[YiSang’s Diary] #15: The Reason

yisang's-diary-3

a series-fiction by Jung Sangneul

YiSang’s Diary

Yixing / Lay [EXO] & Sangri [OC]

Romance, Fluff | drabble-series | General

previous series

***

YiSang’s Diary: The Reason

            Kembali ke Seoul berarti kembali menghadapi dunia perkuliahan. Sangri tahu, dirinya harus kembali juga menjadi pribadi yang lain. Ia harus melupakan sejenak tumpuan beban dalam hatinya yang mengungkung kebebasannya untuk tersenyum. Ia harus profesional dengan senyum palsunya, kendati setiap malam masih ingin menangis jika mengingat ibu dan adiknya.

            Selain itu, ia masih aktif di organisasi lingkungan hidup, dan itu berarti masih juga bertemu dengan kakak tirinya yang menjadi visual paling diminati di sana.

            “Jika global warming semakin merajalela dan melukai atmosfer semakin dalam, kita penduduk bumi tentu terancam. Es di kutub utara akan mencair perlahan-lahan, hewan-hewan di sana bisa jadi tidak lagi bisa bertahan. Dan, air itu akan melaju, terus menuju bumi—” kakak tirinya yang jelas bernama Luhan menghentikan penjelasannya, menuding pada Sangri, “Bisa kau jelaskan kelanjutannya?”

            Jung Sangri tidak kelabakan. Ia mendengar semua penjelasan dari Luhan, namun pandangannya kosong. Ada sisi lain hatinya yang begitu hampa, masa bodoh dengan bumi dan lingkungan sekitarnya. Memang kalau bumi diperbaiki, kondisi ibunya juga bisa membaik? Ataukah ketika ia datang lagi, dialah yang memperburuk kondisi?

            “Tenggelam,” ujar Sangri. Pandangannya masih hampa, “Kita akan tenggelam, dan punah.”

            Luhan menyipitkan matanya. Tatapan mata Sangri tak ubahnya seperti seseorang yang kehilangan harapan hidup. Ia tidak mungkin memaksa gadis itu untuk sepenuhnya menerima materi di acara ini, apalagi ikut menjelaskannya. Separuh kelas bahkan mengernyit keheranan melihat ucapan Sangri yang tidak sepadan dengan raut wajahnya.

            “Ya, betul kata Sangri. Manusia memang bisa punah dan menanggung semua akibat dari kerusakan atmosfer itu.” Luhan menimpali, mengalihkan fokus puluhan audiens yang berkumpul. Dengan cepat, tangannya mengganti slide show di layar proyektor, memutarkan sebuah video.

            Selagi semua audiens fokus melihatnya, ia memerhatikan Sangri lagi. Dihelanya napas panjang, sebelum tangannya mengetikkan sesuatu di ponsel.

            Anakmu seperti kehilangan harapan hidup. Puas?

.

.

            Sebelum Sangri betul-betul jauh dari gedung kampus, hendak pergi, Yixing berhasil menggaet tangannya. Memaksanya menghentikan langkah patah-patahnya.

            “Ada apa?” tanya Sangri.

            Yixing mengedikkan bahu. “Kau tidak mau jalan-jalan denganku?”

            “Ke mana? Ini sudah sore, aku lelah, Xing.”

            “Aduuuh, tidak jauh-jauh amat, kok. Kalau lelah jalan, nanti kugendong deh,” sahut Yixing asal.

            Sangri mendelik tidak suka. Namun, tidak disadarinya kalau pipinya ikut memerah.

            “Jadi, mau ya, Nona Pipi Merah?” Yixing mencubit pipinya.

            “Yixing, sakit!” seru gadis itu kesal. Belum selesai ia mengelus pipi yang habis dicubit, Yixing menarik tangannya menuju halte. Cepat-cepat membawa mereka naik subway.

.

.

            Yixing memang betul tidak bisa dipaksa romantis, bahkan ketika mereka sudah jadi pasangan kekasih tanpa seorang pun di kampus tahu. Dia tidak akan menenangkan gadisnya dengan kata-kata, bunga, atau cokelat. Sangri juga tidak menyukai semua itu.

            Lelaki itu justru membawanya ke wahana roller coaster, tidak peduli dia sendiri sering mual kalau sehabis menaikinya.

            “Sangri, sebelum naik, kauharus ingat aturannya.”

            “Apa?”

            “Teriaklah sesukamu, teriaklah yang kencang.”

            Sangri tahu apa maksudnya. Dan, dia melakukannya. Dia berteriak sekencang yang ia bisa. Berakhir terbahak-bahak ketika turun dari roller coaster dan melihat Yixing seperti orang dilanda jet lag.

            “Ayo pulang, Yixiiing, kalau tidak kuat jalan, kugendong, deh.” Sangri menarik-narik lengan lelaki yang masih setengah pusing itu—berniat mengoloknya.

            Yixing mendelik kesal, dan Sangri tertawa lagi. Tawanya lepas, tanpa beban dan kehampaan mengiringi. Itu cukup membuat Yixing memaksakan diri bangkit, menggenggam tangan Sangri, dan berjalan beriringan.

            “Xing, terima kasih,” ujar Sangri ketika mereka tiba di depan rumah.

            “Untuk?”

            Sangri tersenyum tipis. “Untuk masih ada di sini, membuatku tersenyum.”

            “Sama-sama, Ri. Kau sudah tahu ‘kan itu karena—”

            Sangri memotongnya dengan satu kecupan di pipi. “Aku mencintaimu.”

            Tanpa tahu bahwa besok Yixing bisa saja menghilang, membuatnya mencari-cari, dan kehilangan satu senyuman berharga lagi. Karena sekarang, alasannya bisa tersenyum adalah lelaki itu. Alasannya bertahan menghadapi kegusaran tentang masalah-masalahnya, adalah lelaki itu.

—kkeut.

10 responses to “[YiSang’s Diary] #15: The Reason

  1. icing memang beda dalam urusan membuat sangri tertawa. . . mukanya icing pas abis naik rollcoaster pasti pucat pias yg lucu gituuu ahahaha
    Sangri jan sedih teruuus yaaa!!!!!

  2. Iiiiiiihhhh mereka sangat so sweettttt aaucchhh, sangri kesian juga yahhh sprti org yg gk pnya harapan tpi pas yixing di dekatnya ia sprti pnya sesuatu, aahhhhh bner” yisang coupleeeee!!!

  3. Aduuuhh suka banget sama ff ini, kebayang lho Yixingnya gimana. Keren thor.. kata-katanya juga bagus gitu, suka banget deh pokoknya! Semangat selaluu!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s