HAMARTIA FINAL (OPENING)

hamartia

PREFINAL: https://saykoreanfanfiction.wordpress.com/2016/02/07/prefinal-hamartia-let-go/

Warning : ngga sesuai sama teaser kemarin :p

Hujan masih belum berhenti jatuh sejak tadi malam. Langit berwarna kelabu, udara dingin begitu menusuk kulit meskipun penghangat ruangan sudah diatur ke suhu paling tinggi.

Jiyoon tidak pernah suka musim dingin, dia masih ingat kalau musim dingin selalu membawanya pada kenangan buruk. Bahkan buruk sekali, sekarang pun masih buruk. Tapi ia suka hujan, karena suara ramai hujan yang terjatuh membuatnya merasa tidak kesepian ketika sendirian. Maka dari itu ia berjalan menuju balkon lantai dua depan kamarnya, yang menampakkan pemandangan rintik hujan jatuh ke tanah yang sepi. Membuat suhu rendah udara berpindah ke tubuhnya yang hanya berlapis pakaian tidur.

Ia mengulurkan tangan pucatnya untuk menyentuh hujan. Karena tangannya yang sudah kelewat dingin, ia merasakan air hujan yang sedingin es itu lama lama menjadi hangat menyentuh kulitnya. Ia belum menemukan jawaban sains kenapa ini bisa terjadi, namun ia menebak karena kondisi tubuh yang terus terkena air hujan menjadi terbiasa, kemudian kebal. Bukankah separah apapun rasa sakit, apabila sudah terbiasa, tidak akan terasa lagi?

“Apa yang sedang kau kerjakan?” Seseorang bertanya dengan suaranya yang agak membentak. Jiyoon tidak perlu berbalik badan untuk tahu siapa yang menerobos masuk ke dalam kamarnya. Seharusnya, pria itu juga tidak perlu bertanya untuk tahu apa yang Jiyoon lakukan. Dia bisa melihat dengan mata kepalanya sendiri, omong omong. Tapi, Jiyoon mengerti kalau Jinwoo ingin jawaban yang lebih dari apa yang matanya lihat.

“Mencari kehangatan?” jawabnya asal, tidak rela melepaskan tangannya dari rintikan hujan air es yang turun begitu cepat. Tidak perlu menunggu berdetik detik setelah itu, tangannya langsung ditarik paksa menjauh dan dia dihadapkan dengan Kim Jinwoo yang menatapnya nanar, orang orang suka sekali menatapnya seperti ia adalah manusia paling menyedihkan di dunia. Oh ayolah, Jiyoon tidak suka tatapan prihatin dari siapapun, terutama Jinwoo, seseorang yang selalu ia repotkan dari dulu atas segala masalah dan kesialan yang menimpa hidupnya.

Numbing the pain for a while will make it worse when you finally feel it.”  Ucap Jinwoo kalem. Haruskah Jiyoon setuju dengan perkataan Jinwoo barusan? Melumpuhkan rasa sakit untuk sementara bukan berarti kau akan kehilangan itu selamanya, it will be worse when you finally feel it.

Pria itu menariknya masuk kedalam, “I am fine, Jinwoo.” Balasnya, ia duduk di sofa dekat tempat tidur, diikuti Jinwoo yang duduk disebelahnya. Itu bukanlah sebuah tipuan omong kosong, Jiyoon selalu mencoba jujur kepada Jinwoo. Dia benar benar merasa baik baik saja, meskipun beberapa orang memperlakukannya dengan tidak biasa. Jiyoon yakin bahwa dirinya baik baik saja. Setidaknya dia masih bisa bernapas meskipun terakadang tercekat, dia bisa tidur meskipun tidak nyenyak, dia bisa bangun di pagi hari walaupun dihantui mimpi buruk. Tapi, hidupnya tetap berjalan, kan? Itu artinya dia baik baik saja.

“Aku sudah mendapat kabar tentang Song Joohyung.” Jinwoo kemudian langsung to the point tentang maksudnya kemari. Dia tahu bahwa Jiyoon bukanlah gadis yang suka diajak basa basi. Bagaimanapun, sahabat baiknya itu sudah berubah jauh, menjadi seorang yang nyaris tidak ia kenali lagi.

Mendengar nama itu tentu membuat tubuhnya terasa tertusuk pisau panas, Jinwoo mendapati perubahan itu terhadap gadis didekatnya. Song Joohyung? Ayahnya? Jiyoon ingin lupa bahwa dia memiliki seorang ayah, sebenarnya. Mana ada ayah yang tega menghancurkan hidup putrinya sendiri demi keserakahannya? Ya, ayanya adalah orang seperti itu, Jiyoon tentu tidak lupa bahwa ketika ia sangat membutuhkan perlindungan Song Joohyung, pria tua itu malah menghianatinya dengan menjadi akar dari segala awal kehancuran hidupnya.

“Yunho Hyung sudah mengumpulkan seluruh berkas kejahatan Song Joohyung.” Jinwoo menjawab dengan suaranya yang dibuat sehati hati mungkin. Mencoba membaca apa yang dipikirkan Jiyoon, sepertinya. Dia takut bahwa ia membicarakan ini dalam kondisi yang tidak tepat. Pria itu memicingkan matanya sembari menatap Jiyoon curiga, “Kau tidak mengkhawatirkan Song Joohyung, kan?”

Tanpa membalas tatapan Jinwoo yang penuh tanya, ia mengatakan “Tidak.” Secara singkat. Jiyoon tidak lagi menganggap Joohyung ayahnya sejak hari dimana pria itu malah menghajarnya, bukan melindunginya. Tidak peduli pria itu pernah menemuinya untuk meminta maaf, sesuatu dalam diri Jiyoon tetap tidak bisa menerima alasan Joohyung, tidak bisa memaafkannya secepat itu. “Tapi tetap saja dia ayahku.” Lanjutnya, dengan nada suara yang lebih rendah. Ya, mau sebrengsek dan sekejam apapun Joohyung atau sekalipun Jiyoon tidak mau menganggapnya lagi, fakta tetap mencatatkan bahwa Joohyung ayahnya, ayah yang membesarkannya. Dan dia ayah Seungyoon juga “jangan beritahu Seungyoon apapun tentang ayahnya.” Gadis itu meminta, diberikan anggukan setuju oleh Jinwoo yang tentu tidak mungkin menolak. Karena lebih dari apapun untuk urusan Song Joohyung, Jiyoon paling mengkhawatirkan perasaan Seungyoon.

Setelah itu, baik Jinwoo ataupun Jiyoon tidak tahu harus membicarakan apalagi. Mereka selalu berakhir canggung tiap kali bertemu, seperti halnya dua orang asing yang baru berkenalan beberapa detik sebelumnya.

“Mau keluar denganku nanti malam?” Jinwoo menawarkan, dia selalu berbicara dengan hati hati kepada Jiyoon, takut takut salah berbicara ataupun menyakiti hati gadis itu yang masih terluka. Mungkin ini alasan kenapa mereka menjadi canggung, sangat canggung. Jinwoo tidak lagi mengenal Song Jiyoon sebanyak dulu.

Jiyoon langsung menggeleng, “aku tidak mau Minah membunuhku hanya karena dia takut aku merebutmu darinya.” Ucap gadis itu kalem, tidak serius.

Jinwoo berdecak, ia tersenyum lebar, “bukankah kau tidak pernah peduli tentang itu sebelumnya?”

Ya, separah apapun Minah mengancamnya agar jauh jauh dari Jinwoo, Jiyoon tidak pernah peduli ataupun mendengarkan. Karena dimatanya dulu, Minah hanyalah gadis gila yang terobsesi dengan cinta Jinwoo. Park Minah seharusnya tidak punya hak sama sekali untuk melarangnya bertemu ataupun berkomunikasi dengan Jinwoo, Jiyoon mengenal dan dekat dengan pria itu lebih dulu darinya, bagaimanapun. Jadi, alasan bahwa Jiyoon akan merebut Jinwoo dari Park Minah sama sekali tidak masuk akal, kan? Bukankah malah yang terjadi adalah sebaliknya?

“Si Anabelle itu lebih horror dari kuburan tua ketika mengamuk. Sudah berapa kali aku dipanggil ‘jalang’ olehnya?”

Jinwoo tertawa mendengar nama ‘Anabelle’ yang disebut Jiyoon barusan, berikut keluhannya yang terlihat lugu sekali. Itu merupakan panggilan ejekan untuk Park Minah dari mereka berdua. Well, Anabelle yang dimaksud adalah boneka titisan iblis yang ada di film The Conjuring, yang sekaligus mereka anggap sangat cocok disama samakan dengan Park Minah, baik dari segi bentuk maupun kelakuannya yang seperti nenek sihir.

“AKu senang kau masih mengingat itu.”

“Kenapa kau senang? Itu bukan kenangan yang bagus.”

“Karena kau membuatku teringat pada Jiyoon yang dulu.”

Bibir gadis itu bergerak sedikit. Memangnya bagaimana dia yang dulu? Dia sendiri bahkan tidak menahu, atau sudah lupa.

Jinwoo kemudian membawanya ke dalam pelukan yang erat sekali, seperti pelukan mesrah sepasang kekasih yang lama tidak bertemu. Jiyoon tidak tahu kenapa orang orang suka sekali memeluknya. Tapi, bukankah pelukan yang sangat ia butuhkan? Dirinya selalu merasa tidak aman. Dan fakta ilmiah menyebutkan bahwa dengan adanya hormone oksitoksin yang dikeluarkan ketika berpelukan, itu memberikan efek nyaman dan mengurangi pikiran negative.

Park Minah benar benar akan membunuhku apabila ia menyaksikan ini.” Bisik Jiyoon pelan.

JInwoo tertawa, sekali lagi. Anggap selera humornya menjadi semakin buruk karena ia terus tartawa mendengar ucapan Jiyoon yang tidak berekspresi. Atau mungkin karena dia terlalu merindukan suara gadis itu ketika berbicara dengannya. “Aku merindukanmu, Jiyoon. Sangat.”

“Kau hampir menemuiku tiap hari.” Ingatnya.

Jinwoo melepaskan pelukannya. Ia memberikan balasan atas ucapan Jiyoon yang terakhir dengan sebuah tatapan yang memiliki banyak terjemahan.

“You’ll get better soon.”

Tentu saja.  Dia akan lebih baik dan mengembalikan hidup normalnya nanti. Bukankah waktu merupakan obat paling mujarab? Ia hanya perlu menunggu sampai waktu membuatnya lupa tentang luka lukanya.

“Bagaimana? Mau keluar denganku nanti malam?” Jinwoo bertanya sekali lagi. Dia menatap Jiyoon dengan tatapan dibuat memelas. Jiyoon tidak pernah mau diajak keluar sebelumnya, bahkan Luhan sudah mencoba berkali kali.  Ia merasa bahwa dunia luar sekarang terlalu bahaya untuknya. Tapi, tidak ada salahnya kan keluar sekali kali? Ia sudah merasa bosan setengah mati terus terusan mengurung diri sendiri.

Dan Jinwoo benar benar merasa seperti mendapatkan jackpot ketika melihat Jiyoon menganggukkan kepalanya, meskipun dari matanya saja kelihatan sekali bahwa ia ragu ragu.

“Aku akan menjemputmu jam 8.”

Jiyoon menggeleng, “tidak usah. Aku akan pergi sendiri. Kau bisa mengajak Minah kalau dia mau.”

Jinwoo nyaris membantah perkataan JIyoon. Tapi gadis itu langsung melanjutkan dengan, “aku tidak pernah suka dipaksa.” Membuat Jinwoo langsung berpikir dua kali untuk merealisasikan penawarannya.

***

Jiyoon baru sadar kalau hidup dan bernapas itu adalah dua hal yang berbeda. Ketika kau hidup, kau sudah pasti bernapas. Tapi ketika kau bernapas, kau belum tentu hidup. Dan ia tahu bahwa ia hanya bernapas sekarang, hidupnya sudah mati dari dulu sekali.

Tapi, bukan berarti dia harus bertingkah seolah olah orang mati sungguhan, kan? Dia bukan hantu karena tubuhnya masih berada disini dan menginjak tanah. Mau tidak mau, ia harus menjalankan kehidupan seperti orang hidup dan berhenti mengasingkan diri di kamar dengan berbagai siksaan siksaan pikirannya yang tidak pernah berhenti.

Jujur saja, ketika dia berbicara dengan Jinwoo tadi pagi, dia merasa sedikit lebih baik, meskipun hanya sedikit sekali. Setidaknya waktu berjalan tidak selama biasanya, sehingga ia tidak perlu tersiksa menghitung agar detik berjalan lebih cepat.

Maka dari itu sekarang dia mencoba untuk keluar kamar, menuju kamar Seungyoon yang berada di lantai bawah. Luhan memang belum pulang dari kantor pada jam segini, tapi Seungyoon sepertinya sudah pulang dari sekolah. Dan ketika Jiyoon membuka pintu, ia menemukan anak kecil itu sedang membaca buku dan menatapnya terkejut.

“Noona?” gumamnya. Apakah dimata Seungyoon ia selalu terlihat seperti hantu? “kenapa Noona berdiri disitu? Kenapa tidak masuk?”

Jiyoon terlihat bingung, dia betul betul berpikir kalau Seungyoon akan mengusirnya. Seperti tiap kali dia mencoba masuk  ke kamar anak lelaki itu. Gadis itu berjalan mendekati adik laki laki yang sekarang sudah duduk di tempat tidurnya yang bergambar batman. Mereka canggung dalam beberapa saat, kemudian Seungyoon bertanya ragu “Mau bermain playstation?”

Jiyoon mengangguk, sedangkan Seungyoon dengan gerakkan semangat langsung memberikan stick PS4 kepada Jiyoon, ia dengan cekatan menghidupkan playstationnya berikut TV. “Mau main game apa, noona?”

“Guitar hero?” ucapnya asal, kalau tidak salah, dia selalu menjadi yang terbaik apabila bermain game itu melawan teman temannya, apalagi Seungyoon. Tanpa berkomentar, Seungyoon langsung mencari kaset guitar hero livenya dan memasukkan kedalam playstation. Lalu ia langsung duduk manis disebelah Jiyoon. Sementara kakak perempuannya malah menatap Seungyoon lekat lekat.

Adik laki lakinya bukanlah si bayi gendut menyebalkan itu lagi, yang selalu manja dan menyusahkan siapapun, yang selalu membenci dan mencari gara gara dengannya tiap ada kesempatan. Jiyoon baru sadar bahwa Seungyoon berubah banyak. Badannya lebih kurus sekarang, bertambah tinggi dan pipinya tidak setembem dulu. He is growing up. Dia bukan satu satunya yang berubah, Seungyoon juga. Dan dunia disekitarnya sebenarnya juga.

“Sejak kapan kau menjadi sebesar ini?”

“Badanku lebih kurus sekarang, tahu.” Ucapnya cemberut. Ia memainkan game guitar hero tersebut dengan baik, bahkan ketika sebelumnya tidak satupun hal yang bisa ia mainkan dengan benar. Dalam segi apapun, dia tidak akan menang bermain permainan apapun, apalagi jika melawan kakak perempuannya. Makanya Seungyoon tidak pernah suka bermain dengan Jiyoon.

“Kau diet?”

“Kalau tidak diet, aku tidak akan kurus.”

“Untuk apa kurus? Kau menyukau seseorang?”

“Tidak. Aku hanya tidak mau dihina oleh noona lagi.”

Jiyoon tersenyum, jawaban Seungyoon cukup membuatnya tergelitik, sayangnya ia tidak sadar bahwa pada saat itu ia tengah tersenyum. “Apakah aku dulu terlalu jahat padamu?”

Seungyoon sedikit berpikir, tapi itu tidak menganggu konsentrasinya untuk memencet tombol tombol pada stick PS dengan benar, begitu juga dengan Jiyoon yang awalnya sengaja untuk menghancurkan konsentrasi anak itu. Kenapa ia menjadi hebat sekarang? “Sedikit. Tapi aku kan juga jahat pada Noona.”

“Kalau begitu kita impas, kan?”

“Tidak. Kesalahanku pada noona lebih besar. Aku pernah mengusir noona waktu itu. Jadi maafkan aku, ya?”

Sejak kapan Song Seungyoon tahu cara meminta maaf? Seingatnya, Seungyoon tidak pernah mau meminta maaf, bahkan ia pernah menjatuhkan jus jeruk diatas tugas kuliahnya yang deadline dan tidak mengatakan maaf sama sekali. Atau ia juga sering menghabiskan cokelat ataupun eskrim milik Jiyoon tanpa izin. Atau merengek kepada Ibu dan menyalahkan Jiyoon atas sesuatu yang tidak pernah ia perbuat. Jangankan minta maaf, merasa bersalahpun tidak pernah. Apakah ia sudah terlalu lama tidak bermain dengan adik laki lakinya sehingga tidak sadar bahwa Seungyoon sudah menjadi sebesar ini? Dalam hati gadis itu mengucapkan terimakasih kepada Seungyoon. Terimakasih karena telah menjadi anak yang baik meskipun keluarganya hancur berantahkan. “Aku akan mentraktir noona eskrim apabila noona mau memaafkanku.”

“Kau simpan saja uang jajanmu untuk mentraktir pacarmu.”

“Darimana noona tahu kalau aku sudah punya pacar?” Seugyoon menatapnya sekilas, ia langsung miss berderatan dalam gamenya, membuat Jiyoon nyaris tertawa terbahak. Ia tidak tahu kenapa ia tiba tiba merasa sesenang ini. Sementara Seungyoon langsung cemberut, sadar kalau noonanya sejak tadi sedang menggunakan cara licik ini untuk menang darinya.

“Noona, boleh aku bertanya sesuatu?”

“Apa?”

“Kenapa kau putus dari Jongin Hyung?”

Jiyoon sadar bahwa semenjak pertanyaan itu dilontarkan dan dapat ditangkap oleh pendengarnnya, tangannya tidak bisa lagi memegang benda ditangannya dengan baik. Sehingga pada saat itu pula, gantian ia mendapati banyak miss dalam gamenya, jauh lebih banyak dari Seungyoon.

Oh ayolah, tidak seorangpun berani menyinggung nama Kim Jongin dihadapan Song Jiyoon. Bahkan Luhan saja selalu mengganti topic pembicaraan apabila bahasan mereka nyaris menyerempet kearah Jongin. Jiyoon sudah lama sekali tidak mendengar nama itu disebutkan dari bibir orang lain. Ia mencoba mati matian untuk melupakan Jongin, bagaimanapun. Sementara Seungyoon menyebutnya dengan begitu santai, tanpa aba aba. Sehingga wajar apabila ia merasa tidak siap sama sekali.

“Aku tidak pernah menjadi pacarnya.” Gadis itu menegaskan dengan nada suaranya yang berubah menjadi lebih dingin.

“Kalau begitu istrinya?” Seungyoon masih melanjutkan dengan begitu polos, tidak sadar bahwa kakak perempuannya sudah hampir meledak sejak tadi. Jiyoon menghela napas berat, kata demi kata yang diucapkan Seungyoon membuatnya bertambah frustasi.

“Apalagi istrinya. Dan kumohon berhenti menyebut namanya didepanku Song Seungyoon!”  Jiyoon membentak, membuat anak kecil disebelahnya langsung terdiam. Tidak perlu waktu lama untuk membuat Jiyoon merasa bersalah. Ayolah, dia baru saja mengenal arti perdamaian dengan adik lelakinya ini beberapa saat yang lalu. Dan dia menghancurkannya dengan begitu mudah pada saat ini.

Ia melihat layar TV yang menyatakan kalau dia ‘lose’ dan Seungyoon menang. Well, cita cita Seungyoon untuk menyebutnya ‘loser’ sudah tercapai. Tapi Jiyoon malah mendengar suara isakkan tertahan dari anak laki laki disebelahnya, yang membuat rasa bersalahnya semakin menjadi jadi.

“Astaga Seungyoon…kau kenapa?”

Seungyoon tidak membalas, ia menyembunyikan wajahnya yang menahan tangis jauh jauh. Tapi ia tidak bisa menghindari suara isakkannya malah menjadi semakin keras. Jiyoon memeluknya kemudian, seumur hidup dia tidak pernah memiliki hubungan sebaik ini dengan adik kandungnya tersebut. “hiks…aku minta maaf..karena membuat noona marah..hiks.” dia berucap putus putus, ingusnya bahkan sudah banyak keluar.

“Aku tidak marah,” Jiyoon menjawab, dia menghapus airmata Seungyoon menggunakan bajunya. Kemudian dia tersenyum, sebuah senyuman yang dapat ditangkap oleh Seungyoon. Kedua kakak beradik itu berpandangan sekilas, “kau tahu. Dulu mana mungkin aku mau mengelap ingusmu.”

Seungyoon buru buru melepaskan pelukannya dari Jiyoon, memandang kakak perempuannya dengan tatapan aneh dengan mata sipitnya yang disekitari airmata. Setidaknya, meskipun terlalu banyak hal buruk yang terjadi pada kehidupannya, ada satu hal yang membuat dunia tampak begitu indah, membuat ia kembali memiliki rasa untuk bertahan disini jauh lebih lama. Apalagi kalau bukan hubungannya dengan Seungyoon yang sekarang? “Seharusnya aku yang minta maaf karena tidak pernah menjadi kakak yang baik untukmu sebelumnya.”

Pada detik yang sama, ia dapat merasakan kalau pinggangnya dipeluk erat oleh anak kecil itu, “aku menyayangi noona.” Ucapnya, begitu singkat dan polos. “Aku akan menjaga noona setelah ini.”

Jiyoon mengelus lembut rambut hitam Seungyoon yang berada dipelukannya. Sungguh, ia merasa dengan seperti ini, lukanya sedikit demi sedikit menjadi sembuh. Sesuatu dalam dirinya merasa sedikit baikkan, seperti ada beberapa beban yang menghilang. “Tapi noona. Aku benar benar heran kenapa kau berpisah dengan Jongin Hyung. Aku tidak pernah menemukan seseorang yang menjaga dan menyayangimu setulus Jongin Hyung…ya, kecuali aku.”

Jiyoon nyaris mengeluarkan ledakannya sekali lagi. Tapi, kali ini ia berhasil menahannya, sayangnya ia tidak bisa berbuat apa apa terhadap efek yang terjadi pada system pernapasannya yang menjadi sesak. “Dia tidak pernah menyayangiku.” Jawabnya kalem. Bahkan sampai detik ini, Jiyoon masih percaya kalau Jongin tidak pernah menyayanginya, apalagi mencintainya. Atau mungkin otaknya terlalu sempit untuk menerima itu.

Tapi benar, ia selalu menjagaku.

***

“Sudah menjadi perokok sekarang?”

Sehun sudah berdiri disebelah Jongin. Ia mengenakan kemeja putih berlapis tuxedo navy yang sudah tidak rapi. Yang paling Jongin sukai dari Park Hyatt Hotel adalah, kau bisa berdiri di balkon dan melihat keindahan pusat teramai Seoul disertai angin dingin pada malam hari, terlebih ini masih terhitung musim salju.

“Untuk apa kau kemari?” Bukannya menjawab, ia malah bertanya balik dengan sinisnya. Sehun memang menanyakan keberadaan Jongin beberapa saat yang lalu dan Jongin memberitahunya, tapi ia sama sekali tidak bermaksud untuk mengundang Sehun dan mengacaukan acara menyendirinya yang menyenangkan.

“Untuk mencegahmu melompat kebawah, mungkin?” Sehun dengan lancang mengambil kotak rokok Jongin, sisa satu lagi di dalam sana. Ia juga tanpa izin mengambil lighternya kemudian menyalakan tanpa sempat Jongin mengambil alih benda kecil persegi panjang tersebut. Pria berkulit tan itu sudah mengambil ancang ancang untuk meninju Sehun, tapi tidak jadi. “Aku tahu kau tidak mungkin bisa menyakitiku.” Ucap Sehun sok manis. Serius, Jongin benar benar membenci Sehun yang seperti ini, yang dengan senang hati mengejeknya habis habisan sampai ia puas.

“Diamlah Oh Sehun. Atau aku akan benar benar mendorongmu kebawah sampai kau mati.”

Sehun tertawa, dia menghisap dalam dalam rokok yang terselip diantara jari telunjuk dan jari tengahnya. Ia tidak menyukai rokok dan seingatnya, Jongin juga tidak suka. Tapi pria dingin yang berdiri disebelahnya ini terlihat begitu adiktif dengan rokok sekarang. “Kau habis berapa bungkus perhari?”

“Kenapa? Mau jadi sponsor?”

Sehun memutar bola matanya malas. “Jika kau ingin wanita cantik. Aku bersedia menjadi sponsor utama.” Giliran Jongin yang berdecak malas mendengar celotehan tidak penting dari Sehun. “Aku bisa membantumu mendapatkan yang mana saja. Kecuali Song Jiyoon.” Sehun cepat cepat melanjutkan kalimatnya. Ia dapat melihat perubahan tatapan Jongin yang menjadi semakin gelap dan gerakkan tubuhnya yang menjadi gelisa. Tapi tidak lama. Karena belum sempat Sehun memberikan ejekkan lanjutan, ia sudah terlihat biasa saja dengan hisapan pada puntung rokoknya yang hampir habis. Sehun ingin tersenyum, tapi tak bisa. Mungkin keadaan hatinya yang buruk yang malah membuat dia tidak menjadi si Sehun yang sesantai biasanya.

“Kau tampaknya telah benar benar merelakan gadis itu.” Ucapnya, kali ini tidak bermaksud mengejek sama sekali, malah memuji. Terkadang seseorang memang harus melakukan sesuatu yang nyaris tidak mungkin mampu ia lakukan, benar? Meskipun tidak ada jaminan bahwa itu akan berhasil, setidaknya ia telah mencoba.

“Kau sendiri yang menyuruhku untuk berhenti dengan obsesiku.”

“Wow sejak kapan Kim Jongin mendengar perkatan orang lain?”

Jongin tersenyum miring, ia mematikan rokoknya dan membuang benda itu kebawah, Sehun juga melakukan hal yang sama, “Kau bukan orang lain, Sehun. Kau sahabatku.”

Sehun terdiam, karena jujur saja, Jongin bukan tipe orang romantis. Itu kalau boleh dia menyebutkan perkataan Jongin barusan sebagai  sebuah pengakuan paling romantis yang pernah ia terima dari seorang Kim Jongin. Karena biasanya, pria itu lebih senang menendang tulang keringnya ataupun mengumpannya ke preman di club malam daripada berkata manis begini. Apakah patah hati membuat otaknya menjadi konslet? “Dan terimakasih untuk itu.”

“Fuck off Kim Jongin!  Kau terlihat seperti lelaki gay, tahu.” Balas Sehun tak sopan. Dia menirukan jawaban Jongin tiap kali Sehun mengucapkan terimakasih kepadanya, dengan nada dan cara bicara yang sama. Sehun dapat melihat kalau Jongin tertawa. Sungguh, ia tampak baikkan. Lebih baik daripada si monster dingin yang selalu punya cara licik demi mencapai tujuannya. Atau ia hanya sedang berpura pura menjadi baik agar Sehun juga merasa baikkan.

“Bagaimana keadaan Stefan?” Jongin bertanya lagi, sebelum Sehun merespon ucapan manisnya dengan sesuatu yang lebih menjijikan. Mungkin ia mengucapkan kata kata barusan tanpa sadar, yang sayangnya tidak mungkin ia tarik kembali. Maka dari itu, ia tiba tiba mengganti topic. Sebuah topic yang spontan membuat keadaan di balkon lantai 20an hotel mewah itu menjadi lebih dingin dari suhu yang tertera.

“Dia baik. Setidaknya lebih baik dari kemarin. Operasinya minggu depan.” Ucap Sehun pelan. Pria itu menundukkan kepalanya, mengucapkan itu sejelas mungkin meskipun ia merasakan bahwa tenaganya sudah menghilang begitu saja.

Jongin menepuk nepuk bahunya pelan, seperti mau menyalurkan seluruh kekuatannya untuk Oh Sehun. “Aku tidak selemah itu, tahu.” Ucapnya sembari melepaskan tangan Jongin yang masih bertengger dibahunya.

Pria itu tertawa, sebuah tawa sedih yang tulus. “Ya, aku tahu. Maka dari itu, tetaplah menjadi kuat dan selamatkan Stefan.” Jongin melanjutkan, yang secara ajaib membuat Oh Sehun yang selalu jual mahal itu tiba tiba memeluknya erat sekali dan menangis disana. Well, kedua orang itu sama sama tahu, ketika Sehun mengatakan bahwa dirinya tidak lemah, dia sedang memaksudkan hal yang sebaliknya.

Bad men don’t cry, itu kata lagunya Shaddy. Tapi Sehun sedang tidak mau peduli. Anak kandungnya, Stefan, tengah dalam keadaan sekarat karena penyakit leukimia akut yang menimpanya. Sehun marah ketika dia tahu bahwa Laura merahasiakan perihal hal tersebut selama hampir 7 tahun, nyaris tidak terima. Tapi, dia sama sekali tidak memiliki daya apapun ketika mendapati kabar lanjutan, Stefan sekarat. Dan anak lelaki itu butuh bantuannya.

“Jangan mengajakku jika kau ingin terjun kebawah, aku masih punya banyak dosa.”  Ucap Jongin santai setelah napas Sehun sudah lebih beraturan. Pria itu spontan melepaskan pelukannya pada tubuh Jongin dan mengelap airmatanya kasar. Sementara Jongin memberikan tatapan mengejek persis seperti yang selalu diberikan Oh Sehun ketika dia berada dalam titik terendah. Balas dendam.

“Brengsek.” Cerca Oh Sehun. Anggap itu sebagai ganti ucapan terimakasih yang tidak sudi ia utarakan secara gamblang. “Kau adalah manusia paling brengsek yang pernah kukenal, Kim Jongin.” Lanjutnya. Pria yang ia celah hanya tersenyum simpul, kemudian masuk kedalam kamar president suit miliknya, membuat Sehun mau tidak mau menyusulnya juga.

Sehun tidak pernah menghitung berapa kali dalam hidupnya dia mengatakan kalau Jongin brengsek. Sudah banyak sekali, itu pasti. Jongin memang brengsek, bagaimanapun. Dan kata brengsek bukanlah suatu pujian, malah serapah yang berarti buruk. Tapi, sebrengsek dan sesinting apapun Kim Jongin, Sehun tidak pernah sekalipun menyesal memilih berada dipihaknya.  Bukan karena dia juga brengsek, atau bukan juga karena Jongin pernah menyelamatkannya sekali dua kali. Dia bisa saja menjadi tidak tahu diri dan tidak mempedulikan Jongin ketika pria itu sedang tidak menguntungkannya. Ia bisa menjadi orang yang selicik itu, bagaimanapun. Tapi mengenal si brengsek Jongin membuatnya belajar satu hal yang tidak pernah ia pelajari dari keluarganya. Sebuah arti kesetiaan.

Dan itu sudah menjadi alasan yang lebih dari cukup untuk membuatnya melakukan apa saja agar dapat membela Kim Jongin.

***

Jiyoon menatap benda persegi panjang berwarna putih gold yang tidak berhenti berdering ditangannya. Itu merupakan handphone yang sama dengan miliknya 1 tahun lalu. Chattingan, photo ataupun ebook yang tersimpan disana tidak ada yang menghilang sama sekali, semua persis sama. Jongin telah mengembalikan seluruh barang barangnya ketika ia meminta keluar dari kehidupan pria itu, termasuk tas yang ia gunakan sebelum Jongin menculiknya. Sayangnya hanya satu yang belum juga kembali sampai sekarang, kehidupannya yang normal tanpa kehampaan.

Gadis itu pada akhirnya memutuskan untuk mengangkat telepon dari nomor yang tidak asing, meskipun nomor itu tidak tersimpan dalam memori handphonenya. Ia hanya diam saja, membiarkan orang disana berbicara lebih dulu. Dan dalam hati ia membuat kesepakatan pada diri sendiri kalau akan langsung memutuskan sambungan itu sesegera mungkin kalau itu merupakan panggilan tidak penting.

“Ji..yoon.. Ji-yoon-ah…” suara yang memanggilnya itu lirih sekali, napasnya terengah engah, diulang ulang beberapa kali dengan sesekali memberikan bentakkan. Jiyoon melihat status panggilan pada handphonenya, kemudian meletakkan kembali benda kecil itu dekat telinganya. Jam 3 dinihari dan dia mendapatkan telepon setidakpenting ini. “Kau…brengsekkk.” ucap suara itu lagi menyerapah. Apakah ia baru saja dicaci maki? Jiyoon memutar tubuh berbaringnya kearah kiri, belum niat memutuskan panggilan yang seharusnya ia abaikan itu. “Kenapa…kau meninggalkanku? Aku masih sangat membutuhkanmu…”  Cih, apa peduliku? Gadis itu membalas dalam hati. Dia sama sekali tidak memiliki alasan untuk tetap membiarkan telpon Jongin tersambung sebetulnya. Tapi ia seperti tak memiliki niat untuk mematikannya. Suara itu terdengar begitu serak dan kelelahan, persis suara orang mabuk yang otaknya entah sedang kemana. Jadi, apa yang ia ungkapkan adalah segala hal yang belum disaring.

Kau pernah berjanji untuk tidak pernah pergi…kenapa kau meninggalkanku sekarang? Kau jahat Song Jiyoon…kau benar benar gadis jahat.” Jongin melanjutkan, dengan suara parau dan tidak beraturan yang sama. Jiyoon bahkan tidak berani membuat napasnya bersuara. “Aku merindukanmu setengah mati, brengsek!!!” serunya lagi, meskipun ucapannya kasar, tapi ia mengatakannya dengan begitu lembut.

Jiyoon baru saja mau bersuara ketika ia mendengar suara dentuman keras, seperti suara orang terjatuh. Teleponnya hening kemudian. Gadis itu bahkan mengatakan ‘hallo’ beberapa kali untuk memastikan handphone itu masih tersambung.

“Hallo? Apakah kau bisa ke Seonja Bar sekarang? Orang ini mabuk berat.” Suara asing itu lalu memberitahunya. Jiyoon menghela napas, ia membaringkan tubuhnya untuk melihat langit langit kamar. Mau Kim Jongin mati sekalipun, untuk apa dia peduli? Dalam otaknya, Kim Jongin tidak pernah lebih dari penjahat yang telah menghancurkan hidupnya. Jadi, sekali lagi, untuk apa ia peduli?

***

Jiyoon berlari masuk ke Seonja bar dengan pikiran yang tidak berhenti mengutuk dirinya sendiri yang entah dengan dasar apa melakukan sesuatu yang sudah jelas ditolak mentah mentah oleh otaknya. Gadis itu hanya menggunakan kaos dilapisi cardigan berwarna cream, terlalu buru buru untuk memilih pakaian apa yang pantas ia kenakan di jam segini.

Ia menggigit bibir bawahnya kuat kuat ketika menemukan sosok Jongin yang sedang menunduk dekat meja bar. Jantungnya berdetak cepat sekali. Sebetulnya, ia masih punya kesempatan untuk memutar arah dan menganggap tidak pernah memiliki niat menemui Jongin. Atau, kalau sisi baiknya masih ada, dia seharusnya menghubungi Sehun atau mereka yang lebih berguna untuk mengurus Jongin sekarang.

Bar sederhana itu sudah sepi, lampu lampunya bahkan sudah setengah mati. Satu satunya pelanggan yang tersisa hanya Jongin dan satu orang bartender yang tengah merapikan gelas. Jiyoon mendekat kearah sana dan membungkukkan kepalanya untuk menyapa.

Satu dari bartender itu menatap Jiyoon seksama, dari atas sampai bawah berulang kali, pandangan yang pasti selalu membuat orang asing merasa risih, “Maaf.” Ucapnya menyadari ketidaknyamanan gadis yang baru tiba dihadapannya. “Kau Song Jiyoon?”

Jiyoon sedikit terkejut, pandangan matanya seperti mengisyaratkan pertanyaan ‘darimana-kau-tahu?’

Pria itu tersenyum, memperlihatkan lesung pipit dalam pada pipi kanannya, terlalu tampan untuk ukuran seorang bartender. “dia selalu kemari hampir tiap malam dan mengocehkan nama ‘Song Jiyoon’. Jadi, kupikir itu kau.”

Jiyoon memaksakan sebuah senyum simpul yang ia yakini pasti terlihat mengerikan. Matanya melirik kearah Jongin yang duduk tak nyaman, sedangkan kepalanya menyender di meja bartender. Ia masih menggunakan pasangan jas berwarna hitam, membuat gadis itu yakin bahwa Jongin pasti belum pulang kerumah. Ia mengangkat kepala Jongin hati hati, lehernya terasa panas dan wajahnya memerah. Matanya sudah terpejam penuh. Sayangnya, gadis itu sama sekali tidak bisa menutup keterkejutannya saat ia merasa tangan kanannya tiba tiba ditarik kuat.

Kau benar benar cari mati, Song Jiyoon! Gumamnya dalam hati ketika ia mencoba melepaskan genggaman Jongin yang sialnya malah semakin kuat. Well, seharusnya ia kemari dengan penuh pertimbangan. Atau setidaknya jangan melupakan bahwa Jongin adalah lelaki paling licik. Bisa saja ini adalah jebakan lainnya yang berakhir membahayakannya, kan?

Jangan pergi…kumohon…jangan pergi..” ucapnya kepayahan. Dengan mata yang sepenuhnya masih terpejam.

“Dia selalu melakukan itu kepada tiap gadis random yang mencoba mendekatinya…” pria itu sekali lagi memberitahu dengan ramah. Kim Jongin selalu berhasil membuatnya terlihat sebagai penjahat didepan semua orang, termasuk orang asing ini. “Ngomong ngomong, dia belum membayar tagihannya. 230 ribu won”

Satu alis Jiyoon terangkat, ia kemudian langsung sadar dan mencari dompet Jongin pada kantong celana hitamnya. Tapi ia hanya menemukan handphonenya.  “Ya! Kemana dompetmu?” tanyanya kalem pada pria yang hampir tidak sadarkan diri itu.

“Kau tidak pernah…kemana mana.. Jiyoon.. kau selalu ada dihatiku, tahu… hahaha…hahaha.” Gumamnya melantur, ia memukul mukul bagian jantungnya kemudian tertawa terbahak, lalu berhenti dan lanjut menggenggam tangan Jiyoon erat erat. Yang paling menyebalkan berurusan dengan orang mabuk adalah…mereka tidak pernah nyambung dan selalu berubah 180 derajat.

Gadis itu menghela napas frustasi. Dia benar benar bisa gila jika berhadapan dengan Jongin yang begini. Ia mengambil dompetnya dalam tas kecil yang ia bawa, mengeluarkan uang dengan jumlah yang diminta oleh sang bartender.

“Terimakasih. Pantas pria ini tidak bisa move on. Ternyata Song Jiyoon benar benar cantik.” Bartender itu berkata sembari mengedipkan mata kirinya.

Gadis itu membalas pujian tersebut dengan tatapan sinis tanpa senyum, dari dulu, ia tidak terlalu suka pujian. Apalagi dari orang asing. “Jangan mengganggu Jiyoonku, brengsek.” Jongin kembali bersuara. Apakah ia memanggil semua orang dengan sebuat ‘brengsek’? Ketika Jiyoon melirik kearahnya, mata pria itu sudah terbuka. Ia menatap Jiyoon dalam dalam, seperti anak anjing yang minta dikasihani dan mengangkat kepalanya, kemudian bersender di perut gadis itu yang tengah berdiri didekatnya. “Aku pasti sedang bermimpi,” gumamnya. Kemudian melingkarkan tangannya dipinggang gadis itu.

“Lepaskan aku, Jongin.” Pintanya. Tapi Jongin bukan tipikal yang mendengar permintaan orang. “Ayo pergi dari sini.” Ajaknya. Ia merasa tidak nyaman dengan pelukan Jongin yang begitu erat. Mungkin takut akan membutuhkan itu ketika Jongin melepaskannya nanti.

Dia memaksa tubuh Jongin berdiri, melingkarkan tangan lemas pria itu pada lehernya. Untuk ukuran berat badan, jelas ia kalah jauh. “Tidak bisakah kau bangun?” tanyanya dingin. Ia bahkan harus menggunakan dua tangan untuk memeluk Jongin agar tidak terjatuh, menopang badannya yang bahkan tidak bisa berjalan dengan benar semanusiawi mungkin.

Kapan terakhir kali Jiyoon memegang badan Jongin seperti ini? Ia masih bisa mencium aroma parfum huge boss nya meskipun bercampur dengan bau menyengat alcohol.

Jiyoon meraba badan Jongin untuk mencari kunci pada kantong jasnya. Membuat si bartender yang ikut keluar menatapnya curiga. OH, apakah sekarang ia terlihat seperti wanita mesum? Bartender itu menundukkan sedikit badannya tanda pamit.

“Kau parkir dimana mobilmu?” Jiyoon bertanya lagi ketika mereka sampai dipintu masuk, kali ini banyak berharap Jongin akan menjawab dengan benar.

“Disini…” ucapnya. Sembari menunjuk nunjuk dada Jiyoon. Jiyoon dapat merasakan napas hangat Jongin pada lehernya. Pria yang tengah berantahkan selalu terlihat lebih menarik, kan? Gadis itu semakin menghela napas frustasi. Ia seharusnya membanting tubuh Jongin disini dan pulang dengan damai. Bukannya malah melakukan perbuatan sok mulia, membantu orang yang paling ia benci ketika sedang mabuk berat.

Jiyoon berjalan kearah kiri ketika ia melihat Mercedes benz hitam terparkir, bukan hanya Jongin yang hampir terjatuh, bahkan ia sendiri berkali kali hampir tersandung kaki sendiri ataupun Jongin. Pria gila ini sangat merepotkan ketika mabuk begini. Oh untung saja Jiyoon masih teringat kalau dia sering merepotkan Jongin juga.

Gadis itu mendorong Jongin secara kasar ke dalam kursi sebelah kanan untuk penumpang, lalu langsung memutari mobil untuk masuk lewat pintu sebelah kiri. Ia melihat tubuh oleng Jongin terjatuh kearah kanan, membuat kepalanya terbentur kaca. Jiyoon kemudian menarik safety belt untuk memasangkannya pada tubuh Jongin. Sayangnya, pergerakkan Jongin yang tiba tiba malah membuat tangan gadis itu reflek bergerak, ingin segera menamparnya.

Jongin sedang mencium bibir Jiyoon secara paksa dan serakah. Kedua tangannya yang bebas ia gunakan untuk memegang tengkuk gadis itu agar tidak bisa menjauh. Parahnya, kekuatan Jongin seperti sepenuhnya kembali, sehingga JIyoon tidak bisa banyak bergerak dan hanya bisa pasrah bibirnya dilumati oleh pria itu. Ciumannya terlalu buru buru, penuh kefrustasian serta putus asa. Tapi Jiyoon tahu kalau dia tidak bisa tetap diam saja ketika mendengar suara sobekan kain pada bajunya.

“Berhenti… Jongin gila.” Teriaknya, mendorong Jongin menjadi sekuat tenaga dan untungnya berhasil. Pria itu harus terima kalau kepalanya terbentur kaca sekali lagi. Setidaknya masih untung Jiyoon tidak menamparnya atau membuangnya ke jalan.

“I miss you Jiyoon…” gumamnya, seperti orang yang tengah mengingau. Jiyoon langsung menekan tombol starter pada mobil itu. “I miss you so much and I think I wanna die.” Lanjutnya pelan. Matanya sudah terpejam lagi.

Jongin bukan tipikal orang yang bisa menunjukkan sisi lemahnya. Daripada menunjukkan sisi lemahnya, ia lebih suka membuat orang lain yang terlihat lemah. Sayangnya, pada detik ini ini sama sekali tidak berdaya. Bahkan tidak memiliki daya apapun untuk menyembunyikan sisi lemahnya lagi.

“Jangan berisik dan tidurlah.” Ucap gadis itu dingin. Jalanan di jam segini sudah terbilang sepi. Ini adalah pertama kalinya Jiyoon menyetir setelah kejadian dia tertembak satu tahun lalu. Jadi, wajar apabila ia hanya berani menggunakan kecepatan 40km/jam disaat jalanan sesepi ini.

“Ive tried everything to make you out from my mind. But you are always there. What should I do, then? Please tell me…what should I do..”

“Kenapa susah sekali bagimu untuk membalas perasaanku?”

“Tidurlah Jongin.”

“I love you.”

“Kau mengigau…”

“I love you. I love you. I love you.”

Alih alih menyuruh Jongin diam atas keberisikannya yang semakin jadi, Jiyoon malah mendengar segala ocehan Jongin dengan seksama. Seperti itu merupakan nyanyian paling merdu yang bisa menenangkan. Anggap sekarang ia juga sama mabuknya dengan pria itu.

Jiyoon memarkirkan mobil Jongin ke sisi jalan ketika melihat nama pada layar handphonenya. Gadis itu menghela napas berat, ia kemudian melihat Jongin yang masih mengigau tidak jelas disebelahnya. “Let’s see, apakah kau masih ‘mencintaiku’ setelah ini.” Gadis itu berbicara pelan, ia menekankan kata ‘mencintai’ karena menurutnya, pengakuan Jongin daritadi hanya omong kosong. Matanya yang tampak frustasi juga tidak bisa menyembunyikan rasa bersalahnya.

***

Hal terakhir yang Jongin ingat dari peristiwa tadi malam adalah, dia minum minum di Seonja Bar kemudian mabuk berat. Lalu, ia tidak yakin dengan rentetan kejadian berikutnya.

Pria berkulit tan itu sudah sadar sepenuhnya sejak bermenit menit yang lalu, tapi matanya masih ia biarkan terpejam sempurna dan otaknya tidak berhenti berpikir. Seseorang tengah menculiknya, tidak perlu membuka mata untuk tahu bahwa tubuhnya sedang terikat di kursi dan yeah, dia harus tetap tenang di keadaan seperti ini.

“Kau tidur terlalu lama.” Suara itu membuatnya mau tidak mau membuka mata karena kelewat penasaran. Tebakannya hampir sepenuhnya benar. Ia diikat dikursi kayu, sama sekali tidak bisa bergerak karena banyak sekali ikatan tali pada tubuhnya. Dan yang terakhir adalah borgol dengan kunci yang tidak mungkin ia bobol. Tempat ini merupakan gedung kosong yang sudah tidak layak untuk ditinggali. Tapi gadis cantik yang berdiri dihadapannya adalah satu satunya yang paling tidak masuk akal disini. “Oh sudah bangun?” gadis itu bertanya dengan raut datarnya yang Jongin rindukan setengah mati.

“Apa tujuanmu?” Tanya Jongin to the point. Pura pura tidak terkejut atau menampakkan raut seperti orang yang baru menyadari kalau sedang diculik. Dia pandai soal ini, omong omong. Gadis itu tidak memandang kearahnya, ia malah melihat kearah kuku kuku jarinya yang tidak diberi warna.

“Membuatmu merasakan apa yang kurasakan dulu?” balasnya cuek.

Jongin menghela napas berat, apakah Song Jiyoon sesakit itu sampai nekat berbuat begini padanya? Atau apakah monster dalam dirinya telah berpindah pada gadis ini? Bukankah circle antara korban dan pelaku itu berputar? Seperti yang dikatakan Friedrich Nietzsche, berhati hatilah ketika melawan monster karena kau bisa menjadi monster juga. “Oh mau balas dendam.” Ucap Jongin santai, ada nada meremehkan dalam suaranya yang baru bangun tidur. “Kenapa tidak kau perkosa aku sekarang?”

“Fuck off.” Jiyoon membalas kesal dan Jongin malah tertawa sinis. Ayolah, ini sama sekali bukan saatnya untuk melucu. “Aku bisa saja membunuhmu sekarang, idiot.”

“Wow kau berani memanggilku idiot?” Jongin bertanya sok takjub.

“Untuk apa aku takut padamu?”

“Kau takut padaku. Kau bahkan takut padaku sekarang.” Jongin membalas dengan suaranya yang masih sesantai sebelumnya, seperti tidak peduli bahwa ia berada dalam bahaya sekarang. “Aku senang bisa melihatmu.”

“Aku tidak sendiri disini.” Ia memberitahu. “Meskipun aku tidak punya keberanian untuk membunuhmu, mereka berani.” Ancamnya.

“Oh begitu kah? Kau tidak perlu setegang itu, omong omong.”

Jiyoon menghela napas frustasi. Ayolah, sepertinya alcohol masih menguasai otak Jongin sehingga ia masih mabuk sampai sekarang. Pria itu benar benar tenang, jauh dari dugaan Jiyoon bahwa ia akan shock berat dan memohon untuk dilepaskan. Tapi semua itu sepertinya hanya terjadi dalam khayalannya saja. Perlukah ia memanggil mereka sekarang untuk rencana selanjutnya? Untungnya, gadis itu menangkap tangan Jongin yang bergerak gerak. “Jangan pikir aku tidak melihat.” Ucapnya sinis, berjalan sok anggun kearah Jongin untuk merampas handphonenya. Gadis itu antara sadar dan tidak bahwa ia baru saja menjatuhkan sesuatu ketika mengambil benda itu. “Meminta bantuan Sehun,eh?” Sindir Jiyoon merasa menang, karena ekspresi Jongin selanjutnya persis seperti yang ia inginkan.

Jongin menatap kesamping kiri beberapa saat, kemudian menatap tajam kearah Jiyoon, “kau sebaiknya melepaskanku sekarang.”

“Aku tidak sebaik itu.”

“Kau juga tahu bahwa aku tidak se-ba-ik itu.” Ujar Jongin penuh ancaman pada suaranya. “Mentang mentang aku mencintaimu, bukan berarti aku tidak berani mencelakaimu.” Ia melanjutkan dengan tatapannya yang penuh intimidasi. Mungkin Jiyoon berpikir untuk menyerah dalam beberapa waktu.

Jiyoon tidak bisa menyembunyikan tubuhnya yang sedikit bergetar sembari memainkan handphone Jongin sebentar. Ia kemudian menatap mata pria itu dan tersenyum sinis, “aku tidak takut.” Balasnya, kemudian membanting handphone Jongin kebawah dan menginjaknya sampai hancur. “Kau belum tentu bisa keluar dari sini.”

Jongin tidak lagi menampilakn raut ramahnya yang dibuat buat, “kalau begitu, kuharap kau selamat.” Seperti memberi tahu kalau Song Jiyoon tidak akan selamat apabila ia berhasil selamat. Dan pembicaraan mereka berakhir ketika pintu itu terbuka, menampilkan sosok Jung Yunho yang tersenyum licik diikuti enam orang anak buahnya. Pria itu membawa pistol, yang tentu saja membuat Jiyoon membelalakan matanya.

“Aku tahu bahwa hanya kau yang bisa membawanya kemari, sayang.” Yunho mendekati Jiyoon, nyaris menciumnya kalau saja gadis itu tidak lekas mendorong.

“Rupanya kau menjadi boneka Jung Yunho sekarang.” Komentar Jongin, masih menunjukkan raut sok santainya. Yunho tertawa terbahak, sebuah tawa yang membuat Jongin tidak bisa sembunyikan rasa muaknya.

“Kenapa? Tidak menyangka aku bisa merebut bonekamu?”

Sedangkan Jiyoon baru saja menelan air liurnya yang terasa sulit sekali. Apakah dia setidakberarti itu dimata semua orang?

Baiklah, beberapa hari yang lalu, ketika dia punya janji untuk bertemu dengan Jinwoo di restoran, dia datang 1 jam lebih awal dengan maksud untuk membuat kondisi jiwanya lebih tenang. Sayangnya Jung Yunho malah langsung duduk disebelahnya, seperti sudah mengincarnya dari awal. Pria itu hanya meminta Jiyoon bersaksi dipengadilan untuk menjebloskan Jongin ke penjara. Katanya, balas dendam bisa membuat hidup gadis itu lebih baik. Tapi ia menolak dengan alasan kuat. Jongin punya akta nikah, ia tidak akan kalah meskipun ada pasal yang mengatur soal kidnapping for marriage. Maka dari itu, Yunho mengajaknya berkerja sama tentang hal lain, dengan jaminan sesuatu yang lebih menguntungkan.

Jung Yunho mendekati Jongin, ia berdiri tepat disebelah pria itu dan mendudukan sedikit badannya agar sejajar, ia mengangkat kepala Jongin dan mencengkram rahangnya, “aku sudah muak sekali dengan wajahmu.” Desisnya kesal. Jongin tidak menjawab, ia malah menatap balik Jung Yunho, seperti menantang. “Kau tidak usah sok hebat sekarang.” Ujar pria itu santai, kemudian langsung meninju wajah Jongin sekuat mungkin.

“Kau hanya bisa melakukan ini?” Tanya Jongin semakin memanas manasi. Yunho memukulnya lagi dan lagi, tidak mau berhenti sampai hidung dan bibir Jongin mengeluarkan darah. Pria itu kemudian tidak henti menatap tajam kearah Jiyoon yang berdiri terpaku dibelakang Yunho, tidak mau berpaling sedikitpun meskipun kondisinya semakin buruk.

“Dasar bajingan..” Yunho kemudian menggunakan kakinya yang dilapisi sepatu untuk memukul wajah Jongin, “aku tertarik dengan ‘akta nikah’mu dan kau memang pantas mati…” Jiyoon berteriak ketika mendengar Yunho mengatakan itu.

Yunho baru sadar bahwa ada gadis itu diruangan ini, ia berbalik untuk melihat kearah Song Jiyoon, tersenyum padanya yang terang terangan tengah ketakutan, “maafkan aku, sayang. Aku memang tidak berminat untuk menepati janji. Tapi, aku akan tetap mematuhi janjiku kalau kita akan hidup bahagia setelah ini.”

Jiyoon tidak mampu mengeluarkan satu katapun suara, ia hanya bisa menghindari tatapan tajam Jongin yang terus mengintimidasinya. Itu sudah pasti kalau Jongin akan membunuhnya apabila ia berhasil selamat. Kepalanya terasa pening, sungguh, ini sama sekali tidak sesuai kesepakatan mereka, bahkan luka yang dibuat Yunho pada diri Jongin sudah sangat kelewatan. Yunho tidak bisa membunuh Jongin, tidak boleh. Tapi, apabila Yunho tidak menghabisi pria itu sekarang, maka Jongin yang akan membunuhnya setelah ini.

“Berhenti Jung Yunho!” ia berteriak kesal, nyaris mendekati Jung Yunho yang terus menyiksa Jongin., Sayangnya, tubuhnya langsung ditahan oleh salah satu anak buah Yunho. Meronta kuat kuat juga percuma kalau begini.

“Apakah kau punya permintaan terakhir sebelum mati?” tanyanya kepada Jongin.

Dengan nada suara yang tidak ada takut takutnya, pria itu menjawab, “aku mau dia pingsan.” Pintanya sembari menunjuk secara isyarat kearah Jiyoon.

“Kebetulan sekali, aku juga menginginkan itu.” Ia kemudian memerintahkan anak buahnya untuk menyuntikkan kloroform ke tubuh gadis itu, yang tidak perlu waktu berdetik detik sampai ia terjatuh.

“Perang sebenarnya baru dimulai sekarang, kan?” Jongin bertanya santai, kemudian langsung menendangkan kakinya kearah Jung Yunho hingga pria itu tersungkur. Borgolnya sudah lepas, sekarang hanya perlu mencari cara untuk melepaskan tali tambang itu.

“Kau benar benar bajingan!” Yunho langsung memompa pistolnya dan mengarahkan kearah dahi Jongin. “Aku sebenarnya ingin kau melihatku bercinta dengan Jiyoon dulu sebelum kau mati. Tapi, sepertinya kau tidak pantas mendapatkan waktu lebih banyak.” Yunho telah menekan pematuk pada pistolnya dan terdengar suara dentuman keras. Tapi bukan Jongin yang terjatuh, malah Jung Yunho. Meskipun ia berpikir bahwa ia akan mati sekarang, ternyata Tuhan selalu punya rencana lain.

***TBC***

 

di post skrg soalnya takut bsk gabisa lanjutin dan ngepost soalnya ada acara mendadak. dan ini udah terlalu lama.

Awalnya mau digabung, tapi gimana ya uhhh..

maaf kalau ga ada feelnya dan TERNYATA ENDINGNYA SAMA SEKALI GA SESUAI DI TEASER LOL.

lanjutannya ttep bakal di protect, (i m not asking ur email in this part, you can go to

https://saykoreanfanfiction.wordpress.com/2016/03/03/teaserannouncement-hamartia-final/ demi kenyamanan bersama (?) doain aja Jiyoon selamat, soalnya Jongin selamat tuh.

346 responses to “HAMARTIA FINAL (OPENING)

  1. weh! ini nih yg gantung banget…hadeuh…kak bina mana PW next part nya kok gk dibales2 sih😦 ditungguin nih…
    kyyaaaa adegan disini keren banget sumpah..walopun gk nyambung sama part sebelumnya tapi suka sama part ini,ada berbagai macam feel,,,suka deh pokoknya..bikin deg deg-an juga😀

  2. itu siapa yg ketembakkkk??
    penasaran bangettt ini blm dapet pw finalnya😦
    ka bales email aku please

  3. Menyenangkan.. Seru seru. Pembalasan dimulai. Well, nggak rela mereka pisah. Tapi, semuanya telah di atur oleh author. Berharap mereka baik baik saja

  4. Kok jiyoon berubah jdi jahat sih, trus siapa coba yg nembak yunhoo,dan setelah ini apakah kai akan membenci jiyoon, ? and sekali lagi berharap bahwa happy ending….

  5. Nah..knpa jadi gituan. Jiyoon kerjasama dgn yunho. Siapa yg nembak ? Sehun datang selamatkan jongin kah?
    Hi kak ak pikir ak uda komen di chap nihh. Tp gk papa..alang uda bca komentar lg deh gk ada yg rugi. Yaudah ditunggu balas dari kak ya..

  6. Jiyoon kok mau sekongkol sm yunho ya ?
    Pdhl kan dia ada rasa sayang jg ke jongin
    Dan pasti jongin mau jiyoon pingsan karna dia gakmau jiyoon ngeliat mereka berantem, atau salah satu dr mereka mati

  7. Fakk padahal gw uda nikmatin detik2 waktu jiyoon bakal nyelakain jongin :v lah si jongin lawak mala minta diperkosa dia xD uda mana endingnya manggung banget ya rabb :’)))

  8. Kirain beneran mau disiksa wkwk :v jiyoon nya tetep aja ga tega wkwk seketika ketawa pas jiyoonnya ga tega wkwk, berarti masih sayang bgt jiyoon😀 endingnya gimana ya, siapa yg nembak penasaran lah hehee

  9. Wehe , Jiyoon udah mulai nekat ternyata :v Jongin baru kali ini ya mabuknya, hahaha ngakak sumpah😀
    Tapi ini nggak penting, yang pening bagiku sekarang kenpa Yunho bisa nembak kepalanya sendiri :’v

  10. Siapa sbenernya yg menembak yunho? Ga percaya kalo dia bunuh diri? Mungkin jinwoo? Luhan? Sehun? Atau bisa jadi jiyoon?? Wahh daebakk.. penasarann,ka boleh mnta faswordnya? Aku udah komen sama minta di email, makasih

  11. Yaelingggg jiyoon napa tiba2 banting stir jd penusuk dr blk giniii. Ga kasian apa ih sama jonginnya, jonginnya kan tulus yawlaaaaaa ga peka2 amat sih w greget jadinya hadu

  12. Emang keliatan banget ya kalo udah mau end,, nyatanya semua berubah,, jongin jadi makin romantis ke sehun,, jiyoon makin deket sama seungyoon,, cuman kenapa coba jiyyon harus kerjasama sama yunho, padahal aku uda seneng bgt pas td tw jiyoon ketemu lg dan masi care sama jongin smpe dia mau”nya jemput jongin di bar trs pke ada skinship nya segala,, eh ketipu lg sama jiyoon, ternyata cuman alibi doang tuw semua
    Betewe itu yg ketembak siapa???? Mau baca lanjutannya,, minta PW nya dong Un plisss

  13. Cinta memang rahasia dan kadang tidak bisa diartikan, mungkin itulah yang menjadi alasan takdir mereka sperti itu huhuu
    Ka boeh minta fswrd nya yg final? Email aku iybelani@gmail.com m akasih

  14. duh lama2 kok bingung ya? akunya sih yang bingung._.v sebenernya ini ada berapa sih partnya? teaser apa ya kak? duh bingung, reader baru sih, hehew :3

  15. Jiyoon jahat bangeeeeettttt,para para para para para para paraaaaaaaa,jiyoon labil,kasian jongin nyaaa uuuh untung jongin masih cinta sama jiyoon 😭😭😭😭😭

  16. AKU BELUM BACA YANG INI ASTAGA DEMI BANYAK BANGET KETINGGALAN :((((( KUHARAP KAKAK INGET DENGAN READER MU YANG SATU INI YA KAK😢😢

  17. akhhh!! Haduh mkin pnsaran …. Kek mna ni finalnx ………
    Duh pw dunk!!😄milaty21@gmail.com

  18. Yess yunho ketembak😏semoga jiyoon ga kenapa2. Happy ending lah ya ntar biar bahagia semuanya. Author, jiyoon&jongin, beserta para pembaca yg setia tentunya😂

  19. Penasaran itu siapa yang bikin yunho tumbang duh semoga jiyoon jongin selamat semua dan happy ending. Ka bina minta pw dongggg plzzzzzzz aku udah email ke kaka huhuhu😭😭😭😭

  20. Oemjiiii sumpahhh inii waktu jongin bilang i love you i love you i love you bergetarr hatihh akuuhhhh,, dduuuhhhh jobginn plisss bikin bergetarr lagii eehh

    Penasaraan laagii, tp ngga mau bikin spoiler ahh takut heehhee

  21. Duh kan aku seneeeng banget sama sehun di part ini aaaaaa
    Author nim you made jongin look so crazy when he’s drunk😁
    Apa apaan endingnya jonginku mati? Andwaeeww

  22. aaah ternyata ada juga yg senasib ama gue galau gegara gak bisa baca next chapt nya😭😭😭gue baca ff ini dari ao awal ampe akhir dan bener2 feelnya dapet banget dan nyesek banget gak bisa baca endingnya😭😭

  23. Tidak, jiyoon pingsan, apa lagi kelanjutannya. Penasaran bgt sumpah.

    The best banget buat ka bina, bikin cerita dari amour obssed smpai hamartia, sukses buat bikin ketagihan bacanya.🙂

  24. gils keren bat penasaran njir itu siapa yg nembah yunho nya?
    baru kali ini gua demen ff gendre kaya gini. ka boleh kali minta pass nya buat yg final?

  25. Kirain jongin mau disiksa 😂😂😂😂😂 malah si yunho kampret yang nyiksa si jongin pft. Yunho kah yang ditembak? Tp sama siapa? Jinwoo?

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s