The Dim Hollow Chapter 6-by Cedarpie24

Thedimhollow

The Dim Hollow

—Chapter 6

Take Care of Her

.

a fanfiction by cedarpie24

.

Oh Sehun x Son Dahye

Slight!Kim Jongin, Byun Baekhyun

Romance, school-life, hurt, teacher-student relationship || PG-16 || Chaptered

.

I just own the storyline and original-chara

.

Aku menyayangimu sedalam kau menyukaiku. Memujamu sebanyak kau mengagumiku. Menginginkanmu sesering kau merindukanku. Namun ada begitu banyak hal yang membuatku tak pantas untukmu. Aku, terlalu banyak kekelaman yang kupunya.—Oh Sehun

.

Foreword ♠ Chapter 1—Got Noticed ♠ Chapter 2—Nightmare ♠ Chapter 3—Detention ♠

Chapter 4—The KissChapter 5—SinnerSide Story : Secret 

full_size_20160305070213

            Dahye tahu matanya membengkak sehabis nyaris setengah jam menangis tanpa henti. Setelah melarikan diri dari pembicaraannya dengan Baekhyun di kafetaria, Dahye memutuskan mengunci diri di toilet dan menghabiskan jam istirahatnya untuk menjatuhkan air mata sepuasnya. Hatinya selalu ngilu tiap kali membicarakan eonninya, dan lelehan air mata itu tak pernah berhasil Dahye tahan. Untuk sekali ini saja Dahye memutuskan mengalah pada egonya, menangis diam-diam mengenang eonninya.

Pelan-pelan Dahye menyusun langkah di koridor yang sepi. Bel masuk telah berdentang sejak sepuluh menit lalu. Ini kali pertamanya terlambat masuk kelas, Dahye yakin gurunya takkan keberatan jika ia tetap memaksa masuk. Namun sepertinya keinginan Dahye untuk masuk kelas terpaksa terenggut begitu segerombolan gadis dari arah berlawanan muncul menghadang jalannya. Mungkin sekitar lima atau enam orang, tiga diantaranya Dahye kenali sebagai gadis-gadis yang kemarin mengancamnya di toilet. Ah, jangan bilang ini perkara Sehun lagi.

“Yah—Son Dahye,” salah seorang dari keenam gadis itu buka suara. Matanya memicing tajam sementara kedua tangannya terlipat di depan dada dengan angkuh.”Rupanya kau ini benar-benar bebal, ya?”

Dahye tahu di saat seperti ini menyahut sama sekali tak ada gunanya. Maka ia memilih bungkam, dan menatap gadis di hadapannya lurus-lurus. Enggan menunjukan gentar.

“Bukankah sudah kami bilang untuk jauh-jauh dari Sehun seonsaeng, huh?” gadis yang lain ikut bicara.”Kemarin kami melihatmu naik mobil bersama Sehun seonsaeng malam-malam. Kau pikir kau siapa bisa menumpang mobilnya? Kau pikir bajumu cukup bersih untuk duduk di kursi mobilnya? Benar-benar tidak tahu malu!”

Apa? Jadi kemarin malam ketika Sehun mengantarnya dengan mobil gadis-gadis ini memergoki mereka?

Gadis yang pertama berbicara maju selangkah hingga kini jaraknya menjadi lebih dekat dengan Dahye. Lalu menggunakan ujung jemarinya ia mendorong bahu Dahye sembari mendesis tajam.”Kau tahu apa yang harus didapat oleh orang sepertimu, huh? Kau tahu?”

Yak!” Dahye memekik marah, tidak terima dengan perlakuan gadis ini padanya.”Kau pikir apa yang kau lakukan?”

Gadis di hadapannya justru melepaskan kekehan merendahkan, ia menatap Dahye jijik kemudian berujar pelan-pelan.”Kau tanya apa yang kulakukan? Aku, dan teman-temanku, akan memberimu sedikit pelajaran, agar kau tahu bagaimana caranya bersikap dengan benar,” ia berhenti sejenak.”dan belajar untuk tidak dekat-dekat dengan Sehun seonsaeng lagi.”

Lalu setelahnya tanpa dikomando kelima gadis di belakang gadis tadi segera menghambur menyerbu Dahye. Mereka membekap mulut Dahye, mengunci kedua tangannya kemudian dengan mudah mendorong paksa tubuhnya untuk berjalan. Dahye tak menyangka dirinya akan mendapat serangan seperti ini, terlebih di area sekolah ketika jam belajar berlangsung. Namun tentu saja tak ada yang bisa menolongnya, semua orang tengah berada di kelas—gadis-gadis ini memang pintar memilih waktu yang tepat untuk menyerang Dahye.

Sekuat tenaga Dahye berusaha melawan melepaskan diri. Tapi tenaganya jelas kalah dibandingkan lima gadis ini. Meski ia berusaha memekik pun, mulutnya dibekap kencang-kencang hingga hanya rintihan lemah yang akhirnya terdengar. Lebih buruknya lagi Dahye tak tahu ia dibawa kemana. Yang pasti, gadis-gadis ini membawanya ke bagian belakang sekolah yang jarang sekali terjamah oleh para siswa. Langkah mereka kemudian terhenti di depan sebuah pintu di ujung bangunan. Si gadis yang tadi paling banyak bicara bergerak membuka pintunya, lalu kelima gadis lain segera mendorong Dahye masuk ke dalam sana.

Dahye terhempas jatuh ke lantai yang dingin dan berdebu. Cepat-cepat ia bergerak bangkit, namun sebelum kakinya sempat mencapai pintu, gadis-gadis itu telah lebih dulu meraih daun pintu lantas menariknya tertutup. Dahye bisa mendengar mereka menguncinya dari luar kemudian tertawa-tawa dengan senang.

“Selamat bersenang-senang di sana, Son Dahye! Besok pagi kami jemput, ya!”

Mereka kembali tertawa setelahnya. Lambat-laun tawa mereka menjadi sayup-sayup hingga akhirnya tak terdengar sama sekali. Panik segera menyerang Dahye. Ia meraih daun pintu kemudian mencoba menariknya berkali-kali, lalu menggedor-gedor sembari meneriakan tolong meski tahu usahanya sia-sia. Gadis-gadis tadi telah mengurungnya dari luar. Dahye tak bisa keluar, ia terjebak di sini. Bagian bangunan ini jarang sekali dikunjungi siswa lain, Dahye pesimis akan ada orang yang mendengar teriakannya dan menolongnya. Namun ia tak mau menyerah, ia tak mau terkurung di sini sampai besok. Dahye terus berusaha menarik pintu terbuka, menggedor dan berteriak minta tolong seperti orang kesetanan.

Lalu ketika suaranya mulai habis dan tenaganya mulai terkuras, Dahye memutuskan berhenti. Gadis itu merosot dari pintu hingga terduduk di lantai. Ruangan ini gelap gulita, tak ada jendela sama sekali. Hanya cahaya yang menyelinap dari fentilasi pintu yang memberi Dahye sedikit penerangan. Sisanya benar-benar gelap, karena itu Dahye tak mau jauh-jauh dari pintu.

Meski matanya tak bisa melihat apa pun di dalam sini, Dahye cukup yakin untuk mengatakan bahwa ia tengah berada di dalam gudang. Sebab rasanya begitu sesak dan berdebu, tempat mana lagi yang menyuguhkan suasana macam ini kalau bukan gudang. Pelan-pelan Dahye mulai merasakan matanya kembali memanas.

Apa kesalahannya sih sampai diperlakukan begini?

Tentu saja. Ini semua karena guru sialannya Oh Sehun. Kalau saja Sehun tak memberinya detensi, mungkin Dahye takkan terjebak dalam kondisi seperti ini. Gadis-gadis tadi takkan mengganggunya, dan Dahye takkan terkurung di dalam gudang yang gelap dan pengap ini.

Awas saja Oh Sehun. Ketika Dahye telah berhasil bebas dari gudang ini pemuda itu akan mendapat bayaran yang setimpal darinya.

Tapi bagaimana caranya keluar dari sini?

Ketika Dahye tengah sibuk dengan pikiran kalutnya, hawa dingin mulai membelai permukaan kulitnya. Dingin. Ia segera memeluk tubuhnya sendiri, mencoba mencari kehangatan. Kemudian Dahye teringat pagi tadi ia melewatkan sarapannya, ia juga sama sekali tak menyentuh makan siangnya. Perutnya kini mulai melilit. Siang-siang begini saja Dahye sudah merasa benar-benar tersiksa, bagaimana dengan malam nanti…?

Tidak.

Dahye cepat-cepat menggeleng, berusaha mengusir pikiran mengerikan tadi dari benaknya. Ia tidak akan terjebak di sini sampai nanti malam. Ia tidak akan menghabiskan malamnya di sini.

Dahye kembali menggedor-gedor pintu sambil berteriak tolong sekencang mungkin, namun sampai tenggorokannya sakit pun tak ada yang terjadi sama sekali. Ia tetap terkunci di sini dan tak ada yang menolongnya. Kini Dahye menyesal meninggalkan ponselnya di dalam tas. Kalau saja ia membawanya, mungkin ia bisa menelepon seseorang dan minta bantuan.

Tapi memangnya siapa yang bisa ia mintai bantuan?

Di sekolah ini Dahye tak punya seorang pun teman. Tak ada kontak orang-orang di sekolah ini dalam ponselnya. Lalu jika saja ia membawa ponsel, siapa yang bisa ia hubungi?

Pada akhirnya Dahye tahu, mau bagaimana pun ia takkan bisa terbebas dari sini. Sebab ia tak punya teman. Takkan ada yang menyadari bahwa ia telah menghilang, maka takkan ada yang berusaha mencarinya dan menolongnya. Dahye tersenyum pahit pada dirinya sendiri.

Untuk pertama kalinya Dahye tersadar betapa menyedihkannya ia.

full_size_20160305070213

            Sehun mengerling jam digital di sudut bawah layar komputernya. Pukul sepuluh malam lewat lima menit. Ternyata sudah larut juga. Baiklah, mungkin cukup sampai di sini ia mengerjakan dokumennya. Pemuda itu mulai mematikan komputernya kemudian beranjak dari kursinya untuk mengenakan mantel. Sekolah telah benar-benar sepi, Sehun pikir sepertinya hanya tinggal ia seorang di sini. Ketika ia telah bersiap meluncur menuju mobilnya di parkiran, Sehun teringat akan bukunya yang mestinya ia bawa di dalam tas. Pemuda itu berhenti sejenak untuk memeriksa tasnya, lantas terhenyak ketika tak menemukan buku itu di dalam sana.

“Dimana aku menyimpannya?” Sehun bergumam pada dirinya sendiri, berusaha mengingat-ingat.”Ah, tentu saja. Aku meninggalkannya di ruang kelas itu.”

Lalu tanpa banyak berpikir Sehun segera membawa kakinya menuju ruang kelas tempat ia meninggalkan buku tadi. Senyum kecil tercipta di bibir Sehun kala telah berhasil menemukan bukunya di laci meja guru. Namun senyuman itu segera memudar ketika matanya tanpa sengaja berhenti di bagian belakang kelas. Di sana, di meja paling belakang ia melihat sebuah ransel yang dikenalinya tergeletak begitu saja. Kening Sehun mengerut dalam.

Ransel milik Dahye.

Ini memang ruang kelas Dahye. Siang tadi Sehun memang mengajar di kelas ini, namun Dahye tak hadir di kelasnya. Gadis itu juga tak datang ke ruangannya untuk detensi sepulang sekolah. Sehun sama sekali tak protes sebab ia pikir Dahye tengah menghindarinya akibat ciuman kemarin. Tapi menemukan ransel gadis itu masih tertinggal di sini…

Seketika jantung Sehun bertalu cepat. Ia segera meraih ransel Dahye kemudian bergegas meninggalkan ruang kelas dengan berbagai macam asumsi memenuhi kepalanya. Ia tak bisa menghentikan dirinya untuk menduga-duga hal buruk terjadi pada Dahye. Tidak, Sehun tidak mau itu terjadi. Ia menggelengkan kepalanya kemudian mempercepat langkahnya.

Hanya satu tempat yang bisa menjawab seluruh rasa cemasnya.

Ruang keamanan.

full_size_20160305070213

            “Dahye! Son Dahye! Kau di sana? Son Dahye!”

Sehun menggedor-gedor pintu kayu itu berkali-kali, berharap mendengar sahutan kecil macam apa pun dari Dahye. Panik yang sejak tadi melandanya kian membuncah kala hanya hening yang didapatkannya. Sehun telah memeriksa seluruh kamera pengawas di ruang keamanan—meski sukar pada akhirnya ia menemukan rekaman dimana Dahye tengah berjalan pada siang hari di koridor yang telah sepi. Dilihat dari jamnya, saat itu memang telah masuk jam pelajaran. Namun yang membuat Sehun menahan napasnya ialah kejadian dimana segerombolan perempuan muncul dan menghadang Dahye, beberapa saat mereka hanya berbicara dengan wajah serius, sampai entah bagaimana dan karena apa gerombolan perempuan itu mulai menyergap Dahye dan membawanya pergi secara paksa. Saat itu panik menggerogoti seluruh tubuh Sehun, ia mencari rekaman lain yang menyambung rekaman sebelumnya dari kamera berbeda. Hingga akhirnya Sehun tahu, gerombolan perempuan tadi membawa Dahye kemari.

“Dahye! Kau bisa dengar aku?”

Sama sekali tak ada jawaban dari dalam. Sehun tak mau memikirkan apa yang mungkin terjadi pada Dahye hingga gadis itu tak menyahuti panggilannya. Pemuda itu kelimpungan sendiri mencari cara untuk membuka pintu ini.

Ia kehabisan akal. Tak ada cara lain untuk membuat pintu ini terbuka selain mendobraknya.

Bruk!

Sehun menghela napas lega begitu pintu di hadapannya mengayun terbuka. Cepat-cepat ia melangkah masuk meski gelap seketika menelannya.

“Dahye? Dahye, kau dimana?”

Sehun tak perlu melangkah lebih jauh lagi ke dalam tempat itu, karena tepat di langkah ketiga, ia menemukan sosok yang sejak tadi dicarinya tengah terbaring lemah tak sadarkan diri di atas lantai. Napasnya terasa tercekat melihat ini. Sehun bergegas berlutut di samping Dahye kemudian menarik gadis itu ke pelukannya. Ia mengguncang Dahye berkali-kali namun gadis itu tetap memejamkan matanya. Rasanya Sehun ingin menjerit frustasi melihat betapa pucatnya Dahye saat ini, belum lagi tubuhnya yang juga terasa begitu dingin.

Tanpa banyak berpikir Sehun segera melingkarkan sebelah lengannya di bahu Dahye, sementara lengannya yang lain ia selipkan di bawah kedua lutut gadis itu. Cepat-cepat Sehun membopong Dahye keluar dari tempat ini. Jantungnya berdebar menyakitkan meninju dadanya sementara ia membawa Dahye ke dalam mobilnya.

Sehun tak tahu dimana rumah Dahye, ia tak punya pilihan selain membawa gadis ini ke apartemennya. Selama mengemudikan mobilnya Sehun berkali-kali mengerling Dahye di sampingnya yang masih saja tak sadarkan diri. Ini benar-benar keterlaluan, keadaan Dahye kelihatan begitu buruk hingga membuat Sehun tak bisa tenang barang sebentar saja.

“Dahye, bertahanlah. Bertahanlah.”

Sesampainya di apartemen Sehun segera membaringkan Dahye di kasurnya. Pemuda itu menelepon dokter pribadinya, kemudian memintanya datang secepat mungkin. Ia bahkan tak bisa menunggu dengan sabar selama dokternya memeriksa keadaan Dahye. Rasanya dunianya benar-benar gelap ketika menemukan Dahye yang biasanya mengamuk mendadak terkulai tak sadarkan diri.

“Dia hanya terserang demam. Biarkan dia beristirahat dan jangan lupa berikan obatnya. Keadaannya akan segera membaik setelah istirahat yang cukup.”

Begitu penjelasan dokternya.

Namun bahkan setelah mendengar ini, perasaan Sehun tak membaik sama sekali. Dengan telaten ia mengompres kening Dahye, berharap panas tubuhnya dapat mereda secepat mungkin. Kemudian setelah selesai ia mendudukan dirinya di samping ranjang, memandangi Dahye yang masih terpejam.

“Lihat, kau membuatku cemas setengah mati begini.” Sehun tertawa hambar sembari memperbaiki posisi selimut Dahye.”Awas saja kalau kau bangun nanti. Kau akan menyesal membuatku seperti ini.”

Lalu ia kembali terdiam, membiarkan hening kembali merayapi seluruh apartemennya. Tepat ketika Sehun memilih beristirahat, ia teringat Dahye masih mengenakan seragam sekolahnya. Rasanya pasti tidak nyaman tidur dengan seragam tipis begitu. Ia memandang lemari pakaiannya sejenak.

Haruskah…?

Ah, tidak, tidak. Tidak masalah Dahye tidur dengan seragam begitu.

Sehun menggelengkan kepalanya berkali-kali, kemudian bergegas meninggalkan kamarnya. Ia membaringkan tubuh lelahnya di sofa ruang tengah. Mencoba terpejam namun tak bisa terlelap sama sekali.

Tapi bagaimana kalau demam Dahye tak juga turun karena memakai seragam tipis itu? Bagaimana kalau esok pagi keadaan Dahye justru semakin memburuk?

Sehun menggeram kecil, kesal dengan pikirannya sendiri. Ia lantas bangkit dari tidurannya dan berjalan kembali menuju kamarnya.

Yah, lagipula ini semua juga demi kesembuhan Dahye.

Benar. Demi kesembuhan Dahye.

full_size_20160305070213

            Pagi itu Dahye terbangun dengan pening luar biasa. Butuh beberapa sekon bagi Dahye untuk menyadari bahwa ia berada di tempat asing. Jantungnya seketika bertalu cepat—bukankah kemarin ia terkunci di gudang sekolah, lantas bagaimana bisa saat ini dirinya terbangun di atas sebuah kasur empuk? Lebih buruknya lagi Dahye tak tahu dimana tempatnya berbaring kini. Ini jelas bukan kamarnya.

Dengan panik Dahye bangun dari tidurannya. Gadis itu tersentak ketika sebuah kain lembab jatuh dari keningnya ke pangkuannya. Kepalanya meneleng dengan bingung, seseorang telah mengompresnya? Perlahan Dahye menyentuhkan punggung tangannya ke kening, suhu tubuhnya memang agak hangat. Kemudian Dahye terhenyak sendiri ketika menyadari pakaian yang kini menempel di tubuhnya sama sekali bukan seragam sekolahnya. Dahye menyibak selimut yang sejak tadi membungkusnya, lantas menemukan dirinya tengah mengenakan hoodie super kebesaran plus celana training hangat yang juga tak kalah kebesaran.

Bagaimana bisa…?

“Oh, kau sudah bangun?”

Lalu seolah semua ini belum cukup mengejutkan, sosok Oh Sehun muncul dari balik pintu bersama senampan makanan yang mengepul. Kedua mata Dahye melebar terkejut. Tanpa bisa dicegah, sebelah tangannya terangkat untuk menunjuk-nunjuk Sehun sementara mulutnya mulai memekik panik.”Kau! Apa yang kau lakukan di sini!”

Sehun berjalan santai menuju ranjang, seolah pekikan Dahye tadi sama sekali tak mengganggunya. Ia meletakan nampan makanan di atas nakas, kemudian menyilangkan kedua tangan di depan dada. Rautnya datar ketika ia berujar.

“Dasar bodoh. Kenapa bertanya apa yang kulakukan di sini—tentu saja karena ini rumahku, aku bebas melakukan apa pun yang kumau.”

Telinga Dahye rasanya berdenging mendengar jawaban Sehun. Cepat-cepat ia memutar duduknya hingga kini menghadap Sehun yang berdiri menjulang di samping ranjang.

“Apa? Rumahmu?” Dahye bertanya tak percaya.”Ini sungguhan rumahmu?”

Sehun mengangguk-angguk tanpa minat.

“Tapi bagaimana bisa aku ada di sini?” lagi-lagi Dahye bertanya, suaranya melengking heboh.

Decakan kecil lantas lolos dari mulut Sehun. Pemuda itu menunduk untuk kemudian mendorong kening Dahye menggunakan telunjuknya. Dahye mengaduh kecil meski tak protes sama sekali.

“Kau lupa, ya semalam diselamatkan oleh siapa?”

Apa?

Dahye mengerutkan kening mendengar pertanyaan Sehun tadi. Kerutan di keningnya bertambah dalam ketika ia mencoba mengingat-ingat kejadian semalam. Yang Dahye ingat, ia terkurung di gudang karena ulah enam gadis bar-bar itu, ia berusaha keluar dan minta tolong namun usahanya tak membuahkan hasil sama sekali, kemudian ia kedinginan dan kelaparan di saat bersamaan, lalu ketika malam mulai turun… Dahye tak ingat apa-apa lagi. Dan pagi ini ia terbangun di rumah Sehun.

Mungkinkah… mungkinkah Sehun datang menolongnya ketika ia tak sadarkan diri?

“Kau…” Dahye mendongak menatap Sehun, matanya memancarkan keraguan. Tak seperti sebelumnya, suaranya begitu pelan dan halus.”kau menolongku malam tadi?”

Sejenak Sehun tak mengatakan apa pun. Pemuda itu hanya bergeming sembari menyelami manik Dahye yang kini menatapnya lurus-lurus. Gadis ini kelihatan begitu polos dan… manis. Ia berdehem kemudian menegakan tubuhnya.

“Rupanya kau sudah ingat.” Sehun bergumam lalu menyibukan diri dengan makanan di atas nampan yang tadi dibawanya.

Dahye sendiri tercenung di tempatnya. Ia tak menyangka di saat terdesak seperti kemarin, justru Oh Sehunlah yang datang dan menyelamatkannya. Dahye pikir kemarin ia akan berakhir mengenaskan di gudang sekolah, lalu terbangun dengan enam gadis bar-bar menertawakannya kencang-kencang. Tapi rupanya Dahye keliru. Sehun menolongnya dan membawanya kemari. Ia bahkan menyempatkan diri untuk mengompresnya dan… menggantikan pakaiannya.

Tunggu.

Dahye menunduk menatap setelan kebesaran yang kini menempel di tubuhnya.

Tidak mungkin ‘kan Sehun juga yang menggantikan pakaiannya?

“Yak!” Dahye berseru sambil menusuk lengan Sehun menggunakan ujung jemarinya.

“Apa?” sahut Sehun sekenanya, ia masih saja sibuk dengan makanan di nampan.

“Kau… tinggal sendiri di sini?” Dahye bertanya ragu-ragu.

Mendengar ini Sehun lantas menoleh pada Dahye, rautnya bingung.”Iya. Kenapa memangnya?”

Kedua mata Dahye seketika melebar ngeri. Refleks, tangannya bergerak memeluk tubuhnya sendiri, kemudian matanya menatap Sehun dengan horror.”Jadi kau juga menggantikan pakaianku, huh?”

Dan Sehun membeku di tempatnya. Dengan cepat ujung telinga pemuda itu memerah, sementara pipinya merona samar. Untuk kedua kalinya ia berdehem sembari mengusap tengkuknya.

“Y-yak! Aku tidak punya pilihan! Semalam kau demam,  memangnya kau pikir aku tega membiarkanmu tidur dengan seragam tipis begitu, demammu bisa tambah parah, tahu tidak!” Sehun menukas cepat, ia berusaha menghindari tatapan ngeri dari Dahye.

Dahye menahan napas, tanpa diperintah tangannya bergerak meraih salah satu bantal lantas melemparkannya pada Sehun.

“Tetap saja!” ia memekik dengan wajah merah padam.”Mau bagaimana pun aku ini perempuan, mana bisa kau berbuat seenaknya begitu!” Dahye meringis pelan kemudian mengusap-usap sisi tubuhnya.

Sehun mengerjapkan kedua matanya cepat. Ia kemudian meletakan kedua tangannya di pinggang.”Kau ini bicara apa! Tidak usah berlebihan begitu—tak perlu takut aku akan macam-macam padamu. Kau itu rata, tahu! Rata!” Sehun berhenti sejenak untuk kemudian menambahkan dalam gumaman pelan yang masih bisa didengar Dahye.”Mana mungkin aku tergoda oleh tubuh rata seperti itu.”

“Yak! Apa kau bilang!”

Nyatanya, perkataan Sehun tadi malah membuat Dahye semakin geram. Perempuan mana yang senang dibilang rata. Maka dengan gondok bercokol di dadanya, gadis itu kembali meraih sebuah bantal di dekatnya, kemudian kembali melemparkannya pada Sehun, namun kali ini dengan kekuatan dua kali lipat lebih besar.

“Yah—“ Sehun mengerang ketika bantal lemparan Dahye tepat mengenai wajahnya. Sementara si pelempar bantal justru tergelak dengan puas.

“Lain kali hati-hati kalau bicara, Oh seonsaeng!” Dahye menukas sambil tergelak kencang, sengaja mengucapkan bagian Oh seonsaeng dengan mimic dibuat-dibuat.

Sehun mendengus kemudian memunguti bantal-bantal yang tadi Dahye lemparkan padanya. Meski agak kesal, diam-diam pemuda itu mengulum senyum kecil. Ini kali pertamanya melihat Dahye tertawa begitu. Kenapa tawa gadis itu kedengaran begitu renyah? Begitu lepas hingga Sehun tak kuasa meledak marah meski Dahye telah bersikap kurang ajar padanya.

Namun tetap saja, ia tak bisa membiarkan Dahye lepas. Maka setelah meletakan kembali bantalnya ke atas kasur, Sehun menyilangkan kedua tangan di depan dada kemudian menatap Dahye dengan mata memicing.

“Yah—Son Dahye, kau lupa aku ini gurumu, huh?” Sehun memulai dengan serius, sukses menghentikan gelak tawa Dahye.”Kau mau nilaimu kupotong? Atau skor sikapmu kubuat merah? Atau—“

“Tidak, tidak!” Dahye menyambar perkataan Sehun.”Tidak. Jangan main-main dengan nilaiku.”

Sehun menyeringai tipis mendengar ini. Memang mudah mengatur seorang Son Dahye—ancam saja nilainya, maka ia akan bertekuk lutut dengan suka rela. Sambil terkekeh kecil, Sehun menepuk-nepuk puncak kepala Dahye kemudian berujar.

“Kalau begitu jadi anak manis selama tinggal di sini, oke?” ia menyuguhkan senyum kelewat manis lantas menunjuk makanan yang tadi dibawanya di atas nampan.”Sekarang makan makanannmu dan tidak usah banyak bicara.”

Dahye merengut namun tetap mengikuti perkataan Sehun. Ia meraih nampan di atas nakas lalu mencebikan bibir begitu melihat isinya.

“Aku tidak suka bubur.” Dahye menukas pada Sehun yang kini mendudukan diri di atas kursi di seberang ranjang.

Pemuda itu mengedikan bahunya pada Dahye.”Aku juga tidak suka. Kita sama kalau begitu.”

Mendengar ini Dahye mendecak kecil.”Aku tidak tanya kau suka bubur atau tidak. Maksudku, karena aku tidak suka bubur aku tidak mau makan.”

“Kau harus makan.” Sehun menyahut ringan.”Aku sudah susah payah membuatnya—yah, kecuali kalau kau mau nilaimu jadi merah semua sih, tidak masalah.”

“Ish, iya iya, aku makan.” Dahye mendengus lantas meraih sendoknya. Namun setelah setengah menit berlalu, gadis itu tak juga menyuapkan buburnya ke mulut. Yang dilakukannya hanya mengaduk-aduk bubur di mangkuknya menggunakan sendok.

Sehun yang sejak tadi memperhatikan Dahye dari seberang ruangan mendecak kecil tidak sabaran.”Pantas saja tubuhmu rata begitu—makan saja susah.”

Dahye mendongak kesal ketika Sehun lagi-lagi mengangkat topik tubuhmu-rata.

“Kau harus makan. Sekarang.” Sehun kembali berujar, kali ini suaranya kedengaran lebih tegas.

Dan meski Sehun tak mengiming-imingi nilainya, Dahye tetap mengikuti keinginan pemuda itu walau dengan berat hati. Pelan-pelan ia mulai menyuap nasi lembek di mangkuknya. Melihat Dahye mulai menyantap masakannya, diam-diam Sehun tersenyum kecil. Senang bisa membuat gadis itu makan juga.

“Ngomong-ngomong, terima kasih.” Dahye berujar ketika buburnya tinggal separuh.

Sehun menatap Dahye yang kini menunduk menatap mangkuk di pangkuannya. Gadis itu memainkan sendoknya, menghindari tatapan Sehun hingga rambut panjangnya jatuh terurai menutupi wajah. Sehun menahan keinginan untuk berjalan menuju Dahye dan menyibakan rambut itu hingga ia bisa menatap wajahnya dengan leluasa.

“Terima kasih untuk apa?”

Sesaat Dahye terdiam. Ia menarik napas kemudian melanjutkan.”Terima kasih karena sudah menolongku semalam. Aku benar-benar sudah kehilangan harapan kemarin, tapi kau datang dan, yah menyelamatkanku—jadi, terima kasih.”

Sehun menahan senyumannya mendengar ini. Ia tak bisa membohongi dirinya sendiri bahwa hatinya meletup senang ketika Dahye menyampaikan terima kasih untuknya. Namun ingatan semalam ketika ia memeriksa kamera pengawas kembali mengusiknya. Sehun bergerak tak nyaman di kursinya lantas berdehem kecil.

“Tapi… apa yang membuatmu bisa terkunci di sana?” ia bertanya dengan suara hati-hati.”Aku memeriksa kamera pengawas dan melihatmu diserang oleh segerombolan perempuan. Kau… punya masalah dengan mereka?”

Dahye tersentak mendengar ini. Kemarin ia bersumpah mati-matian akan memberi Sehun pelajaran karena telah membuatnya diganggu gadis-gadis bar-bar itu. Tapi setelah kejadian hari ini, setelah Sehun menolongnya, mana bisa ia masih saja marah-marah.

Perlahan Dahye mendongakan kepalanya, kemudian memandang Sehun dengan seulas senyum tipis.

“Itu… bukan apa-apa.”

Kening Sehun mengerut mendengar ini. Ia menegakan duduknya lantas menatap Dahye dengan cemas.”Bukan apa-apa bagaimana? Kau sampai dihadang dan dikunci begitu, jelas masalahnya bukan biasa-biasa saja.”

Dahye mengembuskan napas kasar lantas menyelipkan sejumput rambut ke belakang telinganya.”Kau benar-benar ingin tahu, ya? Baiklah, biar kuberi tahu. Kemarin gerombolan fansmu menyerangku karena mereka bilang aku terlalu dekat denganmu. Mereka marah dan ingin memberiku pelajaran, karena itu aku berakhir terkunci di gudang sekolah.”

Apa?

Sehun membeku di tempatnya mendengar penjelasan Dahye.

“Fans…?” ia bertanya dengan terkejut. Dirinya sama sekali bukan seorang artis, mana mungkin sampai punya fans begitu?

“Iya, fans. Orang-orang yang begitu menyukaimu sampai berani menyerangku karena mereka pikir aku terlalu dekat denganmu.” Dahye menjawab lugas.

Butuh waktu agak lama untuk Sehun mencerna perkataan Dahye. Ia memutar otaknya, berusaha menerima informasi mengejutkan yang baru saja didengarnya.

“Kalau begitu… penyebab kau dikunci di gudang kemarin malam adalah—aku?” Sehun bertanya sangsi, menunjuk dirinya sendiri.

Dahye menatap Sehun lamat-lamat. Ia kemudian terkekeh kecil dan kembali meneruskan makannya.

“Tidak usah merasa bersalah begitu. Kau sudah menyelamatkanku semalam, jadi kurasa kesalahanmu juga sudah lunas terbayar.” Ia berhenti sejenak sembari menelengkan kepalanya.”Lagipula setelah kejadian ini aku jadi tahu bahwa memang tak semestinya kita terlalu dekat. Mungkin aku harus jauh-jauh darimu, supaya gadis-gadis bar-bar itu puas. Dan aku tidak akan terkurung di gudang untuk kedua kalinya.”

Setelahnya Dahye melepas tawa keras, namun Sehun tak ikut tertawa bersamanya. Pemuda itu justru menatapnya lurus-lurus dengan tatapan tak terbaca. Lama-lama Dahye merasa risih sendiri, ia memutuskan menutup mulutnya dan meneruskan makan dalam diam.

Begitu mangkuk Dahye telah kosong, Sehun bergerak mendekatinya kemudian menyodorkan sebuah kapsul.”Ini obat pereda demam. Kau harus meminumnya.”

Dahye mengikuti perintah Sehun dengan patuh. Ia meminum obatnya dan meneguk minumnya cepat-cepat, tak mau mendengar protes dari Sehun. Tepat ketika Dahye meletakan gelasnya di atas nakas, Sehun duduk di sampingnya kemudian meletakan sebelah tangannya di kening Dahye.

Debar jantungnya seketika meningkat begitu menemukan wajah Sehun berjarak begitu dekat dengannya, belum lagi sensasi yang diberikan tangan Sehun pada keningnya. Mungkin sekarang pipinya telah sukses merona. Namun Sehun terlalu sibuk mengecek temperatur tubuhnya hingga tak menyadari itu.

“Masih agak panas, tapi setidaknya tidak separah semalam.” Sehun bergumam pada dirinya sendiri. Ia kemudian bangkit berdiri dari duduknya.”Sekarang lebih baik kau kembali tidur. Jangan banyak beraktivitas, demammu bisa naik lagi.”

Dahye mengerjapkan matanya berkali-kali.”Tapi aku baru saja makan. Masa sudah disuruh tidur lagi?”

Sehun mengembuskan napas kesal. Lalu dengan tak sabaran ia mendorong bahu Dahye hingga gadis itu jatuh berbaring di atas kasur. Tanpa mengatakan apa pun Sehun menarik selimut sampai membungkus Dahye. Sementara Dahye hanya bisa membeku diperlakukan begitu.

“Ikuti saja perkataanku. Kau sudah berjanji akan jadi anak manis ‘kan.”

Lalu Sehun berjalan keluar kamar meninggalkan Dahye yang tercenung di tempatnya. Gadis itu mengerjap-ngerjapkan matanya berkali-kali, lantas menyentuh pipinya yang menghangat. Dahye yakin sekali hangat pipinya bukan disebabkan demam yang kini menyerangnya. Ini pasti karena ulah Sehun. Sebab bukan hanya pipinya yang menghangat, namun jantungnya juga bertalu begitu kencang. Sebelumnya Dahye tak pernah mengalami hal ini. Jantungnya tak pernah berdetak begitu cepat untuk seorang lelaki…

“Yah—bukankah sudah kubilang untuk tidur saja?” Sehun yang baru saja masuk ke dalam kamar dengan sebuah ember kecil di tangannya mulai mengomel melihat Dahye yang masih terjaga.”Kau benar-benar ingin—“

“Ah, iya iya, aku tidur! Aku tidur sekarang!” Dahye cepat-cepat menyambar perkataan Sehun kemudian memejamkan kedua matanya rapat-rapat. Enggan mendengar Sehun mengancam memotong nilainya lagi.

Sehun mendudukan dirinya di samping ranjang kemudian terkekeh kecil.”Bocah lima tahun juga tahu kau tidak benar-benar tidur.”

Dahye membuka sebelah matanya lantas menyahut kecil.”Daripada kau mengancam nilaiku, lebih baik aku pura-pura tidur.”

“Siapa bilang aku akan mengancam nilaimu lagi?” Sehun tertawa kecil.”Tadi aku mau bilang, kau benar-benar ingin demammu tambah parah, ya. Tapi kau sudah menyelanya duluan.”

Mendengar ini membuat Dahye mencebikan bibirnya kesal. Ia kembali membuka matanya, kemudian segera dibuat bingung melihat Sehun merendam sebuah kain di dalam ember yang tadi dibawanya.

“Kau mau apa?” Dahye bertanya bingung.

“Menurutmu?” Sehun malah balas bertanya sembari memeras kain yang tadi direndamnya. Setelah dirasa cukup ia meletakan kain tadi di kening Dahye. Sensasi sejuk dengan cepat menyapa permukaan kulit Dahye.

Ah, rasanya benar-benar lebih baik.

Dahye menatap Sehun yang kini meletakan ember kecil tadi di sisi ranjang. Pemuda itu tetap tinggal di samping ranjang, memperhatikan Dahye yang juga tengah menatapnya.

“Terima kasih.”

“Maaf.”

Keduanya terkejut ketika berujar di saat yang bersamaan.

“Kenapa berterima kasih lagi?” Sehun bertanya heran. Ia menopang dagunya dengan lengan untuk menatap Dahye lebih baik.

Dahye tersenyum kecil sembari menyentuh kain yang kini menempel di keningnya.”Terima kasih karena sudah mau repot-repot merawatku.” Ia berujar pelan.”Sebelumnya tak pernah ada orang yang mau melakukan ini padaku, selain keluargaku sendiri.”

Sehun ikut tersenyum mendengar ini. Di luar refleks, ia mengangkat sebelah tangannya untuk menyingkirkan helaian rambut yang menghalangi wajah Dahye. Tubuh Dahye menegang merasakan sentuhan Sehun di permukan kulitnya, ia berdoa semoga debaran jantungnya takkan sampai ke telinga pemuda itu.

“Aku juga minta maaf.” Ujar Sehun perlahan.”Maaf karena telah membuatmu diganggu perempuan-perempuan itu. Maaf karena telah membuatmu terkurung di gudang. Maaf karena telah membuatmu jatuh sakit begitu. Aku benar-benar minta maaf.”

Dahye tak tahu harus menyahut bagaimana. Baginya kesalahan Sehun telah terhapuskan karena pemuda itu berhasil membuat hatinya tersentuh dengan merawatnya begini. Tapi mau bagaimana pun Dahye tetap tak bisa menghapuskan rasa bersalah yang mungkin kini membayangi Sehun.

Baru saja Dahye hendak membuka mulut untuk mengatakan bahwa segalanya tidak masalah ketika Sehun kembali berujar.

“Dan satu hal yang harus kau ketahui, setelah kejadian ini mestinya kau tetap berada di sampingku, di dekatku. Supaya aku bisa terus melindungimu dan gadis-gadis itu tak akan mengganggumu lagi.” Sehun tersenyum hangat, jemarinya bergerak mengelus sisi wajah Dahye dengan lembut, mengantarkan sengatan listrik yang lantas membuat jantungnya berdebar semakin kencang.

Supaya aku bisa terus melindungimu…

Melindungimu…

…kkeut

Advertisements

165 responses to “The Dim Hollow Chapter 6-by Cedarpie24

  1. dagdigdugdagdigdugdagdigdug yaampunn aku bacanya keknya pipi aku ikut memanas juga yampun yampun yampunnn#lebaydehh
    tapi disini mereka sweet banget sehun juga keknya tanpa sadar selalu ngeluarin kalimat kalimat kalo dia suka sama dahye …

    bagus kak! semangatt!!

  2. Jangan PHPin anak orang Hun.. jangan ngulangin kesalahan di masa lalu.. cukup Dayoung aja yang jadi korban..
    selalu suka sih liat momenmya mereka.. kadang berantem, kadang adem kayak gini.. hehehe..
    Kira-kira apa ya yang bakal dilakuin Sehun ke gerombolan fansnya dia itu..

  3. Entar kalo dahye juga terlanjur suka, berabe loh pak guru :’) kamu kan cuma jadiin dahye pelarian soalnya dayoung uda ngga ada :’) *mode emak2 ribut pas liat drama*

  4. Membuatku bingung. Sehun sbenarnya menyukai Son Dahye ap ada.y ato krn Dahye itu mengingtkb.y dgn Dayoung??? Klo jwaban.y adlh alasan yg kdua, brarti itu bkn cinta donk…
    Kasian si Dahye, udh kelampau baper sm sikap manis.y sehun trus di bully sm fans.y Guru Oh…

  5. Ksian dahye dg kl gini,,,abs kykny sehun msh liat dayoung dh dlm diri dahye,bkn dahye seutuhnya..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s