ALL I ASK [PART II] — By Neez

ask-copytt

ALL I ASK

Oh Jaehee / OC || Kim Joonmyun / EXO Suho || Others

Alternative Universe, School Life, Family, Slight!Musical, Slight!Angst

PG || Chapters

Teaser || [PART I]

© neez

Beautiful Poster Cr : Ken’s@Art Fantasy thank you Ken Honey ^^

BETA : IMA

“Too early seen unknown, and known too late!”

William Shakespeare – Romeo & Juliet

 

”Jadi kau berbicara dengan Oh Jaehee?”

   Joonmyun sebenarnya ingin sekali mengenyahkan tatapan menjengkelkan yang Jongin berikan kepadanya, tetapi ya ampun, mereka kan sahabat karib. Bahkan mungkin memiliki hubungan darah jika mereka berdua mau bersusah payah menelusuri riwayat keluarga Kim yang jelas jika digabungkan akan memenuhi kota Seoul, bahkan lebih.

   Tapi, cara Jongin memandangnya benar-benar membuatnya merasa seperti kancil yang tertangkap karena mencuri mentimun. Dan Joonmyun tidak tahu kenapa dia harus begitu merasa bersalah.

   Tidak ada yang salah bukan?

   ”Dia kelihatannya baik.” Gumam Joonmyun, apa adanya. ”Lagipula, kau membawaku ke kafe antah berantah. Mana kutahu aku harus memesan apa.” Ia mencoba membela diri meski terdengar sangat menyedihkan di telinga Jongin.

   Jongin mengangkat sebelah alisnya, ”Jadi, daripada menanyakan menu rekomendasi pada pelayan, kau justru menanyakannya pada Oh Jaehee?”

   ”Dia sepertinya pelanggan setia kafe itu,” gumam Joonmyun lagi.

   ”Hah~” Jongin menghela napas keras-keras, ”Tak heran Lee Hana itu marah-marah diluar sana pada Oh Jaehee.”

   Joonmyun mengernyit, kali ini memberanikan diri untuk mendongak dan menatap Jongin penasaran. ”Kenapa?”

   ”Ya seperti alasanku kenapa menanyakanmu soal Oh Jaehee!” Jongin kembali menangkat alisnya, ia kini malah menambahkan gestur melipat kedua tangannya dan balas menatap Joonmyun lekat-lekat. ”Kim Joonmyun,”

   ”Apa?”

   ”Jangan bilang kau tertarik padanya.”

   ”Pada siapa?”

   ”Jangan pura-pura bodoh, Kim Joonmyun! Kau tertarik pada Oh Jaehee, iya kan?”

   ”Ngaco kau!” Joonmyun buru-buru berdiri dan meraih ranselnya, ”Ayo pulang! Bisa-bisa orang akan percaya cerita bodohmu, dan namaku akan masuk koran esok hari.” Dengusnya sambil terburu-buru mendahului Jongin untuk keluar dari kafe, Jongin hanya bisa terkekeh dan menggelengkan kepalanya. Sesaat kemudian, ketika ia sudah yakin Joonmyun tidak akan menoleh ke belakang, dirogohnya kantung celana sekolahnya.

   Foto Bae Joohyun.

   ”Entah ini menarik, atau ini berbahaya.” Jongin kembali menggelengkan kepalanya kemudian menyusul Joonmyun keluar dari dalam kafe.

*        *        *

Oh’s Mansion

”Anakku,” Lee Haejin—ibunda Jaehee, buru-buru berlari dari tangga spiral saat melihat putrinya memasuki pintu ganda. ”Kudengar dari Jun alergimu kumat, bagaimana keadaanmu?” pertanyaan yang sarat kekhawatiran itu, sudah hampir setiap pekan Jaehee dengar.

   Meringis, Jaehee mengibaskan rambutnya, berusaha terlihat percaya diri. ”Aku baik-baik saja, Eomma. Jun datang tepat waktu, kok.”

   ”Jinjja?” tanya Ibunya khawatir, bahkan kini menempelkan kedua telapak tangannya di wajah Jaehee, Jaehee tersenyum dan mengangguk-angguk. ”Tidak ada yang melihatmu kan, Nak?” tanyanya lagi.

   Sebagai putri satu-satunya, dengan kedua orangtua yang memiliki status tinggi dan membuat apa pun keinginan Jaehee, kedua orangtuanya akan berusaha sekuat tenaga untuk memberikannya. Untuk itu, Jaehee yang merasa sangat bersyukur memiliki kedua orangtua yang meski kesibukan mereka terkadang menyita waktu keluarga, ayah dan ibunya selalu bisa menyempatkan diri bahkan mencari-cari kesempatan untuk bicara dengannya. Hal inilah yang membuat Jaehee tumbuh menjadi pribadi yang baik, dan tidak sombong seperti layaknya anak-anak chaebol diluar sana.

   Memiliki sifat baik tersebut, termasuk pula salah satunya ‘jujur’.

   Jaehee ingin jujur pada ibunya bahwa ada yang melihatnya saat pingsan dan alerginya kumat, tetapi bagaimana cara memberitahu ibunya bahwa yang menolongnya adalah Kim Joonmyun? ibunya memang jarang marah, tapi Jaehee tahu jika beliau marah, maka Jaehee sendiri tidak akan berani menghadapinya.

   ”Tidak… tidak ada, Eomma. Hanya Hana,” gumam Jaehee tanpa berani benar-benar menatap kedua mata tajam ibunya.

   ”Benar?”

   Jaehee mengangguk-angguk, ”Dan Guru Im,”

   Ibunya menghela napas lega, ”Syukurlah kalau begitu… ganti baju dan makan, kau pasti belum makan kan?”

   ”Ne, Eomma. Aku ke atas dulu…” Jaehee buru-buru berlari menuju tangga melingkar yang terletak di tengah-tengah ruangan yang membawanya ke koridor lantai dua mansion keluarga Oh yang megah.

   Setelah Jaehee ke kamar, membersihkan diri, dan meminta makan siangnya diantar ke kamar, Jaehee merebahkan tubuhnya di atas tempat tidur. Pikirannya justru melayang-layang pada momen ’menakutkan’ yang terjadi tadi.

   Herannya, alih-alih ketakutan, ia malah penasaran. Diraihnya ponselnya yang diletakkan di atas nakas  dan membuka laman Naver. Menghela napas dalam-dalam, Jaehee mengetikkan nama yang sejak tadi di sekolah memenuhi pikirannya karena omelan Hana.

   Kim Joonmyun.

   Sejujurnya, Jaehee memang tahu mengenai konflik keluarganya, Oh, dan keluarga Kim, yang menurut cerita dari kedua orangtuanya, paman-bibinya, sepupu, kakek-nenek dan seluruh kerabat dekatnya sudah terjadi selama turun menurun. Persaingan di antara leluhur keluarga Oh, dan leluhur keluarga Kim sudah tidak terelakkan dan terbawa-bawa hingga sekarang. Kedua orangtuanya hanya selalu berpesan untuk tidak bergaul dengan siapa pun yang berasal dari keluarga Kim, karena mereka pasti selalu berniat buruk dan hendak menjatuhkan keluarga Oh.

   Sebagai seorang anak, tentu Jaehee mematuhinya, meski tidak merasa harus membenci keluarga Kim yang notabene sama sekali tidak ia kenal.

   Pada tahun pertama Jaehee bersekolah di Hanlim Art School, kedua orangtuanya nyaris bertengkar dan nyaris saja menuntut sekolahnya karena ternyata menerima Jaehee dan juga putra dari keluarga Kim di tempat yang sama. Beruntung saja masalah tersebut tidak menjadi panjang, karena pihak sekolah berjanji tidak akan menempatkan Jaehee dan putra dari keluarga Kim pada kelas dan departemen yang sama.

   Beruntungnya lagi, kedua orangtuanya tidak bertemu dengan kedua orangtua dari keluarga Kim secara langsung, atau bisa dipastikan terjadi huru-hara. Karena menurut paman dan bibinya, konfrontasi langsung antara dua keluarga tersebut akan membuat headline dimana-mana, dan yang Paman dan Bibinya, serta kakek-neneknya ceritakan konfrontasi terakhir antara kedua keluarga tersebut yaitu ketika Jaehee masih balita, dan melibatkan pihak kepolisian untuk mendamaikan dua klan yang sangat berpengaruh di Korea Selatan itu.

   Ingatan Jaehee terhenti sejenak karena memandangi foto-foto yang memenuhi halaman depan profil yang ia buka. Foto-foto tersebut, merupakan foto metamorfosa seorang anak laki-laki, dari sejak usia kurang lebih tiga tahun, hingga foto terakhir, merupakan foto lelaki yang Jaehee kenal, sebagai anak lelaki yang menanyakannya perihal menu di kafe dekat sekolah tadi siang. Laki-laki yang sama—menurut Hana, dengan laki-laki yang menolongnya pada saat ia pingsan di balkon lantai tiga.

page

   ”Dia kelihatannya baik,” gumam Jaehee., menysuri satu demi satu gambar Kim Joonmyun yang ada di profil. Mulai dari gambar pemuda itu mengikuti kejuaraan kuda di usia dua belas tahun, memenangkan penghargaan sebagai seorang pianis muda berbakat dengan genre jazz sejak usia sembilan tahun, dan tentu saja artikel-artikel mengenai kapan tepatnya Kim Joonmyun akan mengambil alih tahta Kim Corp, perusahaan besar keluarga Kim, yang juga merupakan perusahaan saingan keluarganya sendiri. ”Tapi… kalau dia tahu aku itu dari keluarga Oh, kenapa dia mau menolongku jika bukan karena ia baik, benar kan?”

   Dan Jaehee menghela napas dan mengembalikan situasi tersebut kepada dirinya sendiri. Seandainya saja, ia sedang berjalan, tiba-tiba melihat seseorang membutuhkan pertolongan, jika tidak orang tersebut akan mati. Tegakah ia membiarkan orang itu, hanya karena ia berasal dari keluarga musuhnya?

   Nurani Jaehee mengatakan tidak tega.

   ”Mungkin itulah kenapa Kim Joonmyun menolong,” Jaehee menutup aplikasi Navernya dan kembali meletakannya di atas nakas, ”Tapi bagaimana kalau kemudian dia justru akan menyebarkan berita negatif? Ahhh, benar juga kata Hana, bagaimana kalau itu terjadi?” Jaehee menggigit bibirnya cemas. ”Ah entahlah.”

*        *        *

Kim Mansion

”Jadi, apa kau akan melaporkannya?” bisik Jongin.

   Joonmyun mendongak dari pekerjaannya membuat gubahan partitur piano sebagai tugas rutinnya semenjak bersekolah di Hanlim. Mengernyit, ia memiringkan kepalanya, ”Melaporkan apa?”

   ”Eyy, tadi… soal Oh Jaehee yang sakau?”

   Joonmyun memutar kedua matanya, dan dengan ujung pensil ia menjitak kepala Jongin. ”Sudah kubilang aku tidak akan mengatakan apa-apa. Dia tidak melakukan apa pun kepadaku, kenapa aku harus menjahatinya?”

   ”Aww, kau baik sekali…” kikik Jongin.

   ”Dan dia tidak sakau, Kim Jongin!” tegur Joonmyun dengan mata menegur, lalu sahabatnya tersebut kembali mencorat-coret kertas-kertas tangga nada di hadapannya. ”Lebih baik kau lupakan saja hal itu.”

   Jongin berdecak, “Aku hanya berpikir ini kesempatan yang bagus bagi keluargamu untuk dapat menyerang produk keluarga Oh.”

   ”Jongin, aku tidak ingin membahasnya lagi!”

   ”Oke, oke! Aku menyerah,” Jongin mengangkat kedua tangannya di udara dan menggerutu sambil kembali mengerjakan tugas Matematikanya. Joonmyun sudah mengajarinya selama satu jam terakhir dan tetap saja Jongin masih tidak mengerti.

   Jongin kemudian melirik Joonmyun lagi, masih penasaran. ”Apa yang akan kau lakukan selanjutnya, Joonmyun-ah?”

   ”Melakukan apa?”

   ”Oh Jaehee itu sudah tahu yang menolongnya adalah kau.”

   Joonmyun kembali mengernyit, untung saja kedua alisnya tebal dan indah, kalau tidak, itu akan menjadi pemandangan yang lucu. ”Lalu kalau dia tahu yang menolongnya adalah aku, kenapa?”

   ”Kurasa dia akan berharap kau melakukan sesuatu yang jahat padanya.”

   ”Seperti yang kau sarankan,” Joonmyun mengangkat alisnya, ”Kau kenapa sih? Sejak tadi tidak berhenti membicarakan gadis Oh Jaehee itu?”

   ”Aku hanya penasaran dengannya. Dan jangan bohong padaku bahwa kau juga tidak penasaran dengannya?”

   ”Aku tidak penasaran!”

   ”Eyy, kau sudah tahu kalau di kafe tadi itu dia, dan kau tetap mendekatinya dan bertanya ini-itu kepadanya sebelum Lee Hana datang dan menyeret Oh Jaehee itu keluar dari kafe. Sekarang jelaskan padaku, kalau kau memang tidak ingin berurusan dengan gadis itu lagi, kenapa kau melakukan hal tersebut di atas?”

   Joonmyun terperangah. Ia tahu Kim Jongin adalah sahabat yang suka bercanda, tapi Joonmyun tidak pernah mengira sahabatnya ini bisa ’segini’ cerewetnya. ”Aku hanya bertanya, memangnya salah?”

   ”Kau bisa bertanya pada siapa pun disana, Joonmyun. Dan, kau sejak tadi berkeras tidak ingin melaporkan penyakitnya pada kedua orangtuamu, bahkan kau melarangku melakukannya. Kenapa kau begitu peduli?”

   ”Karena dia kelihatannya baik, Jongin. Untuk apa aku berbuat jahat pada orang yang tidak menjahatiku?”

   Alis Jongin terangkat, “Kalau ternyata ia jahat?”

   ”Ia bisa apa? Bukankah justru aku yang punya kartu As-nya? Jelas kalau dia ingin berbuat jahat, dia tidak akan berani juga karena dia tidak ingin rahasianya terbongkar.”

   Dan Jongin terbahak, “Ternyata kau juga perhitungan ya. Kukira kau tertarik pada gadis Oh Jaehee itu.”

   ”Yang benar saja.” Gumam Joonmyun sambil meneruskan pekerjaannya.

   Yang terjadi kemudian adalah benar-benar ’yang benar saja’. Joonmyun ingin sekali menyalahkan Jongin, tetapi ia mengakui di dalam hatinya, bahwa ia juga bersalah dalam hal ini. Dan ia tidak akan pernah mau mengakuinya pada Jongin! Malamnya, ketika Joonmyun sudah bersiap tidur, bahkan sudah dalam balutan piyama hitamnya, telinga dan kepalanya justru melayang-layang pada gadis bernama Oh Jaehee itu, dan itulah kenapa Joonmyun menyalahkan Jongin!

   Jika saja Jongin tidak berkeras membahas gadis itu, pasti Joonmyun tidak bangkit lagi dari tempat tidur dan kembali duduk di meja kerjanya, kemudian mengetikan laman Naver dan mencari nama Oh Jaehee disana.

   Wajah gadis dengan mata cokelat bulat, yang keras kepala itu memenuhi laman tersebut. Disebutkan juga disana latar belakang keluarganya, yang sama sekali tidak membuat Joonmyun penasaran karena ia sudah tahu seluk beluk keluarga musuhnya tersebut. Tapi, ia terkejut karena ia sama sekali tidak mengetahui siapa Oh Jaehee, padahal ia ingat ketika tahun pertama ia memasuki Hanlim, kedua orangtuanya berdebat dengan kepala sekolah Hanlim karena ia dan Jaehee masuk sekolah yang sama.

page

   Satu-satunya yang Joonmyun tanamkan pada dirinya begitu mengetahui bahwa ia bersekolah di tempat yang sama dengan putri dari keluarga musuhnya adalah jauh-jauh dari gadis itu, dan berharap tidak pernah bertemu sama sekali.

   Satu hal yang menggelitik pikiran Joonmyun adalah, selain prestasi-prestasinya, sama sekali tidak ditemukan catatan kesehatan yang biasanya dimiliki oleh orang-orang terkenal di Korea Selatan. Bahkan masyarakat tahu bahwa Presiden pernah mengidap anemia.

   Tapi catatan kesehatan Oh Jaehee, tidak ada yang membahasnya. Padahal jika mau mengikuti feeling, Joonmyun yakin alergi yang dialami gadis itu bukan hanya sekedar alergi biasa. Seharusnya publik tahu, bukan?

   ”Dwaesseo, sejak kapan aku berubah menjadi Jongin yang selalu ingin tahu?” Joonmyun buru-buru keluar dari aplikasi Naver-nya, dan mematikan komputernya. Dalam hati, ia bertekad untuk tidak lagi mempermasalahkan soal Oh Jaehee.

   Ironis sekali, tetapi kenapa justru wanita pertama yang Joonmyun temui keesokan harinya ketika tiba di ambang pintu lobi sekolah adalah Oh Jaehee? Apakah ini sebuah kebetulan? Tentu saja kebetulan, memangnya apa lagi? Pikir Joonmyun, sambil berusaha meredakan rasa kagetnya saat matanya bertemu mata dengan gadis bernama Oh Jaehee itu.

   Mungkin mata mereka hanya bertemu selama beberapa detik, anhi, coret itu! Tidak hanya beberapa detik! Joonmyun bisa merasakan wajahnya memanas. Maka, sebelum ia mempermalukan dirinya lebih lanjut, karena ia tahu wajahnya akan berubah merona, buru-buru ia memalingkan wajahnya dan berjalan menuju deretan loker-loker, sembari menoleh ke belakang, mencuri-curi pandang jika Oh Jaehee masih ’memperhatikan’ dirinya juga.

   Dan ya, gadis itu pun melakukan hal yang sama!

   ”Omo!”

   Joonmyun yakin seratus persen bahwa gadis itu juga menoleh dalam perjalanannya ke arah berlawanan dengannya, bahkan memekik, karena terkejut tatapan mereka bertemu lagi. Gadis itu kemudian sudah memalingkan wajahnya dan berjalan cepat hingga menghilang di ujung koridor ketika Joonmyun kembali menoleh untuk melihatnya, ia terkekeh geli sambil mulai membuka kombinasi angka pada lokernya.

   Mata gadis itu tidak buruk~

   Senyum gadis itu cukup manis~

   ”Ya, Kim Joonmyun!”

   Joonmyun menoleh, dan mendapati sahabatnya, Jongdae—yang juga masih saudara jauh keturunan Kim, tengah menatapnya dengan sedikit kesal. ”Oh, Jongdae-ya… sejak kapan kau berada disini?”

   ”Sejak tadi! Memperhatikanmu senyum-senyum sendiri. Kau ini kenapa?” tanya Jongdae sambil melipat kedua tangannya.

   ”Eoh? Anhi, tidak ada apa-apa,” Joonmyun berdeham, memasukkan beberapa buku dan menarik keluar beberapa buku lain sebagai gantinya. Jongdae mengangkat alisnya tinggi, tentu tidak percaya, karena ia jarang sekali melihat Joonmyun bertingkah seganjil ini. ”Lalu, kau memanggilku kenapa, Jongdae-ya?”

   Jongdae masih terlihat tidak percaya dengan jawaban Joonmyun sebenarnya, tapi untungnya Jongdae tidak semenyebalkan Jongin, sehingga ia hanya berdecak sebelum memberikan Joonmyun sebuah map cokelat.

   ”Apa ini?” tanya Joonmyun penasaran.

   ”Dari pihak OSIS, tadi pria bernama Mingyu mengantarkannya padaku, karena dia bilang dia tidak menemukanmu di kelas sejak kemarin.” Kening Jongdae kembali berkerut, ”Kau ikut kabur kelas bersama Jongin?”

   ”Hmm, hanya ingin sedikit penyegaran,” gumam Joonmyun tidak jelas dan membuka map berisi proposal permohonan sponsor untuk kedua orangtuanya. Sudah menjadi kebiasaan jika ada festival di Hanlim, perusahaan milik keluarga Joonmyun selalu eksis menjadi sponsor. Dua tahun lalu, Joonmyun sendiri yang membuat proposalnya, karena ia tergabung dalam Dewan Kesiswaan. Namun di tahun terakhirnya, tentu saja junior-juniornya yang membuat proposal. ”Baiklah, akan kubawa ke rumah.”

   ”Oke, jangan sampai lupa… karena aku ditawari Gig khusus,” Jongdae mengangkat alisnya dengan menggoda.

   ”Johta,” Joonmyun menepuk lengan Jongdae . ”Aku tak sabar menantikannya. Kalau beruntung, aku juga mau mengiringimu.”

   ”It’s a deal!” kekeh Jongdae.

*        *        *

Meletakkan tasnya di atas meja, Jaehee duduk dengan serampangan sambil mengipasi wajahnya. Ia tidak peduli, teman-teman sekelasnya menoleh memandangnya dengan heran dan bahkan beberapa bertampang tidak suka. Pokoknya, Jaehee merasa wajahnya panas semenjak bertatapan dengan Kim Joonmyun.

   Mata cokelat itu, ya Tuhan…

   ”Untung Hana belum datang…” Jaehee mengipasi wajahnya dan membuka kancing tasnya sambil mengeluarkan buku tugasnya. “Apa ini hanya bayanganku saja karena semalaman aku mencari tahu tentang… astaga, Oh Jaehee, rileks.” Jaehee memejamkan matanya erat-erat dan mengembuskan napasnya perlahan.

   Tapi bayangan kejadian di lobi tadi masih terekam jelas. Jaehee meletakkan bukomnya di meja piket, lalu berbalik karena mendengar langkah-langkah orang yang menaiki undakan lobi. Tapi ia tak pernah menyangka saat menolehkan kepalanya, matanya justru bertemu dengan mata pria yang kemarin menanyakannya soal menu di kafe.

   Pria yang juga menolongmu saat pingsan… my God, malah mungkin ia menggendongmu ke ruang kesehatan, Oh Jaehee.

   ”Eotokhae,” bisik Jaehee menunduk sehingga dahinya membentur mejanya sendiri. ”Wajahku pasti merah sekarang.”

   ”Wae? Kau kumat lagi?”

   Jaehee mendongak. Hana sudah duduk di kursi tepat di depan mejanya sambil menatapnya heran. Jaehee buru-buru menggeleng, sementara Hana meraba dahi sahabatnya itu dengan punggung kanan, mengecek temperatur.

   ”Tidak panas, ada apa? Kenapa wajahmu merah? Kau tidak makan yang aneh-aneh lagi kan?”

   ”Aniya!”

   ”Lalu kenapa? Ah, kau bertemu Yixing?” goda Hana.

   Dengan sadis Jaehee menendang kursi Hana, membuat kakinya sakit dan gadis di hadapannya ikut meringis. ”YA! Kenapa menendangku? Sejak kapan kau jadi barbar begini, eoh? Apa yang dimasukkan Park Sooyoung itu ke dalam makananmu kemarin?”

   ”Terus saja kau berteriak, beritahu semua orang!” omel Jaehee.

   Hana menutup kedua mulutnya spontan, ”Oops.” Ia terkekeh, ”Mianhae.”

   ”Guru piket tadi mengatakan kita harus menyiapkan penampilan untuk pentas seni musim semi ini.” Jaehee berusaha mengubah topik agar Hana tidak menyinggung masalah wajahnya yang memerah. ”Apa kau ada ide?”

   Kedua mata Hana berkilau. Ia selalu bersemangat jika ada pentas seni, karena ia sendiri adalah salah satu murid berbakat, dan target Hana adalah beasiswa penuh di Julliards. Maka menunjukkan kemampuannya dalam banyak acara bakat adalah salah satu aktivitas rutinnya. ”Aku akan pikirkan matang-matang… kurasa aku harus menyiapkan konsep, karena phew… saingan ke Julliards sangat banyak.”

   ”Aku masih belum tahu ingin apa,” Jaehee merenung. Kali ini ia benar-benar bingung.

   ”Kapan waktunya? Masih ada waktu untuk berpikir, kan?”

   ”Masih, dua bulan lagi.”

   ”Assa!” Hana mengacungkan tinjunya ke udara, penuh semangat.

   Bel pelajaran pertama berbunyi, Hana berdiri dan melambaikan tangannya, kembali ke kelasnya sembari berpesan layaknya seorang ibu pada putrinya yang berusia empat tahun, untuk tidak mengambil makanan atau minuman apa pun yang ditawarkan oleh manusia bernama Park Sooyoung.

   Rasanya, takdir tengah senang mempermainkan Jaehee dan hatinya. Karena saat ia menoleh ke sebelah kanan, dimana jendela kaca besar kini tengah memamerkan pemandangan kelas Kim Joonmyun tengah berolahraga.

   Untung saja pelajaran pertama, adalah pelajaran umum, lebih khususnya, mata pelajaran Sejarah. Dimana gurunya, yang sudah cukup tua, tidak ingin repot-repot menegur murid-muridnya yang sudah tak lagi (tak pernah) fokus pada penjelasannya mengenai kapan dan bagaimana Mozart berkarya.

   Maka, dengan menopangkan dagu menggunakan sebelah tangannya, Jaehee memandang figur Kim Joonmyun yang tengah berlari mengejar bola di lapangan. Meski cukup jauh, Jaehee bersyukur masih memiliki pengelihatan yang normal, sehingga ia dapat melihat dengan jelas apa yang Kim Joonmyun tengah lakukan di tengah lapangan.

   Atau tidak?

   Bagaimana mungkin Jaehee bisa langsung mengenali riak berombak rambut hitam Kim Joonmyun dari detil sejauh ini? Atau bagaimana mungkin Jaehee bisa merasakan perutnya jungkir balik saat ia melihat Joonmyun tertawa lepas karena salah seorang teman satu timnya berbuat kesalahan, atau bagaimana jantungnya bergemuruh kencang saat Kim Joonmyun berlari dan mengacak rambutnya.

   Well, Jaehee adalah seorang gadis remaja. Bukan satu atau dua kali ia menyukai lawan jenisnya. Tapi tidak pernah sampai membuat perutnya jungkir balik seperti ketika ia melihat mata Kim Joonmyun berubah bentuk menjadi bulan sabit saat tersenyum. Herannya, ia tidak mau berpaling. Pemandangan Kim Joonmyun yang tertawa dan berlari, sambil tertawa. Sesekali mengacak rambut teman-temannya.

   Terakhir, sebelum bel pergantian pelajaran berdering, Jaehee menangkap bayangan Kim Joonmyun bergerak ke pinggir lapangan, menerima botol air mineral dari teman sekelasnya, yang seorang wanita. Kim Joonmyun tersenyum, lalu menenggak air itu dengan cara yang membuat Jaehee mendadak ikut haus.

   Astaga.

   Apa yang terjadi pada dirinya?

*        *        *

Joonmyun menghela napas lega saat bel pelajaran Sastra berakhir. Ia berdiri, membereskan barang-barangnya dan berjalan keluar dari dalam kelas, sesekali menjawab pertanyaan yang dilontarkan teman-teman di sekitarnya. Menuruni tangga ke lantai dasar, Joonmyun kembali berjalan mendekati lokernya, melewati lobi yang terus terang saja langsung mengingatkannya pada adegan tatap menatap tadi pagi dengan Oh Jaehee.

   ”Joonmyun-ah,”

   Joonmyun menoleh saat tengah menyortir buku-bukunya. Pelajaran terakhir adalah pelajaran favoritnya, Major Music Practice, dimana ia harus menyelesaikan mata pelajaran ini untuk mendapatkan beasiswa penuh di kuliah nanti.

   ”Oh, hai… Seolhyun-ah,” sapanya.

   Seolhyun tersenyum, memamerkan deretan gigi-giginya yang putih bersih. ”Aku mau minta tolong satu kali lagi,” Seolhyun tiba-tiba mengatupkan kedua tangannya, penuh permohonan. ”Apa kau mau, Joonmyun-ah?”

   “Wae?” kekeh Joonmyun. ”Kau kesulitan dengan aktingmu lagi?”

   Seolhyun mengangguk-angguk. Kim Seolhyun. Untuk yang satu ini, ia bukan berasal dari garis keturunan Kim milik keluarga Joonmyun, namun mereka sudah cukup lama saling mengenal. Seolhyun mengambil Performance Major, terutama dalam bidang akting, dan sejujurnya dulu Joonmyun sempat hampir ingin mengambil jurusan yang sama, namun ia urungkan karena permintaan ibunya yang lebih suka melihatnya berpiano.

   ”Oke,”

   ”Daaannnn, kau tahu? Aku diminta mencari skenario klasik sendiri. Berhubung aku tahu sekali kalau kau sangat menggemari sastra klasik… hanya kau orang yang tepat, karena tadi aku bertanya pada Jongin, dan ia menyarankan Transformer, yang benar saja?” omel Seolhyun sambil berkacak pinggang.

   Mau tak mau Joonmyun terbahak. Padahal Jongin menyukai sastra, kenapa malah menyarankan Transformer? Tetapi ya, memang Jongin tidak begitu paham mengenai sastra klasik, tepat seperti yang Seolhyun katakan.

   ”Kurasa ada beberapa referensi bagus,” gumam Joonmyun sambil menutup pintu lokernya, ”Kau ada waktu? Kita bisa ke perpustakaan sebentar untuk melihatnya,” Seolhyun melirik jamnya lalu mengangguk, mengatakan ia masih ada waktu sekitar sepuluh menit sebelum masuk ke mata pelajaran selanjutnya. Keduanya kemudian bergegas menuju perpustakaan sambil berbincang-bincang mengenai sastra klasik yang akan Joonmyun berikan.

   Sebenarnya, pada saat itu, otak Joonmyun jelas-jelas sudah tidak ingat lagi dengan gadis itu. Ia bahkan tidak memikirkan Oh Jaehee setelah tiba di loker tadi, meskipun saat melihat meja piket ia harus akui masih ingat momen mereka tadi pagi.

   Lalu kenapa?

   Kenapa ketika pintu perpustakaan terbuka, Oh Jaehee berdiri di depan meja resepsionis sambil menanyakan keberadaan buku sastra klasik, sama seperti yang Seolhyun pertanyakan kepada dirinya.

   ”Mungkin di rak teratas,” gumam Guru Kang dengan suara tidak niat. Guru Kang adalah guru jaga Perpustakaan, yang selalu bertampang bosan seperti nada suaranya sendiri.

   Joonmyun bisa mendengar gadis itu mengeluh sebelum tersenyum tipis pada Kang Seonsaengnim, ”Kamsahamnida, Seonsaengnim.” Dan lagi, hampir seperti tadi di lobi, gadis itu berbalik, dan Joonmyun kini yakin seratus persen bahwa gadis itu tadi pagi memang beradu pandang dengannya karena sekarang kedua pupil cokelat gelap itu kembali bergetar saat pandangan mereka bertemu.

   Untung Seolhyun tidak memperhatikan, karena detik berikutnya pandangan Jaehee jatuh pada sosok Seolhyun yang berdiri di sampingnya, dan entah kenapa ada sesuatu yang mencubit hatinya saat Oh Jaehee memalingkan wajah dan berjalan melewatinya dan Seolhyun.

   Bukankah gadis itu ingin meminjam buku? Batin Joonmyun.

   ”Dimana sastra klasiknya?” tanya Seolhyun penasaran sambil memandangi tumpukan buku dan deretan rak-rak di dalam perpustakaan Hanlim.

   ”Disini…” Joonmyun menunjuk salah satu rak yang ia tahu benar, karena ia kerap kali menghabiskan waktunya disana. Dan rak tersebut adalah rak yang tadi ditunjukkan oleh Guru Kang kepada Oh Jaehee.

   Untunglah memberikan Seolhyun referensi tidak memakan banyak waktu. Seolhyun adalah gadis yang sangat simpel, terlalu simpel bahkan, karena ia selalu menerima saran apa pun yang orang berikan kepadanya termasuk saat Joonmyun memberikan beberapa scene bagus dari sastra klasik Inggris Pride and Prejudice.

   Bel tanda pelajaran terakhir dimulai terdengar keras, Seolhyun langsung pamit karena tidak ingin terlambat, gadis itu menghilang ke koridor sebelah kanan, sementara Joonmyun sendiri mengambil jalan sebelah kiri karena kelasnya terletak di sayap kiri sekolah di lantai lima.

   Dan saat itulah, ia melihat sosok Oh Jaehee tengah mendorong pintu balkon lantai lima, yang sepi dan tak terjamah murid-murid lainnya.

   Joonmyun sampai heran sendiri. Sudah nyaris tiga tahun dia bersekolah di Hanlim, tidak pernah selama dua tahun terakhir mereka berselisih jalan hingga seperti ini. Seolah-olah takdir memang sengaja terus menerus membuat matanya melihat pada sosok Oh Jaehee yang kini tengah menutup pintu teras pojok lantai lima.

   Oh, tidak… jangan-jangan… Joonmyun membayangkan Oh Jaehee yang tengah kepayahan seperti kemarin lagi!

   Joonmyun buru-buru berlari. Lupa kalau setelah ini adalah mata pelajaran favoritnya juga, dan malah bergegas mendekati pintu teras. Setibanya ia di depan pintu, tangannya terulur dengan ragu-ragu, telinganya menempel untuk mendengarkan apakah ada suara kesakitan Oh Jaehee seperti kemarin, namun ternyata tak ada. Jantungnya bergemuruh kencang, batinnya bertentangan antara apakah ia seharusnya masuk kesana, atau tidak.

   Sepertinya ia baik-baik saja…

   Tapi bagaimana kalau ia pingsan?

   Buka saja…

   Jangan dibuka…

   Menghela napas, Joonmyun mendorong pegangan pintu sepelan mungkin, dan wajahnya langsung diterpa angin musim semi yang masih sejuk. Pelan-pelan ia dorong pintu tersebut dan matanya menelusuri teras lantai lima, sampai ia menemukan sosok Oh Jaehee tengah bersandar pada balkon teras. Rambut bergelombangnya ditiup angin dan nampaknya ia tidak menyadari bahwa saat ini, Joonmyun tengah memperhatikannya.

   Batin Joonmyun masih saja bertengkar hebat. Ia heran sendiri, kenapa masih penasaran padahal jelas-jelas gadis itu masih berdiri tegak, sehat walafiat, tidak seperti saat ia menemukannya kemarin. Oh Jaehee bahkan terlihat sangat menikmati semilir angin sekarang.

   ”Kau baik-baik saja sekarang?”

   There, he did it! He asked her, Damn!

   Oh Jaehee menoleh, nyaris memekik karena kaget, namun begitu menyadari siapa yang menanyainya, gadis itu buru-buru menguasai dirinya lagi, dengan satu tangan berusaha memperbaiki rambutnya yang dibuat berantakan dengan indah oleh angin, ia terlihat kebingungan?

   Atau ketakutan?

   Dan Joonmyun merasa harus menegaskan bahwa dirinya sama sekali tidak bermaksud jahat pada Oh Jaehee, meski gadis itu adalah musuh besarnya sendiri. Ironis kan? Lebih ironis lagi saat Joonmyun tersenyum dan menutup pintu di belakangnya.

   ”Terakhir kali aku melihatmu disini… kau nyaris mati,” gumam Joonmyun berusaha menghangatkan suasana, karena ia nyaris ingin berlari karena malu—Oh Jaehee hanya memandanginya dan tidak mengeluarkan suara.

   Gadis itu menatapnya lekat-lekat, seperti mencari kebenaran dari kata-kata Joonmyun, atau membaca ekspresinya. Joonmyun nyaris menyerah, ia hampir berpikir bahwa tidak mungkin ada kata ’teman’ yang bisa lahir dari kata ’musuh’, namun sedetik kemudian, ia menangkap senyuman malu-malu dari gadis itu.

   ”Well, terakhir kali aku melihatmu… kau menanyaiku rasa bagel di kafe sebelah sekolah,” gumamnya pelan.

   Dan Joonmyun terkekeh, ia melihat ke sekeliling teras lantai lima itu. ”Sepertinya ini adalah tempat favoritmu?”

   ”Tidak juga,” Oh Jaehee menggaruk kepalanya dengan polos, jantungnya berdebar. ”Aku hanya kesini… kau tahu, jika… kejadian seperti kemarin…”

   ”Ah,” Joonmyun mengangguk, mengerti. Ia tidak berharap Oh Jaehee akan meneruskan penjelasannya jika gadis itu memang merasa tidak nyaman.

   Joonmyun jelas sekali tidak tahu apa yang tengah berkecamuk di dalam dada Jaehee sekarang, atau pikiran-pikiran konyol macam apa yang melintas di otak gadis itu sekarang. Untung saja suara detak jatung setiap manusia tidak dengan mudahnya terdengar. Kalau tidak, mungkin Jaehee harus pergi dari situ juga, karena setengah mati jantungnya tidak mau diam sama sekali.

   ”Ehem,” Joonmyun berusaha membersihkan tenggorokannya yang entah mengapa terasa seperti tersumbat. Disampingnya, Jaehee membiarkan rambut panjang bergelombangnya menyembunyikan wajahnya yang mungkin kini tidak dapat menahan senyuman lebar yang entah disebabkan karena apa.

   ”Kita… belum pernah sekalipun berkenalan.” Gumam Joonmyun, Jaehee meliriknya diam-diam dari balik rambutnya yang nyaris menutupi pandangannya. Joonmyun memberikan senyum ramahnya, dan mengulurkan tangan kanannya.

   Jaehee tersenyum kembali, tangan kirinya mencubiti pinggangnya sendiri untuk menahan tubuhnya kalau-kalau bertindak diluar reaksi yang ia inginkan, dan tangan kanannya terangkat untuk menjabat uluran tangan Joonmyun.

   Seperti ada aliran listrik disana saat keduanya berjabat tangan.

   ”Aku, Joonmyun.”

   Jaehee tersenyum sekali lagi, ”Aku… Jaehee.” Ujarnya lembut.

   Tentu keduanya sebenarnya sudah tahu satu sama lain, tapi keduanya sama-sama lega, mereka saling mengenalkan diri mereka tanpa ada kata “Kim” dan “Oh” diantaranya. Untuk beberapa saat mereka berjabat tangan, lalu melepaskan tangan satu sama lain.

   ”Ehm, kudengar kelasmu tengah mempersiapkan pertunjukan berdasarkan sastra klasik,” Joonmyun tidak ingin mereka berdua kehabisan obrolan, maka ia mengatakan apa yang ia ingat saja. Tugas Seolhyun, dan kedatangan Jaehee di perpustakaan tadi.

   Sesuai dugaannya, kedua mata bulat Jaehee melebar dan gadis itu mengangguk-angguk penuh semangat, meski wajahnya terlihat muram.

   ”Kau sudah menemukan sastra klasiknya?”

   Jaehee tidak tahu kalau Joonmyun hanya berbasa-basi. Joonmyun tahu betul gadis di hadapannya ini belum menemukan sastra klasik, berbeda dengan Seolhyun yang sudah ia carikan salah satu karya sastra favoritnya.

   ”Anhi…” Jaehee menggeleng dan wajahnya kembali muram. ”Kang Seonsaeng memberitahu letaknya, tapi buku-buku itu terletak jauh di rak atas. Hmm, sebenarnya… karena tubuhku kecil,” dia menambahkan dengan wajah memerah karena malu, ”Aku pernah mencoba menggunakan kursi tinggi tapi malah…”

   ”Malah apa?”

   ”Ada beberapa murid pria yang…”

   Tidak perlu diteruskan, Joonmyun sudah bisa menebak apa yang dilakukan oleh para murid pria jika melihat gadis tengah memanjat menggunakan rok sekolah. Dia juga laki-laki, dan tidak susah menebaknya.

   Mengepalkan tangannya, entah kenapa memikirkan Jaehee diintip membuatnya kesal, Joonmyun meneruskan pertanyaannya, ”Lalu apa kau sudah tau mau menggunakan sastra klasik yang mana?”

   Gadis itu menggeleng, tersenyum malu, ”Aku… tidak begitu paham sastra klasik, kecuali Shakespeare.”

   ”Karena memang ia yang terbaik. Tunggu disini, aku akan ambilkan satu untukmu.” Tiba-tiba, tanpa komando Joonmyun langsung pergi dari teras tersebut, meninggalkan Jaehee yang melongo dengan aksinya barusan.

   Dia tidak sedang mengambilkannya… astaga, kendalikan dirimu, Oh Jaehee! Gadis itu hanya bisa memukuli kepalanya sendiri dengan tinju-tinju tangannya yang kecil. Jantungnya kembali berdegup kencang. Gugup, entah karena berharap Joonmyun benar-benar akan kembali dan membawakannya sesuatu, atau berharap Joonmyun akan benar-benar meninggalkannya di teras, karena tentu saja… untuk apa bersusah payah mencari-cari sastra klasik dari musuhnya?

   Selang sepuluh menit, pintu teras terbuka kembali. Jaehee buru-buru menoleh dari posisinya yang melongo saja menatap jalanan di bawah karena tidak tahu harus melakukan apa. Dan Joonmyun, dengan senyum yang membuat perut Jaehee terasa di aduk-aduk kini melambaikan sebuah buku bersampul kulit di tangannya.

   ”Kau… kau dari perpustakaan?”

   ”Anhi, ini koleksi pribadiku,” Joonmyun berjalan mendekat, kali ini jarak mereka berdua berdiri jauh lebih dekat dibandingkan jarak mereka berdiri sebelumnya. Dan aliran-aliran listrik seolah memancar dari setiap inci tubuh Joonmyun karena Jaehee nyaris gemetaran saat merasakan pria itu berdiri disisinya. ”Hmm, aku… sebenarnya penggemar sastra klasik.”

   Mulut Jaehee membentuk huruf O kecil dan ia mengangguk-angguk.

   ”Hmm, dari semua sastra klasik, favoritku juga Shakespeare. Karyanya banyak, dan yang paling kusukai adalah ini,” ia menjulurkan buku bersampul kulit merah itu pada Jaehee yang ragu-ragu mengambilnya, ”Gunakan saja untuk tugasmu.”

   Jaehee menggigit bibirnya menerima buku tersebut. Tidak ada judul. Mendongak, wajahnya memanas saat melihat wajah Joonmyun jauh lebih dekat daripada sebelumnya, dan perutnya terasa bergejolak lagi.

   ”…ini… apa?”

   ”Judulnya?”

   Jaehee mengangguk.

   Joonmyun tersenyum simpul, ”Romeo dan Juliet.”

[PART II KKEUTT]

Halooooo~

Ini dia part 2-nya… gimana gimana? Jangan lupa komen di bawah ya, oh iya cantumkan email kalian juga di bawah ya… kali aja sesekali aku mau kunci dan kasih password. Anyway, sekalian mau bilang Campus Scandal udah aku buka lagi untuk umum. Yang mau baca monggo~

Anywaaaayyy, aku kerja keras banget sama FF yang satu ini, mudah-mudahan pada suka yaaaa. Makasih untuk yang udah komen dari teaser sampai part I, dan yang mau komen disini, jangan lupa taro email hehehe. Thank you so much

neez,

156 responses to “ALL I ASK [PART II] — By Neez

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s