[Freelance] 6th Be My Shine (ChanYeol’ Story: Show Yourself or Be Alone, Part A)

6.chanyeol

6th Be My Shine (ChanYeol’ Story: Show Yourself or Be Alone, Part A)

 

Title                 : Be My Shine

Sub – Title       : ChanYeol’ Story: Show Yourself or Be Alone

Author             : Lililili~

Main Cast        :

  • EXO’s ChanYeol as Park Chan Yeol
  • You as Jung Hye In
  • EXO’s Lay as Zhang Yi Xing

Genre              : Romance & Friendship

Rating             : G

KARENA TERLALU PANJANG, JADI DIBUAT DUA PART ^-^

***

The main reason of loneliness is..

When you’re too afraid to show yourself

  • Lililili~

 

***

P.S. FANFIC INI ADALAH KARYA AUTHOR SENDIRI

PERNAH DIPOST DI BLOG LAIN DENGAN NAMA PENA AUTHOR YANG BERBEDA DAN KARAKTER JUGA CERITA YANG SEDIKIT DIUBAH

Blog Pribadi Author:

getyourthingsandrun.wordpress.com

 

Previous Story:

  • 1st Be My Shine (Xiumin’s Story: Who Is the Girl? Who is the Boy?)
  • 2nd Be My Shine (Suho’s Story: The Unlucky Guardian)
  • 3th Be My Shine (Lay’s Story: When the Light’s Disappear)
  • 4th Be My Shine (BaekHyun’s Story: Pervert, Naughty & Talkative)
  • 5th Be My Shine (Chen’s Story: Poor You!)

 

***

TOLONG DIBACA: Author takut ada kesalahpahaman plagiarisme jadi Author bakal ngejelasin ya.. FF ini udah pernah di-post, dulu cast-nya bukan Chan Yeol tapi EX-EXO. Dan ceritanya sedikit Author ubah dibagian akhirnya, dulu hanya ada satu part tapi Author perpanjang sedikit. Happy Reading!

 

Musim Dingin, 2013

[ Author / AA’s POV ]

Seorang yeoja berdiri di depan sebuah kelas yang telah menghentikan aktivitas belajarnya dengan pandangan terpaku. Terdengar suara kecil gemerutukan giginya yang muncul akibat getaran pada tubuhnya yang enggan untuk berhenti. Yang bisa dia lakukan hanya mengepalkan kedua tangannya yang sudah dipenuhi oleh peluh. Ia terus menatap ke arah kelas itu. Matanya mulai berkaca – kaca dan ia terus mencoba menghilangkan kegugupannya dengan menggigiti bibir bawahnya.

“Kenapa mereka sangat kasar?” ucapnya dalam hati saat melihat sekumpulan namja yang sedang bergumul dan melukai diri mereka sendiri.

“Otteoke? Aku harus mengambil buku catatanku yang tertinggal. Kenapa mereka belum pulang?”

Matanya tidak mau terlepas dari dua namja yang saling memukul dan teman – temannya yang menyoraki mereka sambil tertawa seakan hal itu adalah hal yang lucu untuk dipertontonkan.

Tiba – tiba ada seseorang yang menepuk pundaknya dari belakang. Ia pun terkesiap dan dengan refleks berbalik. Ia melihat seorang namja yang tingginya sekitar 20cm di atasnya. Sosoknya sangat mengintimidasi, ia pun merasa takut dan langsung mengarahkan pandangannya ke lantai.

“Hye In – ssi, ada yang bisa ku bantu?” tanya namja itu.

Yeoja yang dipanggil Hye In itu masih bergetar dan enggan merespon. Beberapa detik kemudian, dengan perlahan ia memperpanjang jarak di antara mereka dan mulai mengangkat kepala dengan ragu.

“Nu..guu..seyo?” namja itu hanya bisa tersenyum manis mendengar pertanyaan lugunya. Dengan senyuman itu, seketika setengah dari rasa takutnya seakan meluap ke udara.

“Park Chan Yeol. Aku satu fakultas denganmu, kita juga sering berada di kelas yang sama. Sepertinya kau tidak mengenalku.. hahahaha.. maldo andwe. Bahkan dengan aku yang sering duduk di sebelahmu?” ucapnya dan mulai tertawa. Tanpa disadari, yeoja itu mengangkat sedikit bibirnya.

“Oh, apa yang kau lakukan di sini? Sudah lebih dari dua jam kelas terakhir berakhir.”

“Aku.. meninggalkan buku catatanku,” jawabnya dengan volume suara yang benar – benar rendah, namun masih dapat ditangkap oleh pendengaran Chan Yeol.

“Lalu kenapa kau tidak masuk?” tanyanya untuk kesekian kali, sedangkan Hye In hanya bisa menundukkan kepalanya kembali. Chan Yeol merasa heran dengan perilakunya dan ia mulai mengalihkan pandangannya ke kelas.

“Aah.. arraseo. Aku akan mengambilkan bukumu. Tadi kau duduk di sudut paling belakang itu kan?” tanpa mendengar jawabannya, Chan Yeol langsung masuk ke kelas yang dipenuhi dengan namja urakan itu. Dan tak lama, sosoknya pun kembali muncul dari pintu.

“Igeo,” ucapnya sambil menyodorkan sebuah buku bersampul gambar bunga sakura.

“Ka.. kamsa..hamnida.”

“Hahahaha.. kenapa kau enggan begitu? Aku kan chingu-mu. Na kalke,” ucap Chan Yeol sambil mengacak rambut Hye In yang sedang menunduk dengan lembut dan berlalu pergi.

            “Chingu?”

 

***

 

[ CHANYEOL’S POV ]

Aku melihat Hye In terduduk sendirian di salah satu meja yang berada di sudut terjauh dari keramaian kafetaria. Aku pun menghampirinya yang sedang menikmati makan siang sambil mengambil nampanku dan duduk di kursi kosong tepat di hadapannya.

“Annyeong!” sapaku.

“A-annyeong,” balasnya lalu tertunduk kembali.

“Ah, mwoya? Kenama reaction-mu seperti itu? Apa aku tidak boleh duduk di sini?” ucapku yang sedikit pura – pura beranjak.

“Aniya.. keunnyang..”

“Keunnyang?”

“Anio.” aku hanya bisa tersenyum melihat tingkahnya.

Hye In hanya meneruskan makan siangnya tanpa menghiraukanku. Sejak tadi dia hanya berusaha untuk menghindari pandangan mataku. Aku langsung beranjak dan menarik tangannya. Ia terkejut, namun tidak bisa menolak untuk mengikuti langkah kakiku. Aku terus berjalan sambil menggenggam tangan Hye In dan mengarah ke sebuah meja yang berada di tengah – tengah kafetaria. Aku langsung mendudukkan Hye In di kursi kosong di antara sekumpulan yeoja.

“Se Kyung, Ra Hee, Jin Mi, Boo Young.. ini Hye In. Bertemanlah dengan baik!” ucapku pada yeoja – yeoja itu dengan senyuman. Mereka membalas senyumanku dan mengangguk.

“Hye In-ah, tunggu dulu di sini ya. Aku akan mengambilkan makananmu,” ia hanya bisa mengangguk ragu. Aku pun pergi meninggalkan Hye In.

            “Hye In-ah, bertemanlah dengan baik!”

 

***

 

[ Hye In’s POV ]

Aku merasa terkejut ketika Chan Yeol tiba – tiba duduk di hadapanku. Saat aku menatapnya heran, ia hanya bisa menyeringai.

“Annyeong,” sapanya. Dengan ragu aku membalasnya.

Melihat reaksiku, dia langsung sedikit menggerutu dan bermaksud untuk beranjak pergi. Namun aku tahu itu hanyalah sebuah gertakan, Chan Yeol tetap di sana dan menemaniku makan siang. Aku merasa gugup dan meneruskan makan siangku tanpa menoleh ke arahnya. Tiba – tiba Chan Yeol beranjak dan menarik tanganku.

DEG

“Mwo?”

Aku hanya terus berjalan mengikutinya, tanpa lupa untuk menyembunyikan wajahku dan terus menunduk.

Chan Yeol masih tidak melepaskan tanganku. Dan hal itu berhasil membuatku semakin gugup dan tanpa ku sadari pipiku mulai memanas. Chan Yeol mendudukkanku di antara sekumpulan yeoja yang sedang menikmati makan siang mereka sambil berbincang kecil dan diselingi oleh tawa. Aku merasa iri.

Setelah itu, Chan Yeol langsung pergi untuk mengambilkan makanan kami tadi. Aku merasa khawatir dan takut ketika dia pergi. Dengan seketika, aku kembali merasa seperti seekor kucing kecil yang berusaha untuk menyebrang di antara banyak mobil – mobil yang melaju ke arahku. Ini berbeda. Entah bagaimana aku merasa nyaman berada di sekitarnya. Aku tidak merasa asing ataupun takut terluka. Padahal sama seperti keempat yeoja di dekatku, Chan Yeol adalah orang asing.

“Annyeonghaseyo.. cheoneun Ra Hee imnida. Ini Se Kyung, Jin Mi dan Boo Young,” ucap salah satu yeoja memperkenalkan dirinya dan teman – temannya. Dengan ragu, aku mengangkat kepalaku dan melihat ke arah mereka.

“A-a-annyeong.. haseyo.” Mereka tersenyum sedikit padaku, tapi aku tahu itu bukanlah senyuman tulus.

“Neo..” yeoja yang memperkenalkan diri sebagai Ra Hee itu menunjukku. “Kau bukan yeojachingu Chan Yeol kan?”

“N-ne.”

“Mm, kureom. Chan Yeol tidak mungkin berpacaran dengan yeoja kaku sepertimu,” ia menyuapkan sedekit salad ke mulutnya, lalu menatapku dengan tatapan mengintimidasi.

“Arraseo, karena kau sudah mengertiii.. jangan terlalu bersikap seakan kau dekat dengannya atau ‘benar – benar’ dekat dengannya. Arraseo?” aku hanya mengangguk. Tanganku mulai kembali bergetar dan otomatis aku menyembunyikan wajahku kembali.

            “Chan Yeol, eodiya? Kenapa kau begitu lama?”

“Kau mendengarku tidak sih?!” Tiba – tiba ada yang menepuk pundakku, sedangkan Ra Hee langsung berhenti mencoba membentakku. Aku pun menoleh dan melihat Chan Yeol dengan senyuman di wajahnya.

“Oh, Chan Yeol!” ucap Ra Hee dengan riang dan nada suara yang benar – benar berbeda, dia terdengar manja. Chan Yeol tidak meresponnya dan hanya menoleh ke arahku.

“Mian, aku sedikit lama. Aku mengambil beberapa makanan lain untukmu,” ia langsung duduk di sebelahku dan meletakkan nampan yang penuh dengan makanan. Ia membuka bungkus roti coklat, lalu menyodorkannya padaku.

“Igeo.. makan yang banyak,” ucapnya manis. Aku pun langsung mengambilnya dan menyuapkannya ke mulutku. Saat pandangan mataku tidak sengaja menangkap Ra Hee, ia terlihat benar – benar tidak senang. Yang bisa ku lakukan hanya menunduk, terus menunduk untuk menghindarinya.

Dengan tiba – tiba Chan Yeol menyentuh daguku dan mengangkatnya.

“Jangan terus menutupi wajahmu! Nanti orang – orang tidak bisa melihat wajah manismu dan hanya melihatmu seperti hantu dalam film dengan rambut seperti itu.”

            DEG “Manis?”

            “Oh ya, tadi apa saja yang kalian bicarakan?”

            “Biasa. Fashion, ice cream dan namja populer,” jawab Se Kyung berbohong.

“Namja populer? Berarti aku.”

Mereka pun tertawa, tanpa seorangpun menyadiri kegugupanku dan tanganku yang terus bergetar. Atau mungkin tidak semuanya. Chan Yeol menyadarinya. Ia langsung menggenggam tanganku yang bergetar di bawah meja. Aku menoleh ke arahnya dan bisa ku lihat Chan Yeol hanya tersenyum getir dan menatapku dengan mata yang dipenuhi oleh kekhawatiran. Dia terus mengeratkan genggamannya. Dia mengerti. Bibirnya mengucapkan “Mianhae” tanpa mengeluarkan suara. Setelah mereka berhenti tertawa, Chan Yeol pun beralasan dan membawaku pergi.

 

***

 

[ ChanYeol’ POV ]

“Annyeong,” sapaku pada Hye In setelah duduk di kursi sebelahnya. Ia tidak menjawabku dan hanya mengangguk kecil.

“Haaahh.. bukankah pagi ini sangat cerah?” dia tidak menjawab.

“Kenapa kau selalu duduk di sudut ruangan seperti ini?” dia tetap terdiam.

“Weo?”

“Itu..” akhirnya dia mulai bersuara, tapi ku lihat tangannya mulai bergetar lagi. Dia dengan cepat mengepalkan kedua tangannya.

“Kau tidak perlu menjawab jika itu memberatkanmu.” Aku tersenyum ke arahnya, lalu kembali memfokuskan mataku ke arah buku di atas meja.

“Chan Yeol-ah,” panggil seseorang. Aku mendongak untuk melihat orang itu.

“Besok ulang tahunku. Aku berharap kau datang. Pestanya di rumahku pukul 7.”

“Kure,” jawabku singkat dengan ramah.

“Oh, Hye In-ssi?” panggil Min Jung mengarahkan pandangannya ke sebelahku.

“Kau juga boleh datang,” ucapnya dengan senyuman. Wajah Hye In sedikit ragu, namun aku tahu di sudut hatinya dia merasa senang.

“Jin-jinjjayo?”

“Kureom! Semua anak fakultas sastra diterima di rumahku. Jangan lupa, pukul 7 dan pakai baju yang cantik! Annyeong Chan Yeol.. annyeong Hye In!” ucapnya riang dan berlalu pergi.

“Kau akan datang?”

“Aku.. aku tidak yakin,” jawabnya dan lagi – lagi menundukkan kepala.

Hye In.. yeoja ini. Aku tidak bisa mengerti dirinya. Kenapa dia selalu menutup diri untuk orang lain, selalu bergetar dan menyembunyikan wajahnya saat seseorang berusaha berbicara dengannya.

“Hye In-ah,” panggilku, ia menoleh.

“Kajja, ikut denganku.” Aku menarik tangannya pergi.

Aku membawa Hye In ke sebuah butik . Sejak tadi yang ku lakukan hanya mondar – mandir memilihkan gaun untuknya, tapi yang dia lakukan hanya duduk terdiam tanpa mengatakan sepatah katapun.

“Hye In, mana yang kau suka?” tanyaku sambil menunjukkan dua buah gaun cantik berwarna biru dan ungu.

“Keduanya.. cantik,” jawabnya pelan.

Aku merasa sedikit jengkel dan menariknya agar bangun. Aku meletakan kedua tanganku di pundaknya.

“Aku sudah lelah memilihkan gaun untukmu. Bagaimana kalau kau saja yang memilih?”

“Tidak perlu.. Chan Yeol-ssi. Aku.. tidak akan datang.”

“Ne?”

Ia pun langsung menepis tanganku yang ada di pundaknya dan berlari ke luar, aku langsung mengejarnya dan menarik tangannya.

“Wae gurae?”

Dia tidak menjawabku dan tetap menyembunyikan wajahnya. Tangannya bergetar dengan sangat hebat, aku pun menyadarinya dan langsung melepaskan tanganku padanya.

“Apakah aku membuatmu takut?” tanyaku lembut.

“Mianhae.. seharusnya aku tidak lancang menarik tanganmu dan membawamu kemana saja aku suka,” lanjutku lagi, Hye In masih belum bergeming.

“Aku.. aku takut..” jawabnya masih tertunduk, namun ada sedikit suara isakan. Ia menangis.

“Aku takut terlihat.”

 

***

 

Aku membawanya ke sebuah taman dan duduk di salah satu kursi. Sejak tadi Hye In masih tidak mau mengatakan sepatah katapun. Dan hal ini berhasil membuatku merasa khawatir.

“Aku..” tiba – tiba dia bersuara.

“Aku benar – benar takut. Aku adalah orang yang bodoh. Aku juga tidak bisa melihat kenyataan. Saat aku menemui orang – orang, mempercayai mereka, mencintai mereka, aku tidak pernah mengetahui kenyataan bahwa perasaan itu hanya dimiliki oleh diriku sendiri. Orang – orang berkata kau tidak boleh bersikap pemilih terhadap teman, tetapi tidak ada yang pernah mengatakan orang itu juga harus memilihmu. Kau tidak memilih, tetapi dipilih. Dan saat kau tidak terpilih, mereka akan tetap bersikap baik padamu atau memilih bersikap jahat. Saat orang bersikap jahat, ia akan mencacimu, menghujatmu ataupun menatapmu dengan pandangan jijik. Tetapi orang yang memilih untuk bersikap baik walaupun tidak memilihmu dan tidak menganggapmu sebagai teman adalah yang terburuk. Mereka selalu bersikap manis, namun di belakang punggungmu mereka membencimu, mencibir dan mengatakan hal – hal yang kejam,” tuturnya dengan air mata.

“Tapi akan banyak juga yang memilihmu jika kau berusaha,” ucapku.

“Memang. tetapi jika mereka memilihmu, bukan berarti tidak ada sebuah alasan. mereka menginginkan sesuatu, semakin lama akan terus menuntut, menuntut lebih, bertanya ‘Apakah kau berpikir aku adalah temanmu?’ atau ‘Aku temanmu, kan!’ dan hal – hal lain seperti itu. Bagaimana pun aku berusaha, aku tidak bisa memiliki banyak teman. Jadi aku memutuskan lebih baik terabaikan.” mendengar perkataannya membuatku sangat marah, aku beranjak bangun dari dudukku dan menatapnya dengan pandangan kekecewaan.

“Aku tidak percaya.. aku tidak percaya telah mendekatimu dan ingin menjadikanmu teman karena aku melihat kau selalu sendirian. Aku tidak percaya kau memiliki pemikiran yang begitu sempit.” tanpa disadari, mataku mulai berkaca – kaca.

“Kau.. kau tidak perlu memiliki banyak teman. Kau tidak perlu memiliki seratus orang teman. Kau hanya perlu memiliki satu orang teman yang seratus kali lebih berharga.”

Entah mengapa aku merasa begitu terluka, dan air mata itu pun akhirnya jatuh.

“Aku memilihmu.. dan itu tergantung terhadapmu apakah aku seratus kali lebih berharga atau tidak,” lanjutku dan pergi meninggalkannya.

            “Park Chan Yeol, ada apa dengan dirimu?”

***

[ Hye In’s POV ]

Sejak kemarin aku merasa gusar, sampai – sampai sulit untuk tidur. Aku tidak tahu mengapa begitu menyakitkan mendengar semua perkataan yang keluar dari mulut Chan Yeol kemarin. Selain itu, aku juga merasakan perasaan menyesal.

            “Hye In – ah, dia hanya orang asing bagimu.”

Seperti biasa, aku melangkah ke kursi yang berada di sudut kelas. Di atas meja aku menemukan sebuah kotak dengan selembar kertas di atasnya. Aku pun mengambil kertas itu dan membacanya.

Hye In – ah,

Ini aku, Chan Yeol. Aku meminta noona-ku menuliskan surat ini untuk mu, karena tulisanku bisa melukai matamu hehe. Mianhae karena aku begitu emosional kemarin, hingga aku mengatakan hal – hal yang menyakitkan kepadamu. Aku tahu, aku hanyalah orang asing, aku sudah terlalu lancang. Mianhae karena mendorongmu terlalu keras.

Hari ini adalah hari ulang tahun Min Jung. Walaupun kalian tidak terlalu mengenal, dia berharap kau datang. Min Jung berbohong saat mengatakan semua orang diterima di rumahnya. Dia ingin menjadi temanmu, jadi aku berharap kau mau membuka diri.

Dan ini gaun yang aku pilihkan untukmu. Mianhae kalau tidak seperti yang kau harapkan. Aku tidak terlalu mengenalmu. Aku tidak tahu apa warna favoritmu atau gaya apa yang kau sukai.

Sekali lagi, Mianhae.. Hye In – ah.

 

 

Tanpa ku sadari mataku mulai mengeluarkan air mata dan membasahi surat Chan Yeol. Dengan tangan bergetar aku membuka kotak cantik berwarna biru itu. Saat aku membukanya, aku bisa melihat sebuah gaun indah berwarna pastel lembut.

“Gaunnya cantik.. gomawo.”

 

***

 

[ AA’s POV ]

Hye In menatap gerbang besar di hadapannya dengan gusar. Ia ragu untuk masuk atau tidak. Kakinya mulai merasa sakit karena high heels yang ia kenakan. Ia terus meremas bagian rok gaun pendeknya. Dengan tiba – tiba, seseorang menepuk pundaknya.

            “Chan Yeol..”

            Yeoja itu pun menoleh dan mendapati Chan Yeol tersenyum lebar seperti biasanya.

“Apa yang dilakukan yeoja manis di depan gerbang sambil terlihat kebingungan? Kajja.” Chan Yeol pun menarik tangan Hye In lembut dan membawanya masuk.

Saat di dalam, Hye In terpaku sejenak. Bukan karena rumahnya yang begitu megah, bukan juga karena perabotan indahnya ataupun matras lembut di bawah kakinya. Tetapi sekumpulan orang yang jumlahnya sungguh berhasil membuatnya merasa ingin berbalik dan pergi.

Saat ia mencoba untuk berbalik, Chan Yeol langsung mencegahnya dengan menaruh kedua tangannya di pundak Hye In dari belakang. Lalu Chan Yeol meletakkan dagu namja itu di kepalanya. Hal itu berhasil membuat jantung Hye In serasa ingin meloncat keluar dari tempatnya. Hye In merasa benar – benar gugup.

“Kau lihat di sana?” ucapnya lembut. “ Kau akan memilih mereka dan tidak ada alasan pula bagi mereka untuk menolak gadis manis sepertimu.” Lalu Chan Yeol merapihkan rambut Hye In dan mendekatkan bibirnya ke belakang telinga yeoja itu.

DEG

“Aku tidak bisa selalu berada di dekatmu, jadi bertemanlah! Maka kau tidak akan sendirian.”

Chan Yeol melihat ke arah depan dan menemukan sosok Min Jung yang mencoba melambaikan tangan ke arah mereka.

“Kalian datang? Hye In.. Chan Yeol.. kemari!” panggil Min Jung dengan riang dari kejauhan.

“Dan dialah teman pertamamu.” Chan Yeol pun sedikit menjauhkan diri dari Hye In dan mendorong punggung Hye In dengan lembut. Hye In pun berjalan maju dengan yakin. Sedangkan Chan Yeol di belakangnya hanya bisa tersenyum menatap punggung yang semakin lama semakin menjauh.

“Hye In –  ah, dapatkanlah teman yang seratus kali lebih berharga. Karena bagiku, kau bukan orang asing. Karena bagiku, kau bukan seratus kali lebih berharga dari teman – temanku. Kau seratus kali lebih berharga dari diriku sendiri. Aku hanya takut.. aku takut kau akan sendirian.”

 

***

 

[ Chan Yeol’ POV ]

Bisa ku lihat Hye In yang berada sekitar enam meter dariku. Ia tertawa lepas bersama Min Jung dan beberapa yeoja lain. Ini pertama kali aku melihatnya seperti itu. Ia tidak berusaha untuk menyembunyikan wajahnya dan hanya tersenyum, sambil tak henti – hentinya berbicara. Dia terlihat lebih cantik saat seperti itu.

Aku pun menoleh ke arah lain dan dari kejauhan aku melihat sesosok teman yang sudah lama tidak ku temui. Dia adalah namja terlembut yang aku kenal. Dia sedikit pendiam, namun dia adalah orang yang sangat perhatian dan memiliki banyak kasih sayang di hatinya. Dia akan berusaha tetap tersenyum dan selalu menjaga sikapnya agar tidak melukai perasaan orang lain, walaupun di saat ia terluka.

“Lay, yeogi!” panggilku. Ia pun menoleh dan menghampiriku. Saat jarak kami sudah dekat, dia langsung memelukku.

“Hahaha.. aku tahu kau sangat merindukanku, tapi jangan seperti ini! Kajja, aku akan mengenalkanmu pada seseorang.”

Aku menarik Lay ke arah Hye In yang sedang tertawa mrmunggungiku. Aku pun menepuknya pelan.

“Hye In – ah, kenalkan.. Lay.”

 

***

 

Sudah beberapa hari ini Hye In sudah mulai membuka diri. Selain denganku, dia juga dekat dengan Lay, Min Jung dan beberapa teman lainnya. Terutama dengan Lay, aku merasa lega karena Hye In cukup sering menghabiskan waktu dengannya, dia tidak pernah sendirian lagi sekarang. Namun aku juga merasa sedikit aneh, terkadang aku merasa tidak rela jika Hye In bersama Lay. Walaupun semua hal itu yang ku inginkan.

Aku berjalan ke arah ruang musik. Semakin dekat ke ruang musik, semakin jelas aku mendengar alunan musik yang indah. Saat aku sudah berada di depan ruang itu, aku pun membuka pintunya dan mendapati Hye In sedang bermain cello. Saat menyadari keberadaanku, dia langsung menghentikan lagunya. Dia menaruh cellonya dan menunduk lagi.

“Wae? Itu terdengar bagus,” ucapku.

“Kau tidak ingin mengikuti lomba, resital atau sebuah konser musik klasik?”

“Aku.. tidak pernah memikirkannya,” jawabnya pelan.

“Kalau begitu kau harus mulai memikirkannya, ikut denganku.”

 

***

 

Aku membawa Hye In ke sebuah aula konser. Aku menariknya untuk naik ke panggung dan menatap ke arah kursi – kursi kosong di hadapan kami.

“Lihat, luar biasa bukan?”

“Hm.”

“Akan ada perlombaan cello di sini beberapa minggu lagi. Kau.. harus ikut!”

Dia langsung menoleh dengan kaget ke arahku.

“Tapi..”

“Arraseo..” aku berjalan ke arah belakangnya dan menyentuh kedua pundaknya lagi.

“Nan arra.. nanti.. kursi – kursi itu akan di penuhi dengan ratusan orang. Kau tidak perlu merasa takut, karena mereka akan bertepuk tangan untukmu. Percayalah..” Hye In berbalik, menatapku dan tersenyum cantik. Lalu ia menganggukkan kepalanya.

 

***

 

[ Hye In’s POV ]

Setiap hari aku berlatih cello dengan Chan Yeol setelah selesai kuliah di apartemennya, begitu pula dengan hari ini. Aku sedang beristirahat sebentar, sedangkan Chan Yeol sedang membuatkan minuman untukku. Aku terus tersenyum melihat punggungnya. Ne, aku menyukainya.

Aku berkeliling melihat – lihat apartemennya, lalu tiba – tiba aku melihat sebuah passport di atas sebuah meja di salah satu ruangan di apartemenya. Dan bukan hanya passport, aku juga menemukan sebuah tiket pesawat. Aku menyentuhnya dan membukanya. Penerbangan ke New York.

“Apa ini?”

“Apa yang kau lakukan, Hye – In?” panggil Chan Yeol yang sudah berada di belakangku.

“Apa ini?” tanyaku sambil menunjukkan tiket pesawat itu, Chan Yeol hanya bisa terdiam.

“Kau.. ingin pergi?”

“Hye In – ah.. aku..”

TBC

Please leave your comment and like ^-^

Kamsahamnida and Annyeong!

 

9 responses to “[Freelance] 6th Be My Shine (ChanYeol’ Story: Show Yourself or Be Alone, Part A)

  1. Yagitu.. Tinggal aja tinggal😂

    Hah… Maunya chanyeol apa sih? Kalo hye in deket sama lay, gasuka. Pas hye in deket sama dia, dianya pergi. Duh. Mewek mewek dah sana. Nyesel nyesel sana😂

    Semangat thor! Keren ceritanya!!
    Love ya💞

  2. Yaduuuuu gantung bgt :” ini aku new reader bagus jalan ceritanya dan aku kayanya baca bakalan random dari cy ke baekhyun dll wkwkwkw ♡ sukak deh setiap ff beda pemain :v izin reader yaa

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google photo

You are commenting using your Google account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s