[2S] Not-So-Romantic Man by misskangen

tumblr_static_tumblr_static_960ompz2kcw8s4kokscw0gsko_640

[EXO] Kim Junmyeon/Suho + Byun Baekhyun + Park Chanyeol [OC] Seo Ye Ji + Seo Joo Hyun ││Romantic-Comedy + Friendship ││ General ││ Two Shot ││ misskangen storyline

 

“Kim Junmyeon itu tidak hanya tampan dan pintar, tapi dia juga tidak romantis”

 

NOT-SO-ROMANTIC MAN

Tubuhnya telah membuat sofa berwarna abu-abu itu terguncang karena sengaja menghempasnya begitu saja. Dia menghembuskan napas dari mulut seperti sebuah dengusan, sementara wajah tampannya tampak kesal dan lelah. Bersandar di sofa empuk itu sedikit banyak membuatnya bisa menghilangkan penat tubuhnya, tapi tidak dengan otaknya yang masih berjibaku memikirkan sesuatu.

 

“Ini semua karena Kyuhyun hyung!” umpatnya seketika, membuat pandangan dua orang pria lainnya pun beralih padanya. “Kalau saja Kyuhyun hyung tidak berlaku sok romantis pada Joo Hyun, maka Ye Ji tidak akan meminta yang macam-macam. Dan aku tidak akan jadi pusing seperti ini!”

 

Dua pria – Chanyeol dan Baekhyun – saling berpandangan, lalu mereka serentak membuang muka menahan tawa. Gerutuan yang dilontarkan Junmyeon tadi ibarat sebuah acara komedi konyol yang membuat penontonnya sakit perut karena tertawa terbahak-bahak.

 

Junmyeon memandang kedua orang itu dengan penuh kekesalan. Dia berdecak, lalu mengacak rambutnya sendiri. Ia sangat menyadari bahwa kedua orang itu menertawakannya untuk sesuatu yang memang telah lama menjadi penyakit kronisnya. Penyakit yang selalu menjadi sasaran empuk ejekan maupun sindiran teman-temannya, dan penyakit ini juga selalu menjadi penyebab utama kerusakan moodnya.

 

“Aigoo… uri Junmyeon Oppa, kapan akan menjadi pria romantis seperti Kyuhyun Oppa??” Chanyeol mulai melancarkan aksi goda-menggodanya. Pria pemilik suara bass itu seakan memutar kembali kejadian sejam yang lalu, dengan menirukan suara Ye Ji yang sedang menyindir kekasihnya.

 

“Cih, Ye Ji-yah… kalau hanya begitu saja sangat mudah! Aku bisa membuat yang lebih romantis dari itu,” Baekhyun ikut nimbrung, meniru gaya berbicara Junmyeon saat mencoba membela diri di hadapan Ye Ji. Ya, kini dua pria berbeda tampilan itu lebih cocok dikatakan sedang bermain drama, melakoni satu scene antara pria yang terpojok karena terus dipandangi remeh oleh gadisnya sebab tak pernah bisa menjadi lelaki romantis idaman para wanita.

 

Satu bantal melayang mulus tepat di wajah Baekhyun, melunturkan senyum evilnya yang sedari tadi terkembang senang karena berhasil kembali melihat Junmyeon terbanting dari singgasana kesempurnaan yang selama ini selalu dijunjung tinggi olehnya. “Ah, hyung! Jangan seperti dunia akan runtuh jika kau tidak bisa memenuhi permintaan Ye Ji. Aku pikir di dunia ini masih banyak stok wanita cantik.”

 

“Ya, kau benar, Baek. Aku setuju denganmu,” Chanyeol mengangguk-angguk persis dekorasi mobil berbentuk miniatur kucing yang bergerak seirama dengan per yang terpasang di badannya. “Aku heran kau bisa tahan dengan Ye Ji. Dia memang cantik dan tampak sempurna, tapi ia juga sedikit berisik, banyak maunya, dan lebih parah lagi… Ye Ji juga galak!”

 

Mata Junmyeon langsung menyipit, menatap curiga pada Chanyeol dan Baekhyun atas segala perkataan mereka. “Hei, konspirasi macam apa yang sedang kalian sodorkan padaku, eoh?”

Wajah kedua pria itu langsung berubah pasif, kini terlihat polos seperti tidak ada kejadian di sekitar mereka.

“Jangan pernah mengatai pacarku dengan segala tudingan miring itu! Kalian tidak mengenalnya. Dia itu tidak berisik ataupun banyak maunya, yah.. walaupun memang sedikit galak, tapi secara keseluruhan ia adalah gadis yang manis.”

Chanyeol mencibir, melirik Junmyeon pasrah. “Kau mengakuinya sendiri, masih saja berkelit. Aku jadi penasaran, apa yang sudah dilakukan Ye Ji padamu hingga kau sangat tergila-gila padanya, apa dia sudah memantraimu dengan sesuatu?”

“Yak, Chanyeol! Kau ini hidup di zaman modern, masih saja percaya pada hal seperti itu! Junmyeon hyung itu tidak dimantrai atau diguna-guna, hanya saja ia tidak punya nyali untuk melawan kekuasaan sang kekasih. Benar-benar tipe pria takut istri sejati…” ejek Baekhyun menambahi daftar rencana pembalasan Junmyeon untuk kedua orang yang telah begitu berani menindihnya dengan beragam sindiran nyata.

Chanyeol dan Baekhyun pun duduk mendampingi Junmyeon di sofa itu, tatapan mereka benar-benar sulit ditebak. Mereka bisa saja tampak prihatin, namun di sisi lain semua orang akan memilih menilai mereka sangat mensyukuri kegalauan yang dideria Junmyeon saat ini.

“Sudahlah, hyung. Lupakan saja permintaan Ye Ji yang satu itu. Sampai kapanpun kau tidak akan bisa jadi pria romantis, itu sudah jadi kutukan bagimu,” Chanyeol memang tidak pernah bosan untuk menghasut temannya, bahkan rayuannya itu sangat mematikan karena semua perkataannya mengarah pada jurang yang amat dalam.

Junmyeon mendorong kepala Chanyeol dengan seringaian kesal, “Dasar teman tak setia! Bukannya menolongku, kau malah mempengaruhiku untuk mengikuti jejakmu menjadi pria single paling miris sedunia.”

Perkataan Junmyeon berhasil membuat Chanyeol terdiam lalu mencibir. Tapi sesaat kemudian berlanjut dengan cengirannya yang memperlihatkan senyum pasta gigi penuh pesona itu.

Junmyeon benar, Chanyeol memang pria single yang sangat populer di kalangan wanita yang ada di lingkungan sekitar mereka. Hanya saja entah pesona apa yang dimiliki pria itu hingga banyak wanita-wanita yang tertarik padanya, tetapi perlu digaris-bawahi kalau wanita-wanita itu semuanya aneh. Sekali lagi, ANEH.

Ada yang mencoba menarik perhatian si pemilik nama lengkap Park Chanyeol itu, tapi belum apa-apa sudah membuatnya melarikan diri. Bagaimana tidak, bila yang mengejarnya adalah seorang wanita dengan berat badan melebihi 100 kg. Chanyeol tidak pernah punya bayangan menjadi pasangan angka sepuluh. Tidak akan!

“Setidaknya aku tidak akan pusing memikirkan bagaimana caranya memenuhi permintaan para gadis yang macam-macam bentuknya itu. My single life is a happy life, you know!” itu adalah kalimat paling mujarab yang dijadikan Chanyeol sebagai senjata penghindar kegusaran hidup.

“Aigoo, hyung! Aku pikir kau memang perlu mencari hiburan, menikmati waktu layaknya pria-pria single di luar sana yang menghabiskan hidup tanpa beban dan tidak harus direcoki dengan long list of woman’s desire.” Tepukan Baekhyun di bahunya membuat Junmyeon harus melupakan sesaat pikirannya yang lumayan penuh dengan usaha mendapatkan cara romantis untuk merayu kekasih yang sedang merajuk.

*1*

 

“Aku iri sekali padamu, Eonni!” ucap Ye Ji yang terlihat lemas sedang membaringkan tubuhnya telungkup di atas ranjang. Ia memandang hopeless pada kakaknya – Joo Hyun – yang sedang asyik mengagumi cincin berlian yang melingkar di jari manisnya.

“Tentu saja kau pasti iri. Cincin ini indah sekali!” pekik Joo Hyun begitu gembira, mengarahkan tangannya kesana kemari dengan berbagai angle sambil terus menatap cincinnya dengan mata berbinar.

“Bukan cincinnya yang membuatku iri! Tapi bagaimana cara Kyuhyun Oppa melamar Eonni, tadi. Bahkan dia melakukannya di depan banyak orang dan suasananya juga cukup romantis,” kenang Ye Ji nelangsa.

“Ya, aku akui yang tadi itu memang cukup romantis dan mengharukan. Ahh.. Kyu Oppa memang pria yang baik!” Sepertinya Joo Hyun masih larut dalam euforia kebahagiannya karena baru dilamar sang kekasih hingga tak menyadari bahwa sedari tadi adiknya sudah memasang wajah iri dan putus asa.

“Aku juga ingin seperti itu. Dibacakan puisi atau sesekali diberi gombalan-gombalan narsis, dicium tangannya atau diberikan bunga…”

“Memangnya Junmyeon tidak pernah melakukan itu padamu?”

Ye Ji menghembuskan udara dari mulutnya lalu menunduk hingga dahinya menyentuh bantal, “Dia itu sungguh tidak bisa diharapkan. Jangankan membaca puisi atau melamar dengan romantis, mencium tangan dan memberikan bunga dianggapnya hal yang memalukan dan kekanakan. Aigoo… ingin sekali aku memukul kepalanya jika seperti itu terus!”

“ckckck… ya sudah kau putuskan saja dia! Di dunia ini lelaki tidak hanya satu!” ucap Joo Hyun enteng.

“Aish… kalau bisa memutuskan pria yang kau cintai semudah itu, aku akan berikan apapun yang kupunya.”

 

*2*

“Apa aku harus memberikannya bunga, cincin, liontin, atau gaun branded? Ck, semua ini benar-benar memusingkan. Aku tak tahu mana yang paling bagus,” gerutu Junmyeon berjalan menjauhi kedua temannya yang bergerak santai di belakang tubuhnya. Berulangkali Junmyeon mengedarkan tatapan matanya ke penjuru outlet yang berjajar di sepanjang lantai pusat perbelanjaan terkemuka di Seoul.

“Kau berikan saja semua itu jika kau benar-benar ingin melakukan penebusan dosa,” celetuk Chanyeol dari belakang membuat langkah Junmyeon terhenti. Pria bertubuh atletis itu berbalik dan menatapnya penuh tanya.

“Penebusan dosa?”

“Kau tidak perlu berkelit. Aku dengar dari Joo Hyun katanya Ye Ji memergokimu sedang selingkuh. Benarkan?”

Junmyeon mendengus dan melanjutkan jalannya diikuti Chanyeol dan Baekhyun. “Sudah kukatakan pada Ye Ji kalau semua itu salah paham. Aku tidak berselingkuh atau menggoda wanita lain. Tetap saja ia tidak mau mengerti dan cemburu buta. Aku semakin tidak mengerti wanita, apalagi dengan wajah cemberut yang betah dipasangnya itu!”

“Jadi kau mulai bosan dengan Ye Ji?” Tiba-tiba saja Baekhyun sudah berada di samping Junmyeon dan merangkul bahunya akrab. Junmyeon meliriknya heran karena cengiran yang diberikan Baekhyun. “Kalau memang begitu kenapa tidak cari yang baru saja?”

“Dan setelah itu, kau akan punya kesempatan untuk mendekati Ye Ji. Begitukan?” ujar Junmyeon sarkatis. “Baekhyun-ah, apa kau masih menyukai kekasihku? Kau masih tidak terima kalau Ye Ji lebih memilihku dari pada kau, kan?”

“Aish… kau ini sudah berburuk sangka padaku, seolah aku ini tidak laku dan tidak bisa move on karena dulu Ye Ji menolakku. Aku berbicara seperti itu karena aku kasihan padamu yang tak kunjung bisa jadi pria romantis. Lebih baik kau seperti kami, yang bebas memandang wanita mana saja yang kami suka tanpa diinterupsi oleh omelan siapapun!” Baekhyun bersungut-sungut mengeluarkan kekesalannya.

“Dan soal wanita… aku pikir semua mata wanita di mall ini tertuju padaku karena aku tampan dan single. Aku bisa saja langsung memilih salah satu dari mereka untuk jadi pacarku!”

“Cih, percaya diri sekali kau!” ejek Chanyeol. “Kau berbicara seolah kau pria paling romantis sedunia..”

“Aku memang romantis. Kalau Junmyeon hyung mau mendengarkan ideku yang brilian ini, Ye Ji pasti akan lebih terpesona padanya,” Baekhyun menyeringai penuh makna.

“Aku tidak percaya padamu, Baek! Aku lebih percaya kalau idemu itu justru akan menjerumuskanku!” Junmyeon merespon remeh diikuti dengusan Baekhyun yang merasa diabaikan celotehannya oleh hyungnya itu.

Chanyeol dan Baekhyun saling tatap ketika Junmyeon berhenti di depan toko buku. Mereka bertanya-tanya karena tidak biasanya Junmyeon tertarik memasuki toko buku untuk sekedar hang out atau mencari hiburan.

“Apa kau mau membelikan buku untuk Ye Ji? Semacam novel cerita roman?” tanya Chanyeol polos.

Junmyeon menggeleng cepat tanpa menoleh pada Chanyeol. “Tidak. Aku tidak pernah berpikir untuk membelikannya novel. Justru aku sedang mencari buku yang berisi petunjuk bagaimana caranya menjadi pria romantis.”

Chanyeol dan Baekhyun serentak melongo, tidak menyangka Junmyeon memikirkan solusi yang menurut mereka walaupun sederhana tapi cukup tak biasa. Bayangkan saja seorang Kim Junmyeon, pria yang tampilannya dianggap sempurna baik fisik maupun sikapnya, kini harus berjibaku mencari buku yang berisi hal-hal nyentrik seperti itu. Semua karena usahanya menjadi seorang pria romantis di mata sang pujaan hati. Cukup miris!

“Memangnya ada buku seperti itu?”

“Entahlah. Semoga saja ada!”

*3*

 

“Ye Ji, ada telepon untukmu!” teriakan Joo Hyun terdengar jelas dari dalam kamar Ye Ji. Suara kakak perempuan satu-satunya itu terkesan sangat melengking, walaupun Joo Hyun dikenal punya suara yang bagus jika memanggilnya dengan teriakan begitu tetap saja tidak menyenangkan.

Ye Ji mengangkat telepon dari kamarnya, penasaran dengan seseorang yang meneleponya. Seharusnya orang itu menghubungi langsung ke ponselnya, biasanya memang seperti itu. Jika lewat telepon rumah, terkesan berasal dari instansi atau apapun bentuk komunikasi formal lainnya.

“Yeoboseyo…” Ye Ji menjawab teleponnya dengan suara enggan.

Hello…my lovely Princess…”

Suara dari seberang telepon membuat Ye Ji mengerutkan keningnya. Ia dengan jelas mengenali suara itu, suara Junmyeon. Tapi keanehan yang terjadi karena tidak biasanya Junmyeon menelepon lewat telepon rumah dan mengawali pembicaraan dengan panggilan gombal seperti itu membuat Ye Ji sedikit tidak mempercayai pendengarannya.

“Siapa ini?” ceplos Ye Ji.

Di seberang pun terdengar decakan lidah si penelepon, pasti orang itu merasa kesal karena tak dikenali. Padahal ia yakin sejuta persen kalau kekasihnya itu akan menyambutnya dengan senyuman dan suara manja. Tapi harapannya itu tidak terwujud.

Ya ampun sayang… apakah suaraku terdengar terlalu merdu di telepon hingga kau tak mengenaliku? Aku ini kekasihmu, pujaan hatimu, your Prince of Love…”

Ye Ji langsung menganga, matanya membulat sempurna. Tidak salah lagi, ini memang Kim Junmyeon. Namun apa yang terjadi padanya hingga pria itu terkesan sedikit korslet seperti ini?

Ye Ji menepuk-nepuk pipinya, berharap kalau ini hanya mimpi. Karena ia merasakan kesakitan, jadi kesimpulannya ini bukan khayalan atau mimpi belaka.

“Junmyeon Oppa? Apa yang terjadi padamu, kau sakit? Mengapa kau meneleponku tidak melalui ponsel? Pasti terjadi sesuatu kan… Ayo katakan padaku…” Ye Ji langsung memberondong Junmyeon dengan pertanyaannya.

Di sisi lain Junmyeon mendesah, merutuki sikap aneh yang dianggapnya sedikit tolol itu. Susah payah ia memaksa bibirnya bergerak untuk berbicara, menyatakan kegombalan dan rayuan super menjijikkan yang pernah dilakukannya. Tapi Ye Ji justru bereaksi berbeda. Bukannya terpukau, malah menyangkanya sakit atau mengalami suatu kejadian yang merusak laju otaknya.

Oh tidak apa-apa sayang! Aku baik-baik saja. Ponselku mati, jadi aku tidak bisa menggunakannya.”

“Begitu ya… Ada apa meneleponku? Aku belum merindukanmu, Oppa…” ujar Ye Ji enteng.

“Apa harus rindu dulu baru menelepon? Baiklah, aku sudah sangat merindukanmu… jadi aku ingin bertemu denganmu sore ini di Café Cheriè jam 5 sore. Aku sudah siapkan kejutan untukmu!”

“Kejutan? Benarkah?” Ye Ji terdengar antusias membuat Junmyeon tersenyum merasa memenangkan situasi. “Wah… tumben sekali. Oppa, apakah sesuatu sudah membentur kepalamu hingga aku merasa kau… sedikit aneh?”

Senyum Junmyeon langsung pudar. Euforianya langsung kandas berganti dengan awan suram penuh kegelapan. Tadi ia sudah merasa diangkat ke langit, kini ia malah dibanting ke tanah. Ye Ji oh… Ye Ji, sekaku itukah Junmyeon dimatamu? Atau memang Ye Ji sendiri adalah gadis yang tak punya perasaan? Sekali lagi, Junmyeon sungguh miris!

aku baik-baik saja… Ya sudahlah, yang penting kau harus datang. Aku memesan meja nomor 22. See you there, Dear…”

Junmyeon langsung menutup teleponnya. Dengan bibir mencebik, Ye Ji ingin menggerutu tentang keanehan Junmyeon. Ia sempat menatapi gagang telepon, mungkin ada sesuatu yang salah dengan alat itu. Sesaat kemudian ia memutar bola matanya. Semoga ini hanya perasaannya saja, yang mengira sang kekasih sedang terjangkit penyakit gombal dadakan hingga sikapnya itu tak pelak membuatnya sedikit mual.

*4*

Junmyeon berjalan sambil memainkan kunci mobilnya, berniat secepatnya meninggalkan base camp klub basket yang diikutinya menuju café tempat ia membuat janji dengan Ye Ji. Sesekali ia bersiul, menandakan ia sedang cukup gembira dengan segala rencana yang sudah disiapkannya hari ini untuk Ye Ji. Sebentar ia merogoh kantong jaket birunya, lalu tersenyum memandangi kotak beludru berwarna biru yang berisikan cincin emas putih dengan desain yang cantik. Dan tentunya ia mempersiapkannya untuk sang kekasih, Ye Ji.

Belum sempat Junmyeon membuka pintu mobilnya, ia menoleh pada asal suara yang memanggilnya cukup lantang. Chanyeol dan Baekhyun tampak berjalan cepat mendekatinya dengan cengiran khas dari kedua orang itu.

“kau tampak terburu-buru, hyung” ujar Chanyeol merangkul bahu Junmyeon. “Baru saja kami ingin mengajakmu hang out bersama. Kami akan bermain bowling dan kali ini kita akan ditemani gadis-gadis cantik anggota cheerleaders.”

“Ya, kau harus ikut hyung! Anggap saja hiburan. Aku yakin Ye Ji tidak akan tahu.” Baekhyun menambahkan bumbu hasutannya agar Junmyeon mau ikut bergabung.

“Aku tidak tertarik hang out bersama gadis-gadis SMA itu. Aku rasa mereka itu terlalu muda untuk kalian. Hei… sadarilah umur kalian! Jangan karena tidak bisa mendapat wanita matang kalian jadi banting stir mengencani anak di bawah umur.” Junmyeon sukses menyindir kedua orang itu dan membuat mereka langsung menyeringai jijik dan kesal.

“Jadi kau mau bilang kalau kami ini sudah tua dan menjadi lajang lapuk ah… maksudku sebagai the best single men forever, begitu?” ucap Chanyeol ketus tetapi masih bisa mempertahankan egonya sebagai pria dengan seribu satu dalih terbaik sepanjang masa.

“Kau berbicara seolah kau itu pria paling dewasa yang ada di dunia, padahal kau belum bisa mencapai level lelaki sejati dengan menjadi seorang pria romantis. Aku malah merasa sebentar lagi Ye Ji akan menendangmu karena kau tak kunjung bisa menjadi seorang perayu!” Tanduk Baekhyun seperti muncul karena merasa tersinggung.

“Yak, aku rasa aku tidak mengatakan sesuatu yang salah. Itu masalah kalian sendiri kalau kalian merasa terpojok karena status yang memang melekat pada diri masing-masing!” Junmyeon membela dirinya seketus mungkin.

Chanyeol melengos, melipat dadanya dan memandang Junmyeon dengan menyipitkan matanya yang semakin kecil seperti garis. “Okay, kalau begitu kita batalkan soal kebersamaan dengan gadis-gadis itu. Kita pergi bertiga saja. Bisa juga dengan teman-teman kantor atau klub basket lainnya. Apa kau mau?”

“Aku tidak bisa.”

“Kenapa??” Chanyeol dan Baekhyun kompak bertanya sambil memekik.

Junmyeon diam sesaat. Ia berpikir jika mengatakan semua rencananya hari ini pada kedua orang itu, maka ia akan mengalami kegagalan. Kedua orang ini bisa menjadi malaikat tapi lebih sering menjadi iblis. Walaupun mereka bersahabat, namun sifat suka menjahili satu sama lain tidak bisa dihilangkan begitu saja. Jika mereka tahu Junmyeon akan bertemu Ye Ji untuk melancarkan aksi romantis yang sudah dipelajarinya dari buku panduan yang dibelinya beberapa hari yang lalu, selanjutnya Junmyeon akan habis karena menjadi bahan lelucon dan rencananya akan gagal total.

“Aku… aku harus menjemput Se Hee di airport. Adikku hari ini pulang dari Austria,” dusta Junmyeon.

Chanyeol dan Baekhyun akhirnya menyerah. Tidak ada paksaan lebih jauh yang akan mereka berikan pada Junmyeon jika sudah menyangkut adiknya tersayang.

“Ya sudah, kita kan bisa atur lagi di lain waktu..”

*5*

 

Setengah jam sudah Ye Ji menunggu Junmyeon di meja nomor 22, tepat seperti yang dikatakan pria itu kemarin lewat telepon. Wajahnya tak lagi berseri-seri karena penasaran dengan kejutan yang dijanjikan Junmyeon untuknya. Justru kini air mukanya tertekuk dan ketat seperti orang yang kelaparan sekaligus menahan amarah.

Berulang-ulang Ye Ji melihat kepada jam tangannya, menit demi menit hingga ia jenuh dan merasa jarum jam itu bergerak begitu lamban. Sudah gelas kedua yang diantarkan oleh waiter kepadanya, namun kekasihnya itu belum juga memperlihatkan batang hidungnya.

“Awas saja kalau nanti dia muncul dan tidak memberikan sesuatu yang menghibur. Akan kujadikan sate kelinci paling populer se-Korea!” tanpa sadar Ye Ji mengumpat-umpat dan menyumpahi Junmyeon karena kekesalannya yang semakin banyak.

Sementara di tempat lain, Junmyeon sedang bercermin di toilet dengan senyuman penuh makna. Ia sudah membayangkan bahwa kejutannya kali ini pasti akan menjadi momen yang sangat manis dan terkenang sepanjang hidup Ye Ji. Yah, dia akan melamar Ye Ji. Meminta wanita yang sangat dipujanya itu untuk menjadi pendamping hidupnya dan berbagi suka duka dengannya. Meskipun selama ini Junmyeon menyadari bahwa ia belum bisa menjadi pria seutuhnya seperti yang diinginkan Ye Ji – pria romantis.

Junmyeon sesekali membalik tubuhnya yang berbalut kaus biru dengan tulisan sablon ‘I Love You’ di bagian punggungnya. Kekanakan dan aneh, itulah yang ada dalam pikirannya. Tapi ia mengikuti semua instruksi dalam buku ‘how to be a romantic man’ yang dibelinya di toko buku beberapa hari yang lalu, sehingga ia melupakan segala bentuk protes di otaknya yang mengatakan bahwa ia mulai tidak waras karena obsesi menjadi pria romantis.

*6*

“Kenapa kita jadi datang ke café yang romantis seperti ini, Baek?” protes Chanyeol pada Baekhyun saat mereka tiba di Café Cheriè.

“Aku sudah lapar sekali, Yeol! Ini café terdekat dari rumah Minseok hyung. Aku tidak mau kelaparan sebelum menantangnya main game.” Baekhyun langsung sibuk mencari-cari meja dengan posisi ternyaman baginya. “Memangnya kenapa kalau kita makan di tempat seperti ini? Bukannya jadi menarik karena keromantisannya bagi pasangan kekasih?”

Chanyeol melirik tajam pada Baekhyun, sepertinya pria satu ini patut dipukul kepalanya karena berpikir pendek. “Apa benar kau ini pintar? Kenapa aku merasa kau jadi idiot karena lapar, Baek?”

“Ish, apa maksudmu menyebutku idiot?”

“Kau ini ingin menyiksaku dengan melihat pemandangan pasangan-pasangan berbahagia yang ada disini, eoh?!” ujar Chanyeol sinis. “Dan kau bilang apa tadi, romantis sebagai pasangan kekasih? Memangnya kau pikir kita ini pasangan kekasih? Aku tidak mau sampai dikira gay, aku masih normal!”

“Cih, jadi kau mulai meragukan status single man yang kau agung-agungkan itu?” ejek Baekhyun dengan evil smirknya. Chanyeol hanya mendengus kesal karena Baekhyun berhasil memojokkannya.

“Hey, Baek.. bukankah itu Junmyeon hyung?” tunjuk Chanyeol pada seorang pria berkaus biru yang berdiri gelisah di depan lorong menuju toilet. Baekhyun menyipitkan matanya, memastikan sosok yang ditunjuk Chanyeol itu. “Apa yang dilakukannya disini? Bukankah dia ingin menjemput adiknya? Atau dia mengajak adiknya makan disini?”

“Tidak!” sahut Baekhyun tegas. “Dia membohongi kita. Junmyeon hyung sedang berkencan dengan Ye Ji,” mata Baekhyun beralih mengikuti pandangan Junmyeon pada sosok gadis yang duduk tak jauh dari sana.

“Wah, jadi dia sudah ‘menyelingkuhi’ kita dan lebih memilih berkencan dengan Ye Ji. Ini tidak bisa dibiarkan begitu saja. Baek, kau punya ide untuk membalas Junmyeon hyung?”

Baekhyun tampak berpikir, tidak butuh waktu lama ia tersenyum licik lalu membisikkan sesuatu ke telinga Chanyeol. Keduanya tampak punya niat sekali untuk melakukan sesuatu yang tak biasa pada Junmyeon. Chanyeol mengangguk-angguk mengerti dengan kata-kata dari bisikan Baekhyun. “Ayo kita hampiri dia!”

Junmyeon terkejut dengan satu tepukan di bahunya, sedari tadi ia terlalu fokus memandangi Ye Ji dari kejauhan sekaligus menyiapkan mentalnya menemui kekasih yang sudah dibiarkannya lama menunggu. Chanyeol dan Baekhyun memberikan cengiran kebahagiaan mereka karena bisa bertemu Junmyeon disini.

“Junmyeon hyung, kau bilang ingin menjemput adikmu ke Bandara, tapi aku tidak melihat ada Se Hee disini..?” basa-basi Chanyeol memasang wajah bingung sambil menoleh ke kiri dan ke kanan mencari-cari seseorang. “Tapi aku malah melihat Ye Ji disini..”

Junmyeon langsung membekap mulut Chanyeol, menghentikan rentetan suara-suara tidak penting yang keluar darinya. “Kau ini berisik sekali! Aku sedang menyiapkan surprise untuk Ye Ji… yang sangat manis!” protes Junmyeon dengan wajah judes. “Lebih baik kalian pergi saja dari sini, karena kalian hanya menggangguku!” Junmyeon mendorong-dorong tubuh Chanyeol dan Baekhyun agar kedua temannya itu pergi meninggalkannya dan berhenti merecokinya.

“kau tega sekali, hyung! Kata-katamu itu menyakitkan hati, kau tau!” mimik sedih yang ditunjukkan Baekhyun sama sekali tidak menyakitkan.

“Dasar berlebihan!” gerutu Junmyeon. “Sudah sana pergi!” usir Junmyeon lagi pada kedua orang itu.

“Tunggu dulu, hyung! Kami hanya ingin memberikanmu pelukan semangat. Sebagai sahabat kami akan selalu mendukung dan menyemangatimu!” Baekhyun dan Chanyeol langsung memaksa untuk memeluk Junmyeon. Akhirnya mereka bertiga berpelukan layaknya kaum pria yang sedang memberikan support kepada rekan satu timnya.

Tanpa disadari oleh Junmyeon, Baekhyun menempelkan selembar kertas yang menutupi tulisan ‘I Love You’ dibelakang punggungnya. Sedikit berakting, Baekhyun pun menepuk-nepung punggung Junmyeon dan membisikkan kata-kata semangat tanpa bisa menyembunyikan senyuman evilnya.

“Selamat berjuang… Semoga kejutanmu berhasil, Hyung!”

“Thank you, guys. Kalian telah memberikanku semangat lebih,” ucap Junmyeon polos. “kalian tahu, hari ini aku ingin melamar Ye Ji. Itu adalah kejutan terbesar dariku!”

Mwo?? Kau akan melamar Ye Ji?” pekik Chanyeol kaget. “Daebak!! Kini kau sungguh berani dan mulai jadi pria romantis, hyung! Aku salut padamu!” puji Chanyeol dengan ekspresi haru yang dipaksakan.

Thanks to the book, now I can be a romantic man in the world!” Junmyeon pun mulai membanggakan dirinya.

Chanyeol dan Baekhyun saling lirik dan menyembunyikan seringaian muak mereka. Tiba-tiba saja Junmyeon merasa telah menjadi pria romantis dalam waktu singkat, hanya karena sebuah buku panduan. Yang benar saja!

 

*7*

“Hai…sayang,” sapa Junmyeon pada Ye Ji sambil menutupi dadanya dengan sebuah balon berbentuk hati berwarna pink.

Wajah Ye Ji tampak cemberut, namun ia masih memaksakan dirinya melirik pada Junmyeon. Bibirnya yang masih berbentuk garis lurus, menandakan kalau ia sedang kesal dan bosan dengan pekerjaan dadakan yang diterimanya.

“Aku sangat berterima kasih karena kau mau datang dan menungguku disini. Sesungguhnya aku ingin mengungkapkan sesuatu dan itu berkenaan dengan perasaanku padamu.” Junmyeon menyodorkan balon hatinya kepadanya Ye Ji. Entah mengapa, Ye Ji pun tersenyum menerima balon itu seolah langsung bisa melupakan kekesalannya pada Junmyeon.

Entah dari mana, seperti sulap Junmyeon memunculkan setangkai mawar merah dari balik lehernya dan mempersembahkan bunga itu untuk Ye Ji.

“Aku sengaja memberimu satu tangkai mawar. Karena jika aku membawakan sebuket mawar, aku takut semua bunga-bunga itu menjadi tak indah lagi dan layu karena mereka takut bersanding dengan kecantikanmu.”

Blush… Ye Ji merasakan pipinya panas, pasti kini warnanya memerah karena ia sedang dihinggapi kesan malu karena gombalan Junmyeon barusan.

“So sweet…” ucap Ye Ji dengan suara manjanya.

Junmyeon tersenyum lebar, merasa usaha awalnya untuk membuat Ye Ji terkesan dan kagum padanya telah berhasil.

“Dan kau pun tak perlu membelah dadaku agar kau tahu seberapa besar cintaku padamu,” lanjut Junmyeon dengan mata berbinar-binar. “…tapi, kau bisa melihatnya dari ini..”

Junmyeon membalik tubuhnya, menjadi memunggungi Ye Ji dan berharap gadisnya itu membaca tulisan berupa pengungkapan cintanya dan semakin terkesan padanya.

Senyum yang telah terukir di wajah Ye Ji sontak menghilang ketika membaca tulisan di kertas yang telah menutupi kaus bagian atas milik Junmyeon. Matanya langsung melebar dan menggeleng-geleng pelan. Ye Ji membacanya berulang-ulang karena masih tak percaya dengan kalimat yang tertera disana.

 

AWAS!! PACARKU SEGALAK HERDER

 Ye Ji membanting tasnya ke atas meja dan buru-buru berdiri. Junmyeon sempat menoleh ke belakang, penasaran dengan reaksi Ye Ji. Apalagi Ye Ji sama sekali tak mengeluarkan suara apapun untuk sekedar memuji atau memberikan komentar.

Junmyeon pun berbalik, masih tetap tersenyum lebar dan kepercayaan diri yang sangat tinggi. Ia bahkan tidak menyadari ekspresi wajah Ye Ji yang sudah berubah muram. Bahkan Ye Ji yang bernapas berat seraya memegangi dadanya pun tak dianggapnya sebagai sesuatu yang berbeda dari ekspresi kegembiraan kebanyakan orang.

Junmyeon menjulurkan tangannya, memegang kedua lengan atas Ye Ji dengan lembut. “Aku benar-benar tidak menyangka kalau kau menjadi begitu…speechless melihatku seperti ini dan juga kejutan dariku.”

Ye Ji menurunkan kedua tangan Junmyeon dari lengannya. Sesaat ia mendesis, lalu memijat pelipisnya yang terasa berdenyut. “Oppa… sekali lagi aku tanyakan padamu. Benarkah kalimat yang tertulis dibalik punggungmu itu jujur dari dalam hatimu?” tanya Ye Ji dengan suara tercekat-cekat.

Junmyeon mengangguk mantap, “tentu saja benar sayang… aku jujur dan tidak berbohong padamu.”

Ye Ji terkesiap, dan lagi-lagi napasnya terasa berat. “Jujur??” Ye Ji mengulangi kata itu lagi, dan Junmyeon pun mengangguk penuh percaya diri. Ye Ji menyipitkan matanya menatap Junmyeon, lalu mendesah pasrah.

“Kalau begitu ini balasan untuk Oppa…”

Junmyeon dengan semangat memejamkan matanya dan sedikit memonyongkan bibirnya, berharap mendapatkan satu ciuman manis dibibirnya dari Ye Ji. Sementara Ye Ji dengan sangat menyesal harus merelakan minuman dari gelas yang baru dipesannya untuk Junmyeon.

Ya, Ye Ji mengguyur kepala Junmyeon dengan jus stroberinya yang masih penuh. Kalau boleh sedikit menyebutkan mantra, maka Ye Ji akan mengatakan ‘semoga kepalamu akan berpikir lebih dingin sebelum melakukan sesuatu yang menyebalkan’.

Junmyeon mengusap wajahnya yang basah terkena tumpahan air dari atas kepalanya. Ia mengerutkan kening dan menatap penuh tanya pada Ye Ji.

“Sekalian saja Oppa pacaran dengan herder!” sembur Ye Ji dengan wajah judes dan menggertakkan gigi

“Kenapa kau menyiramku? Salahku apa?” tanya Junmyeon bingung.

“Masih bertanya apa salahmu?!” pekik Ye Ji. Dengan sigap Ye Ji menarik kertas itu dari punggung Junmyeon dan menyodorkannya langsung ke depan wajah pria itu. “Coba saja lihat sendiri!”

Junmyeon mengambil kertas itu dan membacanya dengan teiti. Serta merta ia pun terkesiap, bahkan ia tidak peduli dengan pandangan pengunjung lainnya yang melihat mereka seolah menonton drama gratis.

“Sudah lihat sendiri kan? Nah, sekarang Oppa pacaran saja dengan herder!” umpat Ye Ji dan langsung pergi meninggalkan Junmyeon yang masih bertahan dalam pose shocknya.

Junmyeon meremas kertas itu dengan kekesalan yang mencapai ubun-ubun. Dia sadar betul siapa pelaku dibalik kejahatan moril yang menimpanya ini.

“Baekhyun!! Chanyeol!! Awas kalian!!”

Dua orang yang menjadi tersangka itu bahkan sedari tadi menonton adegan ‘romantis’ Junmyeon-Ye Ji dari kejauhan sambil menahan tawa hingga wajah memerah. Mendengar teriakan penuh dendam Junmyeon, mereka pun sepakat untuk kabur dari tempat itu secepatnya sebelum Junmyeon mengejar mereka dan memberikan balasan setimpal yang pasti akan membuat keduanya menjadi bulan-bulanan.

Usaha Junmyeon kali ini sepertinya sia-sia, walau ia sempat mencicipi sedikit keberhasilan di awal. Jika bukan karena kejahilan kedua temannya itu, mungkin sekarang ia akan kenyang dengan pujian dari Ye Ji. Selanjutnya, usaha apa lagi yang akan dilakukan Junmyeon untuk menebus kesalahannya pada Ye Ji sekaligus membalas atau menghindari tingkah ganas kedua temannya?

 

‘To Be Continued’

 

 

Komedi gagal??

Maklum saja masih kena writer’s block, jadi cuma bisa cari-cari draft cerita lama dari laptop dan menemukan ini…

Kalo di Cinderella After Midnight Junmyeon-Ye Ji terperangkap dalam konflik yang berat, disini ga berat-berat amat tapi ngeri-ngeri sedap #apasih

Semoga kalian suka yaa…

 

6 responses to “[2S] Not-So-Romantic Man by misskangen

  1. astaga parah banget dech chan-baek ngerjainnya gk kira” apes banget kamu joon ditolak dech lamarannya kan wkkkkkk

  2. Ya ampun chanyeol n baek jailnya kelewatan….makanya cepet2 cari pacar sana…kasian jun udah usaha matimatian malah gagal…

  3. oh my gaaatttt…
    chanbaek bener2 kok….
    tingkat jailnya udah seduniaaa……
    wkkwkwkwkkwkwkkwkwkkkjk

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s