[KaiNa’s] UNCONDITIONALLY (1) — by IMA

CeC68NUUUAEFsxJ2.jpg

Kim Jong In — Lee Hana

By IMA (@kaihyun0320)

Rating PG

School-Life, Fluff, Romance

©IMA at SKF 2016

 Karma in Love (by Neez) — KISSPROOF

[UNCONDITIONALLY (1)]

Sebelum ini Hana sudah memperingatkan dirinya sendiri untuk tidak jatuh terlalu dalam pada pesona Jong In. Walaupun Jae Hee dan Jinmi –kedua sahabatnya memuja-muja bagaimana Jong In rela berkorban untuk mendapatkan hatinya, tetap tidak bisa dipungkiri bahwa Jong In pernah dicap sebagai seorang playboy. Orang-orang mungkin merasa iri karena ia berhasil membuat seorang Kim Jong In bertekuk lutut padanya, tapi ia tetap harus waspada jika laki-laki itu kambuh suatu saat nanti.

Mungkin Hana memang polos, bodoh, atau apapun orang-orang menyebut sifatnya. Setelah merayakan satu tahun hari jadi mereka, Hana sadar ada yang berbeda dari sikap Jong In padanya. Jong In tidak pernah muncul di depan kelasnya lagi di jam istirahat, tidak pernah mengantar hingga depan kelas setiap pagi hari, bahkan lelaki itu selalu mengelak ada latihan basket untuk diajak pulang bersama. Hal itu sudah berlangsung selama dua minggu dan Hana tidak pernah menceritakan hal itu pada sahabat-sahabatnya. Mungkin hanya ia yang terlalu sensitif dengan perubahan sifat Jong In, padahal kekasihnya itu mungkin memang sedang sibuk.

“Hana-ya, kenapa diam saja?”

Suara Jae Hee menyadarkan lamunan Hana yang sore itu tengah melamun menatap green tea lattenya. Mereka bertiga –Jinmi, Jae Hee, dan Hana tengah menghabiskan waktu di cafe sepulang sekolah karena kekasih masing-masing tengah sibuk dengan pertandingan basket yang akan datang. Padahal Jong In baru bisa benar-benar berolahraga dan sudah menyibukkan diri. Dan Hana sedari tadi hanya memegangi ponselnya di atas meja dengan tatapan kosong ke arah minumannya.

“Kenapa muram sekali sih?” tanya Jinmi pada Hana yang tidak merespon apapun mengenai ceritanya.

Anhi,” Hana menghembuskan napas pelan dan membalikkan layar ponselnya, mengabaikan rasa aneh yang meremas jantungnya karena Jong In tidak juga membalas pesannya sejak jam istirahat. “Aku sedang bingung mau cerita atau tidak.”

Mwo? Bingung kenapa? Cerita saja,” Jae Hee menyesap mixberry yoghurtnya, siap menerima curahan hati sahabatnya –yang pasti menyangkut Jong In lagi. Dan Jae Hee langsung tersedak, hampir menyemburkan minuman di dalam mulutnya begitu pikiran gila terlintas di otaknya. “KAU HAMIL?!”

Ekspresi Hana berubah menjadi datar seketika. “Ya! Aku tidak mungkin hamil, i sarami jinjja.

“Mungkin saja kalau bersama Jong In sih,” gumam Jinmi seraya terkekeh geli karena Hana melirik sinis padanya. “Wae? Kenapa bingung?”

Jae Hee menyeka mulutnya dengan tisu lalu mengangguk, menyetujui ucapan Jinmi. “Mian. Ayo cerita.”

Molla. Mungkin aku sedang sensitif atau apa. Tapi aku merasa Jong In berubah akhir-akhir ini,” Hana menghembuskan napas pelan sambil menatap satu per satu sahabatnya. “Kalian tidak sadar kalau Jong In tidak pernah menculikku di jam istirahat lagi?”

“Ah, matda,” Jinmi mengetuk-ngetukkan jemarinya ke atas meja sambil memperhatikan ekspresi murung Hana. “Beberapa hari ini kau tidak pernah hilang.”

“Jong In jarang membalas chat, tidak pernah mendatangi kelasku lagi, dan tidak pernah mengantarku pulang,” Hana menundukkan kepala seraya memainkan sedotan di gelas green tea lattenya.

Eum, memang aneh sih kalau termasuk dia jarang menculikmu lagi,” Jae Hee mengulum bibir bawahnya lalu mengusap punggung tangan Hana. “Sudah tanya ke Jong In?”

Hana menggeleng lemah. “Molla. Aku hanya sedang sensitif mungkin, padahal wajar kalau dia sedang sibuk.”

Nah, ini aneh menurutku,” sahut Jinmi dengan menopang dagu di atas meja dan memandangi Hana yang terdiam dengan kepala menunduk. “Nanti aku tanya Jongdae kenapa Jong In seperti ini.”

Seolma,” Jae Hee tiba-tiba memekik, membuat perhatian Hana dan Jinmi tertuju pada gadis itu. “Jong In…… Tidak bosan denganmu ‘kan?”

***

Sialnya, Hana tidak bisa menghapus kata-kata Jae Hee di cafe sebelum mereka pulang tadi. Ketika tidur-tiduran, belajar, dan bahkan di  kamar mandi sekali pun, Hana terus memikirkan kemungkinan jika Jong In bosan dengannya. Ayolah, Hana hanya seorang wanita –yang berasal dari gunung—dan tidak mengerti apapun tentang masalah percintaan. Sebelum Jong In muncul, mengacak-acak hidupnya, dan mengajarkan Hana banyak hal menyangkut yang namanya cinta dan skinship. Selama ini pun hanya Jong In yang berinisiatif menculik dan melakukan apapun padanya, bukan Hana yang memulai duluan.

Hana menghentak-hentakkan kakinya ke atas kasur sambil menatap langit-langit kamarnya. Kenapa makhluk bernama Kim Jong In itu selalu berkeliaran di dalam otaknya sih?

Dengan cepat Hana berguling dan meraih ponselnya di atas nakas. Sudah jam 10 malam tapi Jong In sialan itu belum juga membalas chatnya dari siang. Dengan dengusan kesal, Hana menekan speed dial nomor 2 –setelah ibunya di nomor 1—dan menelepon lelaki itu. Setelah menunggu beberapa nada tunggu, ia mendengar suara parau Jong In mengangkat teleponnya di seberang sana. Uh, dan Jong In meninggalkannya tidur tanpa balas chat!

“Kau sudah tidur, ya?” tanya Hana, bernada sedikit sinis dan kentara sekali ekspresi kesal yang membuat keningnya berkerut.

‘Eoh. Baru selesai latihan tadi, aku langsung tidur.’

“Tidak sempat balas chat?” tanya Hana, masih berusaha menyembunyikan nada kesalnya.

‘Aku lelah, Han-ah. Besok saja aku jemput ke rumah,’ Jong In masih dengan suara paraunya membalas Hana dengan nada tidak suka.

“Ck, terserah,” Hana menutup teleponnya tanpa mengucapkan selamat malam atau apapun. Ia membanting ponselnya kembali ke nakas dan berguling ke arah lain, berusaha untuk tidur dan mengabaikan lelaki itu.

Pagi harinya Hana terbangun dengan mata sedikit bengkak karena tidak bisa tidur semalaman. Membayangkan ucapan Jae Hee, benar-benar menjadi mimpi buruk bagi Hana karena dadanya sesak dan sakit begitu membayangkan Jong In meninggalkannya. Jantung Hana semakin terasa sakit ketika melangkah keluar dari pagar rumahnya, menemukan Jong In bersandar di motor sportnya dengan senyum manis yang membuat kakinya terasa lemas. Ia merindukan senyum Jong In yang seperti itu.

Hana mendecih pelan dan melewati Jong In begitu saja berjalan di pedestrian. Namun Jong In cepat-cepat menyusul dan menghalangi jalan gadis itu.

Mianhae, Han-ah. Aku tidak sempat buka ponsel kemarin,” Jong In memasang ekspresi memelas sambil mengatupkan kedua tangannya di depan Hana.

Molla. Aku pergi sendiri saja. Minggir,” Hana sedikit mendorong bahu Jong In dan melanjutkan langkahnya lagi, berusaha mengabaikan lelaki itu.

“Lee Hana,” panggil Jong In seraya meraih lengan Hana dan menarik gadis itu hingga berada di pelukannya. “Maaf ya? Nanti kau bisa telat kalau berangkat naik bus.”

Sial. Kenapa ia harus lemah hanya dengan pelukan Jong In?

Pada akhirnya Hana berangkat bersama Jong In ke sekolah karena tidak sempat menunggu bus. Dan kali ini Jong In mengantar Hana ke depan kelas, mengacak-acak rambut gadisnya sambil mengucapkan kata-kata penyemangat dengan senyum manis sebelum pergi ke kelasnya sendiri. Meninggalkan Hana yang masih dengan ekspresi sedikit kesal memasuki kelas.

“Sudah baikan?” tanya Jae Hee begitu Hana menghempas duduk di sebelahnya.

“Kami tidak marahan kok, Jae Hee-ya,” Hana mendesah napas pelan sambil mengeluarkan ponselnya dari dalam saku blazer dan menemukan pesan gombal Jong In –seperti biasanya.

“Ya apapun namanya. Sepertinya Jong In sudah biasa saja,” balas Jae Hee sambil melirik pesan di layar ponsel Hana.

Hana mengendikkan bahu tak acuh. “Aku masih kesal karena dia tidak membalas chat kemarin. Saat kutelepon dia malah sudah tidur.”

“Jongdae bilang mereka selesai latihan jam 9 malam,” Jinmi menambahkan seraya menepuk-nepuk bahu Hana. “Dia tidak mungkin bosan denganmu, Hana-ya.”

“Kenapa tidak mungkin? Sebelumnya saja bisa gonta-ganti pacar, kenapa sekarang tidak?” Hana menyandarkan punggungnya pada kursi, menatap Jae Hee dan Jinmi yang terdiam karena ucapannya. Uh, Hana benci menjadi sensitif seperti itu. Salahkan Jong In yang bersikap aneh padanya.

Jam istirahat pun, Hana menemukan Jong In sudah berdiri di depan pintu kelasnya dengan senyuman manis itu –lagi. Seolah sikap dingin dan tak acuh padanya selama ini bukanlah apa-apa. Tanpa menghiraukan siulan menggoda dari Jae Hee dan Jinmi di belakangnya, ia mengikuti tarikan tangan Jong In menyusuri koridor yang dipadati murid-murid itu menuju taman belakang. Tempat dimana mereka pernah tertangkap dulu.

“Kenapa ke sini? Kau tidak lapar?” tanya Hana heran karena Jong In malah membawanya ke pohon yang sama –saat mereka berciuman panas hingga ketahuan guru.

“Aku lapar,” Jong In membawa Hana ke balik pohon dan mengajaknya duduk bersila di bawah pohon. Dan entah darimana –atau mungkin Hana yang tidak menyadarinya—, Jong In membawa kotak makanan dan meletakkan dua kotak spaghetti yang berasal dari cafetaria sekolah itu ke hadapan Hana. “Jjan!”

“Mau menebus dosa, ha?” tanya Hana sinis lalu meraih satu kotak spaghetti itu ke pangkuannya.

“Ck, aku sedang berusaha, Lee Hana,” Jong In melepas blazer sekolahnya lalu menutupi  paha Hana yang sedikit terbuka karena duduk bersila di hadapannya.

Hana bahkan tetap merasakan wajahnya memanas karena perlakuan manis Jong In –yang selama dua minggu ini tidak dirasakannya. Ia lalu memukul lengan atas Jong In –untuk mencairkan kecanggungan di antara mereka. “Dasar sok sibuk.” Ujarnya dengan bibir sedikit mengerucut seraya membuka kotak spaghetti miliknya.

Aigoo, uri Hana jinjja,” Jong In mencubit gemas pipi kanan Hana dan menariknya dengan cukup kuat hingga gadis itu memekik kesakitan.

“Sakit, Jong In! Nanti pipiku bisa merah seharian!” Hana mengusap pipinya –yang baru dilepaskan oleh Jong In dan kembali cemberut.

Jong In tersenyum geli lalu memperhatikan Hana yang kini tengah menjejalkan spaghetti ke dalam mulutnya. “Aku masih sibuk sampai turnamen basket nanti.”

“Terserah mau sesibuk apapun asalkan kau tidak lupa balas chat,” Hana mengunyah spaghettinya dengan jengkel seraya melirik Jong In –yang terus memperhatikannya. “Apa? Kenapa melihatku terus? Kau tidak akan kenyang kalau hanya melihatku.”

Anhi, aku sudah kenyang dengan melihatmu saja,” Jong In mendapatkan pukulan ringan di lengan atasnya lagi lalu tertawa pelan karena semburat merah menggemaskan yang kembali menghiasi pipi Hana.

“Dasar gombal!” Hana mendengus pelan lalu memasukkan banyak-banyak spaghetti ke dalam mulutnya. Sementara Jong In mulai membuka kotak spaghetti yang satu lagi di sebelahnya.

Suasana makan siang ditemani hembusan angin sepoi-sepoi bersama Jong In benar-benar membuat perasaan Hana sedikit membaik. Ternyata memang ia yang terlalu sensitif, padahal Jong In masih bersikap biasa saja padanya.

Kkeut!” Jong In membersihkan mulutnya dengan tangan lalu menoleh, mendapati Hana yang kini bergantian terus memperhatikannya. “Wae? Ada saus di wajahku atau apa?”

Chi. Kau mirip anak tetanggaku yang selalu kelaparan, Jong In-ah,” Hana terkekeh geli seraya merogoh saku blazernya untuk mengambil sapu tangan lalu dengan ragu-ragu membersihkan sekitar bibir Jong In. Ia meneguk ludah gugup saat iris cokelat gelap Jong In terus menatap ke arahnya.

Jong In menahan tangan Hana yang tengah membersihkan mulutnya lalu tiba-tiba memojokkan tubuh gadis itu. Dari balik rambut yang menutupi mata, Jong In memastikan bahwa tidak ada guru yang melewati koridor di jam istirahat itu.

Sementara Hana hanya diam, mengagumi wajah Jong In –yang dirindukannya dalam jarak sedekat itu. Dalam hitungan detik, entah bagaimana caranya, bibir Jong In sudah mendarat di permukaan bibirnya. Memberikan lumatan ringan yang membuat Hana merasa tak berdaya seketika, sadar bahwa ia merindukan sentuhan lelaki itu. Dua minggu diabaikan Jong In benar-benar membuatnya hampir gila.

Dan pagutan bibir itu terlepas begitu saja ketika Hana menundukkan kepala, mendorong dada bidang Jong In sedikit menjauh. Membuat Jong In mengernyit heran. “Kenapa?”

“Apa hanya seperti ini?” tanya Hana, entah kenapa tidak bisa menahan rasa mengganjal yang selalu mengganggu pikirannya akhir-akhir ini. “Apa kau membutuhkanku hanya untuk seperti ini?”

“Eh, Lee Hana? Kau kenapa?” tanya Jong In heran sambil berusaha mengangkat dagu Hana agar menatapnya.

Hana menepis pelan tangan Jong In. “Aku tidak tahu.”

Tanpa mengatakan apapun lagi, Hana mendorong Jong In menjauh, berdiri dengan cepat hinga blazer Jong In jatuh ke rumput lalu dengan setengah berlari kembali ke koridor. Bukannya ke cafetaria, Hana malah memasuki rest room dan memasuki salah satu bilik closet dengan membanting pintunya. Mengabaikan tatapan heran murid-murid lain yang sedang bercermin di depan washtafel.

Rasanya menyakitkan tidak tahu kenapa. Jong In bersamanya dan jelas-jelas menciumnya tadi. Tapi ia merasa bahwa Jong In semakin jauh dan sulit untuk diraih. Mungkin saja selama satu tahun ini Jong In tidak memiliki perasaan apapun padanya, bersikap manis dan baik padanya hanya karena ingin ‘yang enak-enak saja’ seperti apa yang pernah dikatakan Jae Hee. Jong In hanya ingin melampiaskan hormonnya pada Hana saja tanpa perasaan apapun. Bisa saja ‘kan? Toh sebelumnya Jong In seperti itu juga. Pikiran Hana absurd sekali akhir-akhir ini.

Uh, Hana tidak mengerti kenapa ia bisa menghabiskan waktu di dalam bilik closet hanya untuk menangis Kim Jong In.

***

Jam pulang sekolah Hana tidak menemukan Jong In dimana pun, seolah menghilang ditelan bumi. Uh, salah Hana juga karena ia melarikan diri saat jam istirahat tadi padahal Jong In sedang berusaha memperbaiki kesalahannya. Hana sudah bertekad untuk bertanya pada Jong In tentang sikapnya selama ini –sekaligus meminta maaf karena melarikan diri saat jam istirahat tadi. Tapi begitu memasuki cafetaria –mengikuti Jae Hee dan Jinmi, ia tidak menemukan kekasihnya di sana.

“Eh, Hana-ya,” Joonmyun melambai singkat pada Hana yang ikut duduk di meja bersama Jae Hee dan Jinmi –setelah menyapa Jae Hee tentu saja.

“Jong In mana?” tanya Hana to the point, karena ia butuh laki-laki itu sekarang.

“Pulang duluan. Dia bilang tidak enak badan, jadi tidak ikut latihan basket dulu,” jawab Sehun seraya menghempas duduk di sebelah Hana dan memperhatikan ekspresi murung Hana. “Kalian bertengkar?”

Hana menggeleng pelan lalu mengangkat kepalanya untuk memperhatikan Sehun. “Apa kalian memang latihan sekeras ini untuk pertandingan basket?” tanya Hana lagi, tiba-tiba merasa kesal sendiri jika memang basket yang membuat Jong In seperti menjauhinya.

“Tidak juga sih. Jong In sering absen latihan. Hanya kemarin sampai jam 9 malam, itu pun dia izin pulang  jam 7 malam karena alasan sibuk. Kita maklum kalau dia sibuk bersamamu,” Sehun membuka botol air dinginnya dan berkata dengan ringan tanpa menyadari perubahan aura di antara Hana, Jae Hee, maupun Jinmi.

BRAK

Sehun hampir tersedak air minum dari botolnya begitu Hana menggebrak meja lalu meninggalkan mereka semua tanpa mengatakan apapun. Membuat kerutan heran muncul di wajah Sehun, Jongdae, dan Joonmyun yang masih bingung dengan sikap Hana.

“Mati kau, Kim Jong In!” Hana mengutuk sambil berjalan cepat dengan menghentakkan kaki menyusuri pedestrian. Tidak tahu kemana. Sepertinya Hana ingin pulang ke rumah saja daripada memikirkan Jong In banyak-banyak.

Chi, kenapa juga kau harus menangisi laki-laki macam itu, Hana?” tanya Hana pada dirinya sendiri, masih berjalan cepat di pedestrian bersama orang-orang.

“Sebelum kenal Jong In juga kau biasa sendiri. Tidak apa-apa juga kalau tidak pacar. Memangnya kenapa kalau putus? Dunia tidak akan runtuh kalau berpisah dengan Jong In. Tidak ada yang mengikuti kemana pun, tidak ada yang melarangmu ini itu, tidak harus melayani hormonnya, tidak perlu mengeluarkan uang untuk date, tidak mendapat tatapan sinis dari anak-anak sekolah lagi dan bisa main game sepuasnya,” Hana memasukkan kedua tangannya ke dalam saku blazer, meracau tidak jelas sambil menyusuri pedestrian dan membayangkan apa yang sudah dilewatinya bersama Jong In selama satu tahun ini. Ia berusaha mengabaikan rasa mengganjal di kerongkongannya.

Keurae. Aku masih bisa naik bis, bisa makan siang bersama Jae Hee dan Jinmi lagi, dan bebas melakukan apapun sendirian,” gumam Hana, berusaha menyemangati dirinya sendiri dengan kemungkinan terburuk jika Jong In meminta putus nanti. “Ck. Apa hebatnya Jong In sampai membawa pengaruh seperti ini sih”

Hana masih menggerutu tidak jelas, mengabaikan tatapan heran dari orang-orang dan segera menyeberangi jalan mengikuti lampu hijau untuk penyeberang jalan. Tapi Hana menghela napas panjang begitu menyadari rasa sakit di jantungnya karena membayangkan kehidupannya tanpa Jong In. Lagi dan lagi.

Pandangan Hana mengedar ke sekeliling pertokoan yang dilewatinya. Hingga matanya berhenti pada sosok seorang laki-laki yang tengah berdiri di sebuah cafe, memesan sesuatu di depan kasir. Kim Jong In. Hana memutar bola matanya dan cepat-cepat membuka pintu cafe, bersiap menghampiri Jong In namun langkahnya terhenti begitu saja ketika melihat seorang wanita entah datang darimana, menggamit lengan kekasihnya dan bersandar dengan mesra.

Jantung Hana kembali terasa sakit. “Jong In?”

Lelaki yang tengah tertawa geli bersama wanita yang menggamit lengannya itu sontak menoleh dan hampir menjatuhkan minuman di tangannya ketika melihat Hana di sana. “Han-ah.”

Sesungguhnya Hana benci menjadi pusat perhatian hanya karena masalah seperti ini. “Mereka bilang kau izin tidak latihan basket karena tidak enak badan. Tidak enak badan, ya?”

Tatapan sinis Hana tertuju pada wanita berambut panjang yang dengan menjijikannya masih menempel pada Jong In. Membuat darah Hana mendidih sampai ke ubun-ubun. Ia tidak peduli bagaimana ekspresi kaget Jong In karena melihatnya disana. Tertangkap basah, ha?

“Han-ah.”

“Ck ck ck. Kau meninggalkan latihan basket untuk kencan seperti ini? Sayang sekali,” Hana menggelengkan kepala seraya melirik wanita di sebelah Jong In –dan memberikan senyum terbaik sambil mengulurkan tangan.

“Namamu siapa?” tanya Hana, berusaha bersikap ramah –padahal ia sangat ingin mencakar, menampar, dan menarik rambut wanita yang menggelayut manja pada kekasihnya itu. Sialnya, wanita itu jauh lebih cantik darinya hingga Hana tidak berani menggoreskan satu ujung kuku pun di kulit wanita itu.

“Park Eun Bin.”

“Oh hai!” Hana berseru kelewat senang seraya melepaskan tangannya setelah dijabat oleh wanita bernama Eun Bin itu. “Aku Lee Hana. Pacarnya Jong In. Apa kau pacarnya juga?”

“Han-ah, aku—.”

“Wajar kok kalau Jong In punya banyak pacar. Jangan kaget seperti itu,” Hana menemukan ekspresi kaget yang muncul di wajah Eun Bin, sambil melemparkan tatapan heran bercampur kesal pada Jong In. “Oh, maaf mengganggu. Aku pulang duluan.”

Setelahnya Hana berbalik dan melangkah cepat keluar dari cafe itu, tanpa mau melihat ke belakang. Rasa mengganjal di kerongkongan membuat Hana sedikit kesulitan untuk sekedar menarik napas. Mengabaikan tatapan orang-orang dari dalam cafe, Hana segera memberhentikan taksi dan menaikinya begitu saja. Tidak memberikan kesempatan bagi Jong In yang bahkan tidak berusaha mengejarnya dari sana. Hana tidak sadar bahwa ia kembali menitikkan air mata untuk lelaki macam Jong In lagi.

[UNCONDITIONALLY (1) – END]

Ima’s Note :

Another serial buat refreshing dari imper lol

Silakan baca karma in love sama kissproof dulu sebelumnya wkwk

ditunggu komennya~^^ Love love kiss

sorry for typo(s) LOL

Regards,

IMA♥

108 responses to “[KaiNa’s] UNCONDITIONALLY (1) — by IMA

  1. Uhhh…jongin kenapa kau seperti itu…
    bisa bisa nya mengabaikan Hana,
    bohong kata gak enak badan,
    e.. taunya lg sama cewek lain d cafe,
    Hana yg polos.. dan tulus.. tentu cepat sekali sensitif ny..
    Hana langsung nyangka yg enggak nggak kan….
    pasti Hana jg sakit hati dan kecewa

  2. Bingung mau comment apa….
    Yang biasanya sweet sweet aja sekarang tiba tiba gini, gatau ini beneran apa cuma rencana jongin aja yang mau ngasih surprise…..

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s