[Chapter 1] WHAT IF — by echaakim

what-if[1]

W H A T   I F
Chapter 1

© echaakim 2016

Kai x Krystal x Sehun in action-drama-sad-life-romance-friendship for PG-15

“Ini mungkin menjadi beban pikiranmu,” Sehun berkata. Jongin tahu Sehun bukanlah orang yang handal menebak isi hati seseorang, tapi kali ini si pirang itu benar. “Tapi mudah saja, Xi Luhan sebenarnya sedang berkeliaran di daerah sini.”

index : Trailer/Prologue

Bagi Jongin, bukanlah hal baru jika begitu banyak brosur dengan title ‘orang hilang’ yang sengaja direkatkan di tiang listrik atau tempat yang dapat dilihat oleh orang banyak lainnya di kota itu. Jam digital pada dashboard mobilnya merujuk pukul sebelas lebih dua puluh menit. Jalanan sudah sepi—sunyi, senyap. Meskipun lampu jalanan yang dilewatinya menyala redup, Jongin masih dapat melihat jelas brosur orang hilang yang menampilkan profil seorang remaja laki-laki dengan seragam sekolah. Pasti brosur itu masih baru dipasang di sana, Jongin menerka.

Jongin memarkir mobilnya di parkiran yang hanya terisi oleh tiga mobil dan ia dengan mudah mengenali salah satunya yang ber-plat familiar—mobil sang bos besar.

Lelaki itu langsung tahu kalau dia mendapat misi baru ketika Kris, si bos besar, menghubunginya setengah jam lalu. Harusnya sekarang dia menikmati waktu istirahatnya, harusnya. Tapi panggilan mendesak Kris bagaikan harga mati—tak dapat diganggu gugat. Dan di sinilah dia sekarang; ruangan Kris yang mewah dengan corak bangsa Cina (terlalu banyak ornamen berwarna merah dan aksara Cina di ruangan itu).

Jongin menahan diri untuk tidak memaki Kris saat pria kelebihan kalsium itu masuk ke ruangannya dengan senyum sumringah. Dia sibuk merapikan kemejanya yang kusut dan dasi abu-abunya yang tak karuan. Jongin menebak kalau perempuan Kris malam ini pastilah begitu brutal. Menjijikkan.

“Aku sedang tidur dan bermimpi indah sekali kala kau meneleponku,” Jongin membuka suara. Kris yang duduk di kursi putarnya hanya melirik sekilas. “Demi Tuhan, Kris, kupikir kau sudah lupa perjanjian kita untuk tidak menganggu waktu istirahat masing-masing.”

Kris tersenyum simpul. Jemarinya yang kurus mengeluarkan beberapa dokumen dari laci mejanya. “Serius, yang satu ini benar-benar darurat—atau aku saja yang terlalu berambisi, ya?” Lelaki itu memilah-milah dokumen dan beberapa berkasnya. Dia tahu kalau Jongin begitu kesal, namun tak mau membuang-buang waktu untuk sekadar bertanya. Toh, juga dia tahu kalau Jongin bukan tipikal yang banyak omong dan membantah. Lagipula, dia ‘kan bos di sini.

“Aku ingin kau menghabisi satu orang,” Kris berhenti pada satu dokumen dengan tulisan Cina yang tak dapat dibaca Jongin. Lelaki itu menunjuk profil pada berkas dalam dokumen, “Dia pebisnis muda, kaya raya, dan menjijikkan. Licin seperti belut, entah sudah berapa banyak kecurangan yang ia lakukan selama hidupnya menjadi pebisnis.” Kris menjelaskan pada Jongin yang mengerutkan dahi.

“Apa dia orang Cina?” Tanya Jongin tanpa menengok pada Kris.

Kris mengangguk. “Benar, Jongin. Dia musuh semua pebisnis se-Korea dan Cina. Kami para pebisnis bertaruh untuk menghabisinya, dan kutahu kau adalah orang yang pantas untuk melenyapkannya, Jongin.”

Jongin tak merespon apa-apa dan baru mengangguk setelah dua puluh detik diam. “Kabar bagusnya, dia sedang di Korea sejak dua hari lalu. Mengunjungi perusahaan yang dikelola sepupunya sekaligus liburan, katanya.” Kris memberi Jongin selembar foto sang target.

Jongin memperhatikan foto itu untuk beberapa detik sebelum menyimpannya dalam saku mantel. “Oke, berapa yang kudapat?” Tanya Jongin dan Kris memberinya satu koper kotak hitam. “Anggap saja itu uang muka,” Kata Kris, “Aku akan memberikan tambahan setelah kau menyelesaikannya.”

Seringai licik muncul di wajah Jongin, lantas menerima koper kotak itu. “Kuharap kau membayarku berkali-kali lipat untuk ini, Kris.”

Jongin beranjak dan mulai membuat langkah diiringi Kris. Suara langkah kaki mereka menggema dalam lorong yang kosong. Ada banyak yang bisa ia lakukan dengan sekoper uang di tangannya ini. Menimbun kekayaannya atau mungkin berfoya-foya dengan teman dekatnya. Ia hanya perlu melaksanakan perintah Kris untuk menghabisi nyawa seorang target. Dan jika ia sedang ingin bermain-main, ia akan menyekap targetnya lalu menyerahkannya pada sindikat perdagangan manusia untuk mengambil organ-organ pentingnya. Dengan begitu ratusan juta uang mengalir dengan mudah ke tangannya bagaikan air. Mudah ‘kan?

Inilah Kim Jongin. Usianya baru dua puluh empat tahun ini. Orang lain mungkin akan mengiranya sebagai pebisnis yang sukses pada usia muda (atau mungkin model sampul majalah karena dia tampan) ketimbang seorang pembunuh bayaran. Puluhan identitas berbeda, bermain kucing-kucingan dengan polisi, menodongkan pistol atau menghujami orang dengan pisau sudah jadi hal yang lumrah baginya. Terlalu mudah.

“Aku tak sabar merayakan pesta musnahnya si bajingan satu itu.” Kris berkata saat mereka sudah sampai di depan lift. Jongin hanya mendengus dan memberinya senyuman datar, “Apa kau juga mau turun ke bawah?”

Kris dengan cepat menggeleng, tertawa. “Tentu saja tidak,” Katanya, memijat pangkal hidungnya yang bangir, “Aku masih mau bersenang-senang dengan wanitaku sampai pagi. Sampai jumpa, Jongin.” Kris memberinya senyuman sebelum berbalik pergi.

Jongin mengangkat bahu, acuh. Dia masuk ke dalam lift dan menekan tombol untuk lantai dasar. Dan sebelum pintu lift tertutup, dia berteriak pada Kris dan lelaki jangkung itu berhenti.

“Omong-omong resleting celanamu belum dikancing, tuh.”

 

—••—••—

“Maraknya kasus dan laporan orang hilang makin ramai belakangan ini. Diduga kasus ini merujuk pada kabar adanya sindikat perdagangan manusia tempo hari. Dalam kasus ini, polisi dan pemerintah dinilai lamban dan tidak efektif menangani kasus penculikan dan orang hilang ini—”

Soojung bukanlah penikmat tayangan berita bagi sebagai pemula hari. Ini bahkan belum pukul delapan dan dia tak mau memakan sarapannya ditemani berita pagi yang membosankan. Dia menyambar remote dan menggantinya ke saluran anak-anak yang menayangkan serial kartun Tom and Jerry. Setidaknya lebih baik.

Dia mengunyah sepotong roti selai dan meneguk secangkir kopi yang diklaimnya sebagai sarapan hemat waktu dan ponselnya bergetar panjang, berkedip beberapa kali menandakan adanya panggilan masuk. Soojung mendesah, meneguk kopinya sekali lagi sebelum menjawab.

“Hei, Soo, apa  kau sudah berangkat kerja?” Suara perempuan terdengar setelah Soojung menyuarakan ‘halo’.

“Belum,” Soojung melirik jam dinding, “Aku berangkat pukul delapan. Sebentar lagi. Kenapa?”

“Tidak ada. Berhati-hatilah, belakangan banyak laporan orang hilang dan—”

“Dan kau khawatir aku hilang? Astaga, Jess, adikmu ini sudah cukup besar dan dewasa. Aku bisa jaga diri, oke? Lagipula tujuh bulan ini berjalan baik.”

Terdengar desahan di seberang sana. “Ya, ya, ya, aku tahu. Tetaplah waspada dan hati-hati. Jaga kesehatan dan keselamatan, oke? Aku sedang menuju kantor, kuhubungi lagi nanti, ya? Bye.”

Soojung mengangguk meski si penelepon tak akan melihatnya. Dia hanya mengiyakan dan sambungan terputus begitu saja. Soojung menyimpan ponsel ke dalam tasnya, mematikan televisi, dan meletakkan cangkir kopinya yang sudah kosong itu ke tumpukan piring kotor. Merapikan rambut dan kemejanya sebelum merajut langkah menuju pintu, berangkat kerja.

Soojung berjalan sendirian di tengah keramaian kota pagi ini. Orang-orang berlalu-lalang, jalanan sibuk, dan Soojung merasa diingatkan akan padatnya Seoul. Tidak, dia tidang sedang berada di Seoul. Daerah ini hanya kota kecil yang populasinya tak sepadat ibukota. Daerah ini agak terpencil—mengingat daerah ini berada di sudut kota—tapi Soojung menyukainya.

Sejatinya, Soojung tak seharusnya hidup di kota kecil seperti ini. Apartment yang tak seberapa luas, hidupnya sengaja dibuat terlampau sederhana. Sebelum ini, Soojung tinggal dengan Jessica, kakaknya yang berprofesi sebagai detektif muda yang berbakat sementara kedua orang tua mereka mengurus perusahaan di Kanada. Dan Soojung yang mewarisi bakat ibunya sebagai pengusaha, mengelola perusahaan sang ayah bersama sang kakak.

Hidupnya dirasa begitu mudah. Dibalik rumah mewah yang ia tinggali bersama Jessica, dibalik mobil-mobil mewah yang sering ia kendarai, dibalik barang-barang mahal yang ia belanjai dengan bebas, dibalik rekeningnya yang tak pernah surut kiriman dari orang tua, Soojung merasa begitu jenuh. Bukannya ia tak bersyukur, bukan. Hanya saja Soojung ingin terlepas dari kehidupannya yang bagaikan putri kerajaan itu dan menjalani kehidupan yang sederhana saja.

Soojung meninggalkan kehidupannya yang mewah begitu mudah. Meski dia akui bernegosiasi dengan Jessica bukan hal yang segampang menarik-hembuskan napas. Kakaknya itu menolak mentah-mentah keinginannya untuk mandiri, meninggalkan semua kekayaan yang ia peroleh dengan mudah. Namun hati Jessica tak sekeras batu, walau ia masih bersikeras menahan Soojung tapi dengan separuh hati ia akhirnya menyetujui keinginan adiknya itu dengan satu syarat; Soojung harus sering-sering menghubunginya.

Soojung memulai kehidupan barunya dari dasar. Menanggalkan gelar ‘putri konglomerat’-nya dan gelar sarjana yang ia dapat dengan gampang beberapa tahun silam. Menyewa apartment sederhana dan menyandang profesi sebagai pegawai di sebuah toko roti merangkap kerja paruh waktu sebagai kasir di supermarket. Menyusahkan. Tapi Soojung menyukai pekerjaan kelas bawah (Jessica menyebutnya begitu) seperti itu dan menikmati uang yang ia hasilkan dengan keringatnya sendiri.

Gadis itu sampai di toko lima menit lebih lambat dari hari biasa. Dia berjingkat lewat pintu belakang dan dapur terlihat benar-benar sibuk. Dua pegawai lainnya, Seulgi dan Wendy tampak tak menyadari kedatangan Soojung. Bersyukur, Soojung melarikan diri ke kamar ganti untuk menukar kemejanya dengan seragam toko. Namun Soojung harus menelan rasa kagetnya bulat-bulat kala pundaknya tiba-tiba saja ditepuk seseorang.

“Apa yang membuatmu terlambat, Jung Soojung?”

—••—••—

Jongin tak tahu apa yang membuatnya terbangun sedemikian cepat. Padahal ia sudah membuat niat untuk tidur selama dan sepuas mungkin setelah kembali dari tempat Kris malam tadi. Sinar matahari berusaha mengintip lewat tirai jendela. Cicit suara burung bersahut-sahutan dan kasurnya agak bergoyang.

Jongin menoleh ke sisi kirinya dan ingin menyumpah saat itu juga. Seorang laki-laki terkapar di sana, dengkuran halus terdengar dan Jongin yakin betul kalau dia sudah mengunci pintu tadi malam. Jongin yang dibuat sadar sepenuhnya langsung menendang lelaki yang tengah pulas tidur itu sampai terjatuh.

“Dasar sinting! Apa yang kau lakukan di kamarku, heh?” Sembur Jongin begitu lelaki itu mengaduh dan terbangun.

Lelaki itu hanya berdecak sebal. Dia naik lagi ke kasur dan balas menendang kaki Jongin. Rambut pirangnya kusut dan tak beraturan. “Kau tidak buta ‘kan? Tentu saja aku sedang tidur dan kau menendang pantatku yang tak berdosa ini, tahu!”

“Iya, iya, tapi apa yang kau lakukan di sini sepagi ini?” Tanya Jongin lagi, kali ini terdengar sedikit lebih bersahabat, “Kau tidur di sebelahku sepanjang malam tadi? Oh, bagus, Sehun. Kau membuatku seperti —ah, menjijikkan!”

Lelaki yang dipanggil Sehun itu hanya tergelak tanpa dosa, lalu seringai mengerikan muncul di wajahnya. “Aku tamu di rumahmu dan kau menyuruhku tidur di sofa? Lebih bagus lagi, Jongin, kau kategorikan apa persahabatan kita belasan tahun ini, sialan?”

Jongin melempar bantal pada Sehun yang sedang mencoba untuk tidur kembali. Dia beranjak ke kamar mandi, mengabaikan Sehun yang mengerang kesal karena dilempari bantal. Jongin ingin membasuh pikirannya dengan air shower yang hangat. Suatu artikel mengatakan bahwa mandi di bawah pancuran dapat meringankan perasaan. Jongin bukan orang yang tertarik dengan hal-hal seperti itu, tapi mungkin kali ini dia ingin mencobanya.

Dia menghabiskan lebih dari tiga puluh menit di dalam sana. Jongin tidak mendapati Sehun di kamarnya ketika ia selesai, namun ia berspekulasi kalau Sehun berada di dapur. Dan seperti tebakannya tak pernah meleset, dia menemukan Sehun di sana—menyuapi dirinya sendiri dengan sesendok nasi goreng yang warnanya pucat dan aneh.

“Kulkasmu kosong dan aku hanya bisa memasak ini untuk sarapan,” Sehun bersuara dengan mulut penuh. Kemudian menunjuk sepiring nasi goreng lain di depannya, “Makanlah, meskipun warnanya aneh tapi aku tidak meracunimu hanya karena kau menendangku tadi, kok.”

Jongin tak berkomentar apa-apa, dia menarik kursi dan duduk berhadapan dengan Sehun yang sudah hampir selesai. Menyendok sarapan buatan Sehun dalam diam, pikirannya melayang entah ke mana. Targetnya kali ini mungkin betul-betul licin seperti belut. Dia pasti pebisnis dengan bodyguard berbadan kekar yang berjalan di belakangnya. Jongin mulai berpikir tentang bagaimana cara termudah untuk mendapatkan targetnya itu. Tiba-tiba saja dia teringat kalau Sehun datang dengan motor besarnya sepuluh menit setelah dia kembali dari tempat Kris. Sehun mengaku ingin bermain-main sebentar dan Jongin ingat dia meninggalkan Sehun sendirian menonton siaran olahraga sementara dia memasuki kamar untuk menyambung tidurnya yang sempat terputus.

Sehun lebih muda empat bulan darinya. Mereka bertemu saat masih di sekolah dasar dan menjalin persahabatan yang tak terpisahkan bagai pensil dan penghapus selama berbelas tahun sampai sekarang. Sehun adalah anak tunggal dari sepasang pengusaha kaya raya. Dialah pewaris tunggal harta kekayaan orang tuanya. Dia menetap bersama orang tuanya di Amerika selama beberapa tahun dan melarikan diri ke Korea lantaran dia menolak perjodohan yang dilakukan orang tuanya. Dia tidak mau menikah dengan umur yang sebegini muda. Jadi dia kabur dan menjalani hidup seperti Jongin—sendirian.

Jongin menyendoki dirinya dengan nasi goreng itu lagi. Warnanya aneh namun rasanya lumayan. Dia melihat Sehun yang sudah selesai dengan sarapannya, piringnya dibuat betul-betul licin.

“Jadi,” Sehun bersuara, lantas membuat Jongin mengangkat kepalanya, “Korbanmu selanjutnya—Xi Luhan?”

Jongin mengiyakan. Dia ingat kalau dia menceritakan soal targetnya kala Sehun menanyai pasal koper kotaknya tadi malam. Sejujurnya Jongin kekurangan informasi. Kris kadang buruk dalam menyampaikan informasi—atau mungkin dia akan memberi informasi lebih lanjut nanti. Tapi Jongin menilai Kris begitu lamban, padahal ia ingin menyelesaikan misi lebih cepat.

Sehun tergelak di tempatnya. “Ini mungkin menjadi beban pikiranmu,” Sehun berkata. Jongin tahu Sehun bukanlah orang yang handal menebak isi hati seseorang, tapi kali ini si pirang itu benar. “Tapi mudah saja, Xi Luhan sebenarnya sedang berkeliaran di daerah sini.”

Dan Jongin tahu kalau Sehun adalah informan yang lebih baik dari Kris.

—••—••—

Jongin memperhatikan gerak-gerik mobil di depannya—mobil Xi Luhan. Ini sudah dua hari setelah Sehun memberinya informasi kalau Xi Luhan ternyata berada di daerah yang sama dengannya. Dan di sini Jongin—mengemudikan mobilnya pelan-pelan guna membuntuti targetnya itu. Dia tak membuang-buang waktu ketika Sehun menginformasikannya kemarin. Dan seakan keberuntungan sedang berpihak padanya, Kris menghubunginya di sore hari, memberitahukan informasi lebih lanjut mengenai si target.

Mobil Xi Luhan berhenti di depan sebuah gedung tinggi. Jongin yang berada radius dua puluh meter di belakangnya pun ikut-ikut berhenti. Xi Luhan tampak keluar dari sisi kiri mobil. Jongin menduga lelaki itu mengendarai mobilnya seorang diri menilik dia keluar dari sisi pengemudi. Betul-betul jauh dari perkiraan Jongin, Xi Luhan bahkan tidak bawa pengawal. Jongin memperhatikan si target masuk ke dalam gedung dengan koper kotak di tangannya. Tampaknya lelaki Cina itu tak tahu kalau dia sedang dibuntuti. Bagus sekali.

Butuh sekitar limabelas menit bagi Jongin untuk menunggu. Xi Luhan keluar dari gedung dan Jongin memulai aksinya.

“Permisi,” Jongin mendekat pada Luhan yang hendak memasuki mobilnya. Jongin berusaha untuk tidak terlihat mencurigakan, dan tentu saja, aktingnya natural sekali.

“Ya? Ada yang bisa kubantu?” Di luar dugaan, Luhan bahkan berbahasa Korea dengan sangat baik. Jongin kira sesi pembukaan ini akan jadi sulit karena targetnya tak bisa berbahasa Korea. Tapi ini justru mempermudahkan jalannya.

“Boleh minta bantuanmu, Tuan?” Jongin memasang air muka memohon, “Mobilku terperosok ke dalam parit, aku tak bisa mengangkatnya.”

Luhan sama sekali tidak tampak curiga. Lelaki itu mengangguk dan tersenyum ramah. “Tentu.”

“Ah, terima kasih, Tuan. Di sini sepi sekali dan aku betul-betul bersyukur menemukanmu.” Kata Jongin sembari memberi isyarat pada Luhan untuk mengikutinya. “Mobilku ada di gang itu.” Jongin menunjuk gang sempit yang gelap tak jauh dari tempat mereka berdiri.

Lagi-lagi Luhan tampak tak menaruh curiga. Dia bahkan tak menolak untuk masuk kedalam gang yang Jongin tunjukkan. Gang itu sempit, gelap, dan kotor. Jongin membawanya cukup jauh diiringi percakapan ringan seadanya.

Semuanya sungguh berjalan mulus seperti yang Jongin inginkan, Luhan menanggapi konversasinya dan Jongin beranggapan kalau Luhan adalah tipikal yang mudah akrab dengan orang asing. Mereka bercakap-cakap sampai Luhan berbisik, “Maaf, tapi aku bukan orang bodoh,” lalu sebuah pistol menodong kepala Jongin.

Jongin tersenyum. Ternyata dia tak kalah handal berakting natural, benak Jongin. Dia berusaha bersikap setenang mungkin. Karena jika dia gegabah sedikit saja, kepalanya pasti tertembus peluru.

“Aku menyadari mobilmu membuntutiku, caramu cukup bagus,” Luhan tersenyum mengejek, “aktingmu juga sungguh bagus.”

Jongin menyeringai, tetap tak bergerak di tempatnya. Dalam hati mengambil ancang-ancang untuk menyerang Luhan. “Benarkah?” Tanya Jongin skeptis. Dia menangkis tangan Luhan secara tiba-tiba. Membuat pistol yang menodongnya jatuh dan terlempar beberapa meter jauhnya.

Luhan nyaris memukul Jongin, namun ternyata yang bersangkutan dua kali lebih cepat. Tahu-tahu saja lengan Jongin yang besar sudah berada di lehernya. Luhan berkelit dan memberi perlawanan. Jongin merasakan dengan jelas kalau Luhan mencakarnya tepat di pipi. Dia merasakan nyeri pada kakinya karena ternyata kaki Luhan tak mau diam, menendang ke sana-sini.

Luhan ingin melawan lagi, tapi sekujur tubuhnya lemas—dia kehabisan napas. Mulutnya terbuka, meninta udara untuk masuk, namun yang ada hanya cengkraman pada lehernya yang semakin kuat. Dia mencoba menggapai pistolnya, namun nihil, benda itu di luar jangkauannya.

Melihat Luhan yang mulai tak berdaya, Jongin melepas cengkramannya dan sang target langsung terbatuk-batuk menyedihkan. Jongin menghela napas, memandangi Luhan dengan datar. Dia tidak tahu kalau Luhan mudah sekali dilumpuhkan. Dia hanya handal berkelit di awal.

“Apa yang kau inginkan?” Luhan mencicit.

Jongin hanya mengangkat bahu sebagai jawaban. Luhan merangkak hendak meraih pistolnya lagi, tapi Jongin keburu menyadarinya dan malah menendang pistol itu semakin jauh. Luhan menyumpah dalam hati. Menyesali mengapa dia berkeliaran seorang diri di kandang lawan seperti ini.

“Aku tidak suka bermain dengan senjata api,” Jongin bersuara pelan. Luhan yang terengah-engah mengintip pergerakan Jongin, lelaki itu mengeluarkan sesuatu dari balik jaket kulitnya dan Luhan betul-betul merasa nyawanya berada di ujung tanduk. “Maaf sudah membuatmu lelah dan harus membuatmu berakhir di tempat yang kotor seperti ini.”

Jongin membuat Luhan tersungkur sekali lagi, lelaki itu sudah kehabisan tenaga. Jadi Jongin mengeluarkan pisaunya dengan mudah dan suara rintihan tertahan terdengar.

—••—••—

Pukul delapan lebih sepuluh menit. Langit malam terbentang kelabu. Jalanan begitu sepi dan sunyi. Sudut kota Seoul malam itu seperti kota mati tak berpenghuni.

Seseorang terlihat memasukkan seonggok tubuh tak berdaya ke dalam bagasi mobil hitamnya. Mengintip jalanan gang yang sepi dan sempit, seseorang berjaket kulit itu menyimpan pisaunya yang berlumuran darah, serta-merta membereskan kekacauan yang ia perbuat di ujung gang itu. Terengah dan penuh keringat, dengan hati-hati ia menekan sederet nomor dan memilih opsi panggil.

“Halo, Jongin?”

“Aku sudah menyelesaikannya, jangan lupa siapkan tambahan yang kau bilang kemarin.”

 

 

—to be continued..

Hew, aku gatau kenapa begitu banyak ide baru bertaburan tapi ga ada satu pun yang nyenggol buat fic ini. Itu sebabnya aku nunda updatean, hehehe, sorry. 😀
Curhat dikit, aku sebenernya dilema berat siang tadi, antara mau ngelanjutin pr catetan matematika atau ngelanjutin cerita ini. Haha, and see who’s the winner. Aku ngebaca ulang seperlima naskah yang kuketik, lalu merasa aneh sama kalimat-kalimatnya. Jadi aku hapus dan coba ketik ulang.

Terlalu pendekkah? Tapi serius, aku ngerjain ini sejak jam sepuluh dan baru selesai sekarang ): Genre macam ini bukan keahlianku, jadi kuharap kalian memaklumi betapa tidak menariknya cerita yang kutulis ini, hehe. Aku ga janji, tapi kuusahakan bagian berikutnya agak lebih panjang ._.

p.s : mohon ampuni berbagai macam kesalahan penulisan yang kuperbuat sepanjang jalan cerita, I’ll fix it as soon as possible.

with love,
echaakim❤

23 responses to “[Chapter 1] WHAT IF — by echaakim

  1. aku udh pernah liat trailer nya di yt waktu nyari fanmade kaistal dan gk nyangka aja sekarang lagi baca chap 1. aku suka trailer sama cerita nya, sama” bagus dan bikin penasaran. lanjut kak echaakim, diksinya ringan dan aku suka penggalan kalimat”nya❤
    semangat untuk chap 2 ya!

  2. Jadi apa hubungannya Kai, Krystal, Sehun??
    Karna baru part 1, jadi masih belum ketemu ya mereka semua..
    Ditunggu next chapternya ^^

  3. Chaaaaa, sukaaaaa hehe
    bahasanya ringan, cocok untuk aku yang kadang kurang ngeh sama diksi yang ribet hehe

    Jadi sehun sama kai sahabatan? Dan sehun tau kalo kai pembunuh bayaran? duh ngeri cha😂
    Masi penasaran sama soojung disini, so updatenya jgn lama lama ya, jgn tiba tiba mager wkwk
    semangat💪💓

    nb : baru sempet baca lagi, karna kemarin kemarin dirimu tau la ya, lagi masa broken wkwk

  4. Ini keren bgt… Jongin cocok jdi karakter kek gini. Dia sama Sehun sabatannya lucu. Suka sama bahasanya, ringan enak dibaca.
    Belum ada sangkut pautnya nih sama Soojung. Masih awal jg.
    Penaran chap 2 nya…
    Fighting for the next chap, kak…!!

  5. Halo Echa? ketemu lagi di planet berbeda😀

    Ciye echa udah gede *aihh, awal ceritanya bikin aku kaget banget , kris itu loh..
    tapi sumpah keren Cha, gak tau ya kenapa, aku juga baru kali ini betah banget baca fic genre macem ini. Dan bacanya itu bisa pas gitu..
    tumb sign untukmu cha..🙂

    • Halo kaakkkkkk, long time no see yup
      Haha, aku masih gini gini aja kok
      Sejujurnya ya kak, aku juga kurang nyaman ngetik cerita yg genrenya kaya gini, agak tabu gimana gitu:3
      Thanks anyway kak💕

  6. Halo, numpang promote ya:)
    Kami dari Blooming Into Words lagi open recruitment lho!
    Selengkapnya bisa di cek di sini >> https://bloomingintowords.wordpress.com/2016/03/25/finding-new-staffs/
    Kami juga mengadakan prompt yang bisa kalian gunakan sebagai inspirasi untuk menulis yang akan kami update setiap satu minggu sekali. Tenang, promptnya terbuka untuk umum kok. Jadi siapa aja boleh pakai promptnya, nggak terbatas admin sama author aja.
    So, what are you waiting for?
    Let’s bloom!❤

  7. dek itu harus banget yah mantan aku yg dibunuh–
    haha jadi diantara kaiseh, siapa yg jadi pensil dan siapa yg jadi penghapusnya? :v

    ditunggu chapt selanjutnyaaa ya dek..
    jangan kelamaaaaan :*

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s