RESUME THE NAME I LOVED [2] by noonapark

1456273904026.jpg

-noonapark present-

Personal blog (https://noonapark.wordpress.com/)

THE NAME I LOVED previous part : one| two | three | and now …

***

Matahari mulai merangkak naik, tapi Eunsoo tetap meringkuk di atas tempat tidurnya, bersembunyi dibalik selimut, hanya hidung dan matanya saja yang terlihat. Eunsoo terus memikirkan kejadian semalam yang membuatnya tidak bisa tidur dengan nyenyak. Rasanya begitu jelas, seolah Eunsoo bisa merasakan kembali saat bibir lembut Park Chanyeol bergerak-gerak di permukaan bibirnya. Hanya dengan mengingatnya saja membuat jantung Eunsoo berdetak berkali-kali lipat lebih cepat dari biasanya.

Eunsoo ingat, setelah Chanyeol melepaskan ciumannya, Eunsoo sempat mematung memandangi pria itu. Saat Chanyeol seperti ingin bersuara, Eunsoo cepat-cepat menyela, Ia terlalu gugup, jadi Eunsoo berkata gagap saat berpamitan pada Chanyeol bahwa Ia ingin masuk ke kamar dan tidur. Eunsoo merasa Ia pasti terlihat sangat bodoh di hadapan Chanyeol semalam. Eunsoo menyesal setengah mati. Ia pun mendesis sebal seraya menutupkan selimut serta bantal ke atas kepalanya, lalu memekik tertahan di dalam sana.

Sementara itu, Chanyeol tengah menggosok gigi di dalam kamar mandi sembari memandangi pantulan dirinya di cermin. Sama halnya seperti Eunsoo, semalam Chanyeol juga sulit tidur. Kejadian itu terus terbayang dibenaknya. Chanyeol juga bisa mengingat dengan jelas bagaimana rasa gemuruh itu memenuhi rongga dadanya saat bibirnya mulai bersentuhan dengan bibir wanita itu. Sensasinya benar-benar aneh sekaligus menyenangkan. Mengingatnya kembali membuat Chanyeol tersenyum tanpa sadar.

_

_

Chanyeol sudah siap dengan pakaian kantornya; setelan rapi berwarna hitam lengkap dengan dasi yang melilit lehernya. Saat Ia berniat membuka pintu kamar untuk keluar, Chanyeol berhenti sejenak. Entah mengapa membayangkan bertemu dengan wanita itu membuat jantungnya berdebar-debar. Chanyeol gugup. Sungguh, Ia baru pertama kali merasakan hal seperti ini selama hidupnya. Lantas Chanyeol menutup mata, mencoba meyakinkan dirinya sendiri. Chanyeol pikir, Ia tidak seharusnya seperti ini kan? Ya, Ia tidak boleh mempermalukan dirinya di hadapan wanita itu. Ia tidak boleh gugup. Jadi setelah menghembuskan napas yang terdengar panjang, Chanyeol memantabkan diri untuk keluar.

Saat Chanyeol keluar dari kamar, Eunsoo pun keluar dari kamar di sebelah kamar Chanyeol. Pandangan mereka saling bertemu. Mereka pun terdiam sesaat. Eunsoo kemudian berdeham dan bertanya apakah Chanyeol ingin kopi? Chanyeol mengangguk pelan. Lalu Eunsoo bergegas menuju dapur diikuti Chanyeol yang mengekor di belakangnya.

Di dapur, Chanyeol duduk di depan meja konter dapur, memperhatikan gerak gerik Eunsoo membuat wanita itu serba salah melakukan sesuatu, Eunsoo gugup. Setelah Eunsoo memberikan kopi itu untuk Chanyeol, Eunsoo berniat masuk ke kamar—menjauh dari Chanyeol—namun pria itu malah meminta Eunsoo untuk duduk di sampingnya. Eunsoo tidak punya pilihan lain selain menurut.

Setelah menyeruput kopi itu, Chanyeol meletakkan kembali cangkirnya di atas meja, Ia diam sejenak, lalu menatap Eunsoo dan mengatakan bahwa kopi itu enak, Chanyeol menyukainya, Chanyeol juga mengatakan bahwa Chanyeol juga menyukai pembuatnya. Eunsoo tertegun mendengar itu. Ekspresi wajahnya tampak kosong. Saat itulah Chanyeol mendaratkan kecupan manis di pipi Eunsoo membuat Eunsoo berkedip pelan. Chanyeol turun dari kursi dan melangkah pergi. Namun saat baru menjauh beberapa langkah, Chanyeol tiba-tiba berhenti, Chanyeol mengulum senyuman tipis, lalu berbalik, berjalan mendekati Eunsoo yang masih bergeming ditempatnya.

Menyadari Chanyeol mendekat, Eunsoo menatap pria itu, Eunsoo barusaja akan bersuara (berniat bertanya apa yang pria itu lupakan?) namun belum sempat Eunsoo menyuarakan pertanyaannya, bibir Chanyeol lebih dulu mendarat di bibirnya. Sebuah kecupan singkat, namun mampu membuat Eunsoo (lagi-lagi) mematung di tempatnya. Dan Chanyeol benar-benar pergi setelah itu.

_

_

Chanyeol bertanya-tanya dalam hati apakah hal seperti ini yang selama ini Ia cari dalam hidupnya? Setelah mengungkapkan semuanya pada wanita itu, entah mengapa Chanyeol merasa begitu lega, meskipun awalnya Ia merasa tidak yakin. Namun yang terjadi sekarang justru sebaliknya. Chanyeol merasa lebih tenang, hatinya jauh lebih tentram dan Ia merasa begitu damai. Beban di dalam pikirannya seolah lenyap begitu saja. Sungguh, Chanyeol tidak pernah sebahagia ini sebelumnya. Kehadiran wanita itu seperti bisa mengisi sesuatu yang terasa kosong di dalam hatinya selama ini. Kini semuanya terasa begitu lengkap. Ya, Chanyeol baru menyadarinya. Dan Ia menikmatinya.

Chanyeol bahkan tidak mengindahkan nasehat Sekretaris Kim yang terus mengatakan bahwa pertemuan dengan para investor tinggal sebentar lagi, sementara berkas yang harus disiapkan belum sepenuhnya siap. Di dalam kantor, Chanyeol terus duduk di kursinya sembari memandangi foto Eunsoo yang dulu pernah wanita itu kirim di ponselnya. Terkadang Chanyeol tersenyum sendiri, membuat sekretaris Kim yang melihatnya terheran-heran.

Saat jam pulang kantor sore hari, Chanyeol tampak terburu-buru menuju mobilnya, Ia bahkan melewati Sehun begitu saja saat di depan bangunan kantor membuat Sehun menatapnya sedikit bingung. Dipertengahan jalan menuju apartemen, Chanyeol membeli beberapa makanan enak, lalu membawanya pulang untuk kemudian Ia makan bersama Eunsoo. Ya, mereka makan berdua. Meskipun awalnya masih sedikit merasa canggung, tapi lambat laun baik Eunsoo maupun Chanyeol sepertinya mulai terbiasa. Selesai makan, Eunsoo mencuci piring dan Chanyeol pun membantunya. Mereka mencuci piring berdua, berdampingan, sesekali Chanyeol menyikut lengan Eunsoo dan wanita itupun akan membalas menyikut lengan Chanyeol, lalu mereka akan menunjukkan senyuman malu-malu. Mereka juga menonton televisi bersama, acara komedi. Demi apapun sebenarnya Chanyeol tidak tertarik sedikitpun dengan acara-acara seperti ini. Tapi melihat Eunsoo yang sangat antusias—terkadang wanita itu bahkan tertawa sangat keras—membuat Chanyeol merasa senang melihatnya. Memperhatikan wanita itu semakin lama, membuat Chanyeol sadar bahwa wanita itu ternyata cantik juga—sangat cantik malah.

Eunsoo masih sibuk tertawa saat Chanyeol tiba-tiba bangkit dari duduknya, Eunsoo langsung menatap Chanyeol bingung. Namun tidak lama kemudian, Chanyeol kembali duduk di samping Eunsoo, lalu menunjukkan cincin yang sempat Eunsoo lepas beberapa hari yang lalu. Chanyeol meminta Eunsoo agar memakai cincin itu lagi, setelah sempat menimbang-nimbang, Eunsoo akhirnya setuju dan Chanyeol pun menyematkan cincin berwarna perak itu di jari manis milik Eunsoo.

Setelah malam cukup larut, mereka berhenti menonton (setelah sempat menghabiskan beberapa bungkus snack, beberapa botol minman segar yang kini tergeletak cukup berantakan di atas meja depan televisi). Chanyeol kemudian mengajukan pertanyaan yang membuat Eunsoo mematung seketika, “Apa kau ingin tidur denganku?” Eunsoo tidak tahu entah mengapa kata-kata itu kini terdengar horor ditelinganya, tidak seperti saat-saat awal Ia baru kembali dari rumah sakit. Atau.. ah, tepatnya pertanyaan-pertanyaan seperti itu menjadi aneh setelah kejadian kemarin malam saat Chanyeol menciumnya. Eunsoo bingung harus menjawab apa, mulutnya terbuka namun sedikitpun Ia tidak mengeluarkan suara, hingga akhirnya Chanyeol berkata, “Bukankah kau selalu ingin tidur bersamaku? Dan memelukku..” Eunsoo menggaruk tengkuknya yang tidak gatal. “A-ehm.. itu..” belum sempat Eunsoo menyebutkan kata-kata, Chanyeol lebih dulu menyentuh telapak tangan Eunsoo, menggenggamnya, lalu membawa Eunsoo berdiri dan menuntun wanita itu masuk ke dalam kamarnya.

Eunsoo melotot setibanya di sisi tempat tidur Chanyeol. Wanita itu kemudian terdiam sementara Chanyeol menyiapkan tempat tidurnya (menata bantal dan selimut) lalu Chanyeol naik ke atas tempat tidur dan menepuk permukaan kasur di sampingnya. Eunsoo menelan samar salivanya. Dadanya kembali berdetak sangat kencang. Lalu perlahan, Eunsoo akhirnya memberanikan diri mendekat, naik ke atas tempat tidur dan akhirnya merekapun merebahkan tubuh berdampingan, sama-sama terlentang. Chanyeol menutupkan selimut hingga batas dada mereka, kemudian menghadapkan tubuhnya ke samping—ke arah Eunsoo—membuat Eunsoo tanpa sadar meremas selimut di atas dadanya kuat-kuat. Chanyeol mendesis pelan melihat itu, apalagi melihat ekspressi wajah kaku Eunsoo yang terus tertuju ke arah langit-langit ruangan, membuat Chanyeol tidak tahan untuk tidak menggodanya.

Lantas, Chanyeol pun semakin mendempet ke arah Eunsoo, Ia bahkan melingkarkan satu tangannya di atas perut Eunsoo membuat wanita itu tanpa sadar menahan napasnya sejenak. “Kau bilang tidak apa-apa jika aku membuatmu hamil ‘kan?” Gumam Chanyeol. Eunsoo langsung menoleh ke arah Chanyeol. “Itukan sebelum..” Eunsoo keceplosan, setelah terdiam sejenak, Eunsoo ikut menghadapkan tubuhnya pada Chanyeol, menatap pria itu dengan serius sembari melanjutkan dengan nada hati-hati, “Apa.. yang terjadi padamu? Kau tidak apa-apa ‘kan?” Eunsoo menyentuh kening Chanyeol dengan telapak tangannya, lalu menariknya lagi. “Saat aku berada di apartemen Sehun, kau tidak mengalami sesuatu yang buruk ‘kan? Kau tidak mengalami suatu kecelakaan sehingga membuatmu lupa ingatan ‘kan?” Eunsoo mendesah pelan. “Kau berubah. Kau tidak sehangat ini sebelumnya.”

Chanyeol membalas tatapan serius Eunsoo dengan tatapan tak kalah serius. “Aku tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi padaku. Tapi yang jelas, aku merasa begitu buruk saat kau pergi dariku. Apalagi melihatmu terus berada di sisi Sehun, aku tidak suka melihatnya.” Saat membicarakan Sehun, sorot mata Chanyeol kembali dingin, membuat Eunsoo sadar bahwa Chanyeol sepertinya memang tidak mengalami lupa ingatan. Ya, pria itu normal, meskipun sedikit berbeda.

Chanyeol kemudian merengkuh tubuh Eunsoo, memeluknya dengan hangat, meletakkan dagunya di atas puncak kepala Eunsoo sembari bergumam, “Saat kau pergi.. aku merasa gelisah karena tidak bisa melihatmu. Aku berusaha menampik semua perasaan itu tapi yang terjadi justru.. aku sadar, sepertinya aku mulai terbiasa dengan keberadaanmu. Hana-ya..” Chanyeol sedikit merenggangkan pelukannya agar Ia bisa melihat wajah wanita itu tepat di depan wajahnya. “Entah mengapa.. aku berharap agar kau tidak mengingat masa lalumu.” Eunsoo menatap Chanyeol bingung, “Kenapa?” Tanya Eunsoo. Chanyeol hanya menggeleng pelan, Ia tidak mungkin mengatakan bahwa sebenarnya mereka tidak ada hubungan apa-apa ‘kan sebelumnya? Setidaknya Chanyeol tidak ingin wanita itu tahu sekarang. Karena saat ini Chanyeol hanya ingin menikmati waktu-waktu seperti ini, bersama wanita itu, berdya, membuat hidup Chanyeol terasa lebih lengkap.

Malam itu, mereka tidur bersama dan saling memeluk dengan hangat.

***

Saat siang Eunsoo datang ke kantor sembari membawa kotak bekal berisi makanan. Setelah bertanya pada resepsionis bahwa Ia ingin bertemu Chanyeol, resepsionis itu meminta Eunsoo untuk menunggu karena Chanyeol sedang rapat bersama beberapa tamu. Selagi menunggu, Eunsoo berjalan santai melihat-lihat keadaan kantor. Sekitar lima belas menit kemudian, Eunsoo tidak sengaja berpapasan dengan sekretaris Kim. Eunsoo memanggilnya, lalu bergegas menghampiri sekretaris Kim yang mengambil jalan berlawanan arah dengan Eunsoo. Saat Eunsoo bertanya tentang keberadaan Chanyeol, sekretaris Kim tampak murung. Lalu sekretaris Kim bercerita bahwa dirinya dan Chanyeol barusaja berbicara dengan beberapa calon investor, tapi diskusi mereka gagal karena berkas yang Chanyeol siapkan tidak lengkap. Dari tiga calon investor itu, tidak ada satupun dari mereka yang bersedia bekerja sama dengan perusahaan yang saat ini di pimpin Sehun. Sekretaris Kim juga menceritakan karena Chanyeol sudah gagal, nenek Chanyeol akan memecat Chanyeol dari perusahaan. Setelah menjelaskan seperti itu, sekretaris Kim pergi dengan wajah yang semakin tertunduk lesu.

Eunsoo sempat merenung selama beberapa saat. Ia merasa bersalah pada Chanyeol karena merusak berkas-berkas Chanyeol saat itu dengan tidak sengaja menumpahkan kopi di atas meja Chanyeol. Eunsoo pun bergegas menuju lift berniat menemui Chanyeol di ruangannya. Di dalam lift, Ia teringat kata-kata Chanyeol semalam. Ia mengingat perlakuan hangat yang mulai Chanyeol tunjukan padanya. Tadi pagi, pria itu bahkan membangunkan Eunsoo dengan cara memberikan kecupan hangat di bibir. Eunsoo mulai merasa nyaman berada di sisi pria itu. Eunsoo menyukainya. Atau lebih tepatnya Eunsoo mencintainya? Ya, sepertinya. Jadi membayangkan Chanyeol tengah terpuruk membuat Eunsoo juga merasa terpuruk saat ini.

Setelah keluar dari lift, Eunsoo mengambil langkah buru-buru. Hingga sampai pada belokan jalan, Eunsoo tidak sengaja menabrak seseorang membuat kotak bekal yang Ia bawa kini jatuh dan makanannya tercecer di lantai. Eunsoo memandangi kotak bekal itu dengan terkejut. Terdengar suara pria yang mendecak marah. Eunsoo pun mendongak melihatnya, mendapati seorang pria paruh baya, bersama dua orang temannya yang berada di samping pria itu, mereka tengah menatap Eunsoo dengan tatapan kesal. Eunsoo membungkuk meminta maaf. Namun pria yang sempat Ia tabrak tiba-tiba terdiam sembari melihat Eunsoo dengan mata menyipit.

Ternyata pria itu adalah ayah dari anak kecil yang pernah Eunsoo selamatkan dari jalanan saat itu. Eunsoo sepertinya lupa, tapi pria itu masih mengingat wajah Eunsoo. Pria itu pun menunjuk Eunsoo dengan mata membola, “Nona, kau..”

Eunsoo menatap pria itu kebingungan, begitupun dua orang yang masih berdiri di samping pria itu. Saat itu juga, Chanyeol barusaja keluar dari sebuah ruangan, dari jarak beberapa meter, Chanyeol bisa melihat Eunsoo beserta makanan yang tercecer di lantai, Chanyeol juga melihat tiga calon investor yang menolak bekerjasama dengannya tadi, dan mereka tengah menatap Eunsoo kebingungan. Chanyeol segera menghampiri Eunsoo dan berdiri di samping wanita itu, bertanya apa yang barusaja terjadi? Belum sempat Eunsoo menjawab, pria paruh baya tadi tiba-tiba membungkuk di hadapan Eunsoo. Ia meminta maaf dengan nada penuh sesal. Kedua rekannya bingung, begitupun Eunsoo dan Chanyeol. Lalu pria paruh baya itu mengingatkan Eunsoo tentang kejadian saat itu, saat Eunsoo menyelamatkan anaknya yang hampir saja tertabrak mobil.

Ah, Eunsoo baru ingat. Ia pun tersenyum ramah pada pria itu. Pria itu bertanya apakah lengan Eunsoo yang sempat terluka tidak apa-apa? Eunsoo menjawab “Ya, tidak apa-apa”. Pria itu kemudian memandangi Chanyeol dan Eunsoo bergantian. Seolah mengerti, Chanyeol kemudian mengatakan bahwa Eunsoo adalah tunangannya, calon istrinya.

Singkatnya, setelah kejadian itu, ketiga calon investor itu akhirnya bersedia bekerja sama dengan perusahaan Chanyeol. Berkat Eunsoo, Chanyeol akan tetap bertahan diperusahaan meskipun Ia menduduki posisi sebagai wakil direktur. Chanyeol berterima kasih pada Eunsoo.  Chanyeol pikir, kehadiran wanita itu seperti sebuah keberuntungan dalam hidupnya.

Sore harinya, Chanyeol mengajak Eunsoo makan diluar. Untuk pertama kalinya, mereka pergi jalan-jalan berdua. Chanyeol membelikan Eunsoo pakaian, sepatu, tas, dan mengajak Eunsoo bersantai sejenak di sekitar Sungai Han.

Sebelum malam tiba, mereka memutuskan untuk pulang, tapi sebelum pulang mereka mampir ke sebuah cafe untuk membeli minuman yang akan mereka nikmati di dalam mobil nanti. Chanyeol tidak tahu jika cafe yang barusaja Ia masuki bersama Eunsoo itu adalah cafe milik Gayoung. Saat Chanyeol dan Eunsoo keluar, Gayoung baru menyadari kehadiran Chanyeol, Gayoung berusaha mengejar Chanyeol, namun saat Ia tiba di depan bangunan cafe, Chanyeol dan Eunsoo lebih dulu masuk ke dalam mobil dan mobilnya pun pergi. Gayoung mendengus pelan, bergumam dalam hati mengapa Chanyeol pergi dengan wanita itu? Bukankah wanita itu adalah wanita yang bersama Sehun malam itu?

“Eunsoo!! Eunsoo-ya!!” Seseorang menabrak Gayoung dari belakang, membuat Gayoung sedikit menyingkir dari posisinya semula. Gayoung mendengus kesal, berniat marah namun Ia melihat ponsel pria yang menabraknya itu jatuh di hadapannya. Pria itu—Minseok, cepat-cepat membungkuk dan meminta maaf pada Gayoung. Ia mengambil ponselnya tak jauh dari depan kaki Gayoung dan mengeceknya. Gayoung bertanya apakah ponsel Minseok rusak? Minseok menjawab “Syukurlah, tidak apa-apa.” Sembari menunjukan layar ponselnya yang menyala pada Gayoung. Meskipun cuma sebentar, tapi Gayoung melihat wallpaper di ponsel Minseok adalah seorang wanita. Dan wanita itu kalau tidak salah mirip dengan… “Eunsoo!” Minseok tiba-tiba kembali berseru ke arah jejak perginya mobil Chanyeol. Minseok mendesah lelah. “Bukankah tadi itu Eunsoo? Ya, aku yakin itu Eunsoo. Siapa pria yang bersamanya itu? Atau aku yang saah lihat?” gumam Minseok. Gayoung mendengarnya meskipun pelan. Merasa penasaran, Gayoung akhirnya pun mendekati Minseok dan bertanya apa Minseok sedang mencari seseorang?

Minseok menjawab “Iya, aku sedang mencari seseorang.” Minseok kemudian menunjukkan foto Eunsoo di wallpaper ponselnya pada Gayoung, dan mengatakan bahwa wanita itu adalah temannya yang berasal dari Busan. Gayoung mengamati foto itu. Ya, tidak salah lagi. Foto itu mirip sekali dengan wanita yang pernah bersama Sehun di restoran malam itu dan bersama Chanyeol tadi. Tapi tunggu, namanya… Eunsoo? Kalau tidak salah dengar, saat memesan minuman di dalam cafe tadi, Gayoung sempat mendengar Chanyeol memanggilnya Hana. Mengapa seperti ini?; pikir Gayoung.

Gayoung terus diam dengan kemungkinan-kemungkinan yang bermunculan didalam kepalanya. Sementara itu, Minseok berpamitan. Ia membungkuk sekali lagi dan meminta maaf karena sempat menabrak Gayoung tadi. Setelah itu Minseok pergi. Meninggalkan Gayoung yang terdiam sembari menatap jejak kepergiannya dengan tatapan bingung.

Di Seoul, Minseok menginap di rumah salah satu teman masa kecilnya yang saat ini menetap di Seoul, namanya Byun Baekhyun. Jadi Minseok meminta tolong pada Baekhyun agar Baekhyun mengijinkan Minseok tinggal dirumahnya untuk sementara sampai Ia bisa menemukan Eunsoo. Untungnya Baekhyun baik, begitupun dengan orang tuanya.

_

_

_

Malam itu Gayoung menghubungi Sehun dan mereka pun bertemu di cafe milik Gayoung. Gayoung menceritakan tentang wanita yang Ia lihat bersama Sehun dan Chanyeol, saat Sehun bertanya “Maksudmu Hana?” Gayoung mengangguk. Lalu Gayoung juga menceritakan kebingungannya saat Ia bertemu dengan Minseok siang tadi, dan perihal foto wanita yang ada di ponsel Minseok yang mirip dengan Hana yang dimaksud Sehun, juga teriakan Minseok yang menyebut nama wanita itu Eunsoo. Gayoung bertanya, jadi siapa wanita itu sebenarnya? Tapi Sehun malah menyangkal bahwa Gayoung sudah berbicara yang tidak-tidak. Hana yang Sehun kenal saat ini tetaplah Ban Hana. Sehun juga menuding bahwa bisa saja Gayoung salah melihat foto diponsel Minseok. Bukankah wanita di negara mereka tidak sedikit yang memiliki wajah hampir sama?

Gayoung tetap yakin pada pemikirannya, Ia mulai mencurigai wanita yang saat ini bersama Chanyeol. Terlebih, ini adalah kali pertama Gayoung melihat Chanyeol mendekati seorang wanita. Gayoung merasa ada yang aneh baik pada Chanyeol maupun pada wanita yang saat ini bersama Chanyeol. Tapi Sehun menyela dengan mengatakan bahwa Gayoung terlalu berlebihan. Sehun pikir Gayoung bersikap seperti itu bisa saja karena Gayoung cemburu pada Hana (Eunsoo). Gayoung menyangkal hal itu. Lalu Sehun memilih mengakhiri pembicaraan mereka. Sehun berpamitan dan mengatakan bahwa besok pagi Ia harus bertemu dengan rekan bisnis pertamanya, jadi Sehun harus mempersiapkan semuanya secara matang.

Sehun akhirnya pergi dari cafe Gayoung. Di dalam mobil, Sehun sempat merenung sejenak. Meskipun Ia pikir apa yang dikatakan Gayoung sangatlah tidak mungkin, tapi entah mengapa Sehun mulai memikirkannya. Memikirkan tentang pertemuan pertamanya dengan Eunsoo di kereta saat itu, memikirkan pertemuan kedua mereka setelah wanita itu mengalami hilang ingatan. Dan entah mengapa, mendadak Sehun juga penasaran siapa wanita itu sebenarnya. “Ban Hana..”

_

_

_

Jam sembilan malam, Eunsoo tengah bersiap-siap untuk tidur, setelah menata bantal, Ia merebahkan tubuh dan menarik selimut hingga batas perutnya. Saat itu juga ponselnya yang terletak di meja nakas berdering. Eunsoo mengambil ponsel itu lalu memperhatikan nama ‘Pangeran Tampan’ yang tertera pada layar ponselnya. Eunsoo langsung menempelkan ponselnya ke telinga, lalu menjawab panggilan itu dan bertanya dengan nada serta ekspressi wajah yang bingung, “Chanyeol? Ada apa?”

“Bukankah aku menyuruhmu untuk tidur di kamarku?”

Eunsoo mendengus pelan. “Chanyeol, tapi—“

“Jika kau tidak mau pergi ke kamarku, maka aku yang akan pergi ke kamarmu.”

“Apa?”

“Aku di depan pintu kamarmu saat ini.”

Eunsoo terkejut, Ia langsung duduk sembari menatap pintu, dan pintu kamarpun dibuka, menampakkan sosok tinggi Chanyeol yang kini muncul dari balik pintu itu. Sama seperti Eunsoo, Chanyeol juga masih menempelkan ponselnya di telinga. Sembari berjalan mendekati tempat tidur, Chanyeol berkata tanpa menjauhkan ponsel itu dari telinganya. “Kau sendiri kan yang selalu ingin tidur bersamaku?” Chanyeol tersenyum tipis. “Aku hanya berusaha mengabulkan keinginanmu. Dan juga.. aku hanya ingin menjagamu saat kau tidur. Apa tidak boleh?” Setelah langkahnya terhenti di sisi tempat tidur, Chanyeol kemudian naik ke atas kasur, duduk menghadapkan tubuhnya pada Eunsoo dan membawa wajahnya berada tepat di depan wajah wanita itu. “Aku hanya takut saat aku tidak menjagamu, akan ada penjahat jelek yang menculikmu saat kau sedang tidur. Aku tidak ingin hal itu terjadi.”

Dengan jarak wajah yang tak lebih dari empat senti dan ponsel yang masih menempel pada telinga masing-masing, mereka terus menerus saling memandang. Masih tersenyum tipis, Chanyeol kemudian mendaratkan kecupan hangat di bibir Eunsoo, senyuman Chanyeol semakin mengembang setelah itu. Hingga beberapa detik kemudian, bibir Eunsoo akhirnya tidak tahan untuk tidak melengkung.

***

Chanyeol bangun lebih pagi hari ini, tapi setelah membuka mata, Ia bingung lantaran Eunsoo tidak ada disamping tubuhnya. Chanyeol pun langsung duduk, menyibak selimut untuk kemudian turun dari tempat tidur, lalu berjalan menuju kamar mandi. Chanyeol memanggil Eunsoo dan bertanya apakah wanita itu ada di dalam? Selama beberapa detik Chanyeol tidak mendapat jawaban, lantas Chanyeol memanggil lagi. “Hana-ya?” selang tiga detik, pintu kamar mandi terbuka dan sosok Eunsoo muncul dari sana. Wanita itu kemudian berdiri di hadapan Chanyeol dan Chanyeol bertanya mengapa dia bangun pagi sekali?

Eunsoo tidak langsung menjawab. Ia hanya diam memandangi Chanyeol selama beberapa saat. Setelah mendesah pelan, Eunsoo kemudian bercerita tentang mimpinya semalam. “Semalam aku bermimpi. Dan kurasa.. apa yang ada di dalam mimpi itu adalah sebagian dari ingatanku.” Chanyeol langsung terdiam menatap Eunsoo, entah mengapa ada sedikit rasa khawatir yang terselip di dalam hatinya. “Dalam mimpi itu,” Eunsoo melanjutkan ceritanya. “Aku berada di depan rumah yang sederhana, bersama seorang wanita yang kupanggil dengan sebutan ‘Ibu’. Ada juga seorang laki-laki di sana, tapi anehnya, laki-laki itu bukan dirimu.” Chanyeol terus diam mendengarnya. “Mimpiku terasa sangat jelas. Yang kurasakan adalah.. bahwa sepertinya.. aku tidak seharusnya berada di sini. Entah mengapa dimimpi itu sedikitpun aku tidak memikirkanmu.” Eunsoo menatap Chanyeol dengan serius. “Chanyeol-ah, saat ini, berdiri di hadapanmu seperti ini, entah mengapa aku merasa begitu asing.”

Selama tiga detik, mereka saling memandang dalam diam. Helaan napas yang jelas kemudian terdengar dari Chanyeol. Ia semakin mendekat ke hadapan Eunsoo, meraih handuk kecil berwarna putih yang ada dalam genggaman tangan wanita itu, lalu Chanyeol menggunakan handuk itu untuk membersihkan sisa-sisa air yang masih menempel di wajah Eunsoo dengan gerakan lembut. “Jangan terlalu dipikirkan,hm? Mungkin itu hanya sebuah mimpi biasa.”

“Tidak Chanyeol.” Eunsoo menahan punggung telapak tangan Chanyeol yang masih menyentuh pipinya dengan handuk. “Aku benar-benar merasakannya, mimpi itu terasa sangat nyata. Seperti.. dulu aku juga pernah mengalami hal-hal seperti itu.” Chanyeol memandangi Eunsoo sejenak, menghela napas berat, lalu kedua tangannya bergerak untuk menudungkan handuk kecil itu di atas kepala Eunsoo. Chanyeol kemudian menangkup pipi Eunsoo dengan kedua tangannya dan mendekatkan wajah Eunsoo ke arahnya. “Baiklah, mungkin itu memang benar masa lalumu. Tapi kumohon jangan menunjukkan wajah sedih seperti ini, aku tidak suka melihatnya.” Chanyeol kemudian memberikan kecupan lembut di kening Eunsoo. Setelah itu menarik tubuh Eunsoo dan memeluknya dengan hangat.

Eunsoo langsung membalas pelukan Chanyeol dengan melingkarkan kedua tangannya di pinggang pria itu, memeluknya erat-erat. “Aku hanya.. entah mengapa aku merasa takut sekarang. Aku takut jika aku mengingat semuanya, ternyata ada suatu hal yang buruk yang membuat dirimu akan meninggalkanku.” Mendengar itu, Chanyeol mempererat pelukannya seraya pandangannya kini menunduk. Tiba-tiba Chanyeol teringat dengan niatnya yang hanya ingin menggunakan wanita itu sebagai alat untuk mendapatkan perusahaan keluarga Hana. Kebohongan-kebohongan yang Ia lakukan setelah kecelakaan Eunsoo pun turut bermunculan dalam kepalanya. Seketika Chanyeol merasa menjadi seseorang yang jahat di hadapan wanita itu. Membuat Chanyeol merasa sangat buruk saat ini.

“Chanyeol-ah.” Eunsoo memanggil lantaran Chanyeol terus diam. Meskipun rasa bersalah kini memenuhi rongga dada Chanyeol, tapi bibir Chanyeol tetap berusaha mengukir senyuman tipis. Chanyeol melepas pelukan mereka dengan membiarkan tangannya tetap melingkar pada tubuh wanita itu. Satu tangan Chanyeol kemudian terulur ke wajah Eunsoo untuk mengelus pipi wanita itu dengan penuh kasih sayang. “Sejujurnya.. ada beberapa hal yang ingin kukatakan padamu.” Kata Chanyeol, saat Eunsoo bertanya hal apa itu? Chanyeol menjawab bahwa dia tidak bisa menceritakannya sekarang. Chanyeol berjanji akan menceritakan hal itu saat ingatan Eunsoo sudah kembali sepenuhnya. Eunsoo menatap Chanyeol dengan pancaran mata penasaran bercampur rasa kecewa. Namun pria itu hanya tersenyum simpul melihatnya, sembari dalam hati Chanyeol bergumam. “Untuk semua kebohongan yang kulakukan selama ini, aku minta maaf padamu, Hana-ya. Tapi satu hal yang harus kau tahu, bahwa perasaanku ini benar-benar untukmu. Aku mencintaimu.”

_

_

_

Pagi ini, Nenek berkunjung ke kantor. Di ruangan direktur—ruangan Sehun—Nenek duduk di kursi utama sementara Sehun dan Chanyeol duduk di sisi kanan dan kirinya. Nenek mengatakan bahwa beliau datang ke kantor hanya untuk memecat Chanyeol dari perusahaan. Sehun bingung. Chanyeol lebih bingung. Pasalnya, berkat Eunsoo, Chanyeol berhasil membuat tiga investor saat itu bersedia bekerja sama dengan perusahaan mereka. Chanyeol mencoba membela diri dan mengutarakan janji Nenek saat itu, bahwa Nenek akan tetap mempertahankan Chanyeol di perusahaan jika Chanyeol berhasil meyakinkan para investor itu. Namun Nenek justru mengalihkan wajahnya dari Chanyeol dan mengatakan bahwa ini adalah keputusannya yang tidak bisa diganggu gugat.

Chanyeol diam setelah itu. Pandangannya kini menunduk menunjukkan sorot mata yang dingin sementara Sehun hanya bisa menatap Chanyeol dengan tatapan yang sulit diartikan. Demi apapun, sesungguhnya Chanyeol merasa tidak terima diperlakukan seperti ini. Tapi Chanyeol mengenal Neneknya. Sekeras apapun Ia mencoba, sejak dulu, sang Nenek seperti sengaja ingin menyingkirkannya. Chanyeol kemudian mendongak dan melayangkan tatapan dinginnya itu pada Sehun yang duduk bersebrangan di hadapannya. Setelah tiga detik, Chanyeol beranjak dari duduknya. Ia menatap Neneknya selama beberapa saat sebelum akhirnya membungkuk sopan, lalu Chanyeol berpamitan akan pergi untuk mengemasi barang-barangnya dan akan pulang setelah itu. Nenek tidak menjawab ucapan Chanyeol, menatap Chanyeol pun tidak. Wanita berumur lebih setengah abad itu tetap memalingkan wajahnya ke arah lain sampai Chanyeol benar-benar keluar dari ruangan.

Setelah Chanyeol keluar dari ruangan, Sehun langsung menatap Neneknya dengan tatapan tidak suka. Sehun mengatakan pada Neneknya bahwa Sehun kecewa dengan keputusan sang Nenek. Bukankah awalnya perjanjiannya tidak seperti ini? Tapi Nenek malah bersikeras dengan keputusannya dan mengatakan bahwa beliau melakukan semua ini demi Sehun, seharusnya Sehun berterima kasih padanya.

Tapi bukannya berterima kasih, Sehun malah bangkit dari duduknya, sekali lagi Sehun mengatakan bahwa Ia kecewa pada Nenek. Lalu Sehun pergi keluar dari ruangannya, meninggalkan sang Nenek yang merasa bingung mengapa Sehun tidak menurut padanya kali ini.

Di ruangannya, Chanyeol memasukkan beberapa barang pribadinya ke dalam sebuah kotak. Ditemani Sekretaris Kim yang berdiri di depan meja kerjanya sembari menatapnya dengan tatapan sedih. Sekeratris Kim mengadu pada Chanyeol bahwa Nenek menyuruhnya untuk menjadi sekretaris Sehun mulai hari ini. Chanyeol menjawab dengan singkat, “Bukankah itu bagus?” Tapi sekretaris Kim malah mendengus kesal dan mengatakan bahwa Ia sudah terbiasa dengan Chanyeol. Meskipun terkadang Chanyeol tidak memperdulikannya dan keras kepala, tapi Sekretaris Kim sudah terlanjur nyaman bekerja bersama Chanyeol. Chanyeol hanya tersenyum tipis setelah selesai mengemasi barang-barang pribadinya. Sembari kedua tangannya membawa kotak itu, Chanyeol berjalan mendekati Sekretaris Kim, satu tangannya kemudian menepuk pelan pundak sekretaris Kim sembari Ia berkata, “Semoga sukses.” Dan setelah itu Chanyeol berjalan keluar dari ruangan. Sekretaris Kim langsung berbalik memandangi punggung Chanyeol, Ia memanggil Chanyeol namun Chanyeol tidak mengindahkan. Chanyeol pergi begitu saja membuat Sekretaris Kim menatap jejaknya dengan tatapan teramat kecewa.

Di lantai dasar bangunan kantor, saat pintu keluar tinggal beberapa langkah lagi dari Chanyeol, terdengar Sehun menyerukan nama Chanyeol. Langkah Chanyeol pun terhenti, namun Ia tetap diam di tempatnya tanpa menoleh ke arah Sehun. Sementara tak jauh di belakang Chanyeol, Sehun berlari, lalu pria itu berhenti saat tiba di sisi tubuh Chanyeol. Sehun meminta agar Chanyeol jangan pergi dari perusahaan, Sehun juga mengatakan agar Chanyeol jangan terlalu memikirkan kata-kata Nenek mereka, Sehun mengaku bahwa Ia masih membutuhkan Chanyeol tetap berada di perusahaan, karena Sehun belum memiliki pengalaman yang banyak seperti Chanyeol. Mendengar kata-kata yang keluar dari mulut Sehun, Chanyeol tersenyum miring, lalu Ia membalas tatapan Sehun dengan sorot mata yang sarat akan amarah. “Apa kau sedang bersandiwara dengan berpura-pura kasihan padaku?” Tanya Chanyeol. Sehun menatap Chanyeol dengan serius, dan menjawab bahwa Ia sungguh-sungguh. Sehun juga meminta agar Chanyeol tidak lagi berprasangka buruk padanya.

Chanyeol hanya diam. Ia terlanjur terluka. Selama ini Ia benar-benar lelah menahan semuanya. Jika Sehun benar peduli padanya, seharusnya sejak dulu, saat mereka masih kecil, saat Nenek selalu membandingkan mereka, seharusnya Sehun membelanya saat itu. Bukannya seperti sekarang ini. Chanyeol pikir Sehun terlambat, Chanyeol sudah terlanjur menjadikan Sehun sebagai seseorang yang paling Ia benci di hidupnya. Chanyeol benar-benar malas menghadapi Sehun. Jadi tanpa berkata lagi, Ia berniat melanjutkan langkah untuk pergi. Tapi Sehun menahan lengannya dan memohon agar Chanyeol percaya padanya. Chanyeol melayangkan tatapan tajamnya pada Sehun, Ia menyuruh Sehun agar melepaskan tangannya dari lengan Chanyeol. Meskipun berat, Sehun akhirnya melepaskan tangan Chanyeol, Sehun hanya bisa diam saat Chanyeol kemudian keluar dari gedung kantor sambil membawa kotak menuju mobil yang terparkir di halaman depan bangunan itu.

Sehun mendesah pelan, lalu bergumam dalam hati. “Aku tidak bermaksud membuatmu seperti ini. Maafkan aku, Chanyeol.”

_

_

Saat masuk ke apartemen, Chanyeol langsung mengedarkan pandangan ke segala arah, mencari-cari dimana keberadaan Eunsoo. Setibanya di ruang televisi, Chanyeol meletakkan kotaknya di atas meja di depan televisi, kemudian Ia memanggil nama Hana seraya berjalan mencari wanita itu di kamar. Eunsoo tidak ada di kamarnya, kemudian Chanyeol terus memanggil nama Hana seraya kedua kakinya melangkah menuju pantry. Saat Chanyeol baru beberapa langkah memasuki pantry, Chanyeol terdiam dan langkahnya pun terhenti. Tak jauh di depannya, di sisi meja konter dapur, Eunsoo terlihat tergeletak tak sadarkan diri di permukaan lantai. “Hana?!” Chanyeol panik, Ia langsung bergegas menghampiri Eunsoo dan duduk di samping tubuh wanita itu, lalu memangkunya. “Hana-ya! Hana! Ban Hana buka matamu!” Ujar Chanyeol sembari menepuk pipi Eunsoo. Wanita itu tak kunjung membuka matanya membuat Chanyeol semakin panik. Lalu Chanyeol segera mengangkat tubuh Eunsoo untuk segera membawa wanita itu ke rumah sakit.

Di rumah sakit, Eunsoo dinyatakan pingsan oleh dokter yang merawatnya saat kecelaan dulu. Meskipun sudah mendapatkan perawatan, wanita itu tidak kunjung membuka matanya, membuat Chanyeol merasa semakin cemas. Dokter laki-laki yang menangani Eunsoo kemudian meminta Chanyeol untuk pergi ke ruangannya. Di ruangan itu, dokter berkata agar Chanyeol tidak perlu cemas. Wanita itu akan baik-baik saja. Eunsoo hanya mengalami tekanan pada syaraf otaknya karena sepertinya Eunsoo berusaha keras untuk mengingat masa lalunya yang hilang. Syaraf-syaraf otaknya yang menjadi tegang itulah yang menyebabkan dia akhirnya jatuh pingsan. Dokter kemudian berpesan pada Chanyeol, setelah Eunsoo sadar nanti, sebaiknya Chanyeol menasehati Eunsoo agar jangan terlalu memaksakan diri untuk mengingat masa lalunya. Dokter mengatakan akan lebih baik jika ingatan masa lalu itu muncul sedikit demi sedikit dengan sendirinya, karena hal itu tidak akan mengganggu kesehan wanita itu. Chanyeol mengangguk mengerti, Ia mengucapkan terima kasih sebelum akhirnya pamit lalu keluar dari ruangan itu.

Di ruang rawat yang didominasi dengan warna putih, Chanyeol tampak duduk di sisi ranjang rawat Eunsoo. Tangannya terus menggenggam satu telapak tangan Eunsoo seraya bola matanya menatap wajah wanita itu lekat-lekat. Chanyeol ingin frustasi rasanya, hari sudah mulai malam tapi wanita itu belum sadar juga. Sore tadi Chanyeol sempat bertanya kembali pada dokter apakah benar Eunsoo baik-baik saja? Kenapa dia belum sadar juga? Dan dokter hanya meminta Chanyeol untuk tetap tenang dan menunggu, wanita itu pasti akan sadar nanti.

Chanyeol mendesah berat—untuk kesekian kali. Kemeja putih yang kedua lengannya Ia lipat sampai siku tampak sedikit kusut. Chanyeol tidak mengganti pakaiannya sejak pagi tadi. Ia bahkan belum makan selain sarapan bersama Eunsoo sebelum Ia pergi ke kantor tadi pagi. “Kenapa kau tidak membuka matamu?” Gumam Chanyeol, Ia menatap Eunsoo lekat-lekat. “Dasar keras kepala. Seharusnya kau tidak memaksakan dirimu untuk mengingat semuanya.” Eunsoo tetap tidak membuka matanya, membuat Chanyeol mendesah berat sekali lagi.  “Hana-ya, bukalah matamu. Kumohon..” Chanyeol menggenggam tangan Eunsoo semakin erat. Dua detik selanjutnya, tiba-tiba Chanyeol merasakan jemari Eunsoo bergerak dalam genggamannya. Chanyeol terkesiap, Ia langsung bangkit dan mendekatkan wajahnya pada wajah Eunsoo seraya satu tangannya mengelus puncak kepala wanita itu. “Hana? Kau mendengarku?”

Eunsoo membuka kelopak matanya perlahan, tampak berat. Setelah matanya benar-benar terbuka, sejenak Eunsoo menatap wajah Chanyeol yang berada tepat di atas wajahnya. Pria itu tersenyum sembari menyebut namanya. “Hana, akhirnya kau sadar juga. Aku sangat mengkhawatirkanmu.” Eunsoo tidak menjawab, Ia malah melirik keadaan sekitarnya dengan lemah. Seolah mengerti, Chanyeol kemudian mengatakan bahwa mereka sedang berada di rumah sakit. Setelah itu, Eunsoo baru berkata dengan suara yang terdengar lemah. “Chanyeol, aku ingin pulang.” Chanyeol menolak, dengan alasan bahwa Eunsoo harus mendapatkan perawatan sampai wanita itu benar-benar sehat. Tapi Eunsoo menggeleng pelan menanggapi. “Aku tidak mau di sini. Aku mengantuk, aku ingin tidur di rumah.”

“Kau mengantuk?” Tanya Chanyeol keheranan. Eunsoo mengangguk, lalu Ia mengatakan bahwa Ia pasti akan segera sehat jika Chanyeol sendiri yang merawatnya. Mendengar itu membuat senyuman Chanyeol pun mengembang. Chanyeol kemudian mengelus puncak kepala Eunsoo lalu mencium kening wanita itu dengan hangat. Dan akhirnya Chanyeol setuju membawa Eunsoo pulang ke apartemennya.

Mereka kembali tidur berdua—di kamar Chanyeol. Di atas tempat tidur, Chanyeol membiarkan Eunsoo tidur di atas lengannya, membiarkan tangan wanita itu memeluk pinggangnya membuat rasa hangat memenuhi rongga dadanya. Ditengah-tengah cahaya remang yang menyelimuti ruangan itu, Chanyeol terus memandangi wajah tidur Eunsoo yang berada tepat di depan wajahnya. Ia membetulkan selimut tebal berwarna putih yang menutupi hingga batas dada mereka. Lalu Chanyeol memeluk tubuh Eunsoo dengan hangat dan kembali menatap wajah Eunsoo lekat-lekat.

“Kau sudah tidur?” Tanya Chanyeol. Masih menutup mata, Eunsoo menjawab dengan gumaman. “Seharusnya, tapi aku belum bisa tidur karena kau terus bertanya padaku.” Eunsoo membuka mata setelah itu, menatap Chanyeol dengan tatapan sebal. “Chanyeol-ah, bisakah kau tidak mengeluarkan suara? Aku benar-benar mengantuk saat ini.” Chanyeol tersenyum simpul. “Jadi setelah pingsan seharian kau masih mengantuk juga?” Eunsoo mengangguk. “Hm.” Setelah itu Chanyeol memeluk Eunsoo semakin erat membuat wajah mereka semakin mendekat. “Baiklah, aku tidak akan bersuara lagi setelah ini. Tapi ingat, kau harus menuruti nasehat dokter. Jangan terlalu memaksakan dirimu untuk mengingat semuanya, kau mengerti?” Eunsoo mengangguk. Bibirnya kini melengkung tipis seraya bola matanya menatap Chanyeol lekat-lekat. “Chanyeol-ah, aku mencintaimu.” Chanyeol tersenyum mendengarnya. “Rasanya.. aku ingin hidup berdua denganmu, seperti saat ini. Aku tidak ingin mengingat apa-apa selain semua tentangmu. Saat pertama kali aku melihatmu di rumah sakit saat itu, dan sampai saat ini, aku hanya ingin mengingat semua itu.”

Senyuman Chanyeol memudar perlahan dari wajahnya. “Hana-ya.” Eunsoo kemudian menyela. “Tapi itu tidak mungkin ‘kan?” Eunsoo tersenyum kecil. “Ya, tidak mungkin. Karena cepat atau lambat, aku akan mengingat semuanya. Aku tidak tahu entah apa yang akan terjadi nanti. Jujur, perasaanku tidak enak. Entah mengapa.. aku merasa akan ada hal buruk yang akan terjadi pada kita nanti.” Eunsoo menatap Chanyeol dalam-dalam. Entah mengapa matanya terasa memanas, dadanya pun sesak. “Chanyeol-ah, jangan tinggalkan aku, hm? Kita akan tetap seperti ini ‘kan? Berjanjilah padaku bahwa kau akan tetap bersamaku.” Suara Eunsoo terdengar kian lirih. Mendengarnya membuat perasaan cemas kini memenuhi rongga dada Chanyeol. Jujur, semakin lama Chanyeol juga merasakannya. Firasatnya mengatakan akan ada hal buruk yang akan terjadi pada mereka jika wanita itu mengingat semua kenangannya.

Chanyeol mendekap Eunsoo semakin hangat dan wanita itu pun membalasnya. Chanyeol kemudian mengelus rambut Eunsoo untuk menenangkannya. Sembari menutup mata, Chanyeol kemudian bergumam. “Ya, aku berjanji. Aku tidak akan meninggalkanmu, Hana.”

***

Eunsoo kembali bangun lebih pagi hari ini. Setelah Ia membuka mata, Ia mendapati Ia tengah tidur dengan posisi terlentang sementara tangan Chanyeol melingkar di perutnya. Eunsoo kemudian menoleh kesamping, tersenyum kecil sembari memandangi wajah tidur Chanyeol yang berada tepat di sisi kepalanya. Setelah diam selama beberapa saat, Eunsoo membangunkan Chanyeol selama beberapa kali. Saat pria itu akhirnya mulai sadar, Eunsoo berkata agar sebaiknya Chanyeol segera bangun karena Chanyeol harus bekerja.

Setelah mata Chanyeol terbuka sempurna, Chanyeol memandangi Eunsoo sejenak, sembari berfikir, haruskah Chanyeol mengatakan pada wanita itu jika dirinya sudah dipecat dari perusahaan? Wanita itu pasti akan sedih mendengarnya. Apalagi Eunsoo barusaja mengalami insiden kemarin. Chanyeol hanya tidak ingin membuat beban pikiran Eunsoo bertambah karenanya. Jadi setelah menimbang-nimbang, Chanyeol akhirnya memutuskan untuk tidak mengatakan hal itu terlebih dahulu pada Eunsoo. Chanyeol mengatakan bahwa Ia mengambil cuti dari kantor selama beberapa hari ke depan. Chanyeol melakukan hal itu karena Ia ingin menjaga Eunsoo. Chanyeol tidak ingin kejadian seperti kemarin terulang lagi, saat terjadi sesuatu pada wanita itu sementara Chanyeol tidak berada disampingnya.

Eunsoo mengatakan bahwa sebaiknya Chanyeol tetap bekerja. Eunsoo akan menjaga diri dan akan menelfon Chanyeol jika terjadi sesuatu padanyanya nanti. Eunsoo juga tidak ingin, gara-gara dirinya Chanyeol menelantarkan pekerjaannya. Tapi Chanyeol bersikeras untuk tetap berada di rumah. Chanyeol bahkan mengatakan bahwa saat ini masih terlalu pagi untuk bangun, setelah itu Chanyeol menarik selimut dan menutupkan selimut itu ke seluruh tubuh mereka. Chanyeol kemudian semakin mendesak ke arah Eunsoo membuat pekikan tertahan Eunsoo terdengar dari balik selimut.

Karena Eunsoo baru keluar dari rumah sakit, jadi Chanyeol menawarkan diri untuk membuat sarapan pagi ini. Selama Chanyeol memasak, Eunsoo tampak setia menemaninya. Wanita itu terus memeluk tubuh Chanyeol dari belakang sembari sesekali bertanya apa yang bisa Ia bantu? Tapi Chanyeol selalu menolak tawaran Eunsoo dan mengatakan bahwa dengan Eunsoo memeluknya seperti itu, hal itu sudah cukup bagi Chanyeol.

Selesai memasak, Chanyeol dan Eunsoo menyiapkan hidangan sarapan di atas meja makan. Ditengah-tengah aktifitas itu, bel apartemen berbunyi. Lantas Chanyeol bersama Eunsoo meninggalkan pantry untuk kemudian pergi ke pintu depan dan mengecek siapa tamu yang datang.

Ternyata Sehun yang datang. Sehun juga membawa plastik besar berisi buah-buahan. Saat melihat Sehun, air muka Chanyeol seketika berubah menjadi dingin, sementara Eunsoo bersikap seperti biasanya; ramah dan bersahabat pada Sehun. Eunsoo adalah yang pertama kali membuka perbincangan diantara mereka, dengan bertanya pada Sehun apakah Sehun sedang cuti juga? Mendengar kata juga, Sehun langsung menatap Eunsoo dengan bingung, sementara Chanyeol langsung memalingkan wajahnya, Chanyeol merasa was-was apakah Sehun akan mengatakan yang sesungguhnya pada wanita itu bahwa Chanyeol sudah dipecat oleh Nenek mereka.

Menjawab kebingungan Sehun, Eunsoo akhirnya menjelaskan bahwa Chanyeol tengah mengambil cuti selama beberapa hari. Eunsoo kemudian bertanya bagaimana dengan Sehun? Apakah Sehun sedang cuti juga?

Masih memalingkan wajah, Chanyeol mendengus pelan, merasa sedikit kesal mengapa Eunsoo membeberkan hal itu pada Sehun. Sehun tidak langsung menjawab pertanyaan Eunsoo, Ia melirik Chanyeol dengan tatapan terkesan meneliti seraya bibirnya menyunggingkan senyuman penuh arti. Ah, Sehun mengerti. Sehun akhirnya mengatakan pada Eunsoo bahwa Ia tidak mengambil cuti seperti Chanyeol. Ia ingin mampir kemari hanya untuk mengetahui bagaimana kabar wanita itu.

Mendengar jawaban Sehun, Chanyeol sedikit lega. Lega karena Sehun tidak mengatakan yang sesungguhnya pada Eunsoo bahwa Chanyeol telah dipecat dari perusahaan. Tapi Chanyeol juga tidak terima saat Sehun mengatakan bahwa Sehun ingin mengetahui kabar Eunsoo. Memangnya siapa Sehun? Chanyeol jadi semakin benci melihatnya.

Sementara itu, Eunsoo dengan senang hati mengatakan pada Sehun bahwa dia baik-baik saja. Eunsoo bahkan menyuruh Sehun masuk dan mengajak pria itu sarapan bersama-sama. Chanyeol langsung menatap Eunsoo tak mengerti. Chanyeol langsung bertanya apa yang sedang Eunsoo lakukan? Pagi ini Chanyeol yang memasak, dan dia memasak semua itu hanya untuk Eunsoo dan dirinya sendiri. Tapi Eunsoo justru menasehati Chanyeol agar Chanyeol jangan pelit, apalagi pada Sehun yang merupakan sepupunya. Chanyeol menatap Eunsoo tak habis pikir sementara Sehun tersenyum ringan menanggapinya. Chanyeol masih menunjukkan ekspressi wajah yang kesal saat Eunsoo menarik tangan Sehun dan menuntun Sehun menuju pantry.

Eunsoo pergi begitu saja, Eunsoo hanya berseru pada Chanyeol agar tidak lupa menutup pintunya. Wanita itu kembali terlihat berbicara pada Sehun dan mereka tampak tertawa bersama setelahnya. Entah apa yang mereka bicarakan, Chanyeol tidak suka melihat mereka bersama-sama. Saat sosok Eunsoo dan Sehun semakin jauh dari jangkauannya, Chanyeol segera menutup pintu dengan cara membantingnya. Lalu Ia pun pergi ke meja makan menyusul Eunsoo dan Sehun.

Demi kemauan Eunsoo, Chanyeol membiarkan Sehun sarapan bersama mereka. Chanyeol dan Eunsoo duduk berdampingan sementara Sehun duduk bersebrangan di hadapan mereka. Saat pertama kali mencicipi makanan, Sehun mengatakan bahwa masakan Chanyeol sangat enak, Sehun menyukainya. Eunsoo tersenyum sambil mengangguk menyetujui perkataan Sehun. Kemudian Chanyeol langsung menatap Sehun dengan tatapan dingin seraya menjawab, “Kau sudah mencoba makananya ‘kan? Jika sudah, kau boleh pergi sekarang.” Sehun tersenyum tipis menanggapi itu sementara Eunsoo langsung menegur Chanyeol. Eunsoo berbisik pada Chanyeol dengan nada geram dan mengomel agar Chanyeol tidak bersikap seperti itu pada sepupunya, mereka saudara, tidak seharusnya saudara seperti itu.

Dan sungguh, setelah mendengar Eunsoo berbicara seperti itu, membuat Chanyeol menatap Sehun semakin muak. Chanyeol bersumpah, jika saja wanita itu tidak berada di sampingnya saat ini, Chanyeol pasti sudah melemparkan piringnya ke wajah Sehun.

Mereka kemudian kembali makan. Namun tidak lama kemudian, Sehun tiba-tiba mengakhiri makannya dan mengatakan bahwa Ia harus segera pergi ke kantor. Chanyeol langsung menanggapi Sehun dengan mengatakan, “Baguslah jika kau akan pergi. Kau tahu? Kau sangat mengganggu di sini.” Lagi-lagi Sehun hanya tersenyum tipis, sementara Eunsoo kembali menegur Chanyeol dengan menyikut lengan pria itu. Chanyeol menatap Eunsoo dengan tatapan kesal, semakin kesal saat tiba-tiba Eunsoo berdiri dan wanita itu berkata pada Sehun bahwa dia akan mengantar Sehun sampai pintu. Sehun setuju dan mereka berdua pun pergi meninggalkan meja makan. Meninggalkan Chanyeol yang uring-uringan lantaran kesal karena Eunsoo lagi-lagi meninggalkannya begitu saja demi Sehun.

Setibanya di pintu, Sehun meminta maaf pada Eunsoo karena sepertinya Ia telah mengganggu acara sarapannya bersama Chanyeol. Eunsoo mengatakan tidak apa-apa dan Sehun tidak perlu meminta maaf padanya, Eunsoo justru yang meminta maaf atas sikap Chanyeol tadi pada Sehun. Sehun tersenyum maklum. Lalu Eunsoo mengatakan pada Sehun bahwa Sehun boleh datang kemari lagi untuk berkunjung jika memang Sehun sedang tidak sibuk. Sehun berterima kasih atas sikap baik Eunsoo padanya. Saat itu juga, Chanyeol barusaja tiba di samping Eunsoo. Chanyeol sempat mendengar ucapan Eunsoo, Chanyeol kemudian menyambung jika ini adalah apartemennya. Jadi Chanyeol tidak ingin ada tamu yang seenaknya masuk tanpa ijin terlebih dahulu darinya, termasuk Sehun.

Eunsoo langsung protes pada Chanyeol, tapi Sehun menengahi dengan mengatakan bahwa Ia mampir kesini mungkin lain kali saja, karena Ia akan sibuk akhir-akhir ini. Lalu Sehun berpamitan pada Eunsoo juga Chanyeol dan Ia keluar setelah itu. Saat Sehun baru menjauh beberapa langkah dari ambang pintu, Chanyeol langsung menutup pintunya dengan gerakan kasar. Melihat itu membuat Sehun kemudian menatap permukaan pintu itu disertai helaan napas yang panjang. Sehun tersenyum kecil seraya menggeleng pelan. “Aku tahu kau cemburu, Park Chanyeol.” Gumam Sehun, lalu melangkah pergi.

Di dalam apartemen, setelah menutup pintu seperti itu, Chanyeol langsung berjalan santai menjauh dari pintu, Eunsoo kemudian mengejarnya sembari berusaha mensejajarkan langkah mereka. Eunsoo menggerutu dan masih menyesalkan sikap Chanyeol pada Sehun yang terkesan tidak bersahabat. Tepat saat dipertengahan ruangan, Chanyeol menghentikan langkah, Eunsoo pun ikut menghentikan langkahnya. Sungguh, Chanyeol tidak tahan lagi mendengar pembelaan yang terus Eunsoo lakukan untuk Sehun. Kemudian Chanyeol menghadapkan tubuhnya pada Eunsoo dan menatap wanita itu dengan serius.

Eunsoo kemudian bertanya, mengapa Chanyeol melihatnya seperti itu? Apa Ia telah melakukan sebuah kesalahan? Chanyeol tidak menjawab. Satu tangan Chanyeol malah menarik tengkuk wanita itu untuk kemudian menempelkan bibir mereka. Chanyeol mencium wanita itu dalam-dalam membuat mata Eunsoo terbuka lebar. Setelah beberapa saat, Chanyeol melepaskan ciumannya. Dengan ekspressi wajah yang terkesan dingin, Chanyeol memperingatkan. “Jika kau menyebut nama Sehun di hadapanku lagi, aku tidak akan segan-segan untuk mencium bibirmu seperti tadi.”

Eunsoo terdiam menatap Chanyeol. Setelah beberapa saat, Ia mendengus, lalu mendesis pelan sebelum akhirnya mengambil langkah lebih dulu menuju pantry. Menyisakan Chanyeol yang menatap kepergiannya dengan tatapan kesal yang masih kentara. Chanyeol pun mendesis sembari memperhatikan punggung Eunsoo yang semakin menjauh darinya. “Ck! Awas saja jika kau membicarakan Sehun lagi. Aku akan benar-benar melakukannya.”

_

_

_

Saat Sehun barusaja duduk di kursi kerjanya, Sekretaris Kim masuk ke dalam ruangan. Sekretaris Kim melaporkan pada Sehun bahwa siang nanti akan ada tamu yang ingin berkunjung kemari. Tamu itu merupakan kenalan bisnis Nenek Sehun, tamu itu berkunjung kemari hanya untuk bertemu Nenek serta Sehun, sekaligus melihat bagaimana perkembangan perusahaan keluarga Sehun. Karena siang nanti Sehun tidak ada janji, jadi Sehun berkata bahwa dia juga akan menyambut kedatangan kenalan Nenek nya itu.

Siang itupun tiba, Nenek dan Sehun tengah berada di sebuah ruangan khusus tamu di perusahaan. Mereka menyambut kedatangan tamu mereka dengan ramah lalu menyuruh mereka untuk duduk. Tamu itu adalah laki-laki paruh baya berkebangsaan Jepang, bersama seorang wanita muda yang laki-laki itu kenalkan sebagai salah satu karyawannya di perusahaan. Nama laki-laki itu adalah Keisuke Takuya, lalu Ia memperkenalkan karyawannya yang bernama Ban Hana.

Sehun sedikit terkejut mendengar nama wanita itu, “Ban Hana?” pikir Sehun. Lalu Sehun memandangi Hana dengan tatapan terkesan meneliti saat Hana membungkuk sopan pada Nenek serta Sehun.

Ya, Hana. Setelah memperkenalkan diri, Ia membalas tatapan Sehun dengan tatapan yang sulit diartikan, sembari membatin, “Bukankah direktur perusahaan ini adalah Park Chanyeol? Lalu siapa dia?”

Setelah perbincangan yang memakan waktu cukup lama, Nenek mengantar Takuya keluar dari ruangan, sementara Sehun dan Hana berjalan tak jauh di belakang Nenek dan Takuya. Nenek dan Takuya kemudian berjalan lebih dulu untuk keluar dari perusahaan, sementara itu Hana tiba-tiba menghentikan langkah membuat Sehun turut menghentikan langkahnya. Sehun menatap Hana dengan bingung saat wanita itu menghadapkan tubuhnya pada Sehun. Kemudian Hana bertanya. “Kau mengenal Park Chanyeol?”

Sehun diam selama beberapa saat. Oh, ini benar-benar menarik. Pada awalnya Sehun pikir nama yang sama sudah menjadi hal yang biasa di Negaranya. Tapi lihat sekarang, Ban Hana yang satu ini juga mengenal Park Chanyeol? Ada apa dengan Chanyeol dan dua Ban Hana itu sebenarnya? Berbagai pertanyaan pun mulai mencuat dalam pikiran Sehun.

Melihat Sehun terus diam menatapnya, Hana mendengus pelan. “Baiklah, tidak apa-apa jika kau tidak mengenalnya.” Ujarnya terkesan dingin, lalu Hana melanjutkan langkah untuk pergi, meninggalkan Sehun yang kini menatap kepergiannya dengan tatapan yang sulit diartikan.

_

_

_

Hari ini Chanyeol mengajak Eunsoo makan malam di luar. Setelah mereka selesai makan malam disebuah restoran yang cukup terkenal, Chanyeol mengajak Eunsoo untuk menonton film disebuah bioskop. Mereka benar-benar menikmati waktu kebersamaan mereka berdua. Saat menonton film di bioskop, mereka menikmati pop corn dan minuman dari satu wadah yang sama. Mereka tampak larut menikmati film bergenre romance yang ditayangkan di layar bioskop.

Selesai menonton, Eunsoo mengajak Chanyeol pulang karena malam semakin larut. Chanyeol menyetujui. Lalu saat mereka tiba di parkiran, Chanyeol meminta Eunsoo untuk menunggunya sebentar di dekat mobil karena Chanyeol ingin pergi ke suatu tempat. Eunsoo bertanya kemana Chanyeol akan pergi? Tapi Chanyeol hanya menahan senyuman dan mengatakan bahwa dia tidak akan lama. Chanyeol bergegas pergi setelah itu, meninggalkan Eunsoo yang menatapnya penasaran.

Masih di lingkungan bioskop, saat membayar tiket tadi, Chanyeol sempat melihat di ujung lantai dasar ada sebuah stan yang berisi berbagai macam jenis boneka. Chanyeol pergi ke tempat itu untuk membeli sebuah boneka beruang berukuran sedang, warnanya cokelat muda dengan bulu yang tebal dan lembut. Chanyeol harap wanita itu akan menyukainya. Setelah membeli Chanyeol bergegas untuk kembali menemui Eunsoo.

Setibanya di hadapan Eunsoo, Chanyeol menyerahkan boneka itu sebagai hadiah. Tentu saja, Eunsoo menerimanya dengan senang hati. Eunsoo mengucapkan terima kasih dan mengatakan bahwa boneka itu sangat cantik, dia menyukainya. Membuat Chanyeol merasa puas sekarang.

Chanyeol kemudian membukakan pintu mobil untuk Eunsoo, setelah Eunsoo masuk Chanyeol menutupkan pintunya. Lalu Chanyeol menuju kursi kemudinya dan langsung menhidupkan mesin mobil. Bersamaan saat Chanyeol menginjak pedal gas…

“Eunsoo!” terdengar seseorang menyerukan nama itu. Tiba-tiba Eunsoo merasakan sesuatu yang aneh, Eunsoo bingung. Eunsoo kemudian menoleh ke belakang dan mendapati Minseok barusaja berhenti berlari tak jauh dari belakang mobil Chanyeol yang terlanjur menjauh.

Ditempatnya, napas Minseok memburu. Sebenarnya Ia juga baru selesai menonton bersama Baekhyun. Tak jauh dari mobil Baekhyun terparkir, Minseok melihat sosok wanita itu tengah bersama Chanyeol tadi, Minseok berusaha memastikannya tapi mobil Chanyeol lebih dulu pergi. “Aku yakin, itu pasti Eunsoo. Tapi siapa pria itu? Sepertinya.. saat itu aku juga melihat Eunsoo bersama pria itu.”

“Hana? Kau sedang melihat apa?” Chanyeol bertanya karena Eunsoo terus menolehkan kepalanya ke belakang. Wanita itu tidak langsung menjawab, Ia masih memperhatikan sosok Minseok yang tampak semakin menjauh dari mobil Chanyeol. Saat mobil Chanyeol keluar dari area parkiran, dan sosok Minseok tidak lagi tampak dalam penglihatan Eunsoo, wanita itu baru menatap Chanyeol dan menjawab. “Aku merasa.. ada seseorang yang memanggilku tadi.”

Chanyeol menatapnya sedikit bingung. “Siapa?” Eunsoo kemudian menggeleng pelan. “Aku tidak tahu. Dia tidak menyebutkan namaku. Tapi.. aku yakin dia memanggilku.” Chanyeol tersenyum ringan, lalu mengatakan bahwa mungkin orang itu salah lihat.

Eunsoo tidak menanggapi lagi perkataan Chanyeol, Ia kemudian mengarahkan pandangan lurus ke depan dan menunjukkan tatapan yang terkesan menerawang. Sembari memeluk boneka beruang di pangkuan, Eunsoo kembali mengingat seruan Minseok yang tadi terdengar samar ditelinganya. “Eun..soo?” Ya, itu nama yang Ia dengar tadi. Eunsoo tiba-tiba merasakan sebagian jantungnya mencelos. “Eunsoo..” semakin mengingat nama itu, membuat perasaan was-was turut hadir di dalam hatinya. “Eunsoo.” Jantung Eunsoo tiba-tiba berdetak lebih cepat dari sebelumnya. Tanpa sadar, kedua tangannya meremas boneka beruang dipangkuannya erat-erat. Dalam pendengaraan Eunsoo saat ini, Ia mulai mendengar suara-suara yang menyebutkan nama itu secara jelas. “Eunsoo?” “Eunsoo-ya!” “Ya! Eunsoo!”

“Akh!” Eunsoo meringis pelan sembari menutup matanya rapat-rapat, Ia menunduk karena rasa pening mendadak menyerang kepalanya. Chanyeol yang melihat Eunsoo seperti itupun langsung merasa cemas. Ia segera menepikan mobil lalu mobilnya berhenti. “Hana-ya, ada apa? Kau tidak apa-apa?” Tanya Chanyeol sembari menyentuh pundak Eunsoo.

Masih menundukkan wajah, Eunsoo membuka matanya perlahan. “Kepalaku sakit, Chanyeol. Rasanya benar-benar sakit.” Sahut Eunsoo tanpa menatap Chanyeol. Chanyeol semakin cemas, Ia mengatakan bahwa Ia akan membawa wanita itu ke rumah sakit tapi Eunsoo menolaknya. Eunsoo menatap Chanyeol dan mengatakan bahwa Ia tidak ingin ke rumah sakit, mungkin hanya pusing biasa, jadi Eunsoo hanya meminta Chanyeol untuk membelikannya obat pereda pusing.

Jika itu kemauan wanita itu, Chanyeol akhirnya setuju. Ia kembali menjalankan mobilnya untuk mencari toko obat paling dekat di sana. Tidak lama kemudian, Chanyeol melihat sebuah toko obat di tepi jalan, Ia pun memberhentikan mobilnya di sisi jalan dan meminta Eunsoo untuk menunggu di dalam mobil. Eunsoo mengangguk pelan menyetujui. Kemudian Chanyeol turun dari mobil, lalu menyebrangi jalan dan bergegas masuk ke dalam toko obat di sebrang jalan.

Eunsoo terus menunggui Chanyeol di dalam mobil. Tapi setelah lebih dari sepuluh menit, Chanyeol tidak kunjung keluar dari toko obat itu. Eunsoo heran mengapa hanya membeli obat pereda pusing sampai memakan waktu selama itu? Apalagi ponsel Chanyeol beberapa menit lalu terdengar berdering, dan Eunsoo tidak merasa berhak untuk menjawab panggilannya, jadi Eunsoo membiarkannya.

Ponsel Chanyeol berdering lagi, Eunsoo meliriknya sejenak, lalu memperhatikan pintu toko obat yang tidak terdapat tanda-tanda bahwa Chanyeol akan keluar dari sana. “Kenapa lama sekali?” Gumam Eunsoo. Akhirnya Eunsoo memutuskan untuk turun dari mobil. Dengan ponsel Chanyeol yang kini berada dalam genggamannya, Eunsoo mulai melangkah menyebrangi jalan, menuju toko obat yang berada tak jauh di hadapannya. Saat Eunsoo berada di tengah jalan, sebuah mobil sedan tampak muncul dari belokan jalan yang berada tak jauh dari Eunsoo. Pengemudi mobil, seorang laki-laki tiga puluh tahunan itu tampak berbincang dengan teman wanita yang duduk di sampingnya. Ia tidak terlalu memperhatikan jalan. Lalu saat Eunsoo merasakan ada sinar yang mengenai dirinya, Eunsoo berhenti dan menoleh. Eunsoo terdiam saat mendapati mobil itu mendekat ke arahnya, lampu mobil itu pun semakin menyorot penglihatannya.

Sinar lampu mobil itu terlihat terang di mata Eunsoo, sangat terang, semakin terang, hingga Eunsoo tidak bisa melihat hal lain selain cahaya itu, lalu sebuah bayangan pun tiba-tiba melintas dalam pikirannya. Dengan cepat memori Eunsoo memutar kejadian yang pernah Ia alami seperti ini sebelumnya. Sesaat sebelum Eunsoo tertabrak mobil saat itu, Eunsoo juga berdiri seperti ini sembari menggenggam ponselnya erat-erat. Saat itu Eunsoo melihat mobil yang akan menabraknya semakin mendekat, terus mendekat hingga dalam sepersekian detik kemudian, Eunsoo merasakan dunianya menjadi gelap.

TIIIITT!!!

Mobil sedan itu berhenti mendadak, menyisakan jarak yang tak lebih satu meter antara bagian depan mobil dan tubuh Eunsoo. Sang pengemudi kemudian membuka kaca jendela mobil dan mengeluarkan kepalanya untuk melihat Eunsoo. “Hei! Apa yang kau lakukan di sana?! Jika ingin menyebrang, seharusnya kau lebih berhati-hati! Cepat minggir!”

Eunsoo tetap diam ditempatnya. Ia menatap mobil itu dengan tatapan mata yang kosong. Tanpa Eunsoo sadari, tangannya yang tengah menggenggam ponsel Chanyeol kini bergetar.

Sang pengemudi bingung mengapa Eunsoo terus diam di tempatnya. Ia kembali meneriaki Eunsoo dan menyuruh wanita itu agar menyingkir dari tengah jalan. Saat itu juga, Chanyeol barusaja keluar dari toko obat. Chanyeol yang melihat pemandangan di tengah jalan itu langsung panik, Ia berlari menghampiri Eunsoo lalu berdiri di samping wanita itu. “Ya! Apa yang terja—“ Chanyeol tidak melanjutkan kalimatnya lantaran tubuh Eunsoo tiba-tiba limbung, Chanyeol segera mendekapnya, tubuh wanita itu melemas dalam dekapan Chanyeol, “Hana?” Panggil Chanyeol. Eunsoo sempat mendongak perlahan, menatap Chanyeol dengan lemah disertai napas yang terdengar berat. Dan setelah itu, Eunsoo pingsan. Chanyeol terus memanggil nama Hana sembari menepuk pipi Eunsoo. Sembari membawa plastik kecil berisi obat, Chanyeol berusaha mengangkat tubuh Eunsoo dan membawanya masuk ke dalam mobil.

Pengemudi mobil yang hampir menabrak Eunsoo tadi merasa bingung mengapa wanita itu tiba-tiba pingsan. Ia dan teman wanitanya pun saling memandang bingung, lalu mereka memperhatikan mobil Chanyeol yang kini melaju meninggalkan tempat itu.

Di rumah sakit, Eunsoo tengah terbaring di atas ranjang rawat dalam kondisi tak sadarkan diri. Beberapa saat yang lalu Chanyeol sempat berbicara pada dokter yang menangani Eunsoo. Dokter itu mengatakan bahwa sepertinya Eunsoo mengalami tekanan lagi pada syaraf otaknya. Hal itulah yang menyebabkannya kembali pingsan. Chanyeol merasa sangat khawatir, Ia juga menceritakan pada dokter bahwa akhir-akhir ini Eunsoo sering bercerita pada Chanyeol tentang mimpi-mimpi yang dialami wanita itu. Eunsoo sering bercerita bahwa di dalam mimpi Ia melihat orang-orang asing, tapi di mimpi itu Eunsoo justru terlihat dekat dengan mereka. Dokter berkesimpulan bahwa bisa saja mimpi-mimpi itu adalah ingatan Eunsoo yang hilang. Jadi dokter merasa yakin, wanita itu akan segera mengingat semuanya.

Sudah lewat tengah malam, Eunsoo tidak kunjung membuka matanya. Chanyeol terus duduk di sisi ranjang rawat dan menunggu wanita itu dengan setia. Chanyeol terus menggenggam tangan Eunsoo, memandangi wajah Eunsoo dan terus memanggil nama wanita itu. Chanyeol terus memohon agar wanita itu segera membuka matanya, dan mengatakan pada Chanyeol bahwa dia baik-baik saja. Chanyeol lelah, sungguh. Melihat kondisi Eunsoo yang seperti ini membuat berbagai macam hal buruk kini bersarang di hati dan pikirannya.

Chanyeol mendesah berat, lalu menunduk, meletakkan keningnya di sisi tangan Eunsoo lalu matanya tertutup perlahan.

_

_

_

Busan.

Nyonya Shin terbangun setelah mendengar ponselnya berdering. Ia melihat jam yang tertempel di dinding kamarnya tengah menunjukkan pukul tiga lebih lima menit waktu dini hari. Nyonya Shin bertanya-tanya dalam hati siapa yang menelfonnya di jam seperti ini? Wanita itu kemudian duduk dan meraih ponselnya di meja nakas. Sebuah nomor asing tertera di layar. Meskipun ragu, Nyonya Shin tetap menggeser tombol hijau pada layar lalu menempelkan benda itu di telinga. “Halo?” Sapa Nyonya Shin. Setelah lebih dari sepuluh detik tidak ada jawaban dari sebrang sana, Nyonya Shin kembali bersuara. “Halo? Dengan siapa ini?” lagi, tidak ada jawaban dari sana. Nyonya Shin mendengus pelan, Ia berniat mengakhiri panggilan namun sebuah suara tiba-tiba terdengar dari sebrang sana.

“Ibu..”

Nyonya Shin terdiam sejenak. Suara itu, Nyonya Shin mengenalnya. Mata Nyonya Shin pun sedikit melebar. “Eunsoo?”

“Ya, Ibu. Ini aku.”

_

_

_

Di halaman depan rumah sakit, Eunsoo menurunkan ponselnya dari telinga secara perlahan. Tangannya kini terjuntai lemas di sisi tubuh. Eunsoo menatap lurus ke depan dengan tatapan kosong, dengan mata yang tampak berkaca-kaca.

Kini, Eunsoo sudah mengingat semuanya. Ya, semuanya. Ingatan itu kembali dengan sendirinya setelah Eunsoo tersadar beberapa saat yang lalu. Semua ini bermula dari mobil yang hampir menabraknya tadi, yang mengingatkannya dengan kecelakaan yang Eunsoo alami malam itu. Eunsoo tidak tahu apa yang harus Ia lakukan sekarang. Ia benar-benar bingung. Apa lagi saat menyadari bahwa tidak seharusnya Eunsoo berada di sini. Tidak seharusnya, Ia bersama Chanyeol saat ini.

“Hana-ya!”

Jantung Eunsoo terasa mencelos saat mendengar suara berat Chanyeol menyerukan nama itu. Perlahan, Eunsoo berbalik, mendapati Chanyeol kini tengah berlari ke arahnya. Setibanya Chanyeol di hadapan Eunsoo, Chanyeol langsung menyentuh kedua lengan atas Eunsoo sembari bertanya apa yang wanita itu lakukan di sini? Chanyeol juga meminta maaf karena dia sempat tertidur tadi, Chanyeol mengatakan tidak seharusnya Eunsoo pergi begitu saja tanpa memberitahunya terlebih dahulu.

Eunsoo terus diam sembari menatap Chanyeol lekat-lekat. Pandangannya semakin kabur karena air bening itu semakin memenuhi kelopak matanya. Haruskah, Eunsoo mengatakan yang sejujurnya pada Chanyeol sekarang? Tentang siapa dia yang sebenarnya, dan tentang tujuannya datang menemui Chanyeol, haruskah Eunsoo mengatakannya sekarang? Eunsoo benar-benar bingung, Ia tidak tahu apa yang harus Ia lakukan sekarang. Saat-saat yang Ia lalui bersama Chanyeol pun tiba-tiba berputar cepat di dalam kepalanya.

Melihat Eunsoo yang terus diam menatapnya, Chanyeol mendesah pelan, lalu Chanyeol melepas mantelnya untuk kemudian Ia tutupkan di tubuh Eunsoo. “Di luar dingin.” Kata Chanyeol sembari menata mantel itu di tubuh Eunsoo. Setelah itu Chanyeol menarik tubuh Eunsoo dan memeluknya dengan hangat. “Aku tahu kau tidak suka berada di rumah sakit. Jika kau ingin pulang, seharusnya kau mengatakan itu padaku. Aku akan membawamu pulang. Aku akan merawatmu sendiri di rumah. Dan kumohon, jangan menangis, hm?”

Eunsoo benar-benar menangis setelah itu. Ia membiarkan kedua tangannya mengepal erat di sisi tubuhnya sembari Ia berharap dalam hati agar Chanyeol bertanya tentang keadaannya, tentang ingatannya apakah Eunsoo sudah mengingat semuanya. Dengan begitu Eunsoo akan lebih mudah untuk menjawabnya secara jujur. Bukannya seperti ini, pelukan Chanyeol yang terasa semakin erat membuat Eunsoo tidak ingin menjauh dari pria itu. Sungguh, Eunsoo terlanjur jatuh cinta pada Chanyeol. Eunsoo mulai merasa takut jika Chanyeol menjauh darinya.

Chanyeol melepas pelukannya. Kemudian membersihkan air mata Eunsoo menggunakan kedua ibu jarinya dengan gerakan lembut. Chanyeol kembali mengatakan agar Eunsoo tidak perlu menangis, karena Chanyeol akan membawa wanita itu pulang sekarang juga. Lalu Chanyeol merangkul tubuh Eunsoo dan membawa wanita itu pergi menuju mobilnya yang terparkir di halaman depan rumah sakit.

Mereka berjalan berdampingan, Eunsoo terus menatap sisi wajah Chanyeol lekat-lekat, kemudian pria itu membalas tatapan Eunsoo sembari menunjukkan senyuman hangat, senyuman yang justru membuat hati Eunsoo terasa terluka.

_

_

_

Chanyeol merasa ada yang aneh dari Eunsoo, karena semenjak Eunsoo tersadar, wanita itu belum berbicara apa-apa pada Chanyeol. Bahkan saat tidur pun, Eunsoo memilih tidur dengan posisi memunggungi Chanyeol. Tidak seperti biasanya, dimana mereka terbiasa tidur dengan posisi saling berhadapan dan berpelukan.

Di atas tempat tidur, Chanyeol bergerak semakin mendekati tubuh Eunsoo, memeluk tubuh wanita itu dari belakang dengan melingkarkan satu tangannya di perut Eunsoo. “Kau sudah tidur?” Tanya Chanyeol. Lalu membenamkan wajahnya di belakang leher Eunsoo dan bergumam, “Jika kau sudah tidur, tidak apa-apa. Aku hanya ingin mengatakan bahwa kau tidak perlu takut, aku akan terus menjagamu, Hana. Aku tidak akan meninggalkanmu.”

Eunsoo memang belum tidur, Ia hanya menutup matanya. Saat merasakan pelukan Chanyeol semakin erat, Eunsoo membuka mata perlahan. Matanya kembali memerah. Sumpah demi apapun, Eunsoo merasa benar-benar bersalah pada Chanyeol. Eunsoo tidak ingin membohongi pria itu, tapi.. Eunsoo tidak memiliki keberanian sedikitpun untuk jujur. Eunsoo benar-benar takut. Jika Ia jujur, Chanyeol akan marah lalu meninggalkan dirinya.

Ya, Eunsoo takut, jika akhirnya Chanyeol akan meninggalkannya setelah itu.

Eunsoo benar-benar takut rasanya.

***

Matahari sudah merangkak naik saat Chanyeol terbangun dari tidurnya. Setelah Ia membuka mata, Ia tidak mendapati wanita itu di sampingnya. Lantas, Chanyeol segera bangkit, lalu turun dari tempat tidur dan mencari wanita itu di kamar mandi. Eunsoo tidak ada di kamar mandi. Chanyeol pun beralih mencari Eunsoo di pantry dan mendapati wanita itu tengah mengaduk kopi di dalam cangkir. Chanyeol tersenyum lega, lalu mendekati Eunsoo dan langsung memeluknya dari belakang.

“Selamat pagi.” Sapa Chanyeol. Ketika Eunsoo menoleh ke arahnya, Chanyeol langsung menghadiahkan kecupan manis di bibir wanita itu. Setelah itu Chanyeol bertanya mengapa Eunsoo bangun pagi-pagi sekali? Eunsoo seharusnya istirahat saja di kamar dan memulihkan kesehatan. Tapi Eunsoo hanya menanggapinya dengan senyuman tipis, lalu kembali mengaduk kopi dan menghadapkan wajahnya pada cangkir kopi itu.

Chanyeol merasa bingung, Ia pun meletakkan dagunya di pundak Eunsoo, menempelkan pipi mereka dan bergumam bahwa Eunsoo sangat aneh setelah keluar dari rumah sakit semalam. Eunsoo tidak kunjung berbicara padanya membuat Chanyeol merasa tidak tenang.

Setelah itu, Eunsoo berhenti mengaduk kopi, Ia meletakkan sendok kecil itu di sisi cangkir, lalu melepas rangkulan tangan Chanyeol di perutnya dan berbalik hingga kini mereka saling berhadapan. “Sebaiknya cuci dulu wajahmu. Setelah itu minum kopi, aku akan membuatkan sarapan untukmu.” Kata Eunsoo.

Chanyeol tersenyum tipis, merasa lega akhirnya Ia bisa mendengar suara wanita itu kembali. Chanyeol kemudian mengangguk, lalu berpamitan dan pergi menuju kamar. Eunsoo memandangi kepergian Chanyeol disertai helaan napas yang terdengar jelas. Ia merasa, perasaan bersalah itu semakin menumpuk di dalam hatinya. Apa Ia harus jujur sekarang? Entahlah, Eunsoo bingung. Eunsoo merasa bahwa Ia membutuhkan waktu untuk mengumpulkan keberanian sebelum mengatakan yang sejujurnya pada Chanyeol.

Ya, Eunsoo butuh waktu.

Setelah Chanyeol selesai membersihkan wajahnya, Chanyeol duduk di tepi tempat tidur, lalu meraih ponselnya di meja nakas dan mendapati sebuah pesan masuk dari sebuah nomor asing.

“Kau Park Chanyeol? Jika aku benar, ada sesuatu yang ingin aku tanyakan padamu. Siang ini, aku akan menunggumu di restoran XXX di Gangdong-gu. Bisa kupastikan, kau akan menyesal jika kau tidak datang menemuiku.”

Chanyeol kemudian menatap lurus ke depan dengan tatapan bingung. Nomor itu juga adalah nomor yang masuk ke daftar panggilan tak terjawab di ponselnya semalam. Chanyeol kembali memandangi ponselnya, sembari bertanya dalam hati, siapa sebenarnya orang yang mengirim pesan itu padanya?

Dia adalah Ban Hana, yang kini merasa muak karena Chanyeol tidak kunjung membalas pesannya. Hana mendapatkan nomor Chanyeol dari data diri Chanyeol yang Ibunya kirimkan saat itu. Di sebuah kamar hotel, Hana berdiri di sisi jendela dengan kedua tangan yang dilipat di depan dada, memandangi pemandangan kota Seoul di bawah sana dengan pandangan terkesan menerawang. Hana kembali memikirkan pertanyaan yang terus berputar-putar di dalam kepalanya; Apa benar Eunsoo masih bersama pria bernama Park Chanyeol itu? Jika iya, apa yang sebenarnya terjadi diantara mereka? Sungguh, Hana benar-benar ingin tahu kebenarannya.

_

_

Selesai membuat sarapan, Eunsoo berjalan menuju kamar Chanyeol karena pria itu tidak kunjung keluar. Setibanya di depan pintu kamar, Eunsoo berniat masuk ingin memanggil Chanyeol, namun saat pintu kamar baru sedikit Eunsoo buka, suara Chanyeol lebih dulu masuk ke dalam pendengaran Eunsoo. “Ya, Nenek memecatku dari perusahaan.” Eunsoo mengurungkan niat untuk masuk. Dari celah pintu yang sedikit terbuka, Eunsoo bisa melihat Chanyeol tengah berbicara dengan seseorang ditelfon. Chanyeol tampak berdiri di depan jendela kamar, dengan posisi membelakangi Eunsoo seraya satu tangan pria itu dimasukkan ke dalam saku celana. “Seperti yang Ibu tahu selama ini, Nenek tidak mungkin merubah keputusannya. Kurasa Nenek sengaja melakukannya, karena Nenek hanya ingin menyerahkan perusahaan itu sepenuhnya kepada Sehun.”

Eunsoo memandangi Chanyeol dalam diam, sembari membatin, jadi Chanyeol sudah dipecat dari perusahaan? Dan pria itu berbohong pada Eunsoo dengan mengatakan bahwa dia sengaja mengambil cuti demi menjaga Eunsoo?

Eunsoo terus diam saat Chanyeol kembali melanjutkan. “Rencana? Maksud Ibu.. rencana untuk mendapatkan perusahaan keluarga Hana?”

Deg. Eunsoo merasa sebagian jantungnya mencelos. Ia langsung menatap Chanyeol tak mengerti. Apa yang Chanyeol maksud dengan rencana untuk mendapatkan perusahaan keluarga Hana? Apa yang sedang Chanyeol bicarakan? batin Eunsoo.

“Ya, Ibu memang benar.” Kata Chanyeol lagi. “Tidak seharusnya aku cemas jika Nenek tidak ingin melibatkanku di perusahaannya. Karena jika aku berhasil menikahi Hana, perusahaan keluarga Hana pasti akan jatuh ke tanganku. Dan aku akan memiliki perusahaan sendiri setelah itu.”

Tangan Eunsoo tanpa sadar menggenggam kenop pintu erat-erat. Ia menatap Chanyeol dengan tatapan tak percaya. Ada apa ini? Apa itu adalah tujuan utama Chanyeol menerima perjodohannya dengan Hana? Pikir Eunsoo. Apa… Chanyeol menerima perjodohannya dengan Hana hanya untuk mendapatkan perusahaan keluarga Hana?

Eunsoo bingung, benar-benar tak mengerti. Ia berharap ucapan tadi tidak dilontarkan oleh bibir Park Chanyeol. Eunsoo berharap pendengarannya bermasalah. Tapi saat Eunsoo melihat sosok Chanyeol semakin jelas, membuat Eunsoo sadar bahwa apa yang Ia dengar baru saja benar-benar dikatan oleh Park Chanyeol, oleh pria yang telah berhasil mengisi tempat kosong di dalam hatinya.

Tiba-tiba Eunsoo merasa rongga dadanya sesak, merasa kecewa, matanya pun terasa memanas. Eunsoo kemudian menundukkan pandangan sebelum akhirnya menutup pintu itu perlahan, lalu Eunsoo berbalik, menatap lurus ke depan dengan tatapan menerawang sembari bergumam dalam hati, “Apa.. selama ini Chanyeol hanya berpura-pura? Apa benar Chanyeol berniat mendekati Hana hanya untuk mendapatkan perusahaan keluarga Hana?” Eunsoo kemudian menunduk, meremas rok dressnya kuat-kuat sebelum akhirnya melangkah pergi.

Di dalam kamar, Chanyeol menundukkan wajahnya. Di sebrang sana, sang Ibu masih bertanya bagaimana perkembangan hubungan Chanyeol dengan Hana. Apa Chanyeol sudah berhasil mendapatkan kepercayaan dari Hana? Apa Hana sudah bersedia menikah dengan Chanyeol?

Chanyeol tidak langsung menjawab pertanyaan Ibunya. Ia terdiam cukup lama. Lalu akhirnya Chanyeol menjawab dengan suara yang terdengar pelan. “Ibu, apa.. kita tidak terlalu jahat pada mereka? Maksudku.. pada keluarga Hana. Entah mengapa, aku merasa bersalah pada Hana. Aku merasa..” Chanyeol menggantung kalimat seraya mengingat kenangan-kenangan yang telah Ia lalui bersama Eunsoo selama ini. Saat pertama kali Ia bertemu dengan wanita itu, Chanyeol ingat saat itu Ia mengatai Eunsoo kampungan. Chanyeol juga ingat saat kecelakaan itu terjadi, Ia terus menunggui Eunsoo yang sempat koma selama beberapa hari di rumah sakit. Chanyeol juga ingat, setelah kecelakaan itu terjadi, Ia banyak menghabiskan waktunya bersama wanita itu. Chanyeol menjadi terbiasa, Chanyeol mulai sadar bahwa Ia merasakan sesuatu yang belum pernah Ia rasakan sebelumnya. Sampai akhirnya Chanyeol menyadari perasaannya dan Ia mencium Eunsoo malam itu.

Pada awalnya Chanyeol memang berniat seperti itu; mendekati Hana hanya demi mendapatkan perusahaan keluarga Hana, Chanyeol hanya ingin membuktikan pada Neneknya, juga pada Sehun bahwa Chanyeol bisa berhasil tanpa bantuan mereka. Ya, hanya itu tujuan Chanyeol.

Tapi perasaan yang Ia rasakan pada Eunsoo, yang kini tumbuh subur di dalam hatinya, membuat rasa bersalah kian menyelimuti seluruh rongga dada Chanyeol.

“Ya! Park Chanyeol! Apa yang terjadi denganmu?” Nada bicara Ibu Chanyeol terdengar tak percaya. “Mengapa kau menjadi lemah seperti ini? Chanyeol, kau harus ingat tujuan utamamu menikah dengan wanita itu.” Chanyeol tetap diam mendengar itu. Ibunya kembali bersuara. “Chanyeol, Ibu tahu kau bukanlah seseorang yang lemah seperti ini. Untuk apa kau merasa bersalah pada mereka? Tidak perlu. Kau mengerti?! Ingat apa yang telah dilakukan Nenekmu selama ini padamu, juga pada Ibu. Buktikan padanya bahwa kau bisa berhasil dengan usahamu sendiri!”

Masih menundukkan wajahnya, Chanyeol menghela napas pelan. Lalu menjawab juga dengan suara yang terdengar pelan. “Ibu, aku… aku jatuh cinta padanya.”

Nyonya Park tampak terdiam di sebrang sana. Hingga beberapa saat kemudian, Nyonya Park menanggapi. “A-apa? Kau.. jatuh cinta? Pada Hana?”

“Ya.” Jawab Chanyeol. “Aku jatuh cinta pada Hana. Ibu, aku tidak ingin berbohong pada Hana. Aku ingin jujur pada Hana bahwa aku pernah memiliki niat tidak baik pada Hana dan keluarganya. Dan.. aku ingin memperbaiki semuanya dari awal setelah itu. Tapi aku takut. Ibu, apa Hana akan marah padaku? Bagaimana jika setelah aku jujur, Hana justru meninggalkanku? Tapi jika aku tidak jujur pada Hana, aku rasa aku tidak akan mampu menahan rasa bersalalah ini lebih lama lagi. Perasaan bersalah ini benar-benar menggangguku. Ibu, apa yang harus kulakukan sekarang? Aku bingung. Aku benar-benar bingung.”

Setelah cukup lama diam, Nyonya Park bersuara pelan. “Chanyeol..”

“Ini pertama kalinya aku merasakan sesuatu seperti ini. Aku bahagia jika bersamanya. Ya, Ibu. Aku benar-benar mencintainya. Aku mencintai Hana.”

_

_

“Maaf membuatmu menunggu lama.” Chanyeol berkata seperti itu seraya Ia duduk di samping Eunsoo. Melihat wanita itu sudah menyiapkan piring berisi makanan di hadapannya sendiri (tapi Eunsoo tidak makan, Eunsoo hanya diam memandangi hidangan di hadapannya dengan tatapan menerawang) Chanyeol pun segera mengambil piring dan mengambil hidangan untuk dirinya sendiri. Setelah itu Chanyeol mengajak Eunsoo untuk sarapan tapi wanita itu tetap diam. Merasa bingung, Chanyeol pun merangkul pundak Eunsoo dan bertanya apa yang terjadi?

Eunsoo menoleh menatap Chanyeol. Memandangi wajah pria itu lekat-lekat sembari membatin apakah Chanyeol sedang berpura-pura baik padanya saat ini? Apa semua yang pria itu lakukan terhadap Eunsoo selama ini hanya sebuah sandiwara?

Chanyeol mencubit pelan hidung Eunsoo sembari bertanya mengapa wanita itu hanya diam? Setelah menghela napas pelan, Eunsoo hanya menggeleng, lalu tersenyum tipis dan mengajak Chanyeol sarapan. Eunsoo kemudian menyibukkan diri dengan hidangan di hadapannya tanpa mengetahui Chanyeol tetap memperhatikannya. Meskipun Chanyeol merasa ada sesuatu yang terasa berbeda dari wanita itu, tapi Chanyeol berusaha menampiknya. Pria itu tersenyum tipis sembari membatin, mungkin kesehatan wanita itu belum benar-benar pulih, sampai-sampai dia tidak terlihat semangat seperti biasanya.

_

_

_

Tidak lama setelah Chanyeol pergi dari apartemen (Chanyeol berpamitan pada Eunsoo dengan mengatakan bahwa dia akan makan siang bersama temannya) Eunsoo menelfon Ibunya di Busan. Karena Eunsoo hanya bisa mengingat nomor Ibunya, Eunsoo meminta nomor Minseok pada Ibunya. Setelah Eunsoo meminta nomor Minseok, sang Ibu bertanya dengan nada heran apa Eunsoo belum bertemu dengan Minseok? Eunsoo balik bertanya apa maksud perkataan Ibunya? Lalu sang Ibu menjelaskan bahwa beberapa hari yang lalu Minseok berpamitan pergi ke Seoul untuk menyusul Eunsoo. Eunsoo kembali bertanya pada Ibunya, jadi Minseok berada di Seoul sekarang?

Nyonya Shin semakin bingung. Ia pun bertanya pada Eunsoo apa yang sedang terjadi sebenarnya. Apalagi saat pertama kali Eunsoo menelfon saat itu, Eunsoo hanya mengatakan maaf pada Nyonya Shin dan setelah itu Eunsoo memutuskan panggilannya. Nyonya Shin terus mendesak Eunsoo dengan pertanyaan apa yang sedang terjadi pada Eunsoo di Seoul.

Setelah diam selama beberapa saat, Eunsoo menjelaskan bahwa dia akan pulang ke Busan dalam waktu dekat. Tapi sebelum pulang, Eunsoo harus menyelesaikan urusannya di Seoul terlebih dahulu. Eunsoo berjanji akan menceritakan semuanya pada sang Ibu setelah Ia pulang nanti. Eunsoo kembali meminta agar sang Ibu mengirimkan nomor Minseok padanya. Setelah sang Ibu menyetujui (meskipun dengan nada yang terdengar berat) Eunsoo memutuskan sambungan telfonnya.

_

_

Chanyeol dan Hana bertemu di sebuah restoran yang sudah di janjikan Hana. Mereka duduk di sebuah meja yang terdapat skat-skat berupa dinding tipis yang memisahkan antara meja satu dengan meja lainnya. Chanyeol dan Hana duduk saling berhadapan.

Hana adalah yang pertama membuka suara. “Jadi kau adalah orang yang bernama Park Chanyeol?”

Chanyeol menatap Hana dengan tatapan dingin bercampur penasaran. “Siapa kau? Kurasa aku tidak pernah mengenalmu sebelumnya.”

Hana tersenyum tipis. Kemudian Hana memperkenalkan diri di hadapan Chanyeol dengan mengatakan bahwa namanya adalah Ban Hana. Sesuai dugaan Hana, Chanyeol tampak bingung setelah Hana menyebutkan namanya. Lantas Hana pun bertanya pada Chanyeol. “Kenapa? Kau terkejut? Atau.. kau merasa namaku mengingatkanmu pada seseorang?”

Chanyeol menatap Hana semakin tak mengerti. Siapa wanita ini sebenarnya? Batin Chanyeol.

Karena Hana bukanlah tipe orang yang suka bertele-tele, jadi Hana langsung mengambil sesuatu dari dalam tasnya. Sebuah foto, yang kemudian Hana letakkan di atas meja dan Ia sodorkan di hadapan Chanyeol.

Saat pertama kali melihat foto itu, air muka Chanyeol langsung berubah. Pria itu tampak terkejut. Kemudian Chanyeol mengambil foto itu dari permukaan meja, lalu memperhatikannya lekat-lekat. Di dalam foto itu terdapat gambar Hana dan Eunsoo yang masih mengenakan seragam SMA. Mereka berdua tampak menyunggingkan senyuman cerah. Setelah cukup lama memperhatikan foto itu, Chanyeol bertanya pada Hana apa maksudnya Hana memberikan foto itu pada Chanyeol?

Hana kemudian bertanya pada Chanyeol apakah Chanyeol mengenal wanita yang bersama Hana di foto itu? Sebelum Chanyeol menjawab, Hana lebih dulu mengatakan bahwa wanita di foto itu adalah temannya saat berada di Busan dulu. Namanya Shin Eunsoo.

Chanyeol langsung bertanya. “Apa?”

Hana mulai menjelaskan, bahwa saat ini Ia masih bekerja sebagai desainer di sebuah butik yang cukup terkenal di Jepang. Hana juga menceritakan bahwa dia sering dijodohkan dengan pria-pria pilihan Ibunya, salah satu pria itu adalah Chanyeol. Hana mengatakan bahwa Ia tidak pernah setuju dengan perjodohan-perjodohan itu, termasuk perjodohannya dengan Chanyeol. Jadi Hana mengatakan pada Chanyeol, karena saat itu Ia tengah sibuk dan tidak sempat bertemu dengan Chanyeol untuk menolak sendiri perjodohan mereka, Hana meminta temannya yang bernama Shin Eunsoo untuk berpura-pura menjadi dirinya. Hana meminta agar Eunsoo bertemu dengan Chanyeol untuk menolak perjodohan mereka. Hana bahkan menceritakan pada Chanyeol bahwa Ia telah memberikan sejumlah uang pada Eunsoo sebagai imbalan karena Eunsoo bersedia berpura-pura menjadi Ban Hana.

Setelah mendengar semua itu, tangan Chanyeol tanpa sadar menggenggam foto ditangannya erat-erat. Ia tidak ingin percaya. Ia pikir ini tidak mungkin. Tidak mungkin Ban Hana yang berada di sampingnya selama ini bukanlah Ban Hana yang sesungguhnya. Tidak mungkin wanita itu menipunya.

Hana kemudian tersenyum hambar sembari melanjutkan perkataannya. “Dan kau tahu? Ibuku tiba-tiba menelfonku dan berterima kasih karena aku menerima perjodohan yang Ia tawarkan kali ini. Bukankah ini sangat membingungkan?”

Chanyeol terus diam, menatap Hana dengan tatapan yang sulit diartikan.

“Aku memutuskan untuk menemuimu seperti ini karena aku tidak ingin mengubah keputusan awalku.” Kata Hana. “Aku tetap menolak perjodohan kita. Aku tidak ingin mendengar lagi Ibuku bercerita tentangmu. Dan sepertinya.. Ibuku tidak tahu, jika sepertinya kau sudah tidak berada di perusahaan keluargamu lagi.”

Chanyeol menatap Hana semakin dingin, sembari membatin, dari mana wanita itu mengetahui masalah pekerjaannya?

Dengan santai Hana menyeruput tehnya di cangkir. Setelah itu, Hana berkata bahwa Ia tidak tahu apa yang telah terjadi pada Eunsoo dan Chanyeol selama ini. Yang Hana tahu, seharusnya Eunsoo sudah kembali ke Busan dan perjodohannya dengan Chanyeol benar-benar putus. Hana kemudian bertanya pada Chanyeol, apa yang terjadi sebenarnya antara dirinya dengan Eunsoo? Dimana Eunsoo sekarang? Apa Eunsoo masih berada bersama Chanyeol? Hana juga mengatakan bahwa dia tidak ingin kesalah pahaman ini menjadi semakin berlarut larut.

Hana mengaku bahwa Ia memang penyebab kesalah pahaman ini, tapi dia tidak ingin sampai sang Ibu mengetahuinya, karena pasti akan menimbulkan masalah yang besar. Apalagi Hana juga mendengar dari ucapan Ibunya di telfon, bahwa Ibu Chanyeol juga menyetujui perjodohan mereka. Hana kembali menanyakan keberadaan Eunsoo pada Chanyeol. Hana ingin menyelesaikan masalah mereka ini tanpa melibatkan orang tua Hana maupun orang tua Chanyeol. Hana berharap agar Chanyeol mengerti dan bisa bekerja sama.

Setelah cukup lama Chanyeol hanya diam, bibir Chanyeol tiba-tiba menyunggingkan senyuman miring. “Aku tidak tahu apa sebenarnya tujuan utamamu ingin bertemu denganku seperti ini. Tapi sebaiknya, simpan saja semua lelucon yang telah kau katakan itu untuk dirimu sendiri.” Senyum miring Chanyeol memudar, digantikan dengan tatapan tajam yang jelas-jelas Ia tujukan pada Hana. Chanyeol kemudian menyodorkan kembali foto di tangannya ke hadapan Hana, membuat Hana menatapnya tak percaya.

“Apa? Jadi kau tidak percaya padaku?” Tanya Hana. “Aku Ban Hana yang asli. Dan Ban Hana yang pernah kau temui, dia adalah Shin Eunsoo, temanku!”

Chanyeol bangkit dari duduknya, berniat pergi.

“Tunggu!” Seru Hana sambil berdiri. Chanyeol berhenti di sisi meja, tapi Ia memilih tetap membelakangi Hana sementara Hana kembali bersuara. “Jika foto itu tidak bisa membuatmu mempercayai kata-kataku, sekarang katakan padaku dimana Eunsoo sebenarnya. Eunsoo masih bersamamu ‘kan? Kau bisa menanyakan sendiri padanya siapa dia sebenarnya. Aku juga ingin bertemu dengan Eunsoo. Aku ingin bertanya pada Eunsoo mengapa dia membuat semuanya menjadi rumit seperti ini?”

Chanyeol diam sejenak, mendengus pelan, lalu melanjutkan langkah untuk pergi mengabaikan Hana yang kini menatap jejak kepergiannya dengan tatapan kesal. “Sial.” Desis Hana.

Baik Hana maupun Chanyeol, mereka mungkin tidak tahu bahwa sedari tadi Sehun mendengarkan semua pembicaraan mereka. Ya, Sehun yang kebetulan duduk di balik skat di belakang kursi Hana, kini merenungkan semua kata-kata yang terlontar dari bibir Hana. Sehun jadi teringat dengan cerita Gayoung yang bertemu dengan seorang lelaki (Minseok) yang memanggil Hana dengan sebutan Eunso saat itu.

Sehun sedikit melirik ke belakang, melihat Hana yang akhirnya pergi dari tempat itu. Setelah itu, Sehun mendesah panjang. Ia benar-benar bingung dengan semua kata-kata Hana yang menyangkut tentang wanita yang berhasil mencuri perhatiannya. “Eun..soo? Apa benar nama yang sebenarnya adalah.. Eunsoo?”

_

_

Setibanya di apartemen, Chanyeol tidak mendapati Eunsoo di rumah. Kemudian Chanyeol langsung masuk ke dalam kamar Eunsoo dan membuka laci-laci meja, seperti mencari-cari sesuatu. Chanyeol juga membuka lemari baju dan membuka laci-laci di dalamnya, setelah tidak menemukan apa-apa, Chanyeol diam sejenak. Chanyeol seperti mengingat sesuatu. Ia pun mendongak, menatap koper Eunsoo yang wanita itu bawa dari Busan saat itu. Tanpa pikir panjang, Chanyeol segera menurunkan koper itu dari atas lemari, lalu membuka koper dan mendapati beberapa baju Eunsoo masih berada di dalam sana. Chanyeol membolak balik pakaian yang tampak sederhana, kemudian perhatiannya teralih pada sebuah saku kecil di bagian dalam koper. Chanyeol memperhatikannya sejenak, lalu Ia membuka saku koper itu dan mengambil sesuatu di dalamnya.

Chanyeol memeriksa beberapa kartu kredit, tabungan, tanda pengenal. Chanyeol kemudian memperhatikan kartu tanda pengenal Eunsoo, Ia terdiam selama waktu yang cukup lama. Sembari menunjukkan sorot mata yang sulit diartikan, Chanyeol membaca dengan nada pelan sebuah nama yang tertera pada kartu tanda pengenal itu.

“Shin Eunsoo..”

Chanyeol bergeming di tempatnya. Wajah dalam kartu tanda pengenal itu benar-benar mirip dengan Ban Hana yang selama ini berada di sampingnya. Dan melihat nama itu semakin lama membuat sesuatu yang aneh terasa menyesakkan dalam rongga dada Chanyeol.

Setelah terdiam cukup lama, suara dering ponsel tiba-tiba terdengar. Chanyeol pun menoleh ke belakang perlahan, mendapati ponsel Eunsoo yang tergeletak di atas meja nakas tengah berdering. (Setelah menelfon Minseok tadi, Eunsoo lupa membawa ponselnya dan meninggalkannya di meja nakas begitu saja).

Chanyeol akhirnya bangkit. Berjalan mendekati meja nakas dan mengambil ponsel Eunsoo dari atas meja. Sejenak Chanyeol memperhatikan sebuah nomor asing yang kini tertera di layar ponsel. Lalu tanpa ragu Chanyeol menggeser tombol hijau dan menempelkan benda itu ke telinga.

“Halo, Eunsoo?”

Jantung Chanyeol terasa mencelos, setelah mendengar suara seorang wanita dari sebrang sana. Chanyeol pun terdiam sementara seseorang di sebrang sana kembali bersuara.

“Eunsoo, kenapa kau tidak menjawab panggilan Ibu? Apa kau sudah bertemu dengan Minseok?”

Sorot mata Chanyeol berubah, sembari Ia membatin dalam hati, apa wanita itu sudah mengingat semuanya? Apa ingatan wanita itu sudah kembali?

“Eunsoo? Kenapa kau hanya diam? Eunsoo?”

Chanyeol tetap diam. Matanya yang menyorot tajam itu kini terlihat sedikit memerah. Tanpa sadar, satu tangannya yang masih terjuntai di sisi tubuh kini tampak menggenggam kartu tanda pengenal Eunsoo erat-erat, sangat erat membuat urat-urat di punggung telapak tangannya terlihat semakin jelas.

_

_

Di sebuah taman, Minseok dan Eunsoo duduk berdampingan. Setelah Eunsoo mendapatkan nomor Minseok dari Ibunya tadi, Eunsoo langsung menelfon Minseok dan mengajak pria itu bertemu. Saat pertama kali bertemu Eunsoo, Minseok tampak lega, bahagia bercampur kesal. Ia langsung memberondong Eunsoo dengan berbagai pertanyaan tentang apa saja yang terjadi pada Eunsoo selama di Seoul sampai-sampai Eunsoo tidak bisa dihubungi.

Eunsoo mengatakan bahwa Ia belum bisa menceritakan semuanya pada Minsok. Eunsoo berjanji akan menceritakan semuanya setelah semua urusannya selesai. Eunsoo juga minta maaf karena Ia pasti membuat Minseok sangat cemas. Eunsoo kemudian meminta Minseok untuk kembali ke Busan terlebih dahulu, dan mengatakan pada Ibu Eunsoo bahwa Eunsoo baik-baik saja. Eunsoo meminta Minseok untuk tetap menjaga Ibunya sebelum Eunsoo pulang ke rumah.

Tapi Minseok menolak. Minseok ingin agar mereka pulang ke Busan bersama-sama. Minseok kemudian bertanya dimana Eunsoo tinggal? Dimana Eunsoo bekerja? Jika bisa, Minseok ingin mengajak Eunsoo pulang saat ini juga agar Ibu Eunsoo merasa tenang.

Eunsoo mencoba memberi pengertian pada Minseok. Baiklah jika Minseok tidak ingin pulang ke Busan terlebih dahulu. Tapi Eunsoo meminta waktu selama beberapa hari pada Minseok. Eunsoo akan menyelesaikan urusannya terlebih dahulu dan setelah itu mereka akan pulang ke Busan bersama-sama.

Akhirnya Minseok setuju.

_

_

_

Eunsoo kembali ke apartemen setelah hari sudah malam, pukul tujuh lebih tiga puluh menit. Setelah bertemu dengan Minseok tadi, Eunsoo merasa membutuhkan waktu untuk menyendiri. Di sungai Han, Eunsoo berusaha memikirkan cara terbaik yang akan Ia lakukan untuk menyelesaikan masalah ini. Eunsoo berencana mengatakan yang sejujurnya pada Chanyeol. Eunsoo juga akan mengatakan pada Hana bahwa ternyata Chanyeol berusaha mendekatinya hanya untuk mendapatkan perusahaan Hana. Ya, Eunsoo harus bisa menyelesaikan semua masalah yang tanpa sengaja Ia timbulkan. Jika saja malam itu dia tidak mengalami kecelakaan dan tidak kehilangan ingatannya, semuanya pasti tidak akan menjadi seperti ini. Tapi bagaimanapun juga, semuanya sudah terjadi. Dan Eunsoo hanya perlu memperbaiki hal-hal yang tidak seharusnya terjadi.

Setelah menutup pintu apartemen, Eunsoo melangkah masuk ke dalam ruangan dengan pandangan tertunduk. Setibanya Eunsoo di ruang tamu, Eunsoo menghentikan langkah saat maniknya menangkap sepasang kaki Chanyeol yang berada tak jauh di depannya. Eunsoo pun mendongak dan melihat pria itu tengah menatapnya dengan senyuman tipis. Selama beberapa saat, mereka hanya saling memandang dalam diam.

Chanyeol kemudian melangkah mendekati Eunsoo, berdiri tepat di hadapan Eunsoo sembari menatap wanita itu lekat-lekat. “Aku merindukanmu, Hana-ya.” Kata Chanyeol terdengar lembut.

Eunsoo balas tersenyum tipis pada Chanyeol. “Aku juga merindukanmu, Chanyeol.”

Chanyeol kemudian merengkuh tubuh Eunsoo dan memeluknya dengan hangat. Sembari meletakkan dagunya di atas pundak Eunsoo, Chanyeol bergumam. “Dari mana saja kau hari ini? Aku benar-benar merindukanmu.”

Eunsoo melingkarkan kedua tangannya di pinggang Chanyeol, membalas pelukan pria itu juga dengan hangat. “Aku hanya ingin mencari udara segar. Maaf karena pergi terlalu lama. Aku juga, aku benar-benar merindukanmu.”

Chanyeol tidak berkata lagi setelah itu, namun pelukannya semakin erat dan saat itu pula, sorot matanya berubah, menjadi begitu dingin bersamaan dengan senyuman tipis yang memudar dari wajahnya. Mata Chanyeol yang menatap lurus ke depan itu tampak memerah. Memerah karena kecewa bercampur marah. Ia kembali mengingat kata-kata Hana saat di restoran tadi. Dan yang lebih menyakitkan adalah ketika Chanyeol mengingat saat menemukan kartu tanda pengenal Eunsoo dari dalam koper wanita itu, serta menjawab telfon dari seseorang yang mengaku Ibu di ponsel wanita itu. Chanyeol kembali mempererat pelukannya, sembari bergumam dalam hati. “Pembohong.”

Sama halnya seperti Chanyeol, Eunsoo juga membatin. “Pembohong.” Eunsoo kemudian menutup mata, menyembunyikan matanya yang memerah sembari memeluk Chanyeol semakin erat. “Kau benar-benar pembohong, Park Chanyeol.”

_

_

_

_

_

_

*tbc*

Halo!! Maaf lama!! Aku sibuk jadi ngga ada waktu buat lanjutin :’) dan ternyata resume ini belum terakhir. Awalnya kan emang pengen aku jadiin dua bagian, ternyata pas ngetik sampe sini ideku bener-bener mampet. Daripada kalian nunggu semakin lamaaaa… mending ini aku publish dulu ya.. sisanya nyusul. Setelah ini sepertinya bakal jadi resume terakhir dari THE NAME I LOVED. Semoga masih ada yang nunggu. Kalo ngga ada yang nunggu ya mau gimana lagi, ngga bakal aku lanjutin kayaknya. Susah juga nyari waktu buat ngetik. Udah capek-capek ngetik terus ngga ada yang nunggu kan percuma. Berharap sih ngga ada yang nunggu, biar ngga ada lanjutan ini lagi. Biar utangku lunas :’)

165 responses to “RESUME THE NAME I LOVED [2] by noonapark

  1. Seneng banget bisa baca ini^^sumpah aku suka banget sama Chansoo couple >< Dan sayangnya aku ketemu ini blog eonni waktu eonni udah mulai hiatus TT. Tapi gak papa! Dilanjutin ya eon resumannya ^^

  2. Ada kelanjutannya?? Wah padahal awalnya mikir gaada kelanjutannya, dan ini apa??? Kageeettt, speechles! Lanjutin kak please, jangan dibikin penasaran.
    Di tunggu banget ya kak kelanjutannya, fighthing!!

  3. Jangaan kaak aku nunggu kok TTTT duh beneran kangen sm ff buatan kaka 😭 dulu kaka sering banget update 😂😭 but now…its okay lamapun bakal nunggu kok in sha allah 😊 kaka yang semangat yaa 😁❤ kalo kaka emg gak bs lanjutin ini juga its okay 😊 but keep writing 😄 bakal rinduin tulisan kakak ❤❤❤ btw aku yg punya id loves12exo udh ganti lagi hehe 😂 fightingg!!!

  4. WHAT THE FUNK! Ya ampun kak, tbc-nya nanggung banget itu astaghfirullahaladzim TT_TT
    By the way, kayanya ini ff pertama yang aku baca setelah lamaa hiatus jadi reader ff deh (atau mungkin yang terakhir juga? Entahlah) mood aku buat baca ff juga sekarang udah menghilang entah kemana. Mungkin situasi kita sama kak, sama-sama ingin berhenti dari dunia per-ff-an ini *sobs*
    I just hope you will write this story ’till the end. Because i’m a person who will wait for it. Semangat ya kak! ^^ abis ini kelar udah kok utang kakak lunas🙂
    *nb: numpang curcol dikit. Btw KENAPA EKSO HARUS KAMBEK DIBULAN RAMADHAAAN?! aku kan jadi ga bisa fokus stalking mereka~~ hiks TT__TT yaudahlah. Bye ekso! Aku mau fokus ibadah dulu😀
    Oh iya, selamat menunaikan ibadah puasa ya kak (kalo menunaikan ya, hehe) semoga puasa kita lancar sampai hari kemenangan tiba nanti. Amiin.

  5. Woahkk Jadi Mereka Sudah Mengetahui Kebohongan Masing Masing,Jadi Makin Penasaran kisah Cinta Mereka Yg Semakin Rumit Untuk Di Pecahkan😀 Sperti Teka teki di Balik Sbuah Cerita*Pusing Deh Okkk Deh Ka Ima Di Tunggu Part Slanjutnya😀

  6. Pingback: RESUME THE NAME I LOVED [3] by noonapark | SAY KOREAN FANFICTION·

  7. Huwee kebohongan sudah terungkap..
    Masa depan kalian masih ada ditangan authornim *apaini /sumpah untuk pertama kalinya baca ff baru sampe chap 2 panjangnya cem uda baca sampe 5 chap puanjaaang banget, tapi suka sik sebenarnya. Panjang gini nih yang para readers suka ㅋㅋㅋㅋ semangat lanjutin chap selanjut selanjunya eonni^^ ga masalah kalo panjang lebih dari chap 1 ato 2, tapi tergantung eonni si kalo masih sanggup mikirnya pendek juga gapapa yang penting tetep dilanjut

  8. Aaaa… aku baru baca ini..
    Demi apaa ini seru bangettt, apalagi part part akhir. Aku baca geregetan banget
    Top lahh, chansoo udah tau kebohongan masing masing._. semoga aja ga lama marahannya’-‘
    Sipp laa suka banget sama couple ini
    Semangat terus ya kak ima, keep writing

  9. Daebak eonni baper bgt aku bacanya ditunggu update ff next chap nya keknya aku ga sanggup nunggu selama ini setelah sekian lama tdk buka web skf lagi hwaiting!! >♡<

  10. Youre liar~
    Seketika nyanyi lagu Citra wkwkw
    Btw ini kirain aku si Han yang asli bakalaan demen juga sama si Canyol, eh taunya mah engga. Btw, ngomongin Sehun jadi inget bra merah. Itu merk apa ya yang di pake Eunsoo. Jadi pengen nyuri perhatian Sehun pake bra deh 😂😂😂😂 pake yang loreng loreng trio macan wkwkw

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s