Reply 2006 ~ohnajla~

Author : ohnajla

Genre : Romance, friendship, school life

Length : Oneshoot

Rating : General

Cast : Oh Sehun (EXO),

V aka Kim Taehyung (BTS)

Leo aka Jung Taekwoon (VIXX)

Min Cheonsa (OC)

.

nb : judulnya memang Reply 2006, tapi aku sama sekali nggak niru drama Reply-nya Korea. Kalau pun ceritanya mirip, itu hanyalah ketidaksengajaan.

.

*Alur maju mundur*

.

Reply 2006

Seoul, Oktober 2016

Cheonsa memutuskan pulang setelah membayar bill-nya. Dia merasa sangat pusing karena soju yang sempat diminumnya. Meski begitu, dia masih sadar sepenuhnya sehingga memilih pulang sendiri.

Tiga puluh menit perjalanan dengan taxi, Cheonsa pun sampai di depan rumahnya. Dia segera turun setelah membayar, lalu menyeret kakinya memasuki rumah itu.

Cklek!

“Aku pulang.”

Tidak ada sahutan dari dalam. Tapi bukan berarti rumah itu kosong. Ada seorang pria bertubuh tinggi tegap yang sedang berdiri di dekat meja makan. Pria itu memakai sebuah apron.

“Oh? Kau memasak sesuatu?” Cheonsa melangkah mendekatinya usai melempar tas ke sofa.

Pria itu hanya memandangnya sebentar sebelum fokus pada gerakannya sendiri saat meletakkan panci berisi ramen panas. “Duduklah.”

Cheonsa tidak banyak bicara, dia langsung menduduki kursi yang paling dekat dengannya. Dilihatnya meja makan itu sudah penuh dengan menu-menu makan malam.

“Aku sebenarnya sudah makan, tapi tak apa lah. Melihat semua masakanmu, aku jadi lapar lagi.”

Pria bertubuh tegap itu sudah kembali ke dapur. Entah sedang mengerjakan apa, tapi yang jelas Cheonsa bisa mendengar suara aliran air dan pintu kulkas yang dibuka lalu ditutup.

Pria itu kembali ke meja makan, sambil membawa semangkuk penuh berisi irisan apel, lalu duduk di hadapan Cheonsa. Dia memulai makan malamnya. Untuk ukuran pria se-atletis itu, memakan semua hidangan yang ada adalah hal yang mungkin. Karena kebutuhan kalorinya jauh lebih besar dari kebutuhan kalori Cheonsa. Cheonsa memaklumi ketika pria itu atau kita sebut saja suaminya langsung melahap makanan-makanan itu dengan rakus.

Cheonsa mengamati pria itu dengan tangan menahan dagu. Rasa pusingnya hilang seketika saat melihat seberapa lahapnya pria itu makan. Oh, dia bahkan tidak bisa menahan diri untuk tidak mengagumi ketampanan pria itu.

**

Seoul, Oktober 2006

PAK! PAK! PAK!

Pukulan penuh kasih sayang dari guru piket berhasil mendarat dengan mulus di pantat empat orang siswa yang terlambat hari ini. Keempatnya adalah murid kelas 2, tepatnya 2-1 dan 2-5. Satu dari empat orang itu adalah seorang gadis, berambut lurus sebahu dengan tinggi yang jauh di bawah dari yang lain.

“Ini sudah kesekian kalinya saya bertemu kalian! Bosan melihat wajah kalian!”

Keempat siswa itu sibuk meratapi kulit pantatnya yang seperti baru saja menduduki besi panas. Malah satu-satunya gadis, Cheonsa, mulai sesegukan berkat pukulan itu.

“Ini lagi! Kamu ini satu-satunya perempuan, harusnya kamu tidak ikut-ikutan terlambat seperti mereka!”

Cheonsa hanya bisa menunduk, enggan memperlihatkan wajah piasnya di hadapan guru piket itu.

Saem, harusnya anda tidak memukul dia seperti itu,” celetuk seorang siswa di sebelah Cheonsa, tanpa menunjukkan rasa takut sedikit pun.

PAK!

“Tidak peduli perempuan atau laki-laki, kalau terlambat hukumannya sama! Lagian siapa suruh kamu bicara! Push up 20 kali, sekarang!”

Meski kesal, pemuda itu menuruti perintah si guru piket untuk push up. Dia tidak peduli akan tatapan kasihan dari ketiga temannya. Menurutnya, akan lebih baik dia yang tersiksa dari pada teman-temannya. Dia lah pemimpin dari tiga orang lainnya.

“Besok kalau kalian tetap terlambat bersamaan seperti ini, saya akan langsung jatuhkan skors! Jangan anggap remeh hukuman skors dari saya, ya? surat pernyataan akan saya kirim langsung pada orang tua kalian. Biar orang tua kalian tahu seperti apa anak-anak mereka di sekolah.”

Pemuda yang baru saja menyelesaikan push up-nya, hanya bisa mendengus akan pernyataan guru piket.

“Sekarang cepat ke kelas masing-masing.”

**

2016

Cheonsa tengah menemani suaminya mencuci peralatan makan. Mereka berdiri bersisian di depan pancuran air tempat pencucian piring. Suaminya bertugas menyabuni dan membilas, sementara dia bertugas mengeringkan dan menata di rak. Matanya tidak bisa lepas dari profil prianya.

“Istirahat kalau lelah.”

Cheonsa terkesiap sedikit ketika sebuah piring basah muncul di depan wajahnya. Suaminya yang mengangkat piring itu sekalian menatapnya. Ia pun meraih piring tersebut sambil tersenyum.

“Aku akan istirahat kalau semua ini selesai.”

Tak ada sahutan dari lawan bicaranya. Pria itu sudah kembali disibukkan dengan tugasnya.

Cheonsa mengeringkan piring itu dengan kain kering, kemudian menatanya dengan apik di rak bersama deretan piring lainnya.

**

2006

Empat sekawan itu berpisah di koridor kelas 2. Cheonsa dan Taekwoon yang akan masuk kelas 2-1, sementara Taehyung dan Sehun harus berjalan beberapa meter lagi untuk masuk kelas 2-5.

“Istirahat kita bertemu di tempat biasa,” ujar Sehun selaku pemimpin sebelum melangkah pergi bersama Taehyung.

Begitu punggung Sehun dan Taehyung menjauh, Cheonsa dan Taekwoon pun langsung memasuki kelas mereka. Tumben, suasana kelas ramai. Ternyata setelah dilihat-lihat, kelas mereka sedang jam kosong. Pantas saja, tidak biasanya kelas 2-1 ramai kalau jam pelajaran.

Taekwoon masa bodoh dengan semua itu. Dia langsung saja pergi ke mejanya, untuk apa lagi kalau bukan tidur. Faktanya, siswa yang bernama lengkap Jung Taekwoon itu memang dikenal sebagai tukang tidur.

Begitu pula dengan Cheonsa, dia pergi ke mejanya tapi tidak untuk tidur. Lagi pula bagaimana dia bisa tidur kalau teman-temannya mengajak dia untuk bergosip. Padahal Cheonsa tidak pernah ikut andil menggosip, tapi dia selalu saja diikutsertakan dalam pembicaraan tidak jelas itu.

“Cheonsa-ya, kemari, kemari. Cepat.”

Nada suara Mina, si ratu gossip yang tidak bisa diganggu gugat itu membuat Cheonsa terpaksa mendekatinya. Dia duduk di kursi yang telah disediakan, bergabung dengan para gadis lain yang sudah lebih dulu mengelilingi bangku Mina.

“Apa kalian sudah tahu gossip terbaru hari ini?”

Beberapa gadis menjawab, sisanya diam, salah satu dari yang diam itu adalah Cheonsa.

“Apa? Apa?”

Mina menjentikkan jarinya dengan semangat. “Ini tentang Oh Sehun.”

Deg!

Seketika pupil Cheonsa membesar. Tanpa sadar ia pun mendekatkan dirinya pada Mina, yang membuat Mina tersenyum sedikit melihat tingkahnya.

“Aku tahu kalau Cheonsa pasti akan tertarik jika ini masalah Oh Sehun. Benar kan?”

Cheonsa mengangguk cepat. “Cepat katakan.”

“Baik, akan kukatakan. Tapi sebelumnya, kumohon para Sehun lovers untuk tidak histeris setelah mendengar kabar ini.”

Cheonsa bukan lah Sehun lovers, dan pernyataan itu memang bukan untuk dia, melainkan untuk para gadis lain yang sudah bukan rahasia lagi bahwa mereka adalah fans Oh Sehun. Cheonsa hanyalah pengagum rahasia sosok Oh Sehun.

“Oke, begini… kemarin malam saat aku baru saja pulang dari jadwal bimbel, tidak sengaja aku melihat Oh Sehun keluar dari swalayan. Memang tidak ada yang aneh awalnya, tapi tidak lama kemudian aku melihat dia didekati seorang wanita. Oh ya ampun, wanita itu sungguh menjijikkan. Dari yang kulihat, wanita itu sedang mabuk, dia tiba-tiba memeluk Oh Sehun sambil menangis.”

Beberapa Sehun lovers memekik tertahan. Sementara Cheonsa sendiri sudah mengerutkan keningnya tanda bahwa dia kesal pada wanita mabuk dalam cerita Mina itu.

“Lalu apa yang terjadi?”

“Yang dilakukan wanita itu selanjutnya benar-benar membuatku merinding. Dia mencium Oh Sehun, di BIBIR!!”

“MWO?!!!”

Sontak kelas itu hening, semuanya menatap ke satu titik, Mina. Bahkan para siswa laki-laki yang tadi asyik bermain kartu dan ramai sendiri dengan dunia mereka, juga ikut-ikutan menatap si ratu gossip itu.

Mina mengangguk dramatis. “Yah, itulah yang kulihat kemarin. Kasihan sekali nasib si alpha tampan itu.”

Alpha tampan adalah sebutan dari para siswa untuk Oh Sehun, karena Sehun memiliki karakter seorang pemimpin dan dia tampan.

Cheonsa hanya bisa mengerjap setelah mendengar cerita temannya itu.

*

Mereka berempat bertemu di atap tepat beberapa menit setelah bel istirahat berbunyi. Cheonsa tidak datang dengan tangan kosong seperti yang lain. Dia membawa sebuah tas kecil yang berisi empat kotak bekal, suatu kebiasaan yang sudah dihafal ketiga sahabat prianya kalau Cheonsa senang membuatkan mereka bekal.

“Bahan-bahan makananmu di rumah tidak pernah habis, ya? sekarang bawa apa?” Taehyung merangsek mendekatinya, duduk di sisinya sambil memandangi gadis itu mengeluarkan empat kotak bekal secara bergantian.

“Hanya kimbap,” balas Cheonsa sambil tersenyum. Dalam sekejap dia sudah dikelilingi tiga pemuda itu.

Sebagai pemimpin, Cheonsa memberikan kotak pertama pada Sehun, kotak itu memiliki tutup bergambar serigala. Kemudian tutup kotak bergambar tokoh kartun Luffy ia berikan pada Taehyung, lalu untuk Taekwoon adalah yang bergambar singa. Sedangkan dia sendiri memilih kotak bergambar kucing.

“Semuanya hewan, sementara aku tidak,” keluh Taehyung begitu melihat kotak-kotak yang lain. Dia meratapi gambar di kotaknya dan membatin “kenapa aku harus dapat tokoh gila ini?”

Cheonsa menggaruk tengkuknya sambil tersenyum kikuk. “Bukannya Luffy adalah tokoh yang paling kau suka? Masih mending aku memberikanmu itu dari pada yang bergambar alien.”

Taehyung mendengus. Melirik si alpha yang terkikik berkat ucapan Cheonsa. Tidak hanya ketiga temannya, semua orang tahu kalau nama panggilan Taehyung adalah alien. Dia tidak seberuntung Sehun, si alpha dan Taekwoon si raja hutan.

Arraseo,arraseo,” ucap dia akhirnya.

“Oke, ayo kita mulai makan. Selamat makan.”

Angin musim gugur yang tenang menemani keempat remaja itu menikmati makan siangnya. Ada canda dan tawa di antara mereka. Berasal dari empat latar belakang yang berbeda, namun bersatu tanpa diduga. Hubungan seperti ini terus mereka jalani, tak peduli bagaimana awalnya, tidak juga membayangkan akhirnya. Bersama-sama saja sudah terasa cukup.

“Terima kasih makanannya,” seru Sehun, Taehyung dan Taekwoon bersamaan. Cheonsa membalasnya dengan senyuman dan anggukan.

“Suatu saat nanti pasti kamu akan menjadi seorang chef hebat,” ujar Sehun sebelum menegak air mineral dari botol yang dibawa Cheonsa.

Pipi Cheonsa merona, “Semoga saja.”

“Ngomong-ngomong, aku mendadak ingin tahu apa impian kalian,” Sehun menutup botol itu sebelum mengembalikannya pada Cheonsa, tapi belum saja sampai ke pemiliknya, botol itu sudah disadap oleh Taekwoon.

“Impianku tentu saja memiliki istri yang cantik,” sahut Taehyung tiba-tiba.

“Dasar.”

Dug!

Taehyung mengusap kepalanya sambil tertawa lepas. Anak aneh, bukannya kesakitan dia malah tertawa. Pelaku pemukulan tadi memilih untuk mengabaikan anak aneh itu.

“Taekwoon-a, apa impianmu?”

Taekwoon yang terkenal sebagai anak pendiam bahkan saat bersama sahabat-sahabatnya, memandang Sehun sekilas sebelum mengembalikan botol di tangannya ke hadapan Cheonsa.

“Kalau dia sudah pasti menjadi pemain sepak bola, aku benar kan?” Taehyung mendadak menginterupsi.

Taekwoon malah menyibukkan dirinya dengan membantu Cheonsa mengumpulkan semua kotak makan untuk ditata kembali dalam tas kecil. Dia membuat Sehun dan Taehyung sebal, tapi karena sudah terbiasa diperlakukan begitu, kedua pemuda itu memilih untuk mengabaikannya.

“Bagaimana dengan nona Min?”

Cheonsa langsung mendongakkan kepalanya hingga bertemu tatap dengan Sehun. Dia selalu benci diri sendiri tiap kali dia menatap Oh Sehun seperti ini. Iris kecokelatan pria itu yang teduh selalu membuat jantungnya berdetak cepat.

“A-aku tidak tahu,” kepalanya reflek menunduk.

Sehun hanya tersenyum tipis, sedangkan Taehyung memandang Cheonsa dengan aneh. Tapi sesaat kemudian tatapan Taehyung teralih pada Sehun.

“Sekarang kau, pemimpin. Apa impianmu?”

Sehun bertepuk tangan sekali, menandakan bahwa dia telah menanti-nantikan pertanyaan itu. “Inilah yang kutunggu-tunggu. Impianku sebenarnya sederhana tapi aku tidak membuat impianku ini sesederhana itu.”

“Langsung saja ke intinya,” potong Taehyung cepat. Suatu tindakan yang benar agar Sehun tidak menghabiskan waktu dengan pidatonya yang bak kereta api.

“Oke, intinya aku ingin menjadi presiden!”

Taehyung berdecak, sudah tahu kalau jawaban Sehun pasti begitu. Sementara Cheonsa tersenyum, mungkin terpesona akan sifat Sehun yang selalu ambisius. Jangan tanyakan soal Taekwoon, si raja hutan itu sudah pasti hanya memandang Sehun dengan wajah datar andalannya.

“Ya, ya, ya. Impianmu itu sederhanaaaaaaaaaaaaa sekali,” sindir Taehyung sambil bergerak bangun. “Ayo balik ke kelas.”

Sehun memberikan death glare nya pada Taehyung, tapi gagal karena Taehyung sudah beranjak duluan. Ketika dia mau mengejar si penggemar Luffy itu, dia tak sengaja melihat Cheonsa yang kesusahan membawa tas bekalnya. Ia pun mengurungkan niat mengejar Taehyung untuk mendekati gadis itu.

“Mau kubantu?”

Cheonsa menoleh cepat. “Tidak usah, aku bisa sendiri.”

Tapi yang dilakukan Cheonsa tidak sejalan dengan ucapannya. Itu membuat Sehun sadar kalau Cheonsa adalah si keras kepala, jadi dia memilih untuk langsung saja membantu gadis itu tanpa menawarkannya lebih dulu.

“Eh? Sehun..”

Belum selesai Cheonsa bicara, Sehun sudah mengejutkan gadis itu lagi dengan bantuan selanjutnya. Tangan pria itu terulur seakan menyuruh Cheonsa untuk meraihnya. Tatapan tegasnya membuat Cheonsa tidak bisa menolak. Gadis itu pun menempelkan telapak tangan mereka, dan Sehun menariknya hingga berdiri.

“Hey.”

Keduanya menoleh ke asal suara. Taekwoon, pemuda itu masih duduk tenang tapi kini sedang mengangkat salah satu tangannya. Sehun yang tahu maksudnya langsung mendekat. Dengan enggan dia meraih tangan Taekwoon dan menariknya. Setelah berdiri, tanpa mengucapkan terima kasih pemuda itu pergi begitu saja meninggalkan mereka.

“Aish, dia ini.”

Di belakang punggung Sehun, Cheonsa hanya tertawa kecil melihat tingkah mereka.

**

2016

“Ibu tidak tahu kalau kalian akan datang hari ini. Maaf tidak sempat membuat apapun,” wanita paruh baya hampir berkepala enam duduk di hadapan pasangan muda setelah meletakkan nampan berisi minuman dan kue beras.

“Ibu, tidak perlu repot-repot. Lagi pula yang datang aku, bukan orang lain.”

Nyonya Min atau ibu Cheonsa tersenyum mendengar ucapan putri sulungnya. “Ibu hanya ingin menyapa kalian dengan baik. Apalagi ini pertama kalinya kalian datang sejak kalian menikah.”

“Maafkan kami.”

“Oh tidak-tidak. Kalian tidak perlu minta maaf.”

“Aku juga minta maaf, ibu. Kalau bukan karena dia aku tidak akan bisa datang ke sini sekarang.”

Nyonya Min mengangguk maklum. “Ibu tidak akan marah kalau kalian tidak datang. Ibu tahu, kalian pasti bekerja sangat keras di sana.”

“Kami akan selalu menyempatkan diri kemari saat peringatan kematian ayah.”

Nyonya Min tersenyum tulus pada menantunya. “Kau menantu yang baik. Tapi jika memang tidak bisa, jangan memaksakan diri ke sini.”

“Ya, ibu.”

Cheonsa melihat sekelilingnya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Ibu sendirian di sini? mana Cheondung? Cheonha? Cheonmi?”

“Cheonmi dan Cheonha masih di sekolah mereka. Cheondung, dia memilih pergi sendiri ke makam ayah.”

Cheonsa menghela napas lega. “Syukurlah, aku cemas kalau ibu sendirian di sini.”

“Tidak, justru adik-adikmu bersikeras untuk tidak pergi ke mana pun karena ibu.”

Cheonsa menatap ibunya sendu. “Maaf ibu. Aku sudah tega meninggalkanmu di sini.”

“Kenapa kau meminta maaf? Ibu tidak pernah keberatan. Lagi pula kau sudah menikah, ibu tidak punya hak untuk melarangmu pergi dengan suamimu.”

Pria selaku suami Cheonsa sedikit merasa bersalah dengan pernyataan Cheonsa. Dia memandang kedua wanita itu bergantian, sekiranya tahu bagaimana isi hati mereka sebenarnya.

“Dan jangan bicara seperti itu lagi saat suamimu ada di hadapanmu,” tegur Nyonya Min yang membuat Cheonsa terkesiap.

Pria itu tengah memandangnya ketika dia menoleh. Detik itu juga air mata Cheonsa tak bisa ditahan. Jatuh mengalir begitu saja membasahi pipinya. Membentuk sungai kecil yang melintang.

Pria itu mengusap pipi gadisnya sambil mengulum senyum menenangkan. “Tidak apa-apa.”

.

“Aku pulang.”

Ketiganya menoleh ke asal suara. Seorang pemuda bertubuh tinggi atletis yang memakai tuxedo lengkap, berhenti mendadak ketika melihat sosok kakak dan kakak iparnya sedang duduk di hadapan ibunya. Tidak butuh waktu lama untuk terpaku, pemuda itu langsung menghampiri Cheonsa lalu memeluknya erat.

Noona, akhirnya kau datang.”

Cheonsa membalas pelukannya dengan lebih erat. “Kakak iparmu yang membawa noona ke sini.”

Cheondung melepas pelukannya, lalu beralih memeluk sang kakak ipar. “Hyung, terima kasih sudah mau datang.”

Suami Cheonsa menepuk punggung adik iparnya dengan lembut. “Ya, sama-sama.”

“Aku baru saja dari makam ayah, tapi kalau kalian minta diantar aku bisa mengantar kalian ke sana.”

“Tidak perlu. Kau beristirahatlah saja. Kami juga sekalian mengunjungi makam seseorang,” balas suami Cheonsa sembari melepas pelukannya.

“Oh begitu ternyata.”

**

2006

Empat sekawanan dari kelas 2 memang cukup tersohor seantero sekolah. Sekawanan itu terdiri dari Oh Sehun dari kelas 2-5, Kim Taehyung dari kelas 2-5, Jung Taekwoon dari kelas 2-1 dan Min Cheonsa dari kelas 2-1. Pemimpin adalah Oh Sehun, meski tidak disahkan secara resmi oleh sekawanan itu, orang-orang yang melihat mereka merasa bahwa Oh Sehun memang pantas mendapatkan jabatan itu. Karena selain dikenal akan kepemimpinannya, dia juga terkenal akan keberingasannya. Memang dia bukan si ahli bela diri, tapi fisiknya yang kekar dan keras itu seperti mengatakan bahwa dia telah melalui banyak pertarungan fisik.

Tapi tahukah kalian, bahwa Sehun tidak sebegitu menakutkannya dalam kehidupan asli? Latar belakang keluarganya tidak sebagus Kim Taehyung atau Jung Taekwoon. Dia bukanlah pria dari golongan ekonomi tinggi. Di keluarganya pun hanya beranggotakan dia dan neneknya. Kedua orang tuanya entah pergi kemana dan dia tidak memiliki saudara. Kehidupan yang dilaluinya sungguh keras. Dia harus melakukan banyak hal sekaligus demi menghidupi dirinya dan neneknya yang sakit-sakitan. Sepulang sekolah maupun sebelum berangkat sekolah, dia selalu terlihat dimana-mana, entah itu menjadi pizza boy, distributor Koran, pengedar susu botolan, atau pekerjaan-pekerjaan sampingan yang lain. Waktu tidurnya per-hari hanyalah dua jam, malah kadang dia tidak tidur sama sekali kalau sudah bersemangat kerja.

Lain lagi dengan Kim Taehyung. Dia sangat berbeda jauh dengan Sehun dalam bidang ekonomi, tapi untuk keluarga mereka sama saja. Harta warisan yang dimiliki Taehyung disebut-sebut tidak akan habis dalam tujuh turunan. Dia adalah keturunan darah biru terakhir di keluarganya. Dan karena harta warisan itu sekarang jatuh ke tangannya, itu berarti dia tidak punya siapapun lagi selain seorang adik perempuannya yang masih sekolah dasar. Dia dan Sehun telah berteman sejak kecil, meski ada jurang yang dalam di antara keduanya.

Kemudian Jung Taekwoon. Kehidupan ekonomi keluarganya sangat bagus, begitu juga dengan anggota keluarganya yang lengkap. Dia adalah bungsu dari empat bersaudara, dan dia adalah anak laki-laki satu-satunya dalam keluarga. Dia memang terkesan dingin berkat kepribadian dan ekspresinya, tapi dia sering bertingkah manja walau ekspresinya tetap sama datarnya. Dia satu-satunya yang paling pendiam dari yang lain, sampai-sampai Sehun dan yang lain kebingungan bagaimana cara menyikapi kediamannya.

Dan untuk yang terakhir adalah Min Cheonsa. Ia termasuk gadis paling beruntung di dunia. Bagaimana tidak? setiap kali bertemu dengannya, pasti ada saja pangeran tampan yang ada di sisinya. Sebut saja pangeran itu Sehun, Taehyung dan Taekwoon. Ketiga pemuda itu sudah seperti pengawalnya saja. Tapi akan lebih sering terlihat wajah Taekwoon karena mereka berada di kelas yang sama. Cheonsa memiliki keluarga yang lengkap, empat bersaudara dan dia lah si sulung. Keluarganya tinggal di Busan, sedangkan dia di Seoul tinggal di sebuah apartemen murah. Dia pekerja paruh waktu seperti Sehun, tapi fokusnya adalah sebagai kasir sebuah café. Terkadang dia bekerja bersama Sehun jika pemuda itu sedang mencari pendapatan tambahan. Sudah bukan rahasia lagi kalau Cheonsa menaruh hati pada pemuda itu.

Mereka sedang dalam perjalanan pulang. Seperti biasa ketiga pemuda itu mengawal Cheonsa hingga sampai di apartemen. Padahal sebenarnya rumah mereka semua berbeda arah, dan sesungguhnya Taehyung bisa saja pulang dengan mobilnya dari pada harus berjalan kaki sejauh 1 kilometer.

“Begitu sampai di rumah, apa kau langsung bekerja?” tanya Taehyung yang berdiri tepat di sebelah Cheonsa. Dia memang selalu berdiri di radius paling dekat dengan kawan wanitanya itu dari pada Sehun dan Taekwoon.

“Ya, lebih awal lebih baik.”

“Lalu bagaimana dengan pulangnya? Pasti malam sekali bukan? itu sangat berbahaya untukmu.”

“Apa yang kau cemaskan, uh? Aku selalu menemaninya pulang dari café,” sahut Sehun yang berjalan tepat di belakang Cheonsa bersama Taekwoon. Dia terlihat seperti anak berandalan ketika melepas blazernya seperti saat ini.

“Justru itu lebih berbahaya lagi.”

“Apa katamu?! Ulangi sekali lagi!”

Taehyung mendekatkan bibirnya ke telinga Cheonsa. “Jangan memercayai siapapun bahkan si alpha.”

Yaa! wanna die?!

Taehyung langsung berlari begitu Sehun bersiap menyerangnya. Alhasil terjadilah aksi kejar-kejaran antara dua pemuda itu. Mereka jadi tidak tampak seperti anak SMA. Cheonsa dan Taekwoon hanya bisa mengurut dada akan tingkah mereka.

“Ah, Jung Taekwoon.”

Mendengar namanya di sebut, pemuda yang disebut-sebut sebagai raja hutan itu pun menoleh ke asal suara. “Hm?”

“Tidak apa-apa,” Cheonsa tersenyum sebelum melanjutkan. “Berjalan lah di sampingku.”

Tanpa banyak protes, Taekwoon langsung mempercepat langkahnya hingga mereka berjalan bersisian. Mengikuti kemana Sehun dan Taehyung pergi.

**

2016

“Kenapa aku selalu seemosional ini?”

Cheonsa tak hentinya menguraikan air mata di perjalanannya menuju makam sang ayah sekaligus seseorang yang ia dan suaminya kenal. Dia mengusap pipinya dengan kasar, berharap air mata itu mau berhenti.

Sang suami menahan tangannya agar tidak melakukan itu lagi. “Kau akan melukai wajahmu.”

Cheonsa yang sudah tak tahan dengan dirinya sendiri, akhirnya memeluk erat sang suami dan menangis sekeras-kerasnya, hal itu otomatis membuat perjalanan mereka ke makam terhenti.

Dalam tangisnya Cheonsa terus meneriakkan ayahnya dan dua orang nama pria lagi. Tangisannya begitu pilu. Sang suami bisa merasakan perasaan itu.

**

November 2006

Di suatu sore sepulang sekolah, sekawanan itu tiba-tiba dihadang oleh kumpulan anak geng. Dari seragamnya, mereka adalah para siswa dari SMA khusus pria yang bangunannya berdiri tak jauh dari SMA yang ditempati Sehun dkk. Dari bahasa tubuh mereka, sepertinya mereka memang sengaja menghadang sekawanan itu.

“Kalian mundur,” perintah Sehun pada ketiga kawannya. Ia dengan tenang berjalan mendekati anak-anak geng itu.

“Menyingkirlah, kalian menghalangi jalan.”

Seorang pemimpin dari geng itu tersenyum kecut. “Kau memerintah kami? Kau pikir kami akan menurut seperti kawanan pecundangmu itu?”

Sehun tak terima sahabat-sahabatnya disebut seperti itu oleh musuhnya. Tangannya mengepal erat, namun ia berusaha untuk tetap tenang.

“Cepat menyingkir.”

“Kenapa harus kami? Ini jalan milik umum, siapa pun boleh melewatinya.”

“Ya,termasuk kami. Jadi cepat menyingkir.”

Sementara Sehun berbicara pada anak geng itu, Cheonsa sedang berdiri ketakutan di antara dua sahabat laki-lakinya. Dia menggamit lengan Taekwoon dan Taehyung yang sedang siaga di kanan dan kirinya.

“Me-mereka siapa?”

“Aku juga tidak tahu, tapi dari seragamnya, mereka adalah anak-anak SMA sebelah,” jawab Taehyung tanpa sedikit pun berpaling pada Cheonsa.

“Sehun dan mereka berbicara seakan mereka sudah saling mengenal. Tidak ada yang akan terjadi kan?”

Taehyung tidak menjawab.

“Taekwoon-a, tidak ada yang akan terjadi kan?”

Taekwoon pun juga diam, meski dia sempat menatap Cheonsa sebentar.

“Kenapa kalian tidak menjawab?!”

“Berisik sekali gadis itu,” ketus si pemimpin geng ketika mendengar seruan Cheonsa. Dia melihat apa yang sedang terjadi dari balik bahu Sehun. Begitu melihat kalau Cheonsa adalah gadis yang menarik, tiba-tiba ide licik pun muncul di pikirannya.

“Tidak akan,” tegas Sehun tiba-tiba, dia bisa dengan mudah membaca pikiran musuhnya melalui ekspresi yang musuhnya perlihatkan. Karena yang dipikirkan si pemimpin geng tadi adalah pikiran kotor tentang Cheonsa.

“Kau sama sekali tidak menyenangkan. Aku akan memberimu jalan, asalkan gadis itu untukku.”

“Aku menolak.”

“Aish, bagaimana kalau urusan kita selama ini impas?”

“Aku menolak.”

“Kalau begitu, aku akan memberimu uang satu milyar.”

Sehun menyeringai, sekejap membuat si pemimpin geng yakin bahwa Sehun pasti menerimanya. Tapi..

“Kau begitu konyol.”

“Apa?!”

“Kau pikir aku bodoh? Jadi menurutmu asalkan aku memberikannya padamu semua urusan kita impas? Apa hanya satu milyar harga seorang gadis sepertinya?”

“Sehun, dia sedang bicara apa?” geram Taehyung ketika mendengar kalimat terakhir yang diucapkan Sehun.

“Bahkan kalau kau memberikan semua harta yang kau punya, termasuk jiwamu, aku tidak akan menyerahkan gadis itu padamu!”

Si pemimpin geng tersulut emosinya. Dia merasa direndahkan, diremehkan, dan dihina oleh Sehun. Hasrat membunuhnya pun membara. Tidak akan ia biarkan Sehun menghirup udara lagi.

BUG! BUG! BRAK!

Tubuh Sehun terhempas ke dinding setelah mendapatkan serangan mendadak yang berniat melumpuhkan organ-organ dalam perutnya.

“Kalian, urus dua tengik lainnya dan tangkap gadis itu.”

Mendengarnya, Sehun yang semula kesakitan, seketika melupakan rasa sakitnya dan langsung menghajar si pemimpin geng.

BUG! BRAK!

“Cepat bawa Cheonsa pergi!” perintahnya pada Taekwoon dan Taehyung sebelum dua orang sekaligus melawannya dari belakang.

BUG!

“Sehun!!” pekik Cheonsa reflek. Ia berniat berlari menghampiri Sehun, tapi kedua tangannya sudah lebih dulu ditahan oleh Taekwoon dan Taehyung.

“Tidak Cheonsa. Kau tidak boleh ke sana.”

“Lepaskan aku!!”

Cheonsa terus merepotkan kedua sahabatnya. Dia kurang bisa membaca situasi, dia tak menyadari bahwa beberapa orang sedang mendekati mereka.

“Aish, mereka datang,” ketus Taehyung sangat kesal. “Taekwoon, bawa Cheonsa pergi sekarang. Biar aku yang tangani mereka.”

Begitu Taehyung merangsek maju, Taekwoon langsung menarik lengan Cheonsa dan menggendongnya ala bridal style.

Yaa! apa yang kau lakukan?!! Turunkan aku sekarang!”

Taekwoon tak menggubrisnya. Dia terdiam sejenak melihat Taehyung yang mulai menghajar satu-persatu dari orang-orang itu. Kemudian dia pun membawa Cheonsa lari dari sana.

“Apa yang kau lakukan?!!”

“Tolong tenang.”

“Hei?! Mau kemana kau?”

Taekwoon mempercepat laju larinya. Dia mendekap Cheonsa lebih erat agar gadis itu tidak jatuh dari dekapannya. Tujuannya saat ini adalah tempat ramai. Dia harus bisa mencari tempat yang aman untuk Cheonsa agar ia bisa menghajar orang-orang yang mengejar mereka dengan mudah.

“Taekwoon..” gumam Cheonsa pelan ketika dia mendapati rahang Taekwoon yang mengeras. Pemuda itu mengerahkan seluruh tenaganya untuk berlari sekaligus membawanya.

Hanya beberapa meter lagi, mereka akan sampai di sekolah mereka. Namun sial, pengeroyokan ini sudah seperti direncanakan. Taekwoon berhenti berlari ketika beberapa anak lainnya muncul tak jauh di depan mereka.

Sial, tidak ada jalan keluar lagi.

“Taekwoon-a, aku takut..”

Taekwoon masih mendekap gadis itu dengan erat. Ia melihat ke setiap penjuru, berharap ada satu jalan lagi bagi Cheonsa untuk berlindung. Dia tak peduli akan dirinya sendiri, yang ia pedulikan adalah gadis dalam dekapannya.

Syukurlah, Dewi Fortuna masih berpihak pada mereka. Tanpa pikir panjang lagi, Taekwoon langsung menurunkan Cheonsa.

“Taekwoon-a..”

Taekwoon memungut sebilah kayu keras yang ada di dekat kaki mereka lalu ia serahkan ke tangan Cheonsa. “Gunakan ini saat membuka pintu itu. bersembunyilah di sana.”

“Tapi..”

“Kumohon lakukan saja.”

Sorot mata Taekwoon yang menyiratkan permohonan membuat Cheonsa tak bisa mengelak lagi. Ia pun menggenggam erat kayu itu sambil mengangguk. “Baiklah.”

“Sekarang.”

Tepat ketika Cheonsa berlari menuju pintu yang dimaksud Taekwoon, anak-anak dari dua penjuru itu langsung menyerbu mereka.

*

Kondisi Taekwoon bisa dibilang baik untuk ukuran orang yang baru saja diserbu 10 orang sekaligus. Dia mendapat banyak luka di bagian perut dan wajahnya, tapi untungnya tidak terlalu parah.

Saat ini dia sedang berusaha menyeret kakinya menuju tempat di mana Sehun dan Taehyung berada. Dia harus tahu bagaimana kondisi dua sahabatnya sebelum pergi menemui Cheonsa. Dalam perjalanannya itu dia terus saja berharap akan keselamatan keduanya.

Namun, yang dia temui adalah segerombolan masyarakat serta sebuah mobil polisi dan dua ambulans. Seorang polisi tengah berbicara dengan para masyarakat, sedangkan polisi lain membekuk beberapa anak berseragam. Taekwoon tidak bisa melihat dengan jelas siapa saja mereka, tapi ia yakin bahwa dia tidak melihat batang hidung Sehun maupun Taehyung. Untuk itu, ia pun memberanikan diri mendekat.

Uhuk!

Deg!

Kedua kaki Taekwoon terpaku ketika melihat paramedic membawa dua orang siswa menggunakan ranjang dorong. Dua ranjang dorong itu pergi ke dua ambulans yang berbeda. Kedua siswa di ranjang dorong itu tampak mengenaskan sekali kondisinya, meski mereka masih terjaga.

“Tunggu!”

Semua orang di sana langsung menoleh ke asal suara. Taekwoon tak memedulikan mereka. dia langsung berlari menghampiri kedua sahabatnya yang terbaring tak berdaya.

“Tunggu, aku harus bicara dengan mereka,” ujarnya pada beberapa paramedic.

Ia pun menoleh pada kedua sahabatnya. Mati-matian berusaha menahan air mata melihat kondisi mereka.

Sehun tersenyum tipis oleh ekspresi yang Taekwoon perlihatkan. “Kalau mau menangis, menangis saja. Tapi.. uhuk! Kau harus tahu pria itu tidak boleh menangis.”

Taekwoon menyeka air matanya dengan kasar. Ia pun beralih pada Taehyung.

“Haha, rasanya seperti sedang digelitik. Jangan khawatir, i’m ok.”

Taekwoon tak habis pikir dengan keduanya. Mereka masih bisa tersenyum dan tertawa dalam keadaan seperti itu?

“Bagaimana keadaan Cheonsa? Dia baik, kan? sudah kuduga, kau memang cocok menjaganya.”

“Kau bicara apa? Kalian tidak berniat meninggalkan kami, kan?” cemas Taekwoon ketika mendengar ucapan Sehun yang tidak biasanya. Ia memandang Taehyung dan Sehun bergantian, meminta penjelasan mereka.

“Apa menurutmu aku tahu kapan aku akan pergi? Yah.. kita lihat saja nanti. Yang pasti, kalau aku pergi, tolong istirahatkan aku di sisi makam ayah Cheonsa. Aku tidak mau sendirian.”

“Apa yang kau bicarakan?!” teriak Taekwoon tak terima.

“Aku juga. Tapi sebelumnya, tolong jaga adikku, dan nenek alpha. Satu-satunya orang yang bisa kami percaya di sini adalah kau. Aku juga berharap, kau bisa menjaga dan membahagiakan adik kecil sekaligus kekasih kita, Cheonsa.”

“Tidak! aku menolak! Kalian tidak akan pergi! Kalian tidak boleh mati!”

“Haha, kau lucu sekali Taekwoon. Beruntung aku bisa melihat emosimu saat ini. Tapi kami sungguh tak punya banyak waktu. Maaf. Uhuk!

Uhuk!

“Sehun! Taehyung!”

Pihak paramedic langsung memasukkan mereka ke dalam ambulans. Taekwoon dilarang untuk ikut serta. Tak butuh waktu lama, kedua ambulans itu langsung pergi menuju rumah sakit.

“Taehyung… Sehun…”

“Taekwoon-a!”

Pemuda itu menoleh ke asal suara. Dia hanya bisa memberikan tatapan sendu pada gadis yang berlari terengah-engah mendekatinya.

“Di mana Taehyung dan Sehun? mereka baik-baik saja, kan?”

Taekwoon memilih untuk bungkam.

**

November 2016

“Mengapa mereka meminta diistirahatkan di sini?” tanya Cheonsa ketika mereka sedang membersihkan makam Sehun dan Taehyung.

“Mereka tidak ingin sendiri.”

Cheonsa tersenyum tipis. “Ya, karena mereka tahu ada ayahku di sini.”

“Maafkan aku.”

Cheonsa langsung menoleh. “Maaf untuk apa?”

Taekwoon pun bangkit kemudian mendekat pada Cheonsa. “Aku tidak bisa menyelamatkan mereka.”

Cheonsa tersenyum. “Tidak, semua ini bukan salahmu.”

Taekwoon menggeleng. “Tidak. Jika saat itu aku tidak menahan mereka ke rumah sakit, mereka pasti akan lebih cepat diselamatkan.”

“Sekarang semua itu sudah tidak penting, Taekwoon-a. Kepergian mereka bukan salahmu, ini sudah takdir. Tuhan tidak mau mereka tersiksa terlalu lama di dunia ini.”

Taekwoon menunduk, mencerna baik-baik ucapan Cheonsa. Benar kata Cheonsa, mungkin memang seharusnya begitu. Dia tak boleh begitu egois. Dia harus menerima kepergian mereka tanpa ada penyesalan.

“Lagi pula sekarang aku masih memilikimu, dan kau masih memilikiku. Aku yakin, mereka pasti menginginkan kita hidup dengan baik.”

Taekwoon mengangguk pelan. “Ya, mungkin saja.”

Cheonsa mengusap lengan Taekwoon dengan lembut. “Berhenti menyalahkan dirimu sendiri.”

Taekwoon mengangkat kepala, mengulas sebuah senyum.

END

19 responses to “Reply 2006 ~ohnajla~

  1. nangis deh baca endingnya T.T
    trs nasib adeknya Taehyung n neneknya Sehun gmna? sequeelsequeell :3
    Cheonsa n Taekwoon jg pnya anak dnk hehee
    fighting!!!

  2. Aku kira suaminya cheonsa itu sehun
    Trnyata taekwoon…
    Jdi mereka ber3 sama2 suka cheonsa ?? Coba klo di real life ada kyk gini
    Sequel donggg

  3. ya ampun sedih banget, kekasih kita asuh sweet ketahuan banget mereka suka sama si cheonsa, sampe2 rela buat jaga cheonsa, aduh tapi endingnya dibuat tegang sebelumnya, ya tapi sukses aja buat kakak, karya kakak bagus banget😀

  4. aku sampe nangis baca nya saking berasa banget ni cerita.
    dan aku kira suaminya sehun dan yang meninggal taehyung yang suka sama cheonsa dan nyelametin dia sampe mati eh taunya taekwoon😀 keren lah gak ke tebak banget.

  5. pas baca awal kisah,,dh bisa nebak alurnya mw kmn,,tp akhirnya cheonsa dng siapa,itu yg nebak nebak,,mgkin clue nya ada pd pertanyaan taehyung,,saat dia bertanya,,ingin menjadi apa dimasa depan! hnya taekkwon yg tak menjawab dan memilih membantu cheonsa,,well itu hnya pemikiranku sj,,!!! tp jujur sj,,awal aku milih taehyung lho,,hehee
    kerenm!

    • Sebenernya nggak ada clue 😀 posisi Sehun sebagai tokoh utama sama Taehyung yg suka deket2 Cheonsa itu sebenarnya mengecoh. Murni nggak ada clue emang. Clue nya ya di bagian ending

  6. sedih bacanya masa. aku kira suaminya cheonsa itu sehun tapi ternyata….. bukan. dan sehunnya meninggal huhu. mereka semua sayang sama cheonsa ih greget banget bacanya. sequelnya dong ka, ceritain kehidupan rumah tangga cheonsa dan taekwoon lebih banyak

  7. Waaah kasian yaa cheonsaa… Dijamin tapi pasti sehunnya udh suka balik tuh sama cheonsa hehe. Pas taekwoon yg bawa cheonsa pergi udah ke tebak kalo yg bakal mati sehun sama taehyung but good job unnie😁

  8. Demi apa! Aku seneng banget ternyata sama Taekwoooonnnnn!! Sempet ngira sama Sehun, soalnya kan biasanya gtu 😂 Sequel yaa

  9. Duh kukira awalnya sumainya sehun pas di tengah beralih ke taehyung eh taunya taekwoon
    Itu endingnya nyesek ya
    Tp ff nya bagus thor

  10. Halo, numpang promote ya:)
    Kami dari Blooming Into Words lagi open recruitment lho!
    Selengkapnya bisa di cek di sini >> https://bloomingintowords.wordpress.com/2016/03/25/finding-new-staffs/
    Kami juga mengadakan prompt yang bisa kalian gunakan sebagai inspirasi untuk menulis yang akan kami update setiap satu minggu sekali. Tenang, promptnya terbuka untuk umum kok. Jadi siapa aja boleh pakai promptnya, nggak terbatas admin sama author aja.
    So, what are you waiting for?
    Let’s bloom🙂

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s