pula untuk malam hari. Dia sengaja pulang larut tapi sebenarnya ia sudah berada di bassmen parkir sebelum larut malam, dan lagi-lagi dia hanya tertidur di mobilnya sambil menunggu larut malam. Jongin ingin agar Jihyun tak bisa bertemu dengannya, walau sejujurnya Jongin amat rindu dengan sarapan khas yang Jihyun buatkan untuknya.

Jongin juga sengaja mengingkari janjinya, lalu jarang mengangkat telponnya pedahal ia tahu bahwa Jihyun sering menghubunginya. Dan yang terakhir adalah ia sudah tidak menggunakan cincin pernikahan mereka lagi, meski sebenarnya Jongin sengaja menyimpannya di ujung tempat sampah agar Jihyun sendiri yang menemukannya.

Walau pada akhirnya, bukan hanya Jihyun yang tersakiti tapi Jongin sendiri yang tersiksa karena rindu yang mencekik dan ia harus menjerumuskan kesadarannya dengan alkohol agar ia bisa melupakan sakitnya rindu melihat Jihyun tersenyum barang sejenak.

Lalu, pagi ini, ia sengaja bertindak kurang ajar pada Jihyun agar menutupi luka hatinya selama ini. Ia tak mungkin menangis di hadapan Jihyun lalu meminta maaf dan mengatakan semuanya begitu saja. Ia tak tega melihat raut terluka Jihyun yang amat menggoresnya. Ini bukan hanya menyakiti Jihyun tapi Jongin sendiri merasa tersakiti dengan perbuatannya.

Dan saat itu juga airmatanya meluncur, pemuda itu kembali menangis pagi ini.

**

“Tidak apa-apa kan kalau aku mengajakmu keluar pagi-pagi begini?” tanya Jihyun ragu. “Kau tidak ada kelas pagi ini bukan? Kumohon jawab ‘ya’  walau itu bohong”

Luhan tertawa, kemudian mengacak rambut Jihyun gemas. “Tidak, bukan masalah besar. Aku akan selalu ada untukmu kapanpun kau menghubungiku.” Luhan tersenyum kecil, lantas melanjutkan, “Oya, Kenapa kau mengajakku? Memangnya Jongin kemana?”

Jihyun mendengus. “Dia sibuk atau mungkin sudah lupa padaku.”

“Eyy,” teriak Luhan sembari menyikut Jihyun. “Kau mau dia benar-benar melupakanmu?.”

“Ah—tidak juga—bukan begitu—arghhhtt—terserah.” Jihyun mengigit bibir bawahnya, gemas sekaligus kesal.

“Sudah ku duga..”

“Hah?”

“Kalian benar-benar tengah bertengkar bukan?” Luhan tertawa kecil, sedikit membungkukkan tubuhnya agar sejajar dengan Jihyun sehingga dia bisa melihat ekspresi gadis itu dengan baik. “Kau tidak bisa terus menyangkalnya nona Kim Jihyun!”

Jihyun melirik ke arah Luhan sebentar, kemudian mendengus lagi, “Ternyata kau benar. Kami memang sedang tidak baik-baik saja selama ini.”

Luhan mengulurkan tangannya untuk menahan Jihyun, meminta gadis itu berhenti sebentar. “Memangnya ada apa?”

Jihyun menggigit bibirnya, ragu apakah dia harus bercerita, atau tidak.

“Kau bisa menceritakannya padaku.”

Oke, Jihyun menyerah. Gadis itu mulai bercerita tentang perasaannya akhir-akhir ini. Ia juga menceritakan apa yang terjadi tadi malam—saat Jongin pulang dengan keadaan mabuk dan yang lebih buruk lagi, Jongin pulang diantar seorang wanita.

“Kau pasti cemburu padanya? Iyakan?”

“Hah?”

“Sejujurnya aku sudah mendengar hal itu dari Chanyeol semalam.”

“Oh.”

“Jadi kau mulai cemburu padanya?” Mendengar kesimpulan Luhan itu membuat Jihyun membelalakkan matanya. “Mungkin, tapi ini bukan sekedar rasa cemburu.”

“Lalu?”

“Sshh, sudah, jangan membahasnya lagi. Aku malas.” sergah Jihyun sembari melangkahkan kakinya kembali, melanjutkan langkahnya menyusuri trotoal.

Lagi-lagi Luhan menggeleng,

“Aku mengajakmu keluar bukan untuk berdebat masalah itu. Aku hanya ingin makan dan menghabiskan waktu seharian. Setidaknya tanpa harus memikirkan Jongin. Kau mau menemaniku kan? Anggap saja ini ajakan berkencan dari orang yang kau sukai.” gumam Jihyun pelan, berbicara dengan polosnya.  “Ngomong-ngomong saat kau stress apa yang kau lakukan?” tanya Jihyun.

Luhan memantulkan bola basketnya sembari berjalan  dengan tatapan menantang pada Jihyun yang berdiri berkacak pinggang di depannya. Jaket yang sebelumnya Luhan pakai kini tersampir di sebuah kursi di ujung lapangan.

“Memangnya kau bisa bermain basket dengan stilettomu itu?” Luhan menyeringai, memandang Jihyun dengan smiriknya. “Kau yakin tidak akan terpesona melihatku bermain basket?” lagi, ia menyeringai.

Jihyun menyunggingkan smirknya. Ia menerjemahkan ucapan Luhan barusan sebagai sebuah ejekan tak langsung. “Memangnya apa yang salah jika gadis stiletto sepertiku bermain basket?” Ia melepas stilletonya lalu membiarkan kakinya tanpa alas. “Setidaknya pesona Jongin jauh lebih kuat darimu.” Ia mencibir.

Di bawah langit mendung sore hari, dan lapangan basket yang sepi, Luhan dan Jihyun mulai larut dalam permainan basket sederhana. Mereka saling berebut bola dan berusaha melemparnya ke ring. Walau jelas Luhan sangat pandai bermain basket, tapi kali ini ia mencoba mengalah, berupa-rupa lupa teknik andalannya saat bermain basket hanya demi Jihyun. Ya, ini adalah cara ampuh Luhan untuk menghilangkan stress selain minum alkohol—bermain basket hingga ia lelah.

“Yak, Jihyun. Kau melanggar aturan.” pekik Luhan ketika Jihyun menarik bagian belakang kemejanya agar pemuda itu tidak bisa berlari menuju ringnya. Alhasil bola yang ada dipegangan Luhan terlepas dan menggelinding ke ujung lapangan.

Jihyun hanya terkikik lalu berlari ke ujung lapangan dan mengambil bola basket itu lalu mendribblenya menuju ring, ia berlari dengan peluh yang sudah bercucuran dan rambut sebahunya yang terlihat acak-acak.

“Aku tidak bilang jika dalam permainan ini harus ada aturan bukan!!!” teriak Jihyun sambil tertawa lalu dengan ringannya melemparkan bola basket ke ring tanpa hambatan, dan bola itu masuk dengan indah.

Luhan sedikit menahan tawanya lalu berdiri dan berusaha merebut lagi bola dari Jihyun. “Itu curang tahu!!” ia merebut bola itu dari Jihyun lalu berusaha memasukannya ke ring dan bola itu masuk ke ring dengan indahnya. Luhan tertawa puas.

Jihyun tersenyum jahil lalu mengakhiri permainannya dengan Luhan, ia merasa lelah setelah bermain basket cukup lama, dan itu memang benar, rasa stresnya sedikit berkurang, ia tak terlalu memikirkan tentang Jongin lagi. Setidaknya ia bisa kembali tertawa lepas setelah sekian lama ia terpuruk dalam gelapnya kesedihan.

Luhan memang teman yang baik. Setidaknya itu yang bisa Jihyun notabenkan pada diri Luhan sekarang.

“Ini..” Luhan datang tak lama kemudian lalu menyodorkan satu minuman kaleng isotonik untuk Jihyun. Ia tersenyum lalu duduk di samping Jihyun. Dan mulai membuka kaleng minumannya.

“Terimakasih.” Jihyun tersenyum kecil. Andai saja yang berada disisinya sekarang adalah Jongin dan bukan Luhan mungkin Jihyun akan benar-benar bahagia. Dia ingin, Jongin membuatnya tertawa lepas, ia juga ingin Jongin memperlakukannya seperti Luhan. Menolongnya, membuatnya tertawa dan menemaninya saat ia kesepian.

Harapan hanyalah sebuah harapan karena nampaknya Jongin tak akan pernah melakukan hal seperti itu untuk Jihyun. Ia sudah berubah sekarang. Dia bukan lagi Jongin yang selalu mencintai Jihyun. Dia kembali pada Jongin yang dingin seperti dulu.

Tiba-tiba hujan turun membasahi kota Seoul. Hujan seakan ikut meruntuki nasib kehidupan Jihyun yang semakin menyulitkan.

Jihyun dan Luhan buru-buru berlari mencari tempat berteduh. Mereka berlari ke arah sebuah halte bus dan berteduh disana. Sebelum berlari Luhan melepaskan jaketnya lalu menggunakan benda itu sebagai pengganti payung dan melindungi tubuh Jihyun dan dirinya dari hujan tapi tetap saja basah oleh air hujan pada akhirnya.

Tanpa sadar Jihyun tiba-tiba menangis terisak-isak, menangis di bawah guyuran hujan yang membasahi baju dan stilettonya, Luhan merasakan dadanya ikut merasa sakit melihat Jihyun yang tiba-tiba menangis. Ia sadar, bahwa luka hati Jihyun benar-benar dalam.

“Jihyun, kau baik-baik—“ tanya Luhan lembut.

“Apa Jongin akan mencintaiku seperti dulu lagi?” Jihyun berujar disela isakannya. Tangan gadis itu meremas-remas jarinya sendiri. “Apa dia akan membuatku tersenyum dan tertawa lagi? Apa dia akan tetap perhatian padaku? Apa dia akan tetap mencintaiku? Apa dia…”

Luhan menghembuskan napas panjang dan meski awalnya ragu-ragu, ia akhirnya memberanikan diri untuk menyentuh Jihyun. Jemarinya dengan begitu lembut dan hati-hati menghapus airmata yang membasahi pipi Jihyun.

Ia tidak tahu apa yang terjadi pada Jongin hingga harus melukai Jihyun seperti ini, bukankah Jongin bersikeras memperjuangkan Jihyun, tapi kenapa sekarang ia malah membuatnya terluka?

“Kau harus kuat. Kau sendiri bukan yang berkata padaku bahwa kau tak akan meninggalkan Jongin?”

Jihyun mengangguk lemah dan ia tak mungkin lupa pada hal itu. Bibirnya ia gigit kuat agar tangisannya tidak meledak.

Luhan mendesah pelan. “Bagus. Dan satu lagi, kau bukan tipikal gadis cengeng Yoon Jihyun!” Luhan menyunggingkan senyumnya. Menyemangati sebisanya.

Emm…”gumam Jihyun sambil mengangguk sekali lagi.

Tapi tiba-tiba sebuah mobil audi hitam berhenti tepat di hadapan Luhan dan Jihyun. Dan sang pengemudi langsung turun dari mobilnya dan berjalan mengahampiri Luhan dan Jihyun.

Sontak Luhan dan Jihyun terkejut oleh kedatangannya. Dia Kim Jongin.

“Jongin…” Jihyun reflek menyebut nama Jongin. Napas Jongin naik turun tak teratur, dari ekspresi pria itu Jihyun tahu ada yang tidak beres.

Awalnya Jongin hanya tersenyum kecut ke arah Luhan dan secara spontan, ia buru-buru meraih tangan Jihyun dan menariknya agar menjauh dari Luhan. Tapi Jongin harus dua kali terkejut karena Jihyun menepis tangannya.

Mata Jongin menatap nyalang pada Jihyun yang malah kembali beringsut di sisi Luhan, gadis itu sepertinya enggan melihat Jongin setelah apa yang terjadi tadi pagi. Ia sudah terlalu sakit hati nampaknya.

Tapi Jongin tidak sedang berbaik hati saat ini. Ia cemburu dan sangat tidak suka jika Jihyun dekat dengan Luhan. Jongin sendiri telah melupakan sandiwaranya selama ini. Tanpa ragu, ia kembali menarik Jihyun—kali ini lebih kasar—dan memaksa gadis itu untuk ikut dengannya.

“Heyy!!” Tangan Luhan mencengkeram lengan Jongin kuat, menghentikan langkah pria itu membawa Jihyun pergi.

“Lepaskan, Lu Han!”

“Jihyun tidak mau ikut denganmu, Kim Jongin! Jangan memaksanya!!” Luhan berteriak.

“Aku harus menyelesaikan urusanku dengan Jihyun, sebaiknya kau jangan ikut campur.”

“Sayangnya aku harus ikut campur kali ini, karena aku peduli pada Jihyun. Aku tidak akan membiarkanmu membuatnya menangis lagi.”

Jongin menyunggingkan senyum miringnya, tatapannya berubah sinis. “Memangnya kau siapa? Kekasihnya kah?”

“Berhenti berpikir bodoh dan jangan terus menyakitinya jika kau mencintainya!!” Luhan mendorong Jongin.

Jongin yang tengah tersulut emosi buru-buru mencengkram krah kemeja Luhan, tubuh Luhan yang lebih pendek darinya jelas mempermudah Jongin untuk melesatkan tinjunya.

Buak!! Sebuah pukulan keras mendarat di wajah Luhan. Membuat Luhan terbanting ke samping dan Jihyun memekik kaget. Luhan tidak sempat membalas karena Jongin langsung melayangkan tendangannya pada tubuh Luhan.

“Jangan lukai dia, Jongin!!” Jihyun merangsek maju dan menjadikan tubuhnya sebagai tameng saat Jongin hampir saja kembali meninjukan tangannya ke arah Luhan. Wajah Jongin begitu gelap saat ia memukul Luhan.

“Kenapa kau kejam sekali…” keluh Jihyun sambil berusaha membantu Luhan bangun.

Tapi sikap Jihyun itu malah membuat Jongin lebih marah. Tidak seharusnya gadis itu membantu orang yang ia tak sukai kan?? Dengan sentakan keras, Jongin menarik Jihyun lagi dan hampir menyeret gadis itu masuk ke dalam mobilnya. Mengabaikan jeritan penolakan dari Jihyun.

Luhan yang melihat Jihyun lagi-lagi hendak di bawa Jongin pergi segera bangkit berdiri, namun sebelum ia berhasil mencapai pintu mobil Jongin, mobil itu melesat pergi meninggalkannya.

Jongin mengemudi dengan kecepatan gila, dia mengabaikan jeritan Jihyun yang duduk di sampingnya. Perjalanan itu hanya di hiasi tangis dan jeritan Jihyun. Mereka pulang ke apartemen tanpa berbicara satu patah katapun.

To be continued….

tumblr_n3fnvuK0W51s29fkeo3_500

Timpuk akuu, bunuh saja akuuu….

Kyaaaa~~~ pertama lyo mau bilang minta maaf karena udah ngelanggar janji untuk update seminggu yang lalu TTvTT tapi lyo ada penjelasan kenapa ga jadi updatte minggu kemaren, alasannya karena lyo baru ajah kena musibah TTvTT musibah kecil yang bikin tangan kanan harus pake arm sling dan gabisa ngetik apalagi nulis TT-TT Lyo bolos kuliah seminggu cuma gara-gara tangan gabisa nulis TT-TT  /*astaga malah curhat/ intinya lyo minta maaf karena lyo sendiri gatau kalau itu bakal kejadian TT-TT

Waktunya samaan pas Jongin cedera TTvTT/efek jodoh #eaaaaa/ mungkin ini kali ya yang Jongin rasain. Disaat udah janji sama orang lain untuk nampilin yang terbaik eh tiba-tiba kena musibah cedera TTvTT trus gabisa  nampilin apa yang udah di siapin dari jauh-jauh hari TTvTT sumpah nyesek banget rasanyaaa~~~~ ahhh Getwellsoon buat Jongin kuhhhh ‘-‘***

Intinya lyo minta maaf TTvTT maaf sebesar-besarnya karena udah bikin kecewa dan php TTvTT

Btw~~ semoga suka dengan chapter 11 B.. Jangan lupa C+L nya buat lyoooo~~~ thanksssss dan maafkannn TTvTT

#HappyXIUMINday ^^ juga untuk EXO-L semuanyaaa~~~~

105 responses to “[CHAPTER] DAY DREAM – I’II CRY #11 B (APPLYO)

  1. Iyaaa telat update tapi gapapa kak santai wkwkw, btw gws yaaa kaaaaa^^
    Chap ini sediiih bgttt paraaah, gara2 Hyunjo nih Jongin jd kek gituuu kan kasian Jihyun nya jd tersiksa 😦
    Lagian Jongin mau aja nurutin Hyunjo. Pertahanin kek cinta km ke Jihyun. Kalo km nurutin Hyunjo yg sakit bkn hanya Jihyun km juga kan 😥
    Lanjutttt kaaaaa penasarannn

  2. Jongin harusnya jangan berpikir bodoh macam iti. Kan kebahagiaan jihyun breng ma kai. Ini masih lama yah chapt endingnya?

  3. Hemm si jongin tega banget sama jihyun. Kasian jg sih sm jongin tersiksa juga dia. Oke dech see u on next chap kak..

  4. Jong in~jong in …. Dari pada kayak gitu ,, nyiksa diri sendiri.. Lebih baik kamuterus berusaha buat jaga’in jihyun .. 😦
    ..
    Kayak gitu mah bikin orang2 baper .. :v

  5. Jong in~jong in …. Dari pada kayak gitu ,, nyiksa diri sendiri.. Lebih baik kamuterus berusaha buat jaga’in jihyun .. 😦
    ..
    Kayak gitu mah bikin orang2 baper .. :v
    .

  6. Ceritaa nya mkin keren, seru bnget, maaf bru bisa ksih komentar, tp k dpnnya ak psti sering ksh komen, karna aku nunggu bngt ff ini, ceritanya bikin terharu, mnguras emosi bca nya, keren aku suka bngt jln ceritanya, jgn lama2 yaa thor update chapter selanjutnya, semangat!!!

  7. yahh jongin kok berubah!?!
    harusnya hyunjo ngerelain jongin buat jihyun.masa iya sahabatnya gaboleh bahagia
    semoga part selanjutnya jongin jadi perhatian sm jihyun lg
    fighting eon!💪

  8. Aaaaaaaa buseeeeeettttt ini makin ksini maakin bikin nyesek
    Jongin tuh mau nya gmana,,,, gue tau bgt loe mau berkorban buat Jihyun,,tp loe malah nyakitin diri loe sndiri jg Jihyun,,,huaaaaaaaaaaa #meweeeeeekkkk

    Prok3 buat Luhan,,, dia bener2 berubah drastis smnjk ktmu ama jihyun,,emg ya4i Jihyun mmbwa dmpak positif buat cowok2 di sekitarnya
    Hhhehehehe

    Pliiiisssss
    Smoga Jongin bicara jujur ama Jihyun,,biar semua masalah segera trselesaika,,dan mrka berdua hidup bahagiaaa, punya baby

  9. Waaahhh drama drama…
    Sijongin gimana sih, tadinya jihyun d anggurin. Giliran jihyun ma cowok lain dy marah. Waahhh gmana nasib jihyun lo udah mpe apartemen…pnasaran😂😂

  10. aq nangis baca part ini..emosional banget..semoga jongin bisa berpikir jernih. ayilah kalian berdua bisa menghadapi rintangan apapun sekalipun it hyunjo yg ud jd monster asal kalian beraama. happy ending please eonni.

  11. Cepet sembuh lyo..
    Akhirnya di post jg chapter ini, yaah walaupun sedih.. hati ini jg ikut sakit.. 😢
    Gegara hyunjo niiih iisshh kzl!
    Ditunggu next chapternya yaaaa.. 😀

  12. Huaaaa ff nyaa.. Bikin sedih. Tapi lucu deh pas yang part “Wajah Jongin begitu gelap saat ia memukul Luhan” and what? Jongin bukannya emang gelap ya… Hahahakidding.
    Pokoknya cepat sembuh aja buat kalian berdua! Cieeeee yang samaan..
    Happu Xiumin Day jugaa buat kalian para EXO-L.

  13. ya ampun jongin bener2 maksain banget buat jihyun benci sma jongin.,
    kasian jihyun ga tega benran deh, jahat bnget jongin .

    please buat mereka bener2 bahagia, pengen deh satu chapter yg isinya kehidupan rumah tangga mereka yg tentram dan bahagia full hahahah semogaa nnti ada

  14. I don’t like it 😦
    jong in kejam sekali, kasar lagi nista bgt sih bang kamu T.T

    ehehe tapi tetap aja Lope Lope :v
    gk pp ko lyo, hasilnya memuaskan (y) wlaupun melenceng dari jadwal perilisan ehehehe :v

    GWS yaa lyo, GWS juga buat abang Jong :* tapi seharusnya klian saat ini sudah baik-baik saja 🙂

    oh yaa ntu kebetulan yeth bukan jodoh, saya menentang :v hahaha

  15. gara2 hyunjo kehidupan jongin sama jihyun jadi tidak romantis lagi…
    dan tuk jongin please jangan buat jihyun menangis dan sakit hati lagi. dia sudah cukup memderita selama ini apalagi setelah kehilangan janinnya..

  16. gara-gara hyunjoo ngancam jongin jadinya jongin jadi kasar sama jihyun padahal sebelumnya rumah tangga mereka udah baik kasian banget sama jihyun baru aja dia kehilangan calon bayinya sekarang dia malah harus kehilangan perhatian jongin
    semoga masalah mereka bisa cepet selesai dan aku harap jongin nggak jauh in jihyin lagi

  17. gara-gara hyunjoo ngancam jongin jadinya jongin jadi kasar sama jihyun padahal sebelumnya rumah tangga mereka udah baik kasian banget sama jihyun baru aja dia kehilangan calon bayinya sekarang dia malah harus kehilangan perhatian jongin
    semoga masalah mereka bisa cepet selesai dan aku harap jongin nggak jauh in jihyun lagi

  18. Asdfghjkl yaampun ini chapter terkejam sepanjang masa (?) Kesian bgt jongin tersiksa gitu huhu
    jihyun juga kesiannnn:( jangan sampe deh jihyun benci sama jongin:””
    Btw ini sampe berapa chapter ya kak? Gasabar nunggu next chapter.. pokoknya ntar harus happy ending jihyun harus sama jongin jangan sama luhan gamau tau:v

  19. Makin seru ajaa….
    Ya ampun… kenapa Jongin begitu sih, nggak sedih apa sama Jihyun… huhuhu
    Keetika waktu ketemuan sama Hyunjoo kenapa dia nggak cerita awal mula dia bisa sama Jihyun, kan kalo begini kasihan juga Jihyunnya..
    Kenaoa juga dia nggak cerita ke sahabatnya, biar ada sara dan nggak gegabah melakukan tindakan.. huhu
    Semoga masalah mereka nggak sampai menyebabkan pisah.. huhu

  20. seriously ini bikin nangis disaat suasana hati aku yang lagi ga baik sama backsound yang ngedukung buat galau/? /apalah ini -.-
    banjir ini yaampun sakit banget kena ke ulu hati/? oke ini lebay duh ga bisa berkata apa apa lagi
    mau netralin emosi yang lagi kembang kempis/? hiks tanggung jawab u.u

  21. ih, jongin dangkal banget mikirnya!! gk kyak gtu jga kli caranya. ngabaiin jihyun, pakek dilecehin sgala (?) dri pda ngelakuin hal yg gk ada gunanya kek gtu mending lindungin napa si jihyun!? klo kek gtu critanya yg ada mah bukan hyunjo (benergksih) yg nyakitin jihyun, tpi lo sendiri jong. ih, sebel deh bacanya!

  22. Jongin tih salah kalo mikirnya kaya gitu… Jihyun tuh udah bahagia sama dia kenapa dia malah gituin jihyun..hyunjo juga jahat banget sih jadi cewe.. dia itu udah dibutain sama yang namanya cinta. jadi cewe jan suka ngemis cinta apa jo

  23. Jongin tuh salah kalo mikirnya kek gitu…Jihyun tuh bahagianya sama lu..hyunjo juga jahat banget sih jadi orang. dia tuh udah dibutain sama cinta.. jan gitu gitu amat apa jadi cewe..kesannya ngemis ngemis cinta bet jadi cewe

  24. Kaa lyooo,knpa aq ketinggalan lagi???tp q liat link d twt ka2 trz q klik,yeeey update’n bru,day dream lg.tp q ssh bk wp’a dstu jg aq liat smpe chap 10.q ubek2 deh,trnyta aq ktgalan lg.hfftt gpp yg pntg aq bs bc.
    Ji~~si jo lg chat’n sm tal.km yg sbar y nak,wlwpun q pgn km sm jo,luhan lmyanan lah..hehe
    Bicara apa akkuuh?

  25. Knapa aq telat lg???hffttt but gpp.
    Jo km ngaku sm aq,km lg chat sm tal kan?iya kan?ji~km sbar y nak,tu ada luhan.y bisa buat lumayanan.wlwpun aq pgn’a ttp sm jo

  26. sorry baru komen di chapter ini. astagaaa greget banget sumpah gatau mau komen apalagi, yang pasti di tunggu chapter selanjutnya dengan sangat wkwkw penasaran endingnya kaya gimana. keep writing thor, jeball post cepet chapter selanjutnya :’)

  27. tapi skg tangannya gpp kan..?gak sakit kan masih bisa nulis kan..lanjutnya jgn lama” ya..>.<
    kangen berat ama jihyun nih..

  28. Aaahhh…. Jongin harusnya ngomong baik2 jangan maen kasar sendiri.. Kan jadinya mereka ber2 yg sama2 terluka >………<

  29. Omigot kak….ini udh lama banget sejak update chapter yg ini. hoho…sejak ultahnya umin.Ditunggu pokonya updatenya.
    Dan juga, knp jongin bikin aku kesel setengah mati sekarang?! Padahal dia janji bakal jaga jihyun kan. hrsny gk mempan sama ancemannya hyunjo. ahhh……aku stress sm kelakuan jongin.
    ditunggu updatenyaaa

  30. Pingback: [CHAPTER] DAY DREAM- BECAUSE I MISS YOU TODAY #12 (APPLYO) | SAY KOREAN FANFICTION·

  31. Astag jongin ternyata kamu berbuat begitu karena hyunjo ya ??
    Kasian banget sih nasib jongin dan jiyoon 😦

  32. Aduh makin ke sini makin tragis aduh tuhan..
    Hentikanlah pertikaian ini jgn biarkan valak memprovokasi kalian..
    Kasian luhan kasian jihyun 😥
    Jong lu jgn segitunya dong. Kn lo juga yg udah mulai nyakitin jihyun dan luhan cuman ngehibur.. apa gk boleh

  33. Author jahatttttttttt bikin ff sampe segalau ini, gue nangis bacanya masa, nyess nyeess hati ngrasain jd jihyun.
    Jongin jahattt knp mau kalah sama hyunjo, klo hyunjo ngancem lapor ajh ke polisi harrrgggghhhh…
    Go go go luhan, selamatkan jihyun, bila bisa rebut ajh jihyun dari jongin, suwer gue lg kzl sama jongin.
    Hahaha

  34. Part ini bener2 bikin ak setuju kl Jihyun sm Luhan aja. Wkw. Mereka manis bgt. Salah sndr Jongin jd jahat. Wkw. Smgt Lyo, dtgg selanjutnya^^

  35. kesell sama sikap jongin di chapter ini, walau sebenernya jongin berasikap gini buat kebaikan jihyun kedepannya menurut jongin
    tapi semoga jihyun sama jongin tetep bisa bersama kedepannya

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s