Breakfast by Heena Park

hunaa

 

.

 

Ficlet

General

.

Oh Se Hun – Brenda Mackenzie

.

Writing by Heena Park [ @arumnarundana ]

 

.

 

 

Se Hun berkaca sebentar dan melihat apakah penampilannya hari ini sudah cukup bagus untuk bisa  dikatakan ‘tampan’.

Tentu saja, setiap pria pasti ingin terlihat menarik di depan wanita yang ia sukai, dan Se Hun sedang melakukannya saat ini. Ia akan pergi ke kedai kopi di ujung jalan dan menemui gadis itu. Ah, tidak sebenarnya bukan menemui melainkan melihat dan memandanginya.

Se Hun meraih ranselnya. Jam menunjukkan pukul 06.30 pagi, dan itu berarti kedai kopi yang ia maksud sudah buka. Ia harus segera bergegas sekarang sebelum orang yang ingin ia temui pergi.

Tidak perlu kendaraan untuk menuju ke kedai kopi tersebut. Ia hanya harus berjalan selama 3 menit dan sudah berdiri tepat di depan pintu masuk kedai kopi yang ia maksud.

Se Hun duduk di meja nomor 3 dan mengangkat tangannya. Tidak lama kemudian seorang gadis berwajah oriental dengan pakaian ala pramusaji barat dan tak lupa celemek hitam berjalan ke arahnya sembari membawa sebuah notebook kecil dan pulpen.

“Satu mangkuk sandwich isi telur dan secangkir Flat White panas bukan?” Gadis itu mengedipkan matanya.

Oh tidak!

Tolong jangan lakukan itu atau Se Hun akan kehilangan kontrol dalam dirinya.

“Nuna tahu dengan baik ternyata,” Se Hun mengangguk dan tertawa hambar.

“Kau selalu memesan itu, dear.”

Jika dipikir-pikir memang hampir setiap hari Se Hun mengucapkan dua nama makanan dan minuman itu ketika kemari. Tidak, ia tidak suka dengan sandwich, dan terlebih lagi flat white. Ia hanya mencari alasan untuk mampir kesini dengan alasan ‘sarapan’ dan memesan itu karena memang pada kenyataannya hanya sandwich dan secangkir flat white-lah yang tidak membuat perutnya mual.

“Well, apa kau tidak terlambat? Setiap pagi kau selalu ke sini,” Wanita itu telah selesai menuliskan pesanan Se Hun.

“Tentu tidak, aku selalu mengatur waktu dengan baik.” Jelas, aku selalu terlambat ke sekolah. Dan aku melakukan hal bodoh itu karena ingin melihatmu.

Gadis ber-name tag ‘Brenda Mackenzie’ itu mengacak-acak rambut Se Hun pelan sambil tertawa. Hampir setiap hari Brenda-lah yang selalu melayani Se Hun ketika pria itu datang sambil berkata bahwa ia lapar dan memerlukan sarapan sebelum perutnya mengecil kemudian mati. Bodoh—

Sementara Brenda sedang menyiapkan pesana Se Hun, pria itu duduk sembari memangku kepalanya dengan telapak tangan kiri dan memandang bayang-bayang Brenda yang terlihat seperti siluet dari balik kaca hitam yang membatasi antara tempat pembeli dan dapur.

Brenda berusia 3 tahun lebih tua dari Se Hun. Wajahnya tirus, bibirnya penuh, rambutnya coklat senada dengan warna matanya. Ia pindah ke sini 2 bulan lalu dan membuka Kedai Kopi ini.

Sejak pertama kali melihat Brenda, Se Hun telah tertarik padanya. Bukan karena parasnya yang cantik, namun karena senyumnya yang khas dan membuat hatinya dingin. Awalnya Se Hun hanya ingin datang kemari sekali, namun setelah melihat bagaimana cara Brenda melayani-nya, ia menjadi ketagihan dan datang setiap hari.

Dan setiap hari pula perasaannya pada Brenda bertambah besar..

Bertambah kuat..

Hingga seperti sekarang ini..

Ia selalu telat sampai di sekolah hanya karena ingin melihat Brenda..

Bodoh memang. Tapi itulah Se Hun.

Sekitar 5 menit berlalu dan Brenda kembali sambil membawa sebuah nampan berukuran sedang yang berisi sepotong sandwich dan secangkir flat white persis seperti apa yang dipesan oleh Se Hun.

“Jika kau membutuhkan sesuatu, kau bisa memanggilku,” Pesannya lalu meninggalkan pesanan Se Hun di mejanya.

Se Hun baru saja mengaduk flat white miliknya dan mengkerutkan kening, “Nuna, bisakah kau memberiku susu untuk flat white milikku?”

“Baiklah tunggu sebentar!”

Brenda datang sambil membawa satu wadah kecil susu, sepertin yang di inginkan Se Hun, lalu pergi ke dapur kembali.

Se Hun mendesah berat, “Nuna, bisakah aku minta saus pedas untuk sandwichku? Di sini sausnya habis!”

“Baiklah tunggu sebentar!”

Se Hun mengamati makanan di depan matanya. Ia telah mendapatkan susu dan saus seperti yang ia minta, namun sepertinya masih ada yang kurang.

“Nuna, bisakah aku meminta lada?”

“Tunggu sebentar Oh Se Hun!”

Brenda telah meletakkan lada di meja Se Hun dan berniat untuk kembali ke dapur. Namun sekali lagi ia mendengar panggilan yang keluar dari mulut Se Hun, namun volumenya terdengar lebih kecil sekarang. Mungkin karena mereka berada dalam jarak yang dekat.

“Nuna..”

Brenda berbalik, “Ya?”

“Bisakah aku meminta satu hal lagi?”

“Tentu saja, apa itu?”

Se Hun terdiam. Ia menggigit kecil bibirnya dan kemudian membukanya, berniat untuk mengatakan sesuatu.

“Bisakah aku meminta….”

“Ya?” Brenda mengkerutkan keningnya.

“Bisakah aku meminta cintamu, nuna?”

 

END

 

32 responses to “Breakfast by Heena Park

  1. Jiahhhh Sehun!!!! Udah tau mau telat masih aja bisa nyempilin gombalnya-_- iuhhh kamuuu
    Gue bete!! Terus ae serba kekurangan kalo belom ada Brenda yg nglengkapin *huhuuuu

  2. Kyaaaaaaaaaa, apa jawaban Brendanya??
    ada sequelnya kah?? aku penasaran sama jawabannya Brenda..
    aku ngebayangin visualnya Brenda itu Lilymaymac yg pernah difollow Chanyeol di ig hahaha..
    ditunggu ff lainnya, ditunggu juga sequelnya ^^ #maksabanget

  3. Lah
    Jadi kerjaannya ngegombal ya? Pantesan pergi pagi terosss -.- awas lu hun
    Bikin hati meleleh terusss
    Ah keren

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s