The Dim Hollow Chapter 7 by Cedarpie24

Thedimhollow

The Dim Hollow

—Chapter 7

Adore

.

a fanfiction by cedarpie24

.

Oh Sehun x Son Dahye

Slight!Kim Jongin, Byun Baekhyun

Romance, school-life, hurt, teacher-student relationship || PG-16 || Chaptered

.

I just own the storyline and original-chara

.

Aku menyayangimu sedalam kau menyukaiku. Memujamu sebanyak kau mengagumiku. Menginginkanmu sesering kau merindukanku. Namun ada begitu banyak hal yang membuatku tak pantas untukmu. Aku, terlalu banyak kekelaman yang kupunya.—Oh Sehun

.

Foreword  Chapter 1—Got Noticed ♣ Chapter 2—NightmareChapter 3—Detention ♣

Chapter 4—The Kiss ♣ Chapter 5—Sinner ♣ Side Story : Secret ♣

Chapter 6—Take Care of Her 

◊◊◊

            “Dahye-ya kenapa belum pulang? Ini sudah lewat jam-malammu.”

            “Son Dahye kemana kau malam-malam begini? Nenek tidak mau tidur sebelum kau pulang.”

            “Yah, nenek benar-benar mencemaskanmu. Pulang sekarang.”

            “Son Dahye kau kemana? Jangan membuatku cemas.”

            “Ini kelewatan. Kau sudah membuat nenek, dan juga aku cemas. Kau dimana sebenarnya? Pulang sekarang juga, Son Dahye.”

            “Setidaknya kabari aku jika kau mau menghilang begini.”

            “Yah, Son Dahye…”

Dahye menghela napas perlahan begitu melihat kotak pesannya dipenuhi pesan dari Jongin. Ia menggulirkan jemarinya di atas layar ponsel, dan belasan pesan tak terbaca lainnya segera menyambutnya. Semuanya dari Jongin. Sejak pagi tadi Dahye sama sekali tak menyentuh ponselnya—ia bahkan tak mengira Sehun membawa ransel beserta ponselnya. Rasanya agak mengejutkan juga menemukan Jongin mengiriminya belasan pesan karena ia menghilang semalaman. Sepupunya itu mencemaskannya? Atau mungkin hanya karena tak mau dibuat repot oleh nenek yang menolak tidur?

Pemikiran Dahye lantas terpecah begitu merasakan sebuah tangan mendarat di keningnya. Oh Sehun tengah menempelkan punggung tangannya di permukaan kulit Dahye, kening pemuda itu mengerut samar berusaha menerka panas tubuh Dahye. Sama sekali tak sadar aksi sederhananya berhasil membuat Dahye membeku di tempat.

Jantungnya, lagi-lagi jantungnya berdebar kencang hanya karena sentuhan ringan dari Sehun.

“Sepertinya kau memang sudah baikan.” Sehun menyimpulkan, kembali fokus pada roda kemudinya. Mereka tengah berkendara menuju rumah Dahye siang itu setelah Dahye rasa keadaannya agak membaik.

“Uh-hmm.” Dahye bergumam kecil lantas menyibukan diri dengan mengutak-atik ponselnya. Entah sejak kapan berada terlalu dekat dengan Sehun seperti ini selalu membuatnya salah tingkah sendiri.

“Siapa?” Sehun tahu-tahu bertanya, membuat Dahye mendongak dari ponselnya lantas menghadiahi gurunya dengan tatapan bingung.

“Apa? Apanya yang yang siapa?”

Sehun mengerling ponsel di tangan Dahye kemudian menyuarakan pertanyaannya. “Siapa yang kau kirimi pesan? Sejak tadi masuk ke mobil kelihatannya kau sibuk sekali dengan ponselmu itu.”

Dahye mengerjap beberapa kali. Ia menatap ponsel dalam genggamannya kemudian meneguk ludah susah payah. Tak mungkin ‘kan ia berkata bahwa ponsel ini digunakannya hanya untuk mengalihkan perhatian? Maka setelah hening beberapa sekon, Dahye berdehem lantas menyahut.

“Oh, itu… sepupuku. Aku sedang mengirim pesan untuk sepupuku.”

Sehun menoleh pada Dahye dengan sebelah alis berjingkat, seolah meragukan jawabannya.

“Dia khawatir setengah mati semalaman aku tidak pulang.” Dahye cepat-cepat menambahkan. “Biasanya aku selalu pulang sebelum pukul tujuh malam, jadi kemarin dia benar-benar khawatir aku tidak ada di rumah. Jadi… jadi aku mengabarinya lewat pesan.”

Nah, setidaknya ia tidak benar-benar berbohong ‘kan.

Sehun mengangguk-angguk kemudian menghentikan laju mobilnya begitu lampu jalan berubah merah. Ia menoleh pada Dahye sebentar.

“Kau tinggal satu rumah dengan sepupumu?”

Dahye menggangguk kecil sebagai jawaban.

“Bagaimana bisa?”

Ish, kenapa gurunya ini penasaran sekali sih.

Dahye mengedikan bahunya kemudian bergumam pelan. “Ceritanya panjang.”

Sehun, yang menangkap keengganan Dahye membahas lebih lanjut mengenai hal ini hanya mampu mengangguk-angguk. Ia mengetuk-ngetuk jemarinya pada roda kemudi, menunggu detik demi detik lampu jalanan berubah hijau dalam hening.

Sebenarnya Dahye tahu benar maksud Sehun mengajukan pertanyaan tadi karena pemuda itu ingin lebih mengenalnya. Namun entah bagaimana, Dahye merasa belum siap membuka latar belakang keluarganya pada orang lain, termasuk Sehun. Jika ia ingin menjawab pertanyaan Sehun tadi, maka ia harus menjelaskan tentang kecelakaan yang merenggut nyawa kedua orang tuanya, kemudian kasus bunuh diri yang dilakukan eonninya. Dahye… belum siap menceritakan itu semua. Untuk saat ini ia masih ingin menyimpan rapat-rapat kisahnya hanya untuk dirinya sendiri.

“Hei, kau tidak masalah melewatkan sekolah begini?” Sehun kembali membuka suara, menoleh pada Dahye sekilas sementara mobilnya mulai bergerak maju. “Murid nomor satu sepertimu mestinya tidak mau ‘kan ketinggalan pelajaran barang satu hari saja.”

Dahye mengembuskan napas perlahan kemudian menyilangkan kedua tangannya di depan dada.

“Kalau bisa aku juga tak mau melewatkan sekolah.” Ia menjawab sederhana. Setelahnya menoleh pada Sehun dengan raut penasaran. “Kau sendiri? Kenapa tidak pergi ke sekolah untuk mengajar?”

Mendengar ini Sehun mendengus pelan lantas menjulurkan sebelah tangannya untuk menjawil hidung Dahye, sukses menghasilkan erangan protes dari sang empunya hidung.

“Aku sudah izin pada pihak sekolah. Kubilang, aku sibuk mengurus kucing peliharaanku yang sedang sakit parah.”

Butuh waktu agak lama bagi Dahye untuk memahami maksud perkataan Sehun. Begitu otaknya yang entah bagaimana bekerja kelewat lambat berhasil mencerna perkataan Sehun, gadis itu memekik marah lantas tanpa bisa dicegah, tangannya bergerak menjambak puncak kepala Sehun.

“Yaak! Berani-beraninya kau mengataiku kucing!”

“Y-yah—Son Dahye!” Sehun mengerang meski gelak tawa tak pelak lolos dari mulutnya. “Aku sedang menyetir, jangan begini—yak!”

Mendapati Sehun kewalahan sendiri menjaga kendali mobilnya dan berusaha melepaskan jambakan di kepalanya, sukses mengundang tawa dari Dahye. Gadis itu tak kuasa menahan tawanya, kemudian bertambah semangat menjambaki rambut Sehun.

“Hei, hei! Kupotong nilaimu kalau kau tak berhenti juga!” Sehun yang mulai merasakan nyeri di puncak kepala mengeluarkan jurus andalannya.

“Potong nilai, potong nilai. Masa bodoh dengan nilaiku!”

“Yaak!”

◊◊◊

Mobil itu berhenti tepat di depan rumahnya. Lalu dari dalamnya turun seorang pemuda berperawakan jangkung yang berjalan memutari mobil untuk membukakan pintu sebelah. Dan kemudian, Jongin melihat sepupunya ikut turun dari mobil itu. Son Dahye, masih dengan seragam sekolah beserta ransel yang terakhir kali dipakainya. Jongin membeku di tempatnya. Bagaimana bisa…?

Dahye dan pemuda jangkung itu kelihatan berbincang-bincang sejenak. Dalam diam Jongin mengamati keduanya. Ada yang tak benar. Ada yang tak benar pada dirinya. Rasanya salah melihat Dahye berbicara dengan pemuda itu. Kemudian Jongin tersadar ada yang berbeda dari Dahye ketika ia menatap pemuda jangkung di hadapannya. Dan Jongin tak suka itu. Maka cepat-cepat ia menyusun langkahnya menghampiri mereka, lalu berdehem pelan begitu ia telah sampai di sisi Dahye.

“Kenapa baru pulang?”

Baik Dahye maupun pemuda jangkung itu menoleh mendengar pertanyaan Jongin. Sebenarnya Jongin berniat bertanya baik-baik, namun entah mengapa ia tak bisa mengontrol emosinya sendiri hingga suaranya kedengaran dingin dan melengking.

Dahye sudah membuka mulut hendak menjawab, namun pemuda jangkung di hadapannya malah mendahului menyahut.

“Kemarin ada insiden kecil.” Suaranya kedengaran ramah dan bersahabat, berbanding terbalik dengan Jongin tadi. “Dahye sakit dan aku memutuskan membawanya ke rumahku untuk merawatnya—karena aku tidak tahu dimana rumah Dahye sendiri.”

Kening Jongin lantas mengerut mendengar ini. Cepat-cepat ia berbalik pada Dahye. “Insiden? Sakit? Apa yang terjadi padamu?” kemudian kedua matanya melebar begitu ia menyadari sesuatu. “Lalu kemarin malam kau menginap di rumah… dia?”

Jongin bertingkah seperti bocah kurang ajar yang tak tahu sopan santun sekarang. Tapi ia tak peduli, kabar yang baru didengarnya tentang Dahye yang sakit telah kepalang membuatnya panik duluan.

Decakan kecil lolos dari mulut Dahye. Ia menatap Jongin malas kemudian menyahut asal. “Ceritanya panjang. Nanti-nanti saja aku bilangnya.”

Nanti-nanti saja itu berarti tidak tahu kapan, bagi Dahye—yang artinya ia tidak akan pernah cerita. Dan Jongin mengerti itu. Maka diluar kendalinya, Jongin meraih kedua bahu Dahye lantas mengguncangnya keras, sukses membuat Dahye menatapnya dengan mata melebar kaget.

“Son Dahye, katakan padaku apa yang terjadi padamu semalam. Sekarang.” Jongin menukas pelan-pelan dengan suara rendah.

Mau tak mau Dahye dibuat ciut juga. Sebelumnya ia tak pernah melihat Jongin semengerikan ini. Meski pernah jadi sosok dingin dan cuek, Jongin tak pernah kelihatan dikuasai amarah, dan ini berhasil membuat Dahye gemetaran takut. Sehun mungkin menyadari ketakutannya, karena kemudian pemuda itu mendekat dan menyentuh bahu Jongin dengan wajah mengeras.

“Hei, kau tidak bisa memaksanya begitu.” Tukas Sehun, suaranya serius dan tegas. “Dia akan cerita kalau dia mau.”

Jongin menoleh pada Sehun dengan wajah tak suka. Dengan kasar ia menepis tangan Sehun dari bahunya.

“Jangan ikut campur. Kau tidak tahu apa-apa.” Ujarnya datar. Ia kemudian kembali menoleh pada Dahye, dan seolah ikut menyadari ketakutan gadis itu, tatapannya perlahan melunak. “Dahye-ya, dengar, sejak kemarin kau telah membuatku dan juga nenek cemas setengah mati. Kau menghilang begitu saja, tidak pulang semalaman—dan kini setelah aku mendengar separuh berita darimu, kau tega membiarkanku tetap cemas? Huh?”

Mendengar perkataan Jongin, Dahye mengerjap beberapa kali. Tak menyangka Jongin sungguhan mengkhawatirkan dirinya setalah ia tak pulang semalaman. Jongin menatapnya lurus-lurus tepat di mata, membuatnya dapat merasakan sorot keseriusan itu. Perlahan Dahye merasakan hatinya menghangat. Tak bisa dipungkiri kini ia begitu merindukan sosok sepupunya. Pada akhirnya Dahye mengembuskan napas pelan. Ia bergerak melepaskan cekalan Jongin di bahunya, kemudian menatap pemuda itu serius.

“Baik. Aku akan cerita—tapi nanti saja di rumah.” Ujarnya perlahan, kemudian mengerling Sehun yang sejak tadi hanya jadi penonton. “Dan ngomong-ngomong, kalau kau memang mencemaskanku, mestinya kau berterima kasih pada Sehun. Karena kemarin dia yang telah menolongku.”

Jongin menoleh pada Sehun mendengar ini. Untuk pertama kalinya ia benar-benar menatap pemuda itu. Dilihatnya Sehun sudah tak lagi memasang raut bersahabat, kini justru ia menghadiahi Jongin dengan tatapan dingin yang kentara sekali dipenuhi aura permusuhan.

“Well, terima kasih sudah menolongnya.” Jongin bergumam setengah hati.

Sebagai jawaban Sehun hanya balas bergumam sekenanya. Ia kemudian menoleh pada Dahye, dan seketika rautnya mencair menjadi lebih lembut. Tangannya bergerak mengusak puncak kepala Dahye, sukses membuat Jongin membeku di tempatnya.

“Kau istirahat saja di rumah, ya. Jangan beraktivitas terlalu banyak kalau tak mau kembali jatuh sakit.” Ia berpesan dengan suara kelewat lembut.

Jongin tak suka melihat ini, tapi ia menyadari semburat kemerahan telah terbit di kedua sisi wajah Dahye. Gadis itu tersenyum samar pada Sehun.

“Kau… tidak mau mampir ke dalam dulu?”

Sehun menggeleng sambil mengulas senyum manis. “Masih ada urusan lain, aku harus segera pergi.”

Ia lantas berjalan menuju mobilnya setelah melambaikan tangan pada Dahye dan mengirimi Jongin anggukan singkat. Dahye dan Jongin berdiri di sana mengamati mobil Sehun yang bergerak perlahan hingga akhirnya menghilang di kelokan jalan. Begitu yakin Sehun telah benar-benar pergi, Jongin menoleh pada Dahye dan menemukan gadis itu diam di tempatnya dengan mata menerawang.

“Yah—“

Mendengar suara Jongin, Dahye segera tersadar. Ia mengerjapkan matanya lalu menoleh pada Jongin dengan tatapan agak bingung. Barulah sesekon kemudian gadis itu berdehem kemudian melangkah masuk ke dalam rumah tanpa mengatakan sepatah kata pun. Meninggalkan Jongin yang terpaku di tempatnya, sebab sesuatu terasa mengganggunya. Bukan soal Dahye yang kelihatan berbeda ketika bersama Sehun, bukan juga soal interaksi Sehun dan Dahye yang membuat hatinya kebakaran. Bukan, bukan itu.

Melainkan mengenai wajah Sehun yang entah bagaimana terasa tak asing baginya.

Jongin baru tersadar, kenapa rasanya ia pernah bertemu Sehun sebelumnya? Tapi dimana, dan kapan? Meski tidak familier, tapi Jongin rasa ia pernah melihat wajah pemuda itu sekali waktu. Tapi Jongin tak bisa memaksa memorinya untuk mengingat bagaimana jelasnya. Ah, pikirannya terasa agak kacau saat ini. Ditambah kedatangan mengejutkan Dahye setelah semalaman menghilang.

Nah, benar juga. Ia harus menagih janji Dahye menceritakan seluruh kejadian kemarin. Maka cepat-cepat Jongin menyusul Dahye ke dalam rumah, kemudian mencari keberadaan gadis itu.

Jongin lantas menemukan Dahye tengah duduk di ruang tengah bersama nenek. Nenek memeluk Dahye erat-erat sementara tangis wanita paruh baya itu meledak tanpa bisa dicegah. Dapat dilihatnya kelegaan beserta haru membayangi wajah renta nenek. Tentu saja, semalaman nenek benar-benar dibuat panik akan hilangnya Dahye. Dalam diam Dahye membalas pelukan nenek ragu-ragu, tak menyangka akan mendapat respon seperti ini.

“Maaf, Nek. Maaf.” Dahye bergumam berkali-kali dengan wajah menyesal. “Aku tidak bermaksud membuat Nenek cemas begini—kemarin aku memang hanya menginap di rumah teman. Tak ada yang terjadi padaku, Nek. Aku baik-baik saja.”

Nenek masih terisak sambil mendekap Dahye erat. “Kau selalu menemani Nenek di rumah, Hye-ya. Bagaimana Nenek bisa tidak panik menemukanmu tak ada di kamarmu semalaman? Jongin sudah mencarimu kemana-mana—dia berkeliling kota semalaman tapi kau tetap tak ditemukan dimana pun. Bagaimana Nenek tidak khawatir, Hye-ya?”

Dalam pelukan nenek Dahye merasakan tubuhnya membeku. Matanya bergerak melirik Jongin yang berdiri di ambang pintu dengan canggung, tak menyangka nenek akan membahas mengenai dirinya yang kewalahan mencari Dahye kesana-kemari. Sementara Dahye sendiri menatap Jongin kaget, tak tahu harus memberi respon bagaimana meski harus diakui hatinya tersentuh juga mendengar Jongin mencari-carinya. Ia benar-benar tak sangka, Jongin… sungguhan mengkhawatirkannya…

“Nenek sudah berpikiran macam-macam, Hye-ya. Nenek pikir sesuatu yang buruk terjadi padamu…”

“Maafkan aku, Nek. Aku berjanji lain kali akan menelepon jika takkan pulang. Maaf, Nek.” Dahye berujar perlahan, tangannya mengelus punggung rapuh nenek dengan gerakan menenangkan. Sementara matanya pun ikut membasah, tak kuasa melihat nenek mengeluarkan tangis untuknya.

Kala itu Jongin membiarkan nenek dan Dahye melepas tangis. Ia tak mau merusak momen mengharukan yang jarang sekali terjadi antara Dahye dan nenek. Sejak kepergian seluruh anggota keluarganya, Dahye berubah menjadi pribadi yang benar-benar berbeda dari sebelumnya. Bukan hanya pada orang asing, ia juga membangun dinding pembatas untuk Jongin dan nenek. Dahye tak pernah bicara jika tidak begitu penting. Gadis itu juga tak pernah tertawa maupun tersenyum. Sekalinya tertawa, hanya dalam bentuk sarkastik yang sukses membuat hati kecut. Ia berubah menjadi sosok sedingin es yang nyaris tak Jongin kenali. Maka kini ketika melihatnya menangis bersama nenek, Jongin tahu Dahye-nya tetaplah Dahye-nya yang dulu. Dahye yang manusiawi dan jelas mempunyai perasaan juga.

Siang berlalu dengan cepat, dan malam mulai merayap perlahan. Jongin memutuskan bagaimana pun ia tetap harus menangih janjinya. Ia tetap harus mendengar cerita Dahye soal kejadian kemarin yang membuatnya tak pulang semalaman. Setelah meyakinkan diri, Jongin mengetuk pintu kamar Dahye kemudian bergerak masuk tanpa diminta. Dilihatnya Dahye tengah duduk memunggunginya di meja belajar, sibuk menulis atau mungkin menghitung entah apa itu. Yang pasti tumpukan buku terlihat menggunung di sekitarnya. Gadis ini benar-benar…

“Siapa bilang kau boleh masuk?” Dahye menukas datar tanpa menoleh pada Jongin.

Jongin sendiri mulai mendudukan dirinya di tepi kasur Dahye. Matanya memindai si pemilik kamar yang kelihatan begitu fokus pada tugasnya. Tak bisa dipungkiri meski telah berkali-kali menatap, Jongin selalu dibuat terpana oleh bentukan sempurna wajah Dahye. Gadis itu mengikat asal rambut panjangnya hingga membentuk cepolan acak-acakan. Helaian rambutnya yang tak ikut terikat menjuntai membingkai wajahnya dengan anggun. Keningnya mengerut samar sementara matanya terfokus pada buku yang terbuka di hadapannya, membuat Jongin dapat melihat seberapa lentiknya bulu mata gadis itu. Cantik. Entah bagaimana Son Dahye selalu kelihatan cantik di mata Jongin.

“Kenapa belajar terus sih? Mestinya kau istirahat, ‘kan.” Jongin menyahut sambil mengalihkan tatapannya dari wajah Dahye. “Dia bilang kau sakit, kalau belajar terus, bagaimana bisa sembuh.”

Dahye mendecak kecil, sementaranya tangannya tak berhenti mencoret-coret sesuatu di buku catatan. Sekilas Jongin bisa melihat sekumpulan angka dan rumus-rumus kecil yang membuat kepalanya mendadak berputar. Oh, pantas serius sekali.

“Kau harus istirahat, Hye-ya.” Ujar Jongin lagi, kali ini suaranya lebih lembut.

“Aku sudah istirahat sejak siang tadi.” Sahut Dahye akhirnya. Ia membalik halaman bukunya, kemudian bergumam. “Besok kemungkinan ada tes dadakan. Kalau tidak belajar aku bisa mati.”

Jongin terkekeh kecil mendengar ini. “Kau bahkan menyiapkan diri untuk tes dadakan. Yah—dengar ya, Son Dahye, tanpa belajar pun kau sudah bisa mendapatkan nilai sempurna di kertas ujianmu. Otakmu itu, kelewat encer.”

Dahye menoleh dan menghadiahi Jongin tatapan jengah. Ia menghela napas kemudian berujar. “Ini yang membuatmu selalu dapat peringkat paling rendah semasa di sekolah dulu. Kau tak pernah menganggap belajar itu penting, dan hanya mengandalkan kemampuan dasar otak serta untung-untungan. Bagaimana pun otak kita tetap harus diasah dengan belajar supaya tidak karatan—seperti punyamu.”

Mendengar ucapan Dahye, Jongin mengerjap-ngerjap tak percaya. Apa itu tadi? Dahye baru saja mengatainya? Oh ya Tuhan, Jongin tidak tahu haruskah ia marah atau justru senang. Ini kali pertamanya Dahye melayangkan candaan—meski lewat cemoohan—setelah sekian lama.

“Y-yak! Aku tidak sebodoh itu, tahu!” Jongin menukas sambil berkacak pinggang. “Aku juga bukan peringkat paling rendah—“

“Oh yeah, peringkat 189 dari 200 siswa jelas bukan peringkat paling rendah.” Dahye menyambar sarkastik.

“Yak!” Jongin agak kesal sekarang, atau malu lebih tepatnya.

“Apa? Memangnya aku salah?” kedua alis Dahye berjingkat tinggi.

“Setidaknya masih ada 11 orang yang nilainya lebih jelek dari punyaku.” Gumam Jongin membela diri, yang kemudian ditanggapi Dahye dengan decihan. Lalu tiba-tiba saja Jongin mulai terkekeh kecil. “Ngomong-ngomong kau masih ingat peringkatku di sekolah—sepertinya kenangan tentangku memang sulit dilupakan, ya.”

Lagi-lagi Dahye mendecih. “Tentu saja sulit dilupakan. Bagaimana mungkin aku bisa lupa setiap kenaikan kelas nenek nyaris kena serangan jantung sehabis melihat nilai super indahmu di rapot.”

Yah, yah tentu saja. Bagaimana pun Dahye tidak akan puas sebelum membuat Jongin benar-benar merasa direndahkan mengingat nilai anjloknya semasa sekolah. Tapi kemudian Jongin berdehem dan memperbaiki duduknya, sengaja membuat atmosfer diantara mereka menjadi lebih serius.

“Bicara soal nenek, kenapa kau tidak mengatakan yang sejujurnya tadi?” Jongin mulai bertanya.

Mendengar pertanyaan Jongin, Dahye terdiam sejenak. Ia menyandarkan punggungnya pada sandaran kursi kemudian memutar-mutar pena di tangannya.

“Aku… aku hanya tak mau membuat nenek semakin cemas.” Ia menjawab dengan suara pelan. “Kemarin aku telah membuat nenek panik dengan tidak pulang semalaman—aku tidak mau membuat perasaannya tambah buruk dengan mengetahui alasanku sampai tidak pulang.”

“Kalau begitu kenapa kau tidak pulang?” pertanyaan itu dilontarkan dengan hati-hati, seolah Jongin tahu Dahye bisa meledak tersinggung kapan saja.

Helaan napas pelan lolos dari mulut Dahye. Gadis itu membuka mulutnya, bersiap memulai seluruh kisahnya kemarin. Dan begitulah, bagai aliran sungai Dahye menceritakan kejadian yang telah menimpanya pada Jongin. Ia memulai dari detensinya dengan Sehun, sebab segalanya memang dimulai dari sana. Lalu tentang sekumpulam gadis bar-bar yang mengganggunya hingga insiden pengurungan di gudang dan Sehun yang menyelamatkan sampai merawatnya. Dahye sengaja melewatkan bagian sekelumit perasaan tak terbacanya untuk Sehun. Meski ingin bercerita, Dahye rasa kini bukan saat yang tepat untuk menceritakan perasaannya pada siapa pun, termasuk Jongin.

Usai ia bercerita, hening menyelimuti mereka. Jongin bungkam sementara tatapan matanya jatuh pada karpet pastel yang terhampar di lantai kamar Dahye. Ia merenung, menilai kisah Dahye dengan hati-hati. Sebelum akhirnya berujar dengan suara pelan.

“Jadi… akar dari seluruh insiden ini adalah, Oh Sehun?”

Dahye mendongak menatap Jongin dengan terkejut. Sekujur tubuhnya seperti dialiri tegangan listrik mendengar nama tadi disebutkan. Namun ada yang lebih penting baginya untuk diperhatikan selain sensasi aneh ini. Jongin menyimpulkan, Sehunlah penyebab masalah Dahye?

“Bukan begitu!” Dahye menukas cepat.

“Bukan begitu, apanya.” Sambar Jongin sementara matanya mulai membor kepala Dahye. “Kemarin kau nyaris dikurung semalaman oleh kawanan gadis kurang ajar itu. Dan mereka menyerangmu hanya karena kau terlalu dekat dengan si Oh Sehun—padahal bukan keinginanmu berada di dekatnya. Kau terpaksa dekat-dekat dengannya juga karena detensi yang seenaknya dia berikan padamu, ‘kan? Kalau begini jadinya masihkah sulit bagimu untuk menyadari bahwa Oh Sehunlah penyebab kau terperosok ke dalam masalah ini, huh?”

Sepertinya Jongin melewatkan poin terpentingnya. Dia tidak mendengarkan cerita Dahye sepenuhnya.

Dahye menegakkan duduknya kemudian menatap Jongin dengan mata memicing, kedua lengannya terlipat di depan dada.

“Memang benar. Memang benar apa yang kau katakan tadi. Tapi kau melupakan satu hal, Jongin. Dia menolongku.” Suara Dahye memelan di akhir kalimat. “Dia menolongku di saat kupikir aku telah benar-benar kehabisan harapan. Dia datang ketika kupikir aku tak punya siapa-siapa lagi yang bisa kuandalkan. Kupikir aku tak punya siapa-siapa di sisiku, tapi dia muncul dan mengenyahkan segala pikiran buruk itu—dia membuktikan padaku bahwa aku tak sendirian, bahwa setidaknya masih ada yang peduli padaku. Dia melakukan hal yang tak orang lain lakukan untukku, Jongin. Dia, telah menyelamatkanku dan aku sungguhan bersyukur untuk itu.”

Jongin terpaku di tempatnya begitu ia mendengar penjelasan Dahye. Sepupunya itu segera menundukan kepala dan mengubur wajahnya di kedua tangan. Dalam hitungan detik bahu mungilnya bergetar kecil lalu isakan itu mulai memenuhi seisi kamar.

Jongin ingin menenangkan Dahye yang menangis, ia ingin memeluknya dan mengatakan bahwa ia menyesal telah membuatnya terisak begini. Tapi Jongin tahu Dahye takkan membiarkannya menyentuhnya. Maka Jongin hanya mampu menghela napas perlahan kemudian menggumamkan maaf yang entah terdengar atau tidak oleh Dahye.

Kemudian perkataan Dahye tadi kembali terngiang di telinganya, membuatnya terusik dan merasa semakin buruk dari sebelumnya.

Dia melakukan hal yang tak orang lain lakukan untukku, Jongin.

Rasa sesal dengan segera menghantam dirinya begitu menyadari dirinya tak bisa menjadi apa yang mungkin Dahye butuhkan. Jongin menyesal tak menemukan Dahye kemarin malam. Jongin menyesal tak mampu menolong Dahye saat itu. Jongin menyesal tak bisa menjaga Dahye dengan baik. Dan ia membenci dirinya sendiri, karena telah membiarkan Oh Sehun melakukan hal yang seharusnya dapat dilakukan olehnya…

Maafkan aku, Dahye-ya.

“Sebelumnya aku selalu merasa begitu sendirian.” Dahye kembali berujar setelah tangisnya mulai reda, hidungnya memerah dan matanya membengkak karena tangis. “Eomma dan appa pergi begitu saja, kemudian eonni juga segera menyusul mereka sebelum aku sempat menarik napas. Lalu ketika kupikir satu-satunya harapanku ada padamu,” Dahye menoleh pada Jongin sembari tersenyum pahit. “kau juga ikut pergi. Kepergian orang-orang yang kusayang sama cepatnya seperti embusan angin. Tak begitu terasa, tapi menimbulkan luka dalam setelahnya.” Ia berhenti sejenak untuk menghapus jejak air mata di pipinya. “Tapi kemudian aku bertemu Sehun. Baru kemarin ia membuktikan padaku bahwa mungkin aku tak pernah sendirian, ia menyadarkanku bahwa aku masih punya harapan. Aku… tak pernah merasa seberuntung ini bertemu seseorang sebelumnya.”

Jongin mendengarkan perkataan Dahye dalam diam. Meresapi setiap kalimatnya, dan membiarkannya turun ke hati hingga membuat lubang mendalam di sana. Jongin merasa begitu kosong kini. Ia tersenyum kecil, kemudian mendongak menatap Dahye.

“Kau menyukainya.” Ia berujar tanpa ragu.

Kedua mata Dahye seketika melebar mendengar ini. Ia balas menatap Jongin dengan tak percaya. “A-apa maksudmu?”

“Kau, menyukainya, Dahye-ya. Kau menyukai Oh Sehun.” Jongin tersenyum kecil.

“Apa? Tapi—tidak! Kenapa harus—“

Dahye tidak mengerti bagaimana bisa ia kehilangan kemampuan bicara begini. Bola matanya bergerak gelisah kesana-kemari, mencoba mencari penyangkalan atas pernyataan Jongin tadi. Meski Jongin tak memberinya penjelasan namun Dahye tahu di lubuk hatinya ia pun telah mengakui hal yang sama.

“Laki-laki yang kau bicarakan dulu—yang membuatmu bertanya soal ciuman, juga Oh Sehun, ‘kan?”

Dahye ingin menyangkal, ia ingin menolak tebakan Jongin. Namun mulutnya tak bisa bergerak. Ia hanya mampu menatap Jongin dengan kedua mata melebar dan jantung bertalu cepat setelah mengingat sosok Oh Sehun.

Perlahan Jongin bangkit berdiri dari duduknya. Ia berjalan menghampiri Dahye, kemudian menepuk puncak kepalanya dengan sayang. “Aku hanya bisa berharap semoga dia laki-laki yang tepat untukmu, Hye-ya.”

Lalu Jongin melangkah menuju pintu kamarnya. Sebelum benar-benar pergi, pemuda itu menyempatkan diri untuk berbalik dan menatap Dahye dengan seulas senyuman tulus.

“Oh, aku senang kau sudah bisa kembali terbuka padaku. Lain kali, jangan ragu untuk bercerita padaku, ya? Malam, Hye-ya.”

Dan pintu mengayun tertutup, menyisakan Dahye yang masih terpekur di tempatnya memikirkan perkataan Jongin tadi.

Kau, menyukainya, Dahye-ya. Kau menyukai Oh Sehun.

Ia… menyukai Sehun?

◊◊◊

“Son Dahye, kau dipanggil ke ruang konseling.”

Seluruh kepala menoleh padanya begitu ketua kelas mengumumkan ini. Terkejut bukan main mendengar kabar panggilan untuk Dahye dari konseling. Jangankan mereka, bahkan Dahye ikut terkejut bagaimana bisa ia mendapat panggilan begini. Apa mungkin… karena dua hari lalu ia meninggalkan jam pelajaran? Tapi itu juga bukan kemauannya, ‘kan. Kalau saja pihak sekolah tahu ia korban penyerangan, mungkin masalah tidak akan melilitnya.

Dahye membuang napas kasar, kemudian bangun berdiri dari duduknya tanpa memedulikan berpasang-pasang mata yang mengawasinya. Gadis itu memacu langkahnya cepat-cepat menuju ruang konseling di ujung gedung, sementara kepalanya tak henti-henti memikirkan apa kiranya yang membuat ia sampai dipanggil.

Langkahnya lantas terhenti ketika melihat sosok Oh Sehun berdiri bersandar di samping pintu ruang konseling dengan kedua tangan terlipat di depan dada. Hari itu Sehun mengenakan kemeja biru navy yang lengannya digulung sampai sikut. Pemuda itu menundukan kepalanya sampai ia mendengar langkah kaki Dahye mendekat. Ketika ia mendongak, ketika itu pula matanya bertemu dengan Dahye. Seulas senyum terulas di sana, sukses menciptakan debaran kelewat cepat untuk jantung Dahye.

“Kau pasti kaget mendengar guru konseling memanggilmu.” Sehun menukas.

Sebelah alis Dahye berjingkat mendengar ini. “Bagaimana kau tahu aku dipanggil ke ruang konseling?”

Senyuman Sehun kian melebar. Ia mengayunkan tangannya, menyiratkan agar Dahye berjalan mendekat. Dan ketika gadis itu melakukan keinginannya, Sehun meletakan sebelah lengannya di bahu Dahye. Merangkulnya dengan ringan kemudian mendorong pintu ruang konseling hingga terbuka.

Dahye yang masih dikuasai terkejut akan Sehun yang merangkulnya kembali dibuat terkejut begitu melihat siapa-siapa saja yang menunggu di dalam ruangan. Di belakang meja duduk Yoo seonsaeng guru konselingnya, serta Go seonsaeng. Sementara di seberang mereka duduk keenam gadis bar-bar yang tempo hari menyerang Dahye. Keenam gadis itu mendongak begitu melihat Dahye masuk bersama Sehun. Sebagian dari mereka kelihatan beringsut tak nyaman, sebagian lagi kelihatan malu-malu mendapati Sehun berdiri di sana, dan sisanya kelihatan kesal—mungkin karena Dahye.

“Silakan duduk, Oh seonsaeng, Son Dahye.” Go seonsaeng berujar dengan tenang sembari menunjuk dua kursi yang tersisa.

Dahye duduk di samping kelompok gadis bar-bar, sementara Sehun mengambil kursi di samping Yoo seonsaeng. Sekilas pemuda itu melayangkan senyum menenangkan pada Dahye, seolah ingin berkata bahwa semuanya baik-baik saja.

“Kalian mungkin tahu apa yang membuatku mengundang kalian semua kemari.” Yoo seonsaeng memulai, lewat kaca mata perseginya ia menatap Dahye dan kelompok bar-bar bergantian.

Dahye memilih bungkam, dan keenam gadis di sampingnya pun mengambil pilihan yang sama. Ruangan lengang, tak satu pun membuka suara.

“Sebenarnya aku ingin melakukan pertemuan ini sejak hari kemarin, namun karena Oh seonsaeng memintaku untuk menundanya sebab Dahye absen sakit,” Yoo seonsaeng berhenti sejenak untuk menatap Dahye sekilas. “maka aku melakukannya hari ini.”

Kerutan tipis tercipta di kening Dahye. Sepertinya ia mulai tahu kemana pertemuan ini akan bermuara. Ia mengerling Sehun yang duduk di seberangnya, kemudian mendapati pemuda itu mengangguk samar padanya.

“Atas laporan Oh seonsaeng aku mendapatkan berita mengejutkan ini kemarin pagi.” Yoo seonsang berdehem lantas mengamati keenam gadis bar-bar di hadapannya. “Enam orang siswi menyerang satu siswi tanpa alasan yang jelas di tengah-tengah koridor ketika jam pelajaran berlangsung. Bukan hanya menyerang, enam siswi itu juga membawa satu siswi korbannya ke gudang belakang sekolah lantas mengurungnya di sana. Kalau saja Oh seonsaeng tak kembali untuk mengambil bukunya yang tertinggal dan menemukan seluruh kejanggalan ini, mungkin siswi itu akan terus terkurung di dalam gudang sampai keesokan paginya. Kurasa, kalian tahu siapa yang sedang kubicarakan?”

Lagi-lagi hening. Dahye tak bisa mencegah dirinya untuk tidak menatap kelompok gadis bar-bar di sampingnya. Mereka semua kelihatan ciut di bawah tatapan tajam Yoo seonsaeng dan Go seonsaeng serta Sehun. Sampai kemudian salah seorang gadis, yang Dahye ingat sebagai ketua kelompok ini, berujar dengan berani.

“Tidak, saya tidak mengerti sama sekali apa yang Seonsaeng-nim katakan. Sampai detik ini saya bahkan tak tahu atas alasan apa saya dipanggil kemari.”

Cih. Tidak bisa dipercaya.

Go seonsaeng tersenyum kecil mendengar ini. Ia melipat kedua tangannya di atas meja kemudian menatap gadis di hadapannya dengan tertarik. “Ahn Soojin, kau yakin benar-benar tidak mengerti apa yang Yoo seonsaeng bicarakan? Ah, menurutmu apa yang kupikirkan ketika dua hari lalu enam muridku menghilang dari kelas dan menemukan rekaman CCTV ini?”

“R-rekaman… CCTV?” Ahn Soojin membeo tidak percaya dalam bisikan pelan.

Sehun yang sejak tadi bungkam memutar laptop di hadapannya kemudian mendorongnya pada Soojin dan teman-temannya. Di sana, terpampang jelas tayangan CCTV yang merekam seluruh aksi gadis-gadis bar-bar ini pada Dahye tempo hari. Wajah masing-masing dari mereka terekam dengan sangat jelas, hingga sulit untuk menemukan penyangkalan.

Begitu tayangan selesai, hening tak biasa melanda seluruh ruangan. Keenam gadis bar-bar itu membeku, tak tahu harus memberikan tanggapan bagaimana. Bahkan Ahn Soojin yang biasanya selalu pintar berdalih hanya mampu terpekur. Mereka telah telak tertangkap basah.

“Masih bisa menyangkal keenam gadis ini bukan kalian?” Yoo seonsaeng bertanya sembari menilik masing-masing gadis di hadapannya. “Atau mungkin punya alasan kenapa kalian melakukan ini semua?”

Nah, coba dengar apa yang akan mereka katakan.

“Itu… rekaman di CCTV itu—memang kami!” Tanpa disangka-sangka salah seorang gadis buka suara. Seisi ruangan terkejut mendengar pengakuannya, bahkan Soojin melayangkan tatapan memperingatkan padanya. Namun gadis itu kelihatan tak mau berhenti. “Itu memang kami, tapi kami punya alasan melakukannya!”

Kedua alis Yoo seonsaeng berjingkat mendengar ini. “Apa itu?”

“Dia,” gadis itu menoleh pada Dahye, kemudian memberinya tatapan mematikan. “terlalu dekat dengan Oh seonsaeng. Memangnya boleh seorang murid dan guru berhubungan kelewat dekat? Aku bahkan melihat Oh seonsaeng mengantar dia malam-malam beberapa hari lalu! Bukankah ini sudah kelewatan?”

Ruangan kembali hening setelah gadis itu selesai menumpahkan isi kepalanya. Kelima temannya menoleh pada gadis itu kemudian memberinya semacam tatapan benar-kau-hebat-telah-mengatakannya.

Dan kini giliran Dahye yang membeku. Ia tertegun ketika menyadari kebenaran perkataan gadis tadi. Bagaimana pun ia tetap seorang murid dan Sehun tetap seorang guru. Kedekatan mereka mungkin saja mengundang tanda tanya bagi siapa pun yang melihatnya—dan bukankah hal itu terlarang? Bukankah tak seharusnya seorang murid dan guru berhubungan terlalu dekat?

Oh, astaga. Dahye pikir matilah riwayatnya.

“Guru dan murid mungkin memang tak boleh punya hubungan khusus—jika itu yang kau maksud. Tapi memang apa salahnya mengantar pulang sepupumu, apalagi setelah malam turun?” Yoo seonsaeng berujar pelan-pelan, sukses membuat enam gadis itu, ditambah Dahye terkejut.

Apa?

“Sepupu…?”

“Dahye memang sepupu jauhku. Sejak aku bekerja di sini, pihak keluarganya memintaku untuk menjaga Dahye, mengingat Dahye telah berada di tingkat akhir. Saat yang kau lihat kemarin memang aku mengantarnya pulang, sebab ada kepentingan yang harus kuurus dengannya—pasti sudah dengar soal detensi itu. ‘kan?”

Ahn Soojin kelihatan masih tak mau percaya dengan kabar yang baru didengarnya. Well, jangankan Soojin, Dahye saja tidak.

“Kalau benar Dahye itu sepupu Seonsaeng, lalu kenapa Seonsaeng memberinya detensi?” Soojin bertanya dengan kening mengerut.

Sehun, memasang senyum manisnya mendengar pertanyaan ini. “Bagaimana pun saat itu Dahye telah bersikap kurang sopan padaku. Tak peduli saudaraku atau bukan, aku tetap harus menghukumnya atas tindakannya itu.”

Seperti mendapat tamparan keras di wajah, Soojin terempas begitu saja di kursinya. Ia menatap ke depan dengan kosong. Mungkin untuk pertama kalinya menyesali perbuatannya pada Dahye. Maksudnya, sia-sia saja ia bertingkah jika kenyataannya Sehun dan Dahye hanya sebatas sepupu.

“Jadi kalian melakukan ini semua hanya karena Oh seonsaeng? Wah, benar-benar…” Go seonsaeng bergumam tak percaya di kursinya.

“Nah, berhenti membicarakan hubungan keluarga Oh seonsaeng dan Son Dahye. Sekarang, mari kita kembali pada topik semula—Dahye, mungkin ada yang ingin kau katakan pada keenam temanmu ini?” Untuk pertama kalinya Yoo seonsaeng bertanya pada Dahye.

Sejenak Dahye terdiam. Ia memandang keenam gadis di sampingnya, yang kini jelas-jelas menghindari tatapannya. Diam-diam Dahye mendecih, seandainya saja tak ada guru-guru yang mengawasinya, mungkin ia akan membalas keenam gadis ini dengan fantasi terliarnya. Namun Dahye tetaplah Son Dahye si murid teladan di depan mata semua guru. Maka ia berujar setelah menghela napas pelan.

“Tidak ada, Seonsaeng-nim.”

Meski agak terkejut Yoo seonsaeng tetap mengangguk-angguk. Ia kemudian berdehem, dan kembali mengalihkan atensinya pada keenam gadis. “Kalau begitu, kita tinggal merundingkan hukuman apa yang pantas untuk kalian dapatkan.”

◊◊◊

            Dahye tak berniat menghindari detensinya lagi. Sore itu ia melangkah dengan ringan menuju ruangan Sehun, meski tak dapat dipungkiri jantungnya berdebar dengan antusias. Pintu ruangan separuh terbuka begitu Dahye sampai di sana. Ragu-ragu ia melangkah masuk, dan menemukan ruangan kosong melompong.

Menjatuhkan tubuhnya di atas kursi di depan meja, Dahye memutuskan mungkin lebih baik ia menunggu Sehun saja. Sebenarnya ia punya kesempatan besar untuk kabur. Tapi semenjak Sehun menolongnya, Dahye rasa agak keterlaluan kalau ia memilih terus berlari dari kewajibannya dengan Sehun. Sebagai senjata pengusir jenuh, Dahye mengeluarkan ponselnya dan mengutak-atis aplikasi di dalamnya.

“Senang melihatmu duduk manis di sini dan bukannya lari kabur, nona Son.”

Suara itu sontak menghentikan kegiatan Dahye. Ia mendongak dan menemukan Sehun tengah berdiri di sampingnya dengan dua botol minuman kaleng di tangan. Sehun memberikan salah satunya pada Dahye, kemudian mendudukan diri di atas meja. Dahye mengamati Sehun yang kini meneguk minumannya sendiri.

“Minum saja. Aku tidak memberinya racun, kalau itu yang kau takutkan.” Sehun menukas sambil menunjuk Dahye menggunakan botol minumannya.

Dahye mendengus lantas bergerak membuka minumannya. Jus leci. Entah kebetulan atau bukan, Dahye memang suka rasa ini. Tapi ia tak mau menunjukannya dan memilih kembali sibuk dengan ponselnya.

“Yah—melihatmu terus-terusan asik dengan ponsel aku jadi curiga kau sebenarnya punya pacar.” Sehun tahu-tahu menukas, membuat Dahye mengangkat kepalanya.

“Memangnya sibuk dengan ponsel berarti kau punya pacar, ya?” Dahye bertanya dengan wajah malas. Ia menaruh ponselnya di atas meja kemudian bersilang dada.

Sehun mengedikan bahunya. “Aku pernah berada di usiamu, dan dulu itu yang selalu kulakukan.”

Ah jadi maksudnya dulu ketika Sehun seusia Dahye ia selalu berkirim pesan dengan pacarnya, begitu?

Diam-diam Dahye mendengus. Sehun ingin pamer dulu dia punya pacar sementara saat ini Dahye tidak, begitu? Cih, menyebalkan sekali.

“Maumu apa, sih?” Dahye menukas setengah jengkel.

“Mauku? Kau tanya apa mauku?” seulas senyum usil mengembang di wajah Sehun. Dengan cepat ia menyambar ponsel Dahye di atas meja, lalu mengutak-atik sesuatu di sana.

“Y-yak! Apa yang kau lakukan?”

Sebelum Sehun sempat menjawab pertanyaan Dahye, deringan ponsel terdengar ke seluruh ruangan. Dengan tenang Sehun mengeluarkan sebuah ponsel dari saku celananya, kemuidan menekan ikon end-call di layarnya. Ia menyerahkan kembali ponsel Dahye pada pemiliknya sembari tersenyum lebar.

“Mauku adalah mendapat nomor ponselmu.” Sehun berujar sembali menggoyang-goyangkan ponselnya di depan wajah Dahye. “Itu nomorku, jangan ganti namanya atau kau akan menyesal.”

Dahye menunduk menatap ponselnya sendiri. Keningnya mengerut begitu ia membaca nama yang menyertai deretan angka di bawahnya.

Guru Oh Tampan♥

Oh ya Tuhan.

“Kau pasti sudah gila.” Dahye bergumam tidak percaya, ia hendak mengubah namanya namun Sehun dengan segera menahannya.

“Tidak boleh diganti. Anggap saja ini sebagian dari detensimu, oke?”

Aish. Benar-benar.

“Ngomong-ngomong soal detensi, aku jadi teringat pertemuan di ruang konseling tadi.” Dahye berujar, ia mendongak menatap Sehun yang juga tengah memandangnya. “Yoo seonsaeng tahu itu semua… darimu?”

Sejenak Sehun terdiam. Ia kemudian meletakkan minumannya di atas meja dan berdehem pelan. “Iya, aku yang melaporkan semua itu kemarin pagi. Bagaimana pun mereka harus diberi pelajaran.”

“Tunggu, kemarin pagi?” Dahye mengulang agak terkejut. “Kalau begitu, kau berbohong saat bilang kemarin pagi izin untuk merawat kucing peliharaanmu?”

Mendengar ini Sehun lantas dibuat tergelak. “Tentu saja aku hanya bercanda! Mana mungkin guru baru sepertiku diizinkan absen mengajar hanya karena kucing peliharaan.”

Dan ia kembali tergelak. Puas sekali menertawai Dahye yang menerima bualannya. Lalu ketika melihat raut keras terpeta di wajah Dahye, Sehun segera berdehem dan menyudahi tawanya.

“Kemarin aku berkata bahwa aku merawatmu yang sedang sakit karena kau tak punya wali di rumah. Pihak sekolah percaya saja, sebab kemudian aku berkata bahwa aku sepupu jauhmu—ditambah soal laporan penyeranganmu, mereka tak mempersulit sama sekali. Bukankah kelihatannya jadi normal untuk seorang saudara menyelamatkan keluarganya?”

Dahye terdiam mendengar ini. Jadi Sehun telah merencanakan ini semua sejak kemarin?

“Kau sengaja berbohong bahwa kita sepupu, lalu melaporkan keenam gadis itu?” Dahye bertanya pelan.

“Tentu saja. Aku harus melaporkan keenam gadis itu agar mereka kapok.” Sahut Sehun cepat. Kemudian tatapannya berubah melembut ketika kemudian ia melanjutkan. “Dan dengan mengatakan bahwa kita merupakan sepupu bukankah itu memudahkanku untuk terus berada di sampingmu dan melindungimu? Seperti janjiku.”

Dahye tercenung. Ia menatap Sehun dan menemukan pemuda itu tengah tersenyum hangat padanya. Sehun kemudian turun dari duduknya untuk membungkuk di hadapan Dahye sembari mengusak puncak kepalanya.

“Dengar, ya, Son Dahye. Selama kau di sisiku, aku berjanji kau tidak akan mengalami hal mengerikan seperti itu lagi. Karena itu, jangan jauh-jauh dariku. Paham?”

Lalu Sehun menunduk untuk mendaratkan satu kecupan ringan di puncak hidung Dahye. Pemuda itu menjauh dan kembali ke belakang mejanya setelah berhasil menciptakan semburat merah di pipi, sengatan listrik di sekujur tubuh, dan debaran jantung yang menggila.

            Kau, menyukainya, Dahye-ya. Kau menyukai Oh Sehun.

            Iya, kurasa juga begitu.

            …kkeut

Note♥

Ahh maafin aku lagi-lagi telat update:( tapi sebagai ganti telat updatenya chapter kali ini aku panjangin jadi 5000w, moga ga ada yang mabok yak bacanya wkwkwk eterus-terus kemaren pada pengen momennya jong-hye yaah? Nih disini aku udah banyakin momen mereka hihi tapi jangan pada sedih yah si jonginnya dibikin potek-potek, kan di real-life dianya udah punya cewek. Tsaah=))) anw happy dating yap buat kaistal, moga langgeng ampe nenek kakek deh /etelat mba telat ngucapinnya-_-

Ah yasudahlah segini dulu aja:D semoga kalian suka chap iniyaa^^ seeya on next chap gengs~~                          

…mind to leave a review?

 

134 responses to “The Dim Hollow Chapter 7 by Cedarpie24

  1. Pingback: The Dim Hollow Chapter 11 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  2. Kasihan sama Baekhyun sama Jongin mereka belum dapet seseorang buat mereka sendiri… lega kalau yang ngebully Dahye dah ngaku kesalahannya… setelah detensi kini sepupu… dalih apa lagi yang akan kau katakan buat semakin lengketnya ,,, pake nyimpen nomor lagi… romantis aja kau …

  3. Well well kai pergi kemana lah dia tu
    Sampk akhirnya dahye jadi tertutup gtu

    Dannn sehun ngaku sodara
    Jangan sampk kejebak ama hubungan family zone
    LOL

  4. Pingback: The Dim Hollow Chapter 13 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  5. pas cek list ff yang masih harus aku baca, aku baru inget kalo belum ngelanjutin ff ini :v ga puas sebenernya cuma baca 1 chapter, tapi apa daya besok sahur:v penasaran banget nanti si jongin bakalan inget apa enggak sama si sehun dan penasaran ama kelanjutan semuanya juga sih :v besok abis sahur aku lanjutin baca pokoknya :v

  6. Sepupu? Haduh, sehun banyak bohong. Dia juga makin berani buat nyentuh dahye -_- tapi itu sweet! Aku gak akan menyangkal

  7. Dahye bikin iri semua orang yan selalu dapat perhatian sehun. Tapi sehun hentikan perhatianmu karena memberi harapan palsu itu jahat tau karna kamyu nggak suka dahye.mau lanjut baca dulu ya akunya bye

  8. Akhirnya ke6 cewe cewe yang ngusilin dahye dipanggil ke bp dan mereka akan dapat hukuman. Sehun bener bener kayak guardin angelnya dahye😂 dan sehun yaampun😦 dia udah berani nyium dahye lagi😂

  9. Pingback: The Dim Hollow Chapter 14 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  10. Aku masih belum ngerelain kai yang sedih gitu. Kasian kaiiiii 😭
    Gimana pun juga nasibnya kai bener bener kasian, dia suka kan sama dahye~
    Tapi aku ada senengnya juga sih soalnya kai bener bener baik dan gak selfish.
    Semoga alu bisa ngerelain perasaan sakit hati kai ke dahye🤔
    Tapi lucu dan seneng juga sih ngeliat tingkah sehun sama dahyee semoga mereka terus terusan kaya gini dan hubungannya makin berkembang yaa~

  11. Pingback: The Dim Hollow Chapter 15 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  12. asiiikkkk dahye udah ngerti sama gambar yang telah ia selesaikan puzzlenya, gamaran kalo ia menyukai sehun, tinggal sehun nih kapan bisa move on dari dayoung dan ngerti kalo ia suka sama dahye

  13. Pingback: The Dim Hollow Chapter 16 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  14. Pingback: The Dim Hollow Side Story: Forbidden by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  15. eakkkkk kucing dibawa bawa lagi wkwkw
    tapi gatau kenapa aku suka banget kalo ada adegan cium hidung, kayaknya lucu aja gituu wkwkwk
    oh iya, si jongin sebenarnya itu “oppa” yang suka di sebut dahye pas masih kecil? trs orang yang disukai jongin pas masih kecil juga si dahye jangan jangan?

  16. Pingback: The Dim Hollow Chapter 17 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  17. Pingback: The Dim Hollow Chapter 18 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  18. Pingback: The Dim Hollow Chapter 19 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  19. Pingback: The Dim Hollow Chapter 20 by Cedarpie24 | SAY KOREAN FANFICTION·

  20. Nggk bs ngebayangin gmn sakitnya dahye kl tau sehun yg nyebabin eonniny bunuh diri. Sehun agresif bgt ya, wkw. Ijin lanjut baca ya^^

  21. etjieee sehun uhuk uhukkk segala pake bilang kalo sepupunya biar bisa deketan terus tuh sama dahye … ya udah keliatan jelas sih kalo mereka berdua saling suka.. cuma yang dipermasalahin sehun suka karna emang dia ngeliatnya dahye apa karna dia ngeliat dahye sebagai kakaknya sedih banget dong ya …
    btw buat jonginn sabar yahh tamvann
    bagus kak! semangat teruss!!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s