ALL I ASK [PART I] — by Neez

ask-copytt

ALL I ASK

Oh Jaehee / OC || Kim Joonmyun / EXO Suho || Others

Alternative Universe, School Life, Family, Slight!Musical, Slight!Angst

PG || Chapters

Teaser

© neez

Beautiful Poster Cr : Ken’s@Art Fantasy thank you Ken Honey ^^

BETA : IMA

“When I saw you I fell in love and you smiled because you knew.”

William Shakespeare – Romeo & Juliet

Ketika kalian jatuh cinta, kalian tidak akan bisa menebak sebelumnya, saat cinta itu datang untuk siapa, bagaimana, dan kapan… kalian hanya merasakannya. Tepat ketika tatapan mata bertemu, kalian dapat merasakan bahwa hati kalian, sudah bukan lagi milik kalian seutuhnya. Bahwa bumi tempat kalian berpijak, bukan lagi gaya gravitasi yang menahan kalian untuk dapat berdiri, melainkan orang yang kalian cintai.

   Kalian akan merasakan emosi dan perasaan yang tidak pernah kalian bayangkan dapat  dirasakan sebelumnya, datang dan menyiksa setiap saat. Ketika kalian merasakan rindu dan bahagia hanya karena sebuah senyuman, lalu merasa cemburu jika melihatnya bersama dengan orang lain.

   Jawaban dari perasaan yang kalian rasakan sebenarnya mudah.

   Nyatakan, dan apa pun hasilnya, setidaknya semua itu tersampaikan. Kalian tidak akan penasaran hingga tidak bisa tidur mempertanyakan apakah dia merasakan hal yang sama. Namun, tidak semua beruntung dalam cinta.

   Bagi Joonmyun, menyatakan perasaan adalah hal yang mudah. Apa sulitnya menyatakan perasaan diri sendiri kepada orang yang kita cintai, bukan? Tapi, bagaimana kalau orang yang kau cintai adalah calon Biksu?

   Yeah, setahu Joonmyun, yang bernasib naas seperti dirinya saat ini hanyalah Romeo. Itu pun hanya dalam cerita fiksi karangan penyair terkenal William Shakespeare. Berbeda dengan Romeo, Joonmyun tidak hidup di kota Venesia, ia hidup di kota Seoul meski ia yakin kekayaan kedua orangtuanya bisa disejajarkan dengan kekayaan Romeo Montague.

   Tapi kenapa nasibnya sudah harus begini? Ketika ia yakin hendak menyatakan perasaannya pada Joohyun, ia malah harus menerima kabar menyakitkan bahwa pujaan hatinya sudah akan berangkat pergi ke kuil diluar Seoul, memulai pendidikannya sebagai seorang biksu. Joonmyun merasa, pengakuan cintanya sudah tidak akan berarti lagi. Tekad Joohyun sudah bulat untuk menjadi biksu.

   ”Kau tak makan?” tanya Jongin, sahabat kentalnya meletakkan nampan berisi beberapa potong ayam goreng dan nasi beserta salad, tak lupa segelas susu cokelat favorit pria tampan itu. Alis tebalnya mengerut saat melihat Joonmyun yang tak henti-hentinya merenung sejak pagi. ”Mau kuambilkan sesuatu?”

   Joonmyun menggeleng dan menyunggingkan senyum tipis, meraih sepotong paha ayam dan memakannya pelan, ”Aku minta kau saja…”

   ”Oke,” Jongin mengernyit heran namun membiarkan saja sahabatnya mengunyah ayamnya dalam diam. Biasanya Jongin akan sangat perhitungan soal ayamnya, namun kali ini, Joonmyun terlihat tidak bersemangat, dan untuk catatan seorang Kim Joonmyun sangat memperhatikan kesehatan tubuhnya, sehingga nyaris tidak pernah Jongin melihatnya makan ayam goreng.

   Joonmyun masih saja diam sambil mengunyah ayamnya perlahan-lahan, pandangannya kosong, meskipun mulutnya tak henti-hentinya mengunyah ayam, tidak ada sorot bahagia atau setidak-tidaknya puas setelah mengonsumsi ayam tersebut. Jongin punya teori, bahwa memakan ayam goreng akan selalu membuat dirinya senang. Namun sepertinya, teori tersebut tidak berlaku bagi seorang Kim Joonmyun.

   ”Ada apa? Ada yang mengganggumu?” tanya Jongin sambil ikut menyantap ayamnya, sesekali menambahkan salad ke dalam suapannya.

   Joonmyun menghela napas dalam-dalam. ”Apa yang bisa dikeluhkan oleh siswa SMA seperti kita, Jongin?” tanyanya pelan.

   ”Entahlah? Mungkin nilai? Eh, nilaimu turun?!” seru Jongin, ia hampir tidak bisa percaya kalau sahabatnya, si nomor satu di sekolah mengalami penurunan nilai. Namun Joonmyun menggelengkan kepalanya. “Lalu apa? Ah, aku tahu!” Jongin menjentikkan jarinya, ”Bae Joohyun, keurae?

   Tepat sekali, karena Joonmyun langsung diam tak bereaksi apa pun. Mati kutu.

   ”Oke, kemarin kau bilang kau akan mengakui perasaanmu kepadanya. Jadi? Sepertinya hal itu tidak terjadi sesuai dengan keinginan… tapi, aku tidak bisa mempercayainya! Dia menolakmu, Sobat?”

   Joonmyun tertawa miris, ”Aku bahkan belum sempat mengakui perasaanku kepadanya.” Sahutnya sambil meletakkan tulang ayam di atas piring.

   “Lalu? Jangan bilang kau tidak jadi mengakui perasaanmu kepadanya, Kim Joonmyun? Aku bahkan sudah membantumu latihan, dan hampir saja murid-murid mengira kita gay karena aku membantumu!”

   ”Jongin, percayalah aku sangat ingin pengakuan itu berhasil, tapi…”

   ”Tapi apa?” desak Jongin penasaran.

   Joonmyun menghela napas dalam-dalam dan menjawab dengan suara putus asa, ”Dia kemarin berpamitan kepadaku.”

   ”Lalu kau meragukan hubungan jarak jauh?”

   ”Bukan!” sergah Joonmyun tidak sabar, ”Man, dia bahkan tidak keluar pulau Korea.”

   ”Lalu apa? Kau membuatku sakit kepala…”

   ”Dia memutuskan untuk menyerahkan hidup, Jongin-ah.” Joonmyun menunduk, ”Bagaimana aku bisa mengakui perasaanku kepadanya!?”

   Kedua mata Jongin melebar, begitu pula dengan mulutnya yang membentuk huruf O besar. Namun sedetik kemudian ia terkekeh, ”Kau bercanda kan, Joonmyun-ah? Mana mungkin di zaman semodern ini…”

   ”Apa aku terlihat seperti orang yang sedang bercanda, Kim Jongin?” tanya Joonmyun kembali dengan suara datar.

   Jongin buru-buru menguasai diri lagi, ”Kau serius?”

   ”Tanya padanya sendiri kalau dia sudah selesai pelatihan pertama dalam dua puluh hari! Aku bahkan belum sempat berkata apa-apa, dan dia sudah mendatangiku dan berpamitan. Dia ingin jadi biksu, Demi Tuhan!”

   Jongin berdecak sambil menghela napas, lalu kemudian ia mengulurkan tangannya dan menepuk-nepuk bahu Joonmyun, ”Tenang, Sobat. Masih banyak ikan di laut lepas…” hiburnya.

   ”Aku hanya mau Joohyun!” ujar Joonmyun gusar, tak menyadari bahwa ia terdengar seperti anak kecil.

   Jongin hanya terkekeh, ia tahu bagaimana besarnya perasaan Joonmyun kepada Joohyun. Bersahabat dengan putra tunggal pewaris perusahaan konstruksi besar Kim Corporation sejak kecil jelas membuatnya menjadi salah satu orang pertama yang mengetahui kisah cinta pertama pangeran dari Apgujeong yang satu ini. Tetapi, entahlah—karena sejak dulu Jongin pun tahu Bae Joohyun adalah seorang gadis yang unik. Seperti Joonmyun, dibesarkan dalam keluarga penganut agama yang kuat, Joohyun bukan tipe gadis seperti umumnya, ia sangat religius bagi ukuran anak di zaman modern. Maka sebenarnya, Jongin tidak terlalu heran akan hal ini—tapi ia tidak menyangka bahwa hal ini akan terjadi terlalu cepat juga.

   Bae Joohyun baru berusia enam belas tahun yang benar saja ia sudah memikirkan untuk menyerahkan hidupnya.

   ”Sobat, tidak baik kita terlalu fokus hanya pada satu orang wanita. Kau tahu maksudku?” Jongin menaik-naikkan alisnya, ”Wanita itu bak dua sisi mata pisau. Mereka bukan hanya bisa membuatnya senang tetapi mereka juga bisa membunuhmu. Sumpah, aku tidak mau sahabatku sendiri merasakan hal tersebut.”

   ”Uh! Katakan itu pada hatimu kalau kau jatuh cinta nanti, Kim Jongin!” geram Joonmyun, ingin sekali menghapuskan cengiran di wajah sahabatnya yang menyebalkan itu.

   ”Sori!” Jongin mengangkat kedua tangannya, menyerah. ”Aku berharap kalaupun aku jatuh cinta, aku tidak akan terlalu eh… dalam, karena sucks to be you, Bro.” Ujarnya terlalu jujur.

   Joonmyun memutar kedua matanya jengkel.

   ”Tapi tenang, Sobat. Setelah ini mata pelajaran Sejarah. Kau akan bosan setengah mati mendengarkan Guru Yoon menceritakan sejarah perang dingin, ditambah lagi kau tengah patah hati. Bagaimana kalau kita mencari udara segar?” bisik Jongin dengan kedua mata hitamnya berkilat-kilat jail.

   Biasanya, Kim Joonmyun akan menolak, bahkan mengancam akan melaporkan Jongin pada ayahnya, namun kali ini Joonmyun benar-benar membutuhkan penyegaran. Maka ia mengangguk dan Jongin melemparkan cengiran paling lebar sejagat raya.

*        *        *

”Aku benar-benar yakin kalau dia ingin membunuhmu!” Hana nyaris menggertakkan giginya. Tubuhnya yang ramping sebenarnya nyaris roboh ke lantai jika ia tidak ingat, gadis yang tengah ia papah kini jauh lebih tidak berdaya jika dibandingkan dengan dirinya sendiri. ”Bertahan sebentar lagi, Jaehee-ya…”

   Gadis bernama Jaehee, yang kini melingkarkan sebelah tangannya di bahu Hana, dan tangan Hana yang melengkung erat pada pinggulnya lah yang membuat gadis itu tetap terus berjalan ke samping halaman sekolah.

   ”Apa kau yakin kau tidak mau ke klinik saja?” tanya Hana dengan kening berkerut, khawatir.

Andwae… jebal, jangan bawa aku ke klinik, aku akan baik-baik saja setelah minum obat. Kau kan tahu kalau ini tidak boleh tersebar.” Sahut Jaehee lemah, kepalanya semakin berputar. Hana mendesah putus asa sambil terus berusaha membawa Jaehee ke tempat persembunyian mereka, jika sewaktu-waktu sahabatnya tersebut ’kumat’.

Hana menepuk-nepuk pinggang Jaehee pelan berusaha menguatkan gadis yang nampaknya akan segera pingsan itu, ”Bertahan sebentar lagi, Jaehee-ya, sedikit lagi kita sampai.” Hana mendorong pintu keluar sambil terus memapah sahabatnya tersebut, dan begitu keduanya sudah berada di sudut tempat yang sudah familiar, Hana mendudukkan Jaehee perlahan-lahan sambil memeriksa temperatur tubuh gadis itu. ”Omo… kau langsung demam. Ingat, jangan pernah sekali-kali memakan atau meminum sesuatu yang diberikan oleh gadis itu lagi, oke?!”

Jaehee hanya terkekeh meski sambil kesakitan, matanya masih terpejam dan ia menyandarkan kepalanya pada dinding di belakangnya.

”Kau yakin bisa kutinggal sendiri, sementara aku menunggu supirmu datang membawakan obat?”

”Aku akan baik-baik saja, Hana-ya.”

”Kau yakin? Sumpah, kali ini kau terlihat benar-benar parah.” Gumam Hana mencemaskan keadaan sahabatnya.

Sedikit demi sedikit Jaehee berusaha membuka kedua matanya dan tersenyum, ”Kalau kau tidak mengambil obatnya, aku bisa jauh lebih parah, Lee Hana.”

”Ish! Baiklah, aku turun… ini,” Hana merogoh saku rok lipit seragam Jaehee dan mengeluarkan ponsel Note 6 milik gadis itu dan menaruhnya tepat ditelapak tangan Jaehee. ”Kalau kau membutuhkan sesuatu, atau merasakan sesuatu jangan lupa, speed dial nomor satu! Aku akan turun, barangkali Joon sudah sampai membawakan obatmu.”

Jaehee hanya bisa menggerakkan tangannya mempersilakan Hana pergi. Dan dengan sekali tatap untuk memastikan—berharap bahwa sahabatnya akan baik-baik saja sementara ia pergi turun ke bawah dan mengambilkan obat, Hana menutup kembali pintu loteng lantai lima dan bergegas turun tanpa banyak buang waktu kembali, meninggalkan Jaehee yang berusaha mengabaikan rasa sakit yang menusuk-nusuk kepalanya, dan rasa mual yang meninju-ninju perutnya.

Jogi… gwe…gwenchanayo?”

 

*        *        *

”AH!”

   ”Kenapa?” tanya Joonmyun heran sambil mengangkat sebelah alisnya saat Jongin mendadak berhenti ketika mereka nyaris tiba di puncak tangga menuju tempat rahasia Jongin, dimana bocah itu biasa membolos kelas jika sedang malas.

   Jongin menepuk dahinya, “Aku lupa membeli minum. Kau tunggu di luar sana, aku akan kembali, segera…”

   ”Tidak perlu minuman,” geleng Joonmyun.

   Jongin juga menggeleng keras dan kini sudah melangkah menuruni anak-anak tangga itu kembali tanpa memalingkan wajahnya pada Joonmyun, ”Kau tunggu saja di luar, jangan kemana-mana!”

    Joonmyun hanya bisa menggelengkan kepalanya sebelum mendorong pintu teras lantai lima gedung sekolahnya tersebut. dan Joonmyun baru saja mau menghela napas dalam-dalam saat kedua matanya terpaku pada sosok gadis yang tengah meringkuk di dasar teras dengan kepala bersandar pada dinding balkon, napas gadis itu memburu. Satu hal yang masuk ke dalam kepala Joonmyun adalah gadis ini butuh pertolongan!

    ”Jogi… gwe…gwenchanayo?” tanya Joonmyun sambil berjongkok dan menyentuh bahu gadis itu perlahan, ”Agassi…” gadis itu pun memutar kepalanya perlahan-lahan dan kesan pertama yang Joonmyun tangkap adalah dua iris mata cokelat kelam yang sangat dalam. Wajah gadis itu pucat, dan ia menggigit bibirnya yang sudah nyaris membiru. Banyak sekali keringat di dahinya, sehingga rambutnya sekilas nampak basah. ”Gwenchanayo?!” seru Joonmyun sambil meletakkan punggung tangannya di dahi gadis itu yang berusaha tersenyum.

   Demi Tuhan, ter-se-nyum!

   ”Gwen…chana, aku hanya…” bisik gadis itu perlahan-lahan mencoba meyakinkan Joonmyun yang sudah setengah jalan hendak mengambil ponselnya, ”Aku…”

   ”Kau panas tinggi, kupanggilkan temanku… kau harus segera dibawa ke rumah sakit.” Kata Joonmyun sambil menahan bahu gadis di depannya ini perlahan dengan satu tangan, dan tangan lain berusaha meraih ponsel di dalam saku celana sekolahnya. ”Siapa namamu? Dari kelas berapa? Aku akan menghubungi…”

   ”Jangan! Jangan tidak usah…” gadis itu mencicit dan menggeleng, “Temanku…”

   ”Tapi, suhu tubuhmu panas sekali, aku bahkan bisa merasakannya meski hanya dari sini.” Sergah Joonmyun, kedua alisnya bertaut, tidak paham.

   ”Temanku… dalam per…jalanan… mengambilkanku… obat…” jawab gadis itu putus-putus, dan tetap berusaha tersenyum, meyakinkan Joonmyun. ”Aku… hanya… alergi biasa… tidak perlu dipikirkan…”

   Joonmyun menghela napas, ”Dimana temanmu? Siapa namanya?” Joonmyun hendak bangkit, ia tidak mungkin membiarkan gadis ini kesakitan dan tidak berbuat apa-apa, bukan? ”Biar kucarikan temanmu.”

   ”Tak perlu… dia akan kesini sebentar lagi…”

   Mengembuskan napasnya, Joonmyun mulai kesal. Bahkan gadis ini masih bisa bersikap keras kepala disaat-saat seperti ini, padahal kepalanya sudah mulai terkulai-kulai lemas dengan keringat sebesar-besar biji jagung.

   ”Biar kubawa ke ruang kesehatan, kau tidak bisa begini terus.” Joonmyun melepaskan blazer sekolahnya dan langsung diletakkannya untuk menutupi rok lipit seragam gadis yang masih berusaha menolak bantuannya tersebut. Gadis itu sudah terlalu lemah untuk melawan, dan benar saja dalam hitungan detik saja ia sudah kehilangan kesadaran.

   Untung saja pintu balkon pada saat yang bersamaan terbuka, menampilkan Jongin yang berwajah ceria sambil menggenggam dua buah kaleng minuman ringan, ia baru saja hendak menyapa Joonmyun saat kedua matanya membelalak melihat seorang gadis kini tengah meringkuk didalam gendongan sahabatnya.

   ”Apa yang kau lakukan padanya!?” tanya Jongin kaget.

   Joonmyun memutar matanya, ”Dia sudah disini saat aku sampai.” Jawab Joonmyun tak sabar sambil menggertakkan giginya, ”Bisakah kau bukakan pintu? Kita harus membawanya ke ruang kesehatan, badannya panas sekali…”

   ”Tapi…”

   ”Gadis. Ini. Sakit. Jongin!!!” Joonmyun mengeluh sambil berusaha membetulkan posisi gadis yang ia gendong, membuat kepala gadis itu terkulai lemah pada bahunya, dan kali ini Jongin kembali membelalak kaget.

   ”Astaga, apa kau tahu dia siapa?”

   ”Siapa peduli?! Yang penting sekarang bawa dia ke ruang kesehatan dulu, kau mau dia mati?!”

   Dan Jongin buru-buru membukakan pintu balkon sementara Joonmyun bergegas membawa gadis itu menuruni tangga secepat kakinya bisa membawanya, karena sejujurnya saja meski terlihat tidak gemuk, berat gadis ini lumayan juga. Beberapa kali Joonmyun harus membetulkan posisi gadis dalam gendongannya yang mulai menggigil, sementara Jongin membawanya melewati lorong-lorong kelas menuju ruang kesehatan.

   ”Saem, ada yang sakit.” Terengah-engah Jongin membuka pintu ruang kesehatan lebar-lebar hingga daun pintu tersebut menghantam dinding dan membuat guru jaga nyaris memarahinya. Namun melihat Joonmyun yang kepayahan, Guru Im buru-buru membuka tirai tempat tidur terdekat.

   ”Baringkan dia.” Titahnya.

   Joonmyun meletakkan tubuh gadis dalam gendongannya di tempat tidur, sementara Guru Im mulai memeriksa tekanan darah dan suhu tubuh gadis itu dengan menyibakkan rambut-rambut yang menutupi wajahnya.

   Mendadak Guru Im mendongak, memberikan Joonmyun tatapan heran dan terkejut. Jongin, yang berdiri disamping Joonmyun sedikit memekik juga, mengalihkan perhatian Joonmyun yang awalnya hendak bertanya mengapa gurunya justru menatapnya dengan aneh.

   ”Kau menemukannya dimana?” tanya Guru Im, memotong Joonmyun yang hendak bertanya pada Jongin.

   ”Di balkon lantai lima, Saem.” Sahut Joonmyun jujur.

   ”Dia demam tinggi,” bisik Guru Im sambil terus mengecek tekanan darah dan denyut nadi gadis yang masih belum sadar namun sudah mulai meracau. ”Tadi pagi dia masih baik-baik saja…” ia terus bergumam, kemudian melirik Joonmyun dengan tatapan aneh lagi, ”Apa kau mengenal gadis ini, Mr Kim?”

   Joonmyun menggeleng, kembali keheranan, ”Kenapa memangnya, Saem?” tanyanya ingin tahu.

   Guru Im tersenyum penuh arti, kemudian menggeleng. ”Sepertinya ia harus dibawa ke rumah sakit.” Gumamnya sambil menghela napas, ”Aku harus segera menghubungi keluarganya jika tidak…”

   ”Joonmyun-ah,” Jongin tiba-tiba menyikut Joonmyun, sambil berbisik, ”Sebaiknya kita segera pergi dari sini.”

   ”Kenapa?” Joonmyun balas berbisik, heran.

   ”Err… kujelaskan nanti, tapi lebih baik kita tidak usah menunggui gadis ini.”

   ”Tapi… kita yang menemukannya, Jongin.” Joonmyun melirik gadis yang masih meracau dalam keadaan tidak sadar. ”Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?”

   ”Tidak perlu terlibat lebih jauh… percayalah!” desak Jongin, Joonmyun mengernyit melihat sahabatnya mulai menggigit bibirnya. Memperhatikan mata Jongin bergerak, mulai dari gadis yang tengah berbaring, hingga ke Guru Im yang sudah di mejanya berusaha mencari-cari kontak keluarga si gadis. Joonmyun tidak mengerti dengan sikap sahabatnya ini. Bukankah sudah seharusnya mereka sebagai orang yang menemukan gadis ini kesakitan, yang harus bertanggung jawab dan menjelaskannya pada orangtuanya.

   Bagaimana kalau ternyata gadis ini sakau?

   Menggelengkan kepalanya, berusaha mengusir pikiran negatif, Joonmyun teringat bahwa sebelumnya Guru Im mengatakan gadis ini hanya demam namun cukup parah hingga ia menyarankan gadis ini untuk dibawa ke rumah sakit.

   BRAK.

   Pintu ruang kesehatan terbuka lagi, membuat Jongin dan Joonmyun menoleh pada saat yang bersamaan. Guru Im hampir ingin berdiri dan marah, namun sekali lagi tidak jadi, tatkala ia melihat gadis yang tersengal-sengal di tepi pintu. Guru Im justru kini menghela napas lega.

   ”Kudengar ia dibawa kesini.” Sengal gadis di pintu itu.

   ”Ne, kau bawa obatnya, Miss Lee?” tanya Guru Im langsung.

   ”Ne, Seonsaengnim.” Gadis yang tersengal itu buru-buru melewati Joonmyun dan Jongin begitu saja dan dengan cemas mulai meraba dahi gadis yang pastilah temannya karena ia terlihat begitu khawatir.

   Guru Im ikut mendekat dan membantu gadis yang baru datang ini untuk membuka sebuah tabung silinder berukuran cukup besar dengan cairan hijau cerah di dalamnya.

   ”Aku akan menegakkan kepalanya, kau langsung minumkan saja, Miss Lee.”

   ”Ne, Seonsaengnim.” Gadis yang dipanggil Miss Lee ini mulai membuka tabung obat dengan tangan gemetar namun tetap cekatan. Guru Im membantu membukakan mulut gadis yang masih tak sadar tersebut, dan Miss Lee meminumkan obatnya.

   Guru Im menghela napas lega saat ia merasakan bahwa napas gadis tersebut kembali teratur dan perlahan racauan gadis itu mulai menghilang. ”Tepat waktu, kukira ia sendirian di atas. Rupanya kau mengambilkannya obat…”

   ”Aku nyaris panik saat tidak menemukannya, Seonsaengnim.”

   ”Ia sudah tidak sadar saat dibawa kesini, biarkan dia dulu… mungkin satu jam lagi ia akan pulih,” gumam Guru Im, ”Dan kalian berdua,” mata Guru Im beralih pada Jongin dan Joonmyun yang masih terpaku di tempat masing-masing tak dapat berkata-kata melihat kejadian dramatis di hadapan mata mereka. ”Kalian boleh kembali ke kelas.”

   ”Kamsahamnida.” Miss Lee tadi berbalik dan membungkuk dalam-dalam, ”Terima kasih sudah…OMO!” kedua matanya melebar ngeri.

   Alis Joonmyun kembali bertaut melihat sikap Miss Lee yang begitu terkejut ketika melihatnya. Di sampingnya, Jongin menarik lengannya kuat-kuat, ”Kita sebaiknya pergi sekarang, Joonmyun. Gadis itu sudah ada yang menemani.”

   ”Oke.” Joonmyun menjawab ragu-ragu karena masih melihat ekspresi kaget dan bingung pada Miss Lee yang berdiri di samping tempat tidur si gadis yang tak sadar. ”Saem, kami permisi lebih dulu.”

   Guru Im mengangguk, tersenyum penuh arti. ”Terima kasih, Joonmyun.”

   Miss Lee kembali memekik, Jongin nyaris menggeram kesal dan justru mendorong Joonmyun untuk segera keluar dari dalam ruang kesehatan dengan tegang. Joonmyun mengikuti saja, meski terheran-heran dengan sikap Guru Im, Miss Lee barusan, dan Jongin tentunya.

   Sambil berjalan menyusuri koridor lantai satu, Jongin nampaknya masih menunjukkan tanda-tanda belum akan menjawab pertanyaan yang tak terkatakan oleh Joonmyun. Tapi, begitu mereka tiba di balkon lantai lima, dan Jongin sudah menutup pintu balkon baik-baik sambil memastikan tak ada siapa pun di sana, ia berbalik menghadapi Joonmyun.

   ”Kau tahu siapa gadis itu, Joonmyun-ah?”

   Joonmyun menggeleng dan mendesah dengan jengkel, ”Ada apa sebenarnya? Kenapa semua orang menanyakan hal seperti itu? Tadi Guru Im, Miss Lee, dan sekarang kau. Memangnya aku harus tahu siapa yang kutolong?” dengusnya kesal.

   ”Aku tahu kau hanya bermaksud menolong, tapi… hal itu bisa disalah artikan, khususnya jika kau yang melakukannya.”

   ”Apa maksudmu?” tanya Joonmyun tak sabar, tidak mengerti.

   Jongin mengerang dan meninju bahu Joonmyun pelan, ”Apa kau masih tidak mengerti? Keluarganya bisa cari masalah denganmu.” Melihat Joonmyun yang justru memiringkan kepalanya tak paham, Jongin menghela napas dalam-dalam. ”Sobat, gadis tadi yang kau tolong… adalah Oh Jaehee.”

*        *        *

”Aku dimana?”

   ”Ruang kesehatan,” Hana buru-buru berlari menghampiri sisi tempat tidur Jaehee saat mendengar gadis itu bicara. ”Bagaimana perasaanmu?” tanyanya khawatir.

   Jaehee hanya terkekeh, memegangi dahinya. ”Masih sedikit pusing. Tapi lebih baik, sudah tidak terlalu merasa melayang… omong-omong, bukankah tadi kau membawaku ke balkon lantai lima, Hana-ya?”

   Hana menghela napas, ”Untung saja aku menemukanmu sebelum Guru Im sempat menghubungi rumah. Kalau mereka tahu…”

   ”Aku baik-baik saja… tidak ada yang perlu dirisaukan,” Jaehee menggoyang-goyangkan tangannya, ”Jika tanpa obat aku hanya perlu satu hari untuk pulih, ini hanya alergi murahan, Hana-ya…” kekehnya dengan suara lemah.

   ”Tetap saja…”

   ”Mereka hanya sering berlebihan dengan alergiku ini, Hana-ya…” gumam Jaehee sambil memejamkan matanya. ”Omong-omong, kenapa kau akhirnya membawaku ke ruang kesehatan? Apa kau tahu Guru Im yang jaga makanya kau membawaku kesini?”

   Hana menggeleng, ”Salah satu alasan kenapa aku lega saat Guru Im belum menghubungi keluargamu… bukan aku yang membawamu ke ruang kesehatan, Jaehee-ya.” Bisiknya dengan nada khawatir. ”Mudah-mudahan tak ada yang melihat.”

   ”Lalu siapa?” Jaehee buru-buru membuka matanya, meski pandangannya masih berputar. Namun jantungnya sudah berdegup kencang dan dadanya terasa seperti diremas-remas, ketakutan mulai menyelimutinya. ”Siapa yang melihatku?”

   Hana menggigit bibir bawahnya, ”Kau benar-benar tidak ingat, Jaehee-ya, siapa yang membawamu?”

   Jaehee menggeleng, ”Kurasa aku sudah pingsan.” Jaehee balas menatap Hana dengan wajah cemas. ”Eottokhe… tidak ada yang boleh tahu soal alergiku. Keluargaku bisa…”

   ”Guru Im tidak menyebutnya, namun tetap saja… ini bisa berbahaya bagi statusmu dan keluargamu,” potong Hana serius. ”Jaehee-ya, yang membawamu kesini tadi adalah Kim Joonmyun.”

”Apa!?”

*        *        *

”Bagaimana mungkin kau tidak mengenali wajah rivalmu sendiri?” Jongin berbisik masih sambil mengekori Joonmyun melewati koridor kelas yang dipenuhi oleh murid-murid yang hendak pulang ke rumah.

   ”Aku tidak menganggapnya rival! Yang bersaing adalah kedua orangtua kami. Dan kurasa tidak perlu bagiku untuk memulai permusuhan,” gumam Joonmyun sambil berhenti di depan lokernya dan memutar kombinasi angka dengan jemarinya. ”Kau tahu aku tidak pernah nyaman membicarakan permusahan diantara keluarga kami.” Lanjutnya, getir.

   Jongin memandang berkeliling, mencoba memastikan tak ada yang akan mendengarkan kemudian berkata, ”Aku tahu… kau menolongnya karena mungkin dia terlihat begitu sekarat. Tapi, bagaimana kalau keluargamu tahu?”

   ”Menolong orang bukanlah dosa, kan?”

   ”Well, beda kalau The Kims menolong The Ohs?”

   Joonmyun memutar matanya, ”Sudahlah jangan dibahas lagi, anggap saja tidak pernah terjadi apa-apa, dan kita lupakan saja. Tidak akan terjadi masalah, kan?” bisik Joonmyun.

   ”Yeah, kau benar.” Jongin mengakui, ialah yang terus menerus membahas bahwa Joonmyun menolong gadis Oh itu, padahal Joonmyun memang hanya benar-benar berniat menolong saja. ”Tapi, apa kau tidak penasaran? Aku tidak pernah tahu kalau si Oh Jaehee itu ternyata bisa sakit seperti sakau begitu.”

   ”Guru Im bilang ia hanya alergi, Jongin.”

   Jongin berdecak, ”Dia seperti sakau.” Tidak percaya.

   ”Jongin, kau harus jaga bicaramu, kalau kau menuduhnya tidak berdasar, kau bisa kena masalah! Dia adalah keluarga Oh,” Joonmyun mengecilkan suaranya saat menyebutkan kalimat terakhir. Meski ia membenci perseteruan diantara kedua keluarga, ia juga tetap tidak ingin Jongin gegabah dan malah membuat permasalahan semakin runyam. Ayah Jongin dan Ayahnya adalah saudara jauh, jadi meski kurang bisa disebut saudara langsung, Joonmyun dan keluarganya tetap menganggap Jongin bagian dari klan Kim.

   Jongin mengabaikan peringatan Joonmyun dan terus saja berbicara, ”Aku yakin dia sebenarnya sakau, Joonmyun-ah.”

   ”Bukankah kalau sakau seharusnya menggigil hebat?” tanya Joonmyun sambil melirik ke sekeliling, ”Dan Jongin, sebaiknya kita hentikan diskusi ini.”

   ”Baiklah, baiklah…” Jongin menyerah dan meregangkan kedua tangannya ke kanan dan ke kiri, ”Tapi, Joonmyun-ah…”

   Dan Joonmyun hanya bisa memejamkan matanya erat-erat menghadapi sifat keras kepala Jongin ini.

   ”Pasti kau penasaran, gadis itu kenapa kan?”

   ”Sudahlah, bukan urusan kita.” Joonmyun menatapi isi loker-lokernya, mencoba mengingat buku apa yang sekiranya ia perlukan untuk belajar nanti malam, tanpa menyadari bahwa tangan iseng Jongin mengambil foto Bae Joohyun yang pria itu tempelkan di balik pintu lokernya. Joonmyun menghela napas sambil memasukkan dua buah buku ke dalam tasnya dan menutup pintu lokernya lagi.

   Tanpa menyadari foto yang biasanya selalu ia pandang setiap ia membuka dan menutup lokernya, sudah raib.

   Terkesan, Jongin menyenggol lengan sahabatnya itu, ”Kita jadi minum dulu? Kau janji akan mengajariku Matematika.”

   Joonmyun melirik jam tangannya, ”Oke,” ia mengangguk setuju.

   Takjub lagi, Jongin berdeham berusaha menunjukkan bahwa tangannya kini tengah memegang selembar gambar seorang Bae Joohyun yang Joonmyun cintai, meski tidak ingin terlalu kentara juga. ”Baiklah, kau tunggu di kafe saja, aku harus mencari beberapa bahan untuk ujian bahasa Korea juga.”

   ”Baiklah, jangan lama-lama,” pesan Joonmyun sambil berlalu.

   Jongin hanya bisa menyunggingkan senyum atau lebih ke arah menyeringai, karena halo? Kim Joonmyun tidak menyadari foto kesayangan Bae Joohyun miliknya diambil begitu saja? Jongin terkekeh dan segera pergi dari sana.

*        *        *

Hana datang dengan membawa nampan bulat berisi dua buah minuman, satu minuman diletakkannya di hadapan Jaehee yang langsung diraihnya dan diminumnya banyak-banyak. Lalu menghembuskan napas lega.

   ”Kau tidak boleh menerima apa pun lagi dari gadis itu, arachi?” tanya Hana sambil bersedekap, sudah berulangkali ia mengingatkan sahabatnya mengenai perangai Park Sooyoung, tapi memang sahabatnya ini terkadang bisa disebut sebagai wanita terbodoh sepanjang zaman karena selalu dan selalu mempercayai orang yang ingin membunuhnya.

   ”Tapi kurasa Sooyoung tidak bermaksud membunuhku,”

   Lihat? Bahkan ia masih membela si Sooyoung itu. Hana menggeram dan duduk di hadapan Jaehee. ”Apanya yang tidak ingin membunuh? Kau kira sudah berapa kali kau pingsan karena makanan dan minuman pemberian Park Sooyoung, ha?”

   ”Hana, Sooyoung tidak tahu kalau aku ternyata tidak bisa minum atau makan hazelnut atau almond atau semua produk Oh Diary.” Jaehee menghela napas sebal sendiri terhadap penyakit memalukannya, ”Kurasa Sooyoung hanya mengira sebagai putri keluarga Oh, aku bisa memakan semua produk tersebut, makanya ia sering membuatkanku makanan atau minuman.”

   Hana menggelengkan kepalanya, ”Bukankah ia terlalu mencurigakan? Ia selalu penasaran kenapa kau tidak pernah ada dikelas setiap kali kau memakan masakannya!”

   ”Ya tentu saja ia penasaran,” Jaehee kembali menyesap mixberry yoghurt-nya dan menghela napas dalam-dalam, ”Kalau sampai tersebar jika putri satu-satunya keluarga Oh bereaksi buruk dengan seluruh produk keluaran keluarga Oh, bisa habis perusahaan keluargaku.” Gumamnya sedih.

   ”Dan kau malah pingsan ditangan Kim Joonmyun, bagus sekali.” Dengus Hana, ”Bagaimana jika ia tahu dan memberitahukan soal ini? Kau dan keluargamu bisa dijatuhkan,”

   Kali ini Jaehee hanya bisa diam. Tentu saja itu ketakutannya yang paling besar. Bagaimana jika orang tahu? Terlebih lagi, sekarang bagaimana jika Kim Joonmyun itu tahu?

   ”Sudahlah, yang penting sekarang kau sudah baik-baik saja. Ingat untuk tidak menerima apa pun dari Park Sooyoung, karena bisa jadi Kim Joonmyun itu mencurigaimu.”

   ”Iya, iya…”

   ”Kau tunggu disini, aku harus kembali dan mengambil hasil fotokopi. Jangan kemana-mana, Oh Jaehee!” pesan Hana layaknya memberitahu ponakannya yang berusia lima tahun. Jaehee hanya mengangguk-angguk. Ia menuruti saja apa yang Hana perintahkan, karena biar bagaimana pun juga gadis itu sangat peduli kepadanya. Menyesap mixberry yoghurt-nya, Jaehee merasakan perutnya memberi sinyal-sinyal minta diisi. Tentu saja ia tidak sempat makan banyak, karena terlanjur memuntahkan segalanya berkat masakan Park Sooyoung tadi. Maka, Jaehee beranjak dari kursinya dan menuju etalase kafe yang memajang pastry dengan perut yang rasanya semakin menggila.

   ”Aku makan di rumah saja, disini lebih baik hanya makan ringan…” gumam Jaehee menelusuri kaca etalase dengan jemarinya, ”Bagel kelihatan enak, tapi perut kosong jika langsung diberi krim asam akan…”

   Yijung Oppa, salah seorang waiter di kafe ini—yang sudah terbiasa dengan tingkah polah Jaehee, yang memang merupakan pelanggan tetap bersama Hana di kafe ini, hanya bisa menunggu dengan sabar. Jaehee memang akan memakan waktu lima sampai sepuluh menit untuk memutuskan makanan apa yang hendak ia santap.

   ”Eh, Jaehee-ya, mungkin sebaiknya kau bergeser terlebih dahulu jika masih belum bisa memutuskan mau makan apa.” Saran Yijung Oppa.

   Jaehee mendongak, dan Yijung Oppa memberi pandangan penuh arti, tepat pada seseorang yang pastinya kini berdiri di belakang Jaehee. Jaehee menoleh, dan mendapati seorang lelaki, berseragam sama sepertinya, tersenyum tidak enak.

   ”Ah, maaf…” Jaehee buru-buru bergeser sedikit jauh dari konter, dan mempersilakan pria itu untuk maju.

   ”Gwenchanayo, sebenarnya… aku juga tidak tahu mau pesan apa.”

   Yijung Oppa terkekeh geli, apalagi lelaki yang terlihat bingung itu juga tersenyum tidak enak. Sesekali melirik Jaehee yang masih tak kunjung membuat keputusan saat melihat-lihat deretan makanan.

   ”Manis atau gurih…” Jaehee menggumam.

   Yijung Oppa memutar kedua matanya geli, senyum maklum tersungging di bibirnya. ”Pada akhirnya kau akan makan bagel dengan krim asam, Oh Jaehee.”

   ”Ah kau benar, Oppa.” Keluh Jaehee. ”Sudahlah itu saja.”

   ”Arasseo.” Yijung Oppa tertawa dan pergi untuk menyiapkan pesanan, sementara Jaehee meraih ranselnya untuk menarik keluar dompetnya.

   Lelaki yang berdiri di depan konter itu berdeham, membuat Jaehee mendongak, ia tersenyum ragu-ragu. ”Kalau aku boleh tahu…apa benar, bagel dan krim asamnya enak?” tanyanya dengan suara rendah, tidak ingin para pelayan kafe itu mendengar tentunya.

   ”Eung,” Jaehee mengangguk, ”Itu makanan favoritku disini. Kau belum pernah kesini?”

   Pria itu menggeleng, terkekeh. ”Sama sekali belum.”

   ”Meskipun kafe ini ada disamping sekolah? Daebak,” gumam Jaehee takjub. ”Tapi kalau kau tidak suka krim asam, kue-kue disini juga enak… kalau sarapan, mereka biasa menyediakan sandwich.”

   ”Ah jinjja?” pria itu nampak tertarik, ”Berarti menurutmu makanan disini tergolong enak?”

   ”Enak dan murah,” kekeh Jaehee sambil mengibaskan rambutnya, membuat pria dengan dua mata cokelat ini tersenyum.

   Bunyi gemerincing dari hiasan pintu yang dipasang oleh kafe kembali berbunyi, menandakan ada tamu lagi yang masuk. Pada saat yang sama Yijung Oppa datang dengan sepiring bagel dan mangkuk kecil berisi krim asam.

   ”Gomawo, Oppa… oh iya Oppa, dia juga mau bagel dan krim asam.”

   ”Terima kasih,” ujar si pria sambil terkekeh.

   ”OH JAEHEE!!!”

   Untung saja, refleks di tangan Jaehee saat itu sedang berfungsi, jika tidak mungkin piring berisi bagel dan krim asam itu akan meluncur mulus bertemu gaya gravitasi bumi. Jaehee buru-buru menoleh dan mendapati, sahabat karibnya tengah melotot dan tersengal. Baru saja mulutnya mau terbuka dan bertanya, Hana sudah mendekatinya dan meraih piring bagel di tangan Jaehee dan menyerahkannya pada pria yang berdiri disamping Jaehee dengan paksa.

   Uh, sepertinya perut pria itu kini memar karena kekuatan tangan Hana.

   ”Kita pulang! Sekarang!” Hana buru-buru menarik pergelangan tangan Jaehee, dan benar-benar menyeret gadis itu.

   ”Eh, tunggu dulu… Hana-ya, Hana-ya…” Jaehee menoleh ke arah piring berisi bagel-nya, pada Yijung Oppa yang masih menunggu pembayaran dan pada pria yang kini tengah memegang piringnya. ”Lee Hana!”

   ”Pokoknya kita pulang!!!” sebelum Jaehee bisa protes lagi, Hana sudah menyeretnya keluar. Hal terakhir yang Jaehee ingat, Hana melempar pandangan tajam pada pria yang kini tengah memegang piring bagel-nya.

   ”Ah kau ini apa-apaan? Kau yang menyuruhku tunggu dulu di kafe, kenapa sekarang kau menyeretku keluar?! Memang apa yang kulakukan?” omel Jaehee pada Hana yang malah bersedekap, menghentak-hentakkan sepatunya di jalan setapak di depan kafe.

   ”Kau tidak tahu kenapa aku menyeretmu?”

   ”Tentu tidak!”

   ”Kau ini memang senang cari masalah!”

   ”Tapi di bagel itu tidak ada kandungan hazelnut dan teman-temannya, Lee Hana!” Bisik Jaehee meski dengan nada yang sama tajamnya, masih tidak mengerti dengan apa yang menjadi masalah soal dia membeli bagel.

   Hana mendengus, ganti berkacak pinggang. ”Bukan itu!!! Kenapa kau bicara padanya?”

   ”Pada siapa?”

   ”Pria itu!!!”

   ”Yijung Oppa yang menjadi pelayan konter hari ini, Hana! Mana mungkin aku tidak bicara padanya… ?”

   Hana menggeram. Gadis yang sebenarnya cantik itu kini malah lebih mirip mobil balap, ”Bukan dia! Tapi laki-laki di dalam itu!”

   ”Memang kenapa? Dia tidak tahu harus makan apa di kafe, dan dia bertanya padaku menu apa yang sebaiknya ia makan…”

   ”ASTAGA, Oh Jaehee… dia itu Kim Joonmyun!!!”

   “MWO?!”

-PART I-

Hai~~~

Aku terhura baca komen-komen yang kangen sama cerita Joonmyun – Jaehee, makasih banyak yaa huhuhu. Beberapa bulan ini, hidup lagi roller coaster banget sampe hilang selera nulis >< Terima kasih untuk yang masih inget, masih mau baca dan di part ini masih mau kasih komentar. Ide ini jatuh begitu aja di dalam kepala, dan aku ngerasa sayang kalo dianggurin. 

FF ini terinspirasi dari karya William Shakespeare yang tersohor, Romeo & Juliet. Mudah-mudahan semua suka yaaa… bocoran, karena aku udah absen lama banget publish FF, aku gak mau kayak kemaren lagi, jadi aku siapin 3 part dulu sebelum publish part 1. Kalauuuuuu respon bagus, bisa dicepetin deh publish part selanjutnya hehehehe… sampai jumpa

XoXO

Neez

152 responses to “ALL I ASK [PART I] — by Neez

  1. hwaaaaaaa😂demi apa? ini kereeeen bgt ☺ gue suka sama karakter2 para tokohnya. gaya bahasanya juga selain mudah dimengerti… menurut gue ini berkelas banget #plakk elaahh gue ngomong apaan siih 😆😆😆😆

  2. Lucu sih ceritanyaaa..
    Jadi keluarga mereka itu musuh ???
    Tapi joonmyun dan jaehee gak tau satu sama lain ?
    Haha

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s