[One Shot] COFFEE SHOP’S CORNER by misskangen

2015-09-14-1442232844-5008288-coffeeshop

 [OC] Kim Hyun Joo & Alicia Song + [EXO] Park Chanyeol || Marriage Life + AU  || M || One Shot || misskangen storyline

COFFEE SHOP’S CORNER

 

Plug!!

Satu sentilan di dahi sudah cukup untuk membuatnya tersadar dari lamunan. “Yah, berhentilah memasang ekspresi bodoh itu. Aku bosan sekali!” celetuk seorang wanita berambut pirang yang baru saja melakukan aksi jitak kening tadi.

 

“Jadi kau bosan dengan ceritaku?”

 

“Hei, Nyonya Park… memangnya kau tidak bosan dengan kisahmu yang kau bilang ‘mengenaskan’ itu? Aku saja yang mendengarnya bosan…”

 

“haruskah aku menyandang marganya juga? Menyedihkan sekali!! Aku Kim Hyun Joo, tetaplah Kim Hyun Joo!! Dan kau Alicia Song, berhenti memanggilku dengan sebutan itu!” umpat wanita yang menyebut dirinya Hyun Joo pada orang di depannya yang sudah memasang wajah kesal yang tertahan.

 

Alicia memonyongkan bibirnya, menggerak-gerakkannya. Seperti upaya mengejek Hyun Joo – wanita yang sedari tadi duduk di sudut coffee shop dan membiarkan Vanilla Latte nya menjadi dingin hanya untuk melamun. “Lalu bagaimana dengan statusmu, kau kan memang wanita yang sudah menikah, jadi sudah sepantasnya menyandang marga suamimu!”

 

“Haruskah? Orang yang kau sebut sebagai ‘suami’ saja tak pernah menganggap aku istrinya dan aku harus kemana-mana memakai plakat marganya supaya orang-orang tahu aku istrinya! Bukankah itu sangat menyedihkan?” Hyun Joo mengangkat dagunya, memasang ekspresi angkuh yang dipaksakan. Alicia menyeringai pelan dengan tingkah sahabatnya itu.

 

“Ckckck, yaa itu sangaaat menyedihkan!” Alicia memutar bola matanya. “Benarkah Park Chanyeol seperti yang kau katakan? Aku tidak percaya sampai separah itu…”

“Kau kan sudah lihat sendiri bagaimana dia memperlakukan aku di depan banyak orang?”

“Dia terlihat cukup manis, romantis dan….” Hyun Joo mendekatkan kepalanya ke wajah Alicia membuat tenggorokan wanita pirang itu tercekat. “…dan dia sedikit…me- mengabaikanmu.” Alicia bisa juga menyelesaikan kalimatnya di bawah tatapan mengancam Hyun Joo.

Alicia menghembuskan napasnya kuat saat Hyun Joo telah kembali ke posisi duduknya yang tegak dan kaku. “Lalu kau akan melakukan apa? Kau mau terus-terusan menyudut di sebuah coffee shop sambil merenungi nasib pernikahanmu?”

“Sepertinya itu lebih baik, dari pada aku harus tinggal di rumah menunggunya pulang kerja dengan ekspresi lelah dan berlalu tanpa menganggapku ada disana.” Sahut Hyun Joo datar sambil mengaduk-aduk minumannya. “Kalau tahu begini, aku tidak mau cepat-cepat menikah!”

Alicia kembali menggelengkan kepala, tidak habis pikir dengan jalan pikiran Hyun Joo. “Bukannya kau sendiri yang memaksanya untuk menikahimu secepatnya? Padahal jelas kau tahu sendiri bagaimana sikap orang itu.”

Decakkan lidah terdengar nyaring dari mulut Hyun Joo, “Yeah, aku memang bodoh seperti yang kau katakan! Menikah dengan pria paling populer di antara wanita hanya karena ia punya pekerjaan mapan yang mampu menghidupiku dengan baik. Sekarang lihatlah, aku menyandang status istri tak dianggap!”

Alicia tidak bisa bicara apa-apa lagi, sahabatnya yang satu itu sudah mentok merasa jengah dengan kehidupan pernikahannya yang baru seumur jagung. Padahal seingatnya Hyun Joo terlihat acap kali mengumbar senyum menjelang pernikahannya beberapa bulan yang lalu. Ya, gadis itu memutuskan untuk menikah di usianya yang ke dua puluh empat dengan seorang pria lajang dengan margin usia lima tahun diatasnya.

Pria itu, Park Chanyeol, adalah pria dengan sejuta daya tarik dan selalu digandrungi oleh banyak wanita. Usia boleh hampir kepala tiga, tapi wajah tampannya semakin memperlihatkan gurat pesona yang bisa mempengaruhi pandangan setiap orang. Hal itu menjadi salah satu alasan Hyun Joo menyukainya di awal mereka bertemu beberapa tahun yang lalu di sebuah acara gathering perusahaan tempat Hyun Joo bekerja magang.

Bulan demi bulan dilewati Hyun Joo untuk menarik perhatian Park Chanyeol – seorang eksekutif muda dengan segenap relasi bisnis. Awalnya Hyun Joo hanya iseng mendekatinya untuk membangun koneksi dengan dunia kerja selepas kuliah, tapi tak disangka kebiasaan pria itu bersikap manis dengan wanita-wanita yang ditemuinya membuat Hyun Joo berubah pikiran.

Hyun Joo cantik, pintar, dan mempunyai daya tarik seorang wanita di mata pria. Begitu banyak pujian sering diterimanya. Namun ketika ia berada di lingkungan Park Chanyeol dengan berbagai tipe wanita kelas atas yang ada di sekitar pria itu, ‘termarjinalisasi’ adalah kata yang tepat untuk mendeskripsikan situasinya. Karena itu Hyun Joo bertekad untuk menaklukkan hati seorang Park Chanyeol, meskipun harus bersaing dengan ratusan wanita yang siap menyikutnya kapan saja.

Hyun Joo merasa langkahnya semakin dekat dengan kemenangan ketika berhasil memasuki perusahaan milik keluarga Chanyeol dan bekerja disana sebagai staff marketing. Hyun Joo yang sudah kenal dengan Chanyeol walau hanya sekedar ‘say hi’ atau bercengkrama dalam obrolan tak penting ketika bertemu di sebuah club yang sering mereka datangi – Hyun Joo yang sengaja masuk ke club demi misi mendekati Chanyeol – sehingga sedikit banyak membuat orang memandangnya memiliki hubungan khusus dengan Chanyeol.

Pertemuan yang tidak ‘sengaja’ antara Hyun Joo dan Chanyeol membuat keduanya cukup akrab dan Hyun Joo pun mulai menebar ancamannya kepada para wanita yang mengejar-ngejar Chanyeol. Ada begitu banyak wanita yang akan rela memberikan segalanya untuk Chanyeol, tapi pria itu hanya senang untuk bermain dengan mereka dan Hyun Joo sadar betul akan hal itu.

 

Seolah dibutakan oleh ambisi menggandeng pria mapan seperti yang diungkapkannya kepada Alicia sejak mereka masuk kuliah, Hyun Joo menepis segala anggapan miring dan bersikap masa bodoh dengan reaksi orang-orang terhadapnya. Hyun Joo semakin gencar melancarkan aksinya untuk memikat Chanyeol dengan cara-cara tak terduga yang bisa dilakukan oleh seorang Kim Hyun Joo. Biarpun terkesan sedikit memaksa, tapi Alicia tak perah menginterupsi setiap rencana konyol yang ada di kepala Hyun Joo. Sahabatnya itu tak pernah bosan mengingatkan Hyun Joo untuk mengontrol diri atau setidaknya berhati-hati untuk setiap langkah yang diambilnya.

 

Alicia hanya menganga tak percaya ketika suatu hari Hyun Joo berjingkrak mendatanginya dan mengatakan bila ia resmi menjadi kekasih Park Chanyeol. Selama seminggu Hyun Joo larut dalam euforia, selama seminggu pula telinga Alicia panas karena bosan dengan segala cerita Hyun Joo tentang kisah cintanya yang tak terduga.

 

‘Cinta? Entahlah… yang aku tahu aku senang bisa berada di dekatnya dan masa bodoh dengan semua wanita yang kecewa dan patah hati karenaku!’ Hyun Joo berbicara begitu cuek saat itu. Alicia semakin bingung menghadapi kebiasaan Hyun Joo yang suka mengabaikan segala bentuk kemungkinan buruk yang akan menimpanya. “Aku tidak peduli, Alicia. Terserah dia mau mencintaiku atau tidak. Yang jelas kau harus membantuku agar aku tak jatuh dalam jurang cintanya. Kau tentu tak ingin aku menjadi wanita yang disebut ‘pungguk merindukan bulan’ kan?”

 

Ada banyak hal tak terduga yang terjadi di dunia ini tanpa ada seorangpun yang bisa memprediksinya. Ibarat mendapat durian runtuh, Hyun Joo merasa mimpinya menjadi pendamping seorang pria yang memiliki segalanya akan segera tercapai. Saat itu Chanyeol didesak untuk segera memilki istri oleh keluarganya, dan Chanyeol sulit untuk menolak. Jika bukan karena status keluarga terpandang dan berlimpah materi, Chanyeol akan dengan senang hati menolak mentah-mentah atau beralasan panjang lebar untuk itu. Meskipun Chanyeol mapan dari finansial itu semua didapat dari nama besar keluarganya.

 

Chanyeol yang tak ingin kehilangan kemapanannya sebagai seorang pria mau tak mau harus mencari calon istri secepatnya untuk diperkenalkan kepada keluarga. Chanyeol kenal dengan begitu banyak wanita, tapi ia tidak memilih mereka. Chanyeol memilih seorang Kim Hyun Joo yang notabene berstatus sebagai ‘kekasih’ sementaranya, karena gadis itu yang sering kali muncul di sekitarnya seperti hantu.

 

Menjelang pernikahan, Alicia masih saja mendesak Hyun Joo untuk berpikir ulang. Tetapi seperti yang telah diduga, gadis itu adalah orang paling keras kepala yang pernah ditemuinya. Alicia hanya bisa mengelus dada, berharap kehidupan sahabatnya itu kedepannya bisa berjalan dengan baik sesuai keinginannya.

 

~~**~~

 

Ponsel yang berderit di atas meja membuat si empunya melihat ID sang penelpon, begitupun orang yang duduk di depannya. “Omo! Suamimu menelpon… cepat angkat, Joo!” pekik Alicia membulatkan matanya. Hyun Joo mengernyit, melanjutkan kegiatannya bermain dengan sendok kecil di dalam cangkir kopinya.

“Yah, kenapa kau diam saja? Cepat angkat!”

“Haruskah?” tanya Hyun Joo sambil melirik ponselnya yang berdering kembali.

“Ya ampun, kau masih bertanya harus atau tidak. Angkatlah, siapa tahu itu penting,” ucap Alicia merasa gemas dengan nada cuek Hyun Joo.

“Aku tidak tahu ada hal penting juga bagiku…” celoteh Hyun Joo, mengambil ponselnya dan menjawab panggilan masuk.

Yoboseyo…

“…….”

Mwo? Kau serius, Oppa?”

“……”

Arasseo. Aku akan segera pulang.” Hyun Joo menutup ponselnya kemudian menarik napas panjang. Sesaat berikutnya ia berberes-beres, memasukkan beberapa barang miliknya yang tergeletak di atas meja ke dalam tas tangannya.

“Kau terburu-buru? Apa yang dikatakannya?” tanya Alicia yang heran melihat tingkah Hyun Joo.

“Dia bilang mertuaku akan datang malam ini, jadi ia memintaku untuk bersiap-siap.” Hyun Joo bangkit dari duduknya, menarik sedikit ujung kemejanya di bagian bawah agar tampak rapi.

“Kau lihat sendiri kan, dia hanya akan mencariku saat sedang terdesak saja, selebihnya ia tak peduli padaku.” Hyun Joo masih sempat menggerutu sebelum meninggalkan Alicia yang masih duduk manis di meja coffee shop itu.

 

Dengan santai Hyun Joo membuka pintu rumahnya, melongok ke dalamnya yang terlihat sepi. Hanya ada seorang pembantu yang menyambutnya dengan bungkukan badan yang singkat dan senyuman ramah. Langkah kakinya tampak terlalu malas saat ia menaiki tangga rumah minimalis yang hanya ditinggali olehnya bersama Chanyeol dan tiga orang asisten rumah tangga. Saat ia masuk ke dalam kamarnya, Hyun Joo mendapati Chanyeol sedang duduk di sisi ranjang menatap kosong ke arah jendela. Sadar dengan langkah kaki Hyun Joo, Chanyeol menoleh dengan ekspresi datar di wajahnya.

“Kau dari mana saja?” tanya Chanyeol seraya bangkit mendekati Hyun Joo yang berdiri terpaku tak jauh dari ranjang.

“Aku bertemu dengan Alicia di tempat biasa,” jawab Hyun Joo enteng.

“Memangnya kau tidak punya kegiatan selain berdiam diri sambil melamun di sebuah café?” seringaian Chanyeol sangat jelas bahwa pria itu sedang menyindir Hyun Joo.

“Kau kan tahu sendiri kalau aku sudah kehilangan pekerjaanku sejak menikah denganmu karena perusahaan melarang suami istri bekerja di tempat yang sama. Dan kau juga melarangku bekerja di perusahaan besar lainnya karena takut keluargamu mengetahui hal itu. Lalu dimana salahku bila tiba-tiba aku jadi pengangguran paling glamor se-Korea?” cibirannya membuat Chanyeol tergelak sambil mengacak pelan rambut Hyun Joo.

 

Seraya membenarkan rambutnya yang kusut, Hyun Joo memandang suaminya dengan menyipitkan mata. Chanyeol serta merta menghentikan tawanya setelah meyadari ekspresi tak senang di wajah sang istri.

“Mengapa wajahmu beriak aneh seperti itu? Kau terlihat jelek kalau raut wajahmu seperti nenek-nenek yang sedang mengamuk begitu,” ejek Chanyeol sambil mengedipkan sebelah matanya.

 

Dengan kesal Hyun Joo memukul lengan Chanyeol, berpikir bahwa lelaki itu tidak sadar dengan candaannya yang tidak lucu. Chanyeol terkesan sama sekali tidak pernah peduli bagaimana Hyun Joo menghabiskan harinya sebagai Nyonya Park muda yang merasa kesepian dan terabaikan – setidaknya begitulah yang dirasakan Hyun Joo.

 

“Memangnya hal apa yang membuatmu melarang keras aku bekerja di tempat lain untuk beberapa tahun ke depan? Bukankah hal yang wajar di zaman sekarang kalau istri juga bekerja? Orang tuamu itu kolot sekali!” gerutuan Hyun Joo mendapat balasan raut wajah serius dari Chanyeol. Hyun Joo mengernyit, berpikir bahwa sesuatu yang besar ada di balik alasan semua ini bila melihat apa yang ditunjukkan oleh suaminya.

 

“Aku tidak bisa mengatakannya padamu – aku tidak sepercaya diri itu untuk mengungkapkannya padamu. Nanti kau pasti akan tahu sendiri.” jawaban yang sangat tidak memuaskan. Hyun Joo menatap Chanyeol tajam, merasa sangat kesal dengan kebingungannya atas kata-kata sang suami.

 

“Aku sama sekali tak menyangka bahwa seorang Park Chanyeol adalah anak manja yang takut pada kedua orang tuanya. Kau bahkan hidup di bawah bayang-bayang kekuasaan orang tuamu. Apa kau tidak bisa menentukan jalan hidupmu sendiri? Bukannya aku ingin membuatmu menjadi anak durhaka, tapi setidaknya kau bisa mempunyai prinsip yang menjadi landasan hidupmu.”

 

“Ini bukan soal aku takut pada orang tuaku ataupun prinsip hidupku. Tapi ini tentangmu, tentang bagaimana kau melanjutkan hidupmu!” nada suara Chanyeol mulai meninggi namun ada kegusaran terselip di dalamnya.

 

“Tentangku? Oh tentu saja… kau kan memang tidak pernah peduli padaku. Yang kau tahu aku hanyalah wanita yang kau beri status sebagai istri dan sisanya hanya sebagai pajangan apik di rumah. Kau terus saja sibuk di luar sana bermain-main dan menggoda wanita-wanita yang cantik dan sexy. Kau memang tidak pernah peduli dengan perasaanku!” Hyun Joo berkecak pinggang, menunjukkan emosinya sambil berusaha menahan air mata yang ingin keluar dari pelupuk matanya.

Chanyeol tertegun dengan pernyataan Hyun Joo, ia tidak menyangka Hyun Joo akan tersulut emosinya semudah itu. “Jadi itukah yang kau pikirkan tentang aku selama ini?”

Hyun Joo diam, hanya menatap Chanyeol tajam.

“Kau sudah membuat kesalahan, Hyun Joo. Kau terlalu naif untuk memahami apa yang kulakukan untuk kita selama ini.”

Chanyeol menghela napasnya kasar. Tangan pria itu membuka kancing kemejanya satu persatu dengan cepat, sedangkan matanya masih bersinggungan dengan tatapan Hyun Joo yang tajam. Setelah berhasil membuka kemejanya, Chanyeol berbalik dan berjalan ke arah kamar mandi dan meninggalkan Hyun Joo yang berdiri terpaku dalam diam.

“Aku tidak ingin merusak acara keluarga ini hanya untuk bertengkar denganmu. Berusahalah untuk bersikap manis dan tersenyum di depan orang tuaku.”

“Kau sungguh keterlaluan, Oppa. Kau memang tidak punya perasaan!” teriak Hyun Joo ketika pintu kamar mandi baru saja tertutup. Air matanya menetes, menahan sesak dalam dadanya. “Kau bahkan tidak pernah mengungkapkan perasaanmu padaku yang sesungguhnya…” pekik Hyun Joo pelan seraya mengusap air mata dipipinya dengan punggung tangannya. Dengan kesal ia membanting tasnya ke atas ranjang, selanjutnya ia melakukan hal yang sama dengan tubuhnya.

Jadi hal itukah yang diinginkan Hyun Joo sebenarnya saat ini? Ia ingin Chanyeol mengatakan sesuatu yang manis ataupun mengucapkan kata-kat cinta padanya. Padahal jelas sekali bahwa ia memutuskan untuk menikahi pria itu bukan karena cintanya, tetapi lebih karena status. Jika kini ia sudah jatuh cinta pada pria yang menjadi suaminya itu, maka sudah sewajarnya Hyun Joo menginginkan lebih. Tetapi setidaknya mensyukuri apa yang ia miliki sekarang tidak terlalu buruk.

“Ini buruk… karena aku sudah jatuh cinta padanya. Aku seperti terkena karma. Setelah aku memberikan segalanya, kini aku nyaris menyesalinya.” Hyun Joo terisak dan menjerit dalam hati.

 

~~**~~

 

Sepertinya Kim Hyun Joo memang tidak punya pilihan lain selain berakting dengan baik di depan kedua mertuanya. Menghadapi ibu mertuanya adalah hal yang sedikit menguras pikiran dan hati. Nyonya Besar Park adalah seorang wanita berkarakter cukup keras, dengan perangainya yang suka mengintimidasi orang lain membuat Hyun Joo harus memutar otak tiap kali bertemu dengannya. Itu semua dilakukan agar Hyun Joo tidak salah berbicara sehingga menyinggung ibu mertuanya yang terkadang memiliki kesan galak.

 

“Mengapa wajahmu terlihat pucat, Hyun Joo?” Hyun Joo mendongak dengan sapaan ibu mertuanya saat menyantap dessertnya.

AniyaEomoni, aku baik-baik saja.” Jawab Hyun Joo dengan sedikit kegugupan. Chanyeol sempat menoleh pada Hyun Joo, hendak menanyai keadaannya. Hanya saja wanita itu lebih memilih menuduk dari pada meladeni pertanyaan Chanyeol yang diutarakan lewat tatapan matanya.

 

“Benarkah? Apa itu suatu tanda-tanda? Kau sudah mulai mengalaminya, kan?” ibu mertua Hyun Joo mulai mencecarinya dengan pertanyaan demi pertanyaan.

Nde? Tanda-tanda apa, Eomoni?”

Nyonya Park meletakkan garpu yang sedang dipegangnya, meninggalkan bunyi denting ketika garpu itu menyentuh piring. “Masa kau tidak mengerti? Tentu saja tanda-tanda kehamilan. Hampir setengah tahun kalian menikah dan kau belum juga hamil. Jangan-jangan kalian sengaja menunda kehamilan dan memiliki anak.” Suara Ny. Park terdengar begitu lantang di telinga Hyun Joo.

 

“Eomma, itu tidak benar. Mungkin kami belum saatnya punya anak. Aku harap Eomma bisa bersabar.” Chanyeol menimpali, menjawab hardikan ibunya yang terkesan menyudutkan Hyun Joo. Sedangkan Hyun Joo sendiri kini duduk dengan tegang, mengepalkan kedua tangan di atas pangkuannya untuk menenangkan diri dan menghilangkan kegugupan.

 

“Jangan buat banyak alasan, Chanyeol-ah. Kau berhentilah meladeni godaan-godaan wanita di luar sana, kau ini seperti pria lajang saja. Seharusnya kau lebih mendekatkan diri dengan istrimu, lebih banyak menyentuhnya. Bukannya bersenang-senang sendirian.” Ny. Park semakin getol menghujani Chanyeol dengan tuduhannya.

“Itu tidak benar, Eomma. Aku tidak seperti itu…”

“Tidak adakah kalimat lain selain ‘itu tidak benar’? Kau sudah tidak punya kosa kata lain, Chanyeol-ah?” Ny. Park menatap tajam kepada kedua suami istri itu.

 

“Aku berkata seperti ini karena kami mungkin belum siap untuk mempunyai bayi, Eomma. Ini tidak seperti yang Eomma pikirkan. Aku dan Hyun Joo masih muda dan masih ingin menikmati waktu untuk berdua.” Hyun Joo melirik Chanyeol, merasa aneh dengan kata-kata pria itu.

Waktu untuk berdua? Yang benar saja’ batin Hyun Joo.

 

“Cih, itu bukan alasan, Park Chanyeol. Saat ini adalah masa produktif bagi Hyun Joo, usianya sudah cukup matang untuk mengandung dan melahirkan bayi. Sudahlah, hentikan kekeras-kepalaan kalian. Aku akan membawa kalian konsultasi kepada dokter terbaik di Seoul untuk melakukan program memiliki bayi. Aku sama sekali tidak ingin mendengar penolakan dari kalian.” Hyun Joo terkesiap dengan perkataan ibu mertuanya.

‘Program bayi? Ya ampun… haruskah aku melakukannya?’ pikir Hyun Joo dalam diamnya.

 

“Eomoni, aku rasa tidak harus seperti itu. Apakah kehadiran bayi begitu menjadi prioritas saat ini? Aku rasa kita tidak seharusnya tergesa-gesa.” Hyun Joo memberanikan dirinya bersuara meskipun terdengar getaran karena kegugupannya.

 

Ny. Park menaikkan sebelah alisnya, lalu tersenyum miring. “Tergesa-gesa? Mungkin bisa dikatakan begitu. Tapi saat ini keluarga kita memang sedang diburu waktu untuk memiliki keturunan sebagai pewaris. Memangnya apa yang kau pikir membuatku merestuimu begitu saja menjadi istri anakku, Hyun Joo? Tidak sesederhana itu. Tentunya aku sudah menyelidiki latar belakang keluargamu terlebih dahulu. Aku percaya kau memiliki bibit yang baik, oleh karena itu aku menerimamu sebagai menantuku.”

 

Hyun Joo menganga, tidak percaya dengan apa yang sudah dilakukan oleh sang ibu mertua. Menyelidiki latar belakangnya, bahkan silsilah keluarganya. Semua itu sama sekali tidak pernah ada dalam pikirannya. Begitu juga dengan Chanyeol, ia juga baru mengetahui alasan kesediaan ibunya menerima Hyun Joo menjadi istrinya. Padahal saat itu Chanyeol tidak pernah mengenalkan seorang wanitapun kepada ibunya sebagi kekasih ataupun calon istri. Tapi saat dia membawa Hyun Joo, ibunya hanya butuh beberapa hari sebelum memberinya restu dan meminta untuk dilakukan pernikahan secepatnya.

 

“aku mengerti kau merasa bosan menjadi istri yang menunggu suaminya di rumah. Tapi jangan pernah berpikir untuk bekerja dulu, Hyun Joo. Aku sudah memberi ultimatum pada Chanyeol untuk melarangmu bekerja. Bukan karena kau tidak pantas. Aku sangat tahu kau adalah wanita dengan potensi besar untuk mengembangkan karirmu di dunia bisnis. Itu bisa kau lakukan setelah kau memiliki anak pertamamu. Jadi lebih baik kau berkonsentrasi agar bisa hamil secepatnya.” Tambah Ny. Park lagi. Kali ini Hyun Joo semakin tersudut. Namun di sisi lain Hyun Joo mengerti alasan mengapa Chanyeol melarangnya untuk mencari pekerjaan di perusahaan lain.

 

~~**~~

 

Kim Hyun Joo masih duduk termenung di depan meja riasnya. Sedari tadi menyisir bagian rambut yang sama, tanpa berniat pindah ke sisi lainnya. Chanyeol yang sedari tadi memperhatikan Hyun Joo yang sering melamun sejak pertemuan dengan kedua orang tuanya saat makan malam tadi. Chanyeol tahu persis itu semua karena ancaman ibunya yang menginginkan kehadiran cucu secepatnya.

 

Chanyeol menyentuh Hyun Joo di bahunya, menyadarkan Hyun Joo dari lamunan. Hyun Joo mendongak, menatap Chanyeol dari cermin di depannya. Chanyeol tersenyum manis, memperlihatkan wajah indahnya serta binar matanya. “Kau jangan terlalu memikirkan perkataan Eomma. Aku yakin Eomma hanya emosi karena merasa iri dengan saudara-saudaranya yang sudah memiliki cucu.”

 

Hyun Joo menyeringai dan menatap tajam ke arah cermin tepat ke pantulan mata Chanyeol. “Jangan membohongi dirimu sendiri, Oppa. Aku tahu kau juga merasa tertekan dan terpojok dengan semua tuntutan ibumu. Jadi ini alasan utama kau menikahiku dalam waktu singkat, hanya untuk memenuhi permintaan ibumu soal cucu yang diidamkannya? Mengapa kau tak pernah mengatakannya padaku?”

 

Chanyeol membelai kepala Hyun Joo, ia berpikir bahwa ini adalah saat yang tepat untuk mengungkapkan semua yang dirahasiakannya. “Maafkan aku soal itu, Hyun Joo-yah. Awalnya aku juga tidak ingin ‘memaksamu’ menikah denganku secepat itu. Jika saja ibuku tidak mengalami tekanan psikologis karena merasa terancam, aku tidak akan melibatkanmu dalam situasi rumit ini.”

 

Hyun Joo mengerutkan dahinya, tak mengerti dengan maksud Chanyeol. Hyun Joo bangkit dan berdiri menghadap suaminya. “Tekanan psikologis? Aku tidak mengerti.”

 

“Ibuku adalah putri tertua di keluarganya dan sama sekali tak memiliki saudara laki-laki. Kedua saudara perempuannya saat ini sudah memiliki cucu dan mereka berharap bisa mendapatkan kekuasaan atas perusahaan keluarga dari kehadiran cucu mereka sebagai pewaris. Ibu yang selama ini menjalankan perusahaan dengan kerja kerasnya tak ingin begitu saja kecolongan dengan segala obsesi adik-adiknya. Oleh karena itu ia merasa tertekan sehingga memaksaku untuk sesegera mungkin menikah dan memberikannya seorang cucu. Aku tidak sanggup terus menerus melihat wajah murung ibuku dari hari ke hari. Walaupun ia suka menekanku dan membuatku terpojok dengan sikapnya, tapi ia adalah ibuku dan aku sangat menyayanginya,” ujar Chanyeol mengungkapkan semua alasan hingga terjadi situasi yang tak mengenakkan tersebut.

 

“Lalu bagaimana dengan aku? Kau sama sekali tidak peduli padaku. Kau bahkan tidak pernah memberitahuku soal ini,” sahut Hyun Joo pelan dengan nada sedih.

 

“Tidak. Aku sangat peduli padamu. Aku merasa bersalah telah membawamu dalam masalahku. Saat malam pertama kita, aku berharap kau bisa langsung hamil dengan sekali bercinta. Tapi karena kenyataan berkata lain, aku hanya bisa berharap dari setiap kali kita melakukannya. Aku tidak menceritakannya padamu karena aku takut kau tertekan dan menjadi stres sehingga aku juga tak pernah memaksamu untuk bercinta sesering mungkin. Bukannya aku tak peduli tapi aku hanya berusaha untuk tidak membebanimu.” Chanyeol menjelaskan alasannya panjang lebar sambil menangkup wajah Hyun Joo yang kini telah memerah karena malu.

 

“Maafkan aku, Oppa. Aku pikir kau sama sekali tak pernah menganggapku istrimu karena kau lebih memilih menghabiskan waktu dengan wanita-wanita cantik dan sexy diluar sana.” Gerutu Hyun Joo. Chanyeol tergelak dan kembali mengacak rambut Hyun Joo.

 

“Aku sibuk diluar bukannya menghabiskan waktu dengan wanita-wanita yang kau bilang cantik dan sexy itu. Aku sibuk bekerja di kantor, setidaknya ingin meyakinkan ibuku bahwa saat ini aku sudah cukup untuk mendukungnya, walau tanpa kehadiran cucu yang diinginkannya itu. Lagi pula untuk apa aku menghabiskan waktu dengan wanita yang tidak jelas bila istriku di rumah sangat cantik dan… sexy.” Hyun Joo kembali memerah wajahnya akibat godaan sang suami. Hyun Joo mencoba mengabaikan kata-kata Chanyeol, tapi sepertinya susah sekali.

 

“Benarkah? Aku tidak percaya…” Hyun Joo terkesiap saat Chanyeol mendekatkan wajahnya hingga tersisa sekitar 1 atau 2 senti saja.

 

“Kau harus percaya padaku, my wife. Kau adalah wanita yang sudah membuatku jatuh cinta dan berhenti melirik wanita lain di luar sana. Jadi kau harus bertanggung jawab untuk itu.” Chanyeol mendaratkan bibirnya kepada bibir Hyun Joo. Melumatnya begitu intens, merasakan manis dan lembutnya tekstur bibir itu dengan lidahnya. Hyun Joo juga tampak menikmati setiap sentuhan Chanyeol dan membuatnya melupakan segala keresahannya seharian ini, termasuk pertengkarannya dengan Chanyeol siang tadi.

 

“Sepertinya kita tidak perlu menunggu dokter pilihan Eomma, kita bisa membuat program bayi sendiri. Bagaimana…?” Chanyeol menatap Hyun Joo dengan menaikkan sebelah alisnya disertai senyuman nakal di bibirnya. Hyun Joo ikut tersenyum malu, dengan sedikit menundukkan wajahnya iapun mengangguk.

 

~~**~~

 

Dengan satu langkah cepat Hyun Joo memasuki kamar Alicia, dan membaringkan tubuhnya di ranjang milik wanita berambut pirang itu. Alicia yang sedang membaca majalah tampak kaget dengan tingkah Hyun Joo yang seenaknya masuk tanpa aba-aba.

 

“Tumben kau datang ke apartemenku? Biasanya kau lebih memilih menyendiri dan melamun di coffee shop…” celoteh Alicia melirik Hyun Joo sekilas dan kembali memfokuskan pandangannya pada majalah fashion  di pangkuannya.

 

“Aku hanya mulai bosan dan… sedikit pusing dengan aroma kopi.”

Alicia menghentikan kegiatan membacanya. Ia menutup majalah itu dan mengalihkan tatapannya pada Hyun Joo yang sedang berbaring sambil memejamkan mata. “Eoh? Apa yang terjadi? Terakhir kali aku melihatmu di coffee shop itu dua minggu yang lalu sebelum kau tiba-tiba pulang karena suamimu menelepon. Katakan padaku, apa kau sedang memiliki masalah?”

 

Hyun Joo mengangguk masih dengan matanya yang dipaksa terpejam. “Ne, aku memang dalam masalah besar.” Alicia mengguncang tubuh Hyun Joo agar ia membuka matanya. Alicia menarik paksa tangan Hyun Joo sehingga Hyun Joo terduduk dari posisi berbaringnya.

“Yah… apa yang kau lakukan hah?” pekik Hyun Joo sebal.

“Hei Kim Hyun Joo, cepat katakan masalahmu. Apa yang aku tidak tahu? Palliwa…

“Ck, aku pikir ada apa… kau ini suka sekali memaksa. Kau tahu, ternyata Park Chanyeol menikahiku karena tuntutan ibunya yang ingin segera memiliki cucu demi mendapatkan pewaris untuk perusahaan keluarganya. Aku baru saja mengetahui hal ini dua minggu yang lalu dan itu membuatku gila!”

 

Alicia melongo, sesaat kemudian ia menggeleng-geleng tak percaya. “Ya… ini benar-benar gila. Bahkan suamimu baru mengatakannya padamu. Jadi bagaimana lanjutannya, kau masih ingin bertahan?”

 

Hyun Joo mengangguk lugu lalu tersenyum lebar. “Selain itu aku juga baru tahu kalau suamiku ternyata mencintaiku. Yahhh… walau ibu mertuaku galak, tapi bila suamiku menyayangiku itu semua cukup bagiku untuk bertahan.”

 

“Apakah itu berarti kau juga jatuh cinta pada suamimu? Wah… selamat, Joo. Itu artinya kau tidak perlu lagi menghiasi sudut coffee shop itu dengan begitu manis setiap harinya.” ujar Alicia dengan cengiran khasnya.

 

“Ah, kau ini bisa saja.”

“Lalu bagaimana dengan keinginan ibu mertuamu itu? Aku rasa kau belum sepenuhnya siap untuk hamil dan punya anak. Aku pikir kau akan lebih memilih untuk berkarir dulu”

 

“Nah, itulah yang sedang kucari solusinya sekarang. Aku akan mendapat izin melanjutkan karirku setelah aku memiliki anak. Jadi aku harus berusaha untuk secepatnya memberikan ibu mertuaku yang galak itu seorang cucu. Kau tahu, belakangan ini aku merasa…..” ucapan Hyun Joo terhenti saat ia melihat Alicia mengambil gelas berisi jus sayuran dari nakas di sebelah ranjang.

 

“Kau merasa apa?” tanya Alicia sebelum meneguk isi gelas itu yang membuat Hyun Joo susah payah menelan ludahnya.

“Aku merasa…. Hueekkk,” Hyun Joo kembali tak dapat melanjutkan kata-katanya. Sekarang ia malah berlari menuju wastafel di dekat kamar mandi Alicia sambil menutup mulutnya. Hyun Joo mencoba memuntahkan isi perutnya, tapi keluar hanya cairan-cairan bening dan terasa pahit.

 

Alicia mengikuti Hyun Joo sampai ke depan wastafel, menepuk-nepuk punggung sahabatnya itu. “Yah… kita baru saja membicarakan tentang kehamilan sekarang kau malah muntah-muntah seperti ibu hamil.”

“Alicia, jauhkan jus anehmu itu dariku. Aromanya sungguh tak mengenakkan!” protes Hyun Joo pada Alicia. Tanpa aba-aba lebih jauh, Alicia langsung mengungsikan jusnya ke dapur. Saat kembali ke kamar, ia mendapati Hyun Joo kembali berbaring lemas di ranjangnya.

 

“Joo, kau yakin baik-baik saja? Tiba-tiba wajahmu pucat begitu.”

“Entahlah, aku juga tidak mengerti. Sejak terakhir kali aku mendatangi coffee shop itu aku mulai sering merasa tidak enak badan. Kupikir aku sedang stres karena masalah dengan suamiku. Aku tidak berselera makan, bahkan aroma kopi pun sekarang membuatku mual,” terang Hyun Joo sambil mengusap keningnya, berharap bisa menghilangkan pusing di kepalanya.

“Mungkinkah itu tanda kehamilanmu?” Alicia beringsut mendekati Hyun Joo, duduk di ranjang tepat di sebelahnya.

“Mungkin saja. Karena periodeku juga sudah terlambat delapan hari. Tapi aku tidak mau terlalu berharap, nanti aku jadi kecewa sendiri.”

“Kau ini pintar, tapi terkadang kebodohanmu datang di saat yang tidak tepat. Bagaimana kau akan tahu hamil atau tidak kalau kau tidak berusaha mencari tahu. Sebaiknya kau coba saja dulu dengan testpack, siapa tahu kau akan dapat jawabannya,” ujar Alicia kesal.

“Haruskah?”

“Ya, harus!!”

“Baiklah…akan kucoba.”

 

~~**~~

 

“Oppa….!!!” Teriakan Hyun Joo dari kamar mandi membuat Chanyeol yang sedang sibuk memakai dasinya menoleh ke arah suara itu. Hyun Joo berjalan cepat keluar dari kamar mandi dan langsung menghambur ke pelukan Chanyeol.

 

“Ne, Jagiya. Ada apa, mengapa kau teriak-teriak seperti itu?” tanya Chanyeol seraya membalas pelukan Hyun Joo. Wajah Hyun Joo tampak sangat sumringah, merah merona dengan senyuman menawan di wajahnya. Hyun Joo melepaskan pelukannya dan menatap suaminya dalam.

 

“Aku punya kejutan. Tadaaa!!!” Hyun Joo mengangkat tangan kanannya yang memegang tiga buah testpack dengan dua garis merah. Chanyeol mengerutkan keningnya sambil bergantian memandang Hyun Joo dan testpack itu.

“Lihatlah, Oppa. Aku positif hamil. Kita akan punya bayi!!”

Seketika wajah datar Chanyeol berubah, ia tersenyum dengan senyuman yang lebar. Chanyeol merasa takjub dan sangat gembira. “Benarkah?” Hyun Joo mengangguk mantap. Chanyeol kembali memeluk Hyun Joo erat, menyalurkan energi kebahagiaan itu bersama istrinya. “Kita berhasil, jagiya. Kita akan punya bayi!”

 

Setelah puas berpeluk-pelukan, Chanyeol membimbing Hyun Joo duduk di ranjang. Ia memegang keuda bahu Hyun Joo, menatapnya masih dengan senyuman terpatri di bibirnya. “Bagaimana kalau sekarang kita ke dokter untuk memastikan dan memberi bukti otentik untuk Eomma. Setelah itu baru kita beritahu Eomma. Aku yakin Eomma akan merasa senang sekali.”

 

Ne, Oppa…

 

Ternyata setelah diperiksa dokter, Hyun Joo benar positif hamil dan usia kandungannya sudah menginjak lima minggu. Itu artinya Hyun Joo sudah hamil bahkan sebelum ia tahu obsesi sang ibu mertua yang menginginkan pernikahan kilat Chanyeol dan Hyun Joo.

 

Sikap dingin dan galak Ny. Park serta merta berubah begitu mengetahui kehamilan Hyun Joo. Ny. Park bahkan berubah seperti ibu kandung bagi Hyun Joo karena sikapnya yang begitu perhatian dan hangat. Chanyeol sangat tak menyangka ibunya berubah seratus delapan puluh derajat hanya karena kehadiran seorang bayi di tengah-tengah keluarga mereka. Meskipun begitu Chanyeol tetap merasa bahagia dengan perubahan sikap ibunya baik terhadap istrinya dan dirinya sendiri.

 

Chanyeol dan Hyun Joo kini hidup bahagia, mereka telah dapat menimati suka duka mereka menjadi suami istri dan calon orang tua. Chanyeol sudah meninggalkan kebiasaan lamanya yang berusaha mengabaikan Hyun Joo, kini ia sangat perhatian dan lebih memilih menghabiskan waktu bersama sang istri. Sedangkan Hyun Joo tidak lagi merasa perlu menghabiskan waktunya di sudut sebuah coffee shop untuk merenungkan nasib pernikahannya. Akhirnya rahasia itu tidak lagi menjadi beban untuk Hyun Joo dan Chanyeol, justru rahasia itu membawa mereka pada kebahagiaan yang sempurna.

 

FIN

 

Lama ga pernah posting fanfic karena kena writer’s block dan kesibukan real life, jadinya cuma bisa ngubek-ubek laptop dan bertemu sama one shot fanfic stok lama. Semoga kalian suka!

 

22 responses to “[One Shot] COFFEE SHOP’S CORNER by misskangen

  1. Iya nih kakak emang udah lama ga muncul… kangen sama cerita kakak.. kangen sama tulisan kakak. Sequel donk kak… malah aku masi menunggu sequel cursed of love apa yah???

  2. Kangen sama chanyeol hyunjoo, dan tadi past buka skf ada ff chanjoo kopel seneng banget, makasih authornim….
    Ditunggu ff lainnya…ada sequel kah hehe
    Semangat..

  3. joha joha! ditunggu next post nya thor… ql boleh saran baikx chemistry mreka lbih diruncingin ¿ lg y thor dilain cerita, jd bs bih mghyati kbrsmaan mreka wkwk

  4. pas awal baca aku kira chanyeol bosen sama hyun joo makanya dia cuek sama hyun joo eh ternyata itu ya alesannya,soalnya kalo chanyeol sifatnya gitu ga srek/? Kan chanyeol karakternya juga you knowlah tapi ternyata emang benerkan daebak,aneh ya hyun joo mual mual nya setelah tau mertuanya pengen punya cucu,bayi nya peka deh :v haha

  5. keren!!!
    Chanyeol so sweet!!!
    Uhh
    Kirain bakalan ada cinta segitiga sama si alicia hehehehhe
    Bagus deh
    Ditunggu ff selanjutnya thor

  6. Harus ngulang baca biar ngerti ,dan ,yupz!! Lumayan lah,masuk otak. Coffe shop kirain tentang apa gitu,pelayan atau apa,ternyata cerita husband toh. Dan Chanyeol cuek? Ahh,character yg biasa over plaxfull ya,ini cuek.Tp lebih keren dingin si,,
    ahh sweet dh ka,,

  7. gakuna sama ceritanya. awalnya pait tapi makin lama makin manis💕 sukak bgt. duh makasih bgt udah buat ff kayak giniiii. chanyeol daebak, author lebih daebak.~~

  8. duuuuuh pasangan ini sama2 nggak terbuka, yang satunya ngerasa dicuekin, yang satunya nggak sengaja nyuekin hihihi ..sedikit kecepetan sih alurnya, tapi aku suka sama jalan ceritanya ..

  9. Waaaaah ternyata chanyeol sweet juga meskipun awalnya kira’in dia nggak terlalu peduli gitu. Syukurlah sekarang impian ibunya Chanyeol buat punya cucu bakal segera tercapi. Pokoknya keren lah

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s