[FREELANCE] PERFECTIONIS CHAPTER 6

04624f208bbdaa4287c3d088969d3f5c

Author :

Jung Ji Hyoen

 

Main Cast :

  • Kim Rei Na / Lusia Kim
  • Oh Sehun
  • Xi Luhan
  • Lee Mi Na or Ny. Kim (Rei oemma)
  • Kim Jin Pyo / Hans Kim or Tn. Kim (Rei Appa)
  • And other support cast

 

Genre : romance, complicated, family, marriage life (Little)

 

Ranting : 15+

 

Disclaimer : : Fanfiction ini murni dari otak kanan saya, Luhan dan Sehun punya SM dan Tuhan, dan OC milik saya. Jangan lupa baca author note dibawah ya. Don’t be plagiator! Don’t Basing! Happy Reading Hyoenie, CHUU ~

 

 

Perfectionis

 

Harusnya aku tahu ini akan terjadi, kenapa wanita itu harus ikut makan siang dengan kami. Sebenarnya siapa wanita ini?

 

“Lusia, kau tidak memakannya?”

 

“Ne?” Aku sedikit tersentak mendengar suara oemmonim memanggilku.

 

“Apa kau tidak suka dengan makanannya?”

 

“Anyo oemmonim, aku suka. Hanya saja aku punya sedikit alergi terhadap seafood. Maafkan aku.” Aku memandangnya yang duduk bersebrangan denganku sambil tersenyum manis.

 

“Kenapa kau tidak bilang, apa aku perlu mengganti semua menunya?”

 

“Anyo oemmonim.” Jawabku cepat, “Aku suka saladnya.” Aku tersenyum penuh arti pada Ny. Oh

 

Lalu aku melihat perhatian Ny. Oh beralih pada seorang gadis yang sedang duduk disebelahnya.

 

“Oh ya, kau harus memberi salam pada calon istri Sehun.” Aku masih memperhatikannya dengan setelah dress hitam dan kuning yang tampak pas ditubuh rampinya ditambah dengan mata hazel yang membuatku tak bisa mengalihkan perhatianku darinya.

 

“Aku bertanya – tanya siapa wanita cantik ini, ternyata sudah akan menikah dengan Sehun. Sepertinya aku kalah cepat oemmonim.” Aku mendelik ke arah gadis itu, berani sekali berbicara seperti itu di depanku. Oemmonim ikut tertawa mendengar lelucon yang lebih mirip sindiran itu. Sedangkan Sehun? ah, lupakan saja. Dia hanya diam dan tetap makan dengan tenang.

 

“Lusia saat ini sangat populer karena telah merajai fashion di Korea satu tahun belakangan ini. Bagaimana kau bisa tidak tahu.”

 

“Seperti yang oemmoenim tahu, aku masih berada di jepang 2 tahun terakhir. Oh ya, Namaku Lee Jun He. Panggil saja Jun He.” Dia tersenyum padaku dan aku juga membalasnya dengan senyum yang tak kalah manis darinya.

 

“Namaku Kim Rei Na, kau bisa memanggilku Rei. Hanya keluargaku yang memanggilku dengan Lusia.” Tuturku lembut.

 

“Berapa umurmu?”

 

“21 Tahun.”

 

“Wah, dia hebat oemmonim. Aku saja baru memiliki perusahaan ketika umurku 23 dan baru mengembangkan pasar internasional akhir – akhir ini. Pantas saja Sehun jatuh cinta padamu, dia pasti menyukai gadis pintar dan pekerja keras sepertimu.” Junhe mengarahkan matanya pada Sehun. Sehun membalas ucapan itu dengan mata yang mulai memerah.

 

“Anyo eonnie, itu terlalu berlebihan.” Tukasku merendah. Dia memang seorang wanita yang mungkin cukup menarik, tapi caranya berbicara membuat siapa saja ingin menamparnya detik itu juga.

 

Ketika Junhe dan oemmonim asik bercengkrama, Sehun tiba – tiba saja berdiri mulai menatap tajam gadis itu dan juga oemmonim “Kami harus pergi oemmoni.” lalu menggenggam tanganku dan menarikku kasar.

 

“Cesungeo oemmonim.” Dengan keadaan terdesak aku menyempatkan membungkuk dan meminta maaf atas apa yang baru saja Sehun lakukan.

 

Aku mengikuti langkahnya menuju mobilnya yang sangat ku sukai itu dan melaju kencang membelah keramaian jalanan Seoul.

 

“Ada apa denganmu sebenarnya?” tanyaku sambil menatapnya bingung. Dia tidak menghiraukanku dan hanya fokus pada jalanan di depannya.

 

Lebih dari itu aku benci tidak dihiraukan. Aku masih memperhatikannya sedangkan dia mempercepat lajunya di jalanan yang mulai sepi. Hebatnya aku sudah tak tahu berada dimana saat ini. “Kau pasti gila Oh Sehun, mau kemana kita?”

 

“Bisakah kau diam!” aku cukup terkejut mendengarnya menggertak padaku. Tapi aku bukanlah seseorang yang hanya diam saja jika seseorang meneriakiku. Aku bukanlah wanita yang diam saja ketika seseorang merendahkanku. Bukan, aku bukan wanita seperti itu.

 

“Hah! Kau mengacuhkanku dan sekarang meninggikan suaramu, kau benar – benar sesuatu Sehun-ssi.”

 

Sehun tampak semakin gusar mendengarku menjawab setiap ucapannya. Tanganya memegang kemudi begitu kuat, hingga buku – buku jarinya memutih. Rahangnya juga mulai mengeras, entah apa yang akan di lakukan selanjutnya melihat ekspresinya yang bertahap berubah memucat.

 

Tiba – tiba saja dia menepikan mobilnya dan mengusap wajahnya. “Kumohon, aku mohon padamu. Jangan berdebat di dalam mobil.” Rei sangat terkejut mendengar Sehun yang berucap begitu lembut padanya dengan mimik memelas dan mata memerah. Meskipun begitu masih terlihat nada – nada gusar dalam ucapannya.

 

Aku yang melihat hal itupun jadi ikut merasa bersalah, entahlah. Aku belum pernah menyadari dia memilki sisi seperti ini di depanku. Itu membuatku sedikit berfikir hal – hal positive tentangnya.

 

Beberapa saat kemudian rasa aneh itu muncul, entah untuk yang keberapa kali dibulan ini. Aku memegangi sabuk pengamanku erat dan memalingkan pandanganku darinya.

 

Tiba – tiba saja aku menjadi merasa gelisah ketika Sehun menatapku dengan tajam seperti itu. Tanganku mulai gemetar dan jantungku berdebar begitu cepat. Rasa khawatir begitu dalam itu menghantauiku, obsessi untuk menjadi sempurna itu membuat kepalaku pusing .

 

Aku mulai sangat panik ketika Sehun tak kunjung melajukan mobilnya, kemudian ingatanku tentang ke gagalan mengingat sesuatu saat aku jatuh dari tangga itu muncul kembali. Menghantui setiap detikku ketika aku takut sekali gagal di mata kuliah apapun.

 

Entahlah, tiba – tiba saja persaan itu muncul lagi. Semuanya kembali berputar di kepalaku seperti proyektor yang terus saja menayangkan film yang sama.

 

“Rei, Rei! kau kenapa? Reina! Sadarkan dirimu. Kim Rei Na!” Sehun mencekal tanganku kuat, dia menepuk – nepuk pipiku pelan dan mengecek denyut nadiku.

 

“Ku-kumohon jalan-kan mobilnya.” Ucapku dengan susah payah, karena keringat dingin yang mulai memenuhi keningku.

 

Sehun lalu menuruti keinginanku dan melajukan mobilnya perlahan. Aku yang mengetahui hal itu mencari botol kecil berisi puluhan pil berwarna putih dan mengambil salah satunya lalu menelanya bulat – bulat.

 

“Apa sudah membaik? Kau tidak apa – apa?” Tanya Sehun dengan nada yang menurutku seperti orang khawatir.

 

“Oeh, cepat aku ingin kembali ke kantor.” Ucapku sambil tetap memejamkan mata. Takut jika rasa gelisahku tetap menghantui jika aku membuka mata.

 

Aku sudah tak bisa merasakan apa – apa lagi, yang aku ingat Sehun mengemudikan mobilnya semakin kencang.

 

***

 

Author POV

 

“Dimana kita? Kita harus pulang Sehun. Kumohon!” Rei memegangi lengan Sehun sambil menangis. Entahlah, Rei merasa benar – benar tak nyaman saat ini. Takut jika Sehun tahu penyakit dalamnya yang semakin parah.

 

Takut ketika semuanya terungkap tak akan ada lagi Rei sang perfectionis dan dia harus membangun imagenya lagi. Kembali menjadi gadis polos yang hanya mengerti tentang teori – teori membosankan dari buku tebal berdebu di perpustakaan. Tidak! Rei tak ingin hal itu terjadi. Selama ini dia sudah cukup baik menyembunyikan penyakitnya, kenapa harus runtuh di depan seorang Oh Sehun?

 

Rei terus meyakinkan dirinya bahwa dia bisa melalui ini semua. Tanpa celah sedikitpun. Indeed a perfectionis.

 

“Kau akan mati kedinginan di luar sini.” Ucap Sehun acuh sambil menaiki tangga di sebuah vila luas yang sedikit terpencil. Rei tidak begitu tau pasti tempat apa ini. Yang ia tahu, ia jauh dari Seoul saat ini.

 

Rei mengikuti Sehun dengan masih mencekal lengan Sehun kuat, dan masih dengan meneteskan air matanya. Sehun begitu risih dengan apa yang di lakukan Rei. Tujuannya ke vila ini adalah untuk menenangkan diri dari hal yang tak ingin dilihatnya siang tadi. Tapi dia malah terjebak dengan Rei yang begitu ingin kembali ke rumah.

 

“Kita harus bicara Rei.” Ucap Sehun ketika mereka sudah sampai di ruang yang luas dan sebuah meja kayu klasik di tengahnya.

 

Sehun melepas cengkraman Rei di lenganya dan menatap gadis itu tajam.

 

“Kau benar – benar harus di periksa Rei.” Ucap Sehun kemudian. Rei kembali menangis mendengar ucapan Sehun.

 

“Kumohon jangan katakan apapun, aku hanya ingin kembali ke rumah. Aku tak bisa di sini, ini benar – benar menggaguku.” Ucapnya sambil menangis semakin histeris.

 

“Kau kenapa Rei. Tenanglah, kumohon sadarkan dirimu.” Sehun mencengkram kuat tangan Rei yang gemetar.

 

“Sehun-ah, Oh Sehun.”

 

“Oeh, aku disini. Katakan apa yang kau butuhkan?”

 

“Ini benar – benar menyiksa…” Rei kemudian duduk meringkuk di bawah sofa, Sehun ikut duduk bersimpuh dengan masih setia menggengam tangan Rei.

 

Sehun yang tidak tahan melihat Rei menangis sambil merancau gelisah itu akhirnya memeluk Rei kuat. Rei meronta ingin dilepaskan. Dia tidak suka ada yang menyentuh tubuhnya. Dia hanya ingin sendiri ketika OCDnya kambuh.

 

Sehun tetap saja kukuh memeluk Rei hingga gadis itu mulai tenang dalam pelukan Sehun. Rei ingin terus mengelak tapi dia lelah, lelah dengan apapun yang terjadi hari ini. Tapi Rei tak bisa menyangkal bahwa pelukan Sehun benar – benar menangkan. Ini terasa familiar bagi Rei, tapi dia tak mengingatnya.

 

“Aku disini Rei. Kumohon, sadarkan dirimu.” Sehun mengusap lembut punggung Rei mencoba menenangkan.

 

Rei mulai tenang dari rancauannya, dan mulai membuka matanya perlahan.

 

“Kau harus istirahat, langit mulai turun.” Tangan Sehun terulur untuk membantu Rei berdiri, sedikit menitah Rei menuju kamar yang berada di ujung koridor ruangan dengan bahan utama kayu ini. Membuat suasana nyaman seperti benar – benar berada di rumah.

 

Rei meraih tangan Sehun ketika pria itu akan meninggalkan kamar bernuansa kayu itu. “Oh Sehun-ssi, apa kau mempunyai semacam baju ganti?” tanyanya kikkuk.

 

“Sepertinya aku tak mempunyai baju perempuan disini, dan aku tak meninggalkan banyak pakaian.” Sehun berjalan kearah laci besar di sebelah kanan ruangan dan memeriksa satu per satu isinya.

 

“Apa pinggangmu muat memakai celana ini?” Sehun melemparkan sebuah celana olahraga berwarna abu – abu ke tempat tidur, yang menurut Rei akan melorot ketika dia memakainya, bahkan pakaian itu tidak akan mengenai pinggulnya yang kecil itu.

 

“Tidak ada yang lebih kecil lagi?”

 

“Hanya dua buah kemeja putih? Kau bisa memakainya, biasanya yoeja suka memakai kemeja pria bukan. Dan aku tak bisa membayangkan adegan selanjutnya…” Sehun mulai mengeluarkan senyum miringnya.

 

Rei yang tahu arah pembicaraan itu hanya bisa memalingkan wajah. “Aku akan memakainya, jadi bisakah kau keluar.” Ucap Rei kemudian.

 

“Aku sangat menantikannya Nona Kim.” Rei sekuat tenaga menahan hasrat membunuhnya saat Sehun kembali menggodanya.

 

Baru saja beberapa menit yang lalu pria itu sangat dewasa dengan menolongnya menenangkan diri, tapi kini pria itu kembali berubah menjadi ahjussi mesum.

 

Tak terbayangkan jika nanti kedua mahkluk itu hidup bersama.

 

***

 

Rei Lu industry , 07.49 p.m

 

Luhan kembali ke meja kerjanya, dengan setumpuk berkas yang harus di serahkan kepada Direktur Utama perusahaan. Kim Rei Na.

 

Luhan kembali memutar kejadian beberapa saat yang lalu ketika semua memandang iri pada dua mahkluk sempurna yang sebentar lagi akan di persatukan dalam ikatan pernikahan itu.

 

Begitu memalukan bagi Luhan untuk mengakui semua perasaan itu. Pria itu merasa kurang dari segi manapun. Dia mencoba menyakinkah dirinya bahwa semuanya akan baik – baik saja. Luhan yakin bahwa perasaannya akan hilang seiring bergulirnya waktu.

 

Tapi untuk saat ini, berat rasanya bagi Luhan merelakan sesuatu itu. Sesuatu yang mungkin Luhan sudah simpan sejak lama. Jauh sebelum Rei mengenal Sehun.

 

Sedang kalutnya, tanpa sadar Luhan membuka laci paling bawah di meja kerjanya. Terdapat bingkai warna hitam polos dengan gambar Rei bersamanya ketika hari kelulusan Luhan. Wajah Rei masih sama seperti beberapa tahun yang lalu. Masih lucu dan polos, sangat menghibur ketika harus memandanginya terus menerus.

 

Tiba – tiba saja Luhan tersadar akan senyuman itu, hari itu pertama kalinya dia memandang Rei sebagai seorang wanita. Seorang wanita yang dicintainya.

 

Ya, Luhan menyukai Rei. Sejak tahun pertama Rei menginjakkan kaki di Universitasnya. Dan rasa itu masih sama. Tak berubah barang sedikitpun.

 

***

 

Sehun’s Villa 08.13 p.m

 

Untuk pertama kalinya Rei pergi jauh dari rumah bersama seorang laki – laki yang belum benar – benar dia kenal baik. Dan menginap berdua di suatu tempat yang Rei tak begitu yakin apa namanya.

 

“Aku tidak menaruh apapun dimakanan itu, jadi makan saja.” Sehun menatap cara makan Rei yang hanya membola balikkan makanan di depannya. Begitu penasaran apa yang akan terjadi jika dia memakannya.

 

“Aku takut ada sesuatu yang tak bisa ku makan ada di dalam makanan ini.” Rei terus saja meniliti setiap inci bumbu dan bahan makanan yang telah siap dia makan itu. Membuat Sehun begitu kesal hanya dengan melihat Rei melakukannya.

 

“Kenapa kau begitu pemilih sekali, berikan padaku!” Rei hanya diam saja ketika makanannya diambil secara paksa oleh Sehun. Entah apa yang Rei fikirkan saat ini, tapi masih ada perasaan gelisah di dalam sana yang begitu mengganggunya. Takut, jika sesuatu yang parah akan muncul secara tiba – tiba di depan Sehun.

 

Rei hanya mencengkram ujung kemeja putih milih Sehun ketika melihat Sehun makan dengan sangat lahap tanpa memperdulikan Rei.

 

Rei yang di kenal begitu ketus dan penindas hanya bisa terdiam di meja makan tanpa tahu harus berbuat apa. Lapar, tentu saja. Tapi apa yang bisa dia makan. Tubuhnya begitu sensitive dengan makan – makana asing.

 

“Kau benar – benar akan terus seperti ini?! Ha!” Tiba – tiba saja Sehun menyentak Rei, sontak Rei menatap Sehun takut. Rei begitu kesal saat ini, tapi dia tak sanggup mengekspresikannya. Rasa gelisah begitu mendominasi saat ini.

 

Sehun mulai mengamati mimik wajah Rei yang memucat. “Kenapa kau tidak mau makan? Tidak ada seafood sedikitpun disini.” Lirih Sehun.

 

Rei mengambil beberapa telur gulung dan salad sayur yang Sehun buatkan untuknya. Lalu dia memasukan tomat cherry kedalam mulutnya.

 

Sehun hanya menghembuskan nafasnya kasar ketika melihat Rei akhirnya makan, meskipun dengan sangat lambat.

 

“Rei, kenapa kau tidak mau jujur padaku.” Rei seketika mengentikan kegiatannya.

 

“Aku bukanlah namja seperti yang kau bayankan sebelumnya Rei, aku akan mengerti keadaanmu, aku akan menerima semua kekuranganku. Kau juga tahu jika tidak ada manusia yang sempurna.” Rei menatap tajam Sehun sambil mencengkram sendok yang berada di tangannya kuat – kuat hingga buku – bukunya memutih.

 

“Kesan pertama tidak pernah salah bukan?”

 

“Itu bukan pertemuan pertama kita, bukan juga kesan pertama untukmu.” Sehun tak ingin kalah dengan memandang tajam tepat di mata hitam Rei.

 

“Apa maksutmu?” Rei mulai kehilangan akalnya.

 

“Kau akan segera tahu.”

 

“Jadi apa maksut dari semua ucapanmu tadi Oh Sehun-ssi.”

 

“Kau tak akan mengingatnya dan juga, kau lebih baik jujur padaku.”

 

“Lalu apa yang akan kau lakukan jika aku memberitahumu!” ucap Rei dengan penekanan di setiap katanya.

 

“Rei kau tidak perlu seperti itu aku-“

 

“Huh!” Rei tertawa meremeh. “Jadi kau menyeledikiku. Hebat sekali kau Oh Sehun. Selama ini belum ada yang behasil mengetahuinya.” Rei menyandarkan tubuhnya ke sandaran kursi sambil masih tersenyum remeh menanggapi Sehun yang ternyata diam – diam mengorek info tentang kehidupan pribadi Rei.

 

“Jika aku memberitahumu…” ucap Rei menggantung. Lalu menatap tajam mata Sehun.

 

“Kau akan memperlakukanku berbeda dan mengasihaniku. Itu yang akan terjadi jika aku mengatakannya padamu.” Rei membanting sendoknya di atas meja sambil menatap Sehun dengan mata memerah.

 

“Dengarkan aku Rei! Aku bukan laki – laki seperti itu. Aku tetap akan melanjutkan perjodohan ini, aku akan membantumu agar bisa sembuh.”

 

“Tentu saja kau akan tetap menikahiku, kau butuh Sekang untuk perluasan wilayahmu. Benarkan!”

 

“Rei bukan seperti itu!”

 

“Kesan pertama tak pernah salah Tuan Oh.”

 

“Rei, kumohon dengarkan aku. OCD (Obsesif compulsive disorder) bukanlah gangguan biasa, kau perlu penanganan ahli.”

 

“Cukup Oh Sehun!” Rei berdiri dari kursinya. “Aku bisa mengatasinya sendiri, kau tak perlu ikut campur.” Rei pergi meninggalkan Sehun berjalan di ujung koridor untuk pergi ke kamarnya.

 

Sehun hanya mampu memandang punggung Rei yang semakin menjauh. Entahlah, Sehun bingung harus bagaimana. Sehun benci mengakuinya, bahwa dia peduli pada Rei. “Bagaimana seharusnya aku?” Sehun mengusap wajahnya gusar.

 

 

To be continue…

 

Yah maafkan aku ini semkain pendek aja, bukan karena aku kehabisan juga sih. Cuman pengen bikin kalian penasaran aja. Hehe ^^

Gimana seru gak sih ff.nya? kok respon kalian mengecewakan ya. Please, jangan jadi silent readers dong. Aku sebagai author kan juga butuh support dari kalian hiks hikss..

Dan makasih banyak ya buat kalian yang sudah nyempetn baca dan meninggalkan jejak. Itu sangat berkesa sekali ^^

Sampai jumpa di next chapter pai paii… ^^

 

Oh ya, buat para readers yang ngeluh karena library ku not found coba kalian buka link ini aja ya saykoreanfanfiction.wordpress.com/author/amaliaparahita-2 aku udah coba benerin tapi tetep aja ga bisa. Jadi maaf atas ketidaknyamanannya ya.

29 responses to “[FREELANCE] PERFECTIONIS CHAPTER 6

  1. Waaaaa akhirnya di post juga. Cuma bener ya thor. Kurang panjang.
    Huhuhu penasaran sama cerita mereka berdua lg..
    Rei juga harusnya gak keras kepala gitu yaaaa…
    Aaaaah jd gak sabar sama lanjutannya.
    Ditunggu ya thor..

  2. haalllo thor, ane salah satu sr yang baru bersua…😦🙂 ff nya bagggus banget thor😀 apalagi pas yang terakhir jadi deg-degan bacanya🙂 ayo thooor semangat !!😀 jangan putus asa semangat semangat semangat !!!!😀

  3. Adegannya rada pendek nih authornim, bahkan si gadis yg baru dtg aja gak ada kejelasannya.
    Tapi gpplah, selamat menulis kelanjutannya authornim

  4. Rasa khawatir lama2 bisa jadi rasa cinta loh *soktau
    Sehun kayanya udah mulai ada rasa sama Rei hehe..
    Ditunggu next chapternya ^^

  5. lah kok mantan sehun masih ada ya ?
    semakin ke sini semakin rumit aja kisah sehun sama rei
    semoga aja mereka berdua saling terbuka terutama rei sehun kan sekara udah mulai perduli
    ayo rei coba buka hatimu untuk sehun *kkk 😁
    luhan yang sabar ya ntar dapet penggantinya rei kok
    next thor fighting ya nulis ff nya

  6. seru kok crtanya
    wahh si rei dsi pny pertahanan dri yg kuat jga ya
    jdi hrs pinter2 bujuk dia
    apkh hun bsa mngatsiny?? atau mlah brsma luhn rei bsa mnjdi apa adnya

  7. Kurang ngerti sama penyakitnya Rei akh…
    Chapter ini kurang panjang dear, dan kepribadian Sehun disini ambigu, hoho
    Kadang baik, kadang gak jelas, kadang dingin, dan lain sebagainya..

    Didunia gak ada manusia yg sempurna begitu juga Rei, aigoo

    Jalan ceritanya udah bagus kok, fighting ^^

  8. Duh thor kno ceritanya pendek bgt….. gak puas nih baca chapt ini karna kependekan. Itu cewe yg makan bareng sehun ny. Oh sama rei siapa deh thor?

  9. Omaigat,,, ceritanya makin seru Thor. Iiihhh greget dehhh ama ffnya. Keren thor. Feelnya dpet bgt.
    Jujur udah 6 bulan gua hiatus dri dunia membaca ff “?” Dan stelah hiatus ff ini yg prtama mengesankan buat gua🙂
    Next yah thor
    Jgn lama” post next chapternya yah🙂
    Udah gak sabar nih😉

  10. Rei masih tertutup banget gitu kayaknya sama sehun. Dia nggak mau jujur padahal sehun punya niat baik buat bantuin dia sembuh dari OCDnya. Semoga nanti pelan2 dia mau terbuka dan jujur sama sehun tentang semua masalahnya. Kasian banget sama luhan, dia cinta sama rei udah lama banget ternyata dan sekarang dia belum sempet ngungkapin dengan sungguh2 eh reina malah udah mau nikah duluan

  11. Ihh mereka kapan nikahnya hahah lucu deh kayanya kalau di serumahkan kaya ton and jerry gtu tpi sweet gmnaaa haha d tunggu yahhh next chapternya

  12. Keren thor ffnya cuma kurang panjang….
    Disaat sehun udah setia rei nya malah gakpercaya…
    Next chap jgn lama2 ya thor. ..

  13. Keren..aku baru baca chap ini doang jadi blm tau jalan ceritanya gimana, izin baca dari awal ya author
    Penasaran banget sama mereka berdua

  14. Di chap ini sehun org yg peduli…rei yg perfect tkut klo org2 tau dy pnya kekurangan…sampe2 ortunya sndiri gak tau…rei gak mo dikasianin diremehin gara2 penyakitnya…

  15. Pingback: [FREELANCE] PERFECTIONIS CHAPTER 7 | SAY KOREAN FANFICTION·

  16. Sepertinya sehun uda mulai ada rasa sama rei. Kepedulian yg dia berikan lama kelamaan akan menimbulkan perasaan cinta yg tulus. Masi penasaran sama masa lalu mereka sebelum rei hilang ingatan

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s