[Freelance] I’M WITH YOU (CHAPTER 3 )

I'm With You Cp3

CHAPTER 3

I’M WITH YOU

Author : Choi Sungrin
Genre : Sad, Hurt, Romance.
Rating : 15
Lenght : Chapter
Cast :

Kim Hyena

Park Chanyeol

Kim Joon Myun

Choi Sungrin

 

DISCLAIMER : Semua cast resmi milik Tuhan dan orang tua mereka masing-masing, author hanya meminjam. Terinspirasi dari kisah hidup teman, sebuah kisah terkenal dari Italia, dan sebuah film ternama di Indonesia.

 

And the story begin…

[Lee Hyena’s Point of View]

 

Aku terbangun tepat pukul 7 malam di rumah sakit, aku hanya bisa menebak mungkin Chan yang telah membawaku kesini. Aku menoleh kesekelilingku, dan mataku langsung menemukan Chan yang tertidur di sofa. Ini terasa de javu, aku mengingat beberapa bulan yang lalu pun Joon Myun Oppa pernah berada diposisi seperti itu.

 

Kemudian aku mengalihkan pandanganku kearah bawah, melihat apakah aku berpakaian rumah sakit atau tidak. Untung saja tidak, berarti aku bisa menuntut pulang malam ini juga. Walau bagaimana pun, Joon Myun Oppa pasti akan mencariku dan aku tidak ingin membuatnya khawatir.

 

Aku melepas infusku, sedikit berdarah namun tak apa. Kemudian aku melangkah turun menapaki ubin yang terasa begitu dingin di kaki ku yang telanjang. Aku memagang pinggiran ranjang rumah sakit sebentar hanya untuk sebagai penopang karena saat ini kepalaku kembali terasa berputar.

 

Setelah merasa baikan aku segera mengambil tas beserta sweater ku yang berada dinakas samping tempat tidurku lalu kembali berjalan kearah Chan yang masih tertidur pulas.

 

“Chan…” aku memegang pundaknya. Hanya sedikit sentuhan saja ia sudah membuka matanya, mengerjap kemudian segera duduk saat tersadar bahwa aku yang telah membangunkannya.

 

“Hye…” ia memanggilku lirih.

 

Wajahku menegang, Tuhan, apakah dia sudah tau?

 

“Hyena! Mengapa kau bangun?!” ia memekik heboh setelah menyadari dimana ia berada. Ia berdiri, memegang pundakku serta menatap mataku dalam, “Astaga kau masih pucat, lebih baik kau kembali tidur.” ia membalikkan tubuhku dan mendorongku kembali ke ranjang.

 

“Chan, astaga aku baik-baik saja.” tolakku, aku menapakkan kakiku kuat-kuat dilantai namun sayang tenaga nya bahkan 3 kali lipat lebih kuat dibanding aku yang lemah ini.

 

“Tapi Chan, aku ingin pulang.” bujukku sekali lagi, namun ia masih kekeuh mendorong ku hingga aku kini terduduk diranjang itu. Ia memegang pundakku sambil sedikit membungkuk. “Kau masih harus istirahat.” katanya lagi terdengar sangat lembut. Aku sedikit terperangah namun bisa kembali mengatur ekspresiku.

 

“Tapi nanti Joon Myun Oppa khawatir padaku, aku harus pulang.” aku memperkuat alasanku lagi. Namun diluar dugaanku ia malah tersenyum sambil mengusap kepalaku, “Aku sudah menghubunginya, dan sudah dari beberapa menit yang lalu ia pergi menemui dokter. Kau tidak perlu khawatir, jika nanti ia marah padamu aku akan melindungimu, arrachi?”

 

Dan aku pun hanya mengangguk karena terhipnotis oleh tatapan matanya juga senyumnya yang menawan

****

Setelah kejadian dirumah sakit itu, aku semakin merasa ada sesuatu yang aku rasakan berbeda terhadap dirinya. Sangat berbeda. Chan begitu baik, perhatian, berbicara panjang lebar tak peduli apakah aku akan membalas ocehannya atau tidak, mengerti aku, tidak banyak bertanya, tidak banyak menuntut. Ia selalu setia menemaniku kemana saja.

 

Sempat terfikir olehku bahwa ia telah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada diriku, namun setelah menanyai Joon Myun Oppa, ia tidak tau apa-apa. Katanya, saat Joon Myun Oppa datang, Chan masih menungguku tanpa bertanya sepatah katapun pada dokter hingga mengharuskan Joon Myun Oppa yang menghadap dokter.

 

Apakah mungkin ia seperti itu memang karena tulus kepadaku? Tuhan, ku mohon, jangan pernah buat ia jatuh cinta padaku. Sudah cukup sampai disini saja, jangan buat ia tertarik bahkan jatuh cinta padaku. Aku tidak mau menariknya terlalu dalam untuk masuk kekehidupanku yang begitu rumit dan penuh tanda tanya.

 

****

Seperti menjadi kebiasaan, setia sore menjelang malam setelah pulang sekolah, aku dan Chan menghabiskan waktu ditaman pertama kali janjian. Saat waktu itu, Chan memaksaku untuk pergi bersamanya. Meski menyebalkan, akhirnya aku menyerah dan mengiyakan ajakannya. Dan oh satu lagi, saat itu kami merasa dipergoki oleh Joon Myun Oppa, ck.

“Hye…” panggilnya, saat ini kami sedang berjalan mengitari taman sambil sesekali mengomentari orang-orang yang berlalu lalang ditaman ini. Aku memang tak suka keramaian, jadi untunglah, meski ada orang yang berlalu lalang tapi tidak banyak, hanya beberapa saja.

Aku menoleh, menatap Chan yang sudah tertinggal jauh dibelakangku. Entah apa saja yang ia lakukan hingga berjalan seperti keong. Padahal ia memiliki kaki panjang jerapah, tapi jalannya lelet sekali.

“Wae?” tanyaku saat ia sudah mendekat dan saat itu aku baru menyadari bahwa ia membawa sesuatu dibalik punggungnya namun aku tidak memperdulikannya, mungkin hanya sesuatu yang entah penting atau tidak.

Wajahnya yang tadi cerah ceria bagaikan matahari dibulan mei kini berganti menjadi badai salju dibulan januari, senyum nya yang jadi begitu lebar hingga aku yakin bisa mencapai cuping telinganya itu kini berubah menjadi bibir monyong yang sok kenakan. Menjinjikan. Ya walau kuakui memang sedikit….imut mungkin? Entahlah.

“Dari pertama kali melihatmu di sekolah, aku sempat ragu bahwa kau memang Hyena yang kukenal atau bukan. Tapi mau bagaimana lagi, aku sangat yakin bahwa kau adalah Hyena. Oh astaga, yang membuatku frustasi adalah bagaimana bisa Hyena-ku berubah 180 derajat begini?”

Aku hanya bisa menatapnya bingung saat ia mengatakan itu dengan tingkah aneh yang tidak pantas dipraktekan remaja berusia 17 tahun. Dan apalagi ini? Kenapa ia bahkan menyebutku Hyena ditambah kata ‘ku’ dibelakangnya? Heol, memang aku ini kepunyaannya?

“Kau gila Chan” ucapku singkat padat tepat….tepat membuat Chanyeol menganga tak percaya dengan apa yang aku ucapkan.

Kemudian tanpa memperdulikan Chan lebih lama lagi, aku kembali melanjutkan jalanku yang sempat tertunda karena idiot yang satu itu.

“Ya! Lee Hyena!” ia memekik keras memanggil namaku dengan lengkap, membuat tatapan orang-orang disana beralih padanya. Sungguh, apa tidak bisa sehari saja Park Chanyeol tidak membuatku malu setengah mati, huh?

Aku hanya bisa menghela nafas dengan keras namun tetap tidak memperdulikannya. Aku terus berjalan, berpura-pura bahwa tidak mengenal Chan sama sekali. Menyelamatkan mukaku dari tatapan aneh orang-orang.

“Ya! Hyena! Kau ini tuli ya?!” Chanyeol berteriak lagi, dan kali ini aku benar-benar tidak tahan. Chanyeol benar-benar konyol, entah apa maksud dari kelakuan idiotnya.

Dengan cepat aku berbalik dan berjalan kearah Chan dengan cepat, kemudian menatapnya geram saat sudah sampai didepan pria itu. “Wae, wae, wae?” ucapku kesal. Aku bahkan sudah tidak peduli lagi bahwa orang akan memandang aneh kepada kami lagi atau tidak.

Dan beginilah orang idiot, tadi memanggilku seperti orang gila bahkan mengataiku tuli. Tapi saat aku sudah menghampirinya, ia malah diam seperti patung yang menganga dengan mata terbelalak bodoh.

Aku melipat kedua tanganku didepan dada, “Park Chanyeol, kau itu bodoh atau idiot ‘sih?!” ucapku kesal. Namun…

Grep.

Bukannya menjawabku, ia malah memelukku. Bahkan begitu erat, hingga rasanya sangat sesak. Park Chanyeol yang tinggi dan bertubuh besar, mampu membuatku seperti tenggelam dalam pelukannya.

“Ini….ini Hyenaku” ucapnya membuatku semakin gila dibuatnya.

 

***

 

Waktu tak terasa berjalan dengan cepat sekali, aku merasa baru kemarin aku mulai masuk Senior High. Aku merasa baru kemarin aku membuka diri pada Sungrin, dan aku juga baru merasa baru kemarin aku mulai bertemu Chan setelah sekian lama berpisah.

 

Ya, Chan telah menceritakan semuanya—setelah ia memelukku hingga membuat tubuhku kaku semua—secara rinci. Ia bukan tetanggaku, melainkan teman sekolahku di Elementary. Dia bilang, dulu memang Chan sering menggangguku, aku tidak tau apa memang iya seperti itu atau tidak, mungkin terlalu banyak masalah membuatku melupakan hal-hal kecil di masa kanak-kanak.

 

Dia bilang dulu aku memiliki banyak ekspresi yang sedikit banyak ia tiru. Dia bilang aku adalah gadis yang cerewet yang menarik perhatiannnya, aku berteriak marah saat ia menggangguku, tapi tidak mengejarnya—hanya berteriak dan kemudian diam. Aku selalu tertawa saat ia mulai mengajakku pergi ke taman disekitar sekolah, mendorong ayunan untukku atau memetikan bunga untukku. Demi Tuhan, aku melupakan semua itu. Kisah masa kecil yang tertimbun oleh jutaan masalah dihidupku. Aku sendiri sebetulnya ragu, apakah iya masa kecilku seindah itu?

 

Nama Chan juga adalah panggilan masa kecilku untuknya, katanya aku selalu memanggilnya Chan, bukan Chanyeol atau pun Yeol. Hanya Chan.

 

Dia bilang aku terlihat sangat cengeng ketika tau dia akan pindah ke Seoul, aku menangis sepanjang sore. Tidak mau berbicara padanya, hanya menangis dan menangis. Kemudian ia berjanji padaku, suatu saat nanti dia akan mencariku dan kami akan kembali bersama selamanya, tak akan terpisahkan lagi. Dia akan menemukanku, dan tidak akan melepaskanku lagi.

 

Dan ya, setelah tau aku pindah ke Seoul sekitar 10 tahun yang lalu, ia kembali bersemangat dan mencariku. Dan tanpa diduga, beberapa bulan lalu ia melihatku disekolah ini—mungkin sekitar 10 bulan atau lebih. Jadi, ia memutuskan untuk pindah ke sekolahku. Pantas saja, aku merasa baru melihatnya. Awalnya ia hanya memperhatikanku dari jauh, namun kemudian ia mulai bertingkah layaknya playboy agar aku sadar bahwa dia ada. Ya, aku memang menyadari keberadaannya, namun aku sama sekali tidak tahu jika ia adalah Chan masa kecilku.

 

Akhirnya karena jengah juga melihat ketidak-pekaanku, ia mulai mendekatiku—kuanggap itu sebagai mengganggu hidupku. Awalnya ia bingung karena perbedaan sikapku, aku yang lebih diam, anti-sosial, tanpa ekspresi, ya seperti itulah. Tapi ia meyakini bahwa aku memang Hye masa kecilnya.

 

Meski samar, aku sedikit demi sedikit mulai mengingatnya. Semakin sering bertemu, semakin sering pulalah ingatan masa kecil yang indah memenuhi memoriku. Chan-ku yang baik, Chan-ku yang kurindukan.

 

“Hey kau melamun?” seseorang menepuk pundakku, aku menoleh dan mendapati Chan duduk disampingku. “Tidak baik jika kau melamun dihari kelulusanmu,” ucapnya sambil tersenyum. Aku hanya tersenyum tipis, tidak terlalu peduli juga ini hari kelulusanku atau bukan. Bagiku, tidak ada waktu khusus untukku melamun. Dimana saja dan kapan saja aku bisa.

 

“Apa Joon Myun Hyung datang? Aku belum melihatnya,” ia mengedarkan pandangannya keseliling ruangan ini. Ya, sudah kuceritakan padanya siapa sebenarnya Joon Myun Oppa awalnya ia terkejut karena ternyata Joon Myun Oppa adalah anak laki-laki yang dulu selalu menghalanginya untuk mengajakku bermain. Tapi ia bilang, itu bukan masalah besar. Justru ia merasa tertantang untuk membuat Joon Myun Oppa percaya padanya.

 

“Sepertinya sedang ke toilet, tadinya aku tidak berniat untuk mengajaknya. Tapi ia menawarkan diri, seperti biasa, sok pahlawan.” Chan tertawa mendengar leluconku, ia memang seperti itu, tertawa dimana saja, kapan saja, bagai hidupnya tidak ada beban. Hanya tawa yang dengan senang hati menghiasi wajahnya.

 

“Memang. Aku yang pahlawanmu ‘kan?” ia menaik-turunkan alisnya—menggodaku. Sialan pria ini. Aku berjalan meninggalkannya, jengah juga bersamanya terus menerus, terlebih ia selalu menggodaku.

 

“Hey jangan marah” tiba-tiba ia muncul mencegatku, seperti biasa, langkahnya begitu lebar hingga dengan cepat ia bisa mencegatku. “Kau melihat Sungrin? Ah aku merindukan gadis cerewet itu” ucapku mengalihkan, malas membahas topik tadi. Berpura-pura mengedarkan pandanganku kepenjuru ruangan, sebenarnya aku juga tidak terlalu peduli juga ada dimana gadis itu sekarang.

 

Chan mengedikkan bahunya pertanda tidak tau, aku hanya menatapnya sekilas lalu kembali menatap lantai dansa yang dipenuhi orang banyak. Apa lagi? Tentu mereka berdansa dan aku sama sekali tidak berminat.

 

“Kau bosan?” tanyanya, aku hanya mengangguk tidak acuh sambil masih memperhatikan hal-hal kecil yang terjadi. “Mau ikut denganku?” aku menoleh memasang ekspresi bertanya, “Bukan berdansa, ayo kutunjukkan.” ia menarik tanganku keluar dari ballroom hotel yang menjadi tempat acara ini berlangsung.

 

Ia mengajakku sedikit berlari, menelusuri koridor hingga kami masuk ke dalam lift kosong. Aku mengatur nafasku, ini bukan berita baik, tidak biasanya aku berlari. Oh Tuhan ini buruk, sangat buruk, semoga tidak apa-apa.

 

“Kau baik-baik saja?” tanyanya khawatir, aku menoleh pandanganku sedikit kabur namun tidak lama aku kembali dapat melihat wajah khawatirnya dengan jelas. “Kau pucat, apa tidak apa-apa?” tanya nya lagi. Ya sialan, aku tidak baik-baik saja, tidakkah kau lihat?

 

“Tenang saja, aku baik.” jawabku berlawanan, ia memandangku ragu kemudian tangan yang tadinya menggenggam tanganku kini beralih melingkar dipundakku, aku diam saja, masih belum mampu berbicara banyak namun aku berusaha untuk terlihat normal. “Aku takut kau jatuh,” jelasnya. Aku hanya mengangguk sekilas, kemudian kami terdiam menunggu lift menuju lantai yang dimaksud.

 

****

Pintu inipun terbuka menampilkan langit malam bertabur bintang dan mataku langsung terpusat pada bulan yang terlihat paling mencolok diatas sana. Tuhan, sungguh indah karya-Mu ini, aku yakin tidak ada yang bisa menandinginya.

 

Aku menghela nafas, rasanya sudah beberapa detik aku menahan nafas karena keindahan ini. Langit cerah di pertengahan Mei ditambah gemerlap lampu-lampu disana. Mengkilap, bersinar, indah, kerlap-kerlip, merah, kuning, terang, itulah kata-kata yang ada diotakku saat ini. Seperti orang idiot dan dungu, yang terdiam dengan mulut menganga dan mengulang kata-kata yang sama, beruntungnya aku hanya mengulang dalam otak.

 

“Bagaimana?” tanya Chan membuat seluruh keterpesonaanku buyar, teralihkan pada wajahnya yang—astaga, sejak kapan ia bisa setampan ini?—tampan. Entahlah, mungkin pengaruh karena ia sudah membawa ku ketempat ini. Aku tidak tau, di rooftop Hotel ini bisa melihat pemandangan yang luar biasa.

 

Aku tersenyum cerah, meski butuh perjuangan yang berat untuk sampai kesini. Ia menarik dan merangkulku—sedikit menyeret. Apakah tidak gila? Ia menarikku dari ballroom di lantai 1 ke rooftop yang berada disekitaran lantai 10, beruntung ada lift walau untuk benar-benar ke rooftop harus menaiki anak tangga dulu.

 

“Apa sebegitu bagusnya disini hingga kau tak mampu berbicara?” ia menaik-turunkan alisnya—menggodaku. Ekspresi ku langsung berubah kesal, kemudian memukul dadanya pelan. Sialan sekali. Namun beberapa detik kemudian aku kembali tersenyum cerah, pertama kali sejak 12 tahun yang lalu.

 

“Apa kau tidak pernah ketempat seperti ini sebelumnya?” tanyanya setelah lama kami terdiam. Kini kami duduk di dekat pagar rooftop ini, kami tidak peduli betapa kotor lantainya.

 

Aku menekuk kakiku lalu melipat tanganku diatas sana dan menopang daguku diatas lipatan tanganku itu, dengan enggan aku menjawab, “Tidak.” lalu aku menoleh kearahnya untuk melihat reaksi pria itu.

 

Ia mengernyit, sesuai dugaanku. “Apa terlalu banyak pria yang mengajakmu berkencan hingga tak ada satupun yang kau pilih jadi tidak ada juga yang mengajakmu mengunjungi tempat romantis seperti ini? Terlebih Joon Myun Hyung sangat sibuk, ‘kan?” ia menatapku—mengejek. Namun seluruh yang ia ucapkan sedikit benar, tolong garisi yang Joon Myun Hyung sangat sibuk, karena itu yang paling benar. Meski begitu, meski sedikit waktunya, tapi ia selalu meluangkan waktu untukku.

 

“Tidak juga” jawabku lagi, “Hanya kau yang berani menyeretku ketempat-tempat yang menurutmu romantis itu” aku tersenyum. Tuhan, benar, jika tidak ada Chan mungkin aku tidak akan pernah merasakan hal-hal kecil yang dapat membuatku tersenyum lebar. Mungkin jika Chan tidak ada, aku akan selamanya tenggelam dalam pusaran hitam dan tak akan ada lagi kesempatan untuk keluar. Chan bagai penyelamatku, Chan bagai perantara Tuhan untuk memberiku sedikit kebahagiaan diantara kesengsaraanku.

 

“Wow, aku merasa melayang” guraunya, ia tertawa. Kemudian ia mengubah arah duduknya jadi menghadapku, ia menggenggam ujung jariku yang tidak tertindih tanganku. “Tanganmu dingin” ucapnya, ia mengelus tanganku ringan. Hangat menjalari kulitku hingga rasanya sampai kehati yang membeku ini. Mencair seiring elusan tangannya.

 

“Kau baik-baik saja?” tanyanya kembali terlihat khawatir saat menyadari sejak beberapa menit yang lalu kepalaku selalu terkulai diatas tanganku ini. Dia tidak tau, tapi aku tau apa yang sedang terjadi pada diriku. Sedikit serangan ringan sepertinya datang disaat yang tidak tepat. Tuhan, bolehkah aku merutuk kali ini?

 

Aku menggeleng pelan sebagai jawaban, terlalu malas untuk sekedar mengatakan ‘iya’ tapi bukan seperti itu sebenarnya. Sakit. Seperti rasanya seluruh darah mengalir dengan cepat menuju otak.

 

“Kau yakin?” tanya nya lagi setelah mengamatiku beberapa saat. Aku tersenyum, “Iya” jawabku pelan. Hilang. Perlahan mulai hilang serangan itu, sepertinya Tuhan mendengar doa-ku.

 

Aku mengeluarkan telapak tanganku dari persembunyian, hanya telapak. Aku hanya ingin ia menggenggam tanganku, rasanya pasti akan hangat sekali. Entah kenapa, tangan Chan bahkan sangat berbeda dengan tangan orang lain bahkan Joon Myun Oppa sekalipun. Terasa hangat dan membuatku merasa tenang, merasa sedikit mendapat perlindungan, mendapat keyakinan bahwa aku bisa menghadapi semua.

 

Ia menggenggam—sedikit meremas—tanganku yang putih pucat agar sedikit lebih berwarna, “Kau tau? Aku benar-benar panik saat mengetahui kau sudah tidak di Busan.” mulainya, mengalihkan topik tentang kau-baik-baik-saja atau kau-yakin-tidak-apa-apa.

 

“Wajahmu pasti terlihat sangat konyol, ‘kan?” tanyaku atau mungkin lebih terdengar seperti pernyataan, aku tersenyum membayangkan betapa konyol wajahnya saat tidak menemukan ku di Busan. Untung saja, tetanggaku memberi tahu bahwa aku telah pindah ke Seoul 10 tahun yang lalu. Aku tidak tahu apa yang terjadi, jika tidak ada tetanggaku itu. Mungkin ia akan mengobrak-abrik seisi Busan untuk mencariku.

 

Ia juga tertawa, “Kau benar sekali,” katanya kemudian kembali menatapku, “Hye, aku tidak tahu apa yang terjadi jika aku tidak menemukanmu di Seoul, mungkin aku akan tenggelam dalam kesalahanku karena tidak menepati janji.” sungguh, aku sedikit terharu, setidaknya aku merasa ada orang yang masih membutuhkanku, meski hanya untuk menepati janji. Tidak apa-apa.

 

“Kau harus tau, di taman itu bukan hanya dirimu yang sedih, bukan hanya dirimu yang terluka, bukan hanya dirimu yang ingin menangis. Tapi aku juga. Aku sedih, tentu, bahkan aku sangat ingin menangis saat kita berpisah dijalan pulang.”

 

Aku tertawa dengan raut yang sebenarnya terlihat sedih, “Kau bodoh, jika ingin menangis maka menangislah” kataku.

 

“Tidak, tidak. Jika aku menangis, maka tidak ada yang menguatkanmu. Jika aku ikut menangis, siapa yang akan menghapus air matamu? Pria lain? Tak akan pernah kubiarkan!” katanya dengan ekspresi yang memancarkan kesungguhan.

 

Aku hanya mengangguk tak acuh, “Ya, kata-kata playboy, biasa” ucapku meledek, tidak sungguh-sungguh. Sejujurnya, aku tau bahwa Chan sungguh-sungguh dan dalam keadaan serius saat mengatakannya. Bukan bermain-main.

 

“Tidak,” nada suara nya terdengar kesal, mungkin terlalu jengkel karena aku selalu mengatainya playboy. Siapa suruh saat itu menjadi playboy hanya untuk menyadariku? “Sudah kubilang beberapa kali padamu, bahwa aku serius Hye. Sumpah, aku benar-benar mengatakannya dengan sungguh-sungguh. Hanya kau Hye, hanya dirimu yang mampu membuatku bertahan mencarimu selama ini.” sambungnya.

 

Tuhan, apa firasatku benar? Tuhan, jangan biarkan dia mengungkapkan hal yang bersarang dihatinya. Jangan biarkan. Aku tidak ingin melibatkannya masuk pusaran hitam kesesengsaraanku. Aku tidak ingin menyusahkan banyak orang, sudah cukup kepergian Appa dan ketidakhadiran Eomma. Sudah cukup hanya Joon Myun Oppa. Aku tidak ingin ada orang lain yang makin terbebani.

 

“Hyena-ya,” panggilnya pelan, aku hanya menatapnya bingung dan sedikit panik. Aku sungguh takut jika ia benar-benar mengatakannya, aku tidak bisa, bukannya aku tidak merasakan hal yang sama seperti apa yang dia rasakan, tapi aku tidak bisa dan tidak ingin membuatnya masuk kedalam garis merah yang sudah kubuat sejak lama. Garis merah yang hanya berisi Appa, Eomma, dan Joon Myun Oppa.

 

Ia menyelipkan rambutku yang terjatuh kebelakang telingaku lalu mencium dahiku. Lama dan terasa sangat lembut. Aku merasa dunia ini hanya ada aku dan dirinya, bahkan aku merasa angin pun seperti berhenti dan tidak ada suara apapun disekeliling kami. Mataku masih terbelalak terkejut, tidak tahu apa yang harus aku lakukan. Aku merasa benar-benar dungu.

 

Ia menyudahi ciuman—yang meski hanya didahi dan berlangsung tidak lebih dari semenit namun begitu terasa kehangatannya—itu, seiring dengan tegaknya kepalaku, “Hyena-ya, aku mencintaimu.” ucapnya dengan kesungguh-sungguhan yang bisa kulihat dan sangat terpancar jelas dari matanya.

 

Jelas aku masih terkejut dan kini rasa panik mulai menyelimutiku, aku panik, aku bingung, aku tidak tau apa yang harus aku katakan. Hanya bisa diam dengan mulut yang ternganga tidak ingin percaya dengan hal yang baru saja ia ucapkan, aku sangat berharap bahwa detik ini juga aku menjadi tuli. Atau aku berharap Doraemon ingin memberikan mesin waktunya dengan sukarela.

 

Aku menggeleng dengan setetes airmata yang jatuh di pipiku, “Tidak,” ucapku lirih dengan tatapan kosong yang sudah pasti membuatnya sangat bingung, kata ‘tidak’ yang ambigu itu pasti benar-benar membuatnya pusing. “Tidak boleh,” ucapku lagi seakan memperjelas kata ‘tidak’ itu.

 

Kemudian aku cepat-cepat berdiri, meski kini aku seakan merasa kakiku melayang tapi aku mencoba untuk tetap kuat. Chan mengikutiku berdiri, mensejajarkan tingginya dengan ku, masih dengan ekspresi terkejut dan bingung dengan perubahan drastis dariku.

 

“Hey, kau kenapa?” ia memegang tanganku, aku menepisnya. “Kau tidak boleh seperti itu, kau tidak boleh! Tidak seharusnya kau mencintaiku! Kau tidak boleh!” isakku perlahan dan diakhiri teriakan diakhir. Aku benar-benar merasa frustasi, cukup Joon Myun Oppa saja yang susah, jangan menambah orang lagi!

 

“Apa maksudmu Hye, kenapa aku tid-”

 

“Hentikan! Sudahlah, aku harap kau bisa melupakannya!” pintaku secara tidak langsung, aku langsung pergi berlari dari rooftop itu meninggalkannya sendiri dalam gelap diantara terangnya lampu dibawah sana.

 

Tidak peduli betapa kacau nya hati dan fikiranku, terlebih serangan itu juga kembali datang seiring bertambahnya langkahku menjauh dari rooftop itu, menjauh darinya. Aku segera masuk lift, setelah tak lama pintu itu terbuka. Kepala ku seperti berputar, namun aku tetap berdiri ditengah-tengah lift yang akan membawaku kelantai dasar—mungkin sudah terbiasa dengan serangan ini.

 

Aku kembali menangis, setidaknya mungkin ini akan mengurangi rasa frustasiku. Sedih, sakit, terselip sedikit kebahagiaan menjadi satu yang tercampur aduk rata dalam hatiku. Tuhan bisakah hanya seperti biasa saja? Aku tidak perlu pengakuannya, aku tidak ingin.

 

Setetes darah membasahi tanganku yang saling menggenggam, aku mengusap hidungku dengan punggung tanganku. Ya, kenapa ini terjadi disaat sialan seperti ini? Darahnya bahkan terus mengalir bahkan setelah aku mengusap hidungku terus menerus. Ya, kenapa lift ini bergerak seperti siput?

 

Tak lama pintu lift terbuka, aku rasa aku dapat melihatnya disana. Sang guardian angel dengan tatapan terkejutnya. Masih tersisa gurat-gurat kepanikan diwajahnya namun kini rasa terkejut sedikit menutupi panik itu. “Oppa” ujarku lirih dan semuanya menjadi gelap. Yang terakhir kulihat dan dengar adalah ia memanggil namaku kemudian berlari cepat kearahku, menopang tubuhku agar tidak terjatuh.

 

Tuhan, cukup dia yang aku repotkan. Tidak menambah seorang lagi.

 

****

To Be Continued

 

Hai annyeong, maaf lama update nya yaaa^^ aku gak sempet mulu ngeditnya kkk~ part ini lebih panjang dibanding kemarin, anggep aja ini sebagai penebusan part-pendek hehe. Kalau ada typo mohon maaf, dan maaf juga kalau ceritanya agak aneh. Soalnya waktu bikin ini, dikerjar waktu dateline hehe. Oke sip, byebye dipart depan._.v

5 responses to “[Freelance] I’M WITH YOU (CHAPTER 3 )

  1. Knp orang2 kayak hyena selalu mikir kayak gitu ya,gag mau ngrepotin orang lain,padahal seharusnya dia butuh orang kayak chan buat jadi penyemangat hidupnya dia kan,dan klo hyena pikir chan akan lebih baik gag sama dia justru sebaliknya chan akan gag baik2 azz klo gag sama hyena kurasa,hmm ya udah lahh itu hanya pemikiran aku azz hehe,ditunggu next nya ya

  2. Hhh chan d tolak…
    Kesian jg sih sbenarnya ma hyena. Dy harusnya punya org yg bs ngertiin dia bukan cm kakaknya ja. Tp pikiran dia yg g mo ngrepotin org lain justru bakal bikin org yg sayang ma dia sedih nantinya…

  3. Sendirian itu gak baik, apalagi kalo lagi sakit kita perlu org lain untuk membantu kita.
    Hye gak mau ngerepotin tapi malah jadi ngerepotin orang deh

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s