Maximillian: The Noble

be2d11679e5fc31dd71a7f0ea74a7c13

Twelveblossom’s Present. The Series of Vampire’s Diary.

“It’s not going to be the end of our story.” ―Peterpan, EXO

Prev:

PrologThe Half

Kyungsoo tak pernah sesempurna ini. Kekuatannya, baik fisik atau pun mental telah terisi penuh. Ia sendiri enggan membayangkan, bagaimana jadinya jika dirinya bersatu dengan pembawa keutuhan itu untuk selamanya. Sesuatu yang telah ia miliki sekarang, akan lebih dahsyat… Lebih merusak dan melenyapkan.

Energi inti Kyungsoo ialah bumi. Tepatnya, penghancur bumi. Kyungsoo layaknya mesin pembunuh yang bergerak berdasarkan insting. Jadi, jangan salahkan dirinya apabila ia membagi ‘rasa kekhawatiran’ itu sebagian pada pihak lain. Membelah energi intinya, bukanlah hal mudah. Do Kyungsoo, harus benar-benar memahami akibatnya.

Seperti, jatuh cinta sedalam-dalamnya atau rela dihabisi dengan cara apa pun oleh si pengendali separuh energinya. Maka dari itu, seringaian mengejek yang dilemparkan si gadis pun, tak lantas memancing amarah Kyungsoo. Malah membuatnya semakin merindu.

“Hai, Do Kyungsoo.” Alunan sapaan itu, membanjiri rungu Kyungsoo yang berusaha fokus pada lawan bicaranya.

“Ariadne,” balas Kyungsoo, pelan.

Ariadne melangkah anggun menelusuri jalan setapak menuju mansion. Tak ada alasan baginya untuk terburu-buru, walaupun nyawanya sedang berada di ujung tanduk. Gadis bangsawan itu sengaja memilih jubah bertudung merah menyala sebagai aksi penolakan non-verbal terhadap kemuraman lingkungannya.

Sudah lima puluh tahun lamanya ia terkurung dalam kegelapan. Ariadne sendiri tak pernah mengeluarkan keluhan keras, ia hanya merasa tubuhnya enggan menyempurnakan diri. Ada sesuatu yang tertinggal dan Ariadne tahu pasti akan hal tersebut. Jadi, saat saudaranya menawarkan perintah keluar dari kepekatan, Ariadne pun tidak sanggup menolak.

“Maximillian, saya di sini memenuhi panggilan Anda.” Ujar Ariadne sembari menundukkan kepala sejenak.

Gadis rupawan itu pun, lantas menatap sosok yang berdiri di hadapannya. Siluet wanita berjubah hitam, terpatri jelas di sana. Sang wanita memandang ke dalam jendela mansion.

“Ariadne, sebentar lagi vampir dari klan Timur akan datang kemari. Penuhi permintaannya dan ikutlah ke mana pun dia ingin membawamu.” Ucap wanita bermahkota itu, tanpa memandang ke arah Ariadne.

“Siapa dia, Maximillian?” tanya Ariadne.
Si Wanita menghela napas kasar, “Bukan waktunya dirimu untuk mempertanyakan perintahku.”

Ariadne mengangguk singkat, tanda mengerti. “Baik, Maximillian. Maafkan saya.” Ia memundurkan langkahnya, hendak pergi dari kediaman sang Maximillian.

Baru beberapa langkah ia menjauh, suara Maximillian―pengendali seluruh elemen, berdentang kembali. “Sembuhkan gadisnya, jangan menyentuh yang lainnya. Katakan pada klan Timur, aku sendiri yang akan menangani si pria.” Katanya, mengakhiri perbincangan kaku mereka.

“Sudah lima puluh tahun, segel itu masih berfungsi.” Kelakar Ariadne, ketika netra biru lautnya menemukan tangan Kyungsoo berpendar.

Kyungsoo tersenyum, “Selalu, tak pernah sekali pun tidak.”

Sepasang kaki Ariadne berjalan mendekat ke pria itu. Berlatar kesenyapan hutan pinus, Ariadne menggerakkan jari-jarinya di hadapan Kyungsoo. “Paling tidak sakitnya akan hilang sedikit. Rasanya aku ingin tertawa, saat memahami kerja segel itu, Do Kyungsoo.” Ucap Ariadne, lalu melangkah melewati Kyungsoo.

Pandangan Kyungsoo menerawang. “Aku akan langsung tersiksa, apabila berada dekat denganmu. Begitu cara kerjanya.” Kyungsoo tahu betul ia bisa saja terbunuh, jika berada di sekeliling Ariadne. Namun, tingkahnya malah semakin konyol sewaktu ia mengetahui kehadiran si gadis. Kyungsoo justru mendekat, bahkan dirinya sengaja meminta Yixing agar meninggalkannya bersama Ariadne. Idiot.

Jubah merah Ariadne ikut berhenti membelai tanah, saat tuannya menghentikan pijakan. Ia berbalik kepada Kyungsoo yang berjalan di belakang. “Kalau kau sudah lebih kuat daripada lima puluh tahun lalu, beritahu aku.” Kata Ariadne. Jarinya hendak membelai paras Kyungsoo, akan tetapi segera diurungkan saat mendapati Kyungsoo mengernyit kesakitan. “Siapa tahu, kau bisa lebih kuat menahan rasa sakit akibat segel ini. Kemudian, kita bisa melakukan hal-hal fantastis. Misalnya, berciuman.” Lanjut si gadis, tanpa malu-malu.

Ariadne kembali melanjutkan perjalanan tanpa mengindahkan sekitarnya, meninggalkan Do Kyungsoo yang masih berusaha menekan perih tubuhnya. Dingin dan angkuh itulah salah satu sifat paten yang dimiliki bangsawan Maximillian.

“Aku juga merindukanmu, Do Kyungsoo. Jika, kau ingin tahu. Selalu, setiap waktu.” Gumam Ariadne dengan anggun dan pelan. Oh, akhirnya Ariadne membuang keangkuhannya barang sedikit saja.

Kyungsoo pun tersenyum, menyadari berapa banyak harga diri yang harus dibuang gadisnya untuk mengucapkan rindu itu.

Ariadne enggan menyembunyikan raut tak nyamannya melihat raga Kai yang tercabik. Ternyata, Maximillian menghukum Kai tanpa pengampunan. Netranya bergeser menatap gadis setengah vampir yang membeku, tepat di samping Kai.

“Aku ingin gadis ini dipindahkan ke ruangan lain.” Ujarnya, serupa perintah.

Byun Baekhyun yang diketahui Ariadne sebagai pasangan si gadis malang, segera bertindak. Penuh kasih Baekhyun merengkuh pasangannya, seakan ujung jarinya bisa melukai si gadis lebih dalam lagi. Ariadne tahu benar, bagaimana rasanya kehilangan setengah dari jiwa. Ia pernah sekali mengalami dan enggan mencoba kembali. Ariadne memahami kegelisahan Baekhyun.

“Sebelah sini, Ariadne.” Ucap Suho, pemimpin klan. Suho menunjukkan arah tempat Sue dipindahkan.

“Tinggalkan kami sendiri.” Ariadne kembali mengoarkan keangkuhannya kepada Suho, Baekhyun, Chanyeol, dan Kyungsoo. Ia menghela napas tak sabaran saat mendapati para pria enggan menurut. “Aku perlu berkonsentrasi.” Lanjutnya.

Mereka pun menunduk singkat, lalu mulai keluar dari ruang tidur, meninggalkan gadis bangsawan itu berdua bersama Sue. Kyungsoo yang bertugas menutup pintu, menggantung tekanannya pada engsel. Pria itu masih sempat berucap, “Jangan gunakan tenagamu terlalu banyak Ariadne. Kau bisa terluka.” Vokal Kyungsoo, setelahnya ia benar-benar menutup pintu.

Ariadne menyeringai, “Aku tidak selemah dirimu, Kyungsoo.” Gumam si gadis yang kini tengah melepaskan tudungnya. “Jadi, tubuh serupa ini yang menjadi selera, Byun Baekhyun.” Ujar Ariadne, lebih seperti bisikkan pada dirinya.

Dia tidak sempurna. Dia jauh lebih lemah daripada diriku. Akan tetapi, dia beruntung. Dia beruntung bisa mendapatkan kasihnya. Satu hal yang tidak akan pernah kuperoleh. Batin Ariadne bersahut-sahutan.

Kesedihan melingkupi Ariadne, terlalu banyak emosi dengki yang kentara. Ia menginginkan kehidupan gadis setengah vampir itu. Seandainya, Ariadne bisa. Dirinya menginginkan kehidupan yang dijalani si gadis. Ariadne rela menukar seluruh energinya, demi terbebas dari kegelapan.

Ariadne mengerepas sepasang matanya. Dia mengumpulkan aliran energi yang berinti pada tubuh. Seakan menjadi pematik, jari telunjuk Ariadne menciptakan api biru redup. Ariadne mengangsurkan api itu pada puncak kepala raga itu. Si beku pun dihangatkan oleh api yang semakin lama membuncah, menjilat-jilat tubuh Sue. Menelannya dengan ganas.

“Bagaimana?” tanya Baekhyun untuk ratusan kalinya selama dua jam mereka menunggu di ruang keluarga.

Kyungsoo yang sedari tadi memilih kesenyapan, memilih untuk menjawab. “Ariadne menggunakan sepertiga dari tenaga intinya,” ujarnya. Pria itu kembali meraup parasnya.

Sementara Baekhyun yang duduk di hadapannya semakin kacau akibat menunggu. Vampir itu pun juga merasakan kuatnya energi Ariadne yang menjalar ke seluruh ruangan. Ada beberapa pemikiran terburuk yang berkelebat di benaknya. Baekhyun ketakutan. Dalam eksistenya, baru pertama kali dirinya merasakan seperti itu.

Kyungsoo pun khawatir. Bukan pertama kalinya, kekhawatiran itu bergejolak. Semua hal mengenai Ariadne membawa kegamangan dalam eksistensinya. Ia cemas, gadisnya itu terlalu banyak memberikan energi inti. Berbeda dengan vampir lain yang bisa mendapatkan energi inti dari pasangannya, Ariadne tak akan dapat melakukan itu. Kyungsoo terlalu lemah untuk Ariadne.

“Keadaan Kai semakin memburuk akibat kekuatan Ariadne,” kata Chanyeol yang baru saja memasuki ruangan, selepas memeriksa kondisi saudaranya. “Suho sedang memindahkan Kai.” Imbuh Chanyeol.

Tak ada sahutan dari lawan bicaranya. Semuanya teralih akibat suara derit pintu. Ariadne keluar dari sana. Langkahnya tetap anggun, namun parasnya memucat. Terdengar dengusan Ariadne saat mendapati raut Kyungsoo yang mengernyit.

“Gadis api itu, bodoh.” Ujar Ariadne. Tangannya meraih kursi sebagai pegangan agak tak terhuyung. “Bisa-bisanya ia mencoba mengobati luka yang dibuat sang Maximillian. Dia berbakat, namun idiot.” Arogansi Ariadne membuat geraman Baekhyun tersulut.

Do Kyungsoo maju selangkah menghalangi tubuh Ariadne agar tak langsung bertatapan dengan Baekhyun. “Tidak, Byun Baekhyun.” Cegah Kyungsoo, defensif.

Baekhyun membuang muka.

“Kau bisa menemui gadis apimu itu, Baekhyun.” Timpal Ariadne, bibirnya menjungkit beberapa milimeter membentuk seringai. “Semoga dia masih hidup.” Tambahnya ketika Baekhyun membanting pintu.

Kyungsoo melangkah mundur, menjauh untuk mengurangi perih yang menusuk indra perabanya akibat terlalu dekat dengan Ariadne. Chanyeol pun melenggang pergi, memberi spasi agar pasangan unik itu dapat menghabiskan waktu berdua.

“Aku harus pergi.” Putus Ariadne.

“Kau masih kelelahan, Ariadne.” Kyungsoo berkata, nada khawatirnya terdengar keras.

Ariadne melejitkan bahu, ringan. Ia membalas tatapan prianya sejenak, mengamati lebih intens raga Kyungsoo yang terbalut pakaian hitam. “Keberadaanku di sini lebih lama pun, tidak akan memerbaiki energiku. Kau justru akan lebih tersiksa. Kita ditakdirkan untuk berjauhan.” Jelas Ariadne, pelan.

Kyungsoo menghela napas perlahan. “Aku tahu.”

Ariadne tersenyum. Lekukkan bibir itu tak lagi penuh kecongkakkan, hanya kemurnian yang terpatri jelas. “Tetapi, ini bukan akhir dari cerita kita. Dunia memang tidak adil. Kau yang terlahir dengan energi inti penghancur, bukan kesalahanmu.”

Kyungsoo menggerakkan jari-jari, membelai udara dengan lembut seakan itu wajah gadisnya. “Aku mencintaimu, selalu akan begitu.” Bisik Kyungsoo di kejauhan.

“Sampai jumpa, entah berapa ratus tahun lagi. Hidupku satu-satunya, Do Kyungsoo.” Suara itu menggema, lalu hilang bersamaan dengan tubuh Ariadne yang mulai memudar. Gadis Maximillian itu berteleportasi mengenyahkan diri, kembali menuju kegelapan.

Kyungsoo tertawa hambar, menyadari betapa lemah dirinya. Bahkan untuk bisa menyentuh ujung surai kekasihnya.

“Baekhyun,” Sue memanggil lemah.

Baekhyun segera mendekap gadisnya. “Jangan pernah menggunakan apimu. Aku bisa mati kapan saja, apabila kau membeku lagi.” Sela Baekhyun, kemudian mengecup seluruh bagian tubuh Sue yang bisa ia gapai.

Sue mengangguk, sembari menangis.

Ariadne kembali ke mansion.

“Kerja bagus, Ariadne.” Tutup sang Maximillian, setelah rungunya mendengar rangkuman dari pelaksanaan tugas Ariadne. “Kau boleh beristirahat sekarang.” Imbuh pengusa itu.

“Apa saya diizinkan untuk mengajukan pertanyaan?” Vokal Ariadne.

Sang Maximillian tak menjawab, pertanda bahwa Ariadne diminta segera enyah.

“Setidaknya, izinkan saya bertanya sebagai seorang adik, Ariana.” Ariadne mengigit bibir bawah, sebelum melanjutkan. “Bagaimana cara mengabaikan perasaan kasih pada pasangan absolut, Ariana? Bahkan ketika dirinya terluka, Anda berperliaku seakan tidak terjadi apa-apa.” Si gadis bertanya tanpa menunggu persetujuan.

Ariana tersenyum tipis. “Apa kau tahu, adikku? Mengenai alasanku melukainya.”

Ariadne menggeleng. “Tidak, Kakak.”

“Karena ia jatuh hati pada gadis lain. Aku melukainya untuk mengingatkan bahwa dirikulah pasangan absolutnya.” Jawab Ariana, sang Maximillian. “Dan aku tidak akan membiarkan pengkhianatan barang sedikit saja terjadi.” Imbuh Ariana, menutup perbincangan.

-Bersambung-

a/n:

  1. Kisah mengenai vampire yang lain dapat dibaca di Track List.
  2. Part selanjutnya dapat dibaca di Maximillian: The Abigail Crandall.

6 responses to “Maximillian: The Noble

  1. ceritanya makin seru eon, aku makin penasaran >< oh yah aku boleh minta pwnya gk eon? buat baca part yg ini Vampire’s Diary: [3/3] The Half Blood Vampire…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s